PENDIDIKAN ANAK DALAM KANDUNGAN MENURUT PERSPEKIF ISLAM
Mikyal Oktarina & Rahmadon
Fakultas Agama Islam Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh, E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Pendidikan adalah upaya terus menerus yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membimbing, mengarahkan dan mengembangkan potensi fitrah anak yang sudah ada sejak lahir. Islam mengajarkan kita bahwasanya sejak memilih pasangan harus yang shaleh shalehah, Hal tersebut sebagai pertanda bahwa begitu pentingnya menyiapkan keturunan yang shaleh shalehah sebagai penerus generasi yang memperjuangkan Islam. Berdasarkan hasil penelitian anak dalam kandungan sudah dapat di didik walau sebatas pendidikan tidak langsung yakni pendidikan yang dilakukan melalui ibu yang mengandung, dengan cara ibu menjaga kesehatannya dengan nutrisi yang seimbang, membiasakan berakhlak al-karimah, senantiasa membaca, mendengarkan ayat-ayat Al Quran. Anak dalam kandungan sudah dapat di didik dengan tiga tahapan, periode pertama dalam kandungan pasti bermula dari adanya kehidupan (al-hayat). Kedua, setelah berbentuk segumpal daging (mudghah) Allah SWT meniupkan ruh kepadanya. Ruh inilah yang menjadi titik mula dan sekaligus awal mula bergeraknya motor kehidupan psikis manusia.
Ketiga, aspek penting bagi janin yaitu aspek agama yang sudah dibawa anak sejak lahir (fitrah) yang sudah siap untuk dikembangkan dalam kehidupan nyata. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mendidik anak dalam kandungan yaitu seperti metode do’a, metode ibadah, metode membaca dan menghafal ayat-ayat Al Quran, metode dzikir dan metode dialog dengan mengajak keterlibatan secara intensif dengan janin yang ada dalam kandungan dengan sang ibu dan seluruh anggota keluarga.
Kata kunci : Pendidikan anak, Kandungan, Perspektif Islam
A. PENDAHULUAN
Fitrah seorang perempuan telah dianugerahi oleh Allah SWT untuk menyandang gelar sebagai seorang ibu, seketika itu juga statusnya telah menjadi seorang istri, maka iapun harus menyiapkan mental agar mampu menjadi seorang ibu yang baik, shalehah, ibu yang berkhudwatun khasanah, mampu merawat dan menjaga anak- anaknya sebagai amanah mulia dari Allah SWT yang merupakan bentuk ibadah kepada Nya. Mendidik dan merawat anak-anak sebagai amanah dari Allah tidak hanya dilakukan setelah ibu melahirkan, tapi ketika si ibu dalam proses pembuahan, sudah dimulai proses pendidikan yaitu dengan cara berdo’a terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan suami istri. Sehingga setelah hamil, proses pendidikan dalam kandungan akan segera dimulai, para calon ibu perlu mempelajari hal-hal yang dianjurkan bagi ibu hamil untuk melakukan proses pendidikan dalam kandungan sehingga anak yang dilahirkan kelak menjadi anak yang shaleh dan shalehah. Seperti dikutip oleh Al-Maghribi secara jelas bahwa mendidik anak shalih sebelum lahir laksana menanam tanaman maka siapa yang menginginkan tanamannya tumbuh subur dan membuahkan hasil yang memuaskan sehingga membuat hati senang dan damai maka hendaklah mempersiapkan dan memilih manhaj pendidikan yang terbaik dan benar sehingga mampu menumbuhkan dan memberikan hasil yang menyenangkan.1
Dan tiang keluarga adalah istri yang shalihah dan ibu yang pandai mendidik dan bila seorang istri baik maka baiklah keluarga dan anak-anaknya sebagaimana yang dikatakan oleh penyair :
1 Al-Maghribi bin as-said al-Maghribi., Begini Seharusnya Mendidik Anak: Panduan Mendidik Anak Sejak Masa Kandungan Hingga Dewasa, ( Jakarta : Darul Haq, 2004 ) hal.9
ةِا ع َا ة ِّ َ ةاًهع َ ة َد َع َ ةَه َد َع َ ة َا ةس َدعَ ةّلأا ةا َعيِ ةَهميَ ةَا َدوَ ةِّي َّعلهِبةُهَتعَنةَعَّ َ َدةن ة ٌضو َدةُّلأُا
“ Ibu adalah madrasah, bila engkau persiapkan dengan baik maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik dan kuat.
Ibu laksana taman, bila engkau pelihara tanamanya dengan siraman yang cukup maka akan tumbuh dengan subur dan rindang. “2
Hasil penelitian menyatakan, anak dapat dididik sejak masih dalam kandungan, karena selama dalam kandungan, fungsi otak dan indra pendengaran anak sudah mulai berkembang, sehingga mereka dapat merasakan apa yang terjadi di luar kehidupan mereka, sementara yang mempengaruhi fungsi otak dan indera pendengaran bayi di dalam kandungan antara lain emosi dan kejiwaan seorang ibu, setiap gerakan rangsangan suara yang terjadi di sekitar ibu dan nutrisi yang ibu konsumsi yaitu makanan yang halalan thayyiban (makanan yang halal lagi baik).
B. PEMBAHASAN 1. Fase Kehamilan
Tujuan pernikahan adalah untuk menyalurkan kebutuhan seksual namun Islam juga menjadikan bentuk ikatan hubungan batin yang dibangun di atas dasar cinta dan kasih sayang yang hakiki untuk mewujudkan cita-cita mulia yaitu melahirkan anak dan mendapatkan anak cucu demi kelestarian anak manusia. Salah satu tujuan berumah tangga adalah untuk mendapatkan keturunan, karena itu seorang istri sangat mengharapkan dapat melahirkan seorang anak, agar dapat memperoleh anak, Islam mengajarkan agar selalu bermohon kepada Allah dengan membaca do’a seperti nabi Ibrahim,
2 Al-Maghribi bin as-Said al- Maghribi., Begini Seharusnya Mendidik Anak:
Panduan…hal.10
sebagaimana firman Allah SWT “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-shafat : 100).
Islam telah mendorong umat Islam untuk memiliki anak dan berusaha memiliki keturunan agar menjadi asset dan kekuatan bagi kaum muslimin berdasarkan hadits dari Anas bahwa Rasulullah bersabda,
مُكِبة ٌعِثهَكُ ةيِّنهـَفةَ وُ َول ةَ وُل َول ة وُج َّو َزَد
“Nikahilah wanita yang banyak anak ( subur ) dan penuh kasih sayang. Karena aku bangga dengan jumlah kalian yang banyak.”3 masa kehamilan berlangsung kurang lebih 9 bulan 10 hari.
Berdasarkan QS. Al-Mukminun ( 23 ) ayat 12–14 masa kehamilan penciptaan atau kejadian manusia adalah dengan proses sebagai berikut:
a. Proses pertama
Manusia diciptakan dari saripati yang berasal dari tanah (sulalah min tin) yang dalam ayat-ayat terdahulu tanah merupakan bahan dasar penciptaan manusia, sehingga dalam proses ini boleh dikatakan sebagai proses awal kejadian manusia, yang mana saripati atau zat- zat yang mengandung unsure-unsur kehidupan yang berasal dari tanah dengan perantara tumbuh-tumbuhan dan hewan akan terserap kedalam jaringan-jaringan tubuh manusia, yang salah satunya jaringan reproduksi yang menghasilkan sel-sel benih pria dan wanita.
Intinya proses penciptaan manusia adalah proses terbentuknya sel
3 Al-Maghribi bin as-Said al- Maghribi., Begini Seharusnya Mendidik Anak:
Panduan…hal.15
telur dan sperma bagi wanita dan pria yang terjadi dari zat-zat makanan yang berasal dari saripati tanah dalam sulbi (testis) laki-laki dan taraib (ovarium) perempuan. Dan pada proses pertama ini dinamakan dengan periode Nuthfah calon anak masih berbentuk cairan sperma dan sel telur dan berlangsung kurang lebih selama 40 hari.
b. Proses kedua
Ayat berikutnya menegaskan bahwa saripati tanah tersebut selanjutnya akan menjadi nuthfah, sedang yang dimaksud nuthfah adalah bisa memiliki dua makna yaitu :
1. Kata pertama dapat diartikan dengan mani atau sel benih laki- laki dan perempuan, sebagaimana yang tersebut dalam surat ad- Dahr ayat 2 pada lafadz (min nuthfati amsaj) atau dari mani yang bercampur, artinya kata nuthfah tersebut adalah bermakna mani laki-laki dan perempuan secara terpisah atau secara sendiri- sendiri dan keduanya belum tercampur.
2. Adapun yang kedua, makna kata nuthfah dapat diartikan mani yang bercampur (antar mani laki-laki dan perempuan), sebab ahli tafsir cendrung menafsirkan kata qarar makin (tempat yang kokoh) dengan makna rahim wanita, apabila nuthfah terletak dalam rahim wanita, maka sudah barang tentu bahwa nutfah yang dimaksud adalah mani yang telah bercampur, sebab yang akan menempati rahim wanita untuk pertama kalinya adalah ovum yang telah berhasil dibuahi oleh sperma yang juga biasa disebut dengan zighat.
Jadi dalam proses kedua ini kejadiannya merupakan proses berubahnya saripati tanah yang telah diproses menjadi mani kepada terbentuknya nuthfah. Konsepsi atau vertilisasi yang lazimnya harus didahului dengan hubungan kelamin antara hubungan perempuan dan laki-laki (when sperma from the male pierces the cell waal of an ovum, or egg from the female) atau dengan kata lain percampuran tersebut akan terbentuklah zighat atau nuthfah yang bertempat pada rahim wanita yang terasakan berkembang menuju proses selanjutnya.
c. Proses ketiga
Setelah terbentuknya nuthfah untuk penciptaan manusia dengan melalui proses akan terus berkembang, sehingga akhirnya akan berubah menjadi alaqah (segumpal darah) atau lazim disebut embrio. Kemudian berkembang melalui pembelahan diri yaitu satu menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan dan seterusnya. Setelah menjadi sekelompok sel disebut morula, biasanya mencapai jumlah enam puluh empat (morula akhir) dalam keadaan seperti inilah zat calon manusia mencapai rongga rahim untuk bersarang atau melekat dan inilah alaqah.
d. Proses keempat
Masa tahapan ini adalah proses dijadikannya segumpal darah menjadi segumpal daging (mudhgah), sehingga akan memperjelas tanda-tanda akan terjadinya manusia.
e. Proses kelima
Proses dijadikannya atau dilengkapinya daging tersebut dengan tulang belulang sebagai kerangka pembentuk manusia, yang kemudian tulang-tulang tersebut dibungkus lagi dengan daging
sehingga bentuknya kian sempurna sebagai manusia.4 Dan pada saat itulah si janin sudah siap menerima hembusan ruh dari Allah SWT. Karena ruh akan memberikan kehidupan baginya yang tersirat dalam surat As-sajadah ayat 9 sebagai berikut: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) ruh ciptaanNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (perasaan), tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”
Dari ayat di atas Hadari Nawawi berpendapat : Penciptaan ruh (jiwa) merupakan pemberian kehidupan bagi tubuh sehingga organ- organnya berfungsi. Ruh ciptaan Allah SWT yang ditiupkan ke dalam tubuh manusia telah memungkinkan matanya berfungsi untuk melihat, telinganya untuk mendengar, otaknya untuk berfikir.
Demikian juga organ-organ tubuh lainnya akan berfungsi seperti jantung, paru-paru dan organ lainnya.5
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, Islam memberikan informasi secara langsung dan terperinci tentang proses pendidikan yang dilakukan dalam fase kehamilan. Perkembangan yang berawal dari nuthfah, alaqah hingga mudghah, kemudian menjadi seorang bayi, berarti nuthfah itu sendiri sudah mengandung unsur kehidupan (al-hayat) tanpa unsur kehidupan (al-hayat) tidak mungkin ada perkembangan yang selanjutnya menjadi janin, setelah berbentuk segumpal daging (mudghah) Allah SWT meniupkan ruh kepadanya.
Ruh inilah yang menjadi titik mula dan sekaligus awal mula
4 Mansur, Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan, (Yogyakarta: Mitra Pustaka 2004), hal.87
5 Hadari Nawawi, Hakekat Manusia Menurut Islam, ( Surabaya : Al- Ikhlas,1993 ), hal.45
bergeraknya motor kehidupan psikis manusia. seketika itu juga kehidupan janin bersifat biologis, sejak itu juga sudah mencakup aspek kehidupan psikis. dikarenakan pada bulan keempat itu jantung janin mulai bekerja, sehingga getarannya dapat dipantau dengan shetescope. Semenjak itu janin sudah bisa bergerak, yang semakin lama semakin menguat gerakannya.
Di sisi lain, perkembangan atau keberadaan kehidupan psikis juga bisa dibuktikan dengan mengaitkan antara kegembiraan maupun penderitaan batin ibu dengan bayi yang dikandung. Kebahagiaan, kelincahan, ketenangan yang senantiasa ditunjukkan oleh seorang ibu yang sedang mengandung, sering tercermin pada bayinya kelak setelah lahir. Begitu pula sebaliknya, kesedihan, kemurungan, kedengkian, kesombongan, jiwa yang tidak tenang dan sebagainya akan diwarisi oleh bayi kelak.
Kemudian aspek agama pada janin. Sebenarnya naluri agama pada setiap individu ini sudah ada, bahkan sejak sebelum kelahirannya di dunia nyata yang disebut dengan fitrah beragama, manusia lahir dengan membawa fitrah atau potensi tauhid. Ungkapan demikian sesuai dengan yang diisyaratkan dalam QS. Al-A’raf ; 172 dan QS. Ar-Rum: 30 “manusia mempunyai fitrah sebagai makhluk beragama”. Dikatakan beragama, karena secara fitrah manusia pada hakikatnya selalu mengakui adanya Allah SWT. Dengan demikian, berarti manusia memiliki potensi kesiapan untuk mengenal dan mengakui keberadaan Allah SWT dalam kehidupannya. Telah dijelaskan dalam hadits:
ٍولوَ ةُّﻞُﻛ ة
ي ةﻰﻠ ةعُلو
َةِة عﻄﻔل
َبَهف
َة ةُه و ي ةُ
و ةِ
ن ه
ُةو ة ي
َعﺼﻨ ةِ ِن ه وَ
ي
ِِنهﺴﺠم ه ة
هﺨعل
وةد
مﻠﺴ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW mengibaratkan anak seperti kertas putih bersih, tergantung orang tuanya, mau ditulis dengan tinta warna merah, hijau, atau jingga.6
Masa kehamilan ini sangat penting artinya karena merupakan awal kehidupan. Di dalam rahim setiap janin terlindung dari semua pengaruh kondisi luar kecuali yang dapat sampai melalui ibu yang mengandungnya. Rasa aman dan perlindungan itu tidak akan pernah ditemui anak setelah ia lahir. Pada masa itu hubungan janin sangat erat dengan ibunya. Untuk itu seorang ibu berkewajiban memelihara kandungannya, antara lain dengan memakan makanan yang bergizi dan halal, menghindari benturan-benturan, menjaga emosinya dari perasaan sedih atau marah, menjauhi hal-hal yang membahayakan janin, Menjaga rahim agar jangan sampai terkena penyakit atau infeksi. Dengan demikian ibu yang sedang hamil hendaknya menyadari akan adanya perubahan-perubahan terhadap dirinya, sehingga tidak mengakibatkan dirinya mudah tersinggung, minder dan lain-lain. Sebab semua perasaan dan tindakan ibu itu sangat mempengaruhi bayi yang masih ada dalam kandungan. Dalam kondisi seperti itu, insyaAllah usaha pemeliharaan akan menjadikan janin sebagai anak yang sehat jasmani dan rohaninya setelah lahir, sebagai kondisi dasar yang sangat besar pengaruhnya bagi proses pendidikan selanjutnya.
6 Irawati Istadi, Mendidik Dengan Cinta, ( Bekasi : Pustaka Inti, 2007 ), Hal.10
2. Mempersiapkan Pendidikan Bayi Sejak dalam Kandungan Dari tahap ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan sang ibu, sebagai guru pertama seorang anak, untuk mendidik anak dalam kandungan. Lahirnya anak cerdas dan sholeh-sholehah tidak bisa juga ditentukan secara medis maupun kecukupun gizi saja. Keduanya hanyalah faktor pendukung dan yang tak kalah penting adalah dengan disertai pendidikan agama sejak dalam kandungan. Untuk bisa mendapatkan anak yang baik sehat secara fisik dan mental maka dibutuhkan amalan serta metode pendidikan yang tepat saat dalam kandungan maupun setelah melahirkan.
Menurut perspektif Islam, pendidikan kanak-kanak ialah proses mendidik, mengasuh dan melatih rohani dan jasmani mereka berteraskan nilai-nilai baik yang bersumberkan Al-Quran, Hadis dan pendapat serta pengalaman para ulama. Ia bertujuan melahirkan
”Insan Rabbani” yang beriman, bertakwa dan beramal shaleh. Cara mendidik anak dalam kandungan secara Islami dapat dilakukan dengan berbagai cara. Berikut adalah metode mempersiapkan pendidikan anak semenjak dalam kandungan dan diantaranya yaitu dengan :
1) Seorang ibu yang hamil diharuskan banyak-banyak mendo’akan bayinya. Allah Yang menciptakan, menghidupkan dan mematikan kita, kita sebagai manusia hamba yang lemah hanya doa dan usaha yang senantiasa kita panjatkan agar kita (ibu yang sedang mengandung) memperoleh anak yang shalih, diberikan kesempurnaan lahir dan batin serta sempurna seperti sempurnanya Al-Quran yang engkau ciptakan.
2) Mendidik anak dalam kandungan dengan Membacakan Al-Qur'an.
Diharapkan dengan bayi yang masih dalam kandungan dibiasakan
oleh orang tuanya untuk mendengarkan tilawah Qur'an karena banyak manfaat dari mendengarkan Al-Qur'an. Kita ketahui fungsi pertama yang paling banyak digunakan janin dalam kandungan adalah fungsi pendengarannya maka kita optimalkan fungsi pendengaran janin untuk terbiasa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Selain itu dengan kita membiasakan bayi dalam kandungan memperdengarkan Al-Qur'an maka ketika sang anak memasuki masa kanak-kanak ia akan lebih mudah dalam menghafal Al-Qur'an.
3) Seorang ibu harus selalu menjaga dirinya dengan makan makanan yang bergizi halalan thayyiban. Makanan yang halal lagi baik akan berpengaruh terhadap keshalih-shalihah anak kelak. Firman Allah SWT “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah Allah rizqikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada Nya.” (QS. Al-Maidah: 88)
4) Ikhlas dan sabar dalam mendidik anak (pranatal) orang tua haruslah ikhlas dan senantiasa sabar dalam mendidik anak.
Dengan kata lain, mendidik anak pranatal harus diniatkan beribadah, anak adalah rezeki yang tak ternilai, anugerah, amanah Allah SWT yang harus kita jaga serta kita didik. Seorang ibu hamil harus kuat sabar serta ikhlas. Di kala kehamilan banyak ujian yang menimpa baik pribadi maupun keluarga. Sebagai ibu hamil harus tertanam sifat mahmudah, sebagaimana yang dikatakan oleh Djumhana Bastaman, yaitu SHALIH ( Sabar, Hikmat, Amal Shaleh, Lidah, Ilmu, dan Hati Nurani ).7
7 Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi Dengan Islam Menuju Psikologi Islami, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1995 ), hal. 115
5) Memenuhi kebutuhan istri. Sebagaimana yang telah saya paparkan sebelumnya, bahwa anak adalah tanggung jawab, milik serta kebahagiaan kedua orang tuanya (suami dan istri). Maka dari itu Suami harus memenuhi kebutuhan istri yang sedang mengandung, terutama pada masa-masa awal umur kandungannya. Firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 9 : “ Dan hendaklah mereka takut jika sekiranya mereka meninggalkan anak-anak yang masih lemah di belakangnya, takut akan terlantar anak-anak itu ( kesejahteraannya ), maka hendaklah mereka takut kepada Allah dan berkata dengan perkataan yang betul.”8 Oleh karena itu setiap suami yang telah mengetahui istrinya hamil haruslah berupaya membuat istrinya senang, tenteram, dan bahagia pula, sehingga akan lahir bayi yang sehat, cerdas, dan unggul sesuai dengan harapan kedua orang tuanya.
6) Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT melalui ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Orang tua yang rajin beribadah maka jiwanya semakin bersih dan suci serta semakin dekat dengan Allah SWT.9
7) Orang tua berakhlak mulia. Akhlak orang tua mempunyai pengaruh yang besar dan menjadi rangsangan yang positif bagi anak dalam kandungan. Menjaga perilaku sangat penting dan dibutuhkan ketika masa kehamilan. Karena akhlak orang tua sangat berpengaruh terhadap akhlak anak-anaknya kelak, terutama ibu hamil. Mulai dari sikap, ucapan hingga perilaku.
Menghindari hal-hal yang kurang baik tidak hanya ditekankan
8 Mahmud Yunus, Terjemah Al-Quran A-l Karim, ( Bandung: Al-Ma’arif, 1993 ), Hal.
71
9 Hasbi Ashshiddiqie, Pedoman Shalat, ( Jakarta: Bulan Bintang ), Hal. 51
dalam masa kehamilan saja, namun juga sampai anak dewasa.
Sebab orang tua memegang peranan yang penting dalam menanamkan perilaku dan adab serta akhlak yang baik kepada anak-anaknya. Jika orang tua berperilaku baik maka diharapkan sang anak juga meniru serta mencontoh perilaku baik dari orang tuanya. sebenarnya proses pendidikan yang dilakukan pada masa anak dalam kandungan bukan secara langsung untuk si janin dalam kandungan. Akan tetapi perilaku-perilaku yang diamalkan oleh kedua orang tuanya itu sangat memberi pengaruh bagi janin yang ada dalam kandungan. Kontak psikis antara orang tua, terutama sang ibu, dengan si janin itulah sebenarnya yang disebut dengan pendidikan pada masa anak dalam kandungan.
3. Metode Mendidik Anak dalam Kandungan
Mendidik anak shalih sebelum lahir laksana menanam tanaman, maka siapa yang menginginkan tanamannya tumbuh subur dan membuahkan hasil yang memuaskan sehingga membuat hati senang dan damai maka hendaklah mempersiapkan dan memilih manhaj pendidikan yang terbaik dan benar sehingga mampu menumbuhkan dan memberikan hasil yang menyenangkan.10 Hakikat metode mendidik anak dalam kandungan adalah dengan cara sederhana, yaitu dengan memberikan stimulasi atau sensasi. Rangsangan dengan metode tersebut pada akhirnya diharapkan dapat memicu responsi atau sensasi balik dari anak dalam kandungannya. Jadi segala hal yang dilakukan oleh ibu hamil diharapkan terangsang dan pastinya
10 Al-Maghribi bin as-Said al- Maghribi., Begini Seharusnya Mendidik Anak:
Panduan…hal.9
dirasakan langsung oleh si anak. Berikut ini beberapa metode mendidik anak dalam kandungan yaitu:
a) Metode Doa
Doa adalah madrasah rohani dan juga madrasah amal perbuatan.
Doa juga berarti perubahan dari kejelekan diri dan atas kedhaliman dan kerusakan. Agar sebuah doa mempunyai daya rohani, arti dalam kehidupan, dimana dapat menciptakan revolusi di dalam diri dan mampu menolak sisi kerusakan dan kedhaliman pada diri seseorang, maka hendaknya memperhatikan, mengamalkan isi yang terkandung di dalamnya, dan juga menghafal penggalan-penggalan doa semampunya, bukan semata-mata sebagai hafalan, melainkan untuk diamalkan.11
Allah akan mengabulkan permohonan orang yang mau berdoa sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya: “Dan apabila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-baqarah : 186) “
b) Metode Ibadah
Segala bentuk ibadah, mahdhah dan ghairu mahdhah, Ibadah wajib dan sunnah dapat dijadikan metode untuk mendidik anak dalam kandungan. Karena sangat besar sekali pengaruh yang
11 Mansur, Mendidik Anak Sejak Dalam …, hal.177
dilakukan ibu dengan melakukan metode ibadah ini bagi anak dalam kandungannya, selain melatih kebiasaan aplikasi kegiatan ibadah, juga akan menguatkan mental, spiritual, jasmaniah rohaniah, emosional intelektual dan keimanan ketaqwaan anak setelah nanti lahir, tumbuh, dan berkembang menjadi dewasa manusia yang taat kepada khaliknya, yang melaksanakan amar ma’ruf dan menjauhi yang mungkar.
c) Metode Membaca dan Menghafal
Metode mendidik anak semenjak dalam kandungan selanjutnya adalah dengan memperdengarkan bacaan dan hafalan-hafalan berbagai bacaan yang baik dan bermanfaat bagi anak kita.
Diharapkan dengan anak bayi yang masih dalam kandungan dibiasakan oleh orang tuanya untuk mendengarkan bacaan atau informasi-informasi yang positif baik secara visio serta audio.
Membaca merupakan salah satu cara yang paling utama untuk memperoleh berbagai informasi penting ilmu pengetahuan. Anak dalam kandungan pada usia 20 minggu (5 bulan) sudah bisa menyerap informasi melalui pengalaman stimulasi atau sensasi yang diberikan ibunya. Metode menghafal secara teknis sama dengan metode membaca. Jadi ibu hamil boleh membaca, mendengarkan dan menghafalkan apa saja, asalkan sesuatu ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan bayinya. Dan pendidikan itu memang merupakan sebuah kebutuhan dalam kehidupan manusia bahkan sangat dibutuhkan sejak masih dalam kandungan, Education as a necessity of life.12
12 Mansur, Diskursus Pendidikan Islam, ( Yogyakarta : Global Pustaka Utama, 2001 ), Hal. 123
d) Metode Dzikir
Berdzikir adalah aktivitas sadar pada setiap waktu setiap mukmin dan mukminat yang berpegang teguh pada agama Allah. Oleh karena itu, seorang ibu yang mengandung hendaknya selalu memasukkan kegiatan dzikir dalam program pendidikan anak dalam kandungannya. Dzikir bentuk rasa ingat serah diri kita kepada Allah bahwasanya kita sebagai hamba yang tiada apapun hanya sekecil zarrah. Jadi dengan dzikir kita senantiasa menumbuhkan kesadaran untuk menyandarkan hidup dan kehidupan dalam naungan Allah. Dzikir secara khusus berarti melakukan dzikir seperti dengan lafadz tahmid, tahlil, takbir, istighfar, dan kalimah thayyibah lainnya.
e) Metode Dialog
Dialog (berkomunikasi) merupakan metode interaktif antara anak dalam kandungan dan orang-orang di luar rahim, seperti ibu, ayah, saudara bayi, dan atau anggota keluarga lainnya. Dengan metode dialog diharapkan seluruh unsur anggota keluarga dapat dilibatkan untuk melakukan interaksi secara dialogis dengan anak dalam kandungan. Dilihat dari Indera pendengaran yang mulai berkembang pada minggu ke 8 dan selesai pembentukan pada minggu ke 24. Indera pendengaran ini juga dibantu oleh air ketuban yang merupakan penghantar suara yang baik. Janin akan mulai mendengar suara aliran darah melalui plasenta, suara denyut jantung dan suara udara dalam usus. Selain itu janin akan bereaksi terhadap suara-suara keras, bahkan bisa membuat janin terkejut melompat. Untuk itu mengajak janin berbicara dengan mengelus-elus perut terutama saat organ pendengaran mulai
berfungsi baik. Ketika sang ibu mau berwudhu maka ajaklah pula sang janin berbicara dengan cara "Nak, ibu mau berwudhu karena wudhu adalah satu cara sebelum menjalankan sholat dan sholat adalah kewajiban tiap muslim untuk beribadah kepada Allah, biasanya janin akan merespon langsung dengan tendangan ke arah perut sang ibu. Metode ini bermanfaat bagi bayi, karena selain dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik dan saling mengenal dengan mereka yang ada di luar rahim.
4. Manfaat Mendidik Anak dalam Kandungan
Berbicara tentang pendidikan, kita semua mengetahui bahwa memberikan pendidikan yang tepat pada anak hendaklah dimulai sejak dalam kandungan. Mengapa stimulasi pralahir begitu penting?
Karena menurut beberapa penelitian dari para ilmuwan perkembangan pralahir, selama berada dalam rahim, anak dapat belajar menerima beragam sensasi indra dari luar rahim, mulai dari indra peraba (sentuhan dan rabaan orang tua, benda-benda di sekitarnya), indra pendengaran (suara orang tuanya, benda-benda di sekitarnya), indra penglihatan (melihat gelap dan terang). Pendidikan pralahir dapat melatih otak dan perkembangan saraf bayi sebelum dilahirkan. Dengan begitu anak bisa siap menerima respon yang ada di lingkungannya setelah dilahirkan.
Stimulasi pralahir memberikan banyak manfaat bagi anak : 1. Anak merasa lebih tenang, waspada, dan bahagia.
2. Anak mampu mengontrol gerakan-gerakan mereka. Mereka lebih siap menjelajahi dan mempelajari lingkungan setelah dilahirkan
3. Meningkatkan kecerdasan otak bayi
4. Menjaga keseimbangan komunikasi lebih baik antara anak dan orang tuanya, anggota keluarganya, dan lingkungannya.
Ramayulis menyatakan banyak manfaat yang bisa diperoleh dari pendidikan pralahir yang diberikan kepada bayi, diantaranya bayi yang mendapat stimulasi sebelum lahir biasanya lebih penuh perhatian (terutama terhadap orang tua mereka) dan lebih termotivasi untuk belajar. Hal ini karena selama berbulan-bulan sebelum bayi dilahirkan, bayi belajar mengenali pola-pola suara tertentu sebagai sesuatu yang berhubungan dengan perilakunya. Selain lebih memperhatikan, bayi yang mendapat stimulus sebelum lahir akan lebih cerdas dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapat stimulus saat dalam kandungan. Bayi-bayi yang mendapatkan stimulasi pralahir menjadi lebih cerdas. Marion Diamond dari University of California, Barkeley, melakukan analisis postmortem terhadap otak Einstein. Hasilnya menunjukkan bahwa Einstein mempunyai lebih banyak struktur sel dari pada biasanya di daerah otak yang mengendalikan proses pemikiran. Walaupun tidak ada bukti bahwa orang tua Einstein melakukan stimulasi pralahir kepada Einstein, Diamond merasa bahwa perkembangan otak Einstein yang lebih besar. Anak yang mendapatkan stimulasi pralahir akan lebih cerdas, dan ini merupakan efek seorang ibu yang sehat dan aktif terhadap bayi yang sedang dikandungnya. F.Rene Van de Carr, dkk (The Prenatal Enrichment Unit di Hua Chiew General Hospital di Bangkok Thailand) melakukan penelitian terhadap bayi dalam kandungan.
Hasilnya menyatakan bahwa bayi dalam kandungan yang diberi stimulasi maka lebih cepat mahir dalam membaca, menirukan suara, menyebutkan kata pertama, tersenyum secara spontan, lebih tanggap
terhadap musik, dan mampu mengembangkan pola sosial yang lebih baik saat bayi telah dewasa.
C. PENUTUP
Hakikatnya pendidikan sudah dimulai sejak janin masih dalam kandungan. Islam adalah agama yang komprehensif setiap segi lapisan kehidupan semua dibahas dengan sistematika yang begitu sempurna. Pendidikan yang diberikan serta dipersiapkan oleh seorang ibu sejak dari dalam kandungan hingga tahapan selanjutnya itu merupakan masa atau suatu proses yang besar pengaruhnya baik dari segi pertumbuhan dan perkembangan anak. Ibu adalah madrasah pertama bagi si anak, karena sejak anak dalam kandungan seorang ibu harus terus melakukan berbagai hal positif bagi anak yang dikandungnya baik dari Ibadah, kesehatan, kebersihan, keilmuan dan berbagai hal lainnya. Karena segala tindakan atau aktifitas apapun yang dilakukan seorang ibu itu akan sangat mempengaruhi fisik dan psikis anak tersebut. Anak merupakan generasi penerus bangsa dan agama, maka baik buruknya bangsa dan agama di masa mendatang sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Adhi, M., & Seniwati, N. (2018). Educational Revitalization of the Children with Special Needs at an Inclusive School. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 6(3), 385-396. doi:10.26811/peuradeun.v6i3.214
Al-Maghribi, A. (2004). Begini Seharusnya Mendidik Anak: Panduan Mendidik Anak Sejak Masa Kandungan Hingga Dewasa. Jakarta:
Darul Haq
Ashshiddiqie, H. (tt). Pedoman Shalat. Jakarta: Bulan Bintang.
Djumhana Bastaman, H. (1995). Integrasi Psikologi Dengan Islam Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Husen, S., & Mansor, R. (2018). Parents Involvement in Improving Character of Children Through Mathematics Learning. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 6(1), 41-50. doi:10.26811/peuradeun.v6i1.178 Idris, S., & Tabrani ZA. (2017). Realitas Konsep Pendidikan
Humanisme dalam Konteks Pendidikan Islam. Jurnal Edukasi:
Jurnal Bimbingan Konseling, 3(1), 96–113.
https://doi.org/10.22373/je.v3i1.1420
Istadi, I. (2007). Mendidik Dengan Cinta. Bekasi: Pustaka Inti.
Mansur. (2001). Diskursus Pendidikan Islam. Yogyakarta: Global Pustaka Utama.
Mansur. (2004). Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan. Yogyakarta:
Mitra Pustaka.
Nawawi, H. (1993). Hakekat Manusia Menurut Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.
Tabrani ZA. (2013). Modernisasi Pengembangan Pendidikan Islam (Suatu Telaah Epistemologi Pendidikan). Serambi Tarbawi, 1(1), 65-84.
Walidin, W., Idris, S., & Tabrani ZA. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif & Grounded Theory. Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press.
Yunus, M. (1993). Terjemah Al-Quran A-l Karim. Bandung: Al-Ma’arif.
Yusoff, M. Z. M., & Hamzah, A. (2015). Direction of Moral Education Teacher To Enrich Character Education. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 3(1), 119-132.