• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH: JULIUS GULTOM ILMU TANAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH: JULIUS GULTOM ILMU TANAH"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI OLEH:

JULIUS GULTOM 140301022 ILMU TANAH

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

(2)

SKRIPSI OLEH:

JULIUS GULTOM 140301022 ILMU TANAH

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Meraih Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)

Selatan Village Sei Bingei Subdistric Distric of Langkat” supervised by Supriadi and Mukhlis. This study aims to classify the soil starting from the level of orders to sub group in Namu Ukur Selatan Village Sei Bingai Subdistric, Distric of Langkat. This research was carried out by survey method in 3 kind of parent material at Desa Namu Ukur Selatan village. Morphological properties were identified by describing the soil profiles while physical and chemical properties were identified by laboratory analysis. The results shows that the classification of soil based on Soil Taxonomy 2014 in Namu Ukur Selatan Village Sei Bingai Subdistric, Distric of Langkat on 1st Profile is Inceptisols, Udepts, Humudepts, and Humik Psammentik Dystrudepts.2nd Profile is Inceptisols, Udepts, Dystrudepts, and Typic Dystrudepts. 3rd Profile is Inceptisols, Udepts, Humudepts, and Humik Psammentik Dystrudepts.

Key Words :Namu Ukur , Parent materia, Soil classificition, Soil taxonomy.

(5)

Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat di bawah bimbingan Supriadi dan Mukhlis. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan tanah mulai dari tingkat ordo sampai sub group di Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei pada 3 jenis bahan induk di Desa Namu Ukur Selatan. Dilakukan deskripsi profil tanah untuk menentukan sifat morfologi tanah sementara sifat fisik dan kimia dilakukan dengan analisis laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan klasifikasi tanah berdasarkan Kunci Taksonomi Tanah 2014 di Desa Namu Ukur Selatan pada profil 1 adalah : Inceptisol, Udept, Humudept, dan Humik Psammentik Dystrudepts. Profil 2 adalah Inceptisol, Udept, Dystrudepts, dan Typic Dystrudepts. Profil 3 adalah Inceptisol, Udept, Humudept, dan Humik Psammentik Dystrudepts.

Kata Kunci : Bahan induk, Klasifikasi tanah, Namu Ukur ,Taksonomi tanah.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 01 Juli 1996 dari ayah Rahman Gultom dan Marice Siagian. Penulis merupakan anak ke 3 dari tiga bersaudara.

Pada tahun 2008 penulis lulus dari SD Swasta Budi Murni 7 Medan. Pada tahun 2011 penulis lulus dari SMP Negeri 27 Medan. Pada tahun 2014 penulis lulus dari SMA Swasta Methodist 7 Medan dan pada tahun yang sama lulus seleksi masukUniversitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jurusan Agroteknologi dengan memilih minat ilmu tanah Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGROTEK). Menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Komisariat Fakultas Pertanian USU. Selain itu penulis juga bergabung dalam Ikatan Mahasiswa Ilmu Tanah (IMILTA) Fakultas Pertanian USU.

Pada Tahun 2017 penulis melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di PT. PP. Lonsum Sumatera (LONSUM) Tbk. Labuhan Batu Selatan, Sumatera Utara.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari skripsi ini adalah “Kajian Karakteristik dan Klasifikasi Tanah di Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat meraih gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Supriadi, Ms. selaku ketua komisi pembimbing dan Dr.Ir. Mukhlis,M.Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah memberikan arahan dalam penyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, Desember 2021

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

RIWAYAT HIDUP ...iii

KATAPENGANTAR...iv

DAFTAR ISI...v

DAFTAR TABEL...vi

DAFTAR GAMBAR...vii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Kegunaan Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Tanah ... 4

Klasifikasi Tanah Nasional ... 5

Taksonomi Tanah ... 6

Taksonomi Tanah 2014 ... 9

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian………19

Bahan dan Alat ... 19

Metode Penelitian... 20

Pelaksanaan Penelitian ... 20

Pengolahan Data... 23

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 24

Deskripsi Profil Tanah ... 31

Analisis Tanah di Laboratorium ... 36

Pembahasan... 38

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 56

Saran ... 56 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(9)

DAFTAR TABEL

No. Keterangan Hal.

1 Deskripsi Ketiga Profil Tanah 32

2 Deskripsi Profil I 33

3 Deskripsi Profil II 34

4 Deskripsi Profil III 35

5 Hasil Analisis Sifat Fisika Tanah Pada Ketiga Profil 36 6 Hasil Analisis Sifat Kimia Tanah Pada Ketiga Profil 37 7 Kriteria Penilaian Hasil Analisis Contoh Tanah 62

(10)

DAFTAR GAMBAR

No. Keterangan Hal.

1 Deskripsi Profil I 33

2 Deskripsi Profil II 34

3 Deskripsi Profil III 35

4 Profil Tanah 61

5 Lokasi Profil I 60

6 Lokasi Profil II 60

7 Lokasi profil III 61

(11)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Tanah menempati ruang antara atmosfir (lapisan udara), litosfir (lapisan batuan yang menyusun bumi) dan berbatasan dengan hidrosfir (lapisan air).

Akibat adanya interaksi antara sifat fisika, kimia, dan biologi pada batuan dan bahan induk tanah maka terbentuklah jenis tanah yang memiliki sifat dan ciri yang berbeda (Fiantis, 2015).

Tanah merupakan suatu benda alam yang tersusun dari padatan (bahan mineral dan bahan organik), cairan dan gas, yang menempati permukaan daratan, menempati ruang, dan dicirikan oleh salah satu atau kedua berikut: horizon- horizon, atau lapisan-lapisan, yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sebagai suatu hasil dari proses penambahan, kehilangan, pemindahan, dan transformasi energi dan bahan, atau berkemampuan mendukung tanaman berakar di dalam suatu lingkungan alami. Dan kemudian diperluas guna mencakup tanah-tanah di wilayah Antartika, di mana proses pedogenesis dapat berlangsung tetapi iklimnya bersifat terlampau ekstrim untuk mendukung bentuk-bentuk tanaman tingkat tinggi (Soil Survey Staff, 2014).

Survei tanah diperlukan untuk semua kegiatan perencanaan pengelolaan lahan karena begitu banyaknya jenis tanah, masing-masing dengan berbagai kombinasi faktor-faktor pembentuk atau faktor genesisnya yang mempengaruhi terhadap sifat dan ciri tanah tersebut, yang pada akhirnya mempengaruhi terhadap potensi penggunaannya untuk suatu peruntukan tertentu. Tujuan utama dari survei tanah adalah menyediakan keterangan-keterangan tentang berbagai jenis tanah, penyebaran yang dapat digunakan dalam mengevaluasi potensinya untuk suatu penggunaan tertentu (Risamasu, 2010).

(12)

Klasifikasi tanah di Indonesia mulai dikembangkan sejak tahun 1910 melalui pendekatan bahan induk, proses pembentukan dan warna tanah.

Perkembangan pendekatan klasifikasi tanah dan aplikasinya dalam survei dan pemetaan serta interpretasinya untuk keperluan sektor pertanian terus dilakukan untuk memodifikasi sistem klasifikasi berdasarkan pengalaman dan pengetahuan para peneliti. Penggunaan klasifikasi dalam survei dan pemetaan tanah diharapkan dapat memberikan informasi tentang sifat-sifat tanah untuk pengelolaan lahan pertanian yang berkelanjutan (Subardja, et al., 2014).

Klasifikasi tanah adalah usaha untuk membeda-bedakan tanah berdasarkan sifat-sifat yang dimilikinya. Dengan cara ini maka tanah-tanah dengan sifat yang sama dimasukkan ke dalam satu kelas yang sama. Hal ini sangat penting karena tanah-tanah dengan sifat yang berbeda memerlukan perlakuan yang berbeda jadi jenis-jenis tanah itu diberi nama (Hardjowigeno, 2003).

Tujuan umum klasifikasi tanah adalah menyediakan suatu susunan yang teratur (sistematik) bagi pengetahuan mengenai tanah dan hubungannya dengan tanaman, baik mengenai produksi maupun perlindungan kesuburan tanah. Tujuan ini meliputi berbagai segi, antara lain peramalan pertanian di masa yang akan datang (Darmawijaya, 1997).

Desa Namu Ukur Selatan merupakan desa yang terdapat di Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat, dimana sebahagian mata pencaharian masyarakatnya adalah bertani. Namun kehidupan dan perekonomian masyarakat di Desa Namukur Selatan belum maksimal. Padahal Desa Namu Ukur Selatan tersebut memiliki potensi wilayah berupa pertanian. Maka dari itu dibutuhkan suatu pengklasifikasian tanah berdasarkan sifat-sifat yang sama untuk dapat ditentukan

(13)

penggunaan tanah yang tepat untuk memperoleh hasil yang optimum dan efisien dalam produksi tanaman pertanian.

Daerah penelitian belum pernah diklasifikasikan sampai ke tingkat sub grup, berdasarkan hal tersebut penulis tertarik melakukan penelitian di Desa Namu Ukur Selatan di dalam mengklasifikasikan tanah berdasarkan Kunci Taksonomi Tanah 2014.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui klasifikasi tanah di Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat mulai dari tingkat ordo sampai sub grup.

Kegunaan Penelitian

Sebagai salah satu syarat untuk dapat meraih gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

(14)

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Tanah

Suatu klasifikasi tanah telah ditemukan pada tahun 1887 oleh seorang ahli tanah Rusia yang bernama Dokuchaev. Selanjutnya klasifikasi tanah berkembang ke Eropa dan Amerika serta negara-negara lain di dunia. Sistem klasifikasi yang dikembangkan berdasarkan teori bahwa setiap jenis tanah mempunyai maxfologi tertentu atau mempunyai ciri dan sifat tertentu yang dihubungkan pada kombinasi faktor-faktor pembentuk tanah.

Pada tahun 1960 Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkenalkan sistem klasifikasi tanah yang baru yang disebut Comprehensive System. Sistem klasifikasi tanah ini lebih banyak menekankan pada morfologi dan kurang menekankan pada faktor-faktor pementuk tanah dibandingkan dengan sistem klasifikasi tanah di luar Eropa dan Amerika Serikat, termasuk Indonesia (Mega, et al., 2010).

Klasifikasi tanah adalah cara mengumpulkan dan mengelompokkan tanah berdasarkan kesamaan dari sifat dan ciri morfologi, fisika dan kimia, serta mineralogi, yang kemudian diberi nama agar mudah dikenal, diingat, dipahami dan digunakan serta dapat dibedakan satu dengan lainnya. Tanah yang diklasifikasikan adalah benda alami yang terdiri dari padatan (bahan mineral dan bahan organik), cairan dan gas, yang terbentuk dipermukaan bumi dari hasil pelapukan bahan induk oleh interaksi faktor iklim, relief, organisme dan waktu, berlapis-lapis dan mampu mendukung pertumbuhan tanaman, sedalam 2 m atau sampai batas aktivitas biologi tanah (Subardja, et al., 2014).

Sistem klasifikasi tanah yang berlaku saat ini adalah sistem klasifikasi taksonomi tanah yang dikembangkan oleh USDA. Sistem klasifikasi tanah ini

(15)

memiliki keistimewaan terutama dalam hal penamaan atau tata nama, definisi- definisi horizon penciri, dan beberapa sifat penciri lain yang digunakan untuk menentukan jenis tanah (Panjaitan, et al., 2015).

Pada tanah yang mempunyai bentuk fisik yang berbeda diberikan sebuah nama yang dapat mencerminkan sifat dan ciri yang dominan yang dimilikinya.

Akibatnya terdapat bermacam-macam nama tanah yang diberikan oleh manusia pada tanah yang ada pada suatu daerah/negara. Tanah-tanah yang mempunyai kesamaan dikelompokkan pada kelas tertentu sedangkan tanah-tanah yang berbeda dimasukan kedalam kelas yang berbeda pula (Fiantis, 2015).

Dasar yang digunakan untuk menyusun klasifikasi tanah diperoleh dari data, yaitu penyelidikan profil tanah dan analisa laboratorium pada contoh-contoh tanah tiap profil yang akan memberikan data mengenai sifat fisik, kimia dan mineralogi tanah (Darmawijaya, 1990).

Sistem klasifikasi tanah yang digunakan dalam kegiatan inventarisasi sumberdaya tanah di Indonesia telah mengalami beberapa tahap peningkatan, sesuai dengan kemajuan IPTEK dalam Ilmu Tanah. Dalam tahap awal (1955- 1980) digunak an sistem klasifikasi Dudal dan Soepraptohardjo (DS), kemudian Satuan Tanah Peta Tanah Dunia FAO-Unesco (1972-1985), dan selanjutnya Taksonomi Tanah (1975-sekarang). Untuk keperluan penggunaan di lapang, supaya lebih praktis, sistem klasifikasi Taksonomi Tanah telah disarikan dalam bentuk buku Kunci Taksonomi Tanah (Keys to Soil Taxonomy) (Soil Survey Staff, 2014).

Klasifikasi Tanah Nasional

Sistem klasifikasi tanah nasional dibangun sesuai dengan kebutuhan dan

(16)

kondisi sumberdaya tanah dan perkembangan IPTEK di Indonesia. Struktur klasifikasi tanah terbagi dalam dua tingkat/kategori, yaitu jenis tanah dan macam tanah. Pembagian jenis tanah didasarkan pada susunan horison utama penciri, proses pembentukan (genesis) dan sifat penciri lainnya. Pada tingkat macam tanah digunakan sifat tanah atau horison penciri lainnya. Tata nama pada tingkat jenis tanah lebih dominan menggunakan nama jenis tanah yang lama dengan beberapa penambahan baru. Sedangkan pada tingkat macam tanah sepenuhnya menggunakan nama/istilah yang berasal dari Unit Tanah FAO/UNESCO dan atau Sistem Taksonomi Tanah USDA (Subardja, et al., 2014).

Klasifikasi tanah nasional ditetapkan berdasarkan sifat dari horison penciri (diagnostic horizon). Sifat penciri tersebut dapat diukur dan diamati secara kualitatif dari sifat morfologi tanah di lapangan, dan secara kuantitatif dari hasil analisis tanah di laboratorium (Subardja, et al., 2014).

Taksonomi Tanah

Taksonomi tanah adalah bagian dari klasifikasi tanah baru dan merupakan sistem klasifikasi tanah internasional yang diperkenalkan pada tahun 1975 dan berkembang dengan cepat. Semua kunci dalam taksonomi tanah dirancang sedemikian rupa sehingga pengguna mereka dapat menentukan klasifikasi tanah yang benar dengan melalui kunci yang sistematis, dimulai dari awal dan menghilangkan satu demi satu kelas yang tidak sesuai dengan kriteria tanah yang dimaksud (Soil Survey Staff, 2014).

Taksonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu taxis dan nomos. Taxis berarti susunan sedangkan nomos adalah hukum atau aturan. Jadi taksonomi tanah

(17)

berarti aturan tentang tanah yang disusun secara sistematis. Departemen Pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculture = USDA) telah menyusun suatu sistem klasifikasi yang dinamakan Taksonomi Tanah (Soil Taxonomy). Sistem ini merupakan penyempurnaan dari the Comprehensive System of Soil Classification 7th Approximation yang diperkenalkan oleh Guy D.

Smith pada tahun 1960. Setelah melalui berbagai perbaikan dan penyempurnaan akhirnya pada tahun 1975 diterbitkanlah buku Soil Taxonomy, A Basic System of Soil Classification for Making and Interpreting Soil Surveysoleh sekelompok ahli ilmu tanah Amerika Serikat yang dinamakan Soil Survey Staff. (Fiantis, 2015).

Taksonomi tanah terdiri dari 6 kategori dengan sifat-sifat faktor pembeda sebagai berikut :

1.Ordo

Ordo dibedakan atas sifat-sifat umum tanah yang menentukan pembentukan horison penciri.

2.Sub Ordo

Faktor pembeda adalah faktor-faktor yang besar pengaruhnya terhadap sifat- sifat genetik tanah seperti keseragaman genetik,misalnya ada tidaknya sifat- sifat tanah yang berhubungan denganpengaruh air, regim kelembaban, bahan induk utama, pengaruh vegetasiyang ditunjukkan oleh adanya sifat-sifat tanah tertentu, tingkat pelapukanbahan organik (untuk tanah-tanah organik).

3.Great Group

Faktor pembeda adalah kesamaan jenis, tingkat perkembangan dan susunan horison, kejenuhan basa, regim suhu dan kelembaban, ada tidaknya lapisan- lapisan penciri lain seperti plinthite, fragipan dan duripan.

(18)

4.Sub Group

Faktor pembeda terdiri dari sifat-sifat inti dari great group (sub group Typic), sifat-sifat tanah peralihan ke great group peralihan ke great group lain, sub ordo atau ordo, sifat-sifat tanah peralihan ke bukan tanah.

5.Famili

Faktor pembedanya adalah sifat-sifat tanah yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Sifat-sifat tanah yang sering digunakan sebagai faktor pembeda untuk family antara lain adalah : sebaran besar butir, susunan mineral(liat), regim temperatur pada kedalaman 50 cm.

6.Seri

Faktor pembedanya adalah : jenis dan susunan horison, warna, tekstur, struktur, konsistensi, drainase (permeabilitas), reaksi tanah dari masing-masing horison, sifat-sifat kimia dan mineral masing-masing horison.

Kategori ordo tanah sampai great group disebut kategori tinggi sedangkan kategori sub group sampai seri disebut kategori rendah. Jenis dan jumlah faktor pembeda meningkat dari kategori rendah ke tinggi (Hardjowigeno, 1993).

Taksonomi tanah adalah cabang dari klasifikasi tanah. Dalam taksonomi tanah, disajikan secara lengkap tentang prosedur pengelompokan tanah mulaidari kategori tinggi sampai kategori rendah. Prosedur taksonomi tanah adalah mengikuti :

1.Deskripsi profil tanah

2.Penentuan horison penciri (epipedon dan horizon bawah penciri).

3.Penentuan sifat-sifat lain.

4.Pemakaian kunci taksonomi dengan urutan : ordo (ada 12 ordo), sub ordo,

(19)

kelompok besar (great group), anak kelompok (sub group), keluarga (family) dan seri. (Marpaung,2008).

Dalam sistem taksonomi tanah, lapisan-lapisan dari tubuh tanah yang diperiksa sebagai sifat penciri ialah epipedon dan endopedon. Horison penciri adalah horison genetik yang digunakan untuk menggolongkan tanah dan memberikan nama tanah dalam berbagai kategori (Mega, et al., 2010).

Horison penciri yang digunakan dalam penetapan klasifikasi tanah terdiri dari horison A (horison atas, epipedon) dan horison B (horison bawah permukaan). Horison A merupakan lapisan tanah permukaan setebal 25 cm atau kurang, berwarna lebih gelap dibanding horison di bawahnya, dan banyak dipengaruhi oleh aktivitas biologi (Subardja, et al., 2014).

Taksonomi Tanah 2014

Menurut Taksonomi Tanah 2014 (Soil Survey Staff, 2014) terdapat 8 epipedon penciri yaitu : Antropik, Folistik, Histik, Melanik, Molik, Okrik, Plagen, dan Umbrik.

A. Epipedon Antropik

Epipedon antropik tersusun dari bahan tanah mineral, yang menunjukkan adanya tanda-tanda pengubahan sifat-sifat tanah dengan sengaja, atau pengubahan kenampakan permukaan bumi akibat kegiatan manusia.

B. Epipedon Folistik

Epipedon Folistik merupakan suatu lapisan yang jenuh air kurang dari 30 hari kumulatif dalam tahun-tahun normal (dan tidak ada drainase). Sebagai besar epipedon folistik tersusun dari bahan tanah organik.

(20)

C. Epipedon Histik

Epipedon Histik merupakan suatu lapisan yang dicirikan oleh adanya saturasi (selama 30 hari atau lebih, secara kumulatif) dan reduksi selama beberapa waktu dalam tahun-tahun normal (dan telah drainase). Sebagian besar epipedon histik tersusun dari bahan tanah organik

D. Epipedon Melanik

Epipedon melanik memiliki ketebalan kumulatif 30 cm atau lebih dan kandungan C-organik 4% atau lebih di semua lapisan.

E. Epipedon Mollik

Epipedon mollik tersusun atas bahan tanah mineral dan memiliki kandungan C- organik 0,6% atau lebih, dan n-value <0,7.

F. Epipedon Okrik

Epipedon okrik memiliki permukaan yang terlalu tipis dan kering, memiliki value warna atau kroma yang terlalu tinggi, dan mengandung terlalu sedikit karbon organic

G. Epipedon Flagen

Epipedon plagen adalah suatu lapisan permukaan mineral buatan manusia yang tebal, yang telah terbentuk oleh pemberian pupuk kandang secara terus- menerus dalam waktu yang lama.

H. Epipedon Umbrik

Epipedon umbrik tersusun dari bahan tanah mineral dan mempunyai kandungan C-organik > 0.6% dan n-value < 0.7.

Menurut Taksonomi Tanah 2014 (Soil Survey Staff, 2014), terdapat 20 horison bawah penciri yaitu : horison Agrik, Albik, Anhydritik, Argilik, Kalsik,

(21)

Kambik, Duripan, Fragipan, Glosik, Gipsik, Kandik, Natrik, Orstein, Oksik, Petrokalsik, Petrogipsik, Placik, Salik, Sombrik, dan Spodik.

A. Horison Argilik

Horison agrik adalah suatu horison iluvial yang telah terbentuk akibat pengolahan tanah dan mengandung sejumlah debu, liat, dan humus yang signifikan.

B. Horison Albik

Horison albik merupakan horison eluvial dengan tebal 1.0 cm dan mempunyai 85% atau lebih bahan-bahan andik.

C. Horison Anhydritik

Horison anhydritik adalah horizon yang dimana (senyawa) anhidrit, telah terakumulasi melalui proses neoformasi atau transformasi dalam jumlah yang signifikan.

D. Horison Argilik

Horison argilik merupakan suatu horison bawah permukaan dangan kandungan liat phylosolikat yang lebih tinggi daripada bahan tanah yang diatasnya.

E. Horison Kalsik

Horison kalsik merupakan horison iluvial dimana kalsium karbonat sekunder atau senyawa karbonat lainnnya telah terakumulasi dalam jumlah yang signifikan.

F. Horison Kambik

Horison kambik merupakan horison yang terbentuk sebagai hasil alterasi secara fisik, transformasi secara kimia, atau merupakan hasil kombinasi dari dua

(22)

atau lebih proses-proses tersebut G. Horison Duripan

Horison duripan merupakan horizon bawah permukaan tersementasi-silika, dengan atau tanpa agen sementasi tambahan..

H. Horison Fragipan

Horison fragipan mempunyai ketebalan 15 cm atau lebih dan menunjukkan adanya tanda- tanda pedogenesis didalam horison serta perkembangan struktur tanah lemah.

I. Horison Glosik

Horison glosik adalah horizon yang terbentuk sebagai hasil degradasi horizon argillik, kandik, atau natrik, dimana liat dan senyawa oksida besi bebas telah dipindahkan.

J. Horison Gipsik

Horison gipsik adalah horison dimana senyawa gipsum telah terakumulasi atau telah dirubah dalam jumlah yang signifikan.

K. Horison Kandik

Horison kandik memiliki sifat adanya gejela iluviasi liat, kandungan liat tinggi dan KTK (<16 cmol/kg).

L. Horison Natrik

Horison natrik adalah horison iluvial yang banyak mengandung natrium, memiliki struktur prismatik atau tiang, lebih dari 15% KTK didominasi oleh natrium.

M. Horison Orstein

Horison orstein tersusun dari bahan spodik, berada dalam suatu lapisan

(23)

yang 50% atau lebih tersementasi dan memiliki ketebalan 25 mm atau lebih.

N. Horison Oksik

Horison Oksik merupakan horison bawah permukaan yang tidak memiliki sifat- sifat tanah andik dan KTK <16 cmol/kg.

O. Horison Petrokalsik

Horison petrokalsik merupakan suatu horison iluvial dimana kalsium karbonat sekunder atau senyawa karbonat lainnya telah terakumulasi terlalu banyak sehingga seluruh horison menjai keras karena sementasi.

P. Horison Petrogipsik

Horison petrogipsik merupakan suatu horison iluvial dengan ketebalan 5 mm atau lebih dan memiliki kandungan gipsum 40% atau lebih.

Q. Horison Placik

Horison placik adalah suatu padas tipis yang berwarna hitam sampai merah gelap, yang tersementasi oleh senyawa besi serta bahan organik.

R. Horison Salik

Horison salik mempunyai ketebalan 15 cm atau lebih dan banyak mengandung garam mudah larut.

S. Horison Sambik

Horison sombrik adaah horizon bawah permukaan pada tanah mineral yang telah terbentuk di bawah pengaruh drainase yang baik.

T. Horison Spodik

Horison spodik adalah suatu lapisan iluvial yang tersusun 85% atau lebih dari bahan spodik.

Selain horison bawah penciri, Taksonomi Tanah 2014 juga

(24)

mengemukakan adanya sifat penciri lain yang digunakan untuk mengklasifikasikan sifat tanah, yaitu :

A.Perubahan Tekstur Nyata

Perubahan tekstur nyata adalah suatu jenis perubahan spesifik, yang dapat terjadi diantara suatu epipedon tanah mineral atau suatu horizon eluvial dan horizon argillik, glosik, kandik, atau natrik yang terletak di bawahnya.

B.Sifat-Sifat Tanah Andik

Sifat tanah andik biasanya terbentuk selama pelapukan bahan semburan letusan gunung api atau bahan induk lain yang mengandung gelas volkanik dalam jumlah yang signifikan.

C.Kondisi Tanpa Air (Anhydrous)

Kondisi tanpa air menyatakan kondisi kelembaban pada tanah-tanah di gurun yang sangat dingin dan wilayah lain dengan permafrost (beku permanen) Tanah- tanah ini secara khusus memiliki curah hujan rendah.

D.Sifat Tanah Fragik

Sifat tanah fragik merupakan sifat utama fragipan. Agregat tanah dengan sifat tanah fragik menunjukkan bukti adanya proses pedogenesis.

E.Karbonat Bebas

Karbonat bebas ini ditujukan pada karbonat tanah, yang tidak terikat dan yang terlihat membuih atau terdengar mendesis, bila ditetesi larutan HCl dingin.

Tanah yang memiliki karbonat bebas, umumnya memiliki kalsium karbonat sebagai mineral yang biasa ditemukan.

F.Nilai n

Nilai n mencirikan hubungan antara persentase kandungan air dalam tanah

(25)

pada kondisi lapang dan persentase kandungan liat anorganik dan humus.

G.Kontak Petroferik

Kontak petroferik yaitu menyatakan adanya lapisan batu besi yang merupakan batas antara tanah dengan lapisan bersambungan tersusun dari bahan (keras) yang telah terindurasi.

H.Plinthit

Plinthit adalah suatu campuran liat dengan kuarsa dan mineral lain, yang kaya senyawa besi tetapi miskin humus.

I.Mineral Resisten

Mineral resisten adalah mineral-mineral tahan pelapukan yang terdapat dalam fraksi 0,02-2,0 mm. Contohnya adalah kuarsa, zirkon, turmalin, beryl, anatase, rutil, oksida dan hidroksida besi, filosilikat dioktrahedral 1:1 (kelompok mineral kandit), dan mineral-mineral 2:1 berlapis hidroksi-aluminium.

J.Bahan Spodik

Bahan spodik adalah bahan tanah mineral yang tidak memiliki semua sifat-sifat horizon argillik atau kandik; didominasi oleh bahan amorf aktif yang bersifat illuvial, dan tersusun dari bahan organik dan aluminium.

K.Mineral Dapat Lapuk

Mineral dapat-lapuk merupakan mineral yang tidak stabil dalam iklim humid dibanding mineral lain, seperti kuarsa dan liat berkisi 1:1, tetapi yang bersifat lebih tahan terhadap pelapukan dibanding kalsit.

L.Jenis Bahan Tanah Organik

Berdasarkan atas derajat dekomposisinya dibedakan 3 penciri untuk tanah organik, yaitu : fibrik (sisa-sisa tanaman masih jelas bentuknya dan bulk density

(26)

rendah), hemik (sifat peralihan antara fibrik dan saprik), dan saprik (sudah sangat lapuk dan memiliki bulk density yang tinggi).

M.Kontak Litik dan Paralitik

Batas antara tanah dengan batuan dibawahnya disebut kontak litik bila batuan tersebut relatif keras dan kontak paralitik bila relatif lunak.

N.Rezim Kelembaban Tanah

Rezim kelembaban tanah didefinisikan dalam arti tinggi permukaan air tanah, dan ada atau tidaknya air yang secara musiman. Jenis-jenis rezim kelembaban tanah yaitu : akuik, aridik dan torrik, udik, ustik, dan xeric.

O.Rezim Suhu Tanah

Suhu tanah merupakan factor pembatas utama untuk pertumbuhan tanaman dan proses pembentukan tanah. Rezim suhu tanah yang digunakan untuk mendefinisikan berbagai kelas pada berbagai tingkat kategori dalam taksonomi adalah gelik dan cryik.

P.Bahan Sulfudik

Bahan-bahan sulfidik mengandung senyawa belerang yang dapat dioksidasi (unsur S atau paling banyak mineral sulfida, seperti pirit atau besi monosulfida). Bahan ini berupa bahan tanah mineral atau bahan tanah organik yang memiliki nilai pH lebih dari 3,5; dan menjadi lebih masam secara signifikan, jika teroksidasi.

Q. Landform Antropogenik dan Kenampakan Mikro

Landform antropegenik dan kenampakan mikro merupakan bentukan nyata menonjol, landform atau kenampakan artifisial, yang dapat dipetakan pada skala survei biasa, seperti skala 1:10.000. Landform antropogenik dan

(27)

kenampakan mikro terbagi atas dua yaitu konstruksional dan destruksional.

Menurut Taksonomi Tanah 2014 (Soil Survey Staff,2014) membagi ordo menjadi 12 ordo yaitu :

A. Alfisol

Tanah yang tidak memiliki epipedon plagen dan memiliki horison argilik, kandik, natrik atau fragipan yang mempunyai lapisan tipis setebal 1 mm atau lebih di beberapa bagian.

B. Andisol

Ordo Tanah yang mempunyai sifat-sifat andik lebih pada 60% atau lebih dari ketebalannya.

C. Aridisol

Tanah yang mempunyai regim kelembaban tanah aridik dan epipedon okrik dan antropik atau horison salik dan jenuh air pada satu lapisan atau lebih di dalam 100 cm dari permukaan tanah selama satu bulan atau lebih.

D. Entisol

Tanah yang memiliki epipedon okrik, histik, atau albik tetepi tidak ada horison penciri lain.

E. Gelisol

Tanah yang mempunyai permafrost (lapisan tanah beku ) dan bahan-bahan gelik yang berada di dalam 100 cm dari permukaan tanah.

F.Histosol

Tanah yang tidak mempunyai sifat-sifat tanah andik pada 60% atau lebih ketebalan diantara permukaan tanah dan kedalaman 60 cm.

(28)

G. Inseptisol

Tanah yang mempunyai sifat penciri horison kambik, epipedon plagen, umbrik, mollik serta regim suhu cryik atau gelic dan tidak terdapat dalam sulfidik di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral.

H. Mollisol

Tanah lain yang memiliki epipedon mollik dan kejenuhan basa sebesar 50% atau lebih pada keseluruhan horison.

I. Oksisol

Tanah lain yang memiliki horison oksik (tanpa horison kandik) yang mempunyai batas atas didalam 150 cm dari permukaan tanah mineral dan kandungan liat sebesar 40% atau lebih dalam fraksi tanah.

J.Spodosol

Tanah lain yang memiliki horison spodik, albik pada 50% atau lebih dari setiap pedon dan regim suhu cryik.

K. Ultisol

Tanah lain yang memiliki horison argilik dan kandik, tetapi tanpa fragipan dan kejenuhan basa sebesar kurang dari 35% pada kedalaman 180 cm.

L. Vertisol

Tanah yang memiliki satu lapisan setebal 35 cm atau lebih, dengan batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, yang memiliki bidang kilir atau ped berbentuk baji dan rata-rata kandungan liat dalam fraksi tanah halus sebesar 30% atau lebih.

(29)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2019 sampai April 2020.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan adalah sampel tanah dari setiap lapisan profil, bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menganalisa tanah di laboratorium, formulir isian deskripsi profil tanah, dan bahan lain untuk analisis tanah di lapangan dan di laboratorium.

Adapun alat yang digunakan adalah peta satuan lahan dengan asosiasi jenis tanah Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat sebagai peta acuan penentuan titik koordinat, data curah hujan, GPS (Global Positioning System) untuk mengetahui letak titik koordinat lokasi penelitian dan lokasi profil tanah pewakil, clinometer untuk mengukur kemiringan lereng, kompas untuk menentukan arah mata angin, meteran untuk mengukur ketebalan horison atau lapisan tanah, Munsell Soil Colour Chart untuk menentukan warna tanah, ring sampel untuk mengambil contoh tanah tidak terganggu, kamera untuk mendokumentasikan profil tanah serta keadaan daerah penelitian, kantong plastik untuk tempat sampel tanah, pisau pandu untuk menentukan horison dan batas horison, cangkul untuk menggali profil tanah, label nama sebagai penanda sampel tanah, dan alat tulis.

(30)

Metode Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat. Penetapan 3 profil tanah pewakil, mendeskripsikan profil tanah, mengacu pada peta Litologi Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat serta menginterpretasikannya untuk pemberian nama tanah menurut Taksonomi Tanah 2014.

Gambar 1. Peta Litologi Desa Namu Ukur Selatan Pelaksanaan Penelitian Persiapan

Sebelum dilakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan konsultasi dengan dosen pembimbing, telaah pustaka, penyusunan usulan penelitian, pengadaan peta-peta yang diperlukan, mengadakan pra survei ke lapangan dan penyediaan bahan serta peralatan yang digunakan di lapangan.

Kegiatan di Lapangan

a) Pemilihan daerah Penelitian

(31)

dilakukan pengambilan sampel tanah dari tiga profil pada Desa Namu Ukur Selatan.

b) Pembuatan Profil Tanah

Profil tanah dibuat dengan menggali sampai kedalaman maksimal dengan ukuran 1 m x 1 m x 1,5 m dan digambarkan menurut lapisan atau horizon tanahnya. Pada tiap daerah penelitian dilakukan penggalian profil yang mewakili tiap daerah penelitian untuk karakterisasi tanah yang menunjukkan sifat dan ciri morfologi tanah yang akan diamati.

c) Pengamatan morfologi Tanah

Pengamatan morfologi tanah ini meliputi batas horison atau lapisan, warna tanah, tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi tanah dan kedalaman efektif.

d) Pengambilan contoh tanah

Contoh tanah diambil pada setiap horison atau lapisan tanah untuk dianalisis di laboratorium Socfindo sedangkan pengambilan contoh tanah tidak terganggu dengan menggunakan ring sample. Pada saat pengambilan sampel tanah dicatat juga data-data dari daerah penelitian yang meliputi vegetasi, fisiografi, drainase, ketinggian tempat, letak geografis dan penggunaan lahan.

e) Penyimpanan contoh tanah

Contoh tanah yang telah diambil langsung dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi tanda sesuai dengan horison tanahnya.

Tahap analisis

a) Analisis di laboratorium, meliputi:

- Tekstur tanah dengan metode hidrometer.

- Bulk Density dengan metode ring sampel.

(32)

- C-organik dengan menggunakan metode Walkey and Black.

- Basa-basa dapat ditukar (Ca2+, Mg2+, K+, dan Na+ ) dengan metode NH4OAc pH 7.

- pH H2O dengan menggunakan metode Electrometry - P2O5 dengan ekstrak HCl 25%.

- Kapasitas Tukar Kation dengan menggunakan metode NH4OAc pH 7 b) Analisis Data Klasifikasi Tanah

Data-data dari hasil penelitian di lapangan dan laboratorium digunakan untuk proses pengklasifikasian tanah berdasarkan Taksonomi Tanah 2014.

Proses pengklasifikasian tanah berdasarkan Taksonomi Tanah 2014 sebagai berikut :

1. Penentuan simbol horizon utama dan sub horizon.

2. Penentuan horison atas penciri.

3. Penentuan horison bawah penciri.

4. Penentuan penciri lain :dilihat dari rezim suhu tanah lengas tanah dan sifat tanah andik

5. Penentuan ordo tanah : dengan melakukan pengecekan pada seluruh “Kunci Ordo Tanah” guna menetapkan nama dari ordo pertama, berdasarkan kriteria/

sifat tanah sesuai dengan tanah yang diklasifikasikan.

6. Penentuan Sub Ordo : dengan mencari halaman yang telah ditentukan untuk memperoleh “Kunci Sub Ordo” dari ordo yang bersangkutan kemudian dicocokkan seluruh kunci untuk mengidentifikasi sub ordo dari tanah yang diklasifikasi, mulai dari yang pertama dijumpai dalam daftar dan semua kriteria yang diperlukan dipenuhi oleh tanah yang di klasifikasi.

(33)

7. Penentuan great group : dengan mencari halaman sesuai kriteria sub ordo yang telah diidentifikasi guna memperoleh “Kunci Great Group” dengan melihat kesamaan jenis tanah, tingkat perkembangan dan susunan horizon, kejenuhan basa, regim kelembapan dan suhu.

8. Penentuan sub group : dengan mencari halaman sesuai kriteria great group yang telah di identifikasi guna memperoleh “ Kunci Sub Group “ dengan melihat sifat inti dari great group (Sub group typic), peralihan sifat- sifat tanah ke great group lain.

Pengolahan Data

● Pengolahan data dapat dilakukan dengan menginput data lapangan dan analisis tanah di laboratorium

Dengan adanya data analisis tanah di laboratorium dan lapangan maka dapat dibuat deskripsi profil tanahnya.

● Dideskripsikan profil tanah berdasarkan batas dan kedalaman horison, % fraksi pasir,debu dan liat, tekstur, struktur,konsistensi, warna tanah, % C-organik, nilai basa-basa tukar (K,Ca,Na,Mg) serta asam-asam tukar, KB, KTK, BD, dan pH.

(34)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

4.1 Gambaran Umum

Data iklim yang digunakan adalah data curah hujan selama 10 tahun pengamatan dari tahun 2009 – 2018 yang tertera pada Tabel 1. Data curah hujan diperoleh dari Stasiun Klimatologi Sampali, Medan. Menurut Schmidt dan Ferguson bulan basah terjadi jika curah hujan > 100 mm, bulan lembab terjadi jika curah hujan 60 – 100 mm dan bulan kering terjadi jika curah hujan < 60 mm dengan harga Q yang diperoleh dari perbandingan antara bulan kering dan bulan basah dapat dituliskan dengan rumus :

𝑸 =𝑹𝒂𝒕𝒂−𝒓𝒂𝒕𝒂 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠

𝑹𝒂𝒕𝒂−𝒓𝒂𝒕𝒂 𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒔𝒂𝒉 x 100 %

Suhu tanah dapat dihitung dari suhu udara sebagaimana dikemukakan oleh Newhall (1972 dalam Wambecke,1981). Cara ini dikembangkan untuk daerah tropik yang dirumuskan sebagai berikut : suhu tanah = (2,5 + suhu udara rata rata tahunan) 0C. Variasi suhu tanah musim dingin dan musim panas pada kedalaman 50 cm dari permukaan tanah adalah : 0,33 x selisih suhu udara rata-rata musim panas dan musim dingin. Memiliki regim kelebapan udik karena tanah tidak pernah kering dalam 90 hari (kumulatif) yaitu lebih dari 90 hari atau dari data curah hujan rata-rata bulan basah berkisar 7-10 bulan tiap tahun atau 210 hari hingga 300 hari (kulumatif). Memiliki regim suhu tanah isohipertermik karena variasi suhu terpanas dan terdingin lebih kecil dari 60°C yaitu 2,4°C dan suhu rata-rata tahunan lebih besar dari 22°C yaitu 26,66°C.

(35)

Tabel 1. Rata-Rata Curah Hujan dan Suhu Udara Daerah Penelitian Tahun 2009-2018

Bulan Curah Hujan (mm) Suhu udara (°C)

Januari 332,375 24,09

Februari 193,333 24,39

Maret 255,333 24,78

April 297,9 24,95

Mei 413,333 25,25

Juni 258,875 25,23

Juli 301,375 24,84

Agustus 398,125 24,51

September 468,222 24,52

Oktober 410,444 24,33

November 399,7 24,14

Desember 423,111 24,03

Stasiun : Klimatologi Sampali medan,2018 4.2 Litologi

Litologi adalah karakteristik fisik dari batuan. Berdasarkan proses terbentuknya, terdapat tiga jenis batuan yang menyusun lapisan kerak bumi. Tiga jenis batuan tersebut yaitu batuan beku (batuan magma atau vulkanik), batuan endapan (batuan sedimen), dan batuan malihan (batuan metamorf).

Litologi dari unit batuan adalah deskripsi karakteristik yang fisiknya terlihat di singkapan, bisa dipegang, sampel inti atau dengan menggunakan mikroskop perbesaran rendah. Karakteristik fisiknya meliputi warna, tekstur, ukuran butir dan komposisi. Litologi dapat merujuk pada deskripsi terperinci dari karakteristik ini atau ringkasan karakter fisik kasar batuan. Litologi merupakan dasar pengelompokan sekuens batuan menjadi unit individu litostratigrafik guna keperluan pemetaan dan korelasi antar wilayah.

Batu telah digunakan oleh umat manusia sepanjang sejarah. Mineral dan logam yang ditemukan di bebatuan sangat penting bagi peradaban manusia. Tiga

(36)

kelompok utama batuan telah didefinisikan yaitu: batuan beku, sedimen, dan metamorf. Studi ilmiah tentang batuan disebut petrologi, yang merupakan komponen esensial geologi.

Batuan beku juga penting secara geologis karena: mineral dan kimia globalnya memberi informasi tentang komposisi mantel, dari mana beberapa batuan beku diekstraksi, dan kondisi suhu dan tekanan yang memungkinkan ekstraksi ini, dan atau batuan lain yang sudah ada yang meleleh.

Batuan beku ekstrusif, juga dikenal sebagai batuan vulkanik, terbentuk di permukaan kerak sebagai akibat dari pencairan sebagian batuan dalam mantel dan kerak. Batuan beku ekstrusif dingin dan mengeras lebih cepat dari pada batuan beku intrusif. Mereka dibentuk oleh pendinginan magma cair di permukaan bumi.

Magma, yang dibawa ke permukaan melalui celah atau letusan gunung berapi, membeku pada tingkat yang lebih cepat. Oleh karena itu batu batuan jenis ini lebih halus, kristalin dan berbutir halus. Basalt adalah batuan beku ekstrusif umum dan membentuk aliran lava (lava flow), lembar lava (sheeting lava) dan dataran tinggi lava (Lava plateau).

Tekstur batuan beku termasuk tekstur batuan yang mudah dikenali dan terjadi pada batuan beku bedasarkan tingkat besar kecilnya butiran penyusun batuan beku tersebut. Tekstur batuan beku digunakan oleh ahli geologi dalam menentukan cara asal magma batuan beku dan lokasi batuan beku tersebut membeku dan juga digunakan dalam klasifikasi batuan. Ada enam jenis tekstur utama; gelas, aphanitic, phaneritic, porfiritik, dan piroklastik.

(37)

4.3 Topografi

Topografi secara ilmiah artinya adalah studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain seperti planet, satelit alami (bulan dan sebagainya), dan asteroid. Dalam pengertian yang lebih luas, topografi tidak hanya mengenai bentuk permukaan saja, tetapi juga vegetasi dan pengaruh manusia terhadap lingkungan, dan bahkan kebudayaan lokal (Ilmu Pengetahuan Sosial).

Topografi merupakan suatu pembahasan mengenai posisi suatu bagian dan secara umun menunjuk pada koordinat secara horizontal seperti garis lintang dan garis bujur, dan secara vertikal yaitu ketinggian.

Survei dilakukan untuk mempelajari, mengukur, dan memetakan fitur topografi untuk memberikan visualisasi detail pada suatu area. Topografi penting untuk perjalanan, transportasi, jalur penerbangan, teknik, arsitektur, geologi, kehutanan, dan pertanian. Ini juga memiliki dampak signifikan pada bagaimana kota dirancang dan ditata.

Komponen Topografi

Bentuk lahan – Bentuk lahan yang dipelajari dalam topografi dapat mencakup apa saja yang secara fisik berdampak pada area. Contohnya termasuk gunung, bukit, lembah, danau, laut, sungai, kota, bendungan, dan jalan.

Ketinggian – Ketinggian, atau elevasi, gunung dan benda lainnya dicatat sebagai bagian dari topografi. Ini biasanya dicatat mengacu pada permukaan laut (permukaan laut).

Garis lintang– Latitude memberikan posisi utara / selatan suatu lokasi dalam referensi dari khatulistiwa. Garis khatulistiwa adalah garis horizontal yang ditarik

(38)

di sekitar tengah Bumi yang jaraknya sama denga Kutub Utara dan Kutub Selatan.

Garis khatulistiwa memiliki garis lintang 0 derajat.

Garis Bujur – Bujur memberikan posisi timur / barat dari suatu lokasi. Garis Bujur umumnya diukur dalam derajat dari Prime Meridian.

Topografi memiliki sejumlah kegunaan termasuk:

Pertanian – Topografi sering digunakan dalam pertanian untuk menentukan bagaimana tanah dapat dilestarikan dan bagaimana air akan mengalir di atas tanah.

Lingkungan – Data dari topografi dapat membantu melestarikan lingkungan.

Dengan memahami kontur tanah, para ilmuwan dapat menentukan bagaimana air dan angin dapat menyebabkan erosi. Mereka dapat membantu membangun kawasan konservasi seperti daerah aliran sungai dan blok angin.

Cuaca – Topografi tanah dapat berdampak pada pola cuaca. Ahli meteorologi menggunakan informasi tentang gunung, lembah, lautan, dan danau untuk membantu memprediksi cuaca.

4.4 Penggunaan Lahan

Lahan adalah keseluruhan lingkungan yang menyediakan kesempatan bagi manusia menjalani kehidupannya. Lahan adalah tanah yang sudah ada peruntukkannnya dan umumnya ada pemiliknya, baik perorangan atau lembaga.

Berdasarkan pada dua pengertian tersebut, maka dapat diartikan bahwa lahan merupakan bagian dari ruang merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia sebagai ruang maupun sumber daya, karena sebagian besar kehidupan manusia tergantung pada lahan yang dapat dipakai sebagai sumber penghidupan, yaitu dengan mencari nafkah melalui usaha tertentu selain sebagai pemukiman.

(39)

Penggunaan lahan merupakan wujud nyata dari pengaruh aktivitas manusia terhadap sebagian fisik permukaan bumi. Faktor yang menyebabkan perubahan penggunaan lahan adalah semakin meningkatnya jumlah penduduk, sedangakan luas lahannya tetap. Pertambahan penduduk dan perkembangan tuntutan hidup akan menyebabkan kebutuhan ruang sebagai wadah semakin meningkat.

Bentuk penggunaan lahan suatu wilayah terkait dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya, semakin meningkatnya jumlah penduduk di suatu tempat akan berdampak pada makin meningkatnya perubahan penggunaan lahan.

Selain itu, dengan adanya pertumbuhan dan aktivitas penduduk yang tinggi akan mengalami perubahan penggunaan lahan yang cepat pula, sehingga diperlukan perencanaan tataguna lahan yang sesuai dengan peruntukan wilayah tersebut.

Desa Namu Ukur Selatan memiliki pengunaan lahan Semak/Belukar dan Tegalan atau Ladang. Tegal/kebun adalah lahan bukan sawah (lahan kering) yang ditanami tanaman semusim atau tahunan dan terpisah dengan halaman sekitar rumah serta penggunaannya tidak berpindah-pindah; Ladang/huma adalah lahan bukan sawah (lahan kering) yang biasanya ditanami tanaman musiman dan penggunaannya hanya semusim atau dua musim, kemudian akan ditinggalkan bila sudah tidak subur lagi (berpindah-pindah). Kemungkinan lahan ini beberapa tahun kemudian akan dikerjakan kembali jika sudah subur.

Badan Pertanahan Nasional membagi pengelompokan penggunaan lahan berdasarkan lokasinya di pedesaan dan di perkotaan.

Berikut ini, jenis – jenis penggunaan tanah perdesaan menurut Badan Pertanahan Nasional.

(40)

Jenis – jenis penggunaan tanah perdesaan yaitu sebagai berikut:

1. Tanah perkampungan adalah areal tanah yang digunakan untuk kelompok bangunan pada ataupun jarang sebagai tempat tinggal penduduk untuk dimukimi secara menetap.

2. Tanah industri adalah tanah areal yang digunakan untuk kegiatan ekonomi berupa proses pengolahan bahan – bahan baku menjadi barang jadi/setengah jadi dan atau setengah jadi menjadi barang jadi.

3. Tanah pertambangan adalah areal tanah yang dieksploitasi bagi pengambilan bahan – bahan galian yang dilakukan secara terbuka dan atau tertutup.

4. Tanah persawahan adalah areal tanah pertanian basah dan/atau kering yang digenangi air secara periodic dan/atau terus menerus ditanami padi dan/atau diselingi tanaman tebu, tembakau, dan/atau tanaman semusim lainnya.

5. Pertanian tanah kering semusim adalah areal pertanian yang tidak pernah diairi dan mayorotas ditanami dengan tanaman umur pendek.

6. Tanah kebun adalah areal yang ditanami rupa – rupa jenis tanaman keras dan/atau tanaman semusim dan atau kombinasi tanaman keras dan semusim atau tanaman buah – buahan serta tidak jelas mana yang menonjol.

7. Tanah perkebunan adalah areal tanah yang ditanami tanaman keras dengan satu jenis tanaman.

8. Padang adalah areal terbuka karena hanya ditumbuhi tanaman rendah dari keluarga rumput dan semak rendah.

9. Hutan adalah areal yang ditumbuhi oelh pepohonan yang tajuk pohonnya dapat saling menutupi/bergesekan.

(41)

10. Perairan darat, adalah areal tanah yang digenangi air, secara permanen baik buatan maupun alami.

11. Tanah terbuka adalah areal yang tidak digarap karena tidak subur dan/atau menjadi tidak subur setelah digarap serta tidak ditumbuhi tanaman.

12. Lain – lain adalah area; tanah yang digunakan bagi prasarana seperti: jalan, sungai, dan saluran yang merupakan buatan manusia maupun alamiah.

4.5 Deskripsi Profil Tanah di Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingei , Kabupaten Langkat.

Profil Tanah diamati di Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingei , Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara berada pada ketinggian 94,9 m dari permukaan laut (dpl)Untuk profil I, 99,8 m dpl untuk profil II, dan 98,9 m dpl untuk profil III serta berada pada masing- masing titik kordinat yang mewakili daerah penelitian berikut. Profil I pada titik profil 30° 28’ 56,037” LU dan 98° 27’

35,734” BT, Profil II pada titik profil 30° 29’ 5,484” LU dan 98° 27’ 0,” BT, Profil III pada titik profil 30° 29’ 24,662” LU dan 98° 26’ 54,294” BT.

Pendeskripsian terhadap profil tanah dapat dijadikan sebagai penggambaran dari tubuh tanah dan pada hakikatnya merupakan pengkajian secara teliti terhadap horizon tanah. Penentuan horizon tanah didasarkan pada jumlah sifat yang dijadikan sebagai faktor pembeda seperti warna, tekstur, struktur, konsistensi, dan batas horizon. Adapun deskripsi dari kelima profil tanah. disajikan pada Tabel 2.

(42)

Tabel 2. Deskripsi Ketiga Profil di Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Binge , Kabupaten Langkat

Deskripsi/Profil I II III

Koordinat 30º 28’ 56,037” LU 30º 29’ 5,484” LU 30º 29’ 24,66” LU 98º27’ 35,734” BT 98º 27’ 0,” BT 98º 26’ 54,29” BT

Kemiringan Lereng 0-1% 0-1% 0-1%

Relief Datar Datar Datar

Elevasi 94,90 mdpl 99,80 mdpl 98,90 mdpl

Tempat di Lereng Tidak ada lereng Tidak ada lereng Tidak ada lereng

Cuaca Cerah Cerah Cerah

Drainase Baik Baik Baik

Genangan/Banjir Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Gley - - -

Air Tanah - - -

Penghanyutan/Erosi Ringan Ringan Ringan

Keadaan Batu Besar : - Besar : - Besar : -

Kecil : Sedang Kecil : Sedang Kecil : Sedang

(3-5 cm) (3-5 cm) (3-5 cm)

Vegetasi Kelapa Sawit Mangga Kelapa Sawit

Talas Keladi Pakis

Pinang Pinang Pisang

Bahan Induk Exstrusive Exstrusive Exstrusive

Tanggal Deskripsi 23-Nov-19 23-Nov-19 23-Nov-19

(43)

Tabel 3. Deskripsi Penampang Profil I (Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat).

Profil I Horison Kedalaman (cm) Keterangan

Ap1 0-36/38

Warna Coklat Tua (10YR 3/2)

; Tekstur pasir berlempung ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke .

Ap2 36/38-53/54

Warna Coklat (10YR 4/3) ; Tekstur pasir berlempung ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke .

A/B 53/54-73/75

Warna Coklat (10YR 5/3) ; Tekstur pasir berlempung ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke .

Bw 73/75-102/103

Warna Coklat Kekuningan (10YR 5/4) ; Tekstur pasir berlempung ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke .

Bw2 >103

Warna Coklat (10YR 5/3) ; Tekstur pasir berlempung ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke .

(44)

Tabel 4. Deskripsi Penampang Profil II (Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat).

Profil II Horison Kedalaman (cm) Keterangan

Ap1 0-10/12

Warna Coklat tua Kekuningan (10YR 4/4) ; Tekstur lempung berpasir ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke …

Ap2 10/12-47/52

Warna Coklat tua Kekuningan (10YR 4/4) ; Tekstur lempung berpasir ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke …

Bw1 47/52-82/95

Warna coklat tua kemerahan (5YR 4/4) ; Tekstur lempung berpasir ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke …

Bw2 >95

Warna coklat terang (7,5YR 4/6) ; Tekstur lempung berpasir ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke …

(45)

Tabel 5. Deskripsi Penampang Profil III (Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat).

Profil III Horison Kedalaman (cm) Keterangan

Ap 0-27/29

Warna Hitam (10YR 2/1) ; Tekstur lempung berpasir ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke …

Bw 27/29-52/55

Warna Coklat Kekuningan (10YR 5/6) ; Tekstur lempung berpasir ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke

Bg 52/55-69/89

Warna Coklat tua Kekuningan (10YR 6/4) ; Tekstur lempung berpasir ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke

Btg1 69/89-88/122

Warna Coklat muda Kekuningan (10YR 5/4) ; Tekstur lempung berpasir ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke …

Btg2 >122

Warna Coklat (10YR 5/3) ; Tekstur lempung berpasir ; Struktur gumpal membulat, sedang, halus ; Konsistensi Gembur ; Batas berangsur dan berombak ke …

(46)

2. Analisis Tanah di Laboratorium Sifat Fisika Tanah

Sifat Fisika tanah yang dianalisis di Laboratorium adalah sebaran besar butir fraksi (tekstur tanah) dan bulk density (Kerapatan isi) dapat dilihat pada table Berikut.

Tabel 6. Hasil Analisis Sifat Fisika Tanah Pada Ketiga Profil Tanah

Profil Horizon Kedalaman Distribusi Ukuran Partikel Tekstur BD

(cm) %Pasir %Debu %Liat (gr/cm3)

I

Ap1 0- 36/38 81,57 11,05 7,38 PL 0,97

Ap2 36/38- 53/54 79,43 10,56 10,01 PL 0,9 A/B 53/54- 73/75 80,51 10,48 9,01 PL 0,9 Bw1 73/75 -

102/103 82,57 10,45 6,98 PL 1,16

Bw2 >103 79,03 10,48 10,49 PL 1,2

II

Ap1 0-10/12 70,69 21,98 7,34 LP 0,91

Ap2 10/12- 47/52 65,04 13,98 20,98 LP 0,93 Bw1 47/52 - 82/95 55,21 27,56 17,23 LP 0,99

Bw2 >95 48,37 27,53 24,1 L 0,96

III

Ap 0- 27/29 77,04 11,48 11,49 PL 0,55

Bw 27/29 - 52/55 82,7 10,37 6,93 PL 0,56 Bg 52/55 - 69/89 75,84 17,25 6,91 PL 0,97 Btg1 69/89 -

88/122 79,35 17,2 3,45 PL 0,98

Btg2 >122 79,53 16,45 4,01 PL 1,23

Keterangan : L = Lempung, PL= Pasir Berlempung , LP = Lempung Berpasir

(47)

Sifat Kimia Tanah

Sifat kimia tanah yang dianalisis di laboratorium adalah pH H2O, basa- basa tukar, kejenuhan basa, KTK, P2O5, kandungan C-organik dan bahan organik dapat dilihat pada :

Tabel 7. Hasil Analisis Sifat Kimia Pada Ketiga Profil Tanah

Profil Horizon Kedalaman (cm) pH C-Org P2O5 KB

(H2O) (%) (mg/kg) (%)

I

Ap1 0- 36/38 5,9 3,69 0,69 11,61

Ap2 36/38- 53/54 5,3 1,33 0,76 6,32

A/B 53/54- 73/75 5,2 0,93 0,6 6,9

Bw1 73/75 - 102/103 5,1 0,78 0,9 7,92

Bw2 >103 5,9 0,93 0,95 5,66

II

Ap1 0-10/12 5,7 3,4 0,57 4,32

Ap2 10/12- 47/52 5,2 0,95 0,72 1,2

Bw1 47/52 - 82/95 5,5 0,17 1,02 1,52

Bw2 >95 5,4 0,12 0,95 1,51

III

Ap 0- 27/29 4,8 5,57 0,65 4,63

Bw 27/29 - 52/55 5,2 0,37 1,02 0,89

Bg 52/55 - 69/89 5,2 0,26 0,44 2,04

Btg1 69/89 - 88/122 5,3 0,1 0,22 3,24

Btg2 >122 5,4 0,09 0,26 3,33

Profil Horizon Kedalaman KTK K-exch Ca-exch Mg-exch Na-exch (cm) (me/100g) (me/100g) (me/100g) (me/100g) (me/100g)

I Ap1 0- 36/38 34,26 0,3 2,44 1,21 0,03

Ap2 36/38- 53/54 29,55 0,09 1,17 0,57 0,04

A/B 53/54- 73/75 26,37 0,1 1,11 0,54 0,07

Bw1 73/75 - 102/103 23,6 0,08 1,29 0,42 0,08

Bw2 >103 24,52 0,08 0,92 0,33 0,06

II Ap1 0-10/12 28,42 0,14 0,68 0,38 0,03

Ap2 10/12- 47/52 34,93 0,05 0,15 0,15 0,07

Bw1 47/52 - 82/95 30,86 0,06 0,12 0,21 0,08

Bw2 >95 27,72 0,09 0,09 0,19 0,05

III Ap 0- 27/29 38,6 0,1 1,47 0,19 0,03

Bw 27/29 - 52/55 32,44 0,04 0,12 0,1 0,03

Bg 52/55 - 69/89 19,59 0,03 0,2 0,14 0,03

Btg1 69/89 - 88/122 11,71 0,04 0,18 0,11 0,05

Btg2 >122 11,71 0,04 0,18 0,12 0,05

(48)

Pembahasan Morfologi Tanah

Pada profil pewakil, pada masing-masing lokasi pengamatan memiliki bahan induk yang terdiri dari profil profil I felscil ; pyroclastic. Profil II Intermediate ; polymict dan profil III Intermediate ; pyroclastic.

Pada ketiga profil pewakil memperlihatkan Sekeun horizon profil I terdiri dari Ap1 kedalaman 0-38 cm, Ap2 kedalaman 36-54 cm, A/B kedalaman 53-75 cm, Bw 73-103 cm, dan Bw2 > 103 cm. Profil II terdiri dari Ap1 0-12cm, Ap2 10- 52cm, Bw1 47-95 cm, Bw2 > 95cm. Pada profil III terdiri dari Ap 0-27cm, Bw 27-55 cm, Bg 52-89 cm,Btg1 69-122 cm, Btg2 > 122cm.

Tipe penggunaan lahan pada tiap profil di masing-masing lokasi pengamatan secera berturut , profil I merupakan lahan perkebenunan sawit. Profil II merupakan Lahan Kosong dan Profil III merupakan lahan perkebunan.

Sehingga pada ketiga profil memperlihatkan adanya perbedaan warna tanah. Pada profil I dan III memiliki nilai kroma dan value warna tanah lebih rendah dibandingkan nilai kroma dan value warna tanah pada profil kedua, sehingga mengakibatkan warna tanah menjadi lebih gelap.

Berdasarkan litologi yang didapatkan, pada tiap-tiap profil pewakil memiliki karakteristik tanah yang di pengaruhi oleh bahan induk. Profil I dan III yang memiliki litologi Felsic; pyroclastic dan Intermediate ; pyroclastic menyebabkan tekstur pada kedua profil tanah didominasi oleh fraksi pasir yang lebih tinggi dibandingkan pada profil kedua. Analisis tekstur tanah

(49)

memperlihatkan persentase fraksi pasir pada profil I 79-82 % dan pada profil III memiliki persentase 75-82%.

Karakteristik Tanah di Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat

Karakteristik tanah di Desa Namu Ukur Selatan yang ditemukan melalui pengamatan pada ketiga profil pewakil tanah. Memperlihatkan karakteristik yang dominan pada warna tanah. Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan , profil I dan III memiliki warna tanah yang lebih gelap dibandingkan profil II. Secara berturut warna tanah pada profil I dan III yaitu hitam sampai dengan coklat tua (10 YR 2/1 -10 YR 3/2) sedangkan pada profil II memiliki warna tanah yang lebih terang yaitu coklat tua kekuningan (10YR 4/4).

Karakteristik Warna tanah yang gelap pada profil I dan III diduga disebabkan oleh tinggi supply bahan organik dikarenakan pada kedua lokasi lahan sudah digunakan untuk perkebunan kelapa sawit. Hal ini diperkuat dengan analisis C-organik tanah pada profil I dan III lebih tinggi dibandingkan C-organik tanah pada profil kedua. Profil I dan II memiliki persentase kadar C-organik tanah sebesar 3,69 dan 5,57% yang termasuk pada kategori sangat tinggi.

Karakteristik tanah pada profil pewakil disetiap lokasi pengamatan memiliki litologi yang berbeda. Pada profil pengamatan I dan III memiliki bahan induk yang didominasi oleh bahan pyroclastic. Bahan pyroclastic merupakan bahan-bahan material vulkanik yang terdiri dari abu vulkanik , batu apung, dan abu sehingga hal ini lah yang diperkirakan menjadi penyebab tanah-tanah pada lokasi profil I dan III didomasi oleh fraksi pasir dengan karakteristik Psammentik.

(50)

Klasifikasi Tanah di Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat.

Berdasarkan data-data yang diperoleh dari analisis tanah di laboratorium, pengamatan di lapangan dan data iklim, maka dapat dilakukan klasifikasi tanah dengan menggunakan Kunci Taksonomi Tanah 2014 (keys Soil Taxonomy 2014).

Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan horizon atas penciri (epipedon), horizon bawah penciri . Setelah itu dilakukan penentuan ordo, sub ordo, great group dan sub group.

Penetapan Horizon Atas Penciri Profil I

-Tidak termasuk epipedon Anthropik, karena kandungan P2O5 tidak sebesar 1500 miligram per kilogram atau lebih, hanya ada 0,69 miligram per kilogram yang tidak mengalami penurunan secara teratur hingga kedalaman 103 cm.

-Tidak termasuk epipedon Folistik, karena tidak memiliki lapisan yang jenuh air selama kurang dari 30 hari kumulatif.

-Tidak termasuk epipedon Histik, karena tidak memiliki lapisan yang dicirikan oleh adanya saturasi ( selama 30 hari atau lebih, kumulatif ) dan reduksi selama sebagian waktu dalam tahun-tahun normal.

-Tidak termasuk epipedon Melanik, karena tidak memiliki horison permukaan dengan tebal 30 cm hanya memiliki ketebalan 29 cm, kandungan c-organik tidak sebesar 6% atau lebih hanya ada 3,69 % dan tidak memiliki 4% atau lebih corganik pada semua lapisan.

(51)

-Tidak termasuk epipedon Mollik, karena tidak memiliki kejenuhan basa lebih besar dari 50%.

-Termasuk epipedon Umbrik karena posisi di atas permukaan, struktur sedang dan tidak keras ketika kering, Kandungan c - organik lebih dari 0.6% yaitu 3.69%, nilai kejenuhan basa kurang dari 50 % yaitu 11.61 %, dan tanah dalam keadaan lembab lebih dari 3 bulan.

Profil II

-Tidak termasuk epipedon Anthropik, karena kandungan P2O5 tidak sebesar 1500 miligram per kilogram atau lebih, hanya ada 0,57 miligram per kilogram yang tidak mengalami penurunan secara teratur hingga kedalaman 95 cm.

-Tidak termasuk epipedon Folistik, karena tidak memiliki lapisan yang jenuh air selama kurang dari 30 hari kumulatif.

-Tidak termasuk epipedon Histik, karena tidak memiliki lapisan yang dicirikan oleh adanya saturasi (selama 30 hari atau lebih, kumulatif ) dan reduksi selama sebagian waktu dalam tahun-tahun normal.

-Tidak termasuk epipedon Melanik, karena tidak memiliki horison permukaan dengan tebal 30 cm hanya memiliki ketebalan 12 cm, kandungan c-organik tidak sebesar 6% atau lebih hanya ada 3,4 % dan tidak memiliki 4 % atau lebih corganik pada semua lapisan.

-Tidak termasuk epipedon Mollik, karena tidak memiliki kejenuhan basa lebih besar dari 50%.

-Tidak Termasuk epipedon Umbrik nilai kroma yang tinggi lebih dari 3.

-Termasuk Epipedon Okrik karena memiliki nilai kroma dan value ≥ 3.

(52)

Profil III

-Tidak termasuk epipedon Anthropik, karena kandungan P2O5 tidak sebesar 1500 miligram per kilogram atau lebih, hanya ada 0,65 miligram per kilogram yang tidak mengalami penurunan secara teratur hingga kedalaman 122 cm.

-Tidak termasuk epipedon Folistik, karena tidak memiliki lapisan yang jenuh air selama kurang dari 30 hari kumulatif.

-Tidak termasuk epipedon Histik, karena tidak memiliki lapisan yang dicirikan Oleh adanya saturasi (selama 30 hari atau lebih, kumulatif) dan reduksi selama sebagian waktu dalam tahun-tahun normal.

-Tidak termasuk epipedon Mollik, karena tidak memiliki kejenuhan basa lebih besar dari 50%.

-Termasuk epipedon Umbrik karena posisi di atas permukaan, struktur sedang dan tidak keras ketika kering, Kandungan c - organik lebih dari 0.6% yaitu 5.57%, nilai kejenuhan basa kurang dari 50 % yaitu 10.50 %, dan tanah dalam keadaan lembab lebih dari 3 bulan.

Penetapan Horison Bawah Penciri Profil I

-Tidak termasuk horison Agrik, karena tidak terdapat langsung di bawah lapisan olah yang mengandung akumulasi debu, liat dan humus.

-Tidak termasuk horison Albik, karena horison tidak berwarna pucat atau tidak ada horison A2 = E (bukan merupakan horizon eluvial).

-Tidak termasuk horizon Argilik, karena tidak menunjukkan tanda illuviasi liat.

-Tidak termasuk horison Kalsik karena tidak dianalisa kandungan CaCO3 dan dicoba dilanjutkan ke horison selanjutnya.

(53)

-Termasuk horison Kambik karena tidak memiliki tekstur sangat halus, ketebalan horison lebih dari 15 cm, horison tidak mengalami kondisi aquik dan tidak memiliki kandungan % liat yang lebih besar dari horison yang berada di atas maupun dibawahnya, tetapi tidak memenuhi kriteria argilik.

Profil II

-Tidak termasuk horison Agrik, karena tidak terdapat langsung di bawah lapisan olah yang mengandung akumulasi debu, liat dan humus.

-Tidak termasuk horison Albik, karena horison tidak berwarna pucat atau tidak ada horison A2 = E (bukan merupakan horizon eluvial).

-Tidak termasuk horizon Argilik, karena tidak menunjukkan tanda illuviasi liat.

-Tidak termasuk horison Kalsik karena tidak dianalisa kandungan CaCO3 dan dicoba dilanjutkan ke horison selanjutnya.

-Termasuk horison Kambik karena tidak memiliki tekstur sangat halus, ketebalan horison lebih dari 15 cm, horison tidak mengalami kondisi aquik dan tidak memiliki kandungan % liat yang lebih besar dari horison yang berada di atas maupun dibawahnya, tetapi tidak memenuhi kriteria argilik.

Profil III

-Tidak termasuk horison Agrik, karena tidak terdapat langsung di bawah lapisan olah yang mengandung akumulasi debu, liat dan humus.

-Tidak termasuk horison Albik, karena horison tidak berwarna pucat atau tidak ada horison A2 = E (bukan merupakan horizon eluvial).

-Tidak termasuk horizon Argilik, karena tidak menunjukkan tanda illuviasi liat.

-Tidak termasuk horison Kalsik karena tidak dianalisa kandungan CaCO3 dan dicoba dilanjutkan ke horison selanjutnya.

Gambar

Tabel 1. Rata-Rata Curah Hujan dan Suhu Udara Daerah Penelitian Tahun     2009-2018
Tabel  2.  Deskripsi  Ketiga  Profil  di  Desa  Namu  Ukur  Selatan  Kecamatan  Sei  Binge , Kabupaten Langkat
Tabel 3. Deskripsi Penampang Profil I (Desa Namu Ukur Selatan Kecamatan  Sei Bingei Kabupaten Langkat)
Tabel  4.  Deskripsi  Penampang  Profil  II  (Desa  Namu  Ukur  Selatan  Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat)
+5

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Tidak termasuk Grossarenic Kandiaquult karena memenuhi kriteria karena tidak mempunyai kelas tekstur (fraksi tanah halus) pasir kasar, pasir, pasir halus, pasir halus

4 C merupakan horison tanah mineral, tidak termasuk hamparan batuan, yang serupa atau tak serupa dengan bahan yang membentuk solum tanah yang ada diatasnya, secara relatif

- Termasuk epipedon Okrik karena, horison permukaan tipis, kandungan humus yang sedikit, struktur agak keras atau keras ketika kering, warna tanah dengan nilai value 4 atau

Tanah yang mempunyai sifat penciri horison kambik, epipedon plagen, umbrik, molik serta regim suhu cryik atau gelik dan tidak terdapat bahan sulfidik didalam 50 cm dari

Jika suatu tanah sering diolah tanah tersebut memiliki berat isi yang tinggi daripada tanah yang dibiarkan saja, dan didalam pengolahan tanah yang baik akan menghasilkan tanah

Penentuan Ordo adalah Profil I sampai dengan Profil 4 termasuk Inceptisol, karena memiliki horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dari permukaan

Akan tetapi jika kepadatan tanah sangat padat maka tanah bertekstur halus menunjukkan berat isi kering yang lebih besar dari pada bertekstur kasar.. Porositas (n) dan Angka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bulk density berat isi,merupakan perbandingan antara berat tanah kering dengan satuan volume tanah yang di dalamnya termasuk volume pada pori tanah dan