Makalah dan Kewajiban Warga Negara
Kesatuan Republik Indonesia
Disusun oleh:
Annisa Hayu Sekar Pertiwi
F0317013
Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2018
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah Hak dan Kewajiban Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan baik dan lancar .
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Pendidikan Kewarganegaraan serta membantu mengembangkan kemampuan pemahaman pembaca terhadap Hak dan Kewajiban Warga Negara dan contoh hak yang telah didapat warga negara serta kewajiban apa yang belum dilaksanakan oleh warga negara. Pemahaman tersebut dapat dipahami melalui pendahuluan , pembahasan masalah , serta penarikan garis kesimpulan dalam makalah ini .
Makalah Hak dan Kewajiban Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia ini disajikan dalam konsep dan bahasa yang sederhana sehingga dapat membantu pembaca dalam memahami makalah ini . Dengan makalah ini , diharapkan pembaca dapat memahami mengenai hak dan kewajiban warga negara dan contoh hak yang telah didapat warga negara serta kewajiban apa yang belum dilaksanakan oleh warga negara.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Dosen mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, Ibu Dr. Triana Rejekiningsih, SH, KN, MPdyang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berkarya menyusun makalah Hak dan Kewajiban Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia .
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca . Saran dan kritik sangat penulis harapkan dari seluruh pihak dalam proses membangun mutu makalah ini .
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...i
Daftar Isi...ii
Pendahuluan...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...2
1.3 Tujuan Penulisan...2
Landasan Teori...3
2.1 Pengertian Hak...3
2.2 Pengertian Kewajiban...4
2.3 Pengertian Warga Negara...5
2.4 Pengertian NKRI...6
Pembahasan...8
3.1 Pengertian Hak, Kewajiban, dan Warga Negara...8
3.2 Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia...9
3.3 Hak yang Telah Diberikan Pemerintah Untuk Warga Negara ...12
3.4 Kewajiban yang Belum Dilaksanakan Sepenuhnya Oleh Warga Negara..21
Penutup...23
4.1 Kesimpulan...23
4.2 Saran...24
Daftar Pustaka 25
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan suatu negara yang demokratis tentunya mempunyai elemen, seperti masyarakat. Negara memiliki hak dan kewajiban bagi warga negaranya begitu pula dengan warga negara juga memiliki hak dan kewajiban terhadap Negaranya. Hak dan kewajiban merupakan suatu hal yang terikat satu sama lain, sehingga dalam praktiknya harus dijalankan dengan seimbang. Hak adalah suatu yang melekat pada setiap manusia yang menjadi milik kita sebagai anugerah dari Tuhan, sedangkan kewajiban adalah segala sesuatu yang harus dilakukan atau dilaksanakan oleh masing-masing individu sehingga bisa mendapatkan haknya secara fisik. Jika hak dan kewajiban hanya dijalankan salah satu saja, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Hak dan kewajiban warga negara telah diatur dalam UUD 1945. Tetapi, masih banyak terjadi permasalahan dalam hal pelaksanaan maupun penerapan hak dan kewajiban di lingkup masyarakat Indonesia. Sejatinya, kita sering menuntut hak namun melupakan kewajiban yang harusnya dijalani. Oleh karena itu, sebagai warga negara yang bermoral harus menegakkan hak dan kewajiban secara seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, rasa keadilan akan lebih terasa di dalam kehidupan ini.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, sebagai berikut:
1. Apa pengertian hak, kewajiban dan warga negara?
2. Bagaimana keterkaitan antara hak dan kewajiban sebagai warga negara?
3. Hak apa yang telah diperoleh warga negara dari pemerintah?
4. Kewajiban apa yang belum dilaksanakan sepenuhnya oleh warga negara?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini agar dapat memahami pembahasan dari rumusan masalah dalam makalah ini. Adapun tujuan penulisan makalah, sebagai berikut:
1. Memahami pengertian dari hak, kewajiban, dan warga negara.
2. Memahami keterkaitan antara hak dan kewajiban sebagai warga negara.
3. Mengetahui hak apa yang telah diperoleh warga negara yang telah diberikan pemerintah
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Hak
Hak adalah segala sesuatu yang memang harus didapatkan (mutlak) oleh setiap manusia sejak ia diciptakandan penggunaannya tergantung kepada kita sendiri.
Menurut Prof. Dr. Notonagoro mendefinisikannya sebagai berikut: “Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang semestinya diterima atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak dapat oleh pihak lain manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya.
Menurut Sudikno Hak dibagi menjadi dua yaitu:
a. Hak Absolut (absolute rechten, onpersoonlijke rechten).Hak absolut adalah hubungan hukum antara subyek hukum dengan obyek hukum yang menimbulkan kewajiban pada setiap orang lain untuk menghormati hubungan hukum itu. Hak absolut memberi wewenang bagi pemegangnya untuk berbuat atau tidak berbuat, yang pada dasarnya dapat dilaksanakan terhadap siapa saja dan melibatkan setiap orang. Isi hak absolut ini ditentukan oleh kewenangan pemegang hak. Kalau ada hak absolut pada seseorang maka ada kewajiban bagi setiap orang lain untuk menghormati dan menanggungnya. Pada hak absolut pihak ketiga berkepentingan untuk mengetahui eksistensinya sehingga memerlukan publisitas. Hak absolut terdiri dari hak absolut yang bersifat kebendaan dan hak absolut yang tidak bersifat kebendaan. Hak absolut yang bersifat kebendaan meliputi hak kenikmatan (hak milik, hak guna bangunan dan sebagainya) dan hak jaminan.
Menurut Soerjono Soekanto:
a. Hak searah atau relatif, muncul dalam hukum perikatan atau perjanjian. Misal hak menagih atau melunasi prestasi.
b. Hak jamak arah atau absolut, terdiri dari :
Hak dalam HTN (Hukum Tata Negara) pada penguasa menagih pajak, pada warga hak asasi
Hak kepribadian, hak atas kehidupan, hak tubuh, hak kehormatan dan kebebasan;
Hak kekeluargaan, hak suami istri, hak orang tua, hak anak
Hak atas objek imateriel, hak cipta, merek dan paten.
2.2 Pengertian Kewajiban
Wajib adalah beban untuk memberikan sesuatu yang semestinya dibiarkan atau diberikan melulu oleh pihak tertentu tidak dapat oleh pihak lain manapun yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa oleh yang berkepentingan (Prof. Dr. Notonagoro). Sedangkan Kewajiban adalah Sesuatu yang harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.
Pengertian kewajiban lainnya adalah:
a. Kewajiban mutlak, tertuju kepada diri sendiri maka tidak berapsangan dengan hak dan melibatkan hak di pihak lain
b. Kewajiban publik, dalam hukum publik ialah wajib mematuhi hak publik dan kewajiban pardata timbul dari perjanjian berkolerasi dengan hak perdata
d. Kewajiban universal atau umum ditujukan ke semua warga negara atau umum , ditujukan kepada golongan tertentu dan kewajiban khusus, timbul dari bidang hukum tertentu, perjanjian;
e. Kewajiban primer, tidak timbul dari perbuatan ,melawan hukum, misal kewawjiban untuk tidak mencemarkan nama baik dan kewajiban yang bersifat memberi sanksi, timbul dari perbuatan melawan hukum misal membayar kerugian dalam hukum perdata.
2.3 Pengertian Warga Negara
Warga Negara adalah penduduk yang sepenuhnya dapat diatur oleh Pemerintah Negara tersebut dan mengakui Pemerintahnya sendiri. Adapun pengertian penduduk menurut Kansil adalah mereka yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh peraturan negara yang bersangkutan, diperkenankan mempunyai tempat tinggal pokok (domisili) dalam wilayah negara itu.
Menurut Koerniatmanto S, warga negara merupakan anggota negara yang mempunyai kedudukan khusus terhadap negaranya, mempunyai hubungan hak & kewajiban yang bersifat timbal-balik terhadap negaranya.
Menurut A.S. Hikam, mengungkapka bahwa warga negara merupakan terjemahan dari “citizenship” yaitu merupakan anggota dari sebuah kelompok atau komunitas yang membentuk negara itu sendiri. Menggunakan istilah tersebut menurutnya lebih pas & lebih berarti daripada kawula negara yang artinya objek atau orang- orang yang dimiliki negara & mengabdi kepada pemiliknya (Negara).
Menurut Ko Swaw Sik ( 1957 ), mengungkapkan bahwa Kewarganegaraan merupakan ikatan hukm antara Negara & seseorang. Dan ikatan itu menjadi suatu “kontrak politis” antara Negara yang mndapat status sebagai Negara yang berdaulat & diakui karena memliki tata Negara. Kewarganegaraan juga merupakan bagian dari konsep kewargaan. Dan didalam pengertian ini, warga suatu kota atau kapubaten disebut juga sebagai warga kota atau warga kabupaten, karena keduanya juga merupakan satuan politik. Dalam otonomi daerah, kewargaan ini menjadi penting, karena msing-masing satuan politik akn memberikan hak (biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi warganya
2.4 Pengertian NKRI
NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah bentuk negara yang terdiri dari banyak wilayah / kepulauan yang tersebar dengan keanekaragaman adat, suku, budaya, dan keyakinan, yang memiliki tujuan dasar menjadi banggsa yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur dengan pemeintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Hak, Kewajiban, dan Warga Negara
Hak merupakan sesuatu hal yang pantas dan mutlak untuk didapatkan oleh individu sebagai anggota warga negara sejak masih berada dalam kandungan . Hak pada umumnya didapat dengan cara diperjuangkan melalui pertanggungjawaban atas kewajiban.
Kewajiban adalah segala sesuatu yang dianggap sebagai suatu keharusan / kewajiban untuk dilaksanakan oleh individu sebagai anggota warga negara guna mendapatkan hak yang pantas untuk didapat . Kewajiban pada umumnya mengarah pada suatu keharusan / kewajiban bagi individu dalam melaksanakan peran sebagai anggota warga negara guna mendapat pengakuan akan hak yang sesuai dengan pelaksanaan kewajiban tersebut.
Jadi antara hak dan kewajiban itu saling berhubungan satu sama lain, sebab seseorang tidak akan mendapat haknya tanpa melakukan kewajiban yang sudah di tentukan, begitu juga sebaliknya setiap kewajiban yang telah dikerjakan pasti hak selalu mengikutinya. Contoh yang sederhana “seseorang yang bekerja di suatu perusahan, mereka memberikan tenaganya dan melaksanakn tugas yang sudah ditentukan, lalu pada saat tertentu mereka akan mendapatkan gaji”.
3.2 Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia
Hak dan kewajiban merupakan hal yang memiliki keterkaitan yang sulit dipisahkan. Untuk mencapai keseimbangan antar hak dan kewajiban, kita perlu tahu posisi kita masing-masing. Hak warga negara adalah hak yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sedangkan, kewajiban negara adalah melakukan suatu kewajiban atau perintah kita sesuai dengan hukum yang berlaku dan berdasarkan UUD 1945. Sejatinya, kita sering menuntut hak namun melupakan sebuah kewajiban kita. Jika hak dan kewajiban telah terpenuhi dan dilaksanakan dengan baik, maka akan tercipta kehidupan yang harmonis, nyaman, tentram dan sejahtera. Apabila hak dan kewajiban tidak seimbang dalam pelaksanannya akan menimbulkan perselisihan dan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain.
Oleh karena itu, kita sebagai warga negara yang baik harus menegakkan hak dan kewajiban dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita telah melaksanakannya dengan baik, kita boleh menuntut hak kita sebagai warga negara kepada pemerintah. Dengan begitu, rasa keadilan akan lebih terasa di tengah kehidupan yang rumit ini.
Hak dan kewajiban manusia sebagai warga negara tercantum dalam undang-undang dasar 1945 sebagai berikut :
Hak Warga Negara Indonesia
1. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (pasal 27 ayat 2).
2. Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dalam kehidupannya (pasal 28A).
3. Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah (pasal 28B ayat 1).
5. Setiap orang berhaak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya, dan demi kesejahteraan umat manusia (pasal 28C ayat 1).
6. Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dengan memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya (pasal 28C ayat 2).
7. Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dimata hukum (pasal 28D ayat 1).
8. Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja (pasal 28D ayat 2).
9. Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan (pasal 28D ayat 3).
10. Setiap orang berhak atas status kewarganegaraannya (pasal 28D ayat 4).
11. Setiap orang berhak atas kbebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya (pasal 28E ayat 2).
12. Setiap orang beerhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat (pasal 28E ayat 3).
13. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia (pasal 28F).
14. Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi (pasal 28G ayat 1).
16. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan (pasal 28H ayat 1).
17. Setiap orang berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan (pasal 28H ayat 2).
18. Setiap orang berhak atas jaminana sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat (pasal 28H ayat 3).
19. Setiap orang berhak bebas mempunyai hak milik pribadi dab hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun (pasal 28H ayat 4).
20. Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu (pasal 28I ayat 2).
21. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lian dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (pasal 28J ayat 1).
22. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara (pasal 30 ayat 1).
23. Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran (pasal 31ayat 1).
Kewajiban Warga Negara Indonesia
1. Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintah dan wajib menjunjung hukum dan pemerintah itu dengan tidak ada pengecualian (pasal 27 ayat 1).
2. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (pasal 28J ayat 1).
agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis (pasal 28J ayat 2).
4. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara (pasal 30 ayat 1).
3.3 Hak yang Telah Diberikan Pemerintah Untuk Warga Negara
Salah satu hak yang telah diberikan oleh pemerintah kepada warga negara nya adalah setiap warga negara berhak memeluk dan menjalankan agama yang mereka percayai. Indonesia bukanlah negara yang menganut satu agama saja, di Indonesia ini ada berbagai macam agam dan kepercayaan. Kita sebagai Warga Negara Indonesia yang tinggal di Tanah Air ini diberi hak dan kebebesan untuk memeluk agama yang kita percayai seperti yang tertuang pada UUD 1945 pasal 28 E ayat 1 jika warga Indonesia memiliki hak untuk memeluk agama. Oleh karena itu tidak ada larangan tertentu kita memeluk agama atau kepercayaan yang ada di Indonesia.
Dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 2 sangat tegas disebutkan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.” Pasal ini merupakan bentuk perlindungan negara terhadap semua umat beragama di Indonesia. Pasal tersebut juga merupakan bentuk peneguhan dan penegasan bahwa Negara Indonesia didirikan bukan atas dasar satu negara saja, tetapi memberikan kedudukan yang sama bagi semua agama yang berkembang di Indonesia. Konsepsi satu untuk semua merupakan kesepakatan bersama para pendiri bangsa dengan melihat realitas kemajemukan bangsa.
Di Indonesia sendiri kebebasan beragama diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pemerintah secara resmi mengakui enam agama, dan beberapa larangan hukum terus berlaku terhadap beberapa jenis kegiatan keagamaan tertentu yang dianggap dapat menyinggung agama lain. Terdapat ciri atau bukti bahwa Indonesia telah memberikan warga negaranya atas hak untuk memilih dan memeluk agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing:
Ciri terpenting dari kemerdekaan beragama di Indonesia adalah setiap warga negara Indonesia bebas memeluk agama tertentu. Makna dari kebebasan beragama di Indonesia begitu besar. Karena dengan adanya kebebasan beragama, maka hal tersebut mengindikasikan bahwa salah satu hak asasi manusia telah ditegakkan. Kebebasan memeluk agama tersebut dijamin oleh Undang-Undang Dasar pasal 28E ayat (1) yang di dalamnya disebutkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk memeluk agama. Selain itu, pasal 28I ayat (1) UUD 1945 juga menjamin kebebasan beragama. Pasal tersebut mengatur bahwa hak beragama menjadi salah satu dari hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam situasi apapun. Maka dari itu, kebebasan memeluk agama ini tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.
Secara lebih khusus, UUD mengatur hal tentang kemerdekaan beragama dalam suatu bab khusus yaitu bab XI tentang Agama. Walaupun hanya terdiri dari satu pasal dengan dua ayat, namun bab ini secara jelas menjamin bahwa setiap orang bebas untuk memeluk agamanya masing-masing. Nantinya ayat kedua dari pasal ini mengamanatkan adanya pengaturan lebih lanjut dari penjaminan kebebasan beragama dalam suatu peraturan undang-undang tersendiri.
Salah satu peraturan perundangan yang dimaksud adalah undang-undang no. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dalam pasal 22 ayat 1 UU tersebut dijelaskan bahwa setiap warga negara Indonesia memiliki kebebasan untuk memeluk agama yang diingininya masing-masing. Maka dari itu, sangat jelas terasa adanya kebebasan memeluk agama di Indonesia dengan adanya begitu banyak peraturan yang menegaskan hal tersebut.
2. Kebebasan Beribadah Dijamin oleh Negara
ibadahnya, negara wajib menjamin dan melindungi kebebasan beribadah tersebut. Contoh nyata dari kegiatan peribadatan yang dilindungi oleh pemerintah yaitu adanya perlindungan dari pihak polisi RI yang menjaga kegiatan shalat idul fitri di masjid Istiqlal atau penjagaan petugas kepolisian ketika diadakannya misa natal di gereja.
Kebebasan melaksanakan kegiatan peribadatan bagi setiap warga negara ini sejatinya memang dijamin di dalam hukum tertinggi negara ini, yaitu UUD 1945. Dalam pasal 28E ayat (1), disebutkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk beribadah. Hak untuk melaksanakan kegiatan peribadatan ini juga termasuk ke dalam hak beragama yang diatur dalam pasal 28I ayat (1) UUD 1945. Selain itu, kebebasan untuk beribadah juga dilindungi dengan adanya pasal 29 ayat (2) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa negara mejamin kemerdekaan dari setiap warga negara untuk melaksanakan kegiatan ibadah sesuai menurut tuntutan dan tuntunan agama dan kepercayaan yang dianutnya itu. Hal yang sama juga disebutkan oleh pasal 22 ayat (2) UU No. 39 tahun 1999 tentang Perlindungan HAM. Maka dari itu, ketakutan untuk melaksanakan ibadah seharusnya tidak dimiliki siapapun yang menjadi rakyat negeri Indonesia. selain itu, dengan adanya begitu banyak peraturan perundang-undangan yang menjamin kita merdeka dalam melaksanakan kegiatan peribadatan agama, maka seharusnya kita melakukan ibadah agama kita itu dengan bersungguh-sungguh dan tetap dengan cara yang tidak bertentangan dengan aturan hukum atau mengganggu hak orang lain.
3. Setiap Orang Bebas untuk Memilih Agamanya
Peraturan perundang-undangan yang dimaksud salah satunya yaitu Undang-Undang No. 12 tahun 2005 yang mengatur tentang Pengesahan Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik. Dalam pasal 18 ayat (1) UU tersebut, disebutkan bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk berkeyakinan dan beragama. Hal yang dicakup dengan kebebasan tersebut di antaranya yaitu kebebasan untuk menetapkan kepercayaan atau agama sesuai dengan pilihannya sendiri. Dengan banyaknya peraturan perundang-undangan yang menjamin kebebasan seseorang untuk memilih agamanya ini, sudah seharusnya setiap jiwa rakyat Indonesia berani untuk menentukan agama apa yang hendak dipilih olehnya tanpa perlu takut terhadap adanya ancaman. Kemerdekaan ini sendiri menjadikan adanya satu kewajiban lain bagi segenap warga negara Indonesia, yaitu kita harus memilih untuk memeluk salah satu dari keenam agama resmi di Indonesia. tidak memiliki agama sama artinya dengan kita menentang salah satu nilai Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia.
4. Tidak Boleh Ada Paksaan dalam Beragama
Sejalan dengan ciri yang telah disebutkan sebelumnya, setiap diri rakyat Indonesia berhak memeluk dan memilih agamanya sendiri sesuai dengan tuntunan hati nuraninya. Ciri tersebut diikuti dengan adanya ciri lainnya, yaitu tidak boleh ada paksaan dalam kehidupan beragama. Tidak ada orang di dunia ini yang suka untuk dipaksa. Ketika terjadi paksaan, pastinya ada bagian dari diri orang itu yang ingin menentang dan melawan segala paksaan yang melanda dirinya. Sama halnya dengan urusan keagamaan, tidak diperbolehkan ada pihak yang memaksa agar seseorang masuk ke dalam agama tertentu. Tidak diperbolehkan ada pihak yang menentang keras ketika seseorang ingin berpindah ke agama lainnya. Ketika ada pihak yang memberikan paksaan kepada kita terkait urusan keagamaan, maka kita berhak untuk menolaknya dan melaporkannya kepada pihak yang berwajib.
paksaan dalam beragama, tetap saja di seantero wilayah Indonesia masih terjadi adanya pelarangan seseorang untuk pindah agama. Memang, kebanyakan orang memiliki agama dengan berdasarkan keturunan. Di sisi lain, bukan tidak mungkin jika ada orang yang ingin untuk berpindah agama setelah ia lebih dewasa.
Maka dari itu, ketika kita melihat ada seseorang yang hendak berpindah agama namun ia ditentang entah oleh keluarga, teman, atau lingkungannya, kita harus membantunya dengan menghubungkan ia ke kelompok agama yang hendak ia tuju. Setiap agama umumnya menyambut baik jika ada seseorang yang hendak bergabung menjadi pemeluk barunya.
5. Ketentuan Hukum Dapat Membatasi Penentuan dan Pelaksanaan Agama
Pancasila menjadikan sila yang terkait dengan hal agama, yaitu sila ketuhanan yang Maha Esa, sebagai sila pertama. Hal ini dikarenakan tuhan dan agama merupakan dasar dari segala bidang kehidupan. Maka dari itu, kebebasan untuk beragama, termasuk di dalamnya memilih agama dan menjalankan kegiatan peribadatan, menjadi sesuatu yang diatur dengan seksama dan keberadaannya dijamin serta dilindungi oleh tata urutan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun, kebebasan dalam hal beragama bukanlah suatu kebebasan yang mutlak. Ia bukan jenis kebebasan yang dapat kita lakukan dengan bebas tanpa aturan. Perlu kita ingat bersama bahwa di dalam demokrasi Pancasila, setiap kebebasan dapat dilakukan dengan tetap bertanggung jawab dan tidak mengganggu jalannya pelaksanaan hak dan kebebasan orang lain.
umat beragama yang tinggi di tengah masyarakat. Yang dimaksud dengan toleransi sendiri yaitu usaha untuk saling hormat menghormati perbedaan apa pun yang ada di lingkungan kita.
6. Pendidikan Keagamaan Harus Disesuaikan
Adanya kemerdekaan dalam hal beragama juga tentunya membawa kewajiban lainnya bagi pemerintah sang penyelenggara kedaulatan rakyat. Sebagai pemangku jabatan yang bertugas untuk mengatur berbagai aspek yang berkaitan dengan kehidupan rakyat, maka pemerintah juga harus bisa mengatur sedemikian rupa sumber daya yang dimiliki negara untuk sebesar-besar kepentingan rakyat. Dalam konteks bahasan kali ini, maka pemerintah harus pula dapat memenuhi kewajibannya dalam hal mengakomodasi kegiatan keagamaan khususnya yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan. Oleh karena adanya alasan inilah, UU Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik memaksa pemerintah suatu negara berjanji untuk memenuhi kebutuhan pendidikan keagamaan tersebut.
UU No. 12 tahun 2005 pasal 18 ayat (4) mengatur bahwa pemerintah Indonesia berjanji untuk senantiasa menghormati kemerdekaan orang tua dan apabila diakui, wali hukum yang sah, untuk menjamin bawa pendidikan agama dan moral bagi anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka sendiri.pasal ini memang lebih mengatur mengenai penghormatan pemerintah terhadap kebebasan orang tua untuk mendidik anaknya, namun bukan berarti pemerintah lepas tanggung jawab terhadap pendidikan keagamaan generasi penerus bangsanya. Bukti dari tanggung jawab pemerintah dalam hal pendidikan agama yaitu diterbitkannya Peraturan Pemerintah RI No. 5 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Dalam pasal 4 ayat (1) PP ini, disebutkan bahwa pendidikan agama pada pendidikan formal dan program pendidikan kesetaraan sekurang-kurangnya diselenggarakan dalam bentuk mata pelajaran atau mata kuliah agama. Dalam peraturan tersebut pendidikan keagamaan enam agama resmi Indonesia juga diatur ke dalam bab pembahasan yang lebih lanjut.
Kewajiban yang diturunkan oleh pemerintah kepada para penyelenggara pendidikan, baik pendidikan formal maupun program pendidikan, untuk menyelenggarakan pendidikan agama di wilayah kerjanya tentunya menghasilkan kewajiban baru bagi pemerintah selaku lembaga yang memiliki kewenangan dan kekuasaan yang lebih tinggi. kewajiban yang dimaksud yaitu pemerintah harus menyediakan anggaran tersendiri bagi terlaksananya pendidikan agama di setiap wilayahnya, bahkan hingga wilayah terkecilnya. Di dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (4) disebutkan bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh lima persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Berdasarkan isi pasal ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa negara harus memasukkan anggaran pendidikan agama ke dalam anggaran pendidikan. Adanya anggaran pendidikan yang mengakomodasi jalannya pendidikan agama tentunya membawa kelancaran dalam pembangunan mental generasi penerus bangsa yang berdasarkan imtaq (iman dan tawa) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Namun, saat ini kita banyak melihat adanya kekurangan dalam penyelenggaraan pendidikan agama di berbagai daerah di Indonesia. entah ketiadaan bahan ajar yang sesuai dengan agama dan jenjang pendidikan peserta ajar atau bahkan kekurangan tenaga pengajar pendidikan agama di sekolah-sekolah. Baru-baru ini, ditemukan fakta bahwa ternyata banyak tenaga pengajar pendidikan agama yang bukan merupakan lulusan program pendidikan agama. Tentunya hal ini agak mengkhawatirkan karena seharusnya guru mengajar sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Maka dari itu, pemerintah melalui kementrian agama mengadakan sertifikasi guru pendidikan agama mengingat pentingnya peran guru agama dalam kemajuan pendidikan di Indonesia.
Kemerdekaan mengemukakan pendapat merupakan sebagian dari hak asasi manusia. Oleh sebab itu, dijamin oleh Deklarasi Universal Hak – Hak Asasi Manusia PBB, tegasnya dalam pasal 19 dan 20 seperti tertulis berikut ini.
1. Pasal 19
“Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat, dalam hal ini termasuk kebebasan mempunyai pendapat – pendapat dengan tidak mendapat gangguan dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan keterangan – keterangan dan pendapat – pendapat dengan cara apapun juga dan tidak memandang batas – batas”.
2. Pasal 20
Ayat 1: “Setiap orang mempunyai hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat.”
Ayat 2: “Tidak ada seorang juga pun dapat dipaksa memasuki salah satu perkumpulan.”
Seiring dengan perkembangan teknologi dan maraknya media sosial, makin luas pula kebebasan berpendapat di dalam komunitas. Kita pun sebagai mahluk modern dengan mudah menuangkan isi pikiran, pendapat, argumen kita di media sosial. Dan karena media sosial sifatnya luas dan terbuka, pendapat kita tersebut dapat dilihat oleh masyarakat luas. Namun karena itu, kadang apabila kita sedang merasa jengkel atau kecewa terhadap suatu pihak lalu secara tidak sadar menuangkannya di dalam media sosial. Acap kali kita tidak menyadari bahwa hal sekecil ini dapat membawa kita ke ranah hukum. Hal ini disebabkan karena kebebasan kita berpendapat bukanlah bebas yang sebebas-bebasnya melainkan masih ada batasan. Batasan yang dimaksud disini adalah batas yang terbentuk karena adanya hak orang lain juga. Dimana kita sebagai mahluk sosial harus saling menghargai satu sama lain.
Kemudian, hak untuk hidup yang terdapat pada pasal 28 A yang berbunyi “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”. Terdapat pula pada UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Karena setiap orang berhak hidup tentram,aman,damai,bahagia,sejahtera,lahir dan batin.
Dan terdapat hak atas status kewarganegaraan, yang terdapat pada pasal 28 D ayat 4 "Tiap orang berkah atas status kewarganegaraan. Berarti masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan perhatian dan perlindungan negara serta ikut berpatisipasi dalam berbagai acara nasional seperti pemilu sebagai warga negara Indonesia. Dan karena memiliki status kewarganegaraan Indonesia, berarti masyarakat juga berkewajiban untuk taat terhadap hukum dan peraturan yang berlaku di wilayah Indonesia atau NKRI."
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin potensi, harkat, dan martabat setiap orang sesuai dengan hak asasi manusia;
b. bahwa warga negara merupakan salah satu unsur hakiki dan unsur pokok dari suatu negara yang memiliki hak dan kewajiban yang perlu dilindungi dan dijamin pelaksanaannya;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia;
Kemudian diatur pada Pasal 26 UUD 1945 Ayat 1
Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.
Ayat 2
Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang tempat tinggal di Indonesia.
Ayat 3
Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.
Karena kewarganegaraan lah yang akan menjamin seseorang untuk mendapatkan hak-hak yang lain dan perlindungan sebagai warga negara Indonesia
3.4 Kewajiban yang Belum Dilaksanakan Sepenuhnya Oleh Warga Negara
Banyak sekali contoh kasus pengingkaran kewajiban warga negara yang ada di negara indonesia ini. Pengingkaran kewajiban warga negara merupakan suatu pelanggaran yang dilakukan warga negara terhadap kewajiban-kewajibannya. Pengingkaran dapat diartikan sebagai proses, cara atau perbuatan mengingkari kewajibannya. Arti lain Pengingkaran kewajiban adalah kewajiban yang telah diberikan kepada seseorang tetapi orang tersebut tidak mau menjalankan kewajibannya sebagai mana mestinya. Pengingkaran kewajiban sudah sering terjadi di Indonesia. Negara mempunyai sifat memaksa, sehingga negara mempunyai hak menuntut warga negara untuk menaati dan melaksanakan hukum-hukum yang berlaku di negara. Pengingkaran-pengikaran tersebut biasanya disebakan oleh tingginya sikap egois yang dimiliki oleh seorang warga negara, sehingga yang ada di pikirannya hanya sebatas bagaimana cara untuk mendapat haknya, sementara yang menjadi kewajibannya dilupakan. Selain itu dapat juga disebabkan oleh rendahnya kesadaran hukum.
berdasarkan undang-undang sehingga dapat dipaksakan dengan tiada mendapat balas Indonesia. Sebagian warga negara indonesia, sudah membayar pajak dengan baik, tetapi ada saja warga negara yang melalaikan pajak. Kebanyakan yang beranggapan terlalu mahal, tetapi pemerintah sudah sebijak mungkin memberi pajak yang kecil dan tergantung oleh kekayaan seseorang. Dengan itu pemerintah memberi kebijakan, untuk memberi sanksi denda bagi orang yang telat pajak. Memang pada dasarnya pajak mempunyai peranan yang sangat berguna, karena dari rakyat dan untuk rakyat.
Tidak atau menghindari membayar pajak berarti pengingkaran kewajiban warga negara terhadap pasal 23 ayat 2 UUD 1945,”segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-undang”. Pengingkaran terhadap pajak hampir dilakukan oleh seluruh warga negara, mulai dari pajak kendaraan, pajak bumi dan bangunan, pajak penghasilan, pajak penjualan, dan lain-lain. Mengapa kita wajib membayar pajak? Karena pajak merupakan salah satu sumber baya pembangunan dan kita menikmati hasilnya. Misalnya, jalan raya yang dibuat dengan segala fasilitasnya, itu dibiayai salah satunya oleh pajak kendaraan .
Adapula pengingkaran tentang kewajiban mematuhi peraturan lali lintas yang telah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Pada zaman sekarang, banyak dari warga negara yang melanggar peraturan berlalu lintas yang dapat berbahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil makalah ini, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan berkaitan dengan Hak dan Kewajiban Warga Negara, di antaranya:
1. Hak adalah sesuatu yang pantas dimiliki atau didapatkan sejak manusia dalam kandungan, kewajiban adalah sesuatu yang harus, wajib dilakukan sebagai tuntutan manusia untuk mendapatkan haknya, warga negara adalah penduduk yang tercatat secara hukum tinggal menempati suatu negara serta taat dan tunduk kepada negara tersebut.
2. Hak dan kewajiban tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain karena sebagai suatu ikatan yang sama - sama harus dijalankan sekaligus didapatkan.
3. Hak warga negara adalah hak yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sedangkan, kewajiban negara adalah melakukan suatu kewajiban atau perintah kita sesuai dengan hukum yang berlaku dan berdasarkan UUD 1945.
4. Negara Indonesia mengatur hak dan kewajiban Warga Negaranya dalam pasal-pasal UUD 1945 dari pasal-pasal 27 – 31, serta aturan pengembangannya ditetapkan dalam berbagai undang – undang.
atas status kewarganegaraan dan contoh konkrit kewajiban warga negara yang belum dilakukan sepenuhnya oleh warga negara yaitu mengingkari membayar pajak,pelanggaran terhadap peraturan berlalu lintas, dan pengingkaran terhadap kewajiban bela negara.
6. Pelaksanaan hak dan kewajiban di Negara Indonesia masih belum maksimal serta perlu diadakan pengertian serta pemahaman terus – menerus kepada masyarakat terkait pelaksanaan hak dan kewajiban sebagai Warga Negara yang baik dan bermoral.
4.2 Saran
Dari kesimpulan yang didapat serta hasil makalah, penulis ingin menyampaikan beberapa saran kepada beberapa pihak terkait dengan hak dan kewajiban Warga Negara Indonesia, yaitu:
1. Untuk para pemuda Indonesia, diharapkan pemuda Indonesia dapat semakin memiliki rasa tanggung jawab serta sadar akan hak dan kewajibannya sebagai Warga Negara Indonesia, sehingga ketika kelak memimpin Negara Indonesia para pemuda dapat memajukan Bangsa dan Negara tanpa ada penyelewengan maupun pemenuhan hak pribadi saja tanpa memikirkan keadaan masyarakat umum.
2. Untuk pemerintah, diharapkan pemerintah masa kini dapat semakin menjadi contoh yang baik sekaligus dapat mengambil kebijakan – kebijakan yang tepat guna meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan hak dan kewajibannya sebagai Warga Negara Indonesia.
3. Untuk masyarakat, diharapkan masyarakat dapat semakin aktif ambil bagian dalam membangun kesadaran akan hak dan kewajiban seluruh masyarakat sebagai Warga Negara Indonesia yang bermartabat luhur dan baik.
ketimpangan yang akan menyebabkan timbulnya gejolak masyarakat yang tidak diinginkan .
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkarim, Aim. Pendidikan Kewarganegaraan: Membangun Warga Negara yang Demokratis. Grafindo Media Pratama.
Widodo, Wahyu. , Budi Anwari, & Maryanto. 2015. Pendidikan Kewarganegaraan Pengantar Teori. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
http://www.bantubelajar.com/2015/08/hak-dan-kewajiban-warga-negara.html?m=1 (D iakses pada 4 Desember 2016).
http://tifferi.blogspot.co.id/2015/01/hak-dan-kewajiban-warga-negara.html?m=1 (Dia kses pada 4 Desember 2016).
http://www.siswamaster.com/2016/02/pengertian-hak-dan-kewajiban-warga-negara.html?m=1(Diakses pada 4 Desember 2016).
https://guruppkn.com/contoh-hak-dan-kewajiban-warga-negara
https://jawab-soal.blogspot.co.id/2016/07/-contoh-penanganan-kasus.htm l
https://guruppkn.com/ciri-ciri-kemerdekaan-beragama
https://guruppkn.com/kasus-pengingkaran-kewajiban-warga-negara
https://guruppkn.com/ciri-ciri-kemerdekaan-beragama
https://petikanhidup.com/bunyi-uud-1945-pasal-27-ayat-1-2-3-dan-penjelasannya.html
http://kelaspkn.blogspot.co.id/2017/03/siti-nurhaliza-03-pasal-28-d-ayat-4-hak.html