• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mahasiswa UNAIR Bikin Robot

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Mahasiswa UNAIR Bikin Robot"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Mahasiswa UNAIR Bikin Robot

Pintar Pensteril Bakteri

Penyebab Infeksi di RS

UNAIR NEWS – Kreativitas mahasiswa Universitas Airlangga terus menuai hasil positif. Kali ini, lima mahasiswa yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) sukses membuat robot AUROWS (Automation Robotic Waste

Transporter & Sterilizer): Robot Pintar Pensteril Bakteri dan

Pembawa Sampah Klinis untuk Mengurangi Penyebaran Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit.

Kelima mahasiswa dari Fakultas Vokasi UNAIR itu adalah Akhmad Afrizal Rizqi (Ketua tim), Agus Abdul Rozaq, Rafif Nadhif Naufal, Abdul Hamid, dan Inas Pramitha Abdini Haq. Melihat inovasi dibawah bimbingan dosen Fadli Ama, ST., MT ini, proposal PKM-KC ini lolos program PKM 2016 dan memperoleh dana pengembangan sebesar Rp 12.200.000.

Dikatakan robot pinter, kata Akhmad Afrizal Rizqi, antara lain robot ini dapat mengambil, memindahkan, dan melakukan sterilisasi pada tempat sampah atau limbah medis di rumah sakit. Jadi robot ini diberi kecerdasan buatan untuk dapat berjalan secara otomatis, dilengkapi beberapa sensor yang dapat terhubung langsung dengan komputer, sehingga memudahkan pengguna atau petugas medis dalam memantau pergerakan robot dan membunuh bakteri dengan ultraviolet LED.

”Sehingga dapat meningkatkan efek germisidal irradation yang

dapat membunuh bakteri hingga 100%, dengan menggunakan panjang gelombang 365 nm dan hanya memerlukan daya sebesar 15 mW,” kata Akhmad Afrizal R.

Pertimbangan utama inisiatif berkreasi membuat robot AUROWS ini, antara lain adanya infeksi nosokomial yang menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. Infeksi

(2)

nosokomial adalah infeksi yang didapat dan berkembang saat seseorang berada di lingkungan rumah sakit. Infeksi ini disebabkan bakteri patogen, yang diantaranya berasal dari sampah klinik rumah sakit.

Tim mahasiswa Fakultas Vokasi pembuat Robot AUROWS bersama dosen pembimbingnya, Fadli Ama, ST., MT (Foto: Dok PKM-KC Vokasi).

Di Indonesia angka kematian pasien yang tertular infeksi

nosokomial ini tergolong masih tinggi, yakni mencapai 12

hingga 52%. Padahal, infeksi nosokomial ini bisa menyebabkan pasien terkena bermacam-macam penyakit, dan setiap penyakit punya gejala berbeda pula. Beberapa penyakit yang paling sering terjadi akibat infeksi nosokomial adalah: infeksi saluran kemih, infeksi aliran darah, pneumonia, infeksi pada luka operasi.

”Banyak hal bisa mempengaruhi penyebaran nosokomial salah satunya limbah medis rumah sakit, padahal memindahkan tempat sampah itu masih menggunakan tenaga manusia, jadi ini

(3)

sangatlah berbahaya karena seseorang itu akan rentan terserang

infeksi nosokomial,” tambah mahasiswa D3 Otomasi Sistem

Instrumentasi ini.

Sebagai ketua Tim PKM-KC robot AUROWS, Akhmad berharap dengan adanya robot ini dapat dijadikan alat yang dapat digunakan petugas medis untuk membantu proses pemindahan sampah medis serta sterilisasi pada sampah klinis, sehingga dapat meminimalkan penyebaran infeksi nosokomial di rumah sakit di Indonesia dan mewujudkan Indonesia mandiri instrumentasi medis. (*)

Editor : Bambang Bes.

Atasi

Kanker

Payudara,

Mahasiswa UNAIR Buat Alat

Terapi

UNAIR NEWS – Gabungan mahasiswa Universitas Airlangga berhasil terciptanya alat terapi Lymfipum (Lymphedema Fisiotherapeutic

Pump) sebagai solusi atas penderita Limfedema akibat pasca

operasi kanker payudara.

Ditanya UNAIR News tentang yang melatari penelitian itu, Ketua Tim PKM-PE Lymfipum gabungan UNAIR ini, Dewa Ayu Githa Maharani Supartha menjelaskan bahwa di negara berkembang seperti Indonesia, dari tahun ke tahun pasien kanker terus meningkat. Sedangkan penyakit kanker yang terbanyak di Indonesia adalah kanker payudara.

Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI 2015, pada tahun 2013 saja jumlah pasien kanker payudara

(4)

mencapai 0,5% yaitu sekitar 61.682 pasien. Sekitar 20-53% kanker payudara merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya

limfedema (National Cancer Institute, 2012).

Seperti diketahui, limfedema adalah pembengkakan pada bagian ekstremitas atas maupun bawah yang disebabkan oleh terganggunya aliran limfa. Konon Limfedema tidak dapat disembuhkan (Greene, 2015), padahal limfedema bisa menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi ekstremitas, morbiditas, dan berakibat fatal pada kematian.

Selain itu, jumlah tenaga kerja fisioterapi pada tahun 2014 sekitar 6.813 pekerja. Jumlah tersebut belum memadai dengan kebutuhan secara ideal, yaitu seorang fisioterapis per 1000 penduduk (Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014).

Dari keadaan itulah gabungan mahasiswa Universitas Airlangga yang diprakarsai Dewa Ayu Githa MS., Lucia Pangestika, Ataul Karim, Mokhammad Deny Basri, dan Mokhammad Dedy Bastomi, berhasil merancang alat terapi Lymfipum (Lymphedema

Fisiotherapeutic Pump) sebagai solusi penderita Limfedema

akibat pasca operasi kanker payudara.

Mereka adalah gabungan dari mahasiswa S1 Teknobiomedik (Fakultas Sains dan Teknologi/FST), dan mahasiswa D3 Otomasi Sistem Instrumentasi (OSI) Fak. Vokasi. Atas bimbingan dosen Drs. Tri Anggono Prijo, mereka berhasil menyusun makalah bertajuk “Lymfipum – Lymphedema Fisiotherapeutic Pump – Solusi Praktis Patient Post Surgery Breast Cancer” dan berhasil memperoleh dana hibah dari Ditjen Dikti Kemenristek Dikti. Menurut Dewa Ayu Githa, Lymfipum yang dibuat ini memiliki variasi range tekanan dari 20 mmHg – 60 mmHg. Selain itu terdapat LCD yang akan menampilkan keluaran berupa tekanan yang diberikan. Cara kerja dari Lymfipum yaitu dengan memilih nilai tekanan yang diinginkan dengan menggunakan push button. Kemudian tekan tombol “oke” maka pompa udara akan mengeluarkan udara, sehingga udara akan masuk kedalam handcuff. Handcuff

(5)

itu sendiri tediri dari tiga chamber yang akan mengembang dan mengempis secara bergantian seperti memijat. Mengembang dan mengempisnya chamber inilah yang akan mendesak keluar cairan limfa dari daerah yang mengalami pembengkakan (ekstremitas atas).

“Sehingga dengan diciptakannya Lymfipum ini, diharapkan mampu mengurangi resiko kematian akibat terjadinya limfedema pada pasien pasca operasi kanker payudara,” kata Githa berharap mewakili rekan-rekannya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor : Bambang Edy Santosa

Konsentrat Jantung Pisang,

Turunkan Kolesterol pada

Daging Kambing

UNAIR NEWS – Kreativitas dan inovasi mahasiswa Universitas Airlangga terus berlanjut. Kali ini mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR PSDKU Banyuwangi berhasil membuat ransum konsentrat, pakan tambahan ternak, yang terbuat dari jantung pisang dan bekatul sebagai feed additive. Hasilnya, kambing dan domba yang diberi konsentrat ini berat badannya cepat meningkat dan dagingnya lebih sehat untuk dikonsumsi karena rendah kolesterol, sehingga bisa untuk mengatasi masalah phobia masyarakat terhadap kolesterol tinggi.

”Itu keunggulan dari PKM kami. Tapi hasil itu akan didapatkan jika menambahkan konsentrat tepung jantung pisang dan bekatul sebagai feed additive pakan kambing atau domba dan diberikan secara rutin,” demikian penjelasan Dina Deviana, ketua tim

(6)

peneliti Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) FKH UNAIR Banyuwangi.

Atas keberhasilan ini, Dina Deviana (FKH 2014) dan tiga anggota timnya, Nur Prabowo Dwi Cahyo (FKH 2014), Dwi Retna Kumalaningrum (FPK 2014), dan Widya Kusuma (FKH 2015), menuangkannya dalam proposal PKM bidang Penelitian Ekonomi. Setelah melalui penilaian ketat oleh Dirjen Pendidikan Tinggi, proposal ini lolos dan mendapatkan dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM 2017.

ANGGOTA tim mengiris jantung pisang (ontong) untuk dikeringkan dan dijadikan tepung. (Foto: Dok Tim)

(7)

Jantung pisang kering, siap dijadikan tepung. (Foto: Dok Tim)

Dina Dkk berinovasi pada produk ini karena ingin memanfaatkan melimpahnya bahan baku jantung pisang, dimana Banyuwangi merupakan sentra penghasil pisang di Jawa Timur. Selain itu perekonomian di kota yang dijuluki “Sunrise Of Java” ini banyak ditunjang oleh sektor perikanan, pertanian dan peternakan.

”Maka salah satu cara untuk peningkatan kualitas peternakan di Kabupaten Banyuwangi yaitu dengan meningkatkan kualitas pakan untuk ternak itu,” tambah Dina Deviana.

Apalagi, mayoritas peternak di Banyuwangi selama ini hanya mengandalkan rumput sebagai pakan ternaknya, tanpa adanya makanan tambahan lainnya. Malahan, pemberian rumput pun juga terbatas, sehingga kualitas daging yang dihasilkan dari ternaknya turun dan pertumbuhan ternak menjadi terganggu, tubuh kambing menjadi kurus.

Melihat kasusnya demikian, Tim PKMPE Dina Dkk mengevaluasi bahwa perlu adanya pemberian nutrisi dengan gizi yang seimbang untuk ternak di Banyuwangi. Makanan tambahan itu akan melengkapi kebutuhan nutrisi, dalam hal ini adalah konsentrat sebagai makanan tambahan untuk kambing/domba. Caranya dengan menambahkan kandungan nutrisi seperti protein, energi, dan mineral.

Akhirnya ditemukan dalam penelitian tim ini bahwa konsentrat yang digunakan ialah bekatul padi yang dikombinasikan dengan jantung pisang sebagai feed additive. Dipilihnya jantung pisang karena mengandung banyak vitamin C, serat, dan saponin yang cukup tinggi. Jika “suplemen” ini secara rutin diberikan pada kambing/domba, maka kandungan unsur yang ada itu dapat menurunkan kolesterol pada dagingnya. Selain itu jantung pisang sangat bermanfaat bagi ternak kambing maupun manusia yang mengonsumsi daging kambing tersebut.

(8)

Diterangkan oleh mereka, membuatnya pun relatif mudah. Diawali dengan jantung pisang itu dibuat tepung dahulu. Jantung pisang basah digiling (cooper), lalu dilakukan penjemuran pada sinar matahari atau pengovenan hingga kadar airnya tersisa maksimal 14%. Selanjutnya dilakukan penggilingan.

Setelah itu dibuat ransum dengan bekatul sesuai persentase tertentu. Tim PKM ini kemudian menguji dan mempraktikan pada kambing/domba sesuai metode penelitiannya. Dari catatan dan pengamatan dalam pengujian, diperoleh hasil yang sangat baik, konsentrat bikinan Dina Dkk ini mampu menurunkan kadar kolesterol dalam daging kambing/domba serta mampu lebih cepat meningkatkan berat badan ternak.

”Daging kambing yang rendah kolesterol tentunya lebih sehat untuk dikonsumsi masyarakat, bagi mereka phobia terhadap kolesterol tinggi pun bisa mengonsumsinya,” katanya. (*)

Editor: Bambang Bes

Meningkatkan Pola Hidup Sehat

Penghuni

Panti

Asuhan

‘Millenium’ Sidoarjo

UNAIR NEWS – Kebersihan lingkungan dan kesehatan di panti asuhan (PA) masih banyak yang diabaikan dan tidak memenuhi syarat kesehatan pada umumnya. Berangkat dari realitas itulah mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) ingin berbuat membantu pemberdayaan pola hidup sehat pada panti asuhan. Pengabdian mereka itu dilaksanakan di PA Milenium, di Desa Tenggulunan, Kec. Candi, kab. Sidoarjo.

(9)

Empat mahasiswa FISIP UNAIR penggiat pengabdian itu diketuai Sofie Egita Vermalia, dengan anggota Sri Ayu Dinda Lestari, Lestari Dyah Ningtyas, dan Weka Nastiti.

Dijelaskan oleh Sofie, PA Milenium selama ini menampung anak-anak yatim piatu, anak-anak terlantar, serta dhuafa. Dari segi bangunan panti yang unik paduan arsitektur Bali dan Islam ini, sayangnya tentang kebersihan dan kesehatan masih kurang maksimal.

Seperti yang diterangkan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Effendie, Panti Asuhan Milenium diakui belum bisa membuat program mengarah kesana, karena kurang adanya sosialisasi terhadap pola hidup sehat yang sesuai syarat pada umunya. Karena itulah dengan kehadiran mahasiswa UNAIR ini diharapkan bisa berubah menjadi lebih baik dan lebih sehat.

Kegiatan Sofie Dkk ini kemudian disusun menjado proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan judul “KAPAL (

Kesehatan Anak Panti Asuhan Milenium) Guna Meningkatkan

Pentingnya Hidup Sehat”. Konsep ini diharapkan dapat dijadikan program lanjutan oleh pihak PA Milenium di Sidoarjo ini.

Dibawah bimbingan seorang dosennya, proposal “KAPAL” ini juga lolos penilaian Dikti, sehingga juga berhak untuk mendapatkan dana hibah pengembangan dari program PKM 2016-2017 dari Kemenristekdikti.

Sofie Dkk berharap dengan kegiatannya ini dapat meniadakan persoalan yang telah “viral” terjadi di PA ini bahwa pihak panti beberapa kali mendapat berita buruk dengan pengasuhan yang kurang baik, lingkungan yang kurang layak, serta kesehatan yang kurang belum memenuhi kriteria pada umunya.

“Dari keadaan seperti itulah mendorong kami membuat program ini untuk meningkatkan betapa pentingnya hidup sehat dan kebersihan lingkungan di sekitarnya,” kata Sri Ayu Dinda Lestari menambahkan.

(10)

Dalam memberdayakan anak-anak di PA ini dilakukan melalui program yang telah disusun Tim PKMM mahasiswa UNAIR ini, memulai memberikan sosialisasi terhadap pemilik dan pengurus panti, serta kepada anak-anak penghuni panti.

Pembelajaran yang disampaikan mengenai kehidupan sehari-hari. Misalnya cara gosok gigi yang baik dan benar, mencuci tangan dengan benar, membersikan lingkungan bersama-sama dengan pengurus panti dan anak-anak penghuni panti.

“Kami juga memberikan pembelajaran melalui menonton video pola hidup sehat dan bagaimana cara menjaga kebersihan di lingkungan sendiri,” tambah Sofie Egita Vermalia, ketua kelompok.

Program tersebut memberikan respon positif bagi pihak panti yang telah membantu anak-anak penghuni panti asuhan dalam meningkatkan bagaimana kesehatan diri sendiri dan lingkungannya. (*)

Editor : Bambang Bes

Mahasiswa

UNAIR

’Sulap’

Limbah Kulit Semangka Jadi

Masker Antioksidan

UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga berhasil berinovasi “menyulap” limbah kulit semangka menjadi masker wajah antioksidan yang alami. Dalam produksi pertama dalam pengenalan pasar, sudah terjual 140 Pcs dengan harga yang sangat terjangkap, Rp 6.000/Pcs.

(11)

permasalahan limbah, dan kedua menjadikan limbah tersebut menjadi produk bermanfaat dan punya nilai plus,” kata Amelya Mustika P, Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) FF UNAIR.

Diakui, salah satu permasalahan yang sering dihadapi pelajar, mahasiswa, dan perempuan umumnya, adalah permasalahan kulit wajah. Mengapa? Karena para pelajar dan mahasiswa, dan perempuan aktif umumnya memiliki banyak aktivitas di luar rumah/kampus. Sehingga terpapar sinar ultraviolet dan polusi menyebabkan pembentukan radikal bebas meningkat dan memicu kerusakan pada kulit, mulai kulit wajah menjadi kusam, kasar, dan timbulnya noda hitam. Keadaan demikian menyebabkan kurangnya rasa percaya diri dan rasa kurang nyaman.

Pada sisi yang lain, limbah juga merupakan permasalahan yang tiada habisnya.Mulai dari limbah organik maupun anorganik. Adanya limbah tentu sangat mengganggu masyarakat, maka diperlukan suatu upaya untuk mengolah limbah tersebut. Salah satunya mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan mempunyai nilai jual.

Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PKM-K (Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan) Fakultas Farmasi Universitas Airlangga yang beranggotakan Amelya Mustika P (2015), Septiani (2015), Theresa Binayu P (2015), M. Dzul Azmi A.A (2015), dan Galuh Ratri (2014) mengombinasikan suatu produk yang selain dapat mengatasi permasalahan pada kulit wajah, juga membantu mengurangi limbah. Produk inovasi bernama

“Watermelon Beauty Face Mask” ini telah lolos bantuan dana

(12)

Kemasan ’Watermelon Beauty Face Mask’ yang dipasarkan. (Foto: Dok PKMK FF-UA)

“Watermelon Beauty Face Mask” merupakan masker wajah yang

berasal dari limbah kulit putih semangka, dimana kulit putih semangka itu memiliki kandungan antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas serta mencerahkan kulit wajah. Menurut sebuah jurnal, kulit putih semangka kaya akan vitamin, mineral, enzim, dan klorofil. Vitamin-vitamin yang terkandung di dalamnya adalag vitamin A, vitamin B2, vitamin B6, vitamin E, dan vitamin C. Kandungan vitamin E, vitamin C.

“Protein yang cukup banyak pada kulit putih buah semangka dapat digunakan untuk menghaluskan kulit, rambut, dan membuat rambut tampak berkilau. Sedangkan sitrulin, betakaroten dan

likopen yang terdapat pada kulit putih buah semangka dapat

dimanfaatkan sebagai antioksidan,” kata Amelya Mustika, ketua Tim PKMK mengutip sebuah jurnal yang ditulis Rochmatika dkk (2012).

“Sehingga kita tak perlu khawatir lagi untuk beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, Watermelon Beauty Face Mask juga

(13)

memiliki aroma yang menenangkan, sehingga sangat cocok untuk digunakan usai melakukan aktivitas sehari-hari,” tambah Amelya.

Menariknya lagi, “Watermelon Beauty Face Mask” ini begitu diperkenalkan ke masyarakat, hingga kini sudah terjual 140 Pcs pada produksi pertama. Tim menjual dengan harga Rp 6.000/Pcs dinilai sangat terjangkau bila dibandingkan dengan manfaat yang dimiliki masker buatan mahasiswa Farmasi UNAIR ini.

Guna memenuhi permintaan konsumen yang sudah mengenalnya,

Watermelon Beauty Face Mask juga hadir dengan tiga varian,

yang dibuat berdasarkan jenis kulit, yaitu untuk kulit kering, kulit normal, dan kulit berminyak.

Tim berharap dengan penggunaan Watermelon Beauty Face Mask ini dapat melembabkan kulit yang kering pada penggunanya, juga mengurangi sebum bagi kulit yang berminyak, dan menjaga kelembaban untuk kulit normal.

”Tunggu apa lagi, segera pesan Watermelon Beauty Face Mask dan dapatkan kulit wajah Anda yang lebih sehat,” kata Amelya berpromosi. (*)

Editor: Bambang Bes

Kini, Ekstrak Eugenol Daun

Kemangi Bisa Bius Ikan Nila

UNAIR NEWS – Berbekal keilmuannya selama kuliah, lima mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga mengekstraksi eugenol daun kemangi (Ocimum

(14)

Manfaatnya, ekstraksi tersebut bisa menjadi anestesi yang ramah lingkungan.

Kelima mahasiswa yang memiliki inovasi tersebut adalah Nila Dian Margareta, Masfiatus Sholikhah, Kartika Yulita Damayanti, Arinda Fadilah Anggi, dan Tenry Nesya Almira Hartono.

Mereka menuangkan gagasan tersebut dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa– Penelitian (PKM–PE) berjudul “Ekstraksi Eugenol pada Daun Kemangi (Ocimum citriodorum) sebagai Anestesi Ikan Nila yang Ramah Lingkungan (Eksis Tenar).

“Kandungan utama pada minyak atsiri ini adalah eugenol. Daun kemangi mengandung eugenol tinggi sebanyak 61,2 persen sebagai komponen antibakteri dan kandungan fenolik lain seperti metal eugenol dan carvacrol,” tutur Nila.

Nila mengatakan, umumnya bahan anestesi alami merupakan bahan kimia organik hasil metabolit sekunder jenis senyawa saponin dan rotenone. Kali ini, ia dan timnya yang berada di bawah bimbingan Dr. Laksmi Sulmartiwi, S.Pi, MP, meneliti konsentrasi pemberian ekstrak eugenol minyak atsiri sebagai bahan anestesi pada ikan nila stadia benih.

Dalam penelitiannya, ia menggunakan uji statistika deskriptif, homogenitas, anova, post hoc test, dan homogenous. Berdasarkan hasil uji yang telah mereka lakukan, konsentrasi minyak atsiri daun kemangi yang diberikan sebagai anastesi berpengaruh nyata terhadap mortalitas benih ikan nila.

“Berdasarkan uji homogeneous, konsentrasi terbaik diperoleh dengan dosis minyak atsiri daun kemangi sebesar 25ppt dan 50ppt,” terang Nila.

(15)

Mendulang Rupiah dari Limbah

Ternak

UNAIR NEWS – Limbah telah menjadi masalah perkotaan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Limbah yang berasal dari industri, rumah tangga, hingga peternakan kerap kali menimbulkan permasalahan yang bisa merusak lingkungan. Beda hal dengan Guru Besar bidang Ilmu Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Prof. Dr. Herry Agoes Hermadi yang menjadikan pengolahan limbah ternak sebagai sumber ekonomi baru.

Sebagai peneliti sekaligus dosen di FKH UNAIR, ia tertantang untuk berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan lingkungan. “Limbah rumah potong hewan seperti perut sapi (rumen), sebenarnya jika diperas akan menghasilkan cairan bio fermentor. Ini bermanfaat untuk mengurangi bau pada septic

tank bahkan mampu menguras WC (water closet) tanpa disedot,”

tutur Herry.

Sari rumen bisa dimanfaatkan untuk menghancurkan limbah k o t o r a n y a n g d i h a d a p i K o t a S u r a b a y a . B e r d a s a r k a n pengamatannya, warga di atas 50 persen masyarakat di Kota Surabaya masih membuang limbah kotorannya di sungai. “Mereka memiliki WC yang masih open defecation bukan close defecation. Ini artinya pembuangannya selalu bermuara ke sungai,” terangnya.

Selain itu, bio fermentor juga dapat dimanfaatkan untuk memproses fermentasi bahan pakan. Jika cairan bio fermentor dicampur dengan pupuk NPK dan disemprotkan di tanaman, kesuburan tanaman tersebut akan membaik.

Limbah lainnya yang bisa dimanfaatkan dari keberadaan peternakan adalah darah hewan yang sudah dipotong. Dalam satu hari, para pemotong hewan bisa menyembelih sekitar seratus

(16)

ekor sapi. Tak disangka, darah yang dibuang ini bisa dikembangkan menjadi pakan ternak yang memilki nilai ekonomis. “Setiap sapi bisa bisa menghasilkan 20 sampai 30 liter darah per hari. Bayangkan jika tiap harinya ada sekitar 100 ekor sapi yang disembelih namun tidak dimanfaatkan akan sayang sekali,” tutur Herry yang menjadi dosen pembimbing lapangan kegiatan Kuliah Kerja Nyata – Belajar Bersama Masyarakat UNAIR ini.

Penulis: Helmy Rafsanjani Editor: Defrina Sukma S

Lendir Siput Diinovasi Jadi

’Surgical Glue’, untuk Atasi

Kebocoran Jantung Bayi

UNAIR NEWS – Kemenristekdikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa tahun 2016-2017 meluluskan proposal mahasiswa Universitas Airlangga yang berhasil melakukan inovasi membuat lem dalam operasi untuk solusi kebocoran pada jantung bayi dengan menggunakan bahan dasar lendir siput (Achatina sp).

Tim inovatif PKMPE (Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian Eksakta) dari Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR ini dipimpin Juliani Nurazizah Setiadiputri, dengan empat temannya: Hana Zahra Aisyah, Putri Nurfriana Ramadhani, Putri Desyntasari, dan Diana Fitri.

(17)

Kes., S. Bio.CCD., Juliani Dkk memberi PKMPE-nya dengan “Surgical Glue Berbasis Poly(glycerol Sebacic Acid) dan Mucus

Achatina sp. Sebagai Agen Adhesif Solusi Kebocoran Jantung

pada Bayi”. Setelah lolos maka Juliani Nurazizah Dkk berhak menerima dana penelitian dari Kemenristekdikti.

Diterangkan oleh Juliani, penyakit jantung bocor itu sendiri selama ini sering terjadi pada anak. Ini merupakan abnormalitas struktur makroskopis jantung atau pembuluh darah besar intratoraks yang mempunyai fungsi pasti atau potensial yang penting.

Penyebab abnormalitas jantung bawaan ini diduga antara lain karena berbagai macam jenis obat yang dikonsumsi ibu saat hamil, penyakit dari sang ibu itu sendiri, paparan sinar rontgen, dan juga penyakit genetik lainnya.

INILAH ekstraksi Mucus Achatina sp atau lendir siput itu. (Foto: Istimewa)

(18)

Ketika dilakukan tindakan operasi, dokter mempunyai berbagai macam cara untuk menyembuhkan kebocoran jantung ini. Misalnya dengan sutures (jahitan) dan staples. Namum, penggunaan metode ini seringkali menimbulkan berbagai permasalahan lain dikarenakan sutures dan staples biasa dilakukan pada jaringan akan memakan waktu proses penyembuhan cukup lama, menyebabkan luka pada jaringan di sekitarnya dan tidak tahan air.

Dari permasalahan tersebut, lima mahasiswa program studi S1 Teknobiomedik FST UNAIR ini melakukan inovasi atas surgical

glue sebagai solusi untuk kebocoran jantung pada bayi dengan

memanfaatkan lendir dari siput, atau dengan kata lain bahan alam yang mudah ditemukan di Indonesia.

Surgical glue sendiri memiliki elastisitas yang baik, dapat

beradaptasi dengan pergerakan dinamis pada jaringan, memiliki taraf biokompatibilitas yang sangat baik, biodegradabel, memiliki kekuatan adhesi yang tinggi, dan resisten terhadap tekanan terutama yang disebabkan oleh cairan di dalam tubuh. Dalam hal ini lendir siput bekerja sebagai anti-bacterial yang berasal dari bahan alam.

”Kami berusaha ingin dapat menciptakan suatu inovasi dalam bidang kesehatan, sehingga Indonesia yang saat ini menjadi konsumen, perlahan-lahan dapat menjadi negara produsen di berbagai aspek. Kami berharap surgical glue yang kami buat ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu menunjukkan inovasi-inovasinya, terutama di bidang kesehatan,” ujar Juliani memungkasi penjelasannya. (*)

(19)

Mahasiswa UNAIR Tawarkan Nisa

Kit, Mencegah Sejak Dini

Ancaman Kanker

UNAIR NEWS – Makanan berpengawet nitrosamin ditengarahi banyak bertebaran di pasaran umum. Padahal, nitrosamin merupakan senyawa karsinogen (zat pemicu kanker). Berangkat dari keprihatinan itu dan ingin andil menyehatkan masyarakat, lima mahasiswa Universitas Airlangga berhasil membuat produk, namanya Nitrosamin Tes Kit (Nisa Kit), yang mudah dipakai untuk mendeteksi makanan itu mengandung nitrosamin atau tidak. ”Keunggulan produk ini, kami belum menemukan produk lain yang bisa mendeteksi nitrosamin dalam makanan. Kebanyakan produk yang dijual di luar adalah produk yang hanya bisa untuk mendeteksi nitrit, dan bukan nitrosamine,” ujar Yovilianda Maulitiva Untoro, Ketua kelompok Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR ini dalam siaran persnya.

Selain Yovilianda, keempat anggota tim PKMK yang lain adalah Krisnadewi Suciati, Arini Sabilal Haque, Anisa Maharani, dan Dwiki Rizaldi Wijaya. Mereka mengangkat inovasinya ini dalam proposan PKMK, dan telah berhasil lolos dari penilaian Dirjen D i k t i , s e h i n g g a b e r h a l a t a s d a n a p e n e l i t i a n d a r i Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2017.

(20)

KELOMPOK PKMK Nisa Kit menunjukkan produknya. (Foto: Ist)

Selain itu, lanjut Yovilianda, harga yang ditawarkan pada produk pendeteksi nitrit itu sangat mahal, mencapai ratusan ribu. Sedangkan produk Nisa Kit lebih murah dan sangat mudah dalam aplikasi penggunaannya. Sehingga para ibu rumah tangga dapat dengan mudah melakukan pecegahan kanker nasofaring, minimal dalam satu keluarganya.

Dijelaskan, di pasaran masih banyak ditemukan makanan yang diawetkan menggunakan nitrosamin. Diakui, proses mengawetkan makanan ini biasanya menggunakan nitrit, dan umumnya jenis makanan yang diawetkan dengan nitrit itu daging dan ikan asin.

Nitrosamin terbentuk karena saat proses pengawetan makanan itu

terjadi reaksi antara protein dengan nitrit yang menyebabkan terjadinya perombakan protein dalam makanan.

Nitrit sendiri lebih beracun dibandingkan dengan nitrat,

karena itu konsumsi nitrit pada manusia dibatasi dari konsentrasi 10-200 ppm. Sehingga adanya nitrosamine dalam makanan juga sangat berbahaya, antara lain dapat menimbulkan

(21)

tumor dan kerusakan organ lain. Bahkan yang paling fatal adalah dapat memicu berkembangnya kanker nasofaring.

Repotnya, banyak masyarakat yang belum mengenal, bahkan belum mengetahui apa itu kanker nasofaring. Bahkan belakangan penyakit ini sempat menjadi trending topic, gara-gara seorang aktor asal Korsel yang mengidap kanker nasofaring, yaitu kanker yang tumbuh pada nasofaring. Nasofaring adalah bagian sistem pernafasan yang terletak pada hidung bagian dalam hingga ke tenggorokan.

Berdasarkan pengamatannya, umumnya masyarakat tidak atau belum banyak yang mengetahui apa saja penyebab kanker, termasuk kanker nasofaring. Ketika kanker sudah menggerogoti tubuh dan telah mencapai fase kritis (stadium tinggi), masyarakat baru menyadarinya.

”Padahal sebenarnya masyarakat dapat melakukan pencegahan sejak dini, sehingga bisa meminimalisir berkembangnya suatu penyakit di dalam tubuh. Dengan kami buatkan Nisa Kit ini, kami berharap para ibu rumah tangga dapat dengan mudah mengetahui makanan apa yang terpapar nitrosamin, sehingga bisa melakukan pecegahan kanker nasofaring,” kata Yovi, panggilan akrabnya. (*)

Editor : Bambang Bes.

Berbisnis Clothing Line,

Mahasiswa FK Daur Ulang Serat

(22)

Pohon Pisang Menjadi Kain

Tenun

UNAIR NEWS – Dari satu pohon pisang, kita dapat memanfaatkan seluruh bagiannya untuk berbagai keperluan. Mulai dari ujung daun hingga akar. Namun pernahkah terfikirkan, jika serat pohon pisang ternyata juga bisa diolah menjadi lembaran kain tenun?

Nuzulul Azizah Ramdan Wulandari, adalah pencetus ide mendaur ulang serat pohon pisang lalu mengombinasikannya dengan teknik tenun. Hasilnya, terciptalah kain tenun berbahan serat pohon pisang.

Inspirasi tersebut bermula ketika mahasiswa Fakultas Kedokteran UNAIR ini iseng-iseng membaca jurnal.

“Sebuah jurnal menyebutkan bahwa di Jepang, para dokter menggunakan serat pohon pisang sebagai benang operasi. Dari sini, saya mulai mencari cara bagaimana bisa mengombinasikan serat pohon pisang sehingga bisa dijadikan tenun seperti halnya tenun sutera,” ungkapnya.

Dari pemikiran tersebut, Wulan kemudian berinisiatif untuk berbisnis. Setelah berhasil memperoleh dana Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari DIKTI pada tahun 2014 lalu, Wulan bersama timnya bekerjama mem-branding sebuah usaha Clothing Line yang mereka namai Fibrinana.

Awalnya, Fibrinana hanya memproduksi tas dan sepatu. Namun sekarang, produksi lebih diarahkan pada pakaian berbahan tenun. Menurutnya, bahan olahan serat pohon pisang ini dapat dipadukan dengan bahan-bahan hand woven (anyaman tangan) maupun leather.

Dari serat pepohonan sampai akhirnya bisa menjadi lembaran kain tenun, membutuhkan serangkaian proses pengolahan.

(23)

“Bagian pohonnya diserut, kemudian direndam selama beberapa waktu. Setelah itu dikeringkan, lalu diikat perhelainya, ikatan serat-serat ini yang kemudian ditenun,” ungkap penggemar sepatu sutera ini.

Karena berbahan dasar alami, perawatan kain tenun dari serat pohon pisang ini memerlukan sedikit perlakuan khusus. Pakaian tenun produk Fibrinana bisa lebih awet selama dicuci dengan cara manual tanpa mesin cuci.

“Paling aman di-dry clean saja,” tutur perempuan kelahiran Februari 1995 ini.

Saat ini Fibrinana dikelola oleh beberapa tim, antara lain tim

tenant yang bekerja saat Fibrinana akan mengikuti pameran dari design hingga properti, tim web development yang bertugas

mengelola laman Fibrinana, dan tim IT Division yang bertugas sebagai administrator sekaligus mengelola desain media sosial, desain lookbook, maupun desain brandprofile.

Setiap bulan, bisnis ini mampu meraup omset antara 3-5 juta rupiah. Soal desain, mahasiswa FK UNAIR angkatan tahun 2013 ini melibatkan sejumlah desainer muda, namun tak jarang pula Wulan ikut urun mendesain.

“Pemilihan tergantung tema per-season. Setiap tiga bulan sekali ganti season. Ada yang hanya outer saja, ada yang kombinasi border. Next season, kami mau full colour dengan menggunakan pewarnaan dari alam,” jelasnya.

Untuk satu potong busana tenun, Fibrinana membandrol harga mulai dari 300 ribu hinggs 1 juta rupiah, tergantung pada kombinasi bahan yang digunakan.

“Ada yang kombinasi serat dan anyaman tangan, ada juga yang kombinasi serat dan leather, atau serat dan sutera. Yang paling mahal adalah yang menggunakan bahan serat 100 persen tanpa kombinasi apapun,” ungkapnya.

(24)

Saat ini, Fibrinana bekerja sama dengan sejumlah café di Jakarta, sebuah sekolah musik dan rekaman studio di Bandung, beberapa café di Malang dan Surabaya, serta skincare di Surabaya. Sistemnya, ketika menjadi membercard Fibrinana, akan mendapatkan diskon ketika berkunjung ke tempat tersebut.

Sebagai pemula dalam menjalankan bisnis Clothing Line, Wulan tak ragu bersaing. Slogan eco green, recyle, back to nature yang sering digaungkan oleh perusahaan luar negeri rupanya semakin memotivasi Fibrinana untuk mampu bersaing dengan produk luar.

“Masyarakat di Thailand mempunyai kain khas yang terbuat dari serat nanas. Kami pun juga sedang mengembangkan kain dari serat pohon pisang. Dua-duanya sama-sama memanfaatkan bahan limbah menjadi produk bernilai jual tinggi. Pembuatan baju

Fibrinana yang berbahan alam ini juga bersifat organik serta

dapat membaur bersama tanah ketika sudah tidak dipergunakan,” ungkapnya.

Dari pengamatannya sejauh ini, sebenarnya banyak sekali produk luar negeri yang menggunakan bahan dan tenunan hasil Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Mereka membeli bahan dari Indonesia dengan harga yang murah namun dijual kembali dengan harga jual yang lebih tinggi.

“Mayoritas produk luar hanya mengunggulkan pewarnaan dan

paperbag-nya yang menganut budaya tersebut. Sementara Fibrinana mempunyai nilai plus yaitu pemakaian bahan alami,

yakni serat pohon pisang. Sementara di Indonesia, kompetitor yang bermain dengan bahan dasar alam masih terbatas. Maka dari itu peluang besar Fibrinana untuk menguasai market tersebut,” jelasnya.

Sampai Ke Praha

Sejak dua tahun berdiri, busana tenun Fibrinana telah banyak menerima pesanan dari berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri, seperti Jakarta, Surabaya, hingga Praha. Wulan

(25)

sendiri bahkan pernah diundang mengisi beberapa acara talk

s h o w i n s p i r a t i f , d a n m e r a i h T o p 5 E n t e r p r e n e u r b y

Madeinkampus. Bukan hanya itu, Wulan juga berkesempatan featuring dengan designer busana asal Singapura.

Merasa bisnis Clothing Line Fibrinana masih seumur jagung, Wulan tak memungkiri jika perjalanan bisnisnya masih terkendala banyak hal. Khususnya, dalam hal membagi waktu antara kuliah dan bisnis.

“Menggeluti bisnis sambil kuliah memang tidak mudah. Namun saya menyadari harus kembali ke harfiah sebagai mahasiswa FK UNAIR. Saya ingat dengan pesan orang tua, bahwa profesimu kelak sebagai ladang ibadah dan profesi sosial dimana tidak terlalu melihat keuntungan pribadi, namun kamu harus mempunyai bisnis untuk mendukung income kelak,”ungkapnya.

Ke depan, Wulan berharap Fibrinana berkembang lebih luas dan semakin menemukan peminatnya. Selain dapat bekerjasama dengan banyak fresh designer, Wulan berharap Fibrinana memiliki store sendiri yang berlokasi di Surabaya. Ia juga berharap Fibrinana menjadi brand lokal FK UNAIR. Wulan bahkan bertekad, kelak kain tenun berbahan serat pohon pisang miliknya dapat menjadi kain nasional yang mewakili Indonesia setelah kain batik.

“Semoga Fibrinana dapat berekspansi ke beberapa kota wisata, seperti Yogyakarta dan Bali. Karena di Yogya, produk lokal lebih dihargai, sementara di Bali para turis dikenal amat menggemari produk-produk berkonsep back to nature,” ungkapnya. (*)

Penulis : Sefya Hayu

Referensi

Dokumen terkait

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa yang tergabung dalam anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran (UKM Penalaran) Universitas Airlangga berhasil menyabet juara I pada Lomba Karya

“Kami memutuskan untuk membuat kompres luka dari tanaman lidah buaya (Aloe vera) ini dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa yang didanai Kementerian Riset, Teknologi

UNAIR NEWS – Sebanyak 12 mahasiswa anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (WANALA) Universitas Airlangga ikut serta dalam kegiatan konservasi penyu hijau di

UNAIR NEWS – Mahasiswa PDD Universitas Airlangga di Banyuwangi, Apik Mila Sari (20), mengatakan, sebagai warga negara yang baik, dan apalagi sebagai bagian dari

Pada saat yang bersamaan dengan tes SBMPTN, calon mahasiswa baru UNAIR yang diterima melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri dikumpulkan di Airlangga

UNAIR NEWS – Sebanyak 20 mahasiswa yang bergabung dalam tim dari Fakultas Hukum (FH), Universitas Airlangga (UNAIR), berhasil menjadi juara umum dalam acara National Moot

Mahasiswa UNAIR Bikin Web Aplikasi untuk Mengontrol Diabetes Tipe-2 pada Remaja UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga berhasil membuat aplikasi web yang mudah diakses

SIARAN PERS Nomor: 497/UN3.23/MB/HM.01.03/2023 Inovasi Camilan Tinggi Kalsium Antarkan Mahasiswa UNAIR Raih Dua Penghargaan Mahasiswa Gizi UNAIR Berhasil Raih Dua Penghargaan dalam