Sumber (source)
Pesan (message)
Media (Channel)
Efek Penerima
(receiver) BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori
1. Komunikasi
Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan. Deddy Mulyana (Mulyana, 2008) dalam bukunya menuliskan bahwa komunikasi berasal dari kata Latin yaitu communis yang artinya “sama”, communico, communication, communicare yang berarti “membuat sama”, dalam bahasa Inggris yaitu communication. Dalam komunikasi suatu pesan dan pikiran dianut secara sama. Dari pemikiran yang sama sehingga mampu menyampaikan dan menerima pesan yang sama pula.
Harold Lasswel, salah satu pakar komunikasi menyebutkan bahwa ada lima unsur komunikasi atau cara yang baik dalam menggambarkan komunikasi dengan pertanyaan pertanyaan: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? (Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana). Dapat disimpulkan bahwa lima unsur yang dimaksud Lasswel ini adalah: sumber (source), pesan (message), saluran atau media (channel), penerima (receiver), dan efek (effect).
Bagan II.1: Unsur Komunikasi Lasswel a. Sumber
Sumber bisa disebut sebagai komunikator atau pengirim (sender) merupakan pihak yang memiliki inisiatif atau kebutuhan dalam berkomunikasi. Kebutuhan komunikasi beragam, seperti menjaga hubungan baik, menghibur, memberikan informasi, dan lain sebagainya. Sumber bisa jadi individu, kelompok, organisasi, maupun
negara. Dalam menyampaikan pesannya, pihak yang menjadi sumber ini harus mengubah perasaan atau pikiran yang ingin disampaikan menjadi symbol verbal atau non verbal sehingga penerima pesan akan mengerti. Proses mengubah perasaan atau pikiran menjadi symbol ini disebut penyandian (encoding).
b. Pesan
Pesan adalah apa yang ingin disampaikan sumber kepada penerima.
Pesan berupa symbol verbal atau non verbal dari perasaan atau pikiran yang berasal dari sumber. Symbol dari sebuah pesan ini berupa kata- kata/bahasa, tulisan, dan ucapan (verbal). Simbol non verbal bisa berupa tindakan atau isyarat anggota tubuh.
c. Media
Bisa disebut saluran, karena fungsi media sebagai penyalur pesan dari sumber ke penerima. Media bisa merujuk pad acara penyajian pesan atau alat menyampaikan pesan. Bahasa adalah media yang menonjol dalam komunikasi langsung walaupun dibantu dengan pancaindra dan udara yang menghantarkan gelombang suara (komunikasi tatap muka).
Dalam komunikasi massa, media yang sangat menonjol yaitu koran, televise, radio. Ada pula media lain dalam komunikasi secara langsung yaitu telepon, faksimil, dan sebagainya.
d. Penerima
Penerima atau receiver ini disebut pula sebagai komunikan atau khalayak (audience), yaitu pihak yang menerima pesan dari sumber.
Penerima pesan ini akan menerjemahkan symbol atau menafsirkan symbol verbal dan non verbal sehingga dapat ia terima dan pahami.
Proses ini disebut penyandian balik (decoding). Penerima bisa jadi individu, kelompok, organisasi, dan negara.
e. Efek
Efek merupakan apa yang terjadi setelah penerima menerima pesan dari sumber. Misalnya, penerima jadi terhibur, menambah pengetahuan, berubah pikiran atau sikap, dan sebagainya.
Kemudian menurut West and Turner yang diambil dari Buku Ajar Teori-Teori Komunikasi (Turner, 2008) mengklasifikasikan level komunikasi, sebagai berikut:
a. Komunikasi Intrapersonal, merupakan komunikasi dengan diri sendiri seperti merenung dan berkhayal. Komunikasi seperti ini dilakukan dalam mengenaldiri sendiri.
b. Komunikasi interpersonal/antarpribadi, merupakan komunikasi yang mengacu pada tatap muka. Biasanya terjadi antara individu dengan individu lain, misal guru dengan siswa di kelas saat sedang pembelajaran.
c. Komunikasi kelompok kecil, merupakan komunikasi dari kelompok kelompok kecil yang memiliki tujuan tertentu, misal persahabata atau kekeluargaan.
d. Komunikasi organisasi, merupakan komunikasi dalam sebuah organisasi yang di dalamnya memiliki hierarki.
e. Komunikasi publik, merupakan komunikasi yang bersifat persuatif.
Biasanya dari satu orang ke banyak orang yang pesannya membujuk.
f. Komunikasi massa, merupakan komunikasi yangdisampaikan ke khalayak melalui media massa seperti koran, televisi, dan sebagainya.
g. Komunikasi antarbudaya, merupakan komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda.
Komunikasi juga terdiri dari dua macam, yaitu komunikasi satu arah (komunikator tidak perlu feedback (umpan balik) dari komunikan) dan komunikasi dua arah (komunikator mendapat feedback dari komunikan).
Secara garis besar, komunikasi antara pengajar dan siswa disabilitas rungu wicara di YRTRW Surakarta menggunakan komunikasi dua arah dimana pengajar mendapat feedback dari siswa disabilitas dan sebaliknya.
Komunikasi antara pengajar dan siswa disabilitas rungu wicara terjadi secara interpersonal dimana dalam berkomunikasi mereka saling bertatap muka baik secara diadik maupun kelompok kecil.
2. Komunikasi antarpribadi
Telah disebutkan bahwa ada beberapa level komunikasi salah satunya adalah komunikasi interpersonal atau juga disebut sebagai komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi langsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka baik verbal maupun non verbal. Komunikasi antarpribadi memiliki nama lain yaitu diadik. Memiliki sifat spontan dan informal. Hubungan diadik ini berlangsung antara dua orang yang memiliki hubungan jelas, seperti guru- murid. Pemikiran bentuk hubungan diadik ini dikemukakan pula oleh Laing, Philipson, dan Lee. Mereka mengatakan bahwa hubungan diadik ini menggambarkan interaksi dan pengalaman bersama.
Efektivitas komunikasi antarpribadi memiliki ciri sebagai berikut:
a. Keterbukaan (openness), pihak yang terlibat mau menanggapi informasi dengan senang hati dalam hubungan antarpribadi.
b. Empati (emphaty), turut merasakan apa yang dirasakan orang lain.
c. Dukungan (supportiveness), mendukung komunikasi yang berlangsung efektif dengan situasi yang terbuka.
d. Rasa Positif (positiveness), pihak yang terlibat harus memiliki pikiran yang positif terhadap dirinya sendiri sehingga mampu mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi dan menciptakan komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif.
e. Kesetaraan (equality), pengakuan bahwa pihak yang terlibat saling menghargai, berguna, dan meiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan.
Mengenai level komunikasi, peneliti menggunakan komunikasi antarpribadi antara pengajar dengan anak berkebutuhan khusus di YRTRW Surakarta. Menurut Deddy Mulyana, komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka (Mulyana, 2008). Pengajar dan murid masuk dalam level komunikasi antarpribadi.
Dapat dikatakan sebagai komunikasi antarpribadi karena pihak yang berkomunikasi dalam jarak yang dekat dan juga berkomunikasi mengirim
dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara nonverbal maupun secara verbal.
Komunikasi antarpribadi dapat dimengerti melalui beberapa kekhasan dan keintiman dengan tatap muka baik secara verbal maupun non verbal. Dilansir dari Jurnal yang ditulis oleh Wijaya (2017), menurut DeVito dalam bukunya The Interpersonal Communication Book, komunikasi antarpribadi memiliki kekhasan sendiri yang tidak hanya mengandalkan verbal tetapi juga non-verbal untuk membangun keintiman komunikasi. Devito juga menuliskan bahwa komunikasi interpersonal ini terjadi antara dua orang atau lebih (sekelompok kecil) yang memiliki berbagai dampak atau efek dengan memberikan umpan balik.
Dalam beberapa riset komunikasi antarpribadi, teori dari DeVito selalu muncul, menyebutkan efektivitas komunikasi antarpribadi dari DeVito. Devito mengemukakan bahwa efektivitas komunikasi terjadi jika adanya: 1) Keterbukaan; 2) Empati; 3) Sikap Mendukung; 4) Sikap Positif; 5) Kesetaraan. Sesuai dengan siswa disabilitas rungu wicara yang memerlukan keterbukaan, empati, sikap positif, kesetaraan, dan motivasi (sikap mendukung) dari pengajar.
3. Komunikasi verbal dan non verbal a. Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal merupakan cara berkomunikasi menggunakan kata-kata baik dengan percakapan atau lisan maupun tulisan (menggunakan bahasa). Komunikasi verbal ini palling banyak digunakan atau paling sering digunakan oleh manusia. Manusia menyampaikan pikiran, perasaan, emosi, gagasan, dan maksud mereka melalui kata-kata. Media yang paling sering dipakai ialah bahasa karena mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada yang lain.
Unsur paling penting dalam komunikasi verbal adalah kata dan bahasa. Kata merupakan lambing terkecil dari bahasa. Kata-kata yang biasa kita pakai adalah abstraksi yang sudah disepakati bersama
maknanya. Bahasa merupakan lambang yang memungkinkan tiap orang dapat berbagi makna. Teori penengah (Mediating Theory) yang dikembangkan oleh Charles Osgood menyatakan bahwa manusia dalam mengembangkan kemampuan berbahasanya tidak hanya bereaksi terhadap rangsangan (stimuli) dari luar, melainkan juga terjadi oleh proses internal di dalam dirinya (Harjana, 2003).
Komunikasi verbal memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Jelas dan ringkas
b) Perbendaharaan kata yang mudah dimengerti c) Intonasi mampu mempengaruhi arti pesan
d) Kecepatan dan tempo berbicara mempengaruhi keberhasilan komunikasi.
e) Dapat memberikan humor yang mempengaruhi keberhasilan komunikasi
f) Komunikasi verbal memiliki dua jenis, yaitu berbicara-menulis dan mendengarkan-membaca. Berbicara adalah jenis komunikasi verbal-vokal sedangkan menulis merupakan jenis komunikasi verbal-nonvokal. Begitu pula dengan mendengarkan dan membaca berarti memahami makna pesan yang disampaikan.
b. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non verbal merupakan komunikasi tanpa kata kata.
Dikutip dari Ettisal: Journal of Communication (Sari & Putro, 2017), Devito mengatakan:
“komunikasi non verbal merupakan cara bagaimana pesan dikomunikasikan oleh Gerakan tubuh, gerakan mata, ekspresi wajah, sosok tubuh, penggunaan ruang, kecepatan dan volume bicara, bahkan juga keheningan.”
Dalam sehari-hari manusia banyak menggunakan komunikasi verbal, namun dalam kenyataannya komunikasi non verbal ini selalu digunakan tanpa sadar. Maka dari itu komunikasi non verbal ini bersifat tetap dan lebih jujur. Pada dasarnya, komunikasi non verbal
ini membantu komunikasi verbal supaya lebih efektif. Melalui komunikasi non verbal mampu memperkuat pesan karena komunikasi non verbal mampu mengekspresikan emosi, cinta, senang, sedih, dan perasaan lainnya secara jujur.
Deddy Mulyana dalam bukunya (Mulyana, 2008) juga menduga bahwa komunikasi verbal dan non verbal saling berhubungan walau beberapa mengatakan dapat berjalan sendiri.
Seperti yang dijelakan Mark L. Knapp juga berpendapat bahwa komunikasi non verbal dalam kenyataannya saling berkatian dengan komunikasi verbal. Mark L. Knapp berkata:
Istilah non verbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis.
Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan perilaku non verbal ditafsirkan melalui symbol symbol verbal.
Dalam pengertian ini, peristiwa dan peru]ilaku non verbal tidak sungguh sungguh bersifat non verbal.
Bahasa tanda di Amerika bagi kaum disabilitas rungu wicara gerakan tangan atau isyarat yang digunakan sebenarnya bersifat linguistic atau verbal. Memang tidak ada struktur pasti, namun komunikasi verbal dan non verbal dapat berlangsung secara spontan dan serempak.
Bentuk komunikasi non verbal berupa bahasa isyarat, ekspresi wajah, sandi, intonasi suara, warna, dan banyak macamnya.
Contohnya dapat berupa sentuhan seperti beralaman, bercuman, pukulan, dsb. Bahasa isyarat dan ekspresi wajah masuk dalam komunikasi non verbal gerakan tubuh.
4. Komunikasi Efektif
Keberhasilan dari sebuah komunikasi dapat dilihat dari persepsi yang sama mengenai pesan yang disampaikan komunikator ke komunikan. Komunikasi dikatakan berhasil jika pesan dapat disampaikan dengan baik. Efektivitas Komunikasi dijelaskan oleh
Devito (Sutapa, 2006) bergantung pada komunikasi antarpribadi komunikator dan komunikan yaitu sebagai berikut:
a) Keterbukaan, mencakup aspek keinginan untuk berinteraksi secara terbuka dan jujur dengan orang lain. Misalnya yaitu seorang pengajar memiliki sikap keterbukaan pada siswa disabilitas rungu wicara
b) Empati, yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Misalnya, seorang pengajar yang merasakan apa yang sedang dirasakan siswanya dengan menjalin komunikasi dari hati ke hati
c) Dukungan, sikap mendukung dalam interaksi antarpribadi secara terbuka. Misalnya, pengajar yang selalu mendukung atau memberikan motivasi bagi siswa disabilitas rungu wicara dalam meraih kesetaraan pendidikan.
d) Kepositifan, memiliki sikap dan pikiran positif terhadap dirinya dan orang lain. Misalnya, seorang pengajar selalu memiliki sikap positif terhadap siswanya.
e) Kesamaan/kesetaraan, mencakup sikap menghargai bahwa satu sama lain memiliki kedudukan yang sama sebagai manusia.
Misalnya, siswa disabilitas rungu wicara memiliki kesamaan atau setara dengan siswa non disabilitas.
Komunikasi efektif terjadi jika terdapat unsur-unsur tersebut.
Dengan adanya sikap terbuka, empati, dukungan, positif, kesetaraan maka komunikasi efektif dapat terjalin dengan baik. Terlebih diterapkan dalam komunikasi antarpribadi.
5. Pengajar
Pengajar merupakan seseorang yang mengajar, baik itu guru atau pelatih. Menurut Undang-Undang RI nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pengertian pembelajaran adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswira, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan
lain sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Dalam penelitian ini, pengajar disini diartikan sebagai guru.
Guru merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam bidang pendidikan. Gary Flewelling dan William Higginson menyebutkan bahwa peran guru sebagai berikut :
a. memberikan stimulasi kepada siswa dengan memberikan tugas pembelajaran untuk meningkatkan perkembangan intelektual, emosiaonal, spiritual, dan sosial
b. berinteraksi dengan siswa untuk pertumbuhan keberhasilan, mendorong keberanian, berbagi, menjelaskan, menegaskan, menilai dan merayakan perkembangan
c. menunjukan manfaat dari pokok pembelajaran
d. sebagai seseorang yang membantu, mengarahkan, membangkitkan rasa ingin tahu, pemberi informasi, dan fasilitator Pengajar diharuskan mampu mengajar sesuai dengan karakter siswanya. Seperti pengajar yang mengajar siswa disabilitas yang diharuskan memiliki kemampuan khusus dalam mengajar. Pengajar yang memiliki siswa disabilitas rungu wicara harus mampu menguasai bahasa isyarat agar dapat berinteraksi dengan siswanya. Penyandang disabilitas rungu wicara memiliki cara komunikasi yang berbeda. Oleh karena itu tenaga pengajarnya dituntut professional dalam menyampaikan materi pembelajaran terhadap siswa disabilitas rungu wicara. Pengajar yang khusus mengajar siswa disabilitas rungu wicara memiliki cara khusus dalam berkomunikasi sehingga siswa tersebut mampu memahami materi yang diberikan dalam proses pembelajaran di sekolah. Pada akhirnya siswa disabilitas tersebut mendapat pendidikan yang setara.
6. Siswa Disabilitas
Difabel atau disabilitas merupakan seseorang yang memiliki keterbatasan tubuh. Disabilitas berasal dari kata disability atau
disabilites yang menggambarkan adanya ketidakmampuan pada fisik maupun mental. Sering kali kata disabilitas digantikan dengan kata difabel yang memiliki makna lebih halus. Difabel sendiri merupakan singkatan dari Differentability, diartikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan yang berbeda.
Penyandang disabilitas mengalami tiga masa yaitu masa penolakan, masa dikasihani, dan masa penerimaan dalam masyarakat.
Tiga masa yang dialami penyandang disabilitas ini berpengaruh juga dalam pemberian akses pendidikan kepada penyandang disabilitas.
Membahas tentang pendidikan disabilitas, melekat pula bagaimana cara masyarakat memandang disabilitas.
Menurut Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabiltas seperti yang dikutip oleh Widinarsih (2019), ada ragam disabilitas:
a. penyandang disabilitas fisik, b. penyandang disabilitas intelektual, c. penyandang disabilitas mental, d. penyandang disabilitas sensorik.
Ada pula penyandang disabilitas ganda, yaitu memiliki dua disabilitas berbeda seperti disabilitas rungu-wicara.
Dengan adanya UU penyandang disabilitas, para penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dengan masyarakat pada umumnya, termasuk pendidikan dan berkomunikasi. Pendidikan melekat pada komunikasi, dimana akan terjadi komunikasi antarpribadi guru terhadap muridnya. Termasuk bagi siswa disabilitas rungu wicara. Siswa disabilitas rungu wicara yang memiliki cara khusus dalam berkomunikasi. Disabiltas rungu wicara atau biasa disebut tuna rungu-wicara merupakan seseorang dengan kondisi fisik yang ditandai ketidakmampuan dalam mendengar (rungu) dan
berbicara (wicara). Mereka menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi.
7. Disabilitas Rungu Wicara
Menurut Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabiltas seperti yang dikutip oleh Widinarsih (Penyandang Disabilitas Di Indonesia: Perkembangan Istilah dan Definisi, 2019), ada ragam disabilitas:
a. penyandang disabilitas fisik, b. penyandang disabilitas intelektual, c. penyandang disabilitas mental, d. penyandang disabilitas sensorik.
Ada pula penyandang disabilitas ganda, yaitu memiliki dua disabilitas berbeda seperti disabilitas rungu-wicara disertai disabilitas mental. Disabilitas rungu wicara masuk dalam kategori disabilitas sensorik. Menurut artikel dari Dinas Kesehatan Yogyakarta (2018), Disabilitas rungu wicara yaitu seseorang dengan kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau hilangnya fungsi pendengaran (rungu) dan hilangnya fungsi bicara (wicara) yang disebabkan dari kelahiran, kecelakaan, maupun penyakit.
Disabilitas/tuna rungu menurut Soewita dalam bukunya Ortho paedagogik, merupakan seseorang yang mengalami ketulian berat hingga total, sehingga tidak bisa menangkap tutur kata tanpa memperhatikan bibir lawan bicaranya. Seorang penyandang disabilitas rungu sejak kecil secara otomatis disertai dengan ketidakfungsian dalam bicara. Sehingga penyandang disabilitas rungu yang juga mengalami gangguan pada bicara disebut disabilitas rungu wicara.
Dalam jurnal yang ditulis oleh Ajeng Muliasari (2021) Klasifikasi berkurangnya pendengaran menurut letak anatomis meliputi:
a. conductive hearing loss, berkurangnya pendengaran dikarenakan kondisi fisik telinga
b. sensorineural hearing loss, berkurangnya pendengaran karena rusaknya syaraf organ telinga.
c. mix hearing loss, rusaknya pendengaran karena kerusakan pada fisik organ telinga dan rusaknya syaraf organ telinga.
Adapula klasifikasi disabilitas rungu wicara menurut tingkat pendengarannya, yaitu: gangguan pendengaran sangat ringan (27- 40dB), gangguan pendengaran ringan (4-55dB), gangguan pendengaran sedang (56-70dB), Gangguan pendengaran berat (71- 90dB), gangguan pendengaran ekstrem/tulis (diatas 91dB).
B. Penelitian Terdahulu
Berikut beberapa jurnal artikel penelitian mengenai Disabilitas rungu wicara:
1. Proses Komunikasi Penulis: Emmanuel Khomala Wijaya Interpersonal Bawahan
Tuna Rungu-Wicara Teori: Model Komunikasi dengan Atasan interpersonal De Vito (Supervisor) di Metode: Studi Kasus
Gunawangsa Hotel Temuan: Akibat dari komunikasi Manyar Surabaya. interpersonal hubungan Elfan (Tuna
rugu wicara) dengan Adang
(Supervisor) sangat dekat. Terkadang Adang memberikan motivasi kepada Elfan. Ada pula hambatan-hambatan dalam berkomunikasi. Peneliti
menemukan karakteristik elfan dalam berkomunikasi yaitu dengan ekspresi wajah dan bahasa isyarat.
Identitas publikasi: Jurnal E- Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra, Surabaya
2. Pengelolaan Kelas Penulis: Aprilia Rahmawati, Juhaeni, Terhadap Tuna Rungu- Siti Aisah, Ayu Kinasih, Nur
Wicara di Kelompok Shibyany A1 PGRA Mamba’ul
Hisan
Metode: Deskriptif kualitatif (studi Kasus)
Temuan: Anak disabilitas rungu wicara perlu perhatian dan bimbingan khusus dalam berinteraksi, maka perlu menciptakan suasana kelas yang sesuai kebutuhan disabilitas rungu wicara. Anak disabilitas rungu wicara bukan berarti lambat menerima pembelajaran, malah dengan bimbingan yang benar akan lebih berprestasi. Guru pun tidak hanya bertugas mengajar pelajaran, namun juga menjalin ikatan dengan anak disabilitas rungu wicara.
Identitas publik: Journal of Early Childhood Education and
Development.
3. Model Belajar dan Penulis: Mochammad Sinung Komunikasi Anak Restendy
Disabilitas Tunarungu Wicara di Taman
Temuan: Anak disabilitas rungu wicra Pendidikan Al Quran memiliki bahasa khusus dengan Luar Biasa (Tpqlb) teman atau seseorang yang ia Spirit Dakwah percayai, maka diperlukan Indonesia Tulungagung pendekatan yang terbuka dan nyaman dalam berinteraksi dengan anak disabilitas rungu wicara
Identitas publish: Jurnal Komunikasi Islamika Vol. 6
4. Penyandang Disabilitas Penulis: Dini Widinarsih di Indonesia: Metode: deskriptif kualitatif
Perkembangan Istilah Temuan: Dari tahun ke tahun, sebutan dan Definisi bagi penyandang cacat terus berganti
hingga tahun 2016 ditetapkan sebutan penyandang disabilitas bagi penyandang cacat beserta undang- undang yang mengatur.
Identitas Publish: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Jilid 20 No. 2 5. Komunikasi Penulis: Tika Nuramalia
Interpersonal Antara
Teori: Komunikasi interpersonal Guru dan Siswa
Metode: deskriptif kualitatif Tunarungu dalam
Temuan: Proses komunikasi interpersonal antara guru dan siswa tuna rungu sudah efektif namun masih ada beberapa kendala yaitu sulit memahami, rasa malas, dan penggunaan bahasa.
Pembinaan Shalat Dhuha di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Bakti Dharma Pertiwi Di Bringin Raya Kemiling Bandar
Lampung Identitas publish: Skripsi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung.
6. Pola Komunikasi Penulis: Trimukti Oktaviasari Interpersonal di
Teori: Komunikasi interpersona National Paralympic
Metode: Deskriptif kualitatif Comittee Surakarta
Temuan: Pelatih atlet difabel memiliki cara khusus dalam melatih.
Pelatih berinteraksi tidak hanya melatih namun juga memotivasi.
Kadang pelatih membutuhkan media untuk berkomunikasi dengan atlet difabel.
Identitas Publish: Skripsi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta 2013.
7. Komunikasi Antar Penulis: Andy Setyawan Pribadi Non Verbal Teori: Interaksi Simbolik Penyandang Disabilitas
di Deaf Finger Talk Metode: Kualitatif
Temuan: Ada 3 fase yang terjadi di Deaf Finger Talk (DFT) yaitu fase menyamakan Bahasa isyarat, menyediakan fasilitas untuk membantu komunikasi disabilitas rungu wicara dengan pelanggan, dan komunikasi lebih intens antara pegawai tuna rungu wicara, pihak manajemen, dan pelangggan. Faktor pendukung dari interaksi tersebut ialah kaingintahuan dan kemauan, sedangkan factor penghambat adalah rasa takut, tidak terbuka, pikiran negative, dan taraf intelektual.
Identitas Publish: Jurnal Kajian Ilmiah Universitas Bhayangkara Jakarta utara Vol. 19, No. 2, Mei 2019
8. Perceptions of communication between people with communication disability and general practice staff
Penulis: Joan Murphy
Metode: Deskriptif Kualitatif (Focus group)
Temuan: Seseorang dengan disabilitas membutuhkan seseorang yang bisa dipercayai dan memiliki kemampuan komunikasi yang yang lebih baik Identitas Publish : An International Journal Public Participacion in Health Expectations Vol 9, issues 1, 2005 Tabel II.1
Penelitian Terdahulu
Melihat penelitian sebelumnya, pembahasan tentang penyandang disabilitas beserta bagaimana cara berkomunikasinya menjadi hal yang penting. Penyandang disabilitas memiliki komunikasi yang berbeda.
Sering terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi antara penyandang disabilitas di lingkungan sekitar mereka. Dari penelitian-penelitian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa penyandang disabilitas memang
perlu pendekatan khusus dalam berkomunikasi. Terlebih penyandang disabilitas lebih banyak berinteraksi menggunakan komunikasi non verbal.
Lingkungan sekitar penyandang disabilitas sebaiknya memang perlu memiliki kemampuan komunikasi khusus untuk dapat berinteraksi dengan penyandang disabilitas agar hak penyandang disabilitas terpenuhi.
Penyandang disabilitas memiliki hak yang sama, termasuk dalam Pendidikan. Dalam Pendidikan ada beberapa cara berkomunikasi dengan siswa disabilitas. Satu tempat dengan tempat lainnya memiliki cara yang berbeda. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk mempelajari bagaimana komunikasi non verbal pengajar antara siswa disabilitas rungu-wicara di YRTRW (Yayasan Rehabilitas Tuna Rungu Wicara) Surakarta.
Komunikasi pengajar dengan siswa merupakan komunikasi interpersonal/antarpribadi. Jadi peneliti menggunakan Teori Devito yang menjelaskan tentang komunikasi interpersonal non verbal.
Proses Komunikasi pengajar YRTRW terhadap siswa tunarungu-
wicara di YRTRW Surakarta
Devito theory Nonverbal
Kecepatan dan Volume Bicara Penggunaan
Ruang Ekspresi Wajah
gerak mata Gerak Tubuh
Keterbukaan Empati Dukungan Sikap Positif Kesamaan atau
Kesetaraan C. Kerangka Pemikiran
Pengajar Komunikasi
Nonverbal
Siswa Tuna Rungu Wicara
Bagan II.2: Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, penelitian tentang komunikasi pengajar terhadap siswa tunarungu-wicara ini menggunakan teori komunikasi antarpribadi atau interpersonal secara non verbal dari De Vito. Teori antarpribadi tersebut berguna untuk mengetahui bagaimana komunikasi antara pengajar dengan siswa disabilitas rungu-wicara yang mana kita ketahui bahwa mereka memiliki cara komunikasi yang berbeda
Efektivitas Komunikasi antarpribadi menurut Devito
dari anak biasa. Menurut Devito, komunikasi nonverbal merupakan komunikasi menggunakan gerak tubuh, gerakan mata, ekspresi wajah, penggunaan ruang, dan kecepatan volume bicara. Efektivitas komunikasi menurut Devito yaitu: Keterbukaan, empati, sikap positif, dukungan, dan kesamaan/kesetaraan.
Penelitian ini mengambil subjek penelitian yaitu pengajar di YRTRW Surakarta dengan siswa disabilitas rungu-wicara di YRTRW Surakarta. Peneliti akan mengamati permasalahan yang dihadapi dan bagaimana proses interaksi/relasi pengajar terhadap siswa disabilitas rungu-wicara terjadi. Kemudian akan menemukan komunikasi efektif secara nonverbal dalam komunikasi antarpribadi pengajar terhadap siswa disabilitas rungu-wicara tersebut. Sehingga dapat diketahui analisis komunikasi antarpribadi nonverbal yang efektif pengajar terhadap siswa disabilitas rungu-wicara tersebut.