• Tidak ada hasil yang ditemukan

ESSAY KIMIA FARMASI II analisis kimia ob

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ESSAY KIMIA FARMASI II analisis kimia ob"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ESSAY KIMIA FARMASI II “analisis kimia obat amoxicilin”

Oleh : Kelompok 3 (IV C)

AKADEMI FARMASI SARASWATI DENPASAR 2018

Gusti Ayu Putu Yosinta Sasmita (161112) Luh Putu Mahatrianti Eningsari (161113) I Ketut Sukma Adi Suryana (161114) Ida Ayu Pradnya Dewi (161115) Ni Made Ayu Dian Pratiwi (161116) Kadek Laksita Ganamukti (161117)

Ni Luh Gede Nita Yanti (161118) Putu Agus Dipa Setiawan (161119) Ida Ayu Putu Diah Krisna Dewi (161120) Dara Vega Devi Kameswari (161121) I Made Yogi Candra Kusuma (161122)

(2)

Amoksilin adalah salah satu obat antibiotik. Berdasarkan jurnal “Analisis Amoxicillin dengan Metode Spektrofotometri Ultra – Violet (UV)”, amoxicilin akan diuji dengan metodee spektrometri UV. Pada jurnal “Validasi metode Analisis Kromatorgafi Cair Kinerja Tinggi Untuk Penetapan Kadar amoxicilin dalam plasma secara invitro”, amoxicilin akan dianalisis dengann metode KCKT. Dan pada jurnal “Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Bahan Baku Amoxicillin”, amoxicilin akan diuji dengan metode analisis kualitatif dan kuantitatif.

(3)

perhitungan di atas. Masing-masing larutan dibaca absorbansinya pada gelombang maksimum yang sesuai dengan literatur yaitu 245 nm.Pengukuran kadar dilakukan dengan cara menyiapkan 5 tablet Amoxicillin. Kemudian masing-masing tablet ditimbang, dan diperoleh hasil penimbangan 10 tablet secara berturut-turut sebagai berikut : 0,707 g; 0,704 g; 0,701 g; 0,704 g; 0.692 g. Dari hasil tersebut diperoleh rata-rata tablet sebesar 0,7016 g atau 701,6 mg. Tablet Amoxicilin digerus dalam mortir hingga halus. Tablet amoxicillin yang telah menjadi serbuk ditimbang 50 mg sebanyak tiga kali, karena dalam pengukuan ini dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. Masing-masing serbuk tersebut di add dengan 100 ml NaOH 0,1 N menggunakan labu pengencer. Dilakukan penggojokan selama 10 menit untuk memastikan amoxicillin tersebut larut sempurna dengan NaOH, kemudian didiamkan selama 15 menit dalam wadah tertutup agar larutan homogen. Larutan kemudian disentrifugasi untuk memisahkan solut dan solven lalu diambil supernatannya. Sebanyak 5 ml larutan filtrat pertama dibuang karena diasumsikan masih bersih dari solut dan 5 ml selanjutnya diencerkan dengan NaOH untuk diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimal yaitu 245 nm yang nantinya akan mempresentasikan kadar sampel. Absorbansi yang didapat berada >0,8, maka perlu dilakukan pengenceran agar absorbansi yang didapat berada pada rentang 0,2 – 0,8 atau 15 % sampai 70 % jika dibaca sebagai transmitans. Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan T adalah 0,005 atau 0,5 % (kesalahan fotometrik) (Gandjar, 2007). Kemudian larutan tersebut masing-masing diambil 1 ml dan di add 50 ml NaOH 0,1 N (50 x pengenceran). Didapatkan hasil absorbansi berturut-turut adalah 0,383 A; 0,375 A; 0,344 A. Berdasarkan perhitungan menggunakan regresi yang telah didapat y= a+bx y = 0,067 + 0,032x, akan didapatkan kadar berturut-turut yaitu 692,8 mg; 675,3 mg; 607,3 mg. Rata-rata kadarnya adalah 658,467mg dan SD nya adalah 45,167. Sehingga didapatkan kadar amoxicillin, yaitu 658,467 ± 45,167 mg/ml. Hasil kadar Amoxicillin yang diperoleh berbeda dengan kadar Amoxicillin yang tertera pada kemasan strip yaitu 500 mg. Hal ini disebabkan karena adanya kesalahan teknis yang dilakukan oleh praktikan dan kekurang telitian dalam melakukan percobaan.

(4)
(5)

Organik ( Metanol) sebanyak 0,7 mL divorteks 30 detik, kemudian disentrifugasi selama 10 menit pada 3000 rpm. Kemudian Alikuot disaring , diambil supernatan (plasma) lalu supernatan diinjeksi sebanyak 20 μL ke alat KCKT. Dianalisis kromatogram untuk mengetahui kondisi kromatogram blanko darah. Dilakukan hal yang sama terhadap darah yang sudah mengandung larutan amoxicilin masing-masing dengan konsentrasi 250 dan 500 μg/mL. Diekstraksi dan diinjeksi sebanyak 20 μL ke alat KCKT dengan kondisi KCKT yang telah ditentukan sebelumnya, kemudian dicatat waktu retensi dan luas puncaknya. Hitung kadar Amoxicilin dalam darah dengan cara mensubtitusikan luas puncak yang telah terpilih ke dalam persamaan regresi yang diperoleh dari kurva kalibrasi. Hasil dengan menggunakan spektrofotometri ultraviolet-visibel didapatkan panjang gelombang maksimum 230 nm dan konsentrasi paling optimum yaitu pada konsentrasi 3 µg/mL. Kondisi optimasi untuk penetapan kadar amoxicilin secara KCKT dengan menggunakan kolom C18, kolom (250 X 4,6 mm, 5 μm) dengan fase gerak Metanol : Buffer kalium dihidrogen fosfat ( 10 : 90), PH 5 dan laju alir 2,0 mL/menit.Sedangkan hasil Validasi menunjukkan bahwa metode bioanalisis yang dilakukan sudah cukup memenuhi persyaratan untuk uji kesesuaian sistem, linearitas (r=9,409), akurasi (%diff ≤ 15 kecuali pada konsentrasi 3 μg/mL) , presisi (% RSD ≤ 15), batas deteksi (2,5 μg/mL) dan batas kuantitas (8,36). Hanya saja ada beberapa konsentrasi yang belum sesuai yaitu pada uji akurasi. Namun secara keseluruhan metode yang telah divalidasi bisa digunakan untuk penetapan kadar amoxicilin.

(6)

menggunakan metanol). Dan pengujian secara kuantitatif dilakukan dengan cara pertama Pembakuan Natrium Tiosulfat, Dipipet 5 ml kalium dikromat 0,1 N, dimasukkan ke dalam erlenmeyer, Ditambahkan 2,5 ml HCl 1 N, Ditambahkan 2,5 ml KI 10%, didiamkan dan ditutup, Dititrasi secara duplo dengan natrium tiosulfat hingga menjadi kuning, Ditambahkan indikator amilum, Dititrasi lanjut hingga berwarna biru. Larutan kalium dikromat dalam erlenmeyer menjadi asam. Yang kedua menentukan kadar amoxicillin dengan menggunakan titrasi iodometri, Ditimbang 50 mg amoksisilin dan dilarutkan dalam 100 ml aquades. Dipipet 3x5 ml larutan amoksisilin dan ditambahkan 3x1 ml NaOH, lalu didiamkan selama 20 menit, Ditambahkan 3x1 ml HCl 1 N dan 3x1 ml iodin 0,1 N, lalu didiamkan selama 20 menit dalam keadaan terlindung dari cahaya, Dititrasi dengan natrium tiosulfat 0,1 N, kemudian Analit ditotolkan pada amilum yang sudah berada di plat tetes, Titrasi dilanjutkan hingga analit bening, Dihitung kadar amoksisilin.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Sari, puspita, dkk. 2015. Validasi metode Analisis Kromatorgafi Cair Kinerja Tinggi Untuk Penetapan Kadar amoxicilin dalam plasma secara invitro, Manado : PHARMACON jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT

Syafa Islami, Maura. Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Bahan Baku Amoxicillin, Sumedang : Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran.

Referensi

Dokumen terkait

Sertifikat Badan Usaha (SBU) Kualifikasi Usaha Non Kecil dengan klasifikasi Bangunan Sipil - Subklasifikasi jasa pelaksana untuk konstruksi jalan raya

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Bupati Bantul tentang Pembentukan Tim

Jika didapati tegangan masukan pada transformator distribusi yang menggunakan tap changer tidak sesuai dengan tegangan primer yang ditentukan untuk tiap tapping,

Platinum Resistance Pt-100 maka dalam Karya Akhir ini akan membahas tentang PENGGUNAAN SENSOR PLATINUM RESISTANCE PT-100 UNTUK MENGONTROL TEMPERATUR MINYAK PADA CRYSTALIZER TANK

kelembapan ruangan. Adapun ruangan di gudang antara lain :.. a) Ruang karantina bahan baku obat. b) Ruang penyimpanan bahan pembantu yang telah diluluskan bagian. pengawasan mutu.

Pengemasan sediaan jadi di Lafi Ditkesad juga telah memenuhi persyaratan CPOB, dimana proses pengawasan terhadap kebocoran strip atau kebocoran sediaan (untuk sediaan cair)

Untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan tentang kanker serviks di SMA negeri 1 Kartosuro dengan Pondok Pesantren Moderen Islam Assalaam. Manfaat bagi ilmu pengetahuan

Koordinasi  tingkat  Pusat  perlu  dilakukan  untuk  mendapatkan  dukungan  (dana,  tenaga,  teknis  pelaksanaan dan