• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL KOHESIFITAS SUPORTER TIM SEPAK BOLA PERSIJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL KOHESIFITAS SUPORTER TIM SEPAK BOLA PERSIJA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL KOHESIFITAS SUPORTER TIM SEPAK BOLA PERSIJA

Bayu Wicaksono

Fakultas Psikologi

Universitas Gunadarma

ABSTRAKSI

Suporter sebuah tim adalah salah satu faktor pendukung yang tidak bisa dilepaskan dari sisi luar lapangan pertandingan. Bahkan keberadaan supporter ini sendiri mampu memberikan dukungan moral yang cukup besar bagi para pemainnya. Gemuruh suara para supporter ketika pertandingan seringkali terdengar sebelum hingga pertandingan berakhir, bahkan dukungan pun terus diberikan oleh para supporter yang tidak dapat menyaksikan pertandingan secara langsung.

Inilah mengapa dukungan supporter menjadi hal yang sangat penting bagi semangat para pemain.

Sepak bola adalah permainan yang sangat lekat dengan masyarakat Indonesia.

Olah raga ini digemari oleh berbagai kalangan masyarakat, terlepas dari faktor umur, jenis kelamin, dan status sosial di masyarakat.

Banyaknya Tim sepak bola yang ada di setiap wilayah Indonesia menimbulkan antusias penduduk setiap wilayah untuk mendukung tim sepak bola dari wilayahnya sendiri. Hal ini pula yang melatar belakangi adanya tim suporter sepak bola Persija, atau yang lebih dikenal dengan The Jakmania.

Mengacu pada antusiasme supporter sepak bola The Jakmania, peneliti tertarik pada

kohesivitas yang terlihat serta ingin mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas pada The Jakmania. Kekompakan yang ditunjukkan dari sebelum pertandingan hingga akhir inilah yang menarik minat peneliti untuk mengkaji kelompok suporter ini.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif yang ditekankan pada penelitian studi kasus. Peneliti mengambil langkah ini karena melihat adanya sifat khusus dari kelompok yang akan diteliti, hal ini diperkuat dengan teori dari Yin (1994) menyimpulkan studi kasus sebagai suatu bentuk penelitian (inquiry) atau studi tentang suatu masalah yang memiliki sifat kekhususan (particulary), dapat dilakukan baik dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif, dengan sasaran perorangan (individual) maupun kelompok, bahkan masyarakat luas.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tampak adanya kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania, hal tersebut dapat dilihat dari:

a. Aktifitas kelompok dalam komunitas (main bola bareng, berkumpul setiap hari, bakti sosial dan nonton bola bareng).

b. Aktifitas kelompok kecil (pulang pergi bersama saat menonton pertandingan, patungan untuk menyewa kendaraan).

c. Proses pengambilan keputusan (berdiskusi, solusi, pengambilan keputusan).

d. Identitas kelompok (Warna, tulisan, logo-logo, atribut Persija)

e. Kohesivitas kelompok di luar lapangan (proses menumbuhkan keterikatan, aktifitas sebelum pertandingan, aktifitas setelah pertandingan, tempat berkumpul, mencari

(2)

kendaraan, menaiki kendaraan, menyanyikan yel-yel, membeli air dan rokok, tegur sapa, menuju tempat parkir, perjalanan pulang, membahas pertandingan).

f. Kohesivitas kelompok di lapangan (bentuk dukungan, aktifitas ketika pertandingan, mencari Jak lain, bergabung dengan Jak lain, bernyanyi bersama, merayakan gol, merayakan kemenangan).

Selain melihat kohesivitas, peneliti juga menemukan faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania adalah:

a. Latar belakang kelompok (jumlah anggota, teman nongkrong, tujuan yang sama).

b. Aktifitas dan kegiatan kelompok (main bola bareng, satu lingkungan, main bola, bakti sosial, nonton bola).

c. Kebersamaan kelompok ( proses menumbuhkan keterikatan, saling membantu, saling menolong).

Kata kunci: Kohesivitas, TheJakmania, Suporter

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Persija adalah sebuah klub sepak bola yang terletak di Jakarta. Persija berdiri pada tanggal 28 November 1928 dan memiliki julukan Macan Kemayoran. Keberadaan Persija dalam kancah Liga Indonesia dan bermain dalam Divisi Utama Liga Indonesia memberikan warna tersendiri, bukan hanya oleh permainannya yang menawan tetapi juga pada suporter pendukung yang menamai dirinya The Jakmania.

The Jakmania adalah kelompok suporter pendukung tim sepak bola Persija yang terbentuk karena suatu alasan, yaitu sama- sama mendukung tim sepak bola Persija dan berupaya untuk mengorganisir para suporter Persija. The Jakmania berdiri sejak Liga Indonesia IV, tepatnya 19 Desember 1997.

Pada awalnya The Jakmania hanya terdiri dari 100 orang, dengan pengurus sebanyak 40 orang. Ketika dibentuk, dipilihlah figur yang dikenal di mata masyarakat. Gugun Gondrong merupakan sosok yang paling dikenal saat itu dan memimpin The Jakmania pada periode 1999-2000. Seiring dengan berjalannya waktu masa kepemimpinan Gugun Gondrong digantikan oleh Fery Indrasjarief yang memimpin selama 3 periode. Pada masa kepemimpinan Fery, The Jakmania berhasil mendapatkan anggota sebanyak 30.000 dari 50 Koordinator Wilayah (Wikipedia, 2007).

Selain kegiatan mendukung Persija dalam pertandingan, anggota The Jakmania juga memiliki kegiatan kumpul bersama yang dilakukan setiap hari Selasa dan Jum’at, dimana dalam kegiatan tersebut baik pengurus ataupun anggota membahas perkembangan The Jakmania serta melaporkan laporan dari setiap bidang kepengurusan, tidak lupa kegiatan ini juga melakukan pendaftaran bagi anggota baru dalam rutinitas tersebut (Wikipedia, 2007).

Dalam kelompok The Jakmania terdapat kelompok-kelompok seperti Jak On Air yaitu kelompok yang bekerja sama dengan Radio Utan Kayu yang setiap seminggu sekali mendatangkan pemain-pemain Persija, Jak Angel yaitu kelompok perempuan yang

(3)

mendukung tim Persija, Jak Online yaitu kelompok yang mempunyai kegiatan untuk memberikan fasilitas informasi tentang Persija melalui jalur internet, Jak Scooter yaitu kelompok pengguna kendaraan vespa yang mendukung Persija, dan Jak Adventure adalah kelompok suporter yang mendukung persija saat bertanding di kandang lawan (Wikipedia, 2007).

Kelompok-kelompok yang ada dalam The Jakmania tidak hanya terbatas dari yang tertulis di atas, banyak kelompok-kelompok kecil yang tidak tercatat berdasarkan pembagian kelompok tersebut. Kelompok-kelompok kecil ini memiliki aktifitas seperti berangkat bersama- sama dari suatu tempat menuju stadion tempat lokasi pertandingan Persija dan pulang bersama-sama menuju tempat asal. Kelompok The Jak Kukusan merupakan salah satu kelompok kecil yang tidak tercatat berdasarkan pembagian kelompok diatas.

Hal-hal tersebut diataslah yang melatarbelakangi peneliti mengangkat tema kohesifitas dalam kelompok untuk dijadikan sebagai bahan penelitian, dikarenakan adanya pandangan masyarakat yang bertentangan mengenai suporter sepak bola. Masyarakat memandang kegiatan suporter sepak bola dapat memicu timbulnya agresifitas yang merugikan banyak pihak tanpa melihat adanya kohesifitas yang dapat membangun serta bersifat positif.

Theodore Caplov (dalam Sarwono, 2005) membagi kelompok kecil menjadi dua jenis berdasarkan ukurannya antara lain, kelompok primer dan non-primer. Kelompok primer adalah kelompok yang jumlah anggotanya 2-20 orang dan tiap anggota

berinteraksi dengan setiap anggota lainnya dalam kelompok (keluarga, sahabat).

Sedangkan, kelompok non-primer adalah kelompok yang jumlah anggotanya 3-30 orang dan interaksi antar anggotanya tidak seintensif pada kelompok primer (teman sekelas, kelompok arisan, panitia kecil).

Aristoteles (dalam Budiyanto, 2004) mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon atau makhluk yang pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia lainnya. Status makhluk sosial melekat pada diri setiap individu. Ia tidak dapat bertahan hidup secara utuh hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri saja. Sejak lahir sampai meninggal dunia manusia memerlukan bantuan atau kerja sama dengan orang lain.

Dalam ilmu-ilmu sosial seperti Ekonomi, Hukum, Sosiologi, dan sebagainya, termasuk juga Psikologi Sosial, sering memasukkan istilah-istilah seperti kelompok umur, kelompok urban, kaum imigran, generasi muda, golongan menengah, dan sebagainya. Istilah-istilah itu bermaksud untuk menggambarkan satu kumpulan (agregat) manusia dengan ciri-ciri tertentu walaupun individu-individu manusia anggota kumpulan itu sama sekali belum pernah saling berhubungan, dan sebagaimana kita ketahui tidak setiap kumpulan orang dapat dipertimbangkan sebagai kelompok.

Pengertian kelompok berbeda dengan pengertian agregat. Agregat lebih menunjuk pada kumpulan individu yang tidak berinteraksi satu sama lain namun bagaimanapun juga dapat terjadi bahwa suatu agregat dapat

(4)

berubah menjadi sebuah kelompok (Sarwono, 2005).

Menurut Johnson (Sarwono, 2005) kelompok adalah dua individu atau lebih yang berinteraksi tatap muka (face to face interaction), yang masing-masing menyadari keanggotaannya dalam kelompok, masing- masing menyadari keberadaan orang lain yang juga anggota kelompok, dan masing-masing menyadari saling ketergantungan secara positif dalam mancapai tujuan bersama.

Bebearapa ahli psikologi sosial seperti Durkheim dan Warriner berpandangan bahwa kelompok merupakan sesuatu yang riil yang dapat diperlakukan sebagai objek di dalam lingkungan kita (dalam Sarwono, 2005). Sejalan dengan pandangan ini, adalah pandangan yang mendukung bahwa perilaku sosial lebih dapat dijelaskan dengan menekankan keunikan proses-proses kelompok daripada dijelaskan dalam tingkat individu. Dengan demikian, sebuah kelompok itu lebih dari sekedar berkumpulnya secara kebetulan orang-orang yang bersama-sama berbagi ide. Sebagai contoh, sebuah kerusuhan yang muncul setelah selesainya suatu pertandingan olah raga.

Interaksi sosial semacam ini hanya dapat dipahami dengan menganalisa perilaku dalam tingkat kelompok, sebagai kebalikan dari tingkat individual. Tajfel (dalam Sarwono, 2005) mendukung analisa perilaku kelompok, dan berpandangan bahwa untuk perilaku sosial perlu mempertimbangkan kelompok sebagai entitas sederhana yang nyata, karena keanggotaan dalam kelompok merupakan bagian integral dari konsep diri (self-concept).

Pakar psikologi sosial antara lain:

Cattel, Bennis dan Sheppard, Schutz ( Sarwono, 2005) menempatkan penelitian dan pembahasan tentang perilaku kelompok dalam prioritas yang cukup tinggi. Keterpaduan kelompok (group cohesiveness) diterangkan oleh berbagai teori. Sebagian tidak berdasarkan eksperimen seperti diusung Le Bon, Mc Dougall, dan Bion, sebagian lagi berdasarkan eksperimen seperti yang diusung oleh Festinger dan Lott dan Lott.

Menurut Mc Dougal (dalam Sarwono, 2005) kohesivitas kelompok dipengaruhi oleh faktor-faktor, antara lain kelangsungan keberadaan kelompok (berlanjut untuk waktu yang lama) dalam arti keanggotaan dan peran setiap anggota, adanya tradisi dan kebiasaan, ada organisasi dalam kelompok (ada deferensiasi dan spesialisasi fungsi), dan kesadaran diri kelompok (setiap anggota tahu siapa saja yang termasuk kelompok, bagaimana caranya ia berfungsi dalam kelompok, bagaimana struktur dalam kelompok), pengetahuan tentang kelompok, keterikatan (attachment) kepada kelompok.

Menurut Festinger (dalam Sarwono, 2005) keterpaduan kelompok diawali oleh ketertarikan terhadap kelompok dan anggota kelompok dan dilanjutkan dengan interaksi sosial dan tujuan-tujuan pribadi yang menuntut adanya saling ketergantungan. Pada gilirannya kekuatan-kekuatan di lapangan itu akan menimbulkan perilaku kelompok yang berupa kesinambungan keanggotaan dan penyesuaian terhadap standar kelompok, misalnya kelompok suporter tim sepak bola yang tetap konsisten

(5)

dengan standar kelompoknya untuk memberikan dukungan terhadap tim tersebut, kelompok penggemar motor besar yang tetap konsisten dengan standar kelompoknya yang mengharuskan menggunakan motor besar.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah penelitian di atas, maka peneliti ingin mengetahui:

1. Bagaimanakah kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania?

2. Faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania, serta ingin mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini yaitu:

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kelompok The Jakmania memiliki bentuk kohesivitas seperti aktifitas kelompok dalam komunitas, aktifitas kelompok kecil, proses pengambilan keputusan, identitas kelompok, kohesivitas kelompok di luar lapangan, kohesivitas kelompok di lapangan.

Hal itu menjadi bukti bahwa dengan serangkaian tindakan dan perilaku tersebut The Jakmania bisa didekati melalui teori psikologi sosial dan psikologi kelompok. Dengan demikian penelitian ini bermanfaat dan memperkaya khasanah ilmu psikologi khususnya psikologi sosial dan psikologi kelompok.

2. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi kelompok The Jakmania khususnya bagi komunitas The Jakmania Kukusan dan secara umum untuk kelompok dan komunitas lainnya.

Kohesivitas yang dibangun The Jakmania merupakan hasil dari hubungan antar individu di dalam kelompok yang mengarah kepada terbentuknya kebersamaan. Kohesivitas itu merupakan cerminan dari tindakan positif anggota The Jakmania yang mendukung klub sepakbola Persija.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kohesivitas 1. Pengertian Kohesivitas

Hornby (2000) mendefinisikan kohesif adalah pembentukan agar menjadi sebuah kesatuan. Selanjutnya, Alwi dkk (2005) mendefinisikan kohesif adalah melekat satu dengan yang lain, berpadu, berlekatan .

Festinger (dalam Ahmadi, 2002) mendefinisikan kohesivitas kelompok adalah kekuatan yang memelihara dan menjaga anggota dalam kelompok. Selanjutnya, Back (dalam Sarwono, 2005) mendefinisikan kohesivitas adalah daya tarik terhadap anggota kelompok atau ketertarikan interpersonal, dimana pengertian kohesivitas dikaitkan sebagai

(6)

daya tarik anggota kelompok terhadap anggota lainnya.

Festinger dkk. (dalam Sarwono, 2005) menyatakan bahwa kohesivitas kelompok adalah ketertarikan terhadap kelompok dan anggota kelompok dan dilanjutkan dengan interaksi sosial dan tujuan-tujuan pribadi yang menuntut saling ketergantungan. Selanjutnya, Walgito (2007) menyatakan bahwa kohesivitas kolompok adalah saling tertariknya atau saling senangnya anggota satu dengan yang lain dalam kelompok.

Dengan demikian dapat disimpulkan kohesivitas adalah ketertarikan anggota-anggota dalam kelompok untuk melekat satu dengan yang lain agar menjadi sebuah kesatuan.

2. Faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas kelompok

Kohesivitas kelompok terbentuk karena adanya daya tarik antar anggota kelompok atau kelompok itu sendiri. Pada beberapa kelompok, ikatan diantara anggota-anggota kuat dan menetap. Pada kelompok lain ikatan tersebut merenggang, dengan hilangnya rasa

“berkelompok” dan semakin lama anggota- anggotanya cenderung memisahkan diri.

Albert Myers (dalam Ahmadi, 2002) berdasarkan eksperimen yang dilakukan terhadap sejumlah regu tembak yang dipertandingkan, menyimpulkan bahwa ancaman dapat menimbulkan dan meningkatkan kohesivitas.

McDougall (dalam Sarwono, 2005) menyimpulkan bahwa kohesivitas kelompok

dapat tumbuh jika ada faktor-faktor yang menimbulkannya, yaitu:

a. Kelangsungan keberadaan kelompok (berlanjut untuk waktu yang lama) dalam arti keanggotaan dan peran setiap anggota.

b. Adanya tradisi, kebiasaan, dan adat.

c. Ada organisasi dalam kelompok.

d. Kesadaran diri kelompok, yaitu setiap anggota tahu siapa saja yang termasuk dalam kelompok, bagaimana caranya ia berfungsi dalam kelompok,bagaimana struktur dalam kelompok, dan sebagainya.

e. Pengetahuan tentang kelompok.

f. Keterikatan (attachment) kepada kelompok.

3. Dampak dari kohesivitas kelompok Menurut Lott dan Lott (dalam Sarwono, 2005) kohesivitas kelompok akan menimbulkan dampak sebagai berikut :

a. Agresivitas sebagai reaksi terhadap gangguan dari luar.

b. Evaluasi diri: menilai diri sendiri sebagai dinilai positif oleh orang-orang yang menyenangi dan menilai positif terhadap orang-orang yang disenangi.

c. Evaluasi yang berlebihan tentang keunggulan atau ketidakmampuan seeorang dibandingkan anggota kelompok lainnya.

d. Evaluasi positif terhadap kelompok dan hal- hal yang terkait dengan kelompok.

e. Persepsi tentang kesamaan antar pribadi dalam hal sikap, perilaku, dan kepribadian.

f. Komunikasi yang lebih bebas hambatan.

g. Konformitas pada standar kelompok yang bersangkutan dengan sikap dan penampilan.

(7)

4. Ciri-ciri kelompok yang kohesif

Ciri-ciri kohesifitas kelompok menurut Suryabrata (2007) dapat dilihat dari:

a. Setiap anggota kelompok mengenakan identitas yang sama.

b. Setiap anggota kelompok memiliki tujuan dan sasaran yang sama.

c. Setiap anggota kelompok merasakan keberhasilan dan kegagalan yang sama.

d. Setiap anggota kelompok saling berkerja sama dan berkolaborasi.

e. Setiap anggota kelompok memiliki peran keanggotaan.

f. Kelompok mengambil keputusan secara efektif.

B. Definisi Suporter

Hornby (2000) mendefenisikan suporter adalah seseorang yang mendukung sebuah kelompok atau pemikiran. Alwi dkk (2005) mendefinisikan suporter adalah orang yang memberikan dukungan, sokongan, dalam pertandingan.

Alwi (2005) mendefinisikan pendukung adalah orang mendukung, menyokong, dan menunjang. Hornby (2000) mendefinisikan pendukung adalah seseorang yang secara sukarela ikut ambil bagian dalam mendukung sebuah teori, konsep, kegiatan.

Dengan demikian dapat disimpulkan suporter adalah seseorang yang memberikan dukungan kepada sebuah kelompok dalam pertandingan.

C. Tim Sepak Bola Persija

1. Sejarah

Persija singkatan dari Persatuan Sepak Bola Jakarta adalah sebuah klub sepak bola Indonesia yang berbasis di Jakarta dan memiliki julukan Macan Kemayoran. Persija saat ini bermain di Divisi Utama Liga Indonesia.

Persija didirikan pada tahun 1928, dengan cikal bakal bernama Voetbalbond Indonesish Jakarta (VIJ). VIJ merupakan salah satu klub yang ikut mendirikan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dengan keikutsertaan wakil VIJ, Mr.Soekardi dalam pembentukan PSSI di Societeit Hadiprojo Yogyakarta, Sabtu 19 April 1930 (Wikipedia, 2007).

2. Prestasi Persija

Klub Sepak Bola Persija memiliki stadion yang terletak di Lebak Bulus, Jakarta, yang memiliki kapasitas berjumlah 30.000 penonton. Klub ini mendapatkan mendapatkan perhatian yang besar dari Gubernur Jakarta waktu itu ,Sutiyoso yang merupakan Pembina Persija. Keberadaan Persija dalam kancah Liga Indonesia memiliki banyak prestasi, di antaranya:

a. 1931 Juara – VIJ Jakarta ( nama awal Persija)

b. 1933 Juara – VIJ Jakarta c. 1934 Juara – VIJ Jakarta d. 1938 Juara – VIJ Jakarta e. 1964 Juara – Persija Jakarta f. 1974 Juara – Persija Jakarta

g. 1975 Persija Jakarta dan PSMS Medan (juara bersama)

h. 1977 Juara – Persija Jakarta

(8)

i. 1979 Juara – Persija Jakarta j. 1990 Divisi Utama Peringkat 10 k. 1995 Peringkat 12 Wilayah Barat l. 1995 Peringkat 13 Wilayah Barat m. 1996 Peringkat 10 Wilayah Barat n. 1998 4 Besar Liga Indonesia o. 1999 4 Besar Liga Indonesia p. 2001 Juara Liga Bank Mandiri q. 2002 8 Besar Liga Bank Mandiri r. 2003 Peringkat 7 Liga Bank Mandiri s. 2004 Peringkat 3 Liga Bank Mandiri t. 2005 Runner-Up Liga Indonesia u. 2005 Runner-Up Copa Indonesia v. 2006 Liga Indonesia 8 Besar w. 2006 Copa Indonesia Juara

D. Kohesivitas Suporter Tim Persija

The Jakmania memiliki kohesivitas yang dapat terlihat pada saat memberikan dukungan kepada tim Persija saat menghadapi pertandingan dengan menggunakan baju yang berwarna orange yang merupakan seragam dari tim sepak bola Persija. Selain memberikan dukungan kepada Persija dalam pertandingan, The Jakmania juga melakukan kegiatan seperti Jak On Air yaitu kegiatan yang diadakan dengan bekerja sama dengan Radio Utan Kayu. Mereka melakukan siaran radio secara langsung seminggu sekali dengan mendatangkan pemain- pemain Persija. Jak Angel yaitu komunitas perempuan yang mendukung tim Persija, Jak Online adalah kegiatan untuk bertukar informasi tentang Persija melalui jalur internet, dan Jakscooter merupakan komunitas pengguna kendaraan vespa yang mendukung persija Persija (Wikipedia, 2007).

Kohesifitas kelompok The Jakmania ini sebagian sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suryabrata (2007) mengenai ciri-ciri kohesifitas kelompok antara lain:

a. Setiap anggota kelompok mengenakan identitas yang sama.

b. Setiap anggota kelompok memiliki tujuan dan sasaran yang sama.

c. Setiap anggota kelompok merasakan keberhasilan dan kegagalan yang sama.

d. Setiap anggota kelompok saling berkerja sama dan berkolaborasi.

e. Setiap anggota kelompok memiliki peran keanggotaan.

f. Kelompok mengambil keputusan secara efektif.

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Usman dan Purnomo (2006) mendefinisikan metode penelitian kualitatif adalah metode yang berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri. Metode penelitian kualitatif dilakukan dalam situasi yang wajar (natural setting) dan lebih berdasarkan pada filsafat fenomenologis yang mengutamakan penghayatan. Akan tetapi dalam penelitian ini lebih ditekankan pada penelitian studi kasus yang merupakan bagian dari penelitian kualitatif. Yin (1994) menyimpulkan studi kasus sebagai suatu bentuk penelitian (inquiry) atau studi tentang suatu masalah yang

(9)

memiliki sifat kekhususan (particulary), dapat dilakukan baik dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif, dengan sasaran perorangan (individual) maupun kelompok, bahkan masyarakat luas.

Selanjutnya, Mulyana (2002) menjelaskan bahwa studi kasus ditekankan oleh beberapa peneliti karena memfokuskan apa yang dapat dipelajari secara khusus pada kasus tunggal. Penekanan studi kasus adalah memaksimalkan pemahaman tentang kasus yang dipelajari dan bukan untuk mendapatkan generalisasi.

Metode penelitian studi kasus bermaksud mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi suatu sosial, individu, kelompok, lembaga, dan masyarakat (Usman & Purnomo, 2006).

Ciri-ciri studi kasus menurut Mulyana (2002):

a. Studi kasus bukan metodologi penelitian, tetapi suatu bentuk studi (penelitian) tentang masalah yang khusus (particular).

b. Sasaran studi kasus dapat bersifat tunggal (ditujukan per orangan/individual) atau suatu kelompok, misalnya suatu kelas, kelompok profesional, dan lain-lain.

c. Masalah yang dipelajari bersifat kompleks atau sederhana. Masalah sederhana misalnya anak yang mengalami penyimpangan perilaku.

d. Tujuan yang ingin dicapai adalah pemahaman yang mendalam tentang suatu kasus.

e. Studi kasus tidak bertujuan melakukan generalisasi, walaupun studi dapat dilakukan terhadap beberapa kasus.

f. Hal-hal yang umum juga dipelajari dalam studi kasus tetapi lebih fokus kearah yang spesifik atau unik.

B. Subjek Penelitian 1. Karakteristik Subjek

Subjek adalah anggota The Jakmania dan merupakan bagian dari kelompok The Jak Kukusan yang melakukan aktifitas berangkat bersama-sama dari suatu tempat menuju lokasi pertandingan Persija dan pulang bersama-sama menuju tempat asal.

Peneliti memilih The Jak Kukusan karena keaktifan para pendukung tim sepak bola Persija ini yang secara wilayah berada di luar Jakarta yaitu di Depok, walaupun kota Depok memiliki tim sepak bola sendiri yaitu Persikad, tetapi kesetiaan suportivitas tetap kepada Persija.

2. Metode Pengambilan Subjek

Metode pengambilan subjek dalam metode studi kasus ini dilakukan dengan cara memilih berdasarkan karakteristik subjek yang telah ditentukan sebelumnya.

3. Jumlah Subjek

Menurut Foreman (dalam Black &

Champion, 2001) dalam penelitian studi kasus sampel penelitian dapat dikenakan pada seseorang, sekelompok orang seperti misalnya suatu perkumpulan atau keluarga, suatu kelas orang seperti profesor atau para pencuri, suatu unit ekologis seperti misalnya

(10)

rukun tetangga atau komunitas, suatu unit budaya seperti misalnya sebuah peragaan atau lembaga. Berdasarkan pendapat di atas, maka jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang yang masih dalam satu kelompok pada komunitas The Jak Kukusan.

C. Tahap-tahap Penelitian

Menurut Usman dan Purnomo (2006) tahap persiapan dan pelaksanaan dalam penelitian kualitatif meliputi beberapa tahap:

1. Studi Pendahuluan

Pada tahap ini studi pendahuluan berguna untuk menjajaki keadaan di luar lapangan, di mana peneliti harus mengetahui masalah apa yang layak dan penting untuk diteliti.

(Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan kegiatan untuk melihat kelayakan dan kepatutan dari masalah yang akan diteliti pada kelompok yang bersangkutan disertai adanya konsultasi dan bimbingan dari dosen pembimbing.)

2. Pembuatan Pradesain Penelitian

Pada tahap ini penelitian tidak bertujuan untuk menguji atau membuktikan teori seperti dalam metode kuantitatif, melainkan peneliti harus dapat mengembangkan teori yang akhirnya menemukan teori baru berdasarkan data yang didapatkan dilapangan.

3. Seminar Pradesain

Pada tahap ini seminar berguna untuk mendapatkan umpan balik terhadap hal-hal yang perlu mendapatkan perbaikan. Setelah pradesain selesai dibuat, maka perlu

diseminarkan atau meminta persetujuan pembimbing, barulah peneliti terjun kelapangan untuk mengumpulkan data yang relevan. (Peneliti melakukan seminar di depan kelas, di hadapan dosen pembimbing dan rekan kuliah. Seminar ini dilakukan pada saat mata kuliah seminar studi kasus.) 4. Memasuki Lapangan

Pada tahap ini langkah awal peneliti adalah memilih lokasi situasi sosial yang mengandung unsur tempat, pelaku, dan kegiatan.

a. Tempat adalah wadah dimana manusia melakukan kegiatan tertentu.

b. Pelaku adalah semua orang yang terdapat dalam wadah tertentu.

c. Kegiatan adalah aktivitas yang dilakukan dalam wadah tertentu.

5. Pengumpulan data

Pada tahap ini data yang dikumpulkan oleh peneliti meliputi tempat, pelaku, dan kegiatan yang diperoleh dari lapangan.

6. Analisis Data

Pada tahap ini data yang diperoleh dari lapangan harus segera dianalisis setelah dikumpulkan dan dituangkan dalam bentuk laporan lapangan.

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara

Menurut Usman dan Purnomo (2006) mendefinisikan wawancara adalah tanya jawab

(11)

lisan dua orang atau lebih secara langsung.

Percakapan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu Pewawancara yang disebut intervieuwer, sedangkan orang yang diwawancarai disebut interviewee. Menurut Denzin (dalam Black &

Champion, 2001) mendefinisikan Interview atau wawancara adalah pertukaran percakapan dengan tatap muka dimana seseorang memperoleh informasi dari yang lain.

Jenis wawancara menurut Guba dan Lincoln (dalam Moleong, 2007) dapat dibagi beberapa jenis yaitu:

1.) Wawancara oleh tim atau panel

Wawancara oleh tim berarti wawancara dilakukan tidak hanya oleh satu orang, tetapi oleh dua orang atau lebih terhadap sesorang yang diwawancarai. Di pihak lain, seseorang pewawancara dapat saja memperhadapkan dua orang atau lebih yang diwawancarai sekaligus, yang dalam hal ini dinamakan panel.

2.) Wawancara tertutup dan terbuka

Pada wawancara tertutup biasanya yang diwawancarai tidak mengetahui, tidak menyadari bahwa mereka diwawancarai, dan tidak mengetahui tujuan wawancara.

Sedangkan pada wawancara terbuka subjek mengetahui bahwa ia sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud dan tujuan wawancara itu.

3.) Wawancara riwayat secara lisan

Jenis ini adalah wawancara yang dilakukan sedemikian rupa sehingga terwawancara berbicara terus menerus, sedangkan pewawancara duduk mendengarkan

dengan baik diselingi dengan sekali-kali mengajkan pertanyaan.

4.) Wawancara terstruktur dan wawancara tak tersruktur

Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Sedangkan wawancara tak terstruktur adalah wawancara dimana pernyaan biasanya tidak disusun terlebih dahulu, malah disesuaikan dengan keadaan dan ciri yang unik dari responden.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tipe wawancara terbuka. Hal ini akan memungkinkan peneliti untuk memiliki panduan dalam mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan hal yang diteliti, namun pada saat yang bersamaan tetap fleksibel, itu semua tergantung pada perkembangan dan situasi dalam wawancara.

2. Observasi

Menurut Black & Champion (2001) observasi adalah mengamati dan mendengar perilaku seseorang selama beberapa waktu tanpa melakukan manipulasi dan pengendalian, serta mencatat penemuan yang memungkinkan atau memenuhi syarat untuk digunakan kedalam tingkat penafsiran analisis.

Menurut Young (dalam Ahmadi, 2002) observasi adalah suatu penyelidikan yang dijalankan secara sistematis, dan dengan sengaja diadakan dengan menggunakan alat indera (terutama mata) terhadap kejadian- kejadian yang langsung ditangkap pada waktu kejadian itu terjadi.

(12)

Menurut Usman dan Purnomo (2006) observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti. Dalam observasi peneliti secara terus menerus melakukan pengamatan atas perilaku seseorang, mencatat ucapan-ucapan, ekspresi- ekspresi dari responden dalam suatu wawancara.

Menurut Usman dan Purnomo (2006) Metode observasi dibagi menjadi enam teknik, yaitu

a) Observasi Partisipasi adalah observasi yang dilakukan jika observer terlibat langsung secara aktif dalam objek yang diteliti.

b) Observasi Nonpartisipasi adalah observasi yang dilakukan jika observer tidak terlibat langsung secara aktif dalam objek yang diteliti.

c) Observasi Sistematis adalah observasi yang sudah ditentukan terlebih dahulu kerangkanya, kerangka itu memuat faktor- faktor yang akan diobservasi menurut kategorinya.

d) Observasi Nonsistematis adalah observasi yang belum ditentukan terlebih dahulu kerangkanya.

e) Observasi Eksperimental adalah observasi yang dilakukan terhadap situasi yang disiapkan sedemikian rupa untuk meneliti sesuatu yang dicobakan.

f) Observasi Noneksperimental adalah observasi yang dilakukan terhadap situasi yang belum disiapkan atau alami untuk meneliti sesuatu yang dicobakan.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik observasi partisipasi

dimana peneliti terlibat langsung secara aktif dalam objek yang diteliti sehingga memungkinkan informasi yang diperoleh dapat lebih maksimal dan diharapkan akan membantu dalam penelitian.

E. Alat Bantu Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat bantu pengumpulan data sebagai berikut:

1. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara berisi pertanyaan – pertanyaan yang berkenaan dengan masalah penelitian. Pedoman wawancara ini disusun berdasarkan teori –teori yang berhubungan dengan topik penelitian. Manfaat dari pedoman wawancara ini adalah agar wawancara yang dilakukan tdak menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman wawancara ini memiliki 3 bagian, yaitu :

a Introduksi: berisi hal – hal yang perlu disampaikan kepada subjek sehubungan dengan kegiatan wawancara yang akan dilaksanakan.

b Data partisipan: Berisi hal-hal umum yang perlu diketahui seperti usia subjek, latar belakang pendidikan subjek dan lain sebagainya.

c. Pertanyaan –pertanyaan terbuka: Berisi hal- hal yang ingin ditanyakan peneliti kepada subjek yang sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian

2. Alat Bantu Pengumpul Data

Tape Recorder digunakan sebagai alat bantu pada saat wawancara, ini dimaksud agar

(13)

memudahkan peneliti dalam mencatat jawaban yang subjek berikan. Penggunaan alat perekam dilakukan atas sepengetahuan dan seizin subjek.

Kamera digunakan sebagai alat bantu pada saat observasi, ini dimaksud agar memudahkan peneliti dalam mengobservasi kejadian di lapangan. Penggunaan alat perekam dilakukan atas sepengetahuan dan seizin subjek.

F. Keakuratan Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa uji keakuratan, antara lain:

1. Uji Kredibilitas

Kredibilitas adalah kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif. Untuk mencapai kredibilitas dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mengunakan proses triangulasi dan meningkatkan ketekunan (keajegan pengamatan).

Menurut Wiersma (dalam Sugiyono, 2007) triangulasi adalah pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Patton (dalam Moleong, 2007) mengemukakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan, yaitu:

a. Triangulasi Sumber

Membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.

b. Triangulasi Metode

Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.

c. Triangulasi penyidik

Adanya pengamat diluar peneliti untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Adanya pengamat lain membantu mengurangi kemelencengan dalam pengumpulan data.

d. Triangulasi Teori

Pengunaan berbagai teori yang berlainan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memenuhi syarat.

2. Uji Dependability

Dependability adalah uji yang dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Cara untuk melakukan dependability adalah dilakukan oleh auditor yang independen atau pembimbing mengaudit keseluruhan aktifitas peneliti dalam melekukan penelitian (bagaimana peneliti mulai menentukan masalah atau fokus, memasuki lapangan, menentukan sumber data, sampai membuat kesimpulan dapat ditunjukan oleh peneliti).

3. Uji Confirmability

Confirmability adalah menguji hasil penelitian yang dikaitkan dengan proses yang dilakukan.

(14)

G. Analisis Data

Dalam menganalisa penelitian kualitatif terdapat beberapa langkah, antara lain:

1. Data Reduction (Reduksi Data)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal- hal yang penting, dicari tema dan polanya.

2. Data Display (Penyajian Data)

Menyajikan kedalam pola sehingga memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Dalam penyajian data, verbatim disusun berdasarkan tema-tema. Dalam koding dilakukan 2 tahap. Yang pertama, pertanyaan dan jawaban serta observasi disusun menjadi tiga kolom (baris, wawancara, tema) serta urutan penyajian berdasarkan baris. Yang kedua pertanyaan dan jawaban serta observasi yang sudah disusun dikelompokkan berdasarkan tema- tema, sehingga baris berubah lalu dibuat baris baru. Selanjutnya hasil koding tahap kedua dibaca berulang-ulang.

3. Conclusion Drawing/verication

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian diatas dapat dijelaskan beberapa hal yaitu:

1. Kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania.

Menurut Suryabrata (2007) ciri-ciri kohesivitas kelompok dapat dilihat dari: setiap anggota kelompok mengenakan identitas yang sama, setiap anggota kelompok memiliki tujuan dan sasaran yang sama, setiap anggota kelompok merasakan keberhasilan dan kegagalan yang sama, setiap anggota kelompok saling berkerja sama dan berkolaborasi, setiap anggota kelompok memiliki peran ke anggotaan, kelompok mengambil keputusan secara efektif.

Berdasarkan penelitian kohesivitas dalam kelompok tersebut seperti, aktifitas kelompok dalam komunitas (main bola bareng adalah salah satu kegiatan TheJak kukusan, berkumpul setiap hari), aktifitas kelompok kecil (pulang pergi bersama saat menonton pertandingan Persija secara langsung, patungan), proses pengambilan keputusan (berdiskusi untuk menentukan keputusan yang terbaik, setiap anggota mempunyai solusi), identitas kelompok (menggunakan atribut Persija, baju, logo, shal), kohesivitas kelompok di luar lapangan (berkumpul diwarung ujung gang, dalam perjalanan kelompok menyanyikan yel-yel bersama), kohesivitas kelompok dilapangan (kelompok bergabung dengan The Jak yang lain, kelompok bernyanyi bersama- sama, merayakan gol bersama, merayakan kemenangan bersama).

2. Faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania.

Menurut McDougall (dalam Sarwono, 2005) kohesivitas dalam kelompok dapat dipengaruhi oleh: kelangsungan keberadaan

(15)

kelompok (berlanjut dalam waktu yang lama) dalam arti keanggotaan dan peran setiap anggota, adanya tradisi kebiasaan dan adat, ada organisasi dalam kelompok, kesadaran diri kelompok (setiap anggota tahu siapa saja yang termasuk dalam kelompok, bagaimana caranya ia berfungsi dalam kelompok,bagaimana struktur dalam kelompok, dan sebagainya), pengetahuan tentang kelompok, keterikatan (attachment) kepada kelompok.

Selain dapat melihat kohesivitas dalam kelompok tersebut, peneliti juga dapat melihat faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania.

Pertama, latar belakang kelompok yaitu teman nongkrong (jarak rumah yang berdekatan menyebabkan anggota mudah bertemu), jumlah anggota (dengan anggota yang berjumlah 10 orang menyebabkan setiap individu dapat mengenal lebih dalam dengan anggota kelompok), tujuan yang sama (setiap anggota dalam kelompok memiliki keinginan yang sama yaitu ingin tim yang didukungnya menang).

Kedua, aktivitas dan kegiatan kelompok seperti main bola bareng (setiap anggota kelompok memiliki kegiatan sehari-hari bersama kelompok seperti main bola bareng dan aktivitas tersebut dapat meningkatkan kekompakkan), nonton bola bareng (kelompok memiliki kegiatan lain seperti nonton Liga Champion bersama anggota kelompok dan aktifitas tersebut dapat meningkatkan kekompakan, karena setiap anggota dapat saling bertemu). Ketiga kebersamaan kelompok seperti proses menumbuhkan keterikatan (pada saat berkumpul, anggota kelompok bercanda gurau dan tertawa bersama sehingga aktifitas ini dapat

meningkatkan keterikatan antara anggota kelompok), saling membantu dan menolong (setiap anggota The Jak saling membantu jika ada yang kesusahan dan setiap anggota The Jak harus saling menolong, perilaku tersebut dapat meningkatkan kekompakkan dan kebersamaan setiap anggota).

Kegiatan-kegiatan seperti inilah yang menyebabkan adanya keterkaitan antara dua hal yaitu kohesivitas dalam kelompok tersebut dan faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania yang saling berkesinambungan.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah

1. Kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania, hal ini dilihat dari: Aktifitas kelompok dalam komunitas(main bola bareng, satu lingkungan, bakti sosial dan nonton bola bareng), aktifitas kelompok kecil (pulang pergi bersama, patungan, pulang dan pergi bersama), proses pengambilan keputusan kelompok (berdiskusi, solusi, pengambilan keputusan), identitas kelompok (warna, tulisan, logo-logo, warna, logo, atribut Persija), kohesivitas kelompok di luar lapangan (proses menumbuhkan keterikatan, aktifitas sebelum pertandingan, aktifitas setelah pertandingan, tempat berkumpul, mencari kendaraan, menaiki kendaraan, menyanyikan yel-yel, membeli air dan rokok, tegur sapa, menuju tempat parkir, perjalanan

(16)

pulang, membahas pertandingan), kohesivitas kelompok di lapangan (bentuk dukungan, aktifitas ketika pertandingan, mencari Jak lain, bergabung dengan Jak lain, bernyanyi bersama, merayakan gol, merayakan kemenangan).

2. Faktor-faktor yang menyebabkan kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania adalah sebagai berikut: Latar belakang kelompok (jumlah anggota, teman nongkrong, tujuan yang sama), aktifitas dan kegiatan kelompok (main bola bareng, satu lingkungan, main bola, bakti sosial, nonton bola), kebersamaan kelompok (proses menumbuhkan keterikatan, saling membantu, saling menolong).

A. Saran

Terdapat beberapa saran yang peneliti ingin berikan:

1. Saran untuk subjek

Dalam kesempatan ini penulis ingin memberikan saran kepada subjek agar dapat mempertahankan kohesivitas dan komunikasi yang telah terjalin baik dalam kelompok.

2. Saran untuk kelompok

Bagi kelompok diharapkan dapat mempertahankan kohesivitas dengan cara menjalankan kegiatan-kegiatan positif seperti nonton bola bersama, main bola bersama, sehingga dapat meningkatkan kekompakan para anggotanya.

3. Saran untuk peneliti berikutnya

Bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti, seperti mencari subjek yang berbeda daerah dengan penelitian ini, serta kegiatan yang dilakukan oleh kelompok komunitas lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. (2002). Psikologi sosial. Jakarta:

Penerbit Rineka Cipta.

Alwi, H. (2005). Kamus besar bahasa indonesia.

Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Black, J. A., & Champion, D. J. (2001). Metode dan masalah penelitian sosial. Bandung:

PT. Refika Aditama.

Budiyanto. (2004). Kewarganegaraan untuk SMA kelas X. Jakarta: Erlangga.

Hornby, A. S. (2000). Oxford advanced learner’s dictionary of current english. United Kingdom: Oxford University Press.

Moleong, L. (2007). Metodelogi penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. (2002). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sarwono, S. W. (2005). Psikologi sosial:

Psikologi kelompok dan psikologi terapan.

Jakarta: Balai Pustaka.

Sugiyono. (2007). Memahami penelitian kualitatif. Bandung: CV Alfabeta.

(17)

Sukardi. (2005). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta; Balai Pustaka.

Suryabrata, C. (2007). Ciri-ciri kelompok yang kohesif. http://www.bpkpenabur.or.id/kps- jkt/berita/9810/artikel.htm. 21 Maret 2007

Usman, H., & Purnomo, S. A. (2006).

Metodelogi penelitian sosial. Jakarta:

Balai Pustaka.

Yin, R. K. (2002). Studi kasus: Desain &

metode. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Walgito, B. (2007). Psikologi kelompok.

Yogyakarta: Penerbit Andi.

Wikipedia. (2007). Jakmania.

http://id.wikipedia.org/wiki/the_jakmania.ht m. 21 Maret 2007

Referensi

Dokumen terkait

Turning the original model layer on and off as needed and using the Scale tool just as we did with the trailer bed, align the new wall with the original as shown in the

They are not only some strange object randomly put in the story without any significance, but the symbols in the literary work play an important part for the readers to create

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan presepsi tenaga kesehatan di rumah sakit Kabupaten Banyumas terhadap kehalalan obat.Penelitian

kesihatan yang perlu di ketahui oleh jemaah haji kesihatan yang perlu di ketahui oleh jemaah haji serta meninggalkan perkara yang dilarang.. serta meninggalkan perkara

Android merupakan sistem operasi yang tertanam pada smartphone. Pengguna smartphone dengan sistem operasi android sangat tinggi, rata- rata setiap orang

Kerusakan otak yang menetap akan terjadi apabila kekurangan O2 dalam darah tidak segera dikoreksi atau apabila sirkulasi terhenti lebih dari 3 – 5 menit (Tjokronegoro,

berat takaran yang dihasilkan sekitar 400 gram untuk setiap 0,5 kg dari 1 kg - 10. kg guna mengatasi hal tersebut maka dilakukan pengaturan ulang kembali

Kuartalan.………...………...84 LAMPIRAN D Koefisien Korelasi Saat Tanggal Publikasi Laporan Keuangan Kuartalan.………...………...85 LAMPIRAN E Hasil SPSS Sembilan