BAB I
DASAR-DASAR PERKEMBANGAN
A. Latar Belakang Psikologi Anak – Perkembangan
Sejak beradab-abad yang lalu perhatian terhadap seluk beluk kehidupan anak sudah diperlihatkan, sedikitnya dari sudut perkembangannya agar bisa mempengaruhi kehidupan anak kearah kesejahteraaan yang diharapkan. Anak harus tumbuh dan berkembangan menjadi manusia dewasa yang baik yang bisa mengurus dirinya sendiri dan tidak bergantung atau menimbulkan masalah pada orang lain, pada keluarga dan masyarakatnya.
Pada abad-abad pertengahan segi moral dan pendidikan keagaman menjadi pusat perhatian dan menjadi tujuan pendidikan secra umum. Disamping pendidikan yang diperoleh dari sekolah, untuk memberi bekal pengetahuan dan keterampilan, supaya bisa melakukan perdagangan. Pandangan terhadap anak sebagai pribadi yang masih murni, jauh dari unsur-unsur yang mendorong keperbuatan-pebuatan yang tergolong dosa dan tidak bermoral agaknya banyak dipengaruhi oleh aktivitas dan meluasnya keagamaan pada abad-abad pertengahan. Tokoh-tokoh agama dan mereka yang sangat memperhatikan masalah kemanusiaan banyak mendorong dan mempengruhi orang tua untuk memperlakukn anak berbeda dengn orang dewasa, demikian pula anak berbeda dengan remaja.
Banyak filsuf, dokter, ahli teologi memberikan pemandangan mengenai anak dan latar belakang perkembangannya serta pengaruh-pengaruh keturunan dan lingkungan hidup terhadap hidup kejiwaan anak.
Pada abad ke-17, seorang filsuf Inggris yang terkenal, John Locke (1632 - 1704) mengemukakan bahwa pengalaman dan pendidikan bagi anak merupakan factor yang paling menentukan dalam perkembangan anak. Isi kejiwaan anak ketika dilahirkan adalah ibarat secarik kertas yang masih kosong, artinya bagaimana nanti bentuk dan corak kertas tersebut bergantung pada cara kertas tersebut ditulisi. Locke mengemukakan istilah “tabula rasa” untuk mengungkapkan pentingnya pengaruh penglaman dan lingkungan hidup terhadap perkembangan anak. Anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsang-rangsang yang berasal dari lingkungan. Orang tua, karena itu, sangat penting peranannya dalam mengisi secarik kertas kosong itu mulai dari bayi.
Pandangan yang berlawanan dengan pandangan Lockediatas, dikemukakan oleh Jean Jacues Rousseau (1712 - 1778), seorang filsuf Prancis pada abad ke-18 dengan pandangannya bahwa anak ketika itu dilahirkan sudah membawa segi-segi moral.
Rousseau mengemukakan istilah “noble savage” untuk menerangkan segi moral yakni hal-hal mengenai baik dan buruk, benar atau salah, yang diperoleh dari kelahiran seseorang. Rousseau
berpendapat bahwa semua orang ketika dilahirkan mempunyai dasar-dasar moral yang baik dan dalam masyarakatlah terdapat sumber-sumber yang buruk. Pandangan Rousseau menjadi titik tolak pandangan yang menitik beratkan factor dunia dalam factor kelahiran dan keturunan yang lebih menentukan kadaan kejiwaan seseorang di kemudian hari.
Padangan seperti ini digolongkan dengan pendapat yang beraliran nativisme. Sebaliknya pandangan Lockeyang lebih mementingkan factor pengalaman dan factor lingkungan yang dikenal dengan aliran empirisme (berasal dari perkataan empereia yang artinya pengalaman) tau enviromentalisme (environment = lingkungan) menjadi titk mula dari timbulnya teori belajar dikemudian hari.
Kedua pandangan yang berlawanan ini menjadi objek pembahasan dari banyak tokoh, yang tidak akan sampai pada suatu penyelesaian yang memuaskan semua pihak. Dewasa ini masih banyak pembahasan mengenai kedua pandangan diatas yang akan dibahas secara khusus pada bab berikutnya.
Catatan-catatan harian mengenai perkembangan dan tingkah laku bayi menjadi sumber yang penting untuk mempelajari bayi, apalagi catatan ini ditulis oleh tokoh-tokoh yang terkenal dilakukan terhadap anak-anak mereka sendiri. Seorang ahli pendidikan yang terkenal di Swiss, Johan Heinrich Pestolazzi (1740 - 1827) pada tahun 1774 menerbitkan catatan-catatan harian yang dilakukan terhadap anaknya sendiri (berusia 3,5 tahun) dan pendapatnya menyokong pendapat Rousseau bahwa seorang anak yang dilahirkan pada dasarnya mempuyai segi-segi yang baik sedangkan dalam perkembangannya aktivitas anak itu sendiri banyak mempengaruhi perkembangan-perkembangan selanjutnya.
Beberapa waktu kemudian, seorang Jerman bernama Dienrich Tiedeman, melakukan hal-hal yang sama, yakni mencatat-catat segala tingkah laku anaknya sendiri (2,5 tahun) meliputi perkembangan sensoris, bahasa dan intelek anak. Catatan harian dari Tiedemanini diterbitkan pada tahun 1787.
Pada abad ke-19, seorang yang terkenal dengan teori evolusi yakni Charles Darwin (1809 -1882), mengemukakan hasil pengamatan dan pencatatan terhadap anak laki-lakinya sendiri yaitu bahwa dengan mempelajari tingkah laku dan perkembangan pada bayi, kita bisa mengetahui asal-usul manusia. Hal ini berhubungan dengan teori evolusinya yang terkenal mengenai perkembangan hewan dan manusia. Meskipun tidak bisa dikatakan hasil yang disumpulkan dari catatan harian mempunyai nilai-nilai ilmiah yang kuat, namun sebagai sumber dokumentasi, catatan harian yang dilakukan oleh banyak ahli merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan pengetahuan pada waktu itu, yang berkenaan dengan anak.
Ini suatu titik awal studi-studi yang lebih sistematis terhadp anak dan seluruh aspek perkembangannya, khususnya perkembangan psikis dan kepribadiannya.
Catatan harian tentang bayi dan perkembangan kepribadiaannya menjadi terkenal an merangsang usaha untuk melakukan studi-studi yang lebih sistematik dan ilmiah. Catatan harian ini dianggap masih ada kelemahan, yakni:
o Objek pencatatan harian ini adalah bayi/anak orang-orang terkenal, sehingga hasil kesimpulannya sulit dianggap mewakili bayi atau anak pada umumnya, artinya mewakili masyarakat umum.
o Motede yang dilakukan masih jauh dari objektivitas, data yang dikumpulkan, karena sedikit banyak ada pengaruh subjektivitas: yakni kecenderungan untuk mencatat sesuai dengan arah keinginan dan minatnya tentu sangat besar pengaruhnya.
o Pengamatan dilakukan secara tidak teratur, tidak sistematik dan dengan sendirinya terlalu selektif dan hanya dicatat hal-hal yang ingin diketahui saja.
Pada akhir abad ke-19, seorang sarjana terkenal Amerika G.Stanley Hall (1846 - 1924) menerbitkan hasil pemikirannya terhadap seklompok anak-anak dengan judul The Content of Children’s Mind.
Hall melaksanakan penelitiaannya secara sistematik dan metodologik, sehingga hasil yang diperoleh dari Hall ini dianggap sebagai permulaan studi yang sistematik dan ilmiah terhadap anak-anak, khususnya di Amerika. Hall terkenal dengan doktrin rekapitulasi mengemukakan bahwa penahapan kearah kematangan, adalah pengulangan secara filogenetis dari sejarah perkembangan manusia.
Salah seorang murid Hall yang bernama Oskar Chrisman pada tahun 893 memperkenalkan istilah Paedologi pertama kali untuk memberi nama pada pengetahuan yang mempelajari dan mengenal lebih mendalam dan karena itu diperlukan penyelidikan empirik baik dari sudut bio-psikologis maupun piko-sosial. Sejak itu paedologi diperkenalkan oleh Chrisman, maka didirikan institute dimana-mana. Salah satu institute yang terkenal, di Eropa, khususnya dinegeri Belanda, ialah paedologisch institute yang diirikan oleh prof.Dr.J.Waterink pda tanggal 15 januari 1931 dimanaProf.Dr.J. de Wit adalah direkturnya dewasa ini.
perkembangan tertentu seorang anak pada umumnya bisa memperlihatkan kemampuan mengucapkan kata-kata, kemampuan mengartikan sesuatu dan perkembangan kemampuan lain yang sudah dan biasanya dicapai.
Psikologi anak menjadi objek penelitian dan pembahasan oleh banyak ahli. Aliran-aliran ini terbagi dalam 3 kelompok, yakni:
1) Kelompok James Mark Baldwin, Claparede, sampai dengan J.Piaget. 2) Kelompok W.Preyer, G.S.Hall sampai dengan A.Gesell.
3) Kelompok Freud sampai dengan E.Erickson dan tokoh-tokoh aliran neo-Freudian.
Sampai dengan permulaan tahun 50-an, studi mengenai tingkah laku dan kondisi-kondisi psikis serta fungsionalitas kepribadian anak, dikenal dengan istilah psikologi anak. Suatu pengetahuan yang banyak membantu mengerti dan mengenal kepribadian anak baik aspek-aspeknya yang khusus maupun yang umum.
Ini suatu pengetahuan yang banyak membantu para ahli pendidik dalam menyusun kurikulum untuk pendidikan anak, secara khusus dalam pendidikan formal di sekolah. Psikologi anak juga berkembang dikalangan kedokteran, lapangan psikiatri dan neurology dalam usaha melakukan pengobatan dan penyembuhan. Psikologi anak juga menjadi ilmu bantu bagi para sarjana yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu social-budaya untuk mengetahui pola kehidupan dan perkembangan dari kelompok anak di suatu tempat dan daerah.
Ciri-ciri khas psikologi anakpada waktu itu adalah:
o Orientasi lapangan psikologi anak menjadi terlalu klinis patologis, yakni banyak berhubungan dengan kelainan tingkah laku anak dan usaha untuk mempengaruhi kearah perbaikan tingkah laku yang diharapkan.
o Psikologi anak banyak menaruh perhatian terhadap aspek-aspek praktis pada tingkah laku anak serta perkembangan kepribadian pada umumnya dengan masalah-masalah yang timbul.
o Usaha mengenal dan memberikan ciri-ciri kepribadian banyak dilakukan. Masa itu adalah masa berkembanganya berbagai macam tes psikologi, baik formal maupun non-formal, serta dengan tujuan menguraikan ciri-ciri khas kepribadian anak. Psikologi anak tidak lepas dari kegiatan-kegiatan menilai struktur, fungsi dan gambaran kepribadian anak, yang juga meliputi segi-segi inteleknya.
Psikologi anak, sesuai dengan namanya, mencakup anak-anak dalam bidangnya; di pihak lain psikologi perkembangan yang mulai memperoleh perhatian besar pada tahun 60-an, mempunyai bidang cakup yang lebih luas. Ciri-ciri psikologi perkembangan dibandingkan dengan psikologi anak adalah:
1) Lapangannya lebih luas, yaitu meliputi pertumbuhan dan perkembangan sejak manusia baru terbentuk melalui konsepsi sampai tua dan meninggal dunia. Suatu terminology yang baik sekali telah dikemukakan oleh Paul B.Baltes dan R.Goulet, yaitu psikologi perkembangan sepanjang masa hidup (Life Span Developmental Psychology yang dirumukan sebagai berikut: “Psikologi Perkembangan Sepanjang Masa Hidup Manusia berhubungan dengan prediksi dan ekplikasi perubahan tingkah laku secara ontogenetis dari lahir sampai mati”).
2) Psikologi perkembangan meliputi perubahan tingkah laku dari lahir sampai mati dalam hubungannya dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya, ilmu kedokteran dan biologi, ilmu pendidikan dan ilmu-ilmu social lainnya.
3) Objek bagi psikologi perkembangan ialah proses-proses perkembangan yang meliputi aspek-aspek fisik, psikis dan social sehingga orientasinya adalah psikofisik dan biososial.
Wohlwill mengelompokkan beberapa pola sebagai berikut:
1. Membanjirnya penyelidikan yang dilakukan oleh para ahli eksperimental
Dalam majalah Eksperimental Child Psychology atauAdvances in Child Development and Behavior, terdapat pengaruh besar sekali dari para ahli dalam bidang psikologi eksperimental terhadap psikologi anak. Hal ini terutama disebabkan olh ketidakpuasan terhadap cara kerja, metode dan pendekatan yang dipakai untuk mengadakan penelitian terhadap anak, terutama dianggap kurang memenuhi syarat dilihat dari sudut metodologi peneliti dan eksperimen.
Disamping itu meningkat pula perhatian dan minat para ahli eksperimental terhadap aspek-aspek psikis seperti persepsi dan kognisi, dan anak adalah objek yang ideal untuk melakukan penelitian. Aspek-aspek psikis pada anak banyak ditinjau dari segi perkembangan dengan proses-prosesnya, termasuk penggolongan dengan tingkatan-tingkatan umurnya. Dasar-dasar psikologi eksperimental tidak saja diperkenalkan untuk peneliti terhadap hewan seperti tikus, kucing atau kera melainkan juga terhadap bayi dan anak.
Dalam hubungan ini ada norma etikanya, karena ini berhubungan dengan perlakuan terhadap manusia dan dalam kenyataan bayi atau anak yang dijadikan objek penelitian sedikit banyak mengalami akibat perlakuannya selama dijadikan objek. Membuat seorang anak meraskan frustrasi atau mengalami ketegangan, meskipun untuk tujuan penelitian, jelas kurang dapat diterima darisudut etik-moral. Mengamati dan mencatat tingkah laku seseorang, sekalipun anak-anak, tanpa izin dari yang bersangkutan (misalnya pada pengamatan bebas) jelas melanggar hak kebebasan pribadi. Keadaan ini benar-benar dirasakan oleh para ahli yang masih mau memperlakukan manusia lain sebagai subjek penelitian atau eksperimen tanpa melanggar etik-moral dan norma-norma kemanusiaan yang ada.
Suatu Panitia mengenai etika dalam Penelitian tentang Anak yang dibentuk olehSociety in Child Development yang mengajukan pokok-pokok yang harus diperhatikan dalam melakukan pnelitian tentang anak, antara lain:
Seberapa mudapun seorang anak, ia mempunyai hak yang harus didahulukan daripada sipeneliti sendiri. Dalam melaksanakan penelitian, sipeneliti harus memperhatikan hak anak dan harus mmperoleh izin dari orang-orang disekitar lingkungan hidup anak atau panitia yang ada.
Peneliti harus menghargai kebebasan anak untuk menentukan apakah bersedia menjadi subjek penelitian ataukah tidak, dan pada setiap saat anak bebas untuk berhenti bilamana dikehendakinya. Semakin besar kekuasaan atau kebebasan dari pihak sipeneliti terhadap anak yang dijadikan subjek penelitian, semakin besar tanggung jawabnya untuk melindungi kebebasan anak.
Izin orang tua atau orang lain yang bertindak sebagai “orang tua pengganti”, (misalnya guru atau pengasuh) harus diperoleh, sebaiknya secara tertulis. Sebelumnya orang tua atau orang dewasa lain yang bertanggung jawab terhadap anak harus diberitahu segela sesuatu mengenai pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan secara jelas yang mungkin mempngaruhi kesediaannya untuk mengizinkan anak mengikuti penelitian. Penjelasan yang diberikan meliputi jabatan dan profesi sipeneliti. Orang dewasa (orng tua, wali, pengasuh) yang bertanggung jawab terhadap anak berhak menolak anak atau anak asuhannya untuk dijadikan subjek penelitiaannya, tanpa ada kaitannya dengan kemungkinan untuk dituntut karena penolakan ini.
2. Pengaruh B.F.Skinner
Sebagaimana diketahui, Skinner adalah seorang tokoh dalam aliran behaviorism yang banyak melakukan penyelidikan mengenai proses-proses belajar terhadap hewan. Skinner
mempelajari proses-proses belajar dan hubunganya dengan perubahan tingkah laku. Pengertian
operant conditioning paradigm menjadi pengertian yang meluas dikalangan ahli-ahli perkembangan dewasa ini. Operant conditioning paradigm ini terbukti bisa meramalkan untuk mengubah sesuatu aspek tingkah laku yang tidak dikehendaki menjadi sesuatu tingkah laku yang di inginkan, Ini merupakan perubahan-perubahan tingkah laku yang dalam pengertian akhir-akhir ini banyak dipergunakan untuk tujuan terapi modifikasi tingkah laku. Di Amerika hal ini dikenal dengan istilah behavior modification. Melalui dasar operant conditioning paradigm sesorang dapat dilatih membaca, meniru sesuatu model tingkah laku yang ingin diajarkan kepada anak.
Pengaruh Skinner ini menimbulkan keinginan dan minat banyak ahli untuk memikirkan cara-cara yang bisa diikuti untuk mengubah suatu tingkah laku yang sedang diperlihatkan. Sesuatu tingkah laku yang sekarang diperlihatkan adalah hasil rangsangan-rangsangan dari luar, dengan perkataan lain hasil proses mempelajari. Dan oleh karena itu proses-proses belajar yang lain, tingkah laku yang baru bisa diberikan, dilatih dan ditanamkan kepada si anak untuk mengganti tingakah laku yang lama.
Bijou dan Bear mengemukakan bahwa dasar-dasar perubahan dan pengontrolan tingkah laku anak bersumber pada hasil yang diperoleh laboratorium.
3. Meluasnya secara serentak pngertian kognitif dan perkembangan bahasa
Ketika pada permulan tahun 60-an banyak muncul tulisan mengenai Piaget yang lebih mudah dimengerti daripada tulisan-tulisan Peaget sendiri, maka perhatian dan pembahasan mengenai fungsi kognitif dihubungkan dengan proses-proses perkembanganya melalui hasil penelitian dan percobaan untuk diamalkan dalam mempengaruhi pekembangan pendidikan anak.
Mengenai perkembangan bahasa: banyak dibahas secara structural proses-proses terjadinya kemampuan mempergunakan bahasa, mulai ucapan-ucapan yang sederhana sampai dengan kemapuannya mempergunakan kata, kalimat, dan bahasa
Perkembangan kemampuan mempergunakan bahasa lebih menjadi objek lapangan Psikologi Perkembangan daripada lapangan Psikologi Umum, Karena secara sistematik dapat dilakukan pengamatan adanya perubahan pada setiap tahap perkembangan secara bertingkat dan structural.
Timbulnya masalah-masalah bahasa dalam kenyatan sering ditemukan, pada anak-anak, terutama didunia Barat, lebih merangsang para ahli Psikologi Perkembangan untuk mengetahui proses-proses secara bertahap dan bertingkat pada factor-faktor yang mempengaruhi pekembangan bahsa ini. Nama Noam Chomsky (1928 - ) dewasa ini sangat terkenal dengan teorinya mengenai perkembangan bahasa.
4. Berbalik ke penlitian-penelitian pada bayi
Sejajar dengan meluasnya penelitian dan percoban terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan fungsi kognitif, maka perhatian dan penelitian terhadap bayi (neonatus) semakin meluas pula. Penelitian terhadap asal-usul sesuatu tingkah laku, dimulai dari asal mula timbulnya yang bisa terlihat pada bayi, dianggap akan memberikan keterangan-keterangan yang asli dan bermamfaat sekali.
5. Pengaruh teori sosial-belajar
Istilah teori social belajar timbul ketika sekelompok ahli seperti O.H.Mourer, Robert R. Sears, Neal Miller, John Dollar dan rekan-rekan lain berusaha menemukan teori mengenai perkembangan anak, dengan dasar teori S – R, dan Psikoanalisa. Laboratotium untuk melalukan percobaan ditingkatkan kembali dan fungsi-fungsi psikis diselidiki dengan dasar kedua teori tersebut diatas. Alfred L.Bldwin dalam bukunya: Theories Child Development (1967) menyebutkan cara pendekatan system mereka lakukan sebagai teori social belajar. Dikemudian hari tokoh-tokoh seperti Gewirtz, Bandura dan Walle bergiat melakukan percobaan-percoban di laboratorium terhadap tingkah laku tertentu, misalnya agresivitas dipelajari dengan system dan metode yang non-eksperimental. Dengan memasukkan proses-proses perkembangan aspek psikis kedalam laboratorium untuk penyelidikan eksperimental, muda sekali terjadi tumpang tindih antara lapangan psikologi umum dengan psikologi eksperimental.
Psikologi prkembangan menjadi lebih dikenal karena membuka kesempatan lebih luas untuk mengadakan penelitian dan percoban terhadap kehidupan anak dengan perubahan-perubahan tingkah lakunya. Psikologi perkembangan dengan demikian mengganti kedudukan Psikologi anak yang dianggap lebih sempit lapangannya.
Pada tahun 1957 Annual Review of Psychology yang biasanya memakai judul “psikologi anak” mulai menggantinya dengan “psikologi perkembangan”. Masalah lain yang timbul adalah apakah pendekatan, sistematika, dan metodologi-metodologi yang dipakai pada psikologi perkembangan, bersifat ekperimental atau differential? Suatu pertanyaan yang menimbulkan berbagai pendapat yang ragu-ragu,tidak setuju dan kurang setuju.
Cronbach (1957) agak sangsi apakah psikologi perkembangan, bilamana terlalu eksperimental, bisa menghilangkan atau mengurangi minat kepada variable-variabel bebas terhadap anak dilaboratorium.
Ausubel (1958) secara lebih tegas menghendaki pendekatan yang non-eksperimental. Dalam tulisannya yang mewakili rekan-rekan yang tergolong psikologi anak yang tradisional,
Ausubel mengemukakan bahwa baik dilihat dari sudut praktis maupun ethis, lebih lagi ditinjau dari kenyataan bahwa dorongan-dorongan yang menimbulkan suatu perbuatan pada anak pada sesuatu saat adalah sedemikian majemuk, maka pendekatan eksperimental dianggapnya tidak baik untuk diamalkan dalam lapangan psikologi perkmbangan.
Russel (1957) memberikan pandangan yang moderat mengenai kemungkinan mmpergunakan pendekatan-pendekatan eksperimental untuk memecahkan masalah dalam perkembangan. Russel berpendapat bahwa tidak semua masalah dalam perkembangan harus dipecahkan dari segi pendekatan dalam Psikoogi Umum atau pendekatan yang eksperimental sifatnya. Meskipun begitu, dalam batas-batas tertentu ini bisa dilakukan, asal orang mengetahui batas dan dasar pendekatan yang biasa diperhatikan oleh para ahli dalam lapangan Psikologi Umum – eksperimental.
B. Konsep-Konsep Dasar Mengenai Psikologi Perkembangan dan Perkembangan Psikologi Perkembangan adalah salah satu lapangan dalam psikologi, seperti lapangan Psikologi Klinis, lapangan Psikologi Soial, lapangan Psikologi Industri, Psikologi Ekperimental, Psikologi Pendidikan, Psikologi Faal dan lapangan-lapangan lain yang lebih sempit. Psikologi perkembangan sering juga juga disebut psikologi genetic karena memang bidang cakupnya bersangkut paut dengan asal usul dan hakekat pertumbuhan suatu tingkah laku. Bijou dan Bear
merumuskan psikologi perkembangan sebagai lapangan khusus yang mempelajari “ peningkatan-peningkatan yang terjadi oleh interaksi antara tingkah laku dengan hal-hal yang timbul dilingkungan”. Dengan kata lain psikologi perkembangan berhubungan dengan variable-variabel yang secara histories mempengaruhi tingkah laku, akibat, atrau pengaruh dari interaksi yang sudah lewat terhadap interaksi yang sekarang sedang dialami.
tingkah laku sepanjang hidup”. Menurut Stevenson, karena dalam kenyataan lebih banyak diperhatikan tentang perkembangan bayi, anak dan remaja, maka sering terjadi tumpang tindih dengan pengertian psikologi anak.
Richard M.Lerner merumuskan psikologi perkembangan sebagai pengetahuan yang mempelajari persamaan dan perbedaan fungsi-fungsi psikologis sepanjang hidup. Psikologi perkembangan, misalnya, mempelajari bagaimana proses berpikir pada anak-anak umur satu, dua atau lima tahun menunjukkan persamaan atau perbdaan. Atau bagaimana kepribadian seseorang berubah dan berkembang dari anak-anak, remaja, sampai dewasa.
Dewasa ini psikologi perkembangan menurut P.H.Mussen, J.J.Conger dan J.Kagan, menitikberatkan usaha-usaha untuk mengetahui sebab-sebab atau dasar-dasar dari pertumbuhan dan perkembangan manusia yang menyebabkan timbulnya perubahan-perubahan. Karena itu tujuan psikologi perkembangan menurut Mussen dkk, sebagai berikut:
1. Memeriksa, mengukur dan menerangkan perubahan dan transformasi dalam tingkah laku dan kemampuan yang sedang berkembang sesuai dengan tingkatan umur dan yang mempunyai ciri-ciri universal, artinya bagi yang berlaku bagi anak-anak dimana saja dan dalam lingkungan social budaya mana saja. Misalnya anak-anak dimana saja di dunia akan memperlihatkan reaksi takut pada usia antara 8 sampai 12 bulan. Atau kemampuan anak-anak untuk bisa berjalan dimana saja di dunia berkisar pada usia 13 bulan.
2. Mempelajari perbedaan-perbedan yang bersifat pribadi pada tahapan atau masa perkembangan tertentu. Misalnya banyak anak pada umur 8 bulan sangat lekat dan bergantung sekali kepada ibunya sehingga si anak akan berteriak-teriak dan menangis, bilamana ditinggalkan oleh ibunya, sedangkan banyak anak lain tidak demikian. Banyak anak sudah bisa mengucapkan 10 kata pada misalnya umur 1,5 tahun, sedangkan pada anak lain tidak.
3. Mempelajari tingkah laku anak pada lingkungan tertentu yang menimbulkan reaksi yang berbeda. Misalnya seorang anak yang mudah mengalami frustrasi dilingkungan sosialnya, sedangkan dilingkungan rumah tidak atau sebaliknya.
4. Psikologi perkembangan seperti juga lapangan psikologi lainnya atau disiplin-disiplin lain, berusaha mempelajari penyimpangan dari tingkah laku yang dialami seseorang, seperti misalnya kenakalan-kenakalan, kelainan-kelainan dalam fungsional inteleknya yang lain-lain. P.B.Baltes, H.W.Reese, & J.R. Nesselroade(1977), memberikan perumusan yang orientasinya metodologis dan meliputi perkembangan sepanjang hidup, sebagai berikut: “psikologi perkembangan berhubungan dengan deskripsi, uraian, dan modifikasi (optimasi) dari perubahan tingkah laku di dalam diri seseorang sepanjang masa hidupnya dan dengan perbedaan-perbedaannya (dan persamaan-perasamaan) antara seorang dengan orang lainya sehubungan dengan perubahan-perubahan ini”. Tujuannya tidak saja menggambarkan perubahan-perubahan didalam diri seseorang dan perbedaan antar perorangan, tetapi, juga menerangkan bagaimana terjadinya dan mencari jalan keluar untuk mengubah mereka dengan cara sebaik-baiknya.
Psikologi perkembangan menyadari bahwa manusia didalam dunia yang berubah-ubah selalu berada dalam keadaan berubah. Dengan demikian psikologi perkembangan juga berhubungan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam ruang lingkup ekologi biokultural.
Konsep perkembangan sendiri dirumuskan oleh H.Werner (1957) sebagai berikut: ”Perkembangan sejalan dengan prinsip orthogenesis yang mengemukakan bahwa perkembangan berlangsung dari keadan yang global dan kurang berdiferensiasi sampai ke keadan di mana diferensiasi, artikulasi dan integrasi meningkat secara bertahap”.
Seorang anak pada mulanya hanya bisa mengeluarkan suara-suara tidak bermakna, kemudian secar bertahap, sedikit demi sedikit suara-suara itu mempunyai arti. Hl ini antra lain juga akibat dari peniruan bunyi di sekeliling hidupnya, sehingga lama kelamaan si anak bisa mengucapkan suatu rangkaian suara yang tertentu (kata) untuk menunjukkan atau mengungkapkan sesuatu.
empiris karena yang dilihat dalam tingkah laku adalah hasil dan bukan proses perubahan itu sendiri.
Menurut Nagel (1957), perkembangan merupakan pengertian dimana struktur yang terorganisasi dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu, dan karena itu bilaman terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Menurut Schneirla (1957), perkembangan adalah perubahan-perubahan progresif dalam organisasi pada organisme ini dilihat sebagai fungsional dan adaptif sepanjang hidupnya. Perubahan-prubahan progresif ini meliputi dua factor, yakni kematangan danpngalaman.
Spiker (1966), mengemukakan 2 macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan, yakni:
o Ontogenetik, yang berhubungan dengan perkmbangan sejak terbentuknya individu dan seterusnya sampai dewasa.
o Filogenetik, yakni perkembangan dari asal usul manusia sampai sekarang. Perkembangan tingkah laku juga mengikuti dua jenis pengertian diatas. Perubahan fungsi sepanjang masa hidupnya menyebabkan perubahan dalam tingkah laku dan perubahan ini juga terjadi sejak permulaan adanya manusia. Dari sudut ini terlihat bahwa perkembangan ontogenetis mengarah ke suatu tujuan khusus sejalan dengan pekembangan evolusi yang mengarah ke kesempurnaan kemanusiaan.
Keempat perumusan di atas dapat digolongkan sebagai perumusan yang organismik dengan keuntungan dapat diamalkan lebih daripada hanya perubahan usia, misalnya untuk perkembangan musik, kesenian dan lain-lain. Hanya kelemahannya yakni perubahan-perubahan dalam organisasi maupun struktur tidak dapat segera diamati, melainkan harus melalui tingkah laku sebagai hasil perkembangan yang terjadi.
Perkembangan oganismik untuk merumuskan perkembangan menerangkan bahwa perkembangan ini ditandai sebagian oleh serangkaian perubahan kuantitatif sebagai dasar proses-proses perkembangan itu, yang terdapat pada individu itu sendiri dan tetap ada sepanjang masa hidupnya. Pendekatan organismik menganggap manusia sebagai keseluruhan (mengutip juga pendekatan gestalt) lebih dari sekedar penjumlahan aspek-aspeknya. Pada organisme ada sesuatu yang lebih dan yang berbeda dengan apa yang ada pada tahapan perkembangan sebelumnya. Ini disebut doktrin epigenetic. Sesuatu yang baru muncul secara kuantitatif, berbeda dengan apa yang muncul pada tahapan perkmbangan sebelumnya. Jadi bukan sesuatu yang merupakan lanjutan daripada apa yang sudah muncul pda tahapan perkembangan sebelumnya. Epigenesis adalah sesuatu yang ada dan yang terjadi secara kualitatif-diskontinu.
Bijou dan Bear (1961) mengemukakan perkembangan psikologis yakni perubahan progresif yang menunjukkan cara organisme bertingkah laku dan interaksinya dengan lingkungan. Interaksi yang dimaksud disini ialah antara tingkah laku dan lingkungan, atinya apakah sesuatu jawaban tingkah laku akan diperlihatkan atau idak, tergantung dari perangsangan-perangsangan yang ada dilingkngan. Bijou dan Bear menyimpulkan perkembangan sebagai “perubahan progresif dari interaksi yang terjadi sepanjang waktu antara konsepsi sampai mati”. Perumusan Bijou dan Bear
jelas mempunyai orientasi behavioristik.
Perumusan lain yang di satu pihak menekankan adanya proses pematangan dan dilain pihak pentingnya peranan interaksi dengan lingkungan, dikemukakan oleh R.M Liebert, R.W.Poulos & G.D.Strauss, sebagai berikut: “perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan dan kemampuan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan”.
Suatu perumusan dengan orientasi Behavioristik dikemukakan oleh Hans Thomae, bekas Presiden ISSBD (International Society for the Study of Behavioral Development) sebagai berikut:
“perkembangan adalah suatu kerangka atau perangkat perubahan-perubahan yang merupakan fungsi waku”.Dalam rumus dituliskan:
P = f (w)
Hal ini menunjukkan bilamana kita mempelajari perkembangan maka kita berhadapan dengan perubahan-perubahan tingkah laku yang terjadi dalam jangka waktu, misalnya minggu, bulan atau tahun. Perubahan-perubahan yang terjadi selama jangka waktu satu minggu dapat diukur, jadi dikuantitatifkan. Perubahan mempunyai hubungan dengan waktu atau umur, tetapi tidak disebabkan oleh hal itu.
Thomae(1953) membagi dua model dalam perkembangan yakni: I. Model kuantitatif
Model ini menjelaskan adanya perubahan-perubahan kuantitatif yang dapat diukur pada setiap masa perkembangan. Contoh yang jelas: dalam pertumbuhan badan, tinggi dan berat badan dapat diukur. Seorang anak bertambah tinggi badan sekian cm dan bertambah berat sekian kg dalam satu tahun.
Selain itu, tentang kapasitas-kapasitas yang sifatya intelektual, melalui test-test psikologis dapat dilakukan pengukuran setelah melalui prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
II. Model kualitatif
Ada perbedaan kualitatif antara sesuatu masa perkembangan dengan masa perkembangan yang lain.
Beberapa kategori pada metode kualitatif ialah:
Model yang berhubungan dengan penahapan dalam perkembagnan (stage-model).
Pada perkembangan manusia terdapat penahapan-penahapan yang ciri-cirinya berbeda antara satu tahap dalam perkembangan dengan tahap lain.
Ausubel(1953) memberikan beberapa criteria:
o Pada tahapan-tahapan perkembangan terdapat urutan-urutan yang tetap. Tahapan A muncul lebih dahulu darupada tahapan B dan terjadi di mana saja dan pada latar belakang kebudayaan yang manapun selalu akan sama. Dalam hubungan ini Kohlberg (1966) memberikan contoh anak-anak di Ayal (Formosa) yang memperlihatkamn urutan-urutan dalam proses perkembangan berpikir mengenai konsep mimpi, sama dengan anak-anak Amerika.
Sebagaimana diketahui perkembangan proses mimpi dimulai dengan pengenalan bahwa mimpi adalah sesuatu yan benar dialami, dan seterusnya melalui tahapan-tahapan timbul pengertian bahwa mimpi adalah sebagian proses berpikir yang ada pada dirinya.
Contoh lain dikemukakan yaitu tahapan dalam kemampuan berbicara terjadi melalui tahapan kemampuan mensimbolisasi yang mula-mula sederhana dan bertingkat-tingkat menjadi lebih majemuk yang proses urutannnya sama pada anak-anak di mana saja.
o Pada tahapan baru yang dicapai terdapat perbedan-perbedaan secara kualitatif dengan keadaannya ketika berada pada tahapan yang mendahului. Jadi tahap perkembangan A dengan tahap perkembangan B tidak sama. Contoh dalam hal ini bsia dilihat dari tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Jean Peaget, yakni misalnya anak yang sedang dalam tahap perkembangan konkret-operasional tidak sama dengan anak yang sedang dalam tahap formal-operasional. Pengertian-pengertian anak pada tahap formal-operasional tidak lagi terikat pada situasi-situasi konkrit dan actual dibanding ketika berada pada tahap konket-operasional.
Model yang menganggap bahwa perkembangan merupakan suatu struktur proses diferensial yakni terjadi kemajuan-kemajuan dalam strukturnya.
integrasi antara aspek-aspeknya sehingga menunjukna keserasian pada setiap tahapan perkembangan yang dicapai. Aspek-aspek intelegensi yang berdifrensiasi secara baik menjadi criteria untuk menggolongkan seseorang pada tahapan kematangan dalam perkembangan-perkembangannya.
Model yang mengangap bahwa perkembangan berlangsung oleh pengaruh-pengaruh yang ada dalam linkungan hidup seseorang.
Mengenai ini ada 3 macam model, yakni: 1. Model Psikoanalisa
Pada model ini pengaruh orang tua terhadap kehidupan psikologis anak pada tahun-tahun pertama sangat besar dan sangat menentukan terhadap perkembangan anak selanjutnya dikemudian hari. Model ini memang mempunyai orientasi patologis.
Secara khusus kehidupan emosi pada tahun-tahun pertama kehidupan anak sangat penting sekali dan orang tua atau orang dewasa mempunyai perenan yang besa sekali. 2. Model Belajar
Pada model ini perkembangan diterangkan dengan teori belajar, misalnya kondisioning, kemampuan pada anak atau aspk-aspk lain yang diperlihatkan seorang ayah adalah hasil setelah mempelajari sesuatu. Tingkah laku adalah produk belajar.
3. Model Sosialisasi
Pada model ini perkembangan dilihat sebagai hasil proses sosialisasi. Peranan imitasi menjadi penting sebagaimana dikemukakan oleh Bandura Walters(1963).
Proses sosialisasi terjadi baik langsung maupun tidak langsung pada anak-anak dalam interaksinya dengan lingkungan social. Orang dewasa bisa menjadi objek atau model bagi anak-anak untuk ditiru sebagian atau seluruh kepribadiannya, dengan fungsi persepsinya, disertai dengan fungsi konatif menerima, mengenal dan menirunya untuk diperlihatkan sebagian kepribadiannya. Model dalam perkembangan dikenal pula oleh HeyneW. Rese dan Willis F.Overton,yakni:
o Model mekanistik
Model ini meninjau manusia sebagai sesuatu yang represif. Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia lebih ditentukan oleh lingkungan. Lingkungan hidup manusia adalah lingkungan yang ada di sekelilingnya dan yang mempunyai untuk keperntingan hidupnya. Karena manusia reaktif pasif, maka tingkah laku manusia dapat dilihat dengan teori S – R (Stimulus – Response atau rangsang – jawaban). Tingkah laku merupakan rangkaian R – J dan tingkah laku yang akan dilihat ada stimulus (rangsangan). Kalau kita bisa mengetahui rangsangan R – J ini dengan corak hubungannya, maka kita bisa mengetahui tingkah laku apa yang akan diperlihatkan. Maka dengan tingkah lakunya dapat diamalkan bilamana kita mengetahui rangkaian R – J ini.
Model mekanistik ini mempuyai sifat elementaristik, fungsi-fungsi psikis seperti belajar, berpikir, persepsi, berkehendak, dan fungsi-fungsi lain dapat dipelajari secara elementaris. Dengan mempelajari ini dapat diketahui tujuan suatu perbuatan/tindakan atau tingkah laku pada umumnya. Pendekatan elementaristik berusaha menguraikan dasar-dasar sesuatu fungsi psikologis.
Pendekatan dengan model mekanistik adalah seperti yang diistilahkan oleh Mussen dkk dengan “antecedent-confidence”, yakni dalam mlakukan penilaian sudah diduga-duga dan diambil kesimpulan. Prinsip ini menunjukkan adanya suatu gejala tertentu atau factor penentu dalam tingkah laku yang menimbulkan sesuatu jawaban atau reaksi yang dapat diketahui lebih dahuu. Misalnya penelitian-penelitian yang dilakukan secara elementaristik, yang berhubungan dengan perubahan struktur pada sesuatu yang akan terjadi, mengenai perubahan-peubahan tingkah laku apa yang akan diperlihatkan.
o Model organismik
Model dasar organismik ini adalah pandangan bahwa manusia adalah suatu
Berbeda dengan pandangan pada model mekanistik, pandangan pada model organimik manusia adalah aktif. Manusia menjadi sesuatu karena hasil apa yang dilakukannya sendiri, karena hasil mempelajari. Jadi disini jelas ada factor organisme itu sendiri. Dalam mempengaruhi perkembangan seseorang, maka harus diperhatikan segi pribadi dengan segala macam kondisi khususnya yang ada atau yang dimiliki. Sehubungan dengan ini, juga dalam rangka melakukan psikoterapi, perlu diperhatikan keadaan pribadinya; hal ini sangat jelas bebeda dengan pendekatan behavioristik, yang tidak atau kurang memperhatikan segi-segi pribadi yang dimiliki, melainkan langsung mengusahakan agar terjadi perubahan pada sesuatu tingkah laku yang terlihat dan yang tidak dikehendaki. C. Faktor Keturunan dan Lingkungan
Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan masalah keturunan dan lingkungan ini sering timbul baik pada orang tua maupun siapa saja yang berhubungan daan memperhatikan kehidupan anak. Bahwa ada factor keturunan yang berpengaruh terhadap timbulnya sesuatu tingkah laku, mudah diterima oleh siapa saja. Demikian pula adanya pengaruh dari lingkungan hidup terhadap sesuatu tingkah laku, juga tidak menimbulkan pertentangan yang berarti. Tetapi kalau sampai pada pertanyaan, factor mana yang lebih penting, maka sulit dijawab. Kenyataannya memang ada masa-masa dalam perkembangan anak yang memperlihatkan suatu tingkah laku sebagai perwujudan proses yang terjadi dari dalam diri pribadi anak sendiri. Sebaliknyajuga pada saat-saat tingkah laku anak jelas merupakan hasil pengaruh yang timbul dari lingkungan hidupnya. Banyak istilah dipergunakan untuk mengungkapkan kedua factor yang mempengaruhi perkembangan, antara lain istilah-istilah seperti:
a. Nativisme – empirisme b. Endogen – Eksogen c. Kematangan – belajar d. Keturunan – lingkungan e. Diperoleh – memperoleh f. Bakat – pengalaman
Masalah ini sudah timbul untuk dijadikan objek pembahasan berabad-abad yang lalu dan sampai saat ini berbagai keterangan dan argumentasi dimajukan, yang menitik beratkan salah satu factor seakan-akan lebih penting dibanding yang lain, akan tetapi tidak memuakan.
Usaha-usaha untuk menrangkan masalah ini dapat dikelompokkan menjadi: o Kelompok menitik beratkan factor konstitusi atau factor dunia dalam
Seorang anak sejak terbentuknya menjadi manusia baru (konsepsi) sudah memperoleh apa-apa untuk menjadi sesuatu. Pengaruh-pengaruh biologis jelas besar sekali dan sering dihubungkan dengan suatu ciri kepribadian. Dahulu banyak dibicarakan mengenai physiognami yang menghubungkan bentuk wajah tertentu dengan sifat-sifat tertentu pula.
Ciri-ciri kepibadian yang mengarah keperbuatan yang melanggar norma-norma hukum (kriminal) dicari kaitannya dengan keadaan-keadaan khusus pada segi jasmaninya. Keturunan yang tidak mmpelihatkan prestasi yang memuaskan, misalnya dalam kecerdasan, dicari asal usul keturunannya. Keturunan yang miskin dicari juga asal keturunannya. Para ahli yang ingin menjelaskan dan memajukan agumentasi mengenai peranan faktor dunia dalam ini memang ada yang moderat, tetapi ada pula yang ekstrim, hal ini nampak terutama pada pandangan-pandangan pada filsuf zaman dulu.
Juga para psikolog banyak mengemukakan pendapat-pendapatnya. Gesell dan Thompon (1941) mengemukakan pentingnya proses kematangan yang tentu berhubungan dengan hal-hal biologis terhadap perkembangan berbicara. Sheldon (1940) menghubungkan struktur tubuh tertentu dengan watak yang khusus, dengan segi kepribadian yang khusus pula. Para psikolog yang tergabung dalam kelompok aliran Gestalt (Kohler, Koffka, dkk) dalam mempelajari persepsi mengemukakan bahwa factor keturunan adalah menentukan dalam persepsi seseorang.
perbedaan IQ pada beberapa kelompok keturunan menurut Jensen disebabkan oleh perbedaan “gene” yang ada pada keturunannya.
Terlepas dari kritik-kritik yang dilontarkan terhadap pendapat Jensen ini, para ahli mengakui adanya pengaruh ini, hanya tidak se-ekstrim Jensen.
Bahwa factor keturunan (gene) yang terdapat pada kromosom mepengaruhi secara dominant timbulnya suatu gejala pada ketubuhan memang bisa diihat. Melihat gejala-gejala yang timbul dengan proses-proses yang terjadi sesuai dengan ilmu keturunan (genetika) seperti bentuk mata, bibir yang tebal, warna kulit, dll. Timbulnya suatu keadaan khusus karena factor-faktor keturunan yang berkelainan (anomaly) dapat dilihat misalnya pada anak-anak yang tergolong down’s syndrome (mongol). Karena keadannya, anak-anak ini mempunyai kemampuan dasar yang terbatas, yang tidak bisa diatasi dengan pengaruh dari luar, bagaimanapun sempurnanya.
Kenyataan menimbulkan apa yang dikenal dengan pesimisme dalam dunia pendidikan karena kesulitan bahkan tidak mungkin melaksanakan teknik-teknik pendidikan terhadap anak-anak tertentu. Ungkapan seperti ini dewasa ini dalam kalangan para ahli yang mendalami anak yang terbelakang mental tidak boleh timbul, segala sesuatu tentu karena keinginannya dan kasih sayangnya untuk menganggap mereka yang berkelainan dan berkekurangan sebagai pribadi dengan hak-haknya yang harus dihargai, ialah hak untuk memperoleh sesuatu dari lingkungan hidupnya.
Contoh lain dapat dikemukakan disini mengenai hak yang berkelaianan fisik, misalnya tuna rungu dan tuna netra; pada mereka proses-proses perkembangan, ditinjau dari aspek inteleknya,pada umumnya sulit menyamai anak normal. Ini pun pada dasarnya mereka secara potensial sama dengan anak lain. Ganggun karena cacat indra ini menyebabkan kesulitan untuk memperkmbangkan aspek-aspek intelek seperti halnya anak lain, khususnya pada penderita gangguan indra (tuna rungu). Pada contoh ini jelas factor dunia dalam menjadi sebab mengapa perkembangnnya tidak lancar dan berbeda dengan anak lain yang tidak mengalami ganguan yang bisa mempengaruhi aspk-aspek tertentu pada kepribadiannya.
o Kelompok yang menitik beratkan oeanan factor lingkungan atau factor dunia luar.
Sejak dari zaman J.Locke peranan rangsangan dari lingkungan dan pengalaman-pengalaman yang dialami dalam perjalanan hidup seseorang sudah ditunjukkan pentingnya. Para ahli ilmu Faal pada akhir abad yang lalu sudah menunjukkan refleks yang lain. Masing-masing menyusun suatu reaksi dan seterusnya timbul suatu gerakan yang terarah. Dirangsang oleh aliran behaviorisme pada permulaan abad ini, khususnya tokoh behaviorismeyang ekstrim J.B.Watson(1878) – 1958), banyak ahli mulai melakukan percobaan untuk menunjukkan bahwa factor lingkungan adalah variable-vareabel yang bisa diubah-ubah untuk mempengaruhi perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan. Teori mengenai proses belajar bermunculan. Penyelidikan terhadap hewan percobaan banyak dilakukan. Bertentangan dengan Gesell, Thompson, Gagne (1968) mengemukakan bahwa perkembangan dan kemampuan verbal pada anak adalah hasil proses mempelajari sesuatu yang diperoleh dari luar. Ditemukannya anak-anak yang hidup terpencil ditengah hutan yang tidak memperoleh rangsangan yang sesuai, karena tidak hidup ditengah masyarakat; maka anak-anak tersebut tidak bisa memperlihatkan tingkah laku yang wajar sesuai dengan hakekatnya sebagai anak manusia. Jelas karena tidak adanya rangsangan dari luar, maka timbullah keterbatasan dan hambatan dari tingkah lakunya. Perbedaan sikap pada kelompok social yang satu dengan kelompok social yang lain menunjukkan pengaruh tertentu dari norma-norma dalam lingkungan hidupnya yang mempengaruhi terbentuknya sikap-skiap yang khusus. Pendidikan dan pengasuhan meupakan usaha yang diarahkan untuk mengubah tingkah laku, sesuai dengan keinginan si pendidik atau si pengasuh.
Dalam lapangan psikologi klinis, psikoterapi selalu diarahkan untuk mempengaruhi tingkah laku, atau ciri-ciri kepribadian, agar bisa memperlihatkan tingkah laku sesuai dengan keinginan si pemberi psikoterapi.
ciri-ciri atau keseluruhan kepribadian seseorang yang mengalami kecelakan yang berat, misalnya yang menyebabkan dia mengalami amputasi, atau kehilangan salah satu pancainderanya mengakibatkan perubahan-perubahan tingkah laku yang drastic. Apalagi bilaman kecelakaannya mengenai bagian yang berhubungan dengan fungsi sesuatu syaraf pusat. Disamping ini ada trauma psikis yang juga bisa datang dari luar. Seorang yang karena sesuatu pelanggaran yang tiba-tiba ketahuan, dikeluarkan dari pekerjan atau dipecat dari jabatannya, hal ini mengakibatkan perubahan tingkah laku dengan reaksi-reaksi dari ciri-ciri kepribadiannya, misalnya ia menjadi pemurung, pemarah, menarik diri dari lingkungan social. Hal-hal tersebut diatas ini menunjukkan adanya factor-faktor lingkungan yang bisa mempengaruhi sebagian, bahkan kseluruhan kepribadian. Dari sudut pendidikan faktor lingkungan ini penting, sesuai dengan peranan seorang pendidik yang mau menanamkan pengertian baru terhadap anak. Sikap ini dikenal dengan istilah optimisme dalam dunia pendidikan.
S.W Bijou dan D.M.Bear, mengakategorisasikan asal usul rangsang-rangsang yang sampai pada anak dan mempengaruhi perkembangannya, yakni:
1. Fisik: meliputi keadaan-keadaan alam yang bebas seperti: pegunungan dan pepohonan, serta benda buatan manusia seperti: meja, kursi, rumah, jalanan, bangunan, kapal-terbang.
2. Kimiawi: gas dan larutan yang mempengaruhi jarak tertantu seperti bau panggang ayam, parfum, asap dan yang langsung mengena pada permukaan tubuh seperti sabun,obat-obatan anti septic, asam belerang.
3. Organismik, struktur biologis dan fungsi-fungsi kefaalan pada organisme seperti rangsangan dari alat-alat pernafasan, pencernaan, kardiovaskuler, kelenjar buntu, persyarafan dan sistem otot-otot.
4. Sosial: penampilan, perbuatan dan interaksi antar orang-orang, ibu, ayah, saudara, guru, teman, karyawan, polisi dan dirinya sendiri.
o Kelompok yang digolongkan kelompok interaksionis
Pembahasan mengenai seberapa jauh pentingnya peranan factor keturunan dan seberapa jauh peranan factor lingkungan dianggap oleh seklompok ahli seperti D.O.Hebb (1949), D.Lehrman (1953) dan T.C Schneirla (1956, 1957) sebagai sesuatu yang tidak penting lagi untuk dilakukan. Pertanyaan seperti “yang mana lebih penting” akan selalu sampai pada jalan buntu.
Suatu makalah klasik diketemukan oleh Anne Anastasi, yang pernah menjabat Presiden American Psychological Associaton di majalah Psychological Reveiew (1958) mengenai pertentangan antara kedua faktor di atas.
Bukan pertanyaan “yang mana” yang bisa memberikan jalan keluar untuk mengatasi pertentangan ini, melainkan pertanyaan “berapa banyak” yang akan bisa memberi kepuasan terhadap semua pihak. Akan tetapi pertanyaan seperti ini juga dianggap masih belum memuaskan (R.Lerner, 1970), karena hanya merupakan penjumlahan yang satu kepada yang lain dan tetap menimbulkan pertanyaan lain mengenai peranan kedua factor yang dipertentangkan. Di pihak lain pertanyaan lain yang dicoba dijawab oleh Anastasi yakni “bagaimana” hubungan antara kedua factor itu dianggap memberi jalan keluar yang baik dan merumuskan semua pihak.
Pertanyaan “bagaimana” ini menunjukkan adanya interaksi saling mempengaruhi yang meliputi dasar-dasar:
1. Bahwa factor konstitusi (nature) dan factor lingkungan keduanya menjadi sumber timbulnya setiap perkembangan tingkah laku.
2. Bahwa keduanya tidak bisa berfungi secara terpisah tetapi saling berhubungan.
3. Bahwa interaksi dapat dikonseptualisasi sebagai bentuk hubungan yang majemuk, artinya suatu hubungan yang terjadi mempengaruhi hubungan-huungan lain yang akan terjadi
Dalam keterangan lebih lanjut, Anastasi mengemukakan bahwa pengaruh keturunan terhadap tingkah laku selalu terjadi secara tidak langsung. Tidak ada satupun di antara fungsi-fungsi psikis yang secara langsung diturunkan oleh orang tua terhadap anak.
Dari keterangan-keterangan ini dapat dikemukakan beberapa hal sebagai contoh:
Pengaruh latar belakang keturunan yang sama akan menghasilkan tingkah laku yang berbeda pada kondisi-kondisi ligkungan yang berbeda pula.
Contoh yang jelas pada anak-anak kembar identik yang diasuh secara terpisah ternyata memprlihatkan pebdaan-perbedaan tingkah laku meskipun perbedaan ini tidak besar
Pengaruh latar belakang keturunan yang beda dan lingkungan hidup yang berbeda-beda dapat pula menghasilkan pola perkembangan yang sama.
Lingkungan hidup yang sama menimbulkan perbedaan tingkah laku meskipun latar belakang keturunan yang berbebeda-beda.
Contoh misalnya anak angkat (adopsi) yang memperlihatkan kekhususan-kekhususan yang dapat dibedakan dengan anak kandung.
Lingkungan hidup yang tidak sama bisa mnimbulkan persamaan dalam ciri-ciri kepribadian, meskipun latar belakang keturunan tidak sama.
Contoh dapat dilihat pada beberapa orang yang memperlihatkan pola kepribadian yang kira-kira sama, misalnya ciri-ciri dari kehidupan emosi ataupun kualitas dari bakatnya yang sama, meskipun tidak ada hubungan apapun satu sama lain.
Mengenai pengaruh lingkungan, Anastasi mengemukakan adanya semcam factor segmental artinya dari titik yang sempit sampai yang luas. Adam masa-masa ketika pengaruh lingkungan sangat kecil dan sebaliknya ada masa-masa ketika pengaruhnya sangat besar. Peristiwa traumatis adalah contoh bahwa sesuatu dari akibat yang mungkin lama sekali. Hospitalisasi dan konstitusionalisasi pada anak-anak serta kehidupan pada keluarga dengan tingkatan social tertentu merupakan masa-masa yang agak lama, lama dan lama sekali. Ini merupakan factor yang ada dilingkungan yang mempengaruhi perkembangan tingkah laku dan kehidupan psikis anak.
Tokoh lain yang digolongkan sebagai tokoh interaksionis adalah L.S.Vygotsky (dalam Thuoght and lanuage,Ed. Andv Trans, E.Houfmann,and G.Vahar MIT Press, Cambridge, Mass. 1962), seorang keturunan Rusia. Oleh Vygotsky perkembangan dilihat sebagai proses kematangan dan dengan sendirinya mengikuti hukum-hukum alam, dn instruksi lingkungan sebagai alat kemungkinan-kemungkinan yang diciptakan oleh perkembangan.
Dalam uraiannya dengan pendekatan interaksionis Vygotsky mengambil contoh perkembangan konsep. Ia membagi perkembangan ini dalam dua jenis, yakni:
o Konsep yang spontan o Konsep yang tidak spontan
Konsep yang spontan terjadi pada anak dengan sendirinya, misalnya pada pengalaman yang tiba-tiba, dan merupakan sesuatu yang tidak disadari karena perhatian diarahkan terhadap proyeknya bukan lakunya.
Pembentukam konsep yang tidak spontan, atau disebutnya konsep yang berhubungan dengan pengetahuan yang diperoleh di sekolah, terjadi dengan disadari dan jelas diketahui lakunya. Hal yang kedua ini menjadi ciri-ciri perkembangan, dicapai pada masa perkembangan, yang disebut operasional. Agar bisa mempekembangkan konsep-konsep pengetahuan, perlulah tingkat-tingkat perkembangan tertentu yang sudah dicapai oleh si anak. Dengan kata lain perkembangan konsep yang oleh Vygotsky disebut konsep yang tidak spontan (pengetahuan) membutuhkan kesiapan tertentu untuk memperoleh rangsangan-rangsangan tertentu dari lingkungan.
Vygotsky karena itu, percaya bahwa proses pembentukan konsep saling berhubungan dan pengaruh-mempengaruhi. Terbentuknya kemampuan mmpergunakan konsep yang lebih majemuk tidak mungkin terjadi hanya melalui proses belajar. Pada Vygotsky peranan perkembangan, yang terjadi dengan sendirinya, kearah kesiapan dan kematangan tertentu dianggap sebagai aspek yang tidak boleh diabaikan.
Oleh Luria, proses terjadi dengan sendirinya pada anak dalam menghadapi lingkungan disebut: “system mengatur sendiri” (self regulatory system).
Bagaimana interaksi antara factor keturunan dan faktor lingkungan?
Dalam usaha menerangkan interaksi factor keturunan (konstitusi) dan factor lingkungan.
seorang ahli ilmu keturunan yang dikenal dengan istilah norma-reaksi. Konsep ini sudah dikenal sejak permulaan abad ini ketika diperkenalkan oleh Wolterecck.
Untuk mengetahui konsep norma-reaksi ini maka terlebih dahulu diterangkan mengenai hubungan-hubungan antara genotip dan fenotip,
Ketika terjadi fertilisasi dan tercipta manusia baru menjadi penggabungan antara kromosom dari pihak ibu dan kromosom dari pihak ayah. Pada kromosom terdapat banyak sekali (kurang lebih 20.000) factor keturunan (gene). Karena faktor keturunan ini, yang dalam prosesnya mengikuti hukum-hukum tertentu dalam ilmu keturunan (Mendel), maka terdapat ciri-ciri khusus baik terlihat pada segi fisiknya, segi fisiologis maupun segi-segi karakterologis. Ketika tercipta manusia baru, maka ia akan memperoleh factor-faktor yang diturunkan,yang disebut dengan istilah genotip. Menurut para ahli, genotip ini jumlahnya lebih dari 70 triliun, dan karena itulah tidak akan ada dua manusia yang mempunyai genotip yang sama. Genotip adalah sesuatu yang ada, yang diperoleh sejak konsepsi dan merupakan kerangka yang akan menjadi sesuatu. Tetapi tidak semua akan actual dan menjadi sesuatu.
Dalam lingkungan tertentu genotip ini, jadi apa yang ada ini, akan menjadi sesuatu yang terlihat. Yang terlihat ini disebut fenotip. Antara genotip dan fenotip tidak ada hubungan
isomorphism,artinya yang ada harus menjadi sesuatu yang terlihat.
Aktuialisasi genotip bergantung pada lingkungan yang mempengaruhinya. Ini dapat digambar sebagai berikut
1. L
G F
Genotip dalam lingkungan tertentu menimbulkan fenotip
2. La Fa
G Lb Fb
Lc Fc
Genotip yang sama dalam lingkungan yang berbeda akan menghasilkan fenotip yang berbeda pula.
Pada lingkungan a akan menimbulkan fenotip a, lingkungan b fenotip b,dst.
Dengan demikian apa yang dipeolh ketika terjadi konsepsi dan ketika dilahirkan merupakan suatu kerangka yang memberi kemungkinan-kemungkinan, merupakan potensi-potensi yang bisa berkembang menjadi sesuatu ciri kepribadian.
Dengan demikian apa yang diperoleh ketika terjadi konsepsi dan ketika dilahirkan merupakan suatu kerangka yang memberi kemungkinan-kemungkinan, merupakan potensi-potensi yang biasa berkembang menjadi sesuatu ciri kepribadiannya.
terpencil mungkin saja ada seorang yang mempunyai bakat seni luar biasa, atau bakat olah raga istimewa, tetapi karena lingkungan tidak bisa memberikan kemungkinan untuk pengembangan bakat-bakat tersebut, maka bakat-bakat istimewa itu tidak pernah anak muncul atau terlihat.
Dalam hubungan dengan tujuan pendidikan, anak akan diperkembangkan kemampuan sebaik-baiknya dan semaksimal-maksimalnya, tetapi tidak mungkin melebihi kemampuan dasar (genotip) dan kerangka batas yang dimilikinya. Hanya selalu timbullah kesulitan untuk mengetahui batas-batas ini secara objektif dan hal ini acapkali menjadi sumber timbulnya ketegangan emosional pada berbagai pihak yang berhubungan dengan anak.
Menurut J.Hirsch(1970) norma-reaksi ini sulit diramalkan, jadi yang sering terlihat ialah yang terjadi setelah ada hubungan genotip-fenotip pada lingkungan tertentu. Bahkan hal ini juga sulit dilakukan terhadap tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Halnya dengan kejadian-kejadian khusus memang ada kalanya norma-reaksi bisa diberikan ramalan seberapa jauh atau bagaimana corak perkembangan yang akan terjadi.
Uraian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa factor konstitusi atau keturunan saja tidak menentukan sesuatu tingkah laku melainkan masih bergantung pada lingkungan tempat berada. Sebaliknya lingkungan saja tidak bisa distrukturkan sedemikian rupa sehingga diharapkan berkembang melebihi kerangka genotip yang sebenar-benarnya dimiliki. Tujuan memperkembangkan anak adalah memunculkan sesuatu yang secara genotip sebaik-baiknya untuk menyesuaian diri dan mempertahankan diri dalam lingkungan hidupnya; ini termasuk aspek-aspek yang berhubungan dengan keselamatan dan perlindungan fisiknya, kemampuan untuk memamfaatkan sumber-sumber yang ada dilingkungan, dan kemampuan untuk mengadakan hubungan social yang serasi.
]
D. Kontinuitas-Diskontinuitas dalam Perkembangan
Dalam proses perkembangan terjadi perubahan. Perubahan ini bisa kuantitatif dan bisa kualitatif. Sesuatu yang tumbuh dari kecil menjadi besar adalah perubahan kuantitatif, yang bisa diukur. Tinggi badan dan berat badan bertambah secara kuantitatif. Sesuatu yang berkembang dari sederhana menjadi sesuatu yang lebih majemuk menunjukkan adanya perubahan kualitatif. Misalnya dorongan yang timbul karena adanya kebutuhan dapat berubah secara kualitatif menjadi lebih banyak dan majemuk.
Jika perubahan-perubahan yang terjadi berlangsung terus pada tahapan-tahapan perkembangan berikutnya dengan cara-cara yang sama, maka hal ini disebut kontinuitas. Apa yang ada pada perkembangan sebelumnya diteruskan pada tahapan perkembangan berikutnya. Kalau perubahan mengenai hal-hal yang kualitatif dan berlangsung terus pada tahapan berikutnya, hal ini disebut kontinuitas kualitatif. Tetapi hal ini biasanya tidak akan terus menerus terjadi dalam perkembangan ontogenetis, misalnya yang mengenai tinggi dan berat badan, sebab sampai pada usia tertentu akan terjadi diskontinuitas. Kalau perubahannya mengenai hal-hal yang kualitatif maka sebenarnya tidak terdapat kontinuitas, karena ada hal-hal yang baru.
H.Werner (1957) menyebutkan “emergence” atau “epigenesis”. Jadi perubahan-perubahan kulitatif selalu diskontinuitas karena tidak ada aspek atau factor yang “diteruskan.”
Dalam hubungannya dengan konsep perkembangan orthogenetic yang dikemukakan oleh
Werner, maka perubahan-perubahan kearah terorganisasi dan terintegrasinya sesuatu aspek menunjukkan adanya kontinuitas. Sedangkan perubahan kearah diferensial yang tinggi, timbulnya sesuatu karakteristik baru yang berasal dari sesuatu yang global sebelumnya adalah diskontinuitas.
Perkembangan adalah sintesa antara keduanya yakni diferensiasi yang bersifat diskontinuitas dan proses hierarki yang bersifat kontinuitas.
Kontinuitas dan diskontinuitas juga terjadi pada proses belajar baik secara filogenetis maupun ontogenetis. Bitterman banyak menyelidiki proses-proses belajar pada hewan. Bitterman
diskontinuitas. Kendler & Kendler melakukan penyelidikan mengenai cara pemecahan persoalan pada perkembangan ontogenetis pada mana juga terlihat kontinuitas dan diskontinuitas.
Pada anak prasekolah dan pada anak taman kanak-kanak nampak diskontinuitas sedangkan kelompok umur yang lebih besar sampai dengan mahasiswa menunjukkan kontinuitas.
Diatas telah dikemukakan bahwa dalam proses perkembangan terjadi perubahan. Sejak permulaan terjadinya manusia baru melalui konsepsi; manusia tidak pernah diam (statis) sampai mati tentu saja. Pada setip saat manusia sedang dalam proses berubah. Apa yang ada sekarang, sebentar lagi mungkin berubah. Mungkin bertambah secara cepat dan banyak serta majemuk, mungkin juga berubah sedikit, bertambah sedikit, bahkan dalam perubahan ini sesuatu juga bisa berubah, menjadi berkurang. Misalnya pada usia lanjut ketika terjadi penurunan seluruh perubahan yang terjadi. Pada permulaan kehidupan proses perubahan terjadi melalui suatu satuan waktu yang cepat dengan penambahan-penambahan yang banyak, misalnya yang terlihat pada bayi dan anak-anak dan pada masa remaja. Perubahan bisa pula terjadi dalam sutuan waktu yang cepat dengan penambahan-penambahan yang banyak, misalnya yang terlihat pada bayi dan anak-anak dan pada masa remaja. Perubahan bisa pula terjadi dalam satuan waktu yang agak tenang, dengan penambahan yang relative sedikit, misalnya pada masa dewasa.
Perubahan-perubahan ini meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan psikis terlihat pada perkembangan kognitif, perkembangan emosi, perkembangan moral dll.
Beberapa kategori perubahan yakni: 1. Perubahan dalam ukuran
Yaitu perubahan dengan pertambahan dalam ukuran tinggi maupun berat. Berat sekitar 3 kg ketika dilahirkan menjadi sekian kg pada umur 6 bulan. Panjang 50 cm ketika dilahirkan menjadi tinggi sekian cm pada umur 1 tahun. Organ-organ tubuh juga mengalami perubahan ukuran antara lain volume otak dengan akibat terjadi perubahan dalam kemampuan.
Jumlah sukukata yang pada mulanya sedikit semakin bertambah umur semakin bertambah sehingga pada umur 1 – 1,5 tahun anak sudah bisa mengucapkan rangkaian sukukata-sukukata menjadi perkataan-perkataan yang mulai bermakna dan ada hubungannya dengan objek tertentu.
Kemampuan mengenal obejek-objek di lingkungannya bertambah sedikit demi sedikit. Kesemua perubahan diatas menunjukkan adanya perbedaan kuantitatif yang bisa diukur.
2. Perubahan dalam perbandingan
Dilihat dari sudut fisik terjadi perubahan proporsional antara kepala, anggota badan dan anggota gerak. Misalnya perbandingan antara besarnya kepala dan anggota badan, semakin bertambah umur, semaki bertambah besar. Sampai pada umur tertentu perbandingan akan menetap, yakni pada usia akhir belasan tahun.
Perubahan secara proporsional juga terjadi pada perkembangan mental. Perbandingan antara yang tidak riil, yang khayal, dengan hal-hal yang rasional semakin lama semakin besar. Artinya anak-anak masih banyak mengkhayal dan sedikit terdapat realitas pada mereka, semakin lama akan berubah sebaliknya, yakni banyak realitas dan sedikit mengkhayal.
Dalam perkembangan social mereka juga sedikit demi sedikit berubah, dari bermain sendiri, bermain dengan saudara, dengan anak-anak tetangga dan kemudian dengan anak-anak lain, yang lebih luas lagi.
3. Perubahan untuk mengganti hal-hal yang lama
Pada bayi terdapat kelenjar buntu yang disebut gl. Thymuspada daerah dada yang sedikit demi sedikit mengalami atrophy (penyusutan) dan menghilang ketika sudah dewasa.
Pada bayi juga terdapat rambut-rambut bayi yang lama kelamaan akan menghilang.
anak mampu mengatur persyarafan dan perototan yang berhubungan dengan penguasaan saluran dan kandung seni. Pada anak-anak gigi-gigi akan tanggal sedikit demi sedikit dan diganti dengan gigi tetap.
4. Berubah untuk memperoleh hal-hal yang baru
Banyak hal yang baru diperoleh selama perkembangan sejak dilahirkan dan sesuai dengan keadaan dan tingkatan tahapan-tahapan perkembangannya.
Ketika dilahirkan bayi belum mempunyai gigi dan beberapa waktu kemudian kalau sudah sampai waktunya atau umurnya akan tumbuh gigi-gigi. Bayi memperoleh dan menambah sesuatu jelang usia remaja terjadi penambahan bulu-bulu ketiak, sekitar alat-alat kelamin, timbullah kumis pada laki-laki akibat mulai berfungsinya kelenjar-kelenjar kelamin. Tanda-tanda ini dikenal dengan istilah tanda-tanda kelamin sekunder.
Dilihat dari segi mental bertambah perbendaharaan kata dan kekayaan bahasa, nilai dan norma moral yang semakin meningkat, berbagai pengetahuan yang diperoleh terutama dari pendidikan formal dan yang berhubungan dengan kematangan kelenjar kelamin dan yang dialami ketika masih anak-anak, yakni munculnya dorongan seks.
Selama perkembangannya manusia masih tetap menerima dan memperoleh hal-hal yang baru, teutama yang berhubungan dengan kehidupan psikis. Pada manusia terdapat kebutuhan untuk memperoleh dan mengetahui hal-hal baru. Tertutupnya kemungkinan untuk memperoleh hal ini akan menimbulkan kekecewaan dan penderitaan secara psikis. Contoh dalam hal ini adalah berita, Koran, majalah dan pengalaman yang baru. Baru pada usia lanjut intensitas dan dorongan ini pada umumnya mulai berkurang. Belajar disekolah merupakan kegiatan untuk mengetahui, memperoleh sesuatu yang baru secara bertahap dan direncanakan. Sebagian besar kegiatan pada anak adalah kegiatan untuk memperoleh hal-hal baru sebagaimana dapat dilihat pada anak-anak yang setiap hari harus kesekolah dan setelah pulang sekolah masih harus belajar. Dari ini terlihat bahwa proses perkembangan untuk memperoleh hal-hal baru ini, sebagian besar dan untuk waktu yang lama (sekolah dan kuliah sebagai kegiatan belajar yang formal) adalah mengenai kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan mental. Kehidupan pikis anak merupakan kegiatan yang maju, yang meningkat seperti yang sering terliaht: seorang anak yang mencampakkan alat permainan yang baru diberikan kepadanya beberapa hari yang lewat. Pada anak timbul perasaaan bosan dan alat permainan itu tidak menarik lagi. Ia ingin alat permainan yang baru. Pada remaja sering terlihat sifat pembosan dan ingin selalu melakukan atau memperoleh yang baru. Baik mengenai benda ataupun kegiatan yang berhubungan dengan kepuasan secara psikis. Mengikuti mode merupakan perwujudan keinginan mengikuti dan memperoleh sesuatu yang dianggap baru ini menjadi sangat relative dan merupakan fungsi dari perubahan waktu, bisa lama dan bisa cepat. Kebutuhan anak memperoleh dan mencari sesuatu yang baru merupakan dorongan yang menjadi sebagian ciri kepribadiannya secara pribadi yang berbeda-beda pada setiap orang dan pada setiap tingkatan tahapan perkembangannya.
E. Pola-Pola Perkembangan
ciri perkembangn anak-anak di Amerika, anak-anakdi Asia dan dengan sendirinya anak-anak di Indonesia, karena sifatnya yang universal. Tentu karena pengaruh-pengaruh lingkungan dan latar belakang kebudayan tertentu, menyebabkan timbulnya karakteristik-karakteristik yang menjadi pola khusus pada perkembangannya. Bahkan antara pribadi dengan pribadi juga terdapat perbedaan-peerbdaan tertentu bila diperbandingkan secara keseluruhan pribadinya. Hanya dalam keanekaragaman ini terdapat beberapa pola yang bersifat universal sebagaimana diterangkan diatas.
Dengan demikian kita selalu dimungkinkan mempelajari hasil penyelidikan di tempat lain untuk diamalkan di tempat yng lain lagi. Adanya pola-pola yang secara relative menetap ini sudah dikemukakan sejak lama oleh A.Gesell dalam tulisannya (1949). Adanya hukum yang besifat universal dalam perkembangan, secara khusus yang berhubungan dengan penahapan dan perkembangan oleh Walter Emmerich(1968) disebut dengan istilah nomothetis.
Pola-pola perkembangan ada beberapa yakni: 1. Pertumbuhan fisik yang terarah
Terdapat dua hukum dalam pertumbuhan fisik, yakni:
a) Hukum cephalocaudal
Yaitu pertumbuhan uang dimulai dari kepala kearah kaki. Bagian-bagian pada kepala tumbuh lebih dahulu daripada bagian-bagian lain. Hal ini sudah terlihat pada pertumbuhan pra-natal, yaitu pada janin. Seorang bayi yang baru dilahirkan mempunyai bgian-bagian dan alat-alat pada kepala yang lebih “matang” dari pada bagian-bagian lain. Bayi bisa menggunakan mulut dan matanya lebih cepat daripada anggota geraknya. Baik pada masa perkembangan pra-natal, neonatal dan anak-anak, proporsi bagian kepala dengan rangka batang tubuhnya mula-mula kecil dan semakin lama perbandingan ini semakin besar.
b) Hukum Proximodistal
Yaitu pertumbuhan yang berpusat pada sumbu dan mengarah ketepi. Alat-alat tubuh yang terdapat pada pusat, seperti jantung, hati, alat-alat pencernaan, lebih dahulu berfungsi daripada anggota tubuh yang ada ditepi. Ini tentu karena alat-alat tubuh yang terdapat pada daerah pusat itu, lebih vital daripada misalnya anggota gerak seperti tangan dan kaki. Anak masih bisa melangsungkan kehidupannya bila terjadi kelainan-kelainan pada anggota gerak, akan tetapi tidak pada anggota tubuh pusat. Kelainan sedikit saja, misalnya pada jantung atau ginjal, bisa berakibat fatal.
Ditinjau dari sudut biologi, anatomi dan faal masih banyak lagi ketentuan yang berhubungan dengan pertumbuhan, struktur dan fungsi serta kefaalan anggota tubuh. Misalnya dalam hal kematangan untuk tumbuh, berkembang dan berfungsi yang tidak sama antara anggota-anggota tubuh. Contoh yang jelas terlihat pada kelenjar-kelenjar kelamin, yang baru mulai berfungsi (matang) ketika anak memasuki masa remaja. Pada saat ini terjadi perubahan besar pada bentuk tubuh, yang bahkan juga mempengaruhi perubahan pada kehidupan psikisnya.
2. Perkembangan terjadi dari umum ke khusus
Pada setiap aspek perkembangan terjadi proses perkembangan yang dimulai dari hal-hal yang umum, secara sedikit demi sedikit meningkat ke hal-hal yang khusus. Terjadi proses diferensiasi sebagaimana dikmukakan oleh H.Werner. Anak akan mampu mnggerakkan lengan atas, lengan bawah, tapak tangan terlebih dahulu daripada ia mampu meenggerakkan jari-jari tangannya. Anak akan mampu lebih dahulu menggerakkan tubuhnya sebelum ia bisa mempergunakan kedua tungkainya untuk menyangga batang tubuhnya, melangkahkan kaki dan mampu berjalan.