• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efek antistres ekstak etanol daun pandan wangi [Pandanus amarylifolus Roxb.] pada mencit jantan - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Efek antistres ekstak etanol daun pandan wangi [Pandanus amarylifolus Roxb.] pada mencit jantan - USD Repository"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

EFEK ANTISTRES EKSTRAK ETANOL DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amaryllifolius Roxb.) PADA MENCIT JANTAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh :

Eveline

NIM : 038114053

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

EFEK ANTISTRES EKSTRAK ETANOL DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amaryllifolius Roxb.) PADA MENCIT JANTAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh :

Eveline

NIM : 038114053

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2008

(3)
(4)
(5)

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia

yang memberi kekuatan kepadaku

(Filipi 4 : 13)

Dengan segenap cinta kupersembahkan untuk :

Tuha n Ye sus Kristus

Pa p a d a n Ma ma

Ko ko Nic o d a n Fe nd i

Te ma n-te ma n d a n ka ka k-ka ka kku

Se b a g a i ta nd a te rima ka sih a ta s d ukung a n d a n ka sih sa ya ng

Ke p a d a ku

Alma ma te rku

(6)
(7)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan YME atas rahmat dan

karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan

skripsi dengan baik. Skripsi dengan judul “Efek Antistres Ekstrak Etanol Daun

Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) pada Mencit Jantan” disusun

untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) pada

Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulisan skripsi ini terwujud atas bantuan dan kerjasama dari berbagai

pihak, yang telah berkenan membimbing, memberi petunjuk serta motivasi, oleh

karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Rita Suhadi, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Drs. Mulyono, Apt., selaku dosen pembimbing dan penguji yang telah

memberikan arahan dan bimbingan selama penelitian dan penyusunan skripsi.

3. Bapak Yosef Wijoyo, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah berkenan

meluangkan waktu untuk menguji dan memberikan saran dalam penelitian.

4. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., selaku dosen penguji yang telah berkenan

meluangkan waktu untuk menguji dan memberikan saran dalam penelitian dan

juga selaku Kepala Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta yang telah memberikan ijin pemakaian fasilitas

laboratorium.

(8)

vii

5. Staff Laboratorium Famakologi dan Toksikologi, Biokimia, dan

Biofarmakologi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta,

yang telah memberi segala bantuan selama berlangsungnya penelitian ini.

6. Staff Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta, yang telah memberi segala bantuan selama

berlangsungnya penelitian ini.

7. Papa, mama, dan koko Nico yang selalu mendukung, membantu dan menjadi

motivasi dalam bekerja.

8. Fendi, teman seperjuangan yang selalu memberi semangat, dukungan dan

pertolongan.

9. Teman-teman dan kakak-kakakku, Olivia, Chika, Indu, Nia, Agnes, Eka,

Siska, Welly, Kak Grace, Kak Vrysca, Yuni dan semua anak kost 99999.

Semoga Tuhan YME selalu memberkati dan melimpahkan rahmat yang setimpal

dengan kebaikan-kebaikan tersebut.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna,

oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun

demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhirnya besar harapan penulis semoga hasil penelitian ini bermanfaat

bagi pengembangan ilmu farmasi khususnya di bidang obat tradisional serta

berguna bagi para pembaca.

Yogyakarta, 14 Desember 2007

(9)
(10)

INTISARI

Stres merupakan respon tubuh terhadap adanya stimulus (stresor) yang dapat mengganggu homeostasis tubuh dan mengakibatkan berbagai macam penyakit sehingga harus diobati. Salah satu pengobatan alternatif yang telah digunakan masyarakat berdasarkan pengalaman adalah pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) yang daunnya mengandung linalool, senyawa yang dapat menginhibisi reseptor NMDA. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan kebenaran efek antistres ekstrak etanol daun pandan wangi dan mengetahui dosis terapinya.

Penelitian ini bersifat eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola searah. Metode yang digunakan adalah metode potensiasi narkose yang telah dimodifikasi pelaksanaannya. Subyek uji yang digunakan adalah mencit jantan (galur Swiss, umur 2-3 bulan, berat badan 20-30 gram) sebanyak 54 ekor yang dibagi secara acak dalam sembilan kelompok (N=6). Kelompok I adalah kontrol negatif aquades (dosis 16,667 mg/kgBB), kelompok II, III, IV dan V adalah kontrol positif diazepam dengan dosis 0,260; 0,445; 0,760; dan 1,300 mg/kgBB, sedangkan kelompok VI, VII, VIII, dan IX adalah kelompok perlakuan ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 4000; 5040; 6350; dan 8000 mg/kgBB. Empat puluh lima menit kemudian mencit diinjeksi natrium tiopental (dosis 45,5 mg/kgBB) dan dilakukan pengamatan lama tidur mencit. Data perpanjangan waktu tidur mencit dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov, uji homogenitas variansi, dilanjutkan Anova satu arah dan uji Scheffe dengan taraf kepercayaan 95%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun pandan wangi memiliki efek antistres. Efek antistres ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 4000; 5040; 6350; dan 8000 mg/kgBB setara dengan efek antistres dizepam dosis 0,260; 0,445; dan 0,760 mg/kgBB. Dosis terapi yang digunakan adalah 4000 mg/kgBB.

Kata kunci : ekstrak etanol daun pandan wangi, natrium tiopental, perpanjangan waktu tidur mencit

(11)

ABSTRACT

Stress is body’s response to a stresor and may alter body’s homeostasis. Diseases may occur because of stress and therefore it needs to be treatened.

Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) had been used empirically as an CNS depresant for its leave contain linalool. The object of this study was to proof the antistres effect of ethanol extract of pandan wangi leave and the therapeutic dose.

The experimental study was conducted according to randomized complete design using the modified narcosis potentiation method. The experimental subjects were 54 male mice (Swiss strain, 2-3 months old, 20-30 gram body weight) divided randomly into 9 groups, 6 mice each group. Each group were given with a different treatment, i.e. : group I as the negative control using aquadest (16,667 mg/kgBW), group II, III, IV, and V were the positive controls using diazepam 0,260 mg/kgBW; 0,445 mg/kgBW; 0,760 mg/kgBW; and 1,300 mg/kgBW, group VI, VII, VIII, and IX were the ethanol extract of pandan wangi

leave groups with 4000 mg/kgBW; 5040 mg/kgBW; 6350 mg/kgBW; and 8000 mg/kgBW doses. Fourty five minutes after, all mice were injected with sodium thiopental (45,5 mg/kgBW) and the mice’s sleep time were observed. The antistres effect was observed from mice’s prolonged sleep time, the data were analyzed by Kolmogorov-Smirnov test, homogeneity of variances test, one way Anova and Scheffe test at 95% significant level.

The result of the experimental shows that ethanol extract of pandan wangi

leave have an antistres effect. The effect of ethanol extract of pandan wangi leave at 4000 mg/kgBW; 5040 mg/kgBW; 6350 mg/kgBW; and 8000 mg/kgBW was equal to diazepam at 0,260; 0,445; and 0,760 mg/kgBW. The terapeutic dose was 4000 mg/kgBW.

Key word : pandan wangi’s leaves ethanol extract, sodium thiopental, mice’s prolonged sleep time

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ……… HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ……… HALAMAN PENGESAHAN ………... HALAMAN PERSEMBAHAN ……….. PRAKATA ……… PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……….. INTISARI ………..

1. Perumusan masalah ………

2. Keaslian penelitian ……….

3. Manfaat penelitian ………

a. Manfaat teoritis ………..

b. Manfaat praktis ………

(13)

1. Tujuan umum ………

2. Tujuan khusus ………

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ………. A. Uraian tentang Tanaman ………

1. Keterangan botani ………..

2. Morfologi tanaman ………

3. Nama daerah ………..

4. Sinonim ………

5. Kandungan senyawa ………..

6. Khasiat ………..

7. Linalool ………..

a. Kimia ………

b. Mekanisme kerja ………...

B. Ekstrak ……….

1. Obat hipnotik sedatif ……….

(14)

b. Farmakologi klinik ………

c. Mekanisme kerja ………..

d. Farmakokinetika ………

4. Natrium tiopental ……….

a. Kimia ……….

b. Farmakologi klinik ………

c. Mekanisme kerja ………..

d. Farmakokinetika ………

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ……… A. Jenis dan Rancangan Penelitian ……….. B. Variabel dan Definisi Operasional Variabel ………..

(15)

1. Variabel utama ………

2. Variabel pengacau terkendali ………

C. Bahan yang Digunakan ………. 1. Bahan tanaman ………

2. Subyek uji ……….

3. Bahan-bahan kimia ……….

D. Alat yang Digunakan ……… E. Tata Cara Penelitian ………

1. Identifikasi tanaman ……….

2. Pengumpulan bahan ……….

3. Pengeringan ……….

4. Pembuatan serbuk ………

5. Pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi ………..

6. Penetapan peringkat dosis ekstrak etanol daun pandan wangi …………

7. Penetapan peringkat dosis diazepam ………..

8. Pengenceran larutan diazepam ………..

9. Penetapan dosis aquades …………..………..

10.Penetapan dosis natrium tiopental ………

11.Pembuatan larutan natrium tiopental ………

12.Perlakuan hewan uji ………

13.Penentuan efek antistres ………..

F. Tata Cara Analisis Hasil ……….. BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……….

(16)

A. Hasil Identifikasi Tanaman ……….. B. Pengumpulan, Pengeringan, Pembuatan Serbuk, dan Hasil

Ekstraksi Serbuk ……… C. Hasil Uji Efek Antistres ………. BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ………

A. Kesimpulan ………

B. Saran ……….

DAFTAR PUSTAKA ……… LAMPIRAN ………..……. BIOGRAFI PENULIS ………..

40

40

44

53

53

53

54

58

71

(17)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I. Hasil rata-rata perpanjangan waktu tidur mencit ……….…..

Tabel II. Hasil Anova satu arah perpanjangan waktu tidur mencit …………

Tabel III. Hasil uji Scheffe perpanjangan waktu tidur mencit ………. 46

50

51

(18)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Struktur kimia linalool ……….

Gambar 2. Stres dan sistem endokrin ………

Gambar 3. Struktur kimia diazepam ………..……….

Gambar 4. Skema reseptor GABAA ...

Gambar 5. Skema biotransformasi diazepam ...

Gambar 6. Struktur kimia natrium tiopental ………..….

Gambar 7. Skema pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi ………

Gambar 8. Skema pengujian efek antistres ………

Gambar 9. Grafik rata-rata perpanjangan waktu tidur mencit ………..

Gambar 10. Grafik rata-rata perpanjangan waktu tidur mencit ± 2SE ………

Gambar 11. Foto tanaman pandan wangi (Pandanus amaryllifoliusRoxb.) ….

Gambar 12. Foto ekstraksi daun pandan wangi secara perkolasi ………

Gambar 13. Foto ekstrak etanol daun pandan wangi ………

(19)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Surat pengesahan identifikasi ……….

Lampiran 2. Data orientasi dosis natrium tiopental ……….………..

Lampiran 3. Data perpanjangan waktu tidur mencit ……….

Lampiran 4. Hasil uji Kolmogorov-Smirnov ……….

Lampiran 5. Hasil uji homogenitas variansi ……….………….

Lampiran 6. Hasil uji Anova satu arah ……….………

Lampiran 7. Hasil uji Scheffe dengan taraf kepercayaan 95% ………

Lampiran 8. Foto tanaman pandan wangi (Pandanus amryllifolius Roxb.) ...

Lampiran 9. Foto ekstraksi daun pandan wangi secara perkolasi ………

Lampiran 10. Foto ekstrak etanol daun pandan wangi ………

Lampiran 11. Foto pelaksanaan uji efek antistres ………. 58

59

60

62

63

64

65

67

68

69

(20)

BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang

Perubahan pola hidup manusia Indonesia akibat adanya perubahan

lingkungan sekitar memberikan tuntutan yang lebih hebat untuk dipenuhi, apabila

terdapat ketidakseimbangan antara tuntutan dengan kemampuan pribadi untuk

mengatasinya maka akan berdampak pada kondisi stres (Bishop, 1994). Stres

merupakan suatu bentuk kecemasan (Rang, Dale, Ritter, and Moore, 2003) dan

juga penjumlahan reaksi biologis terhadap setiap rangsangan yang merugikan,

fisik, mental, atau emosional, internal atau eksternal, yang cenderung

mengganggu homeostasis organisme (Anonim, 1995 b). Stres memicu sekresi

kortikosteroid, epinefrin dan norepinefrin secara berlebihan sehingga bila kondisi

ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama akan dapat menimbulkan berbagai

macam penyakit (Nevid, Rathus, and Greene, 2003) maka stres harus diobati.

Masyarakat sejak jaman dahulu telah menggunakan berbagai macam

tanaman untuk memberi efek menenangkan sehingga stres dapat diobati. Salah

satu tanaman yang telah digunakan berdasarkan pengalaman untuk mengatasi

kegelisahan adalah pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) (Dalimartha,

1999). Daun pandan wangi mengandung zat aktif linalool (Katzer, 2001) dimana

senyawa ini telah dibuktikan memiliki efek depresan pada SSP melalui

mekanisme inhibisi pada reseptor NMDA (Silva, Elisabetsky, and Souza, 2001).

(21)

Kelebihan penggunaan daun pandan wangi sebagai obat antistres terletak pada

ketersediaan simplisia yang melimpah di negara Indonesia.

Kebenaran ilmiah mengenai khasiat daun pandan wangi belum dapat

dipastikan sehingga penelitian ini dilakukan untuk membuktikan efek antistres

ekstrak etanol daun pandan wangi secara praklinik pada mencit jantan.

1. Perumusan masalah

a. Apakah benar ekstrak etanol daun pandan wangi mempunyai efek antistres

pada mencit jantan?

b. Seberapa besar efek antistres ekstrak etanol daun pandan wangi?

c. Berapakah dosis ekstrak etanol daun pandan wangi yang dapat

menimbulkan efek antistres pada mencit jantan?

2. Keaslian penelitian

Penelitian mengenai daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.)

yang pernah dilakukan yaitu studi pengaruh infusa daun pandan wangi terhadap

kelarutan kalsium batu ginjal secara in vitro menggunakan metode spektro

serapan atom (Rahardjo, 2003), dan studi daya melarutkan fraksi air dan etil asetat

daun pandan wangi terhadap kalsium batu ginjal secara in vitro (Ni Putu, 2007)

sedangkan penelitian tentang efek antistres ekstrak etanol daun pandan sepanjang

(22)

3. Manfaat penelitian

a.Manfaat teoritis. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat

untuk menambah ilmu pengetahuan di bidang farmasi terutama yang berkaitan

dengan penggunaan obat tradisional sebagai alternatif pengobatan suatu penyakit.

b.Manfaat praktis. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan

informasi pada masyarakat tentang khasiat ekstrak etanol daun pandan wangi

sebagai antistres dan dosis terapinya.

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi ilmiah tentang

manfaat daun pandan wangi sebagai tanaman obat.

2. Tujuan khusus

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan kebenaran efek antistres

ekstrak etanol daun pandan wangi, mengetahui seberapa besar efek antistres yang

(23)

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Uraian tentang Tanaman 1. Keterangan botani

Famili : Pandanaceae

Spesies : Pandanus amaryllifolius Roxb. (Dalimartha, 1999)

2. Morfologi tanaman

Perdu tahunan, tinggi 1-2 m. Batang bulat dengan bekas duduk daun,

bercabang, menjalar, akar tunjang keluar di sekitar pangkal batang dan cabang.

Daun tunggal, duduk, dengan pangkal memeluk batang, tersusun berbaris tiga

dalam garis spiral. Helai daun berbentuk pita, tipis, licin, ujung runcing, tepi rata,

bertulang sejajar, panjang 40-80 cm, lebar 3-5 cm, berduri tempel pada ibu tulang

daun permukaan bawah bagian ujung-ujungnya, warna hijau. Bunga majemuk,

bentuk bongkol, warnanya putih. Buahnya buah batu, menggantung, bentuk bola,

diameter 4-7,5 cm, dinding buah berambut, warnanya jingga (Dalimartha, 1999).

Permukaan daun yang atas lebih mengkilap daripada permukaan daun yang bawah

(Anonim, 1989).

3. Nama daerah

Sumatera : seuke bangu, seuke musang, pandan jau, pandang bebau,

pandan harum, pandan musang. Jawa: pandan rempai, pandan wangi, pandan

rampe, pandan sungit, pandan wangi, pandan room. Nusa Tenggara : pandan

(24)

arum, hena sina, bonak. Sulawesi: pondang, pona, pondango, pandang bunga.

Maluku: keke moni, hao moni, keker moni, pondak, pondaki, pudaka, pondak

(Anonim, 1986 a).

4. Sinonim

Pandanus odorus Ridl., Pandanus latifolius Hassk., Pandanus hasskarlii

Merr. (Dalimartha, 1999).

5. Kandungan senyawa

Daun pandan wangi mengandung alkaloida, saponin, flavonoida, tanin,

polifenol, dan zat warna (Dalimartha, 1999). Selain itu juga mengandung minyak

menguap (Anonim, 1989). Penelitian lain membuktikan adanya senyawa-senyawa

berikut beserta konsentrasinya : stirena 0,62 ppb; formiltifen 0,76 ppb; linalool

0,29 ppb; β-caryofilen 0,55 ppb; β-farnesen 0,18 ppb; 1,2-dimetoksibenzen 0,15

ppb dan β-selinen 1,24 ppb (Katzer, 2001).

6. Khasiat

Daun pandan wangi berkhasiat untuk mengatasi lemah saraf

(neurasthenia), tidak nafsu makan, rematik, pegal linu, sakit disertai gelisah,

rambut rontok, menghitamkan rambut, dan ketombe (Dalimartha, 1999). Heyne

(1950) juga menyebutkan bahwa rampe yang diseduh air mendidih kemudian

didinginkan dapat dipakai sebagai obat minum maupun obat luar bagi orang-orang

sakit yang gelisah.

7. Linalool

a.Kimia.

(25)

Nama kimia : 3,7-Dimetil-1,6-oktadien-3-ol

BM : 154,25

Titik didih : 198-200ºC

Kelarutan : tidak larut dalam air

larut dalam alkohol (Anonim, 2001)

Aktifitas : hipnotik sedatif (Duke, 2007)

Struktur kimia linalool adalah :

OH

Gambar 1. Struktur kimia linalool (Anonim, 2001)

b.Mekanisme kerja. Linalool adalah senyawa monoterpen yang

merupakan komponen utama minyak atsiri beberapa spesies tumbuhan aromatik

(Silva, et al., 2001). Salah satu minyak atsiri yang mengandung linalool adalah

minyak lavender (Lavandula officinalis [L. angustifolia]) yang telah diteliti efek

antiansietasnya melalui uji konflik Geller dan uji konflik Vogel. Minyak lavender

dibuktikan memiliki efek antiansietas karena dapat memberikan hasil yang

bermakna pada kedua uji tersebut. Uji yang sama kemudian dilakukan pada

linalool dan diperoleh hasil yang bermakna pada kedua uji tersebut sehingga

disimpulkan bahwa linalool merupakan komponen utama yang aktif secara

farmakologi, yang berperan dalam efek antiansietas minyak lavender (Umezu,

(26)

Penelitian lain terhadap senyawa tunggal linalool dilakukan untuk

mengetahui mekanisme aksi depresan linalool. Penelitian dilakukan dengan

mengamati efek linalool terhadap pengikatan [(3)H]MK801 (antagonis NMDA)

dan [(3)H]muscimol (agonis GABAA) pada membran kortikal tikus. Linalool

menunjukkan adanya inhibisi non-kompetitif tergantung dosis terhadap

pengikatan [(3)H]MK801 tetapi tidak menunjukkan adanya efek terhadap

pengikatan [(3)H]muscimol. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini

menyatakan bahwa aksi depresan linalool disebabkan karena adanya interaksi

langsung dengan kompleks reseptor NMDA (Silva, et al., 2001). Kompleks

reseptor NMDA merupakan kelompok reseptor yang tergolong dalam reseptor

glutamat ionotropik, suatu reseptor untuk neurotransmitter pemicu (excitatory)

(Ikawati, 2006).

B. Ekstrak 1. Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat

aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang

sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (Anonim, 1995 a).

Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat

(27)

dengan pengurangan tekanan, agar bahan utama obat sesedikit mungkin terkena

panas (Anonim, 1995 a).

2. Perkolasi

Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan

cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Alat yang digunakan

untuk perkolasi disebut perkolator, cairan yang dipakai untuk menyari disebut

cairan penyari atau menstrum, larutan zat aktif yang keluar dari perkolator disebut

sari atau perkolat, sedang sisa setelah dilakukannya penyarian disebut ampas atau

sisa perkolasi (Anonim, 1986 b).

Ekstraksi secara perkolasi dilakukan dengan cara sebagai berikut : basahi

10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok

dengan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari, masukkan ke dalam bejana

tertutup sekurang-kurangnya selama 3 jam. Pindahkan massa sedikit demi sedikit

ke dalam perkolator sambil tiap kali ditekan hati-hati, tuangi dengan cairan

penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih

terdapat selapis cairan penyari, tutup perkolator, biarkan selama 24 jam. Biarkan

cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit, tambahkan berulang-ulang

cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas

simplisia, hingga diperoleh 80 bagian perkolat. Peras massa, campurkan cairan

perasan ke dalam perkolat, tambahkan cairan penyari secukupnya hingga

diperoleh 100 bagian. Pindahkan ke dalam bejana, tutup, biarkan selama 2 hari di

(28)

C. Stres

Istilah stres digunakan untuk menunjukkan suatu tekanan atau tuntutan

yang dialami individu atau organisme agar ia beradaptasi atau menyesuaikan diri.

Sumber stres disebut stresor. Stresor menyangkut faktor-faktor psikologis seperti

ujian sekolah, masalah hubungan sosial, dan perubahan hidup seperti kematian

orang tercinta, perceraian, atau pemutusan hubungan kerja (PHK). Stresor

menyangkut pula masalah sehari-hari seperti kemacetan lalu lintas dan faktor

lingkungan fisik seperti kebisingan dan suhu udara yang terlalu panas atau dingin.

Istilah stres perlu dibedakan dengan istilah distres. Istilah distres mengacu pada

penderitaan fisik atau mental. Dalam batas tertentu stres sehat untuk diri kita, stres

membantu kita untuk tetap aktif dan waspada. Akan tetapi stres yang sangat kuat

atau berlangsung lama dapat melebihi kemampuan kita untuk mengatasi dan

menyebabkan distres emosional seperti depresi atau kecemasan, atau keluhan fisik

seperti kelelahan dan sakit kepala (Nevid et al., 2003).

Respon yang diberikan setiap organisme terhadap adanya stimulus

(stresor) dinamakan General Adaptation Syndrome (GAS) yang terdiri dari tiga

fase. Fase pertama disebut kegelisahan, yaitu ketika organisme mempersiapkan

diri untuk melawan ancaman. Selama fase ini, saraf simpatik teraktifkan dan

aktifitas adrenalis meningkat, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, dan

tubuh disiapkan untuk bergerak. Jika organisme dapat bertahan dari ancaman

terdahulu, maka ancaman berikutnya akan membawa organisme masuk dalam

fase dua yaitu fase bertahan. Selama fase ini organisme akan terus melawan,

(29)

penggunaan energi tubuh yang berlebihan. Seandainya ancaman muncul terus

menerus pada jangka waktu yang relatif lama, maka organisme memasuki fase

ketiga, yaitu fase keletihan. Organisme yang berada pada fase ini akan kehabisan

sumber tenaga untuk melawan ancaman dan menjadi rentan terhadap luka

fisiologis serta penyakit. Beberapa penyakit yang dikarenakan oleh habisnya

tenaga untuk melawan ancaman ini dinamakan penyakit adaptasi (disease of

adaptation) (Bishop, 1994).

Stres dapat diukur dengan beberapa cara antara lain :

1. Pengukuran self-report

Merupakan metode yang paling sering digunakan karena mudah dalam

memberi penilaian.

2. Pengukuran prestasi

Didasarkan pada efek nyata stres dimana seseorang sulit untuk memberikan

hasil yang baik ketika dia berada pada situasi yang penuh tuntutan.

3. Pengukuran fisiologi

Pengukuran dilakukan pada peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan

respirasi, atau perubahan daya tahan kulit terhadap arus listrik (Galvanic Skin

Response) sebagai hasil adanya aktifasi saraf simpatik.

4. Pengukuran biokimia

Stres juga mempunyai dampak yang penting terhadap sistem endokrin, yaitu

adanya peningkatan sekresi kortikosteroid oleh korteks adrenal dan

katekolamin oleh medula adrenalis. Peningkatan jumlah hormon ini dapat

(30)

Stres juga merupakan suatu fenomena psikofisiologik (Bishop, 1994).

Stres mempunyai efek domino dalam sistem endokrin, yaitu sebuah sistem tubuh

yang berupa kelenjar yang memproduksi dan melepaskan hormon, langsung ke

saluran darah. Sistem endokrin yang terdiri dari kelenjar-kelenjar

mendistribusikan hormon ke seluruh tubuh (Nevid et al., 2003).

Beberapa kelenjar endokrin terlibat dalam respon tubuh terhadap stres.

Pertama, hipotalamus, suatu struktur kecil di otak, melepas suatu hormon yang

menstimulasi kelenjar pituitari di dekatnya untuk menghasilkan hormon

adrenokortikotropik (ACTH). ACTH selanjutnya menstimulasi kelenjar adrenal

yang berlokasi di atas ginjal. Di bawah pengaruh ACTH, lapisan terluar kelenjar

adrenal yang disebut korteks adrenal melepas sejumlah steroid. Kortikol steroid

ini (disebut juga kortikosteroid) merupakan hormon yang mempunyai sejumlah

fungsi yang berbeda-beda dalam tubuh. Hormon ini mendorong perlawanan

terhadap stres, membantu perkembangan otot dan menyebabkan hati melepaskan

gula, yang merupakan tenaga dalam menghadapi stresor (Nevid et al., 2003).

Cabang simpatis dari susunan saraf otonom menstimulasi lapisan dalam

dari kelenjar adrenal, medula adrenalis, untuk melepas katekolamin, yaitu

epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin). Zat ini berfungsi sebagai

hormon setelah terlepas di dalam aliran darah. Norepinefrin juga diproduksi di

sistem saraf dan berfungsi sebagai neurotransmiter. Gabungan epinefrin dan

norepinefrin menggerakkan tubuh menghadapi stresor dengan meningkatkan kerja

jantung dan menstimulasi hati untuk melepaskan persediaan gula menjadi tenaga

(31)

Hormon-hormon stres yang diproduksi oleh kelenjar adrenal membantu

tubuh menyiapkan diri mengatasi stresor atau ancaman. Apabila stresor sudah

terlewati, tubuh kembali ke keadaan normal. Efek kortikosteroid tidak

mengganggu bila terlepas secara periodik, akan tetapi sekresi yang terus-menerus

terjadi menurunkan fungsi kekebalan tubuh dengan cara mengganggu produksi

antibodi. Melemahnya sistem kekebalan tubuh membuat kita rentan terhadap

penyakit umum seperti demam dan flu, dan meningkatkan risiko berkembangnya

penyakit kronis, termasuk kanker. Gangguan fisik lain yang diyakini disebabkan

atau dipengaruhi faktor psikologis, disebut psikosomatis atau psikofisiologis,

bentuknya mulai dari asma, sakit kepala sampai penyakit kardiovaskuler (Nevid et

al., 2003).

Sistem Simpatoadreno- Stres Sistem Hipotalamik-

medulari pituitari-adrenokortikal

Hipotalamus Sistem saraf simpatik

kelenjar pituitari

Sekresi epinefrin dan norepinefrin Sekresi kortikosteroid oleh korteks

oleh medula adrenalis adrenal

- peningkatan aktivitas jantung - peningkatan pelepasan energi

- peningkatan respirasi - penekanan respon inflamatori

- peningkatan perspirasi - penekanan respon imun

- pengalihan darah ke otot - stimulasi aktifitas mental - peningkatan metabolisme

Gambar 2. Stres dan sistem endokrin (Bishop, 1994)

Sejumlah neurotransmiter berpengaruh pada reaksi kecemasan, termasuk

asam gama-aminobutirat (GABA). GABA adalah neurotransmiter yang

meredakan aktifitas berlebih dari sistem saraf dan membantu untuk meredam

(32)

berlebihan, kemungkinan menyebabkan kejang-kejang. Dalam kasus-kasus yang

kurang dramatis, kurangnya aksi GABA dapat meningkatkan keadaan kecemasan.

Pandangan tentang peran GABA ini didukung oleh penemuan bahwa orang

dengan gangguan panik menunjukkan taraf GABA yang lebih rendah di beberapa

bagian otak. Kita tahu juga bahwa kelompok benzodiazepin membuat reseptor

GABA menjadi lebih sensitif, dengan demikian meningkatkan efek menenangkan

dari GABA (Nevid et al., 2003).

D. Obat Susunan Saraf Pusat

Obat yang bekerja pada susunan saraf pusat (SSP) memperlihatkan efek

yang sangat luas. Obat tersebut mungkin merangsang atau menghambat aktifitas

susunan saraf pusat secara spesifik atau secara umum. Beberapa kelompok obat

memperlihatkan selektivitas yang jelas misalnya analgesik antipiretik yang khusus

mempengaruhi pusat pengatur suhu dan pusat nyeri tanpa pengaruh jelas terhadap

pusat lain, sebaliknya anestetik umum dan hipnotik sedatif merupakan

penghambat SSP yang bersifat umum sehingga takar lajak yang berat selalu

disertai koma. Pembagian obat dalam kelompok yang merangsang dan kelompok

yang menghambat SSP tidak tepat, karena psikofarmaka misalnya menghambat

fungsi bagian SSP tertentu dan merangsang bagian SSP yang lain. Alkohol adalah

penghambat SSP tetapi dapat memperlihatkan efek perangsangan, sebaliknya

perangsangan SSP dosis besar selalu disertai depresi pasca perangsangan

(33)

Klasifikasi obat yang efek utamanya terhadap SSP berdasarkan atas usulan

WHO pada tahun 1967 adalah :

1. Agen anestetik

Definisi : obat yang digunakan untuk menghasilkan anestesi pembedahan

2. Ansiolitik dan sedatif

Sinonim : hipnotik, sedatif, transkuiliser minor

Definisi : obat yang menyebabkan tidur dan mengurangi kecemasan

3. Antipsikotik

Sinonim : obat neuroleptik, obat antiskizofrenia, transkuiliser mayor

Definisi : obat yang berefek meringankan gejala-gejala penyakit skizofrenia

4. Antidepresan

Sinonim : timoleptik

Definisi : obat yang berefek menghilangkan gejala-gejala penyakit depresif

5. Analgesik

Definisi : obat yang secara klinis digunakan untuk mengatur rasa nyeri

6. Stimulan psikomotor

Sinonim : psikostimulan

Definisi : obat yang menyebabkan kondisi terjaga penuh dan euforia

7. Psikomimetik

Sinonim : halusinogen

Definisi : obat yang menyebabkan terganggunya persepsi (terutama halusinasi

(34)

E. Hipnotik Sedatif 1. Obat hipnotik sedatif

Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat

(SSP) yang relatif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan

tenang atau kantuk, menidurkan, hingga yang berat (kecuali benzodiazepin) yaitu

hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati, bergantung kepada dosis.

Pada dosis terapi obat sedatif menekan aktifitas, menurunkan respon terhadap

perangsangan emosi dan menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan

mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis

(Wiria dan Handoko, 1995).

Obat sedatif berpengaruh dengan cara menekan reaksi terhadap

rangsangan, terutama rangsangan emosi tanpa menimbulkan kantuk yang berat

sedangkan hipnotik menyebabkan tidur yang sulit dibangunkan yang disertai

penurunan reflek sehingga kadang-kadang kehilangan tonus otot. Sedatif apabila

diberikan dalam dosis besar akan memberi efek sebagai hipnotik (Djamhuri,

1990).

Pada hewan percobaan istilah hipnotik digunakan untuk suatu tingkat

tekanan sentral obat yang menginduksi ketidaksadaran berkaitan dengan

hilangnya kekuatan otot dan reflek balik badan. Banyak tes farmakologi didasari

pada potensiasi induksi waktu tidur oleh barbiturat atau agen sedatif lainnya

(Vogel, 2002).

Kelompok utama dari obat hipnotik sedatif adalah sebagai berikut :

(35)

b. Buspirone, agonis reseptor 5-HT1A yang bekerja sebagai agen ansiolitik tetapi

tidak menimbulkan efek sedasi.

c. Antagonis β-adrenoreseptor, digunakan untuk mengobati berbagai bentuk

kecemasan, terutama yang menimbulkan gejala fisik seperti berkeringat,

termor dan takikardi. Efek yang diperoleh bergantung pada blokade respon

simpatik perifer daripada efek sentralnya.

d. Barbiturat, pemakaiannya sekarang terbatas pada anestesi dan perawatan

epilepsi.

e. Obat-obat lainnya yang tidak lagi direkomendasikan penggunaannya seperti

kloral hidrat, meprobamat, dan metaqualon. Antihistamin sedatif seperti

difenhidramin terkadang digunakan sebagai pil tidur terutama bagi anak kecil

yang suka terbangun (Rang et al., 2003).

2. Uji efek antistres

Uji efek antistres menurut Anonim (1991) dilakukan dengan metode

depresan atau potensiasi narkose dengan prosedur sebagai berikut :

Sebelum diberi obat, semua mencit ditimbang. Pada saat pemberian obat

atau pada waktu T = 0, sediaan uji diberikan per oral dengan volume 0,2 ml/10 g

bobot badan kepada mencit kelompok uji. Secara simultan pemberian obat

pembanding diberikan dengan rute dan volume yang sama kepada kelompok

pembanding. Kelompok kontrol hanya menerima vehikulumnya. Pada T = 45

menit setelah pemberian di atas, kepada semua mencit diberikan obat

pentobarbital, dosis 45 mg/kg bobot secara intraperitoneal dengan volume 0,1

(36)

mulai tidur, yaitu hilangnya refleks pemulihan posisi tubuh yang dicatat sebagai

waktu induksi tidur untuk tiap mencit (waktu induksi tidur adalah waktu yang

berlangsung sejak penyuntikan hipnotik hingga saat mencit mulai tidur). Pada saat

ini mencit dites. Telentangkan mencit dalam bejana pengamatan tepat di

tengahnya yang telah diberi alas kapas dan dipanasi dengan lampu. Dicatat

kemudian waktu dalam menit saat muncul kembali refleks pemulihan posisi tubuh

dan bergerak meninggalkan pusat bejana. Lama tidur mencit adalah sejak saat

terjadi induksi tidur sampai saat munculnya kembali refleks pemulihan posisi

tubuh normal.

3. Diazepam

a.Kimia.

Rumus molekul : C16H13ClN2O

Nama kimia : 7-Kloro-1,3-dihidro-1-metil-5-fenil-2H-

1,4-benzodiazepin-2-on

BM : 284,75

pKa : 3,4 merupakan senyawa asam lemah

Kelarutan : larut dalam kloroform, benzen, aseton, alkohol

(37)

Struktur kimia diazepam adalah :

Cl

N CH3

O

N

Gambar 3. Struktur kimia diazepam (Anonim, 2001)

b.Farmakologi klinik. Semua senyawa benzodiazepin memperlihatkan

efek berikut :

1) Menurunkan ansietas : pada dosis rendah, benzodiazepin bersifat ansiolitik.

Diperkirakan dengan menghambat secara selektif saluran neuron pada sistem

limbik otak.

2) Bersifat sedatif dan hipnotik : semua benzodiazepin yang digunakan untuk

mengobati ansietas juga mempunyai efek sedatif. Pada dosis yang lebih tinggi,

benzodiazepin tertentu menimbulkan hipnosis (tidur yang terjadinya secara

artifisial).

3) Antikonvulsan : beberapa benzodiazepin bersifat antikonvulsan dan digunakan

untuk pengobatan epilepsi dan gangguan kejang lainnya.

4) Pelemas otot : benzodiazepin melemaskan otot skelet yang spastik, barangkali

dengan cara meningkatkan inhibisi presinaptik dalam sumsum tulang (Mycek

Harvey and Champe, 1997).

c.Mekanisme kerja. Rang et al. (2003) menjelaskan bahwa diazepam

(38)

gama-aminobutirat A (GABAA) yang memerantarai penghambatan transmisi

sinaptik yang cepat melalui susunan saraf pusat (SSP). Diazepam secara spesifik

terikat pada tempat ikatan alosterik dan meningkatkan afinitas GABA pada

reseptornya sehingga terjadi peningkatan frekuensi pembukaan kanal klorida.

Gambar 4. Skema reseptor GABAA (Anonim, 2007 b)

d.Farmakokinetika.

1)Absorbsi dan distribusi. Diazepam bersifat lipofilik dan pada pemberian oral

akan diabsorbsi 100% dengan cepat. Puncak konsentrasi plasma dicapai setelah

15-90 menit pada orang dewasa dan 15-30 menit pada anak-anak; puncak

konsentrasi plasma sekunder dicapai dalam 6-12 jam setelah pemberian, mungkin

disebabkan oleh resirkulasi enteropati. Volume distribusinya 1,1 l/kg dan terikat

pada protein plasma sebesar 98-99% (Dollery, 1999).

2)Eliminasi. Diazepam mempunyai waktu paruh sebesar 20-100 jam.

Termetabolisme dalam hati, menghasilkan tiga metabolit aktif :

(39)

utama adalah ginjal tetapi juga ditemukan dalam air susu dan dapat melintasi

plasenta dengan mudah (Dollery, 1999).

e.Biotransformasi. Tiga jalur biotransformasi utama diazepam yang telah

diketahui adalah N-demetilasi, hidroksilasi dan konjugasi asam glukuronat.

Diazepam akan termetabolisme menjadi N-desmetildiazepam yang memiliki

kesamaan sifat farmakologi dengan diazepam kecuali waktu paruhnya yang lebih

panjang. N-desmetildiazepam kemudian mengalami hidroksilasi dan diubah

menjadi oksazepam yang juga aktif tetapi waktu paruhnya relatif lebih pendek

karena akan terkonjugasi dengan asam glukuronat dan terekskresi dalam urin.

Metabolit aktif ketiga, temazepam, merupakan produk hidroksilasi dari diazepam

yang langsung terkonjugasi dengan asam glukuronat dan terekskresi dalam urin

(Dollery, 1999).

Gambar 5. Skema biotransformasi diazepam (Dollery, 1999)

f. Indikasi. Indikasi diazepam adalah sebagai berikut :

(40)

2) pengobatan ketergantungan alkohol akut

3) membantu meredakan kejang otot skeletal

4) basal sedasi

5) pengobatan keadaan epilepsi dan keadaan kejang lainnya

6) keadaan eksitasi seperti kecemasan akut

7) premedikasi untuk prosedur pembedahan (Dollery, 1999)

g.Kontraindikasi. Diazepam dikontraindikasikan untuk :

1) penderita hipersensitif terhadap benzodiazepin

2) penderita myasthenia gravis

3) bayi (Dollery, 1999)

h.Efek samping. Efek samping dari diazepam adalah sebagai berikut :

1) depresi pernapasan dan tekanan darah menurun, terutama setelah pemberian

iv, dan pada pernapasan yang cacat

2) amnesia anterograd (misalnya pada waktu terbangun di malam hari)

3) reaksi paradoks dengan ketegangan akut, dan gangguan tidur

4) kebingungan, pusing, gangguan koordinasi, sakit kepala, mual, muntah,

obstipasi peningkatan relaksasi otot pada myasthenia gravis

5) nafsu makan meningkat, libido menurun, gangguan ovulasi

6) sindrom ketagihan, seperti tidak bisa tidur, gelisah, dan sebagainya setelah

penghentian terapi

7) karena melewati plasenta, maka bagi bayi yang baru lahir mengalami relaksasi

otot, gangguan pernapasan dan menghisap, hipotermia, dan hipotensi

(41)

i.Interaksi obat. Interaksi diazepam dengan obat lain yang telah diketahui

adalah sebagai berikut :

1) peningkatan efek oleh obat-obat penekan saraf pusat lain dan alkohol

2) eliminasi dihambat oleh simetidin, disulfiram, INH, kontrasepsi oral dan

sebagainya

3) eliminasi dipercepat oleh rifampisin dan obat penginduksi enzim yang lain

(Widodo, 1993).

4. Natrium tiopental

a.Kimia.

Rumus molekul : C11H17N2NaO2S

Nama kimia : Garam mononatrium dari 5-etildihidro-5-(1-metilbutil)-2-

tiokso-4,6(1H,5H)-pirimidindion

BM : 264,32

Kelarutan : larut dalam air dan alkohol

tidak larut dalam eter, benzen, petroleum eter

(Anonim, 2001)

Struktur kimia natrium tiopental adalah :

N

(42)

b.Farmakologi klinik. Dosis natrium tiopental yang cukup dapat

menginduksi anestesi setelah 1 menit pemberian. Kehilangan kesadaran biasanya

berlangsung dengan tenang walaupun kadang terjadi gerakan otot spontan. Level

plasma yang dibutuhkan untuk anestesi pada pasien yang sehat kurang lebih

sebesar 40 µg/l dengan konsentrasi obat bebas untuk anestesi pembedahan sekitar

6 µg/l (Dollery, 1999).

Pada dosis rendah, barbiturat menghasilkan sedasi (efek menenangkan,

mengurangi eksitasi). Pada dosis tinggi, obat menyebabkan hipnosis, diikuti oleh

anestesia (kehilangan rasa atau sensasi) dan akhirnya koma dan mati. Jadi, semua

tingkat depresi SSP mungkin terjadi, tergantung pada dosis (Mycek et al., 1997).

c.Mekanisme kerja. Natrium tiopental meningkatkan penghambatan

transmisi sinaptik yang diperantarai oleh kerja GABA pada reseptor GABAA

dengan cara meningkatkan afinitas ikatannya sehingga memperpanjang waktu

pembukaan kanal klorida. Natrium tiopental juga memperkuat pengikatan

benzodiazepin terhadap reseptor GABAA (Hardman and Limbird, 2001).

d.Farmakokinetika.

1)Absorbsi dan distribusi. Natrium tiopental terikat kuat pada protein plasma,

derajat pengikatannya (50-80%) dipengaruhi oleh pH plasma atau jaringan dan

konsentrasi obat. Karena bersifat lipofilik bentuk molekul bebas tiopental secara

cepat melintasi sawar darah otak dan perubahan EEG dapat dideteksi dalam 15-18

detik. Otak tetap menerima obat hingga 30-60 detik kemudian dan setelah itu

konsentrasi obat dalam pembuluh vena eferen akan melebihi konsentrasi dalam

(43)

berjalan dari jaringan kaya lemak (termasuk otak) ke jaringan yang kurang

berlemak dengan volume distribusi sebesar 2,5 l/kg (Dollery, 1999).

2)Eliminasi. Waktu paruh natrium tiopental berkisar antara 4-12 jam dan

klirensnya adalah 3,4 ml/kg.menit (Dollery, 1999).

e.Biotransformasi. Metabolisme natrium tiopental utamanya oleh hati.

Reaksi eliminasi berjalan lambat tetapi hampir sempurna oleh oksidasi rantai

samping 1-metil-butil menjadi metabolit inaktif (Dollery, 1999).

f. Indikasi. Indikasi natrium tiopental adalah sebagai berikut :

1) agen antikonvulsan

2) induksi anestesi umum

3) untuk menjaga kondisi anestesi umum

4) mencegah dan mengobati iskemik otak (Dollery, 1999).

g.Kontraindikasi. Natrium tiopental dikontraindikasikan bagi :

1) pasien porfiria

2) perut dalam keadaan penuh

3) tidak adanya alat yang dapat digunakan untuk menyadarkan pasien

4) tidak cukupnya ruang bernapas bagi pasien

5) kurangnya fasilitas untuk pemulihan atau petugas untuk merawat pasien rawat

jalan

6) pasien yang kehilangan darah atau mengalami hipovolemia

7) pasien uremia

8) pasien dengan sejarah asma yang parah

(44)

h.Efek samping. Beberapa efek samping penggunaan barbiturat menurut

Mycek et al. (1997) :

1) SSP : barbiturat menyebabkan mengantuk, konsentrasi terganggu dan

kelesuan mental dan fisik.

2) “Hangover” obat : barbiturat dalam dosis hipnotik menimbulkan perasaan lesu

setelah pasien bangun kembali. “Hangover” obat ini menyebabkan beberapa

fungsi tubuh yang normal terganggu beberapa jam setelah pasien terbangun.

Kadang-kadang dapat terjadi mual dan pusing.

3) Perhatian : barbiturat memacu sistem P-450 dan karena itu menurunkan efek

obat yang dimetabolisme oleh enzim hati ini. Barbiturat meningkatkan sintesis

porfirin dan merupakan kontraindikasi pada pasien dengan porfiria intermiten

akut.

4) Ketergantungan : penghentian barbiturat secara mendadak menyebabkan

tremor, ansietas, lemah, gelisah, mual dan muntah, kejang, delirium dan

jantung berhenti. Gejala putus obat lebih berat jika dibandingkan opiat dan

dapat menimbulkan kematian.

5) Keracunan : dalam beberapa dasawarsa belakangan ini telah terjadi keracunan

barbiturat pada beberapa pengguna dan menyebabkan kematian akibat

overdosis. Terjadi depresi pernapasan yang hebat bersamaan dengan depresi

kardiovaskular pusat, menimbulkan syok dengan pernapasan dangkal dan

lambat.

i.Interaksi obat. Tidak terdapat masalah pada penggunaan dosis tunggal,

(45)

meningkatkan klirens (juga menghilangkan efek terapi) obat-obat seperti warfarin,

fenitoin, antidepresan trisiklik, dan kortikosteroid. Barbiturat mempunyai efek

aditif dengan depresan ssp lain mengakibatkan depresi kuat. Aspirin diketahui

dapat mendesak natrium tiopental dari ikatannya dengan protein plasma tetapi hal

ini tidak memberikan masalah klinik yang serius walaupun pemberian aspirin

intravena sebelumnya dapat menurunkan dosis induksi (Dollery, 1999).

F. Landasan Teori

Daun pandan wangi telah digunakan berdasarkan pengalaman sejak jaman

dahulu untuk mengobati stres (Dalimartha, 1999). Khasiatnya sebagai antistres

didukung pula oleh identifikasi salah satu senyawa yang terkandung di dalamnya

yang aktif secara farmakologi, yaitu linalool (Katzer, 2001). Penelitian yang

dilakukan oleh Silva et al. (2001) kemudian memberikan gambaran mengenai

mekanisme kerja efek depresan linalool, yakni dengan inhibisi kompleks reseptor

NMDA sehingga sel saraf akan terinhibisi dan menjadi tidak dapat dirangsang.

Penelitian ini juga dapat dianalogikan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Umezu (2004) yang mempelajari tentang efek antiansietas minyak lavender

dimana disimpulkan bahwa linalool merupakan senyawa yang bertanggung jawab

terhadap efek antiansietas minyak lavender.

Pembuktian efek antistres ekstrak etanol daun pandan wangi dilakukan

dengan menggunakan metode potensiasi narkose. Ekstrak etanol daun pandan

wangi akan disimpulkan mempunyai efek antistres bila mampu mempotensiasi

(46)

G. Hipotesis

Ekstrak etanol daun pandan wangi mempunyai efek antistres pada mencit

jantan berdasarkan pada kemampuannya untuk mempotensiasi kerja hipnotik

(47)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian efek antistres ekstrak etanol daun pandan wangi pada mencit

jantan ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni dengan menggunakan

rancangan acak lengkap pola searah.

B. Variabel dan Definisi Operasional Variabel 1. Variabel utama

a. Variabel bebas : dosis ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus

amaryllifolius Roxb.)

Dosis ekstrak etanol daun pandan wangi adalah jumlah miligram ekstrak

etanol daun pandan wangi tiap satuan kgBB subyek yang bersangkutan.

b. Variabel tergantung : perpanjangan waktu tidur mencit

Perpanjangan waktu tidur mencit merupakan respon mencit jantan

terhadap pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi.

2. Variabel pengacau terkendali

a. Galur subyek uji yang digunakan adalah galur Swiss.

b. Berat badan subyek uji 20-30 gram.

c. Umur subyek uji 2-3 bulan.

d. Keadaan patologi subyek uji berada dalam keadaan sehat.

e. Subyek uji berjenis kelamin jantan.

(48)

f. Waktu dan tempat panen daun pandan wangi.

C. Bahan yang Digunakan 1. Bahan tanaman

Tanaman yang digunakan adalah daun pandan wangi (Pandanus

amaryllifolius Roxb.) yang dikeringkan di bawah sinar matahari langsung dengan

ditutupi kain hitam selama 1 hari dan kemudian dipanaskan dalam oven 70ºC

selama 30 menit. Tanaman pandan wangi yang digunakan diambil dari daerah

Baledono, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada waktu sore hari.

2. Subyek uji

Subyek uji yang digunakan adalah mencit jantan galur Swiss dengan berat

badan 20-30 g dan umur 2-3 bulan, diperoleh dari Laboratorium

Farmakologi-Toksikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Bahan-bahan kimia

a. Bahan untuk ekstraksi adalah etanol 70% teknis (Brataco Chemika).

b. Diazepam (Indo Farma), berupa larutan untuk injeksi dalam ampul dengan

konsentrasi 5 mg/ml.

c. Natrium tiopental (Pentothal®) (Abbott), berupa serbuk untuk injeksi

dalam vial berisi 500 mg.

d. Aquades sebagai pelarut diazepam dan natrium tiopental yang diperoleh

dari Laboratorium Farmakologi-Toksikologi Universitas Sanata Dharma

(49)

e. CMC-Na (Brataco Chemika) sebagai pensuspensi ekstrak etanol daun

pandan wangi.

D. Alat yang Digunakan

1. Seperangkat alat untuk membuat ekstrak, yaitu perkolator

2. Blender (Retsch)

3. Vacuum rotary evaporator (Janke & Kunket tipe RVOS-ST ikalabortechnik)

4. Kertas saring

5. Oven (Memmert)

6. Seperangkat alat gelas seperti beaker glass, labu ukur, gelas ukur, pipet ukur,

pipet tetes, pengaduk, erlenmeyer, corong, cawan petri

7. Neraca elektrik (METTLER PM 4600 DeltaRange®)

8. Jarum suntik (Terumo®)

9. Stopwatch (Alba)

10.Styrofoam sebagai alas tidur mencit

E. Tata Cara Penelitian 1. Identifikasi tanaman

Identifikasi tanaman pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.)

dilakukan dengan menggunakan buku pembantu identifikasi (Dalimartha, 1999).

Determinasi bertujuan untuk memastikan tanaman yang digunakan adalah

(50)

2. Pengumpulan bahan

Pengumpulan bahan dilakukan dengan mengambil daun pandan wangi

segar yang berasal dari daerah Baledono, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah,

pada waktu sore hari, bulan Febuari 2007.

3. Pengeringan

Daun yang diperoleh dicuci bersih dengan air mengalir agar debu ataupun

kotoran yang menempel pada daun tersebut hilang. Setelah dicuci daun

dikeringkan di bawah sinar matahari langsung dengan ditutupi kain hitam,

kemudian daun dipanaskan di dalam oven dengan suhu 70ºC selama 30 menit.

Pengeringan dihentikan jika daun telah benar-benar kering, yang ditandai dengan

mudah dipatahkan dengan tangan.

4. Pembuatan serbuk

Setelah daun pandan wangi kering kemudian diserbuk dengan

menggunakan blender sampai halus dan diayak dengan ayakan tepung.

5. Pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi

Pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi dilakukan dengan metode

perkolasi. Cara pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi adalah serbuk daun

pandan wangi ditimbang sebanyak 160 g dan direndam dalam etanol 70% selama

24 jam. Kemudian serbuk yang telah terbasahi dipindahkan ke dalam perkolator

yang telah dilapisi kertas saring pada bagian tepi dan dasarnya. Serbuk dipadatkan

dengan hati-hati dalam perkolator dan dituangi etanol 70% sampai terdapat selapis

(51)

Untuk menghindari kontaminasi oleh pengotor yang berasal dari kertas

saring dan perkolator, kran perkolator dibuka dan perkolat pertama dibuang.

Selanjutnya perkolat dibiarkan menetes dengan kecepatan kurang lebih 1 ml tiap

menit atau setara dengan 25 tetes sambil terus ditambahkan cairan penyari yang

baru sehingga selalu ada selapis cairan penyari di atas serbuk. Perkolasi dilakukan

sampai perkolat tampak hampir jernih.

Perkolat yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan menggunakan

vacuum rotary evaporator lalu dikeringkan di dalam oven dengan suhu 40ºC.

didapat ekstrak etanol daun pandan wangi yang kental dan berwarna coklat

kehitaman dengan bau yang khas.

Ekstrak kental ditimbang dan disuspensikan dalam CMC-Na 1% sehingga

(52)

Skema kerja pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi sebagai berikut :

Serbuk daun pandan wangi sebanyak 160 g

direndam dalam etanol 70% selama 24 jam

Serbuk yang telah terbasahi dipindahkan

ke dalam perkolator

Perkolat dibiarkan menetes 1 ml/menit

(setara 25 tetes) sampai hampir jernih

Cairan penyari (etanol 70%) ditambahkan

secara berkesinambungan

Perkolat dipekatkan

dengan vacuum rotary evaporator

Dikeringkan dalam oven

dengan suhu 40ºC

Ekstrak kering disuspensikan

dalam CMC-Na 1%

(53)

6. Penetapan peringkat dosis ekstrak etanol daun pandan wangi

Dosis ekstrak etanol daun pandan wangi yang digunakan berasal dari hasil

orientasi. Pertama-tama dicari dosis terendah yang mampu berefek antistres

kemudian dosis dinaikkan sedikit demi sedikit sampai diperoleh dosis antistres

tertinggi yang tidak menimbulkan kematian. Kisaran dosis yang didapat yaitu

sebesar 4000 mg/kgBB sampai 8000 mg/kgBB, berdasarkan kisaran ini dapat

dibuat peringkat dosis ekstrak etanol daun pandan wangi dengan increment :

increment = , dimana n adalah jumlah peringkat dosis

increment = = 1,26

Peringkat dosis ekstrak etanol daun pandan wangi yang digunakan adalah :

Peringkat 1 : 4000 mg/kgBB

Peringkat 2 : 4000 mg/kgBB x 1,26 = 5040 mg/kgBB

Peringkat 3 : 5040 mg/kgBB x 1,26 = 6350 mg/kgBB

Peringkat 4 : 8000 mg/kgBB

7. Penetapan peringkat dosis diazepam

Dosis terapi ansietas diazepam per oral adalah 2-10 mg perhari (Kastrup,

2004) kemudian dilakukan konversi dosis antara manusia 70 kg ke mencit 20 g

dengan faktor konversi 0,0026 (Laurence and Bacharach, 1964), sehingga kisaran

dosis diazepam untuk mencit adalah 2 mg x 0,0026 x 1000/20 = 0,260 mg/kgBB

sampai 10 mg x 0,0026 x 1000/20 = 1,300 mg/kgBB. Peringkat dosis diazepam

(54)

increment = = 1,71

Peringkat dosis diazepam yang digunakan adalah :

Peringkat 1 : 0,260 mg/kgBB

Peringkat 2 : 0,260 mg/kgBB x 1,71 = 0,445 mg/kgBB

Peringkat 3 : 0,445 mg/kgBB x 1,71 = 0,760 mg/kgBB

Peringkat 4 : 1,300 mg/kgBB

8. Pengenceran larutan diazepam

Cara pengenceran larutan diazepam yaitu 0,5 ml larutan untuk injeksi

diazepam konsentrasi 5 mg/ml diambil dari ampul dengan pipet ukur 0,5 ml dan

dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml kemudian ditambahkan aquades sampai

tanda. Diperoleh larutan diazepam dengan konsentrasi 0,05 mg/ml.

9. Penetapan dosis aquades

Dosis aquades dihitung dengan rumus : D = . Volume yang digunakan

adalah setengah volume maksimal pemberian secara oral yaitu 0,5 x 1 ml = 0,5 ml

dan berat badan yang digunakan adalah berat badan maksimal mencit (30 g)

sehingga dosis aquades adalah D = = 0,01666 mg/g = 16,667

mg/kgBB.

10. Penetapan dosis natrium tiopental

Dosis natrium tiopental sebagai induktor anestesi adalah sebesar 4-6

mg/kgBB (Dollery, 1999), karena hanya akan digunakan salah satu dosis maka

dilakukan orientasi sebelumnya dan didapatkan hasil bahwa pada dosis 5

(55)

Dosis natrium tiopental untuk mencit 20 g adalah 5 mg/kgBB x 70 kg x 0,0026 x

1000/20 = 45,5 mg/kgBB. Hasil orientasi terlampir pada lampiran 2.

11. Pembuatan larutan natrium tiopental

Cara pembuatan larutan natrium tiopental yaitu melarutkan natrium

tiopental sebanyak 500 mg dengan aquades secukupnya, kemudian ditambahkan

lagi hingga diperoleh volume 100 ml. Diperoleh larutan natrium tiopental dengan

konsentrasi 5 mg/ml.

12. Perlakuan hewan uji

Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit jantan galur

Swiss, umur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 g sebanyak 54 ekor. Sebelum

digunakan mencit dipuasakan selama kira-kira 16 jam dengan diberi air minum.

Pemberian perlakuan dilakukan per oral, 45 menit kemudian mencit diinduksi

natrium tiopental dengan jalur intraperitoneal (i.p.).

Pembagian kelompok perlakuan hewan uji, yaitu :

Kelompok I : diberi aquades sebagai kontrol negatif dosis 16,667 mg/kgBB

dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB

Kelompok II : diberi diazepam sebagai kontrol positif dosis 0,260 mg/kgBB

dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB

Kelompok III : diberi diazepam sebagai kontrol positif dosis 0,445 mg/kgBB

dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB

Kelompok IV : diberi diazepam sebagai kontrol positif dosis 0,760 mg/kgBB

(56)

Kelompok V : diberi diazepam sebagai kontrol positif dosis 1,300 mg/kgBB

dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB

Kelompok VI : diberi ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 4000 mg/kgBB

dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB

Kelompok VII : diberi ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 5040 mg/kgBB

dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB

Kelompok VIII : diberi ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 6350 mg/kgBB

dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB

Kelompok IX : diberi ekstrak etanol daun pandan wangi dosis 8000 mg/kgBB

dan natrium tiopental dosis 45,5 mg/kgBB

Mencit yang telah diinduksi natrium tiopental diletakkan di dalam bejana

pengamatan yang dialasi dengan styrofoam.

13. Penentuan efek antistres

Pengujian efek antistres dilakukan dengan menghitung waktu tidur

masing-masing mencit dalam detik untuk tiap kelompok. Waktu tidur mencit

adalah sejak saat terjadi induksi tidur sampai saat munculnya kembali refleks

pemulihan posisi tubuh normal. Efek antistres dapat dilihat dari perpanjangan

waktu tidur mencit yang diperoleh dengan cara menghitung selisih waktu tidur

kelompok perlakuan dengan waktu tidur kelompok kontrol negatif. Apabila waktu

tidur kelompok perlakuan lebih panjang daripada waktu tidur kelompok kontrol

(57)

Skema pengujian efek antistres dapat dilihat pada bagan berikut :

Mencit dipuasakan satu hari

sebelum penelitian

Mencit dipejankan dengan aquades, diazepam

atau ekstrak etanol daun pandan wangi

per oral

Empat puluh lima menit kemudian

mencit diinduksi dengan natrium tiopental

melalui jalur intraperitoneal

Amati saat masing-masing mencit mulai tidur

dicatat sebagai waktu induksi tidur

Amati saat munculnya kembali

refleks pemulihan posisi tubuh normal

Waktu tidur masing-masing mencit dihitung

Perpanjangan waktu tidur mencit dihitung

(58)

F. Tata Cara Analisis Hasil

a. Analisis hasil dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov, uji homogenitas

variansi, dilanjutkan Anova satu arah dan uji Scheffe dengan taraf kepercayaan

95%.

b. Aturan keputusan. Untuk uji Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas

variansi, apabila nilai signifikansi > 0,05 (α : 5%) maka data dalam distribusi

normal dan homogen. Untuk Anova satu arah, adanya perbedaan di antara

kelompok perlakuan dinyatakan bermakna bila harga signifikansi

(probabilitas) < 0,05 dan dinyatakan tidak bermakna bila harga probabilitas >

0,05. untuk uji Scheffe, perbedaan antar dosis dinyatakan bermakna apabila

harga signifikansi (probabilitas) < 0,05 dan perbedaan dinyatakan tidak

(59)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Identifikasi Tanaman

Determinasi tanaman penting untuk dilakukan, langkah ini bertujuan untuk

memastikan bahwa tanaman yang digunakan tidak salah dan benar-benar berasal

dari spesies Pandanus amaryllifolius Roxb. Dalam penelitian ini identifikasi

tanaman pandan wangi tidak didasarkan pada kunci-kunci determinasi melainkan

berdasarkan Dalimartha (1999). Pemilihan acuan ini dilakukan sebab sulit

diperoleh tanaman pandan wangi yang lengkap dengan bunga dan buah.

Berdasarkan pada Dalimartha (1999), dapat dipastikan bahwa tanaman

yang digunakan adalah Pandanus amaryllifolius Roxb.

B. Pengumpulan, Pengeringan, Pembuatan Serbuk, dan Hasil Ekstraksi Serbuk

Daun pandan wangi yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari

daerah Baledono, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada bulan Febuari 2007

dan dipetik pada waktu sore hari. Dipilih daun yang masih segar dan dipetik pada

sore hari.

Tempat pemanenan diusahakan seragam karena perbedaan kondisi

lingkungan tempat pemanenan dapat mempengaruhi jumlah kandungan zat aktif.

Waktu pemanenan juga sangat penting untuk diperhatikan agar dapat diperoleh

(60)

jumlah kandungan zat aktif yang optimal. Daun pandan wangi seharusnya dipetik

pada waktu pagi hari sebelum sinar matahari menguapkan sebagian linalool

(Anonim, 2008), tetapi karena pada pelaksanaannya daun pandan wangi dipanen

pada waktu sore hari maka rendemen linalool yang didapat akan menurun.

Sebagian linalool masih dapat tertahan di dalam daun karena daun pandan wangi

memiliki struktur yang kaku dan permukaan yang mengkilap sehingga dapat

menghambat proses penguapan.

Daun yang diperoleh dicuci dengan air mengalir yang dimaksudkan untuk

menghilangkan debu atau kotoran yang melekat. Setelah dicuci, daun dikeringkan

di bawah sinar matahari langsung dengan ditutupi kain hitam, kemudian daun

dipanaskan di dalam oven dengan suhu 70ºC selama 30 menit. Pengeringan

bertujuan untuk menghindari tumbuhnya jamur dan bakteri serta menghambat

kerja enzim tanaman yang dapat menimbulkan perubahan kimiawi, selain itu juga

bertujuan untuk merusak membran sel sehingga permeabilitas sel terhadap zat

aktif yang akan diekstrak menjadi lebih besar. Kain hitam yang digunakan

berfungsi untuk menyerap sinar ultra violet karena sinar ultra violet dapat merusak

kandungan zat aktif tanaman, selain itu karena warna hitam menyerap semua

cahaya maka panas yang didapat tanaman akan cukup. Pengeringan dengan oven

dilakukan untuk memastikan sisa-sisa kandungan air di dalam daun telah

menguap. Proses pengeringan ini sebenarnya juga dapat menurunkan rendemen

linalool yang diperoleh karena linalool akan ikut menguap, tetapi proses ini

penting karena proses ekstraksi daun pandan wangi tidak dapat langsung

(61)

penyimpanan sehingga dikhawatirkan daun pandan wangi akan rusak selama masa

tersebut bila tidak dikeringkan.

Daun yang sudah kering kemudian diserbuk dengan blender dan diayak

menggunakan ayakan tepung. Proses penyerbukan bertujuan untuk memperkecil

ukuran partikel sehingga meningkatkan luas permukaan kontak dengan cairan

penyari, sementara pengayakan dimaksudkan agar ukuran partikel yang didapat

lebih seragam dan dengan demikian aliran cairan penyari di dalam perkolator

menjadi teratur.

Serbuk yang akan diekstraksi direndam terlebih dahulu selama 24 jam

dalam etanol 70%, hal ini bertujuan untuk membasahi sel-sel daun dengan cairan

penyari sehingga zat aktif yang terkandung dalam daun pandan wangi menjadi

lebih mudah tertarik pada proses perkolasi berikutnya. Serbuk yang telah terbasahi

kemudian dipindahkan ke dalam perkolator sedikit demi sedikit sambil tiap kali

ditekan-tekan agar pengisian padat merata. Jika pengisian tidak merata maka

proses ekstraksi tidak berjalan dengan efisien sebab cairan penyari akan bergerak

turun ke bawah dengan mencari jalan yang paling sedikit hambatannya.

Beberapa tetes perkolat pertama digunakan sebagai pembilas kertas saring

dan perkolator agar kontaminan tidak ikut tercampur dalam keseluruhan ekstrak

yang akan didapat, selanjutnya perkolat dibiarkan menetes dengan kecepatan

sekitar 25 tetes tiap menit. Kecepatan yang digunakan harus optimal karena jika

kecepatan mengalir terlalu cepat maka proses ekstraksi tidak berjalan dengan

maksimal, sementara jika kecepatan mengalir terlalu lambat maka akan

(62)

dipertahankan agar proses ekstraksi berjalan terus-menerus. Proses ekstraksi

dihentikan jika perkolat yang menetes tampak hampir jernih karena diasumsikan

seluruh kandungan zat aktif di dalam serbuk telah terekstraksi.

Perkolasi dipilih sebagai metode ekstraksi dalam penelitian ini karena

metode yang dilakukan relatif mudah, dan hampir seluruh kandungan zat aktif

dapat terekstraksi karena cairan penyari yang digunakan selalu baru sehingga

tidak berada dalam kondisi jenuh. Prinsip dari metode perkolasi adalah cairan

penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk dan akan melarutkan zat aktif

yang terkandung dalam sel yang dilaluinya. Cairan penyari akan bergerak ke

bawah karena adanya gaya gravitasi, gaya beratnya sendiri, dan gaya tekan cairan

penyari di atasnya dikurangi dengan gaya kapiler yang cenderung akan menahan.

Pelarut yang digunakan adalah etanol 70% yang berarti mengandung 70%

etanol absolut dan 30% air. Konsentrasi ini dipilih agar zat aktif yang terlarut

dalam etanol dapat terekstraksi dengan baik dan zat aktif yang lebih terlarut dalam

air juga dapat terekstraksi. Etanol digunakan sebagai cairan penyari dalam

penelitian ini dikarenakan beberapa sebab, antara lain etanol merupakan pelarut

yang universal dan diijinkan penggunaannya dalam makanan, selain itu etanol

mempunyai sifat dapat menghambat pertumbuhan kapang dan kuman, dapat

bercampur dengan air dalam segala perbandingan, dan panas yang diperlukan

untuk pemekatan juga lebih sedikit.

Perkolat yang didapat kemudian dipekatkan untuk menghilangkan cairan

penyari, dilakukan dengan menggunakan vacuum rotary evaporator. Kelebihan

(63)

waterbath adalah adanya efisiensi waktu dan pemaparan suhu yang tidak terlalu

tinggi karena tekanan udara di dalam labu diatur lebih rendah daripada tekanan

udara sekitarnya. Ekstrak hasil pemekatan kemudian dikeringkan lagi di dalam

oven dengan suhu 40ºC untuk menghilangkan sisa-sisa air dalam cairan penyari

yang belum teruapkan. Ekstrak tersebut diletakkan di dalam cawan petri agar luas

permukaan lebih besar dan proses penguapan air lebih cepat.

Hasil akhir yang diperoleh berupa ekstrak kental berwarna coklat

kehitaman dengan bau yang khas. Kepastian adanya linalool dalam ekstrak yang

didapat didasarkan pada pengamatan organoleptis, yaitu bahwa ekstrak etanol

daun pandan wangi memiliki bau yang sama dengan simplisia basahnya.

C. Hasil Uji Efek Antistres

Penelitian ini dilakukan untuk menguji kebenaran efek antistres ekstrak

etanol daun pandan wangi pada mencit jantan menggunakan metode potensiasi

narkose yang telah dimodifikasi, yaitu penggantian pentobarbital dengan natrium

tiopental. Natrium tiopental, walaupun diindikasikan sebagai anestesi umum,

merupakan obat golongan barbiturat yang bersifat dose dependent sehingga pada

dosis rendah efek yang ditimbulkan hanya sebatas hipnotik. Penggunaan natrium

tiopental jika dibandingkan dengan pentobarbital memiliki beberapa keuntungan,

yaitu onset dan durasi yang lebih singkat sehingga waktu pengamatan menjadi

lebih singkat. Perbedaan onset dan durasi antara pentobarbital dengan natrium

Gambar

Tabel I.    Hasil rata-rata perpanjangan waktu tidur mencit ………………….….. 46
Gambar 1. Struktur kimia linalool (Anonim, 2001)
Gambar 2. Stres dan sistem endokrin (Bishop, 1994)
Gambar 3. Struktur kimia diazepam (Anonim, 2001)
+7

Referensi

Dokumen terkait

2) Dengan telah disetujuinya Laporan Tahunan Perseroan termasuk Laporan Tugas Pengawasan yang telah dilaksanakan oleh Dewan Komisaris dan disahkannya Laporan

Terjadinya kecelakaan lalulintas pada pengguna kendaraan roda dua membawa kerugian pada nilai Produk Domestik Regional Bruto (PRDB) Kabupaten Purbalingga. Nilai

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keuntungan dan kelaya- kan usaha pengembangan kebun hutan de- ngan tanaman buah durian di Kabupaten Kutai

Sebagaimana yang kita ketahui lewat berbagai media pada kasus tawuran yang terjadi di Universitas Sumatera Utara (USU), di mana kedua fakultas, yaitu Fakultas Teknik dan

*Klik tombol Cari untuk mencari data trial balance yang akan dihapus *Klik tombol Hapus untuk menghapus data trial balance yang telah dicari *Klikt tombol Batal untuk kembali

Komite audit yang aktif mengadakan pertemuan minimal empat kali dalam satu tahun dan hadirnya auditor eksternal Big 4 sebagai mekanisme pengawasan independen yang berfungsi

Alat yang digunakan untuk m-ngui titik l-'ur suatu s-nya+a adalah t-rmo,an.Gntuk id-ntifikasi kualitatif titik l-'ur m-ru,akan t-ta,an fisika yang ,-nting t-rutama untuk suatu

Untuk mengetahui sumber daya mineral dan energi dibutuhkan suatu ilmu Untuk mengetahui sumber daya mineral dan energi dibutuhkan suatu ilmu dan teknologi atau instrumen yang dapat