66
BABI IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum perusahaan
1. Sejarah PT Wijaya Karya (WIKA) beton
PT Wijaya Karya Beton Tbkatau lebih dikenal dengan sebutan PT Wika Beton Tbkdidirikan pada tanggal 11 Maret 1997sebagaimana dimuat dalam Akta No. 44 tanggal 11 Maret 1997 yang dibuat dihadapan Achmad Bajumi, S.H. pengganti dari Imas Fatimah, S.H., Notaris di Jakarta.
PT Wika Beton Tbksebagai salah satu anak perusahaan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk saat ini telah berusia 19 tahun yang dan telah 39 tahun berkiprah di industri beton pracetak yang diawali dengan produk Tiang Listrik dengan metode konvensional pada saat masih menjadi bagian dari Divisi WIKA Tbk.
Dalam perkembangannya, PT Wika Beton Tbktelah berhasil mengembangkan potensi sumber daya guna mengimbangi dan menghadapi segala bentuk tantangan serta memanfaatkan peluang usaha sektor infrastuktur, perhubungan, konstruksi maupun sektor lain yang ada. Keberhasilan ini kini terbukti bahwa PT Wika Beton Tbktelah semakin dikenal secara luas oleh Pelanggan, Pemilik Proyek, pelaku usaha baik dalam negeri maupun luar negeri serta masyarakat luas.Produk yang dihasilkan telah dipercaya untuk digunakan di berbagai proyek nasional berskala besar maupun proyek internasional untuk menghasilkan karya produk beton pracetak. Di tengah-tengah munculnya produsen-produsen beton pracetak baru, PT Wika Beton Tbkberhasil memenangkan persaingan sebagai perusahaan yang selalu berada didepan dalam industri beton pracetak melalui semangat kebersamaan sebagaimana dicanangkan dalam Visi, Misi, Moto, Nilai-nilai dan Paradigma perusahaan.
Semua jajaran PT Wika Beton Tbk selalu concern peduli dan berusaha untuk menghasilkan mutu yang terbaik sesuai dengan bidang dan kompetensi masing-masing sampai dengan saat ini.Di usia ke-19, PT Wika Beton Tbk memasuki tahun kedua dengan status perusahaan terbuka yang tercatat di pasar bursa, dengan demikian prestasi pencapaian usaha sudah menjadi tuntutan yang harus dipenuhi bagi banyak Pemegang Saham. Sampai dengan tahun 2015 WIKA Beton Tbk telah berhasil mengembangkan perusahaan melalui pembentukan beberapa unit usaha penunjang diantaranya unit post tention, unit pemancangan dengan sistem inner boring, unit quarry yang telah memiliki 1 pabrik crushing
plant di Bogor, dan telah melahirkan 3 (tiga) anak perusahaan yaitu PT
WIKA KOBE yang berpartner dengan perusahaan PMA dari Jepang dan PT WIKA Krakatau Beton yang berpartner dengan PT Krakatau Engineering, dan hasil akuisisi PT Citra Lautan Teduh.
Tata Kelola perusahaan WIKA Beton Tbk telah dinilai baik melalui program Assesment Penerapan Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan / Good Corporate Governance (GCG) dengan nilai kategori “Sangat Baik”.
Hasil karya PT Wika Beton Tbk telah diakui sebagai penemu metode dan produksi dengan telah diperolehnya sertifikat paten beberapa produk dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.
Saat ini PT Wika Beton Tbk memasuki fase pendirian pabrik yang efisien dengan mulai memiliki mobile plant di Sumatera Utara. Berbagai penghargaan dan sertifikat telah diperoleh PT Wijaya Karya Beton Tbk:
1. Di bidang Sistem Manajemen Mutu : sertifikat ISO dan Penerapan Standar Metodologi ISO yang dipublikasikan secara internasional oleh Lembaga ISO di Jenewa.
2. Di bidang Manajemen K3, Safety Award dan Bendera Emas K3. 3. Di bidang Mutu Produk, AKI Award dan Anugerah BUMN kategori
4. Di bidang Keuangan, sebagai wajib pajak patuh.
5. Di bidang pasar modal, sebagai Best Listed Companies 2015 Kategori Best IPO dari Majalah Investor.
6. Fastest Growing Issuers 2015 dari Majalah Warta Ekonomi.
7. The Best in Building and Managing Corporate Image Kategori Precast Concrete Product Manufacture dari Tempo Group dan Frontier Consulting.
8. Juara I Annual Report Award 2015 Kategori Private Listed Non Keuangan.
9. Best Employers 2015 dari AON Hewitt Indonesia.
10. Masuk dalam index LQ 45 untuk periode Agustus 2015 – Januari 2016.
11. Masuk dalam index Kompas 100 untuk periode Agustus 2015 – Januari 2016.
12. Masuk dalam index MNC 36 untuk periode Mei 2015 – Oktober 2015.
2. Visi dan Misi PT Wijaya Karya (WIKA) Beton Visi
Menjadi perusahaan terbaik dalam industri beton pracetak Misi
Memimpin pasar beton pracetak di Asia Tenggara
Memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dengan kesesuaian mutu, ketepatan waktu dan harga bersaing
Menerapkan sistem manajemen dan teknologi yang dapat memacu peningkatan efisiensi, konsistensi mutu, keselamatan dan kesehatan kerja yang berwawasan lingkungan
Tumbuh dan berkembang bersama mitra kerja secara sehat dan berkesinambungan
3. Struktur organisasi PT Wijaya Karya (WIKA) Beton *Terlampir
B. Hasil Deskripsi Variabel 1. Karakteristik Responden
Berdasarkan data dari 161 responden yang memberikan jawaban atas pernyataan penelitian dapat diketahui perbedaan karakteristik antara responden yang satu dan yang lainnya.Perbedaan ini meliputi jenis kelamin, pendidikan dan masa kerja yang disajikan dalam bentuk prosentase.
a. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin Tabel 4.1
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
No. Jenis Kelamin Jumlah Responden Prosentase
1 Laki-laki 159 97%
2 Perempuan 2 3%
Jumlah 161 100%
(Sumber : Data Primer, Diolah Tahun 2016)
Berdasarkan dari hasil penelitian yang terdapat pada tabel 4.1 dan dilakukan oleh 161 responden bahwa jumlah responden laki-laki lebih banyak yaitu sebanyak 159 orang atau sebesar 97% dan sisanya adalah perempuan sebanyak 2 orang atau sebesar 3%. Hal ini dikarenakan PT Wika beton bergerak dibidang konstruksi berat , jadi sebagian besar karyawan nya adalah laki-laki. Maka jaminan sosial kerja bagi karyawannya sangat diperlukan, mengingat sifat pekerjaan nya tergolong kedalam pekerjaan berat. Selain itu, upah juga sangat dipengaruhi oleh volume dan beban kerja serta besar kecilnya resiko pekerjaan. Ketika beban kerja karyawan beresiko tinggi, maka upah yang diterima juga akan terbilang besar.
b. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan Tabel 4.2
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan
No. Pendidikan Jumlah
Responden Prosentase 1 SD 13 8% 2 SMP/Sederajat 35 22% 3 SMA/SMK/Sederajat 72 45% 4 DIPLOMA (D3) 16 9% 5 SARJANA (S1) 25 16% Jumlah 161 100%
(Sumber : Data Primer, Diolah tahun 2016)
Berdasarkan dari hasil penelitian yang terdapat pada tabel 4.2 dan dilakukan oleh 161 responden bahwa jumlah responden SMA/SMK/Sederajat lebih banyak yaitu sebanyak 72 orang atau sebesar 45%, kemudian SMP/Sederajat sebanyak 35 orang atau sebesar 22%, kemudian Sarjana (S1) sebanyak 25 orang atau sebesar 16%, kemudian Diploma (D3) sebanyak 16 orang atau sebesar 9% dan sisanya adalah SD sebanyak 13 orang atau sebesar 8%. Sistem upah bisa juga ditentukan dari jenjang pendidikan, ketika jenjang pendidikan karyawan terbilang tinggi, maka upah yang didapat akan lebih besar dari yang jenjang pendidikannya rendah, karena yang berjenjang pendidikan tinggi akan ditempatkan dibagian yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang jenjang pendidikannya rendah. Karena tanggungjawab dan wewenang karyawan juga sesuai dengan tinggi rendahnya jabatan.
c. Karakteristik responden berdasarkan masa kerja Tabel 4.3
Karakteristik responden berdasarkan masa kerja
No. Masa kerja Jumlah Responden Prosentase
1 < 2 Tahun 27 17% 2 2-5 Tahun 48 29% 3 6-10 Tahun 66 42% 4 11-15 Tahun 16 9% 5 >15 Tahun 4 3% Jumlah 161 100%
(Sumber : Data Primer, Diolah Tahun 2016)
Berdasarkan dari hasil penelitian yang terdapat pada tabel 4.3 dan dilakukan oleh 161 responden bahwa jumlah responden yang masa kerjanya 6-10 tahun lebih banyak yaitu sebanyak 66 orang atau sebesar 42%, kemudian 2-5 tahun sebanyak 48 orang atau sebesar 29%, kemudian yang <2 tahun sebanyak 27 orang atau sebesar 17%, kemudian 11-15 tahun sebanyak 16 orang atau sebesar 9% dan sisanya adalah >15 tahun sebanyak 4 orang atau sebesar 3%. Berdasarkan masa kerja responden diatas, bisa dikatakan bahwa masa kerja karyawan yang lebih lama, upah yang didapatkan berbeda dengan karyawan yang masa kerjanya baru. Karyawan yang telah lama bekerja, biasanya akan mendapatkan banyak tunjangan tambahan, misalnya tunjangan jabatan dan tunjangan hari tua.
2. Deskripsi Variabel X1 (Sistem Pengupahan)
Dekripsi data yang akan disajikan dari hasil penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran secara umum mengenai penyebaran data yang diperoleh dilapangan. Data yang disajikan berupa data mentah yang diolah menggunakan teknik statistik deskripsi.Adapun dalam deskripsi data ini disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Deskripsi ini masing-masing variabel berdasarkan hasil penyebaran kuesioner kepada 161
karyawan PT Wika (Wijaya Karya) beton Jatiwangi Majalengka hasilnya dapat dijelaskan dibawah ini :
Tabel 4.4
Perusahaan memberikan gaji pokok sesuai standar yang ditentukan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
1 SS 27 161 16,8% S 118 73,3% RR 16 9,9% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan atau sebanyak 16,8% responden menyatakan setuju atas pernyataan bahwa perusahaan memberikan gaji pokok sesuai standar yang ditentukan. Melalui pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa semua karyawan PT Wijaya karya telah mendapatkan upah sesuai dengan standar yang ditentukan. Untuk upah minimum regional kabupaten Majalengka tahun 2016 yaitu sebesar RP. 1.409.360,00.,
Tabel 4.5
Gaji pokok yang diberikan sesuai dengan jabatan dalam perusahaan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
2 SS 31 161 19,3% S 116 72,0 RR 14 8,7 TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.5 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan menyatakan setuju atau sebanyak 72,0% atas pernyataan bahwa gaji pokok
yang diberikan sesuai dengan jabatan dalam perusahaan. Melalui pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa seluruh karyawan PT Wijaya Karya telah mendapatkan upah sesuai jabatan mereka.Semakin tinggi jabatan dalam perusahaan, maka semakin besar pula gaji yang diterima karena tanggung jawab yang jabatannya tinggi akan semakin besar.
Tabel 4.6
Gaji pokok yang diterima sebanding dengan kompetensi yang saudara miliki
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
3 SS 19 161 11,8% S 115 71,4% RR 27 16,8% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan menyatakan setuju atau sebanyak 71,4% atas pernyataan bahwa gaji pokok yang diterima sebanding dengan kompetensi yang saudara miliki. Hal ini menunjukkan bahwa gaji yang mereka terima sebanding dengan kompetensi yang mereka miliki. Ketika kinerja atau kompetensi karyawan baik, maka gaji yang diterima juga akan lebih besar, karena mereka telah ikut memajukan perusahaan.
Tabel 4.7
Tingkat gaji pokok yang ditentukan berdasarkan jenjang pendidikan karyawan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
4 SS 25 161 15,6% S 110 68,3% RR 26 16,1% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar menyatakan setuju atau sebanyak 68,3% atas pernyataan bahwa tingkat gaji pokok ditentukan berdasarkan jenjang pendidikan karyawan. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan mendapat gaji sesuai dengan jenjang pendidikan mereka. Ketika jenjang pendidikan karyawan tinggi, maka gaji yang diterima akan lebih besar karena perusahaan menempatkan posisi karyawan sesuai dengan jenjang pendidikan karyawan tersebut.
Tabel 4.8
Tingkat gaji pokok ditentukan berdasarkan lama masa kerja
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
5 SS 26 161 16,1% S 121 75,2% RR 14 8,7% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar menyatakan setuju atau sebanyak 75,2% atas pernyataan bahwa tingkat gaji pokok ditentukan berdasarkan lama masa kerja. Melalui pernyataan tersebut dapat diketahui bahawa seluruh karyawan mendapatkan gaji pokok sesuai lama masa kerja mereka. Ketika karyawan telah lama bekerja diperusahaan
tersebut, maka gaji yang diterima akan lebih besar dibandingkan dengan karyawan yang masa kerjanya baru sebentar. Karena faktor lamanya masa kerja mempengaruhi perkembangan skill secara empirik (autodidak).
Tabel 4.9
Tingkat gaji pokok ditentukan berdasarkan pengalaman kerja
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
6 SS 26 161 16,1% S 121 75,2% RR 14 8,7% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.9 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan menyatakan setuju atau sebanyak 75,2% atas pernyataan bahwa tingkat gaji pokok ditentukan berdasarkan pengalaman kerja. Melalui pernyataan diatas dapat diketahui bahwa seluruh karyawan mendapatkan gaji pokok berdasarkan pengalaman kerja. Karena karyawan yang telah memiliki banyak pengalaman dalam bekerja akan memiliki keunggulan dalam skill. Dengan demikian, penyelesaian tugas dan tanggung jawab yang diembankan kepadanya dapat dilaksanakan dengan baik.
Tabel 4.10
Selain gaji pokok, perusahaan memberikan tunjangan jabatan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
7 SS 27 161 16,8% S 104 64,6% RR 30 18,6% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.10 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan menyatakan setuju atau sebanyak 64,6% atas pernyataan bahwa selain gaji pokok, perusahaan memberikan tunjangan jabatan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan mendapatkan tunjangan jabatan dari perusahaan. Tunjangan jabatan diperoleh ketika masa kerja karyawan telah lama diperusahaan tersebut. Selain itu ketika jabatan karyawan berada diposisi yang tinggi di perusahaan tersebut, maka semakin tinggi pula beban yang ditanggung karyawan tersebut.
Tabel 4.11
Perusahaan memberikan tunjangan komunikasi setiap bulan pada karyawan tertentu
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
8 SS 19 161 11,8% S 110 68,3% RR 32 19,9% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.11diatas menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan menyatakan setuju atau sebanyak 68,3% atas pernyataan bahwa perusahaan memberikan tunjangan komunikasi setiap bulan pada karyawan tertentu. Artinya ada sebagian karyawan di bagian tertentu yang selalu mendapatkan tunjangan komunikasi setiap bulan dari perusahaan.
Tabel 4.12
Perusahaan membayarkan biaya perjalanan dinas bagi karyawan yang melakukan pekerjaan diluar kantor
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
9 SS 27 161 16,8% S 112 69,5% RR 22 13,7% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.12 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan menyatakan setuju atau sebanyak 69,6% atas pernyataan bahwa perusahaan membayarkan biaya perjalanan dinas bagi karyawan yang melakukan pekerjaan diluar kantor. Artinya perusahaan selalu membayar biaya perjalanan dinas bagi karyawan yang melakukan pekerjaan diluar kantor. Misalnya, karyawan di bagian distributor.
Tabel 4.13
Perusahaan memberikan kompensasi atas kehadiran karyawan berupa tunjangan makan dan transportasi
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
10 SS 26 161 16,1% S 107 66,5% RR 28 17,4% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.13 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 66,5% menyatakan setuju atas pernyataan perusahaan memberikan kompensasi atas kehadiran karyawan berupa tunjangan makan
dan transportasi. Artinya seluruh karyawan mendapatkan uang transportasi dan uang makan atas kehadirannya.
Tabel 4.14
Perusahaan membagikan bonus akhir tahun pada karyawan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
11 SS 32 161 19,9% S 108 67,1% RR 21 13,0% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.14 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 67,1% menyatakan setuju atas pernyataan perusahaan membagikan bonus akhir tahun pada karyawan. Artinya karyawan selalu mendapatkan bonus akhir tahun dari perusahaan.Bonus yang didapat adalah berupa imbalan atas kinerja karyawan dalam pencapaian tertentu yang dapat memotivasi karyawan untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan kerja mereka diperusahaan.
Tabel 4.15
Perusahaan membagikan THR (Tunjangan Hari Raya) kepada semua karyawan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
12 SS 36 161 22,4% S 104 64,6% RR 21 13,0% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.15diatas menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 64,6% menyatakan setuju atas pernyataan perusahaan membagikan THR (Tunjangan Hari Raya) kepada semua karyawan. Artinya sebagian besar karyawan selalu mendapatkan Tunjangan Hari Raya dari perusahaan.
3. Deskriptif Variabel X2 (Jaminan Sosial Tenaga Kerja)
Berikut ini disajikan hasil analisis deskriptif persentase tiap butir soal jaminan sosial tenaga kerja dan sebaran item untuk masing-masing indikator jaminan sosial tenaga kerja dapat dilihat pada tabel-tabel berikut:
Tabel 4.16
Perusahaan mendaftarkan jaminan ketenagakerjaan bagi karyawannya
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
1 SS 57 161 35,4% S 98 60,9% RR 6 3,7% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.16 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 60,9% responden menyatakan setuju atas pernyataan perusahaan mendaftarkan jaminan ketenagakerjaan bagi karyawannya. Artinya seluruh karyawan diperusahaaan tersebut telah terdaftar dalam jaminan sosial ketenagakerjaan.
Tabel 4.17
Perusahaan mewajibkan karyawan menggunakan perlengkapan kerja sesuai standar keselamatan kerja (safety)
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
2 SS 50 161 32,6% S 106 63,8% RR 5 3,6% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.17diatas menunjukkkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 63,8% responden menyatakan setuju atas pernyataan perusahaan mewajibkan karyawan menggunakan perlengkapan kerja sesuai standar keselamatan kerja (safety). Artinya, ketika bekerja karyawan selalu menggunakan perlengkapan penunjang keamanan. Alat penunjang keamanan kerja standar diantaranya baju kerja, helm, kacamata, sarungtangan dan sepatu.
Tabel 4.18
Perusahaan menyediakan layanan pertolongan pertama ketika ada karyawan yang mengalami kecelakaan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
3 SS 45 161 28,0% S 107 66,4% RR 9 5,6% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.18 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 66,4% responden menyatakan setuju atas pernyataan perusahaan menyediakan layanan pertolongan pertama ketika ada karyawan yang mengalami kecelakaan. Artinya karyawan mengetahui bahwa di
perusahaan tersedia layanan pertolongan pertama ketika ada korban yang mengalami kecelakaan.Karena diperusahaan disediakan ruang dokter untuk menangani korban kecelakaan sebelum dibawa ke Rumah sakit.
Tabel 4.19
Perusahaan memasang simbol pada peralatan/mesin/area berbahaya
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
4 SS 47 161 29,2% S 108 67,1% RR 6 3,7% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.19 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 67,1 % responden menyatakan setuju atas pernyataan perusahaan memasang simbol pada peralatan/mesin/area berbahaya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian karyawan sadar jika di sekitar perusahaan terdapat simbol pada bagian-bagian yang berbahaya.
Tabel 4.20
Perusahaan memberikan jaminan kesehatan kepada karyawan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
5 SS 58 161 36,0% S 95 59,0% RR 8 5,0% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.20 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 59,0 % responden menyatakan setuju atas pernyataan perusahaan
memberikan jaminan kesehatan kepada karyawan. Melalui pernyataan tersebut artinya setiap karyawan diberikan jaminan kesehatan oleh perusahaan.
Tabel 4.21
Perusahaan memberikan jaminan kesehatan kepada keluarga karyawan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
6 SS 55 161 34,2% S 101 62,7% RR 5 3,1% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.21 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 62,7% responden menyatakan setuju atas pernyataan perusahaan memberikan jaminan kesehatan kepada keluarga karyawan. Hal ini menunjukkan bahwa selain karyawan, keluarga karyawan juga mendapatkan jaminan kesehatan dari perusahaan.
Tabel 4.22
Setiap karyawan yang sakit akan dirujuk ke rumah sakit yang telah ditentukan perusahaan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
7 SS 49 161 30,4% S 108 67,1% RR 4 2,5% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.22 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 67,1% responden menyatakan setuju atas pernyataan setiap karyawan yang sakit akan dirujuk ke rumah sakit yang telah ditentukan perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian karyawan mengetahui ketika ada yang sakit akan dirujuk ke rumah sakit yang ditentukan oleh perusahaan.PT Wijaya Karya telah menunjuk rumah sakit untuk menangani ketika ada karyawan yang mengalami kecelakaan di lingkungan perusahaan, yakni Rumah sakit Cideres dan Rumah sakit Umum Daerah Majalengka.
Tabel 4.23
Perusahaan memberikan dana pensiun kepada karyawan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
8 SS 42 161 26,1% S 109 67,7% RR 10 6,2% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.23 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 67,7% responden menyatakan setuju atas pernyataan perusahaan memberikan dana pensiun kepada karyawan. Artinya, sebagian karyawan mengetahui bahwa perusahaan memberikan dana pensiun kepada karyawan. Karyawan yang mendapatkan dana pensiun merupakan karyawan tetap yang telah lama mengabdi diperusahaan tersebut.
Tabel 4.24
Adanya jaminan kematian dari perusahaan jika ada karyawan yang meninggal dunia
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
9 SS 50 161 31,0% S 103 64,0% RR 8 5,0% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.24 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 64,0 % responden menyatakan setuju atas pernyataan adanya jaminan kematian dari perusahaan jika ada karyawan yang meninggal dunia. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan mengetahui adanya jaminan kematian bagi setiap karyawan yang meninggal dunia.Ketika ada karyawan yang meninggal dunia. Maka semua tanggungan yang berhubungan dengan karyawan tersebut akan dibiayai oleh perusahaan.
Tabel 4.25
Perusahaan memberikan uang pesangon bagi karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK)
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
10 SS 50 161 31,1% S 97 60,2% RR 14 8,7% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.25 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 60,2 % responden menyatakan setuju atas pernyataan perusahaan
memberikan uang pesangon bagi karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Artinya sebagian karyawan mengetahui ketika ada karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja akan diberikan uang pesangon oleh perusahaan.Karyawan yang diberikan pesangon adalah karyawan yang terpaksa harus diberhentikan dari pekerjaannya oleh perusahaan karena alasan tertentu.Contoh penghitungan uang pesangon, ketika masa kerja kurang dari satu tahun, maka diberi uang pesangon sebesar satu bulan upah.
4. Deskriptif Variabel Y (Motivasi)
Berikut ini disajikan hasil analisis deskriptif persentase tiap butir soal Motivasi dan sebaran item untuk masing-masing indikator motivasi dapat dilihat pada tabel-tabel berikut:
Tabel 4.26
Saudara selalu semangat dalam menjalankan pekerjaan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
1 SS 38 161 23,6% S 116 72,0% RR 7 4,4% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.26 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 72,0 % responden menyatakan setuju atas pernyataan saudara selalu semangat dalam menjalankan pekerjaan.Hal ini menunjukkan bahwa karyawan selalu semangat dalam menjalankan pekerjaannya.Semangat kerja harus senantiasa dijunjung untuk meningkatkan produktivitas perusahaan.
Tabel 4.27
Saudara menyukai pekerjaan karena sesuai dengan bidang keahlian
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
2 SS 31 161 19,3% S 119 73,9% RR 11 6,8% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.27 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 73,9 % responden menyatakan setuju atas pernyataan saudara menyukai pekerjaan karena sesuai dengan bidang keahlian. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan menyukai pekerjaannya karena sesuai bidang keahlian mereka.
Tabel 4.28
Saudara gigih dalam mengejar target perusahaan
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
3 SS 31 161 19,3% S 118 73,3% RR 12 7,4% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.28 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 73,3 % responden menyatakan setuju atas pernyataan saudara gigih dalam mengejar target perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan selalu berupaya dalam mengejar target perusahaan.
Tabel 4.29
Saudara selalu bersikap positif dalam bekerja
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
4 SS 26 161 16,1% S 124 77,0% RR 11 6,9 % TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.29 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 77,0 % responden menyatakan setuju atas pernyataan saudara selalu bersikap positif dalam bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan selalu bersikap positif ketika bekerja.Sikap positif dalam bekerja diantaranya, menampilkan etos kerja yang tinggi seperti pandai menghargai dan mengatur waktu, memiliki disiplin yang tinggi dan bisa memanfaatkan jam kerja.
Tabel 4.30
Saudara memiliki semangat berprestasi dalam bekerja
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
5 SS 27 161 16,8% S 122 75,8% RR 12 7,4% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.30 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 75,8 % responden menyatakan setuju atas pernyataansaudara memiliki semangat berprestasi dalam bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa setiap karyawan selalu berkeinginan untuk meraih prestasi dalam bekerja. Prestasi bisa didapat dengan cara bersungguh-sungguh dalam bekerja dan telah memenuhi suatu pencapaian tertentu.
Tabel 4.31
Lingkungan kerja yang nyaman membuat saudara semangat dalam bekerja
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
6 SS 37 161 23,0% S 117 72,7% RR 7 4,3% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.31 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 72,7 % responden menyatakan setuju atas pernyataan bahwa lingkungan kerja yang nyaman membuat saudara semangat dalam bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan yang kerja yang nyaman membuat karyawan semangat dalam bekerja.Lingkungan kerja yang nyaman bisa diciptakan dengan adanya hubungan yang baik antar sesama karyawan atau dengan pimpinan perusahaan.
Tabel 4.32
Perusahaan selalu memberikan kesempatan kepada saudara untuk mengembangkan diri
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
7 SS 27 161 16,8% S 127 78,9% RR 7 4,3% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.32 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 78,9 % responden menyatakan setuju atas pernyataanperusahaan selalu memberikan kesempatan kepada saudara untuk mengembangkan diri. Hal ini menunjukkan bahwa setiap karyawan selalu berupaya mengembangkan diri agar meraih prestasi .Mengembangkan prestasi kerja dapat diperoleh dengan cara selalu berfikir positif dalam bekerja, karena dengan berfikir positif otak kita akan mudah menerima masukan, kritik atau saran dari orang lain.
Tabel 4.33
Hubungan kerja yang baik dengan sesama karyawan membuat saudara nyaman dalam bekerja
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
8 SS 33 161 20,5% S 120 74,5% RR 8 5,0% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.33 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 74,5 % responden menyatakan setuju atas pernyataanhubungan kerja yang baik dengan sesama karyawan membuat saudara nyaman dalam bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan selalu senantiasa memelihara hubungan kerja yang baik dengan karyawan yang lain agar nyaman dalam bekerja.
Tabel 4.34
Pimpinan perusahaan memberikan dorongan pada karyawannya untuk bekerja dengan baik dan semangat
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
9 SS 34 161 21,1% S 112 69,6% RR 15 9,3% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.34 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 69,6 % responden menyatakan setuju atas pernyataan pimpinan perusahaan memberikan dorongan pada karyawannya untuk bekerja dengan baik dan semangat. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan selalu diberikan dorongan oleh pimpinan supaya bekerja dengan baik semangat. Dorongan dari pimpinan jelas sangat dibutuhkan oleh karyawan untuk memotivasi mereka dalam bekerja agar senantiasa mencapai target dan meningkatkan produktivitas perusahaan.
Tabel 4.35
Kompensasi/imbalan yang diberikan perusahaan membuat saudara puas
No item Kategori Frekuensi Jumlah sampel Prosentase
10 SS 23 161 14,3% S 122 75,8% RR 16 9,9% TS 0 0 STS 0 0 Jumlah 100%
Tabel 4.35 diatas menunjukkan sebagian besar karyawan yaitu sebanyak 75,8 % responden menyatakan setuju atas pernyataan kompensasi/imbalan yang diberikan perusahaan membuat saudara puas. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan telah merasa puas atas kompensasi/imbalan yang diberikan perusahaan.Kompensasi/imbalan memang sangat dibutuhkan oleh karyawan sebagai tanda penghargaan atas prestasi yang telah mereka capai agar mereka selalu terus meningkatkan semangat kerjanya.
C. Instrumen Penelitian 1. Hasil Uji Validitas
Tabel 4.36
Hasil Uji Validitas X1 (Sistem Pengupahan)
NO 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 Keterangan 1 0,329 0,1552 Valid 2 0,449 0,1552 Valid 3 0,506 0,1552 Valid 4 0,365 0,1552 Valid 5 0,336 0,1552 Valid 6 0,241 0,1552 Valid 7 0,502 0,1552 Valid 8 0,342 0,1552 Valid 9 0,523 0,1552 Valid 10 0,344 0,1552 Valid 11 0,441 0,1552 Valid 12 0,407 0,1552 Valid
(Sumber : Data primer, hasil penelitian 2016)
Tabel 4.36 diatas menunjukkan bahwa hasil nilai 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 masing-masing pernyataan lebih besar dari nilai 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 pada variable X1 (Sistem
Pengupahan) maka variable X1 (Sistem pengupahan) tersebut dinyatakan valid.
Tabel 4.37
Hasil Uji Validitas X2 (Jaminan Sosial Tenaga Kerja)
NO 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 Keterangan 1 0,523 0,1552 Valid 2 0,545 0,1552 Valid 3 0,479 0,1552 Valid 4 0,615 0,1552 Valid 5 0,538 0,1552 Valid 6 0,482 0,1552 Valid 7 0,402 0,1552 Valid 8 0.598 0,1552 Valid 9 0,562 0,1552 Valid 10 0,571 0,1552 Valid
(Sumber : Data primer, hasil penelitian 2016)
Tabel 4.37 diatas menunjukkan bahwa hasil nilai 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔
masing-masing pernyataan lebih besar dari nilai 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 pada variable X2
(Jaminan Sosial Tenaga Kerja) maka variable X2 (Jaminan Sosial Tenaga Kerja) tersebut dinyatakan valid.
Tabel 4.38
Hasil Uji Validitas Y (Motivasi)
NO 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 Keterangan 1 0,480 0,1552 Valid 2 0,516 0,1552 Valid 3 0,560 0,1552 Valid 4 0,583 0,1552 Valid 5 0,515 0,1552 Valid 6 0,624 0,1552 Valid 7 0,459 0,1552 Valid 8 0,500 0,1552 Valid 9 0,481 0,1552 Valid 10 0,354 0,1552 Valid
Tabel 4.38 diatas menunjukkan bahwa hasil nilai 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 masing-masing pernyataan lebih besar dari nilai 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 pada
variable Y (Motivasi) maka variable Y (Motivasi) tersebut dinyatakan valid.
2. Uji Reliabilitas
Tabel 4.39
Table hasil uji reliabilitas variable X1,X2 dan Y
Variable Croanbach’s
Alpha Ketetapan Keterangan
Sistem Pengupahan (X1) 0,671 0,6 Reliabel Jaminan Sosial Tenaga Kerja (X2) 0,728 0,6 Reliabel
Motivasi (Y) 0,718 0,6 Reliabel
(sumber : Data Primer, diolah pada tahun 2016)
Tabel 4.39 diatas menunjukkan bahwa hasil Croanbach’s Alpha Variabel X1 (Sistem Pengupahan) sebesar 0,671, Variabel X2 ( Jaminan Sosial Tenaga Kerja) sebesar 0,728 dan variable Y (Motivasi) sebesar 0,718. Nilai hasil tersebut lebih besar dari 0,6 maka ketiga variable tersebut dinyatakan reliable.
D. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas
Tabel 4.40 Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 161
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation 2.70445922
Most Extreme Differences Absolute .056
Positive .056
Negative -.048
Kolmogorov-Smirnov Z .706
Asymp. Sig. (2-tailed) .701
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data
(sumber : Data Primer, Tahun 2016)
Dari hasil output One-Sampel Kolmogorov SminorvTest diatas dapat disimpulkan bahwa data dalam model regresi telah berdistribusi secara normal sebab dilihat dari besarnya nilai Kolmogorov
Sminorvsebesar 0,550 denga taraf signifikan 0,701. Hal ini berarti H0
diterima artinya data residual terdistribusi normal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa nilai dari hasil output One-Sampel
Kolmogorov SminorvTest dinyatakan berdistribusi normal karena nilai
2. Uji Multikolinieritas
Tabel 4.41
Hasil Uji Multikolinieritas
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardiz ed Coefficient s T Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Const
ant) 25.670 3.858 6.653 .000
Jamsos
tek .216 .069 .248 3.123 .002 .896 1.116
Upah .132 .075 .140 1.764 .080 .896 1.116
a. Dependent Variable: motivasi
(Sumber:Data Primer, diolah tahun,2016)
Dari Tabel yaitu hasil output Coefficients diatas dapat disimpulkan bahwa nilai Tolerance menunjukkan tidak ada variabel independen yang memiliki nilai Tolerance kurang dari 0,10 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen. Nilai VIF juga menunjukkan hal yang sama tidak ada variabel yang memiliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas antar variabel independen dalam model regresi.
3. Uji Autokorelasi
Tabel 4.42 Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb Mod el R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .322a .104 .093 2.367 2.255
a. Predictors: (Constant), jamsosker, upah b. Dependent Variable: motivasi
Nilai DW sebesar 2,255 nilai ini akan dibandingkan nilai table dengan menggunakan nilai signifikansi 5%, jumlah sampel (n) = 161 dan jumlah variable indevenden 2 (k=2) maka memiliki nilai Du 1,7675 (lihat tabel Durbin-Watson (DW), 𝛼 = 5% pada lampiran).
Nilai DW 2,255 lebih besar dari batas atas (dU) 1,7675 dan kurang dari (4-dU) 4 – 1,7675 = 2, 2325 maka dapat disimpulkan bahwa tidak bisa menolak H0 yang menyatakan bahwa tidak ada autokorelasi positif atau negatif atau dapat disimpulkan tidak terdapat autukorelasi.
4. Uji Heteroskedastisitas
Gambar 4.1
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Dari Tabel hasiloutput scatterplot diatas dapat diketahui bahwa titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y dan tidak membentuk pola yang jelas, sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas.
E. Teknik Analisa Data
1. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda adalah suatu alat analisis peramalan nilai peramalan nilai pengaruh dua variable bebas (independen) untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan fungsi atau hubungan kausal antara dua variable independen (𝑋1, 𝑋2,….𝑋3) dengan variabel dependen
(Y). analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas yaitu sistem pengupahan (𝑥1) dan Jaminan sosial tenaga kerja (𝑥2) terhadap variabel terikatnya yaitu motivasi karyawan (Y). Persamaan regresi linear berganda adalah sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2
Keterangan :
Y = Variabel dependen (nilai yang diprediksikan) X1 dan X2= Variabel Independen
a= konstanta (nilai Y apabila X1 ,X2 = 0)
b= koefisien regresi (nilai peningkatan atau penurunan)
Berikut hasil analisis persamaan regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS versi 16.0.
Tabel 4.43
Hasil analisis regresi linear berganda
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 25.670 3.858 6.653 .000 Upah .132 .075 .140 1.764 .080 Jamsostek .216 .069 .248 3.123 .002
Berdasarkan hasil output coefficients diatas diperoleh persamaan regresi yang terbentuk adalah:
Y = a + b1X1 + b2X2
Y=25,670+0,132X1+0,216X2
Dari analisis regresi diatas dapat diketahui bahwa:
a. Nilai konstanta a sebesar 25,670. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat sistem pengupahan (𝑥1) bernilai nol maka motivasi karyawan
akan bernilai 25,670.
b. Nilai koefisien regresi variabel sistem pengupahan ( b1 ) sebesar 0,132
menunjukkan bahwa ketika terjadi peningkatan sistem pengupahan sebesar 1 satuan maka motivasi karyawan juga akan meningkat sebesar 0,132 satuan (dengan asumsi variabel nilai lainnya tetap)
c. Nilai koefisien regresi variabel jaminan sosial kerja (b2) bernilai positif
yaitu 0,216. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap peningkatan jaminan sosial tenaga kerja sebesar 1 satuan, maka motivasi karyawan juga meningkat sebesar 0,216 (dengan asumsi variabel nilai lainnya tetap). d. Nilai koefisien regresi variabel sistem pengupahan (b1) dan jaminan
sosial tenaga kerja (b2) bernilai positif artinya terdapat hubungan
positif antara sistem pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja. Semakin tinggi sistem pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja, maka semakin meningkat pula motivasi karyawan dan begitu pula sebaliknya.
2. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui seberapa besar prosentase pengaruh variabel indevenden secara serentak terhadap variabel devenden.
R2 = r2 x 100% Keterangan:
R2 = Koefisien determinasi r2 = koefisien korelasi
Tabel 4.45
Tabel hasil uji koefisien determinasi
Model Summary
Model R R Square
Adjusted R
Square Std. Error of the Estimate
1 .722a .521 .515 2.990
a. Predictors: (Constant), JAMINAN, UPAH
(sumber : Data Primer, diolah tahun 2016)
Berdasarkan Tabel 4.45 model Summary diatas , nilai regresi R Square (r2) yang diperoleh adalah 0,521. Angka tersebut dapat digunakan untuk melihat besarnya pengaruh sistem pengupahan dan jaminan sosial kerja terhadap motivasi karyawan dengan cara menghitung Koefisien Determinasi (KD) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
R = r2 x 100% = 0,521 x 100% = 52,1%
Berdasarkan dari hasil uji koefisien determinasi diperoleh nilai 52,1%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pengaruh sistem pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja memberikan kontribusi 52,1% terhadap motivasi karyawan dan sisanya sebesar 47.9% dikontribusi oleh faktor lain.
3. Pengujian secara parsial (Uji t)
Uji t bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing variabel indevenden secara individual (parsial) terhadap variabel dependen. Adapun rumus uji t adalah sebagai berikut:
𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔= 𝑛−2
𝑟
1−𝑟2 Keterangan :
R = koefisien korelasi hasil 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 n = Jumlah responden
Tabel 4.46 Hasil uji parsial (uji t)
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 25.670 3.858 6.653 .000 Upah .132 .075 .140 1.764 .080 Jamsostek .216 .069 .248 3.123 .002
a. Dependent Variable: motivasi
(sumber:Data primer, diolah tahun 2016)
a. Pengaruh antara sistem pengupahan dengan motivasi karyawan PT Wijaya Karya (Wika) beton Jatiwangi Majalengka.
Hipotesisnya adalah sebagai berikut:
Ho : tidak terdapat pengaruh positif antara sistem pengupahan dengan motivasi karyawan PT Wijaya Karya (Wika) beton Jatiwangi Majalengka.
Ha : terdapat pengaruh positif antara sistem pengupahan dengan motivasi karyawan PT Wijaya Karya (Wika) beton Jatiwangi Majalengka.
Berdasarkan hasil output coefficients diatas dapat diperoleh angka thitung sebesar 0,1764. Untuk nilai ttabel ditentukan berdasarkan tingkat
signifikansi yang digunakan derajat kebebasan dk= n-2 (161-2)=159 dengan taraf kesalahan α= 0,05 dan dapat diperoleh ttabel sebesar 1,65437
(lihat tablet pada lampiran)
Keputusan hipotesisnya adalah sebagai berikut: Jika thitung > ttabel maka H0 ditolak dan Ha diterima
Berdasarkan nilai t hitung sebesar 1,764 dan ttabel sebesar 1,65437. maka
diketahui bahwa thitung> ttabel (1,764 > 1,65437 Dengan demikian
keputusan hipotesisnya adalah H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti
dapat diketahui bahwa sistem pengupahan berpengaruh positif secara parsial dan signifikan terhadap motivasi karyawan PT Wijaya Karya (Wika) beton Jatiwangi Majalengka.
b. Pengaruh antara jaminan sosial tenaga kerja dengan motivasi karyawan PT Wijaya Karya (Wika) beton Jatiwangi Majalengka.
Hipotesisnya adalah sebagai berikut:
H0 :tidak terdapat pengaruh positif antara jaminan sosial tenaga kerja
dengan motivasi karyawan PT Wijaya Karya (Wika) Jatiwangi Majalengka.
Ha : terdapat pengaruh positif antara jaminan sosial tenaga kerja dengan
motivasi karyawan PT Wijaya Karya (Wika) beton Jatiwangi Majalengka.
Berdasarkan hasil output coefficients diatas dapat diperoleh angka thitung sebesar 3,123 . Untuk nilai ttabel ditentukan berdasarkan tingkat
signifikansi yang digunakan derajat kebebasan dk= n-2 (161-2)=159 dengan taraf kesalahan α= 0,05 dan dapat diperoleh ttabel sebesar 1,65437
(lihat tablet pada lampiran).
Keputusan hipotesisnya adalah sebagai berikut: Jika thitung > ttabel maka H0 ditolak dan Ha diterima
Jika thitung < ttabel maka H0 diterima dan Ha ditolak.
Berdasarkan nilai thitungsebesar 3,123 dan ttabel sebesar 1,65437 maka
diketahui bahwa thitung > ttabel (3,123>1,65437). Dengan demikian
keputusan hipotesisnya adalah H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti
dapat diketahui bahwa jaminan sosial tenaga kerja berpengaruh positif secara parsial dan signifikan terhadap motivasi karyawan PT Wijaya Karya (Wika) beton Jatiwangi Majalengka.
4. Pengujian secara simultan (Uji F)
Uji ini digunakan untuk mengetahui variabel indevenden (x1,x2…,xn)
secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y). Fhitung dicari dengan rumus sebagai berikut:
Fhitung = 𝑅2 1−𝑅2 (𝑛−𝑘−1) Keterangan : R2 = Koefisien determinasi N = Jumlah data
K = Jumlah Variabel Indevenden
Tabel 4.47
Hasil uji secara simultan (Uji F)
ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 102.662 2 51.331 9.160 .000a
Residual 885.400 158 5.604
Total 988.062 160
a. Predictors: (Constant), jamsosker, upah b. Dependent Variable: motivasi
(sumber : Data Primer , diolah tahun 2016)
Berdasarkan hasiloutput ANOVA diatas diperoleh nilai Fhitung sebesar
9,160 dan nilai Ftabel dapat diketahui dari kolom df nilai df1
(pembilang) yang merupakan jumlah variabel bebas sedangkan df2 (penyebab) diperoleh dari (n-k-1) 161-2-1=158. Dimana K adalah jumlah variabel (bebas+terikat) dan n adalah jumlah observasi/sampel pembentuk regresi. Sehingga nilai df1=2 dan df=158 dengan nilai signifikan dua arah menjadi 0,05 maka nilai untuk Ftabel sebesar 3,05 (lihat pada tabel F pada
H0 : variabel X1 (sistem pengupahan) dan X2 (jaminan sosial tenaga kerja)
secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan pada variabel Y (Motivasi karyawan) PT Wijaya Karya beton jatiwangi Majalengka. Ha :variabel X1 (sistem pengupahan) dan X2 (jaminan sosial tenaga kerja)
secara bersama-sama berpengaruh signifikan pada variabel Y (Motivasi Karyawan) PT Wijaya Karya beton Jatiwangi Majalengka.
Keputusan hipotesisnya adalah sebagai berikut: Jika Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak dan Ha diterima
Jika Fhitung < Ftabel maka H0 diterima dan Ha ditolak
Berdasarkan nilai Fhitung sebesar 9,160 dan Ftabel sebesar 3,05 maka
diketahui bahwa Fhitung > Ftabel (9,160 > 3,05). Dengan demikian keputusan
hipotesisnya adalah H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti Variabel X1
(Sistem pengupahan) dan X2 (Jaminan Sosial Tenaga Kerja) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Variabel Y (Motivasi karyawan). F. Analisis Ekonomi
Manusia merupakan faktor penggerak instansi dalam mencapai tujuan instansi, dimana manusia yang mengambil keputusan dalam menjalankan suatu instansi. Keberhasilan suatu instansi sangat ditentukan oleh kemampuan instansi dalam mengatur pemanfaatan sumber daya manusia (SDM) dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efisien, guna mencapai tujuan instansi tersebut. Tujuan didefinisikan sebagai apa yang diharapkan untuk dicapai oleh organisasi, fungsi, departemen dan individu dalam suatu periode tertentu.
Maju mundurnya suatu perusahaan dapat dipengaruhi oleh karyawan, karena karyawan merupakan bagian terpenting di suatu perusahaan. Tanpa mereka suatu perusahaan tertentu tidak akan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Begitu juga kontribusi dari perusahaan sangat diharapkan demi memotivasi karyawan tersebut yang bisa disalurkan dari segi sistem pengupahan maupun dalam hal perlindungan jiwa karyawannya.
Karyawan perlu diberikan motivasi agar tetap mau bekerja pada perusahaan sampai pensiun. Untuk mempertahankan karyawan ini diberikan penghargaan/kompensasi, pelengkap/gaji. Kesejahteraan yang diberikan sangat berarti dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan fisik dan mental karyawan beserta keluarganya. Pemberian kesejahteraan akan menciptakan ketenangan, semangat kerja, dedikasi, disiplin dan sikap loyal karyawan terhadap perusahaan
Upah memegang peranan yang sangat penting terhadap pekerja dan juga bagi kelangsungan hidup perusahaan.Upah merupakan salah satu bentuk dari kompensasi, dimana pekerja menerima imbalan dari pemberi kerja atas pekerjaan atau jasa yang telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Upah memegang peranan yang sangat penting terhadap pekerja dan juga bagi kelangsungan hidup perusahaan. Dengan semakin ketatnya persaingan bisnis mengakibatkan perusahaan dihadapkan pada tantangan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidup. Oleh karena itu, perusahaan harus mampu bersaing, dan salah satu alat yang dapat digunakan oleh perusahaan adalah upah. Jika sistem upah dirasakan adil dan kompetitif oleh pekerja, maka perusahaan akan lebih mudah untuk menarik pekerja yang potensial, mempertahankannya, dan memotivasi agar lebih meningkatkan kinerjanya. Sehingga produktivitas meningkat.
Berdasarkan uraian diatas yang menjadi faktor lain yang sering dikeluhkan oleh karyawan ialah jaminan atas mereka khususnya jaminan sosial tenaga kerja, tidak ada karyawan ataupun pekerja yang berharap sakit apalagi sampai meninggal akan tetapi itu akan terjadi dan menimpa karyawan/pekerja. Oleh sebab itu untuk mengurangi resiko dan tanggungan kecelakaan, sakit dan kematian perlu adanya jaminan sosial bagi karyawan /pekerja.
Secara parsial menunjukkan bahwa sistem pengupahan berpengaruh positif dan signifikan memberikan dampak terhadap
motivasi karyawan begitu pula dengan jaminan sosial tenaga kerja yang juga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi karyawan. Hal ini berdasarkan pada t hitung sebesar 1,764 pada sistem
pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja sebesar sebesar 3,123. Artinya hasil ini mengindikasikan bahwa ketika perusahaan sangat memperhatikan karyawan baik dalam hal moril maupun materiil, maka kontribusi dari karyawan juga akan sangat baik dalam hal pengabdian jasanya kepada perusahaan. Karena kedua pihak saling membutuhkan dan sangat mempengaruhi. Ketika perusahaan membutuhkan karyawan untuk memajukan nama baiknya, begitu juga karyawan yang motif dasar nya mereka bekerja untuk mendapatkan upah. Dari hal ini yang sangat harus diperhatikan pimpinan untuk karyawannya adalah ketika memotivasi karyawan agar suatu perusahaan bisa mencapai hasil yang diharapkan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh sistem pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja bagi karyawannya, karena ketika keduanya telah terealisasi, maka karyawan akan merasa semangat tenang ketika bekerja, yang tentunya akan menguntungkan juga bagi perusahaan karena akan sangat berdampak pada produktivitas perusahaan.
Hasil penelitian secara simultan (bersama-sama) Variabel X1 (Sistem pengupahan) dan X2 (jaminan sosial tenaga kerja) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Y (Motivasi Karyawan). Hal ini dikarenakan sistem pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja yang terdapat di suatu perusahaan sangat mendukung dan mempengaruhi kepada motivasi kerja karyawan.
Pada uji regresi dapat diketahui bahwa sistem pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja memiliki hasil uji koefisien determinasi dengan nilai 52,1%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pengaruh sistem pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja memberikan kontribusi 52,1% terhadap motivasi karyawan dan sisanya sebesar 47,9% dikontribusi oleh faktor lain diantaranya minat, sikap positif, kebutuhan,
motivator, faktor kesehatan kerja, kehormatan dan pengakuan, perilaku yang adil, pimpinan yang cakap, jujur dan berwibawa, suasana kerja yang menarik dan jabatan yang menarik.
Dari penjelasan hasil analisis secara keseluruhan dapat dijelaskan bahwa faktor sistem pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja dapat mempengaruhi motivasi karyawan. Motivasi merupakan hal yang sangat mendasar yang ada pada diri karyawan. Dengan motivasi yang tinggi dapat mendorong karyawan tersebut agar mencapai kinerja yang lebih maksimal dan bisa memberikan rasa puas bagi karyawan tersebut. Peningkatan motivasi karyawan harus selalu dilakukan dan ditingkatkan oleh atasan. Karena dengan adanya motivasi dari atasan ke bawahan menjadikan lingkungan kerja akan terasa lebih nyaman, hal ini tentunya akan berdampak pada produktivitas perusahaan sendiri yang juga akan meningkatkan pendapatan laba bagi perusahaan dan tentu akan sangat berdampak positif bagi karyawan karena dengan laba perusahaan yang tinggi maka perusahaan akan memberikan bonus tambahan kepada karyawan diluar gaji pokok yang diberikan perusahaan yang akhirnya akan berdampak pula pada peningkatan taraf hidup masyarakat karena dalam bidang perekonomian juga meningkat.