• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Forecasting Produksi Dan Konsumsi Daging Kambing Dan Daging Domba Di Provinsi Sumatera Utara Chapter III VI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Forecasting Produksi Dan Konsumsi Daging Kambing Dan Daging Domba Di Provinsi Sumatera Utara Chapter III VI"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian

Penentuan lokasi penelitian dengan menggunakan metode purposive atau

secara sengaja. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Sumatera Utara yang terdiri

dari 25 kabupaten dan 8 kota dengan pertimbangan bahwa Provinsi Sumatera

Utara termasuk sebagai sentra produksi ternak yang diteliti serta memliki populasi

penduduk yang cukup besar.

3.2 Metode Penentuan Sampel

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series dengan

range tahun 2006-2015 yang dianalisis dengan alat bantuan program SPSS

(Statistical Package for Sosial Science) dan berupa data sekunder.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah menggunakan data

sekunder. Menurut Rokhmana (2012), data sekunder adalah data yang telah

dikumpulkan untuk maksud selain menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah literature, artikel,

jurnal serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan.

3.4 Metode Analisis Data

Untuk identifikasi masalah pertama,digunakan analisis deskriptif yaitu

berupapenyajian data time series dengan grafik atau gambar dan penjelasan

terhadap data dalam kurun waktu 2006-2015 yang diperoleh sesuai dengan

(2)

Menurut Sugiyono (2004), analisis deskriptif adalah statistik yang

digunakan untuk menganalis data dengan cara mendeskripsikan atau

menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud

membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.

Untuk identifikasi masalah kedua, untuk mengetahui rasio produksi

dengan konsumsi daging kambing dan daging domba di Provinsi Sumatera Utara,

dilakukan analisis deskriptif menggunakan pendekatan rasio produksi daging

kambing dan daging domba dengan konsumsi daging kambing dan daging domba.

Menurut Asrofi (2014), rasio adalah perbandingan antara dua besaran atau

lebih. Dalam menghitung rasio harus menggunakan satuan yang sama, apabila

terdapat perbedaan maka harus dilakukan penyamaan satuan terlebih dahulu.

Secara umum rasio dilambangkan dengan a/b atau a:b dimana b ≠ 0. Misalnya rasio 15 dari 105 adalah 15/105 = 1/7 = 1:7. Maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa untuk mencari rasio produksi daging kambing dan daging domba dengan

konsumsi daging kambing dan daging domba di Provinsi Sumatera Utara adalah

sebagai berikut:

Dimana:

Ri = Rasio produksi dengan konsumi daging kambing dan daging domba di

wilayah i

Pki = Produksi daging kambing dan daging domba di wilayah i

Kki

Untuk identifikasi masalah ketiga, untuk mengetahui hasil forecasting

produksi dan konsumsi daging kambing dan daging domba di Provinsi Sumatera = Konsumsidaging kambing dan daging domba di wilayah i

(3)

Utara untuk tahun 2017-2026, dilakukan analisis proyeksi atau Forecasting

melalui Trend (Gerak Jangka Panjang) dengan menggunakan Least

SquaresMethod (metode kuadrat terkecil) melalui program SPSS yang

menggunakan Regresi Linier Sederhana. Menurut Pasaribu (1981), persamaan

garis trend linier dapat dibentuk sebagai berikut:

Nilai-nilai α dan b dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

�= � − ��

dan

�= � ∑ �� −(∑ �)(∑�)

� ∑ �2−(∑ �)2

Dimana:

y = Produksi atau konsumsi daging kambing dan daging domba (ton)

α = Koefisien intercept

b = Koefisien regresi dari x

x = Tahun yang diramalkan (dinotasikan dengan angka)

n = Jumlah data

Menurut Supranto (1989), metode Least Square (kuadrat terkecil)

merupakan metode yang paling sering digunakan untuk meramalkan y,karena

perhitungannya lebih teliti. Untuk melakukan perhitungan diperlukan nilai

variabel waktu (x), jumlah nilai variabel waktu adalah nol atau ∑x=0. Maka

rumus untuk mencari α dan b dapat dirubah menjadi:

α= � dan �= ∑ ��∑ �2

(4)

Setelah persamaan garis trend yang linier tersusun, kemudian dapat

diramalkan garis trend linier untuk masa mendatang dengan persamaan berikut:

Dimana:

y* = Produksi dan konsumsi daging kambing dan daging domba untuk tahun yang

diramalkan (ton)

α = Koefisien intercept

b = Koefisien regresi dari x

x* = Tahun yang diramalkan (dinotasikan dengan angka)

3.5 Definisi dan Batasan Operasional 3.5.1 Definisi

1. Kambing dan Dombaadalah potensi paling penting yang dapat diperbaharui di

Provinsi Sumatera Utara.

2. Produksi daging kambing dan daging domba adalah kapasitas atau kuantitas

kebutuhan akan kambing dan domba yang tersedia untuk dikonsumsi di

Provinsi Sumatera Utara.

3. Konsumsi daging kambing dan daging omba adalah jumlah kambing dan

domba yang dimakan oleh masyarakat maupun industri di Provinsi Sumatera

Utara dengan tujuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

4. Rasio adalah perbandingan antara produksi dan konsumsi kambing dan domba

di Provinsi Sumatera Utara.

5. Trend produksi kambing dan domba adalah naik atau turun dalam jangka

panjang yang diperoleh dari rata-rata perubahan dari waktu ke waktu kambing

dan domba di Provinsi Sumatera Utara selama 10 tahun.

(5)

6. Trend konsumsi kambing dan domba adalah naik atau turun dalam jangka

panjang yang diperoleh dari rata-rata perubahan dari waktu ke waktu kambing

dan domba di Provinsi Sumatera Utara selama 10 tahun.

7. Forecastingproduksi daging kambing dan daging domba adalah suatu

peramalan yang memperkirakan kondisi terhadap produksidaging kambing

dan daging domba di Provinsi Sumatera Utara dengan menggunakan data

masa lalu.

8. Forecasting konsumsi daging kambing dan daging domba adalah suatu

peramalan yangmemperkirakan kondisi terhadap komsumsi daging kambing

dan daging domba di Provinsi Sumatera Utara dengan menggunakan data

masa lalu.

3.5.2 Batasan Operasional

1. Penelitian ini dilakukan dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara.

2. Data yang diambil adalah data dalam kurun waktu tahun 2006 sampai 2015

meliputi produksi dan konsumsi kambing dan domba di Provinsi Sumatera

Utara.

(6)

BAB IV

DESKRIPSI WILAYAH

4.1. Letak dan Keadaan Geografis Provinsi Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara berada di bagian barat Indonesia, terletak pada

garis 10-40 Lintang Utara dan 980-1000

Luas daratan Provinsi Sumatera Utara 72.981,23 km

Bujur Timur. Letak geografis Provinsi

Sumatera Utara berada pada jalur strategis pelayaran Internasional Selat Malaka

yang dekat dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. Secara administratif

Provinsi ini berbatasan dengan daerah perairan dan laut serta dua provinsi lain

dengan batas wilayah sebagai berikut:

- Utara : berbatasan dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

- Timur : berbatasan dengan Negara Malaysia di Selat Malaka

- Selatan : berbatasan dengan Provinsi Riau dan Sumatera Barat.

- Barat : berbatasan dengan Samudera Hindia.

2

, sebagian besar

berasa di daratan Pulau Sumatera dan sebagian kecil berasa di Pulau Nias,

Pulau-Pulau Batu, serta beberapa pulau kecil baik dibagian barat maupun dibagian timur

pantai Pulau Sumatera. Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi terluas ke-7

di Indonesia. Berdasarkan luas daerah menurut kabupaten/kota di Sumatera Utara,

luas daerah terbesar adalah Kabupaten Langkat dengan luas 6.262,00 km2 atau

sekitar 8,58% dari total luas Sumatera Utara, diikuti Kabupaten Mandailing Natal

dengan luas 6.134,00 km2 atau 8,40% dari total luas Sumatera Utara, kemudian

Kabupaten Tapanuli Selatan dengan luas 6.030,47 km2 atau sekitar 8,26% dari

total luas Sumatera Utara. Sedangkan luas daerah terkecil adalah Kota Tebing

(7)

Provinsi Sumatera Utara memiliki 162 pulau, yaitu 6 pulau di Pantai

Timur dan 156 pulau di Pantai Barat. Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 25

kabupaten dan 8 kota dengan 421 kecamatan yang meliputi 653 kelurahan dan

5.175 desa.

4.2. Kondisi Iklim dan Topografi

Karena terletak dekat garis khatulistiwa, Provinsi Sumatera Utara

tergolong ke dalam daerah beriklim tropis. Ketinggian permukaan daratan

Provinsi Sumatera Utara sangat bervariasi, sebagian daerahnya datar, hanya

beberapa meter di atas permukaan laut, beriklim cukup panas bisa mencapai 34˚C

sebagian daerah berbukit dengan kemiringan yang landai, beriklim sedang dan

sebagian lagi berada pada dearah ketinggian yang suhu minimalnya bisa

mencapai 15˚C.

Sebagaimana Provinsi lainnya di Indonesia, Provinsi Sumatera Utara

mempunyai musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau biasanya

terjadi pada bulan Januari sampai dengan bulan Juli dan musim penghujan

biasanya terjadi pada bulan Agustus sampai dengan bulan Desember, diantara

kedua musim itu terdapat musim pancaroba. Kelembaban udara rata-rata

78%-91% dengan curah hujan 800-4000 mm/tahun dan penyinaran matahari 43%.

Berdasarkan topografinya, wilayah Provinsi Sumatera Utara dibagi atas 3

daerah yaitu:

1. Pantai Barat meliput i: Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten

Nias Barat, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan,

(8)

KabupatenTapanuli Tengah, Kabupaten Nias Selatan, Kota Padang

Sidempuan, Kota Sibolga dan Kota Gunung Sitoli.

2. Dataran Tinggi meliputi: Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba

Samosir, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo,

Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Pakpak Bharat dan Kota

Pematang Siantar.

3. Pantai Timur meliputi: Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu

Utara, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Asahan, Kabupaten Batu

Bara, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang

Bedagai, Kota Tanjung Balai, Kota Tebing Tinggi, Kota Medan dan Kota

Binjai.

4.3. Kondisi Demografi

Berdasarkan hasil SUPAS (Survei Penduduk Antar Sensus) 2015 yang

dilaksanakan pada bulan Mei 2015, jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara

tercatat sebanyak 13.923.262 jiwa. Angka ini menunjukkan peningkatan jika

dibandingkan hasil Sensus Penduduk periode sebelumnya, yaitu sebesar

8.360.894 jiwa pada tahun 1980, kemudian meningkat menjadi 10.256.027 jiwa

pada tahun 1990, sebesar 11.513.973 jiwa tahun 2000 dan akhirnya meningkat

menjadi 12.982.204 jiwa pada Sensus Penduduk 2010. Secara nasional jumlah

penduduk Provinsi Sumatera Utara merupakan yang terbesar keempat setelah

Provinsi Jawa Barat (46.668.214 jiwa), Provinsi Jawa Timur (38.828.061 jiwa)

(9)

Tabel. 4.1. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, dan Kepadatan PendudukMenurut Kabupaten/Kota Tahun 2015

Kabupaten/Kota Luas Wilayah

Jumlah

02. Mandailing Natal 6.134,00 430.894 70

03. Tapanuli Selatan 6.030,47 275.098 46

04. Tapanuli Tengah 2.188,00 350.017 160

05. Tapanuli Utara 3.791,64 293.399 77

06. Toba Samosir 2.328,89 179.704 77

07. Labuhanbatu 2.156,02 462.191 214

08. Asahan 3.702,21 706.283 191

09. Simalungun 4.369,00 849.405 194

10. Dairi 1.927,80 279.090 145

11. Karo 2.127,00 389.591 183

12. Deli Serdang 2.241,68 2.029.308 905

13. Langkat 6.262,00 1.013.385 162

14. Nias Selatan 1.825,20 308.281 169

15. Humbang Hasundutan 2.335,33 182.991 78

16. Pakpak Bharat 1.218,30 45.516 37

17. Samosir 2.069,05 123.789 60

18. Serdang Bedagai 1.900,22 608.691 320

19. Batu Bara 922,20 400.803 435

20. Padang Lawas Utara 3.918,05 252.589 64

21. Padang Lawas 3.892,74 258.003 66

22. Labuhanbatu Selatan 3.596,00 313.884 87

23. Labuhanbatu Utara 3.570,98 351.097 98

24. Nias Utara 1.202,78 133.897 111

25. Nias Barat 473,73 84.917 179

Kota

1. Sibolga 41,31 86.519 2.094

2. Tanjung Balai 107,83 167.012 1.549

3. Pematang Siantar 55,66 247.411 4.445

4. Tebing Tinggi 31,00 156.815 5.059

5. Medan 265,00 2.210.624 8.342

6. Binjai 59,19 264.687 4.472

7. Padang Sidimpuan 114,66 209.796 1.830

8. Gunungsitoli 280,78 135.995 484

(10)

Pada Tabel 4.1 diatas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2015 total luas

wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah 72.981,23 km2. Kabupaten Langkat

merupakan wilayah terluas di Provinsi Sumatera Utara dengan luas sebesar 6.262

km2 atau 8,58% dari luas Provinsi Sumatera Utara dan Kota Tebing Tinggi

merupakan wilayah terkecil di Provinsi Sumatera Utara dengan luas 31 km2 atau

0,04% dari luas Provinsi Sumatera Utara. Total jumlah penduduk di Provinsi

Sumatera Utara pada tahun 2015 adalah sebesar 13.937.797 jiwa. Kota Medan

memiliki jumlah penduduk yang terbesar di antara kabupaten/kota yang ada di

Provinsi Sumatera Utara, yaitu 2.210.624 jiwa atau 15,86% dari jumlah penduduk

di Provinsi Sumatera Utara sedangkan Pakpak Bharat merupakan kabupaten

dengan jumlah penduduk terkecil yaitu 45.516 jiwa atau 0,32% dari jumlah

penduduk di Provinsi Sumatera Utara. Provinsi Sumatera Utara memiliki

kepadatan penduduk sebesar 191 jiwa/km2. Kepadatan penduduk terbesar di

wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah Kota Medan yaitu 8.342 jiwa/km2 yang

kemudian di susul oleh Kota Tebing Tinggi yaitu 5.059 jiwa/km2. Kepadatan

penduduk terkecil di wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah Kabupaten Pakpak

Bharat yaitu 37 jiwa/km2 yang kemudian di susul oleh Kabupaten Tapanuli

Selatan yaitu 46 jiwa/km2

Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten/Kota Tahun 2010-2015

.

Kabupaten/ Kota

Jumlah Penduduk Miskin (000) (Jiwa)

(11)

Lanjutan

Kabupaten/ Kota

Jumlah Penduduk Miskin (000) (Jiwa)

2010 2011 2012 2013 2014 2015

(12)

Pada Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk miskin di Provinsi

Sumatera Utara berfluktuasi dari tahun 2010-2015. Jumlah penduduk miskin

terbanyak terjadi pada tahun 2010 yaitu 1.477.100 jiwa. Jumlah penduduk miskin

dari tahun 2010 mengalami penurunan menjadi 1.400.450 jiwa pada tahun 2012.

Jumlah penduduk miskin pada tahun 2013 mengalami peningkatan hingga tahun

2015 menjadi 1.463.660 jiwa atau 10,5% dari jumlah penduduk Provinsi

Sumatera Utara. Dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Utara,

Kota Medan merupakan kota dengan jumlah penduduk miskin terbanyak

sedangkan Kabupaten Pakpak Bharat merupakan kabupaten dengan jumlah

penduduk miskin yang paling sedikit pada 2010-2015. Pada tahun 2015, Kota

Medan memiliki jumlah penduduk miskin terbanyak yaitu 207.500 jiwa atau

9,38% dari jumlah penduduk Kota Medan dan 1,48% dari jumlah penduduk

Provinsi Sumatera Utara, kemudian diikuti oleh Kabupaten Langkat dengan

jumlah penduduk miskin sebesar 114.190 jiwa atau 11,26% dari jumlah penduduk

Kabupaten Langkat dan 0,81% dari jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara.

Kabupaten Pakpak Bharat memiliki jumlah penduduk miskin paling sedikit yaitu

5.120 jiwa atau 11,24% dari jumlah penduduk Kabupaten Pakpak Bharat dan

0,03% dari jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara, kemudian diikuti oleh

Kota Sibolga dengan jumlah penduduk miskin sebesar 11.640 jiwa atau 13,45%

dari jumlah penduduk Kota Sibolga atau 0,08% dari jumlah penduduk Provinsi

(13)

4.4. Deskripsi Variabel

4.4.1 Produksi Daging Kambing dan Daging DombaProvinsi Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara adalah salah termasuk salah satu sentra produksi

ternak. Keadaan produksi daging kambing dan daging domba di Provinsi

Sumatera Utara dalam kurun waktu 10 tahun yakni pada tahun 2006-2015 dapat

dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Produksi Daging Kambing dan Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015

Total 29.951,96 15.631,14

Rataan 2.995,196 1.563,114

Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Peternakan Sumut Tahun 2010, 2015, 2016

Berdasarkan Tabel 4.3 terlihat bahwa jumlah produksi daging kambing

Provinsi Sumatera Utara tertinggi di sepanjang tahun 2006-2015 terjadi pada

tahun 2015 sebesar 3.546,08ton dan produksi terendah terjadi pada tahun 2007

sebesar 2.176,90 ton. Sedangkan pada jumlah produksi daging domba Provinsi

Sumatera Utara tertinggi di sepanjang tahun 2006-2015 terjadi pada tahun 2015

sebesar 1.890,18ton dan produksi terendah terjadi pada tahun 2006 sebesar

(14)

29.951,96 ton dengan rataan 2.995,196 ton jauh lebih tinggi dibandingkan dengan

total produksi daging domba yaitu sebesar 15.631,14 ton dengan rataan 1.563,114

ton.

4.4.2 Konsumsi Daging Kambing dan Daging DombaProvinsi Sumatera Utara

Daging kambing dan daging dombayang banyak dikonsumsi oleh

masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup karena memiliki nilai gizi yang

tinggi, daging kambing dan daging domba karena aman dikonsumsi oleh semua

kalangan. Keadaan konsumsi daging kambing dan daging domba di Sumatera

Utara yakni pada tahun 2006-2015 terlihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4. Konsumsi Daging Kambing dan Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015

Total 30.459,08 15.777,59

Rataan 3.045,90 1.577,75

Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Peternakan Sumut Tahun 2010, 2015, 2016

Dari Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa, konsumsi daging kambing mengalami

fluktuasi, dari jumlah konsumsi daging kambing Provinsi Sumatera Utara

(15)

Sumatera Utara sepanjang tahun 2006-2015, konsumsi tertinggi terjadi pada tahun

2015 yaitu mencapai 1.951,29 ton sedangkan konsumsi terendah terjadi pada

tahun 2006 yaitu mencapai 1.137,91 ton. Dari total konsumsi daging kambing dan

daging domba yang tertera pada tabel diatas kita dapat menyimpulkan bahwa

konsumsi daging kambing lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi daging

(16)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Trend Produksi dan Konsumsi Daging Kambing dan Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015

Keadaan produksi dan konsumsi daging kambing dan daging domba di

Provinsi Sumatera Utara tahun 2006-2015 mengalami fluktuasi. Konsumsi yang

sangat tinggi mengakibatkan produksi tidak mampu memenuhi konsumsi daging

kambing dan daging domba di Provinsi Sumatera Utara.

Tabel 5.1. Trend Produksi dan Konsumsi Daging Kambing Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015 Sumber: Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Peternakan Sumut diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa Provinsi Sumatera Utara pada

tahun 2006 memiliki produksi daging kambing sebesar 2.336,85 ton dan konsumsi

daging kambing sebesar 2.402,26 ton yang menyebabkan defisit sebesar 65,41

ton. Pada tahun 2007 produksi daging kambing mengalami penurunan sebesar

159,95 ton atau 6,84 % dari tahun sebelumnya menjadi 2.176,90 ton dan

(17)

9,17% dari tahun sebelumnya yang menyebabkan defisit sebesar 4,94 ton. Pada

tahun 2008 produksi daging kambing mengalami peningkatan sebesar 334,53 ton

atau 15,36% dari tahun sebelumnya menjadi 2.511,43 ton dan konsumsi daging

kambing mengalami peningkatan sebesar 557,04 ton atau 25,53% dari tahun

sebelumnya menjadi 2.738,88 ton yang menyebabkan defisit sebesar 227,45 ton.

Pada tahun 2009 produksi daging kambing mengalami peningkatan sebesar 50,98

ton atau 2,02% dari tahun sebelumnya menjadi 2.562,41ton dan jumlah konsumsi

daging kambing mengalami peningkatan yaitu 43,28 ton atau 1,58% dari tahun

sebelumnya menjadi 2.782,16 ton yang menimbulkan defisit sebesar 219,75 ton.

Pada tahun 2010 produksi daging kambing mengalami peningkatan sebesar

626,58 ton atau 24,45% dari tahun sebelumnya menjadi 3.188,99 ton dan

konsumsi daging kambing mengalami peningkatan sebesar 463,39 ton atau

16,65% dari tahun sebelumnya menjadi 3.245,55 ton. Meskipun pada tahun 2011

jumlah produksi daging kambing meningkat dan jumlah konsumsi daging

kambing mengalami peningkatan juga, tetap terjadi defisit sebesar 56,56 ton

dikarenakan produksi yang meningkat belum bisa mengimbangi total konsumsi

daging kambing. Pada tahun 2012 produksi daging kambing mengalami

peningkatan sebesar 83,84 ton atau 2,56% dari tahun sebelumnya menjadi

3.352,55 ton dan konsumsi daging kambing mengalami peningkatan yaitu 27,96

ton atau 0,85% dari tahun sebelumnya menjadi 3.303,85 ton dan mengalami

surplus sebesar 48,7 ton. Pada tahun 2013 produksi daging kambing mengalami

peningkatan sebesar 117,26 ton atau 3,49% dari tahun sebelumnya menjadi

3.469,81ton dan konsumsi daging kambing mengalami peningkatan sebesar

(18)

mengalami surplus sebesar 4,98 ton. Pada tahun 2014 produksi daging kambing

mengalami penurunan sebesar 68,42 ton atau 1,97% dari tahun sebelumnya

menjadi 3.538,23 ton dan konsumsi daging mengalami peningkatan yaitu 114,55

ton atau 3,30% dari tahun sebelumnya menjadi 3.579,38 dan mengalami defisit

sebesar 41,15 ton. Pada tahun 2015 produksi daging kambing mengalami

peningkatan sebesar 7,85 ton atau 0,22% dari tahun sebelumnya menjadi 3.546,08

ton dan konsumsi daging kambing mengalami penurunan sebesar 94,94 ton dan

mengalami surplus sebesar 61,64 ton.

Dalam kurun waktu 15 tahun dari tahun 2006-2015, peningkatan produksi

daging kambing terbesar terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 24,45% dari tahun

sebelumnya. Penurunan produksi daging kambing terbesar terjadi pada tahun

2007 yaitu sebesar 6,84% dari tahun sebelumnya. Peningkatan konsumsi daging

kambing terbesar terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 25,53% dari tahun

sebelumnya. Penurunan konsumsi daging kambing terbesar terjadi pada tahun

2015 yaitu 2,65% dari tahun sebelumnya. Total produksi daging kambing sebesar

29.951,96 ton dengan rata-rata produksi sebesar 2.995,196 ton dan produksi

tertinggi terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar 3.546,08 ton sedangkan produksi

terendah terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 2.176,90 ton. Total konsumsi

daging kambing sebesar30.459,08ton dengan rata-rata konsumsi sebesar 3.045,90

ton dan konsumsi tertinggi terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 3.579,38 ton

sedangkan konsumsi terendah terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 2.181,84ton.

Produksi dan konsumsi daging kambing dari tahun 2006-2015 memiliki surplus

yang negatif yang artinya defisit. Total surplus antara produksi dan konsumsi

(19)

-507,12 ton. Nilai negatif ini menunjukkan bahwa produksi daging kambing tidak

dapat memenuhi kebutuhan konsumsi daging kambing di Provinsi Sumatera

Utara. Kondisi produksi dan konsumsi daging kambing Provinsi Sumatera Utara

tahun 2006-2015 untuk lebih jelasnya terlihat pada Gambar 5.1.

Gambar 5.1. Grafik TrendProduksi dan Konsumsi Daging Kambing Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015

Berdasarkan Gambar 5.1 dapat dilihat bahwa produksi daging kambing di

Provinsi Sumatera Utara Pada tahun 2007 berada pada posisi terendah dan pada

tahun 2014 produksi daging kambing berada pada puncaknya. Produksi daging

kambing tahun 2006-2015 mengalami keadaan yang fluktuasi yang cenderung

meningkat artinya mengalami trend positif.

Konsumsi daging kambing di Provinsi Sumatera Utara Pada tahun 2013

dan tahun 2014 berada pada puncaknya sedangkan pada tahun 2007 konsumsi

daging kambing berada pada posisi terendah. Konsumsi daging kambing tahun

2006-2015 mengalami keadaan yang fluktuasi yang cenderung menurun artinya

mengalami trend negative.

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Produksi

(20)

Berdasarkan Tabel 5.1 selama kurun waktu 10 tahun dari tahun

2006-2015, terjadinya perpotongan pada tahun 2008-2009 yaitu konsumsi daging

kambing lebih tinggi dibandingkan produksi daging kambing yang disebabkan

oleh keadaan alam yang kurang baik dan juga ternak yang terserang oleh penyakit.

Dan pada tahun 2014-2015 produksi mengalami penurunan akan tetapi pada tahun

2015 produksi daging kambing dapat mencukupi konsumsi daging kambing. Pada

tahun 2006-2015, produksi daging kambing mengalami pertumbuhan rata-rata

sebesar 4,572% yang menunjukkan bahwa trend produksi daging kambing di

Provinsi Sumatera Utara dari tahun 2006-2015 adalah meningkat. Sedangkan

konsumsi daging kambing mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 4,189 %

yang menunjukkan bahwa trend konsumsi daging kambing di Provinsi Sumatera

Utara dari tahun 2006-2015 adalah meningkat.

Tabel 5.2.Trend Produksi dan Konsumsi Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015 Sumber: Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Peternakan Sumut diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 5.2 dapat dilihat bahwa, Provinsi Sumatera Utara pada

(21)

daging domba sebesar 1.137,91ton yang menyebabkan defisit sebesar 60,47 ton.

Pada tahun 2007 produksi daging domba mengalami peningkatan sebesar 52,46

ton atau 4,86 % dari tahun sebelumnya menjadi 1.129,90 ton dan konsumsi

daging domba mengalami peningkatan yaitu 17,18 ton atau 1,50% dari tahun

sebelumnya yang menyebabkan defisit sebesar 25,19 ton. Pada tahun 2008

produksi daging domba mengalami peningkatan sebesar 333,82 ton atau 29,54%

dari tahun sebelumnya menjadi 1.463,72 ton dan konsumsi daging domba

mengalami peningkatan sebesar 279,56 ton atau 24,20% dari tahun sebelumnya

menjadi 1.434,65 ton yang menyebabkan surplus sebesar 29,07 ton. Pada tahun

2009 produksi daging domba mengalami peningkatan sebesar 21,22 ton atau

1,44% dari tahun sebelumnya menjadi 1.484,94 ton dan jumlah konsumsi daging

domba mengalami peningkatan yaitu 22,67 ton atau 1,58% dari tahun sebelumnya

yang menimbulkan surplus sebesar 27,62 ton. Pada tahun 2010 produksi daging

domba mengalami peningkatan sebesar 64,93 ton atau 4,37% dari tahun

sebelumnya menjadi 1.549,87 ton dan konsumsi daging domba mengalami

peningkatan sebesar 100,54 ton atau 6,89% dari tahun sebelumnya menjadi

1.557,86ton. Pada tahun 2011 jumlah produksi daging domba yaitu sebesar

1.588,62 mengalami peningkatan 38,75 ton atau 2,50% dan konsumsi daging

domba mengalami peningkatan 14,57 ton atau 0,93% dari tahun sebelumnya

menjadi 1.572,43 ton dan mengalami surplus sebesar 16,19 ton dikarenakan

produksi dapat mencukupi total konsumsi daging domba. Pada tahun 2012

produksi daging domba mengalami peningkatan sebesar 118,36 ton atau 7,45%

dari tahun sebelumnya menjadi 1.706,98 ton dan konsumsi daging domba

(22)

sebelumnya yaitu tahun 2011 dan mengalami defisit sebesar 11,03 ton. Pada tahun

2013 produksi daging domba mengalami peningkatan sebesar 145,73 ton atau

8,53% dari tahun sebelumnya menjadi 1.852,71ton dan konsumsi daging domba

mengalami peningkatan sebesar 147,67 ton atau 8,59% dari tahun sebelumnya

menjadi 1.865,68ton dan mengalami deficit sebesar 12,97 ton. Pada tahun 2014

produksi daging domba mengalami penurunan sebesar 34,07 ton 1,83% dari tahun

sebelumnya menjadi 1.886,78 ton dan konsumsi daging domba mengalami

peningkatan yaitu sebesar 61,67 ton atau 3,30% dari tahun sebelumnya menjadi

1.927,35ton danmengalami defisit sebesar 40,57ton. Pada tahun 2015 produksi

daging domba mengalami peningkatan sebesar 3,4 ton atau 0,18% dari tahun

sebelumnya menjadi 1.890,18ton dan konsumsi daging domba mengalami

peningkatan sebesar 23,94 ton atau 1,24% akan tetapi menyebabkan defisit

sebesar 61,11 ton.

Dalam kurun waktu 15 tahun dari tahun 2006-2015, peningkatan produksi

daging domba terbesar terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 29,54% dari tahun

sebelumnya. Penurunan produksi daging domba terbesar terjadi pada tahun 2015

yaitu sebesar 0,18% dari tahun sebelumnya. Peningkatan konsumsi daging domba

terbesar terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 24,20% dari tahun sebelumnya.

Penurunan konsumsi daging domba terbesar terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar

0,93%. Total produksi daging domba sebesar 15.631,14 ton dengan rata-rata

produksi sebesar 1.563,114 ton dan produksi tertinggi terjadi pada tahun 2015

yaitu sebesar 1.890,18ton sedangkan produksi terendah terjadi pada tahun 2007

yaitu sebesar 1.077,44 ton. Total konsumsi daging dombayaitu sebesar 15.777,59

(23)

pada tahun 2015 yaitu sebesar 1.951,29ton sedangkan konsumsi terendah terjadi

pada tahun 2006 dan tahun 2006 yaitu sebesar 1.137,91 ton. Produksi dan

konsumsi daging domba dari tahun 2006-2015 memiliki surplus yang negatif yang

artinya defisit. Total surplus antara produksi dan konsumsi daging domba Provinsi

Sumatera Utara dari tahun 2006-2015 adalah sebesar -146,45ton. Nilai negatif ini

menunjukkan bahwa produksi daging domba tidak dapat memenuhi kebutuhan

konsumsi daging domba di Provinsi Sumatera Utara. Kondisi produksi dan

konsumsi daging domba Provinsi Sumatera Utara tahun 2006-2015 untuk lebih

jelasnya terlihat pada Gambar 5.2.

Gambar 5.2. Grafik TrendProduksi dan Konsumsi Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015

Berdasarkan Gambar 5.2 dapat dilihat bahwa, produksi daging domba di

Provinsi Sumatera Utara Pada tahun 2006 berada pada posisi terendah dan pada

tahun 2014 dan tahun 2015 produksi daging domba berada pada puncaknya.

Produksi daging domba tahun 2006-2015 mengalami keadaan yang fluktuasi yang

cenderung meningkat artinya mengalami trend positif.

0 500 1000 1500 2000 2500

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Produksi

(24)

Konsumsi daging domba di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2015

berada pada puncaknya sedangkan pada tahun 2006 konsumsi daging domba

berada pada posisi terendah. Konsumsi daging domba tahun 2006-2015

mengalami keadaan yang fluktuasi yang cenderung meningkat artinya mengalami

trend positif.

Berdasarkan Tabel 5.2 selama kurun waktu 10 tahun dari tahun

2006-2015, terjadi perpotongan pada grafik yaitu konsumsi daging domba pada tahun

2008-2009 dapat tercukupi oleh produksi daging domba. Hal ini disebabkan oleh

keadaan alam yang baik, ternak yang sehat dan juga teknologi yang semakin

maju. Akan tetapi jika dilihat pada tahun 2014-2015 terjadi perpotongan antara

produksi dan konsumsi daging domba dimana produksi belum dapat mencukupi

konsumsi daging domba. hal ini disebabkan oleh ternak yang terserang oleh

penyakit dan pakan yang sulit di dapatkan akibat keadaan alam yang kurang baik

atau habibat yang kurang sesuai dengan ternak. Produksi daging domba

mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 6,07% yang menunjukkan bahwa trend

produksi daging domba di Provinsi Sumatera Utara dari tahun 2006-2015 adalah

meningkat. Sedangkan konsumsi daging domba mengalami peningkatan rata-rata

sebesar 6,149% yang menunjukkan bahwa trend konsumsi daging domba di

Provinsi Sumatera Utara dari tahun 2006-2015 adalah meningkat.

5.2. Perbandingan Produksi dan Konsumsi Daging Kambing dan Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015

Perbandinganproduksidaging kambing dan daging domba dengan

konsumsi daging kambing dan daging domba merupakan hal yang penting

(25)

Sumatera Utara. Dari angka perbandinganproduksi dan konsumsi daging kambing

dan daging domba dapat diketahui bagaimana peningkatan subsektor pternakan di

Provinsi Sumatera Utara. Perbandingan produksi dan konsumsi daging kambing

dan daging domba dapat dilihat pada Tabel 5.3

Tabel 5.3. Perbandingan Produksi dan Konsumsi Daging Kambing Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015

No Tahun Produksi

Total 29.951,96 30.459,08 0,98(1:1,02) Sumber: Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Peternakan Sumut diolah, 2017

Keterangan :

Rasio < 1 = Konsumsi lebih tinggi dibandingkan produksi

Rasio ≥ 1 = Produksi lebih tinggi dibandingkan konsumsi

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2006 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging kambing pada tahun

2006. Besar defisit produksi daging kambing sebesar 65,41 Ton dengan rasio

antara produksi daging kambing dan konsumsi daging kambing adalah sebesar

0,97(1:1,02) atau < 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2006 konsumsi lebih

tinggi dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging kambing dalam

(26)

tinggi di bandingkan dengan produksi daging kambing berarti hipotesis

1diterima.

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2007 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging kambing pada tahun

2007. Besar defisit produksi daging kambing sebesar 4,94 Ton dengan rasio

antara produksi daging kambing dan konsumsi daging kambing adalah sebesar

0,99(1:01) atau < 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2007konsumsi lebih tinggi

dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging kambing dalam negeri

perlu lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging kambing 2007 lebih tinggi di

bandingkan dengan produksi daging kambing berarti hipotesis 1diterima.

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2008 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging kambing pada tahun

2008. Besar defisit produksi daging kambing sebesar 227,45 Ton dengan rasio

antara produksi daging kambing dan konsumsi daging kambing adalah sebesar

0,91(1:1,09) atau < 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2008konsumsi lebih

tinggi dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging kambing dalam

negeri perlu lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging kambing 2008 lebih

tinggi di bandingkan dengan produksi daging kambing berarti hipotesis

1diterima.

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2009 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging kambing pada tahun

2009. Besar defisit produksi daging kambing sebesar 219,75 Ton dengan rasio

antara produksi daging kambing dan konsumsi daging kambing adalah sebesar

(27)

tinggi dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging kambing dalam

negeri perlu lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging kambing 2009 lebih

tinggi di bandingkan dengan produksi daging kambing berarti hipotesis

1diterima.

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2010 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging kambing pada tahun

2010. Besar defisit produksi daging kambing sebesar 56,56 Ton dengan rasio

antara produksi daging kambing dan konsumsi daging kambing adalah sebesar

0,98(1:1,01) atau < 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010konsumsi lebih

tinggi dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging kambing dalam

negeri perlu lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging kambing 2010 lebih

tinggi di bandingkan dengan produksi daging kambing berarti hipotesis

1diterima.

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2011 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging kambing pada tahun

2011. Besar defisit produksi daging kambing sebesar 7,18 Ton dengan rasio

antara produksi daging kambing dan konsumsi daging kambing adalah sebesar

0,99(1:1,01) atau < 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2011konsumsi lebih

tinggi dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging kambing dalam

negeri perlu lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging kambing 2011 lebih

tinggi di bandingkan dengan produksi daging kambing berarti hipotesis

1diterima.

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2012 nilai dari

(28)

2012. Besar surplus produksi daging kambing sebesar 48,7 Ton dengan rasio

antara produksi daging kambing dan konsumsi daging kambing adalah sebesar

1,01(1:0,98) atau > 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2012produksi lebih

tinggi dibandingkan konsumsi. Dalam hal ini produksi daging kambing meningkat

dan dapat mencukupi konsumsi daging kambing. Keadaan produksi daging

kambing 2012 lebih tinggi di bandingkan dengan konsumsi daging kambing

berarti hipotesis 1ditolak.

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2013 nilai dari

produksi lebih besar dibandingkan nilai dari konsumsi daging kambing pada tahun

2013. Besar surplus produksi daging kambing sebesar 4,98 Ton dengan rasio

antara produksi daging kambing dan konsumsi daging kambing adalah sebesar

1,00(1:0,99) atau > 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2013produksi lebih

tinggi dibandingkan konsumsi. Dalam hal ini produksi daging kambing meningkat

dan dapat mencukupi konsumsi daging kambing. Keadaan produksi daging

kambing 2013 lebih tinggi di bandingkan dengan konsumsi daging kambing

berarti hipotesis 1ditolak.

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2014 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging kambing pada tahun

2014. Besar defisit produksi daging kambing sebesar 41,15 Ton dengan rasio

antara produksi daging kambing dan konsumsi daging kambing adalah sebesar

0,98(1:1,01) atau < 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2014konsumsi lebih

tinggi dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging kambing dalam

(29)

tinggi di bandingkan dengan produksi daging kambing berarti hipotesis

1diterima.

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2015 nilai dari

produksi lebih besar dibandingkan nilai dari konsumsi daging kambing pada tahun

2015. Besar surplus produksi daging kambing sebesar 61,64 Ton dengan rasio

antara produksi daging kambing dan konsumsi daging kambing adalah sebesar

1,01(1:0,98) atau > 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2015produksi lebih

tinggi dibandingkan konsumsi. Dalam hal ini produksi daging kambing dalam

negeri meningkat. Keadaan produksi daging kambing 2015 lebih tinggi di

bandingkan dengan konsumsi daging kambing berarti hipotesis 1ditolak.

Gambar 5.3. Total Produksi dan Konsumsi Daging Kambing Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015

Berdasarkan Gambar 5.3 dapat dilihat bahwa, produksi dan konsumsi

daging kambing mengalami fluktuasi. Akan tetapi jika dilihat dari keseluruhan

bahwa produksi daging kambing tidak dapat memenuhi konsumsi daging

kambing. Pada tahun 2006-2015 total defisit produksi daging kambing sebesar

0

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Produksi Daging Kambing

(30)

507,12 Ton dengan rasio antara produksi daging kambing dengan konsumsi

daging kambing adalah sebesar 0,98(1:1,02) ini menunjukkan bahwa Keadaan

produksi daging kambing tahun 2006-1015 lebih kecil dari konsumsi daging

kambing yang berarti hipotesis 1 diterima.

Tabel 5.4. Perbandingan Produksi dan Konsumsi Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015

No Tahun Produksi

Total 15.631,14 15.777,59 0,98(1:1,01) Sumber: Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Peternakan Sumut diolah, 2017

Keterangan :

Rasio < 1 = Konsumsi lebih tinggi dibandingkan produksi

Rasio ≥ 1 = Produksi lebih tinggi dibandingkan konsumsi

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2006 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging domba pada tahun

2006. Besar defisit produksi daging domba sebesar 60,47 Ton dengan rasio antara

produksi daging domba dan konsumsi daging domba adalah sebesar 0,94(1:1,05)

atau < 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2006 konsumsi lebih tinggi

dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging domba dalam negeri perlu

lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging domba 2006 lebih tinggi di

(31)

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2007 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging domba pada tahun

2007. Besar defisit produksi daging domba sebesar 25,19 Ton dengan rasio antara

produksi daging domba dan konsumsi daging domba adalah sebesar 0,97(1:1,02)

atau < 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2007konsumsi lebih tinggi

dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging domba dalam negeri perlu

lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging domba 2007 lebih tinggi di

bandingkan dengan produksi daging domba berarti hipotesis 2diterima.

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2008 nilai dari

produksi lebih besar dibandingkan nilai dari konsumsi daging domba pada tahun

2008. Besar surplus produksi daging domba sebesar 29,07 Ton dengan rasio

antara produksi daging domba dan konsumsi daging domba adalah sebesar

1,02(1:0,98) atau > 1 yang menunjukkan bahwa produksi lebih tinggi

dibandingkan dengan konsumsi. Dalam hal ini produksi daging domba yang

meningkat dalam negeri dapat mencukupi konsumsi daging domba. Keadaan

produksi daging domba 2008 lebih tinggi di bandingkan dengan konsumsi daging

domba berarti hipotesis 2ditolak.

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2009 nilai dari

produksi lebih besar dibandingkan nilai dari konsumsi daging domba pada tahun

2009. Besar surplus produksi daging domba sebesar 27,62 Ton dengan rasio

antara produksi daging domba dan konsumsi daging domba adalah sebesar

1,01(1:0,98) atau > 1 yang menunjukkan bahwa produksi lebih tinggi

dibandingkan dengan konsumsi. Dalam hal ini produksi daging domba yang

(32)

produksi daging domba 2009 lebih tinggi di bandingkan dengan konsumsi daging

domba berarti hipotesis 2ditolak.

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2010 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging domba pada tahun

2010. Besar defisit produksi daging domba sebesar 7,99 Ton dengan rasio antara

produksi daging domba dan konsumsi daging domba adalah sebesar 0,99(1:1,01)

atau < 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010konsumsi lebih tinggi

dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging domba dalam negeri perlu

lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging domba 2010 lebih tinggi di

bandingkan dengan produksi daging domba berarti hipotesis 2diterima.

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2011 nilai dari

produksi lebih besar dibandingkan nilai dari konsumsi daging domba pada tahun

2011. Besar surplus produksi daging domba sebesar 16,19 Ton dengan rasio

antara produksi daging domba dan konsumsi daging domba adalah sebesar

1,01(1:0,98) atau > 1 yang menunjukkan bahwa produksi lebih tinggi

dibandingkan dengan konsumsi. Dalam hal ini produksi daging domba yang

meningkat dalam negeri dapat mencukupi konsumsi daging domba. Keadaan

produksi daging domba 2011 lebih tinggi di bandingkan dengan konsumsi daging

domba berarti hipotesis 2ditolak.

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2012 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging domba pada tahun

2012. Besar defisit produksi daging domba sebesar 11,03 Ton dengan rasio antara

produksi daging domba dan konsumsi daging domba adalah sebesar 0,99(1:1,01)

(33)

dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging domba dalam negeri perlu

lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging domba 2012 lebih tinggi di

bandingkan dengan produksi daging domba berarti hipotesis 2diterima.

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2013 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging domba pada tahun

2013. Besar defisit produksi daging domba sebesar 12,97 Ton dengan rasio antara

produksi daging domba dan konsumsi daging domba adalah sebesar 0,99(1:1,01)

atau < 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2013konsumsi lebih tinggi

dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging domba dalam negeri perlu

lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging domba 2013 lebih tinggi di

bandingkan dengan produksi daging domba berarti hipotesis 2diterima.

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2014 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging domba pada tahun

2014. Besar defisit produksi daging domba sebesar 40,57 Ton dengan rasio antara

produksi daging domba dan konsumsi daging domba adalah sebesar 0,97(1:1,02)

atau < 1 ini menunjukkan bahwa pada tahun 2014konsumsi lebih tinggi

dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging domba dalam negeri perlu

lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging domba 2014 lebih tinggi di

bandingkan dengan produksi daging domba berarti hipotesis 2diterima.

Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa pada tahun 2015 nilai dari

konsumsi lebih besar dibandingkan nilai dari produksi daging domba pada tahun

2015. Besar defisit produksi daging domba sebesar 61,11 Ton dengan rasio antara

produksi daging domba dan konsumsi daging domba adalah sebesar 0,96(1:1,03)

(34)

dibandingkan produksi. Dalam hal ini produksi daging domba dalam negeri perlu

lebih ditingkatkan. Keadaan konsumsi daging domba 2015 lebih tinggi di

bandingkan dengan produksi daging domba berarti hipotesis 2diterima.

Gambar 5.4. Total Produksi dan Konsumsi Daging Domba Provinsi SumateraUtara Tahun 2006-2015

Berdasarkan Gambar 5.3 dapat dilihat bahwa, produksi dan konsumsi

daging kambing mengalami peningkatan setiap tahunnya. Akan tetapi walaupun

produksi terus meningkat jika dilihat secara keseluruhan bahwa produksi daging

kambing tidak dapat memenuhi konsumsi daging kambing. Pada tahun 2006-2015

total defisit produksi daging domba sebesar 146,45 Ton dengan rasio antara

produksi daging domba dengan konsumsi daging domba adalah sebesar

0,98(1:1,01) ini menunjukkan bahwa Keadaan produksi daging domba tahun

2006-1015 lebih kecil dari konsumsi daging domba yang berarti hipotesis 2

diterima.

5.3. Analisis Forecasting Produksi dan Konsumsi Daging Kambing dan Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

0 500 1000 1500 2000 2500

2006200720082009201020112012201320142015

Produksi Daging Domba

(35)

5.3.1. Analisis Forecasting Produksi Daging Kambing Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Analisis Forecasting produksi daging kambing Provinsi Sumatera Utara

tahun 2017-2026 diperoleh dengan melakukan melalui Trend (Gerak Jangka

Panjang) dengan menggunakan Least SquaresMethod (metode kuadrat terkecil)

melalui program SPSS yang menggunakan Regresi Linier Sederhana, dengan

menggunakan data produksi daging kambing Provinsi Sumatera Utara tahun

2006-2015, diperoleh persamaan trend(lampiran 9):

Qi

Tahun

= 2995,196 + 145,696 x

Dari persamaan yang diperoleh maka dapat diketahui produksi daging

kambing untuk tahun 2017-2026 dengan menggantikan nilai x di persamaan

dengan nilai x yang telah di tentukan untuk tahun tersebut. Persamaan yang

diperoleh menunjukkan adanya trend meningkat, setiap tahun terjadi peningkatan

produksi daging kambing sebesar 145,696 ton.

Tabel 5.5. Total Proyeksi Produksi Daging Kambing Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Produksi Daging Kambing (Ton)

2017 4.015,06

Sumber: Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Peternakan Sumut diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 5.5 dari hasil proyeksi produksi daging kambing pada

tahun 2017-2026 setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar 145,696 Ton.

Dimana pada tahun 2017 proyeksi produksi daging kambing diperkirakan yaitu

(36)

Diperkirakan besarnya peningkatan produksi dari tahun 2017-2026 adalah sebesar

1.131,27 ton.

Kondisi produksi daging kambing Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat

pada Gambar 5.5.

Gambar 5.5. Grafik Produksi Daging Kambing Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Berdasarkan Gambar 5.5 dapat diketahui bahwa produksi daging kambing

untuk tahun 2017-2026 di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan grafik yang

meningkat. Garis trend untuk produksi memiliki nilai positif yang artinya Provinsi

Sumatera Utara masih memiliki produksi daging kambing. Hasil analisis

forecasting produksi daging kambing di Provinsi Sumatera Utara untuk tahun

2017-2026 mengalami peningkatan atau memiliki trend positif yang berarti

hipotesis 3 (a) diterima.

5.3.2Analisis ForecastingKonsumsiDaging Kambing Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Analisis Forecasting konsumsi Daging Kambing Provinsi Sumatera Utara

tahun 2017-2026 diperoleh melalui Trend (Gerak Jangka Panjang) dengan

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000

2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026

(37)

SPSS yang menggunakan Regresi Linier Sederhana, dengan menggunakan data

konsumsi daging kambing Provinsi Sumatera Utara tahun 2006-2015, diperoleh

persamaan trend(lampiran 10):

Qj

Tahun

= 3.045,908 + 129,569 x

Dari persamaan yang diperoleh maka dapat diketahui konsumsi daging

kambing untuk tahun 2017-2026 dengan menggantikan nilai x di persamaan

dengan nilai x yang telah di tentukan untuk tahun tersebut. Persamaan yang

diperoleh menunjukkan adanya trend menaik, setiap tahun terjadi peningkatan

konsumsi daging kambing sebesar 129,569 Ton.

Tabel 5.6. Total ProyeksiKonsumsiDaging Kambing Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Konsumsi Daging Kambing (Ton)

2017 3.952,89

Sumber:Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Peternakan Sumut diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 5.6 dari hasil proyeksi konsumsi daging kambing pada

tahun 2017-2026 setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar 129,569 Ton.

Dimana pada tahun 2017 proyeksi konsumsi daging kambing yaitu sebesar

3.952,89 Ton dan pada tahun 2026 yaitu sebesar 5.119,01 Ton. Besarnya

peningkatan konsumsi dari tahun 2017-2026 adalah sebesar 1.166,12 Ton.

Kondisi konsumsi daging kambing Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat

(38)

Gambar 5.6. Grafik Konsumsi Daging Kambing Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Berdasarkan Gambar 5.6 dapat diketahui bahwa konsumsi daging kambing

untuk tahun 2017-2026 di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan grafik yang

menaik. Hasil analisis forecasting konsumsi daging kambing di Provinsi Sumatera

Utara untuk tahun 2017-2026 mengalami peningkatan atau memiliki trend positif

yang berarti hipotesis 3 (b) diterima.

Untuk melihat kondisi produksi dan konsumsi daging kambing di Provinsi

Sumatera Utara pada tahun 2017-2026 dapat dilihat pada Gambar 5.7 dengan

menggabungkan grafik produksi daging kambing dengan grafik konsumsi daging

kambing yang telah di dapat sebelumnya.

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000

2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026

(39)

Gambar 5.7. Grafik Produksi dan Konsumsi Daging Kambing Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Berdasarkan Gambar 5.7 dapat diketahui bahwa pada tahun 2017-2026

produksi daging kambing menunjukkan grafik yang lebih tinggi dibandingkan

dengan konsumsi daging kambing Provinsi Sumatera Utara. Perbedaan antara

produksi dan konsumsi daging kambing sangatlah tipis. Keadaan ini menunjukkan

bahwa produksi daging kambing dari tahun ke tahun semakin membaik sehingga

pada tahun 2017-2026 produksi daging kambing dapat menutupi konsumsi daging

kambing Provinsi Sumatera Utara.

5.3.3. Analisis Forecasting Produksi Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Analisis Forecasting produksi daging domba Provinsi Sumatera Utara

tahun 2017-2026 diperoleh melalui Trend (Gerak Jangka Panjang) dengan

menggunakan Least SquaresMethod (metode kuadrat terkecil) melalui program

SPSS yang menggunakan Regresi Linier Sederhana, dengan menggunakan data 0

1000 2000 3000 4000 5000 6000

Produksi Daging Kambing

(40)

produksi daging domba Provinsi Sumatera Utara tahun 2006-2015, diperoleh

persamaan trend(lampiran 19):

Qi

Tahun

= 1563,114 + 79,464 x

Dari persamaan yang diperoleh maka dapat diketahui produksi daging

domba untuk tahun 2017-2026 dengan menggantikan nilai x di persamaan dengan

nilai x yang telah di tentukan untuk tahun tersebut. Persamaan yang diperoleh

menunjukkan adanya trend meningkat, setiap tahun terjadi peningkatan produksi

daging domba sebesar 79,464 ton.

Tabel 5.7. Total Proyeksi Produksi Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Produksi Daging Domba (Ton)

2017 2.119,36

Sumber: Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Peternakan Sumut diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 5.7 dari hasil proyeksi produksi daging kambing pada

tahun 2017-2026 setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar 79,464 Ton.

Dimana pada tahun 2017 proyeksi produksi daging domba diperkirakan yaitu

sebesar 2.119,36 Ton dan diperkirakan pada tahun 2026 yaitu sebesar 2.834,53

ton. Diperkirakan besarnya peningkatan produksi dari tahun 2017-2026 adalah

sebesar 715,17 ton.

Kondisi produksi daging domba Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat

(41)

Gambar 5.8. Grafik Produksi Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Berdasarkan Gambar 5.8 dapat diketahui bahwa produksi daging domba

untuk tahun 2017-2026 di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan grafik yang

meningkat. Garis trend untuk produksi memiliki nilai positif yang artinya Provinsi

Sumatera Utara masih memiliki produksi daging domba. Hasil analisis forecasting

produksi daging domba di Provinsi Sumatera Utara untuk tahun 2017-2026

mengalami peningkatan atau memiliki trend positif yang berarti hipotesis 4 (a)

diterima.

5.3.4.Analisis Forecasting KonsumsiDaging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Analisis Forecasting konsumsi Daging Domba Provinsi Sumatera Utara

tahun 2017-2026 diperoleh melalui Trend (Gerak Jangka Panjang) dengan

menggunakan Least SquaresMethod (metode kuadrat terkecil) melalui program

SPSS yang menggunakan Regresi Linier Sederhana, dengan menggunakan data 0

500 1000 1500 2000 2500 3000

2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026

(42)

konsumsi daging domba Provinsi Sumatera Utara tahun 2006-2015, diperoleh

persamaan trend(lampiran 20):

Qj

Tahun

= 1.577,759 + 81,682 x

Dari persamaan yang diperoleh maka dapat diketahui konsumsi daging

domba untuk tahun 2017-2026 dengan menggantikan nilai x di persamaan dengan

nilai x yang telah di tentukan untuk tahun tersebut. Persamaan yang diperoleh

menunjukkan adanya trend menaik, setiap tahun terjadi peningkatan konsumsi

daging domba sebesar 81,682 ton.

Tabel 5.8. Total ProyeksiKonsumsiDaging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Konsumsi Daging Domba (Ton)

2017 2.149,53

2018 2.231,21

2019 2.312.89

2020 2.394,57

2021 2.476,26

2022 2.557,94

2023 2.639,62

2024 2.721,30

2025 2.802,98

2026 2.884,67

Sumber: Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Peternakan Sumut diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 5.8 dari hasil proyeksi konsumsi daging domba pada

tahun 2017-2026 setiap tahunnya mengalami peningkatan sebesar 81,682 Ton.

(43)

Ton dan pada tahun 2026 yaitu sebesar 2.884,67 Ton. Besarnya peningkatan

konsumsi dari tahun 2017-2026 adalah sebesar 735,14 Ton.

Kondisi konsumsi daging domba Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat

pada Gambar 5.9.

Gambar 5.9. Grafik Konsumsi Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Berdasarkan Gambar 5.9 dapat diketahui bahwa konsumsi daging domba

untuk tahun 2017-2026 di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan grafik yang

menaik. Hasil analisis forecasting konsumsi daging domba di Provinsi Sumatera

Utara untuk tahun 2017-2026 mengalami peningkatan atau memiliki trend positif

yang berarti hipotesis 4 (b) diterima.

Untuk melihat kondisi produksi dan konsumsi daging domba di Provinsi

Sumatera Utara pada tahun 2017-2026 dapat dilihat pada Gambar 5.10 dengan

menggabungkan grafik produksi daging domba dengan grafik konsumsi daging

domba yang telah di dapat sebelumnya.

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500

(44)

Gambar 5.10. Grafik Produksi dan Konsumsi Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017-2026

Berdasarkan Gambar 5.10 dapat diketahui bahwa pada tahun 2017-2026

konsumsi daging domba menunjukkan grafik yang lebih tinggi dibandingkan

dengan produksi daging domba Provinsi Sumatera Utara. Perbedaan antara

produksi dan konsumsi daging domba sangatlah tipis. Keadaan ini menunjukkan

bahwa akibat produksi yang lebih rendah dari pada konsumsi daging domba maka

dapat dikatakan produksi tidak dapat mencukupi konsumsi daging domba di

Provinsi Sumatera Utara.

Tabel 5.9. Produksi dan Konsumsi Daging Kambing dan Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2026

(45)

Lanjutan

Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Peternakan Sumut diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 5.9 dapat dilihat bahwa, peningkatan produksi pada

tahun 2006-2026 produksi daging kambing terus meningkat setiap tahunnya yang

mana jika pada tahun 2006-2015 produksi tidak dapat menutupi konsumsi daging

kambing akan tetapi pada tahun 2017-2026 produksi sangat mencukupi kebutuhan

konsumsi daging kambing. Keadaan ini disebabkan oleh ternak kambing memiliki

kelebihan tersendiri dibandingkan dengan ternak sapi maupun ternak lainnya. Hal

ini berdasarkan pada keadaan alam yang baik dan keadaan sosial budaya yang

sangat mendukung Selain itu, pada masyarakat juga terdapat berbagai ragam

budaya yang dapat memberikan kontribusi terhadap pangsa pasar kambing,

misalnya menyembelih kambing untuk acara hajatan baik pernikahan atau

khitanan. Ternak kambing telah terbukti menjadi salah satu pilihan masyarakat

akan kebutuhan daging ternak, jenis ternak ini juga sudah dikenal masyarakat

untuk menjadi hewan peliharaan sebagian rakyat peternak khususnya di tingkat

pedesaan. Mengembangkan usaha ternak kambing secara otomatis akan membuka

jalan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagai salah satu komoditas

(46)

dikembangkan. Sedangkan produksi dari pada daging domba belum memenuhi

konsumsi daging domba walaupun produksi daging domba terus meningkat tiap

tahunnya pada tahun 2006-2026. Hal ini disebabkan oleh domba kurangnya minat

masyarakat pada daging domba jika dibandingkan dengan daging kambing

sehingga berkurangnya peternak dalam memelihara domba, sehingga produksi

lebih rendah dan tidak mencukupi konsumsi daging domba.

Untuk terus meningkatkan produksi daging kambing dan daging domba

alternatif yang dapat dilakukan pemerintah salah satunya yaitu adanya keseriusan

pemerintah Sumatera Utara dalam meningkatkan produksi daging kambing dan

daging domba. Yaitu salah satunya dengan menambah jumlah ternak kambing dan

domba secara cepat baik dari inseminasi buatan ataupun dengan membeli

kambing dan domba impor yang diharapkan nantinya akan meningkatkan

produksi daging kambing dan daging domba. Dengan penambahan jumlah ternak

kambing dan domba berarti juga pemerintah harus menambah sarana dan

prasarana, pemeliharaan kambing dan domba yang intensif. Sehingga pemerintah

harus melakukan investasi kambing dan domba demi tercapainya produksi daging

kambing dan daging domba yang tinggi. Pemerintah juga harus melakukan

sosialisasi kepada peternak kambing dan domba agar dapat melakukan

pemeliharaan dengan baik sehingga produksi daging kambing dan daging domba

tinggi. Lahan Sumatera Utara yang potensial untuk dijadikan peternakan kambing

harus dimanfaatkan karena iklimya sangat mendukung untuk dijadikan peternakan

kambing, akan tetapi sedikit sulit untuk ditemukan lahan potensial untuk domba.

Jika produksi daging kambing dan daging domba terus dapat terpenuhi tanpa

(47)

menurut masyarakat mahal akan menjadi lebih murah karena produksi daging

kambing dan daging domba yang surplus sehingga masyarakat tidak perlu

mengeluarkan uang yang banyak untuk mengkonsumsi daging kambing dan

daging domba. Dengan begitu konsumsi daging kambing dan daging domba akan

terus meningkat dan gizi masyarakat akan terpenuhi serta menjadikan anak-anak

Indonesia yang sehat dan cerdas.

Sebagai salah satu direktorat teknis di lingkup Departemen Pertanian,

Direktorat Jenderal Peternakan menetapkan visi: pembangunan peternakan untuk

menjadi yang profesional dalam mewujudkan peternakan berbasis sumber daya

lokal, berdaya saing dan berkelanjutan untuk mencukupi pangan hewani dan

meningkatkan kesejahteraan peternak. Misi meliputi: (1) menyelenggarakan dan

menggerakkan pengembangan: perbibitan, budidaya ternak ruminansia, budidaya

ternak non-ruminansia, kesehatan hewan, dan kesehatan masyarakat veteriner; (2)

merumuskan dan melaksanakan kebijakan bidang peternakan; serta (3)

meningkatkan profesionalisme dan integritas dalam penyelenggaraan administrasi

publik. Tujuan umum pembangunan peternakan adalah meningkatkan kualitas

kebijakan dan program yang mengarah pada pemanfaatan sumber daya lokal

untuk membangun peternakan yang berdaya saing dan berkelanjutan serta

membangun sistem peternakan nasional yang mampu memenuhi kebutuhan

terhadap produk peternakan dan mensejahterakan peternak (Bahri, 2008).

Menurut Farid (2011), beberapa kebijakan pemerintah yang terkait dengan

pengembangan ternak kambing dan domba dan implementasinya masih perlu

dioptimalkan antara lain adalah: a.Undang-undang N0.18 Tahun 2009 Tentang

(48)

Pasal 35, mengamanatkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar

memfasilitasi pengembangan unit pasca panen produk hewan berskala kecil dan

menengah. 2) Pasal 37, menyatakan pemerintah membina terselenggaranya

kemitraan yang sehat antara industri pengolahan dan peternak dan/atau koperasi

yang menghasilkan produk hewan yang digunakan sebagai bahan baku industri.

3)Pasal 59, menyatakan bahwa untuk memasukkan produk hewan ke Indonesia

wajib memperoleh izin pemasukan dari menteri terkait di bidang perdagangan

setelah memperoleh rekomendasi: untuk produk hewan segar dari menteri dan

produk hewan olahan dari pimpinan instansi yang bertanggung jawab di bidang

pengawasan obat dan makanan dan/atau menteri. 4) Pasal 60, pemerintah daerah

memberikan nomor control veteriner dan melakukan pembinaan, sedangkan pada

pasal 62. pemerintah daerah wajib memiliki rumah potong hewan yang memenuhi

persyaratan teknis. b.Peraturan Presiden RI N0 62 Tahun 2008 tentang Perubahan

atas Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak

Penghasilan untuk Penanaman Modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di

daerah tertentu.

Untuk melihat kondisi produksi dan konsumsi daging kambing dan daging

domba di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2006-2026 dapat dilihat pada

Gambar 5.11 dengan menggabungkan grafik produksi daging kambing dan daging

domba dengan grafik konsumsi daging kambing dan daging domba yang telah di

(49)

Gambar 5.11. Grafik Produksi dan Konsumsi Daging Kambing dan Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2026

Berdasarkan Gambar 5.11 dapat diketahui bahwa, pada tahun 2017-2026

produksi daging kambing menunjukkan grafik yang lebih tinggi dibandingkan

dengan konsumsi daging kambing Provinsi Sumatera Utara. Perbedaan antara

produksi dan konsumsi daging kambing sangatlah tipis. Keadaan ini menunjukkan

bahwa produksi daging kambing dari tahun ke tahun semakin membaik sehingga

pada tahun 2017-2026 produksi daging kambing dapat menutupi konsumsi daging

kambing Provinsi Sumatera Utara. Walaupun produksi daging kambing pada

tahun 2006-2015 belum dapat mencukupi konsumsi daging kambing. Keadaam ini

menyebabkan pada tahun 2017-2026 dapat terjadi swasembada daging kambing.

Sedangkan pada daging domba pada tahun 2006-2026 konsumsi daging domba

menunjukkan grafik lebih tinggi dibandingkan dengan produksi daging domba.

Akan tetapi baik produksi atau pun konsumsi daging domba tahun 2006-2026

sama-sama mengalami peningkatan walaupun produksi belum dapat mencukupi

dari pada konsumsi daging domba. Keadaan ini menyebabkan pada tahun

2006-0

2006 2008 2010 2012 2014 2017 2019 2021 2023 2025

Produksi Daging Kambing

Konsumsi Daging Kambing

ProduksI Daging Domba

(50)

2026 tidak dapat terlaksananya swasembada daging. Dalam hal ini pemerintah

seharusnya berperan penting agar dapat meningkatkan produksi daging domba

(51)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa pada tahun 2006-2015 di

Provinsi Sumatera Utara, produksi daging kambing dan daging domba

mengalami trend positif dan untuk konsumsi daging kambing dan daging

domba juga mengalami trend positif.

2. Pada tahun 2006-2015 di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan konsumsi

daging kambing dan daging domba lebih besar dari produksi daging kambing

dan daging domba Provinsi Sumatera Utara.

3. Untuk tahun 2017-2026 di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan bahwa hasil

analisis forecasting produksi daging kambing dan daging domba mengalami

trend positif dan hasil analisis forecasting konsumsi daging kambing dan

daging domba mengalami trend positif dengan perbedaan tipis antara hasil

analisis forecasting produksi dan konsumsi daging kambing dan daging

domba Provinsi Sumatera Utara dan swasembada daging kambing dapat

terlaksana sedangkan daging domba tidak dapat terlaksana.

6.2. Saran

Saran yang dapat disampaikan setelah dilakukkannya penelitian ini adalah:

1. Kepada pemerintah dan lembaga-lembaga yang terkait diharapkan agar dapat

membuat suatu kebijakan agar produksi daging kambing dan daging domba

(52)

2. Diharapkan kepada peternak agar lebih meningkatkan produksi daging

kambing dan daging domba untuk dapat selalu memenuhi kebutuhan

konsumsi daging kambing dan daging domba.

3. Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar dapat meneliti bagaimana

produksi dan konsumsi terhadap ternak lainnya seperti daging ayam, daging

itik, daging kerbau, daging kuda, daging babi dan lain sebagainya agar dapat

diketahui bagaimana ketersediaan ternak untuk memenuhi kebutuhan

Gambar

Tabel. 4.1.
Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten/Kota Tahun 2010-2015
Tabel 4.3. Produksi Daging Kambing dan Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015
Tabel 4.4. Konsumsi Daging Kambing dan Daging Domba Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2015
+7

Referensi

Dokumen terkait

Variasi hasil setelah konsumsi sate daging kambing dapat dilihat pada Tabel 2 Hasil uji wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan tekanan darah rata-rata antara

Pada 2001 terdapat defisit produksi kedelai sebesar 29.369 ton dengan rasio antara produksi kedelai dengan konsumsi kedelai adalah sebesar 0,26 atau 1:3,37 yang

Daging kambing memiliki kandungan lemak total, kolesterol, lemak jenuh (saturated fat) yang lebih rendah jika dibandingkan dengan daging lain

Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi daging domba, digunakan variabel terikat jumlah konsumsi daging dombadi Provinsi Sumatera Utara dan

Kambing Sapera memproduksi susu lebih tinggi dari kambing AN dan PE, namun kambing AN mempunyai kadar lemak lebih tinggi dibandingkan dengan kambing Sapera dan

Kadar lemak daging kambing PB kastrasi cenderung lebih tinggi bila dibandingkan dengan kambing PE jantan, tetapi menurut hasil uji statistik uji t tidak

Nilai gizi daging pada umumnya tidak berbeda nyata kecuali kadar air dari potongan karkas domba lokal jantan adalah nyata (P&lt;0,05) lebih tinggi persentasenya dibandingkan

Selain itu, hasil analisis Forecasting menunjukkan tren hasil proyeksi kebutuhan akan konsumsi komoditas beras di Propinsi Sumatera Utara pada tahun 2020- 2024 mengalami trend positif