4 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Varietas kelapa sawit
2.1.1 Jenis Tanaman Kelapa Sawit a. Jenis Dura
Varietas ini memiliki tempurung yang cukup tebal yaitu antara 2 - 8 mm dan tidak terdapat lingkaran sabut pada bagian luar cangkang. Daging buah relatif tipis yaitu 35 – 50% terhadap buah, kernel (daging biji) lebih besar dengan kandungan minyak sedikit.
b. Jenis Psifera
Ketebalan cangkang sangat tipis, bahkan hampir tidak ada tetapi daging buahnya tebal, lebih tebal dari buah dura. Daging biji sangat tipis, tidak dapatdiperbanyak tanpa menyilangkan dengan jenis lain dan dipakai sebagai pohon induk jantan.
c. Jenis Tenera
Berdasarkan tebal tipisnya cangkang sebagai faktor homozygote tunggal yaitu Dura bercangkang tebal jika dikawinkan dengan Pisifera bercangkang tipis maka akan menghasilkan varietas baru yaitu Tenera.
Varietas tandan buah kelapa sawit cukup banyak dan diklasifikasikan dalam berbagai hal. Misalnya dibedakan atas tipe buah , bentuk luar, tebal cangkang, warna buah dan lain-lain. Menurut Beccari dan Chavalier (1914) ada 18 varietas, Becker dan Fickendy (1919) ada 19 Varietas sedangkan annet (1921) hanya menggolongkannya dalam 7 Varietas. Dari warna buah maka dari spesies Elaeis guineensis jacq dikenal Varietas;
Nigrescens yaitu buahnya berwarna violet sampai hitam waktu muda dan menjadi merah-kuning (orange) sesudah matang.
Virescens yaitu buahnya berwarna hijau waktu muda dan sesudah matang berwarna merah –kuningorange).
Albescens yaitu buah muda berwarna kuning pucat, tembus cahaya karena mengandung sedikit karotein.
5
Big nigrescens maupun virescens ada buahnya yang memiliki carpet tmbahan (bersayap = mantled) atau dikenal sebagai diwakka-wakka. Varietas lainnya ada yang disebut sebagai Elaeis idolatrica yaitu daunnya menyatu atau anak daunnya tidak memisah. Berdasarkan tebal tipisnya cangkang sebagai faktor homozygote tunggal yaitu Dura yang bercangkang tebal jika dikawinkan dengan Pisifera yang bercangkang tipis jika keduannya dikawinkan akan menghasilkan Varietas baru yaitu Tenera yang memiliki ketebalan cangkang diantara keduanya perkawinanyadalah :
Dura x Dura 100% Dura. Dura x Pisifera 100% Tenera.
Tenera x Tenera 50% Dura+ 50% Pisifera.
Tenera x Tenera 25% Dura+ 50% Tenera + 25% Pisifera. a. Perbedaan tebal cangkang beberapa Varietas
Varietas Dura - Cangkang 2-5mm - Pericarp 2-6mm - Cangkang buah 25-50% - Mesocarp buah 20-60% - Inti 4-20%. Varietas Psifera
- Cangkang (tidak ada) - Pericarp 5-10mm
- Cangkang buah (tidak ada) - Mesocarp buah 92-97% - Inti 3-8%. Varietas Tenera - Cangkang 1-2,5mm - Pericarp 3-10mm - Cangkang buah 3-20% - Mesocarp buah 60-90% - Inti 3-15%.
6 b. Karakteristik beberapa Varietas
PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) telah memproduksi bahan tanam kelapa sawit unggul yang berstandar internasional sesuai dengan ‘Sistem Manajemen Mutu’ (ISO 9001:2008) sehingga terjamin mutunya. Bahan tanam unggul berupa kecambah, bibit klon serta bibit komersial kelapa sawit siap tanam yang telah melalui seleksi dan pengujian dari program pemuliaan tanaman dalam waktu puluhan tahun secara berkesinambungan. Bahan tanam kelapa sawit unggul merupakan modal utama untuk mendapatkan produktivitas tinggi. Dengan bahan tanam unggul maka produksi TBS dan minyak dijamin jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan bibit dari benih asalan. Sembilan varietas unggul kelapa sawit yang saat ini tersedia di PPKS adalah:
1. D x P PPKS 540 (High mesocarp)
Rerata produksi : 28,1 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak : 27,4%
Produksi CPO : 8,1 ton/ha/tahun Rasio inti/buah : 5,3 %
7 2. D x P PPKS 718 (Big bunch)
Rerata produksi : 26,5 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak : 23,9%
Produksi CPO : 6,9 ton/ha/tahun Rasio inti/buah : 8,7 %
Pertumbuhan meninggi : 75 cm/tahun
3. D x P PPKS 239 (High CPO & PKO)
Rerata produksi : 32 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak : 25,8%
Produksi CPO : 8,4 ton/ha/tahun Produksi PKO : 1,3 ton/ha Rasio inti/buah : 8,9 %
8 4. D x P Simalungun
Rerata produksi : 28,4 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak : 26,5%
Produksi CPO : 7,53 ton/ha/tahun Rasio inti/buah : 9,2 %
Pertumbuhan meninggi : 75-80 cm/tahun 5. D x P Langkat
Rerata produksi : 27,5 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak : 26,3%
Produksi CPO : 7,23 ton/ha/tahun Rasio inti/buah : 9,3 %
9 6. D x P LaMe
Rerata produksi : 26-27ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak : 23-26%
Produksi CPO : 5,9-7 ton/ha/tahun Rasio inti/buah : 6,9 %
Pertumbuhan meninggi : 50-70 cm/tahun
7. D x P Avros
Rerata produksi : 24-27 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak : 23-26%
Produksi CPO : 5,5-7 ton/ha/tahun Rasio inti/buah : 6,6 %
10 8. D x P Yangambi
Rerata produksi : 25-28 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak : 23-26%
Produksi CPO : 5,8-7,3 ton/ha/tahun Rasio inti/buah : 7,2 %
Pertumbuhan meninggi : 60-70 cm/tahun
9. D x P Sungai Pancur (Dumpy)
Rerata produksi : 25-28 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak : 23-26%
Produksi CPO : 6,5-7,3 ton/ha/tahun Rasio inti/buah : 6,5 %
Pertumbuhan meninggi : 40-55 cm/tahun b. Kriteria matang panen
adapun kriteria matang panen yang dipakai adalah dua berondolan (sudah ada 2 buah lepas dari tandannya atau jatuh kepiringan pohon)untuk tiap kg
11
tandan. Untuk tandan lebih dari 10 kg dipakai 1 berondolan harus ada yang jatuh ke tanah. Panen yang baik adalah:
Tidak ada buah matang yang tinggal di piringan pokok. Tidak ada buah mentah yang dipanen .
Tidak ada buah yang tertinggal dipasar panen, TPH dan lapangan. Tandan berondolan harus bersih dan berondolan dimasukkan di
karung.
Gagang tandan kosong membentuk huruf V.
Pelepah cabang dipotong tiga dan diletakkan digawang mati dan telungkupkan.
Untuk tandan yang rata rata beratnya kurang dari 10 kg dipakai kriteria 1 berondolan/kg.
Berikut ini tingkat kematangan dan kriteria yang dipakai dalam penelitian:
Fraksi 0 jumlah buah terlepas 1-25% , derajat kematangan mentah. Fraksi 2 jumlah buah terlepas 12-25%, derajat kematangan
matang1.
Fraksi 4 jumlah buah terlepas 75-100%,derajat kematangan lewat matang.
2.2 Karakteristik Kualitas Minyak Kelapa Sawit
Standar kualitas adalah merupakan hal yang paling penting untuk menentukan minyak yang mempunyai kualitas yang bermutu baik. Sebagai acuan untuk mengetahui kualitas produksi yang dihasilkan, perlu ditetapkan standar kualitas minyak sawit dan inti sawit. Dengan demikian, bisa diketahui nilai efektifitas dan efesiensi mutu pabrik kelapa sawit (Pahan, 2006).
12
Tabel 2.1 Standar kualitas minyak kelapa sawit
No Karakteristik Batasan
1 Kadar Asam Lemak Bebas ( ALB ) < 3,50%
2 Kadar Air < 0,15%
3 Kadar Kotoran < 0,02%
4 Deterioritation Of Bleachability Index > 2,40%
5 Karoten > 500 ppm
( Pahan, 2006) a. Karoten
Karotenoid adalah suatu pigmen alami berupa zat warna kuning sampai merah yang terbagi ke dalam dua golongan. Pertama, karotenoid pro-vitamin A yang berfungsi sebagai zat nutrisi aktif, seperti α-karoten, β-karoten, dan γ- karoten. Kedua, karotenoid non-pro-vitamin A yaitu nonnutrisi aktif, seperti fucoxanthin, neokanthin, dan violaxanthin (Khomsan dan Anwar, 2008).
Konsentrasi karoten dari minyak kelapa sawit mentah dapat diketahui dengan proses adsorbs menggunakan adsorben sintetis diikuti oleh ekstraksi pelarut. Umumnya minyak kelapa sawit mengandung karotenoid sebesar 500-700 ppm. Tetapi, kandungan karotenoid tersebut mengalami penurunan selama masa pemurnian kelapa sawit. Pemurnian kelapa sawit biasanya dilakukan secara fisik dengan menggunakan suhu tinggi mealui proses degumming (penghilangan gum), bleaching (penghilangan warna), deodorizing (penghilangan bau), dan deasidifikasi penurunan kadar asam lemak bebas (Mas’ud dkk, 2008).
Senyawa ini menimbulkan warna oranye tua pada CPO. Karoten larut dalam asam lemak, minyak, lemak dan pelarut minyak serta pelarut lemak, tetapi tidak larut dalam air Senyawa ini dapat dihilangkan dengan proses adsorpsi dengan tanah pemucat. Tingkat kematangan karoten yang paling berpengaruh dalam CPO adalah β-karoten, pigmen ini juga tidak stabil terhadap pemanasan (Tambunan, 2006).
13
α-karoten mempunyai kemampuan sebagai antioksidan dan bersinergi dengan β-karoten dalam mencegah pertumbuhan tumor. Dalam penelitian, karotenoid α-karoten dan β-karoten dapat menghambat gen N-myc. N-myc adalah gen yang berperan dalam pembentukan dan pertumbuhan sel kanker (Astawan, 2008).
Dibandingkan dengan β-karoten, kandunganα-karoten di dalam bahan pangan memang termasuk sedikit.Namun, khasiat dan manfaat α-karoten tidak kalah dengan β-karoten.Penelitian menunjukkan bahwa α-karoten dapat menghambat gen N-myc 10 kali lebih kuat dibandingkan β-karoten (Astawan, 2008).
α-karoten juga mempunyai aktivitas vitamin A. Sebanyak 53 persen dariα- karoten dapat diubah menjadi vitamin A. Di dalam hati terdapat α-karoten dalam keadaan nonaktif. Bila tubuh kekurangan vitamin A, α-karoten tersebut dapat segera diubah menjadi vitamin A (Astawan, 2008).
β-karoten mempunyai kemampuan sebagai antioksidan yang dapat berperan penting dalam menstabilkan radikal berinti karbon, sehingga mengurangi resiko terjadinya kanker. Salah satu keunikan sifat antioksidan β-karoten adalah efektif pada konsentrasi rendah oksigen, sehingga dapat melengkapi sifat antioksidan vitamin E yang efektif pada konsentrasi tinggi oksigen (Astawan, 2008).
β-karoten telah terbukti mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan, tetapi yang baik untuk dikonsumsi adalah β-karoten alami yang berasal dari bahan pangan. Berdasarkan penelitian yang dimuat pada The New England Journal of Medicine pada tahun 1994, komsumsi β-karoten sintetik pada perokok berat justru dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker paru-paru. Sebaliknya tidak akan terjadi pada mereka yang mendapat asupan β-karoten alami dari bahan pangan (Astawan, 2008).
Yang paling dominan dan banyak jumlahnya dalam minyak kelapa sawit adalah β-karoten.Minyak sawit yang diperoleh dari bagian mesokarp buah
14
kelapa sawit kaya akan karotenoid melalui proses pengepresan. Konsentrasi karotenoid dalam minyak kelapa sawit berkisar 500-700 ppm terutama dalam bentuk α- dan β-karoten yang jumlahnya lebih dari 90 persen dari total karoten.Karotenoid merupakan prekursor vitamin A yang disebut sebagai provitamin A (Haryati,2008).
b. DOBI
Deteoration Of Bleachability Index (DOBI) atau indeks daya pemucatan, merupakann rasio dari kandungan karoten dan produk oksidasi sekunder pada CPO. Nilai DOBI yang rendah mengindikasikan meningkatnya kandungan produk oksidasi sekunder (produk oksidasi dari karotenoid yang dapat terjadi dari efek rantai asam lemak teroksidasi). Nilai DOBI yang rendah berkorelasi dengan daya pemucatan yang rendah pula karena produk-produk karotenoid teroksidasi sulit dipucatkan dengan tanah pemucat dan dideorisasi. Batas bawah nilai DOBI yang dapat diterima sebagai indikasi CPO baik adalah 2,3 (Siahaan, 2005).
Secara teknis, nilai DOBI diukur dengan alat spektrofotometer UV-Visible. Kandungan karoten diukur pada absorbens 446 nm sedangkan produk oksidasi sekunder pada absorbens 269 nm. Berkenaan dengan nilai DOBI, mutu CPO untuk refinasi dikategorikan atas.
Tabel 2.2 Hubungan nilai DOBI dengan grade CPO
Nilai DOBI Grade CPO
< 1,68 Sludge oil atau ekivalen
1,68-2,30 Buruk
2,33-2,92 Normal
2,93-3,24 Baik
> 3,24 Excellent (sangat baik) Sumber : (Siahaan, 2005).
15
Malaysia telah menerapkan DOBI sebagai salah satu parameter mutu CPO sejak Juli 2004, dimana pembeli dapat menolak CPO dengan nilai DOBI lebih rendah dari 2,3 (Siahaan, 2005).
DOBI hanyalah sebuah parameter mutu untuk CPO bagi kepentingan industri rafinasi dan tingkat kematangan onasi. Input kimia lebih besar bila DOBI lebih rendah, artinya biaya operasi menjadi lebih mahal. Selain itu, Kehilangan minyak semakim tinggi dengan semakin besarnya jumlah bleching earth dugunakan (yaitu bila DOBI lebih rendah). Hasil penelitian Lal dan Gassper (1991) menunjukkan bahwa konsumsi bleaching earth 3,2%w/w oleh CPO dengan DOBI 1,4 dibanding CPO dengan DOBI 3,0 hanya membutuhkan 0,9%w/w bleaching earth.
Perbaikan nilai DOBI tentu terkait dengan kualitas bahan baku dan praktek pelaksanaan opersi pengolahan di pabrik kelapa sawit. Beberapa kajian telah menunjukkan bahwa DOBI berkaitan erat dengan kandungan asam lemak bebas, kandungan logam, bahkan dengan kadar air dan kotoran. Hal ini dapat dimengerti karena ada kaitan erat antara keseluruhan parameter mutu tersebut. Kadar air dan kotoran yang lebih tinggi dapat menyebabkan reaksi hidrolisa pembentukan asam lemak yang lebih lanjut. Kadar asam lemak yang lebih besar memungkinkan peningkatan kandungan logam pada CPO karena sifat asam lemak yang cukup korosif. Akhirnya, logam ini akan menjadi peroksidasi yang merangsang pembentukan senyawa oksida sekunder pada CPO.
Menurut Keat et al, 1987 menyatakan bahwa logam besi dan tembaga merupakan penyebab turunnya stabilitas oksidatif minyak kelapa sawit yang akan menyebabkan nilai DOBI menurun. Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa DOBI bisa turun jika alat atau mesin yang digunakan terdapat banyak korosi/karat.
Usaha-usaha meningkatkan nilai DOBI di PKS dengan demikian dapat dilakukan dengan tindakan-tindakan sebagai berikut:
16
1) Grading buah yang ketat untuk memperoleh tandan buah segar berkualitas sehingga tidak diperlukan proses sterilisasi dengan waktu yang berlebihan dan kandungan asam lemak bebas yang minimal
2) Eliminasi besi dalam proses telah dicoba dilakukan diantaranya dengan pemasangan magnetic trap pada pipa produksi di PKS. Namun, prosedur ini tidak efektif menurunkan kandungan besi karena sebagian besi berada dalam bentuk larutan, bukan partikel
3) Tentu, penerapan Good Manufacturing Praktices, khususnya perawatan peralatan sedemikian rupa sehingga mengurangi korosi pada peralatan pabrik (Siahaan, 2005)
TBS menunjukkan dua kategory dari kematangannya. Tandan berwarna hitam yang mengandung minyak dengan DOBI yang lebih rendah dan tandan berwrna kuning dengan DOBI yang lebih tinggi. Ekstraksi minyak dari tandan yang lebih hitam memiliki DOBI < 1,5 dimana dari tandan yang berwana kuning memiliki DOBI > 3,5. Ada pun penyebab DOBI ( deteration of bleachability index ) yang rendah antara lain sebagai berikut:
1. Persentase yang tinggi dari tandan buah yang berwarna hitam (belum masak)
2. Penundaan pengolahan terutama pada musim hujan 3. Kontaminasi dari CPO dengan kondensasi sterilizer 4. Sterilisasi yang lama dari tandan buah
5. Pemanasan (>55°C) dari CPO dalam tangki penyimpanan (Arifiani, 2009). 2.3 Syarat-syarat Matang Panen
Syarat tanaman disebut matang panen apabila tanaman telah memenuhi syarat 60 % dan tanaman dalam suatu areal/blok telah matang pohon, sedangkan dikatakan matang pohon, apabila paling sedikit 2 buah tandan telah membusuk dan 1 tandan matang satu pohon (Lampira Syarat-syarat Matang PanenTanaman disebut matang panen tandan bila tandan telah memberondol, yaitu terlepasnya buah dari tandan secara alami atau dengan istilah
17
menghasilkan berondolan.Matang panen tandan ditandai dengan jatuhnya dua berondolan untuk setiap kg berat TBS di pinggiran/piringan pokok.Pada TM tahun ke-1 harus terdapat paling sedikit 5 berondolan di pinggiran pokok. Kriteria berondolan per kg adalah:
Berat tandan 6 – 8 kg : Berondolan 8 buah. Berat tandan 9 – 15 kg : Berondolan 15 buah. Berat tandan >15 kg : Berondolan 20 buah.
Agar lebih mudah, dapat juga dipakai kriteria bahwa untuk tanaman yang berumur di bawah 10 tahun, jumlah berondolan sekurang-kurangnya 10 buah, sedangkan yang di atas 10 tahun, jumlah berondolannya sekurang-kurangnya 20 buah.