• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. harga saham di pasar modal. (Hendy M Fakhruddin, 2001:38).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. harga saham di pasar modal. (Hendy M Fakhruddin, 2001:38)."

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan cerminan dari kegiatan pasar modal secara umum. Peningkatan IHSG menunjukkan pasar modal sedang bullish, sebaliknya jika menurun menunjukkan kondisi pasar modal sedang bearish. Untuk itu, seorang investor harus memahami pola perilaku harga saham di pasar modal. (Hendy M Fakhruddin, 2001:38).

IHSG merupakan indeks yang sering diperhatikan investor ketika akan melakukan kegiatan investasi di Bursa Efek Indonesia (Selanjutnya dapat disebut BEI). Hal ini disebabkan karena indeks ini merupakan composite index dari seluruh saham yang tercatat di bursa efek indonesia. Oleh karena itu, melalui pergerakan indeks harga saham gabungan, seorang investor dapat melihat kondisi pasar apakah sedang bergairah atau lesu. IHSG juga dapat digunakan untuk mengukur kinerja gabungan seluruh saham (perusahaan/emiten) yang tercatat di bursa efek indonesia. Dengan adanya indeks, kita dapat mengetahui trend pergerakan harga saham saat ini apakah sedang naik, stabil atau menurun. Pergerakan indeks menjadi indikator penting bagi para investor untuk menentukan apakah mereka akan menjual, menahan atau membeli suatu atau beberapa saham. Faktor-faktor yang mempengaruhi indeks harga saham gabungan ada dua, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal meliputi informasi arus kas, informasi laba dan informasi akuntansi lainnya yang terkandung dalam laporan keuangan

(2)

perusahaan, sedangkan faktor eksternal perusahaan meliputi nilai tukar, volume perdagangan, tingkat suku bunga, tingkat inflasi dan lain – lain. (Gujarati, 2003:50)

Menurut Nurhaida selaku Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK.

Saat ini, IHSG sedang tumbuh sebesar 6% pada tiga bulan pertama di awal 2016. Pertumbuhan ini merupakan yang terbesar di dunia sehingga para investor luar negeri berbondong-bondong menanam uangnya di Indonesia. Hal tersebut juga berpeluang dalam memperoleh capital gain dan juga deviden cenderung tinggi. Dari tahun ke tahun, pertumbuhan saham perusahaan- perusahaan di Indonesia cenderung meningkat. (Prasetyo, 2016)

Kemudian, dari peningkatan IHSG menandakan bahwasanya investasi saham merupakan hal yang efektif dalam meningkatkan perekonomian investor. Manfaat serta arti penting dari IHSG dapat diklasifikasikan menjadi 4 manfaat. Manfaat pertama, sebagai penanda tren pasar, dimana IHSG merupakan nilai rata-rata dari sekelompok saham. Karena menggunakan harga hampir semua saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dalam perhitungannya, IHSG menjadi indikator kinerja bursa saham paling utama. Singkat kata, kalau ingin tahu perkembangan bursa saham ter-update, kamu tinggal melihat pergerakan angka IHSG. Jika IHSG cenderung meningkat, bisa disimpulkan harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang meningkat. Sebaliknya, jika IHSG cenderung turun, artinya harga-harga saham di BEI sedang merosot.

Manfaat kedua dari IHSG adalah sebagai pengukur tingkat keuntungan.

Selain merepresentasikan tren, IHSG juga bisa digunakan untuk menghitung

(3)

secara rata-rata keuntungan berinvestasi di pasar saham. Misalkan saja di 2008, IHSG berada pada level 1.400. Lima tahun setelahnya, IHSG terus berkembang ke level 4.400. Dari sana dapat dihitung bahwa pertumbuhan indeks dalam lima tahun adalah 3.000, atau secara persentase adalah 214%. Atau bila dihitung secara tahunan, maka secara rata-rata ada kenaikan sebesar 42,8%.

Tentunya dengan catatan bahwa keuntungan tersebut hanya dihitung dari pertumbuhan harga saham dan belum memperhitungkan dari nilai dividen yang diterima tiap akhir tahun.

Manfaat ketiga dari IHSG yaitu sebagai tolak ukur portfolio investasi.

IHSG dapat dimanfaatkan ketika kita berinvestasi dalam bentuk saham atau reksa dana. Bila misalnya dalam lima tahun tadi IHSG mampu tumbuh sebesar 214%, lalu saham atau reksa dana yang kita miliki hanya bisa tumbuh di bawah itu atau malah melemah, maka dapat dipastikan bahwa portofolio investasi kita tadi memiliki kinerja buruk dan sudah sepantasnya bagi kita untuk memindahkannya ke portofolio lain yang lebih menjanjikan potensi pertumbuhan yang maksimal. Dengan kata lain IHSG bisa dijadikan tolok ukur atau pembanding portofolio investasi yang kamu miliki.

Manfaat IHSG yang terakhir yaitu sebagai leading indicator economy.

Adler Hayman Manurung, seorang pakar investasi menambahkan dalam tulisannya di Kompas.com, bahwa IHSG bisa menjadi leading indicator economy. Di mana ketika ekonomi sedang meningkat, inflasi menurun, dan ekspor sedang menggeliat, IHSG akan lebih dulu menceritakan semua indikator ekonomi tersebut. Karena itu, pertumbuhan IHSG sering digunakan

(4)

berbagai pihak untuk melihat situasi ke depan atau prediksi ekonomi di masa mendatang. (Bibit, 2020)

Berikut ini merupakan grafik yang menunjukkan fenomena yang terjadi pada nilai indeks harga saham gabungan pada tahun 2016-2020:

Gambar 1.1

Nilai IHSG Tahun 2016-2020

Sumber:IDX diolah oleh Penulis.

Dari data gambar grafik diatas, diketahui bahwasanya nilai IHSG memiliki kenaikan pada tahun 2016 dan telah mengalami penurunan kembali pada 2020.

Hal tersebut tentunya dapat juga dipengaruhi oleh variabel-variabel tertentu, seperti tingkat perubahan kurs, suku bunga SBI, dan inflasi. Kurs dapat memperlihatkan keadaan pasar uang secara umum. Kurs merupakan patokan harga terpenting dalam perekonomian terbuka. Kurs sangat berpengaruh terhadap neraca transaksi berjalan, hutang luar negeri, ekspor-impor dan variabel makro ekonomi lainnya. Sistem kurs yang dianut oleh Indonesia semenjak Agustus 1997 adalah sistem kurs bebas mengambang, ini berarti

4,600.00 4,800.00 5,000.00 5,200.00 5,400.00 5,600.00 5,800.00 6,000.00 6,200.00 6,400.00 6,600.00

Dec-16 Apr-17 Aug-17 Dec-17 Apr-18 Aug-18 Dec-18 Apr-19 Aug-19 Dec-19 Apr-20 Aug-20 Dec-20

Nilai IHSG

Nilai IHSG

(5)

pemerintah membiarkan nilai kurs dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran mata uang Rupiah di pasar uang. Dengan masih lemahnya perekonomian Indonesia dan dengan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap negara asing terutama Amerika Serikat maka trend pelemahan nilai tukar terlihat setiap tahunnya.

Apabila kurs rupiah terhadap dolar bernilai positif dan cenderung meningkat, maka ada kecenderungan meningkatnya minat investor untuk berinvestasi pada saham. Hal tersebut dikarenakan penguatan tersebut mengindikasikan bahwa perekonomian dalam keadaan bagus. Sedangkan ketika kurs rupiah terhadap dolar bernilai negatif dan melemah, maka hal tersebut mengindikasikan bahwa perekonomian dalam kondisi yang kurang baik sehingga investor pun akan berpikir dua kali dalam berinvestasi pada saham karena hal tersebut terkait dengan keuntungan atau imbal hasil yang akan mereka dapatkan. Berkurangnya demand akan saham menyebabkan indeks harga saham menjadi turun. (Tandelilin, 2001:214)

Kemudian, tingkat suku bunga merupakan salah satu instrumen bank sentral untuk menunjang kebijakan pemerintah di bidang moneter. Berbeda halnya dengan kurs, tingkat suku bunga tidak timbul akibat permintaan dan penawaran namun lebih pada keputusan bank sentral untuk menstabilan perekonomian. Menurut Mankiw (2003) tingkat suku bunga adalah tingkat bunga deposito bank-bank pemerintah bulanan, dimana terdapat hubungan negatif antara tingkat suku bunga dan harga saham. Apabila tingkat suku bunga SBI yang diperoleh semakin meningkat dan positif, maka ada kecenderungan

(6)

banyak investor yang lebih memilih menyimpan dananya di bank guna mendapatkan bunga yang lebih tinggi dan resiko kerugian yang relative kecil.

Namun apabila tingkat Suku Bunga SBI yang diperoleh semakin menurun dan negatif, maka ada kecenderungan banyak investor lebih memilih menyimpan dananya di IHSG. (Ahmad Zulfa dan Juhono Tan, 2009:160)

Tingkat suku bunga merupakan salah satu faktor makro ekonomi yang memengaruhi harga saham. Meningkatnya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia berdampak pada peningkatan bunga deposito yang pada akhirnya mengakibatkan tingginya tingkat bunga kredit, sehingga investasi dalam perekonomian menjadi menurun. Ketika tingkat suku bunga mengalami peningkatan maka harga saham akan mengalami penurunan. Begitu juga sebaliknya ketika tingkat suku bunga mengalami penurunan maka harga saham akan mengalami peningkatan. Tingginya tingkat suku bunga membuat orang beralih berinvestasi pada tabungan atau deposito yang mengakibatkan saham tidak diminati sehingga harga saham pun akan turun. (Mohamad, 2006: 201)

Pengaruh dalam investasi saham di IHSG juga terdapat pada berbagai variabel yang bersifat menyebar. Salah satunya adalah risiko penurunan daya beli karena inflasi. Inflasi didefinisikan sebagai kecenderungan dari harga- harga untuk menaik secara umum dan terus menerus (Boediono, 2001:78).

Nilai mata uang tidak pernah ada yang stabil di dalam perekonomian dunia, sementara harga-harga barang dan jasa cenderung mengalami peningkatan.

Keadaan ini akan mengakibatkan daya beli mata uang tersebut menjadi turun yang mengakibatkan terjadinya inflasi. Apabila tingkat inflasi negatif dan

(7)

cenderung naik, maka akan berpengaruh terhadap penurunan IHSG sehingga akan berdampak turunnya keuntungan suatu saham, yang mengakibatkan pergerakan harga saham menjadi kurang kompetitif. Namun apabila tingkat inflasi positif dan cenderung turun, maka akan berpengaruh terhadap peningkatan IHSG sehingga akan berdampak naiknya keuntungan suatu saham.

(Ahmad Zulfa dan Juhono Tan, 2009:169)

Menurut peneliti, variabel-variabel di atas cukup menarik untuk diteliti lebih lanjut, karena indeks harga saham dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor eskternal seperti inflasi, suku bunga SBI, dan kurs mata uang. Pengaruh atas faktor eksternal dapat diketahui pada penjelasan dari Haffiyan bahwa pada tahun 2018, IHSG lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal.

(Maret.Bisnis, 2018)Kemudian, menurut pengamat Janson Nasrial pada Berita Satu di MetroTV menjelaskan bahwa penurunan atau pelemahan IHSG pada bulan September 2019 lebih ditekankan pada faktor eksternal. (Youtube BeritaSatu, 2019) Sehinga faktor eksternal membuat peneliti tertarik untuk melakukan analisa indeks harga saham gabungan yang berlaku di BEI pada tahun 2016-2020. Hal ini dikarenakan juga mengingat bahwa faktor-faktor tersebut tentunya sangat bermanfaat bagi para pembaca dalam analisa kegiatan investasinya di pasar modal sehingga dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya yang lebih baik.

(8)

Seperti halnya terdapat beberapa penelitian yang memiliki hasil yang berbeda-beda, maka dari itu berikut merupakan research gap:

Tabel 1. 1 Research Gap

Research Gap Hasil Peneliti

Pengaruh inflasi terhadap indeks harga saham gabungan.

Inflasi memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap IHSG.

Ahmad Zulfa dan Juhono Tan (2009).

Inflasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap IHSG.

Suci Kewal (2012).

Pengaruh suku bunga SBI terhadap indeks harga saham gabungan.

Suku bunga SBI tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap IHSG.

Suci Kewal (2012).

Suku bunga SBI telah berpengaruh signifikan dan bersifat negatif terhadap IHSG.

Ahmad Zulfa dan Juhono Tan (2009).

Pengaruh kurs mata uang terhadap indeks harga saham gabungan.

Kurs mata uang berpengaruh positif terhadap IHSG.

Siska Wahyuni Sukanto (2018).

Kurs mata uang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap IHSG.

Tri Moch. Arifin (2014).

IHSG yang diperdagangkan di BEI memang merupakan patokan pemerintah untuk mengambil kebijakan makroekonomi terkait investasi di Indonesia agar bisa berkembang. Tinggi rendahnya level IHSG tergantung dari kondisi umum makroekonomi, beberapa diantaranya adalah Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika dan tingkat Suku Bunga Bank Indonesia.

Pergerakan nilai tukar akan cendrung mempengaruhi pergerakan pasar saham begitu juga tingkat bunga. Penguatan Nilai Tukar Rupiah terhadap mata uang

(9)

asing mengimplikasikan membaiknya sektor perekonomian Indonesia.

Kemudian, apabila tingkat inflasi tinggi maka akan mengakibatkan perekonomian memburuk, sehingga hal ini akan berdampak turunnya keuntungan suatu perusahaan, yang mengakibatkan pergerakan harga saham (efek ekuitas) menjadi kurang kompetitif. Sedangkan tingkat suku bunga yang lebih rendah akan mendorong tingkat investasi. Peningkatan investasi dan menguatnya nilai tukar tentu akan mendorong para pelaku industri meningkatkan produksinya karena cost yang lebih kecil akibat rendahnya tingkat bunga dan murahnya bahan baku impor. Hal ini tentu menarik minat para pelaku pasar saham baik dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya. Berdasarkan keterangan di atas mengenai kesenjangan dari penelitian terdahulu juga merupakan alasan peneliti melakukan penelitian ini.

Adanya hasil yang berbeda-beda dari penelitian terdahulu antara inflasi, suku bunga SBI, dan kurs mata uang terhadap IHSG tersebut membuat penelitian ini menjadi penting untuk dikaji kembali agar dapat memastikan dan memperkuat hasil dari penelitian sebelumnya. Penelitian ini dilakukan agar menjadi pembaruan dari peneliti sebelumnya dimana setiap tahun kondisi ekonomi tidak sama. Maka peneliti ingin melakukan penelitian terhadap masalah tersebut dengan mengambil judul "Pengaruh Inflasi, Suku Bunga SBI, dan Kurs Mata Uang Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Pada Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2020".

(10)

B. Perumusan Masalah

Adapun beberapa perumusan masalah pada penulisan peneliti kali ini, yaitu sebagai berikut :

1. Apakah inflasi berpengaruh terhadap indeks harga saham gabungan ? 2. Apakah suku bunga SBI berpengaruh terhadap indeks harga saham

gabungan ?

3. Apakah kurs mata uang berpengaruh terhadap indeks harga saham gabungan ?

4. Apakah inflasi, suku bunga SBI, dan kurs mata uang secara simultan berpengaruh terhadap indeks harga saham gabungan ?

5. Manakah dari variabel inflasi, suku bunga SBI, dan kurs mata uang yang paling berpengaruh terhadap indeks harga saham gabungan ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian, untuk mengetahui :

a. Pengaruh inflasi terhadap indeks harga saham gabungan.

b. Pengaruh suku bunga SBI terhadap indeks harga saham gabungan.

c. Pengaruh kurs mata uang terhadap indeks harga saham gabungan.

d. Pengaruh inflasi, suku bunga SBI, dan kurs mata uang secara simultan berpengaruh terhadap indeks harga saham gabungan.

e. Variabel yang paling berpengaruh terhadap indeks harga saham gabungan.

(11)

2. Manfaat Penelitian a. Bagi Investor

Penelitian ini sebagai bahan informasi mengenai pengaruh inflasi, suku bunga sbi, dan kurs mata uang terhadap indeks harga saham gabungan serta diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan bagi calon investor di dalam memutuskan untuk berinvestasi dengan menggunakan variabel-variabel yang diteliti.

b. Bagi Manajer Investasi

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk menilai indeks harga saham gabungan.

c. Bagi Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan pengembangan ilmu manajemen khususnya keuangan mengenai kajian indeks harga saham gabungan yang dipengaruhi oleh inflasi, suku bunga sbi, dan kurs mata uang.

Gambar

Tabel 1. 1  Research Gap

Referensi

Dokumen terkait

Uji lanjut berganda duncan menunjukkan perendaman auksin selama 60 menit memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan yang lain pada parameter tinggi tunas

Pada Tahapan ini dilakukan wawancara terhadap pengelola publikasi ilmiah di Jurusan Sistem Informasi, input dari proses ini adalah daftar pertanyaan wawancara untuk

FORMULASI TEPUNG JAGUNG, TEPUNG PISANG NANGKA DAN OATMEAL PADA PRODUK FLAKES DITINJAU DARI.. KARAKTERISTIK FISIKOKIMIAWI

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala berkat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penelitian serta menyusun skripsi ini

Dari hasil penelitian disarankan adanya penelitian lanjutan pada variabel minat peserta didik, sarana dan prasarana pendukung production based training dan pembuatan batik

deskriptif karena berusaha mendeskripsikan atau menginterpretasikan akibat yang sedang terjadi atau kecenderungan yang berkembang untuk menyajikan gambaran hasil

A- 81.01-85 Merupakan perolehan mahasiswa yang mengikuti perkuliahan dengan sangat baik, memahami materi dengan sangat baik, memiliki tingkat proaktif dan kreatifitas tinggi

Dengan berbagai ketentuan tersebut maka komunikasi antar perpustakaan perguruan tinggi yang homogen atau sejenis akan berjalan dengan baik sehingga dapat saling share