Pertimbangan Hukum Dalam Putusan Rehabilitasi Terhadap Pelaku Tindak Pidana Narkotika Sesuai Dengan SEMA No. 4 Tahun 2010 (Studi Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Pinang No. 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg Dan Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Pinang No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg)
Jhon Leonardo Hutagalung1, Madiasa Ablisar2, Mahmud Mulyadi3, M. Ekaputra4
1,2,3,4Program Studi Magister Ilmu Hukum, Universitas Sumatera Utara E-mail:[email protected] (CA)
Abstrak
Pengadilan Negeri Tanjung Pinang Nomor 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg mengabaikan unsur penyalahgunaan narkotika khususnya jumlah minimal yang tercantum dalam Pasal 127 Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan SEMA Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penetapan Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial dengan pidana penjara. Namun hal ini berbanding terbalik dengan putusan pengadilan Tanjungpinang lainnya yaitu putusan No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg yang menjatuhkan putusan rehabilitasi kepada terpidana.
Kata Kunci: Narkotika, Penyalahgunaan dan Rehabilitasi.
Abstract
Tanjung Pinang District Court No. 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg ignores the elements of narcotics abuse specifically the minimum amount listed in Article 127 of Law No. 35 of 2009 concerning Narcotics and SEMA No. 4 of 2010 concerning the Determination of Abuse and Narcotics Addicts into the Institute of Medical Rehabilitation and Social Rehabilitation with imprisonment. However, this is inversely proportional to other Tanjungpinang court decisions, namely decision No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg who handed down the rehabilitation decision to the convicted person.
Keywords: Narcotics, Abuse and Rehabilitation.
Cara Sitasi:
Hutagalung, J.L. (2022), “Pertimbangan Hukum Dalam Putusan Rehabilitasi Terhadap Pelaku Tindak Pidana Narkotika Sesuai Dengan SEMA No. 4 Tahun 2010 (Studi Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Pinang No. 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg Dan Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Pinang No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg)”, IURIS STUDIA: Jurnal Kajian Hukum Vol.
3, No. 2, Juni, Pages: 193-202.
A. Pendahuluan
Keberadaan SEMA maupun Pasal 127 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika di atas menjadi petunjuk jelas terkait sikap yang harus diambil terhadap penyalahguna narkotika. Artinya, seorang pecandu atau penyalahguna narkotika kecenderungannya ialah dilakukan rehabilitasi terhadap dirinya. Rehabilitasi yang dimaksud didalam SEMA maupun Pasal 127 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika merupakan hasil dari putusan majelis hakim. Artinya, majelis hakim yang memimpin persidangan harus memberikan pertimbangan yang cukup sesuai dengan fakta persidangan dan alat bukti sehingga dapat diberikan atau dijatuhi putusan rehabilitasi. Merujuk hal tersebut jika dilihat dalam putusan ini maka sudah seharusnya majelis hakim seharusnya menjatuhkan putusan rehabilitasi terhadap terdakwa akan tetapi terdakwa tetap dijatuhi pidana penjara dimana dapat dilihat dalam putusan Pengadilan Negeri Tanjung Pinang No. 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg.
Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Pinang No. 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 1 (satu) tahun penjara karena terbukti secara sah melakukan perbuatan menyalahgunakan narkotika golongan I bagi dirinya sendiri sesuai dengan Pasal 127 ayat (1) Undang- Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Hal tersebut berbanding terbalik denga n Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Pinang No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg yang mana dalam amar putusannya memberikan rehabilitasi kepada terpidana. Hal tersebut didasarkan atas fakta hukum dan keterangan saksi yang diajukan hadapan pengadilan.
Merujuk kedua putusan di atas dapat dikatakan bahwa putusan pengadilan negeri Tanjung Pinang No. 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg mengabaikan unsur-unsur penyalahgunaan narkotika secara khusus
jumlah minimal yang tercantum didalam Pasal 127 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dan SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial dengan hukuman penjara. Namun, hal tersebut berbanding terbalik dengan putusan pengadilan Tanjungpinang lainnya, yakni putusan No.
233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg yang menjatuhkan putusan rehabilitasi kepada terpidana..
Penelitian hukum normatif juga mengacu kepada aturan-aturan hukum, Data penelitian berupa data dari bahan hukum yang digunakan melalui penelusuran bahan hukum atau studi pustaka terhadap bahan hukum primer, sekunder dan tersier.1 Analisis bahan hukum dilakukan menggunakan metode analisis kualitatif yang digunakan untuk menjelaskan peristiwa hukum, bahan hukum atau produk hukum secara rinci untuk memudahkan hukum penafsiran.2 Analisis bahan hukum adalah dilakukan dengan menggunakan metode analisis isi (centent analysis method) yang dilakukan oleh menguraikan materi peristiwa hukum atau produk hukum secara rinci untuk memudahkan penafsiran dalam diskusi.3 Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan masalah, yaitu dengan pendekatan hasil dari kajian empiris teoritis dengan melihat berbagai pendapat para ahli, penulis dan kajian hukum dan peraturan yang berkaitan dengan masalah berdasarkan prinsip hukum dan merumuskan definisi hukum.4
Prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah dalam bentuk dokumentasi, yaitu pedoman yang digunakan dalam bentuk catatan atau kutipan, mencari literatur hukum, buku-buku dan lain-lain yang berkaitan dengan identifikasi masalah dalam penelitian ini baik offline maupun online.5 Dalam penelitian kualitatif, proses perolehan data sesuai dengan tujuan penelitian atau masalah, dipelajari secara mendalam dan dengan pendekatan holistik.6 Permasalahan dalam penelitian ini seputar Bagaimanakah landasan yuridis penjatuhan putusan rehabilitasi bagi penyalahguna atau pecandu narkotika? Bagaimanakah pertimbangan hukum dalam putusan rehabilitasi pada putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No. 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg dan Putusan Pengadilan Tanjungpinang No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg? Apakah penjatuhan putusan rehabilitasi bagi penyalahguna atau pecandu narkotika telah sesuai dengan kepastian, kemanfaatan dan keadilan hukum?
B. Pembahasan
1. Landasan Yuridis Penjatuhan Putusan Rehabilitasi Bagi Penyalahguna Atau Pecandu Narkotika
Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika mengamanatkan seorang pecandu dapat direhabilitasi (Pasal 103 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika) atau menjalani hukuman sesuai dengan Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, yakni:
1. Penyalahguna narkotika golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun;
2. Penyalahguna narkotika golongan II bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun; dan
3. Penyalahguna narkotika golongan III bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.
Selanjutnya, dengan keluarnya aturan rehabilitasi terhadap narkotika yang tercantum pada Undang- Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dibentuk juga aturan pelaksana untuk rehabilitasi narkotika, yaitu SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial dan Peraturan Bersama Ketua
1 Ida Hanifah & Ismail Koto, “Problema Hukum Seputar Tunjangan Hari Raya Di Masa Pandemi COVID-19”, Jurnal Yuridis 8, No. 1, (2021): p. 23-42.
2 Zainuddin, Rahmat Ramadhani, “The Legal Force Of Electronic Signaturesin Online Mortgage Registration”, Jurnal Penelitian Hukum De Jure 21, No. 2, (2021): p. 244
3 Rahmat Ramadhani, “:Legal Consequences of Transfer of Home Ownership Loans without Creditors' Permission”, IJRS:International Journal Reglement & Society 1, No. 2, (2020): 33.
4 Rahmat Ramadhani, “Legal Protection for Land Rights Holders Who Are Victims of the Land Mafia”, IJRS:International Journal Reglement & Society 2, No. 2, (2021): 89.
5 Mhd Teguh Syuhada Lubis & Ismail Koto, “Model Pembelajaran Hukum Acara Pidana Berbasis Bedah Perkara dalam Mendukung Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)”. JEHSS: Journal of Education, Humaniora and Social Sciences 4, No. 3, (2022): p.1432-1439.
6 Rahimah & Ismail Koto, “Implications of Parenting Patterns in the Development of Early Childhood Social Attitudes”. IJRS:
International Journal Reglement & Society 3, No. 2, (2022): p.129-133.
Mahkamah Agung Republik indonesia, Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Menteri Sosial Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia Nomor: 01/PB/MA/III/2014, Nomor: 03 Tahun 2014, Nomor: 11/Tahun 2014, Nomor: 03 Tahun 2014, Nomor: PER-005/A/JA/03/2014, Nomor: 1 Tahun 2014, Nomor:
PERBER/01/III/2014/BNN Tentang Penanganan Pecandu Narkotika Dan Korban Penyalahgunaan Narkotika Ke dalam Lembaga Rehabilitasi.
Lahirnya aturan pelaksana narkotika secara khusus mengenai rehabilitasi disebabkan jumlah pecandu atau penyalahguna narkotika yang begitu mendominasi di Indonesia. Seharusnya jika dipahami tanpa perlu adanya aturan pelaksana yang bersifat SEMA atau peraturan bersama antara beberapa instansi terkait rehabilitasi harus bisa dimaksimalkan dengan merubah kata ”dapat” menjadi ”wajib”
pada 103 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dan keberadaan Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika cenderung diberikan sebagai bentuk pengulangan dari pihak pecandu narkotika dengan tetap menambahkan rehabilitasi didalamnya. Aturan pelaksanan rehabilitasi di atas kelahirannya (selain disebabkan beberapa faktor di atas) dianggap sebagai pengedepanan kesehatan masyarakat dan karena upaya perawatan atau rehabilitasi belum optimal disebabkan oleh belum terdapat keterpaduan antara penegak hukum.7
Keberadaan pengaturan rehabilitasi narkotika walaupun belum diisyaratkan pengaturan secara tegas dalam pengaturannya tidak berarti menunjukkan korban pecandu dan penyalahguna narkotika tidak mendapat rehabilitasi. Kecenderungan yang terjadi seharusnya ialah wajib, bahkan tidak perlu sampai Indonesia sampai darurat narkotika atau alasan seperti yang tertera sebagai penyebab lahirnya aturan pelaksana rehabilitasi.
Pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika sudah layaknya atau wajib dilakukan rehabilitasi kepadanya. Hal itu disebabkan karena kedua kategori pelanggar Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika tergolong sebagai korban. Maksud korban disini ialah baik orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada narkotika baik secara fisik maupun psikis dan seseorang yang tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/atau diancam untuk menggunakan narkotika. Rehabilitasi menjadi wajib kepada pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika karena sebagai korban narkotika maka pada tahapan tersebut saja stigma negatif telah melekat pada dirinya kemudian apabila dijatuhkan hukuman penjara baginya juga akan menambah poin stigma negatif, yakni sebagai penjahat. Rehabilitasi dapat menghindarkan penerapan hukum pidana kepada seorang pecandu atau korban penyalahguna narkotika dan akan ada kemungkinan untuk menghindarkan seseorang menjadi jahat kembali.8 Konsep rehabilitasi terhadap pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika akan memberikan/melihat seseorang itu tidak hanya sekedar sebagai pelaku akan tetapi juga sebagai korban. Dengan demikian, pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika dapat dikualifikasi sebagai kejahatan yang tidak menyebabkan penderitaan pada orang lain akan tetapi pada diri sendiri (crime whithout victim) sehingga kondisi tersebut semakin tepat kiranya menjadikan pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika sebagai korban dan harus direhabilitasi. Tahapan akhir, rehabilitasi harus dijatuhkan dengan putusan oleh hakim agar menjamin kepastian sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika secara nyata sering berbanding terbalik dimana hakim menjatuhkan hukuman penjara kepada pecandu dan korban penyalahguna narkotika.
Kondisi di atas dapat dihadapkan dengan sistem hukum yang diajarkan oleh Lawrence M. Friedman dimana sistem hukum dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu: struktur hukum, substansi hukum dan budaya hukum. Struktur hukum adalah keseluruhan institusi hukum beserta aparat-aparatnya, jadi jika digolongkan misalnya pengadilan dengan hakim, kepolisian dengan polisi dan lain sebagainya. Dalam konteks rehabilitasi pelaksanaannya menjadi sumir atau semu karena konteks pelaksanaanya menjadi sulit dan terdapat kata ”dapat” pada pasal 103 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.9 Hal tersebut dalam konteks kewenangan hakim dalam menjatuhkan putusan. Keberadaan Pasal 103 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sebagaimana telah diuraikan
7 Supriyadi Widodo Eddyono, dkk, Meninjau Rehabilitasi Narkotika Dalam Praktik Peradilan, Jakarta: Institute for Criminal Justice Reform & Rumah Cemara, (2016), p. 29-30
8 Albert Wirya dkk, Di Ujung Palu Hakim: Dokumentasi Vonis Rehabilitasi Di Jabodetabek Tahun 2014, Jakarta: Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat, (2016), p. 32
9 Ediwarman, Paradoks Penegakan Hukum Pidana Dalam Perspektif Kriminologi D Indonesia, Medan: Universitas Sumatera Utara, (2012), p. 15
sebelumnya sangat berikaitan erat dengan Pasal 127 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, berbunyi:
1. Setiap Penyalah Guna:
a. Narkotika Golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun;
b. Narkotika Golongan II bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun; dan
c. Narkotika Golongan III bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.
2. Dalam memutus perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), hakim wajib memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54, Pasal 55, dan Pasal 103.
3. Dalam hal Penyalah Guna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibuktikan atau terbukti sebagai korban penyalahgunaan Narkotika, Penyalah Guna tersebut wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
Artinya, ketika hakim ingin memutus rehabilitasi seorang korban penyalahguna narkotika saat seseorang terbukti melanggar Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika maka harus dilihat terlebih dahulu pecandu narkotika baik yang cukup umur atau yang sudah cukup umur melaporkan ke pusat kesehatan sehingga layak dikatakan untuk dijatuhi putusan rehabilitasi (Pasal 55 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika). Selanjutnya, jika Pasal 55 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika tidak terpenuhi maka harus dilihat seseorang termasuk pecandu atau korban penyalahguna narkotika (Pasal 54 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika) walaupun tidak ada parameter yang jelas penilaian terhadap pecandu atau korban penyalahguna. Dengan demikian, jika hakim berkeyakinan untuk menjatuhkan putusan rehabilitas mengacu pada Pasal 103 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika ditambah 2 (dua) alat bukti maka selain mengacu kepada pasal 55 dan 54 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika maka yang dapat dijadikan acuan untuk mendukung perimbangan ialah SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial.10
Selanjutnya, jika secara seksama masing-masing pihak (penegak hukum) mematuhi secara patuh SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial dan Peraturan Bersama Ketua Mahkamah Agung Republik indonesia, Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Menteri Sosial Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia Nomor: 01/PB/MA/III/2014, Nomor: 03 Tahun 2014, Nomor: 11/Tahun 2014, Nomor: 03 Tahun 2014, Nomor: PER-005/A/JA/03/2014, Nomor: 1 Tahun 2014, Nomor: PERBER/01/III/2014/BNN Tentang Penanganan Pecandu Narkotika Dan Korban Penyalahgunaan Narkotika Ke dalam Lembaga Rehabilitasi.
Proses rehabilitasi akan cepat dilakukan sejak penyidikan dan penuntutan sehingga pada saat putusan dengan melewati proses demikian penjatuhan putusan rehabilitasi untuk pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika. Seharusnya, agar proses rehabilitasi dapat berjalan maksimal (penegak hukum secara tegas mau melaksanakannya) harus tercantum dalam aturan tersebut bunyi atau klausul pasal yang tegas baik teknis dalam bentuk umum dan sanksi jika pihak terkait tidak melaksanakannya.
Substansi hukum adalah keseluruhan aturan hukum (termasuk asas hukum dan norma hukum), baik yang tertulis maupun tidak tertulis termasuk putusan pengadilan. Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sebagai aturan pokok yang mengatur tentang rehabilitasi seharusnya terlebih dahulu dilakukan perbaikan karena tidak tegas pengaturan rehabilitasi. Terlebih terjadi pertentangan didalam pasal pada Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dimana Pasal 4 huruf d mengamanatkan rehabilitas dijamin pengaturannya didalam undang-undang ini namun sebaliknya yang terjadi pengaturan rehabilitasi menjadi tidak tegas boleh atau dapat terjadi dan tidak terjadi. Dengan demikian, memang layak pasal 103 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika harus dirubah sehingga lebih tegas baru aturan pelaksana dapat secara tegas dilaksanakan.
10 Supriyadi Widodo Eddyono dkk, Memperkuat Revisi Undang-Undang Narkotika Indonesia, Jakarta: Institute for Criminal Justice Reform & Rumah Cemara,( 2017), p. 91
Kultur hukum adalah sikap manusia (termasuk budaya hukum aparat penegak hukumnya) terhadap hukum dan sistem hukum. Kultur hukum dapat juga memuat unsur tuntutan atau kebutuhan.11 Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pihak-pihak yang terkait dengan pecandu atau korban penyalahguna narkotika atau keluarga menghendaki (menuntut) rehabilitasi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Mereka tidak akan memandang bahwa aturan itu sumir atau tidak yang penting ada diatur dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Oleh karena itu, semakin tegas terlihat bahwa untuk memberi kepastian pelaksana aturan oleh penegak hukum maka harus dilaksanakan perubahan bunyi atau klausul terkait rehabilitasi menjadi jelas dan tegas.
Dewasa ini hakim dalam menjatuhkan putusan rehabilitasi sangatlah mudah. Hal tersebut dikarenakan adanya Tim Asesmen Terpadu yang melakukan asesmen. Asesmen yang dilakukan terhadap penyalahguna narkotika pada dasarnya untuk mengukur keterlibatan seseorang terhadap narkotika sehingga penjatuhan hukuman tetap berada pada kekuasaan hakim. Artinya, pemeriksaan asesmen bersifat rekomendasi yang wajib dipertimbangkan hakim dalam proses persidangan sehingga putusan hakim yang menentukan apakah yang bersangkutan (dalam hal ini Pecandu Narkotika) menjalani rehabilitasi atau tidak berdasarkan pada terbukti atau tidaknya tindak pidana yang dilakukan.
Ada proses pemeriksaan di pengadilan dulu sebelum adanya putusan hakim yang menentukan seseorang direhabilitasi atau tidak. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 103 Undang-Undang No. 35 Tentang Narkotika. Demikian halnya dengan penyalah guna narkotika (termasuk yang kemudian menjadi korban penyalahgunaan narkotika), penentuan apakah ia direhabilitasi atau tidak tetap melalui putusan pengadilan. Hal ini diatur dalam Pasal 127 ayat (3) Undang-Undang No. 35 Tentang Narkotika.
Disamping itu, residivis narkotika juga dapat dikenakan asesmen. Hal itu disebabkan karena keberadaan tim asesmen untuk mengukur keterlibatan seseorang dalam narkotika sebagai yang tercantum dalam Pasal 12 ayat (2) Peraturan Kepala Badan Narkotika Nasional (Perka BNN) No. 11 Tahun 2014 Tentang Tata Cara Penanganan Tersangka Dan/Atau Terdakwa Pecandu Narkotika Dan Korban Penyalahgunaan Narkotika Kedalam Lembaga Rehabilitasi. Akan tetapi, jika merujuk kembali kepada Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika maka penjatuhan putusan rehabilitasi sangat sulit diberikan. Hal itu disebabkan beberapa faktor, sebagai berikut:
1. Ketidakjelasan pengertian dan status antara pecandu, penyalahguna, dan korban penyalahgunaan narkotika akibatnya terjadi kesulitan melakukan pengklasifikasian seseorang pelaku tindak pidana narkotika itu masuk kepada jenis penyalahgunaan narkotika yang mana sehingga rehabilitasi sulit untuk dilaksanakan.
2. Pasal 4 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika menunjukkan adanya upaya menjamin rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalahguna dan pecandu narkotika sedangkan pada Pasal 54 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dinyatakan bahwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Apabila menggunakan konstruksi Pasal 54 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika maka penyalahguna narkotika tidak masuk dalam kualifikasi seseorang yang dapat diberikan tindakan rehabilitasi medis dan sosial sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.
3. Peristilahan yang digunakan dalam Pasal 4 dan Pasal 54 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika tersebut juga berbeda dengan Pasal 103 UU Narkotika dimana pengobatan dan/atau perawatan dapat diputus atau ditetapkan oleh hakim bagi pecandu narkotika yang bersalah atau tidak bersalah melakukan tindak pidana narkotika dan istilah yang digunakan adalah pecandu narkotika.
Keberadaan SEMA No. 4 Tahun 2010 sebagai dasar untuk penguatan pengenaan rehabilitasi terhadap seseorang yang ditangkap sedang melakukan penyalahgunaan narkotika walaupun ia sedang masa rehabilitasi seringkali tidak digunakan justru yang terjadi seringkali penangkapan terhadap pengguna narkotika kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium oleh penyidik. Namun, bukan untuk kepentingan penempatan pengguna narkotika di lembaga rehabilitasi melainkan demi menjerat dan menambah kekuatan pembuktian di persidangan. Penerapan rehabilitasi kepada pecandu narkotika yang didasarkan Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dan SEMA No. 4 Tahun 2010 pada hakikatnya memenuhi tujuan pemidanaan berupa teori gabungan. Hal itu disebabkan karena untuk
11 Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Teory) Dan Teori Peradilan (JudicialPrudence) Termasuk Interpretasi Undang- Undang (Legalprudence), Jakarta: Kencana, (2009), p. 226
menciptakan ketertiban, memberikan rasa keadilan serta mengatur hubungan baik antar individu dalam masyarakat agar dapat hidup dinamis, aman, tentram, tertib dan damai dimana rehabilitasi tidak hanya berupa sanksi yang diberikan kepada pecandu akan tetapi juga pemulihan kepada kondisi semula.12
2. Pertimbangan Hukum Dalam Putusan Rehabilitasi Pada Putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No. 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg Dan Putusan Pengadilan Tanjungpinang No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg
Hakim dalam hukum acara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materil yang didasarkan atas 2 (dua) alat bukti yang sah ditambah dengan keyakinan hakim.13 Dalam pencarian kebenaran materil tersebut nantinya akan memperoleh kesimpulan mengenai hal-hal yang meringankan dan memberatkan.
Tentunya dalam hukum pidana dan hukum acara pidana sangat terikat erat dengan asas legalitas. Hakim pengadilan negeri Tanjungpinang dalam mengambil/menjatuhkan menjatuhkan putusan No.
267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg maupun putusan No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg benar tidak hanya memperhatikan Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika tetapi juga SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial. Hal itu disebabkan karena pasal tersebut tidak membuat parameter atau konstruksi yang jelas seseorang dapat dikenakan penyalahguna bagi diri sendiri didalam Pasal 127 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Akibatnya, jika majelis hakim tidak memperhatikan SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial maka yang terjadi ialah penerapan keberlakuan/penggunaan pasal keranjang sampah turut andil dalam penyimpangan Pasal 127 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sehingga membuat pecandu narkotika dan korban penyalahguna narkotika dapat dihukum penjara sesuai dengan pasal keranjang sampah yang mendampinginya.14
Kondisi di atas dengan hakim memperhatikan SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial maka hakim dalam kedua putusan tersebut memperhatikan manfaat yang diperoleh oleh terdakwa jika dijatuhi sebuah hukuman. Hal tersebut sesuai dengan premis pertama dari the utilitarian theory of punishment, yakni hukuman yang dijatuhkan itu pantas atas dasar pembenaran bahwa hukuman itu akan membawa manfaat kepada kebaikan secara umum terutama untuk mencegah orang melakukan kejahatan. Artinya, saat hakim menggunakan SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial sebagai pertimbangannya maka dapat dianggap hakim mencoba mencari hukuman yang bermanfaat bagi terdakwa.15 Namun, dikarenakan tidak terpenuhinya syarat yang diajukan maka hakim memutuskan untuk mempidana penjara sesuai dengan Pasal 127 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sebagaimana tercantum dalam putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No.
267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg.
Selanjutnya, kecenderungan yang dapat dilihat dari Putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No.
267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg maupun Putusan No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg yang mana hakim tepat menerapkan hukum dimana hakim telah dengan bijak memberikan pertimbangan hukum dan menghormati profesinya sendiri dimana hakim sangat memiliki integritas tinggi, jujur, adil dan lain sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, berbunyi: ”Hakim dan hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, jujur, adil, profesional, dan berpengalaman di bidang hukum”.
Substansi hukum jika diibaratkan benda ialah apa yang dikerjakan dan dihasilkan oleh mesin itu.16 Artinya, setiap peraturan perundang-undangan yang dihasilkan atau seluruh peraturan perundang- undangan/hukum baik tertulis maupun tidak tertulis (termasuk putusan pengadilan) yang digunakan penegak hukum untuk menegakkan hukum.17
12 Supriyadi Widodo Eddyono dkk, Op.Cit, p. 29
13 Eddy O.S. Hiariej, Teori & Hukum Pembuktian, Jakarta: Erlangga, (2012), p. 17
14 Ratna WP, Aspek Pidana Penyalahgunaan Narkotika: Rehabilitasi Versus Penjara (Menyoroti Pasal 127 UU No. 35 Tahun 2009), Yogyakarta: Legality, (2017), p. 32
15 M. Hamdan, Alasan Penghapus Pidana: Teori Dan Studi Kasus, Bandung: PT. Refika Aditama, (2014), p. 66.
16 Achmad Ali, Keterpurukan Hukum Di Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, (2002), p. 2
17 Lawrence M. Friedman, Sistem Hukum: Perspektif Ilmu Sosial, Bandung: Nusa Media, (2013), p. 16
Struktur hukum telah disebutkan bahwa hakim tepat dalam memberikan pertimbangan hukum dan menjatuhkan putusan terkait dengan penyalahguna narkotika bagi diri sendiri baik yang terdapat dalam Putusan Pengadilan Negeri Tanjungpianang No. 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg maupun Putusan No.
233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg dimana hal tersebut tidak hanya mengacu pada Pasal 127 dalam pertimbangan hukumnya akan tetapi juga mengacu pada SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial.
Kultur hukum jika diibaratkan sebagai benda maka termasuk pada kategori apa saja atau siapa saja yang memutuskan untuk menghidupkan dan mematikan mesin itu serta memutuskan bagaimana mesin itu digunakan.18 Artinya, kultur hukum termasuk pada opini-opini, kepercayaan/keyakinan, kebiasaan, cara berpikir dan cara bertindak baik dari penegak hukum maupun dari warga masyarakat tentang hukum dan berbagai fenomena yang berkaitan dengan hukum.19
Kondisi yang ditunjukkan oleh Putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No.
267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg maupun Putusan No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg yang tepat menggunakan peraturan perundang-undangan atau tidak hanya mematuhi Pasal 127 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika tetapi juga SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial telah menerapkan hukum secara harfiah dalam bentuk tertulis. Akibatnya, masyarakat tidak akan pesimistis terhadap hakim. Hakim yang merupakan penegak hukum secara mandiri memasukkan pertimbangan hukum yang sesuai dengan aturan tertulis. Masyarakat yang merupakan subjek sekaligus objek hukum akan semakin berkembang kepercayaan terhadap hukum
3. Penjatuhan Putusan Rehabilitasi Bagi Penyalahguna Atau Pecandu Narkotika Telah Sesuai Dengan Kepastian, Kemanfaatan Dan Keadilan Hukum
Putusan Pengadilan Tanjungpinang No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg yang menjatuhkan rehabilitasi kepada terdakwa. Hal tersebut didasarkan atas pertimbangan hakim yang tidak hanya mengacu pada Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dan SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial. Merujuk uraian sub bab di atas maka rehabilitasi sesuai dengan Pasal 103 ayat (2) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika merupakan hukuman sehingga pengenaan terhadap terdakwa berupa rehabilitasi tidak dapat dipandang sebagai putusan yang melanggar keberadaan pertanggungjawaban pidana.
Kondisi yang ditunjukkan oleh putusan hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang No.
233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg cukup maksimal dalam memberikan pertimbangan hukum yang bersumber dari fakta persidangan ditambah jaksa yang melakukan pembuktian secara maksimal dimana beban pembuktian berada padanya telah menyebabkan terpenuhinya hakikat hukum acara pidana, yakni mencari kebenaran materil dimana keberadaan minimal 2 (dua) alat bukti bagi hakim untuk memperoleh keyakinan atas kesalahan terdakwa tidak hanya untuk menghukum akan tetapi untuk menjamin tegaknya kebenaran, keadilan dan kepastian hukum bagi seseorang. Akibatnya, kondisi demikian jika merujuk pada masyarakat Indonesia yang telah cukup kritis maka yang lahir ialah sikap optimis terhadap hakim dan jaksa dalam penegakan hukum pidana yang berefek pada semakin penegakan hukum untuk mencapai keadian/kebenaran dan kepastian hukum dari munculnya sebuah putusan. Putusan hakim yang demikian juga telah mengakomodasi keberadaan peraturan perundang-undangan terutama Pasal 103 ayat (2) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika jo SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial. Artinya, dengan terakomodasi keseluruhan aturan hukum dalam menjatuhkan putusan kepada terdakwa maka asas kepatian hukum yang berisi hukum positif yang mengatur kepentingan-kepentingan manusia dalam masyarakat harus ditaati telah tercapai dan diusahakan secara maksimal.
Selanjutnya, Hakim yang menegakkan hukum dengan secara mandiri telah terlihat atau menunjukkan kepemahaman akan persoalan hukum yang dihadapinya sehingga memasukkan pertimbangan hukum yang sesuai dengan aturan yang ada (bersumber pada fakta persidangan) dan demikian pula jaksa yang paham akan beban pembuktian yang berada disisinya sehingga jaksa penuntut
18 Achmad Ali (II), Loc.Cit
19 Achmad Ali (I), Loc.Cit.
umum cermat melakukan pembuktian disertai fakta persidangan mengakibatkan tegaknya kebenaran materil. Oleh karena itu, dengan tegaknya kebenaran materil didalam putusan tersebut maka tegak pula keadilan yang ada dimana keberadaan keadilan merupakan pengemban nilai-nilai kemanusian menjadi ukuran bagi adil dan tidak adilnya tata hukum.
Putusan pengadilan jika dilihat dari sisi sistem pemidanaan, yakni teori treatment yang mana merupakan teori yang paling ideal untuk diterapkan karena sifatnya yang mengarahkan pidana terhadap pelaku kejahatan sebagai orang yang sakit sehingga membutuhkan tindakan perawatan (treatment) dan perbaikan (rehabilitation). Hal itu disebabkan karena secara nyata dalam putusan hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg dilakukan pembuktian secara maksimal akibatnya muncul anggapan dari terpidana bahwa putusan hakim ini merupakan tindakan perawatan (treatment) dan perbaikan (rehabilitation). Artinya, dalam konteks pertanggungjawaban pidana terpidana pada putusan hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg layak untuk dirawat dan diperbaiki dimana hal tersebut sesuai dengan hal tersebut sesuai dengan premis pertama dari the utilitarian theory of punishment, yakni hukuman yang dijatuhkan itu pantas atas dasar pembenaran bahwa hukuman itu akan membawa manfaat kepada kebaikan secara umum terutama untuk mencegah orang melakukan kejahatan. Artinya, saat hakim menggunakan SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial sebagai pertimbangannya maka dapat dianggap hakim mencoba mencari hukuman yang bermanfaat bagi terdakwa. Dengan demikian, penjatuhan hukuman yang tepat kepada terdakwa berupa rehabilitasi yang didasari dasar hukum yang tegas maka putusan tersebut memberikan kemanfaatan bagi terdakwa dimana tujuan hukm yang hidup dalam bermasyarakat dan bernegara tercapai dengan maksimal. Kemanfaatan terbesar dari rehabilitasi, sebagai berikut:
1. Tempat Pengobatan; Ketergantungan pada narkotika merupakan suatu penyakit, artinya orang yang sudah kecanduan atau korban penyalahgunan narkotika harus dipandang sedang menderita suatu penyakit, yaitu penyakit di otak dan psikis. Semua orang sakit, apapun penyakitnya wajib berobat dan wajib diobati di tempat berobat. Oleh karena itu, bagi pecandu maupun korban penyalahguna tempat yang tepat ialah rehabilitasi baik medis maupun sosial.
2. Memutus Mata Rantai Peredaran Narkotika; Seorang yang direhabilitasi akan terputus dengan peredaran narkotika. Hal itu disebabkan karena mata rantai kebutuhan narkotika akan berkurang dan kebutuhan akan narkotika juga berkurang. Dengan demikian, seorang pecandu akan berkurang tingkat kecanduaannya dan berkurang kemungkinan untuk ikut dalam peredaran gelap narkotika yang tentunya akan dapat atau gratis memperoleh narkotika karena ia bagian dari peredaran narkotika tersebut.
3. Tempat Isolasi Dari Pengaruh Lingkungan; Seseorang yang direhabilitasi akan memperoleh ketenangan sehingga pengaruh lingkungan yang tenang akan membawa seseorang menjadi lebih teratur dalam proses penyembuhannya.
4. Bentuk Pidana Yang Humanis; Rehabilitasi menjadi alternatif bentuk pidana bagi penyalahguna narkotika untuk diri sendiri sebagaimana konsep keadilan restroratif (restorative justice) yang bertujuan memulihkan keadilan karena dipahami sebagai bentuk pendekatan penyelesaian perkara menurut pidana dengan melibatkan pelaku kejahatan, korban, keluarga korban atau pelaku dan pihak lain yang terkait untuk mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pada pemulihan kembali pada keadaan semula dan bukan pembalasan.
Merujuk keseluruhan uraian di atas maka Putusan Pengadilan Tanjungpinang No.
233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg menjatuhkan putusan rehabilitasi sedangkan putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No. 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg dijatuhi pidana penjara keduanya telah memenuhi kepastian hukum. Hal tersebut disebabkan karena dasar hakim menjatuhkan putusan merupakan aturan yang berlaku baik memenuhi Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika maupun SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial. Demikian pula, dilihat dari sisi keadilan dimana perwujudan keadilan sendiri merupakan penggambaran kepastian hukum sehingga dengan terpenuhinya syarat atau pertimbangan hukum yang diberikan hakim maka kedua putusan tersebut telah mencerminkan keadilan.
Namun, dari sisi kemanfaatan hukum yang bertujuan untuk memberikan kebahagian sebesar-besarnya bagi masyarakat tentunya tidak dapat dipenuhi dimana putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No.
267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg dijatuhi hukuman penjara hanya karena syarat pernah dilakukan rehabilitasi tidak dipenuhi sedangkan dalam pertimbangan hukumnya nyata dan jelas terpidana merupakan seorang
korban penyalahguna narkotika. Oleh karena, tidak terpenuhinya syarat tersebut maka terpidana tidak dapat diberikan rehabilitasi berbeda halnya dengan terpidana Putusan Pengadilan Tanjungpinang No.
233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg yang memenuhi syarat rehabilitasi yang tercantum didalam SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial sehingga terpidana memperoleh rehabilitasi dan merasakan manfaat dari hukum.
C. Penutup
1. Kesimpulan
Landasan yuridis penjatuhan putusan rehabilitasi bagi penyalahguna atau pecandu narkotika mengacu pada Pasal 103 ayat (2) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika jo SEMA No.
4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial. Pertimbangan hukum dalam putusan rehabilitasi pada putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No. 267/Pid.Sus/2018/PN.Tpg dan Putusan Pengadilan Tanjungpinang No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg ialah mengacu pada Pasal 127 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dan SEMA No. 4 Tahun 2010. Hal itu disebabkan karena pasal tersebut tidak memuat kriteria yang jelas terkait penyalahguna narkotika bagi diri sendiri dimana pertimbangan tersebut bersesuaian dengan sistem hukum baik struktur hukum, substansi hukum maupun kultur hukum. Penjatuhan putusan rehabilitasi bagi penyalahguna atau pecandu narkotika telah sesuai dengan kepastian, kemanfaatan dan keadilan hukum, misalnya putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No.
233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg telah dilakukan pembuktian secara maksimal sehingga majelis hakim menjatuhkan berupa rehabilitasi dimana putusan hakim ini merupakan wujud tindakan perawatan (treatment) dan perbaikan (rehabilitation).
2. Saran
Hendaknya lembaga legislatif melakukan perevisian terhadap Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan merubah perintah rehabilitasi menjadi wajib dan mencantumkan kriteria penyalahguna narkotika dapat dilakukan rehabilitasi. Hendaknya hakim diseluruh Indonesia dalam menjatuhkan putusan terkait penyalahguna narkotika bagi diri sendiri tidak hanya mempertimbangkan Pasal 127 Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika tetapi juga mempertimbang SEMA No. 4 Tahun 2010 Tentang Penetapan Penyalahgunaan Dan Pencandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial sehingga hukuman yang dijatuhkan lebih bernilai keadilan.
Hendaknya hakim diseluruh Indonesia menjadikan putusan hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang No. 233/Pid.Sus/2018/PN.Tpg yang telah berkekuatan hukum tetap menjadi rule model dalam menjatuhkan putusan terhadap penyalahguna narkotika.
Daftar Pustaka
Ali, Achmad. 2009. Menguak Teori Hukum (Legal Teory) Dan Teori Peradilan (JudicialPrudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legalprudence), Jakarta: Kencana.
Eddyono, Supriyadi Widodo, dkk. 2016. Meninjau Rehabilitasi Narkotika Dalam Praktik Peradilan, Jakarta: Institute for Criminal Justice Reform & Rumah Cemara.
Ediwarman. 2012. Paradoks Penegakan Hukum Pidana Dalam Perspektif Kriminologi D Indonesia, Medan: Universitas Sumatera Utara.
Friedman, Lawrence M. 2013. Sistem Hukum: Perspektif Ilmu Sosial, Bandung: Nusa Media.
Hanifah, Ida & Ismail Koto. 2021. “Problema Hukum Seputar Tunjangan Hari Raya Di Masa Pandemi COVID-19”, Jurnal Yuridis 8, No. 1.
Hiariej, Eddy O.S. 2012. Teori & Hukum Pembuktian, Jakarta: Erlangga.
Lubis, Mhd Teguh Syuhada & Ismail Koto. 2022. “Model Pembelajaran Hukum Acara Pidana Berbasis Bedah Perkara dalam Mendukung Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)”. JEHSS:
Journal of Education, Humaniora and Social Sciences 4, No. 3.
M. Hamdan. 2014. Alasan Penghapus Pidana: Teori Dan Studi Kasus, Bandung: PT. Refika Aditama.
Rahimah & Ismail Koto. 2022. “Implications of Parenting Patterns in the Development of Early Childhood Social Attitudes”. IJRS: International Journal Reglement & Society 3, No. 2.
Ramadhani, Rahmat. 2020. “Legal Consequences of Transfer of Home Ownership Loans without Creditors' Permission”, IJRS: International Journal Reglement & Society 1, No. 2.
Ramadhani, Rahmat. 2021. “Legal Protection for Land Rights Holders Who Are Victims of the Land Mafia”, IJRS:International Journal Reglement & Society 2, No. 2.
Ratna WP. 2017. Aspek Pidana Penyalahgunaan Narkotika: Rehabilitasi Versus Penjara (Menyoroti Pasal 127 UU No. 35 Tahun 2009), Yogyakarta: Legality.
Zainuddin, Rahmat Ramadhani. 2021. “The Legal Force Of Electronic Signaturesin Online Mortgage Registration”, Jurnal Penelitian Hukum De Jure 21, No. 2.