• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG DI PT. WANA ADIPRIMA MANDIRI KECAMATAN MALINAU UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG DI PT. WANA ADIPRIMA MANDIRI KECAMATAN MALINAU UTARA"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG

DI PT. WANA ADIPRIMA MANDIRI KECAMATAN MALINAU UTARA

Oleh :

MASTURI 090500010

PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA S A M A R I N D A

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Dosen Pembimbing,

Ir. Sofyan Bulkis. MP

NIP. 19600321 198903 1 002

Dosen Penguji I,

Ir. Emi Malaysia, MP

NIP. 19650101 199203 2 002

Dosen Penguji II,

Dyah Widyasasi, S.Hut, MP NIP. 19710103 199703 2 001

Lulus ujian pada tanggal : Judul Laporan PKL

Nama NIM

Program Studi Jurusan

: HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) DI PT. WANA ADIPRIMA MANDIRI KECAMATAN MALINAU UTARA : MASTURI : 090500010 : Manajemen Hutan : Manajemen Pertanian Menyetujui/Mengesahkan

Ketua Program Studi Manajemen Hutan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Ir. M, Fadjeri, MP

(3)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas-tugas selama menjalankan Praktek Kerja Lapang ( PKL ) di PT. Wana Adiprima Mandiri Kecamatan Malinau Utara sehingga tersusunlah laporan ini.

Keberhasilan dan kesuksesan dalam pelaksaan kegiatan selama PKL ini juga tidak lepas dari peran serta dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan kali ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Keluarga yang telah memberikan dukungan dan doa kepada penulis selama melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan ( PKL).

2. PT. Wana Adiprima Mandiri dan seluruh staf dan karyawan.

3. Bapak Ir. Wartomo, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

4. Bapak Ir. Hasanudin, MP selaku Ketua Jurusan Manajemen Pertanian. 5. Bapak Ir.M. Fadjeri, MP selaku Ketua Program Studi Manajemen Hutan. 6. Bapak Ir. Sofyan Bulkis. MP selaku Pembimbing lapangan.

7. Ibu Ir. Emi Malaysia, MP dan Ibu Dyah Widyasasi. S.Hut, MP selaku Dosen Penguji.

Dalam menulis laporan ini saya menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.

Penulis

(4)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

I. PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan ... 2

C. Hasil yang Diharapkan ………... ... 2

II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN A. Tinjauan Umum Perusahaan ... 3

B. Manajemen Perusahaan ... 9

C. Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL ... 10

III. HASIL PERAKTEK KERJA LAPANG A. Perencanaan... 12

B. Penebangan... 16

C. Pengukuran... 18

D. Pembinaaan Masyarakat Hutan ... 20

E. Persemaian ... 22

F. Pengangkutan kayu ... 27

G. Grade kayu ... 29

H. Perakitan Kayu ... 31

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 34

B. Saran ... 34

DAFATAR PUSTAKA ... 36

LAMPIRAN ... 37

(5)

DAFTAR TABEL

Nomor Tubuh Utama Halaman

1. Letak dan Luas Areal Kerja IUPHHK PT. WAM ... 4

2. Jenis Penutupan Lahan ... 5

3. Kondisi Topografi Areal Kerja IUPHHK PT. WAM ... 6

4. Jenis Tanah di Areal Kerja IUPHHK PT. WAM ... 7

5. Hasil Perhitungan Indeks Keanekaragaman Jenis Tumbuhan di Areal PT. WAM ... 8

6. Jadwal Kegiatan dan Hasil Praktek Kerja Lapang ... 10

7. Jadwal kerja IUPHHK PT. WAM ... 12

(6)

DAFTAR TABEL

Nomor Tubuh Utama Halaman

1 Letak dan Luas Areal Kerja IUPHHK PT. WAM... 4 2 Jenis Penutup Lahan (Berdasarkan Citra Landsat,

Liputan Tahun 2009... 5 3 Kondisi Topografi areal kerja IUPHHK PT. WAM ... 6 4 Jenis Tanah Di Areal Kerja IUPHHK PT. WAM ... 7 5 Hasil Perhitungan Indeks Keanekaragaman Jenis

Tumbuhan di Areal PT. WAM ... 8 6 Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL... 10

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran Halaman

1 Struktur Organisasi Kantor Pusat ... 38

2 Struktur Organisasi Base Camp ... 39

3 Peta Rencana Kerja Tahunan ... 40

4 Peta Lokasi Persemaian ... 41

(8)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Lampiran Halaman

1 Tebang Matahari ... 42

2 Tebang Matahari ... 42

3 Skiding (Penarikan Log) ... 43

4 Skiding (Penarikan Log) ... 43

5 Pengupasan Log ... 44 6 Hasil Pengupasan ... 44 7 Pengukuran Log ... 45 8 Tpn ... ... 45 9 Pemahatan Log ... 46 10 Pengecatan Log ... 46

11 Persemaian Jenis shorea spp ... 47

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hutan di Indonesia merupakan salah satu sumber pemasukan devisa bagi bangsa dalam membangun perekonomian bagi negara, salah satu hasil hutan tersebut adalah kayu/log. Saat ini sumber daya alam diperkirakan semakin menurun, oleh sebab itu dibutuhkan pengelolaan hutan yang baik benar dan agar kelestarian hutan dapat terjaga untuk generasi berikutnya.

Pengelolaan hutan di Indonesia dilakukan oleh hak pengusahaan hutan (HPH). Setiap HPH baru akan mulai melaksanakan eksploitasi hutan setelah mendapatkan keputusan Dirjen Kehutanan Nomor 35/kpts/PP/1972 tentang TPTI. Adanya HPH didukung oleh adanya teknologi modern dapat memanfaatkan kayu dari bahan baku menjadi bahan jadi agar dapat memenuhi kebutuhan manusia khususnya dalam negeri dan juga menambah pemasukan bagi negara.

Pengelolaan hutan memerlukan sekali tenaga teknis kehutanan. Politeknik kehutanan memberikan pendidikan tentang kehutanan sehingga mahasiswa/i alumni nantinya mampu memenuhi akan kekurangan tersebut. Karena politeknik ini memberikan pendidikan dengan proporsi 30% teori dan 70% praktek, guna memenuhi proporsi tersebut salah satunya adalah Pelaksanaan Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL).

(10)

B. TUJUAN

Adapun Tujuan dari laporan Pelaksanaan Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini selama ± 3 bulan adalah sebagai berikut:

1. Membandingkan konsep teori yang diperoleh dalam kegiatan perkuliahan dengan melaksanakan / aplikasi lapangan

2. Agar dapat lebih memahami secara jelas tentang tahapan-tahapan dalam kegiatan kehutanan

3. Menambah wawasan mahasiswa/i agar mampu berpikir secara praktis mengenai kenyataan yang sesungguhnya di lapangan

C. HASIL YANG DIHARAPKAN

1. Mahasiswa/i dapat memiliki pemikiran yang luas dan memiliki pengalaman praktek kerja di luar kampus baik di lingkungan perusahaan maupun ditengah masyarakat.

2. Mampu menerapkan teori yang didapat selama di bangku perkuliahan dan menerapkannya di lapangan.

3. Mampu menganalisa setiap permasalahan yang muncul pada kegiatan kehutanan dan dapat memberikan solusinya.

(11)

BAB II

KEADAAN UMUM PERUSAHAAN A. Tinjauan Umum Perusahaan

1.

Administrasi Areal Kerja PT. Wana Adiprima Mandiri

Secara Administratif Pemerintahan, areal kerja IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri (WAM) terletak didua kecamatan yaitu Kecamatan Malinau Utara dan Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau Propinsi Kalimantan Timur. Sedangkan menurut Administrasi Kehutanan, areal tersebut termasuk ke dalam Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mentarang, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Malinau Propinsi Kalimantan Timur.

Berdasarkan Hasil pengukuran luas pada peta penafsiran citra landsat areal IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri Propinsi Kalimantan Timur, skala 1 : 100.000 yang disahkan oleh Badan Planologi Kehutanan Departemen Kehutanan pada tanggal 17 Januari 2007, areal tersebut terdiri atas areal berhutan seluas 22.504 Ha dan areal tak berhutan seluas 222 Ha, serta areal tutup awan seluas 10.364 Ha.

2.

Letak dan Luas

Areal PT. Wana Adiprima Mandiri secara geografis terletak pada 03º31´29" - 03º43´34" Lintang Utara dan 116º16´34" -116º30´46" Bujur Timur dengan ketinggian berkisar antara 150 - 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Jarak lokasi kegiatan dari ibu kota kecamatan ± 28 km. Lokasi kerja IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri berdasarkan kelompok hutan berada dalam Kelompok Hutan Sungai Sembuak, Sungai Gita dan Sungai Mentarang.

(12)

Batas areal kerja IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri berdasarkan peta lokasi adalah sebagai berikut :

? Sebelah Utara : Hutan Lindung G. Busaken

? Sebelah Timur : PT. Adindo Hutani Lestari

? Sebelah Selatan : Kawasan Budidaya Non Kehutanan (KBK)

? Sebelah Barat : Inhutani I

Luas areal berdasarkan Surat Keputusan Nomor SK 196/Menhut.II/2006 Tanggal 1Juni 2006 Seluas ± 33.090 Ha. Uraian letak arel kerja IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Letak dan Luas Areal Kerja IUPHHK PT. WAM

No Uraian Keterangan

1 Luas Areal Keseluruhan - 33.090 Ha 2

Batas Geografis - 03º31´29"- 03º43´34" LU - !16º16´34" - 116º30´46" BT

3

Batas Areal Kerja : - Sebelah Utara - Sebelah Timur - Sebelah Selatan - Sebelah Barat

- Hutan Lindung Gunung Busaken - Sungai Sembuak

- Kawasan Budidaya Non kehutanan (KBNK) - Inhutani I

4

Batas Administrasi Pemerintah

- Propinsi Kalimantan Timur - Kabupaten Malinau

- Kecamatan Malinau Utara dan Kecamatan Mentarang

5 Batas Administrasi Pemangkuan Hutan

- KPH Mentarang

- Dinas Kehutanan Kabupaten Malinau

- Provinsi Kalimantan Timur 6 Berdasarkan Pembagian

Daerah

- DAS Sesayap

- Sub DAS Sembuak, Sub DAS Mentarang dan Sub DAS Gita Sumber: RKUPHHK pada hutan alam PT. WAM, 2006

(13)

3.

Fungsi Kawasan Hutan dan Penutupan Lahan

Berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) areal IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri dengan luas ± 33.090 Ha berada pada kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) dengan jenis penutupan lahan berdasarkan Peta Citra Landsat Liputan tahun 2009 adalah berupa Hutan Primer (VF), Hutan Sekunder (LOA), Non Hutan (NH) dan tertutup Awan (TA). Adapun Luas dari masing-masing jenis penutup lahan tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Jenis Penutup Lahan (Berdasarkan Citra Landsat, Liputan Tahun 2009)

No Jenis Penutup Lahan Luas (Ha) Persentase (%)

1 Hutan Primer (HP) 10.535 31,8

2 Hutan Sekunder (HS) 20.327 61,4

3 Non Hutan (NH) 681 2,1

4 Tertutup Awan (TA) 1.547 4,7

Jumlah 33.090 100,0

Sumber : Hasil Penafsiran Citra Landsat Band 542 Path/Row 117/58 Liputan Tahun 2009.

4.

Keadaan Iklim dan Topografi a. Keadaan Iklim

Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson (1951), areal Unit Manajemen (UM) IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri tergolong dalam tipe iklim A dengan nilai Q<14,3% dengan ciri utama hujan merata sepanjang tahun tanpa periode musim yang kurang jelas. Suhu udara bulanan berkisar antara 26,3º C – 28,9º C dengan suhu rata-rata 26,7º C.

(14)

Sedangkan kelembapan udara berkisar antara 83% - 85% dengan kelembapan rata-rata 84%. Curah hujan tertinggi pada bulan Nopember sebesar 380 mm dan terendah pada bulan Januari sebesar 226 mm.

b. Topografi

Areal kerja IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri terdiri dari hutan tanah kering dengan konfigurasi lapangan bergelombang sampai berbukit dan terletak pada ketinggian 50 - 1.000 meter dpl. Kawasan areal IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri merupakan hutan

tanah kering dengan konfigurasi lapangan bergelombang sampai berbukit. Rincian luas areal berdasarkan luas kelas lereng pada areal dapat dilihat dalam Tabel 3 berikut ini :

Tabel 3. Kondisi Topografi areal kerja IUPHHK PT. WAM

No Topografi Bentuk Wilayah Kelas lereng Luas Ha % 1 Datar Datar Berombak 0-8 1.684 5,09 2 Landai Bergelombang 8-15 1.893 5,72

3 Agak Curam Agak berbukit 15-25 4.034 12,19

4 Curam Berbukit 25-40 25.479 77

Jumlah 33.090 100,00

(15)

5.

Geologi dan Tanah a. Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Malinau Kalimantan Timur skala 1 : 250.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung Tahun 1995, formasi geologi di arel kerja Unit Manajemen IUPHHK PT. WAM termasuk dalam formasi Mentarang yang menyusun Cekungan Tarakan dan merupakan batuan berumur kapur akhir dan sebagian kecil formasi Malinau. Formasi Mentarang termasuk pada neogene sedimentasi yang mana merupakan batuan lipatan yang mendapat tekanan amat besar.

b. Jenis Tanah

Berdasarkan Peta Land System skala 1 : 250.000 dari Repprot tahun 1987, areal kerja Unit Manajemen IUPHHK PT. WAM didominasi oleh kombinasi jenis tanah Kambisol Distrik dan sebagian kecil Podsolik Merah Kuning (apludult) dengan Podsolik Merah Kuning, Kambisoil Distrik dengan Oksisol Haplik.

Tabel 4. Jenis Tanah Di Areal Kerja IUPHHK PT. WAM No Land

form Bentuk Lahan Lereng Jenis Tanah

Luas

Ha %

1 Au15 Datar 0-8 Dystropepts Kambisol distrik 1,397 4.37 Tropaqueps Gleisol distrik

2 Vg4 Berbukit 25-40 Dystropepts Kambisol distrik 1,037 3.24 Hapluduls Podsolik m.k

3 Ty113 Bergelombang Dystropepts Kambisol distrik 13,086 40.89 4 Ty121 Berbukit kecil 15-25 Hapluduls Oksisol Haplik 2,728 8.53 5 Ty121 Berbukit 25-40 Dystropepts Kambisol distrik 5,503 13.79

Hapluduls Oksisol Haplik

6 Ty122 Berbukit 25-40 Hapluduls Podsolik m.k 9,339 29.18 Dystropepts Kambisol distrik

Jumlah 33.090 100,00

(16)

6.

Daerah Aliran Sungai

Areal kerja IUPHHK PT. WAM berdasarkan Administrasi Daerah Aliran Sungai (DAS) termasuk kedalam DAS Sesayap dan Sub DAS Sembuak, Sub DAS Mentarang dan Sub DAS Gita.

7.

Biologi Hutan a. Flora

Indeks keanekaragaman jenis vegetasi di areal UM untuk berbagai tingkat pertumbuhan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini : Tabel 5. Hasil Perhitungan Indeks Keanekaragaman Jenis Tumbuhan di

Areal PT. WAM No Tingkat Permudaan Hutan Primer Hutan Bekas Tebangan Keterangan 1 Semai 260 311 267 2 Pancang 265 335 287 3 Tiang 311 284 270 4 Pohon 303 287 279

Sumber : Dokumen ANDAL IUPHHK PT.WAM, tahun 2004

Disamping potensi hutan berupa kayu, di areal UM IUPHHK PT. WAM juga memiliki potensi hutan non kayu berupa rotan, getah, buah-buahan hutan dan tumbuhan obat-obatan. Jenis rotan yang tumbuh secara alami diperkirakan cukup banyak, namun demikian halnya beberapa jenis yang diketahui telah dipungut dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Sebaran vegetasi untuk jenis komersial didominasi oleh jenis Meranti Merah (Shorea spp.), Meranti Putih (Shorea spp.), Meranti

(17)

Kuning (Shorea spp.), Bengkirai (Shorea laevifolia Endert), Kapur (Dryobalanops spp.), Keruing (Dipterocarpus sp.), Agathis (Agathis bornensis Wrab ), Nyatoh (Palaquium spp.), Jelutung (Dyera spp.), dan Tengkawang (Shorea spp.).

b. Fauna

Keberadaan Jenis satwa liar yang banyak dijumpai di areal UM PT. WAM baik hasil pengamatan langsung (metode jelajah) maupun hasil wawancara dengan penduduk sekitar, diperoleh data komposisi jenis fauna yang terdiri dari jenis-jenis insekta atau serangga, reptile, aves (unggas), dan mamalia.

? Jenis Reptil : Biawak (Varanus Salvator), Kadal (Moubuya multifascian), Ular sawah (Phyton reticulates)

? Jenis Mamalia : Kera Ekor Panjang (Macaca fascikularis), Babi

Hutan (Sus vittatus), Trenggiling (Manis javanica), Tupai (Crodura Murina).

? Jenis Burung : Ayam hutan (Gallus farius), Elang (Accipter griciceps), Burung Hantu (Krito alba).

B. Manajemen Perusahaan

1. Pengorganisasian PT. Wana Adiprima Mandiri

Secara umum dapat disebutkan bahwa tugas organisasi IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri ini adalah mengelola hutan dengan sistem silvikultur TPTI. Sedangkan tujuan dari pengelolaan tersebut adalah memproduksi kayu pertukangan dari areal yang dikelola dengan sistem TPTI dalam rangka menunjang industri perkayuaan yang terkait secara lestari dan penyediaan kayu bulat di pasaran lokal.

(18)

2. Struktur Organisasi PT. Wana Adiprima Mandiri

Dari ketentuan pokok organisasi tersebut, selanjutnya disusun struktur organisasi pengusahaan hutan PT. Wana Adiprima Mandiri seperti yang disajikan pada Lampiran 2.

C. Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL

Kegiatan praktek kerja lapang (PKL) Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Program Studi Manajemen Hutan ini dilaksanakan selama ± 3 bulan sejak tanggal 7 Maret 2012 sampai dengan 23 Mei 2012. Tempat pelaksaan PKL adalah PT. Wana Adiprima Mandiri

Lokasi dan waktu kegiatan PKL ini dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini: Tabel 6. Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL

No Jenis Kegiatan Tanggal

Pelaksaan Lokasi Keterangan

1 a. Pemberian materi tentang PT. WAM b. Perkenalan lingkungan basecamp. 07-10 Maret 2012 Base Camp Kabiran Malinau Teori 2 Perencanaan 12-17 Maret 2012 Base Camp Kabiran Malinau Teori 3 a. Penebanga b. Pengukuran 20-22 Maret 2012 Camp Produksi Simulasi 4 PMDH ( pembinaan masyarakat sekitar hutan) a. Sosial Kemasyarakatan b. Pengambilan Data Penduduk 19 - 27 Maret 2012 camp persemaian Praktek Praktek Praktek 5 Persemaian a. Menghitung jumlah bibit b. Menyulam anakan c. Membersihkan Bedeng 1 - 14 April 2012 Desa sembuak warot dan tanjung lima luso Praktek Praktek 6 Pengangkutan 16 – 23 April 2012 Base Camp Produksi Observasi

(19)

Tabel 7. Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL ( Sambungan )

No Jenis Kegiatan Tanggal

Pelaksaan Lokasi Keterangan 7 Grade kayu/Log 25 April – 5

Mei 2012 Logpound Praktek 8 Perakitan 7 – 14 Mei

2012

Base Camp

Logpound Observasi 9 Menyusun Laporan dan

Mengumpul Laporan

16 – 23 Mei 2012

Base Camp

Kabiran -

Tabel 8

.

Data KK Desa Binaan PT. Wana Adiprima Mandiri

No Desa KK Penduduk Jumlah

Pria Wanita 1 Sembuak Warod 85 45 40 85 2 Tj. Lima / Luso 91 53 38 91

(20)

BAB III

HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG

A. Perencanaan

1. Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah agar pihak perusahaan dapat mengambil tindakan atau keputusan untuk kegiatan-kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan sehingga dapat ditargetkan berapa lama kegiatan tersebut dilaksanakan. Perusahaan juga dapat menentukan lokasi atau blog tebangan pada hutan alam yang sudah mendapatkan ijin usaha.

2. Dasar Teori

Rencana pengelolaan hutan jangka panjang atau dalam kegiatan pengusahaan hutan lebih dikenal dengan sebutan Rencana Karya Pengusahaan Hutan (RKPH) yang sekarang berubah menjadi Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (RKUPHHK), penyusunannya dimulai sejak penggarisan tujuan jangka panjang sampai dengan strategi-strategi yang lebih mapan bagi tercapainya tujuan jangka panjang tersebut.

3. Alat dan Bahan : a. Alat

1) Alat tulis menulis 2) Kalkulator b. Bahan

(21)

4. Prosedur Kerja

a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan Perencanaan.

b. Pengolahan Data.

? Data-data yang telah didapatkan merupakan contoh pengusahaan suatu kawasan hutan yang telah dibagi-bagi dalam bentuk masing-masing areal.

? Menghitung dan memilah-milah data menurut bagian masing-masing areal.

? Data yang sudah diperoleh kemudian dibuat dalam bentuk bagan. Di mana di dalam bagan ini dapat dilihat dengan jelas pembagian wilayah Luasan Kawasan Lindung, Areal tidak Efektif, Areal Efektif, Areal Efektir Produktif sampai dengan perhitungan Jatah Produksi Tahunan (JPT).

5. Hasil yang Dicapai

Hasil kegiatan perencanaan (mengerjakan contoh soal IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri) adalah dapat menyelesaikan soal-soal IUPHHK PT.Wana Adiprima Mandiri, 2 orang/6 hari.

Hasil penyelesaian contoh soal, yaitu IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri seluas 60.750 Ha yang terbagi ke dalam 2 fungsi kawasan, yaitu Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 30.000 Ha dan kawasan Hutan Produksi Tetap (HP) seluas 30.750 Ha.

Hutan Produksi Terbatas (HPT) terbagi dalam tiga penutupan lahan yaitu :

(22)

? Hutan Primer : 21.430 Ha

? Hutan Sekunder : 7.730 Ha

? Non Hutan : 840 Ha

Sedangkan Hutan Produksi Tetap (HP) terbagi ke dalam tiga penutupan lahan yaitu :

? Hutan Primer : 12.870 Ha

? Hutan Sekunder : 16.680 Ha

? Non Hutan : 1.200 Ha

Setelah dianalisis dengan menggunakan bagan alir areal efektif produktif maka diperoleh bahwa :

a. Luas Kawasan Lindung yang terdiri dari :

? Sempadan Sungai : 70 Ha

? KPPN : 200 Ha

? Buffer Zone : 550 Ha

? Kantong Satwa : 400 Ha

b. Areal Tidak Efektif yang terdiri dari :

? Sungai : 400 Ha ? Jalan : 138 Ha ? PUP : 60 Ha ? KB : 180 Ha ? Base Camp : 10 Ha ? TPK : 5 Ha

Dengan demikian maka diperoleh bahwa Areal Efektif Perusahaan IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri adalah seluas 58.502 Ha dan Luas Areal Efektir Produktif seluas 56.503 Ha.

(23)

Berdasarkan hasil analisis di atas maka dapat diketahui Etat Luas, Etat Volume dan Jatah Produksi Tebangan (JPT). Diketahui bahwa masa berlaku IUPHHK adalah selama 35 tahun (7 RKL) dengan potensi rata-rata 50 up adalah sebesar 65,50 m³/Ha .

Etat Luas =/ XDV$UHDO(IHNWLI3URGXNWLI 7DKXQ

= G +D

7DKXQ = 1.614,371 Ha/thn

Etat Volume = Etat Luas x Volume x Faktor Koreksi = 1.614,371 x 65,50 x0,64

= 67.674,43 m³/thn 6. Pembahasan

Berdasarkan data Luas Areal Non Hutan sebesar 1.999 Ha, yang telah ditetapkan sebagai kawasan Non Hutan , maka pihak perusahaan berkewajiban merehabilitasi (pengayaan) pada areal tersebut.

Data itu di peroleh dari Luas kawasan IUPHHK PT. Wana Adiprima Mandiri seluas 60.750 Ha, yang telah terbagi kedalam dua fungsi kawasan yaitu Hutan Produksi Terbatas ( HPT ) seluas 30.750 Ha. Sedangkan Hutan Produksi Tetap ( HP ) seluas 30.000 Ha.

Berdasarkan data etat luas dan etat volume maka pihak perusahaan hanya dapat melakukan kegiatan penebangan setiap tahunnya seluas 1.614,371 Ha dengan target produksi sebesar 67.674,43 m³/thn.

Kendala saat mengerjakan penyelesaian tugas ini adalah pada saat perhitungan pembagian areal areal kawasan tersebut, kurangnya ketelitian saat menghitung maka sering terjadi kesalahan penempatan jumlah dan waktu yang diperlukan juga sangat lama.

(24)

Kegiatan perencanaan ini sesuai dengan teori pada saat kuliah, meliputi perencanaan sebelum melakukan kegiatan produksi, pembagian areal menjadi bagian-bagian tertentu dan penghitungan etat kayu.

B. Penebangan 1. Penebangan

a. Tujuan.

Tujuan kegiatan penebangan adalah untuk mendapatkan hasil keuntungan perusahaan. Di mana keuntungan ini berupa kayu dengan jumlah yang cukup dan mutu dari kayu tersebut dapat memenuhi syarat/standar

b. Dasar Teori

Penebangan adalah kegiatan pengambilan kayu dari pohon-pohon dalam tegakan yang berdiameter sama dengan atau lebih besar dari diameter batas yang ditetapkan. Kegiatan penebangan pohon meliputi pekerjaan penentuan arah rebah, pelaksanaan penebangan, pembagian batang, penyaradan, pengupasan, dan pengangkutan kayu bulat dari tempat pengumpulan (TPn) ke tempat penimbunan kayu (TPK) (Anonim, 1993 ).

c. Alat dan Bahan 1. Alat :

a) Chain saw b) Parang c) Kikir

(25)

Bahan: a) Oli b) Bensin d. Prosedur Kerja

1) Membersihkan sekitar pohon yang akan ditebang

2) Menentukan arah dan taktik rebah dengan memperhatikan arah rebah pohon yang tepat dan takik rebah serendah mungkin sehingga tunggak pohon hampir rata dengan tanah.

3) Menebang pohon sesuai arah rebah e. Hasil yang Dicapai

Hasil kegiatan penebangan pohon yang berada dipinggir jalan dengan radius 25 meter dari kiri kanan (tebang matahari) adalah 8-10 pohon/ 2 orang/ hari

f. Pembahasan

Pada dasarnya keadaan tanah yang akan dijadikan jalan angkut memiliki kelembapan yang cukup tinggi, sehingga pada saat hujan badan jalan tidak dapat dilalui oleh kendaraan. Dengan demikian penebangan pohon dengan radius 25 meter dari kiri kanan jalan (tebang matahari) ini bertujuan untuk menambah intensitas cahaya matahari yang mengenai badan jalan agar cepat kering, sehingga mobilisasi dan produksi (pengangkutan kayu) berjalan lancar.

Selain itu adapun kendala yang dihadapi saat menebang adalah cuaca yang kurang baik seperti hujan karena kondisi tersebut sangat berbahaya jika sisensomen berada dilapangan apalagi pohon-pohon yang tiba-tiba tumbang karena angin yang sangat kencang bisa

(26)

membuat arah jatuh pohon tidak menentu dan sebaiknya jika saat ingin menebang perlu diperhatikan cuaca sebelumnya.

Perlunya membuat jalur keselamatan jalur penyelamatan dibuat untuk tempat penyelamatan dari rebahan pohon dan keluar dari Zona bahaya, penentuan zona bahaya adalah dalam radius 2 kali tinggi total pohon (sampai dengan tajuk), jalur penyelamatan dibuat berlawanan arah dengan arah rebah pohon

Kegiatan penebangan ini sesuai dengan teori pada saat kuliah, meliputi cara penebangan yang benar dan alat-alat penebangan yang mekanik.

2. Pengukuran a. Tujuan

Tujuan pengukuran dilakukan adalah untuk mengetahui target produksi sesuai dengan target sebelumnya dan dari pengukuran serta penyimpangan yang mungkin terjadi dapat di antisipasi.

b. Dasar Teori

Pengukuran adalah kegiatan suatu proses yang dilakukan dengan cara sistematis untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang baku

c. Alat dan Bahan 1) Alat

a) Meteran

b) Alat tulis menulis c) Tally sheet/buku ukur

(27)

2) Bahan a) Kayu Log d. Prosedur Kerja

1. mengukur diameter pangkal (DP) dan diameter ujung (DU) kayu/log. 2. Lingkaran dibagi dua yaitu jarak terpendek dan terpanjang atau

diameter kuadrat pada bagian pangkal dan bagian ujung.

3. Lalu hasilnya ditambah dan dirata-ratakan dengan cara dibagi dua. 4. Selanjutnya hasil rata-rata dari diameter pangkal dan diameter ujung

dikali 0,7854 atau ¼? dan dikali panjang (p) log dengan rumus sebagai berikut

Vol log (m3) = 0,25? x Ø2 x p 10.000 Keterangan :

P = Panjang e. Hasil yang Dicapai

Hasil kegiatan pengukuran adalah 10 batang (log)/2 orang/hari f. Pembahasan

Dalam kegiatan pengukuran ini dimaksudkan untuk mengetahui volume kayu/potensi kayu yang diproduksi agar tidak adanya penyimpangan yang mungkin terjadi.

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat penting terutama sebagai langkah awal untuk mengetahui potensi kayu sehingga mutu dari kayu yang ada didalam areal tersebut bisa diketahui dan keuntungan dari kayu tersebut bisa ditaksir.

(28)

Kegiatan pengukuran kayu ini sesuai dengan teori pada saat kuliah, meliputi penghitungan diameter kayu dan cara penghitungan kayu log yang benar.

C. Kegiatan Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH). 1. Tujuan

Tujuan dilakukannya pendataan terhadap penduduk di areal atau desa binaan PT. Wana Adiprima Mandiri ini adalah untuk mengetahui perkembangan jumlah jiwa dan jumlah KK (kepala keluarga) terbaru (tahun 2012). Di mana data ini diperlukan guna mengetahui kebenaran data yang dilaporkan oleh pengurus desa sehubungan dengan kegiatan akhir tahun yaitu pembagian kompensasi fee kayu. Selain itu data ini diperlukan untuk mengetahui taraf kehidupan dan tingkat kependidikan serta tanggapan dan persepsi masyarakat tentang keberadaan HPH PT. Wana Adiprima Mandiri.

2. Dasar Teori

Pembinaan masyarakat desa hutan (PMDH) adalah upaya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada di dalam dan sekitar areal pengusahaan hutan dan kegiatan pendataan penduduk di areal atau desa binaan PT. Wana Adiprima Mandiri ini adalah untuk mengetahui perkembangan jumlah jiwa dan jumlah KK terbaru tahun 2012. (Anonim, 2008).

3. Alat dan Bahan :

a. Alat tulis dan menulis b. Kalkulator

(29)

4. Prosedur Kerja:

a. Orientasi lapangan/menentukan lokasi yang akan dikunjungi b. Menyiapkan alat dan bahan

c. Pelaksanaan kegiatan (pengambilan data lapangan) sosialisasi yang sekaligus perkenalan dengan kepala desa beserta aparat desa lainnya dalam rangka pelaksanan kegiatan pendataan kependudukan, seperti jumlah kepala keluarga, jumlah jiwa, dan pendidikannya. d. Pengelolaan data. Data-data yang telah didapatkan kemudian disusun

dalam bentuk tabulasi dan kemudian direkap. 5. Hasil yang Dicapai

Hasil yang dicapai adalah dapat mendata sebanyak 191 KK/2 orang/7 hari

6. Pembahasan

Kegiatan pemberdayaan masyarakat desa hutan (PMDH) ini guna untuk bahan evaluasi tentang perkembangan/penambahan jumlah penduduk dan pengetahuan penduduk tentang keberadaan HPH/ IUPHHK PT.Wana Adiprima Mandiri.

Kegiatan ini sangat urgen terutama untuk membangun korelasi yang baik dengan masyarakat sekitar perusahaan dan dengan korelasi yang baik akan semakin menambah citra yang baik bagi perusahaan.

Kegiatan PMDH ini sesuai dengan teori pada saat kuliah, meliputi perhutanan sosial dan hubungan yang erat antara masyarakat dengan hutan.

(30)

D. Persemaian

1. Menghitung Jumlah Bibit a. Tujuan

Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui dan menghitung jumlah bibit yang ada di persemaian. Bibit yang dihitung adalah bibit yang hidup bibit yang mati.

b. Dasar Teori

Kegiatan penghitungan jumlah bibit adalah untuk mengetahui dan menghitung jumlah bibit yang hidup dan yang mati. Kegiatan ini dilakukan sebelum bibit dimutasikan ke lapangan, maksudnya yaitu mengelompokan bibit yang baik dari bibit yang kurang baik pertumbuhannya, bibit yang baik merupakan prioritas pertama yang bisa dimutasikan ke lapangan untuk ditanam sedangkan bibit yang kurang baik pertumbuhannya dilakukan pemeliharaan yang intensip guna memacu pertumbuhan bibit sehingga diharapkan pada saat waktu tanam tiba kondisi bibit mempunyai kualitas yang merata. c. Alat dan Bahan

Alat: 1. Alat tulis 2. Kalkulator Bahan:

(31)

d. Prosedur Kerja

1. Membersihkan areal sekitar bedeng

2. Memisahkan polybag yang berisi anakan yang hidup dengan polybag yang berisi anakan yang mati.

3. Menghitung jumlah tanaman yang hidup dan menghitung jumlah tanaman yang mati.

e. Hasil yang Dicapai

Hasil kegiatan penghitungan jumlah bibit adalah jumlah bibit yang hidup sebanyak 13.256 dan jumlah bibit yang mati sebanyak 644 yang dikerjakan sebanyakan 5 orang/7 hari.

f. Pembahasan

Dalam kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui pertumbuhan semai dalam keadaan cabutan dari lokasi hutan ke Persemaian. Sehingga dapat diketahui kendala-kendala yang dialami dalam penyediaan sumber bibit untuk penanaman pada lahan bekas tebangan.

Kegiatan ini sangat penting terutama sebagai langkah awal untuk mendapatkan bibit yang berkualitas dan jika ada bibit yang mempunyai kualitas yang tidak bagus bisa dilakukan perawatan yang intensip guna memacu pertumbuhan bibit sehingga diharapkan pada saat waktu tanam tiba kondisi bibit mempunyai kualitas yang merata.

Kegiatan ini telah sesuai dengan teori di kampus meliputi, bibit yang berkualitas dan penyeleksian bibit yang baik atau tidak.

(32)

2. Menyulam Anakan a. Tujuan

Tujuan dilakukan penyulaman ,adalah penanaman kembali bibit untuk menggantikan bibit yang sudah mati, sehingga jumlah bibit yang ada sesuai dengan jumlah bibit yang perlukan.

b. Dasar teori

Penyulaman adalah kegiatan pemeliharaan tanaman untuk meningkatkan persen jadi tanaman pokok, dengan cara menanami kembali/mengganti tanaman yang mati/terserang penyakit. (Sutisna, 1998).

c. Alat dan Bahan Alat:

1). Parang 2). Sapu Bahan:

1) Anakan (cabutan) jenis Meranti (Shorea,spp), Kapur (Dryobalanops spp), Keruing (Dipterocarpusspp), Bengkirai (Shorea leavifolia). 2) Polybag

3) Tanah 4) Air

d. Prosedur Kerja

1) Membersihkan areal sekitar tempat penyimpanan polybag yang berisi anakan atau semai yang sudah berumur ± 3-5 bulan.

(33)

2) Melakukan pemeriksaan tanaman, dengan menyensus tanaman yang mati / terserang hama dan penyakit/ merana, serta diberi tanda pada lobang tanaman tersebut.

3) Memilih bibit untuk sulaman yang berukuran tinggi lebih kurang sama dengan tanaman tanaman yang telah tumbuh.

4) Melaksanakan penyulaman e. Hasil yang Dicapai

Hasil kegiatan penyulaman sebanyak 100 bibit/2 orang/hari. f. Pembahasan

Kegiatan penyulaman bibit yang ada di persemaian bermaksud agar jumlah bibit yang diperlukan untuk penanaman jumlah bibit cukup selain itu agar bibit untuk penanaman tersebut mempunyai ukuran yang lebih kurang seragam, sehingga diharapkan dapat menjamin keberhasilan penanaman di lapangan.

Kegiatan penyulaman tanaman dipelajari dalam perkuliahan dan kegiatan yang dilakukan di perusahaan sesuai dengan teori yang diperoleh.

Kendala yang dihadapi selama kegiatan penyulaman adalah banyaknya semak yang tingginya sama dengan anakan membuat anakan tidak nampak, banyak pacat juga menghalangi pekerja untuk bekerja dengan lancar.

3. Membersihkan Bedeng a. Tujuan

Pembersihan bedeng berguna untuk menjauhkan anakan bibit tersebut dari gangguan hama/penyakit tanaman.

(34)

b. Dasar Teori

Pembersihan bedeng adalah suatu kegiatan pembersihan pada areal sekitar bedeng seperti membuang rumput, ranting dan daun di sekitar bedeng.

c. Alat dan Bahan Alat:

a). Parang b). Sapu Bahan:

a). Anakan (cabutan) b). Bedeng

d. Prosedur kerja

1. Membersihkan rumput ranting dan daun di sekitar bedeng.

2. Merapikan polybag yang tercecer susunannya, dan mengumpulkan ranting-ranting yang berserakan di atas semai.

e. Hasil yang Dicapai

Hasil kegiatan pembersihan bedeng adalah 4 bedeng/2 orang/hari

f. Pembahasan

Pembersihan bedeng ini merupakan salah satu kegiaqtan pemeliharaan tanaman agar tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik dan sehat terhindar dari hama penyakit.

Kegiatan pembersihan bedeng ini dipelajari dalam perkuliahan dan kegiatan yang dilakukan di perusahaan sesuai dengan teori yang diperoleh.

(35)

Kendala yang dihadapi selama kegiatan pembersihan bedeng ini adalah kurangnya alat-alat yang diperlukan seperti parang dan sapu. sehingga menghalangi pekerja untuk bekerja dengan lancar.

E. Pengangkutan Kayu 1. Tujuan

Pengangkutan kayu berguna untuk mengantarkan kayu ke tempat tujuan pada waktu yang tepat secara kontinyu. Pengangkutan kayu melewati jalan darat di hutan tanaman biasanya dilakukan dengan menggunakan truk angkut.

2. Dasar Teori

Pengangkutan kayu merupakan kegiatan pemindahan kayu dari tempat pengumpulan sementara di tepi hutan ke tempat pengolahan atau tempat pemasaran melalui jalan yang telah dipersiapkan secara optimal. Pengangkutan kayu bertujuan agar kayu dapat sampai di tempat tujuan pada waktu yang tepat secara kontinyu dengan biaya minimal Anonim, 2008).

3. Alat dan Bahan Alat: a. Alat tulis b. Kamera c. Longging truck d. Loader Bahan: a. Kayu/ Log

(36)

4. Prosedur Kerja

a. Pengangkutan dikerjakan dengan alat logging truck

b. Memuatkans log ke logging truck menggunakan alat loadder, hal ini dilakukan setelah logging siap di tempat.

c. Mencatat kubikasi log pada saat pemuatan log ke logging truck untuk laporan pengurangan TPn atau penambahan TPK.

5. Hasil yang Dicapai

Hasil pengangkutan adalah 12 kubik/logging truck/sekali angkut. 6. Pembahasan

Pada dasarnya kegiatan ini dilakukan untuk mempermudahkan pemindahan kayu dari TPn ke TPK agar log tersebut dapat di pasarkan kepada pembeli.

Dalam pengangkutan yang perlu diperhatikan adalah keamanan kayu di atas logging di mana sebaiknya kayu jangan terlalu panjang atau melewati ukuran yang ditentukan dan sesuai dengan kapasitas alat angkut tersebut.

Kendala yang sering terjadi dalam kegiatan pengangkutan ini adalah jalan yang berlumpur dan berdebu sehingga tidak dapat melihat dan melintasi jalan tersebut dan kurangnya alat komunikasi untuk mempermudahkan kegiatan.

Pada saat mengangkut log perlu memperhatikan rambu-rambu yang dipasang sepanjang jalan, gunakan alat komunikasi/handy talkie untuk menghindari tabrakan dengan unit lain yang melintas. Hindari pengangkutan logs jika terjadi hujan/gerimis atau tanah masih basah agar jalan angkutan tidak rusak. Setelah sampai di TPK/logyard, logging truck

(37)

sebaiknya diparkir dekat pengupasan dan kemudian driver logging menyerahkan bon trip kepada petugas TUK yang berada dilogyard.

Sebelum tim pengangukatan Masuk ke TPn untuk pemuatan log, maka terlebih dahulu Ka. Seksi hauling terlebih dahulu melakukan inspeksi terhadap kondisi jalan angkutan, untuk menentukan dapat atau tidaknya dilakukan kegiatan pengangkutan/hauling.

F. Grade Kayu. 1. Tujuan

Tujuan dilakukan grade kayu/log adalah pendataan serta pemilihan kembali kayu/log yang akan dibeli oleh pembeli (buyer). Pada saat grade kayu/log hal-hal yang harus diperhatikan adalah cacat-cacat yang terdapat pada log. Di mana cacat-cacat ini mempengaruhi nilai jual beli log.

Cacat yang dimaksud disini adalah cacat growong, cacat bontos, cacat buku dan pecah kayu, sehingga pembeli (buyer) dapat melakukan tawar menawar untuk pengurangan harga akibat cacat tersebut.

2. Dasar Teori

Grade kayu/Log adalah kegiatan penyortiran kayu oleh buyer (pembeli). dimana kegiatan ini meliputi pemilihan kayu/log yang baik yang memenuhi kriteria log/kayu yang baik. kriteria-kriteria tersebut adalah gubal busuk, gubal dalam, cacat bontos, growong dan pecah pada log. Cacat ini mengurangi nilai jual perusahaan. buyer akan memutuskan untuk mengambil/membeli kayu/log tersebut jika cacat yang terdapat pada log sedikit. Semua kegiatan ini terdapat dalam grade kayu.

(38)

3. Alat dan bahan Alat:

a) Alat tulis menulis b) Kampak kecil c) Meteran Bahan: a) Kayu/ Log 4. Prosedur kerja

a) Menyiapkan alat dan bahan dalam mengrade kayu b) Survei lokasi

c) Pengecekan kayu di TPK 5. Hasil yang Dicapai

Setelah melakukan 10 hari kerja dengan tenaga kerja sebanyak 5 orang, kegiatannya adalah melihat dan menghitung jumah kayu grade yang berada di TPK dengan hasil yang dicapai 600 batang/10 hari. jadi rata-rata perhari, hasil kegiatan grade kayu adalah 60 batang.

6. Pembahasan

Pada dasarnya kegiatan ini dilakukan untuk proses penjualan kayu kepada buyer dengan cara mengecek/mensortir kayu yang cacat sebelum menaikkan ke ponton/tongkang, kayu yang disortir/dilihat adalah batang pangkal tengah dan ujung kayu, nomor produksi, nomor grade dan kayu cacat.

Pada pencatat grade kayu yang berada di logpond diketahui bahwa cacat kayu yang dijumpai adalah gubal dalam, pecah kayu dan mata

(39)

buaya. Jumlah cacat kayu yang paling banyak dijumpai adalah gubal dalam disusul kemudian dengan pecah kayu dan mata buaya.

Kendala yang dihadapi selama kegiatan grade kayu adalah nomor batang dan nomor produksi yang tersembunyi ataupun tertutup dengan lumpur karena batang kayu (log) telah berada dilogpond beberapa bulan sebelumnya, selain itu cuaca yang kurang baik juga dapat menghalangi kegiatan tersebut, seperti hujan salah satunya.

Sebaiknya kayu yang telah digrade disusun dengan rapi agar nomor produksinya tidak hilang dan kayu log tidak rusak/pecah karena posisi penempatan kayu tidak tersusun rapi.

G. Perakitan kayu 1. Tujuan

Mengeluarkan kayu dari TPK II antara ke TPK III dan Sebagai prasarana dalam pengangkutan kayu.

2. Dasar Teori

Perakitan kayu adalah satu cara pengangkutan kayu yang paling murah serta salah satu cara pengangkutan kayu yang paling tua untuk membawa log ke TPK III Rakit dibuat/disusun oleh satu regu terdiri dari 3 orang, sebagian mengumpulkan menata kayu yang lain mengikatnya. Kayu yang tercecer dikumpulkan dengan menggunakan tongkat atau dibantu oleh logboat yang berkekuatan mesin 40 PK.

3. Alat dan Bahan Alat :

- Parang - hammer/palu

(40)

- Mesin Tempel - Tali Bahan : - Paku U - Seling - Kayu / Log 4. Prosedur Kerja

a. Menyiapkan tali atau seling b. Mengumpulkan log di sungai

c. Mengikat log dengan cara dipaku sejajar dengan kayu yang lain d. Menyambung dari rakit ke rakit

e. Menarik rakit dengan longboat menuju TPK 5. Hasil yang Dicapai

Hasil kegiatan Perakitan adalah 64 batang (log)/4 orang/hari. 6. Pembahasan

Perakitan merupakan kegiatan mengangkut kayu dari TPn ke TPK dengan cara merakit kayu dengan tali dan sleng. Sistem perakitan ini digunakan karena di hutan sungai adiu tidak bisa menggunakan alat angkutan seperti loging yang biasa digunakan di hutan.

Kegiatan perakitan pada perusahaan ini biasanya dilakukan oleh 3 orang, di mana tidak ada pembagian kerja yang nyata baik memaku log dan mengikat log, tetapi hal ini tidak menjadi masalah bagi para perakit. Permasalannya adalah alat berat melakukan kapasitas pekerjaan yang tidak seimbang dengan para perakit.

(41)

Karena alat berat tersebut banyak kegiatan yang dikerjakan yaitu membuat kanal ranting, menurunkan kayu log sehingga tidak sinkron dengan tenaga kerja yang terlalu lama menunggu kayu yang turun di sungai untuk dirakit.

Kendala saat melalukan perakitan adalah kayu/log yang

diameternya besar adalah faktor alam terutama ketika melewati sungai. Arus air yang deras dari sungai bisa menganggu perakitan terutama tali selingnya yang bisa terlepas namun untuk kendala ini tidak ada solusinya untuk sekarang tapi kedepannya diharapkan kendala ini bisa teratasi dengan adanya alat-alat baru.

(42)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Dasar teori tidak sepenuhnya dapat diaplikasikan di lapangan mengingat efesiensi kerja yang selalu dituntut dalam menyelesaikan pekerjaan. 2. Perencanaan dalam suatu kegiatan sangat menunjang tingkat

keberhasilan maupun kegagalan suatu kegiatan. Oleh karena itu perlunya ketelitian yang baik sehingga kegiatan apapun yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai hasil yang maksimal.

3. Kegiatan (penebangan, grade kayu, perakitan) seharusnya lebih diperhatikan tentang keselamatan kerja, kurangnya alat-alat yang diperlukan membuat kegiatan tersebut tidak berjalan dengan lancar. Oleh karena itu perlunya ketelitian yang baik dari perusahaan sehingga kegiatan apapun yang dilakukan dilapangan dapat berjalan dengan baik dan hasil yang dicapai dapat maksimal.

4. Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) diterapkan guna untuk bahan pemantauan dan evaluasi manfaat HPH bagi masyarakat yang berada disekitar kawasan PT. Wana Adiprima Mandiri.

B. Saran

1. Standar Operasional Prosedur (SOP) kegiatan penebangan seharusnya benar-benar diterapkan/diaplikasikan di lapangan demi menjaga keselamatan Pekerja.

2.

Setelah melaksanakan kegiatan Tebang Matahari sebaiknya sisa

(43)

dibersihkan/dibuang atau dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan, sehingga tidak mengganggu dalam proses pengangkutan kayu produksi dan mempercepat keringnya badan jalan angkutan.

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1993. Pedoman dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan System Tebang Pilih Tanam Indonesia Direktoral Jendral Pengusahaan Hutan. Jakarta Anonim, 2002. Buku Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu

Pada Hutan Alam Periode Tahun 2002 s/d 2021 PT. Wana Adiprima Mandiri Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Timur.

Anonim, 2008. Buku Standar Operasional Prosedur (SOP) PT. Wana Adiprima Mandiri Kabupaten Malinau Propinsi Kalimantan Timur.

Anonim,2012 http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-dan-pengertian.

(45)

Lampiran 1.

Data KK Desa Binaan PT. WAM

No Desa KK Penduduk Jumlah

Pria Wanita

1 Sembuak Warod 95 55 40 95 2 Tj. Lima / Luso 96 56 40 96

(46)

Lampiran 2.

Sarana dan Prasarana / Tenaga Medis Desa Binaan PT. WAM

No

Sarana / Prasarana

Keterangan

1

Perawat

5

2

Bidan

2

3

Dukun bayi

5

4

Puskesmas pembantu

2

(47)

LAMPIRAN 3. DOKUMENTASI KEGIATAN PKL DI PT. WAM

Gambar: 1. Tebang Matahari

(48)

Gambar : 3. Skiding ( penarikan Log)

(49)

Gambar : 5. Pengupasan Log

(50)

Gambar : 7. Pengukuran Log

(51)

Gambar : 9. Pemahatan Log

(52)

Gambar : 11. Persemaian Jenis shorea Spp

Gambar

Tabel  1.  Letak dan Luas Areal Kerja IUPHHK PT. WAM
Tabel  2.  Jenis Penutup Lahan (Berdasarkan Citra Landsat, Liputan  Tahun 2009)
Tabel  3.   Kondisi Topografi areal kerja IUPHHK PT. WAM  No  Topografi   Bentuk  Wilayah  Kelas  lereng  Luas  Ha  %  1  Datar  Datar  Berombak   0-8  1.684  5,09  2  Landai  Bergelombang  8-15  1.893  5,72
Tabel  4.   Jenis Tanah Di Areal Kerja IUPHHK PT. WAM
+5

Referensi

Dokumen terkait

Di perusahaan Niagamas pemancangan titik tanam dilakukan oleh pekerja tetap, kegiatan pemancangan titik jarak tanam adalah kegiatan untuk menentukan titik tanam yang menggunakan

Pembinaan Masyarakat Desa Hutan atau PMDH, kegiatan ini dilaksanakan di desa yang berada di sekitar lokasi HPH PT.Inhutani II Sub Unit Malinau. Kegiatan ini bertujuan untuk

Pengayaan adalah kegiatan penanaman pada areal bekas tebang yang kurang cukup mengandung permudaan jenis niagawi, dengan tujuan untuk memperbaiki komposisi jenis, penyebaran pohon

Disamping pemanfaatan hutan produksi alam yang masih produktif, kegiatan pengusahaan hutan ini juga diarahkan untuk mendapat merehabilisasi areal hutan yang tidak produktif dengan

Tujuan dari kegiatan veneer preparation adalah untuk menghemat bahan baku dengan cara menyambung finir yang terbuang dan menyusun finir menjadi plywood agar memudahkan

Untuk memperoleh benih atau bibit yang mempunyai kualitas baik dalam jumlah yang memadai sesuai dengan keperluan penanaman dan dalam tata waktu yang tepat serta jenis

Menurut Nasution (1986) pada umumnya gulma yang tumbuh dalam polybag sangat mengganggu pertumbuhan bibit karena gulma mudah melakukan regenerasi sehingga unggul dalam

Tujuan dari seleksi Penyemaian adalah untuk memilih bibit yang normal untuk menghindari terangkutnya bibit yang abnormal ketahap pembibitan selanjutnya. Apabila dijumpai