• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari Lada ke Karet Perubahan Sosial dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dari Lada ke Karet Perubahan Sosial dan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Dari Lada ke Karet:

Perubahan Sosial dan Ekonomi Aceh Timur Tahun 1907-1942

Oleh

Ika Ningtyas Unggraini

Mahasiswa Magister Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret, Surakarta [email protected]

Abstrak

Aceh Timur mengalami banyak perubahan di awal abad ke-20. Liberalisasi ekonomi yang diterapkan Pemerintah Hindia Belanda, membuka investasi Barat terutama di sektor perkebunan karet. Kesulitan mendapatkan tenaga kerja lokal, akhirnya membuat perusahaan perkebunan mendatangkan ribuan buruh dari luarAceh, utamanya dari Pulau Jawa. Harga karet yang cukup prospek di pasar internasional memicu perubahan dari penamanan lada ke karet oleh rakyat. Perubahan sosial dan ekonomi pun terjadi pada masyarakat Aceh Timur, yang akhirnya membentuk masyarakat multikultural Aceh Timur dewasa ini.

Pendahuluan

Aceh adalah kawasan paling akhir di Nusantara yang ditaklukan kolonial Belanda sebagai perluasan pax-Neerlandica. Penaklukan tersebut membutuhkan proses yang paling melelahkan, menelan banyak korban dan biaya karena mendapatkan perlawanan sengit dari rakyat dalam Perang Aceh (1873-1904). Setelah menguasai hampir semua distrik, Pemerintah Hindia-Belanda memberlakukan investasi asing seluas-luasnya di Aceh berupa pembukaan-perkebunan-perkebunan besar. Pelaksanaan liberalisasi ekonomi itu tidak jauh berbeda seperti yang telah dimulai di Jawa pada 1870 dan diperluas ke luar Jawa terutama Sumatera dan Kalimantan pada akhir abad ke-19.

(2)

perkebunan dimulai dengan melalui pembukaan penanaman modal dan teknologi dari luar, dan memanfaatkan tanah dan tenaga kerja yang tersedia di daerah jajahan1.

Pembukaan perkebunan-perkebunan besar itu dimungkinkan oleh Undang-undang Agraria (Agrarissche Wet) yang dikeluarkan pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1870. Pada satu pihak undang-undang ini melindungi hak milik petani-petani pribumi atas tanah mereka. Di lain pihak, UU Agraria membuka peluang bagi orang asing, orang-orang bukan pribumi, untuk menyewa tanah. Selain UU Agraria, Pemerintah Hindia Belanda juga mengeluarkan peraturan-peraturan mengenai perburuhan-perburuhan yang menegaskan kondisi pekerjaan yang layak bagi orang-orang Indonesia, misalnya mengenai tingkat upah minimal yang harus dibayar kepada buruh-buruh Indonesia2. Meskipun dalam kenyataannya

peraturan-peraturan itu tidak dilaksanakan sehingga merugikan kaum buruh.

Aceh Timur saat ini secara administratif berada di Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Timur, yang memiliki 24 kecamatan dan 513 gampong atau desa. Saat era Pemerintahan Hindia Belanda daerah ini disebut Afdeeling Oostkust van Atjeh dengan luas wilayah 12 ribu km persegi3 yang membentang mulai Langsa hingga Tamiang. Langsa pada awalnya

merupakan ibukota Kabupaten Aceh Timur. Namun pada tahun 2000 dan 2001, Langsa dan Tamiang memekarkan diri menjadi Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Tamiang.

Letak geografis di Selat Malaka, membuat Aceh Timur telah memainkan peran pentingnya dalam sejarah. Kawasan ini menjadi pintu masuk ke Nusantara sekaligus sebagai pusat perdagangan dunia pada abad ke-12 dengan lada4 sebagai komoditas utamanya.

1 Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo, 1991, Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial-Ekonomi, Yogyakarta: Aditya Media, halaman 7.

2 Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia, 2010, Sejarah Nasional Indonesia: Kemunculan Penjajahan di Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, halaman 371-372.

3 Muhammad Gade Ismail, 1989, The Economic Position of the Uleebalang in the Late Colonial State Aceh (East Aceh, 1900-1942), makalah untuk konferensi di Netherlands Institute For Andvanced Study Wassenaar, Netherlands, 12-14 Juni 1989, halaman 2-3.

(3)

Sementara di awal abad ke-20, Aceh Timur menjadi wilayah pertama di Aceh yang diinfiltrasi oleh investasi privat Barat dalam pengeboran minyak, perkebunan karet dan kelapa sawit5.

Mengapa Aceh timur dipilih sebagai daerah pertama untuk investasi asing? Menurut Gade Ismail, karena wilayah ini relatif lebih aman, kedua daerahnya lebih cepat ditundukkan, dan ketiga populasi yang hidup lebih mix, bukan penduduk Aceh asli.6 Penduduk Aceh Timur

berasal dari daerah lainnya di wilayah Aceh lain yakni Pasai, Pidie dan Aceh Besar yang bermigrasi pada abad ke-19. Saat itu mereka bermigrasi ke Aceh Timur yang untuk kepentingan ekonomi, yakni menanam lada. Tingginya permintaan lada di pasar dunia, mengakibatkan penduduk Aceh harus mencari daerah baru untuk menanam lada.7 Pada 1873,

diperkirakan populasi penduduk Aceh Timur yang menanam lada sekitar 100 ribu jiwa dengan produksi lada sekitar 100 ribu pikul. Daerah yang menjadi sentra lada di Aceh timur yakni Simpang Ulim, Idi Rayeuk, Julok Rayeuk, Peureulak dan Langsa.

Alasan penting lainnya pemilihan Aceh Timur adalah karena ada kepentingan untuk ekspansi investasi asing dari Deli, Sumatra Timur yang berkembang lebih dulu sejak 1862. Sejak Sultan Deli membuka kesempatan selapang-lapangnya kepada investor asing, Belanda semakin terdorong untuk cepat-cepat meneliti wilayah Aceh di bagian timur yang berbatasan langsung dengan Deli.8 Saat itu kawasan Sumatra Timur telah banyak dibuka untuk

perkebunan tembakau, karet9 dan kelapa sawit10.

5 Muhammad Gade Ismail, 1989, op.cit halaman 1.

6 Ibid halaman 5.

7 Mawardi, 2005, Menyadap Getah untuk Orderneming: Dinamika Sosial Ekonomi Buruh Perkebunan Karet di Aceh Timur 1907-1939, Tesis Program Studi Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, halaman 49.

8 Mohammad Said, 1985, Aceh Sepanjang Abad, Jilid Kedua, PT Harian Waspada Medan, halaman 231. 9 Pohon karet yang asli, focus elastica, diusahakan menjadi tanaman perkebunan di Jawa Barat dan pesisir timur Sumatera mulai tahun 1864. Akan tetapi percobaan pertama yang dilakukan pemerintah dengan pohon karet impor, hevea brasiliensis pada tahun 1900 yang telah membuka jalan menuju keberhasilan. Mulai sekitar tahun 1906 hevea berkembang pesat, terutama di sumatera. Tanaman karet yang ditanam pertama disadap pada usia lima tahun dan mulai diekspor 1912. Pada tahun 1930, 44 persen dari luas tanah yang disediakan bagi tanaman2 perkebunan yang utama di Indonesia ditanami karet. M.C Ricklefs, 2008, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta halaman 331 .

(4)

Pemerintah Hindia-Belanda sebenarnya telah membuka Aceh Timur kepada investor barat pada 1898. Mulai investasi tembakau di Tamiang dan tambang minyak bumi11 (De koninklijke Nederlandisch Indie) yang memperoleh konsesi di Simpang Kanan dan Simpang Kiri. Namun kedua investasi itu gagal dan ditutup pada 1901. Kegagalan ini sempat membuat citra Aceh Timur terpuruk sampai akhirnya investasi kembali mengalir pada 190712. Investasi

pertama berupa pembukaan perkebunan karet pada 1907 dan kelapa sawit pada 1912. Seluruh investasi itu dimiliki oleh pemodal asing utamanya dari Barat.

Perkebunan asing di Aceh Timur akhirnya berkembang cepat dalam tempo yang singkat. Hingga tahun 1923, setidaknya sudah ada 20 buah jumlah pekebunan; 12 diantaranya adalah kebun karet, 7 kebun kelapa sawit dan 1 kebun kelapa13. Pembukaan perkebunan karet

di Aceh Timur ini merupakan perluasan dari investasi asing di Sumatra Timur. Di daerah pengusahaan tanaman karet terjadi pada 1906. Pihak yang mempromosikan dan mengorganisir perkembangan tersebut berasal dari berbagai negara barat seperti Inggris, Perancis, Belgia, Belanda dan Amerika Serikat. Mereka saling bekerjasama baik dalam penyediaan modal atau dalam mengelola perusahaan. Awalnya, perkebunan karet disumbang bangsa Inggris Arthur Lampard, yang punya pengalaman karet di Malaya, mengunjungi Sumatra atas nama perusahaan Harrison dan Crossfield pada 1906. Bersama dengan seorang temannya dari Swiss bernama Victor Ris, Lamprad memulai usahanya di Sumatra.pada 190914.

Beragamnya kegiatan bisnis telah membawa banyak perubahan di Aceh bagian timur. Apabila pada abad 19, kehidupan ekonomi di daerah ini didominasi oleh perkebunan lada, tetapi awal abad 20 berubah menjadi daerah investasi barat yang menghasilkan komoditas ekspor seperti karet, minyak sawit dan minyak15. Tingginya harga karet di pasar dunia pada

11 Pemboran pertama dimulai di daerah Perureulak pada tahun 1900 kemudian tahun 1902 dan 1903 masing-masing di daerah Langsa, Peudada, Idi, Julok Rajeuk dan Cunda. selanjutnya di daerah2 itu muncul beberapa maskapai perminyakan seperti Holland-Perlak Maatschappij, Bataafsche Petroleum Maatschappij, Perlak Petroleum Maatschappij, dan zuid-Perlak Petroleum Maatschappij.

12 M Gade Ismail, 1991, Seuneubok Lada, Uleebalang dan Kumpeni: Perkembangan Sosial Ekonomi di Daerah Batas Aceh Timur 1840-1942, dalam Mawardi, 2005, Menyadap Getah untuk Onderneming: Dinamika Sosial Ekonomi Buruh Perkebunan Karet di aceh Timur, 1907-1939, Tesis Program Studi Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, halaman 71.

13 Munawiyah, 2002, Birokrasi kolonial di Aceh 1903-1942, tesis, program pascasarjana prodi sejarah jurusan imu-ilmu humaniora UGM, halaman 187.

14 Soegijanto Padmo, Bunga Rampai Sejarah Sosial-Ekonomi Indonesia, 2004, Yogyakarta: Aditya Media bekerjasama dengan Fak Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada halaman 108.

(5)

awal abad ke-20, membuat penduduk Aceh akhirnya ikut menanam karet. Maka, perkebunan karet rakyat pun ikut bersaing dengan perkebunan asing swasta hingga Pemerintah Hindia-Belanda kemudian membatasi produksi karet rakyat. Menurut M.C Ricklef, penanaman karet berhubungan erat dengan berkembangnya industri mobil di Eropa16.

Pengembangan perkebunan besar di pantai timur Sumatera memiliki ciri yang berbeda dengan perkembangan pabrik gula di Pulau Jawa. Apabila di Pulau Jawa pemilik pabrik gula dengan mudah memperoleh tenaga kerja untuk bekerja di pabrik gula, tidak demikian halnya dengan pemilik perkebunan besar di pantai timur Sumatera. Penduduk asli pantai timur Sumatra tidak tertarik untuk bekerja di perkebunan-perkebunan yang ada di daerah mereka. Akibatnya pemilik perkebunan harus mendatangkan buruh-buruh mereka dari Pulau Jawa17.

Dari Sumatera Timur buruh-buruh Jawa pada akhirnya ditarik untuk dipekerjakan juga ke perkebunan Aceh Timur. Selain buruh Jawa, maskapai perkebunan juga mempekerjakan buruh Cina dan Keling.

Praktek liberalisasi ekonomi dengan mendatangkan investasi asing itu akhirnya menimbulkan apa yang disebut dualisme ekonomi. Yakni kesenjangan yang begitu besar antara pemilik perkebunan dengan pekerjanya. Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo menjelaskan dualisme ekonomi itu karena secara struktural di perkebunan terdapat dua lapisan sosial yaitu lapisan asing dan pribumi. Golongan pertama menempati jabatan teras dengan pendapatan tinggi, seperti jabatan pimpinan, staf pengelola, administrator, dan tenaga spesialis. Golongan kedua, menempati kedudukan sebagai pekerja kasar atau buruh dengan upah rendah halaman18.

Selain dua lapisan sosial, diskriminasi ras atau etnis juga menjadi ciri lain sistem kolonial. Perspektif kolonial superioritas-inferioritas mendasari prinsip diskriminasi. Sistem kolonial menghendaki diskriminasi rasial sebagai dasar pembentukan struktur dan pola hubungan sosial dalam masyarakat kolonial yang secara hierarkis menempatkan golongan bangsa yang memerintah di puncak teratas dari struktur masyarakat tanah jajahan. Dalam struktur masyarakat kolonial diskriminasi mendasari sistem pergaulan dalam berbagai

16 M.C Ricklefs, 2008, halaman 331.

17 Loekman Soetrisno dan Retno Winahyu, 1991,Kelapa Sawit: Kajian Sosial-Ekonomi, Yogyakarta: Aditya Media, halaman 17

(6)

dimensi kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik maupun kebudayaan. Diskriminasi menjadi inti hubungan sosial dan menjadi faktor penguat dalam hubungan kolonial antara golongan yang memerintah dan yang diperintah19

Dalam mengamati msyarakat perkebunan pada umumnya, tidak luput dari kesan bahwa masyarakat itu bersifat tertutup dan otonom. Baik lokasinya maupun kondisi kehidupannya tidak banyak mendorong komunikasi dan interaksi dengan bagian lain daerah atau kota-kota lainnya. Yang ada lazimnya dilakukan lewat perantara-perantara. Masyarakat perkebunan merupakan miniatur masyarakat kolonial pada umumnya, serta menunjukkan karakteristik yang sama antara lain (1) pluralitik (2) tersegmentasi menurut golongan etnik (3) rasialistik (4) dualistik (5) dominasi sosial, ekonomi, dan politik kaum kolonial20.

Oleh karena itu, interaksi buruh perkebunan dengan masyarakat di luarnya menjadi terbatas dan terisolasi. Adanya interaksi baru intens terjadi ketika buruh sudah tidak bekerja lagi di perkebunan, bisa karena diberhentikan maupun masa kontrak yang telah habis. Sebagian besar buruh Jawa tidak kembali ke kampung asalnya karena upah kecil, yang tidak cukup untuk ongkos pulang. Maka pilihannya, buruh-buruh tersebut menetap di Aceh Timur dan terserap dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya. Dari berbagai kondisi inilah membawa perubahan ke masyarakat Aceh Timur baik dalam ruang sosial dan ekonomi serta menjadi awal kondisi Aceh dewasa ini.

Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut, tulisan ini menjawab tiga hal:

1) Bagaimana perkembangan perkebunan karet di Aceh Timur tahun 1907-1942?

2) Bagaimana perubahan ekonomi penduduk Aceh Timur setelah dibukanya perkebunan karet pada tahun 1907-1942?

3) Bagaimana perubahan sosial di Aceh Timur setelah dibukanya perkebunan karet pada tahun 1907-1942?

Perkembangan Perkebunan Karet

Pemerintah Hindia Belanda membagi Aceh Timur menjadi lima wilayah onderafdeeling, yakni Onderafdeeling Idi, Onderafdeeling Langsa, Onderafdeeling Tamiang,

(7)

Onderafdeeling Serbajadi dan Onderafdeeling Gayo Lues21. Investasi asing perkebunan

dipusatkan di Onderafdeeling Langsa, Onderafdeeling Tamiang. Untuk menarik investor Barat, Pemerintah Hindia Belanda melengkapinya dengan fasilitas infrastruktur yakni pembangunan pelabuhan, jalan, dan jaringan kereta api. Dua pelabuhan yang dibangun yaitu Pelabuhan Idi dan Pelabuhan Langsa. Sedangkan jaringan kereta api terhubung ke Idi tahun 1898 dan berikutnya pada 1903 terhubung ke Langsa hingga ke Deli, Sumatera Timur.

Pemerintah Hindia-Belanda mulai membuka perkebunan karet di Langsa seluas 5 ribu ha pada 1907. Perkebunan ini awalnya dikelola oleh Gouvernements Caoutshoucon derneming, sebuah perusahaan milik Pemerintah Hindia Belanda. Tujuannya tidak lain, untuk mengembalikan kepercayaan investor asing ke Aceh Timur, yang sebelumnya gagal mengembangkan tembakau dan minyak bumi. Perkebunan karet swasta barat pertama kali dirintis oleh warga Belanda bernama A. Hallet di Sungai Liput, Tamiang dengan perusahaannya Societe Financiere de Caoutchouc pada 1908. Kemudian setahun berikutnya, De Arendsburg, warga Belanda memperoleh konsensi di Kuala Simpang, Tamiang, dengan nama perusahaan Tamiang Rubber Estate seluas 4.752 hektare. Ada juga perusahaan Rubber Maatschaapij yang memperoleh 5 konsesi sekaligus seluas 14.184 ha22.

Sampai tahun 1912, Aceh Timur punya 18 konsesi karet, 1921 ada 21 perusahaan dengan total 31 perkebunan seluas 66.803 ha, penanaman 14.086 ha dengan total produksi 1.372.187 kg getah karet. Kemudian pada 1929, meningkat lagi ada 30 perkebunan yang dimiliki maskapai Belanda, Inggris, Belgia, dan Jepang23. Secara keseluruhan sebanyak 105

ribu ha tanah diberikan untuk perkebunan swasta. Di Langsa ada 28 konsesi perkebunan seluas 56 ribu ha, Tamiang berisi 20 konsensi seluas 47 ribu ha. Hanya satu konsesi berada di Idi seluas 2 ribu ha. Total investasi f 13,750,000 di Langsa, an f 17,250,000 di Tamiang. Setahun berikutnya, Pemerintah Hindia Belanda menyediakan tanah hingga 111.367 ha24.

Seorang pengusaha perkebunan karet, Arthur Lampard, melalui perusahaannya Harrison dan Crossfield, mendorong dibentuknya badan penanaman modal perkebunan karet atau Rubber Plantation Investment Trust yang mengelola dua perusahaan dan merintis didirikannya

21 J Paulus, Encyclopedia van Nederlandsh-Indie (1917) dalam Mawardi halaman 61-62. 22 J. J Van de Velde, 1987, Surat-Surat dari Sumatra dalam Mawardi halaman 76

23 Ibid halaman 77.

(8)

beberapa perusahaan lain. Pada 1913 kelompok Harision dan Crossfield menguasai sejumlah besar kebun karet di Pulau Sumatera25.

Meningkatnya investasi perkebunan karet di Aceh Timur dipicu oleh harga karet yang cukup tinggi sehingga investor pun berlomba-lomba. Harga karet di bursa London pada tahun-tahun 1909-1912 mencapai rata-rata f. 8 - f. 9 per lembar26. Kenaikan harga karet ini

disebabkan oleh kemajuan teknologi yang pesat di negara-negara industri Eropa-Amerika, terutama industri listrik, otomobil, dan sepeda yang membutuhkan semakin banyak karet. Meningkatnya penggunaan transportasi mobil menyebabkan meningkatnya permintaan terhadap bahan baku karet dan pada gilirannya berpengaruh pada naiknya harga karet dunia secara konstan. Jumlah kepemikian mobil di Amerika Serikat meningkat dari 8 ribu tahun 1900 menjadi 458. 000 tahun 1910 dan mencapai 4 juta dalam tujuh tahun ke depan.27

Dibukanya banyak perkebunan menyebabkan kebutuhan akan tenaga kerja menjadi sangat tinggi. Terlebih lagi penduduk Aceh tidak mau bekerja di perkebunan asing Barat. M Gade Ismail menyebutkan ada beberapa alasan mengapa penduduk Aceh enggan bekerja di perkebunan asing Barat. Pertama, karena penduduk Aceh jarang. Kedua, punya pendapatan dari penanaman lada yang lebih besar daripada menjadi buruh. Ketiga saat harga lada turun, penduduk Aceh masih bisa mengandalkan dari pertanian padi atau nelayan. Keempat, pekerjaan buruh dianggap berat, sehingga mereka lebih memilih menjadi petani atau nelayan yang lebih bebas. Kelima, masih terpengaruh oleh Perang Sabil yang menganggap perkebunan milik Barat adalah haram.28

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, Pemerintah Hindia Belanda akhirnya memakai buruh dari luar daerah, seperti Cina dan Jawa, seperti yang sebelumnya telah dipraktekkan di Sumatera Timur dan Sumatera Utara. Di antara mereka, ada yang langsung didatangkan dari Pulau Jawa, dan ada pula yang didatangkan dari perkebunan karet dan tembakau di daerah Sumatera Utara. Mereka merupakan tenaga buruh yang terikat dengan

25 Soegijanto Padmo halaman 109.

26 Willian J. O'Malley dalam Mawardi halaman 83.

27 Mawardi halaman 162.

(9)

kontrak kerja untuk jangka waktu selama lebih kurang tiga tahun29 sehingga mereka ini

disebut dengan kuli kontrak.

Pemindahan penduduk atau emigrasi tersebut merupakan manifestasi dari kebijakan politik etis30. Pulau Jawa menjadi daerah target perekrutan buruh kontrak karena jumlah

penduduknya yang padat dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Kepadatan tersebut merupakan akibat dari kebijakan pemerintah kolonial yang selama ini menjadikan Jawa sebagai sentral ekonomi sejak awal abad ke-18. Kondisi yang berbeda terjadi di luar Jawa, yang berpenduduk jarang dan belum dieksplotasi. Baru pada awal ke-19, ketika kebutuhan untuk ekspansi meningkat, Pemerintah Hindia Belanda mulai mengalihkan potensi ke luar Jawa, khususnya Sumatera dan Kalimantan. Sehingga perpindahan penduduk sebenarnya hanya cara untuk mendapatkan tenaga kerja dengan upah murah. Menurut Soegijanto Padmo, masyarakat yang dipindahkan ini pada umumnya secara ekonomi adalah kelompok miskin di pedesaan.31

Pencarian buruh-buruh di Pulau Jawa dilakukan oleh agen-agen profesional mulai tahun 1909-1929. Seorang buruh yang akan diberangkatkan ke Sumatera hanya mendapat bekal f. 5 dan ditambah satu baju dan celana. Buruh Jawa mulai didatangkan ke Aceh Timur mulai tahun 1910 berjumlah 858 orang dan pada 1927 jumlah buruh telah mendekati 30 ribu orang. Sampai tahun 1931, jumlah buruh kontrak sebesar 78,84 persen dan 22,16 persen buruh bebas. Dari jenis kelaminnya, buruh kontrak didominasi oleh buruh laki-laki sebesar 74,91 persen dan 25,9 persen buruh perempuan. Sedangkan buruh bebas, terdiri dari 84,87 persen laki-laki dan 15,13 persennya perempuan.

Dari aspek etnis, jumlah rata-rata buruh kontrak Jawa antara tahun 1912-1938 adalah 98,3% dari jumlah buruh; Cina 1,73%; Keling 0,21%; dan etnis pribumi lainnya 1,33 dari jumlah buruh. Buruh bebas juga menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu buruh Jawa 86,85%; Cina 4,82%; Keling 0,63%; dan etnis pribumi lainnya 9,03% dari jumlah buruh.

29 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982, Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Istimewa Aceh, halaman 33.

30 Politik etis merupakan politik balas budi Belanda kepada Nusantara yang dijalankan pada 1900. Tiga kebijakan dalam politik etis yakni pendidikan, irigasi dan perpindahan penduduk. Pada kenyataannya tiga kebijakan itu sebenarnya untuk penyediaan tenaga kerja dan peningkatan produksi.

(10)

Jumlah terbanyak buruh Jawa menetap di onderafdeeling Tamiang sebanyak 33,2 persen, onderafdeeling Langsa 32,3 persen dan sisanya 22,2 persen berada di onderafdeeling Idi32.

Para kuli tersebut dikelompokkan dalam regu-regu yang masing-masing diawasi oleh seorang mandor. Beberapa mandor ada di bawah mandor kepala, sedangkan mereka kesemuanya diawasi oleh para asisten dan opsir tersebut. Regu-regu merupakan unit kerja yang terdiri atas unsur-unsur etnis tertentu. Dalam pada itu tidak ada percampuran antara unsur-unsur etnis. Setiap etnis mengerjakan jenis pekerjaan tertentu seperti golongan Keling untuk melakukan penggalian bangunan, golongan Melayu untuk transpor, Cina untuk kerja kebun seperti juga unsur Jawa. Cina dikenal mempunyai ketahanan untuk kerja keras33.

(halaman 147-148).

Sampai dengan tahun 1919, masih terdapat perbedaan upah buruh kontrak yang bekerja di Aceh berdasarkan suku dan kebangsaan. Akan tetapi setelah tahun 1919 tidak didapati lagi perbedaan tersebut, namun telah terjadi keseragaman dengan mengikuti ketentuan AVROS34 (Algemeene Vereeniging van Rubbersplanter ter Oostkust van Sumatra).

Upah buruh kontrak tertinggi adalah buruh Cina dan buruh Dayak dengan rata-rata 50 sen per hari; diikuti buruh Padang 40 sen, buruh Keling 38,67 sen dan buruh Nias 37 sen per hari; sedangkan upah yang paling rendah adalah buruh Jawa dengan rata-rata buruh laki-laki kontrak pertama 33,4 sen dan perpanjangan kontrak 39 sen per hari, dan buruh perempuan kontrak pertama rata-rata 28,4 sen dan perpanjangan kontrak 32 sen per hari. Upah perpanjang kontrak buruh Cina, Padang, Dayak, Keling dan Nias lebih tinggi 5 sen dari buruh kontrak pertama35.

Kehidupan buruh secara keseluruhan hidup dalam kondisi kesejahteraan yang rendah. Sebab harga kebutuhan pokok yang tinggi, masih ditambah dengan pengeluaran untuk iuran pertunjukan, wayang kulit, berjudi dan bersenang-senang pada hari gajian besar yang diadakan sebulan sekali. Perkembangan tingkat pendapatan buruh juga sangat bergantung

32 M Gade Ismail dalam Mawardi halaman 106-110.

33 Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo, halaman 146-148.

34 Persekutuan perusahaan perkebunan Sumatra Timur, yang dibentuk oleh perusahaan-perusahaan perkebunan. Salah satu yang ditangani adalah persoalan perjanjian kerja dan upah. Buruh secara individu menandatangani perjanjian kerja dengan AVROS, yang diwakili oleh agen-agen mereka di daerah asal para buruh. Kerap terjadi, buruh tidak mengerti dan memahami isi perjanjian itu karena tingkat pendidikan mereka yang rendah.

(11)

dengan kondisi finansial perusahaan. Apabila harga komoditas karet bagus maka upah mereka akan naik, sebaliknya bila harga karet anjlok seperti pada depresi ekonomi 1930, maka kondisi kesejahteraan buruh ikut terpuruk.

Perubahan Ekonomi

Masuknya investasi perkebunan karet asing berpengaruh terhadap ruang ekonomi penduduk Aceh Timur. Mereka yang sebelumnya menanam lada, mulai tertarik untuk menanam karet lalu munculah dengan apa yang disebut kebun karet rakyat. Soegijanto Padmo (2004:110) menjelaskan tentang awal munculnya kebun karet rakyat ini:

“Dengan melihat contoh yang ada di depan mata mereka, petani dan bekas buruh perkebunan di Sumatera segera tertarik untuk mengusahakan kebun karet. Bibit berupa biji mereka peroleh dari perkebunan setempat maupun dari Malaya, dan banyak orang Cina mulai membuka usaha dengan mengusahakan pembibitan karet untuk petani karet. Pada awal pengusahaan karet oleh petani yaitu pada awal abad ke 20, beberapa orang Indonesia pergi ke Malaya dan bekerja di kebun karet untuk beberapa lama guna mengetahui cara pengusaahaan tanaman tersebut serta menderes getahnya”.

Ketertarikan penduduk Aceh untuk menanam karet, berkaitan erat dengan harga karet yang lebih menjanjikan. Menurut Thee Kian Wee (1974) harga karet yang tinggi seperti yang terjadi pada 1911 dan 1926, mendorong petani untuk memperluas kebun mereka yang semula masih dalam skala kecil. Perkebunan karet rakyat yang semula diusahakan oleh kuli perkebunan atau penduduk sekitar perusahaan dalam skala terbatas kemudian berkembang menjadi perkebunan kecil-kecil milik ribuan petani, mempunyai sumbangan penting dalam menciptakan devisa bagi negara36.

Kebiasaan yang dilakukan oleh petani adalah mereka menanam bibit karet di atas lahan setelah tanaman pangan diusahakan di atas tanah tersebut. Tanaman karet itu dibiarkan saja sampai dengan pohon tersebut siap dideres. Seberapa sering dan berapa luas kebun di deres tergantung pada harga karet di pasaran. Dengan demikian, dari segi kepentingan petani, pengusahaan tanaman karet merupakan kegiatan sambilan dari kegiatan mereka yang utama yakni mengusajakan tanaman pangan berupa padi dan polowijo, tetapi kebun karet telah memberikan tambahan pendapatan baru yang sangat berarti. Karena pohon karet di Indonesia, pada umumnya masih relatif muda, Indonesia belum menjadi pengekspor karet

(12)

yang penting sampai dengan perang dunia 137. Pada 1939, Pada 1939, jumlah ekspor karet

rakyat mencapai 1,3 juta kg dengan harga pukul rata-rata f. 29,28 per 100 kg.

Peran karet akhirnya menggantikan lada yang mengalami penurunan ekspor yang cukup siginifikan selama abad ke-20. Angka paling tinggi dicapai tahun 1819 adalah 5.192 ton, angka terendah 2.643 ton pada tahun 1920. Tahun 1930 hanya 1200, tahun 1934 meningkat menjadi 2.700 dan sampai tahun 1940 mengalami penurunan drastis, hanya mencapai 161 ton. Penyebab kemunduran ini adalah karena penghentian pemberian kredit kepada petani lada sejak tahun 1919 karena tunggakan yang tidak mampu dibayar kembali akibat dari menurunnya harga lada di pasaran38.

Selain perubahan dari lada ke karet, pembukaan perkebunan dengan mendatangkan banyak buruh, membuat aktivitas ekonomi penduduk Aceh Timur juga meningkat. Mereka datang menjual hasil pertanian mereka, sebagaimana kesan J. J van de Velde di Perkebunan Simpang Kiri yaitu: "....penduduk Kampung sepanjang sungai datang untuk menjual pisang dan barang lain, jalan-jalan dibuat, barang-barang baru seperti sepeda dan mesin jahit berdatangan...".39

Perdagangan di pasar mengalami perkembangan yang cukup pesat pada masa ini. Tipe pasar masih mewarisi pasar-pasar yang berkembang pada masa kerajaan, kecuali di daerah perkotaan yang bentuk dan bangunannya banyak berubah. Kalau dahulu pasar lokal ada di pemukiman, maka pada masa pemerintah Hindia Belanda, hampir di semua afdeeling dan onderafdeeling terdapat pasar. Pasar di daerah kebanyakan dimiliki secara pribadi oleh penguasaha lokal. Setiap pasar memiliki hari pasar mingguan sendiri. Pada hari pasar tertentu sebagian besar penduduk sekitarnya berdatangan untuk berdagang. Kebanyakan juga melalui pasar sebagai pusat jual beli barang.

Para pedagang di pasar-pasar pusat kota terdiri dari berbagai suku bangsa, namun yang paling adalah Cina. Mereka mendominasi berbagai jenis barang dagangan, seperti barang industri, rempah-rempah, minyak bumi, minyak kelapa, tembikar, porselin, dan barang-barang bangunan. Mereka mendirikan warung-warung dengan menjual bahan-bahan makanan yang berasal dari luar dan domestik, seperti terigu, mentega, bir, minuman,

37 Ibid

(13)

mangkok dan tembakau, barang-barang yang dijual di toko-toko Cina kebanyakan dimasukkan dari Penang. Para pedagang perantara membeli hasil bumi seperti lada, kopra, kelapa dan pinang. Pedagang Cina juga banyak yang bergerak dalam bidang kerajinan kulit untuk membuat sepatu yang dibutuhkan oleh prajurit Belanda. Ada juga yang menjadi penjahit pakaian orang-orang Eropa, kerajinan emas dan perak, penjualan dan reparasi sepeda40.

Jika dahulu terutama orang Melayu dari pantai Barat Sumatera serta Timur Asing, seperti Arab, Keling, Hindu dan Benggala yang menjual barang kerajinan, kini orang semakin banyak melihat perdagangan ini secara perlahan-lahan dikuasai oleh orang-orang Aceh. Orang Kleng berdagang barang-barang peralatan rumah tangga, porselin dan tembikar, di samping terlibat dalam perdagangan barang industri, tembakau dan minyak wangi dari India. Sementara orang-orang Bombay disibukkan dalam perdagangan komoditi mewah dari Jepang dan Cina. Di samping perdagangan yang terpusat di pasar, di Aceh terdapat para pedagang keliling yang menjajakan barang dagangannya ke pos-pos Belanda dan ke desa-desa. Orang Aceh dan Minangkabau menjual barang-barang antik, Melayu dan Arab menjual barang rumah tangga, sementara orang Batak menjual kain khas dari daerahnya (ulos) serta benda-benda dari perak. Perdagangan yang dikelola oleh orang Eropa hanya tertumpu pada komoditi mode, barang-barang rumah tangga, perabot, kebutuhan kantor, buku, radio, mobil dan suku cadangnya41.

Perubahan Sosial

Perubahan dalam ekonomi dengan sendirinya mendorong perubahan di masyarakatnya, salah satunya mempengaruhi struktur sosial masyarakat Aceh Timur. Bila sebelumnya elite Aceh hanya tersusun atas sultan dan kerabatnya, golongan bangsawan dan ulama, proses modernisasi dan kolonisasi telah mengakibatkan struktur sosial masyarakat Aceh betambah kompleks. Kelompok yang mula-mula menerima nilai-nilai baru dalam masyarakat Aceh adalah para penguasa adat (para uleebalang dan keturunannya). Dengan modal dan status yang mereka miliki, mereka menjadi investor pada sektor pertanian, seperti persawahan, perkebunan, pertambakan dan kilang padi. Berkat kepemilikan tersebut

(14)

uleebalang hidup dalam kemewahan. Mereka memiliki mobil bagus, rumah indah, pesawat radio dan bergaya hidup seperti orang Belanda42.

Menurut M Gade Ismail, sebelum Aceh berada di bawah kontrol Pemerintah Hindia Belanda, uleebalang memperoleh berbagai pajak dari setiap komoditas yang dihasilkan di setiap kabupaten yang dikuasainya. Uleebalang memainkan monopoli pendapatan dari perdagangan. Demikian juga dalam kebijakan lada, salah satu bentuk kewenangan uleebalang adalah juga menjadi pemilik dari kebun lada. Saat investasi asing Barat masuk, uleebalang memperolah bagian dari sewa tanah konsesi untuk perkebunan sebesar f. 1 - f. 6 per hektare dimana harga sewa tanah f 2.50 per tahun. Penghasilan ini belum termasuk untuk konsesi pengeboran minyak f 0.25 per hektare. Penghasilan kedua berasal dari pajak produksi minyak dari masing-masing perusahaan per bulan. Sehingga dari 1900 - 1903 uleebalang di Perlak menerima 75 persen dari pajak minyak sebagai penghasilan privat mereka. antara tahun 1904 dan 1908 hak pajak berkurang hingga 40 persen, karena 60 persen ditarik oleh pemerintah di Kutaraja.43

Sampai pada 1908, Pemerintah Hindia Belanda mengintervensinya dengan membuka kantor perbendaharaan kas (landschapskas) di wilayah Perlak, yang mengatur penyetoran pajak dari perusahaan-perusahaan. Sistem baru yang diterapkan Pemerintah Hindia Belanda ini memang sempat menurunkan pendapatan pribadi uleebalang. Sebagai gantinya, Pemerintah Hindia Belanda memberikan gaji rutin kepada uleebalang. Misalnya Teuku Chik Muhammad Tayeb, uleebalang of Peureulak memiliki gaji hingga f 1,000 setiap bulan, uleebalang di Idi Rayeuk bergaji f 968,50 per bulan dan uleebalang Langsa bergaji f 400, sedangkan uleebalang Peudawa Rayeuk menerima f 125 per bulan.

Bila uleebalang muncul sebagai elite baru di struktur politik, berbeda dengan yang terjadi di tingkat grassroot. Seperti dijelaskan di awal, bahwa Pemerintah Hindia Belanda dan perusahaan mendatangkan ribuan buruh dari berbagai etnis, terutama Jawa, untuk bekerja sebagai kuli di perkebunan-perkebunan rakyat. Maka dampak yang terjadi dari didatangkannya buruh-buruh dari luar ini adalah terbentuknya masyarakat Aceh yang semakin plural. Mereka terbuka menerima kehadiran etnis-etnis lain yang akhirnya mampu hidup bersama.

42 Munawiyah, halaman 194.

(15)

Buruh-buruh kebun yang habis masa kontraknya sebagian besar tidak kembali ke tanahnya asalnya di Jawa. Sebab gaji yang terlalu kecil mengakibatkan seorang buruh tidak memiliki uang sisa untuk menabung. Maka pilihannya mereka menetap di perkampungan-perkampungan di sekitar perkebunan tempat mereka bekerja. Bahkan, mereka mendapatkan bantuan dari kepala kampung berupa bantuan rumah dan tanah garapan. Perusahaan-perusahaan juga membangun perkampungan pada buruh yang habis masa kontraknya. Misalkan di Langsa Lama, dan Sungai Lueng dibangun 100 unit rumah pada tahun 1930. Depresi ekonomi pada 1930, juga menyebabkan banyak kuli yang diberhentikan oleh perusahaan. Kuli yang tak punya pekerjaan itu akhirnya bergabung dengan mantan buruh. Buruh-buruh juga di Aceh Timur juga banyak yang datang dari Sumatera Timur karena mengalami pemberhentian44.

Dampak dari keluarnya buruh dari perkebunan akhirnya muncul banyak perkampungan-perkampungan baru. Setidaknya dari 10 onderneming di Aceh Timur muncul 15 perkampungan baru hingga tahun 1939. Di Onderneming Paya Rambong muncul Kampung Paya Rambong dengan jumlah penduduknya sebanyak 45 keluarga. Di Bukit Panjang, berdiri tiga kampung baru yakni Bukit Panjang (60 kk), Alue Jamok (40 kk), Matang Ara (200 kk). Oderneming Arur Gading I muncul Kampung Merbo (100 keluarga), Oderneming Arur Gading II ada Kampung Kelirik (75 keluarga), Oderneming Tumbang Langsa ada Kampung Bakaran Batu (80 keluarga) dan Alue Dua (50 keluarga).

Mantan-mantan buruh yang hidup di perkampungan penduduk Aceh akhirnya terserap ke kehidupan masyarakat sekitarnya. Tidak sedikit yang akhirnya melakukan perkawinan antar-etnis. Masalah asal usul keturunan antara etnis Jawa dan etnis Aceh tidak menjadi permasalahan lagi untuk melanjutkan perkawinan, tetapi menurut kedua etnis tersebut setelah melakukan perkawinan campuran mereka harus saling menerima dan menghargai perbedaan kebudayaan serta berusaha tidak mempermasalahkannya, sehingga menjadi sarana sosial yang saling melengkapi. Adanya perkawinan campuran antara etnis Jawa dengan etnis Aceh, tidak mempengaruhi kehidupan rumah tangga, selama ini tidak pernah terjadi perselisihan dalam suatu keluarga berdasarkan kesukuaan. Sistem patriliniel yang berlaku dalam masyarakat Aceh dan Jawa menciptakan keluarga yang harmonis antara etnis Jawa dan duku Aceh45.

44 Gade Ismail dalam Mawardi halaman 129.

45 Baca Agus Budi W dkk, Akulturasi Budaya Aceh pada Masyarakat Jawa di Kota Langsa dalam

(16)

Selain interaksi dalam perkawinan, kebanyakan orang Aceh petani pemilik lahan memanfaatkan tenaga orang-orang Jawa pada sawah dan kebun. Dalam anggapan orang Aceh (petani pemilik) memanfaatkan orang Jawa lebih mudah daripada memanfaatkan tenaga kerja orang Aceh, karena orang-orang Jawa dalam bekerja tidak banyak tingkahlaku yang menampakkan kemalasan mereka, dan sistem kerja mereka tidak perlu adanya pengawasan yang ketat pihak yang mempekerjakan. Upah dalam mempekerjakan petani penggarap oleh petani pemilik dihitung dari luas tanah yang digarap dengan ukuran luas yang digunakan adalah rantee dalam ukuran 1 rantee (20x20= 400 meter) dengan upah yang diharus diberikan setiap 400 meter kepada penggarap Rp. 50.000,-(lima puluh ribu rupiah). Hal ini tidak membedakan upah dalam pemanfaatan tenaga kerja baik orang Jawa maupun orang Aceh, akan tetapi menurut kebiasaan yang terjadi dalam masyarakatnya, baik orang yang memanfaatkan tenaga kerja etnis Jawa maupun orang yang memanfaatkan tenaga kerja etnis Aceh. Sedangkan upah pekerja penderes karet tidak menggunakan upah harian, tetapi berdasarkan jumlah kilogram karet yang mereka deres dalam seminggu, hasilnya dibagi dua.

Bidang usaha lain yang diusahakan oleh masyarakat adalah usaha batu bata dan pabrik padi. Pekerja pada pabrik padi dan usaha batu bata terdiri dari etnis Jawa dan etnis Aceh. Upah yang dibajar pada pekerja pabrik padi per hari adalah Rp. 70.000,- ( tujuh puluh ribu rupiah ). Sedangkan upah yang dibayar pada pekerja usaha batu bata dilihat dari kapasitas kerja, yang bekerja mencetak batu bata dihitung perbiji dengan upah Rp. 8,-(delapan rupiah), yang bekerja untuk pembakaran hingga jadi batu bata perbiji Rp. 17,- (tujuh belas rupiah). Produksi, bagi petani padi etnis Aceh bukan untuk usaha pasar akan tetapi untuk penyimpanan di rumah atau di pabrik-pabrik kilang padi yang ada. Pengelolaan hasil produksi usaha tani padi dalam masyarakat Jawa menganut sistem ekonomi pasar. Setelah mereka memanen padi, hasil yang diperoleh dijual semuanya. Hasil penjualan itu digunakan untuk berbagai kebutuhan46.

Interaksi sosial antar kedua etnis juga terjadi dalam pelaksanaan struktur kepengurusan misal imam shalat dari etnis yang berbeda dan kepengurusan Meunasah maupun dalam pengurusan Masjid. Mereka akan pergi melayat terlepas yang meninggal dari kelompoknya sendiri. Pada malam harinya etnis Jawa dan etnis Aceh datang ke tempat yang terkena musibah untuk mengirim do’a disebut Samadiah atau menurut orang Jawa “Tahlil”. Kebersamaan seperti inilah yang membuat hubungan antara kedua etnis semakin akrab.

Kesimpulan

(17)

Dibukanya perkebunan karet oleh investor Barat memberikan perubahan sosial dan ekonomi pada masyarakat Aceh Timur. Masyarakat yang semula menanam lada, berangsur-angsur menggantinya dengan karet yang harganya lebih prospektif di pasar internasional. Kebun karet rakyat akhirnya berkontribusi terhadap pendapatan masyarakat dan menjadikan Aceh Timur sebagai penghasil karet utama di Nusantara. Masuknya banyak buruh-buruh ke perkebunan karet, juga membuka ruang ekonomi yang lebih luas seperti dibukanya pasar-pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan para buruh dan masyarakat di sekitarnya. Dari situlah interaksi antar-etnis terjadi.

Perubahan ekonomi akhirnya memicu perubahan sosial di Aceh Timur. Bila sebelum Pemerintahan Hindia Belanda, elite Aceh Timur berada di tangan sultan dan ulama, maka di era liberalisasi ekonomi ini uleebalang muncul sebagai elite baru. Uleebalang menjadi posisi yang menetukan sebagai penyedia tanah untuk perkebunan yang berimbas pada besarnya penghasilan pribadi uleebalang. Pemerintah Hindia Belanda kemudian memperkenalkan kantor perbendaharaan kas wilayah untuk menampung pajak perusahaan dan memangkas penghasilan uleebalang. Sebagai gantinya, uleebalang mendapatkan gaji tetap yang dihitung dari luasnya konsesi di setiap wilayah. Masuknya buruh-buruh perkebunan juga memunculkan kampung-kampung baru di sekitar perkebunan, sehingga terjadi interaksi antara penduduk non-Aceh dengan masyarakat Aceh. Inilah awal terjadinya multikulturalisme di Aceh Timur hingga dewasa ini.

Daftar Pustaka

Perlzer, Karl J. 1985. Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatra Timur 1863-1947. Jakarta Sinar Harapan.

Soetrisno , Loekman dan Winahyu, Retno. 1991. Kelapa Sawit: Kajian Sosial-Ekonomi, Yogyakarta: Aditya Media.

Ricklefs , M, C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

Said, Mohammad. 1985. Aceh Sepanjang Abad. Jilid Kedua. Medan: PT Harian Waspada Medan.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982. Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Istimewa Aceh. 1982.

Perlzer, Karl J. 1985. Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatra Timur 1863-1947. Jakarta Sinar Harapan.

(18)

Padmo, Soegijanto Padmo. Bunga Rampai Sejarah Sosial-Ekonomi Indonesia. 2004. Yogyakarta: Aditya Media bekerjasama dengan Fak Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia. 2010. Sejarah Nasional Indonesia: Kemunculan Penjajahan di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Jurnal atau makalah

Umar, Mawardi. Upah Buruh Onderneming Karet di Aceh Timur. 1907-1939. Jurnal Humaniora Volume 21 No 1 Februari 2009.

Gade Ismail, Muhammad. 1989. The Economic Position of the Uleebalang in the Late Colonial State Aceh (East Aceh, 1900-1942) . Makalah untuk konferensi di Netherlands Institute For Andvanced Study Wassenaar, Netherlands, 12-14 Juni 1989.

Tesis

Anwar. 2002. Banda Aceh: Dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial. Tesis Program Studi Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Mawardi. 2005. Menyadap Getah untuk Onderneming: Dinamika Sosial Ekonomi Buruh Perkebunan Karet di aceh Timur. 1907-1939. Tesis Program Studi Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Munawiyah. 2002. Birokrasi kolonial di Aceh 1903-1942. Tesis Prodi Ilmu Sejarah. Jurusan ilmu-ilmu Humaniora. Yogyakarta: UGM.

Website

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial,

Pengamen di sekitar Terminal Tirtonadi Surakarta serta individu lain yang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan informan penelitian agar dapat beriteraksi sosial dengan

Oleh karena itu, hukum Islam yang menghadapi perubahan sosial dengan karakteristik yang dimilikinya mampu eksis meskipun berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat..

Dari beberapa pendapat para ahli di atas penulis mengambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup bersama-sama

Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah segala perubahan- perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem

Kriteria lahan gambut yang boleh dibuka untuk perkebunan kelapa sawit menurut peraturan tersebut antara lain: (a) perkebunan kelapa sawit hanya dibolehkan di lahan masyarakat

Terbukanya peluang yang sama bagi semua anggota masyarakat dari berbagai lapisan dan golongan untuk berpartisipasi dalam proses, pelaksanaan, maupun menikmati hasil-hasil

Ini sama dengan yang terjadi dengan kaum wanita yang harus menjalankan berbagai peran tersebut dalam waktu yang hampir bersamaan yaitu sebagai seorang istri bagi