1
Pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tertuang salah satu tujuan pembangunan Republik Indonesia yaitu tercapainya masyarakat yang adil dan makmur. Makmur tidak hanya untuk golongan tertentu saja, tetapi kemakmuran harus dirasakan secara merata oleh seluruh bangsa Indonesia. Kemakmuran tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi harus dicapai dengan berbagai upaya.
Pembangunan ekonomi merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam keberlangsungan hidup rakyat Indonesia untuk mencapai kemakmuran.
Pembangunan ekonomi dapat diwujudkan dengan cara meningkatkan aktivitas ekonomi, apalagi dalam menghadapi era pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) sekarang ini sehingga semakin kompleks kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan negara maupun swasta
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) turut aktif dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara menyebutkan bahwa salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat. Sesuai Pasal 88 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara mengatur bahwa BUMN dapat menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan pembinaan usaha kecil atau koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN. Ketentuan mengenai pembinaan usaha kecil atau koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN, telah diatur dalam Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-07/MBU/05/2015 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan.
Menurut Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER- 02/MBU/7/2017 Pasal 1 disebutkan bahwa Program Kemitraan BUMN adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri, sedangkan Program Bina Lingkungan adalah program pemberdayaan
kondisi sosial masyarakat oleh BUMN. Sumber dana Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan didapat dari penyisihan laba bersih setelah pajak yang ditetapkan dalam RUPS/Menteri pengesahan Laporan Tahunan BUMN Pembina maksimum sebesar 4% dari laba setelah pajak tahun buku sebelumnya; Jasa administrasi pinjaman/marjin/bagi hasil dari Program Kemitraan; Hasil bunga deposito dan/atau jasa giro dari dana Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan yang ditempatkan; dan sumber lain yang sah. Dana Program Kemitraan disalurkan dalam bentuk pinjaman untuk membiayai modal kerja dan/atau pembelian asset tetap dalam rangka meningkatkan produksi dan penjualan;
pinjaman tambahan untuk membiayai kebutuhan yang bersifat jangka pendek dalam rangka memenuhi pesanan dari rekanan usaha Mitra Binaan. (Pasal 9 Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-02/MBU/7/2017).
Pinjaman atau kredit yang diberikan BUMN kepada usaha kecil tidak lepas dari risiko kredit, yaitu kredit bermasalah atau kredit macet. Kredit macet atau biasa disebut Non Performing Loan adalah kredit yang di dalamnya terdapat hambatan yang disebabkan oleh 2 unsur yakni dari pihak kreditur dalam menganalisis maupun dari pihak debitur yang dengan sengaja atau tidak sengaja dalam kewajibannya tidak melakukan pembayaran (Kasmir, 2014:155). Faktor-faktor penyebab terjadinya kredit bermasalah meliputi lembaga keuangan itu sendiri, dimana dalam melakukan analisisnya, pihak analisis kurang teliti sehingga apa yang terjadi tidak terprediksi sebelumnya. Oleh karena itu, pihak manajemen harus dapat menganalisis kredit dengan baik untuk dapat menentukan kebijakan pemberian kredit (Kasmir, 2014:148).
Menentukan kebijakan dalam pemberian kredit harus melalui analisa kredit yang baik dan dalam pengelolaan suatu pemberian kredit di suatu perusahaan dibutuhkan seperti Manajemen Risiko yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi risiko dan cara penanganannya, Pengendalian Internal yang harus dikelola dengan baik, dan Sistem Informasi Akuntansi yang mendukung segala kelancaran operasional perusahaan sehari-hari.
Sistem Informasi Akuntansi merupakan sebuah sistem yang mengumpulkan, mencatat, menyimpan, dan juga memproses data menjadi
informasi yang berguna dalam membantu proses pengambilan keputusan (Romney dan Steinbart, 2015:10). Terdapat tiga fungsi Sistem Informasi Akuntansi yaitu mendukung aktifitas sehari-hari, mendukung proses pengambilan keputusan, dan membantu pengelolaan perusahaan dalam memenuhi tanggung jawabnya kepada pihak eksternal (Susanto, 2013:8). Berdasarkan pengertian tersebut Sistem Informasi Akuntansi dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan yang salah satunya adalah keputusan dalam menentukan pemberian kredit.
Salah satu contoh kasus yang terjadi pada program kemitraan pemberian kreedit berkaitan dengan Non Performing Loan (NPL) yang tinggi adalah dilansir dari TribunSolo.com pada tanggal 7 Februari 2019, ditulis oleh Garudea Prabawati disebutkan menurut Kementerian BUMN bahwa dana program kemitraan pengembangan UMKM 2019 mencapai Rp 3,2 Triliun dimana jumlah tersebut lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang sejumlah Rp 2,5 Triliun saja.
Sementara disinggung mengenai kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) rupanya masih cukup tinggi yaitu sekitar 10-20 persen.
Kemudian dilansir dari PojokPitu.com pada tanggal 1 Juni 2017, ditulis oleh Atiqoh Hasan, PT Telekomunikasi Indonesia atau PT Telkom memberikan dana bergulir bagi UMKM sebesar Rp 60 milyar. Dana pinjaman tersebut hanya diberikan kepada pelaku UMKM dengan eksistensi bisnis minimal 1 tahun. Hal ini untuk mengurangi angka kredit macet perusahaan. Karena saat ini kredit macet yang ada mencapai lebih dari 5 persen.
Berdasarkan kasus yang terjadi di PT Telkom tersebut, perusahaan telah berupaya untuk mengurangi angka kredit macet perusahaan, tetapi kredit macet masih mencapai lebih dari 5 persen. Hal tersebut dipengaruhi dari pengelolaan perusahaan yang belum berjalan efektif, dan termasuk di dalamnya Sistem Informasi Akuntansi perusahaan yang perlu ditinjau kembali.
Sistem Informasi Akuntansi adalah sebuah sistem yang memproses data dan transaksi guna menghasilkan informasi yang bermanfaat untuk merencanakan, mengendalikan, dan mengoperasikan bisnis (Krismiaji, 2015:4). Fungsi penting yang dibentuk Sistem Informasi Akuntansi pada sebuah organisasi, yaitu mengumpulkan dan menyimpan data tentang aktivitas dan transaksi, memproses
data menjadi informasi yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan, dan melakukan kontrol secara tepat terhadap asset organisasi. Suatu sistem informasi akuntansi dalam memenuhi fungsinya harus mempunyai tujuan- tujuan yang dapat memberikan pedoman kepada manajemen dalam menunjang perencanaan dan pengendalian (A. Salim, 2015:1035).
Pelaksanaan sistem informasi akuntansi yang berkualitas dapat membantu dalam meningkatkan proses keputusan pemberian kredit oleh seorang manajer dan juga membantu peningkatan pengendalian internal dan kualitas laporan keuangan.
(Zremag, 2016:622). Sistem informasi akuntansi yang berkualitas adalah yang dapat memberikan informasi yang relevan, tepat waktu, akurat, dan lengkap (Susanto, 2013:38) kepada pihak yang mengambil keputusan pemberian kredit dan diharapkan dapat memperkecil risiko adanya kredit macet. Kualitas sistem informasi yang dihasilkan mempengaruhi kemampuan manajemen untuk membuat sesuai keputusan dalam mengelola dan mengendalikan kegiatan entitas (COSO,1994). Dengan adanya peranan sistem informasi akuntansi yang memadai dalam proses pemberian kredit diharapkan dapat menjamin bahwa dalam pelaksanaan pemberian kredit dapat terkendali dan mampu mencegah pemberian kredit dengan cara yang tidak sehat (Rimbawa, 2005:1-2).
Salah satu penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Sriana, Ratna (2006) yang meneliti mengenai Peran Sistem Informasi Akuntansi dalam Menunjang Efektivitas Pemberian Kredit pada PD. BPR Kapetakan Cirebon. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sistem informasi akuntansi berperan dalam menunjang efektivitas pemberian kredit, dan sistem informasi akuntansi mempunyai hubungan yang kuat dalam menunjang efektivitas pemberian kredit. Selain itu penelitian lainnya dilakukan oleh Rizkya, Agita (2016) yang meneliti mengenai peranan sistem informasi akuntansi dalam menunjang efektivitas pemberian kredit pada Bank Jabar Banten menunjukkan bahwa hasil penelitiannya adalah sistem informasi akuntansi sudah memadai sehingga pemberian kredit berjalan efektif.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dipaparkan, penulis tertarik untuk melakukan penelitian di BUMN yang memiliki Program Kemitraan
yaitu di Telkom Witel Bandung, karena diduga sistem informasi akuntansi memiliki pengaruh penting terhadap kebijakan pemberian kredit, sehingga dapat meminimalisir terjadinya kredit yang macet. Oleh sebab itu judul penelitian ini adalah: “Pengaruh Sistem Informasi Akuntansi terhadap Kebijakan Pemberian Kredit (Studi Kasus pada Program Kemitraan Witel Bandung PT Telkom Indonesia)”.
1.2 Identifikasi Masalah
1. Angka Non Performing Loans (NPL) pada Program Kemitraan Witel Bandung di atas 5%, dimana menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, menetapkan bahwa rasio kredit bermasalah (NPL) adalah sebesar 5%.
2. Kebijakan yang kurang tepat dan belum tepat sasaran dalam memutuskan calon mitra yang layak untuk menjadi mitra binaan yang mendapat pinjaman kredit, sehingga terjadinya kredit macet.
3. Penerapan Sistem Informasi Akuntansi di Witel Bandung yang perlu ditinjau kembali karena sebagai salah satu dukungan dalam memutuskan sebuah kebijakan pemberian kredit nampaknya masih belum efektif dalam segi penggunaan dan SDM nya.
1.3 Pembatasan Masalah
Batasan-batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini dilakukan hanya di bagian Community Development Center Witel Bandung yang khusus untuk menangani program kemitraan pemberian kredit untuk UMKM.
2. Penelitian ini hanya membahas jenis penelitian kualitatif 3. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear sederhana 4. Software olah data yang digunakan adalah SPSS 24.0
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan diatas, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan sistem informasi akuntansi pada Program Kemitraan Witel Bandung.
2. Bagaimana kebijakan pemberian kredit pada Program Kemitraan Witel Bandung.
3. Apakah sistem informasi akuntansi berpengaruh terhadap kebijakan pemberian kredit pada Program Kemitraan Witel Bandung.