13
BAB II
Mitos, Ritual dan Simbol, Korban dan Perdamaian
Ritual sabung ayam (pe’iu manu) di Pulau Sabu merupakan salah satu ritual penting karena melaluinya perdamaian antar manusia akan terus dijaga. Ritual ini menjadikan ayam sebagai sorotan atau dapat dikatakan sebagai pelaku utama di dalamnya. Ayam yang telah dipersiapkan kemudian dipertandingkan sampai salah satunya mengalami kekalahan (mati). Hal ini berulang terus hingga kelompok yang membawa ayam untuk dipertandingkan menyatakan kekalahan mereka. Berdasarkan fakta di atas, penulis merasa perlu untuk membahas pentingnya ritual ini bagi orang Sabu yang mana mampu menjadi sebuah tradisi untuk menggantikan perang yang terjadi antara manusia. Untuk itu, pada bagian ini penulis akan menguraikan beberapa teori yaitu teori tentang mitos, ritual dan simbol juga korban dan perdamaian sebagai bahan untuk menganalisa data di lapangan.
2.1 Pengertian Mitos
Secara harafiah kata mitos berasal dari bahasa Yunani “muthos”; “mythos” yakni memiliki arti, suatu yang diungkapkan atau sesuatu yang diucapkan, misalnya cerita.1 Menurut Mircea Eliade, mitos menceritakan sejarah suci; ia menghubungkan suatu peristiwa yang terjadi pada waktu primordial, masa dongeng dari "permulaan". Dengan kata lain, mitos menceritakan bagaimana sebuah kenyataan muncul, baik itu semua fakta dunia atau hanya sebuah fragmen dari realita sebuah pulau, satu spesies tumbuhan, maupun berbagai jenis perilaku atau kebiasaan manusia. Mitos bisa juga disebut kisah "ciptaan"; ini berkaitan dengan bagaimana sesuatu diproduksi atau mulai
14 menjadi. Mitos hanya menceritakan apa yang benar-benar terjadi, yang memanifestasikan dirinya sepenuhnya. Aktor dalam mitos adalah Makhluk Supranatural yang dikenal melalui apa yang mereka lakukan pada masa "permulaan". Karena itu, mitos mengungkapkan aktivitas kreatif mereka dan mengungkapkan kesucian atau "kesaktian" karya-karya mereka.2
Mitos bukan sekedar dongeng, melainkan mitos memberikan model yang dijadikan referensi tindakan dan sikap hidup manusia. Tindakan yang dimaksud adalah tindakan spiritual religius, bukan tindakan profan sehari-hari. Mitos mengandung kebenaran yang membentuk kekuatan-kekuatan religius magis bagi kehidupan manusia.3 Dalam kehidupan masyarakat, mitos mempunyai ciri bersifat sakral atau disucikan oleh masyarakat pemilik dan merupakan sumber tata nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat pemilik mitos dan nyata-tidaknya mitos bukanlah menjadi persoalan penting.4
Dalam pengalaman misionaris dan etnologi C. Strehlow, yang dikutip oleh Eliade saat bertanya pada Arunta Australia mengapa mereka melakukan upacara tertentu, maka jawaban yang selalu diberikan: “karena nenek moyang memerintahkannya begitu”. Selain itu, The Kai of New Guinea menolak untuk mengubah cara mereka hidup dan bekerja. Mereka menjelaskan bahwa itulah yang dilakukan oleh Nemu (leluhur mitos), dan kami melakukan hal yang sama. Dengan penggambaran ini, maka fungsi mitos yang paling utama adalah untuk mengungkapkan model teladan untuk semua ritus manusia dan semua aktivitas manusia yang signifikan seperti perkawinan, pekerjaan atau pendidikan; seni atau kebijaksanaan. Dalam kondisi ini akhirnya mitos dapat menjadi sumber pola tindakan manusia dalam berinteraksi sosial.5 Pendapat ini
2
Eliade, Myth and...,5-6.
3
Eliade, Myth and..., 6.
4
Sukatman, Mitos Dalam..., 4-5.
15 didukung dengan pernyataan Sukatman bahwa mitos berfungsi untuk meneruskan dan menstabilkan kebudayaan, menyajikan petunjuk-petunjuk hidup, mengesahkan aktivitas kebudayaan, memberi makna hidup manusia dan memberikan model pengetahuan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak masuk akal dan pelik.6
Menurut Eliade, mitos menarasikan tidak hanya asal-usul dunia, hewan, tumbuhan dan manusia, tetapi juga semua peristiwa primordial sebagai akibat dari mana manusia menjadi seperti sekarang ini (fana, terorganisir dalam masyarakat, wajib bekerja untuk hidup, dan bekerja sesuai dengan aturan tertentu). Jika dunia ada, jika manusia ada, itu karena Makhluk Supernatural menggunakan kekuatan kreatif di “awal”. Tetapi kosmogoni dan penciptaan manusia, peristiwa-peristiwa lain terjadi, dan manusia seperti sekarang ini adalah hasil langsung dari peristiwa-peristiwa mistis tersebut, ia didasari oleh peristiwa-peristiwa itu. Misalnya pada suku tertentu yang bertahan hidup dengan memancing. Hal ini terjadi karena pada zaman mitos seorang Supranatural mengajarkan nenk moyang mereka untuk menangkap dan memasak ikan. Mitos menceritakan kisah tentang perikanan pertama, dan dalam melakukannya, sekaligus mengungkapkan tindakan manusia super, mengajari manusia cara melakukannya dan akhirnya menjelaskan mengapa suku tertentu ini harus mendapatkan maknan dengan cara tersebut.7
Eliade menegaskan bahwa apa yang terjadi di masa lampau dapat diulang melalui ritual dan untuk itulah diperlukan pengetahuan atas mitos-mitos dari peristiwa yang pernah terjadi. Hal ini penting bukan hanya karena mitos memberinya penjelasan tentang dunia dan caranya “berada” di dunia, melainkan dengan mengingat dan memberlakukan kembali mitos-mitos itu, maka dia dapat mengulangi apa yang dikatakan para Dewa, para Pahlawan, atau Leluhur di balik peristiwa sejarah tersebut.
6
Sukatman, Mitos Dalam..., 2.
16 Mengetahui mitos adalah mempelajari rahasia asal-muasal sesuatu. Dengan kata lain, seseorang tidak hanya belajar bagaimana sesuatu menjadi ada tetapi juga di mana menemukannya dan bagaimana membuatnya muncul kembali ketika mereka menghilang.8
Secara umum dapat dikatakan bahwa mitos, sebagaimana dialami oleh masyarakat kuno, merupakan sejarah tindakan-tindakan Supernatural dan sejarah ini dianggap benar (karena berkaitan dengan kenyataan) serta sakral (karena merupakan karya dari Makhluk Supernatural). Mitos selalu terkait dengan “ciptaan”, ia menceritakan bagaimana sesuatu muncul, atau bagaimana pola perilaku, lembaga dan cara kerja yang didirikan. Inilah yang menjadi alasan mengapa mitos membentuk paradigma untuk semua tindakan manusia yang signifikan. Dengan mengetahui mitos, seseorang mengetahui “asal-usul” benda-benda dan karenanya dapat mengendalikan dan memenipulasi mereka sesuka hati. Mitos bukan pengetahuan “eksternal” dan “abstrak” tetapi pengetahuan yang “dialami” secara ritual, baik dengan seremonial ketika menceritakan mitos atau dengan melakukan ritual yang merupakan pembenarannya. Ketika kita dengan satu atau lain cara “menghidupkan” mitos, maka kita ditangkap oleh kekuatan yang suci dan agung dari peristiwa-peristiwa yang terulang kembali atau diberlakukan kembali.9
2.2 Ritual dan Simbol
Berbicara tentang mitos yang menjadi landasan pemahaman budaya masyarakat tidak terlepas dari praktek-praktek pelestarian mitos. Praktek pelestarian dan penghidupan mitos ini diwujudnyatakan melalui ritus-ritus yang ada dalam masyarakat. Dalam pembahasan tentang mitos di atas, dipahami bahwa mitos tidak terlepas dari
8
Eliade, Myth and...,13.
17 ritual karena apa yang terjadi di masa lampau dapat diulang melalui ritual. Durkheim, seorang sosiolog yang pernah mengkaji tentang masyarakat berpendapat bahwa ritual tidak dapat dipahami lepas dari kehidupan masyarakat. Melalui karyanya yang terkenal
The Elementary Forms of the Religious Life, Durkheim mengatakan agama sebagai social fact.10 Ini berarti memahami ritual tidak lepas dari aspek sosial kemasyarakatan karena keyakinan dan ritual-ritual agama adalah ekspresi simbolis dari kenyataan sosial. Durkheim menekankan aspek mendasar dari agama yakni yang sakral dan yang profan. Yang sakral diartikan sebagai sesuatu yang berkuasa dan dihormati dan yang profan ialah bagian dari keseharian hidup.11
Melalui ritual, masyarakat secara berulang menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman mereka, membentuk persepsi mereka terhadap yang Ilahi dan manusia serta menyatukan pandangan dan pengalaman tersebut dalam perasaan komunitas dan dirinya. Respons terhadap yang sakral dalam membangun hidup bersama kemudian berwujud dalam bentuk-bentuk ritus yakni perayaan-perayaan, festival dan acara budaya dalam masyarakat.12 Bagi Durkheim, ritus diadakan secara kolektif dan tetap agar pengetahuan dan makna-makna kolektif masyarakat dapat disegarkan kembali. Ritus mampu menghadirkan makna sosial (memori kolektif) yang merupakan media bagi anggota masyarakat untuk tetap berakar pada yang sakral di mana melaluinya ikatan sosial (solidaritas sosial) di antara mereka terbentuk.13
Ritual adalah suatu perilaku tertentu yang sifatnya formal dan dilakukan dalam waktu tertentu dengan cara yang berbeda. Ritual bukan sekedar rutinitas yang bersifat teknis saja melainkan tindakan yang didasarkan pada keyakinan religius terhadap suatu
10
Durkheim dalam Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2011), 159.
11 Durkheim dalam Daniel L. Pals, Seven Theories....,145. 12
Durkheim dalam Catherine Bell, Ritual, Perspectives and Dimensions, (USA: Oxford University Press, 2009), 24.
13
18 kekuasaan atau kekuatan mistis.14 Pendapat ini didukung dengan pandangan Cathrine Bell yang menyatakan bahwa ritual adalah tindakan simbolis yang formal atau berulang dalam suatu tradisi.15 Ritual ditandai dengan adanya berbagai macam unsur dan komponen, yaitu adanya waktu, tempat pelaksanaan upacara, alat-alat yang dipakai dalam upacara serta orang-orang yang menjalankan upacara.16 Ritus atau upacara religi itu biasanya dilakukan berulang-ulang, baik setiap hari, setiap musim, atau hanya pada waktu-waktu tertentu. Sebuah ritus atau upacara religi biasanya terdiri dari suatu kombinasi yang merangkaikan satu, dua atau beberapa tindakan seperti: berdoa, bersujud, bersaji, berkorban, makan bersama, menari dan menyanyi, berprosesi, berseni-drama suci, berpuasa, bertapa dan bersemedi.17 Pendapat ini menunjukkan bahwa ritual dan agama merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, karena ritual merupakan salah satu unsur dari sistem religi.18 Atas pemahaman ini, Cathrine Bell sampai pada sebuah istilah baru yang membedakan ritual dari aktivitas harian lainnya yang disebut dengan “ritualisasi”. Menurutnya istilah ritualisasi adalah bentuk dari berbagai strategi spesifik secara budaya yang membedakan beberapa aktivitas tertentu dari aktivitas yang lain (biasa), untuk menciptakan dan memberi penghargaan terhadap perbedaan kualitatif antara hal yang 'sakral' dan 'profan', dan menganggap sumber perbedaan semacam itu pada kenyataannya melampaui kekuatan manusia.19
Turner dalam bukunya The Ritual Process menuliskan penelitiannya tentang proses ritual pada masyarakat Ndembu di Afrika Tengah. Turner beranggapan bahwa ritus-ritus yang diadakan oleh suatu masyarakat merupakan penampakan dari keyakinan
14
Victor Turner dalam Y.W. Wartajaya Winangun, Masyarakat Bebas Struktur, Liminalitas dan Komunitas menurut Victor Turner, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), 9.
15
Cathrine Bell dalam Lisa Schrich, Ritual and Symbol in Peacebuilding, (United States of America: Kumarian Press, 2007), 17.
16
Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, (Jakarta: Dian Rakyat, 1985), 56.
17
Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi 1, (Jakarta: UI Press, 1987), 81.
18
Chatrine Bell, Ritual Theory, Ritual Practice, (New York: Oxford University Press, 1992), 19.
19 religius. Ritus-ritus yang dilakukan tersebut mendorong orang-orang untuk melakukan dan mentaati tatanan sosial tertentu. Ritus-ritus tersebut juga memberikan motivasi dan nilai-nilai pada tingkat yang paling dalam.20 Menurutnya ritual merupakan wadah untuk mengungkapkan perasaan, untuk berdamai, dan untuk melepaskan pengaruh sosial yang tidak bisa diterima namun dibatasi oleh ruang dan waktu.21 Ritus juga merupakan aturan tentang perilaku yang menentukan bagaimana manusia harus mengatur hubungan dirinya hal-hal yang sakral.22 Susanne Langer dalam Dhavamony, menjelaskan bahwa makna dari ritual merupakan ungkapan yang bersifat logis daripada hanya bersifat psikologis. Ritual memperlihatkan tatanan atau simbol-simbol yang diobjekkan. Simbol-simbol ini mengungkapkan perilaku dan perasaan, serta membentuk disposisi pribadi dari pada pemuja mengikuti modelnya masing-masing.23 Koentjaraningrat berpendapat bahwa ritual (upacara) harus dipahami sebagai usaha untuk memperjelas dan mempertegas konsep keyakinan dengan menggunakan peralatan bermakna simbolis seperti mantra, doa, sesajen, korban, benda-benda sakral, dan isyarat kenetis lainnya.24
Menurut Lisa Schrich, ritual adalah tindakan simbolik yang merupakan tindakan fisik dan membutuhkan interpretasi, mampu mengubah ruang, mengubah identitas dan pandangan dunia melalui komunikasi nonverbal. Pesan dalam tindakan simbolis bersifat tidak langsung membahas orang atau kejadian yang ada, namun berkomunikasi melalui simbol, mitos dan metafora yang memungkinkan banyak penafsiran. Baginya, masyarakat adat seringkali menggunakan simbol ritual sebagai sarana untuk berkomunikasi dan bernegosiasi ketika terjadi konflik dan terbukti ritual mampu memberi jalan menuju rekonsiliasi. Ritual memperkuat status quo dengan membentuk
20 Winangun, Masyarakat Bebas..., 67. 21
Mark Franko, Ritual and Event: Interdisciplinary Perspectives, (London: Routledge, 2007), 28.
22
Emile Durkheim, Sejarah Agama, (Yogyakarta: Kanisius IRCiSoD, 2003), 72.
23
Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 174.
20 pandangan, identitas, dan hubungan masyarakat. Ritual menawarkan kesempatan untuk berinteraksi dalam ruang di mana konflik tampaknya tidak memiliki mata uang dan di mana struktur sosial yang sering menimbulkan konflik tidak lagi beroperasi. Orang diingatkan akan hubungan mereka dan keinginan bersama mereka untuk perdamaian. Schirch juga mengemukakan bahwa ada beberapa topik, isu, dan perasaan yang bisa dikomunikasikan hanya melalui ritual. Hal ini terjadi karena individu belajar dan berkomunikasi satu sama lain dengan tindakan. Perdamaian harus menekankan tindakan ritual dan komunikasi nonverbal daripada hanya berfokus pada diskusi rasional. Melalui ritual, manusia mencoba cara baru untuk bersama dan menciptakan realitas baru untuk diri mereka sendiri.25
Ritual yang ada dalam masyarakat tidak lengkap tanpa adanya media ekspresif intuitif-emosional di dalamnya. Melalui media itulah masyarakat dapat mengekspresikan kondisi spiritual, realitas alternatif dan keterhubungannya dengan sesama dan semesta.26 Media tersebut biasanya terwujud dalam simbol-simbol.
Simbol dibuat dan diberi makna oleh manusia sebagai sesuatu yang khas yang terdapat dalam masyarakat. Oleh karena itu manusia seringkali disebut sebagai makhluk bersimbol. Ungkapan-ungkapan simbolis seringkali digunakan oleh manusia untuk menggambarkan apa yang dipikirkan,dirasakan serta untuk menentukan sikap. Ernst Cassirer dalam bukunya An Essay on Man, An Introduction tu Philosophy of
Human Culture mengatakan bahwa manusia tidak pernah melihat, menemukan dan
mengenal dunia secara langsung tetapi melalui simbol.27 Oleh sebab itu makna simbol dapat diketahui dari manusia sebagai pelaku kebudayaan melalui peristiwa-peristiwa khas yang terdapat di dalamnya. Hal ini didukung dengan pendapat Budiono dalam
25
Schirch, Ritual and...,6.
26
Fibri Jati Nugroho, Rekonstruksi Ritual Pasca Konflik di Obyek Wisata Religi Gunung Kemukus Kabupaten Sragen Jawa Tengah, (Salatiga: F.Teologi UKSW, 2017), 56.
27
21 Simbolisme Jawa yang mengatakan bahwa sepanjang sejarah manusia simbolisme telah mewarnai tindakan-tindakan manusia baik tingkah laku, bahasa, ilmu pengetahuannya maupun religinya. Bahkan dikatakan bahwa simbolisme sangat menonjol peranannya terutama dalam religi yang nampak dalam upacara-upacara religius dan dalam tradisi atau adat istiadat. Simbolisme ini nampak sekali dalam upacara-upacara adat yang merupakan warisan turun temurun dari generasi yang tua ke generasi yang lebih muda.28 Segala bentuk dan macam kegiatan simbolik dalam masyarakat tradisional itu merupakan upaya pendekatan manusia kepada Tuhannya yang menciptakan, menurunkannya ke dunia, memelihara hidup dan menentukan kematian manusia. Dengan demikian, simbolisme dalam masyarakat tradisional selain membawa pesan-pesan kepada generasi-generasi berikutnya juga selalu dilaksanakan dalam kaitannya dengan religi.29
Kata simbol sendiri berasal dari kata Yunani symbolos yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang.30 Secara terminologi, pengertian simbol adalah sarana atau media untuk membuat dan juga menyampaikan pesan serta berkaitan dengan keyakinan yang dianut. Simbol adalah sesuatu yang biasanya merupakan tanda kelihatan yang menggantikan gagasan atau objek. Bisa juga dikatakan bahwa simbol adalah kata, tanda, isyarat, yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang lain. Simbol juga merupakan hasil dari kesepakatan atau persetujuan umum, seperti contoh lampu lalu lintas.31 Kata yang mengikutinya dan yang paling dekat, dalam bahasa Latin adalah kata signum atau symbolium (tanda). Simbol dan tanda dianggap sepadan karena masing-masing menunjuk pada sesuatu yang lain di luar dirinya. Namun sepadan tidak berarti sama.
28 Herusatoto, Simbolisme Jawa..., 46,48. 29 Herusatoto, Simbolisme Jawa..., 49. 30
Herusatoto, Simbolisme Jawa..., 17.
31
22 Victor Turner, ia membedakan istilah “simbol” dan tanda yang sering digunakan dalam arti yang sama, padahal memiliki makna yang berbeda. Ia mendefinisikan simbol sebagai “sesuatu yang dianggap dengan persetujuan bersama yang memberikan sifat alamiah atau mewakili atau mengingatkan kembali dengan memiliki kualitas yang sama atau dengan membayangkan dalam kenyataan atau pikiran”. Perbedaan yang cukup jelas terlihat ialah bahwa simbol itu merangsang perasaan seseorang, sedangkan tanda tidak mempunyai sifat merangsang. Simbol berpartisipasi dalam arti dan kekuatan yang disimbolkan, sedangkan tanda tidak berpartisipasi dalam realitas yang ditandakan. Selain itu, simbol cenderung multivokal (menunjuk pada banyak arti) sedangkan tanda tidak. Simbol yang digunakan dalam ritus-ritus tidak dapat dipikirkan dalam abstraksi atau sebagai istilah saja tetapi harus dilihat sebagai yang hidup, terlibat dalam proses hidup sosial, kultural dan religius.32 Konsep ini sejalan dengan apa yang dipaparkan dalam buku The Power of Symbol karya F.W. Dillistone yang menyatakan bahwa kesatuan sebuah kelompok seperti semua nilai budayanya, pasti diungkapkan dengan menggunakan simbol. Simbol sekaligus merupakan sebuah pusat perhatian yang tertentu, sebuah sarana komunikasi dan landasan pemahaman bersama. Setiap komunikasi dilakukan dengan bahasa dan simbol, juga masyarakat sendiri hampir tidak mungkin ada tanpa simbol-simbol.33
Menurut Lisa Schrich, manusia adalah satu-satunya hewan yang menggunakan simbol. Simbol berkomunikasi secara tidak langsung, pesannya terkadang tidak jelas dan berubah-ubah serta memungkinkan banyak interpretasi. Misalkan dalam hal menari, kegiatan itu bisa disebut sebagai tindakan simbolis karena mewakili atau mengkomunikasikan lebih dari satu pesan. Semua bergantung pada konteks, penari, dan tariannya sendiri, kegiatan menari bisa mengkomunikasikan keindahan, kemarahan,
32
Winangun, Masyarakat Bebas...,18.
33
23 kebebasan atau gagasan lainnya. Langkah pertama menuju dimensi simbolik perdamaian adalah mengenali efek mendalam tindakan simbolik dalam kemanusiaan. Tindakan simbolis dapat menembus yang tidak dapat ditembus, dapat menyampaikan pesan yang kompleks tanpa mengatakan satu kata pun. Simbol memiliki kekuatan untuk membentuk, melestarikan dan mengubah realitas. Kekuatan simbol ini mengandung energi magis yang bisa membuat orang percaya, mengakui serta tunduk atas kebenaran yang diciptakan oleh tata simbol.34 Pada manusia, kekuatan simbol bisa digunakan untuk kebaikan maupun kejahatan dan jelas bahwa kekuatan tindakan simbolis harus dimanfaatkan untuk membangun perdamaian.35
Mircea Eliade dalam Dillistone menekankan bahwa simbol menunjuk lebih jauh daripada dirinya sendiri kepada dunia realitas yang tertinggi, hidup yang lebih mendalam, lebih misterius daripada yang diketahui melalui pengalaman sehari-hari. Pada waktu yang sama, sebuah simbol tidak pernah merupakan sebuah penunjuk yang tidak ada hubungannya dengan pengalaman manusia aktif. Sebuah simbol selalu tertuju kepada suatu realitas atau situasi yang melibatkan eksistensi manusia sehingga mampu memberikan arti atau makna ke dalam eksistensi manusia.36 Eliade juga menambahkan dua fungsi simbol sebagai pemaduan dan pendamaian. Simbol sebagai pemaduan artinya dapat memungkinkan manusia untuk menemukan kesatuan tertentu dunia dan pada saat yang sama membukakan kepada dirinya sendiri tujuan hidup yang semestinya sebagai bagian integral dunia itu. Contohnya dapat dilihat dari cara bulan mempersatukan unsur-unsur yang heterogen dan pelbagai tingkat pengalaman manusia ke dalam pengakuan akan kesatuan kosmis. Simbolisme bulan merupakan faktor pemersatu yang mencolok dalam pengalaman umat manusia. Selanjutnya, simbol berfungsi untuk mempersatukan apa yang tampak sebagai ciri-ciri dunia pengalaman
34
Fauzi Fashri, Pierre Bourdieu: Menyingkap Kuasa Simbol, (Yogyakarta: Jalasutra, 2014), 20.
35
Schirch, Ritual and..., 4.
36
24 yang secara langsung bersifat kontradiktif atau paradoks. Polaritas dan antinomi pengalaman yang tampaknya mengancam eksistensi manusia dipersatukan dalam simbol perdamaian yang membuat perspektif baru dan kepercayaan baru menjadi mungkin.37
Paul Tillich mendefinisikan beberapa ciri khas simbol, yaitu pertama, simbol selalu menunjuk kepada sesuatu di luar dirinya sendiri (yang lebih tinggi darinya).
Kedua, di dalam simbol ada kekuasaan juga ada martabat layaknya bendera yang
menjadi martabat bangsa yang tidak bisa digantikan dengan apapun kecuali terjadi bencana bersejarah yang mengubah realitas bangsa yang dilambangkannya. Ketiga, simbol membuka tingkat realitas yang tidak bisa dicapai dengan cara manual oleh manusia sehingga elemen jiwa manusia bisa sampai atau menyentuh realitas. Keempat, simbol membuka kedalaman tersembunyi dari keberadaan manusia. Ini berarti ada dimensi kita yang tidak dapat kita sadari kecuali melalui simbol seperti melodi dan irama dalam musik. Kelima, simbol tumbuh dari ketidaksadaran individu atau kolektif dan tidak dapat berfungsi tanpa dikenali oleh dimensi bawah sadar kita. Keenam, simbol tidak dapat ditemukan. Seperti makhluk hidup yang tumbuh kemudian mati, mereka tumbuh ketika situasi sudah matang dan mereka mati saat situasi berubah. Simbol tidak tumbuh karena orang merindukan mereka dan tidak mati karena kritik ilmiah atau praktis, tetapi simbol bisa mati karena sudah tidak dapat menghasilkan respon dalam kelompok tempat awalnya mereka menemukan ekspresi.38
2.3 Korban dan Perdamaian
Pada ritual sabung ayam (pe’iu manu) di Pulau Sabu, ayam dikorbankan sebagai pengganti manusia dalam pertarungan. Secara tidak langsung, dalam ritual tersebut
37
Eliade dalam Dillistone, The Power Of..., 145.
38
25 menjadikan ayam sebagai tumbal demi pemuasan nafsu manusia. Ini berarti ayam secara tidak langsung menjadi simbol budaya orang Sabu yang melaluinya pertumpahan darah antara manusia tidak lagi terjadi sekaligus menjadi sarana untuk mewujudkan perdamaian.
Dalam perspektif Rene Girard yang dikutip oleh Gerrit Singgih, korban adalah wujud dari kekerasan dan penyaluran kemarahan. Menurutnya manusia dikuasai oleh berbagai macam nafsu atau gairah dan gampang menjadi marah serta mengamuk. Ketika sedang marah, semua orang sama, tidak tergantung dari budaya atau agamanya. Mereka seakan menjadi buta, dalam artian tidak bisa lagi berpikir jernih.39 Emanuel Gerrit Singgih memperjelas pendapat Rene Girard dengan memberikan contoh “kemarahan” dalam perspektif orang Indonesia Timur. Menurutnya, orang Indonesia Timur terbiasa dengan menggunakan istilah “gelap mata” bagi orang yang dikuasai kemarahan. Kemarahan bisa sedemikian gawatnya, sehingga musuh yang sesungguhnya sudah tidak tampak lagi dan objek apa saja di hadapan orang yang marah bisa menjadi sasaran kemarahan. Dalam keadaan seperti itu, manusia bisa ditipu atau dimanipulasi. Dalam banyak cerita rakyat digambarkan bagaimana raksasa-raksasa yang marah ditipu dengan objek pengganti. Mungkin dari situ bisa dijelaskan mengenai objek-objek pengganti yang dijelaskan dalam upacara korban, binatang sebagai pengganti manusia atau boneka sebagai pengganti manusia. Dalam upacara Saparan/Bekakak di Ambarketawang, ada pengorbanan berupa penyembelihan sepasang boneka laki-laki dan perempuan yang terbuat dari ketan, dan darahnya terbuat dari gula aren. Kedua boneka itu menggantikan sepasang manusia. Kadang-kadang persyaratan untuk pendamaian tidak masuk akal, misalnya seekor naga. Oleh karena tidak mungkin untuk mendapatkan naga maka cara termudah ialah dengan membuat
39
Rene Girard dalam Emanuel Gerrit Singgih, Korban dan Pendamaian, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 19.
26 tiruannya berupa boneka naga. Dari pernyataan di atas, dapat dikatakan bahwa upacara korban adalah upaya meredam kekerasan dalam masyarakat dengan memindahkan kekerasan tersebut pada objek pengganti.40
Menurut Girard, budaya-budaya berbeda satu sama lain tetapi yang sama adalah bahwa ritual korban selalu berhubungan dengan kekerasan. Korban bersifat substitusi: ada yang menggantikan sesuatu yang seharusnya dikorbankan dan fungsi korban adalah untuk menyalurkan kekerasan. Yang menjadi penyebab kekerasan bisa saja sebuah objek. Namun, apabila kekerasan terwujud, maka kekerasan itu ada demi kekerasan itu sendiri. Jika ada orang mengamuk, maka ia tidak bisa menghajar udara kosong, pastinya ia akan mencari objek yang dijadikan sasaran amukannya. Kekerasan harus disalurkan, maka korban adalah penyaluran kekerasan. Objek kekerasan atau korban inilah yang disebut si kambing hitam. Bagi Girard, membunuh binatang merupakan pelampiasan kekerasan yang diselubungi dengan sesuatu yang suci.41 Gerrit Singgih menambahkan bahwa mekanisme kambing hitam merupakan mekanisme yang menyembunyikan kekerasan. Hanya dengan demikian kekerasan tersebut bisa efektif. Ritus korban hadir supaya masyarakat yang sebenarnya melakukan kekerasan terhadap objek tertentu yang sedang menjadi korban, akhirnya meyakini bahwa objek tertentu itulah yang sedang melakukan kekerasan.42
Metode ini dapat menghasilkan ketenangan dan korbannya sering kali disambut sebagai pembawa perdamaian dan bahkan dianggap sebagai korban ilahi. Girard menyebut proses ini sebagai “mekanisme korban pengganti” yang secara popular dianggap sebagai pengkambinghitaman.43 Artinya, tindakan pengkambinghitaman ini disubstitusi dalam simbol yang dapat mengalihkan konflik ke benda atau hewan lainnya
40 Singgih, Korban dan Pendamaian...,21.
41 Rene Girard dalam Singgih, Korban dan Pendamaian..., 29-30. 42 Girard dalam Singgih, Korban dan Pendamaian..., 33.
43
Leo D. Lefebure, Penyataan Allah, Agama dan Kekerasan terjemahan ke 1 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 36.
27 yang dilakukan sebagai ritual secara berulang kali dalam kehidupan masyarakat sehingga mencegah manusia sebagai korbannya.
Di lain pihak, korban merupakan upaya manusia untuk menghadapi kemungkinan ancaman dari kekuatan-kekuatan yang berada di luar kendalinya.44 Berikut adalah tiga unsur yang membentuk makna korban menurut Godfrey Ashby.
Pertama, korban mencakup tindakan melakukan korban. Di situ ada drama, ritual,
ibadah. Oleh karena tindakan ini dinilai efektif, menghasilkan hal yang baik, maka dalam arti tertentu kita dapat mengatakan bahwa di dalam tindakan mengorbankan ada unsur magis juga. Unsur magis yang dimaksud adalah magis yang bersifat positif.
Kedua, di dalam tindakan mengorbankan ini terjadi perubahan pada objek
pengorbanan. Perubahan ini utamanya meliputi pembunuhan atas objek korban yang tadinya hidup. Ketiga, bahan atau material untuk korban biasanya merupakan objek-objek biasa yang dekat dengan kelompok atau kampung. Bagi rakyat biasa maupun kalangan atas, yang dikorbankan ialah binatang ternak: sapi, kerbau, kambing dan domba, ayam dan burung. Kemudian, yang menjadi alasan orang mempersembahkan korban, yaitu: kesadaran akan dosa, persekutuan totemik dengan yang ilahi, pertukaran dan pemberian hadiah, cara mempertahankan masyarakat, perjamuan yang sukacita, daur/lingkaran kehidupan dan untuk mengatasi kekerasan dalam masyarakat.45
Konsep damai dapat diartikan dalam dua perspektif yang tegas (positive) dan sangkalan (negative). Secara tegas (positive) damai melibatkan pembangunan dan pengembangan masyarakat sehingga tidak terhindar dari kekerasan langsung dan kekerasan struktural atau ketidakadilan sosial. Dalam hal ini damai berarti suatu kualitas kehidupan individu dan masyarakat yang sesuai dengan harkat, martabat, dan hak-hak asasinya sebagai manusia sehingga memungkinkan mereka untuk berinteraksi
44
Girard dalam Singgih, Korban dan Pendamaian..., 2.
45
28 dengan adil, setara dan rukun. Dalam skala besar, ketiadaan kekerasan ragawi dan ketiadaan keadaan perang di dalam sebuah masyarakat merupakan bagian dari pengertian damai yang sering disangkal.46 Menurut Johan Galtung, menciptakan perdamaian sama dengan upaya mengurangi kekerasan (pengobatan) dan menghindari kekerasan (pencegahan). Perdamaian terbagi dalam dua jenis yaitu pertama, perdamaian adalah tidak adanya kekerasan atau berkurangnya segala jenis kekerasan. Definisi ini berorientasi pada kekerasan dan perdamaian sebagai negasinya. Untuk mengetahui tentang perdamaian kita harus mengetahui tentang kekerasan. Kedua, perdamaian adalah transformasi konflik kreatif non kekerasan. Definisi kedua ini berorientasi pada konflik dan perdamaian adalah konteks bagi konflik-konflik untuk disingkap secara kreatif tanpa kekerasan. Untuk mengetahui mengenai perdamaian, kita harus mengetahui konflik dan bagaimana konflik mengalami transformasi. Dalam kedua definisi ini terkandung makna bahwa kerja perdamaian adalah kerja untuk mengurangi kekerasan dengan cara-cara damai dan studi perdamaian adalah studi tentang kondisi-kondisi kerja perdamaian. Kedua definisi ini dilakukan tanpa kekerasan dan secara kreatif. Selain itu, kedua definisi ini juga memfokuskan pada manusia dalam setting sosial.47
Berdasarkan konsep ini maka dapat dilihat bahwa dalam mewujudkan perdamaian, terlebih dahulu perlu mengetahui konflik yang menjadi pemicu dari tindakan perdamaian yang diupayakan. Konflik di dalam bahasa aslinya berarti suatu “perkelahian, peperangan, atau perjuangan” yaitu berupa konfrontasi fisik antara beberapa pihak. Namun pengertian ini mengalami pengembangan yang menjadikan konflik berarti persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of
interest), atau suatu kepercayaaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak
46
Tony Tampake dalam Theofransus Litaay dkk, Buku Bacaan Pendidikan Perdamaian (Salatiga: Griya Media, 2011), 23.
47
29 dapat dicapai secara simultan.48 Konflik juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan di mana terjadi ketidak-sepakatan, perbedaan pandangan, benturan kepentingan, maupun pertikaian terbuka (baik secara fisik maupun verbal) antara dua pihak atau lebih.49
Konflik dapat ditemukan di hampir setiap bidang interaksi manusia, namun konflik juga memiliki sisi positif dan sisi negatifnya. Dari sisi positifnya, pertama, konflik adalah persemaian yang subur bagi terjadinya perubahan sosial. Kedua, konflik memfasilitasi tercapainya rekonsiliasi atas berbagai kepentingan. Seringkali konflik tidak hanya berakhir pada kemenangan atau kekalahan. Melainkan, beberapa sintesis dari posisi kedua belah pihak yang bertikai, beberapa diantaranya berupa kesepakatan yang bersifat integratif yang menguntungkan kedua belah pihak dan memberikan manfaat kolektif yang lebih besar bagi para anggotanya seringkali terjadi. Ketiga, konflik dapat mempererat kesatuan kelompok. Rekonsiliasi atas kepentingan individual yang berbeda atau kapasitas perubahan sosial yang tidak nampak, kemungkinan akan berakibat pada menurunnya solidaritas kelompok.50
Di samping itu, sisi negatif dari konflik yaitu, pertama, taktik contentious yang pada awalnya relatif ringan, bersahabat, dan tidak bersifat ofensif, cenderung membuka jalan bagi tindakan yang lebih berat. Kedua, jumlah masalah yang timbul dalam konflik meningkat. Ketiga, fokus yang pada awalnya bersifat khusus dapat melebar menjadi lebih global. Keempat, motivasi di dalam konflik yang mengalami eskalasi beranjak dari kepentingan awal salah satu pihak untuk mendapatkan yang terbaik, yang kemudian berkembang ke arah penyerangan terhadap pihak lain dan pada akhirnya
48
Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin, Teori Konflik Sosial edisi terjemahan cetakan ke III (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 9-10.
49
Tampake dalam Litaay dkk, Buku Bacaan Pendidikan..., 46.
50
30 menuju ke arah pemastian diri bahwa pihak lain lebih menderita daripada dirinya.
Kelima, jumlah pihak yang berkonflik cenderung meningkat.51
Secara umum, di dalam masyarakat tentunya memiliki sistem atau mekanisme untuk mengendalikan konflik. Beberapa sosiolog menyebutnya sebagai katup penyelamat (safety valve), yaitu mekanisme khusus yang dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik. Pakar Sosiolog Lewis A. Coser melihat katup penyelamat sebagai solusi yang dapat meredakan permusuhan antara dua pihak yang berlawanan dalam suatu masyarakat.52
Dalam kehidupan masyarakat Sabu Liae, mekanisme pengendalian konflik dilakukan dengan cara menyalurkan kekerasan tersebut pada hewan sebagai tumbalnya. Tidak tahan dengan kekerasan yang terus mengorbankan banyak jiwa maka hewan dianggap mampu menjadi pengganti manusia. Dengan demikian semua emosi, amarah dan dendam dituangkan kepada hewan tersebut dan diwujudkan melalui ritual sabung ayam. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghentikan kekerasan yang terjadi di antara manusia. Pada akhirnya, bukan manusia lagi yang saling berperang melainkan ayam sebagai pengganti manusia. Dengan terwakilkannya nafsu berperang melalui ayam maka dalam diri manusia tidak ada lagi emosi, amarah dan dendam sehingga terjadilah perdamaian diantara mereka. Hal ini sangat penting bagi orang Sabu sehingga terus dirayakan setiap tahunnya melalui ritual sabung ayam.
Dari penjabaran setiap teori di atas, penulis sampai pada suatu pemahaman bahwa dalam ritual sabung ayam, terdapat hal-hal penting yang mau terus dihidupkan oleh masyarakat Sabu Liae. Karena begitu pentingnya hal atau pesan tersebut bagi kehidupan mereka sehingga setiap tahun ritual tersebut selalu mereka lakukan dengan baik. Ritual sabung ayam yang dilakukan oleh masyarakat Sabu Liae merupakan
51
Pruit & Jeffrey Z. Rubin, Teori Konflik..., 14-17.
52
Lewis A. Coser, The Function of Social Conflict, (United States Of America, The Free Press, 1956), 43.
31 sebuah penampakan atas keyakinan mereka sekaligus menjadi upaya untuk terus memelihara relasi yang harmonis dengan para leluhur dan Tuhan yang ada dalam keyakinan mereka. Di dalam ritual ini terkandung makna korban dan perdamaian karena menjadikan ayam sebagai tumbal pelampiasan semua amarah dan dendam yang ada pada manusia yang pada akhirnya mampu menciptakan suasana damai pada manusia itu sendiri. Dengan demikian ritual sabung ayam mengandung makna perdamaian yang berperan penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat Sabu Liae.