Ditawarkan, Hand Sanitizer Berbasis Natural Protection Dari Daun Kersen
UNAIR NEWS – Memanfaatkan keberadaan melimpahnya bahan, yaitu pohon kersen atau ada yang menyebut pohon talok yang mudah tumbuh dimana-mana, serta kandungan saponin, tanin dan flavonoid yang ada pada daun kersen, dimanfaatkan oleh mahasiswa Universitas Airlangga untuk diinovasi menjadi hand sanitizer atau antiseptik tangan untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau bakteriostatik.
Apalagi, penggunaan hand sanitizer di kalangan mahasiswa dan masyarakat, saat ini bukanlah suatu gaya hidup baru.
Penggunaan antiseptik tangan atau hand sanitizer sudah menjadi kebiasaan masyarakat luas, karena penggunaan hand sanitizer yang praktis serta memiliki efek yang sama seperti cuci tangan.
Antiseptik yang biasa digunakan (di pasaran) merupakan bahan dengan kandungan alkohol, dimana alkohol merupakan zat aktif pada kebanyakan hand sanitizer. Namun, penggunaan alkohol yang berlebihan dapat mengakibatkan kulit kering pada beberapa kulit sensitif.
Dengan fakta banyaknya bahan dan ingin membuat 0% bahan kimia, menggelitik mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga untuk melakukan inovasi membuat hand sanitizer dari daun kersen. Mahasiswa inovativ ini adalah Maulita Maharani Ulfa (2014), Nur Lailatul Fitrotun Nikmah (2014), Shendy Canadya Kurniawan (2014), Gayoh Mahardika Wan Mahsuri (2015), dan Nandana Abimantra (2015).
”Karena cara kerja dari saponin, tanin dan flavonoid itu adalah menghambat pertumbuhan bakteri atau bakteriostatik, dan itu juga ada pada daun kersen,” kata Maulita Maharani Ulfa,
ketua tim.
KELOMPOK PKMK Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR sambil menunjukkan Calabura Septik buatannya. (Foto: Dok PKMK-FF) Kreativitasnya ini kemudian dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K), dan berhasil lolos dari seleksi oleh Dikti, sehingga memperoleh dana pengembangan dari Kemenristekdikti untuk program PKM tahun 2016-2017.
Sehingga, lanjut Maulita, ekstrak daun kersen yang berbasis natural protection juga ikut dalam upaya ekoefisiensi pohon kersen itu sendiri. Ekofisiensi yang dimaksudkan adalah memaksimalkan potensi dari keberadaan pohon kersen yang relatif banyak ini, dengan tanpa merusak ekosistem pohon kersen itu sendiri.
”Keunggulan yang kami tawarkan dalam produk ini adalah penggunaan 0% bahan kimia, dapat dimakan atau edible, sehingga aman untuk digunakan oleh segala umur,” kata Maulita.
Oleh Tim PKMK, produk ini diberi nama “Calabura Septik”.
Selama ini ditawarkan dengan dua kemasan botol spray ukuran 60 ml dan 100 ml. Harganya sangat terjangkau masyarakat, yaitu harga Rp 10.000 untuk kemasan isi 60 ml dan harga Rp 18.000 untuk kemasan isi 100 ml. Budaya hidup sehat memang banyak diidamkan. (*)
Editor: Bambang Bes
UKM Bridge Siap Songsong Kejurnas Gabsi
UNAIR NEWS – Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus Airlangga selalu memiliki mimpi membawa nama harum almamater. Termasuk, melaui event yang diikuti. Baik di tingkat lokal, regional, nasional, bahkan internasional.
Salah satu UKM yang terus berupaya berprestasi adalah Bridge.
Bila berjalan sesuai rencana, pada 20 sampai 26 Juli 2017, delegasi UKM Bridge akan mengikuti kejuaraan nasional yang digelar oleh Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi). Event ini tergolong paling bergengsi di tanah air.
Disampaikan Ketua UKM Bridge Septian Bayuaji, kejuaran nasional bisa diikuti oleh umum, perwakilan kampus, mahasiswa, dan perwakilan kabupaten/kota, ataupun provinsi. Semua tergantung dari kategori yang dipilih. Fokus kejuaraan ini bukan pada hadiah berupa uang atau materi. Namun, lebih pada peluang masuk tim nasional Bridge.
Tim nasional itu yang akan mewakili Indonesia di ajang Bridge internasional. Belum lama ini, terdapat dua delegasi UNAIR (satu mahasiswa dan satu alumnus) yang memerkuat tim nasional dan membawa predikat peringkat kedua dari pertandingan di Korsel. Mereka terpilih melalui seleksi yang diadakan sekaligus bersama kejuaraan nasional tahun sebelumnya. Jadi, mereka yang tampil menjanjikan saat kejuaraan nasional, akan langsung direkrut dan mendapatkan pemusatan latihan.
“Kami akan membawa tiga tim, delapan belas atlit,” tambah
mahasiswa D4 jurusan Radiologi tersebut.
Dia mengatakan, awalnya UKM Bridge ingin membawa serta lebih banyak personel ke event yang bakal dilaksanakan di Hotel Utami Sidoarjo itu. Namun, sejumlah atlit senior tengah memersiapkan diri untuk KKN. Sedangkan sebagian yang lain, ada pula yang dipanggil oleh kabupaten/kota atau provinsi masing- masing untuk mewakili wilayah asalnya.
Yang jelas, dalam hari-hari belakangan ini, para atlit yang akan berlaga di kejuaraan nasional, terus melakukan latihan intensif. Secara umum, mereka sudah siap. Namun, tetap butuh latihan dan penguatan mental.
“Saat ini memang lagi UAS. Kami tidak memaksa para atlit untuk latihan kalau memang lagi sibuk persiapan ujian di mata kuliah yang berat. Intinya, mereka bisa menimbang dan mengaturnya sendiri,” urai dia. (*)
Masyarakat Harus Cerdas Mengatur Pola Konsumsi
UNAIR NEWS – Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si menawarkan satu pendekatan baru pada disiplin ilmu Sosiologi Ekonomi. Selama ini, kajian yang banyak ditawarkan adalah aktivitas produksi yang dilakukan produsen atau pelaku kapitalis. Sementara perkembangan terakhir dalam studi ilmu sosial menunjukkan, perilaku konsumsi masyarakat saat ini.
Dalam pengamatan Bagong, kapitalis atau kaum pemodal memiliki beragam cara untuk mengendalikan orang agar terus mengonsumsi
produk. Hingga pada satu titik, konsumen tidak bisa lagi membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
“Kapitalis itu adiktif, menciptakan konsumen untuk terus membeli tanpa terasa. Dia (konsumen, -red) terhegemoni oleh kekuatan kapitalis,” kata Bagong.
Jika dulu, buruh adalah pihak yang dieksploitasi oleh kaum kapitalis, di era saat ini konsumen menjadi bidikan. Ini adalah cara baru yang dikembangkan oleh kapitalis posmodern untuk mengeruk keuntungan. Bukan (hanya) dengan menekan upah buruh, tapi dengan menimbulkan perilaku adiktif pada konsumen.
Pada tingkat praktis, ilmu Sosiologi Ekonomi tidak sekadar menjelaskan perilaku konsumen, tapi juga menjadi ilmu yang dapat dipahami oleh pelaku usaha kecil di Indonesia.
Harapannya, gagasan ini dapat menjadi strategi dalam menyusun pemasaran produk agar dapat menguntungkan.
Bagong menginginkan, gagasan miliknya bukan hanya menjadi kajian akademik, tapi dapat menjadi rujukan praktis para pelaku ekonomi golongan menengah ke bawah.
“Sebab kelangsungan sebuah usaha tidak hanya persoalan uang atau modal, tapi juga ada persoalan strategi. Strategi- strategi itu seperti cara memasarkan produk maupun nilai pakai kedua produk,” ujar pengajar pada Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga ini.
Bagong mengatakan, pemerintah juga perlu mempertimbangkan faktor non ekonomi pada pengembangan pelaku usaha kecil menengah.
“Dalam pengembangan usaha kecil menengah, bukan hanya butuh modal dan pelatihan ketrampilan, butuh juga pelatihan lain.
Misalnya memberi wawasan tentang pengemasan produk, promosi yang mengena di hati pasar, serta kemampuan mem-branding yang sesuai di hati masyarakat kekinian,” kata laki-laki kelahiran
Nganjuk, 6 September 1966 ini.
Menurut Bagong, pengetahuan Sosiologi Ekonomi menjadi tambahan amunisi bagi pemerintah dalam upaya mengembangkan pelaku usaha kecil menengah. Bukan pada ekspansi produk, melainkan pada kretivitas pengemasan produk.
Sosiologi Kemiskinan
Secara personal Bagong bercerita, ia lahir dalam keluarga miskin, sehingga ia sangat menikmati dalam memperdalam bidang Sosiologi Kemiskinan. Apalagi dalam konteks keindonesiaan, kemiskinan dan kesenjangan sosial menjadi isu yang sangat krusial.
“Karena yang terjadi di Indonesia adalah bukan jumlah masyarakat miskin yang tak kunjung terselesaikan, tapi kesenjangan yang semakin lebar. Sehingga di kalangan kelas bawah sekarang mulai muncul kesadaran kelas,” ungkapnya.
Laki-laki yang aktif menulis di media massa ini mengatakan, eksploitasi konsumen akan berbahaya ketika konsumen menjadi konsumen yang boros, yang tidak bisa lagi membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan.
Bagong menawarkan solusi untuk meminimalisir kebiasaan masyarakat konsumtif. Bagaimana caranya? Yakni dengan pendidikan konsumen yang kritis, supaya konsumen menyadari ketika mau membeli produk, ia memikirkan ulang antara kebutuhan dan keinginan.
“Keinginan bisa puluhan. Butuh kecerdasaan dan sikap kritis konsumen, bahwa yang dia hadapai ini kapitalis yang selalu mengeruk keuntungan, bukan hanya upah buruh, tapi eksploitasi konsumen. Kini konsumen harus makin kritis,” ungkapnya. (*) Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor : Defrina Sukma S.
Dorong Perkembangan Inovasi Radiologi Era Molekuler dan Digital
UNAIR NEWS – Perkembangan dunia radiologi terus berjalan.
Dimulai dari penemuan sinar rontgen di Jerman pada tahun 1895, hingga munculnya sinar-X serta lahirnya inovasi selanjutnya berupa ultrasonografi pada tahun 1950. Upaya dan berbagai inovasi radiologi inilah yang menjadi konsen Prof. Bambang Soeprijanto, dr.,Sp.RAD., Guru Besar bidang Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang dikukuhkan pada Sabtu (8/7).
Dalam pengukuhan yang dihelat di Aula Garuda Mukti Kampus C UNAIR, Bambang berpidato dengan judul “Inovasi Radiologi di Era Molekuler dan Digital”. Dalam paparanya, Bambang menekankan bahwa perkembangan inovasi radiologi merupakan upaya untuk memudahkan diagnosis berbagai penyakit yang tidak bisa dilihat oleh panca indra secara langsung.
“Perkembangan teknologi ini telah melalui berbagai pertimbangan. Salah satunya keuntungan lebih banyak daripada resiko,” terangnya.
Bambang juga menambahkan bahwa dalam perkembangannya, inovasi radiologi telah memasuki beberapa era serta memanfaatkan berbagai alat. Pada era komputer, mesin sinar-X memanfaatkan dengan inovasi alat yang disebut CT-scan. Selanjutnya, ditemukan modalitas baru tanpa penggunaan sinar-X yaitu MRI.
Alat MRI sendiri menurut Bambang, bekerja dengan cara memanipulasi proton dengan gelombang radio pada medan magnit yang kuat.
“Sumber radiasi lain dalam radiologi adalah isotop, suatu bahan yang memancarkan radiasi secara spontan. Dari alat yang sederhana, ada inovasi mesin dengan teknologi komputer yang disebut SPECT dan PET. Peralatan ini pun digabung dengan CT dan MRI,” papar Guru Besar FK UNAIR ke-108 tersebut.
Selanjutnya, Bambang kembali menjelaskan, perkembangan inovasi radiologi pun terus terjadi hingga era digital. Pada era ini, gambar penyakit pasien tidak lagi dalam lembaran kertas foto, tetapi sudah dalam bentuk data digital yang dapat disimpan dalam CD. Di era ini pula informasi foto pasien dalam bentuk data digital dapat dikirim langsung antar unit di suatu rumah sakit dengan Radiology Information System. Sedangkan untuk penyimpanan dan pengambilan kembali gambar radiologi dipergunakan Picture Archiving and Communication System.
“Di era ini gambar radiologi dapat di informasikan sesama dokter yang berbeda kota ataupun negara secara langsung dan ini disebut teleradiology,” terang Bambang.
Inovasi pemeriksaan radiologi selanjutnya yang dipaparakan oleh Bambang adalah kemampuan menampilkan gambar dari kelompok sel dengan aktifitasnya. Hal itulah yang disebut Moleculer imaging. Pada fase ini Bambang menjelaskan bahwa pemeriksaan ini memberikan informasi pada level molekuler dan level sel.
“Metode ini juga dipergunakan untuk studi ekspresi gen.
Penerapannya untuk penyakit misalnya pada kanker dan penyakit di jantung,” jelas Bambang.
Di akhir, Bambang menegaskan bahwa inovasi radiologi ini memiliki berbagi keunggulan. Selain bisa melakukan deteksi awal terhadap penyakit yang tidak bisa dilihat dengan mata secara langsung, dengan inovasi radiologi juga menjadi bagain untuk evaluasi. Namun, meski kecanggihan teknologi sangat membantu manusi, Bambang kembali menegaskan bahwa peranan manusia tidak bisa diambil alih oleh teknologi secara sepenuhnya.
“Masa depan memang akan terus dijawab melalui teknologi. Namun peran manusia tetap menjadi satu hal penting dan utama. Dalam dunia kesehatan, mengobati adalah seni dan pengetahuan, inilah yang tidak dimiliki teknologi,” tegas Bambang.
Penulis: Nuri Hermawan
Lendir Siput Diinovasi Jadi
’Surgical Glue’, untuk Atasi Kebocoran Jantung Bayi
UNAIR NEWS – Kemenristekdikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa tahun 2016-2017 meluluskan proposal mahasiswa Universitas Airlangga yang berhasil melakukan inovasi membuat lem dalam operasi untuk solusi kebocoran pada jantung bayi dengan menggunakan bahan dasar lendir siput (Achatina sp).
Tim inovatif PKMPE (Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian Eksakta) dari Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR ini dipimpin Juliani Nurazizah Setiadiputri, dengan empat temannya: Hana Zahra Aisyah, Putri Nurfriana Ramadhani, Putri Desyntasari, dan Diana Fitri.
Dibawah bimbingan dosennya, Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.
Kes., S. Bio.CCD., Juliani Dkk memberi PKMPE-nya dengan
“Surgical Glue Berbasis Poly(glycerol Sebacic Acid) dan Mucus Achatina sp. Sebagai Agen Adhesif Solusi Kebocoran Jantung pada Bayi”. Setelah lolos maka Juliani Nurazizah Dkk berhak menerima dana penelitian dari Kemenristekdikti.
Diterangkan oleh Juliani, penyakit jantung bocor itu sendiri selama ini sering terjadi pada anak. Ini merupakan
abnormalitas struktur makroskopis jantung atau pembuluh darah besar intratoraks yang mempunyai fungsi pasti atau potensial yang penting.
Penyebab abnormalitas jantung bawaan ini diduga antara lain karena berbagai macam jenis obat yang dikonsumsi ibu saat hamil, penyakit dari sang ibu itu sendiri, paparan sinar rontgen, dan juga penyakit genetik lainnya.
INILAH ekstraksi Mucus Achatina sp atau lendir siput itu. (Foto: Istimewa)
Ketika dilakukan tindakan operasi, dokter mempunyai berbagai macam cara untuk menyembuhkan kebocoran jantung ini. Misalnya dengan sutures (jahitan) dan staples. Namum, penggunaan metode ini seringkali menimbulkan berbagai permasalahan lain dikarenakan sutures dan staples biasa dilakukan pada jaringan akan memakan waktu proses penyembuhan cukup lama, menyebabkan luka pada jaringan di sekitarnya dan tidak tahan air.
Dari permasalahan tersebut, lima mahasiswa program studi S1 Teknobiomedik FST UNAIR ini melakukan inovasi atas surgical glue sebagai solusi untuk kebocoran jantung pada bayi dengan memanfaatkan lendir dari siput, atau dengan kata lain bahan alam yang mudah ditemukan di Indonesia.
Surgical glue sendiri memiliki elastisitas yang baik, dapat beradaptasi dengan pergerakan dinamis pada jaringan, memiliki taraf biokompatibilitas yang sangat baik, biodegradabel, memiliki kekuatan adhesi yang tinggi, dan resisten terhadap tekanan terutama yang disebabkan oleh cairan di dalam tubuh.
Dalam hal ini lendir siput bekerja sebagai anti-bacterial yang berasal dari bahan alam.
”Kami berusaha ingin dapat menciptakan suatu inovasi dalam bidang kesehatan, sehingga Indonesia yang saat ini menjadi konsumen, perlahan-lahan dapat menjadi negara produsen di berbagai aspek. Kami berharap surgical glue yang kami buat ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu menunjukkan inovasi-inovasinya, terutama di bidang kesehatan,”
ujar Juliani memungkasi penjelasannya. (*) Editor: Bambang Bes
Mahasiswa UNAIR Ciptakan Alat Deteksi Dini Penyakit ”Angin Duduk”
UNAIR NEWS – Ada sebagian masyarakat menyebutnya “angin duduk”. Dalam bahasa kedokteran disebut sebagai Angina Pectoris, merupakan salah satu jenis penyakit jantung yang menyerang secara mendadak akibat kurangnya pasokan oksigen
pada otot-otot jantung.
Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute’s Atherosclerotic Risk in Communities (ARIC), kematian karena
“angin duduk” ini mencapai 37% per tahun. Saat ini, deteksi terhadap gangguan kesehatan bernama “angina duduk” ini dapat dilakukan menggunakan Electro Cardio Graph (ECG).
Sayangnya, ECG ini hanya dimiliki rumah sakit saja, sehingga pasien “angin duduk” sebagian besar tak tertolong, apalagi di daerah-daerah terpencil yang jauh dari rumah sakit.
Berangkat dari kebutuhan yang penting itulah, lima orang mahasiswa Universitas Airlangga menciptakan alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi secara dini penyakit “angin duduk”
ini. Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Airlangga yang berkreasi ini diketuai Ahmad Nurianto, dengan anggota Aji Sapta, Rahardian, Difa Fanani, dan Novi Dwi.
Setelah melalui seleksi yang ketat pada Dirjen Dikti, proposal PKM-KC karya Ahmad Nurianto Dkk ini berhasil lolos seleksi, dan berhak mendapatkan dana pengembangan dari Kementerian Riret Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) program PKM tahun 2016-2017.
Dijelaskan oleh Ahmad Nurianto, alat inovasinya itu diberi nama i-Humble, singkatan dari Innovation Heart Monitoring Portable Device. Alat ini dilengkapi dengan filter digital dan sistem pakar. Dengan menggunakan filter digital, dimaksudkan agar grafik sinyal jantung yang dihasilkan lebih mudah dibaca.
PERANGKAT I-Humble yang diciptakan PKM-KC UNAIR. (Foto:
Istimewa)
Selain itu, alat yang dihasilkan memiliki ukuran yang relatif kecil, dikarenakan komponen yang digunakan merupakan komponen digital. Dengan ukuran yang kecil itulah, alat ini mudah untuk dipindah-pindah dan dapat digunakan pada kondisi darurat.
Pada alat ini juga ditambahkan sistem pakar yang dapat mendeteksi besar resiko pasien terserang penyakit “angin duduk”. Alat ini juga menggunakan tampilan layar sentuh, sehingga menambah nilai plus pada kemudahan pengoperasian alat ini pada penggunanya.
Menjawab news.unair.ac.id, dikatakan Ahmad, bahwa biaya yang d i b u t u h k a n u n t u k m e m b u a t a l a t i n i t i d a k l a h b e s a r . Pengoperasiannya pun mudah.
“Dengan demikian kami berharap alat ini dapat menjangkau tenaga medis yang berada di pelosok-pelosok desa di Indonesia, mengingat deteksi dini angin duduk dan penyakit jantung lainnya penting untuk seluruh masyarakat Indonesia,” kata Ahmad Nurianto. (*)
Editor : Bambang Bes
“Capslok”, Inovasi Pemanfaatan Limbah Biji Mangga Menjadi Jenang Berkhasiat
UNAIR NEWS – Kreativitas mahasiswa Universitas Airlangga terus menggeliat. Diantaranya yang dilakukan oleh lima orang mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR PSDKU (Program Studi Diluar Kantor Utama) di Banyuwangi. Mereka melakukan kreativitas memanfaatkan melimpahnya pelok (limbah biji mangga) menjadi barang ekonomis, yaitu Craps Jenang Pelok (Capslok).
Kelima mahasiswa tersebut adalah Fadilah Adim (ketua tim kreativ), Sulistyo Primadani, Riska Dwi Lestari, Eka Sheilla Wati, dan Triyan Rediyanto. Jenang pelok inovasi lima mahasiswa UNAIR ini memiliki formula tekstur yang beda dengan tekstur jenang lain dan produk jenang yang berbeda dengan yang biasanya dijual di pasaran. Keunikan dari Capslok ini terbuat dari bahan utama yang belum terlalu dikenal khalayak umum, yaitu pelok (biji buah mangga).
Mengapa memilih bahan dari biji kulit mangga? Dalih tim ini, seperti dikatakan Fadilah Adim, biji mangga memiliki kelebihan sebagai pencegah penyakit listeriosis yang berbahaya, yakni penyakit yang menyerang kekebalan tubuh yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes. Pelok juga memiliki kandungan fitokimia yang tinggi berupa tanin (Legessedan Shimelis, 2012). Juga fitokimia gallotanin yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa macam bakteri gram positif dan negatif. Selain itu pelok memiliki manfaat antara lain bagus
untuk pengobatan diare.
“Selain itu tujuan utama membuat Capslok ini untuk mengurangi limbah biji buah mangga yang pada saat musim mangga, jumlahnya sangat melimpah,” tambah Fadilah.
JENANG Capslok bikinan mahasiswa UNAIR Banyuwangi juga diperkenalkan pada wisatawan asing yang datang di Banyuwangi. (Foto: Dok PKMK)
Seperti diketahui, banyaknya limbah biji buah mangga (pelok) di tempat-tempat pembuangan sampah, itu suatu indikator bahwa masih banyak masyarakat Indonesia belum mengerti manfaat pelok yang sesungguhnya memiliki manfaat bagus, disamping daging buah mangga yang sekitar 20% lazim diolah menjadi produk makanan seperti manisan dan dikalengkan, keripik, dsb.
Sedangkan volume pelok ini merupakan sekitar 17-22% dari porsi buah mangga.
Keberhasilan ini kemudian disusun ke dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan (PKMK), dan berhasil lolos dari penilaian Dikti untuk memperoleh dana pengembangan dari Kemenristekdikti pada program PKM tahun 2016-2017.
Fadilah Dkk membentuk jenang Capslok ini seperti kubus.
Memiliki tekstur renyah dan di dalamnya terdapat jenang pelok yang memiliki tekstur lumer dengan rasa manis yang lezat.
“Keunggulan produk kami yaitu keunikan dari produknya, dimana jenang yang hanya biasa dan tidak menarik itu kita kemas dengan balutan crap yang crunchy dan lebih menarik konsumen, serta makanan ini dapat dinikmati untuk semua kalangan: orang tua, orang dewasa, remaja dan anak-anak,” tambahnya. (*)
Editor: Bambang Bes
Cangkang Kepiting dan Udang sebagai Penyembuh Glaukoma
UNAIR NEWS – Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2002, glaukoma merupakan penyebab kebutaan paling banyak kedua dengan prevalensi sekitar 4,4 juta, atau sekitar 12,3% dari jumlah kebutaan di dunia. Glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai dengan meningkatnya tekanan intraokular secara patologis.
Dengan tekanan intraokular normal sekitar 15mmhg, pada glaukoma dapat meningkat cepat sampai 60 hingga 70mmhg.
Tekanan yang sangat tinggi tersebut dapat menyebabkan kebutaan dalam beberapa hari atau beberapa jam.
Berdasarkan data dari American Academy of Ophthalmology tahun 2010, terapi konvensional untuk glaukoma membutuhkan satu atau lebih obat tetes mata topikal yang dirancang untuk menurunkan intraocular pressure (IOP) setidaknya 25%.
Sejauh ini, glaukoma bisa ditangani dengan beberapa
penanganan. Diantara penanganan itu adalah dengan menggunakan pengobatan secara oral, obat tetes mata, dan pengobatan laser atau prosedur operasi. Pengobatan glaukoma saat ini dapat dilakukan dengan mengimplementasikan drug delivery system pada mata.
Kelemahan implementasi drug delivery system dan pengobatan yang sudah ada saat ini yaitu karena dilakukan secara invasif.
Pengobatan dapat menyebabkan infeksi, sehingga harus dilakukan operasi kedua. Hal inipun membutuhkan biaya yang tak sedikit.
Berdasarkan latar belakang di atas, lima mahasiswa Universitas Airlangga memberikan solusi untuk membantu penyembuhan glaukoma. Solusi itu adalah dengan memanfaatkan bahan alam chitosan yang berasal dari cangkang kepiting atau udang.
Kelebihan chitosan gliserophosphate dan alginate yaitu memiliki kemampuan antibakteri yang mampu mencegah infeksi.
Pada chitosan ditambahkan alginate yang berasal dari alga coklat dan dikemas dalam bentuk hydrogel yang memiliki sistem drug deliver.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P) bidang eksakta yang mendapatkan pendanaan dari Kemenristek Dikti ini diketuai oleh Nadia Rifqi Cahyani dengan anggota Annisa Wahyu Alifiany, M. Bagus Lazuardi, Marsya Nilam Kirana, dan Iffa Aulia Fiqrianti. Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.kes, S.Bio, CCD bertindak sebagai dosen pembimbing.
Produk mahasiswa UNAIR ini dikemas dalam bentuk hydrogel yang memiliki sistem drug delivery. Produk ini dikemas dalam bentuk seperti butiran yang apabila diteteskan ke dalam mata, butiran akan menyebar ke mata bagian retina. Sehingga, dapat mengurangi cairan yang dapat meningkatkan tekanan intraokuler pada mata glaukoma.
Langkah ini diharapkan akan memperpanjang jangka waktu penghantaran obat mata pada retina sehingga pasien tidak perlu meneteskan obat mata berulang kali.
“Mata merupakan organ vital yang sangat penting bagi kehidupan. Dengan solusi yang kami buat, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan memberi harapan bagi penderita glaukoma yang memiliki potensi besar terhadap kebutaan,” ujar Nadia selaku ketua tim.
Inovasi ini telah melalui uji Fourier Transform Infra Red (FTIR), Scanning Electron Microscope (SEM), swelling, dan drug delivery sehingga diharapkan dapat menjawab persoalan yang ada. (*)
Editor : Binti Q. Masruroh
Manfaatkan Ampas Kulit Apel Manalagi, Mahasiswa UNAIR Ciptakan Minuman Unik
UNAIR NEWS – Lima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) berhasil memanfaatkan sisa ampas kulit apel manalagi untuk dijadikan teh yang berkhasiat bagi tubuh.
Ide ini diawali dari banyaknya produk olahan apel di Kota Wisata Batu, mulai dari jenang, sari apel, kripik apel, coklat apel. Namun dari banyak olahan itu, hampir tidak ada produk olahan apel yang memanfaatkan kulit apel.
Ide yang menarik dan inovatif inilah yang membuat Dirjen Dikti pada Kemenristekdikti memberikan dana pengembangan kepada lima mahasiswa FKM yaitu Allyra Himawaty, Belinda Widya Renda, Chaterine Rahel Anggraini, Dessy Susanti Rahayu, dan Nita
Kusuma Wardani.
Produk olahan itu diberi nama teh Malita. Saat ini, Teh Malita (Aroma Kulit Apel) masih dalam tahap pengurusan registrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk bisa menjadi produk yang dapat dijual bebas di pasaran.
Tingkat antioksidan yang tinggi dari kulit apel ditambah perpaduan dari teh hijau yang pengolahannya tanpa mengalami proses fermentasi menjadi keunikan tersendiri akan produk ini.
Zat-zat bioaktif yang dimiliki oleh daun teh, seperti zat antioksidan, polifenol, fluoride, vitamin C, mangan, L-teanin, katein dan kafein membuat teh Malita memiliki khasiat yang banyak untuk tubuh.
“The Malita ini kami harapkan tidak hanya menjadi produk inovasi biasa, melainkan dapat menjawab permasalahan ampas kulit apel yang cukup banyak di Kota Batu,” kata Allyra dalam penjelasan resminya.
Teh Malita ciptaan lima mahasiswa UNAIR ini sudah mulai membentangkan jangkauan pasar hingga ke luar Jawa. Adapun wilayah-wilayah cakupan pasar Teh Malita adalah Kota Batu, Surabaya, Kediri, Jombang, Riau. Perlahan tapi pasti mereka terus memperbaiki kualitas agar dapat diterima oleh masyarakat.
Secara tidak sengaja pula, lewat PKM yang diadakan oleh Kemenristekdikti, mampu mengasah kemampuan berbisnis, marketing, hingga public relation yang tidak dapat diperoleh ketika di dalam ruang kuliah. (*)
Editor : Binti Q. Masruroh
Pakan Aditif dari Wortel, Mampu Naikkan Berat Badan Harian Ayam Broiler
UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Kedoktean Hewan (FKH) Universitas Airlangga dalam penelitiannya menemukan bahwa wortel (Daucus carota L) dapat digunakan sebagai bahan aditif pakan ayam broiler yang teruji efektif dan mampu meningkatkan berat badan harian ayam.
Mahasiswa FKH UNAIR yang melakukan penelitian tersebut adalah Ahmad Syaifullah (2014), Akhmad Afifudin Al-Anshori (2016), Indah Tri Lestari(2016), Maylendah Larasati Wibowo (2016), dan Dhinar Ramadhani (2016).
Dibawah bimbingan Dr. Widya Paramita Lokapirnasari, Drh., MP., penelitian tersebut dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) dengan judul “Pemanfaatan Ekstrak Umbi Wortel (Daucus carota L) Terhadap Peningkatan Berat Badan Harian Pada Ayam Broiler”.
Proposal ini telah lolos seleksi Dikti, sehingga berhak atas dana penelitian program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.
Dijelaskan oleh Ahmad Syaifullah, ayam Broiler merupakan ayam ras pedaging hasil persilangan antara ayam Cornish dengan Plymouth Rock. Peternakan Broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sumber protein hewani.
Dalam usaha peternakan broiler, biaya pakan merupakan komponen terbesar dari total biaya produksi yang harus dikeluarkan peternak, yaitu sekitar 70%. Guna memaksimalkan hasil produksi dengan biaya seminimal mungkin, peternak melakukan berbagai cara. Salah satu usahanya dengan menambahkan bahan aditif.
Kenapa wortel? Lanjut Ahmad Syaifullah, wortel merupakan salah
satu bahan pakan yang melimpah. Kandungan betakaroten dan tingginya kadar serat dalam wortel sangat berguna melancarkan sistem pencernaan dan meningkatkan kinerja usus dalam penyerapan nutrisi. Dengan potensi tersebut, wortel dapat digunakan sebagai alternatif untuk efisiensi pakan pada peternakan broiler, jadi dapat meningkatkan pertumbuhan berat badan secara harian pada broiler.
DIAGRAM pertambahan berat badan harian ayam broiler dari hasil uji coba. (Dok PKM-PE FKH)
”Kami melakukan penelitian menggunakan 100 ekor ayam broiler yang dipelihara secara intensif. Pada umur 2 minggu dibagi dalam 5 kelompok, terdiri dari 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan yang diberi wortel dengan dosis dari konversi manusia ke ayam. Selanjutnya semua dosis dicampurkan dalam air minum sesuai kebutuhan harian ayam broiler,” kata Ahmad menjelaskan.
Parameter yang dilihat adalah laju pertambahan berat badan harian ayam selama masa pemeliharaan (5 minggu) hingga panen.
Penimbangan berat badan dilakukan setiap minggu terhadap 50%
sampel dari tiap kelompok, kemudian dibagi 7 untuk mengetahui rata-rata pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain)
ayam broiler per minggu. Pertambahan berat badan ini bisa dilihat pada diagram.
Menurut Ahmad Syaifullah, kecukupan energi dan protein dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat kondisi gizi masyarakat, juga keberhasilan usaha pemerintah dalam pembangunan pangan peningkatan sumber daya manusia. Hal ini penting sebab peternakan ayam broiler merupakan penyumbang protein hewani terbesar bagi masyarakat Indonesia.
Ahmad Dkk berharap hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi para peternak ayam broiler. Keberadaan wortel di Indonesia yang sangat melimpah, biaya pembelian yang cukup efisien serta telah terbuktinya dalam uji coba, menjadi nilai tambah untuk memilih wortel sebagai bahan pakan aditif untuk usaha broiler mereka. (*)
Editor: Bambang Bes