• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Tentang Kepuasan Kerja Manajer PT 'X' di Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Tentang Kepuasan Kerja Manajer PT 'X' di Bandung."

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan kerja manajer PT.”X” Bandung.

Sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian maka rancangan penelitian yang diajukan bersifat non-eksperimental (ex post facto), yakni penelitian berdasarkan variabel yang sudah ada pada diri sampel tanpa diberikan treatment atau manipulasi oleh peneliti. Variabel dalam penelitian ini adalah kepuasan kerja. Subjek penelitian ini adalah manajer PT.”X” Bandung. Sampel yang digunakan adalah seluruh populasi dan diperoleh 33 orang responden. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner kepuasan kerja MSQ (Minnesota Satisfaction Questionnaire)dari Weis, Dawis, England & Lofquist. Kuesioner ini terdiri dari 100 item positif dan menjaring 20 aspek kepuasan kerja Data yang diperoleh diolah menggunakan metoda analisis deskriptif dengan bantuan perhitungan statistik SPSS 10 for Windows untuk melihat gambaran kepuasan kerja yang dijaring melalui MSQ serta crosstab faktor-faktor lain yang turut dijaring lewat data penunjang.

Berdasarkan pengolah data uji validitas yang dilakukan dengan menggunakan Korelasi Rank Spearman dan reliabilitas menggunakan teknik Split Half, dengan bantuan perhitungan statistik SPSS 10 for Windows, diperoleh validitas berkisar 0,453-0,924. Sedangkan hasil dari uji reliabilitas diperoleh 0.9564.

Berdasarkan data yang diperoleh terdapat 22 orang(66,67%) manajer yang merasa puas dan 11 orang(33,33%) manajer yang merasa tidak puas pada tingkat kepuasan kerjanya. Pada penelitian di PT’X’ ini terdapat 15 aspek yang dirasa puas oleh manajer yaitu: Sosial Service(52%) ,creativit (67%), morale values(55%), indepedence(55%), variety(48%), authority(61%), ability utility(64%), social status(61%), Company policies & practices(42%), supervision-human relation(58%), security(45%), compensation(55%), work condition(58%), advancement(55%), supervision technical(64%), co-workers(73%), responsibility(61%), recognition(39%), achievement(48%), activity(61%). Dan terdapat 5 aspek yang dirasa tidak puas oleh manajer yaitu: variety(52%), Company policies & practices(58%), security(55%), recognition(61%), achievement(52%).

(2)

DAFTAR ISI

Hal

Lembar Judul

Lembar Pengesahan

Abstrak

Kata Pengantar …………....………... i

Daftar Isi ………... v

Daftar Bagan ... ix

Daftar Tabel ………... x

Daftar Lampiran ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi masalah ... 8

1.3 Maksud dan Tujuan ... 8

1.4 Kegunaan penelitian ... 8

1.4.1 Kegunaan Ilmiah ... 8

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 9

1.5 Kerangka Pikir ... 9

(3)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kebutuhan ... 20

2.1.1. Jenis-jenis Kebutuhan ... 21

2.2. Kepuasan Kerja ... 24

2.2.1. Pengertian Kepuasan Kerja ... 24

2.2.2. Teori-Teori Kepuasan Kerja ... 26

2.2.3. Work Adjustment Theory (Lofquist & Dawis, 1967 dalam Al Yanuar Ferry, 2003 ... 31

2.2.4. Faktor-Faktor yang Menentukan KepuasanKerja…………..….. 34

2.2.5. Akibat Ketidakpuasan Kerja………... 37

2.2.6. Pengekspresian Kepuasan Kerja………...………..…... 38

2.2.7. Profil Karyawan Puas... 39

2.3. Masa Dewasa Awal………..…………... 41

2.4. Manajer ... 45

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian………..…………... 51

3.2. Variabel Penelitian ...………... 52

3.3. Definisi Operasional...………..………... 52

3.3. Alat Ukur………..………... 54

(4)

3.3.2. Sistem Penilaian………..….. .52

3.4. Data Penunjang……….………....54

3.5. Populasi………...………..55

3.5.1. Target Populasi……..…...………..55

3.5.2. Karakteristik Populasi…...………..55

3.6. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur...55

3.6.1. Validitas Alat Ukur...56

3.6.2. Reliabilitas Alat Ukur...56

3.7. Teknik Pengolahan Data………...………...…….57

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Responden Penelitian………..58

4.1.1. Persentase Responden Berdasarkan Usia………...………....58

4.1.2. Persentase Responden Berdasarkan Lamanya Kerja………..…58

4.1.3. Persentase Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan……...…...59

4.2. Data Hasil Penelitian………60

4.2.1. Persentase Kepuasan Kerja Responden…………...………..60

4.2.2. Persentase Aspek Kepuasan Kerja Responden……...…………...….61

4.2.3. Persentase Data Penunjang (hygiene factors) Responden…………..63

4.2.4. Tabulasi Silang………...…………64

4.2.4.1. Tabulasi Silang Kepuasan Kerja dengan Usia……...……...64

(5)

4.2.4.3. Tabulasi Silang Kepuasan Kerja dengan

Jumlah Tanggungan...66

4.3. Pembahasan……….……….…67

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan………..……….………74

5.2. Saran……….………75

5.2.1. Saran Praktis………...75

5.2.2. Saran Penelitian Lanjutan………...………75

(6)

DAFTAR BAGAN

halaman

Bagan 1.1. Kerangka pemikiran……….………….. 16

(7)

DAFTAR TABEL

halaman

Tabel 3.1. Kepuasan kerja………...…………..51

Tabel 3.2. Alternatif pilihan jawaban dan nilai………..………...52

Tabel 3.3. Pembagian kategori kepuasan kerja ………....…53

Tabel 3.4. Pembagian kategori kepuasan kerja..………...……...53

Tabel 3.5. Aspek hygiene factors...54

Tabel 4.1. Gambaran responden berdasarkan usia …..………...58

Tabel 4.2 Gambaran responden berdasarkan lamanya kerja ....…..……….59

Tabel 4.3 Karakteristik responden berdasarkan jumlah tanggungan ……..……59

Tabel 4.4. Persentase kepuasan kerja responden...…...….60

Tabel 4.5. Persentase aspek kepuasan kerja responden ………...62

Tabel 4.6. Persentase aspek-aspek hygiene factors responden …..………..63

Tabel 4.7. Tabulasi silang kepuasan kerja dengan usia ………...……64

Tabel 4.8. Tabulasi silang kepuasan kerja dengan lamanya kerja …..………...65

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Angket Identitas dan Kepuasan Kerja

Lampiran 2 Angket Data Penunjang

Lampiran 3 Lembar Skoring

Lampiran 4 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

Lampiran 5 Data Karakteristik Responden

Lampiran 6 Tabel Skoring Kepuasan Kerja dan Aspek-Aspeknya

Lampiran 7 Tabel Skoring Data Penunjang dan Aspek-Aspeknya

Lampiran 8 Persentase Karakteristik Responden

(9)

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA FAKULTAS PSIKOLOGI

Jl. Prof. Drg. Surya Sumantri. 65 Bandung

PENGANTAR

Yang terhormat,

Bapak/Ibu Manajer PT ‘X’ Di Tempat

Saya menyadari bahwa waktu Bapak/Ibu sangat terbatas dan berharga,

namun demikian saya mohon kesediaannya untuk membantu penelitian ini dengan

mengisi kuesioner yang akan saya berikan. Kuesioner ini dimaksud untuk

kepentingan penyelesaian studi saya di Fakultas Psikologi Universitas Kristen

Maranatha. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi

pengembangan ilmu pengetahuan khususnya Psikologi Industri.

Kuesioner ini bukanlah suatu alat tes psikologi jadi tidak akan

mempengaruhi kedudukan Bapak/Ibu di perusahaan. Untuk itu Bapak/Ibu diminta

untuk menjawab semua pernyataan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya serta

menelaah dari setiap butir koesioner. Selain itu keterusterangan Bapak/Ibu dalam

mengisi kuesioner ini sangat diharapkan.

Data dan identitas yang Bapak/Ibu berikan hanya digunakan bagi

keperluan penelitian ini saja, untuk itu saya jamin kerahasiaannya. Data dan

informasi yang Bapak/Ibu berikan merupakan bantuan yang tidak ternilai

harganya bagi penyelesaian dan tercapainya maksud penelitian ini.

Atas perhatian dan bantuan yang Bapak/Ibu berikan, saya ucapkan terima

kasih.

Hormat saya,

(10)

DATA PENUNJANG

1. Nama (inisial) :

2. Jenis Kelamin :

3. Usia :

4. Pendidikan Terakhir :

5. Masa Kerja :

6. Bagian/Divisi :

(11)

MSQ

Pada halaman-halaman berikut ini, bapak/ibu akan menjumpai sejumlah

pernyataan mengenai pekerjaan bapak/ibu. Ini kuesioner KEPUASAN KERJA.

Pada setiap pernyataan terdapat 4 alternatif pilihan jawaban.

Tugas bapak/ibu adalah memilih salah satu dari ke-4 alternatif jawaban

yang ada dengan memberikan tanda checlist (D) pada kotak yang tersedia pada

setiap pernyataan pada kuesioner kepuasan kerja.

Petunjuk pengisian :

Tanyakan pada diri bapak/ibu, “seberapa puaskah saya”, dengan pernyataan ini dalam pekerjaan saya

SP : Sangat Puas

Berarti dalam pekerjaan bapak/ibu, bapak/ibu merasa sangat puas dengan pernyataan tersebut.

P : Puas

Berarti dalam pekerjaan bapak/ibu, bapak/ibu merasa puas dengan pernyataan tersebut.

TP : Tidak Puas

Berarti dalam pekerjaan bapak/ibu, bapak/ibu merasa tidak puas dengan pernyataan tersebut.

STP : Sangat Tidak Puas

Berarti dalam pekerjaan bapak/ibu, bapak/ibu merasa sangat tidak puas dengan pernyataan tersebut.

Pada setiap halaman akan bapak/ibu jumpai kalimat :

“Sehubungan dengan pekerjaan saya saat ini, perasaan saya mengenai …..”

hendaknya kalimat tersebut bapak/ibu gunakan untuk membentu memberikan

jawaban atas pernyataan yang bapk/ibu baca.

(12)

Petunjuk: pilihlah salah satu jawaban yang paling sesuai dengan perasaan anda.

“Sehubungan dengan pekerjaan saya saat ini, perasaan saya mengenai …..”:

No. P e r n y a t a a n SP P TP STP

1. Kesempatan untuk berguna bagi orang lain

2. Kesempatan untuk mencoba beberapa gagasan saya sendiri

3. Kesempatan untuk melakukan pekerjaan tanpa ada perasaan bersalah

4. Peluang untuk bekerja sendiri

5. Jenis pekerjaan saya yang beraneka ragam

6. Adanya kesempatan teman sejawat lain meminta nasehat kepada saya

7. Kesempatan melakukan pekerjaan yang paling saya kuasai dengan baik

8. Kedudukan sosial dalam masyarakat yang diperoleh karena jabatan

9. Kebijaksanaan dalam perlakuan perkumpulan

10. Cara atasan saya dan saya menumbuhkan saling pengertian

11. Jaminan pekerjaan yang diperoleh

12. Besarnya upah (gaji) yang saya terima untuk pekerjaan yang saya kerjakan

13. Kondisi kerja ditempat saya bekerja (pengaturan suhu, cahaya, udara, dan sebagainya)

14. Kesempatan untuk maju dalam pekerjaan ini

15. Kemampuan teknis atasan saya

16. Semangat kerja sama diantara rekan sekerja saya

(13)

“Sehubungan dengan pekerjaan saya saat ini, perasaan saya mengenai …..”:

No. P e r n y a t a a n SP P TP STP

18. Cara kerja saya diberitahu bila saya bekerja dengan

baik

19. Kesempatan melihat hasil kerja yang saya lakukan

20. Kesempatan untuk terus menerus melakukan

kegiatan setiap saat

21. Kesempatan untuk berguna bagi sesama

22. Kesempatan melaksanakan sendiri cara-cara baru

dan orisinil

23. Kesempatan melakukan sesuatu yang tidak

berlawanan dengan kaidah-kaidah kepercayaan saya

24. Peluang untuk melakukan pekerjaan secara mandiri

25. Kesempatan untuk melakukan hal-hal yang berbeda

pada waktu-waktu tertentu

26. Kesempatan memberitahu teman sejawat lain

tentang bagaimana seharusnya melakukan suatu

pekerjaan

27. Kesempatan melakukan pekerjaan yang sesuai

dengan kemampuan saya

28. Kesempatan menjadi orang yang terpandang dalam

(14)

“Sehubungan dengan pekerjaan saya saat ini, perasaan saya mengenai …..”:

No. P e r n y a t a a n SP P TP STP

29. Kebijaksanaan perkumpulan dan cara-cara

penerapannya

30. Cara atasan saya memperlakukan teman sejawat

31. Kepastian jaminan masa depan di tempat kerja saya

32. Peluang untuk memperoleh uang sebanyak yang

diterima rekan sekerja saya

33. Lingkungan fisik ditempat kerja

34. Peluang untuk mencapai kemajuan di tempat saya

bekerja

35. Kemampuan atasan saya membuat keputusan

36. Peluang menumbuhkan persahabatan yang akrab

dengan rekan sekerja saya

37. Kesempatan mengambil keputusan sendiri tanpa

bantuan orang lain

38. Cara perkumpulan memberi penghargaan terhadap

pekerjaan yang saya lakukan

39. Kesempatan merasakan kebanggaan akan pekerjaan

yang saya lakukan dengan baik

40. Kesempatan untuk melaksanakan pekerjaan setiap

saat

(15)

“Sehubungan dengan pekerjaan saya saat ini, perasaan saya mengenai …..”:

No. P e r n y a t a a n SP P TP STP

42. Kesempatan untuk mencoba sesuatu yang berbeda

dari biasanya

43. Kesempatan melakukan hal-hal yang tidak

berlawanan dengan nurani saya

44. Peluang untuk bekerja sendiri dalam pekerjaan saya

45. Kerutinan dalam pekerjaan saya

46. Kesempatan melakukan pengawasan terhadap orang

lain

47. Kesempatan menunjukkan kemampuan saya dengan

baik

48. Kesempatan bergaul dengan orang-orang terpandang

49. Cara menyampaikan kebijaksanaan perkumpulan

kepada para teman sejawat

50. Cara atasan saya memberikan dukungan kepada para

teman sejawat dalam menghadapi pimpinan yang

lebih atas.

51. Cara perkumpulan memberikan jaminan pekerjaan

52. Gaji (upah) yang saya terima dibanding gaji (upah)

yang diterima untuk pekerjaan yang sama di tempat

kerja lain

(16)

“Sehubungan dengan pekerjaan saya saat ini, perasaan saya mengenai …..”:

No. P e r n y a t a a n SP P TP STP

54. Cara menaikkan pangkat di kerja saya

55. Cara atasan saya melakukan pembagian kerja

56. Keramahan rekan-rekan saya

57. Kesempatan bertanggung jawab terhadap pekerjaan

yang dilakukan orang lain

58. Pengakuan yang diberikan kepada saya untuk

pekerjaan yang telah saya lakukan

59. Kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berguna

60. Kesempatan untuk dapat terus menerus

menyibukkan diri

61. Kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi orang lain

62. Kesempatan untuk mengembangkan cara yang baru

dan lebih baik dalam melakukan pekerjaan atau

tugas

63. Kesempatan melakukan hal-hal yang tidak

merugikan orang lain

64. Peluang bekerja tanpa bergantung pada orang lain

65. Kesempatan melakukan sesuatu yang lain setiap hari

66. Kesempatan untuk memberitahu orang lain

(17)

“Sehubungan dengan pekerjaan saya saat ini, perasaan saya mengenai …..”:

No. P e r n y a t a a n SP P TP STP

67. Kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang

menuntut kemampuan terbaik saya

68. Kesempatan menjadi orang yang terpandang dimata

orang lain

69. Cara perkumpulan menerapkan kebijaksanaannya

70. Cara atasan saya menangani keluhan dan keberatan

para teman sejawatnya.

71. Terjaminnya pekerjaan saya ditempat kerja saya

72. Gaji (upah) saya berdasarkan banyaknya pekerjaan

yang saya lakukan

73. Segi fisik kondisi kerja di tempat kerja

74. Peluang untuk maju ditempat kerja

75. Cara atasan saya memberikan bantuan dalam hal-hal

yang sulit sekali

76. Mudahnya rekan-rekan saya menjalin persahabatan

77. Kebijaksanaan untuk memutuskan berdasarkan

pertimbangan dan saya sendiri

78. Cara yang biasa perkumpulan ungkapkan bila

pekerjaan saya baik

79. Kesempatan untuk melakukan sesuatu yang terbaik di

(18)

“Sehubungan dengan pekerjaan saya saat ini, perasaan saya mengenai …..”:

No. P e r n y a t a a n SP P TP STP

80. Kesempatan untuk giat terus menerus sepanjang

waktu

81. Kesempatan untuk berguna sekedarnya bagi orang

lain

82. Kesempatan mencoba cara-cara sendiri untuk

melakukan pekerjaan

83. Kesempatan untuk melakukan pekerjaan tanpa ada

perasaan merugikan orang lain

84. Peluang untuk bekerja tanpa bantuan orang lain

85. Kesempatan untuk melakukan hal-hal seragam

dalam pekerjaan saya

86. Kesempatan untuk memberitahu orang lain apa yang

harus dikerjakan

87. Kesempatan menunjukkan kemampuan dan

keterampilan saya

88. Kesempatan untuk memperoleh kedudukan yang

terpandang dalam masyarakat

89. Cara perkumpulan memperlakukan para teman

sejawat

(19)

“Sehubungan dengan pekerjaan saya saat ini, perasaan saya mengenai …..”:

No. P e r n y a t a a n SP P TP STP

91. Jalan yang ditempuh ditempat saya kerja untuk

mencegah teman sejawat diberhentikan atau digeser

92. Gaji (upah) saya dibandingkan gaji (upah) yang

diterima teman sejawat lain

93. Kondisi kerja

94. Peluang saya untuk maju

95. Cara atasan saya dalam membimbing bawahannya

96. Mudahnya rekan-rekan saya untuk bergaul satu

sama lain

97. Tanggung jawab dalam pekerjaan saya

98. Pujian yang saya terima untuk pekerjaan yang saya

lakukan dengan baik

99. Saya telah berbuat sesuatu yang telah saya dapatkan

ditempat kerja saya ini

(20)
(21)

Usia Jumlah Responden Persentase

25-35 tahun 15 45,45%

36-45 tahun 11 33,33%

46-50 tahun 7 21,21%

Total 33 100,00%

33

Jenis Kelamin Jumlah Responden Persentase

Laki-laki 28 84,85%

Perempuan 5 15,15%

Total 33 100,00%

33

Pendidikan Jumlah Responden Persentase

D3 1 3,03%

S1 30 90,91%

S2 2 6,06%

Total 33 100,00%

33

Kepuasan Kerja Jumlah Responden Persentase

Kepuasan Kerja Tinggi 22 66,67%

Kepuasan Kerja Rendah 11 33,33%

Total 33 100,00%

(22)

Lamanya Berkerja Jumlah Responden Persentase

Perdagangan dan Jasa 9 27,27%

(23)

Usia Kepuasan Kerja Total Puas Tidak Puas

25-35 tahun 8 53,33% 7 46,67% 15 100%

36-45 tahun 8 72,73% 3 27,27% 11 100%

46-50 tahun 6 85,71% 1 14,29% 7 100%

Jenis Kelamin Kepuasan Kerja Total Puas Tidak Puas

Laki-laki 22 78,57% 6 21,43% 28 100%

Perempuan 0 0,00% 5 100,00% 5 100%

22 11 33

Masa Kerja Kepuasan Kerja Total Puas Tidak Puas

Perdagangan dan Jasa 4 44,44% 5 55,56% 9 100%

Transportasi 8 80,00% 2 20,00% 10 100%

Property 10 71,43% 4 28,57% 14 100%

(24)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Perusahaan memiliki beragam sumber daya yang menopang lancarnya

operasional dan pencapaian tujuan, diantaranya adalah sumber daya manusia.

Dewasa ini tenaga manusia sudah banyak dimonopoli oleh mesin, tetapi tidak

dapat dipungkiri bahwa SDM masih tetap memiliki nilai yang begitu besar dalam

aktivitas suatu perusahaan. Adanya perkembangan teknologi yang semakin

canggih dan disertai persaingan antar perusahaan yang ketat, maka setiap

perusahaan harus dapat meningkatkan potensi dan kompetensi SDM-nya untuk

tetap bertahan. “Kini perusahaan telah menyadari bahwa tenaga kerja bukan

hanya faktor produksi. Terlebih tenaga kerja yang kompeten merupakan alat untuk

mencapai keunggulan kompetitif perusahaan, keunggulan ini diperoleh dari

kompetensi unik yang dimiliki tenaga kerjanya dan hal ini dapat membedakannya

dengan perusahaan pesaing.” (Munjiati Munawaroh. Majalah Manajemen

no.166/Juni’02/hal.12).

Sumber daya manusia akan mendapatkan porsi perhatian yang lebih

banyak pada perusahaan–perusahaan, karena sumber daya manusia yang akan

menggerakkan dan berperan dalam roda bisnis perusahaan. Perusahaan harus

berupaya memantapkan tenaga kerja mereka agar mampu bersaing dengan tenaga

kerja profesional lainnya dari luar negeri. Moh. As’ad yang mengutip pendapat

(25)

2

Louis A. Allen tentang pentingnya unsur manusia dalam menjalankan roda

industri menyatakan bahwa ‘’Betapapun sempurnanya rencana-rencana

organisasi, pengawasan serta penelitian lainnya, bila karyawan tidak dapat

menjalankan tugasnya dengan minat dan antusias, maka suatu perusahaan tidak

akan mencapai hasil sebanyak yang diharapkan‘’ (As’ad, 1998 : 103).

Berangkat dari pentingnya sumber daya manusia dalam menjalankan

perusahaan, pengusaha perlu memperhatikan masalah-masalah yang dialami oleh

karyawan yang memiliki peluang untuk menghambat menjalankan tugas dengan

minat dan antusiasme yang tinggi. Salah satu masalah yang dapat menghambat

proses perkembangan perusahaan adalah masalah sumber daya manusia yang ada

di PT X. PT.’X’ yaitu salah satu unit usaha dana pensiun sebuah Badan Usaha

Milik Negara (BUMN). PT.’X’ di dirikan di kota Bandung yang telah

memperoleh izin dari Menteri Kehakiman RI sejak 9 Juni 1991 dan beroperasi

secara komersial. Adapun bidang usaha yang ditekuni PT’X’ meliputi 3 bidang,

yakni bidang Properti, bidang Transportasi dan bidang Perdagangan/Jasa. PT.X,

memiliki peralatan yang modern dan didukung oleh 200 tenaga kerja yang

tersebar di beberapa cabang. Paradigma yang saat ini diharapkan untuk

diwujudkan di PT. X dirangkum dalam visi dan misi perusahaan. Adapun visi

dari perusahaan ini adalah Menjadi Perusahaan yang handal di bidang properti dan

transportasi darat melalui pengelolaan secara profesional olah sumber daya

manusia yang berkualitas. Sedangkan misi dari PT. X adalah : Pertama,

meningkatkan kepuasan pelanggan melalui kualitas produk dan jasa. Harga dan

(26)

3

win-win solution dan kemitraan jangka panjang dengan para pelanggan; ketiga

mengelola perusahaan berdasarkan prinsip-prinsip Pengelolaan Perusahaan Secara

Baik (Good Corporate Governance); dan keempat mengembangkan kompetensi

SDM menjadi profesional-profesional yang tangguh, kreatif dan inovatif.

Sejumlah persiapan juga telah dilakukan oleh PT. X, diantaranya

mendapatkan sertifikasi ISO sebagai syarat untuk mendapatkan

tender-tender/proyek, sertifikasi kalibrasi alat berat perusahaan, memantapkan

manajemen perusahaan seperti manajemen keuangan dan manajemen sumber

daya manusia ( Dhira Kumaragaman , Direktur Utama, dalam Company

Profile PT. X Bdg).

Sejumlah usaha-usaha terus diupayakan dengan melakukan perbaikan dan

penataan manajeman yang lebih baik. Setiap catur wulan para manajer yang di

pimpin oleh masing-masing kepala divisi melakukan evaluasi dari setiap bagian.

Pertemuan semacam ini dilakukan dalam rangka menjaga setiap misi yang sudah

dilaksanakan berjalan dengan baik dan sesuai dengan visi dan misi perusahaan

yang telah ditetapkan bersama. Selain untuk menjaga visi dan misi perusahaan

pertemuan-pertemuan rutin itu dilakukan untuk menjaring setiap masalah yang

muncul. Mengingat pentingnya peran SDM bagi perusahaan, maka perusahaan

perlu memikirkan bagaimana mengelola SDM-nya. Bagaimana karyawannya

dapat berkerja dengan baik serta dapat mempertahankan keunggulan kompetitif

melalui kempetensi yang dimilikinya. Salah satu hal yang dapat dilakukan

perusahaan adalah menciptakan kepuasan bagi karyawannya dalam bekerja. (Jhon

(27)

4

Seiring untuk menjaga, memantau dan memelihara sumber daya manusia,

diperlukan suatu perangkat untuk senantiasa memantau kinerja para karyawan.

Karyawan merupakan aset perusahaan, dengan jumlah tenaga kerja yang ada,

perlu dijaga, dimanfaatkan secara optimal dan ditingkatkan kredibilitas para

karyawan tersebut. Kemampuan dan kredibilitas karyawan juga perlu diperhatikan

untuk melihat sejauhmana keefektifan dan keefisienan mereka dalam bekerja,

apakah mampu memberikan keuntungan untuk perusahaan. Selanjutnya karyawan

tersebut perlu dipelihara kemampuan bekerjanya agar tetap dapat bekerja dengan

baik. Individu yang masuk menjadi karyawan suatu perusahaan, akan membawa

seperangkat kebutuhan dan harapan yang diyakini dapat terpenuhi melalu

pekerjaannya. Harapan karyawan tidak lain adalah hal-hal yang dijumpai dalam

lingkungan kerja merupakan keadaan yang sesuai dengan harapannya serta dapat

memenuhi kebutuhannya. Di satu sisi, karyawan ingin agar kebutuhannya dapat

dipenuhi oleh perusahaan melalui imbalan (reward) yang disediakan oleh

perusahaan. Imbalan (reward) tersebut mencakup antara lain gaji, penghargaan,

jaminan pekerjaan, tempat kerja yang aman dan nyaman, teman kerja yang

menyenangkan, atasan yang kompeten dan kesempatan berprestasi (Weiss,

Dawis, England & Lofquist, 1967 dalam Welly, 2000).

Dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan karyawannya, yang perlu

diperhatikan oleh perusahaan adalah adanya perbedaan kebutuhan antara

karyawan yang satu dengan yang lainnya. Hal ini tergantung dengan jenis

kebutuhan yang sedang dibutuhkan misalnya, salah satu manajer menginginkan

(28)

5

lebih besar dan membina hubungan baik dengan rekan kerja, atasan maupun

dengan bawahannya. Bila makin banyak aspek-aspek kerja dapat memenuhi

kebutuhannya maka karyawan tersebut akan merasa semakin puas. (Lofquist &

Dawis, 1967).

Setiap organisasi memerlukan manajer untuk melaksanakan tugas dan

peran sebagai pengelola demi tercapainya tujuan organisasi. Berdasarkan

perannya setiap manajer akan mengelola materi sumber daya berbeda, sesuai

dengan bagian yang menjadi tanggung jawab bidang masing-masing. Namun ada

sesuatu yang sama bagi para manajer, yaitu mereka semua akan mengelola

manusia sebagai orang-orang yang akan membantunya melaksanakan tugas

pekerjaan organisasi.

Ada manajer yang mementingkan hubungan pribadi dengan bawahannya,

seringkali sulit mengambil keputusan, seringkali dalam kasus-kasus seperti ini

pemimpin mengabaikan kedisiplinan kerja sehingga merugikan perusahaan. Hal

ini merupakan suatu tekanan bagi seorang manajer sebab selain ia bertanggung

jawab pada atasannya ia juga berhubungan langsung dengan para pekerja.

Dari hasil wawancara awal dengan 15 orang manajer ada beberapa gejala

yang tampak, 53,33% mengatakan bahwa mereka merasa kurang senang dengan

suasana kerja, terutama hubungan dengan atasan yang kurang baik, standart gaji

yang dirasa kurang baik, dan mereka juga merasa kurang senang dalam hal

kesempatan meraih jenjang karir. Hal ini disebabkan karena mereka merasa sangat

(29)

6

yang cukup banyak sedangkan posisi jabatan yang terbatas, sehingga ada rasa

kekawatiran manajer tentang kelangsungan pekerjaan mereka.

26,67% manajer merasa gaji serta kesempatan trainning dan pendidikan

yang diberikan perusahaan kurang dari yang mereka harapkan. Manajer tersebut

merasa perlu adanya kenaikan gaji, karena adanya ketidakseimbangan dengan apa

yang telah mereka lakukan terhadap perusahaan seperti pikiran resiko dan

tanggung jawab. Dalam hal pelatihan dan pendidikan, mereka mengatakan

memang perusahaan memberikan pelatihan-pelatihan pada mereka tetapi mereka

merasa bukan pelatihan seperti itu yang mereka butuhkan. Perusahaan kurang

mengakomodasi pelatihan yang mereka butuhkan. Seringkali mereka ikut suatu

pelatihan yang mereka butuhkan tetapi dengan biaya pribadi. Demikian pula

dengan kesempatan untuk memperoleh pendidikan formal yang lebih tinggi,

mereka merasa kesempatan pendidikan yang diberikan perusahaan kurang merata,

hanya pada orang-orang tertentu yang berdasarkan kedekatan dengan pimpinan

perusahaan. Tetapi mereka merasa puas dengan suasana kerja yang nyaman, serta

hubungan yang baik dengan rekan kerja .

Selain itu sebanyak 13,33% merasa puas dengan gaji yang diberikan,

menurut mereka sudah cukup memadai, memang tidak ada masalah dengan

hubungan dengan rekan kerja, dirasa masih baik dan cukup kompak.hanya saja

ada yang dirasa kurang dalam hubungan mereka dengan atasan, mengenai

kebijakan yang dirasa kurang profesional sehingga kadangkala mempengaruhi

suasana kerja. Dalam hal kebijakan perusahaan dan sistem prosedur kerja mereka

(30)

7

yang ditetapkan dengan pelaksanaannya. Banyak hal yang kurang sesuai dengan

kebijakan yang ada di perusahaan tetap dilaksanakan. Sisanya yaitu sebanyak

13,33% manajer dari 15 manajer mengatakan senang dengan semua yang ada di

perusahaan tersebut , baik dalam hal jenjang karir, suasana kerja, gaji, sistem

pelatihan dan pendidikan, serta hubungan dengan rekan kerja dan atasan yang

semuanya dianggap telah cukup memadai.

Dari hasil wawancara dengan 15 orang manajer selain untuk mencari

nafkah dan menghidupkan keluarga, mereka berkerja juga untuk mempunyai

kegiatan, mengaplikasikan disiplin ilmu yang mereka miliki, mengembangkan

karier di bidang properti dan transportasi, meningkatkan status sosial, mengasah

kemampuan berpikir dan berorganisasi , mengaktualisasikan diri, serta

mendapatkan kepuasan. Para manajer di PT. ‘X’ yang kebutuhan dan keinginan

yang ada di dalam dirinya belum terpenuhi oleh perusahaan merasakan adanya

ketidakpuasan dalam dirinya. Sebanyak 20% manajer mempunyai semangat kerja

yang rendah, 20% mengaku malas, 20% merasa bosan, dan 6,66% manajer merasa

mengalami stress. Sedangkan manajer yang kebutuhan dan keinginannya yang ada

dalam dirinya merasa telah terpenuhi oleh perusahaan mengindikasikan adanya

kepuasan didalam diri mereka. Sebanyak 33,33% manajer menjadi lebih rajin

dalam bekerja dibandingkan dengan para manajer merasa tidak puas.

Melihat dari hasil wawancara dengan 15 manajer tersebut ada

berbagaimacam keluhan yang disampaikan oleh para manajer. Kurang lebih 60%

(31)

8

pada manajer di PT’X’ tidak ditemukan kasus turn over, ketidak hadiran kerja dan

keterlambatan kerja.

Berdasar data yang diperoleh masalah yang dihadapi manajer adalah

masalah kepuasan kerja. Kepuasan berhubungan dengan aspek-aspek yang ada

pada pekerjaan tersebut dapat memenuhi kebutuhannya. Berawal dari fenomena

permasalahan yang ada di perusahaan tarsebut diatas, maka peneliti tertarik untuk

mengetahui lebih lanjut mengenai gambaran tentang kepuasan kerja manajer pada

PT ‘X’ di Bandung.

1.2. IDENTIFIKASI MASALAH

Bagaimana tingkat kepuasan kerja pada manajer di PT ‘X’ di Bandung?

1.3. MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 Maksud Penelitian :

Memperoleh data mengenai kepusan kerja pada manajer di PT “X” di

Bandung

1.3.2 Tujuan Penelitian :

Mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan kerja yang dirasakan oleh para

manajer di PT “X” di Bandung.

1.4. KEGUNAAN PENELITIAN 1.4.1. Kegunaan Ilmiah

(32)

9

perkembangan bidang Psikologi Industri dan Organisasi, terutama

tentang kepuasan kerja.

- Memberikan tambahan wawasan pengetahuan bagi penelitian

selanjutnya dengan topik yang serupa.

1.4.2. Kegunaan Praktis

- Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dan manfaat bagi

pihak manajemen perusahaan.

- Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi pada

manajer mengenai kondisi kepuasan kerja.

1.5 KERANGKA PIKIR

Organisasi merupakan wadah yang terkait dengan koordinasi sejumlah

kegiatan manusia yang direncanakan untuk mencapai suatu maksud atau tujuan

bersama melalui pembagian tugas dan fungsi, serta melalui serangkaian

wewenang dan tanggung jawab (schein, dalam Moch. As’ad,2001:1). Efektifitas

organisasi perusahaan tercapai apabila menejemen dapat memusatkan

perhatiannya pada produksi maupun pada manusianya (schein, dalam Moch.

As’ad,2001:2), karena karyawan sebagai individu yang terlibat didalamnya

(33)

10

organisasi sebagai suatu sistem, sehingga untuk memahami perilaku organisasi

terlebih dahulu kita harus memahami perilaku individu yang terlibat di dalamnya.

Karyawan sebagai individu dalam suatu organisasi adalah individu yang

memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainya, namun secara umum menurut

Maslow kebutuhan-kebutuhan yang ada dalam diri manusia dapat dikategorikan

dalam 2 kelompok yaitu kebutuhan fisiologis dan kebutuhan psikologis.

Kebutuhan fisiologis mencangkup kebutuhan biologis seperti makan, minum,

tempat tinggal, pakaian, seks, kabutuhan akan oksigen. Sedangkan kebutuhan

psikologis diantaranya mencangkup kebutuhan akan rasa aman, memperoleh

pengakuan dari lingkungan, diterima dan dihargai, mengembangkan diri.

Karyawan yang merasa kebutuhan fisiologisnya belum terpenuhi akan bekerja

untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan fisiologis tersebut dengan

cara membeli makanan, minuman, membayar sewa rumah. Sedangkan karyawan

yang memiliki kebutuhan afeksi akan membina relasi social yang baik dengan

atasan, rekan kerja, dan bawahan, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan

aktualisasi diri, mereka akan berusaha untuk bertanggung jawab, dan

mengembangkan potensinya (Maslow, 1954).

Setiap karyawan memiliki beberapa macam kebutuhan-kebutuhan yang

akan mendorong untuk melakukan pekerjaannya. Untuk itu ia akan selalu

berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya tersebut dengan cara

melakukan interaksi dengan lingkungan kerjanya. Apabila kebutuhannya

terpenuhi maka akan menimbulkan kepuasan bagi karyawan tersebut, namun

(34)

11

berusaha sampai kebutuhannya itu terpuaskan. Terpenuhi atau tidaknya

kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki karyawan dalam pekerjaannya dapat

mempengaruhi tingkah laku mereka dalam bekerja (Lofquist and’Dawis, 1967).

Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, karyawan akan berinteraksi

dengan lingkungan kerjanya. Apabila ada kesesuaian antara apa yang diharapkan

karyawan dengan apa yang diberikan oleh lingkungan kerjanya maka karyawan

tersebut akan merasa puas, sebaliknya apabila antara apa yang diharapkannya

tidak sesuai dengan apa yang diberikan oleh lingkungan kerja maka karyawan

tersebut akan merasa tidak puas. Kepuasan kerja merupakan apa yang dirasakan

oleh karyawan mengenai pekerjaannya (generalized attitude) yang didasari oleh

penilaian karyawan terhadap aspek-aspek yang berada pada pekerjaannya (

Wexley dan Yukl, 1984;98).

Kepuasan kerja adalah merupakan suatu sikap ( attitude ) individu yang

berupa evaluasi, penilaian terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja para karyawan

dalam suatu organisasi haruslah mendapatkan perhatian khusus, karena hal ini

akan membawa pengaruh yang sangat besar bagi kelangsungan organisasi

tersebut. Ketidakpuasan kerja dalam suatu organisasi atau perusahaan seringkali

memunculkan masalah-masalah yang dapat merugikan. Masalah-masalah yang

muncul tersebut diantaranya adalah motivasi kerja yang rendah, absensi,

keterlambatan, konflik antara atasan dan bawahan, mengabaikan sasaran dan

tujuan perusahaan serta turn over ( Wexley dan Yukl 1984 )

Beberapa ahli memberikan definisi mengenai kepuasan kerja. Wexley dan

(35)

12

“ is the way an employee feel about his or her job, it is generalize attitude

toward the job based on evaluation of different aspect of the job. A person

attitude toward his job reflect pleasant and unpleasant experiences in the

job and his expectation about future experiences ”

Kepuasan kerja sebagai sikap seseorang terhadap pekerjaannya, secara umum

merupakan keseluruhan sikap terhadap pekerjaannya yang didasarkan pada

evaluasi terhadap aspek-aspek yang berbeda pada pekerjaan. Sikap seseorang

terhadap pekerjaannya tersebut menggambarkan pengalaman-pengalaman

menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam pekerjaan dan harapan-harapan

mengenai pengalaman mendatang.

Menurut Work Adjustment Theory (Lofquist & Dawis dalam Wexley &

Yulk, 1984), setiap karyawan mempunyai harapan dan kebutuhan. Dari sudut

pandang pekerja, pekerjaan mempunyai tuntutan kemampuan tertentu dari pekerja

dan sistem imabalan (reward system) yang antara lain mencangkup gaji,

penghargaan, jaminan pekerjaan dan hubungan kerja yang menyenangkan. Teori

ini diperoleh dari penelitian Minnesota yang didasari oleh konsep kesesuaian

antara pekerja dengan lingkungan kerja, yakni suatu kondisi yang menunjukkan

adanya hubungan yang harmonis, timbal balik dan saling mengisi antara pekerja

dan lingkungannya. Kesesuaian karyawan dengan lingkungan pada dasarnya

tergantung antara kebutuhan dan sistem imbalan dari perusahaan. Jadi bila pekerja

mengalami kesesuaian antara kebutuhan dengan sistem imbalan yang diberikan

(36)

13

Weiss, Dawis, England, Lofquist, (Wexley & Yulk, 1984),

mengemukakan secara terperinci mengenai 20 aspek yang berhubungan dengan

kepuasan kerja manajer dalam suatu perusahaan. Kepuasan berhubungan dengan

sejauhmana aspek-aspek yang ada pada pekerjaan tersebut dapat memenuhi

kebutuhannya. Aspek tersebut yaitu aspek pelayanan sosial (Sosial Service) yaitu

kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Aspek kreativitas

(Creativiti) yaitu kesempatan untuk mencoba metoda miliknya sendiri dalam

melaksanakan tugas. Aspek-aspek moral (Moral Value) yaitu kesempatan untuk

melakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan paham yang dianut. Aspek

kemandirian (Independence) yaitu kesempatan untuk bekerja sendiri dalam

melakukan pekerjaanya. Aspek variasi (Variety) yaitu kesempatan untuk

melakukan sesuatu yang berbeda dari waktu ke waktu. Aspek otoritas (Authority)

yaitu kesempatan untuk memberitahu bawahan tentang apa yang harus dilakukan.

Aspek penggunaan kemampuan (Ability utilization) yaitu kesempatan untuk

melakukan sesuatu dengan memanfaatkan kemampuan yang dimiliki. Aspek

status sosial (Social Status) yaitu kesempatan untuk menjadi seseorang dalam

masyarakat. Aspek kebijaksanaan perusahaan (Company Policies and Practices)

yaitu cara kebijakan perusahaan diterapkan pada pekerjaan. Aspek hubungan

dengan atasan (Supervision-human Relation) yaitu cara atasan memimpin dan

mengatur anak buahnya. Aspek keamanan (Security) yaitu cara kerja dapat

menjamin adanya kemantapan jabatan. Aspek imbalan (Compensation) yaitu

jumlah upah yang diterima karyawan atas pekerjaannya. Aspek kondisi kerja

(37)

14

(Advencement) yaitu kesempatan untuk semakin maju pada pekerjaannya. Aspek

kemampuan teknikal supervisi (Supervision Technical) yaitu kemampuan

sepervisor karyawan dalam mengambil keputusan. Aspek rekan kerja (Co-worker)

yaitu bagaimana hubungan kerja antara rekan kerja. Aspek tanggung jawab

(responsibility) yaitu kesempatan karyawan untuk bertanggungjawab dan

mgnggunakan keputusan sendiri. Aspek pengakuan (Recognition) yaitu pujian

yang diterima karyawan karena melaksanakan pekerjaan dengan baik. Aspek

prestasi (Achievement) yaitu kesempatan untuk mancapai sesuatu yang baik dalam

pekerjaan. Aspek aktivitas (Activity) yaitu kesempatan untuk selalu bekerja atau

sibuk.

Setiap aspek dari 20 macam aspek kepuasan kerja memiliki derajat yang

berbeda-beda pada manajer sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Semakin

banyak kebutuhan manajer dalam aspek-aspek kepuasan kerja yang dirasakan

dapat dipenuhi oleh perusahaan, maka semakin tinggi derajat kepuasan yang

dirasakan. Dan sebaliknya, semakin sedikit kebutuhan manajer dalam aspek-aspek

kepuasan kerja yang dapat terpenuhi oleh perusahaan, maka semakin rendah

kepuasan kerja yang dirasakannya.

Banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, seperti posisi, pangkat

atau golongan, umur, jaminan finansial dan jaminan sosial, serta mutu

pengawasan ( Ghiselli & Brown, dalam Moh. As’ad, 2001;112). Posisi atau

kedudukan dianggap berpengaruh karena umumnya manusia beranggapan bahwa

seseorang yang bekerja pada pekerjaan yang lebih tinggi akan merasa lebih puas

(38)

15

penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut tidak terlalu benar, tetapi justru

perubahan dalam tingkat pekerjaanlah yang mempengaruhi kepuasan kerja

(Ghiselli & Brown, dalam Moh. As’ad,2001;112).

Pangkat atau golongan dianggap mempengaruhi karena pada pekerja yang

mendasarkan pada tingkat atau golongan, pekerjaan tersebut memberikan

kedudukan tertentu pada orang yang menjalankannya, apabila ada kenaikan upah,

maka sedikit banyak akan menganggap sebagai kenaikan pangkat, dan

kebanggaan terhadap kedudukan yang baru itu akan merubah perilaku dan

perasaan dari pekerja tersebut (Ghiselli & Brown, dalam Moh. As’ad, 2001;112).

Dalam usaha menjalankan peranan sebagai manajer, menurut Hersey dan

Blanchard (1988), manajer disyaratkan mempunyai kemampuan dasar, yaitu :

1. Technical Skill

Kemampuan menggunakan pengetahuan, metoda, teknik, dan peralatan

yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas tertentu yang diperoleh dari

pengalaman, pendidikan, dan pelatihan.

2. Human Skill

Kemampuan mengambil keputusan berdasarkan hasil kerja orang lain

(bawahan), termasuk pemahaman tentang motivasi dan penerapan

pimpinan yang efektif.

3. Conceptual Skill

Kemampuan memahami kompleksitas organisasi dan menyesuaikan unit

kerja ke dalam bidang operasional organisasi secara keseluruhan yang

(39)

16

organisasi keseluruhan daripada hanya atas tujuan dari kelompoknya

sendiri.

Jarome Kanter menggolongkan tingkat manajer dalam organisasi

berdasarkan 3 (tiga) fungsi manajeman :

1. Top Management

Posisi individu yang berusaha merumuskan kebijaksanaan,

merencanakan perusahaan, dan ketentuan anggaran belanja yang

diperlukan, dan pengoperasian masing-masing departemen.

2. Middle Management

Berusaha menterjemahkan rumusan-rumusan top management

menjadi sasaran yang lebih rinci, seperti pembukuan penghasilan

biaya, dan keuntungan. Hal tersebut dianalisa dan dimodifikasi

sesuai dengan rencana dan kebijaksanaan sehingga diperoleh

jadwal kerja yang rinci dan tolak ukur bagi operating management.

3. Operating Management

Posisi individu yang berusaha memproduksi barang dan jasa

sebagai sasaran perusahaan untuk memperoleh penghasilan dan

keuntungan. Pelaksanaan tugas pada tingkatan ini mendukung

pencapaian sasaran dan rencana organisasi secara keseluruhan.

Menurut John A. Pearce II Ph.D dalam bukunya “Management-1989”,

(40)

17

¾ Manajer Puncak (Top Managers),

¾ Manajer Tengah (Middle-level Managers),

¾ Manajer lini pertama (First-Line Managers),

¾ Para Pekerja (Nonmanagerial Employees).

Dr. Anne Scoot Daughtrey dalam bukunya “Contemporary

Supervision-1989”menyebutkan bahwa seorang manajer juga seorang supervisor. Dalam

hirarki ini seorang supervisor ada pada jenjang II dari bawah (Manajer lini

pertama), oleh karena itu ia disebut juga sebagai Manajer lini pertama

(First-Line Managers). Sebagai manajer lini pertama , keatas ia berhubungan dengan

manajer tengah (Middle-level Managers) dan kebawah ia berhubungan dengan

para pekerja (Nonmanagerial Employees). Jika dilihat dari hirarki ini manajer

memiliki tugas dan tanggung jawab dari manajer yang ada diatasnya dan dari

pekerja yang ada dibawahnya.

Umur juga dianggap mempengaruhi kepuasan kerja karena dinyatakan

bahwa ada hubungan antara kepuasan kerja dengan umur karyawan. Umur di

antara 25 tahun sampai 34 tahun dan umur 40 tahun adalah merupakan

umur-umur yang bisa menimbulkan perasaan kurang puas terhadap pekerjaan. Ketika

para karyawan makin bertambah lanjut usianya mereka cenderung lebih puas

dengan pekerjaannya. Ada sejumlah alasan mengenai hal ini, seperti makin

rendahnya harapan dan penyesuaian yang lebih baik dengan situasi kerja karena

telah berpengalaman dengan situasi tersebut. Sebaliknya karyawan yang lebih

(41)

18

penyesuaian dan berbagai sebab lain ( Ghiselli & Brown, dalam Moh. As’ad,

2001;112 ).

Berdasarkan uraian di atas, secara sistematis bagan kerangka pikir dari

penelitian ini dapat diturunkan sebagai berikut :

Manajer

Kebutuhan

Terpenuhi

Kepuasan Kerja

pelayanan sosial (Social service) kreativitas (Creativity)

nilai-nilai moral (Morale values) kemandirian (Independence) variasi (Variety)

otoritas (Authority)

penggunaan kemampuan (Ability utilization)

status sosial (Social Status) kebijaksanaan perusahaan (Company Policies and Practices) hubungan dengan atasan

(Supervision-human Relation) keamanan (Security)

imbalan (Compensation)

kondisi kerja (Working Condition) kemahiran (Advencement) kemampuan teknikal supervisi (Supervision Technical)

terpenuhi Tidak puas

(42)

19

1.6 ASUMSI

Kepuasan kerja yang dirasa manajer berbeda-beda tergantung kebutuhan

masing-masing dan sejauhmana lingkungan memenuhinya.

Semakin banyak kebutuhan manajer dalam aspek-aspek kepuasan kerja

yang dirasa telah dipenuhi oleh perusahaan, maka semakin tinggi tingkat kepuasan

yang dirasakan manajer tersebut.

Semakin sedikit kebutuhan manajer dalam aspek-aspek kepuasan kerja

yang dirasa telah dipenuhi oleh perusahaan, maka semakin rendah tingkat

(43)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai kepuasan kerja yang dilakukan

pada Manajer PT.”X” , dapat disimpulkan bahwa :

1. Terdapat 22 orang manajer (67%) memiliki tingkat kepuasan kerja yang

tinggi. Pada aspek Ability Utility yaitu sebanyak 20 orang (91%). Aspek ini

dirasa sebagai sumber kepuasan kerja bagi manajer karena mendapatkan

kesempatan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan keahlian yang

dimilikinya dan mengembangkan keahliannya tersebut.

2. Terdapat 11 orang manajer (33%) memiliki tingkat kepuasan kerja yang

rendah Ketidakpuasan kerja yang dihayati pada aspek Achievement yaitu

sebanyak 11 orang (100%) ini dirasa perusahaan tidak memberi kesempatan

manajer untuk memenuhi kebutuhan untuk berprestasi.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti menyarankan sebagai berikut :

1. Saran bagi penelitian lanjutan :

• Jika ada peneliti lain yang mengambil variabel yang sama maka

hendaknya lebih memperhatikan kesesuaian antara alat ukur dan data

penunjang dengan keadaan sampel penelitian. Dengan memperhatikan

(44)

79

faktor-faktor yang muncul sebagai indikator. Maka dengan demikian

karakteristik dari penelitian akan terlihat berbeda sesuai dengan

keadaan tempat pengambilan data.

• Untuk penelitian selanjutnya dapat melakukan suatu penelitian dengan

menggunakan penelitian korelational dengan variabel kondisi kerja

atau iklim kerja dan produktivitas, sehingga dapat diketahui dengan

jelas hubungan antara derajat kepuasan dengan perilaku kerjanya.

• Untuk memperoleh gambaran lengkap tentang kepuasan kerja maka

peneliti menyarankan agar penelitian selanjutnya dapat lebih

memperhatikan juga aspek-aspek yang berhubungan subyek penelitian,

seperti motivasi, latar belakang keluarga dan faktor-faktor psikologis

seperti stres dan kecemasan.

2. Saran Praktis :

• Bagi perusahaan agar terus memelihara dan meningkatkan kepuasan

kerja yang sudah dihayati para manajer dengan lebih memperhatikan

perbaikan kondisi-kondisi yang masih dianggap kurang seperti kondisi

kerja, perbaikan sistem reward yang sesuai dengan hasil kerja dan

membuka kesempatan bagi manajer untuk meluangkan waktu

bersama, misalnya lewat rekreasi.

Ketidakpuasan yang dirasakan manajer sebaiknya lebih diperhatikan

dengan mempertimbangkan sebab-sebab yang mendasari sehingga bisa

(45)

80

yang dapat dilakukan misalnya lewat training, konseling, dan job

evaluation.

Bagi para manajer hendaknya tetap mempertahankan kepuasan

kerjanya sehingga kestabilan kerja yang sudah ada tetap terjaga.

Bagi para manajer, hendaknya ketidakpuasan yang dirasakan lebih di

komunikasikan secara terbuka dengan pihak perusahaan. Perusahaan

dan para manajer bisa menemukan solusi bersama sehingga

(46)

DAFTAR PUSTAKA

As’ad.S.U.,Moh. 1995. Psikologi Industri. Edisi Ke-4, Jogyakarta: Liberty.

Drs. Ino Yuwono MA. 2005. Psikologi Industri dan Organisasi. Surabaya: Fakultas Psikologi Airlangga.

Davis, Keith & William B. Werther, JR. 1967. Human Resources and Personnel Management. Third Edition.

Hurlock, B. Elizabeth. 1997. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi Lima. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Ivancevich, John & Michael T. Matteson.1992. Organizational Behavior and Management. Third Edition. Boston : Richard D. Irwin, Inc.

Robins, Stephen P. 1996. Organizational Behavior. Seventh Edition. San Diego State University: Prentice-Hall International,Inc.

Siegel, Sidney. 1994. Statistik non Parametrik, Jakarta: PT Gramedia.

Singarimbun, Masri & Effendi, Sofian. 1995. Metoda Penelitian Survai. Edisi Revisi 1989. Jakarta: PT. Gramedia.

Wahyono, Teguh. 2006. Analisis Data Statistik. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Referensi

Dokumen terkait

Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “

: Pada awalnya suami saya, pak pr, tidak tahu tapi kemudian ia mengetahuinya, dan marah sekali, sampai hubungan kami menjadi tidak baik, ia sering keluar rumah, bahkan dengan

[r]

medial da r lantai pada tumor sinus maksila), kadang-kadang dengan visus masih bai<, Walaupun belum ada invasi ke intra orbita dan nervus Optikus,. namun

Konsumen yang memiliki citra yang positif terhadap suatu merek akan lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian. Desain penelitian manajemen

Hasil analisis kondisi kelas X IPS 2 yang diajar oleh praktikan, sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran. Berhubung kegiatan PPL inihanya berlangsug hanya satu bulan,

Penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan asap cair tempurung kelapa ( Cocos nucifera Linn ) dan lama penyimpanan beserta interaksinya dalam mempertahankan

PUKAT CINCIN PEKALONGAN DALAM KERANGKA/. KEBIJAKAN PERIKANAN TANGKAP DI LAUT