• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MODEL PERKULIAHAN KATABOLISME KARBOHIDRAT BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF CALON GURU BIOLOGI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN MODEL PERKULIAHAN KATABOLISME KARBOHIDRAT BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF CALON GURU BIOLOGI."

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MODEL PERKULIAHAN KATABOLISME

KARBOHIDRAT BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF

UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP

DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF

CALON GURU BIOLOGI

Disertasi

Diajukan untuk memenuhi Sebagian dari

Syarat untuk Memperoleh Gelar Doktor Kependidikan

dalam Bidang Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam

Oleh

Hafnati Rahmatan

NIM 0908776

SEKOLAH PASCASARJANA

(2)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PANITIA DISERTASI

Promotor Merangkap Ketua

Prof. Dr. Liliasari, M.Pd.

Ko-Promotor

Prof. Dr. Sri Redjeki, M.Pd.

Anggota

(3)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi yang berjudul “Pengembangan

Model Perkuliahan Katabolisme Karbohidrat Berbasis Multimedia Interaktif

untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif

Calon Guru Biologi” ini beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara

yang tidak sesuai dengan etika ilmu yang berlaku dalam masyarakat keilmuan.

Atas pernyataaan tersebut, saya siap menanggung resiko yang dijatuhkan kepada

saya apabila di kemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika

keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap karya saya.

Bandung, Januari 2013

Yang Membuat Pernyataan,

(4)

PENGEMBANGAN MODEL PERKULIAHAN KATABOLISME KARBOHIDRAT BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF

UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF

CALON GURU BIOLOGI Abstrak

(5)

DEVELOPMENT OF INTERACTIVE MULTIMEDIA-BASED CARBOHYDRATE CATABOLISM LEARNING MODEL TO IMPROVE

CONCEPT MASTERY AND CREATIVE THINKING SKILL OF PROSPECTIVE BIOLOGY TEACHER

Abstract

(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSEMBAHAN ……… iii

PERNYATAAN ………..……….. iv

ABSTRAK ……… v

KATA PENGANTAR ……….. vii

UCAPAN TERIMAKASIH ………. viii

DAFTAR ISI ………. xi

BAB II MUTLTIMEDIA INTERAKTIF, PENGUASAAN KONSEP KATABOLISME KARBOHIDRAT DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF A. Pembelajaran Katabolisme Karbohidrat Berbasis Multimedia Interaktif ……… 15

B. Teori Belajar dalam Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif ……… 22

C. Keterampilan Berpikir Kreatif dalam Pembelajaran …………. 29

D. Studi Pendahuluan yang Relevan ………. 41

(7)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ……… 62

1. Perancangan dan Pengembangan Model ………. 62

a. Materi yang Sulit pada Perkuliahan Katabolisme Karbohidrat ………. 62

b. Multimedia Interaktif untuk Perkuliahan Katabolisme Karbohidrat ……….. 66

2. Uji Coba dan Perbaikan Model ……… 73

a. Validasi dan Tanggapan Mahasiswa terhadap Model dan Soal yang Dikembangkan ……… 73

b. Evaluasi Soal yang Representatif ……… 78

3. Uji Implementasi Model ………... 81

a. Pengelompokan Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol …. 81 b. Keefektifan Model Pembelajaran yang Dikembangkan Berdasarkan Skor Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif (KBK) Secara Keseluruhan …………... 81

c. Keefektifan Model Pembelajaran yang Dikembangkan Berdasarkan Skor Penguasaan Konsep ……… 84

d. Keefektifan Model Pembelajaran yang Dikembangkan Berdasarkan Skor Indiktor Keterampilan Berpikir Kreatif (KBK) ………. 90

e. Kemunculan Indikator Keterampilan Berpikir Kreatif (KBK) pada Topik Katabolisme Karbohidrat pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ……… 96

f. Tanggapan Mahasiswa terhadap MPK2BMI …………... 104

g. Tanggapan Dosen terhadap MPK2BMI ……….. 107

B. Pembahasan ……….. 108

1. Karakteristik MPK2BMI ………... 108

2. Pengaruh MPK2BMI terhadap Penguasaan Konsep Katabolisme Karbohidrat ………. 110

3. Pengaruh MPK2BMI terhadap Keterampilan Berpikir Kreatif pada Konsep Katabolisme Karbohidrat …………... 114

4. Tanggapan Mahasiswa terhadap Impelementasi MPK2BMI 117 5. Tanggapan Dosen terhadap Implementasi MPK2BMI …… 119

6. Keunggulan dan Kendala terhadap Implementasi MPK2BMI ……… 120

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ……… 123

B. Saran ……….. 124

DAFTAR PUSTAKA ……….. 125

LAMPIRAN-LAMPIRAN ………... 132

(8)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat

menuntut perubahan cara dan strategi guru dalam mengajar. Guru dituntut

membimbing siswa dalam hal mencari, mengolah dan mengembangkan data dan

informasi secara mandiri. Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkan kualitas

pembelajaran, peran guru yang semula sebagai pusat informasi (teacher centered)

perlu diubah menjadi pemfasilitas, penengah, dan pembimbing yang memberikan

kondisi yang kondusif untuk kontruksi pengetahuan (Carin, 1997; Usman, 2011).

Guru profesional dituntut merancang dan mengelola proses pembelajaran

sebagai kunci utama suksesnya pembelajaran sains untuk memenuhi tuntutan

kurikulum. Guru menyediakan lingkungan belajar, memberikan kebebasan agar

siswa belajar dan berkembang sendiri, dan mewujudkan rasa ingin tahunya.

Dengan demikian, siswa diharapkan mampu mengembangkan potensi diri

masing-masing, mengembangkan kreativitas, dan mendorong adanya penemuan

keilmuwan dan teknologi yang inovatif sehingga para siswa mampu bersaing

dalam masyarakat global (Kunandar, 2007; Sukmadinata, 2010).

Persaingan yang terjadi pada era globalisasi menuntut pengembangan

kualitas sumber daya manusia yang demikian mendesak. Pendidikan adalah salah

satu hal penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Hal ini merupakan

tantangan bagi pemerintah dan unsur-unsur terkait dalam bidang pendidikan.

(9)

berperan dalam menghasilkan tenaga kependidikan/calon guru. LPTK turut

bertanggung jawab dan harus terpanggil dalam menghadapi kenyataan, harapan,

dan tantangan yang ada. Dosen bertugas sebagai staf pengajar LPTK dan

berperan sebagai pendidik calon guru. Dosen mengajarkan materi perkuliahan pun

harus berkualitas tinggi agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang

berkualitas.

Berkaitan dengan fungsi sebagai pendidik calon guru, LPTK bertugas

membekali pengetahuan dan membekali kemampuan pedagogik yang berkaitan

dengan pembelajaran biologi sebagai salah satu bagian dari sains. Selain itu,

calon guru biologi juga harus dibekali berbagai keterampilan berpikir tingkat

tinggi sebagai bekal dalam mengembangkan profesinya. Hal ini sesuai dengan

tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pada Standar

Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) tertera bahwa kelulusan

Sekolah Menengah Atas dan sederajat adalah lulusannya antara lain mampu

berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif dalam mengambil keputusan (Depdiknas,

2006). Berarti pembelajaran yang dilaksanakan di jenjang Sekolah Menengah

Atas harus dapat membekali keterampilan berpikir.

Biokimia merupakan salah satu aspek kajian dalam bidang Biologi yang

dapat dijadikan wahana untuk membekali pengetahuan, keterampilan, sikap, dan

nilai-nilai ilmiah peserta didik/calon guru dalam pembentukan pengetahuannya.

Hasil analisis silabus Biokimia pada beberapa LPTK menunjukkan tujuan

perkuliahan biokimia hanya menekankan pada aspek pemahaman konsep

(10)

diperhatikan. Begitu juga dengan pengalaman penulis dalam mengajar mata

kuliah Biokimia selama ± 11 tahun, strategi pembelajaran melalui penjelasan

atribut konsep dengan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar belum

memberi hasil yang memuaskan. Hasil belajar yang dicapai hanya pada

penguasaan konsep-konsep terdefinisi, sedangkan kemampuan memahami konsep

abstrak dan hubungan antar konsep sulit dicapai.

Salah satu topik kajian dalam biokimia adalah Katabolisme Karbohidrat,

meliputi subtopik struktur karbohidrat, glikolisis, dekarboksilasi oksidatif piruvat,

siklus Krebs dan fosforilasi oksidatif. Topik Katabolisme Karbohidrat penting

diajarkan karena topik ini merupakan topik yang mendasari untuk mempelajari

materi lanjutan yang berhubungan dengan reaksi-reaksi kimia pada makhluk

hidup. Hasil análisis silabus Biokimia pada jurusan/program studi pendidikan

Biologi pada delapan perguruan tinggi/universitas di dalam dan di luar negeri

menunjukkan bahwa delapan perguruan tinggi atau universitas tersebut

mengajarkan topik Katabolisme Karbohidrat. Topik katabolisme karbohidrat

diajarkan pada semua jurusan/program studi pendidikan Biologi di universitas

yang terdapat di Indonesia dan di luar negeri (Tabel 1.1). Hal ini mengindikasikan

bahwa topik katabolisme karbohidrat penting untuk diajarkan agar mahasiswa

mudah memahami materi lanjutan terkait topik katabolisme karbohidrat. Lebih

lanjut, hasil penelitian mengenai tingkat kesulitan materi terhadap mahasiswa

Pendidikan Biologi, di salah satu LPTK negeri, di Banda Aceh menunjukkan

bahwa materi ajar katabolisme karbohidrat lebih sulit dipahami (Rahmatan, 2011).

(11)

perlu dilakukan agar diperoleh cara yang tepat untuk materi tersebut agar mudah

dipahami.

Tabel 1.1. Topik Katabolisme Karbohidrat yang Diajarkan pada Delapan Perguruan Tinggi

Materi ajar katabolisme karbohidrat sulit dipahami karena pada topik ini

banyak dipaparkan jalur reaksi kimia yang sangat kompleks. Disamping itu,

tahapan-tahapan dalam setiap jalur reaksi sulit untuk dimengerti karena

melibatkan banyak struktur molekul metabolit, enzim, koenzim dan kofaktor.

Pada topik ini kaitan antara satu tahapan dan tahapan reaksi lain diajarkan secara

terpisah dalam waktu pembelajarannya, dan setiap tahapan reaksi kimia baik pada

anabolisme maupun pada katabolisme seolah-olah terpisah satu sama lain,

(12)

kesatuan yang saling berhubungan. Sebagai contoh adalah reaksi respirasi

(katabolisme) dan fotosintesis (anabolisme). Keduanya merupakan reaksi yang

tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan saling berhubungan. Materi respirasi

dan fotosintesis merupakan materi yang mendasari untuk mempelajari materi ajar

lain seperti Fisiologi Tumbuhan, Fisiologi Hewan, Genetika, Mikrobiologi,

Bioteknologi, Ilmu Gizi dan Kesehatan, Pertanian, dan Kehutanan. Agar materi

ajar katabolisme karbohidrat dapat lebih mudah dipahami, model pembelajaran

untuk pengajaran katabolisme karbohidrat perlu dibuat.

Pada penelitian ini, model pembelajaran berbasis multimedia interaktif

dalam bentuk model latihan-dan-praktik untuk materi ajar katabolisme

karbohidrat dibuat, untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih kongkret

melalui penyediaan latihan-latihan soal dan pengujian penampilan mahasiswa

dalam menyelesaikan latihan soal. Tahapan model pembelajaran berbasis

multimedia interaktif dengan model latihan-dan-praktik meliputi (1), penyajian

masalah-masalah dalam bentuk latihan soal; (2), pengerjaan latihan soal; (3),

pengeevaluasian kinerja mahasiswa (jika mahasiswa menjawab dengan benar

maka mereka akan lanjut pada soal berikutnya; sebaliknya jika mahasiswa salah

menjawab, maka tersedia fasilitas penjelasan dengan bantuan tautan “materi”

yang terkait sehingga mahasiwa dapat memperbaiki jawaban; dan (4), perekam

data kinerja mahasiswa (Nandi, 2006).

Pemanfaatan multimedia interaktif sebagai upaya pengembangan alternatif

dalam proses pembelajaran biokimia perlu dipersiapkan dengan baik. Hal ini

(13)

Mengenai manfaat multimedia interaktif dalam pembelajaran, Waryanto (2008)

menjelaskan bahwa (1) multimedia interaktif dapat digunakan sebagai salah satu

unsur pembelajaran di kelas; (2) multimedia interaktif dapat digunakan sebagai

materi pembelajaran mandiri; (3) multimedia interaktif digunakan sebagai media

di dalam pembelajaran. Terkait dengan peningkatan mutu perkuliahan, Sarwiko

(2011) mengemukakan bahwa multimedia interaktif menyediakan peluang bagi

pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehingga dapat memberikan

hasil yang maksimal untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Penelitian mengenai pemanfaatan multimedia interaktif untuk

meningkatkan pemahaman konsep bagi mahasiswa telah dilakukan oleh beberapa

peneliti (Meir et al., 2005; Roberts et al., 2005; Ouyang et al., 2007). Penelitian

terhadap miskonsepsi mahasiswa yang dilakukan oleh Meir et al. (2005) bahwa,

diduga miskonsepsi yang terjadi pada mahasiswa disebabkan karena

ketidakmampuannya secara langsung untuk mengamati proses difusi dan osmosis

pada tingkat molekuler. Keterbatasan media dalam penyajian konsep abstrak telah

memotivasi beberapa peneliti untuk menyajikan materi Biokimia dengan

memanfaatkan multimedia interaktif dalam bentuk animasi atau visualisasi seperti

yang dilakukan oleh Roberts et al. (2005) tentang model-model fisik dari

molekuler tiga-dimensi dan program visualisasi komputer, untuk membantu siswa

lebih memahami konsep bersifat abstrak. Ouyang et al. (2007) juga menyajikan

materi perkuliahan biokimia dengan bantuan perangkat multimedia. Secara garis

besar peneliti-peneliti ini menyimpulkan bahwa ada peningkatan pemahaman

(14)

peningkatan hasil rata-rata tes penutup dan tanggapan yang positif terhadap

visualisasi komputer pada tingkat molekuler.

Lebih lanjut, penelitian mengenai peranan komputer dalam pembelajaran

yang dilakukan oleh Griffin (2003) menunjukkan bahwa berbagai pembelajaran

dengan menggunakan komputer yang diterapkan dapat meningkatkan efektivitas

waktu pembelajaran, kreativitas, keahlian dan berpikir kritis peserta didik.

Zacharias dan Anderson (2003) menambahkan bahwa penggunaan simulasi

interaktif membantu mahasiswa memvisualisasikan masalah dan pemecahannya.

Rusman (2009) mengemukakan bahwa secara garis besar, komputer dapat

dimanfaatkan sebagai pembelajaran berbasis komputer. Penggunaan komputer

sebagai mutimedia interaktif dalam menyampaikan bahan pengajaran

memungkinkan untuk melibatkan mahasiswa secara aktif serta memperoleh

umpan balik secara cepat dan akurat. Komputer menjadi populer sebagai media

pengajaran karena komputer memiliki keistimewaan yang tidak dimilki oleh

media pengajaran lain sebelum adanya komputer (Munir, 2005).

Pembelajaran dengan memanfaatkan multimedia interaktif mempunyai

beberapa keistimewaan seperti yang dikemukakan oleh Waryanto (2008), yaitu

(1) terdapat hubungan interaktif: komputer menyebabkan adanya hubungan

antara rangsangan dan tanggapan, menumbuhkan inspirasi dan meningkatkan

minat; (2) dapat dilakukan pengulangan: komputer memberikan fasilitas bagi

pengguna untuk mengulang materi atau bahan pelajaran yang diperlukan,

memperkuat proses pembelajaran dan memperbaiki ingatan, memiliki kebebasan

(15)

peneguhan: media komputer membantu mahasiswa memperoleh umpan balik

terhadap pelajaran secara leluasa dan dapat memacu motivasi pelajar dengan

peneguhan positif yang diberikan apabila mahasiswa memberi jawaban; (4) dapat

dilakukan simulasi dan uji coba: media komputer dapat mensimulasikan atau

menguji coba penyajian bahan pelajaran yang rumit dan teliti.

Kegiatan pembelajaran dilakukan secara tuntas melalui sistem komputer.

Dosen dapat melatih mahasiswa secara terus menerus sampai mencapai

ketuntasan dalam perkuliahan. Kegiatan perkuliahan dapat diberikan melalui

pemberian latihan untuk melatih keterampilan berpikir mahasiswa dalam

berinteraksi dengan materi perkuliahan. Melalui latihan yang terus-menerus dan

dengan cara mengulangi, maka akan tertanam keterampilan berpikir dan

kemudian akan menjadi kebiasaan.

Munandar (2009) menyatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia

jarang melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi terutama keterampilan berpikir

kreatif. Penekanan pembelajaran lebih pada hafalan dan mencari satu jawaban

yang benar terhadap soal-soal yang diberikan. Salah satu alternatif untuk melatih

keterampilan berpikir kreatif yaitu menyediakan suatu model pembelajaran

berbasis multimedia interaktif dengan model latihan-dan-praktik.

Reformasi pendidikan perlu dilakukan terutama dalam perubahan

pedagogi, yaitu pergeseran dari pengajaran tradisional (keterampilan berpikir

tingkat rendah) ke pembelajaran yang menekankan pada keterampilan berpikir

tingkat tinggi khususnya keterampilan berpikir kreatif (Tsapartis dan Zoller,

(16)

keterampilan berpikir kreatif dalam bidang pendidikan hendaknya perlu dipandu

(dibina), dipupuk (dikembangkan dan ditingkatkan) dan dilatih agar siswa mampu

mencari pemecahan yang imajinatif dalam menghadapi kemajuan teknologi

(Munandar, 2009). Menurut Filsaime (2008) ada empat langkah untuk

mengajarkan berpikir kreatif dan meningkatkan daya berpikir kreatif pada siswa

yaitu: 1) menghilangkan penghalang-penghalang dari daya berpikir kreatif pada

siswa; 2) membuat mereka sadar akan asal-usul berpikir kreatif; 3) mengenalkan

dan mempraktikkan strategi-strategi berpikir kreatif; dan 4) menciptakan sebuah

lingkungan kreatif.

Studi untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif telah dilakukan

oleh beberapa peneliti, seperti yang dilakukan oleh De Haan (2009) bahwa

melalui latihan pemecahan masalah dalam pendidikan IPA dapat meningkatkan

keterampilan berpikir kreatif, dan Newman (2004) melakukan penelitian dengan

mengaplikasikan konsep dan teori yang telah dipelajari ke dalam latihan

pemecahan masalah juga dapat meningkatkan keterampilan berpikir kreatif.

Hamza & Griffith (2006) juga melakukan penelitian dengan menjelajahi,

menyelidiki dan mengidentifikasi metode pengajaran yang dilakukan oleh

beberapa guru teladan di dalam ruang kelas dapat mengembangkan pembelajaran

yang berorientasi pada peningkatan keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan

masalah.

Beranjak dari kenyataan tersebut, perbaikan perkuliahan biokimia,

khususnya topik Katabolisme Karbohidrat perlu dilakukan melalui penerapan

(17)

pengetahuannya sendiri, dan melatih keterampilan berpikir kreatif melalui

pembelajaran berbasis multimedia interaktif. Upaya perbaikan tersebut tidak

terlepas dari persiapan dosen mengajar, materi yang diajarkan, strategi

pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan dan cara mahasiswa

belajar. Peran dosen lebih diposisikan untuk membantu, membimbing, dan

mengarahkan mahasiswa dalam membangun keterampilan dan pengetahuannya.

Untuk dapat membekali dan mengembangkan berbagai keterampilan tersebut

diperlukan suatu metode yang tepat dan handal, sehingga proses pembelajaran

calon guru/mahasiswa dapat lebih bermakna (meaningfull learning).

Berdasarkan uraian permasalahan pada latar belakang, perlu dilakukan

suatu penelitian tentang pengembangan model perkuliahan berbasis multimedia

interaktif untuk meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir

kreatif mahasiswa calon guru pada mata kuliah Biokimia, khususnya topik

Katabolisme Karbohidrat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan sebelumnya, maka

permasalahan yang perlu dipecahkan melalui penelitian ini adalah:

“Bagaimanakah pengembangan model perkuliahan berbasis multimedia interaktif

pada mata kuliah Biokimia, khususnya topik Katabolisme Karbohidrat dalam

meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif mahasiswa

(18)

Dari rumusan masalah di atas, disusun beberapa pertanyaan penelitian

untuk menentukan langkah-langkah penelitian agar lebih operasional sebagai

berikut:

1. Bagaimana karakteristik model perkuliahan berbasis multimedia interaktif

pada topik Katabolisme Karbohidrat?

2. Bagaimana penerapan model perkuliahan berbasis multimedia interaktif

dapat meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa pada topik

Katabolisme Karbohidrat?

3. Bagaimana penerapan model perkuliahan berbasis multimedia interaktif

pada topik Katabolisme Karbohidrat dapat meningkatkan keterampilan

berpikir kreatif mahasiswa?

4. Bagaimanakah tanggapan mahasiswa terhadap penerapan model

perkuliahan berbasis multimedia interaktif pada topik Katabolisme

Karbohidrat?

5. Bagaimanakah tanggapan dosen terhadap penerapan model perkuliahan

berbasis multimedia interaktif pada topik Katabolisme Karbohidrat?

6. Bagaimana keunggulan dan keterbatasan penerapan model perkuliahan

berbasis multimedia interaktif pada topik Katabolisme Karbohidrat?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

mengembangkan model perkuliahan berbasis multimedia interaktif pada topik

(19)

D. Manfaat Penelitian

Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini adalah (a) meningkatkan

penguasaan konsep, teori, dan prinsip-prinsip pembekalan calon guru biologi; (b)

meningkatkan keterampilan berpikir kreatif. Manfaat praktis hasil penelitian ini

adalah (a) menyumbangkan satu perangkat model perkuliahan berbasis

multimedia interaktif untuk lembaga pendidikan dan prinsip-prinsip

pengembangan model dapat diadaptasi oleh bidang ilmu lain yang serumpun; (b)

memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam pembelajaran

Katabolisme Karbohidrat berbasis multimedia interaktif sehingga pembelajaran

lebih bermakna.

E. Penjelasan Istilah

Untuk mempermudah dalam memahami desain penelitian ini, maka

dirumuskan beberapa penjelasan istilah sebagai berikut:

1) Model perkuliahan berbasis multimedia interaktif didefinisikan sebagai

pembelajaran yang menggunakan model latihan-dan praktik bersifat

interaktif dengan mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui bantuan

materi yang disediakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir

kreatif (Holmes dan Gardner, 2006; Arends, 2007; Worst, S.J. 2007).

2) Keterampilan berpikir kreatif merupakan suatu proses berpikir seseorang

yang menjadi sensitif terhadap masalah, kekurangan-kekurangan,

kesenjangan informasi, adanya unsur yang hilang, ketidakharmonisan,

mengidentifikasi masalah secara jelas, membuat hipotesis, menguji

(20)

bahkan mendefinisikan ulang masalah dan akhirnya menyimpulkan dan

mengkomunikasikan hasilnya (Torrance, 1976).

3) Materi perkuliahan biokimia yang dikembangkan dalam penelitian ini

terbatas pada topik Katabolisme Karbohidrat. Pemilihan materi ini

berdasarkan pada studi pendahuluan mengenai tingkat kesulitan materi

terhadap mahasiswa Pendidikan Biologi, di suatu LPTK negeri, di Banda

Aceh menunjukkan bahwa materi ajar katabolisme karbohidrat lebih sulit

dipahami karena keabstrakan konsepnya disertai banyak proses reaksi

sehingga perlu divisualisasikan (Rahmatan, 2011b).

F. Sistematika Penulisan

Penulisan disertasi ini dibagi menjadi lima pokok bahasan, dengan rincian

sebagai berikut: Bab I memuat latar belakang, rumusan masalah beserta

pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan penjelasan istilah

dalam peneltian. Pada bagian ini juga ditawarkan alternatif penyelesaian masalah

yang ditemukan. Bab II memuat penjelasan teoritis tentang variabel-variabel

dalam penelitian seperti pembelajaran katabolisme karbohidrat berbasis

mutltimedia interaktif, teori belajar dalam pembelajaran berbasis mutltimedia

interaktif, keterampilan berpikir kreatif dalam pembelajaran, studi pendahuluan

yang relevan, dan deskripsi konsep Katabolisme Karbohidrat. Bab III menjelaskan

metode penelitian yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ditemukan,

termasuk instrumen yang digunakan dan proses pengolahan datanya. Bab IV

(21)

kecenderungan dan temuan-temuan menarik dalam penelitian. Bab V sebagai

penutup, digunakan untuk memaparkan kesimpulan dari temuan yang merupakan

jawaban dari pertanyaan penelitian pada Bab I. Selain itu, rekomendasi diberikan

(22)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Paradigma Penelitian

Paradigma penelitian merupakan pola pikir yang menunjukkan hubungan

antar variabel yang akan diteliti (Gambar 3.1).

(23)

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Tahap uji coba model dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Biologi,

di salah satu LPTK negeri, di Bandung dan tahap implementasi model

dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Biologi, di salah satu LPTK negeri, di

Banda Aceh. Subjek penelitian adalah mahasiswa calon guru Biologi semester

dua program S1 Pendidikan Biologi yang mengikuti mata kuliah Biokimia.

Mahasiswa calon guru Biologi yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 31

orang pada saat uji coba terbatas dan 74 orang pada saat implementasi, terbagi

dalam dua kelas yaitu 37 orang pada kelas eksperimen dan 37 orang pada kelas

kontrol.

C. Disain Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis Penelitian dan Pengembangan Pendidikan

(Educational Research and Development) yang disingkat R & D (Borg and Gall,

1983). Disain penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu: 1) tahap perancangan dan

pengembangan, 2) tahap ujicoba dan perbaikan, 3) tahap implementasi/pengujian

model, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.2.

1. Tahap Perancangan dan Pengembangan Model

Tahap awal atau persiapan untuk perancangan dan pengembangan model

terdiri atas tiga langkah, yaitu: studi kepustakaan, survei lapangan, dan

penyusunan draf awal atau draf program. Studi kepustakaan merupakan kajian

untuk mempelajari konsep-konsep atau teori-teori yang berkenaan dengan produk

atau model yang dikembangkan. Studi kepustakaan dilakukan terhadap

(24)

Karbohidrat, dan analisis indikator keterampilan berpikir kreatif yang disesuaikan

dengan karakteristik materi katabolisme karbohidrat. Analisis dilakukan juga pada

beberapa penelitian yang relevan dengan topik atau model yang dikembangkan.

Analisis Kebutuhan

 Deskripsi hasil,

 Memetakan hasil temuan,  Analisis Kelemahan Studi Kepustakaan:

 Analisis konsep katabolisme karbohidrat  Analisis indikator keterampilan berpikir kreatif  Pembelajaran berbasis multimedia interaktif  Penelitian yang relevan

Tahap Perancangan dan

Pengembangan Model

 Penyusunan draf awal model perkuliahan katabolisme karbohidrat berbasis multimedia interaktif yang dapat memfasilitasi berpikir kreatif meliputi: deskripsi perkuliahan, perangkat lunak dan alat evaluasi (instrumen tes dan non tes)

 Implementasi Model

(25)

Untuk mengumpulkan data berkenaan dengan keterampilan berpikir kreatif dan

pembelajaran berbasis multimedia interaktif dilakukan survei lapangan,

wawancara, studi dokumenter, dan pengamatan terhadap waktu pembelajaran

pada mahasiswa di Program Studi Pendidikan Biologi, di salah satu LPTK negeri,

di Bandung dan Banda Aceh. Berdasarkan hasil studi kepustakaan dan survei

lapangan, draf awal model disusun.

Pada tahap perancangan dan pengembangan model, tujuan umum

perkuliahan ditetapkan dan dilakukan penjabaran ke dalam keberhasilan

mahasiswa calon guru Biologi dalam peningkatan penguasaan konsep dan

keterampilan berpikir kreatif (KBK) melalui perkuliahan katabolisme karbohidrat

berbasis multimedia interaktif. Indikator keterampilan berpikir kreatif (KBK)

terkait topik katabolisme karbohidrat meliputi kelancaran (fluency), keluwesan

(flexibility), kejelasan (elaboration), dan keaslian (originality). Lebih lanjut,

model latihan-dan-praktik yang dikemas dalam perangkat lunak dan instrumen

asesmen meliputi tes pilihan ganda, kuesioner tanggapan dosen dan mahasiswa

dikembangkan.

2. Ujicoba Terbatas dan Perbaikan Model

Model latihan-dan-praktik dan instrumen tes mendapat penimbangan oleh

tiga orang ahli dalam bidang biokimia. Untuk mengetahui tingkat keterbacaan dan

penggunaan perangkat lunak dilakukan uji coba awal terhadap 20 mahasiswa di

Pendidikan Biologi, di salah satu LPTK negeri, di Bandung. Selain itu, untuk

mengetahui keterbacaan instrumen tes dilakukan uji coba terhadap 33 mahasiswa

(26)

penggunaan perangkat lunak serta perangkat instrumen tes dilakukan, dievaluasi

dan direvisi untuk kesempurnaan model dan instrumen tes. Selanjutnya, model

dan instrumen tes tersebut digunakan pada kelas ujicoba terbatas.

Ujicoba terbatas dilakukan terhadap 31 mahasiswa Pendidikan Biologi, di

salah satu LPTK negeri, di Bandung. Disain penelitian pada tahap ujicoba terbatas

adalah disain eksperimen awal (Pre-Experimental Design) menggunakan tes

awal-tes penutup pada satu kelompok (One-Group Pretest-Posttest Design).

Disain ini terdiri dari satu kelompok perlakuan. Pada kelompok tersebut, tes

awal diberikan sebelum perkuliahan katabolisme karbohidrat berbasis multimedia

interaktif dan tes penutup diberikan setelah perkuliahan selesai.

Detail kegiatan yang dilakukan pada ujicoba terbatas ini dapat diuraikan

sebagai berikut. Kegiatan pertama, pemberian arahan mengenai pemanfaatan

multimedia interaktif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dan

menyiapkan fasilitas pelaksanaan uji coba terbatas. Kegiatan kedua, pemberian

tes awal. Tes awal berupa tes keterampilan berpikir kreatif terkait topik

katabolisme karbohidrat. Kegiatan ketiga, pelaksanaan perkuliahan katabolisme

karbohidrat berbasis multimedia interaktif (MPK2BMI) melalui tiga tahap. Tahap

pertama adalah dosen memberikan pengarahan mengenai petunjuk penggunaan

model latihan-dan-praktik dan teknik implementasinya serta penjelasan mengenai

fungsi dari setiap simbol-simbol yang terdapat pada halaman awal slide

pembelajaran. Tahap kedua adalah mahasiswa menyelesaikan pertanyaan pada

setiap slide pembelajaran. Pertanyaan pengarah pada slide tersebut berguna untuk

(27)

karbohidrat. Disamping itu juga, mahasiswa dapat mengkonstruksi sendiri

pengetahuan melalui multimedia interaktif. Tahap ketiga adalah dosen

memberikan penguatan terkait konten pembelajaran. Kegiatan keempat, untuk

mengetahui keterlaksanaan dan hambatan yang dihadapi dalam

mengimplementasikan MPK2BMI, observer melakukan observasi terhadap

proses perkuliahan. Kegiatan kelima, pelaksanaan tes penutup. Tes yang

digunakan pada tes penutup ini sama dengan tes yang digunakan pada tes awal.

Kegiatan keenam, pengedaran angket untuk mengetahui tanggapan mahasiswa

terhadap perkuliahan yang diikuti.

3. Implementasi Model

Untuk melihat efektifitas Model Perkuliahan Katabolisme Karbohidrat

Berbasis Multimedia Interaktif (MPK2BMI), model diimplementasikan. Disain

penelitian pada tahap implementasi model adalah disain eksperimen semu

(Quasi-eksperiment), yaitu disain kelompok kontrol tes awal-tes penutup (Pretest-posttest Control Group Design). Disain ini terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol. Mahasiswa pada kedua kelompok tersebut

dipilih secara acak bertujuan (purposive sampling).

Implementasi model dilakukan terhadap 74 mahasiswa Pendidikan Biologi

angkatan 2011/2012, yang wajib mengikuti perkuliahan biokimia (semester dua),

di salah satu LPTK negeri, di Banda Aceh. Mahasiswa tersebut dikelompokkan

menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen (perkuliahan berbasis

multimedia interaktif) sebanyak 37 mahasiswa dan kelompok kontrol (perkuliahan

(28)

Untuk mengelompokkan mahasiswa pada kelas eksperimen dan pada kelas

kontrol, mahasiswa tersebut diberikan tes awal terlebih dahulu. Perolehan hasil tes

awal diurutkan dari nilai tertinggi sampai terendah. Nomor urut ganjil berada pada

satu kelas dan nomor urut genap pada kelas yang lain. Penentuan kelas

eksperimen dan kelas kontrol dilakukan secara acak. Mahasiswa pada kedua kelas

tersebut diharapkan mempunyai tingkat kemampuan awal yang sama sebelum

perlakuan. Mahasiswa diberikan tes penutup setelah proses pembelajaran berakhir

(Borg & Gall, 1983; Creswell, 1994; Gay, 1996; Sugiyono, 2006). Disain

penelitian yang digunakan pada implementasi model tertera pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Disain Kelompok Kontrol Tes Awal-Tes Penutup dalam Pengujian Efektifitas Model

Kelompok Tes Awal Perlakuan Tes Penutup

Eksperimen

Ket: X1 = Pembelajaran Katabolisme Karbohidrat Berbasis Multimedia Interaktif X2 = Pembelajaran Katabolisme Karbohidrat Melalui Ceramah

O = Tes Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif

Pada tahap implementasi model dilakukan tahapan kegiatan sama seperti

pada tahap uji coba terbatas, akan tetapi terdapat perbedaan pada tujuan

pemberian tes awal. Perolehan nilai tes awal digunakan sebagai nilai mahasiswa

dan sekaligus digunakan untuk pengelompokan mereka pada kelas eksperimen

atau pada kelas kontrol.

Tahap implementasi model dilakukan selama lima kali pertemuan dan tiga

orang dosen Pendidikan Biologi di salah satu LPTK negeri, di Banda Aceh

dilibatkan sebagai observer. Keberadaan observer bertujuan untuk mengamati

(29)

perkuliahan, setiap akhir perkuliahan dilakukan refleksi. Data pada tahap

implementasi dikumpulkan, dianalisis, diinterpretasi dan ditarik kesimpulan.

D. Instrumen Penelitian

Dalam rangka memperoleh data yang lengkap dan demi ketajaman analisis

data, digunakan beberapa instrumen penelitian, yaitu:

1. Tes penguasaan konsep Katabolisme Karbohidrat dan keterampilan berpikir kreatif

Tes penguasaan konsep katabolisme karbohidrat terkait tes keterampilan

berpikir kreatif. Perangkat tes yang dikembangkan adalah tes objektif berupa

pilihan ganda majemuk dengan lima altenatif jawaban. Tes objektif tersebut

diberikan agar semua konsep yang terkandung dalam materi perkuliahan dan

KBK dapat diungkap atau diwakili. Tes ini digunakan untuk mengevaluasi

peningkatan KBK dan penguasaan konsep katabolisme karbohidrat melalui

perkuliahan berbasis multimedia interaktif. Tes awal digunakan untuk melihat

kondisi awal subjek penelitian, homogenitas dan normalitas sampel penelitian.

Penyusunan perangkat tes diawali dengan penyusunan kisi-kisi tes terkait

materi perkuliahan dan indikator KBK. Lebih lanjut, butir-butir tes disusun

berdasarkan kisi-kisi yang telah ditetapkan. Jumlah soal yang dikembangkan

adalah 42 soal. Untuk menganalisis dan menyisihkan soal yang tidak memenuhi

syarat, instrumen tes diuji coba awal pada mahasiswa di salah satu LPTK negeri,

di Bandung. Hasil tes pada uji coba awal dianalisis menggunakan program

Anates versi 4.00, meliputi indeks kesukaran, daya pembeda, validitas, dan

(30)

dipakai jika tidak memenuhi kriteria (kualitasnya rendah). Jumlah soal yang

diperoleh setelah dianalisis adalah 40 soal. Selanjutnya, soal tersebut digunakan

pada uji coba terbatas untuk memperoleh soal yang representatif terkait model

pembelajaran. Soal yang representatif pada uji coba terbatas digunakan pada tahap

implementasi model.

2. Kuesioner

Kuesioner digunakan untuk menjaring tanggapan mahasiswa dan dosen

terhadap pelaksanaan MPK2BMI. Kuesioner ini digunakan untuk mengakses

pendapat mahasiswa tentang perkuliahan yang dialaminya. Kuesioner ini

dimaksudkan untuk menjaring informasi dari mahasiswa dan dosen tentang

strategi pembelajaran di dalam perkuliahan yang lebih mendetail.

3. Lembar Validasi Ahli

Instrumen ini digunakan untuk memperoleh penilaian dan saran/masukan

ahli tentang MPK2BMI yang dibuat.

4. Catatan Lapangan

Instrumen ini merupakan catatan lapangan tentang keterlaksanaan,

faktor-faktor pendukung dan kendala-kendala serta keunggulan dan keterbatasan model

selama implementasi model. Catatan lapangan adalah data yang direkam peneliti

atau observer dalam perkuliahan sehari-hari, atau data yang tidak terekam pada

kuesioner dan tes. Catatan ini digunakan untuk perbaikan atau menjadi informasi

(31)

E. Proses Pengumpulan Data

Data penelitian merupakan kemampuan mahasiswa sebelum dan sesudah

mengikuti perkuliahan katabolisme karbohidrat pada kelompok perlakuan dan

kelompok kontrol. Kemampuan tersebut adalah penguasaan konsep katabolisme

karbohidrat dan KBK, tanggapan mahasiswa, dan tanggapan dosen terhadap

MPK2BMI. Sejumlah kemampuan yang dijadikan sebagai data penelitian dan

teknik pengambilan beserta instrumennya disajikan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Data dan Teknik Pengumpulan Data Hasil Penelitian

No Jenis data Tujuan pengumpulan

data

F. Prosedur dan Teknik Pengolahan Data

Untuk keperluan pengujian efektivitas MPK2BMI dan untuk menjawab

pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan, data dianalisis dan dibandingkan

(32)

penguasaan konsep dan KBK adalah skor tes awal (kemampuan awal) dan skor

tes penutup (kemampuan akhir). Data skor tes awal dan tes penutup tersebut

dihitung untuk mengetahui peningkatan kemampuan mahasiswa terkait konsep

dan KBK. Untuk menghindari kesalahan dalam menginterpretasikan perolehan

peningkatan kemampuan masing-masing mahasiswa, uji Normalized-Gain

(N-Gain) atau normalisasi gain dilakukan. Skor gain ternormalisasi dijadikan sebagai

data untuk mengukur pengaruh implementasi model perkuliahan yang

dikembangkan.

Untuk perhitungan gain ternormalisasi (N-Gain) dan tingkat kategorinya

digunakan rumus dari Hake (1999), yang ditulis sebagai berikut.

Skor tes penutup – Skor tes awal N-Gain =

Skor maksimal – Skor tes awal

Dengan tingkat pencapaian skor gain berdasarkan tiga kategori, yaitu:

Pengujian perbedaan data tes awal dan tes penutup pada tahap uji coba

terbatas dilakukan statistik nonparametrik menggunakan uji Wilcoxon. Perbedaan

data kelompok kontrol dan eksperimen pada tahap implementasi model dilakukan

statistik parametrik menggunakan uji t sampel bebas dan statistik nonparametrik

menggunakan uji dua sampel bebas yaitu uji Mann-Whitney. Kedua uji tersebut

digunakan terkait pada data berdistribusi normal atau tidak berdistribus normal skor tinggi : g > 0,7

skor sedang : 0,3 < g < 0,7

(33)

ditemukan pada data penentuan pengelompokan kelas eksperimen dan kelas

kontrol dan pada data tes penguasaan subtopik glikolisis pada kelas eksperimen

dan kelas kontrol. Data yang tidak berdistribusi normal ditemukan pada data uji

coba terbatas, data tes penguasaan konsep dan KBK keseluruhan, semua data tes

tiap indikator KBK dan data tes penguasaan tiap subtopik katabolisme karbohidrat

pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, kecuali pada subtopik glikolisis.

Uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji

homogenitas menggunakan uji Lavene. Keseluruhan uji (uji normalitas, uji

homogenitas, uji t, uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney) menggunakan perangkat

lunak Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 16,0. Pengambilan

keputusan uji t, uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney didasarkan pada

perbandingan nilai probabilitas/siginifkansi (sig) dengan taraf keyakinan 95% (p

< 0,05).

Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas

kontrol pada tahap implementasi, analisis lebih lanjut dilakukan melalui kekuatan

dampak/d (effect size) untuk melihat kekuatan dampak penerapan model terkait

penguasaan konsep dan KBK. Untuk perhitungan kekuatan dampak (effect size)

dan tingkat kategorinya digunakan rumus dari Morgan et al. (2004), yang ditulis

sebagai berikut:

Meksperimen– Mkontrol

d =

½ (SDeksperimen– SDkontrol)

Dengan tingkat pencapaian skor kekuatan dampak (d) berdasarkan empat

(34)

Data yang diperoleh melalui angket dianalisis dalam bentuk skala

kualitatif dan dikonversi menjadi skala kuantitatif. Adapun urutan pengolahan

datanya adalah 1) melakukan tabulasi dan pengelompokan data, 2) memberikan

kode pada tanggapan responden dengan mengacu pada skala Likert (Arikunto,

2006) dengan ketentuan sebagai berikut:

Tabel 3.3. Kriteria Skala Likert

Kategori Skor setiap pernyataan Positif Negatif

Sangat setuju 5 1

Setuju 4 2

Kurang setuju 3 3

Tidak setuju 2 4

Sangat tidak setuju 1 5

dan 3) mengolah data menggunakan statistik deskriptif dan menghitung rata-rata

tanggapan untuk setiap pertanyaan yang dinyatakan dalam persentase untuk setiap

tanggapan.

skor sangat tinggi : d ≥ 0,90

skor tinggi : 0,70 ≤ d < 0,90

skor sedang : 0,40 ≤ d < 0,70

(35)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang pengembangan model

perkuliahan katabolisme karbohidrat berbasis multimedia interaktif untuk

meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa dan keterampilan berpikir kreatif

(KBK) calon guru biologi, dapat disimpulkan bahwa:

1. MPK2BMI memiliki karakteristik berpusat pada mahasiswa dan perkuliahan

menggunakan perangkat lunak interaktif yang berisi pertanyaan-pertanyaan

dalam bentuk latihan-dan-praktik terkait katabolisme karbohidrat dan

indikator KBK.

2. MPK2BMI efektif meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa dengan

kekuatan dampak yang sangat tinggi dan dengan N-Gain dalam kategori

tinggi (72%). N-Gain tertinggi pada sub topik fosforilasi oksidatif dengan

kategori tinggi (83%) dan terendah pada sub topik glikolisis dengan kategori

sedang (62%).

3. MPK2BMI efektif meningkatkan KBK dengan kekuatan dampak yang sangat

tinggi dan dengan N-Gain dalam kategori tinggi (72%). N-Gain tertinggi pada

indikator KBK kelancaran dengan kategori tinggi (80%) dan terendah pada

indikator KBK kejelasan dengan kategori sedang (60%).

4. Menurut mahasiswa, MPK2BMI membantu memahami konsep-konsep

biokimia, menghadirkan suasana baru dalam belajar, merangsang berpikir

kreatif, dan memotivasi mahasiswa mempersiapkan diri sebelum mengikuti

(36)

5. Menurut dosen, isi, penyajian dan cara menggunakan perangkat lunak

sudah sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran biokimia.

6. a. Keunggulan MPK2BMI adalah ‘memaksa’ mahasiswa menyiapkan diri

sebelum mengikuti perkuliahan, belajar secara aktif selama pembelajaran,

dan dapat mengulang kembali setelah perkuliahan.

b. Terdapat dua kelamahan utama pada perangkat lunak. (1) Penekanan tak

sengaja pada tombol pengaturan ulang memaksa mahasiswa

mengulangi kegiatan belajar dari awal. (2) Jawaban mahasiswa dianggap

benar oleh program hanya jika sama persis secara kata perkata

dengan kunci yang sudah diprogramkan.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang pengembangan

MPK2BMI untuk meningkatkan KBK calon guru biologi, maka dapat disarankan

beberapa hal sebagai berikut:

1. Untuk menghindari mahasiswa mengulang program karena salah mengatur

ulang, program perlu diperbaiki dengan menampilkan peringatan tentang

akibat jika tombol pengaturan ulang tertekan.

2. Program perlu disempurnakan dengan memberikan kata kunci untuk

mengenali jawaban mahasiswa.

3. MPK2BMI dapat diperluas pada matakuliah lain yang mempunyai

karaktristik konsep abstrak ataupun konsep yang menyatakan proses.

4. Perlu dipertimbangkan untuk kemungkinan akses model latihan-dan-praktik

(37)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Suleiman, N. (2009). “Cross Cultural Studies and Creative Thinking

Abilities”. Journal of Educational and Psycologic Science. 1, (1), 42-92.

Arends, R.I. (2007). Learning to Teach (Seventh ed.). New York: McGraw Hill Companies.

Arikunto, S. (2006). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Ausubel, D.P. (1960). “The Use of Advance Organizers in The Learning And Retention of Meaningful Verbal Material”. Journal of Educational

Psychology. 51, 267-272.

---. (1968). Educational Psychology: A Cognitive View. New York: Holt, Rinehart, and Winston.

Awang, H. and Ramly, I. (2008). “Creative Thinking Skill Approach Through

Problem-Based Learning: Pedagogy”. InternationalJournal of Human and Social Sciences. 3, (1), 18-23.

Baer, J. (1993). Craetivity and Divergent Thinking: A Task Spesific Approach. London: Lawrence Elbaum Associates Publisher.

Borg, W.R. and Gall, M.D. (1983). Educational Research: An Introduction (Fourth ed.). New York: Longman, Inc.

Brunner, J.S. 1960. The Process of Education. Cambridge: Harvard University Press.

Burke, K.A., Greenbowe, T.J., and Windschitl, M.A. (1998). “Developing and Using Conceptual Computer Animations for chemistry Instruction”. J. Chem. Educ. 75, (12), 1658-1661.

Carin, A. A. (1997). Teaching Modern Science. New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Costa, A. (1988). Developing Minds: A Resource Book for Teaching Thinking. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.

Creswell, J.W. (1994). Research Design: Qualitative and Quantitative

Approaches. California: Sage Publications, Inc.

Depdiknas. (2006). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Biologi Sekolah

Menengah Atas dan Madrasah Aliah. Jakarta : Direktorat Jenderal

(38)

De Haan, R. L. (2009). “Teaching Cretivity and Inventive Problem Solving in Science”. CBE-Life Sccience Education. 8, 172-181.

Falvo, D.A. (2008). “Animation and Simulations for Teaching and Learning

Molecular Chemistry”. International Journal of Technology in Teaching and Learning. 4, (1), 68-71.

Fensham, P.J., Gunstone, R.F., and White, R.T. (1994). The Content Of Science:

A Constructivist Approach to its Teaching And Learning.Washington DC.:

The Falmer Press.

Filsaime. (2008). Menguak Rahasia Berpikir Kritis dan Kreatif. Jakarta: Prestasi Pustakakarya

Fisher. (1990). Thinking Skills. [Online]. Tersedia: http://www.brokes.ac.uk/schools/education/rescon.htm [26 Februari 2010]

Foulds, B. (1997). “The Effect of Intervention Strategies on The Creative Thinking Skills of Pre-Service Teachers”. Australian Journal of

Teacher Education. 22, (1), 24-33.

Friedel, C. R. and Rudd, R. D. (2006). “Creative Thinking and Learning Styles in

Undergraduate Agriculture Students”. Journal of Agricultural Education.

47, (4), 102-111.

Gay, L.R. (1996). Educational Research: Competencies for Analysis and

Application. New Jersey: Prentice Hall Inc.

Griffin, J.D. (2003). “Technology in the Teaching of Neuroscience: Enhanced Student Learning”. Journal Advances in Physiology Education. 27,

146-155.

Hake, R.R. (1999). Analyzing Change/gain Scores. AERA-D-American

Educational Research Associations’s Division D, Measurement and

Research Methodology. [Online]. Tersedia:

http://lists.asu.edu/cgi-bin/wa?A2=ind9903danL=aera-ddanP=R6855. [10 Oktober 2010].

Haladyna. (1997). Writing Test Items to Evaluate Higher Order Thinking. Arizona: Ally Bacon A Viacom Company.

Hamza, M.K. and Griffith, K.G. (2006). “Fostering Problem Solving and Creative Thinking in The Classroom: Cultivating a Creative Mind”. National

(39)

Jacobsen, D.A., Eggen, P. and Kauchak, D. (2009). Methods for Teaching:

Promoting Student Learning in K-12 Classrooms. New Jersey: Pearson

Education.

Johnson, E.B. (2002). Contextual Teaching And Learning: what it is and why it’s

here to stay. California: Corwin Press, Inc.

Jollie, D. (2003). Biochemistry Syllabus. Master of Chemical and Life Sciences,

University of Maryland. [Online]. Tersedia: http//www.clfs.umd.edu/grad/mlfsc/Biochemistry.pdf.[10November2010].

Joyce, B., Weil, M. and Calhoun, E. (2009). Models of Teaching. Canada: Pearson Education, Inc.

Kiswandono, I. (2000). “Berpikir Kreatif Suatu Pendekatan Menuju Berpikir Arsitektural”. Dimensi Teknik Arsitektur. 28, (1), 8-16.

Kozma, R.B. (1991). “Learning with Media”. Review of Education Research. 61,

(2), 179-212.

Kunandar. (2007). Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP). Jakarta: Rajawali Press.

Lawson, A.E. (1980). The Psychology of Teaching for Thinking and Creativity. Ohio:The Ohio State University.

Liliasari. (1997). Pengembangan Model Pembelajaran Materi Subjek untuk Meningkatkan ketrampilan Berpikir Konseptual Tingkat Tinggi Mahasiswa Calon Guru IPA. Laporan Penelitian. Bandung: FMIPA IKIP Bandung.

Lubezki, A., Dori, Y. J. and Zoler, U. (2004). “HOCS-Promoting Assessment of

Students’ Performance on Enviroment-Related Undergraduate Chemistry”.

Chemistry Education Research and Practice. 5, (2), 175-184.

Marzano, R.J. (1993). Dimention of Thinking: A Frame Work for Curriculum and

Instruction. Virginia: Assosiation for Supervision and Curriculum

Development.

Meir, E. et al. (2005). “How Effective are Stimulated Molecular-Level

(40)

Morgan, G.A. et al. (2004). SPSS for Introductory Statistics: Use and

Interpertation (Second ed.). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates

Inc.

Munandar, S.C.U. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Gramedia.

Munandar, S.C.U. (2009). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Munir. (2005). Konsep dan Aplikasi Program Pembelajaran Berbasis Komputer

(Computer Based Interaction). Bandung: P3MP UPI.

Nandi. (2006). “Penggunaan Multimedia Interaktif Dalam Pembelajaran Geografi di Persekolahan”. Jurnal “GEA” Jurusan Pendidikan Geografi. 6, (1), 1-9.

Nelson, D.L. and Cox, M.M. (2008). Lehninger Principles of Biochemistry (Fifth ed.). New York: WH Freeman dan Company.

Newman, C.M. (2004). “Enhancing Creative Thinking In A Case-Based MBA Course”. Journal of College Teaching dan Learning. 1, (3), 27-30.

Norton, M.B. (2006). Effects Of Divergent Teaching Techniques Upon Creative

Thinking Abilities Of Collegiate Students In Agricultural Systems Management Courses. Thesis in Agricultural Education the Graduate Faculty of Texas Tech. University. [Online]. Tersedia:http://dspace.lib.ttu.edu/bitstream/handle/2346/1328/MATTHEW NORTONED. pdf.[1 Maret 2010]

Odom, A.L. and Kelly, P.V. (2001). “Integrating Concept Maping and the Learning Cycle to Teach Diffusion and Osmosis Concepts to High School Biology Students”. Science Education. 85, 615-635.

Ouyang, L., Ou, L., and Zhang, Y. (2007). “An Integrated Strategy for Teaching Biochemistry to Biotechnology Specialty Student”. Biochemistry and Molecular Biology Education. 3, (4), 267-271.

Paul, R and Elder, L. (2004). The Thinker’s Guiden to Critical and Creative

Thinking. [Online]. Tersedia: http://www.criticalthinking.org. [28

Februari 2010]

(41)

Rahmatan, H. (2011). “Biochemistry Concept Level Of Difficulty Profile On Prospective Biology Teachers Perception”. Makalah. Bandung: SPS Universitas Pendidikan Indonesia.

Roberts, J.R. et al. (2005). “Physical Models Enhance Molecular Three

-Dimensional Literacy in an Introductory Biochemistry Course”.

Biochemistry and Molecular Biology Education. 33, (2), 105-109.

Roblyer, M.D. and Doering, A.H. (2010). Integrating Educational Technology

into Teaching. Boston: Pearson Education, Inc.

Rofi’uddin, A. (2000). “Model Pendidikan berpikir kritis-keratif untuk Siswa Sekolah Dasar”. Makalah. Malang: Universitas Negeri Malang.

Rosser, R.A. and Nicholson, G.L. (1984). Educational Psychology, Principles in

Practice. Boston: Little Brown.

Ruseffendi, H.E.T. (2001). Statistik Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.

Rusman. (2006). Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Komputer untuk

Meningkatkan Kompetensi Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika di Sekolah Menengah Kejuruan. Disertasi Doktor pada SPS UPI Bandung:

tidak diterbitkan.

Rusman. (2009). Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran. Bandung: UPI Press.

Rusman. (2011). Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme

Guru. Jakarta: Rajawali Press.

Rusman, Kurniawan, D. dan Riyana, C. (2011). Pembelajaran Berbasis Teknologi

Informasi dan Komunikasi Mengembangkan Profesionalisme Guru.

Jakarta: Rajawali Press.

Salisbury, D. (1990). “Cognitive Psychology and Its Implications for Designing Drill and Practice Programs for Computers”. Journal of Computer-Based

Instruction. 17, (1), 23-30.

Santrock, J.W. (2008). Educational Psychology (Third ed.). New York: McGraw Hill Companies.

Saroso, S. (2011). Upaya Pengembangan Pendidikan Melalui Pembelajaran

BerbasisMultimedia.[Online].Tersedia:http/etraining.tkplb.org/file.php/1/

(42)

Sarwiko, D. (2011). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia

Interaktif Menggunakan Macromediadirector Mx (Studi Kasus Mata Kuliah Pengolahan Citra Pada Jurusan S1 Sistem Informasi).

[Online].Tersedia:http://papers.gunadarma.ac.id/index.php/computer/articl e/view/575/537. pdf. [2 Desember 2011].

Slavin, R.E. (2009). Educational Psychology: Theory and Practice (Ninth ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc.

Smaldino, S.E., Lowther, D.L. and Russell, J.D. (2008). Instructional Technology

and Media for Learning (Ninth ed.). Boston: Pearson Education, Inc

Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R dan D. Bandung: Alfabeta.

Sukmadinata, N.S. (2010). Pengembangan Kurikulum Teori dan Prakteknya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Suprapto. (2008). Menggunakan Ketrampilan Berpikir untuk Meningkatkan Mutu

Pembelajaran.[Online].Tersedia: http://supraptojielwongsolo.wordpress. com [13 Juni 2008].

Supriadi, D. (1994). Kreativitas Kebudayaan dan Perkembangan IPTEK. Bandung: Alfabeta.

Suprijono, A. (2011). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tsapartis, G. and Zoller, U. (2003). “Evaluation of Higher vs. Lower-order cognitive Skills-Type Examination in Chemistry. Implication for University in-class Assessment and Examination”. University Chemistry Education. 7, 50-57.

Usman, M.U. (2011). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Waryanto, (2008). “Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran”. Makalah.

Klaten: SMK Muhammadiah 3.

West, L.H.T. and Pines, A.L. (1985). Cognitive Structure and Conceptual

Change. London: Academic Press Inc.

Widyastuti. (2010). Metode Pembelajaran Ekspositori, Latihan Praktik (Drill and

(43)

Woofolk, A. (2008). Educational Psychology Active Learning Edition (Tenth ed.). Boston: Pearson Education, Inc.

Zacharias, Z. and Anderson, O.R. (2003). “The effect of an interactive computer-based simulation prior to performing a laboratory inquiry-computer-based

experiment on students’ conceptual understanding of physics”. American

Gambar

Tabel 1.1. Topik Katabolisme Karbohidrat yang Diajarkan pada Delapan Perguruan Tinggi
Gambar 3.1.  Paradigma Penelitian
Gambar 3.2. Disain Penelitian
Tabel 3.1.   Disain  Kelompok Kontrol Tes Awal-Tes Penutup  dalam     Pengujian Efektifitas Model
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 91,4% siswa di SDN Desa Pardamean Nainggolan mengonsumsi buah pinang dan sebagian besar dari mereka mengonsumsi dengan

Sehingga hipotesis pertama pada penelitian ini yang menyatakan bahwa diduga hasil belajar “Ilmu Gizi Olahraga” be rpengaruh pada pemilihan makanan atlet

Disarankan agar siswi kelas XI mengkonsumsi makanan yang tinggi akan kandungan zat gizi magnesium karena sebagian besar siswi kekurangan akan zat gizi tersebut serta adanya

Pembuat CD Interaktif Profil perusahaan dengan menggunakan Macromedia Flash MX 2004 Profesional merukapan sebuah CD Interaktif Pembuatan yang berisi informasi mengenai letak

Pembelajaran keterampilan perlu mengenalkan berbagai bentuk kerajinan dan teknologi tradisional dan modern yang ada di sekitar dan yang berkembang di

Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim di.

Promoter : orang-orang yang merespon dengan memberikan skor 9 atau 10 yang menandakan bahwa mereka antusias terhadap suatu produk dan.. melakukan pembelian kembali pada

[r]