EFEK ANTISTRES EKSTRAK ETANOL DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amaryllifolius Roxb.) PADA MENCIT JANTAN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Program Studi Ilmu Farmasi
Oleh :
Eveline
NIM : 038114053
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
EFEK ANTISTRES EKSTRAK ETANOL DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amaryllifolius Roxb.) PADA MENCIT JANTAN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Program Studi Ilmu Farmasi
Oleh :
Eveline
NIM : 038114053
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2008
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia
yang memberi kekuatan kepadaku
(Filipi 4 : 13)
Dengan segenap cinta kupersembahkan untuk :
Tuha n Ye sus Kristus
Pa p a d a n Ma ma
Ko ko Nic o d a n Fe nd i
Te ma n-te ma n d a n ka ka k-ka ka kku
Se b a g a i ta nd a te rima ka sih a ta s d ukung a n d a n ka sih sa ya ng
Ke p a d a ku
Alma ma te rku
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan YME atas rahmat dan
karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan
skripsi dengan baik. Skripsi dengan judul “Efek Antistres Ekstrak Etanol Daun
Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) pada Mencit Jantan” disusun
untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) pada
Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulisan skripsi ini terwujud atas bantuan dan kerjasama dari berbagai
pihak, yang telah berkenan membimbing, memberi petunjuk serta motivasi, oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Rita Suhadi, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Bapak Drs. Mulyono, Apt., selaku dosen pembimbing dan penguji yang telah
memberikan arahan dan bimbingan selama penelitian dan penyusunan skripsi.
3. Bapak Yosef Wijoyo, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah berkenan
meluangkan waktu untuk menguji dan memberikan saran dalam penelitian.
4. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., selaku dosen penguji yang telah berkenan
meluangkan waktu untuk menguji dan memberikan saran dalam penelitian dan
juga selaku Kepala Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta yang telah memberikan ijin pemakaian fasilitas
laboratorium.
vii
5. Staff Laboratorium Famakologi dan Toksikologi, Biokimia, dan
Biofarmakologi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta,
yang telah memberi segala bantuan selama berlangsungnya penelitian ini.
6. Staff Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta, yang telah memberi segala bantuan selama
berlangsungnya penelitian ini.
7. Papa, mama, dan koko Nico yang selalu mendukung, membantu dan menjadi
motivasi dalam bekerja.
8. Fendi, teman seperjuangan yang selalu memberi semangat, dukungan dan
pertolongan.
9. Teman-teman dan kakak-kakakku, Olivia, Chika, Indu, Nia, Agnes, Eka,
Siska, Welly, Kak Grace, Kak Vrysca, Yuni dan semua anak kost 99999.
Semoga Tuhan YME selalu memberkati dan melimpahkan rahmat yang setimpal
dengan kebaikan-kebaikan tersebut.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhirnya besar harapan penulis semoga hasil penelitian ini bermanfaat
bagi pengembangan ilmu farmasi khususnya di bidang obat tradisional serta
berguna bagi para pembaca.
Yogyakarta, 14 Desember 2007
INTISARI
Stres merupakan respon tubuh terhadap adanya stimulus (stresor) yang dapat mengganggu homeostasis tubuh dan mengakibatkan berbagai macam penyakit sehingga harus diobati. Salah satu pengobatan alternatif yang telah digunakan masyarakat berdasarkan pengalaman adalah pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) yang daunnya mengandung linalool, senyawa yang dapat menginhibisi reseptor NMDA. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan kebenaran efek antistres ekstrak etanol daun pandan wangi dan mengetahui dosis terapinya.
Penelitian ini bersifat eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola searah. Metode yang digunakan adalah metode potensiasi narkose yang telah dimodifikasi pelaksanaannya. Subyek uji yang digunakan adalah mencit jantan (galur Swiss, umur 2-3 bulan, berat badan 20-30 gram) sebanyak 54 ekor yang dibagi secara acak dalam sembilan kelompok (N=6). Kelompok I adalah kontrol negatif aquades (dosis 16,667 mg/kgBB), kelompok II, III, IV dan V adalah kontrol positif diazepam dengan dosis 0,260; 0,445; 0,760; dan 1,300 mg/kgBB, sedangkan kelompok VI, VII, VIII, dan IX adalah kelompok perlakuan ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 4000; 5040; 6350; dan 8000 mg/kgBB. Empat puluh lima menit kemudian mencit diinjeksi natrium tiopental (dosis 45,5 mg/kgBB) dan dilakukan pengamatan lama tidur mencit. Data perpanjangan waktu tidur mencit dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov, uji homogenitas variansi, dilanjutkan Anova satu arah dan uji Scheffe dengan taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun pandan wangi memiliki efek antistres. Efek antistres ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 4000; 5040; 6350; dan 8000 mg/kgBB setara dengan efek antistres dizepam dosis 0,260; 0,445; dan 0,760 mg/kgBB. Dosis terapi yang digunakan adalah 4000 mg/kgBB.
Kata kunci : ekstrak etanol daun pandan wangi, natrium tiopental, perpanjangan waktu tidur mencit
ABSTRACT
Stress is body’s response to a stresor and may alter body’s homeostasis. Diseases may occur because of stress and therefore it needs to be treatened.
Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) had been used empirically as an CNS depresant for its leave contain linalool. The object of this study was to proof the antistres effect of ethanol extract of pandan wangi leave and the therapeutic dose.
The experimental study was conducted according to randomized complete design using the modified narcosis potentiation method. The experimental subjects were 54 male mice (Swiss strain, 2-3 months old, 20-30 gram body weight) divided randomly into 9 groups, 6 mice each group. Each group were given with a different treatment, i.e. : group I as the negative control using aquadest (16,667 mg/kgBW), group II, III, IV, and V were the positive controls using diazepam 0,260 mg/kgBW; 0,445 mg/kgBW; 0,760 mg/kgBW; and 1,300 mg/kgBW, group VI, VII, VIII, and IX were the ethanol extract of pandan wangi
leave groups with 4000 mg/kgBW; 5040 mg/kgBW; 6350 mg/kgBW; and 8000 mg/kgBW doses. Fourty five minutes after, all mice were injected with sodium thiopental (45,5 mg/kgBW) and the mice’s sleep time were observed. The antistres effect was observed from mice’s prolonged sleep time, the data were analyzed by Kolmogorov-Smirnov test, homogeneity of variances test, one way Anova and Scheffe test at 95% significant level.
The result of the experimental shows that ethanol extract of pandan wangi
leave have an antistres effect. The effect of ethanol extract of pandan wangi leave at 4000 mg/kgBW; 5040 mg/kgBW; 6350 mg/kgBW; and 8000 mg/kgBW was equal to diazepam at 0,260; 0,445; and 0,760 mg/kgBW. The terapeutic dose was 4000 mg/kgBW.
Key word : pandan wangi’s leaves ethanol extract, sodium thiopental, mice’s prolonged sleep time
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ……… HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ……… HALAMAN PENGESAHAN ………... HALAMAN PERSEMBAHAN ……….. PRAKATA ……… PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……….. INTISARI ………..
1. Perumusan masalah ………
2. Keaslian penelitian ……….
3. Manfaat penelitian ………
a. Manfaat teoritis ………..
b. Manfaat praktis ………
1. Tujuan umum ………
2. Tujuan khusus ………
BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ………. A. Uraian tentang Tanaman ………
1. Keterangan botani ………..
2. Morfologi tanaman ………
3. Nama daerah ………..
4. Sinonim ………
5. Kandungan senyawa ………..
6. Khasiat ………..
7. Linalool ………..
a. Kimia ………
b. Mekanisme kerja ………...
B. Ekstrak ……….
1. Obat hipnotik sedatif ……….
b. Farmakologi klinik ………
c. Mekanisme kerja ………..
d. Farmakokinetika ………
4. Natrium tiopental ……….
a. Kimia ……….
b. Farmakologi klinik ………
c. Mekanisme kerja ………..
d. Farmakokinetika ………
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ……… A. Jenis dan Rancangan Penelitian ……….. B. Variabel dan Definisi Operasional Variabel ………..
1. Variabel utama ………
2. Variabel pengacau terkendali ………
C. Bahan yang Digunakan ………. 1. Bahan tanaman ………
2. Subyek uji ……….
3. Bahan-bahan kimia ……….
D. Alat yang Digunakan ……… E. Tata Cara Penelitian ………
1. Identifikasi tanaman ……….
2. Pengumpulan bahan ……….
3. Pengeringan ……….
4. Pembuatan serbuk ………
5. Pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi ………..
6. Penetapan peringkat dosis ekstrak etanol daun pandan wangi …………
7. Penetapan peringkat dosis diazepam ………..
8. Pengenceran larutan diazepam ………..
9. Penetapan dosis aquades …………..………..
10.Penetapan dosis natrium tiopental ………
11.Pembuatan larutan natrium tiopental ………
12.Perlakuan hewan uji ………
13.Penentuan efek antistres ………..
F. Tata Cara Analisis Hasil ……….. BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……….
A. Hasil Identifikasi Tanaman ……….. B. Pengumpulan, Pengeringan, Pembuatan Serbuk, dan Hasil
Ekstraksi Serbuk ……… C. Hasil Uji Efek Antistres ………. BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ………
A. Kesimpulan ………
B. Saran ……….
DAFTAR PUSTAKA ……… LAMPIRAN ………..……. BIOGRAFI PENULIS ………..
40
40
44
53
53
53
54
58
71
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel I. Hasil rata-rata perpanjangan waktu tidur mencit ……….…..
Tabel II. Hasil Anova satu arah perpanjangan waktu tidur mencit …………
Tabel III. Hasil uji Scheffe perpanjangan waktu tidur mencit ………. 46
50
51
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Struktur kimia linalool ……….
Gambar 2. Stres dan sistem endokrin ………
Gambar 3. Struktur kimia diazepam ………..……….
Gambar 4. Skema reseptor GABAA ...
Gambar 5. Skema biotransformasi diazepam ...
Gambar 6. Struktur kimia natrium tiopental ………..….
Gambar 7. Skema pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi ………
Gambar 8. Skema pengujian efek antistres ………
Gambar 9. Grafik rata-rata perpanjangan waktu tidur mencit ………..
Gambar 10. Grafik rata-rata perpanjangan waktu tidur mencit ± 2SE ………
Gambar 11. Foto tanaman pandan wangi (Pandanus amaryllifoliusRoxb.) ….
Gambar 12. Foto ekstraksi daun pandan wangi secara perkolasi ………
Gambar 13. Foto ekstrak etanol daun pandan wangi ………
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Surat pengesahan identifikasi ……….
Lampiran 2. Data orientasi dosis natrium tiopental ……….………..
Lampiran 3. Data perpanjangan waktu tidur mencit ……….
Lampiran 4. Hasil uji Kolmogorov-Smirnov ……….
Lampiran 5. Hasil uji homogenitas variansi ……….………….
Lampiran 6. Hasil uji Anova satu arah ……….………
Lampiran 7. Hasil uji Scheffe dengan taraf kepercayaan 95% ………
Lampiran 8. Foto tanaman pandan wangi (Pandanus amryllifolius Roxb.) ...
Lampiran 9. Foto ekstraksi daun pandan wangi secara perkolasi ………
Lampiran 10. Foto ekstrak etanol daun pandan wangi ………
Lampiran 11. Foto pelaksanaan uji efek antistres ………. 58
59
60
62
63
64
65
67
68
69
BAB I PENGANTAR
A. Latar Belakang
Perubahan pola hidup manusia Indonesia akibat adanya perubahan
lingkungan sekitar memberikan tuntutan yang lebih hebat untuk dipenuhi, apabila
terdapat ketidakseimbangan antara tuntutan dengan kemampuan pribadi untuk
mengatasinya maka akan berdampak pada kondisi stres (Bishop, 1994). Stres
merupakan suatu bentuk kecemasan (Rang, Dale, Ritter, and Moore, 2003) dan
juga penjumlahan reaksi biologis terhadap setiap rangsangan yang merugikan,
fisik, mental, atau emosional, internal atau eksternal, yang cenderung
mengganggu homeostasis organisme (Anonim, 1995 b). Stres memicu sekresi
kortikosteroid, epinefrin dan norepinefrin secara berlebihan sehingga bila kondisi
ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama akan dapat menimbulkan berbagai
macam penyakit (Nevid, Rathus, and Greene, 2003) maka stres harus diobati.
Masyarakat sejak jaman dahulu telah menggunakan berbagai macam
tanaman untuk memberi efek menenangkan sehingga stres dapat diobati. Salah
satu tanaman yang telah digunakan berdasarkan pengalaman untuk mengatasi
kegelisahan adalah pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) (Dalimartha,
1999). Daun pandan wangi mengandung zat aktif linalool (Katzer, 2001) dimana
senyawa ini telah dibuktikan memiliki efek depresan pada SSP melalui
mekanisme inhibisi pada reseptor NMDA (Silva, Elisabetsky, and Souza, 2001).
Kelebihan penggunaan daun pandan wangi sebagai obat antistres terletak pada
ketersediaan simplisia yang melimpah di negara Indonesia.
Kebenaran ilmiah mengenai khasiat daun pandan wangi belum dapat
dipastikan sehingga penelitian ini dilakukan untuk membuktikan efek antistres
ekstrak etanol daun pandan wangi secara praklinik pada mencit jantan.
1. Perumusan masalah
a. Apakah benar ekstrak etanol daun pandan wangi mempunyai efek antistres
pada mencit jantan?
b. Seberapa besar efek antistres ekstrak etanol daun pandan wangi?
c. Berapakah dosis ekstrak etanol daun pandan wangi yang dapat
menimbulkan efek antistres pada mencit jantan?
2. Keaslian penelitian
Penelitian mengenai daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.)
yang pernah dilakukan yaitu studi pengaruh infusa daun pandan wangi terhadap
kelarutan kalsium batu ginjal secara in vitro menggunakan metode spektro
serapan atom (Rahardjo, 2003), dan studi daya melarutkan fraksi air dan etil asetat
daun pandan wangi terhadap kalsium batu ginjal secara in vitro (Ni Putu, 2007)
sedangkan penelitian tentang efek antistres ekstrak etanol daun pandan sepanjang
3. Manfaat penelitian
a.Manfaat teoritis. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
untuk menambah ilmu pengetahuan di bidang farmasi terutama yang berkaitan
dengan penggunaan obat tradisional sebagai alternatif pengobatan suatu penyakit.
b.Manfaat praktis. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
informasi pada masyarakat tentang khasiat ekstrak etanol daun pandan wangi
sebagai antistres dan dosis terapinya.
B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi ilmiah tentang
manfaat daun pandan wangi sebagai tanaman obat.
2. Tujuan khusus
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan kebenaran efek antistres
ekstrak etanol daun pandan wangi, mengetahui seberapa besar efek antistres yang
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Uraian tentang Tanaman 1. Keterangan botani
Famili : Pandanaceae
Spesies : Pandanus amaryllifolius Roxb. (Dalimartha, 1999)
2. Morfologi tanaman
Perdu tahunan, tinggi 1-2 m. Batang bulat dengan bekas duduk daun,
bercabang, menjalar, akar tunjang keluar di sekitar pangkal batang dan cabang.
Daun tunggal, duduk, dengan pangkal memeluk batang, tersusun berbaris tiga
dalam garis spiral. Helai daun berbentuk pita, tipis, licin, ujung runcing, tepi rata,
bertulang sejajar, panjang 40-80 cm, lebar 3-5 cm, berduri tempel pada ibu tulang
daun permukaan bawah bagian ujung-ujungnya, warna hijau. Bunga majemuk,
bentuk bongkol, warnanya putih. Buahnya buah batu, menggantung, bentuk bola,
diameter 4-7,5 cm, dinding buah berambut, warnanya jingga (Dalimartha, 1999).
Permukaan daun yang atas lebih mengkilap daripada permukaan daun yang bawah
(Anonim, 1989).
3. Nama daerah
Sumatera : seuke bangu, seuke musang, pandan jau, pandang bebau,
pandan harum, pandan musang. Jawa: pandan rempai, pandan wangi, pandan
rampe, pandan sungit, pandan wangi, pandan room. Nusa Tenggara : pandan
arum, hena sina, bonak. Sulawesi: pondang, pona, pondango, pandang bunga.
Maluku: keke moni, hao moni, keker moni, pondak, pondaki, pudaka, pondak
(Anonim, 1986 a).
4. Sinonim
Pandanus odorus Ridl., Pandanus latifolius Hassk., Pandanus hasskarlii
Merr. (Dalimartha, 1999).
5. Kandungan senyawa
Daun pandan wangi mengandung alkaloida, saponin, flavonoida, tanin,
polifenol, dan zat warna (Dalimartha, 1999). Selain itu juga mengandung minyak
menguap (Anonim, 1989). Penelitian lain membuktikan adanya senyawa-senyawa
berikut beserta konsentrasinya : stirena 0,62 ppb; formiltifen 0,76 ppb; linalool
0,29 ppb; β-caryofilen 0,55 ppb; β-farnesen 0,18 ppb; 1,2-dimetoksibenzen 0,15
ppb dan β-selinen 1,24 ppb (Katzer, 2001).
6. Khasiat
Daun pandan wangi berkhasiat untuk mengatasi lemah saraf
(neurasthenia), tidak nafsu makan, rematik, pegal linu, sakit disertai gelisah,
rambut rontok, menghitamkan rambut, dan ketombe (Dalimartha, 1999). Heyne
(1950) juga menyebutkan bahwa rampe yang diseduh air mendidih kemudian
didinginkan dapat dipakai sebagai obat minum maupun obat luar bagi orang-orang
sakit yang gelisah.
7. Linalool
a.Kimia.
Nama kimia : 3,7-Dimetil-1,6-oktadien-3-ol
BM : 154,25
Titik didih : 198-200ºC
Kelarutan : tidak larut dalam air
larut dalam alkohol (Anonim, 2001)
Aktifitas : hipnotik sedatif (Duke, 2007)
Struktur kimia linalool adalah :
OH
Gambar 1. Struktur kimia linalool (Anonim, 2001)
b.Mekanisme kerja. Linalool adalah senyawa monoterpen yang
merupakan komponen utama minyak atsiri beberapa spesies tumbuhan aromatik
(Silva, et al., 2001). Salah satu minyak atsiri yang mengandung linalool adalah
minyak lavender (Lavandula officinalis [L. angustifolia]) yang telah diteliti efek
antiansietasnya melalui uji konflik Geller dan uji konflik Vogel. Minyak lavender
dibuktikan memiliki efek antiansietas karena dapat memberikan hasil yang
bermakna pada kedua uji tersebut. Uji yang sama kemudian dilakukan pada
linalool dan diperoleh hasil yang bermakna pada kedua uji tersebut sehingga
disimpulkan bahwa linalool merupakan komponen utama yang aktif secara
farmakologi, yang berperan dalam efek antiansietas minyak lavender (Umezu,
Penelitian lain terhadap senyawa tunggal linalool dilakukan untuk
mengetahui mekanisme aksi depresan linalool. Penelitian dilakukan dengan
mengamati efek linalool terhadap pengikatan [(3)H]MK801 (antagonis NMDA)
dan [(3)H]muscimol (agonis GABAA) pada membran kortikal tikus. Linalool
menunjukkan adanya inhibisi non-kompetitif tergantung dosis terhadap
pengikatan [(3)H]MK801 tetapi tidak menunjukkan adanya efek terhadap
pengikatan [(3)H]muscimol. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini
menyatakan bahwa aksi depresan linalool disebabkan karena adanya interaksi
langsung dengan kompleks reseptor NMDA (Silva, et al., 2001). Kompleks
reseptor NMDA merupakan kelompok reseptor yang tergolong dalam reseptor
glutamat ionotropik, suatu reseptor untuk neurotransmitter pemicu (excitatory)
(Ikawati, 2006).
B. Ekstrak 1. Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat
aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang
sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau
serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah
ditetapkan (Anonim, 1995 a).
Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat
dengan pengurangan tekanan, agar bahan utama obat sesedikit mungkin terkena
panas (Anonim, 1995 a).
2. Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan
cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Alat yang digunakan
untuk perkolasi disebut perkolator, cairan yang dipakai untuk menyari disebut
cairan penyari atau menstrum, larutan zat aktif yang keluar dari perkolator disebut
sari atau perkolat, sedang sisa setelah dilakukannya penyarian disebut ampas atau
sisa perkolasi (Anonim, 1986 b).
Ekstraksi secara perkolasi dilakukan dengan cara sebagai berikut : basahi
10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok
dengan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari, masukkan ke dalam bejana
tertutup sekurang-kurangnya selama 3 jam. Pindahkan massa sedikit demi sedikit
ke dalam perkolator sambil tiap kali ditekan hati-hati, tuangi dengan cairan
penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih
terdapat selapis cairan penyari, tutup perkolator, biarkan selama 24 jam. Biarkan
cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit, tambahkan berulang-ulang
cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas
simplisia, hingga diperoleh 80 bagian perkolat. Peras massa, campurkan cairan
perasan ke dalam perkolat, tambahkan cairan penyari secukupnya hingga
diperoleh 100 bagian. Pindahkan ke dalam bejana, tutup, biarkan selama 2 hari di
C. Stres
Istilah stres digunakan untuk menunjukkan suatu tekanan atau tuntutan
yang dialami individu atau organisme agar ia beradaptasi atau menyesuaikan diri.
Sumber stres disebut stresor. Stresor menyangkut faktor-faktor psikologis seperti
ujian sekolah, masalah hubungan sosial, dan perubahan hidup seperti kematian
orang tercinta, perceraian, atau pemutusan hubungan kerja (PHK). Stresor
menyangkut pula masalah sehari-hari seperti kemacetan lalu lintas dan faktor
lingkungan fisik seperti kebisingan dan suhu udara yang terlalu panas atau dingin.
Istilah stres perlu dibedakan dengan istilah distres. Istilah distres mengacu pada
penderitaan fisik atau mental. Dalam batas tertentu stres sehat untuk diri kita, stres
membantu kita untuk tetap aktif dan waspada. Akan tetapi stres yang sangat kuat
atau berlangsung lama dapat melebihi kemampuan kita untuk mengatasi dan
menyebabkan distres emosional seperti depresi atau kecemasan, atau keluhan fisik
seperti kelelahan dan sakit kepala (Nevid et al., 2003).
Respon yang diberikan setiap organisme terhadap adanya stimulus
(stresor) dinamakan General Adaptation Syndrome (GAS) yang terdiri dari tiga
fase. Fase pertama disebut kegelisahan, yaitu ketika organisme mempersiapkan
diri untuk melawan ancaman. Selama fase ini, saraf simpatik teraktifkan dan
aktifitas adrenalis meningkat, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, dan
tubuh disiapkan untuk bergerak. Jika organisme dapat bertahan dari ancaman
terdahulu, maka ancaman berikutnya akan membawa organisme masuk dalam
fase dua yaitu fase bertahan. Selama fase ini organisme akan terus melawan,
penggunaan energi tubuh yang berlebihan. Seandainya ancaman muncul terus
menerus pada jangka waktu yang relatif lama, maka organisme memasuki fase
ketiga, yaitu fase keletihan. Organisme yang berada pada fase ini akan kehabisan
sumber tenaga untuk melawan ancaman dan menjadi rentan terhadap luka
fisiologis serta penyakit. Beberapa penyakit yang dikarenakan oleh habisnya
tenaga untuk melawan ancaman ini dinamakan penyakit adaptasi (disease of
adaptation) (Bishop, 1994).
Stres dapat diukur dengan beberapa cara antara lain :
1. Pengukuran self-report
Merupakan metode yang paling sering digunakan karena mudah dalam
memberi penilaian.
2. Pengukuran prestasi
Didasarkan pada efek nyata stres dimana seseorang sulit untuk memberikan
hasil yang baik ketika dia berada pada situasi yang penuh tuntutan.
3. Pengukuran fisiologi
Pengukuran dilakukan pada peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan
respirasi, atau perubahan daya tahan kulit terhadap arus listrik (Galvanic Skin
Response) sebagai hasil adanya aktifasi saraf simpatik.
4. Pengukuran biokimia
Stres juga mempunyai dampak yang penting terhadap sistem endokrin, yaitu
adanya peningkatan sekresi kortikosteroid oleh korteks adrenal dan
katekolamin oleh medula adrenalis. Peningkatan jumlah hormon ini dapat
Stres juga merupakan suatu fenomena psikofisiologik (Bishop, 1994).
Stres mempunyai efek domino dalam sistem endokrin, yaitu sebuah sistem tubuh
yang berupa kelenjar yang memproduksi dan melepaskan hormon, langsung ke
saluran darah. Sistem endokrin yang terdiri dari kelenjar-kelenjar
mendistribusikan hormon ke seluruh tubuh (Nevid et al., 2003).
Beberapa kelenjar endokrin terlibat dalam respon tubuh terhadap stres.
Pertama, hipotalamus, suatu struktur kecil di otak, melepas suatu hormon yang
menstimulasi kelenjar pituitari di dekatnya untuk menghasilkan hormon
adrenokortikotropik (ACTH). ACTH selanjutnya menstimulasi kelenjar adrenal
yang berlokasi di atas ginjal. Di bawah pengaruh ACTH, lapisan terluar kelenjar
adrenal yang disebut korteks adrenal melepas sejumlah steroid. Kortikol steroid
ini (disebut juga kortikosteroid) merupakan hormon yang mempunyai sejumlah
fungsi yang berbeda-beda dalam tubuh. Hormon ini mendorong perlawanan
terhadap stres, membantu perkembangan otot dan menyebabkan hati melepaskan
gula, yang merupakan tenaga dalam menghadapi stresor (Nevid et al., 2003).
Cabang simpatis dari susunan saraf otonom menstimulasi lapisan dalam
dari kelenjar adrenal, medula adrenalis, untuk melepas katekolamin, yaitu
epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin). Zat ini berfungsi sebagai
hormon setelah terlepas di dalam aliran darah. Norepinefrin juga diproduksi di
sistem saraf dan berfungsi sebagai neurotransmiter. Gabungan epinefrin dan
norepinefrin menggerakkan tubuh menghadapi stresor dengan meningkatkan kerja
jantung dan menstimulasi hati untuk melepaskan persediaan gula menjadi tenaga
Hormon-hormon stres yang diproduksi oleh kelenjar adrenal membantu
tubuh menyiapkan diri mengatasi stresor atau ancaman. Apabila stresor sudah
terlewati, tubuh kembali ke keadaan normal. Efek kortikosteroid tidak
mengganggu bila terlepas secara periodik, akan tetapi sekresi yang terus-menerus
terjadi menurunkan fungsi kekebalan tubuh dengan cara mengganggu produksi
antibodi. Melemahnya sistem kekebalan tubuh membuat kita rentan terhadap
penyakit umum seperti demam dan flu, dan meningkatkan risiko berkembangnya
penyakit kronis, termasuk kanker. Gangguan fisik lain yang diyakini disebabkan
atau dipengaruhi faktor psikologis, disebut psikosomatis atau psikofisiologis,
bentuknya mulai dari asma, sakit kepala sampai penyakit kardiovaskuler (Nevid et
al., 2003).
Sistem Simpatoadreno- Stres Sistem Hipotalamik-
medulari pituitari-adrenokortikal
Hipotalamus Sistem saraf simpatik
kelenjar pituitari
Sekresi epinefrin dan norepinefrin Sekresi kortikosteroid oleh korteks
oleh medula adrenalis adrenal
- peningkatan aktivitas jantung - peningkatan pelepasan energi
- peningkatan respirasi - penekanan respon inflamatori
- peningkatan perspirasi - penekanan respon imun
- pengalihan darah ke otot - stimulasi aktifitas mental - peningkatan metabolisme
Gambar 2. Stres dan sistem endokrin (Bishop, 1994)
Sejumlah neurotransmiter berpengaruh pada reaksi kecemasan, termasuk
asam gama-aminobutirat (GABA). GABA adalah neurotransmiter yang
meredakan aktifitas berlebih dari sistem saraf dan membantu untuk meredam
berlebihan, kemungkinan menyebabkan kejang-kejang. Dalam kasus-kasus yang
kurang dramatis, kurangnya aksi GABA dapat meningkatkan keadaan kecemasan.
Pandangan tentang peran GABA ini didukung oleh penemuan bahwa orang
dengan gangguan panik menunjukkan taraf GABA yang lebih rendah di beberapa
bagian otak. Kita tahu juga bahwa kelompok benzodiazepin membuat reseptor
GABA menjadi lebih sensitif, dengan demikian meningkatkan efek menenangkan
dari GABA (Nevid et al., 2003).
D. Obat Susunan Saraf Pusat
Obat yang bekerja pada susunan saraf pusat (SSP) memperlihatkan efek
yang sangat luas. Obat tersebut mungkin merangsang atau menghambat aktifitas
susunan saraf pusat secara spesifik atau secara umum. Beberapa kelompok obat
memperlihatkan selektivitas yang jelas misalnya analgesik antipiretik yang khusus
mempengaruhi pusat pengatur suhu dan pusat nyeri tanpa pengaruh jelas terhadap
pusat lain, sebaliknya anestetik umum dan hipnotik sedatif merupakan
penghambat SSP yang bersifat umum sehingga takar lajak yang berat selalu
disertai koma. Pembagian obat dalam kelompok yang merangsang dan kelompok
yang menghambat SSP tidak tepat, karena psikofarmaka misalnya menghambat
fungsi bagian SSP tertentu dan merangsang bagian SSP yang lain. Alkohol adalah
penghambat SSP tetapi dapat memperlihatkan efek perangsangan, sebaliknya
perangsangan SSP dosis besar selalu disertai depresi pasca perangsangan
Klasifikasi obat yang efek utamanya terhadap SSP berdasarkan atas usulan
WHO pada tahun 1967 adalah :
1. Agen anestetik
Definisi : obat yang digunakan untuk menghasilkan anestesi pembedahan
2. Ansiolitik dan sedatif
Sinonim : hipnotik, sedatif, transkuiliser minor
Definisi : obat yang menyebabkan tidur dan mengurangi kecemasan
3. Antipsikotik
Sinonim : obat neuroleptik, obat antiskizofrenia, transkuiliser mayor
Definisi : obat yang berefek meringankan gejala-gejala penyakit skizofrenia
4. Antidepresan
Sinonim : timoleptik
Definisi : obat yang berefek menghilangkan gejala-gejala penyakit depresif
5. Analgesik
Definisi : obat yang secara klinis digunakan untuk mengatur rasa nyeri
6. Stimulan psikomotor
Sinonim : psikostimulan
Definisi : obat yang menyebabkan kondisi terjaga penuh dan euforia
7. Psikomimetik
Sinonim : halusinogen
Definisi : obat yang menyebabkan terganggunya persepsi (terutama halusinasi
E. Hipnotik Sedatif 1. Obat hipnotik sedatif
Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat
(SSP) yang relatif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan
tenang atau kantuk, menidurkan, hingga yang berat (kecuali benzodiazepin) yaitu
hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati, bergantung kepada dosis.
Pada dosis terapi obat sedatif menekan aktifitas, menurunkan respon terhadap
perangsangan emosi dan menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan
mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis
(Wiria dan Handoko, 1995).
Obat sedatif berpengaruh dengan cara menekan reaksi terhadap
rangsangan, terutama rangsangan emosi tanpa menimbulkan kantuk yang berat
sedangkan hipnotik menyebabkan tidur yang sulit dibangunkan yang disertai
penurunan reflek sehingga kadang-kadang kehilangan tonus otot. Sedatif apabila
diberikan dalam dosis besar akan memberi efek sebagai hipnotik (Djamhuri,
1990).
Pada hewan percobaan istilah hipnotik digunakan untuk suatu tingkat
tekanan sentral obat yang menginduksi ketidaksadaran berkaitan dengan
hilangnya kekuatan otot dan reflek balik badan. Banyak tes farmakologi didasari
pada potensiasi induksi waktu tidur oleh barbiturat atau agen sedatif lainnya
(Vogel, 2002).
Kelompok utama dari obat hipnotik sedatif adalah sebagai berikut :
b. Buspirone, agonis reseptor 5-HT1A yang bekerja sebagai agen ansiolitik tetapi
tidak menimbulkan efek sedasi.
c. Antagonis β-adrenoreseptor, digunakan untuk mengobati berbagai bentuk
kecemasan, terutama yang menimbulkan gejala fisik seperti berkeringat,
termor dan takikardi. Efek yang diperoleh bergantung pada blokade respon
simpatik perifer daripada efek sentralnya.
d. Barbiturat, pemakaiannya sekarang terbatas pada anestesi dan perawatan
epilepsi.
e. Obat-obat lainnya yang tidak lagi direkomendasikan penggunaannya seperti
kloral hidrat, meprobamat, dan metaqualon. Antihistamin sedatif seperti
difenhidramin terkadang digunakan sebagai pil tidur terutama bagi anak kecil
yang suka terbangun (Rang et al., 2003).
2. Uji efek antistres
Uji efek antistres menurut Anonim (1991) dilakukan dengan metode
depresan atau potensiasi narkose dengan prosedur sebagai berikut :
Sebelum diberi obat, semua mencit ditimbang. Pada saat pemberian obat
atau pada waktu T = 0, sediaan uji diberikan per oral dengan volume 0,2 ml/10 g
bobot badan kepada mencit kelompok uji. Secara simultan pemberian obat
pembanding diberikan dengan rute dan volume yang sama kepada kelompok
pembanding. Kelompok kontrol hanya menerima vehikulumnya. Pada T = 45
menit setelah pemberian di atas, kepada semua mencit diberikan obat
pentobarbital, dosis 45 mg/kg bobot secara intraperitoneal dengan volume 0,1
mulai tidur, yaitu hilangnya refleks pemulihan posisi tubuh yang dicatat sebagai
waktu induksi tidur untuk tiap mencit (waktu induksi tidur adalah waktu yang
berlangsung sejak penyuntikan hipnotik hingga saat mencit mulai tidur). Pada saat
ini mencit dites. Telentangkan mencit dalam bejana pengamatan tepat di
tengahnya yang telah diberi alas kapas dan dipanasi dengan lampu. Dicatat
kemudian waktu dalam menit saat muncul kembali refleks pemulihan posisi tubuh
dan bergerak meninggalkan pusat bejana. Lama tidur mencit adalah sejak saat
terjadi induksi tidur sampai saat munculnya kembali refleks pemulihan posisi
tubuh normal.
3. Diazepam
a.Kimia.
Rumus molekul : C16H13ClN2O
Nama kimia : 7-Kloro-1,3-dihidro-1-metil-5-fenil-2H-
1,4-benzodiazepin-2-on
BM : 284,75
pKa : 3,4 merupakan senyawa asam lemah
Kelarutan : larut dalam kloroform, benzen, aseton, alkohol
Struktur kimia diazepam adalah :
Cl
N CH3
O
N
Gambar 3. Struktur kimia diazepam (Anonim, 2001)
b.Farmakologi klinik. Semua senyawa benzodiazepin memperlihatkan
efek berikut :
1) Menurunkan ansietas : pada dosis rendah, benzodiazepin bersifat ansiolitik.
Diperkirakan dengan menghambat secara selektif saluran neuron pada sistem
limbik otak.
2) Bersifat sedatif dan hipnotik : semua benzodiazepin yang digunakan untuk
mengobati ansietas juga mempunyai efek sedatif. Pada dosis yang lebih tinggi,
benzodiazepin tertentu menimbulkan hipnosis (tidur yang terjadinya secara
artifisial).
3) Antikonvulsan : beberapa benzodiazepin bersifat antikonvulsan dan digunakan
untuk pengobatan epilepsi dan gangguan kejang lainnya.
4) Pelemas otot : benzodiazepin melemaskan otot skelet yang spastik, barangkali
dengan cara meningkatkan inhibisi presinaptik dalam sumsum tulang (Mycek
Harvey and Champe, 1997).
c.Mekanisme kerja. Rang et al. (2003) menjelaskan bahwa diazepam
gama-aminobutirat A (GABAA) yang memerantarai penghambatan transmisi
sinaptik yang cepat melalui susunan saraf pusat (SSP). Diazepam secara spesifik
terikat pada tempat ikatan alosterik dan meningkatkan afinitas GABA pada
reseptornya sehingga terjadi peningkatan frekuensi pembukaan kanal klorida.
Gambar 4. Skema reseptor GABAA (Anonim, 2007 b)
d.Farmakokinetika.
1)Absorbsi dan distribusi. Diazepam bersifat lipofilik dan pada pemberian oral
akan diabsorbsi 100% dengan cepat. Puncak konsentrasi plasma dicapai setelah
15-90 menit pada orang dewasa dan 15-30 menit pada anak-anak; puncak
konsentrasi plasma sekunder dicapai dalam 6-12 jam setelah pemberian, mungkin
disebabkan oleh resirkulasi enteropati. Volume distribusinya 1,1 l/kg dan terikat
pada protein plasma sebesar 98-99% (Dollery, 1999).
2)Eliminasi. Diazepam mempunyai waktu paruh sebesar 20-100 jam.
Termetabolisme dalam hati, menghasilkan tiga metabolit aktif :
utama adalah ginjal tetapi juga ditemukan dalam air susu dan dapat melintasi
plasenta dengan mudah (Dollery, 1999).
e.Biotransformasi. Tiga jalur biotransformasi utama diazepam yang telah
diketahui adalah N-demetilasi, hidroksilasi dan konjugasi asam glukuronat.
Diazepam akan termetabolisme menjadi N-desmetildiazepam yang memiliki
kesamaan sifat farmakologi dengan diazepam kecuali waktu paruhnya yang lebih
panjang. N-desmetildiazepam kemudian mengalami hidroksilasi dan diubah
menjadi oksazepam yang juga aktif tetapi waktu paruhnya relatif lebih pendek
karena akan terkonjugasi dengan asam glukuronat dan terekskresi dalam urin.
Metabolit aktif ketiga, temazepam, merupakan produk hidroksilasi dari diazepam
yang langsung terkonjugasi dengan asam glukuronat dan terekskresi dalam urin
(Dollery, 1999).
Gambar 5. Skema biotransformasi diazepam (Dollery, 1999)
f. Indikasi. Indikasi diazepam adalah sebagai berikut :
2) pengobatan ketergantungan alkohol akut
3) membantu meredakan kejang otot skeletal
4) basal sedasi
5) pengobatan keadaan epilepsi dan keadaan kejang lainnya
6) keadaan eksitasi seperti kecemasan akut
7) premedikasi untuk prosedur pembedahan (Dollery, 1999)
g.Kontraindikasi. Diazepam dikontraindikasikan untuk :
1) penderita hipersensitif terhadap benzodiazepin
2) penderita myasthenia gravis
3) bayi (Dollery, 1999)
h.Efek samping. Efek samping dari diazepam adalah sebagai berikut :
1) depresi pernapasan dan tekanan darah menurun, terutama setelah pemberian
iv, dan pada pernapasan yang cacat
2) amnesia anterograd (misalnya pada waktu terbangun di malam hari)
3) reaksi paradoks dengan ketegangan akut, dan gangguan tidur
4) kebingungan, pusing, gangguan koordinasi, sakit kepala, mual, muntah,
obstipasi peningkatan relaksasi otot pada myasthenia gravis
5) nafsu makan meningkat, libido menurun, gangguan ovulasi
6) sindrom ketagihan, seperti tidak bisa tidur, gelisah, dan sebagainya setelah
penghentian terapi
7) karena melewati plasenta, maka bagi bayi yang baru lahir mengalami relaksasi
otot, gangguan pernapasan dan menghisap, hipotermia, dan hipotensi
i.Interaksi obat. Interaksi diazepam dengan obat lain yang telah diketahui
adalah sebagai berikut :
1) peningkatan efek oleh obat-obat penekan saraf pusat lain dan alkohol
2) eliminasi dihambat oleh simetidin, disulfiram, INH, kontrasepsi oral dan
sebagainya
3) eliminasi dipercepat oleh rifampisin dan obat penginduksi enzim yang lain
(Widodo, 1993).
4. Natrium tiopental
a.Kimia.
Rumus molekul : C11H17N2NaO2S
Nama kimia : Garam mononatrium dari 5-etildihidro-5-(1-metilbutil)-2-
tiokso-4,6(1H,5H)-pirimidindion
BM : 264,32
Kelarutan : larut dalam air dan alkohol
tidak larut dalam eter, benzen, petroleum eter
(Anonim, 2001)
Struktur kimia natrium tiopental adalah :
N
b.Farmakologi klinik. Dosis natrium tiopental yang cukup dapat
menginduksi anestesi setelah 1 menit pemberian. Kehilangan kesadaran biasanya
berlangsung dengan tenang walaupun kadang terjadi gerakan otot spontan. Level
plasma yang dibutuhkan untuk anestesi pada pasien yang sehat kurang lebih
sebesar 40 µg/l dengan konsentrasi obat bebas untuk anestesi pembedahan sekitar
6 µg/l (Dollery, 1999).
Pada dosis rendah, barbiturat menghasilkan sedasi (efek menenangkan,
mengurangi eksitasi). Pada dosis tinggi, obat menyebabkan hipnosis, diikuti oleh
anestesia (kehilangan rasa atau sensasi) dan akhirnya koma dan mati. Jadi, semua
tingkat depresi SSP mungkin terjadi, tergantung pada dosis (Mycek et al., 1997).
c.Mekanisme kerja. Natrium tiopental meningkatkan penghambatan
transmisi sinaptik yang diperantarai oleh kerja GABA pada reseptor GABAA
dengan cara meningkatkan afinitas ikatannya sehingga memperpanjang waktu
pembukaan kanal klorida. Natrium tiopental juga memperkuat pengikatan
benzodiazepin terhadap reseptor GABAA (Hardman and Limbird, 2001).
d.Farmakokinetika.
1)Absorbsi dan distribusi. Natrium tiopental terikat kuat pada protein plasma,
derajat pengikatannya (50-80%) dipengaruhi oleh pH plasma atau jaringan dan
konsentrasi obat. Karena bersifat lipofilik bentuk molekul bebas tiopental secara
cepat melintasi sawar darah otak dan perubahan EEG dapat dideteksi dalam 15-18
detik. Otak tetap menerima obat hingga 30-60 detik kemudian dan setelah itu
konsentrasi obat dalam pembuluh vena eferen akan melebihi konsentrasi dalam
berjalan dari jaringan kaya lemak (termasuk otak) ke jaringan yang kurang
berlemak dengan volume distribusi sebesar 2,5 l/kg (Dollery, 1999).
2)Eliminasi. Waktu paruh natrium tiopental berkisar antara 4-12 jam dan
klirensnya adalah 3,4 ml/kg.menit (Dollery, 1999).
e.Biotransformasi. Metabolisme natrium tiopental utamanya oleh hati.
Reaksi eliminasi berjalan lambat tetapi hampir sempurna oleh oksidasi rantai
samping 1-metil-butil menjadi metabolit inaktif (Dollery, 1999).
f. Indikasi. Indikasi natrium tiopental adalah sebagai berikut :
1) agen antikonvulsan
2) induksi anestesi umum
3) untuk menjaga kondisi anestesi umum
4) mencegah dan mengobati iskemik otak (Dollery, 1999).
g.Kontraindikasi. Natrium tiopental dikontraindikasikan bagi :
1) pasien porfiria
2) perut dalam keadaan penuh
3) tidak adanya alat yang dapat digunakan untuk menyadarkan pasien
4) tidak cukupnya ruang bernapas bagi pasien
5) kurangnya fasilitas untuk pemulihan atau petugas untuk merawat pasien rawat
jalan
6) pasien yang kehilangan darah atau mengalami hipovolemia
7) pasien uremia
8) pasien dengan sejarah asma yang parah
h.Efek samping. Beberapa efek samping penggunaan barbiturat menurut
Mycek et al. (1997) :
1) SSP : barbiturat menyebabkan mengantuk, konsentrasi terganggu dan
kelesuan mental dan fisik.
2) “Hangover” obat : barbiturat dalam dosis hipnotik menimbulkan perasaan lesu
setelah pasien bangun kembali. “Hangover” obat ini menyebabkan beberapa
fungsi tubuh yang normal terganggu beberapa jam setelah pasien terbangun.
Kadang-kadang dapat terjadi mual dan pusing.
3) Perhatian : barbiturat memacu sistem P-450 dan karena itu menurunkan efek
obat yang dimetabolisme oleh enzim hati ini. Barbiturat meningkatkan sintesis
porfirin dan merupakan kontraindikasi pada pasien dengan porfiria intermiten
akut.
4) Ketergantungan : penghentian barbiturat secara mendadak menyebabkan
tremor, ansietas, lemah, gelisah, mual dan muntah, kejang, delirium dan
jantung berhenti. Gejala putus obat lebih berat jika dibandingkan opiat dan
dapat menimbulkan kematian.
5) Keracunan : dalam beberapa dasawarsa belakangan ini telah terjadi keracunan
barbiturat pada beberapa pengguna dan menyebabkan kematian akibat
overdosis. Terjadi depresi pernapasan yang hebat bersamaan dengan depresi
kardiovaskular pusat, menimbulkan syok dengan pernapasan dangkal dan
lambat.
i.Interaksi obat. Tidak terdapat masalah pada penggunaan dosis tunggal,
meningkatkan klirens (juga menghilangkan efek terapi) obat-obat seperti warfarin,
fenitoin, antidepresan trisiklik, dan kortikosteroid. Barbiturat mempunyai efek
aditif dengan depresan ssp lain mengakibatkan depresi kuat. Aspirin diketahui
dapat mendesak natrium tiopental dari ikatannya dengan protein plasma tetapi hal
ini tidak memberikan masalah klinik yang serius walaupun pemberian aspirin
intravena sebelumnya dapat menurunkan dosis induksi (Dollery, 1999).
F. Landasan Teori
Daun pandan wangi telah digunakan berdasarkan pengalaman sejak jaman
dahulu untuk mengobati stres (Dalimartha, 1999). Khasiatnya sebagai antistres
didukung pula oleh identifikasi salah satu senyawa yang terkandung di dalamnya
yang aktif secara farmakologi, yaitu linalool (Katzer, 2001). Penelitian yang
dilakukan oleh Silva et al. (2001) kemudian memberikan gambaran mengenai
mekanisme kerja efek depresan linalool, yakni dengan inhibisi kompleks reseptor
NMDA sehingga sel saraf akan terinhibisi dan menjadi tidak dapat dirangsang.
Penelitian ini juga dapat dianalogikan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Umezu (2004) yang mempelajari tentang efek antiansietas minyak lavender
dimana disimpulkan bahwa linalool merupakan senyawa yang bertanggung jawab
terhadap efek antiansietas minyak lavender.
Pembuktian efek antistres ekstrak etanol daun pandan wangi dilakukan
dengan menggunakan metode potensiasi narkose. Ekstrak etanol daun pandan
wangi akan disimpulkan mempunyai efek antistres bila mampu mempotensiasi
G. Hipotesis
Ekstrak etanol daun pandan wangi mempunyai efek antistres pada mencit
jantan berdasarkan pada kemampuannya untuk mempotensiasi kerja hipnotik
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian efek antistres ekstrak etanol daun pandan wangi pada mencit
jantan ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni dengan menggunakan
rancangan acak lengkap pola searah.
B. Variabel dan Definisi Operasional Variabel 1. Variabel utama
a. Variabel bebas : dosis ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus
amaryllifolius Roxb.)
Dosis ekstrak etanol daun pandan wangi adalah jumlah miligram ekstrak
etanol daun pandan wangi tiap satuan kgBB subyek yang bersangkutan.
b. Variabel tergantung : perpanjangan waktu tidur mencit
Perpanjangan waktu tidur mencit merupakan respon mencit jantan
terhadap pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi.
2. Variabel pengacau terkendali
a. Galur subyek uji yang digunakan adalah galur Swiss.
b. Berat badan subyek uji 20-30 gram.
c. Umur subyek uji 2-3 bulan.
d. Keadaan patologi subyek uji berada dalam keadaan sehat.
e. Subyek uji berjenis kelamin jantan.
f. Waktu dan tempat panen daun pandan wangi.
C. Bahan yang Digunakan 1. Bahan tanaman
Tanaman yang digunakan adalah daun pandan wangi (Pandanus
amaryllifolius Roxb.) yang dikeringkan di bawah sinar matahari langsung dengan
ditutupi kain hitam selama 1 hari dan kemudian dipanaskan dalam oven 70ºC
selama 30 menit. Tanaman pandan wangi yang digunakan diambil dari daerah
Baledono, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada waktu sore hari.
2. Subyek uji
Subyek uji yang digunakan adalah mencit jantan galur Swiss dengan berat
badan 20-30 g dan umur 2-3 bulan, diperoleh dari Laboratorium
Farmakologi-Toksikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
3. Bahan-bahan kimia
a. Bahan untuk ekstraksi adalah etanol 70% teknis (Brataco Chemika).
b. Diazepam (Indo Farma), berupa larutan untuk injeksi dalam ampul dengan
konsentrasi 5 mg/ml.
c. Natrium tiopental (Pentothal®) (Abbott), berupa serbuk untuk injeksi
dalam vial berisi 500 mg.
d. Aquades sebagai pelarut diazepam dan natrium tiopental yang diperoleh
dari Laboratorium Farmakologi-Toksikologi Universitas Sanata Dharma
e. CMC-Na (Brataco Chemika) sebagai pensuspensi ekstrak etanol daun
pandan wangi.
D. Alat yang Digunakan
1. Seperangkat alat untuk membuat ekstrak, yaitu perkolator
2. Blender (Retsch)
3. Vacuum rotary evaporator (Janke & Kunket tipe RVOS-ST ikalabortechnik)
4. Kertas saring
5. Oven (Memmert)
6. Seperangkat alat gelas seperti beaker glass, labu ukur, gelas ukur, pipet ukur,
pipet tetes, pengaduk, erlenmeyer, corong, cawan petri
7. Neraca elektrik (METTLER PM 4600 DeltaRange®)
8. Jarum suntik (Terumo®)
9. Stopwatch (Alba)
10.Styrofoam sebagai alas tidur mencit
E. Tata Cara Penelitian 1. Identifikasi tanaman
Identifikasi tanaman pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.)
dilakukan dengan menggunakan buku pembantu identifikasi (Dalimartha, 1999).
Determinasi bertujuan untuk memastikan tanaman yang digunakan adalah
2. Pengumpulan bahan
Pengumpulan bahan dilakukan dengan mengambil daun pandan wangi
segar yang berasal dari daerah Baledono, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah,
pada waktu sore hari, bulan Febuari 2007.
3. Pengeringan
Daun yang diperoleh dicuci bersih dengan air mengalir agar debu ataupun
kotoran yang menempel pada daun tersebut hilang. Setelah dicuci daun
dikeringkan di bawah sinar matahari langsung dengan ditutupi kain hitam,
kemudian daun dipanaskan di dalam oven dengan suhu 70ºC selama 30 menit.
Pengeringan dihentikan jika daun telah benar-benar kering, yang ditandai dengan
mudah dipatahkan dengan tangan.
4. Pembuatan serbuk
Setelah daun pandan wangi kering kemudian diserbuk dengan
menggunakan blender sampai halus dan diayak dengan ayakan tepung.
5. Pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi
Pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi dilakukan dengan metode
perkolasi. Cara pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi adalah serbuk daun
pandan wangi ditimbang sebanyak 160 g dan direndam dalam etanol 70% selama
24 jam. Kemudian serbuk yang telah terbasahi dipindahkan ke dalam perkolator
yang telah dilapisi kertas saring pada bagian tepi dan dasarnya. Serbuk dipadatkan
dengan hati-hati dalam perkolator dan dituangi etanol 70% sampai terdapat selapis
Untuk menghindari kontaminasi oleh pengotor yang berasal dari kertas
saring dan perkolator, kran perkolator dibuka dan perkolat pertama dibuang.
Selanjutnya perkolat dibiarkan menetes dengan kecepatan kurang lebih 1 ml tiap
menit atau setara dengan 25 tetes sambil terus ditambahkan cairan penyari yang
baru sehingga selalu ada selapis cairan penyari di atas serbuk. Perkolasi dilakukan
sampai perkolat tampak hampir jernih.
Perkolat yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan menggunakan
vacuum rotary evaporator lalu dikeringkan di dalam oven dengan suhu 40ºC.
didapat ekstrak etanol daun pandan wangi yang kental dan berwarna coklat
kehitaman dengan bau yang khas.
Ekstrak kental ditimbang dan disuspensikan dalam CMC-Na 1% sehingga
Skema kerja pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi sebagai berikut :
Serbuk daun pandan wangi sebanyak 160 g
direndam dalam etanol 70% selama 24 jam
Serbuk yang telah terbasahi dipindahkan
ke dalam perkolator
Perkolat dibiarkan menetes 1 ml/menit
(setara 25 tetes) sampai hampir jernih
Cairan penyari (etanol 70%) ditambahkan
secara berkesinambungan
Perkolat dipekatkan
dengan vacuum rotary evaporator
Dikeringkan dalam oven
dengan suhu 40ºC
Ekstrak kering disuspensikan
dalam CMC-Na 1%
6. Penetapan peringkat dosis ekstrak etanol daun pandan wangi
Dosis ekstrak etanol daun pandan wangi yang digunakan berasal dari hasil
orientasi. Pertama-tama dicari dosis terendah yang mampu berefek antistres
kemudian dosis dinaikkan sedikit demi sedikit sampai diperoleh dosis antistres
tertinggi yang tidak menimbulkan kematian. Kisaran dosis yang didapat yaitu
sebesar 4000 mg/kgBB sampai 8000 mg/kgBB, berdasarkan kisaran ini dapat
dibuat peringkat dosis ekstrak etanol daun pandan wangi dengan increment :
increment = , dimana n adalah jumlah peringkat dosis
increment = = 1,26
Peringkat dosis ekstrak etanol daun pandan wangi yang digunakan adalah :
Peringkat 1 : 4000 mg/kgBB
Peringkat 2 : 4000 mg/kgBB x 1,26 = 5040 mg/kgBB
Peringkat 3 : 5040 mg/kgBB x 1,26 = 6350 mg/kgBB
Peringkat 4 : 8000 mg/kgBB
7. Penetapan peringkat dosis diazepam
Dosis terapi ansietas diazepam per oral adalah 2-10 mg perhari (Kastrup,
2004) kemudian dilakukan konversi dosis antara manusia 70 kg ke mencit 20 g
dengan faktor konversi 0,0026 (Laurence and Bacharach, 1964), sehingga kisaran
dosis diazepam untuk mencit adalah 2 mg x 0,0026 x 1000/20 = 0,260 mg/kgBB
sampai 10 mg x 0,0026 x 1000/20 = 1,300 mg/kgBB. Peringkat dosis diazepam
increment = = 1,71
Peringkat dosis diazepam yang digunakan adalah :
Peringkat 1 : 0,260 mg/kgBB
Peringkat 2 : 0,260 mg/kgBB x 1,71 = 0,445 mg/kgBB
Peringkat 3 : 0,445 mg/kgBB x 1,71 = 0,760 mg/kgBB
Peringkat 4 : 1,300 mg/kgBB
8. Pengenceran larutan diazepam
Cara pengenceran larutan diazepam yaitu 0,5 ml larutan untuk injeksi
diazepam konsentrasi 5 mg/ml diambil dari ampul dengan pipet ukur 0,5 ml dan
dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml kemudian ditambahkan aquades sampai
tanda. Diperoleh larutan diazepam dengan konsentrasi 0,05 mg/ml.
9. Penetapan dosis aquades
Dosis aquades dihitung dengan rumus : D = . Volume yang digunakan
adalah setengah volume maksimal pemberian secara oral yaitu 0,5 x 1 ml = 0,5 ml
dan berat badan yang digunakan adalah berat badan maksimal mencit (30 g)
sehingga dosis aquades adalah D = = 0,01666 mg/g = 16,667
mg/kgBB.
10. Penetapan dosis natrium tiopental
Dosis natrium tiopental sebagai induktor anestesi adalah sebesar 4-6
mg/kgBB (Dollery, 1999), karena hanya akan digunakan salah satu dosis maka
dilakukan orientasi sebelumnya dan didapatkan hasil bahwa pada dosis 5
Dosis natrium tiopental untuk mencit 20 g adalah 5 mg/kgBB x 70 kg x 0,0026 x
1000/20 = 45,5 mg/kgBB. Hasil orientasi terlampir pada lampiran 2.
11. Pembuatan larutan natrium tiopental
Cara pembuatan larutan natrium tiopental yaitu melarutkan natrium
tiopental sebanyak 500 mg dengan aquades secukupnya, kemudian ditambahkan
lagi hingga diperoleh volume 100 ml. Diperoleh larutan natrium tiopental dengan
konsentrasi 5 mg/ml.
12. Perlakuan hewan uji
Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit jantan galur
Swiss, umur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 g sebanyak 54 ekor. Sebelum
digunakan mencit dipuasakan selama kira-kira 16 jam dengan diberi air minum.
Pemberian perlakuan dilakukan per oral, 45 menit kemudian mencit diinduksi
natrium tiopental dengan jalur intraperitoneal (i.p.).
Pembagian kelompok perlakuan hewan uji, yaitu :
Kelompok I : diberi aquades sebagai kontrol negatif dosis 16,667 mg/kgBB
dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB
Kelompok II : diberi diazepam sebagai kontrol positif dosis 0,260 mg/kgBB
dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB
Kelompok III : diberi diazepam sebagai kontrol positif dosis 0,445 mg/kgBB
dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB
Kelompok IV : diberi diazepam sebagai kontrol positif dosis 0,760 mg/kgBB
Kelompok V : diberi diazepam sebagai kontrol positif dosis 1,300 mg/kgBB
dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB
Kelompok VI : diberi ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 4000 mg/kgBB
dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB
Kelompok VII : diberi ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 5040 mg/kgBB
dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB
Kelompok VIII : diberi ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 6350 mg/kgBB
dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB
Kelompok IX : diberi ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 8000 mg/kgBB
dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB
Mencit yang telah diinduksi natrium tiopental diletakkan di dalam bejana
pengamatan yang dialasi dengan styrofoam.
13. Penentuan efek antistres
Pengujian efek antistres dilakukan dengan menghitung waktu tidur
masing-masing mencit dalam detik untuk tiap kelompok. Waktu tidur mencit
adalah sejak saat terjadi induksi tidur sampai saat munculnya kembali refleks
pemulihan posisi tubuh normal. Efek antistres dapat dilihat dari perpanjangan
waktu tidur mencit yang diperoleh dengan cara menghitung selisih waktu tidur
kelompok perlakuan dengan waktu tidur kelompok kontrol negatif. Apabila waktu
tidur kelompok perlakuan lebih panjang daripada waktu tidur kelompok kontrol
Skema pengujian efek antistres dapat dilihat pada bagan berikut :
Mencit dipuasakan satu hari
sebelum penelitian
Mencit dipejankan dengan aquades, diazepam
atau ekstrak etanol daun pandan wangi
per oral
Empat puluh lima menit kemudian
mencit diinduksi dengan natrium tiopental
melalui jalur intraperitoneal
Amati saat masing-masing mencit mulai tidur
dicatat sebagai waktu induksi tidur
Amati saat munculnya kembali
refleks pemulihan posisi tubuh normal
Waktu tidur masing-masing mencit dihitung
Perpanjangan waktu tidur mencit dihitung
F. Tata Cara Analisis Hasil
a. Analisis hasil dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov, uji homogenitas
variansi, dilanjutkan Anova satu arah dan uji Scheffe dengan taraf kepercayaan
95%.
b. Aturan keputusan. Untuk uji Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas
variansi, apabila nilai signifikansi > 0,05 (α : 5%) maka data dalam distribusi
normal dan homogen. Untuk Anova satu arah, adanya perbedaan di antara
kelompok perlakuan dinyatakan bermakna bila harga signifikansi
(probabilitas) < 0,05 dan dinyatakan tidak bermakna bila harga probabilitas >
0,05. untuk uji Scheffe, perbedaan antar dosis dinyatakan bermakna apabila
harga signifikansi (probabilitas) < 0,05 dan perbedaan dinyatakan tidak
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Identifikasi Tanaman
Determinasi tanaman penting untuk dilakukan, langkah ini bertujuan untuk
memastikan bahwa tanaman yang digunakan tidak salah dan benar-benar berasal
dari spesies Pandanus amaryllifolius Roxb. Dalam penelitian ini identifikasi
tanaman pandan wangi tidak didasarkan pada kunci-kunci determinasi melainkan
berdasarkan Dalimartha (1999). Pemilihan acuan ini dilakukan sebab sulit
diperoleh tanaman pandan wangi yang lengkap dengan bunga dan buah.
Berdasarkan pada Dalimartha (1999), dapat dipastikan bahwa tanaman
yang digunakan adalah Pandanus amaryllifolius Roxb.
B. Pengumpulan, Pengeringan, Pembuatan Serbuk, dan Hasil Ekstraksi Serbuk
Daun pandan wangi yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari
daerah Baledono, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada bulan Febuari 2007
dan dipetik pada waktu sore hari. Dipilih daun yang masih segar dan dipetik pada
sore hari.
Tempat pemanenan diusahakan seragam karena perbedaan kondisi
lingkungan tempat pemanenan dapat mempengaruhi jumlah kandungan zat aktif.
Waktu pemanenan juga sangat penting untuk diperhatikan agar dapat diperoleh
jumlah kandungan zat aktif yang optimal. Daun pandan wangi seharusnya dipetik
pada waktu pagi hari sebelum sinar matahari menguapkan sebagian linalool
(Anonim, 2008), tetapi karena pada pelaksanaannya daun pandan wangi dipanen
pada waktu sore hari maka rendemen linalool yang didapat akan menurun.
Sebagian linalool masih dapat tertahan di dalam daun karena daun pandan wangi
memiliki struktur yang kaku dan permukaan yang mengkilap sehingga dapat
menghambat proses penguapan.
Daun yang diperoleh dicuci dengan air mengalir yang dimaksudkan untuk
menghilangkan debu atau kotoran yang melekat. Setelah dicuci, daun dikeringkan
di bawah sinar matahari langsung dengan ditutupi kain hitam, kemudian daun
dipanaskan di dalam oven dengan suhu 70ºC selama 30 menit. Pengeringan
bertujuan untuk menghindari tumbuhnya jamur dan bakteri serta menghambat
kerja enzim tanaman yang dapat menimbulkan perubahan kimiawi, selain itu juga
bertujuan untuk merusak membran sel sehingga permeabilitas sel terhadap zat
aktif yang akan diekstrak menjadi lebih besar. Kain hitam yang digunakan
berfungsi untuk menyerap sinar ultra violet karena sinar ultra violet dapat merusak
kandungan zat aktif tanaman, selain itu karena warna hitam menyerap semua
cahaya maka panas yang didapat tanaman akan cukup. Pengeringan dengan oven
dilakukan untuk memastikan sisa-sisa kandungan air di dalam daun telah
menguap. Proses pengeringan ini sebenarnya juga dapat menurunkan rendemen
linalool yang diperoleh karena linalool akan ikut menguap, tetapi proses ini
penting karena proses ekstraksi daun pandan wangi tidak dapat langsung
penyimpanan sehingga dikhawatirkan daun pandan wangi akan rusak selama masa
tersebut bila tidak dikeringkan.
Daun yang sudah kering kemudian diserbuk dengan blender dan diayak
menggunakan ayakan tepung. Proses penyerbukan bertujuan untuk memperkecil
ukuran partikel sehingga meningkatkan luas permukaan kontak dengan cairan
penyari, sementara pengayakan dimaksudkan agar ukuran partikel yang didapat
lebih seragam dan dengan demikian aliran cairan penyari di dalam perkolator
menjadi teratur.
Serbuk yang akan diekstraksi direndam terlebih dahulu selama 24 jam
dalam etanol 70%, hal ini bertujuan untuk membasahi sel-sel daun dengan cairan
penyari sehingga zat aktif yang terkandung dalam daun pandan wangi menjadi
lebih mudah tertarik pada proses perkolasi berikutnya. Serbuk yang telah terbasahi
kemudian dipindahkan ke dalam perkolator sedikit demi sedikit sambil tiap kali
ditekan-tekan agar pengisian padat merata. Jika pengisian tidak merata maka
proses ekstraksi tidak berjalan dengan efisien sebab cairan penyari akan bergerak
turun ke bawah dengan mencari jalan yang paling sedikit hambatannya.
Beberapa tetes perkolat pertama digunakan sebagai pembilas kertas saring
dan perkolator agar kontaminan tidak ikut tercampur dalam keseluruhan ekstrak
yang akan didapat, selanjutnya perkolat dibiarkan menetes dengan kecepatan
sekitar 25 tetes tiap menit. Kecepatan yang digunakan harus optimal karena jika
kecepatan mengalir terlalu cepat maka proses ekstraksi tidak berjalan dengan
maksimal, sementara jika kecepatan mengalir terlalu lambat maka akan
dipertahankan agar proses ekstraksi berjalan terus-menerus. Proses ekstraksi
dihentikan jika perkolat yang menetes tampak hampir jernih karena diasumsikan
seluruh kandungan zat aktif di dalam serbuk telah terekstraksi.
Perkolasi dipilih sebagai metode ekstraksi dalam penelitian ini karena
metode yang dilakukan relatif mudah, dan hampir seluruh kandungan zat aktif
dapat terekstraksi karena cairan penyari yang digunakan selalu baru sehingga
tidak berada dalam kondisi jenuh. Prinsip dari metode perkolasi adalah cairan
penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk dan akan melarutkan zat aktif
yang terkandung dalam sel yang dilaluinya. Cairan penyari akan bergerak ke
bawah karena adanya gaya gravitasi, gaya beratnya sendiri, dan gaya tekan cairan
penyari di atasnya dikurangi dengan gaya kapiler yang cenderung akan menahan.
Pelarut yang digunakan adalah etanol 70% yang berarti mengandung 70%
etanol absolut dan 30% air. Konsentrasi ini dipilih agar zat aktif yang terlarut
dalam etanol dapat terekstraksi dengan baik dan zat aktif yang lebih terlarut dalam
air juga dapat terekstraksi. Etanol digunakan sebagai cairan penyari dalam
penelitian ini dikarenakan beberapa sebab, antara lain etanol merupakan pelarut
yang universal dan diijinkan penggunaannya dalam makanan, selain itu etanol
mempunyai sifat dapat menghambat pertumbuhan kapang dan kuman, dapat
bercampur dengan air dalam segala perbandingan, dan panas yang diperlukan
untuk pemekatan juga lebih sedikit.
Perkolat yang didapat kemudian dipekatkan untuk menghilangkan cairan
penyari, dilakukan dengan menggunakan vacuum rotary evaporator. Kelebihan
waterbath adalah adanya efisiensi waktu dan pemaparan suhu yang tidak terlalu
tinggi karena tekanan udara di dalam labu diatur lebih rendah daripada tekanan
udara sekitarnya. Ekstrak hasil pemekatan kemudian dikeringkan lagi di dalam
oven dengan suhu 40ºC untuk menghilangkan sisa-sisa air dalam cairan penyari
yang belum teruapkan. Ekstrak tersebut diletakkan di dalam cawan petri agar luas
permukaan lebih besar dan proses penguapan air lebih cepat.
Hasil akhir yang diperoleh berupa ekstrak kental berwarna coklat
kehitaman dengan bau yang khas. Kepastian adanya linalool dalam ekstrak yang
didapat didasarkan pada pengamatan organoleptis, yaitu bahwa ekstrak etanol
daun pandan wangi memiliki bau yang sama dengan simplisia basahnya.
C. Hasil Uji Efek Antistres
Penelitian ini dilakukan untuk menguji kebenaran efek antistres ekstrak
etanol daun pandan wangi pada mencit jantan menggunakan metode potensiasi
narkose yang telah dimodifikasi, yaitu penggantian pentobarbital dengan natrium
tiopental. Natrium tiopental, walaupun diindikasikan sebagai anestesi umum,
merupakan obat golongan barbiturat yang bersifat dose dependent sehingga pada
dosis rendah efek yang ditimbulkan hanya sebatas hipnotik. Penggunaan natrium
tiopental jika dibandingkan dengan pentobarbital memiliki beberapa keuntungan,
yaitu onset dan durasi yang lebih singkat sehingga waktu pengamatan menjadi
lebih singkat. Perbedaan onset dan durasi antara pentobarbital dengan natrium