BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI AKSELERASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN PAI

12  Download (0)

Teks penuh

(1)

A. Program Akselerasi di SMP Negeri 2 Semarang

Penyelenggaraan pendidikan secara klasikal-massal masih diberlakukan sampai saat sekarang, yakni memberikan perlakuan yang standar (rata-rata) kepada semua siswa, padahal setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda. Akibatnya, siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di bawah rata-rata, karena memiliki kecepatan belajar di bawah kecepatan belajar siswa lainnya, akan selalu tertinggal dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar; sebaliknya, siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata-rata, karena memiliki kecepatan belajar di atas kecepatan belajar siswa lainnya, akan merasa jenuh, sehingga sering berprestasi di bawah potensinya (under achiever).

Agar siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dapat berprestasi sesuai dengan potensinya, diperlukan pelayanan pendidikan yang berdiferensiasi, yaitu pemberian pengalaman pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuan dan kecerdasan siswa; dengan menggunakan kurikulum yang berdiversifikasi, yaitu kurikulum standar yang diimprovisasi alokasi waktunya sesuai dengan kecepatan belajar dan motivasi belajar siswa.

Pelayanan pendidikan yang berdiferensiasi dengan menggunakan kurikulum yang berdiversifikasi dapat diimplementasikan melalui penyelenggaraan sistem percepatan kelas (akselerasi). Dengan sistem percepatan kelas (akselerasi), siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa diberi peluang untuk dapat menyelesaikan studi di SD kurang dari 6 tahun (misalnya 5 tahun), di SLTP dan SMU masing-masing kurang dari 3 tahun (misalnya 2 tahun), dengan menyelesaikan semua target kurikulum tanpa meloncat kelas.

Penyelenggaraan sistem percepatan kelas (akselerasi) bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa merupakan salah satu strategi

(2)

alternatif yang relevan; di samping bertujuan untuk memberikan pelayanan pendidikan sesuai dengan potensi siswa, juga bertujuan untuk mengimbangi kekurangan yang terdapat pada strategi klasikal-massal.

Berkenaan dengan hal tersebut, dipandang perlu adanya sistem percepatan kelas bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. Untuk siswa SLTP dan SMU; bagi yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, diberi peluang untuk dapat menyelesaikan studinya kurang dari 3 tahun, misalnya 2 tahun, seperti yang sudah dilakukan oleh SLTP Negeri 2 Semarang.

Hal ini sejalan dengan amanat Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yang tertuang dalam Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1999, bahwa arah kebijakan pendidikan antara lain adalah melakukan pembaharuan sistem pendidikan termasuk pembaharuan kurikulum, berupa diversifikasi kurikulum untuk melayani keberagaman peserta didik. Selanjutnya, sejalan pula dengan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), yang menegaskan bahwa warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus {pasal 8 ayat (2)}; dan setiap peserta didik mempunyai hak menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan (pasal 24 butir 6). dan UU No.20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional, diantaranya tersirat bahwa salah satu hak peserta didik adalah mendapatkan pelayanan pendidikan khusus bagi yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa.

Upaya peningkatan mutu pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait satu sama lain. Faktor-faktor tersebut merupakan sistem dalam sitem pendidikan/persekolahan. Bila ingin mengembangkan sub-sistem tertentu, menuntut perubahan atau penyesuaian pada sub-sub-sistem yang lain.

Bila pendidikan bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam keluaran (output) pendidikannya, maka untuk mencapai keunggulan tersebut,

(3)

sedikitnya terdapat 8 faktor lainnya yang perlu diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut. Faktor-faktor itu meliputi: (1) masukan (input, intake), (2) kurikulum, (3) tenaga kependidikan, (4) sarana-prasarana, (5) dana, (6) manajemen, (7) lingkungan, dan (8) proses belajar-mengajar, yang dapat digambarkan secara diagramatis seperti di bawah ini.1

Gambar 1. Diagram Faktor Pendukung Program Akselerasi

Pertama, masukan (input, intake) siswa diseleksi secara ketat dengan menggunakan kriteria tertentu dan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Kriteria yang digunakan adalah: (a) prestasi belajar, dengan indikator: angka raport, Nilai Ebtanas Murni (NEM) dengan mean 8,0, dan hasil tes prestasi akademik, berada 2 standar deviasi (SD) di atas Mean populasi siswa; (b) skor psiko-tes, yang meliputi: inteligency quotient (IQ) minimal 125, kreativitas, tanggung jawab terhadap tugas (task qommitment), dan emotional quotient (EQ) berada 2 SD di atas Mean populasi siswa; (c)kesehatan jasmani, yang ditunjuk oleh pihak SMP Negeri 2 Semarang

Kedua, kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional yang standar, namun dilakukan improvisasi alokasi waktunya sesuai dengan tuntutan belajar peserta didik yang memiliki kecepatan belajar serta motivasi belajar lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan belajar dan motivasi

1

(4)

belajar siswa. Untuk menyelesaikan studi di SMP Negeri 2 Semarang, yang biasanya memakan waktu selama 3 tahun, terdiri atas 9 catur wulan, setiap tahun 3 catur wulan; dipercepat menjadi selama 2 tahun, setiap tahun terdiri atas 4,5 (empat setengah) catur wulan; atau tahun pertama 5 catur wulan dan tahun kedua 4 catur wulan.

Reguler Akselerasi Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Cw 1 Cw 2 Cw 3 Cw 4 Cw 5 Cw 6 Cw 7 Cw 8 Cw 9 Cw 1 Cw 2 Cw 3 Cw 4 Cw 5 Cw6 Cw 7 Cw 8 Cw 9

Ketiga, tenaga kependidikan. Karena siswanya memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, maka tenaga kependidikan yang menanganinya-pun terdiri atas tenaga kependidikan yang unggul, baik dari segi penguasaan materi pelajaran, penguasaan metode mengajar, maupun komitmen dalam melaksanakan tugas.

Keempat, sarana-prasarana yang menunjang, yang disesuaikan dengan kemampuan dan kecerdasan siswa, sehingga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan belajar serta menyalurkan kemampuan dan kecerdasannya, termasuk bakat dan minatnya, baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler.

Kelima, dana. Untuk menunjang tercapainya tujuan yang telah ditetapkan perlu adanya dukungan dana yang memadai, termasuk perlunya disediakan insentif tambahan bagi tenaga kependidikan yang terlibat, berupa uang maupun fasilitas lainnya.

Keenam, manajemen, bersangkut paut dengan strategi dan implementasi seluruh sumberdaya yang ada dalam sistem sekolah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, bentuk manajemen pada sekolah dengan sistem kelas percepatan, harus memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi, realistis, dan berorientasi jauh ke depan. Dengan

(5)

demikian, pengelolaannya didasari oleh komitmen, ketekunan, pemahaman yang sama, kebersamaan antara semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini.

Ketujuh, lingkungan belajar yang kondusif untuk berkembangnya potensi keunggulan menjadi keunggulan yang nyata, baik lingkungan dalam arti fisik maupun sosial-psikologis di sekolah, di masyarakat, dan di rumah.

Kedelapan, proses belajar-mengajar yang bermutu dan hasilnya selalu dapat dipertanggungjawabkan (accountable) kepada siswa, orang tua, lembaga, maupun masyarakat.

B. Tinjauan Filosofis

Penyelenggaraan sekolah unggul, termasuk di dalamnya sistem percepatan kelas (akselerasi) didasari filosofi yang berkenaan dengan: (1) hakikat manusia, (2) hakikat pembangunan nasional, (3) tujuan pendidikan, dan (4) usaha untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut (Depdikbud, 1994).

Pertama, manusia sebagai makluk Tuhan Yang Maha Esa telah dilengkapi dengan berbagai potensi dan kemampuan. Potensi itu pada dasarnya merupakan anugerah kepada manusia yang semestinya dimanfaatkan dan dikembangkan, tidak disia-siakan. Peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, sebagaimana anak pada umumnya, juga mempunyai kebutuhan pokok akan keberadaannya (eksistensinya).

Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw.,

ِﺓﺮﹾﻄِﻔﹾﻟﺍ ﻰﹶﻠﻋ ﺪﹶﻟﻮﻳ ﺎﱠﻟِﺇ ٍﺩﻮﹸﻟﻮﻣ ﻦِﻣ ﺎﻣ ﻢﱠﻠﺳﻭ ِﻪﻴﹶﻠﻋ ﻢﻬﱠﻠﻟﺍ ﻰﱠﻠﺻ ِﻪﱠﻠﻟﺍ ﹸﻝﻮﺳﺭ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﹶﺓﺮﻳﺮﻫ ﻲِﺑﹶﺃ ﻦﻋ

ِﻪِﻧﺍﺮﺼﻨﻳﻭ ِﻪِﻧﺍﺩﻮﻬﻳ ﻩﺍﻮﺑﹶﺄﹶﻓ

2

Artinya:

"Dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi SAW bersabda Tidak dari setiap anak kecuali dilahirkan atas dasar fitrah, maka Ibu Bapaknya yang mengyahudikan atau menasranikan ".

Apabila kebutuhan pokoknya tidak terpenuhi, mereka akan menderita kecemasan dan keragu-raguan. Jika potensi mereka tidak dimanfaatkan, mereka akan mengalami kesulitan walaupun potensial.

2

(6)

Di samping memiliki persamaan dalam sifat dan karakteristiknya, potensi tersebut memiliki tingkat dan jenis yang berbeda-beda. Pendidikan dan lingkungan sepatutnya berfungsi untuk mengembangkan potensi tersebut agar menjadi aktual dalam kehidupan, sehingga berguna bagi orang yang bersangkutan, masyarakat, dan bangsanya, serta menjadi bekal untuk menghambakan diri kepada Tuhan. Dengan demikian, usaha untuk mewujudkan anugerah potensi tersebut secara penuh merupakan konsekuensi dari amanah Tuhan.

Kedua, dalam pembangunan nasional, manusia merupakan sentral, yaitu sebagai subyek dan sekaligus obyek pembangunan. Untuk dapat memainkan perannya sebagai subyek, maka manusia Indonesia dikembangkan untuk menjadi manusia yang utuh, yang berkembang segenap dimensi potensinya secara wajar, sebagaimana mestinya.

Pelayanan pendidikan yang kurang memperhatikan potensi anak, bukan saja akan merugikan anak itu sendiri, melainkan akan membawa kerugian yang lebih besar bagi perkembangan pendidikan dan percepatan pembangunan di Indonesia (Utami Munandar, dalam Herry, 1991). Hal ini disebabkan karena negara akan kehilangan sejumlah tenaga terampil yang sangat bermanfaat dalam pencapaian tujuan pembangunan secara menyeluruh. Pendidikan nasional mengemban tugas dalam mengembangkan manusia Indonesia sehingga menjadi manusia yang utuh dan sekaligus merupakan sumberdaya pembangunan.

Ketiga, pendidikan nasional berusaha menciptakan keseimbangan antara pemerataan kesempatan dan keadilan. Pemerataan kesempatan berarti membuka kesempatan seluas-luasnya kepada semua peserta didik dari semua lapisan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tanpa dihambat perbedaan jenis kelamin, suku bangsa, dan agama. Akan tetapi, memberikan kesempatan yang sama (equal oppornity), pada akhirnya akan dibatasi oleh kondisi obyektif peserta didik, yaitu kapasitasnya untuk dikembangkan.

Untuk mencapai keunggulan dalam pendidikan, diperlukan intensi bukan hanya memberikan kesempatan yang sama, melainkan memberikan

(7)

perlakuan yang sesuai dengan kondisi obyektif peserta didik. Perlakuan pendidikan yang adil pada akhirnya adalah perlakuan yang didasarkan pada kemampuan dan kecerdasan peserta didik.

Sementara itu, dipandang dari segi demokrasi, sebenarnya setiap anak, apakah ia menonjol, biasa, atau kurang kemampuan dan kecerdasannya, harus diberi kesempatan sepenuhnya untuk mengembangkan dirinya sampai ke batas kemampuan dan kecerdasannya (Terman, 1979).

Dengan dmikian, justru peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa yang sampai sekarang selalu mendapat kesempatan yang sangat kurang untuk mengembangkan kemampuan dan kecerdasannya dengan sebaik-baiknya, karena mereka belum menerima pelayanan pendidikan yang sesuai dengan taraf kemampuan dan kecerdasannya yang menonjol itu (Andi Hakim Nasoetion, 1982). Di pihak lain, memperlakuan secara sama setiap peserta didik yang berbeda kemampuan dan kecerdasannya merupakan perlakuan yang tidak berkeadilan.

Keempat, dalam upaya mengembangkan kemampuan peserta didik, pendidikan berpegang kepada azas keseimbangan dan keselarasan, yaitu: keseimbangan antara kreativitas dan disiplin, keseimbangan antara persaingan (kompetitif) dan kerjasama (kooperatif), keseimbangan antara pengembangan kemampuan berpikir holistik dengan kemampuan berpikir atomistik, dan keseimbangan antara tuntutan dan prakarsa.

C. Tinjauan Psikologis

Ny Ning dilanda kebingungan. Ketika remaja lain bersuka ria diterima di Sekolah Menengah Atas (SMA), putrinya, Tasya, justru berkali-kali menangis ketakutan. Terpaksalah ibu muda itu bersama suaminya bekerja keras membujuk putri kesayangan mereka agar tetap bersemangat masuk sekolah barunya di bilangan Jakarta Timur. Bagi Tasya yang berusia baru dua belas tahun-umur umumnya anak lulus sekolah dasar (SD)-jenjang sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) itu bisa jadi seperti rimba menakutkan.

(8)

"Urusan memanggil teman-temannya nanti hanya dengan nama atau pakai embel-embel embak dan mas saja dia sudah bingung. Belum lagi kepikiran nanti ngobrol- nya nyambung atau enggak," kata ibu muda yang ditemui saat menunggui anaknya di sebuah sekolah swasta.

Intelegensi Tasya memang di atas 125. Kelebihan itu pula yang mengantarkan gadis kecil itu menjadi peserta kelas akselerasi. SD yang seharusnya dia tempuh enam tahun, dihemat hanya lima tahun. Sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) cukup dijalaninya dua tahun. Bahkan, Tasya masuk SD dalam usia muda, lima setengah tahun.

Ny Ning mengatakan, sulit bagi Taysa menemukan teman yang benar-benar sesuai. Sekarang putrinya itu tampak tidak berminat melanjutkan kembali program kelas akselerasi di sekolah barunya. Ny Ning juga tidak berniat memaksakan.

Pengalaman di kelas akselerasi memang belum tentu menyenangkan. Terlebih lagi jika perlakuan sekolah terhadap program akselerasi berbeda dari kelas umumnya.

Mandy, yang didorong orangtuanya ikut program kelas akselerasi di SMA Labschool Jakarta, misalnya, belajar dalam sebuah ruangan di salah satu pojok sekolah bersama 19-an murid lainnya. Koridornya terpisah dari kelas lain. Ruang yang berdekatan dengan kelas tersebut hanya perpustakaan dan mushala. Papan bertulisan "Kelas Aksel" menjadi petunjuk yang membedakan dari ruang belajar lainnya. Dengan kondisi itu, interaksi mereka dengan rekan di kelas lain menjadi lebih terbatas.

Mutiara, meskipun dengan mudah mengikuti pelajaran di kelas akselerasi SMA Negeri 8 Jakarta, juga mengaku tidak terlalu menikmati hal itu. Senin hingga Jumat dia belajar sekitar pukul tujuh pagi hingga pukul empat sore. Pada hari Sabtu, ketika pelajar lain libur dari kegiatan akademis dan menjalani aktivitas ekstrakurikuler, Mutiara dan 19 teman sekelasnya justru disibukkan dengan berbagai praktikum.

Dia sebenarnya enggan mengikuti akselerasi, apalagi pernah mencobanya saat di SLTP. Namun, kabar bahwa kelas akselerasi menjadi

(9)

incaran berbagai perguruan tinggi favorit dalam dan luar negeri, dan sarat tawaran beasiswa, membuat dia kembali ke kelas akselerasi.3

Ketika pemerintah merestui Program Kelas Khusus Akselerasi, yang selalu dikemukakan adalah pemenuhan hak asasi peserta didik sesuai dengan kebutuhan pendidikan bagi dirinya sendiri. Landasan filosofis lainnya, dalam pembangunan nasional, manusia merupakan sentral atau subyek pembangunan. Karena itu, manusia Indonesia harus dikembangkan menjadi manusia utuh secara wajar sebagaimana mestinya.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Kelas khusus akselerasi, meskipun memacu perkembangan kognitif, belum tentu menjadikan peserta didik sebagai manusia yang utuh.

Pengamat pendidikan sekaligus anggota dewan penasihat Centre for the Betterment of Education, Darmaningtyas, tidak sepenuhnya setuju dengan kelas khusus akselerasi. Baginya, kelas tersebut hanya mempercepat perkembangan kognitif peserta didik, tetapi tidak mempercepat sisi afektif dan psikomotorik.

"Pendidikan tidak dapat dimaknai sekadar penguasaan ilmu pengetahuan. Proses membangun relasi dengan sesama, misalnya, merupakan hal lain yang mendasar," katanya.

Kecenderungan memperbanyak kelas khusus akselerasi tersebut ibarat mesin yang terpengaruh budaya instan. Semua ingin serba cepat selesai dan tidak memedulikan proses. Padahal, pendidikan itu proses, sedangkan akselerasi lebih mengacu kepada produk.

Kelas yang dikhususkan akselerasi juga mempertajam kesenjangan sosial. Ketika anak-anak berbakat itu difasilitasi dan tumbuh dalam kelas tersendiri, mereka terbiasa menjalin hubungan dalam lingkungan kelas homogen. Padahal, tidak demikian kenyataannya di masyarakat. Peserta didik bisa jadi egois dan elitis.

3

(10)

"Kesempatan naik satu jenjang lebih cepat, lebih baik bagi peserta didik yang memiliki kecepatan belajar luar biasa karena lingkungan mereka tetap heterogen," katanya.

Lain lagi pendapat psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Lucia RM Royanto. Kesediaan mengikuti kelas khusus akselerasi harus disertai minat dan kesadaran akan segala konsekuensinya.

Sisi sosial emosional anak, seperti kematangan pribadi, antara lain ditentukan oleh usia dan lingkungan pergaulan. Setiap durasi jenjang pendidikan tidak terlepas dari perkembangan mental sesuai dengan usianya.

Masa SD, umpamanya, merupakan school age, yakni masa bermain dan belajar dasar. Di SLTP terjadi peralihan masuk ke masa remaja. Sementara di SLTA anak belajar untuk memasuki dunia orang dewasa.

Ketika seorang anak sebelum waktunya masuk ke jenjang tersebut, dia masuk ke lingkungan yang belum sesuai dengan tumbuh kembangnya. Karena itu, peserta akselerasi perlu mendapatkan dampingan konseling dan tergabung dalam berbagai kegiatan yang intrapersonal.

"Sulit diingkari adanya kebutuhan mengoptimalkan potensi anak berbakat. Guru sering mengeluh saat anak berbakat itu sudah menguasai pelajaran dan jadi bosan di kelas sehingga malah mengganggu rekan-rekannya," katanya.

Namun, kelas akselerasi bukan satu-satunya jawaban. Ada berbagai alternatif mengoptimalkan potensi anak berbakat. Contohnya, program pengayaan materi khusus di luar jam pelajaran sesuai dengan bakat anak. Tidak selalu bidang eksakta, bisa juga kesenian atau ilmu sosial.

Selain itu, dapat pula dengan program di saat hari libur sekolah, seperti magang atau belajar pada pakar atau ahli di bidang tertentu sesuai dengan minat dan bakat anak. Kegiatan demikian banyak dilakukan di negara maju, seperti Amerika Serikat.

Program lainnya adalah riset kepustakaan berupa pemberian tugas atau proyek yang menggiring anak menggali dari berbagai pustaka atau internet. Konsekuensinya, fasilitas pendukung harus memadai.

(11)

D. Dampak Program Akselerasi a) Dampak Positif

- Menghemat Waktu belajar karena kelas akselerasi lebih cepat 1 tahun dibandingkan dengan kelas reguler

- Menghemat biaya belajar.

- Dapat melahirkan generasi muda dan sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan dapat diandalkan

- Dapat memberikan motivasi bagi siswa yang bukan kelas akselerasi untuk belajar lebih giat.

- Dapat mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik

- Mengurangi tingkat kebosanan dalam belajar karena padatnya meteri yang diberikan

a) Dampak Negatif

- Seorang siswa yang pintar dalam segi akademis, belum tentu bisa bersikap dewasa dalam pola pikirnya sehingga akan sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan yang lebih dewasa daripada usianya sekarang.

- Lama kelamaan akan timbul kejenuhan karena padatnya materi yang diberikan

- Peluang untuk sosialisasi dengan teman sangat sedikit karena hari-harinya dipenuhi dengan belajar dan praktikum.

- Akan banyak pengalaman belajar yang hilang karena prosesnya yang serba cepat

- Kematangan emosi peserta didik, Misalnya saja hilangnya nilai-nilai kerjasama, tenggang rasa, dan kebersamaan. Padahal di masyarakat nanti mereka mutlak membutuhkan kecerdasan emosional agar berhasil, baru sisanya kepandaian.

- Kepintaran menyelesaikan soal-soal di sekolah tidak menjamin siswa juga pandai dalam hidup bermasyarakat, padahal pendidikan di sekolah merupakan bekal bagi masa depannya. Siswa yang mengikuti

(12)

program percepatan mungkin pandai secara edukatif tetapi tidak menjamin dewasa dalam kepribadian. Masa remaja tidak melulu diisi dengan pendidikan sekolah, tetapi harus dinikmati, di mana siswa dapat merasakan indahnya persahabatan, indahnya masa remaja, dan yang paling utama, dapat membentuk karakter diri sesuai dengan usia mereka. Yang penting bukan hanya otak atau penampilan, tetapi juga

behavior

- The Early Birds, yaitu seseorang yang matang sebelum waktunya.

E. Komparasi Bidang Studi Umum dengan PAI di Kelas Akselerasi

Dalam proses pembelajaran PAI masih menemui beberapa kendala yakni dalam hal kesadaran individu siswa dalam menjalankan beberapa materi Pendidikan agama Islam masih kurang karena pembelajaran dengan cara akselerasi hanya akan berjalan dengan baik pada beberapa materi yang bersifat sains atau eksact, tetapi kalau yang materi tersebut bersifat doktrin seperti yang terjadi pada mata pelajaran PAI maka akan mengalami kesulitan. Karena tujuan dari pembelajaran PAI bukan hanya mampu dalam materi tetapi juga mau untuk melaksanakan materi tersebut.

No Perbandingan Bidang Studi Umum Bidang Studi PAI 1. Materi Hanya bersifat faktual

sehingga sangat efektif untuk dilakukan percepatan dalam penyampaian materi

Ada beberapa materi yang bersifat doktrinal sehingga

2. Metode Konvensional Konvensional & Uswatun Hasanah 3. Kurikulum KBK KBK 4. Evaluasi Kuisioner Ulangan harian Ulangan semesteran Kuisioner Ulangan harian Ulangan semesteran Penilaian sikap

Figur

Gambar 1. Diagram Faktor Pendukung Program Akselerasi

Gambar 1.

Diagram Faktor Pendukung Program Akselerasi p.3

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di