Perilaku Keluarga Petani Dalam Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berdasarkan Karakteristik keluarga di Kelurahan Baru Ladang Bambu Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2015

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

(2)

Lebih dari 90 % masalah kesehatan manusia terkait dengan kualitas makanan yang dikonsumsi. Berbagai kajian dibidang gizi dan kesehatan menunjukkan bahwa untuk dapat hidup sehat dan produktif, manusia memerlukan sekitar 45 jenis zat gizi yang harus diperoleh dari makanan yang dikonsumsi dan tidak ada satu jenis pangan pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan gizi manusia. Untuk memenuhi kebutuhan gizi manusia tersebut, setiap orang perlu mengkonsumsi pangan yang beragam. Dengan mengkonsumsi makanan yang beranekaragam setiap hari, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh keunggulan susunan zat gizi jenis makanan lain, sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang. Sebaliknya mengkonsumsi hanya satu jenis makanan dalam jangka waktu relatif lama, dapat menderita berbagai penyakit kekurangan zat gizi atau gangguan kesehatan (Bangun, 2013).

Status gizi merupakan muara akhir dari semua sub sistem dalam sistem ketahanan pangan, yang berarti merupakan salah satu indikator yang mencerminkan baik buruknya ketahanan pangan. Pada tahun 2003, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia sangat rendah, yaitu peringkat 111 dari 174 negara. Rendahnya IPM ini sangat dipengaruhi oleh rendahnya status gizi dan kesehatan penduduk. Hal ini terlihat dari tingginya angka kematian ibu dan balita. Gizi kurang berdampak terhadap kesakitan dan kematian, pertumbuhan, perkembangan intelektual dan produktifitas (Badan Ketahanan Pangan, 2012).

(3)

pangan. Tak dapat disangkal bahwa upaya penganekaragaman konsumsi pangan telah dilakukan namun perkembangannya sangat lambat kata lain sangat jauh dari harapan (Ariani, 2005).

Peluang yang ada dalam pengembangan penganekaragaman pangan diantaranya yaitu masih terdapat lahan yang sesuai untuk budidaya sumber bahan pangan, dengan total lahan yang sesuai sebesar 100,7 juta Ha. Selain masih adanya sumber daya lahan yang sesuai, Indonesia juga merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang besar (nomor 2 di dunia). Dimana terdapat 800 spesies tumbuhan pangan dan 1000 spesies tumbuhan obat-obatan namun semuanya itu belum dimanfaatkan secara maksimal. Indonesia memiliki berbagai jenis tanaman yaitu 77 sumber karbohidrat, 75 sumber lemak, 26 jenis kacang-kacangan, 89 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 40 jenis bahan minuman, 110 jenis rempah-rempah dan bumbu-bumbuan. Keragaman sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia merupakan potensi masyarakat menuju pangan yang beragam, bergizi, berimbang serta aman (Badan Litbang, 2011).

(4)

sebelumnya pada Pelita VI yang telah pula mengembangkan Program Diversifikasi Pangan dan Gizi (Kaleka, 2013).

Penganekaragaman konsumsi pangan merupakan proses pemilihan pangan yang dikonsumsi dengan tidak tergantung kepada satu jenis pangan, tetapi terhadap bermacam-macam bahan pangan. Penganekaragaman konsumsi pangan merupakan upaya untuk memantapkan atau membudayakan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman dalam jumlah serta komposisi yang cukup guna memenuhi kebutuhan gizi untuk mendukung hidup sehat, aktif dan produktif. Indikator untuk mengukur tingkat keanekaragaman dan keseimbangan konsumsi pangan masyarakat adalah dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) sebesar 95 dan diharapkan dapat dicapai pada tahun 2015 dengan komoditi beras perkapita di Indonesia sebesar 139,15 kg/ tahun (Nugrayasa, 2013).

(5)

Saat ini Badan Ketahanan Pangan Sumatera Utara sedang menggalakkan sosialisasi penganekaragaman konsumsi pangan dengan mencanangkan “one day no rice”. Hal ini dilakukan guna mendekatkan masyarakat dengan pola makan

yang lebih beragam, bergizi, berimbang dan aman. Serta lebih mendekatkan masyarakat dengan pangan tradisional dan tidak bergantung pada pangan asing (Badan Litbang, 2011).

Sementara itu dengan menggunakan kesepakatan angka dari hasil Susenas, tingkat konsumsi beras di dalam rumah tangga (di luar untuk industri pangan) pada tahun 2008 sebesar 107,00 kg/tahun dan tahun 2011 sebesar 104,85 kg/tahun. Melalui kegiatan penganekaragaman pangan, dampak langsung yang diharapkan adalah menurunnya konsumsi beras per kapita per tahun pada tingkat konsumsi langsung di dalam rumah tangga. Sehingga penganekaragaman konsumsi pangan merupakan fondasi dari keberlanjutan ketahanan pangan dan memiliki dimensi pembangunan yang sangat luas, baik dari aspek sosial, ekonomi, politik maupun kelestarian lingkungan (Badan Ketahanan Pangan, 2014).

(6)

Terlepas dari akurasi atau kategori serta kriteria yang digunakan, sejumlah data menunjukkan bahwa sekitar 60% penduduk Indonesia adalah petani. Penghasilan para buruh yang bekerja di ladang milik orang sangat rendah, berbeda hal nya dengan pemilik ladang, mereka mempunyai ekonomi yang cukup mapan. Hal ini berpengaruh terhadap pendapatan, secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi pola pemenuhan gizi dalam keluarga yang akan berdampak pada anggota keluarga (Khaeron, 2012).

Walikota Medan berharap kepada Badan Ketahanan Pangan Kota Medan dan menghimbau kepada masyarakat agar lebih inovatif dan kreatif untuk melahirkan terobosan dan gagasan baru guna menganekaragamkan konsumsi pangan masyarakat. Jika di Kota Medan satu kali dalam satu minggu tidak mengkonsumsi beras, maka beras yang dapat di hemat adalah sebesar 20,16kg/ kapita/ tahun atau dengan jumlah penduduk sebesar 2.121.053 jiwa, maka konsumsi beras di Kota Medan dapat di hemat sebesar 42.760 ton/ tahun. Dengan program ini diharapkan target tersebut bisa tercapai sebesar 95 di tahun 2015 (Badan Ketahanan Pangan, 2012).

(7)

terus dilaksanakan guna menciptakan sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan berdaya saing.

Hasil penelitian Rosliana (1999), menunjukkan bahwa 44,4% anak balita yang berasal dari keluarga miskin di Kelurahan Baru Ladang Bambu tergolong status gizi kurang dan buruk. Dilihat dari konsumsi zat gizi, ternyata anak balita mempunyai tingkat asupan gizi yang rendah sebesar 88,8%.

Dari survei awal yang dilakukan di Kelurahan Baru Ladang Bambu Kecamatan Medan Tuntungan merupakan daerah mandiri pangan, mayoritas bekerja sebagai petani (padi, jagung dan ubi) dan kelurahan ini juga tergabung dalam Program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) yang dengan karakteristik wilayah pertanian dan wilayah tertinggal. Dari hasil evaluasi pelaksanaan program P2KP di Kota Medan bahwa skor PPH Kelurahan Baru Ladang Bambu hanya mencapai 81%. Skor PPH tersebut belum mencapai target yang ditetapkan pemerintah yaitu 95% pada tahun 2015 dan beberapa konsumsi bahan pangan dinilai masih belum memenuhi komposisi ideal yang dianjurkan. Berdasarkan data puskesmas menunjukkan bahwa 2 dari 10 anak balita yang berasal dari keluarga miskin di Kelurahan Baru Ladang Bambu tergolong status gizi kurang.

(8)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka perumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana perilaku keluarga petani dalam penganekaragaman konsumsi pangan berdasarkan karakteristik keluarga di Kelurahan Baru Ladang Bambu Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2015.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui perilaku keluarga petani dalam penganekaragaman konsumsi pangan berdasarkan karakteristik keluarga di Kelurahan Baru Ladang Bambu Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui karakteristik keluarga petani berdasarkan kepemilikan lahan, pendidikan, pendapatan dan jumlah anggota keluarga.

2. Untuk mengetahui tingkat penganekaragaman konsumsi pangan keluarga petani.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Untuk memberikan informasi kepada petani tentang pentingnya keragaman konsumsi pangan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...