PROFIL KESEHATAN
KABUPATEN PATI
BAB I PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Untuk mewujudkan Kabupaten Pati sehat sesuai dengan visi
pembangunan kesehatan kabupaten Pati yaitu mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat menuju Pati bumi mina tani sejahtera tidak dapat dilakukan sendiri oleh Pemerintah di sector kesehatan tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan peran serta swasta dan masyarakat. Segala upaya kesehatan selama ini dilakukan tidak hanya oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga tidak luput peran dari sektor non kesehatan dalam upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan upaya mengatasi permasalahan kesehatan. Agar proses pembangunan kesehatan berjalan sesuai dengan arah dan tujuan, diperlukan manajemen yang baik sebagai langkah dasar pengambilan keputusan dan kebijakan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Untuk itu pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dalam suatu sistem informasi kesehatan.
Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang evidence based diarahkan untuk penyediaan data dan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Untuk itu, peran data dan informasi kesehatan menjadi sangat penting dan semakin dibutuhkan dalam manajemen kesehatan oleh berbagai pihak. Perkembangan teknologi dan Informasi, memacu perkembangan Sistem Informasi kesehatan menjadi lebih baik lagi. Apalagi masyarakat semakin kritis menyoroti
perkembangan pembangunan kesehatan dan hasil – hasilnya. Untuk itu
disusunlah suatu Buku Profil Kesehatan Kabupaten Pati Tahun 2014, yang berisi data dan informasi serta kegiatan yang berlangsung selama satu tahun di Dinas kesehatan Kabupaten Pati dan UPTD di bawahnya.
Profil Kesehatan Kabupaten ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan berbagai pihak akan data dan informasi kesehatan serta perkembangan dunia kesehatan selama satu tahun berjalan. Karena didalam buku Profil ini tersedia data dan informasi mengenai penduduk, fasilitas kesehatan dan pencapaian
program – program kesehatan serta permasalahan yang ditimbulkan. Buku Profil ini disajikan secara sederhana dan informatif dengan tujuan bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang membutuhkan.
Selain menyajikan data dan informasi kesehatan, buku ini dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan / kemajuan pembangunan kesehatan yang telah dilakukan selama tahun 2014 dibandingkan dengan target yang sudah ditetapkan, sekaligus bisa digunakan sebagai bahan evaluasi dalam upaya pencapian Kabupaten Pati Sehat.
Kabupaten Pati merupakan salah satu kabupaten di Jawa tengah dengan luas wilayah 150.368 Ha. Secara administrastif Kabupaten Pati Terbagi menjadi 21 Kecamatan yang tersebar menjadi 401 desa dan 5 kelurahan. Wilayah terluas adalah Kecamatan Sukolilo dengan luas wilayah 15.874 Ha dan terendah adalah Kecamatan Wedarijaksa dengan 4.085 Ha.
II. SISTEMATIKA PENYAJIAN
Adapun Sistematika Penyajian Buku Profil Kesehatan Kabupaten Pati Tahun 2014 adalah sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan.
Bab ini menyajikan tentang maksud dan tujuan disusunnya Profil Dinas Kesehatan Kab. Pati. Dalam bab ini juga diuraikan secara ringkas isi dari Profil Kesehatan Kab. Pati dan Sistimatika Penyajian.
BAB II : Gambaran Umum.
Bab ini menyajikan tentang gambaran Umum Kabupaten Pati yang meliputi keadaan geografi, cuaca, dan lain-lain; keadaan penduduk seperti jumlah penduduk, fertilitas, kepadatan, dan lain-lain; tingkat pendidikan penduduk seperti angka melek huruf, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, dan lain-lain; serta keadaan ekonomi seperti PDB, pendapatan per-kapita, ketergantungan, dan lain-lain.
BAB III : SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Bab ini menguraikan secara ringkas Visi dan Misi serta Strategi Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Pati. Selain itu juga diuraikan tentang indikator angka kematian, angka kesakitan dan
angka status gizi masyarakat serta program-program
Pembangunan Kesehatan Daerah yang dilaksanakan dalam tahun 2013 beserta target-target temuannya.
BAB IV : SITUASI UPAYA KESEHATAN
Bab ini berisi penyajian tentang hasil-hasil yang dicapai oleh Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Pati dalam rangka mencapai kabupaten Sehat. Oleh karena itu, uraiannya berupa narasi terhadap indikator-indikator di bidang Derajat Kesehatan,
Perilaku Masyarakat, Kesehatan Lingkungan, Pelayanan
Kesehatan (termasuk Sumber Daya Kesehatan).
Derajat Kesehatan menyajikan narasi terhadap indicator-indikator seperti angka kematian, status gizi dan lain-lain yang dapat dicapai dalam tahun 2014. Selain itu di buat juga perbandingan antar kecamatan di Kabupaten Pati.
Perilaku Masyarakat menyajikan narasi terhadap indikator-indikator seperti persentase desa yang melaksanakan PHBS, persentase sekolah dan madrasah yang bebas napza, persentase penduduk yang menggunakan sarana kesehatan, dan lain-lain, dibuat juga perbandingan antar kecamatan.
Kesehatan Lingkungan menyajikan narasi terhadap indikator-indikator seperti persentase rumah sehat, persentase sarana ibadah, angka rumah bebas jentik dan lain-lain dibuat perbandingan antar kecamatan.
Pelayanan Kesehatan menyajikan narasi terhadap indikator-indikator seperti ratio puskesmas terhadap penduduk, persentase persalinan yang ditolong tenaga kesehatan, persentase bayi yang diimunisasi lengkap, dan lain-lain, dibuat perbandingan antar kecamatan.
BAB V : SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Menguraikan tentang tenaga kesehatan, sarana kesehatan , pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.
BAB VI : KESIMPULAN
Berisi sajian garis besar hasil – hasil cakupan
program/kegiatan berdasarkan indicator-indikator bidang
kesehatan yang dapat ditelaah lebih jauh dan untuk bahan
perencanaan pembangunan kesehatan serta pengambilan
keputusan di Kabupaten Pati.
LAMPIRAN
Berisi resume atau angka pencapaian per Puskesmas / kecamatan dan 82 Tabel yang sebagian diantaraanya merupakan indicator pencapaian Kinerja Standart Pelayanan Minimal bidang Kesehatan.
BAB II
GAMBARAN UMUM KABUPATEN PATI
A. KEADAAN GEOGRAFIS
Kabupaten Pati merupakan salah satu dari 35 daerah Kabupaten /
Kota di wilayah Propinsi Jawa Tengah dan terletak diantara 110 51’ - 111 15’
BT dan 625’ - 700 LS, dengan batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Dibatasi wilayah Kabupaten Jepara dan Laut Jawa
SebelahTimur : Dibatasi wilayah Kabupaten Rembang dan Laut Jawa
Sebelah Selatan : Dibatasi wilayah Kabupaten Grobogan dan
Kabupaten Blora
Sebelah Barat : Dibatasi wilayah Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara
Sesuai dengan data dari BPS dalam Kabupaten Pati Dalam angka tahun 2013 Luas wilayah Kabupaten Pati adalah 150.368 Ha yang terdiri dari 21 Kecamatan, 401 desa dan 5 kelurahan, 1.106 Dukuh,1.474 Rw dan 7524 RT. Sedangkan jumlah sarana Pelayanan Kesehatan yang ada di Kabupaten Pati adalah 8 Rumah Sakit Umum, , 29 Puskesmas, 29 Balai Pengobatan/ klinik, 2 Praktek Dokter Bersama, 108 Apotik, 6 Toko Obat, 1 Gudang farmasi Kesehatan.
Rata-rata curah hujan di kabupaten Pati di tahun 2013 sebanyak 2922.19 mm dengan 123 hari hujan selama setahun. Kecamatan Pati sebagai pusat ibukota Kabupaten , memiliki curah hujan 2097 mm dengan hari hujan sebanyak 115 hari. Sedangkan Kecamatan yang berada di sekitar gunung muria memiliki curah hujan yang cukup tinggi yaitu Kecamatan Gembong dengan curah hujan 2744 mm, Kecamatan Gunungwungkal 3032 mm dan Kecamatan Cluwak 3074 mm.
Secara topografi kecamatan dengan rata-rata ketinggian wilayah terendah adalah Kecamatan Gabus dengan rata-rata ketinggian setinggi 3,92 m diatas permukaan laut, Kecamatan Juwana 4,86 m dan rata-rata tertinggi adalah Kecamatan Gembong setinggi 219 m diatas permukaan laut. Kecamatan yang memiliki daerah ketinggian adalah Kecamatan Tlogowungu setinggi 624 m diatas permukaan laut, kemudaian Kecamatan Gunugnwungkal setinggi 600 m diatas
permukaan laut dan wilayah terendah berada di kecamatan Tayu 1 m diatas permukaan laut.
B. KEADAAN PENDUDUK
Situasi kependudukan dapat dilihat dari berbagai indikator, antara lain : Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk, Kepadatan Penduduk, Persentase Penduduk Produktif , Angka Kelahiran Kasar dan Tingkat Fertilitas.
1. Pertumbuhan Dan Persebaran penduduk
Berdasarkan data BPS Jumlah Penduduk Kabupaten Pati pada tahun 2013 diperkirakan sebanyak 1.218.016 jiwa dengan 590.181 jiwa penduduk laki – laki dan 627.835 jiwa penduduk perempuan, dengan sex ratio sebesar 0,94. Dari jumlah penduduk tersebut menunjukkkan angka penduduk anak-anak sebesar 287.942 jiwa ( 23,64% ), sedangkan penduduk dewasa sebesar 930.074 jiwa ( 76,35 % ).
Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Tahun 2013 sebesar 0,66 %, yang tertinggi berada di kecamatan Margorejo sebesar 1,58 %,
sedang terendah sebesar 0,29 % berada di kecamatan Winong, Pucakwangi, Jakenan, Gabus dan Tayu.
2. Kepadatan Penduduk
Dengan luas wilayah 1.503,68 km² ( 150.368 Ha ) dan jumlah penduduk sebesar 1.218.016 jiwa, maka kepadatan penduduk 803 jiwa per Km². Kepadatan terbesar di kecamatan Pati sebesar 2448,84 jiwa/Km² dan Kecamatan Juwana sebesar 1632,08 jiwa/km², terendah di Kecamatan Pucakwangi sebesar 340,02 jiwa/km².
Angka kepadatan penduduk tertinggi terletak di Kecamatan Pati
2.434,10 jiwa/km2, sedangkan kepadatan penduduk terendah di Kecamatan
Pucakwangi 340,08 jiwa/km2.
Terdapat 8 ( delapan ) Kecamatan yang mempunyai kepadatan penduduk di atas rata-rata Kabupaten yaitu Kecamatan Pati sebagai pusat pemerintahan dan juga daerah sentra industri dan perdagangan. Kecamatan Juwana dengan sentra industri kuningan dan perikanan yang dilengkapi dengan TPI dan Pelabuhan serta merupakan daerah industri terbesar di
Kabupaten Pati . Kecamatan Batangan dengan industri garam, Kecamatan Trangkil dengan industri Gula, Kecamatan Margoyoso dengan industri Tepung Tapioka. Sedangkan 5 Kecamatan yaitu Kecamatan Gembong, Tlogowungu, Tayu, Sukolilo dan Dukuhseti merupakan daerah sentra perdagangan produk pertanian dan perkebunan serta galian tambang.
Gambar 2.1 Penduduk menurut Golongan umur di Kabupaten Pati
Tahun 2009-2013
3. Rasio Jenis Kelamin
Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan perempuan kali 100 persen. Berdasarkan perhitungan sementara angka proyeksi penduduk tahun 2013 penduduk di Kabupaten Pati penduduk laki-laki sebanyak 590.181 jiwa dan perempuan sebesar 627.835 sehingga di dapatkan rasio jenis kelamin sebesar 0,94.
4. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur
Sedangkan perbandingan komposisi proposional penduduk Kabupaten Pati menurut usia produktif pada tahun 2009 sampai tahun 2013 dapat dilihat pada table 2.2. Penduduk usia produktif adalah yaitu penduduk yang
2009 2011 2013 0 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000 0-4 5-14 15-44 45-64 >65 2009 2010 2011 2012 2013
melakukan kegiatan produksi dari segi ekonomi dan dapat memenuhi kebutuhan sendiri, yaitu usia 15 tahun sampai dengan 64 tahun sebesar 830.524 jiwa dan penduduk yang belum dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan penduduk yang dianggap tidak mampu bekerja yaitu umur 0 sampai dengan 14 tahun ditambah penduduk usia 65 tahun keatas sebesar 387.492 iiwa. Adapaun secara rinci dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 2.2 Penduduk menurut Usia produktif Tahun 2013
Dari table tersebut diatas terlihat bahwa tahun 2013 jumlah penduduk
menurut umur 0 – 14 tahun mengalami peningkatan, karena kami
menggunakan penduduk hasil sensus tahun 2010 dari BPS Kabupaten Pati jadi yang dipakai adalah angka prediksi. Usia Harapan Hidup Kabupaten Pati tahun 2012 adalah 72.95 naik dibandingkan tahun 2011 adalah 72,89 dibandingkan usia harapan hidup tahun 2010 sebesar 72,83. ( sumber: Kabupaten Pati dalam angka Tahun 2013 ).
2009 2010 2011 2012 2013 0-14 26,46 26,46 26,46 24,5 28,79 15-64 67,69 67,69 67,69 67,6 83,05 >65 5,84 5,84 5,84 7,88 5,84 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
KELOMPOK USIA PRODUKTIF KABUPATEN PATI TAHUN 2009 S/D 2013
C. KEADAAN SOSIAL 1. Pendidikan
1.1. Data dari BPS Kab. Pati pada Pati dalam angka tahun 2014 menunjukkan
banyaknya sekolah TK pada tahun 2013 sebanyak 471 sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 17.688 siswa. Sekolah SD/MI sederajat sebanyak 674 sekolah terdiri dari 649 SD negeri, 25 SD swasta dengan jumlah murid keseluruhan 91.533 orang. Jumlah Sekolah SLTP sederajat sebanyak 83 sekolah ( 58 sekolah negeri dan 25 swasta ) dengan jumlah murid SLTP secara keseluruhan 34.233 siswa. Jumlah sekolah SLTA sederajat sebanyak 29 sekolah ( 11 negeri dan 18 swasta ). Jumlah murid
SLTA sederajat sebanyak 12.751 siswa.
D. KEADAAN EKONOMI
1. Angka Beban Tanggungan.
Angka beban tanggungan (Dependency Ratio) penduduk Kabupaten Pati berdasarkan angka Kabupaten dalam angka tahun 2014 sebesar 55,67 artinya setiap 100 orang yang produktif harus menaggung 56 orang yang tidak produktif.
2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) atas dasar harga konstan dan harga berlaku yang semakin meningkat dari tahun ketahun secara signifikan . Dari data BPS Kabupaten Pati , angka PDRB tahun 2009 sampai dengan 2013 sebagai berikut:
Gambar 2.3 Angka PDRB Kabupaten Pati Tahun 2009-2013 Sumber Data: BPS
Angka PDRB Tahun 2013 harga berlaku Rp. 12.882.089,54, GRDP per kapita tahun 2013 sebesar Rp. 10.576.289,- meningkat dibanding tahun 2012 harga berlaku Rp. 11.534.382,85, tahun 2011 harga berlaku Rp. 10.456.354,64 , meningkat sebesar Rp. 1.078.028 tahun 2010 Harga Berlaku Rp 9.385.510,68., tahun 2009 Rp. 8.386.572 , sedangkan Angka PDRB Per Kapita Harga Berlaku tahun 2010 sebesar Rp. 7.880.407 tahun 2009 Rp. 7.054.451 terjadi kenaikan Rp. 825.956, Namun demikian kalau kita lihat dari Jumlah Keluarga Miskin (Gakin) di Kabupaten Pati (tahun 2013 ) 569.889 jiwa masuk dalam data jamkesmas dan 244.599 jiwa masuk dalam jamkesda Kabupaten Pati dan tiap tahun mengalami kenaikan hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya sistim pencatatan dan pelaporan.
2009 2010 2011 2012 2013 PDRB 8.386.572 9.385.510 10.456.35 11.534.38 12.882.08 PERKAPITA 7.054.452 7.880.408 8.767.321 9.532.108 10.576.28 0 2.000.000 4.000.000 6.000.000 8.000.000 10.000.000 12.000.000 0,00 2.000.000,00 4.000.000,00 6.000.000,00 8.000.000,00 10.000.000,00 12.000.000,00 14.000.000,00 PDRB KABUPATEN PATI TAHUN 2009 S/D 2012
BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Indikator yang dipergunakan dalan menilai derajat kesehatan masyarakat tercermin dalam angka kematian, angka kesakitan dan status gizi masyarakat. Pada bagian ini derajat kesehartan masyarakat di Kabupaten Pati digambarkan melalui angka kematian bayi ( AKB ), angka kematian balita ( AKABA ), angka kematian ibu ( AKI ), angka morbiditas beberapa penyakit dan status gizi.
Derajat kesehatan juga dipengaruhi oleh berbagai factor. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga dipengaruhi factor ekonomi, pendidikan, lingkungan social, keturunan dan factor lainnya.
A. ANGKA KEMATIAN
Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat
menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar, kondisi atau tingkat permasalahan kesehatan, kondisi lingkungan fisik dan biologis secara tidak langsung. Disamping itu dapat digunakan serbagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan.
1. Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate) adalah banyaknya kematian bayi umur < 1 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. Angka Kematian Bayi di Kabupaten Pati tahun 2014 berjumlah 177
jiwa ( 9,87/1000 kelahiran ) turun dibandingkan dengan tahun 2013 berjumlah 202 jiwa ( 10,84/1000 kelahiran ), ini berarti terjadi
peningkatan kinerja dalam mengurangi AKB di Kabupaten Pati. Dibandingkan dengan target Melenium Development Goals ( MDGS ) ke-4 tahun 2015 yaitu sebesar 17/1000 klahiran maka AKB di Kabupaten Pati sudah cukup baik karena telah melampaui target. Dibawah ini grafik Lima tahun terakhir Angka Kematian Bayi di Kabupaten Pati 2006 (13,81), 2007 (13,35) , 2008 (13,89) dan tahun 2009 turun menjadi (10,53) tahun 2010 ( 183 = 10,24 ), tahun 2011 ( 178 = 9,23 ), tahun 2012 ( 214 = 13,9 ).
Gambar. 3.1 Angka Kematian Bayi ( AKB )
Angka kematian bayi tertinggi berada di Puskesmas Juwana sebenyak 15 jiwa dan terendah di Puskesmas Winong 1, Jakenan dan Gabus I sebanyak 0 jiwa.
Gambar 3.2. Angka kematian Bayi di Puskesmas di Kabupaten
Pati Tahun 2013 10,35 10,24 9,23 13,9 10,84 9,87 0 2 4 6 8 10 12 14 16 2009 2010 2011 2012 2013 2014
AKB
AKB AKB; Juwana; 15 AKB; Sukolilo 1; 13 AKB; Batangan; 13 AKB; Margorejo; 11 AKB; Pati I; 9 AKB; Tlogowungu; 9 AKB; Gembong; 7 AKB; Kayen; 6 AKB; Pati 2; 6 AKB; Margys 2; 6 AKB; Dkseti; 5 AKB; Jaken; 4 AKB; Wedarijksa 1; 4 AKB; Wedrjksa 2; 4 AKB; Margys 1; 4 AKB; Gnwgkl; 4 AKB; Tbromo; 3 AKB; Pcwangi 1; 3 AKB; cluwak; 3 AKB; Tayu 1; 3 AKB; Tayu 2; 3 AKB; Sukolilo 2; 2 AKB; Pcwaqngi 2; 2 AKB; Gabus 2; 2 AKB; Trangkil; 2 AKB; Winong 2; 1 AKB; Winong 1; 0 AKB; Jakenan; 0 AKB; Gabus 1; 00
5
10
15
20
Juwana Batangan Pati I Gembong Pati 2 Dkseti Wedarijksa 1 Margys 1 Tbromo cluwak Tayu 2 Pcwaqngi 2 Trangkil Winong 1 Gabus 1AKB
2. Angka Kematian Balita
Angka kematian balita adalah kematian yang terjadi pada balita sebelum usia lima tahun (0-5 th ) per 1000 kelahiran dalam kurun waktu satu tahun. Angka kematian balita menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan balita, tingkat pelayanan KIA/posyandu, tingkat keberhasilan program KIA/posyandu dan kondisi sanitasi lingkungan.
Gambar 3.3 Angka Kematian Balita ( AKABA )
Angka Kematian Balita (AKABA) di Kabupaten Pati tahun 2014
sebanyak 193 jiwa ( 10,8/1000 kelahiran ) turun dibandingkan dengan tahun 2013 sebanyak 228 jiwa, tahun 2012 sebesar 231 balita, angka kematian balita tahun 2011 sebesar 190 balita, tahun 2010 sebesar 206 balita dan 2009 sebesar 116 balita.
116 206 190 231 228 193 0 50 100 150 200 250 2009 2010 2011 2012 2013 2014
AKABA
AKABAPenyebaran angka kematian balita Menurut Puskesmas Tahun 2014
Gambar. 3.4 Angka Kematian Balita di Puskesmas Kab. Pati
Tahun 2014
3. Angka Kematian Ibu
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah jumlah Kematian Ibu karena sebab sebab yang berhubungan dengan kehamilan per 100.000 kelahiran hidup diwilayah tertentu. Kematian ibu biasanya terjadi karena tidak mempunyai akses pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, terutama pelayanan kegawat daruratan tepat waktu yang dilatar belakangi oleh terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan, terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan. AKI Kabupaten Pati tahun 2014 sebanyak 17 orang ( 95 / 100.000 kelahiran ) terdiri dari kematian ibu hamil 4 orang kematian ibu bersalin 1 orang dan ibu nifas 12 orang. Tahun 2013 adalah 29 orang atau 157.25/100.000 kelahiran terdiri dari kematian ibu pada saat hamil ada 9 bersalin 4 dan kematian ibu nifas 17 orang, naik dibandingkan tahun 2012 sebanyak 22 atau 109.52/100.000 kelahiran, terdiri dari
AKABA; Pati I; 17 AKABA; Jakenan; 15 AKABA; Margys 1; 13 AKABA; Tayu 1; 13 AKABA; Dkseti; 13 AKABA; Jaken; 10 AKABA; Margorejo; 10 AKABA; Tlogowungu; 10 AKABA; cluwak; 9 AKABA; Pcwangi 1; 7 AKABA; Juwana; 7 AKABA; Margys 2; 7 AKABA; Gembong; 6 AKABA; Sukolilo 2; 5 AKABA; Kayen; 5 AKABA; Tbromo; 5 AKABA; Pcwaqngi 2; 5 AKABA; Winong 2; 4 AKABA; Gabus 2; 4 AKABA; Wedrjksa 2; 4 AKABA; Tayu 2; 4 AKABA; Batnagan; 3 AKABA; Pati 2; 3 AKABA; Gabus 1; 3 AKABA; Trangkil; 3 AKABA; Sukolilo 1; 2 AKABA; Winong 1; 2 AKABA; Wedarijksa 1; 2 AKABA; Gnwgkl; 2
0
5
10
15
20
Pati I Margys 1 Dkseti Margorejo cluwak Juwana Gembong Kayen Pcwaqngi 2 Gabus 2 Tayu 2 Pati 2 Trangkil Winong 1 GnwgklAKABA
kematian ibu hamil ada 6 ibu bersalin 5 dan ibu nifas sebanyak 11 orang. Tahun 2011 jumlah kematian ibu ada 24 terdiri dari kematian ibu hamil 10, kematian ibu bersalin ada 5 dan kematian ibu nifas ada 9. dan tahun 2010 ada 21 terdiri dari kematian ibu hamil 8, kematian ibu bersalin ada 5 dan kematian ibu nifas ada 8 sedangkan kematian ibu tingkat propinsi 116,3/100.000 dan tingkat nasional 119/100.000 kelahiran hidup.
Dari angka diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan yang sangat signifikan terhadap indikator angka kematian ibu ( AKI ) di Kabupaten Pati. Berikut data jumlah AKI di Kabupaten Pati 5 tahun terakhir :
Gambar 3.5 Angka Kematian Ibu ( AKI )
Jumlah kematian maternal terbanyak di Puskemas sukolilo II sebanyak 3 orang, terbanyak kedua di Puskesmas Juwana, Tlogowungu dan trangkil masing-masing 2 orang. Adapun Puskesmas Tambakromo, Pucakwangi I, Batangan, Pati I, Gabus I, Gembong, Margoyoy I dan Dukuhseti masing-masing 1 orang sedangkan 17 Puskesmas angkanya 0 kemataian ibu. Berikut data kematian Ibu per Puskesmas di Kabupaten Pati tahun 2014. 12 21 24 22 29 17 0 5 10 15 20 25 30 35 2009 2010 2011 2012 2013 2014
AKI
AKIGambar 3.6 Angka Kematian Ibu di puskesmas Kab. Pati Tahun 2014
B. ANGKA KESAKITAN.
1. Angka Acute Flaccid Paralysis (AFP)
Penderita AFP tahun 2014 di Kabupaten Pati sebanyak 7 kasus ( 2,38/100.000 penduduk usia < 15 tahun ) terdapat di Puskesmas Margorejo
2 kasus, puskesmas Batangan, Tlogowungu, Winong II, Sukolilo I, dan Puskesmas Jakenan masing-masing 1 kasus. Angka ini naik dibandingkan tahun 2013 sebanyak 5 kasus terdapat di Puskesmas Sukolilo I, Kayen, Winong I, Gunungwungkal dan Tayu II masing-masing sebanyak 1 kasus turun dibandingkan dengan tahun 2012 sebanyak 8 orang terdiri dari 3 laki-laki dan 5 perempuan terdapat di wilayah Puskesmas Kayen 1 orang, Puskesmas Pati I sebanyak 2 orang, Puskesmas Margorejo sebanyak 2 orang, Puskesmas Margoyoso II sebanyak 1 orang dan Puskesmas Gunungwungkal sebanyak 2 orang, sedangkan tahun 2011 sebanyak 6 kasus, tahun 2010 sebanyak 4 kasus dan tahun 2009 sebanyak 2 kasus.
AKI; Sukolilo 2; 3 AKI; Juwana; 2 AKI; Tlogowungu; 2 AKI; Trangkil; 2 AKI; Tbromo; 1 AKI; Pcwangi 1; 1 AKI; Batnagan; 1 AKI; Pati I; 1 AKI; Gabus 1; 1 AKI; Gembong; 1 AKI; Margys 1; 1 AKI; Margys 2; 1 AKI; Dkseti; 1 AKI; Sukolilo 1; 0 AKI; Kayen; 0 AKI; Winong 1; 0 AKI, Margorejo, 0 AKI; Pcwaqngi 2; 0 AKI; Jaken; 0 AKI; Jakenan; 0 AKI; Pati 2; 0 AKI; Gabus 2; 0 AKI; Margorejo; 0 AKI; Wedarijksa 1; 0 AKI; Wedrjksa 2; 0 AKI; Gnwgkl; 0 AKI; cluwak; 0 AKI; Tayu 1; 0 AKI; Tayu 2; 0
0
1
2
3
4
Sukolilo 2 Tlogowungu Tbromo Batnagan Gabus 1 Margys 1 Dkseti Kayen Winong 2 Jaken Pati 2 Margorejo Wedrjksa 2 cluwak Tayu 2AKI
Gambar 3.7 Penemuan Kasus AFP di Kab. Pati Tahun 2009-2014
2. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA (+)
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS, TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs. Pada awal tahun 1995 WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) sebagai strategi dalam penanggulangan TB dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective), yang terdiri dari 5 komponen kunci 1) Komitmen politis; 2) Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya; 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan; 4) Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu; 5) Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.
Jumlah kasus Tuberkulosis di Kabupaten Pati selama tahun 2014 sebanyak 915 kasus ( 530 laki-laki dan 385 perempuan ). Jumlah kasus baru Tb BTA + selama tahun 2014 sebanyak 495 kasus ( 288 laki-laki dan 207
2009 2010 2011 2012 2013 2014 0 1 2 3 4 5 6 7 8 AFP 2 4 6 8 5 7 2009 2010 2011 2012 2013 2014
perempuan ) dengan kasus Tb anak ( 0-14 tahun ) sebanyak 223 kasus. Jumlah kematian selama tahun 2014 sebanyak 21 orang ( 1,7 % ). Angka ini turun dibanding tahun 2013 sebanyak 1.007 kasus ( 604 laki-laki dan 403 perempuan ). Jumlah kasus baru Tb BTA + selama tahun 2013 sebanyak 544 kasus (332 laki-laki dan 212 perempuan ), dengan kasus Tb anak ( 0-14 tahun ) sebanyak 156 orang. Angka Kesembuhan penderita Tb ( Cure rate ) sebesar 73,78%. Angka keberhasilan pengobatan ( succes rate ) sebesar 77,32 %. Adapun jumlah kematian selama pengobatan selama tahun 2013 sebanyak 35 orang (2,9 % ).
Indikator yang digunakan dalam pengendalian Tb adalah CNR ( case notification rate ), yaitu angka yang menunjukkan jumlah pasien Tb semua type yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk pada satu periode di suatu wilayah tertentu. Angka CNR kasus baru BTA + per 100.000 penduduk di kabupaten Pati selama tahun 2014 adalah 41 % sedangkan angka CNR seluruh kasus TB per 100.000 penduduk adalah 75,78 % turun dibandingkan tahun 2013 CNR kasus baru BTA + adalah 45.06 % terdiri dari 27,50 % ( laki- laki ), 17,56 % ( perempuan ) dan angka CNR seluruh kasus TB per 100.000 penduduk adalah 83,40 %. Hal ini disebabkan karena penemuan suspect Tb baik di layanna kesehatan maupun di masyarakat.
Gambar 3.8. Angka CNR 58,18 41,82 57,92 42,08 75,78
CNR ( Case Notification Rate)
CNR Kasus baru BTA + Laki-laki CNR kasus baru BTA + perempuan CNR semua laki-laki
CNR semua perempuan CNR semua L+P
3 Persentase Balita dengan Pneumonia ditangani
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Persentase penemuan pneumonia pada balita di tahun 2014 sebesar 296 kasus dan ditangani 100 %, turun dibandingkan tahun 2013 sebesar 378 ( 29,9 % ) hampir sama dengan jumlah penderita pneumonia pada balita tahun 2012 ada 376 ditangani 100% dibandingkan tahun 2011 jumlah kasus 233 ditangani 100% dan tahun 2010 ada 242 dan jumlah ditangani 242 (100%).
Puskesmas dengan penemuan dan pengobatan pneumonia balita di Kabupaten Pati selama tahun 2014 sebanyak 8 Puskesmas yaitu Puskesmas Pati I sebesar 41,6 % ( perkiraan kasus 356 ditemukan 148 kasus ), Gabus II sebesar 26,2 % ( perkiraan kasus 156 ditemukan 41 kasus ), Puskesmas Pati II sebesar 24,2 % ( perkiraan kasus 277 ditemukan 67 kasus ), Margoyoso II sebesar 6,5 % ( perkiraan 214 ditemulan 14 kasus ), Tambakromo sebesar
4,4% ( perkiraan 293 ditemukan 13 kasus ), Gunungwungkal sebesar 2,8 % ( perkiraan 214 ditemukan 6 kasus ) ,margorejo 1,7 % ( perkiraan 360
ditemukan 6 kasus ) , Wedarijaksa II sebesar 0,7 % ( perkiraan 141 ditemukan 1 kasus ).
4 Prevalensi HIV,
HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan Voluntary Counselling and Testing (VCT), PITC ( provider initiating testing
and conseling ), sero survey dan Survei Terpadu Biologis dan perilaku (STBP).
Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan selama tahun 2014 sebesar 59 orang dan kasus AIDS sebesar 97 orang, kematian akibat AIDS sebesar 28 orang turun dibandingkan dengan tahun 2013 sebanyak 29 orang dan kasus AIDS sebanyak 72 orang, tahun 2012 ada 49 kasus terdiri dari 20 kasus HIV dan kasus AIDS sebanyak 49 orang, tahun 2011 jumlah kasus 43 dengan HIV 28 orang dan kasus AIDS sebanyak 15 orang. Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es, artinya kasus yang dilaporkan hanya sebagian kecil yang ada di masyarakat. Kasus kematian karena AIDS di kabupaten Pati selama tahun 2013 sebanyak 18 orang ( L =11, P= 7 ), berikut ini data prevalensi kasus HIV/AIDS tahun 2009-2014.
Gambar 3.9 Jumlah Kasus HIV/AIDS
5 Persentase Infeksi Menular Seksual ( shypilis ) diobati,
Penyakit Menular Seksual (PMS) atau biasa disebut penyakit kelamin adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. PMS meliputi Syphilis, Gonorhoe, Bubo, Jengger ayam, Herpes, dan lain-lain. Infeksi Menular Seksual (IMS) yang diobati adalah kasus IMS yang ditemukan berdasarkan sindrom dan etiologi serta diobati sesuai standar.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 2009 2010 2011 2012 2013 2014 21 35 36 40 53 59 24 35 40 56 79 97 11 9 10 12 13 28 HIV AIDS Meninggal
Jumlah kasus IMS ( Shypilis ) tahun 2014 di Kabupaten Pati tercatat sebanyak 103 kasus ( laki-laki 9 dan perempuan 94 kasus ), tahun 2013 kasus IMS ( shypilis ) yang tercatat sebanyak 10 orang ( perempuan ) dibandingkan tahun 2012 kasus IMS ( semua kasus ) ada 459 semua tertangani tahun 2011 terdapat 10 kasus semua tertangani dan tahun 2010 dari kasus yang ada 547 semua tertangani. Tahun 2009 = 285 kasus ditangani 163 (57,19 %), tahun 2008 ada 246 kasus ditangani 100 %. Data kasus IMS ( shypilis ) selama tahun 2009-2014 adalah sebagai berikut :
Gambar 3.10 Jumlah Kasus IMS
6 Angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD),
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypty. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur <15 tahun, namun dapat juga menyerang orang dewasa.
Penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius di Kabupaten Pati, terbukti dari 29 Puskesmas yang ada sudah pernah terjangkit penyakit DBD. Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Kabupaten Pati tahun 2014 sebesar 23,2/100.000 penduduk turun dibandingkan tahun 2013 sebesar 47,2/100.000 penduduk, tahun 2012 (23,9/100.000 penduduk) dan masih di atas dalam target nasional yaitu <20/100.000 penduduk. Angka kesakitan tertinggi di Kayen dengan 43
2009; 285 2010; 547 2011; 10 2012; 459 2013; 10 2014; 25
IMS ( Shypilis )
2009 2010 2011 2012 2013 2014kasus, terendah di Puskesmas Tayu I tidak ditemukan kasus DBD. Setiap penderita DBD yang dilaporkan dilakukan tindakan perawatan penderita, penyelidikan epidemiologi di lapangan serta upaya pengendalian.
Jumlah kasus DBD tahun 2014 sebesar 280 kasus ( 149 laki-laki dan 131 kasus perempuan ) dengan angka kematian 1 orang ( CFR 0,4 % ) turun dibandingkan tahun 2013 sebanyak 569 ( laki-laki 289 dan perempuan 280 ) dengan jumlah kematian sebanyak 4 orang ( CFR 17,4 % ), tahun 2012 ada 303 dengan jumlah kematian 4, tahun 2011 ada 331 dengan jumlah kematian 4 dan tahun 2010 dari jumlah kasus yang ada 1.019 dengan jumlah kematian 11 dan tahun 2009 ada 378 kasus, tahun 2008 ada 686 kasus.
Gambar 3.11 Angka Kesakitan DBD
7 Angka Kematian DBD
Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD di Kabupaten Pati tahun 2014 sebesar 0,4 % turun dibandingkan tahun 2013 sebesar 0,7%, tahun 2012 (1.3%), pencapaian tahun 2014 lebih rendah dibandingkan dengan target nasional (<1%).
Angka Kematian ada di wilayah Puskesmas Wedarijaksa II sebesar 5.3 %, Sukolilo I sebesar 4.5%, Margoyoso I sebesar 4.5% dan Trangkil 3.0 %.
378 1019 331 303 569 280 0 200 400 600 800 1000 1200 2009 2010 2011 2012 2013 2014
DBD
DBDGambar.3.12 Peta Penyebaran kasus ( Kuning ) dan CFR ( merah ), Tidak ada kasus ( hijau )
8 Persentase Balita dengan diare ditangani,
Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam.
Cakupan penemuan dan penanganan diare di Kabupaten Pati tahun 2014 84,5 % ( 21.831 kasus ) naik dibandingkan tahun 2013 sebesar 84.1 % ( 21.378 kasus ), tahun 2012 ada 520.007 dengan jumlah penderitan 26.150 ( 5,029 % ), tahun 2011 jumlah penderita 25.722 semuanya tertangani, tahun 2010 dari jumlah penderita 24.164 semua tertangani.
Gambar 3.13 Angka Kasus Diare
9 Angka Kesakitan Malaria,
Angka kesakitan malaria (Annual Parasite Incidence-API) merupakan indikator untuk memantau perkembangan penyakit malaria. Jumlah penderita malaria klinis di Kabupaten Pati tahun 2014 sebanyak 312 orang dengan malaria positif 118 orang, turun dibandingan tahun 2013 sebanyak 524 dengan mlaria positif sebnayak 226 orang ( L : 198 orang, P : 28 orang ) dengan kasus meninggal sebanyak 1 orang, tahun tahun 2012 sebanyak 301 kasus klinis dengan 248 positif , tahun 2011 sebanyak 1.288 klinis dengan 261 positif, tahun 2010 ada 77 penderita dari 1.177 klinis, tahun 2009 ada 2765 penderita , positif 2. Angka kesakitan malaria di Kabupaten Pati ini lebih banyak disebabkan adanya migrasi dari daerah endemis ke Kabupaten Pati.
Perkembangan kasus malaria dari tahun 2009 – 2013 dapat dilihat
pada gambar berikut :
2010 2011 2012 2013 2014 Diare 100 100 5,029 84,1 84,5 100 100 5,029 84,1 84,5 0 20 40 60 80 100 120
Gambar 3.14 Angka Malaria di Kabupaten Pati
10 Angka Kematian Malaria
Angka kemtian malaria Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2014 sebesar 0%.
11 Prevalensi Kusta
Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan mata. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut:
a. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa, b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot,
c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif).
Sampai dengan tahun 2014 di Kabupaten Pati tercata ada 4 kasus kusta PB dan 65 kasus MB naik dibandingkan tahun 2013 kasus Kusta tercatat sebanyak 3 orang PB dan 56 orang MB, tahun 2012 dengan kasus PB 6 kasus dan MB 57 kasus.
Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya proporsi cacat tingkat II, sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat digunakan indikator proporsi anak (0-14
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2765 1177 1288 301 524 281 2 77 261 248 226 118 0 2 0 0 1 0 Suspect Positif Meninggal
tahun) di antara penderita baru. Angka Kasus catat tingkat II untuk
Kabupaten Pati sebesar 14,49 % ( 10 kasus ) sedangkan penderita kusta 0-14 tahun sebesar 2,9 % ( 2 kasus ).
12 Persentase penderita kusta selesai berobat
Cakupan program kusta diukur berdasarkan angka penderita kusta tipe Pauci Baciller (PB) dan Multy Baciller (MB) selesai diobati. Cakupan program kusta type PB tahun 2014 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2013 selesai berobat sampai dengan tahun 2014 sebesar 100 % sama dengan tahun 2013 dan lebih tinggi dari target 90%. Kusta type MB diambil dari data penderita baru tahun 2012 yang selesai diobati ( RFT ) sampai dengan tahun 2014 sebesar 93 % naik dibanding tahun 2013 sebesar 87 % , tahun 2012 sebesar 91,23 %
Sampai dengan tahun 2014 penderita PB = 10, RFT PB = 10 ( 100 % ), penderita MB = 71 dan RFT MB = 66 ( 93 % ). Cakupan penderita kusta 4 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut :
Gambar 3.15 Persentase Kusta selesai berobat
100 100 100 100 91,55 91,23 87 93 80 85 90 95 100 105 2011 2012 2013 2014 PB MB
13 Kasus Filariasis ditangani
Kasus filariasis ditemukan sebanyak 2 orang kasus baru dan
komulatif sampai dengan tahun 2014 di Kabupaten Pati terdapat 12 kasus ( 1/100.000 penduduk ).
14 Jumlah kasus dan angka kesakitan yang dapat dicegah dengan Imunisasi ( PD3I )
Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio, Pertusis, Tetanus Non Neonatorum, Tetanus Neonatorum, Campak, Difteri dan Hepatitis B. Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit tersebut, diperlukan komitmen global untuk menekan turunnya angka kesakitan dan kematian yang lebih banyak dikenal dengan Eradikasi Polio (ERAPO), Reduksi Campak (Redcam) dan Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN).Saat ini telah dilaksanakan Program Surveilans Integrasi PD3I, yaitu pengamatan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Difteri, Tetanus Neonatorum, dan Campak). Dalam waktu 5 tahun terakhir jumlah kasus PD3I yang dilaporkan adalah sebagi berikut:
1. Difteri
Tahun 2014 terdapat 1 kasus sedangkan tahun 2013 tidak ada kasus difteri di kabupaten Pati. Tahun 2012 terdapat 1 kasus suspect penyakit difteri di Puskesmas Sukolilo II, namun setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium pembanding dari BLK Semarang hasilnya negatif.
2. Tetanus Neonatorum Tidak ada kasus
3. Campak
Tahun 2014 terdapat 4 kasus yaitu di Puskesmas Sukolilo I sebanyak 3 kasus dan Puskesmas Margoyoso I sebanyak 1 kasus, tahun 2013 kasus campak sebanyak 13 kasus tersebar di 4 Puskesmas yaitu di Puskesmas Pati I sebanyak 10 orang, Puskesmas Kayen 1 kasus, Puskesmas Trangkil 1 kasus dan puskesmas Margoyoso I terdapat 1 kasus.
Kasus campak di Kabupaten Pati tahun 2014 turun dibandingkan tahun 2013 sebanyak 13 kasus, tahun 2012 terdapat suspect kasus
campak sebanyak 17 kasus. Penemuan kasus campak selama 5 tahun terakhir sebagai berikut :
Gambar 3.16 Kasus campak Yang dilaporkan Kabupaten Pati
4. Polio
Tidak ada kasus 5. Hepatitis B
Tahun 2014 terdapat 7 kasus tersebar di Puskesmas Wedarijaksa II sebanyak 1 kasus, Puskesmas Gunungwungkal 1 kasus, Puskesmas Jakenan 1 kasus dan puskesmas Dukuhseti sebanayk 3 kasus naik dibandingkan tahun 2013 tidak ada kasus
6. Penyakit tidak Menular
Penyakit tidak menular (PTM) yang diintervensi meliputi jantung
koroner, dekompensasio kordis, hipertensi, stroke, diabetes mellitus, kanker serviks, kanker payudara, kanker hati, kanker paru, penyakit paru obstruktif kronis, asma bronkiale, dan kecelakaan lalu lintas. Penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes mellitus, penyakit paru obstruktif kronis dan kanker tertentu, dalam kesehatan masyarakat sebenarnya dapat digolongkan sebagai satu kelompok PTM utama yang mempunyai faktor risiko sama (common underlying risk factor).
Faktor risiko tersebut antara lain faktor genetik merupakan
faktor yang tidak dapat diubah (unchanged risk factor), dan sebagian besar berkaitan dengan faktor risiko yang dapat diubah (change risk
8 2 17 13 4 0 5 10 15 20 2010 2011 2012 2013 2014
CAMPAK
CAMPAKfactor) antara lain konsumsi rokok, pola makan yang tidak seimbang, makanan yang mengandung zat aditif, kurang berolah raga dan adanya kondisi lingkungan yang tidak kondusif terhadap kesehatan. Penyakit tidak menular mempunyai dampak negatif sangat besar karena merupakan penyakit kronis. Apabila seseorang menderita penyakit tidak menular, berbagai tingkatan produktivitas menjadi terganggu. Penderita ini menjadi serba terbatas aktivitasnya, karena menyesuaikan diri dengan jenis dan gradasi dari penyakit tidak menular yang dideritanya. Hal ini berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan tidak diketahui kapan sembuhnya karena memang secara medis penyakit tidak menular tidak bisa disembuhkan tetapi hanya bisa dikendalikan. Yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah bahwa penyakit tidak menular merupakan penyebab kematian tertinggi dibanding dengan penyakit menular. Data PTM tahun 2014 di Kabupaten Pati terdapat 34.821 kasus naik dibanding tahun 2013 di Kabupaten Pati total 21.904 kasus yang dilaporkan. Tahun 2014 sebesar 53,35% (18.577 kasus) adalah penyakit Jantung dan Pembuluh darah, asma bronkiale 17,43 % ( 6.069 kasus ), diabetes mellitus 19,6 % ( 6.823 kasus ), Kecelakaan lalin 5,44 % ( 1.894 kasus ), neoplasma 0,62 % ( 217 kasus ) dan Psikosis 2,5 % ( 869 kasus ). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Gambar 3.17 Persentase cakupan PTM di kabuapten Pati Tahun 2014 53,35 0,62 19,6 2,5 5,44 17,43 1,07 0 10 20 30 40 50 60
PTM
C. ANGKA STATUS GIZI MASYARAKAT
1. Persentase Berat Bayi Lahir Rendah
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Penyebab terjadinya BBLR antara lain karena ibu hamil mengalami anemia, kurang suply gizi waktu dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu penanganan yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami hipotermi dan belum sempurnanya pembentukan organ-organ tubuhnya yang biasanya akan menjadi penyebab utama kematian bayi.
Jumlah Bayi berat badan lahir rendah di Kabupaten Pati tahun 2014 sebanyak 571 orang ( 3,3 % ) naik dibandingkan tahun 2013 sebanyak 523 orang ( 2,8 % ), tahun 2012 sebanyak 626 ( 3,2 % ). Data kasus BBLR 5 tahun terakhir :
Gambar 3.18 Persentase Bayi dengan BBLR di Kab. Pati
2. Persentase Balita dengan Gizi Kurang
Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam MDGs adalah status gizi balita. Status gizi balita diukur berdasarkan umur (U), berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Variabel BB dab TB ini disajikan dalam bentuk tiga indikator
2010 2011 2012 2013 2014 Prevalensi 1,93 2,77 3,2 2,8 3,3 1,93 2,77 3,2 2,8 3,3 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5
antropometri, yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik bagi seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif.
Dalam menentukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang disebut reference. Baku antropometri yang saat ini digunakan di Indonesia adalah World Health Organization - Antopometri (WHO-Antopoetri ) tahun 2005.
Persentase Balita Gizi kurang ( BB/U ) di Kabupaten Pati tahun 2014 sebanyak 1.915 orang ( 2,5 % ) turun dibandingkan tahun 2013 sebanyak 5.348 orang ( 6,9 ), tahun 2012 (6,14 % ).
3. Persentase Balita dengan Gizi buruk
Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu, dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas, sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal. Pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan, jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T), maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus gizi buruk, maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu
dan Puskesmas. Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit.
Tahun 2014 di Kabupaten Pati balita dengan gizi buruk menurut indeks BB/TB di Kabupaten Pati sebanyak 85 orang ditangani 100 % turun dibanding tahun 2013 sebanyak 102 orang ( 0,11 % ), tahun 2012 sebanyak 173 orang dan ditangani 100 %, tahun 2011 sebanyak 185 orang ( 0,21 % ), tahun 2010 sebanyak 188 orang ( 0,21 % ), tahun 2009 sebanyak 164 orang ( 0,20 % ).
D. Visi dan Misi
Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Pati adalah
” Terwujudnya masyarakat mandiri untuk hidup sehat menuju Pati Bumi Mina Tani Sejahtera”
Visi tersebut merupakan gambaran masyarakat Pati pada masa yang akan datang dengan penduduknya hidup dalam lingkungan dan berperilaku sehat, mampu memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan
merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi – tingginya.
Masyarakat mampu mengenali tingkat kesehatan, masalah kesehatan, merencanakan dan mengatasi, memelihara, meningkatkan dan melindungi diri sendiri secara mandiri. Untuk mencapai kondisi tersebut didukung sumber daya semaksimal mungkin diutamakan dari kemampuan sumber daya yang ada di Kabupaten Pati , meliputi sumber daya manusia, pembiayaan, perbekalan dan obat, sarana dan prasarana dengan tidak menutup kemungkinan adanya alokasi biaya diluar Kabupaten Pati.
1.2 Misi
Misi mencerminkan peran, fungsi dan kewenangan seluruh jajaran organisasi kesehatan di Kabupaten Pati, yang bertanggung jawab secara teknis terhadap pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan kesehatan di Kabupaten Pati. Dalam rangka mewujudkan Visi Dinas Kesehatan Kab. Pati: “Terwujudnya masyarakat mandiri untuk hidup sehat menuju Pati Bumi Mina Tani” maka Misi nya adalah :
1. Penggerak dan fasilitator pembangunan kesehatan di daerah
2. Penyelenggara Pelayanan Kesehatan dasar yang profesional 3. Penggerak Peningkatan Kesehatan Lingkungan
4. Menyediakan sarana pelayanan dasar dengan dukungan tenaga dan perbekalan yang memadai.
BAB IV
SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. Pelayanan Kesehatan Dasar
1) Pelayanan Kesehatan Ibu
a. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1
Pelayanan kesehatan ibu meliputi pelayanan kesehatan antenatal, pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan nifas. Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali (K4) dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan.
Kunjungan Ibu Hamil adalah : Pelayanan atau pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil sesuai standar pada masa kehamilan oleh Tenaga kesehatan terampil. 4 kali dengan interval 1kali pada trimester pertama, 1kali pada trimester kedua dan 2kali pada trimester ketiga, akan menggambarkan cakupan pelayanan antenatal ibu hamil yang dapat di pantau melalui pelayanan kunjungan ibu hamil K1 dan K4. Penimbangan berat badan, pemeriksaan kehamilan, pemberian tablet Fe, pemberian immunisasi TT dan konsultasi merupakan pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil yang berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan (Antenatal Care / ANC).
Cakupan kunjungan ibu hamil K1di Kabupaten Pati tahun 2014 sudah mencapai 100 % ( 19.317 bumil ) naik dibandingkan tahun 2013 sebesar 97,7 %, tahun 2012 ada 19.655 dari jumlah ibu hamil yang ada 21.109 ( 93, 1 % ), tahun 2011 sebanyak 20.430 dari jumlah ibu hamil yang ada 20654 (99%), tahun 2010 jumlah K1 ada 19751 dari jumlah ibu hamil yang ada tahun 2010 sebesar 20739 (95,29%).
Gambar 4.1 Cakupan K1 di Kabupaten Pati
4. Cakupan Kunjungan Bumil K-4
Kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah pelayanan yang mencakup minimal: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan, (2) Ukur tekanan darah, (3) Skrining status imunisasi tetanus dan pemberian Tetanus Toxoid, (4) Tinggi fundus uteri, (5) Pemberian tablet besi 90 selama kehamilan, (6) Temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling), (7) Test laboratorium sederhana (Hb, protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAG, Sifilis, HIV, Malaria, TBC).
Cakupan pelayanan lengkap ibu hamil ( K4 ) di Kabupaten Pati pada tahun 2014 sebesar 93,7 % ( 18.096 ) naik dibandingkan tahun 2013 sebesar 92,3 % dan masih dibawah SPM 2015 ( 95 % ), tahun 2012 ada 19.408 ( 98,7 % ), tahun 2011 sebesar 19.643 (96%) , tahun 2010 K4 ada 18.717 (90%). 95,29 99 93,1 97,7 100 88 90 92 94 96 98 100 102 2010 2011 2012 2013 2014
K1
K1Gambar 4.1 Cakupan K4 di kabupaten Pati tahun 2010-2013
5. Persalinan yang di tolong oleh tenaga kesehatan.
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. Target SPM 2015 Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah 90%.
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Pati tahun 2014 sebesar 99,9% ( 18.059 ) naik dibandingkan tahun 2013 sebesar 95.3 %, tahun 2012 sebesar 19.716 ( 93,4 % ), tahun 2011 sebesar 19.109 (98%) dari jumlah ibu bersalin tahun 2011 sebesar 19.590 , tahun 2010 sebesar 96% (18.178) dari jumlah ibu bersalin tahun 2010 sebesar 19.839. Data cakupan peretolongan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut :
2010 2011 2012 2013 2014 K4 90 96 98,7 92,3 93,7 90 96 98,7 92,3 93,7 84 86 88 90 92 94 96 98 100
Gambar 4.2 Cakupan Pertolongan Persalinan tenaga Kesehatan
Tahun 2010-2013
Cakupan pertolongan persalinan yang sdh mencapai target ( 100 % ) ada di 23 Puskesmas dan 6 Puskesmas belum mencapai
target 100 % yaitu di Puskesmas Sukolilo II, Kayen, Pati I, Margorejo, Tlogowungu dan Dukuhseti.
c. Pelayanan Ibu Nifas
Paska persalinan (Masa Nifas) berpeluang untuk terjadinya kematian ibu maternal, sehingga perlu mendapatkan pelayanan kesehatan masa nifas dengan kunjungan oleh tenaga kesehatan minimal 3 (Tiga) kali sejak persalinan. Pelayanan ibu nifas meliputi pemberian Vit A dosis tinggi ibu nifas yang kedua dan pemeriksaan kesehatan paska persalinan untuk mengetahui apakah terjadi pendarahan paska persalinan, keluar cairan berbau dari jalan lahir, demam lebih dari 2 (Dua) hari, payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit. Dari jumlah kematian maternal 100 % terjadi pada paska persalinan.
Cakupan Kunjungan Ibu Nifas Tahun 2014 sebesar 96,9 % ( 17.509 ) naik dibandingkan tahun 2013 sebesar 93.7 %, tahun 2012 sebesar 19.570 ( 97,40 % ), tahun 2011 Adalah 99%, tahun 2010 sebesar 96% masih diatas target SPM 2015 sebesar 90 %. Cakupan
2010 2011 2012 2013 2014 Cak.linakes 96 98 93,4 95,3 99,9 96 98 93,4 95,3 99,9 90 92 94 96 98 100 102
yang telh mencapai 100 % yaitu Puskesmas Margorejo, Margoyoso I dan Margoyoso II. Cakupan terendah ada di Puskesmas Winong I sebesar 74.4 %. Dari 29 Puskesmas yang ada di Kabupaten Pati ada 5 Puskesmas yang masih belum mencapai target SPM 2015 ( 90 % ) yaitu Puskesmas Jaken, Gabus II, Trangkil, Dukuhseti dan Winong I.
6. Cakupan Komplikasi Kebidanan Yang ditangani
Komplikasi kebidanan merupakan kesakitan pada ibu hamil,
ibu bersalin dan ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi. Komplikasi dalam kehamilan diantaranya (a) Abortus, (b) Hiperemesis Gravidarum, (c) Perdarahan per vaginam, (d) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia, eklampsia), (e) Kehamilan lewat waktu, (f) ketuban pecah dini. Komplikasi dalam persalinan diantaranya (a) Kelainan letak/presentasi janin, (b) Partus macet/distosia, (c) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia, eklampsia) (d) Perdarahan pasca persalinan, (e) Infeksi berat/sepsis, (f) Kontraksi dini/persalinan premature, (g) Kehamilan ganda. Komplikasi dalam nifas diantaranya (a) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia, eklampsia), (b) Infeksi nifas, (c) Perdarahan nifas. Ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas dengan komplikasi yang ditangani adalah ibu hamil, bersalin dan nifas dengan komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes, Puskesmas, Puskesmas PONED, Rumah Bersalin, RSIA/RSB, RSU, RSU PONEK).
Jumlah komplikasi kebidanan di Kabupaten Pati tahun 2014 sebanyak 4.142 ( 20 % dari ibu hamil ). Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2014 sebesar 90,62 % turun dibandingkan tahun 2013 sebesar 91.3 %. Pencapaian tahun 2014 sudah melampaui target SPM 2015 ( 80 % ).
2) Pelayanan Kesehatan Anak
a. Cakupan Kunjungan Neonatus
Kunjungan Neonatus (KN) adalah kunjungan yang dilakukan oleh petugas kesehatan ke rumah ibu bersalin, untuk memantau dan memberi pelayanan kesehatan untuk ibu dan bayinya. Pada Permenkes 741/Th. 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan (SPM-BK), KN dibagi menjadi 3, yaitu: KN1 adalah kunjungan pada 0-2 hari ,KN2 adalah kunjungan 2-7 hari dan KN3 adalah kunjungan setelah 7-28 hari. Cakupan kunjungan neonatus 1 (KN1) di Kabupaten Pati pada tahun 2014 sebesar 96 % dan cakupan kunjungan KN-lengkap 95,7 % naik dibanding tahun 2013 sebesar 95,7%, dan cakupan kunjungan neonatus 3 (KN-lengkap) sebesar 94,1%. Dari 29 Puskesmas, masih ada 6 puskesmas dengan cakupan KN3 kurang dari 90% yaitu Kayen (80%),
Winong I (75%), Gabbus I ( 83,9 % ), Trangkil ( 86,,1 % ), Dukuhseti ( 85,1 %) dan terendah Puskesmas Wedarijaksa I ( 65,3% ).
Cakupann kunjungan neonatus di Kabupaten Pati tahun 2009-2014 adalah sebagai berikut :
Gambar 4.3 Cakupan neonatus 2009-2014
Secara keseluruhan cakupan kunjungan neonatus di Kabupaten Pati sudah memenuhi target yaitu lebih dari 90%. Hal ini
2009 2010 2011 2012 2013 2014 84 86 88 90 92 94 96 98 100 KN Target 92 90 93 90 95 90 98,7 90 94,1 90 95,7 90 2009 2010 2011 2012 2013 2014
disebabkan adanya upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui penambahan dan penempatan bidan di desa. Selain itu juga adanya upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah dengan menggunakan buku KIA serta meningkatnya pengetahuan ibu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik untuk bayinya.
b. Cakupan Kunjungan Bayi
Kunjungan bayi adalah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan, paling sedikit 4 kali, di luar kunjungan neonatus. Setelah umur 28 hari. Setiap bayi berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan memantau pertumbuhan dan perkembangannya secara teratur setiap bulan di sarana pelayanan kesehatan. Cakupan kunjungan bayi di Kabupaten Pati tahun 2014 99,3 % naik dibandingkan tahun 2013 sebesar 96,6%, tahun 2012 (92,64%).
Cakupan kunjungan bayi tahun 2014 sudah melampaui target SPM 2015 ( 80 % ). Puskesmas dengan capaian kunjungan bayi
kurang dari target yaitu Puskesmas Pati II ( 70,6 % ), Tlogowungu ( 71 % ) sedangkan yang lain sudah melampaui target ( 80 % ).
c. Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani
Neonatus dengan komplikasi merupakan neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian. Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus neonatorum, infeksi/sepsis, trauma lahir, BBLR (berat badan lahir rendah < 2500 gr), sindroma gangguan pernafasan dan kelainan congenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning pada Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS ).
Neonatus dengan komplikasi yang ditangani merupakan neonatus komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga
kesehatan yang terlatih, dokter dan bidan di sarana pelayanan kesehatan. Perhitungan sasaran neonatus dengan komplikasi dihitung berdasarkan 15% dari jumlah bayi baru lahir. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada neonatus dengan komplikasi.
Tahun 2014 perkiraan bayi dengan komplikasi yang dihitung dari banyaknya sasaran bayi jumlahnya sebesar 2.663 bayi. Jumlah perkiraan tersebut yang mendapat penanganan tenaga kesehatan di tiap jenjang pelayanan kesehatan sebesar 1.868 bayi ( 70,1%). Cakupan Neonatus Risiko Tinggi/komplikasi yang ditangani tersebut masih jauh dari target cakupan sebesar 80%. Masih rendahnya nenonatus resiko tinggi yang mendapatkan
pelayanan kesehatan diantaranya disebabkan belum adanya
keseragaman definisi operasional mengenai nenonatal yang termasuk dalam resiko tinggi, sehingga belum semua neonatus dengan resiko tinggi/kompilkasi dicatat dan dilaporkan.
d. Cakupan Pelayanan Anak Balita
Balita adalah anak berumur dibawah 5 tahun atau umur 12-59 bulan. Tidak hanya bayi yang harus mendapatkan perhatian kesehatannya tetapi balita juga perlu mendapatkan perhatian baik gizi maupun kesehatannya, karena balita adalah generasi penerus bangsa yang harus sehat, cerdas dan kuat. Jumlah balita di Kabupaten Pati tahun 2014 sebanyak 71.024 balita yang mndapat pelayanan kesehatan sebanyak 57.777 anak ( 81,3 % ) naik dibandingkan tahun 2013 sebanyak 76.668 yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 58.889 (76,8). Puskesmas yang cakupannya sudah mencapai 100% adalah Puskesmas Sukolilo I, Pucakwangi I, Pucakwangi II, Margoyoso I, Tayu I dan Puskesmas Juwana. Sedangkan cakupan terendah adalah Puskesmas Tlogowungu 16,1%.
e. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat
Penjaringan kesehatan siswa Sekolah Dasar (SD) dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan terhadap murid baru kelas 1 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, pemeriksaan ketajaman mata, ketajaman pendengaran, kesehatan gigi, kelainan mental emosional dan kebugaran jasmani. Pelaksanaan penjaringan kesehatan dikoordinir oleh puskesmas bersama dengan guru sekolah dan kader kesehatan/konselor kesehatan. Setiap puskesmas mempunyai tugas melakukan penjaringan kesehatan siswa SD/MI di wilayah kerjanya dan dilakukan satu kali pada setiap awal tahun ajaran baru sekolah. Siswa SD dan setingkat ditargetkan 100% mendapatkan pemantauan kesehatan melalui penjaringan kesehatan. Melalui penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat diharapkan dapat menapis atau menjaring anak yang sakit dan melakukan tindakan intervensi secara dini , sehingga anak yang sakit menjadi sembuh dan anak yang sehat tidak tertular menjadi sakit.
Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan/guru UKS/kader kesehatan sekolah tahun 2014 sebesar 100 % sama dengan tahun 2013 sebesar 100 %, adapun jumlah SD setingkat yang mendapat pelayanan penjaringan sebesar 100 % naik dibanding tahun 2013 sebesar 98 %. Data Cakupan penjaringan siswa SD dan setingkat 2009-2014.
Gambar 4.4 Cakupan Penjaringan siswa SD dan Setingkat
f. Cakupan pelayanan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat
Jumlah siswa SD kelas 1 dan setingkat tahun 2014 sebanyak 19.380 siswa yang mendapat pelayanan kesehatan sebesar 100 %. Yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai strata UKS sebesar 19.380 siswa (100%). Adapun jumlah SD setingkat yang mendapat pelayanan penjaringan sebesar 100 % naik dibanding tahun 2013 sebesar 98 %.
3) Pelayanan Gizi
3.1 Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi
Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar diseluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan. KVA dalam tubuh dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang merupakan “Nutrition Related Diseases” yang dapat mengenai berbagai macam anatomi dan fungsi dari organ tubuh seperti menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel kulit. Salah satu dampak kurang Vitamin A adalah
2010 2011 2012 2013 2014 Cakupan 65 66 60 100 100 65 66 60 100 100 0 20 40 60 80 100 120
kelainan pada mata yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan – 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang. Cakupan pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi tahun 2014 sebesar 55,76 % turun dibanding tahun 2013 sebesar 92.57%, tahun 2012 sebesar 99,86%.
Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi selama 5 tahun terakhir (2010-2014) dapat dilihat dalam gambar berikut ini :
Gambar 4.5 Cakupan pemberian Vitamin A pada Bayi
3.2 Cakupan Pemberian Vitamin A pada Anak Balita
Salah satu program penanggulangan KVA yang telah dijalankan adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali pertahun pada Balita dan ibu nifas untuk
mempertahankan bebas buta karena KVA dan mencegah
berkembangnya kembali masalah Xerofthalmia dengan segala manifestasinya (gangguan penglihatan, buta senja dan bahkan kebutaan sampai kematian). Disamping itu pemantapan program distribusi kapsul Vitamin A dosis tinggi juga dapat mendorong tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya tahan anak terhadap penyakit infeksi, sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak. Balita yang dimaksud
2010 2011 2012 2013 2014 Vit. A 100 107,84 99,86 92,57 55,76 100 107,84 99,86 92,57 55,76 0 20 40 60 80 100 120
dalam program distribusi kapsul Vitamin A adalah anak umur 12–59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi. Kapsul Vitamin A dosis tinggi terdiri dari kapsul vitamin A berwarna merah dengan dosis 200.000 SI yang diberikan pada anak umur 12-59 bulan dan diberikan pada bulan Pebruari dan Agustus setiap tahunnya.
Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita tahun 2014 98,05 % turun dibanding tahun 2013 sebesar 100%, tahun 2012 (99.93%). Cakupan tertinggi (>100%) sudah dapat dicapai oleh 8 Puskesmas dar 29 Puskesmas yang ada di kabupaten Pati sedangkan
Puskesmas dengan cakupan terendah yaitu Puskesmas Sukolilo II ( 87.23 % ).
Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada anak balita selama 5 tahun terakhir (2010-2014) dapat dilihat dalam gambar berikut ini :
Gambar 4.6 Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada Balita
3.3 Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A pada Ibu Nifas
Ibu nifas adalah ibu yang baru melahirkan bayi baik di rumah dan atau rumah bersalin dengan pertolongan dukun bayi
2010 2011 2012 2013 2014 Cakupan 100 96,53 99,93 100 98,05 100 96,53 99,93 100 98,05 94 95 96 97 98 99 100 101