ATURAN DISIPLIN INTERNAL PERAWAT
ATURAN DISIPLIN INTERNAL PERAWAT
RSU MAYJEN H.A THALIB
RSU MAYJEN H.A THALIB KABUPATEN KERINCI
KABUPATEN KERINCI
1.
1. DEFINISIDEFINISI
Disiplin Internal Perawat adalah kesanggupan Perawat untuk mentaati dan menghindari Disiplin Internal Perawat adalah kesanggupan Perawat untuk mentaati dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dan/atau peraturan kedinasan larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dan/atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin.
yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin.
2.
2. DASAR HUKUMDASAR HUKUM
a.
a. Pasal 27 ayat 2 dan pasal 28 B ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945;Pasal 27 ayat 2 dan pasal 28 B ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945; b.
b. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 Tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 Tentang perubahan atas Undang-Undang NomorUndang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang pokok-pokok kepegawaian;
8 Tahun 1974 Tentang pokok-pokok kepegawaian; c.
c. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang perubahan kedua atas Undang-UndangUndang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang perubahan kedua atas Undang-Undang 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah;
32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah; d.
d. Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009;Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009; e.
e. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2013 Tentang Ketenagakerjaan;Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2013 Tentang Ketenagakerjaan; f.
f. Undang-Undang Keperawatan Nomor 38 Tahun Undang-Undang Keperawatan Nomor 38 Tahun 20142014 g.
g. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil;Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil; h.
h. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 41/PMK.01/2011 Tentang Penegakan Disiplin Peraturan Menteri Keuangan Nomor 41/PMK.01/2011 Tentang Penegakan Disiplin dalamdalam Kaitannya Pemberian Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara kepada Pegawai Kaitannya Pemberian Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara kepada Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan
Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Keuangan;Kementerian Keuangan; i.
i. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10 Tahun 2015 Tentang Standar PelayananPeraturan Menteri Kesehatan Nomor 10 Tahun 2015 Tentang Standar Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit Khusus;
Keperawatan di Rumah Sakit Khusus; j.
j. Peraturan Bersama 3 Menteri (Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak,Peraturan Bersama 3 Menteri (Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, Menteri Tenaga Kerja serta Menteri Kesehatan) Nomor 48/MEN.PP/XII/2008, Menteri Tenaga Kerja serta Menteri Kesehatan) Nomor 48/MEN.PP/XII/2008, PER.27/MEN/XII/2008 dan 1177/MENKES/PB/XII/2008 Tentang Pemberian Air Susu PER.27/MEN/XII/2008 dan 1177/MENKES/PB/XII/2008 Tentang Pemberian Air Susu Ibu selama Waktu Kerja di Tempat Kerja;
Ibu selama Waktu Kerja di Tempat Kerja;
BAB I BAB I
PERATURAN TATA KERJA PERAWAT PERATURAN TATA KERJA PERAWAT
Pasal 1 Pasal 1
HARI KERJA DAN WAKTU KERJA HARI KERJA DAN WAKTU KERJA
1.
1. Hari kerja perawat di Lingkungan RSU Mayjen H.A Thalib Kabupaten Kerinci tergantungHari kerja perawat di Lingkungan RSU Mayjen H.A Thalib Kabupaten Kerinci tergantung posisi/tempat perawat bertugas, ditetapkan
Sabtu dengan jumlah jam kerja efektif 37,5 jam per minggu untuk melaksanakan tugas pokok di luar istirahat.
2. Hari kerja perawat pelaksana di Lingkungan RSU Mayjen H.A Thalib Kabupaten Kerinci ditetapkan shift yaitu mulai hari Senin sampai dengan Minggu dengan rata-rata jumlah jam kerja efektif selama 6,5 jam per hari untuk melaksanakan tugas pokok di luar istirahat. 3. Perhitungan jam kerja setiap bulan disesuaikan dengan hari libur pada bulan tersebut.
4. Setiap kelebihan dari jam kerja sesuai dengan ketentuan ayat 2 (dua) pasal ini, dihitung dan diganti dihari lain.
5. Jadwal dinas disusun oleh Kepala Ruangan dengan mempertimbangkan kemampuan dan masukan staf perawat.
6. Jika perawat berhalangan hadir dengan alasan izin (berbagai alasan ), perawat yang bersangkutan harus mencari pengganti tugas dengan izin atasan dan mengisi blanko penggantian dinas.
7. Untuk perawat yang tidak hadir karena sakit yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Sakit dari dokter RSU Mayjen H.A Thalib Kabupaten Kerinci dan Surat Keterangan Dirawat, maka perawat on call yang menggantinya.
8. Dengan memperhatikan perundang-undangan yang berlaku, maka hari kerja & jam kerja perawat di RSU Mayjen H.A Thalib Kabupaten Kerinci sebagai berikut :
a. Hari Senin – Kamis 07.30 – 14.15 WIB
b. Hari Jumat 07.30 – 11.30 WIB
c. Hari Sabtu 07.30 – 14.00 WIB
d. Perawat Shift
1) Shift I (Pagi) → 07.30 – 14.00 WIB
2) Shift II (Sore) →14.00 – 20.00 WIB
3) Shift III (Malam) →20.00 – 08.00 WIB
9. Khusus untuk ibu hamil, shift sore dan malam sampai kehamilan 8 (delapan) bulan.
10. Ibu menyusui sampai anak umur 9 (sembilan) bulan masuk sift sore dan umur anak 12 (dua belas) bulan masuk sift malam.
11. Hal-hal lain diluar ketentuan ayat 4 akan diatur sesuai dengan kebutuhan, sepanjang tidak menyimpang dari ayat 1 dan ayat 2.
Pasal 2
SISTEM PELAYANAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANGAN DAN DOKUMENTASI ASUHAN KEPERAWATAN
1. Sistem pemberian Asuhan Keperawatan di RSU Mayjen H.A Thalib Kabupaten Kerinci melalui pengembangan Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) di mana metode yang digunakan adalah penggabungan metode tim dan metode perawat primer. Unsur ketenagaan dalam MPKP adalah sebagai berikut :
a. KEPALA RUANGAN
Seorang perawat profesional yang diberi wewenang dan tanggung jawab dan mengelola kegiatan pelayanan perawatan di satu ruang rawat.
1) Tugas Pokok
Mengawasi dan mengendalikan kegiatan pelayanan Keperawatan di ruang rawat yang berada di wilayah tanggung jawabnya.
2) Uraian Tugas
a) Melaksanakan fungsi perencanaan, meliputi :
Merencanakan jumlah dan kategori tenaga perawatan serta tenaga lain sesuai
kebutuhan.
Merencanakan jumlah jenis peralatan perawatan yang diperlukan sesuai
kebutuhan.
Merencanakan dan menentukan jenis kegiatan/asuhan keperawatan yang akan
diselenggarakan sesuai kebutuhan pasien.
b) Melaksanakan fungsi penggerakan dan pelaksanaan, meliputi :
Mengatur dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan pelayanan ruang rawat. Menyusun dan mengatur daftar dinas tenaga perawatan dan tenaga lain sesuai
kebutuhan dan ketentuan atau peraturan yang berlaku.
Melaksanakan program orientasi kepada tenaga perawatan baru atau tenaga
lain yang akan bekerja diruang rawat.
Memberi pengarahan dan motivasi kepada tenaga perawatan untuk
melaksanakan asuhan keperawatan sesuai ketentuan/standar.
Mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang ada dengan cara bekerja sama
Mengadakan pertemuan berkala dengan pelaksana perawatan dan tenaga lain
yang berada diwilayah tanggug jawabnya.
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang perawatan antara lain
melalui pertemuan ilmiah.
Mengenal jenis dan kegunaan barang/peralatan serta mengusahakan
pengadaannya sesuai kebuthan pasien agar tercapai pelayanan yang optimal.
Menyusun permintaan rutin meliputi kebutuhan alat, obat dan bahan lain yang
diperlukan diruang rawat.
Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan peralatan agar selalu dalam
keadaan siap pakai.
Mempertangungjawabkan pelaksanan inventarisasi peralatan.
Melaksanakan program orientasi kepada pasien dan keluarganya, meliputi
penjelasan tentang peraturan rumah sakit, tata tertib ruangan, fasilitas yang ada cara penggunaannya serta kegiatan rutin sehari-hari di ruangan.
Mendampingi dokter selama kunjungan keliling (visite dokter) untuk
pemeriksaan pasien dan mencatat program pengobatan, serta menyampaikan kepada staf untuk melaksanakannya.
Mengelompokan pasien dan mengatur penempatannya di ruang rawat menurut
tingkat kegawatannya, infeksi dan non infeksi untuk memudahkan pemberian asuhan keperawatan.
Mengadakan pendekatan kepada setiap pasien yang dirawat untuk mengetahui
keadaanya dan menampung keluhan serta membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.
Mejaga perasan pasien agar merasa aman dan terlindungi selama pelaksanaan
pelayanan perawatan berlangsung.
Memberi penyuluhan kesehatan terhadap pasien atau keluarga dalam batas
kewenangan.
Menjaga perasaan petugas agar merasa aman dan terlindungi selama
pelaksanaan pelayanan perawatan berlangsung.
Memelihara dan mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan asuhan
keperawatan dan kegiatan lain yang dilakukan secara tepat dan benar. Untuk tindakan perawatan selanjutnya.
Mengadakan kerjasama yang baik dengan kepala ruang yang lain, seluruh
kepala bidang, kepala bagian, kepala instalasi dan kepala unit di RS.
Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik antara petugas, pasien
dan keluarganya, sehingga memberikan ketenangan.
Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien ruangan.
Memeriksa dan meneliti pengisian daftar permintaan makanan berdasarkan
macam dan jenis makanan pasien, kemudian memeriksa dan meneliti ulang saat penyajian sesuai dengan dietnya.
Memelihara buku register dan berkas catatan medik.
Membuat laporan harian dan bulanan mengenai pelaksanaan kegiatan asuhan
keperawatan, serta kegiatan lain di ruang rawat.
c) Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan penilaian meliputi :
Mengawasi dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah
ditentukan.
Melaksanakan penilaian terhadap upaya peningkatan pengetahuan dan
keterampilan dalam bidang perawatan.
Mengawasi dan mengendalikan pendayagunaan peralatan perawatan serta
obat-obatan secara efektif dan efisien.
Mengawasi pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan asuhan
keperawatan serta mencatat kegiatan lain di ruang rawat. b. Ketua Tim (Perawat Primer)
1) Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif. 2) Membuat tujuan dan rencana keperawatan.
3) Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama praktek bila diperlukan.
4) Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh disiplin ilmu lain maupun perawat lain.
5) Mengevaluasi keberhasilan asuhan keperawatan.
6) Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial di masyarakat.
7) Membuat jadwal perjanjian klinik.
8) Mengadakan kunjungan rumah bila perlu.
9) Bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari pasien masuk sampai keluar rumah sakit.
11) Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai. 12) Menyiapkan penyuluhan untuk pulang. 13) Melaksanakan sentralisasi obat.
14) Mendampingi visite.
15) Melaksanakan ronde keperawatan bersama dengan kepala ruangan dan perawat associate.
16) Melaporkan perkembangan pasien kepada kepala ruangan. c. Perawat Pelaksana (Perawat associate)
Seorang perawat yang diberikan wewenang dan ditugaskan untuk memberi kan pelayanan keperawatan langsung kepada klien.
1) Tugas Pokok
Memberikan perawatan secara langsung berdasarkan proses keperawatan dengan sentuhan kasih sayang.
2) Uraian Tugas
a) Melaksanakan tindakan perawatan yang telah direncanakan oleh ketua tim/perawat primer.
b) Mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah diberikan.
c) Mencatat dan melaporkan semua tindakan perawatan dan repons klien pada catatan perawatan.
d) Melaksanakan program medik dengan penuh tanggung jawab.
Pemberian obat.
Pemeriksaan laboratorium.
Persiapan klien yang akan dioperasi.
e) Memperhatikan keseimbangan kebutuhan fisik , mental, dan spiritual dari klien:
Memelihara kebersihan klien dan lingkungan.
Mengurangi penderitaan klien dengan memberi rasa aman, nyaman dan
ketenangan.
Pendekatan dengan komunkasi terapiutik.
f) Mempersiapkan klien secara fisik dan mental untuk menghadapi tindakan perawatan dan pengobatan serta diagnostik.
g) Melatih klien untuk menolong dirinya sendiri s esuai kemampuannnya. h) Memberi pertolongan segera pada kien gawat atau sakaratul maut.
i) Membantu kepala ruangan dalam ketatalaksaaan ruangan secara administratif.
Sensus harian dan formulir.
Rujukan atau penyuluhan PKMRS.
Mengatur dan menyiapkan alat-alat yang ada diruangan.
Menciptakan dan memelihara kebersihan, keamanan, kenyamanan dan
keindahan ruangan.
Melaksankan tugas dinas pagi/sore/malam secara bergantian. Memberi penyuluhan kesehatan kepada klien sehubungan dengan
penyakitnya.
Melaporkan segala sesuatu mengenai keadaan klien baik lisan maupun
tertulis.
Membuat laporan harian. Mengikuti timbang terima.
Mengikuti kegiatan ronde keperawatan.
Berkoordinasi dengan perawat associate yang lain dan perawat primer. Melakukan evaluasi formatif.
Pendokumentasian tindakan dan catatan perkembangan pasien.
Melaporkan segala perubahan yang terjadi atas pasien kepada perawat
primer.
2. Pelayanan Asuhan Keperawatan didokumentasikan dalam format dokumentasi keperawatan sebagai berikut :
a. Format Pengkajian Keperawatan
b. Format Perencanaan Keperawatan (NANDA NIC NOC) c. Format Implementasi Tindakan Keperawatan
d. Format Catatan Perkembangan (Terintegrasi)
e. Blanko Grafik suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan dan instruksi terapi dokter f. Blanko laporan penggantian shif
Pasal 3
PENEMPATAN DAN MUTASI TENAGA PERAWAT
1. Jumlah dan kategori penempatan tenaga perawat masing-masing ruangan dihitung berdasarkan Metode Gillies.
2. Penempatan tenaga perawat berdasarkan spesialisasi dengan mempertimbangkan kemampuan keilmuan, keahlian khusus, sikap dan minat.
3. Mutasi akan dilakukan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : a. Hasil evaluasi atasan langsung/berwenang.
b. Tenaga perawat dibutuhkan di tempat/ruangan lain.
c. Atas permohonan sendiri dengan pertimbangan pihak yang berwenang.
4. Mutasi dan atau penempatan tenaga perawat ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur dengan mempertimbangkan rekomendasi Bidang Keperawatan.
BAB II
KEWAJIBAN DAN HAK PERAWAT Pasal 4
KEWAJIBAN BAGI PERAWAT
Kewajiban yang harus ditaati oleh setiap perawat antara lain: 1. Mentaati ketentuan jam kerja.
2. Melakukan absensi pada waktu masuk kerja dan waktu pulang kerja.
3. Melaksanakan tugas/pekerjaan dengan sebaik-baiknya, penuh pengabdian, kesadaran dan bertanggung jawab.
4. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan rumah sakit. 5. Memelihara dan meningkatkan keutuhan, kekompakan dan persatuan untuk menciptakan
suasana kerja yang baik sesuai dengan harapan rumah sakit.
6. Menyimpan rahasia rumah sakit dan/atau rahasia-rahasia jabatan dengan sebaik-baiknya. 7. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik rumah sakit dengan sebaik-baiknya,
serta menjaga pemborosan waktu dan material.
8. Segera melaporkan kepada atasannya, apabila mengetahui ada hal yang dapat
membahayakan atau merugikan institusi, terutama dibidang keamanan, keuangan dan materil.
9. Bertindak dan bersikap tegas, tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannnya. 10. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. 11. Memberikan bimbingan kepada bawahannya dalam melaksanakan tugasnya.
12. Memberikan kesempatan dan dorongan kepada bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja dan mengembangkan kariernya.
13. Berpakaian rapi dan sopan sesuai aturan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat dan sesama pegawai.
14. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang dan/atau orang lain yang ditunjuk olehnya.
15. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan-peraturan RSU Mayjen H.A Thalib Kabupaten Kerinci.
16. Memperhatikan dengan sebaik-baiknya setiap tindakan disipliner yang diterima.
17. Datang ditempat kerja sebelum jam kerja dan mulai bekerja tepat pada waktu yang telah ditentukan.
18. Selalu menggunakan atau membawa kartu tanda pengenal pegawai dan harus dapat menunjukkan jika diminta oleh petugas keamanan.
19. Bersikap sopan, jujur dan selalu mentaati perintah atasan dalam melakukan pekerjaannya serta selalu meningkatkan efisiensi dan produktifitas kerja.
20. Selalu menggunakan alat-alat keselamatan kerja dan selalu mencegah terjadinya tindakan atau keadaan yang dapat menimbulkan bahaya seperti misalnya kebakaran, kecelakaan kerja dan sebagainya dalam institusi.
21. Tidak melakukan perbuatan yang dapat merusak atau merugikan nama baik rumah sakit, pimpinan atau teman sekerja dan harus memelihara kerjasama yang baik diantara pegawai
untuk menciptakan ketenangan kerja dan memelihara ketertiban dalam rumah sakit. 22. Menggunakan, menjalankan atau menyimpan dengan baik semua peralatan atau
mesin-mesin, bahan-bahan atau surat-surat berharga milik rumah sakit yang dipercayakan kepadanya.
23. Bertanggung jawab atas semua barang atau harta milik rumah sakit yang dipercayakan kepadanya dan harus segera melaporkan kehilangan atau kerusakan yang terjadi terhadap barang-barang atau harta milik rumah sakit tersebut kepada Pengelola Logistik Keperawatan
untuk dipertimbangkan penggantinya.
24. Tetap berada ditempat kerja masing-masing selama jam kerja, kecuali untuk keperluan dinas yang telah mendapat persetujuan dari atasan dan harus melaporkan diri kepada atasan
masing-masing bila datang terlambat atau apabila hendak pulang lebih awal.
Pasal 5
HAK-HAK PERAWAT
1. Perawat berhak mendapatkan upah dan dibayarkan tepat pada waktunya. 2. Perawat berhak mendapatkan perlindungan hukum secara adil.
3. Perawat berhak menolak pekerjaan yang diberikan apabila membahayakan pekerja itu sendiri atau orang lain.
4. Perawat berhak atas jenjang karir yang ada di rumah sakit sesuai dengan kemampuan dan prestasi kerjanya.
5. Perawat berhak mangajukan pendapat yang bersifat membangun/positif yang bertujuan untuk memajukan Rumah Sakit dan kesejahteraan pegawai melalui prosedur yang baik dan benar.
Pasal 6
LARANGAN BAGI PERAWAT
Larangan yang tidak boleh dilanggar oleh setiap perawat antara lain:
1. Setiap keterlambatan masuk dinas dan/atau pulang sebelum waktunya tanpa alasan yang jelas dengan konversi 7,5 (tujuh setengah) jam keterlambatan/pulang sebelum waktunya
dihitung sama dengan 1 (satu) hari tidak masuk dinas.
2. Meninggalkan Rumah Sakit atau pekerjaannya selama jam kerja dan/atau pulang cepat tanpa ijin atasan (yang dalam hal ini kepala Ruangan, Perawat Pengawas).
3. Melanggar kesopanan maupun sopan santun dalam pergaulan dan/ata u minum-minuman yang sifatnya memabukkan di lingkungan Rumah Sakit.
4. Melakukan perbuatan yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.
5. Menyimpan, menjual atau memperdagangkan barang-barang apapun dalam Rumah Sakit tanpa ijin pimpinan Rumah Sakit.
6. Membawa orang lain/luar masuk dalam lingkungan Rumah Sakit tanpa ijin pihak atasan yang berwenang.
7. Mangkir (tidak masuk bekerja tanpa alasan).
8. Menempel/memasang poster/spanduk di lingkungan Rumah Sakit tanpa ij in pimpinan Rumah Sakit.
9. Mempengaruhi pegawai lain untuk tidak melakukan kewajibannya dan melanggar ketentuan-ketentuan Rumah sakit.
10. Membawa alat-alat/barang-barang milik Rumah Sakit ke luar lingkungan Rumah Sakit tanpa ijin atasan yang berwenang.
11. Menyerahkan tugas kerja kepada Perawat lain tanpa persetujuan ata san.
12. Menjalankan kendaraan Rumah sakit tanpa memiliki ijin mengemudi dan dan Izin Atasan. 13. Menyalahgunakan waktu kerja untuk kepentingan komersial pribadi.
14. Membuat isu-isu yang dapat menimbulkan terjadinya kerusakan yang merugikan Rumah Sakit.
15. Mengabaikan kewajiban-kewajiban yang ditentukan oleh Rumah Sakit. 16. Berkelahi di lingkungan Rumah Sakit.
17. Memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan dan memalsukan dokumen yang berhubungan dengan kepentingan Rumah Sakit.
18. Mabuk, madat, memakai obat bius atau narkotika atau obat terlarang lainn ya di lingkungan Rumah Sakit
19. Melakukan perbuatan asusila di lingkungan Rumah Sakit.
20. Melakukan tindakan kejahatan misalnya: mencuri, menggelapkan, menipu,
memperdagangkan barang-barang terlarang baik dalam lingkungan Rumah Sakit maupun diluar lingkungan Rumah Sakit.
21. Menganiaya, menghina secara kasar atau mengancam atasan, pasien, keluarga pasien atau teman sekerja termasuk dalam pengertian menganiaya adalah sia papun yang menyerang terlebih dulu seorang pegawai dalam waktu dinas apapun persoalannya.
22. Membujuk atasan atau teman sekerja untuk melaksanakan sesuatu yang bertentangan dengan hukum dan kesusilaan.
23. Membongkar/membocorkan rahasia Rumah Sakit atau mencemarkan nama baik Rumah Sakit yang seharusnya dirahasiakan.
24. Melakukan/mengadakan permainan judi dalam lingkungan Rumah Sakit.
25. Perawat yang menyalahgunakan kepercayaan Rumah Sakit dengan menerima sesuatu suapan baik dalam bentuk uang maupun barang atau jasa yang merugikan kepentingan Rumah sakit. 26. Mencemarkan nama baik Rumah sakit.
27. Merokok dan atau menyalakan api pada semua tempat yang ada tanda larangannya. 28. Membawa senjata tajam, senjata api atau barang berbahaya lainnya didalam lingkungan
Rumah Sakit.
BAB III
SANKSI-SANKSI
Pasal 7
TINDAKAN DISIPLIN
Termasuk pelanggaran disiplin adalah setiap perbuatan memperbanyak, mengedarkan, mempertontonkan, menempelkan, menawarkan, menyimpan, memiliki tulisan atau rekaman
yang berisi anjuran atau hasutan untuk melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 dan 6 diatas.
1. Setiap perawat yang melakukan pelanggaran peraturan dan tata tert ib rumah sakit dapat dikenakan tindakan disiplin.
2. Tingkatan hukuman disiplin (tindakan disipliner) a. Teguran tertulis
b. Peringatan tertulis I (pertama) c. Peringatan tertulis II (kedua)
d. Peringatan tertulis III (ketiga) atau hukuman administratif e. Skorsing
f. Pemutusan hubungan kerja
3. Jenis pelanggaran disiplin yang dapat dikenakan hukuman disiplin, ketentuan pelaksanaannya ditetapkan sebagai berikut:
a. TEGURAN TERTULIS
1) Perawat diberikan pengarahan dan didokumentasikan.
2) Perawat diberitahu bahwa ia akan dikenakan tindakan disipliner tingkat selanjutnya, apabila ia melakukan pelanggaran lain.
3) Peringatan ini akan dihapuskan apabila selama 3 (tiga) bulan ia tidak melakukan pelanggaran.
4) Tindakan ini digunakan untuk pelanggaran sejenis tidak terbatas pada contoh-contoh dibawah ini :
a) Setiap keterlambatan masuk dinas dan/atau pulang sebelum waktunya tanpa alasan yang jelas dengan konversi 7,5 (tujuh setengah) jam
keterlambatan/pulang sebelum waktunya dihitung sama dengan 1 (satu) hari tidak masuk dinas.
b) Meninggalkan perusahaan atau pekerjaannya selama jam kerja dan atau pula ng cepat tanpa ijin atasan (yang dalam hal ini kepala seksi, kepala bagian atau yang lebih tinggi).
c) Melanggar kesopanan atau sopan santun dalam pergaulan dan atau minum-minuman yang sifatnya memabukkan dilingkungan rumah sakit.
d) Melakukan perbuatan yang dapat membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.
f) Menyimpan/menjual/memperdagangkan barang-barang apapun dalam perusahaan tanpa ijin pimpinan rumah sakit.
g) Lebih dari 2 (dua) kali dalam satu bulan tidak melakukan absen datang atau absen pulang.
h) Tidak melaporkan kepada atasan, adanya hal-hal yang tidak wajar.
i) Membawa orang lain/luar masuk dalam lingkungan rumah sakit tanpa ijin pihak atasan.
j) Menimbulkan pemborosan waktu kerja dan material rumah sakit.
b. PERINGATAN TERTULIS (PERTAMA)
1) Perawat diberikan peringatan tertulis I, dan didokumentasikan.
2) Perawat diberitahukan bahwa peringatan ini akan dihapuskan apabila selama 6 (enam) bulan ia tidak melakukan pelanggaran.
3) Tindakan ini digunakan untuk pelanggaran ringan berikutnya sesudah pera wat
mendapat teguran tertulis. Juga dapat dikenakan langsung untuk pelanggaran sejenis, tidak terbatas pada contoh-contoh dibawah ini :
a) Berkali-kali merusak/menghilangkan peralatan rumah sakit. b) Mangkir
c) Tidak melaksanakan tugas dengan baik
d) Mengedarkan daftar sokongan, menempel/memasang poster atau spanduk di lingkungan rumah sakit tanpa ijin pimpinan rumah sakit.
e) Mempengaruhi pegawai lain untuk tidak melakukan kewajiban.
f) Menggunakan alat-alat rumah sakit tanpa ijin atasan yang berwenang.
g) Menjalankan kendaraan rumah sakit tanpa memiliki ijin mengemudi dan tanpa persetujuan atasan.
h) Menjalankan kendaraan/alat-alat milik perusahaan dengan mengabaikan syarat-syarat keselamatan kerja.
i) Membawa keluar barang-barang milik perusahaan atau barang-barang milik orang lain/ketiga tanpa ijin atasan yang berwenang.
j) Menyalahgunakan waktu kerja untuk kepentingan komersiil pribadi.
k) Mempengaruhi pegawai lain untuk melanggar ketentuan-ketentuan rumah sakit. l) Membuat isu-isu yang dapat menimbulkan terjadinya keresahan dalam
lingkungan rumah sakit dan atau merugikan rumah sakit.
c. PERINGATAN TERTULIS II (KEDUA)
2) Perawat diberitahu bahwa peringatan ini akan dihapuskan apabila selama 9 (sembilan) bulan ia tidak melakukan pelanggaran.
3) Dalam hal yang menyangkut perawat tidak melakukan tugas-tugasnya dengan baik, pada perawat akan diberitahukan bahwa pelanggaran sejenis berikutnya sebagai
sanksi akan dikenakan hukuman administratif.
4) Tindakan ini dipakai untuk pelanggaran ringan berikutnya apabila perawat berada pada tingkat peringatan tertulis I.
d. PERINGATAN TERTULIS III (KETIGA) ATAU HUKUMAN ADMINISTRATIF
1) Perawat diberikan peringatan tertulis ketiga, dan didokumentasikan.
2) Perawat diberitahukan bahwa ini adalah peringatan terakhir dan pelanggaran berikutnya akan mengakibatkan ia diskorsing atau bahkan diberhentikan.
3) Dalam hal pelanggaran yang menyangkut hal perawat yang tidak melaksanakan tugas-tugas dengan baik, ia akan dijatuhi hukuman administratif.
4) Peringatan tertulis ketiga ini digunakan untuk pelanggaran ringan berikutnya sesudah perawat berada pada tingkat peringatan tertulis kedua. Juga dapat
dikenakan langsung pada pelanggaran sejenis tidak terbatas pada contoh-contoh dibawah ini:
a) Menolak perintah yang layak dari atasan dan atau orang lain yang ditunjuk olehnya.
b) Mengabaikan kewajiban-kewajiban seperti:
Berulang-ulang datang terlambat walaupun telah diperingatkan tentang
kemungkinan pemecatan
Berkali-kali mangkir tanpa alasan yang kuat Menolak melakukan pemeriksaan kesehatan
c) Tidak cakap melakukan pekerjaan walaupun sudah dicoba untuk ditempatkan/dipekerjakan pada bagian lainnya.
d) Menjalankan kendaraan rumah sakit secara kebut-kebutan/tidak mengindahkan sopan santun di jalan raya.
e) Menggunakan kemudahan, perkakas dan keterangan-keterangan rumah sakit untuk kepentingan diri sendiri atau pihak lain.
f) Dengan sengaja atau karena lalai mangakibatkan dirinya dalam keadaan sedemikian sehingga ia tidak dapat menjalankan pekerjaannya.
g) Melanggar ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan rumah sakit dan perjanjian kerja, sedangkan kepadanya telah diberikan peringatan I (pertama) dan
II (kedua).
h) Berkelahi dilingkungan rumah sakit.
e. SKORSING (PEMBEBASAN TUGAS)
Skorsing (pembebasan tugas) dapat dikenakan pada:
1) Perawat yang dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan yang dapat mengakibatkan pemutusan hubungan kerja. Dalam hal ini juga untuk menunggu proses ijin pemutus
hubungan kerja.
2) Perawat yang melakukan pelanggaran mempunyai tingkat yang sama dengan peringatan terakhir, dengan pertimbangan bahwa dengan pemberian sanksi ini
diharapkan lebih efektif untuk memperbaiki disiplin kerja.
3) Lamanya masa skorsing maksimal 6 (enam) bulan dengan upah 75%.
f. PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA
Pemutusan hubungan kerja dapat digunakan untuk pelanggaran yang tidak terbatas pada contoh-contoh dibawah ini:
1) Pada saat melamar pekerjaan atau waktu mengadakan perjanjian kerja, memberikan keterangan palsu atau dipalsukan.
2) Mabuk, madat, memakai dan mengedarkan obat bius atau narkotika/psikotropika dilingkungan perusahaan maupun diluar lingkungan rumah sakit.
3) Melakukan perbuatan asusila dilingkungan rumah sakit.
4) Melakukan tindakan kejahatan misalnya: mencuri, menggelapkan, menipu, memperdagangkan barang terlarang baik dalam lingkungan rumah sakit maupun diluar lingkungan rumah sakit.
5) Menganiaya, menghina secara kasar atau mengancam atasan, pasien, keluarga pasien atau teman kerja. Termasuk dalam pengertian menganiaya adalah siapapun
yang menyerang terlebih dulu seorang karyawan dalam waktu dinas apapun persoalannya, begitu pula mereka yang hendak menghindari tindakan disipliner
rumah sakit melakukan di luar dinas.
6) Membujuk atasan atau teman sekerja untuk melaksanakan sesuatu yang bertentangan dengan hukum atau kesusilaan.
7) Dengan sengaja atau ceroboh merusak, merugikan atau membiarkannya dalam keadaan bahaya barang milik rumah sakit.
8) Dengan sengaja atau ceroboh merusak atau membiarkan diri atau teman sekerjanya dalam keadaan bahaya.
9) Membongkar/membocorkan rahasia rumah sakit atau mencemarkan nama baik atasan atau teman sekerja dan keluarganya yang seharusnya dirahasiakan, kecuali untuk kepentingan Negara.
10) Melakukan/mengadakan permainan judi dalam lingkungan rumah sakit.
11) Perawat yang menyalahgunakan kepercayaan rumah sakit dengan menerima sesuatu suapan baik dalam bentuk uang maupun barang atau jasa yang merugikan
kepentingan rumah sakit atau diluar pengetahuan rumah sakit. 12) Menjalankan kendaraan rumah sakit dalam keadaan mabuk. 13) Mencemarkan nama baik rumah sakit.
14) Mengambil bagian atau menganjurkan setiap penghentian kerja mogok atau memperlambat pekerjaan.
15) Berniaga, menjalankan pekerjaan untuk pihak ketiga dan atau menjalankan pekerjaan lain bersifat apapun juga tanpa ijin direksi.
16) Menyalahgunakan kedudukan/jabatan untuk kepentingan pribadi. 17) Pelanggaran berat terhadap Undang-Undang Republik Indonesia.
Pasal 8 GANTI RUGI
1. Karyawan diwajibkan membayar ganti rugi kepada Rumah sakit apabila: a. Menghilangkan/merusak barang-barang milik rumah sakit.
b. Karena kurang hati-hati atau karena kesalahan pegawai yang bersangkutan menimbulkan kerugian bagi rumah sakit.
c. Pegawai tidak mentaati kewajiban/peraturan rumah sakit, s ehingga menimbulkan kerugian bagi rumah sakit.
2. Pelaksanaan/pembayaran ganti rugi akan dilakukan oleh rumah sakit.
3. Dalam hal pegawai telah berkali-kali menimbulkan kerugian bagi rumah sakit ia tidak terlepas dari kemungkinan dikenakan tindakan disiplin.
Pasal 9 SANKSI
Bentuk hukuman yang sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 tersebut diatas ditetapkan sebagai berikut :
1. Teguran tertulis
Berupa pemotongan jasa pelayanan sebesar 10% (sepuluh persen) berlaku selama 3 (t iga) bulan.
2. Peringatan Tertulis I
Berupa pemotongan jasa pelayanan sebesar 20% (dua puluh persen) berlaku selama 6 (enam) bulan.
3. Peringatan Tertulis II
Berupa pemotongan jasa pelayanan sebesar 30% (tiga puluh persen) berlaku selama 9 (sembilan) bulan.
4. Peringatan Tertulis III
Berupa pemotongan jasa pelayanan sebesar 50% (lima puluh persen) berlaku 12 (dua belas) bulan atau pemberian sanksi administratif berupa penundaan kenaikan tingkat
golongan selama masa peringatan dan akan dievaluasi pada periode penilaian berikutnya.
Pejabat yang berwenang memberikan hukuman adalah : 1. Direktur
Berwenang menghukum pegawai yang menjabat tenaga pelaksana sampai dengan kepala bidang dan staf (sederajat kepala seksi) sepanjang mengenai hukuman disiplin (tindakan
indisipliner) antara lain : a. Hukuman administratif b. Skorsing
c. Pemutusan hubungan kerja
2. Kepala Seksi SDM dan Logistik Keperawatan
Apabila dipandang perlu juga mengikutsertakan atasan langsung dan tidak langsung dari pegawai yang bersangkutan berwenang menghukum pegawai yang menjabat tenaga pelaksana sampai dengan kepala ruangan, sedangkan untuk pegawai yang menjabat
kepala bagian yang berwenang menghukum adalah direktur sepanjang mengenai hukuman disiplin (tindakan indisipliner):
a. Teguran tertulis
b. Peringatan tertulis I (pertama) c. Peringatan tertulis II (kedua)
d. Peringatan tertulis III (ketiga)
3. Hukuman disiplin yang berupa hukuman administratif, skorsing dan pemutusan hubungan kerja ditetapkan dengan surat keputusan direktur.
BAB IV
PEMBINAAN DAN DIKLAT
Pasal 10 PEMBINAAN
1. Pembinaan pegawai menurut prestasi kerja dengan tujuan agar para pegawai dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam melaksanakan kewajibannya.
2. Sistem pembinaan dilaksanakan melalui penilaian kerja.
Pasal 11
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Dalam rangka pembinaan, rumah sakit memberi kesempatan kepada pegawai untuk dapat mengikuti pendidikan dan pelatihan, baik diselenggarakan di rumah sakit (in house)
maupun di luar rumah sakit (publik).
BAB V CUTI
Pasal 12
HAK CUTI PERAWAT
1. Sesuai dengan ketentuan Kepegawai dapat menjalani cuti menurut jenisnya, yaitu cuti dalam tanggungan Rumah sakit.
2. Jenis cuti dalam tanggungan Rumah sakit adalah: a. Cuti tahunan
b. Cuti bersalin dan atau cuti keguguran c. Cuti sakit
3. Pengaturan cuti untuk perawat shiff diatur oleh Kepala dengan mempertimbangkan jumlah kebutuhan tenaga perawat diruangan.
BAB VI
BERAKHIRNYA HUBUNGAN KERJA
Pasal 13
SEBAB
–
SEBAB BERAKHIRNYA HUBUNGAN KERJA1. Seorang pegawai akan berakhir hubungan kerjanya dengan rumah sakit karena salah satu dari sebab – sebab seperti disebutkan pada ayat 4 pasal ini.
2. Seorang pegawai yang putus hubungan kerjanya dengan rumah sakit karena alasan apapun juga, harus mengembalikan seluruh tanda pengenal atau barang – barang atau
harta milik rumah sakit yang dikuasainya atau dipercayakan kepadanya. 3. Sebab – sebab berakhirnya hubungan kerja adalah:
a. Meninggal Dunia
b. Mencapai usia 56 tahun
Rumah sakit akan mengakhiri masa kerja seorang pegawai pada sa at pegawai tersebut telah mencapai usia 56 tahun.
c. Mengundurkan Diri
Seorang pegawai karena alasan apapun, dapat mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri. Permohonan ini selayaknya disampaikan paling lambat 30 hari sebelum tanggal pengunduran diri seorang pegawai. Seorang pegawai yang tidak masuk kerja selama 5 hari berturut – turut tanpa alasan yang syah akan dianggap telah
mengundurkan diri dari rumah sakit.
d. Sakit lebih dari 12 bulan atau tidak mampu bekerja karena alasan kesehatan.
Rumah sakit akan melakukan pemutusan hubungan kerja dengan seorang pegawai bila pegawai tersebut telah mengalami sakit selama lebih dari 12 bulan, atau bila
seorang pegawai dianggap sudah tidak mampu lagi bekerja/invalid karena alasan kesehatan dan memilih untuk berhenti, hal mana berdasarkan atas surat keterangan dari dokter yang ditunjuk untuk memeriksa kesehatan pegawai tersebut.
e. Tindakan Disiplin
1) Rumah Sakit akan melakukan pemutusan hubungan kerja dengan seor ang pegawai sebagai tindakan disiplin yang disebabkan oleh kelalaian pegawai
terhadap kewajiban atau pelanggaran terhadap peraturan dan tata tert ib rumah sakit.
2) Rumah Sakit akan langsung melakukan pemutusan hubungan kerja dengan seorang pegawai, apabila pegawai melakukan salah satu dari kesalahan berat. f. Rasionalisasi Tenaga Perawat
Rumah Sakit akan melakukan pemutusan hubungan kerja dengan pegawai apabila rumah sakit menghadapi persoalan dengan berlebihnya tenaga kerja yang ada
sehingga mengakibatkan rendahnya efisiensi dan efektifitas pela yanan keperawatan.
BAB VII
TATA CARA PENYELESAIAN KELUHAN PERAWAT
Pasal 14
TATA CARA PENYELESAIAN KELUHAN PERAWAT
1. Pegawai berhak untuk menyampaikan keluhannya secara pribadi dengan melalui cara
– cara penyampaian keluhan yang berlaku.
2. Tata cara penyampaian keluhan di rumah sakit adalah sebagai berikut:
a. Pegawai wajib untuk menyampaikan keluhannya terlebih dahulu kepada kepala ruangan, baik berupa keluhan lisan maupun tertulis.
b. Bila Kepala ruangan dalam satu minggu belum dapat memberikan
penyelesaiannya, maka pegawai dapat menyampaikan keluhan yang sama kepada Pengelola namun dengan kewajiban untuk memberitahu lebih dahulu kepada atasannya langsung.
c. Jika seorang Pengelola dalam waktu dua minggu belum dapat menyelesaikan keluhan ini, maka pegawai (setelah memberitahu kepala seksinya) dapat menyampaikan