PENGEMBANGAN MODEL PERKULIAHAN KATABOLISME
KARBOHIDRAT BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF
UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP
DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF
CALON GURU BIOLOGI
Disertasi
Diajukan untuk memenuhi Sebagian dari
Syarat untuk Memperoleh Gelar Doktor Kependidikan
dalam Bidang Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam
Oleh
Hafnati Rahmatan
NIM 0908776
SEKOLAH PASCASARJANA
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PANITIA DISERTASI
Promotor Merangkap Ketua
Prof. Dr. Liliasari, M.Pd.
Ko-Promotor
Prof. Dr. Sri Redjeki, M.Pd.
Anggota
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi yang berjudul “Pengembangan
Model Perkuliahan Katabolisme Karbohidrat Berbasis Multimedia Interaktif
untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif
Calon Guru Biologi” ini beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara
yang tidak sesuai dengan etika ilmu yang berlaku dalam masyarakat keilmuan.
Atas pernyataaan tersebut, saya siap menanggung resiko yang dijatuhkan kepada
saya apabila di kemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika
keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap karya saya.
Bandung, Januari 2013
Yang Membuat Pernyataan,
PENGEMBANGAN MODEL PERKULIAHAN KATABOLISME KARBOHIDRAT BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF
UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF
CALON GURU BIOLOGI Abstrak
DEVELOPMENT OF INTERACTIVE MULTIMEDIA-BASED CARBOHYDRATE CATABOLISM LEARNING MODEL TO IMPROVE
CONCEPT MASTERY AND CREATIVE THINKING SKILL OF PROSPECTIVE BIOLOGY TEACHER
Abstract
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSEMBAHAN ……… iii
PERNYATAAN ………..……….. iv
ABSTRAK ……… v
KATA PENGANTAR ……….. vii
UCAPAN TERIMAKASIH ………. viii
DAFTAR ISI ………. xi
BAB II MUTLTIMEDIA INTERAKTIF, PENGUASAAN KONSEP KATABOLISME KARBOHIDRAT DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF A. Pembelajaran Katabolisme Karbohidrat Berbasis Multimedia Interaktif ……… 15
B. Teori Belajar dalam Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif ……… 22
C. Keterampilan Berpikir Kreatif dalam Pembelajaran …………. 29
D. Studi Pendahuluan yang Relevan ………. 41
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ……… 62
1. Perancangan dan Pengembangan Model ………. 62
a. Materi yang Sulit pada Perkuliahan Katabolisme Karbohidrat ………. 62
b. Multimedia Interaktif untuk Perkuliahan Katabolisme Karbohidrat ……….. 66
2. Uji Coba dan Perbaikan Model ……… 73
a. Validasi dan Tanggapan Mahasiswa terhadap Model dan Soal yang Dikembangkan ……… 73
b. Evaluasi Soal yang Representatif ……… 78
3. Uji Implementasi Model ………... 81
a. Pengelompokan Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol …. 81 b. Keefektifan Model Pembelajaran yang Dikembangkan Berdasarkan Skor Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif (KBK) Secara Keseluruhan …………... 81
c. Keefektifan Model Pembelajaran yang Dikembangkan Berdasarkan Skor Penguasaan Konsep ……… 84
d. Keefektifan Model Pembelajaran yang Dikembangkan Berdasarkan Skor Indiktor Keterampilan Berpikir Kreatif (KBK) ………. 90
e. Kemunculan Indikator Keterampilan Berpikir Kreatif (KBK) pada Topik Katabolisme Karbohidrat pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ……… 96
f. Tanggapan Mahasiswa terhadap MPK2BMI …………... 104
g. Tanggapan Dosen terhadap MPK2BMI ……….. 107
B. Pembahasan ……….. 108
1. Karakteristik MPK2BMI ………... 108
2. Pengaruh MPK2BMI terhadap Penguasaan Konsep Katabolisme Karbohidrat ………. 110
3. Pengaruh MPK2BMI terhadap Keterampilan Berpikir Kreatif pada Konsep Katabolisme Karbohidrat …………... 114
4. Tanggapan Mahasiswa terhadap Impelementasi MPK2BMI 117 5. Tanggapan Dosen terhadap Implementasi MPK2BMI …… 119
6. Keunggulan dan Kendala terhadap Implementasi MPK2BMI ……… 120
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ……… 123
B. Saran ……….. 124
DAFTAR PUSTAKA ……….. 125
LAMPIRAN-LAMPIRAN ………... 132
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat
menuntut perubahan cara dan strategi guru dalam mengajar. Guru dituntut
membimbing siswa dalam hal mencari, mengolah dan mengembangkan data dan
informasi secara mandiri. Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkan kualitas
pembelajaran, peran guru yang semula sebagai pusat informasi (teacher centered)
perlu diubah menjadi pemfasilitas, penengah, dan pembimbing yang memberikan
kondisi yang kondusif untuk kontruksi pengetahuan (Carin, 1997; Usman, 2011).
Guru profesional dituntut merancang dan mengelola proses pembelajaran
sebagai kunci utama suksesnya pembelajaran sains untuk memenuhi tuntutan
kurikulum. Guru menyediakan lingkungan belajar, memberikan kebebasan agar
siswa belajar dan berkembang sendiri, dan mewujudkan rasa ingin tahunya.
Dengan demikian, siswa diharapkan mampu mengembangkan potensi diri
masing-masing, mengembangkan kreativitas, dan mendorong adanya penemuan
keilmuwan dan teknologi yang inovatif sehingga para siswa mampu bersaing
dalam masyarakat global (Kunandar, 2007; Sukmadinata, 2010).
Persaingan yang terjadi pada era globalisasi menuntut pengembangan
kualitas sumber daya manusia yang demikian mendesak. Pendidikan adalah salah
satu hal penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Hal ini merupakan
tantangan bagi pemerintah dan unsur-unsur terkait dalam bidang pendidikan.
berperan dalam menghasilkan tenaga kependidikan/calon guru. LPTK turut
bertanggung jawab dan harus terpanggil dalam menghadapi kenyataan, harapan,
dan tantangan yang ada. Dosen bertugas sebagai staf pengajar LPTK dan
berperan sebagai pendidik calon guru. Dosen mengajarkan materi perkuliahan pun
harus berkualitas tinggi agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang
berkualitas.
Berkaitan dengan fungsi sebagai pendidik calon guru, LPTK bertugas
membekali pengetahuan dan membekali kemampuan pedagogik yang berkaitan
dengan pembelajaran biologi sebagai salah satu bagian dari sains. Selain itu,
calon guru biologi juga harus dibekali berbagai keterampilan berpikir tingkat
tinggi sebagai bekal dalam mengembangkan profesinya. Hal ini sesuai dengan
tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pada Standar
Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) tertera bahwa kelulusan
Sekolah Menengah Atas dan sederajat adalah lulusannya antara lain mampu
berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif dalam mengambil keputusan (Depdiknas,
2006). Berarti pembelajaran yang dilaksanakan di jenjang Sekolah Menengah
Atas harus dapat membekali keterampilan berpikir.
Biokimia merupakan salah satu aspek kajian dalam bidang Biologi yang
dapat dijadikan wahana untuk membekali pengetahuan, keterampilan, sikap, dan
nilai-nilai ilmiah peserta didik/calon guru dalam pembentukan pengetahuannya.
Hasil analisis silabus Biokimia pada beberapa LPTK menunjukkan tujuan
perkuliahan biokimia hanya menekankan pada aspek pemahaman konsep
diperhatikan. Begitu juga dengan pengalaman penulis dalam mengajar mata
kuliah Biokimia selama ± 11 tahun, strategi pembelajaran melalui penjelasan
atribut konsep dengan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar belum
memberi hasil yang memuaskan. Hasil belajar yang dicapai hanya pada
penguasaan konsep-konsep terdefinisi, sedangkan kemampuan memahami konsep
abstrak dan hubungan antar konsep sulit dicapai.
Salah satu topik kajian dalam biokimia adalah Katabolisme Karbohidrat,
meliputi subtopik struktur karbohidrat, glikolisis, dekarboksilasi oksidatif piruvat,
siklus Krebs dan fosforilasi oksidatif. Topik Katabolisme Karbohidrat penting
diajarkan karena topik ini merupakan topik yang mendasari untuk mempelajari
materi lanjutan yang berhubungan dengan reaksi-reaksi kimia pada makhluk
hidup. Hasil análisis silabus Biokimia pada jurusan/program studi pendidikan
Biologi pada delapan perguruan tinggi/universitas di dalam dan di luar negeri
menunjukkan bahwa delapan perguruan tinggi atau universitas tersebut
mengajarkan topik Katabolisme Karbohidrat. Topik katabolisme karbohidrat
diajarkan pada semua jurusan/program studi pendidikan Biologi di universitas
yang terdapat di Indonesia dan di luar negeri (Tabel 1.1). Hal ini mengindikasikan
bahwa topik katabolisme karbohidrat penting untuk diajarkan agar mahasiswa
mudah memahami materi lanjutan terkait topik katabolisme karbohidrat. Lebih
lanjut, hasil penelitian mengenai tingkat kesulitan materi terhadap mahasiswa
Pendidikan Biologi, di salah satu LPTK negeri, di Banda Aceh menunjukkan
bahwa materi ajar katabolisme karbohidrat lebih sulit dipahami (Rahmatan, 2011).
perlu dilakukan agar diperoleh cara yang tepat untuk materi tersebut agar mudah
dipahami.
Tabel 1.1. Topik Katabolisme Karbohidrat yang Diajarkan pada Delapan Perguruan Tinggi
Materi ajar katabolisme karbohidrat sulit dipahami karena pada topik ini
banyak dipaparkan jalur reaksi kimia yang sangat kompleks. Disamping itu,
tahapan-tahapan dalam setiap jalur reaksi sulit untuk dimengerti karena
melibatkan banyak struktur molekul metabolit, enzim, koenzim dan kofaktor.
Pada topik ini kaitan antara satu tahapan dan tahapan reaksi lain diajarkan secara
terpisah dalam waktu pembelajarannya, dan setiap tahapan reaksi kimia baik pada
anabolisme maupun pada katabolisme seolah-olah terpisah satu sama lain,
kesatuan yang saling berhubungan. Sebagai contoh adalah reaksi respirasi
(katabolisme) dan fotosintesis (anabolisme). Keduanya merupakan reaksi yang
tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan saling berhubungan. Materi respirasi
dan fotosintesis merupakan materi yang mendasari untuk mempelajari materi ajar
lain seperti Fisiologi Tumbuhan, Fisiologi Hewan, Genetika, Mikrobiologi,
Bioteknologi, Ilmu Gizi dan Kesehatan, Pertanian, dan Kehutanan. Agar materi
ajar katabolisme karbohidrat dapat lebih mudah dipahami, model pembelajaran
untuk pengajaran katabolisme karbohidrat perlu dibuat.
Pada penelitian ini, model pembelajaran berbasis multimedia interaktif
dalam bentuk model latihan-dan-praktik untuk materi ajar katabolisme
karbohidrat dibuat, untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih kongkret
melalui penyediaan latihan-latihan soal dan pengujian penampilan mahasiswa
dalam menyelesaikan latihan soal. Tahapan model pembelajaran berbasis
multimedia interaktif dengan model latihan-dan-praktik meliputi (1), penyajian
masalah-masalah dalam bentuk latihan soal; (2), pengerjaan latihan soal; (3),
pengeevaluasian kinerja mahasiswa (jika mahasiswa menjawab dengan benar
maka mereka akan lanjut pada soal berikutnya; sebaliknya jika mahasiswa salah
menjawab, maka tersedia fasilitas penjelasan dengan bantuan tautan “materi”
yang terkait sehingga mahasiwa dapat memperbaiki jawaban; dan (4), perekam
data kinerja mahasiswa (Nandi, 2006).
Pemanfaatan multimedia interaktif sebagai upaya pengembangan alternatif
dalam proses pembelajaran biokimia perlu dipersiapkan dengan baik. Hal ini
Mengenai manfaat multimedia interaktif dalam pembelajaran, Waryanto (2008)
menjelaskan bahwa (1) multimedia interaktif dapat digunakan sebagai salah satu
unsur pembelajaran di kelas; (2) multimedia interaktif dapat digunakan sebagai
materi pembelajaran mandiri; (3) multimedia interaktif digunakan sebagai media
di dalam pembelajaran. Terkait dengan peningkatan mutu perkuliahan, Sarwiko
(2011) mengemukakan bahwa multimedia interaktif menyediakan peluang bagi
pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehingga dapat memberikan
hasil yang maksimal untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Penelitian mengenai pemanfaatan multimedia interaktif untuk
meningkatkan pemahaman konsep bagi mahasiswa telah dilakukan oleh beberapa
peneliti (Meir et al., 2005; Roberts et al., 2005; Ouyang et al., 2007). Penelitian
terhadap miskonsepsi mahasiswa yang dilakukan oleh Meir et al. (2005) bahwa,
diduga miskonsepsi yang terjadi pada mahasiswa disebabkan karena
ketidakmampuannya secara langsung untuk mengamati proses difusi dan osmosis
pada tingkat molekuler. Keterbatasan media dalam penyajian konsep abstrak telah
memotivasi beberapa peneliti untuk menyajikan materi Biokimia dengan
memanfaatkan multimedia interaktif dalam bentuk animasi atau visualisasi seperti
yang dilakukan oleh Roberts et al. (2005) tentang model-model fisik dari
molekuler tiga-dimensi dan program visualisasi komputer, untuk membantu siswa
lebih memahami konsep bersifat abstrak. Ouyang et al. (2007) juga menyajikan
materi perkuliahan biokimia dengan bantuan perangkat multimedia. Secara garis
besar peneliti-peneliti ini menyimpulkan bahwa ada peningkatan pemahaman
peningkatan hasil rata-rata tes penutup dan tanggapan yang positif terhadap
visualisasi komputer pada tingkat molekuler.
Lebih lanjut, penelitian mengenai peranan komputer dalam pembelajaran
yang dilakukan oleh Griffin (2003) menunjukkan bahwa berbagai pembelajaran
dengan menggunakan komputer yang diterapkan dapat meningkatkan efektivitas
waktu pembelajaran, kreativitas, keahlian dan berpikir kritis peserta didik.
Zacharias dan Anderson (2003) menambahkan bahwa penggunaan simulasi
interaktif membantu mahasiswa memvisualisasikan masalah dan pemecahannya.
Rusman (2009) mengemukakan bahwa secara garis besar, komputer dapat
dimanfaatkan sebagai pembelajaran berbasis komputer. Penggunaan komputer
sebagai mutimedia interaktif dalam menyampaikan bahan pengajaran
memungkinkan untuk melibatkan mahasiswa secara aktif serta memperoleh
umpan balik secara cepat dan akurat. Komputer menjadi populer sebagai media
pengajaran karena komputer memiliki keistimewaan yang tidak dimilki oleh
media pengajaran lain sebelum adanya komputer (Munir, 2005).
Pembelajaran dengan memanfaatkan multimedia interaktif mempunyai
beberapa keistimewaan seperti yang dikemukakan oleh Waryanto (2008), yaitu
(1) terdapat hubungan interaktif: komputer menyebabkan adanya hubungan
antara rangsangan dan tanggapan, menumbuhkan inspirasi dan meningkatkan
minat; (2) dapat dilakukan pengulangan: komputer memberikan fasilitas bagi
pengguna untuk mengulang materi atau bahan pelajaran yang diperlukan,
memperkuat proses pembelajaran dan memperbaiki ingatan, memiliki kebebasan
peneguhan: media komputer membantu mahasiswa memperoleh umpan balik
terhadap pelajaran secara leluasa dan dapat memacu motivasi pelajar dengan
peneguhan positif yang diberikan apabila mahasiswa memberi jawaban; (4) dapat
dilakukan simulasi dan uji coba: media komputer dapat mensimulasikan atau
menguji coba penyajian bahan pelajaran yang rumit dan teliti.
Kegiatan pembelajaran dilakukan secara tuntas melalui sistem komputer.
Dosen dapat melatih mahasiswa secara terus menerus sampai mencapai
ketuntasan dalam perkuliahan. Kegiatan perkuliahan dapat diberikan melalui
pemberian latihan untuk melatih keterampilan berpikir mahasiswa dalam
berinteraksi dengan materi perkuliahan. Melalui latihan yang terus-menerus dan
dengan cara mengulangi, maka akan tertanam keterampilan berpikir dan
kemudian akan menjadi kebiasaan.
Munandar (2009) menyatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia
jarang melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi terutama keterampilan berpikir
kreatif. Penekanan pembelajaran lebih pada hafalan dan mencari satu jawaban
yang benar terhadap soal-soal yang diberikan. Salah satu alternatif untuk melatih
keterampilan berpikir kreatif yaitu menyediakan suatu model pembelajaran
berbasis multimedia interaktif dengan model latihan-dan-praktik.
Reformasi pendidikan perlu dilakukan terutama dalam perubahan
pedagogi, yaitu pergeseran dari pengajaran tradisional (keterampilan berpikir
tingkat rendah) ke pembelajaran yang menekankan pada keterampilan berpikir
tingkat tinggi khususnya keterampilan berpikir kreatif (Tsapartis dan Zoller,
keterampilan berpikir kreatif dalam bidang pendidikan hendaknya perlu dipandu
(dibina), dipupuk (dikembangkan dan ditingkatkan) dan dilatih agar siswa mampu
mencari pemecahan yang imajinatif dalam menghadapi kemajuan teknologi
(Munandar, 2009). Menurut Filsaime (2008) ada empat langkah untuk
mengajarkan berpikir kreatif dan meningkatkan daya berpikir kreatif pada siswa
yaitu: 1) menghilangkan penghalang-penghalang dari daya berpikir kreatif pada
siswa; 2) membuat mereka sadar akan asal-usul berpikir kreatif; 3) mengenalkan
dan mempraktikkan strategi-strategi berpikir kreatif; dan 4) menciptakan sebuah
lingkungan kreatif.
Studi untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif telah dilakukan
oleh beberapa peneliti, seperti yang dilakukan oleh De Haan (2009) bahwa
melalui latihan pemecahan masalah dalam pendidikan IPA dapat meningkatkan
keterampilan berpikir kreatif, dan Newman (2004) melakukan penelitian dengan
mengaplikasikan konsep dan teori yang telah dipelajari ke dalam latihan
pemecahan masalah juga dapat meningkatkan keterampilan berpikir kreatif.
Hamza & Griffith (2006) juga melakukan penelitian dengan menjelajahi,
menyelidiki dan mengidentifikasi metode pengajaran yang dilakukan oleh
beberapa guru teladan di dalam ruang kelas dapat mengembangkan pembelajaran
yang berorientasi pada peningkatan keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan
masalah.
Beranjak dari kenyataan tersebut, perbaikan perkuliahan biokimia,
khususnya topik Katabolisme Karbohidrat perlu dilakukan melalui penerapan
pengetahuannya sendiri, dan melatih keterampilan berpikir kreatif melalui
pembelajaran berbasis multimedia interaktif. Upaya perbaikan tersebut tidak
terlepas dari persiapan dosen mengajar, materi yang diajarkan, strategi
pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan dan cara mahasiswa
belajar. Peran dosen lebih diposisikan untuk membantu, membimbing, dan
mengarahkan mahasiswa dalam membangun keterampilan dan pengetahuannya.
Untuk dapat membekali dan mengembangkan berbagai keterampilan tersebut
diperlukan suatu metode yang tepat dan handal, sehingga proses pembelajaran
calon guru/mahasiswa dapat lebih bermakna (meaningfull learning).
Berdasarkan uraian permasalahan pada latar belakang, perlu dilakukan
suatu penelitian tentang pengembangan model perkuliahan berbasis multimedia
interaktif untuk meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir
kreatif mahasiswa calon guru pada mata kuliah Biokimia, khususnya topik
Katabolisme Karbohidrat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan sebelumnya, maka
permasalahan yang perlu dipecahkan melalui penelitian ini adalah:
“Bagaimanakah pengembangan model perkuliahan berbasis multimedia interaktif
pada mata kuliah Biokimia, khususnya topik Katabolisme Karbohidrat dalam
meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif mahasiswa
Dari rumusan masalah di atas, disusun beberapa pertanyaan penelitian
untuk menentukan langkah-langkah penelitian agar lebih operasional sebagai
berikut:
1. Bagaimana karakteristik model perkuliahan berbasis multimedia interaktif
pada topik Katabolisme Karbohidrat?
2. Bagaimana penerapan model perkuliahan berbasis multimedia interaktif
dapat meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa pada topik
Katabolisme Karbohidrat?
3. Bagaimana penerapan model perkuliahan berbasis multimedia interaktif
pada topik Katabolisme Karbohidrat dapat meningkatkan keterampilan
berpikir kreatif mahasiswa?
4. Bagaimanakah tanggapan mahasiswa terhadap penerapan model
perkuliahan berbasis multimedia interaktif pada topik Katabolisme
Karbohidrat?
5. Bagaimanakah tanggapan dosen terhadap penerapan model perkuliahan
berbasis multimedia interaktif pada topik Katabolisme Karbohidrat?
6. Bagaimana keunggulan dan keterbatasan penerapan model perkuliahan
berbasis multimedia interaktif pada topik Katabolisme Karbohidrat?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
mengembangkan model perkuliahan berbasis multimedia interaktif pada topik
D. Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini adalah (a) meningkatkan
penguasaan konsep, teori, dan prinsip-prinsip pembekalan calon guru biologi; (b)
meningkatkan keterampilan berpikir kreatif. Manfaat praktis hasil penelitian ini
adalah (a) menyumbangkan satu perangkat model perkuliahan berbasis
multimedia interaktif untuk lembaga pendidikan dan prinsip-prinsip
pengembangan model dapat diadaptasi oleh bidang ilmu lain yang serumpun; (b)
memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam pembelajaran
Katabolisme Karbohidrat berbasis multimedia interaktif sehingga pembelajaran
lebih bermakna.
E. Penjelasan Istilah
Untuk mempermudah dalam memahami desain penelitian ini, maka
dirumuskan beberapa penjelasan istilah sebagai berikut:
1) Model perkuliahan berbasis multimedia interaktif didefinisikan sebagai
pembelajaran yang menggunakan model latihan-dan praktik bersifat
interaktif dengan mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui bantuan
materi yang disediakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir
kreatif (Holmes dan Gardner, 2006; Arends, 2007; Worst, S.J. 2007).
2) Keterampilan berpikir kreatif merupakan suatu proses berpikir seseorang
yang menjadi sensitif terhadap masalah, kekurangan-kekurangan,
kesenjangan informasi, adanya unsur yang hilang, ketidakharmonisan,
mengidentifikasi masalah secara jelas, membuat hipotesis, menguji
bahkan mendefinisikan ulang masalah dan akhirnya menyimpulkan dan
mengkomunikasikan hasilnya (Torrance, 1976).
3) Materi perkuliahan biokimia yang dikembangkan dalam penelitian ini
terbatas pada topik Katabolisme Karbohidrat. Pemilihan materi ini
berdasarkan pada studi pendahuluan mengenai tingkat kesulitan materi
terhadap mahasiswa Pendidikan Biologi, di suatu LPTK negeri, di Banda
Aceh menunjukkan bahwa materi ajar katabolisme karbohidrat lebih sulit
dipahami karena keabstrakan konsepnya disertai banyak proses reaksi
sehingga perlu divisualisasikan (Rahmatan, 2011b).
F. Sistematika Penulisan
Penulisan disertasi ini dibagi menjadi lima pokok bahasan, dengan rincian
sebagai berikut: Bab I memuat latar belakang, rumusan masalah beserta
pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan penjelasan istilah
dalam peneltian. Pada bagian ini juga ditawarkan alternatif penyelesaian masalah
yang ditemukan. Bab II memuat penjelasan teoritis tentang variabel-variabel
dalam penelitian seperti pembelajaran katabolisme karbohidrat berbasis
mutltimedia interaktif, teori belajar dalam pembelajaran berbasis mutltimedia
interaktif, keterampilan berpikir kreatif dalam pembelajaran, studi pendahuluan
yang relevan, dan deskripsi konsep Katabolisme Karbohidrat. Bab III menjelaskan
metode penelitian yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ditemukan,
termasuk instrumen yang digunakan dan proses pengolahan datanya. Bab IV
kecenderungan dan temuan-temuan menarik dalam penelitian. Bab V sebagai
penutup, digunakan untuk memaparkan kesimpulan dari temuan yang merupakan
jawaban dari pertanyaan penelitian pada Bab I. Selain itu, rekomendasi diberikan
BAB III
METODE PENELITIAN A. Paradigma Penelitian
Paradigma penelitian merupakan pola pikir yang menunjukkan hubungan
antar variabel yang akan diteliti (Gambar 3.1).
B. Lokasi dan Subjek Penelitian
Tahap uji coba model dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Biologi,
di salah satu LPTK negeri, di Bandung dan tahap implementasi model
dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Biologi, di salah satu LPTK negeri, di
Banda Aceh. Subjek penelitian adalah mahasiswa calon guru Biologi semester
dua program S1 Pendidikan Biologi yang mengikuti mata kuliah Biokimia.
Mahasiswa calon guru Biologi yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 31
orang pada saat uji coba terbatas dan 74 orang pada saat implementasi, terbagi
dalam dua kelas yaitu 37 orang pada kelas eksperimen dan 37 orang pada kelas
kontrol.
C. Disain Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis Penelitian dan Pengembangan Pendidikan
(Educational Research and Development) yang disingkat R & D (Borg and Gall,
1983). Disain penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu: 1) tahap perancangan dan
pengembangan, 2) tahap ujicoba dan perbaikan, 3) tahap implementasi/pengujian
model, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.2.
1. Tahap Perancangan dan Pengembangan Model
Tahap awal atau persiapan untuk perancangan dan pengembangan model
terdiri atas tiga langkah, yaitu: studi kepustakaan, survei lapangan, dan
penyusunan draf awal atau draf program. Studi kepustakaan merupakan kajian
untuk mempelajari konsep-konsep atau teori-teori yang berkenaan dengan produk
atau model yang dikembangkan. Studi kepustakaan dilakukan terhadap
Karbohidrat, dan analisis indikator keterampilan berpikir kreatif yang disesuaikan
dengan karakteristik materi katabolisme karbohidrat. Analisis dilakukan juga pada
beberapa penelitian yang relevan dengan topik atau model yang dikembangkan.
Analisis Kebutuhan
Deskripsi hasil,
Memetakan hasil temuan, Analisis Kelemahan Studi Kepustakaan:
Analisis konsep katabolisme karbohidrat Analisis indikator keterampilan berpikir kreatif Pembelajaran berbasis multimedia interaktif Penelitian yang relevan
Tahap Perancangan dan
Pengembangan Model
Penyusunan draf awal model perkuliahan katabolisme karbohidrat berbasis multimedia interaktif yang dapat memfasilitasi berpikir kreatif meliputi: deskripsi perkuliahan, perangkat lunak dan alat evaluasi (instrumen tes dan non tes)
Implementasi Model
Untuk mengumpulkan data berkenaan dengan keterampilan berpikir kreatif dan
pembelajaran berbasis multimedia interaktif dilakukan survei lapangan,
wawancara, studi dokumenter, dan pengamatan terhadap waktu pembelajaran
pada mahasiswa di Program Studi Pendidikan Biologi, di salah satu LPTK negeri,
di Bandung dan Banda Aceh. Berdasarkan hasil studi kepustakaan dan survei
lapangan, draf awal model disusun.
Pada tahap perancangan dan pengembangan model, tujuan umum
perkuliahan ditetapkan dan dilakukan penjabaran ke dalam keberhasilan
mahasiswa calon guru Biologi dalam peningkatan penguasaan konsep dan
keterampilan berpikir kreatif (KBK) melalui perkuliahan katabolisme karbohidrat
berbasis multimedia interaktif. Indikator keterampilan berpikir kreatif (KBK)
terkait topik katabolisme karbohidrat meliputi kelancaran (fluency), keluwesan
(flexibility), kejelasan (elaboration), dan keaslian (originality). Lebih lanjut,
model latihan-dan-praktik yang dikemas dalam perangkat lunak dan instrumen
asesmen meliputi tes pilihan ganda, kuesioner tanggapan dosen dan mahasiswa
dikembangkan.
2. Ujicoba Terbatas dan Perbaikan Model
Model latihan-dan-praktik dan instrumen tes mendapat penimbangan oleh
tiga orang ahli dalam bidang biokimia. Untuk mengetahui tingkat keterbacaan dan
penggunaan perangkat lunak dilakukan uji coba awal terhadap 20 mahasiswa di
Pendidikan Biologi, di salah satu LPTK negeri, di Bandung. Selain itu, untuk
mengetahui keterbacaan instrumen tes dilakukan uji coba terhadap 33 mahasiswa
penggunaan perangkat lunak serta perangkat instrumen tes dilakukan, dievaluasi
dan direvisi untuk kesempurnaan model dan instrumen tes. Selanjutnya, model
dan instrumen tes tersebut digunakan pada kelas ujicoba terbatas.
Ujicoba terbatas dilakukan terhadap 31 mahasiswa Pendidikan Biologi, di
salah satu LPTK negeri, di Bandung. Disain penelitian pada tahap ujicoba terbatas
adalah disain eksperimen awal (Pre-Experimental Design) menggunakan tes
awal-tes penutup pada satu kelompok (One-Group Pretest-Posttest Design).
Disain ini terdiri dari satu kelompok perlakuan. Pada kelompok tersebut, tes
awal diberikan sebelum perkuliahan katabolisme karbohidrat berbasis multimedia
interaktif dan tes penutup diberikan setelah perkuliahan selesai.
Detail kegiatan yang dilakukan pada ujicoba terbatas ini dapat diuraikan
sebagai berikut. Kegiatan pertama, pemberian arahan mengenai pemanfaatan
multimedia interaktif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dan
menyiapkan fasilitas pelaksanaan uji coba terbatas. Kegiatan kedua, pemberian
tes awal. Tes awal berupa tes keterampilan berpikir kreatif terkait topik
katabolisme karbohidrat. Kegiatan ketiga, pelaksanaan perkuliahan katabolisme
karbohidrat berbasis multimedia interaktif (MPK2BMI) melalui tiga tahap. Tahap
pertama adalah dosen memberikan pengarahan mengenai petunjuk penggunaan
model latihan-dan-praktik dan teknik implementasinya serta penjelasan mengenai
fungsi dari setiap simbol-simbol yang terdapat pada halaman awal slide
pembelajaran. Tahap kedua adalah mahasiswa menyelesaikan pertanyaan pada
setiap slide pembelajaran. Pertanyaan pengarah pada slide tersebut berguna untuk
karbohidrat. Disamping itu juga, mahasiswa dapat mengkonstruksi sendiri
pengetahuan melalui multimedia interaktif. Tahap ketiga adalah dosen
memberikan penguatan terkait konten pembelajaran. Kegiatan keempat, untuk
mengetahui keterlaksanaan dan hambatan yang dihadapi dalam
mengimplementasikan MPK2BMI, observer melakukan observasi terhadap
proses perkuliahan. Kegiatan kelima, pelaksanaan tes penutup. Tes yang
digunakan pada tes penutup ini sama dengan tes yang digunakan pada tes awal.
Kegiatan keenam, pengedaran angket untuk mengetahui tanggapan mahasiswa
terhadap perkuliahan yang diikuti.
3. Implementasi Model
Untuk melihat efektifitas Model Perkuliahan Katabolisme Karbohidrat
Berbasis Multimedia Interaktif (MPK2BMI), model diimplementasikan. Disain
penelitian pada tahap implementasi model adalah disain eksperimen semu
(Quasi-eksperiment), yaitu disain kelompok kontrol tes awal-tes penutup (Pretest-posttest Control Group Design). Disain ini terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Mahasiswa pada kedua kelompok tersebut
dipilih secara acak bertujuan (purposive sampling).
Implementasi model dilakukan terhadap 74 mahasiswa Pendidikan Biologi
angkatan 2011/2012, yang wajib mengikuti perkuliahan biokimia (semester dua),
di salah satu LPTK negeri, di Banda Aceh. Mahasiswa tersebut dikelompokkan
menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen (perkuliahan berbasis
multimedia interaktif) sebanyak 37 mahasiswa dan kelompok kontrol (perkuliahan
Untuk mengelompokkan mahasiswa pada kelas eksperimen dan pada kelas
kontrol, mahasiswa tersebut diberikan tes awal terlebih dahulu. Perolehan hasil tes
awal diurutkan dari nilai tertinggi sampai terendah. Nomor urut ganjil berada pada
satu kelas dan nomor urut genap pada kelas yang lain. Penentuan kelas
eksperimen dan kelas kontrol dilakukan secara acak. Mahasiswa pada kedua kelas
tersebut diharapkan mempunyai tingkat kemampuan awal yang sama sebelum
perlakuan. Mahasiswa diberikan tes penutup setelah proses pembelajaran berakhir
(Borg & Gall, 1983; Creswell, 1994; Gay, 1996; Sugiyono, 2006). Disain
penelitian yang digunakan pada implementasi model tertera pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Disain Kelompok Kontrol Tes Awal-Tes Penutup dalam Pengujian Efektifitas Model
Kelompok Tes Awal Perlakuan Tes Penutup
Eksperimen
Ket: X1 = Pembelajaran Katabolisme Karbohidrat Berbasis Multimedia Interaktif X2 = Pembelajaran Katabolisme Karbohidrat Melalui Ceramah
O = Tes Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif
Pada tahap implementasi model dilakukan tahapan kegiatan sama seperti
pada tahap uji coba terbatas, akan tetapi terdapat perbedaan pada tujuan
pemberian tes awal. Perolehan nilai tes awal digunakan sebagai nilai mahasiswa
dan sekaligus digunakan untuk pengelompokan mereka pada kelas eksperimen
atau pada kelas kontrol.
Tahap implementasi model dilakukan selama lima kali pertemuan dan tiga
orang dosen Pendidikan Biologi di salah satu LPTK negeri, di Banda Aceh
dilibatkan sebagai observer. Keberadaan observer bertujuan untuk mengamati
perkuliahan, setiap akhir perkuliahan dilakukan refleksi. Data pada tahap
implementasi dikumpulkan, dianalisis, diinterpretasi dan ditarik kesimpulan.
D. Instrumen Penelitian
Dalam rangka memperoleh data yang lengkap dan demi ketajaman analisis
data, digunakan beberapa instrumen penelitian, yaitu:
1. Tes penguasaan konsep Katabolisme Karbohidrat dan keterampilan berpikir kreatif
Tes penguasaan konsep katabolisme karbohidrat terkait tes keterampilan
berpikir kreatif. Perangkat tes yang dikembangkan adalah tes objektif berupa
pilihan ganda majemuk dengan lima altenatif jawaban. Tes objektif tersebut
diberikan agar semua konsep yang terkandung dalam materi perkuliahan dan
KBK dapat diungkap atau diwakili. Tes ini digunakan untuk mengevaluasi
peningkatan KBK dan penguasaan konsep katabolisme karbohidrat melalui
perkuliahan berbasis multimedia interaktif. Tes awal digunakan untuk melihat
kondisi awal subjek penelitian, homogenitas dan normalitas sampel penelitian.
Penyusunan perangkat tes diawali dengan penyusunan kisi-kisi tes terkait
materi perkuliahan dan indikator KBK. Lebih lanjut, butir-butir tes disusun
berdasarkan kisi-kisi yang telah ditetapkan. Jumlah soal yang dikembangkan
adalah 42 soal. Untuk menganalisis dan menyisihkan soal yang tidak memenuhi
syarat, instrumen tes diuji coba awal pada mahasiswa di salah satu LPTK negeri,
di Bandung. Hasil tes pada uji coba awal dianalisis menggunakan program
Anates versi 4.00, meliputi indeks kesukaran, daya pembeda, validitas, dan
dipakai jika tidak memenuhi kriteria (kualitasnya rendah). Jumlah soal yang
diperoleh setelah dianalisis adalah 40 soal. Selanjutnya, soal tersebut digunakan
pada uji coba terbatas untuk memperoleh soal yang representatif terkait model
pembelajaran. Soal yang representatif pada uji coba terbatas digunakan pada tahap
implementasi model.
2. Kuesioner
Kuesioner digunakan untuk menjaring tanggapan mahasiswa dan dosen
terhadap pelaksanaan MPK2BMI. Kuesioner ini digunakan untuk mengakses
pendapat mahasiswa tentang perkuliahan yang dialaminya. Kuesioner ini
dimaksudkan untuk menjaring informasi dari mahasiswa dan dosen tentang
strategi pembelajaran di dalam perkuliahan yang lebih mendetail.
3. Lembar Validasi Ahli
Instrumen ini digunakan untuk memperoleh penilaian dan saran/masukan
ahli tentang MPK2BMI yang dibuat.
4. Catatan Lapangan
Instrumen ini merupakan catatan lapangan tentang keterlaksanaan,
faktor-faktor pendukung dan kendala-kendala serta keunggulan dan keterbatasan model
selama implementasi model. Catatan lapangan adalah data yang direkam peneliti
atau observer dalam perkuliahan sehari-hari, atau data yang tidak terekam pada
kuesioner dan tes. Catatan ini digunakan untuk perbaikan atau menjadi informasi
E. Proses Pengumpulan Data
Data penelitian merupakan kemampuan mahasiswa sebelum dan sesudah
mengikuti perkuliahan katabolisme karbohidrat pada kelompok perlakuan dan
kelompok kontrol. Kemampuan tersebut adalah penguasaan konsep katabolisme
karbohidrat dan KBK, tanggapan mahasiswa, dan tanggapan dosen terhadap
MPK2BMI. Sejumlah kemampuan yang dijadikan sebagai data penelitian dan
teknik pengambilan beserta instrumennya disajikan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2. Data dan Teknik Pengumpulan Data Hasil Penelitian
No Jenis data Tujuan pengumpulan
data
F. Prosedur dan Teknik Pengolahan Data
Untuk keperluan pengujian efektivitas MPK2BMI dan untuk menjawab
pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan, data dianalisis dan dibandingkan
penguasaan konsep dan KBK adalah skor tes awal (kemampuan awal) dan skor
tes penutup (kemampuan akhir). Data skor tes awal dan tes penutup tersebut
dihitung untuk mengetahui peningkatan kemampuan mahasiswa terkait konsep
dan KBK. Untuk menghindari kesalahan dalam menginterpretasikan perolehan
peningkatan kemampuan masing-masing mahasiswa, uji Normalized-Gain
(N-Gain) atau normalisasi gain dilakukan. Skor gain ternormalisasi dijadikan sebagai
data untuk mengukur pengaruh implementasi model perkuliahan yang
dikembangkan.
Untuk perhitungan gain ternormalisasi (N-Gain) dan tingkat kategorinya
digunakan rumus dari Hake (1999), yang ditulis sebagai berikut.
Skor tes penutup – Skor tes awal N-Gain =
Skor maksimal – Skor tes awal
Dengan tingkat pencapaian skor gain berdasarkan tiga kategori, yaitu:
Pengujian perbedaan data tes awal dan tes penutup pada tahap uji coba
terbatas dilakukan statistik nonparametrik menggunakan uji Wilcoxon. Perbedaan
data kelompok kontrol dan eksperimen pada tahap implementasi model dilakukan
statistik parametrik menggunakan uji t sampel bebas dan statistik nonparametrik
menggunakan uji dua sampel bebas yaitu uji Mann-Whitney. Kedua uji tersebut
digunakan terkait pada data berdistribusi normal atau tidak berdistribus normal skor tinggi : g > 0,7
skor sedang : 0,3 < g < 0,7
ditemukan pada data penentuan pengelompokan kelas eksperimen dan kelas
kontrol dan pada data tes penguasaan subtopik glikolisis pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol. Data yang tidak berdistribusi normal ditemukan pada data uji
coba terbatas, data tes penguasaan konsep dan KBK keseluruhan, semua data tes
tiap indikator KBK dan data tes penguasaan tiap subtopik katabolisme karbohidrat
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, kecuali pada subtopik glikolisis.
Uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji
homogenitas menggunakan uji Lavene. Keseluruhan uji (uji normalitas, uji
homogenitas, uji t, uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney) menggunakan perangkat
lunak Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 16,0. Pengambilan
keputusan uji t, uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney didasarkan pada
perbandingan nilai probabilitas/siginifkansi (sig) dengan taraf keyakinan 95% (p
< 0,05).
Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas
kontrol pada tahap implementasi, analisis lebih lanjut dilakukan melalui kekuatan
dampak/d (effect size) untuk melihat kekuatan dampak penerapan model terkait
penguasaan konsep dan KBK. Untuk perhitungan kekuatan dampak (effect size)
dan tingkat kategorinya digunakan rumus dari Morgan et al. (2004), yang ditulis
sebagai berikut:
Meksperimen– Mkontrol
d =
½ (SDeksperimen– SDkontrol)
Dengan tingkat pencapaian skor kekuatan dampak (d) berdasarkan empat
Data yang diperoleh melalui angket dianalisis dalam bentuk skala
kualitatif dan dikonversi menjadi skala kuantitatif. Adapun urutan pengolahan
datanya adalah 1) melakukan tabulasi dan pengelompokan data, 2) memberikan
kode pada tanggapan responden dengan mengacu pada skala Likert (Arikunto,
2006) dengan ketentuan sebagai berikut:
Tabel 3.3. Kriteria Skala Likert
Kategori Skor setiap pernyataan Positif Negatif
Sangat setuju 5 1
Setuju 4 2
Kurang setuju 3 3
Tidak setuju 2 4
Sangat tidak setuju 1 5
dan 3) mengolah data menggunakan statistik deskriptif dan menghitung rata-rata
tanggapan untuk setiap pertanyaan yang dinyatakan dalam persentase untuk setiap
tanggapan.
skor sangat tinggi : d ≥ 0,90
skor tinggi : 0,70 ≤ d < 0,90
skor sedang : 0,40 ≤ d < 0,70
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang pengembangan model
perkuliahan katabolisme karbohidrat berbasis multimedia interaktif untuk
meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa dan keterampilan berpikir kreatif
(KBK) calon guru biologi, dapat disimpulkan bahwa:
1. MPK2BMI memiliki karakteristik berpusat pada mahasiswa dan perkuliahan
menggunakan perangkat lunak interaktif yang berisi pertanyaan-pertanyaan
dalam bentuk latihan-dan-praktik terkait katabolisme karbohidrat dan
indikator KBK.
2. MPK2BMI efektif meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa dengan
kekuatan dampak yang sangat tinggi dan dengan N-Gain dalam kategori
tinggi (72%). N-Gain tertinggi pada sub topik fosforilasi oksidatif dengan
kategori tinggi (83%) dan terendah pada sub topik glikolisis dengan kategori
sedang (62%).
3. MPK2BMI efektif meningkatkan KBK dengan kekuatan dampak yang sangat
tinggi dan dengan N-Gain dalam kategori tinggi (72%). N-Gain tertinggi pada
indikator KBK kelancaran dengan kategori tinggi (80%) dan terendah pada
indikator KBK kejelasan dengan kategori sedang (60%).
4. Menurut mahasiswa, MPK2BMI membantu memahami konsep-konsep
biokimia, menghadirkan suasana baru dalam belajar, merangsang berpikir
kreatif, dan memotivasi mahasiswa mempersiapkan diri sebelum mengikuti
5. Menurut dosen, isi, penyajian dan cara menggunakan perangkat lunak
sudah sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran biokimia.
6. a. Keunggulan MPK2BMI adalah ‘memaksa’ mahasiswa menyiapkan diri
sebelum mengikuti perkuliahan, belajar secara aktif selama pembelajaran,
dan dapat mengulang kembali setelah perkuliahan.
b. Terdapat dua kelamahan utama pada perangkat lunak. (1) Penekanan tak
sengaja pada tombol pengaturan ulang memaksa mahasiswa
mengulangi kegiatan belajar dari awal. (2) Jawaban mahasiswa dianggap
benar oleh program hanya jika sama persis secara kata perkata
dengan kunci yang sudah diprogramkan.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang pengembangan
MPK2BMI untuk meningkatkan KBK calon guru biologi, maka dapat disarankan
beberapa hal sebagai berikut:
1. Untuk menghindari mahasiswa mengulang program karena salah mengatur
ulang, program perlu diperbaiki dengan menampilkan peringatan tentang
akibat jika tombol pengaturan ulang tertekan.
2. Program perlu disempurnakan dengan memberikan kata kunci untuk
mengenali jawaban mahasiswa.
3. MPK2BMI dapat diperluas pada matakuliah lain yang mempunyai
karaktristik konsep abstrak ataupun konsep yang menyatakan proses.
4. Perlu dipertimbangkan untuk kemungkinan akses model latihan-dan-praktik
DAFTAR PUSTAKA
Al-Suleiman, N. (2009). “Cross Cultural Studies and Creative Thinking
Abilities”. Journal of Educational and Psycologic Science. 1, (1), 42-92.
Arends, R.I. (2007). Learning to Teach (Seventh ed.). New York: McGraw Hill Companies.
Arikunto, S. (2006). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Ausubel, D.P. (1960). “The Use of Advance Organizers in The Learning And Retention of Meaningful Verbal Material”. Journal of Educational
Psychology. 51, 267-272.
---. (1968). Educational Psychology: A Cognitive View. New York: Holt, Rinehart, and Winston.
Awang, H. and Ramly, I. (2008). “Creative Thinking Skill Approach Through
Problem-Based Learning: Pedagogy”. InternationalJournal of Human and Social Sciences. 3, (1), 18-23.
Baer, J. (1993). Craetivity and Divergent Thinking: A Task Spesific Approach. London: Lawrence Elbaum Associates Publisher.
Borg, W.R. and Gall, M.D. (1983). Educational Research: An Introduction (Fourth ed.). New York: Longman, Inc.
Brunner, J.S. 1960. The Process of Education. Cambridge: Harvard University Press.
Burke, K.A., Greenbowe, T.J., and Windschitl, M.A. (1998). “Developing and Using Conceptual Computer Animations for chemistry Instruction”. J. Chem. Educ. 75, (12), 1658-1661.
Carin, A. A. (1997). Teaching Modern Science. New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Costa, A. (1988). Developing Minds: A Resource Book for Teaching Thinking. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.
Creswell, J.W. (1994). Research Design: Qualitative and Quantitative
Approaches. California: Sage Publications, Inc.
Depdiknas. (2006). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Biologi Sekolah
Menengah Atas dan Madrasah Aliah. Jakarta : Direktorat Jenderal
De Haan, R. L. (2009). “Teaching Cretivity and Inventive Problem Solving in Science”. CBE-Life Sccience Education. 8, 172-181.
Falvo, D.A. (2008). “Animation and Simulations for Teaching and Learning
Molecular Chemistry”. International Journal of Technology in Teaching and Learning. 4, (1), 68-71.
Fensham, P.J., Gunstone, R.F., and White, R.T. (1994). The Content Of Science:
A Constructivist Approach to its Teaching And Learning.Washington DC.:
The Falmer Press.
Filsaime. (2008). Menguak Rahasia Berpikir Kritis dan Kreatif. Jakarta: Prestasi Pustakakarya
Fisher. (1990). Thinking Skills. [Online]. Tersedia: http://www.brokes.ac.uk/schools/education/rescon.htm [26 Februari 2010]
Foulds, B. (1997). “The Effect of Intervention Strategies on The Creative Thinking Skills of Pre-Service Teachers”. Australian Journal of
Teacher Education. 22, (1), 24-33.
Friedel, C. R. and Rudd, R. D. (2006). “Creative Thinking and Learning Styles in
Undergraduate Agriculture Students”. Journal of Agricultural Education.
47, (4), 102-111.
Gay, L.R. (1996). Educational Research: Competencies for Analysis and
Application. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Griffin, J.D. (2003). “Technology in the Teaching of Neuroscience: Enhanced Student Learning”. Journal Advances in Physiology Education. 27,
146-155.
Hake, R.R. (1999). Analyzing Change/gain Scores. AERA-D-American
Educational Research Associations’s Division D, Measurement and
Research Methodology. [Online]. Tersedia:
http://lists.asu.edu/cgi-bin/wa?A2=ind9903danL=aera-ddanP=R6855. [10 Oktober 2010].
Haladyna. (1997). Writing Test Items to Evaluate Higher Order Thinking. Arizona: Ally Bacon A Viacom Company.
Hamza, M.K. and Griffith, K.G. (2006). “Fostering Problem Solving and Creative Thinking in The Classroom: Cultivating a Creative Mind”. National
Jacobsen, D.A., Eggen, P. and Kauchak, D. (2009). Methods for Teaching:
Promoting Student Learning in K-12 Classrooms. New Jersey: Pearson
Education.
Johnson, E.B. (2002). Contextual Teaching And Learning: what it is and why it’s
here to stay. California: Corwin Press, Inc.
Jollie, D. (2003). Biochemistry Syllabus. Master of Chemical and Life Sciences,
University of Maryland. [Online]. Tersedia: http//www.clfs.umd.edu/grad/mlfsc/Biochemistry.pdf.[10November2010].
Joyce, B., Weil, M. and Calhoun, E. (2009). Models of Teaching. Canada: Pearson Education, Inc.
Kiswandono, I. (2000). “Berpikir Kreatif Suatu Pendekatan Menuju Berpikir Arsitektural”. Dimensi Teknik Arsitektur. 28, (1), 8-16.
Kozma, R.B. (1991). “Learning with Media”. Review of Education Research. 61,
(2), 179-212.
Kunandar. (2007). Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta: Rajawali Press.
Lawson, A.E. (1980). The Psychology of Teaching for Thinking and Creativity. Ohio:The Ohio State University.
Liliasari. (1997). Pengembangan Model Pembelajaran Materi Subjek untuk Meningkatkan ketrampilan Berpikir Konseptual Tingkat Tinggi Mahasiswa Calon Guru IPA. Laporan Penelitian. Bandung: FMIPA IKIP Bandung.
Lubezki, A., Dori, Y. J. and Zoler, U. (2004). “HOCS-Promoting Assessment of
Students’ Performance on Enviroment-Related Undergraduate Chemistry”.
Chemistry Education Research and Practice. 5, (2), 175-184.
Marzano, R.J. (1993). Dimention of Thinking: A Frame Work for Curriculum and
Instruction. Virginia: Assosiation for Supervision and Curriculum
Development.
Meir, E. et al. (2005). “How Effective are Stimulated Molecular-Level
Morgan, G.A. et al. (2004). SPSS for Introductory Statistics: Use and
Interpertation (Second ed.). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates
Inc.
Munandar, S.C.U. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Gramedia.
Munandar, S.C.U. (2009). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Munir. (2005). Konsep dan Aplikasi Program Pembelajaran Berbasis Komputer
(Computer Based Interaction). Bandung: P3MP UPI.
Nandi. (2006). “Penggunaan Multimedia Interaktif Dalam Pembelajaran Geografi di Persekolahan”. Jurnal “GEA” Jurusan Pendidikan Geografi. 6, (1), 1-9.
Nelson, D.L. and Cox, M.M. (2008). Lehninger Principles of Biochemistry (Fifth ed.). New York: WH Freeman dan Company.
Newman, C.M. (2004). “Enhancing Creative Thinking In A Case-Based MBA Course”. Journal of College Teaching dan Learning. 1, (3), 27-30.
Norton, M.B. (2006). Effects Of Divergent Teaching Techniques Upon Creative
Thinking Abilities Of Collegiate Students In Agricultural Systems Management Courses. Thesis in Agricultural Education the Graduate Faculty of Texas Tech. University. [Online]. Tersedia:http://dspace.lib.ttu.edu/bitstream/handle/2346/1328/MATTHEW NORTONED. pdf.[1 Maret 2010]
Odom, A.L. and Kelly, P.V. (2001). “Integrating Concept Maping and the Learning Cycle to Teach Diffusion and Osmosis Concepts to High School Biology Students”. Science Education. 85, 615-635.
Ouyang, L., Ou, L., and Zhang, Y. (2007). “An Integrated Strategy for Teaching Biochemistry to Biotechnology Specialty Student”. Biochemistry and Molecular Biology Education. 3, (4), 267-271.
Paul, R and Elder, L. (2004). The Thinker’s Guiden to Critical and Creative
Thinking. [Online]. Tersedia: http://www.criticalthinking.org. [28
Februari 2010]
Rahmatan, H. (2011). “Biochemistry Concept Level Of Difficulty Profile On Prospective Biology Teachers Perception”. Makalah. Bandung: SPS Universitas Pendidikan Indonesia.
Roberts, J.R. et al. (2005). “Physical Models Enhance Molecular Three
-Dimensional Literacy in an Introductory Biochemistry Course”.
Biochemistry and Molecular Biology Education. 33, (2), 105-109.
Roblyer, M.D. and Doering, A.H. (2010). Integrating Educational Technology
into Teaching. Boston: Pearson Education, Inc.
Rofi’uddin, A. (2000). “Model Pendidikan berpikir kritis-keratif untuk Siswa Sekolah Dasar”. Makalah. Malang: Universitas Negeri Malang.
Rosser, R.A. and Nicholson, G.L. (1984). Educational Psychology, Principles in
Practice. Boston: Little Brown.
Ruseffendi, H.E.T. (2001). Statistik Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.
Rusman. (2006). Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Komputer untuk
Meningkatkan Kompetensi Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika di Sekolah Menengah Kejuruan. Disertasi Doktor pada SPS UPI Bandung:
tidak diterbitkan.
Rusman. (2009). Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran. Bandung: UPI Press.
Rusman. (2011). Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme
Guru. Jakarta: Rajawali Press.
Rusman, Kurniawan, D. dan Riyana, C. (2011). Pembelajaran Berbasis Teknologi
Informasi dan Komunikasi Mengembangkan Profesionalisme Guru.
Jakarta: Rajawali Press.
Salisbury, D. (1990). “Cognitive Psychology and Its Implications for Designing Drill and Practice Programs for Computers”. Journal of Computer-Based
Instruction. 17, (1), 23-30.
Santrock, J.W. (2008). Educational Psychology (Third ed.). New York: McGraw Hill Companies.
Saroso, S. (2011). Upaya Pengembangan Pendidikan Melalui Pembelajaran
BerbasisMultimedia.[Online].Tersedia:http/etraining.tkplb.org/file.php/1/
Sarwiko, D. (2011). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia
Interaktif Menggunakan Macromediadirector Mx (Studi Kasus Mata Kuliah Pengolahan Citra Pada Jurusan S1 Sistem Informasi).
[Online].Tersedia:http://papers.gunadarma.ac.id/index.php/computer/articl e/view/575/537. pdf. [2 Desember 2011].
Slavin, R.E. (2009). Educational Psychology: Theory and Practice (Ninth ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc.
Smaldino, S.E., Lowther, D.L. and Russell, J.D. (2008). Instructional Technology
and Media for Learning (Ninth ed.). Boston: Pearson Education, Inc
Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R dan D. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, N.S. (2010). Pengembangan Kurikulum Teori dan Prakteknya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Suprapto. (2008). Menggunakan Ketrampilan Berpikir untuk Meningkatkan Mutu
Pembelajaran.[Online].Tersedia: http://supraptojielwongsolo.wordpress. com [13 Juni 2008].
Supriadi, D. (1994). Kreativitas Kebudayaan dan Perkembangan IPTEK. Bandung: Alfabeta.
Suprijono, A. (2011). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tsapartis, G. and Zoller, U. (2003). “Evaluation of Higher vs. Lower-order cognitive Skills-Type Examination in Chemistry. Implication for University in-class Assessment and Examination”. University Chemistry Education. 7, 50-57.
Usman, M.U. (2011). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Waryanto, (2008). “Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran”. Makalah.
Klaten: SMK Muhammadiah 3.
West, L.H.T. and Pines, A.L. (1985). Cognitive Structure and Conceptual
Change. London: Academic Press Inc.
Widyastuti. (2010). Metode Pembelajaran Ekspositori, Latihan Praktik (Drill and
Woofolk, A. (2008). Educational Psychology Active Learning Edition (Tenth ed.). Boston: Pearson Education, Inc.
Zacharias, Z. and Anderson, O.R. (2003). “The effect of an interactive computer-based simulation prior to performing a laboratory inquiry-computer-based
experiment on students’ conceptual understanding of physics”. American