Hakikat Manusia dan Implikasinya dalam P
Teks penuh
Garis besar
Dokumen terkait
Terhadap dimensi non material ini, Al- Rasyidin mengutip pendapat Al- Attas, yang menyatakan bahwa dimensi non material ( al-r-h) manusia adalah tempat bagi
4 Secara umum, al-qur’an memaparkan bahwa manusia diciptakan dari diri yang satu, yakni Adam, yang darinya Allah menciptakan perempuan, yakni Hawa, dan dari keduanya
ini, sepertinya dunia pendidikan Islam dapat dikatakan merupakan salah satu upaya manusia yang sengaja dipersembahkan ke arah pengembangan potensi yang dimiliki
Al-qur`an dalam hal ini menjelaskan bahwa penciptaan alam semesta bertujuan bukan menjadi seteru bagi manusia, bukan menjadi penghambat manusia dalam berpikir
Potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia, termasuk di dalamnya akal, nafsu, amarah, nafsu syahwat, fitrah, kata hati, hati nurani dan instuisi dibina secara optimal dengan cara dan
Pandangan Islam secara global menyatakan bahwa fitrah merupakan kecenderungan alamiah bawaan sejak lahir. Penciptaan terhadap sesuatu ada untuk pertama kalinya dan struktur alamiah manusia sejak awal kelahirannya telah memiliki agama bawaan secara alamiah yakni agama tauhid. Islam sebagai agama fitrah tidak hanya sesuai dengan naluri keberagamaan manusia tetapi juga dengan, bahkan menunjang pertumbuhan dan perkembangan fitrahnya. Hal ini menjadikan eksistensinya utuh dengan kepribadiannya yang sempurna. Penciptaan manusia dalam keadaan fitrah juga dibekali beberapa potensi yakni potensi yang ada dalam jasmani dan rohani. Bekal yang dimiliki manusia pun tidak hanya berupa asupan positif saja, karena dalarn diri manusia tercipta satu potensi yang diberi nama nafsu. Nafsu inilah yang sering membawa manusia lupa dan ingkar dengan fitrahnya sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi. Untuk itu manusia perlu mengembangkan potensi positif yang ada dalam dirinya untuk mencapai fitrah
Dari uraian yang telah dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa : 3.1.1 Sifat Hakiki manusia adalah ciri khas yang dimiliki oleh manusia yang membedakannya dengan hewan.. Disebut
Selanjutnya Ibnu Sina dalam Nata mengatakan bahwa tujuan pendidikan itu harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangan yang sempurna,