• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Pembuatan pupuk cair

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Praktikum Pembuatan pupuk cair"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Praktikum Dosen Pembimbing Pengolahan Limbah Elvie Yenie, ST., M.Eng

PEMBUATAN PUPUK CAIR DARI SAMPAH SAYURAN DAN BUAH-BUAHAN

Kelompok : VI (enam)

Nama Kelompok : 1. Donland Topoi S. ( 1407034836) 2. Gustina Eka Putri (1407038213) 3. Mitha Arwandi (1407034121) 4. Nurul Annisa (1407034495)

LABORATORIUM DASAR-DASAR PROSES KIMIA PROGRAM STUDI D-III TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU

(2)

ABSTRAK

Selama ini pupuk kompos yang dihasilkan dari sampah organik dalam bentuk padat. Namun,

jarang yang berbentuk cair, padahal kompos cair ini lebih praktis digunakan, prosesnya

relatif lebih mudah, dan biaya pembuatan yang dikeluarkan juga tidak terlalu besar. Tujuan

dari percobaan ini yaitu membuat Mikroorganisme Lokal (MOL) dari tapai sebagai

bioaktivator, membuat pupuk cair dari sampah buah-buahan, mempelajari pengaruh dosis

bioaktivator pada proses pengomposan, mengukur pH, dan menghitung rendemen.

Percobaan dilakukan dengan memvariasikan dosis MOL yang digunakan, yaitu sebesar 10,

20 dan 30 ml dengan lama perendaman 21 hari. Berdasarkan hasil percobaan, pemberian

variasi dosis MOL pada lama perendaman 21 hari memberikan pengaruh pada pH pupuk

kompos cair. Nilai pH yang diperoleh yaitu 5 tiap masing-masing dosis. Pada lama

perendaman 21 hari, rendemen yang dihasilkan mengalami peningkatan di setiap

penambahan dosis MOL dimana diperoleh sebesar 64,05%, 65,43% dan 68,13% dengan

dosis MOL berturut turut yaitu 10, 20, dan 30 ml. Sedangkan tinggi tanaman pada hari ke-10

pertumbuhan batang jagung tanpa diberi pupuk, dosis MOL 10, 20, dan 30 ml berturut-turut

adalah 23,4; 23,4; 26,3 dan 27,6 cm.

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sampah dapat membawa dampak yang buruk pada kondisi kesehatan manusia. Bila sampah dibuang secara sembarangan atau ditumpuk tanpa ada pengelolaan yang baik, maka akan menimbulkan berbagai dampak kesehatan yang serius. Tumpukan sampah rumah tangga yang dibiarkan begitu saja akan mendatangkan tikus got dan serangga (lalat, kecoa, lipas, kutu, dan lain-lain) yang membawa kuman penyakit.

Di tengah kepadatan aktifitas manusia, penanganan sampah masih menjadi permasalahan serius yang belum bisa tertangani dengan tuntas, terutama dikota-kota besar. Pasalnya, rata-rata tiap orang perhari dapat menghasilkan sampah 1-2 kg dan akan terus bertambah sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan dan gaya hidup masyarakat. Sampah yang tidak mendapat penanganan yang serius bisa mengakibatkan pencemaran, baik polusi udara, polusi air, maupun polusi tanah.

Persentase kandungan unsure hara dalam pupuk anorganik relatif tinggi sehingga petani cenderung memakai pupuk ini. Namun belakangan ini, harga pupuk anorganik semakin naik. Hal ini tentu saja menambah beban biaya bagi petani. Selain itu pupuk anorganik dapat menimbulkan ketergantungan dan dapat membawa dampak kurang baik, misalnya tanah menjadi rusak akibat penggunaan yang berlebihan dan terus menerus akan menyebabkan tanah menjadi keras, air tercemar, dan keseimbangan alam akan terganggu (Indriani, 2004).

(4)

Bahan baku pupuk cair yang sangat bagus dari sampah organik yaitu bahan organik basah atau bahan organik yang mempunyai kandungan air tinggi seperti sisa buah-buahan atau sayur-sayuran. Selain mudah terkomposisi, bahan ini juga kaya akan nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Semakin besar kandungan selulosa dari bahan organic (C/N rasio) maka proses penguraian oleh bakteri akan semakin lama (Purwendro dan Nurhidayat, 2006).

1.2 Tujuan Percobaan

1. Pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) dari tapai sebagai bioaktivator. 2. Pembuatan pupuk cair dari sampah sayuran.

3. Mempelajari pengaruh dosis bioaktivator pada proses pengomposan. 4. Mengkur pH.

5. Menghitung rendemen.

(5)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sampah

Sampah adalah sisa-sisa bahan yang telah mengalami perlakuan, telah diambil bagian utamanya, telah mengalami pengolahan, dan sudah tidak bermanfaat, dari segi ekonomi sudah tidak ada harganya lagi dan dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan kelestarian alam (Amurwaharja, 2006).

2.2. Jenis-jenis Sampah

a) Sampah organik

Sampah organik berasal dari makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Sampah organik sendiri dibagi menjadi sampah organik basah dan sampah organik kering. Istilah sampah organik basah dimaksudkan sampah yang mempunyai kandungan air yang cukup tinggi. Contohnya kulit buah dan sisa sayuran. Sedangkan bahan yang termasuk sampah organik kering adalah sampah yang mempunyai kandungan air yang rendah. Contoh sampah organik kering adalah kayu atau ranting kering, dan dedauan kering. b) Sampah anorganik

Sampah anorganik bukan berasal dari makhluk hidup. Sampah ini berasal dari bahan yang bisa diperbaharui (recycle) dan sampah ini sangat sulit terurai oleh jasad renik. Jenis sampah ini misalnya bahan yang terbuat dari plastic dan logam.

c) Sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun)

(6)

2.3. Pupuk Organik

Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari bahan organik atau makhluk hidup yang telah mati. Bahan organik ini akan mengalami pembusukan oleh mikroorganisme sehingga sifat fisiknya akan berbeda dari semula. Pupuk organik termasuk pupuk majemuk lengkap karena kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur dan mengandung unsur mikro (Hadisuwito, 2007).

Berdasarkan cara pembuatannya, pupuk organik terbagi menjadi dua kelompok, yaitu: pupuk organik alami dan pupuk organik buatan. Pupuk organik alami dan pupuk organik buatan. Jenis pupuk yang tergolong dalam kelompok pupuk organik alami benar-benar langsung diambil dari alam, seperti dari sisa hewan, tumbuhan, tanah baik dengan atau tanpa sentuhan teknologi yang berarti. Pupuk yang termasuk ke dalam kelompok ini antara lain pupuk kandang, kompos, pupuk hijau, humus dan pupuk burung.

Pupuk organik buatan dibuat untuk memenuhi kebutuhan pupuk tanaman yang bersifat alami atau non kimia, berkuliatas baik, dengan bentuk, ukuran, dan kemasan yang praktis, mudah didapat, didistribusikan, dan diaplikasikan, serta dengan kandungan unsur hara yang lengkap dan terukur. Berdasarkan bentuknya ada dua jenis pupuk organik buatan yaitu: padat dan cair (Marsono dan Paulus, 2011)

Jenis sampah organik yang bisa diolah menjadi puuk organik adalah: a) Sampah sayur baru

b) Sisa sayur basi, tetapi ini harus dicuci dulu, peras, lalu buang airnya c) Sisa nasi

d) Sisa ikan, ayam, kulit telur

e) Sampah buah. Tapi tidak termasuk kulit buah yang keras seperti kulit salak.

Sampah organik yang tidak bisa diolah:

(7)

b) Biji-biji yang utuh atau kerasi seperti biji salak, asam, lengkeng, alpukat dan sejenisnya. Buah utuh yang tidak dimakan karena busuk dan berair seperi papaya, melon, jeruk, anggur.

c) Sisa sayur yang berkuah harus dibuang airnya, kalau bersantan harus dibilas air dan ditiriskan (Litauditomo, 2007)

2.4. Pupuk Cair Organik

Menurut Simamora, dkk (2005) pupuk cair adalah pupuk yang bahan dasarnya berasal dari hewan atau tumbuhan yang sudah mengalami fermentasi dan bentuk produknya berupa cairan. Kandungan bahan kimia didalamnya makimum 5%. Penggunaan pupuk cair memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:

a) Pengaplikasiannya lebih mudah jika dibandingkan dengan pengaplikasian pupuk organik padat.

b) Unsur hara yang terdapat didalam pupuk cair mudah diserap tanaman. c) Mengandung mikroorganisme yang jarang terdapat dalam pupuk organik

padat.

d) Pencampuran pupuk cair organik dengan pupuk organik padat mengaktifkan unsur hara yang ada dalam pupuk padat tersebut.

(Simamora dkk, 2005)

Sedangkan menurut Hadisuwito (2007) , pupuk cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kadungan unsur haranya lebih dari satu unsur. Kelebihan dari pupuk organik ini adalah dapat secara cepat mengatasi defisiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara, dan mampu menyediakan hara secara cepat.

(8)

2.5. Prinsip Pengomposan

Bahan organik tidak dapat langsung digunakan atau dimanfaatkan oleh tanaman karena perbandingan C/N dalam bahan tersebut relative tinggi atau tidak sama dengan C/N tanah. Nilai C/N tanah sekitar 10-12. Apabila bahan organik memiliki mempunyai kandungan C/N mendekati atau sama dengan C/N tanah maka bahan tersebut dapat digunakan atau diserap tanaman. Namun, umumnya bahan organik yang segar mempunya C/N yang tinggi, seperti jerami pada 50-7-, daun-daunan >50 (tergantung jenisnya), cabang tanaman 15-60 (terganung jenisnya), kayu yang telah tua dapat memcapai 400.

Prinsip pengomposan adalah menurunkan C/N rasio bahan organic sehingga sama dengan tanah (<20). Dengan semakin tingginya C/N bahan maka proses pengomposan akan semakin lama karena C/N harus diturunkan. Di dalam perendaman bahan-bahan organik pada pembuatan kompos cair terjadi aneka perubahan hayati yang dilakukan oleh jasad renik.

Perubahan hayati yang penting yaitu sebagai berikut: a. Penguraian hidrat arang, selulosa dan hemiselulosa. b. Penguraian zat lemak dan lilin menjadi CO2 dan air.

c. Terjadi peningkatan beberapa jenis unsur di dalam tubuh jasad renik terutama nitrogen (N), fosofor (P) dan Kalium (K). unsur-unsur tersebut akan terlepas kembali bila jasad-jasad renik tersebut mati.

d. Pembebasan unsur-unsur hara dari senyawa-senyawa organik menjadi senyawa anorganik yang berguna bagi tanaman.

Akibat perubahan tersebut, berat, isi bahan kompos tersebut menjadi sangat berkurang. Sebagian senyawa arang hilang, menguap keudara. Kadar senyawa N yang larut (amoniak) akan meningkat. Peningkatan ini tergantung pada perbandingan C/N bahan asal. Perbandingan C/N akan semakin kecil berarti bahan tersebut mendekati C/N tanah. Idealnya C/N bahan sedikit lebih rendah dibanding C/N tanah (Murbondo, 2004)

(9)

menjadi kompos. Tanah pertanian yang baik mengandung unsur C dan N yang seimbang. Setiap bahan organic mempunyai kandungan C/N yang berbeda.

Table 1. Kandungan C/N dari berbagai sumber bahan organic

Jenis bahan organic Kandungan C/N

Urine ternak 0,8

Kotoran ayam 5,6

Kotoran sapi 15,8

Kotoran babi 11,4

Kotoran manusia (tinja) 6-10

Darah 3

Dalam proses pengomposan terjadi perubahan seoerti 1) karbohidrat, selulosa, hemiselulosa, lemak dan lilin menjadi CO2 dan air, 2) zat putih telur menjadi

ammonia, CO2 dan air, 3) penguraian senyawa organik menjadi senyawa yang

dapat diserap tanaman. Dengan perubahan tersebut, kadar karbohidrat akan hilang atau turun dan senyawa N yang larut (ammonia) meningkat. Dengan demikian, C/N semakin rendah dan relatif stabil mendekati C/N tanah (Indriani, 2004). 2.6. Pengomposan Anaerobik

(10)

(hampa udara). Proses pengomposan ini melibatkan mikroorganisme anaerob untuk membantu mendekomposisikan bahan yang dikomposkan. Bahan baku yang dikomposkan secara anaerob biasanya berupa bahan organic yang berkadar air tinggi.

Pengomposan anaerob akan menghasilkan gas metan (CH4),

karbondioksida (CO2), dan asam organik yang memiliki bobot molekul rendah

seperti asam asetat, asam propionat, asam butirat, asam lakat, dan asam suksinat. Gas metan bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif (biogas). Sisanya berupa lumpur yang mengandung bagian padatan dan cairan. Bagian padat ini yang disebut kompos padat dan yang cair disebut kompos cair (Simamora dan Salundik, 2006).

2.7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Pupuk Organik

Pembentukan pupuk organik dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: 1. Perbandingan Karbon-Nitrogen (C/N) bahan baku pupuk organik

Nitrogen adalah zat yang dibutuhkan bakteri penghancur untuk tumbuh dan berkembangbiak . Timbunan bahan kompos yang kandungan nitrogennya terlalu sedikit (rendah) tidak menghasilkan panas sehingga pembusukan bahan-bahan menjadi amat lambat. Oleh karenanya, semua bahan-bahan dengan kadar C/N yang tinggi, misalnya kayu, biji-bijian yang keras, dan tanaman menjalar, harus dicampur dengan bahan berair. Pangkasan daun dari kebun dan sampah-sampah lunak dari dapur amat tepat digunakan sebagai bahan pencampur (Murbandono, 2000).

(11)

Dalam proses pengomposan, 2/3 dari karbon digunakan sebagai sumber energi bagi pertumbuhan mikroorganisme, dan 1/3 lainnya digunakan untuk pembentukan sel bakteri. Perbandingan C dan N awal yang baik dalam bahan yang dikomposkan adalah 25-30 (satuan berat kering), sedangkan C/N diakhir proses adalah 12-15. Pada rasio yang lebih rendah, ammonia akan menghasilkan dan aktivitas biologi akan terlambat, sedang pada rasio yang lebih tinggi, nitrogen akan menjadi variabel pembatas. Harga C/N tanah adalah <20, sehingga bahan-bahan yang mempunyai harga C/N mendekati C/N tanah, dapat langsung digunakan (Damanhuri dan Padmi, 2007).

2. Ukuran bahan

Semakin kecil ukuran bahan, proses pengmposan akan lebih cepat dan lebih baik karena mikroorganisme lebih mudah beraktivitas pada bahan yang lembut daripada bahan dengan ukuran yang lebih besar. Ukuran bahan yang dianjurkan pada pengomposan aerobik antara 1-,5 cm. sedangkan pada pengomposan anaerobik, sangat dianjurkan untuk menghancurkan bahan selumat-lumatnya sehingga meyerupai bubur atau lumpur. Hal ini untuk mempercepat proses penguraian oleh bakteri dan mempermudah pencampuran bahan (Yuwono, 2006).

3. Komposis Bahan

Pengomposan dari beberapa macam bahan akan lebih baik dan lebih cepat. Pengomposan bahan organik dari tanaman akan lebih cepat bila ditambah dengan kotoran hewan.

4. Jumlah Mikroorganisme

Dengan semakin banyaknya jumlah mikroorganisme maka proses pengomposan diharapkan akan semakin cepat.

5. Kelembaban

(12)

6. Suhu

Faktor suhu sangat berpengaruh terhadap proses pengomposan karena berhubungan dengan jenis mikroorganisme yang terlibat. Suhu optimum bagi pengomposan adalah 40-60°C. Bila suhu terlalu tinggi mikroorganisme akan mati. Bila suhu relative rendah mikroorganisme belum dapat bekerja atau dalam keadaan dorman.

7. Keasaman (pH)

Keasaman atau pH dalam tumpukan kompos juga mempengaruhi aktivitas mikroorganisme. Kisaran pH yang baik sekitar 6,5-7,5 (netral). Oleh karena itu, dalam proses pengomposan sering diberi tambahan kapur atau abu dapur untuk menaikkan pH (Indriani, 2000).

Derajat keasaman pada awal proses pengomposan akan mengalami penurunan karena sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan karena sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan mengubah bahan organik menjadi asam organik. Pada proses selanjutnya, mikroorganisme dari jenis lain akan mengkonversikan asam organik yang telah terbentuk sehingga bahan memiliki derajat keasaman yang tinggi dan mendekati normal (Djuarnani dkk, 2005).

Kondisi asam pada proses pengomposan biasanya diatas dengan pemberian kapur. Namun dengan pemantauan suhu bahan kompos secara tepat waktu dan benar sudah dapat mempertahankan kondisi pH tetap pada titik netral tanpa pemberian kapur (Yuwono, 2006).

2.9. Perbandingan C/N

Rasio C/N adalah perbandingan kadar karbon (C) dan kadar nitrogen (N) dalam satuan bahan. Semua makhluk hidup terbuat dari sejumlah besar bahan karbon (C) serta Nitrogen (N) dalam jumlah kecil (Yuwono, 2005).

(13)

2.10. pH

Kisaran pH kompos yang optimal adalah 6-8. Derajat keasaman bahan pada permulaan pengomposan pada umumnya asam sampai metral ( pH 6-7). Derajat keasaman pada awal proses pengomposan akan mengalami penurunan karena sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan mengubah bahan organik menjadi asam organik. Pada proses selanjutnya, mikroorganisme dari jenis lain akan mengkonversi asam organik yang telah terbentuk sehingga derajat keasaman yang tinggi dan mendekati neral (Djanuardi dkk, 2005).

2.11. Rendemen

Rendeman adalah perbandingan berat kering terhadap berat basah dan dinyatakan dalam persen. Menurut Taib dkk (1989) rendeman dapat ditentukan dengan cara bahan ditimbang sebelum diolah yang dinyatakan sebagai berat basah kemudian seelah selesai diolah bahan ditimbang kembali dan dinyatakan sebagai berat kering. Kemudian rendemen dihitung dengan rmus:

Rendemen =

(14)

BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

2.1. Bahan dan Alat 2.1.1. Bahan-bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sampah sayur, sampah buah, air sumur, tapai, gula pasir, gula merah, air bekas cucian beras (cucian pertama).

2.1.2. Alat-alat

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah ember ukuran 25 liter sebanyak 3 buah, karung beras ukuran 20 kg, botol air mineral 1,5 liter, panci, kompor, gelas ukur 10 ml, kertas indikator pHdan timbangan.

2.2. Variasi Percobaan Variasi dosis MOL:

D1 = 10 ml

D2 = 20 ml

D3 = 30 ml

Variasi lama penyimpanan yaitu 21 hari

Variasi lama mengamati tinggi tanaman yaitu 10 hari 2.3. Prosedur Percobaan

2.3.1. Prosedur Pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL):

Mikroorganisme Lokal (MOL) dari tapai dibuat dengan mencampurkan tapai yang terbuat dari singkong sebanyak 100 gram dengan 1,125 liter air sumur serta 150 gram gula pasir. Campuran tersebut dimasukkan dalam botol,kemudian diaduk hingga merata dan disimpan selama 5 hari tanpa ditutup. Setelah 5 hari, jika dicium telah berbau wangi alkohol, maka MOL telah bisa dipakai.

2.3.2. Prosedur Pembuatan Cairan Molase

(15)

gula merah dimasukkan ke dalam panci sebanyak 500 gram, diaduk hingga terlarut merata, kemudian didinginkan.

2.3.3. Proses Pengomposan

(16)

2.3.4. Diagram Alir Pembuatan Pupuk Kompos Cair

Proses pembuatan pupuk kompos cair dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 3.1. Diagram Alir Pembuatan Pupuk Kompos Cair dari Sampah Sayuran dengan Menggunakan Mikroorganisme Lokal (MOL) sebagai

Bioaktivator Persiapan Bahan dan Alat

Pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) + Pembuatan Molase

Sampah dirajang dengan ukuran 1-3 cm

Sampah dimasukkan ke dalam karung dan diikat

Karung yang berisi sampah sayuran dimasukkan ke dalam ember lalu

ditutup rapat-rapat

Fermentasi selama 21 hari

Pengambilan sampel

Analisis pH akhir dan rendemen

Larutan media dengan mencampurkan MOL (dosis 10, 20 dan 30 ml), air sumur, cairan molase,

(17)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan

Berdasarkan hasil percobaan pembuatan pupuk cair dari sampah sayuran dan buah dengan bantuan Mikroorganisme Lokal (MOL) dari tapai selama 21 hari dapat dilihat ada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2.

Table 4.1 Hasil Percobaan Pembuatan Pupuk Cair

Dosis pH

Tabel 4.2 Mengukur Tinggi Batang Jagung

Dosis

(18)

sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan mengubah bahan organik menjadi asam organik. Pada proses selanjutnya, mikroorganisme dari jenis yang lain akan mengkonversikan asam organik yang telah terbentuk sehingga bahan memiliki derajat keasaman yang tinggi dan mendekati netral. 4.2.2. Rendemen

Gambar 4.1 Kurva hubungan antara dosis MOL dan rendemen

Dari Gambar 4.1 diatas dapat diketahui bahwa semakin banyak dosis MOL yang diberikan pada poses prngomposan maka rendemen kompos yang dihasilkan semakin besar. Menurut Sutanto (2002) pengomposan diartikan sebagai proses biologi oleh kegiatan mikroorganisme dalam mengurai bahan organik. Bahan yang dibentuk mempunyai volume yang lebih rendah dari pada bahan dasarnya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Indriani (2004) bahwa lama pengomposan akan meningkatkan aktivitas mikroba untuk menyerap air dan oksigen dari udara kemudian menggunakannya untuk mengubah karbohidrat, lemak dan lilin menjadi air dan CO2 sehingga kadar air kompos menjadi tinggi

karena kadar air kompos tinggi maka rendemen kompos akan semakin tinggi. 4.2.3. Penggunaan Pupuk Kompos cair Pada Tanaman

Pupuk yang telah terbentuk dengan melewati tahapan proses pengomposan yang sesuai dengan prosedur percobaan praktikum, selanjutnya digunakan untuk

(19)

pertumbuhan tanaman (tanaman yang digunakan adalah biji jagung). Dosis MOL dengan variasi 10, 20 dan 30 ml, diberikan masing-masing kepada tanah (dalam polybag) yang telah diberikan biji jagung sebelumnya (sebanyak 2 biji). Pemberian dosis MOL bertujuan untuk melihat perbedaan kesuburan dari tanah, yang dapat dilihat dengan mengukur perbedaan tinggi dari setiap tanaman (jagung) yang tumbuh pada pot dengan perbedaan variasi dosis MOL. Berikut adalah perbedaan tinggi jagung dengan variasi dosis MOL yang disajikan pada Gambar 4.2

Gambar 4.2 Kurva hubungan antara waktu dan tinggi tanaman berbagai dosis MOL

Dari Gambar 4.2 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu yang yang diberikan maka pertumbuhan tanaman jagung juga semakin tinggi. Pada hari ke-3 pertumbuhan batang jagung tanpa diberi pupuk, dosis MOL 10, 20, dan 30 ml berturut-turut adalah 6,0; 7,2; 8,7dan 10,4 cm. Pada hari ke-5 pertumbuhan batang jagung tanpa diberi pupuk, dosis MOL 10, 20, dan 30 ml berturut-turut adalah 12,9; 17,6; 22,6; dan 24 cm. Pada hari ke-8 pertumbuhan batang jagung tanpa diberi pupuk, dosis MOL 10, 20, dan 30 ml berturut-turut adalah 15,7; 20,8; 24,8; dan 25,7 cm. Pada hari ke-10 pertumbuhan batang jagung tanpa diberi pupuk, dosis MOL 10, 20, dan 30 ml berturut-turut adalah 23,4; 23,4; 26,3; dan 27,6 cm.

Dari Gambar 4.2 dapat dilihat tanaman jagung yang diberi pupuk dengan variasi dosis MOL memiliki perkembangan yang lebih pesat dibandingkan

(20)

tanaman yang tidak diberi pupuk. Pertumbuhan tanaman jagung ini disebabkan oleh kandungan yang ada didalam pupuk cair yang diberikan terhadap tanah. Salah satunya yaitu air cucian beras (air tajin) yang memiliki kandungan protein, mineral maupun vitamin. Selain itu air cucian beras juga mengandung karbohidrat yang tinggi, karbohidrat inilah yang menjadi perantara terbentuknya hormon auksin dan giberelin yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman. Sehingga air cucian beras dapat dimanfaatkan sebagai penyubur tanaman.

Auksin bermanfaat untuk merangsang pertumbuhan pucuk dan kemunculan tunas baru sedangkan giberelin berguna untuk merangsang pertumbuhan akar. Air cucian beras banyak mengandung vitamin B1 yang berasal dari kulit ari beras yang ikut hanyut dalam proses pencuciannya, dimana vitamin B1 merupakan unsur horman (fitohormon) dan hormon tersebut dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman. Maka dari itu, vitamin B1 ini berguna dalam mobilisasi karbohidrat sehingga bagus untuk tanaman yang baru replanting (Chamsyah dan Adesca, 2011). Formulasi air cucian beras merupakan media alternatif pembawa bakteri Pseudomonas fluorescens yang mampu mengklon dan beradaptasi dengan baik pada akar tanaman serta mampu untuk mensintesis metabolit yang mampu menghambat pertumbuhan dan aktivitas patogen atau memicu ketahanan sistemik dari tanaman terhadap penyakit tanaman (Rezafauzi, 2011). Tidak hanya itu MOL yang digunakan juga mempunyai tiga penyusun utama yaitu karbohidrat (air tajin/air cucian beras), glukosa (gula merah) dan sumber bakteri (buah-buahan).

(21)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat dari percobaan pengukuran temperatur adalah sebagai berikut :

1. Pemberian dosis MOL berpengaruh sangat nyata terhadap nilai rendemen. 2. Pemberian dosis MOL sebanyak 10 ml diperoleh pH sebesar 5 dan rendemen

sebesar 64,05%. Dengan pemberian dosis MOL sebesar 20 ml diperoleh pH 5 dan rendemen sebesar 65,43%. Dengan pemberian dosis MOL sebanyak 30 ml diperoleh perbandingan pH sebesar 5 dan rendemen 68,13%.

3. Pada hari ke-3 pertumbuhan batang jagung tanpa diberi pupuk, dosis MOL 10, 20, dan 30 ml berturut-turut adalah 6,0; 7,2; 8,7dan 10,4 cm. Pada hari ke-5 pertumbuhan batang jagung tanpa diberi pupuk, dosis MOL 10, 20, dan 30 ml berturut-turut adalah 12,9; 17,6; 22,6; dan 24 cm. Pada hari ke-7 pertumbuhan batang jagung tanpa diberi pupuk, dosis MOL 10, 20, dan 30 ml berturut-turut adalah 15,7; 20,8; 24,8; dan 25,7 cm. Pada hari ke-10 pertumbuhan batang jagung tanpa diberi pupuk, dosis MOL 10, 20, dan 30 ml berturut-turut adalah 23,4; 23,4; 26,3; dan 27,6 cm.

5.2 Saran

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Amurwaharja, I. P., 2006. Analisis Teknologi Pengolahan Sampah Dengan Proses Hirarki Analitik dan Metode Valuasi Kontingensi Studi Kasus di Jakarta Timur, Makalah Falsafah Sains, Bogor: Institut Pertanian Bogor, Ilmu Pengolahan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Program Pascasarjana.

Chamsyah, M.N, dan Adesca, Y. 2011. Buanglah Air Cucian Berasmu dengan Baik dan Benar. http://environment.uii.ac.id. Akses 17 Oktober 2016.

Damanhuri, E., dan Tri Padmi, 2007. Pengomposan-Composting. http://tsabitah.wordpress.com. Akses: 19 Oktober 2016

Djuarnani, N., Kristian, B. S., Setiawan, 2005. Cara Tepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Hadisuwito, S., 2007. Membuat Pupuk Kompos Cair. PT. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Ikrima, Sayyida. 2014. Kesuburan, Pemupukan, dan Kesehatan Tanah. http://academia.edu. Akses 19 Oktober 2016.

Indriani, Y. H., 2004. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya, Jakarta.

Litauditomo, 2007. Mengolah Sampah Rumah Tangga.

http://www.lintauditomo.muliply.com/. Akses: 21 Oktober 2016

Marsono dan Paulus., 2011. Pupuk Akar Jenis dan Aplikasi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Murbandono, L. H. S., 2000. Membuat Kompos. Penebar Swadaya, Jakarta.

Murbondo, L., 2004. Pupuk Organik Padat, Pembuatan Aplikasi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Purwendro. S., dan Nurhidayat. 2006. Mengolah Sampah untuk Pupuk dan Pestisida Organik. Seri Agritekno. Penebar Swadaya, Jakarta.

Simamora, S., Salundik, Sriwahyuni dan Surajin. 2005. Membuat Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak dan Gas dari Kotoran Ternak. Agromedia Pustaka, Bogor.

Sutanto, 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius, Yogyakarta.

(23)

LAMPIRAN A PERHITUNGAN

Data Perhitungan Rendemen : Berat ember kosong + karung

 Ember 1 = 590 gr

 Ember 2 = 550 gr

 Ember 3 = 660 gr Berat ember + karung + bahan awal

 Dosis MOL 15 ml = 8100 gr Berat ember + karung + kompos cair + ampas

 Dosis MOL 15 ml = 8100 gr Maka berat kompos cair :

 Dosis MOL 15 ml = 4810 gr

 Dosis MOL 25 ml = 4920 gr

(24)

1. Kompos Cair dengan MOL 15 ml

( )

2. Kompos Cair dengan MOL 25 ml

( )

3. Kompos Cair dengan MOL 35 ml

( )

(25)

LAMPIRAN B

LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum : Pembuatan Pupuk Cairan dari Sampah Sayuran dan Buah-buahan

Hari/Tanggal Praktikum : Kamis/ 06 Oktober 2016 Pembimbing : Elvie Yenie, ST., M.Eng Asisten Laboratorium : Dewi Lestika S.

Kelompok : VI (Enam)

Hasil percobaan disajikan pada Tabel B.1

Tabel B.1 Data Hasil Percobaan

Dosis pH Awal pH Akhir Rendemen Warna Bau

(26)

Dosis Berat ember kosong + karung

 Ember 1 = 590 gr

 Ember 2 = 550 gr

 Ember 3 = 660 gr Berat ember + karung + bahan awal

 Dosis MOL 15 ml = 8100 gr Berat ember + karung + kompos cair + ampas

 Dosis MOL 15 ml = 8100 gr Maka berat kompos cair :

 Dosis MOL 15 ml = 4810 gr

 Dosis MOL 25 ml = 4920 gr

(27)

1. Kompos Cair dengan MOL 15 ml

( )

2. Kompos Cair dengan MOL 25 ml

( )

3. Kompos Cair dengan MOL 35 ml

( )

Pekanbaru, 07 Oktober 2016

Asisten Laboratorium,

(28)

LAMPIRAN C DOKUMENTASI

C.1. Alat dan Bahan

Gambar 1. Ember, karung, tali, pisau, plastic

(sumber: arsip pribadi)

Gambar 2. Sampah sayuran dan buahan

(sumber: arsip pribadi)

Gambar 3. Panci dan gula merah

(29)

Gambar 5. Gelas ukur 2 L, Ceret, Air

(sumber: arsip pribadi)

Gambar 6. Air tajin

(sumber: arsip pribadi)

Gambar 7. Gelas kimia 500 ml

(30)

C.2. Proses Pembuatan Pupuk Cair

Gambar 8. Proses perajangan sampah sayur dan buah (sumber: arsip pribadi)

Gambar 9. Proses pemasukan sampah sayur dan buah ke dalam karung

(31)

Gambar 10. Proses Pembuatan Cairan Molase

(sumber: arsip pribadi)

Gambar 11. Proses Pemberian Air untuk Larutan Media

(32)

Gambar 12. Proses pemberian air bekas cucian beras

(sumber: arsip pribadi)

Gambar 13. Proses pemberian cairan molase

(33)

Gambar 14. Proses Pemberian larutan MOL

(sumber: arsip pribadi)

Gambar 15. Proses Penutupan ember untuk difermentasi

(34)

Gambar 16. Hasil akhir fermentasi selama 21 hari

(sumber: arsip pribadi)

Gambar 17. Tinggi jagung pada hari ke-10

Gambar

Table 1. Kandungan C/N dari berbagai sumber bahan organic
Gambar 3.1. Diagram Alir Pembuatan Pupuk Kompos Cair dari Sampah
Table 4.1 Hasil Percobaan Pembuatan Pupuk Cair
Gambar 4.1 Kurva hubungan antara dosis MOL dan rendemen
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pupuk organik cair adalah larutan dari pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih

Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses

Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia.[1] Pupuk organik dapat berbentuk padat atau

Menjelaskan kebutuhan makhluk hidup ( manusia, hewan , Tumbuhan dengan benar )..

Menurut peraturan perundang-undangan Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik

Kompos merupakan istilah untuk pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa buangan makhluk hidup (tanaman maupun hewan) yang berperan

Jenis Pupuk Organik Padat Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa tumbuhan, tumbuhan mati, kotoran hewan, bagian hewan, dan limbah organik lainnya yang telah melalui proses

Makhluk Hidup KP 1 Ciri-ciri Makhluk Hidup Gerak pada Tumbuhan Bimbingan Minggu ketiga KP 2 Simbiosis Mandiri KP 3 Pertumbuhan, Perkembangan dan Perkembangbiakan Makhluk hidup: