• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Kasus Pelanggaran KUP. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Kasus Pelanggaran KUP. docx"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dalam Self assessment system, WP diberi kepercayaan serta

tanggung jawab secara langsung dan mandiri untuk menghitung,

menyetor, serta melapor sendiri besarnya pajak terutang. Artinya,

kesadaran wajib pajak merupakan hal penentu dalam jumlah pajak

yang diterima oleh negara. Dengan self assessment system, wajib

pajak diharapkan tidak hanya patuh terhadap kewajiban membayar

pajak, tapi harus dibekali dengan pengetahuan yang memadai

mengenai ketentuan, kebijakan, hukum, serta prosedur perpajakan

yang sesuai dengan Undang-undang yang berlaku. Kesadaran dan

pengetahuan tersebut harus dilandasi oleh kesadaran, kejujuran, dan

kedisiplinan yang memadai, maka kepercayaan yang diberikan

kepada WP tidak disalahgunakan.

Salah satu kasus yang banyak ditemukan adalah kurangnya

kesadaran para pengusaha wajib pajak untuk mendaftarkan dirinya

untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP). Hal ini tentu

tidak sesuai dengan Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang

telah diatur dalam undang-undang Akibatnya rentetatan pelanggaran

dibidang perpajakan kian terbuka lebar bagi mereka.

Melihat persolan di atas, penulis tertarik untuk mengangkatnya

(2)

berjudul: Dua Pengemplang Pajak di Padang Rugikan Negara

Rp1,03M”.

1.1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, masalah yang dapat

dirumuskan dalam karya tulis ilmiah ini adalah

1) Tindakan apa yang dilakukan PT. AKP supplier PT. Semen Padang

yang dinilai telah melanggar KUP dalam bidang perpajakan?

2) Sanksi apa yang dijerat terhadap pelanggaran tindak pidana pajak

yang dilakukan oleh PT. AKP supplier PT. Semen Padang?

1.2. Tujuan Penulisan

Mengacu pada rumusan masalah, maka penulisan ini

bertujuan:

1. Mengetahui tindakan yang dilakukan PT. AKP supplier PT. Semen

Padang yang dinilai telah melanggar KUP dalam bidang

perpajakan.

2. Mengetahui sanksi yang dijerat terhadap pelanggaran tindak

pidana pajak yang dilakukan oleh PT. AKP supplier PT. Semen

(3)

PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Pustaka

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang

oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan

undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung

dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya

kemakmuran rakyat.

A. Pengertian Ketentuan Umum Perpajakan

Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan (KUP) adalah

ketentuan yang hanya berisikan hukum pajak formal, yang

semata-mata memuat peraturan-peraturan mengenai tata cara pelaksanaan

pemungutan pajak oleh negara. Tata cara yang diatur dalam

undang-undang No.28 Tahun 2007 tentang KUP merupakan ketentuan umum

yang berlaku bagi semua jenis pajak. Pemungutan pajak akan

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan tersebut kecuali

undang-undang pajak yang lain secara khusus menentukan sendiri tata cara

pelaksanaan pemungutannya.

Pengertian dasar yang terdapat dalam Ketentuan Umum

Perapajakan (KUP) adalah sebagai berikut:

1. Wajib Pajak (WP) adalah orang pribadi atau badan, meliputi

pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang

mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan

(4)

2. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan

kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak

melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan

komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau

badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa

pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan,

perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik,

atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya

termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap;

3. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun

yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan

barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha

perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar

daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa

dari luar daerah pabean;

4. Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah Pengusaha yang melakukan

penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena

Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak

Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya;

5. Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak

digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran

pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan

kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan

(5)

6. Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk

suatu Masa Pajak;

7. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk

suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak;

8. Surat Setoran Pajak adalah bukti pembayaran atau penyetoran

pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau

telah dilakukan dengan cara lain ke kas negara melalui tempat

pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan;

9. Surat ketetapan pajak adalah surat ketetapan yang meliputi Surat

Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang

Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, atau Surat

Ketetapan Pajak Lebih Bayar;

10.Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar adalah surat ketetapan pajak

yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit

pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya

sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar;

11.Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan adalah surat

ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak

yang telah ditetapkan;

12.Surat Ketetapan Pajak Nihil adalah surat ketetapan pajak yang

menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah

kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak;

13.Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah surat ketetapan pajak

(6)

jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau

seharusnya tidak terutang;

14.Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak

dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda;

15.Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan

biaya penagihan pajak.

B. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang

diberikan kepada wajib pajak sebagai sarana dalam administrasi

perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau

identitas wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban

perpajakannya.

a. Pendaftaran Untuk Mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak

1)Berdasarkan sistem self assessment setiap WP yang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan

diri utuk memiliki NPWP dengan cara:

a) Datang langsung ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau

melalui Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konnsultasi Pajak

(KP2KP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau

tempat kependudukan WP;

b) Melalui internet di situs Direktorat Jenderal Pajak

(www.pajak.go.id) pada aplikasi e-Registration

(7)

2)Kewajiban mendaftarkan diri berlaku pula terhadap wanita kawin yang ingin dikenakan pajak secara terpisah dengan suaminya;

3)Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu yang mempunyai tempat usaha berbeda dengan tempat tinggal, selain wajib

mendaftarkan diri ke KPP yang wilayahnya kerjanya meliputi

tempat tinggalnya, juga diwajibkan mendaftarkan diri ke KPP yang

wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usah dilakukan;

4)Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usahanya atau pekerjaan bebas, bila sampai dengan suatu bulan memperoleh

penghasilan yang jumlahnya telah melebihi Penghasilan Tidak

Kena Pajak (PTKP) setahun, wajib mendaftarkan diri paling

lambat pada akhir bulan berikutnya;

5)WP orang pribadi lainnya yang memerlukan NPWP dapat mengajukan permohonan untuk memperoleh NPWP.

b. Pelaporan Usaha Untuk Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak

1. Pengusaha yang dikenakan PPN, wajib melaporkan usahanya

pada KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau

tempat kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha

dilakukan untuk dikukuhkan menjadi PKP;

2. Pengusah orang pribadi atau badan yang mempunyai tempat

kegiatan usaha berbeda dengan tempat tinggal, wajib melaporkan

usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP ke KPP yang wilayah

(8)

wajib mendaftarkan diri ke KPP di tempat kegiatan usaha

dilakukan;

3. Pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP

wajib mengajukan pernyataan tertulis untuk dikukuhkan sebagai

PKP;

4. Pengusaha kecil yang tidak memilih untuk dikukuhkan sebagai

PKP tetapi sampai dengan suatu masa pajak dalam suatu tahun

buku seluruh nilai peredaran bruto telah melampaui batas yang

ditentukan sebagai pengusaha kecil, wajib melaporkan usahanya

untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lambat akhir masa pajak

berikutnya.

c. Tempat Pendaftaran Wajib Pajak Tertentu dan Pelaporan Bagi Pengusaha Tertentu

1. Seluruh WP BUMN (Badan Usah Milik Negara) dan WP BUMD

(Badan Usaha Milik Daerah) di wilayah DKI Jakarta, di KPP

BUMN Jakarta;

2. WP PMA (Penanaman Modal Asing) yang tidak go public, di KPP

PMA kecuali yang telah terdaftar di KPP lama dan WP PMA di

kawasan berikat dengan permohonan diberikan kemudahan

mendaftar di KPP setempat;

3. WP Badan dan Orang Asing (Badora), di KPP Badora;

4. WP go public, di KPP Perusahaan Masuk Bursa (Go Public),

kecuali WP BUMN/BUMD serta WP PMA yang berkedudukan di

(9)

5. WP BUMN diluar Jakarta, di KPP setempat;

6. Untuk WP BUMN/BUMD, PMA, Badora, Go Public di luar Jakarta,

khusus PPh pemotongan/pemungutan dan PPN/PPnBM di tempat

kegiatan usaha atau cabang.

d.Fungsi Nomor Pokok Wajib Pajak dan Pengukuhan PKP 1. Fungsi NPWP adalah sebagai berikut:

a. Sarana dalam administrasi perpajakan;

b. Tanda pengenal diri atau identitas WP dalam melaksanakan

hak dan kewajiban perpajakannya;

c. Menjaga ketertiban dakam pembayaran pajak dan pengawasan

admiinistrasi perpajakan;

d. Setiap WP hanya diberikan satu NPWP;

2. Fungsi Pengukuhan PKP adalah sebagai berikut:

a. Pengawasan dalam melaksanakan hak dan kewajiban PKP di

bidang PPN dan PPnBM;

b. Sebagai identitas PKP yang bersangkutan.

e. Penerbitan NPWP dan Pengukuhan PKP Secara Jabatan (Sifat

Retroaktif)

KPP dapat menerbitkan NPWP dan Pengukuhan PKP secara

jabatan, apabila WP tidak memenuhi kewajiban mendaftarkan diri

untuk memiliki NPWP atau tidak melaporkan usahanya untuk

dikukuhkan sebagai PKP, bila berdasarkan data yang dimiliki

Direktorat Jenderal Pajak ternyata WP memenuhi syarat untuk

(10)

C. Keberatan dan Banding

Dalam hal ini WP dapat mengajukan keberatan.

2. Hal-hal yang Dapat Diajukan Keberatan

Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan atas:

a. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);

b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT); c. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB);

d. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN);

e. Pemotongan atau Pemungutan oleh pihak ketiga. 3. Penyelesaian Keberatan

Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12

(dua belas) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima, harus

memberikan keputusan atas keberatan yang diajukan. Apabila

dalam jangka waktu 12 (dua belas) telah lewat dan Direktorat

Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan, maka keberatan

(11)

Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan

secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan

yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta

jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang

ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan

laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut.

b. Pencatatan

Pencatatan yaitu pengumpulan data yang dikumpulkan secara

teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau

penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak

yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek pajak

dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final.

2. Yang Wajib Menyelenggarakan Pembukuan

a. Wajib Pajak (WP) Badan;

b. Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau

pekerjaan bebas, kecuali wajib pajak orang pribadi yang

peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari

Rp4.800.000.000,00 (Empat milyar delapan ratus juta rupiah).

3. Yang Wajib Menyelenggarakan Pencatatan

a. Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau

pekerjaan bebas yang peredaran brutonya dalam satu tahun

kurang dari Rp4.800.000.000,00 (empat milyar delapan ratus juta

rupiah), dapat menghitung penghasilan neto dengan

(12)

syarat memberitahukan ke Direktur Jenderal Pajak dalam jangka

waktu 3 bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan;

b. Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha

atau pekerjaan bebas.

4. Tujuan Penyelenggaraan Pembukuan/Pencatatan

Adalah untuk mempermudah:

a. Pengisian SPT;

b. Penghitungan Penghasilan Kena Pajak;

c. Penghitungan PPN dan PPnBM;

d. Penyelenggaraan pembukuan juga untuk mengetahui posisi

keuangan dan hasil.

E. Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan 1. Penyidikan

Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah

serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik untuk mencari

serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang

tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan

tersangkanya.

2. Penyidik

Penyidik adalah pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di

lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus

sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di

bidang perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan

(13)

3. Wewenang Penyidik

a. Menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan

atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang

perpajakan agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih

lengkap dan jelas;

badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan; d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen

lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan; e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti

pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen lain, serta

melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas

penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan;

g. Menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan

ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang

berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen

yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di

bidang perpajakan.

F. Sanksi Tindak Pidana di Bidang Perpajakan

Tindak Pidana di Bidang Perpajakan ada 4 yaitu

a. Setiap orang yang karena kealpaannya jika:

(14)

2. Menyampaikan SPT, tetapi isinya tidak benar atau tidak

lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar,

sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara

dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan

yang pertama kali, didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak

terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua)

kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar, Â atau

dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1

(satu) tahun.

b. Setiap orang yang dengan sengaja:

a) Tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib

Pajak atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan

sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP);

b) Menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor

Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;

c) Tidak menyampaikan SPT;

d) Menyampaikan SPT dan atau keterangan yang isinya tidak

benar atau tidak lengkap;

(15)

f) Memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen

lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar, atau tidak

menggambarkan keadaan yang sebenarnya;

g) Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan, tidak

memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau

dokumen lainnya;

h) Tidak menyimpan buku, catatan, atau dokumen yang

menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain

termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola

secara elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi

on-line di Indonesia;

i) Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut.

Tindakan-tindakan diatas akan menimbulkan kerugian pada

pendapatan Negara, dan akan di pidana dengan pidana penjara

paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan

denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak

atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak

terutang yang tidak atau kurang dibayar.

Apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang

perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak

selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan, dikenakan

pidana 2 (dua) kali lipat dari ancaman pidana yang diatur

(16)

Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan

tindak pidana menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak

NPWP atau Pengukuhan PKP, atau menyampaikan SPT dan atau

keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap dalam

rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan

kompensasi pajak atau pengkreditan pajak, Â dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2

(dua) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi

yang dimohonkan ddan/atau kompensasi atau pengkreditan yang

dilakukan dan paling banyak  4 (empat) kali jumlah restitusi yang

dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang

dilakukan.

Setiap orang dengan sengaja:

a) Menerbitkan dan/atau menggunakan faktur pajak, bukti

pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti

setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya;

atau

b) Menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai

Pengusaha Kena Pajak;

c) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan

paling lama 6 (enam) tahun serta denda paling sedikit 2 (dua) kali

jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti

(17)

banyak 6 (enam) kali jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti

pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti

setoran pajak.

Sanksi tindak pidana berlaku juga bagi wakil, kuasa, atau

pegawai dari Wajib Pajak, yang menyuruh melakukan, yang turut serta

melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan

tindak pidana di bidang perpajakan.

2.2 Analisis Masalah

A. Tindakan yang Dilakukan PT. AKP supplier PT. Semen Padang yang Melanggar KUP dalam Bidang Perpajakan

Kakanwil Sumatera Barat dan Jambi berserta Korwas PPNS,

Ditrekrimus Polda Sumbar dan Kejaksaan Tinggi Sumbar berhasil

mengungkap pengemplang pajak yang merugikan negara senilai

Rp1,03 miliar.

Kasus PT. AKP supplier PT. Semen Padang telah melanggar

P21 dan akan diserahkan ke kejaksaan tinggi Sumbar. Pelanggaran

yang dilakukan yaitu tidak menyetorkan Pajak Pertambahan Nilai

(18)

Pengusaha Kena Pajak (PKP) namun PT. AKP supplier PT. Semen

Padang menerbitkan faktur pajak, tapi tidak menyetor ke kas Negara.

Pelanggaran tersebut tentu sangat bertentangan dengan KUP

tentang pelaporan usaha untuk pengukuhan Pengusaha Kena Pajak,

dimana pengusaha yang dikenakan PPN, wajib melaporkan usahanya

pada KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat

kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk

dikukuhkan menjadi PKP. Hal ini tidak dilakukan oleh PT. AKP supplier

PT. Semen.

Hal ini menyebabkan diterbitkan SPT kepada PT. AKP supplier

PT. Semen Padang dan dilanjutkan pada penyelidikan tindak pidana

pelanggaran KUP yang akhirnya dibawa kepengadilan dan

menetapkan bahwa PT. AKP supplier PT. Semen sebagai tersangka.

Dalam penyidikan yang telah dilakukan, penyidik telah meminta

keterangan saksi sebanyak 19 orang baik dari pajak, bank dan pihak

rekanan sendiri.

Pendalaman kasus ini, pelaku sendiri melakukannya tanpa ada

suruhan. Sementara pelaku juga membantah tidak ada pihak dari

kantor pajak yang ikut terlibat dalam kasus ini.

Dalam kasus ini ada dua orang terlibat dan satu orang yang

baru lengkap dan satu lagi masih melengkapi. Tersangka juga telah

kita siapkan dakwaannya.

(19)

Tersangka dijerat Pasal 39 Ayat (1) huruf a jo Pasal 43 Ayat (1)

UU No 6/1983 sebagaimana diubah menjadi UU No 16/2000 tentang

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, untuk ancaman

penggelapan pajak tahun 2007.

Sedangkan ancaman penggelapan pajak tahun 2008-2010

diatur dalam Pasal 39a huruf b jo Pasal 43 Ayat (1) UU No. 6/1983

sebagaimana diubah menjadi UU No. 16/2000 tentang Ketentuan

Umum dan Tata Cara Perpajakan yaitu ancaman hukuman maksimal

enam tahun penjara.

Berdasarkan Undang-Undang di bidang perpajakan, sanksi

yang berhubungan dengan NPWP dan pengukuhan sebagai PKP yaitu

setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri atau

menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP atau

Pengukuhan PKP, sehingga dapat merugikan pada pendapatan negara

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan

paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali

jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling tinggi

(20)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

a. Tindakan yang Dilakukan PT. AKP supplier PT. Semen Padang yang Melanggar KUP dalam Bidang Perpajakan adalah telah

melanggar P21 dengan tidak menyetorkan Pajak Pertambahan

Nilai (PPN) sejak 2007 sampai 2010, dan sengaja tidak

mendaftarkan diri dan tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk

dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) namun PT. AKP

supplier PT. Semen Padang menerbitkan faktur pajak, tapi tidak

menyetor ke kas Negara.

b. Sanksi Pelanggaran Tindak Pidana Pajak yang Dilakukan oleh PT. AKP supplier PT. Semen Padang yaitu ancaman penggelapan

pajak tahun 2008-2010 diatur dalam Pasal 39a huruf b jo Pasal 43

Ayat (1) UU No. 6/1983 sebagaimana diubah menjadi UU No.

16/2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yaitu

ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.

3.2 Saran

a. Dengan penerapan Self assessment system, WP hendaknya

(21)

sekitar pendapatan Negara sekitar 75% berasal dari pemungutan

pajak.

b. Administrasi perpajakan harus berperan aktif dalam melaksanakan

pengendalian administrasi pemungutan pajak yang meliputi

tugas-tugas pembinaan, pelayanan, pengawasan, dan penerapan sanksi

(22)

DAFTAR PUSTAKA

---, Dua Pengemplang Pajak Rugikan Negara Rp. 1.03 M.

[Internet] 22 April 2013, Available from: http://economy.okezone.com, diakses, 12 Mei 2013.

---, Ketentuan Umum dan Tata Cara Perajakan. [Internet] 2013, Available from: http://www.akuntansiitumudah.com, diakses, 8 Mei 2013.

---, Materi KUP. [Internet] 7 Maret 2011, Available from: http://www.scribd.com/, diakses, 20 Mei 2013.

---, Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. [Internet] 13 Mei 2011, Available from: http://www.gudangpajak.web.id, diakses, 18 Mei 2013.

---, Modul KUP. [Internet] 5 September 2012, Available from: http://www.docstoc.com /, diakses, 20 Mei 2013.

Referensi

Dokumen terkait

Kombinasi antara penggunaan konsentrasi α -amilase dan lama proses hidrolisa enzimatis pada pati gadung yang telah meng- alami pembebasan HCN diharapkan dapat

Demam Berdarah Dengue semakin menyebar seiring dengan perubahan iklim seperti tingginya curah hujan di bulan-bulan tertentu sepanjang tahun, suhu udara optimum, kelembaban

Capaian Program Meningkatnya jumlah Masyarakat yang mampu menggunakan TIK 600 Orang. Masukan Jumlah Dana

Berdasarkan hasil analisis maka nilai LQ masing-masing sektor Kabupaten Pasangkayu tahun 2015-2019 dapat dilihat pada tabel 4.2 dari tabel tersebut dapat diketahui

Ibu Nor Hikmah mulai menabung di Bank Muamalat sejak tahun 2015 dan produk yang ibu Hikmah gunakan adalah Produk Tabungan Muamalat IB yang menyediakan

TTU dan sesuai jadwal lelang Pokja Perluasan dan Peningkatan Jaringan Pipa Distribusi Ds.Oelneke-Kantor BKP3 Oenenu Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Timor Tengah

Kamus data adalah katalog fakta tentang data dan kebutuhan informasi suatu sistem informasi. Kamus data terdapat pada tahapan analisis dan perancangan. Pada tahap

INSTRUMEN PENILAIAN CAKUPAN PELAYANAN UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN PUSKESMAS : CANTIGI.. KABUPATEN