• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PROFIL SATWALIAR GUNUNG PARAKASAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V PROFIL SATWALIAR GUNUNG PARAKASAK"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BLHD Propinsi Banten V. 1

BAB V PROFIL SATWALIAR GUNUNG PARAKASAK

A.

Kehadiran Satwaliar Kelompok Mamalia

Kawasan Gunung Parakasak memiliki luas mencapai 1.252 ha, namun areal yang berhutan hanya tersisa < 1%. Areal hutan di Gunung Parakasak telah berubah fungsi menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena bukaan tajuk yang berlebihan dapat menimbulkan masalah regenerasi, terutama pada kondisi yang sangat terbuka sehingga tanah cepat mengering dan unsur hara hilang karena aliran permukaan yang deras (Meijaard dkk, 2006). Keanekaragaman satwaliar sangat erat kaitannya dengan kondisi hutan. Rayadin dkk, (2010) mengatakan dalam teori satwaliar bahwa setiap jenis mamalia memiliki daerah penyebaran tertentu berdasarkan kondisi geografis dan ekologis. Penyebaran jenis mamalia berdasarkan faktor ekologi sangat dipengaruhi oleh komposisi vegetasi suatu tipe habitat. Namun, kondisi kawasan hutan yang bagus dengan komposisi vegetasi yang cenderung beragam belum cukup untuk mengundang satwaliar hadir di kawasan tersebut. Untuk mengetahui penyebaran satwaliar khususnya kelompok mamalia pada kawasan Gunung Parakasak perlu dilakukan pengamatan terhadap satwaliar. Tabel V.1 menunjukkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dengan menggunakan beberapa metode.

Tabel V-1. Kehadiran satwaliar kelompok mamalia di kawasan Gunung Parakasak.

No Nama Jenis Family Metode pengamatan

Nama Lokal Nama Ilmiah

1 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis Cercopithecidae Pengamatan, Suara 2 Kijang muntjak Muntiacus muntjak Cervidae Jejak

3 Pelanduk Tragulus sp Tragulidae Jejak

4 Babi hutan Sus barbatus Suidae Pengamatan, Sarang 5 Tenggalung Malaya Viverra tangalunga Viverridae Pengamatan

6 Musang galling Paguma larvata Viverridae Pengamatan 7 Landak raya Hystrix brachyura Hystricidae Sisa Pakan 8 Bajing Callosciurus sp Sciuridae Pengamatan

(2)

BLHD Propinsi Banten V. 2

Berdasarkan data pada Tabel V-1 menunjukkan bahwa terdapat 9 jenis satwaliar kelompok mamalia yang berhasil teridentifikasi. Pada dasarnya satwaliar mamalia dapat dibedakan melalui berat tubuh yaitu mamalia besar dan mamalia kecil. Menurut batasan International Biological Program, yang dimaksud mamalia kecil adalah jenis mamalia yang memiliki berat badan dewasa yang kurang dari lima kilogram, sedangkan selebihnya termasuk ke dalam kelompok mamalia besar (Amir, 1978). Kehadiran satwaliar kelompok mamalia di kawasan Gunung Parakasak didominansi oleh kelompok mamalia besar. Kelompok mamalia kecil yang berhasil teridentifikasi yaitu jenis Callosciurus sp dan Rattus

sp. Kondisi ini dikarenakan luasnya lahan yang terbuka dan aktivitas manusia cukup intensif sehingga dapat mengurangi kemampuan mamalia kecil dalam melarikan diri dari pemangsa akibatnya jenis-jenis mamalia kecil menjadi mangsa utama bagi predatornya.

Mamalia dapat dibedakan berdasarkan familinya (suku). Secara umum, pengelompokkan jenis-jenis mamalia dilakukan berdasarkan kriteria yang sama misalnya berdasarkan makanan, perilaku aktif, susunan gigi, dan kriteria-kriteria lainnya. Apabila dilihat dari jumlah famili (suku) terdapat 7 famili satwa kelompok mamalia yang dapat dilihat pada Gambar V.1 berikut.

Gambar V.1. Keragaman satwaliar kelompok mamalia berdasarkan famili di kawasan Gunung Parakasak.

0 1 2 3 4 5 Juml ah Jeni s Famili

(3)

BLHD Propinsi Banten V. 3

Berdasarkan data pada Gambar V.1 dapat dilihat bahwa terdapat 8 famili mamalia. Komposisi jenis terbanyak dalam satu famili yaitu famili Viverridae. Kondisi ini sangat beralasan karena satwa-satwa famili Viverridae merupakan satwa yang bersifat generalis atau mamalia yang mampu bertahan hidup pada kondisi habitat yang terdegradasi. Seiring berjalannya waktu, pembukaan areal hutan dapat menyebabkan ledakan populasi. Kondisi ini dapat terlihat dari kehadiran jenis musang-musangan (famili Viverridae). Secara umum, jenis jenis musang-musangan (famili Viverridae) merupakan pemangsa oportunis yang meskipun status taksonominya adalah karnivora, namun beberapa jenis musang-musangan ini secara eksklusif memakan buah, umumnya buah yang berkadar gula tinggi dan berdaging lembut (Meijaard dkk. 2006). Selain perilaku jenis musang-musangan, perilaku satwaliar lainnya juga dapat diamati pada Tabel V-2 berikut ini.

Tabel V-2. Klasifikasi jenis mamalia berdasarkan kelas makan, waktu aktif dan stratifikasi ekologi.

No Nama Ilmiah Family Kelas Makan Waktu aktif Stratifikasi

Car Her Omn Diu Noc Met Arb Ter

1 Macaca fascicularis Cercopithecidae √ √ √

2 Muntiacus muntjak Cervidae √ √ √

3 Tragulus sp Tragulidae √ √ √

4 Sus barbatus Suidae √ √ √

5 Viverra tangalunga Viverridae √ √ √

6 Paguma larvata Viverridae √ √ √ √

7 Hystrix brachyura Hystricidae √ √ √

8 Callosciurus sp Sciuridae √ √ √ √

9 Rattus sp Muridae √ √ √ √

*keterangan : Car = Carnivora, Her = Herbivora, Omn = Omnivora, Diu = Diurnal, Noc = Nocturnal, Met = Metaturnal, Arb = Arboreal, Ter = Terresterial

Berdasarkan data pada Tabel V-2 menunjukkan bahwa terdapat berbagai perilaku satwaliar seperti perilaku makan, waktu aktif dan stratifikasi ekologi. Mamalia umumnya merupakan obyek utama pengamatan perilaku dalam dunia satwa. Alikodra (1990) menyatakan bahwa perilaku ialah kebiasaan-kebiasaan satwaliar dalam aktifitas hidupnya, seperti sifat mengelompok, waktu aktif, wilayah pergerakan, cara mencari makan,cara dan aktivitas-aktivitas lainnya.

(4)

BLHD Propinsi Banten V. 4

Gambar V.2. (a) Kehadiran satwa berdasarkan kelas makan, (b) Kehadiran satwa berdasarkan waktu aktif, dan (c) Kehadiran satwa berdasarkan stratifikasi ekologi.

(a)

(c) (b)

(5)

BLHD Propinsi Banten V. 5

Berdasarkan data pada Gambar V.2 (a) menunjukkan bahwa terdapat mamalia pemakan tumbuuhan (heerbivora). Bila dibandingkan dengan kelas makan omnivora, jumlah kelas makan herbivora lebih sedikit. Kondisi dapat disebabkan oleh berkurangnya sumber pakan bagi beberapa jenis tertentu, sehingga hanya satwa-satwa tertentu yang mampu bertahan hidup pada habitat yang terganggu seperti jenis Tragulus sp. Secara umum, jenis tersebut merupakan jenis yang dapat ditemukan diberbagai tipe hutan seperti hutan dataran tinggi, hutan sekunder dan terkadang ditemukan di kebun-kebun. Jenis Tragulus sp sangat bergantung terhadap buah-buahan yang jatuh. Makanan utamanya meliputi buah-buahan yang jatuh, tunas daun dan vegetasi lainnya (Charles, 2008).

Berdasarkan Gambar V.2 (b) terdapat mamalia yang cenderung aktif pada siang hari dan malam hari (metaturnal). Salah satu jenis yang termasuk metaturnal adalah jenis Muntiacus muntjac. Makanan Muntiacus muntjac

diperkirakan mengandung sejumlah besar tumbuhan hijau. Kondisi tersebut dapat menjelaskan mengapa jenis tersebut mampu bertahan di kawasan hutan yang terdegradasi (Meijaard dkk, 2006).

Secara umum, perubahan kelimpahan spesies ungulata (jenis Tragulus sp dan Muntiacus muntjac) ditentukan oleh perburuan. Selain pembukaan lahan yang menyebabkan habitat satwa terganggu, ancaman terhadap jenis ini sangat besar terutama ancaman perburuan karena areal di sekitar kawasan Gunung Parakasak sudah berubah fungsi menjadi pemukiman masyarakat sehingga baik kebutuhan ekonomi maupun kebutuhan protein hewani semakin hari semakin meningkat. Selain itu, meskipun pada beberapa areal terbuka dapat memberikan makanan bagi jenis-jenis tersebut peningkatan aksesibilitas akibat adanya aktivitas perkebunan juga dapat menyebabkan tingginya tekanan perburuan (Meijaard dkk, 2006).

(6)

BLHD Propinsi Banten V. 6

Beberapa mamalia agak mirip dengan tipe binatang lain dan mungkin membingungkan. Misalnya jenis Hystrix brachyura agak mirip reptilia karena bersisik dan lidahnya panjang, tetapi sisiknya sebenarnya dibentuk dari rambut-rambut yang mengumpul (Payne dkk ,2000). Secara umum, mamalia jenis Hystrix brachyura merupakan salah satu jenis satwa yang bersifat generalis. Meskipun secara Nasional jenis tersebut dilindungi namun, pada beberapa penelitian yang dilakukan oleh Rayadin dkk (2013 dan 2014) menunjukkan bahwa satwa tersebut mampu bertahan hidup pada kondisi habitat yang terdegradasi. Satwa tersebut dapat ditemukan pada kawasan hutan alam atauhutan sekunder, perkebunan sawit bahkan di wilayah pertambangan di Kalimantan Timur. Sumber pakannya meliputi buah-buahan yang jatuh termasuk kelapa sawit, kulit pohon, akar-akaran hingga umbi-umbian (Charles, 2008).

Gambar V.3. Sisa pakan jenis Hystrix brachyura ditemukan di kawasan Gunung Parakasak.

(7)

BLHD Propinsi Banten V. 7

Sedangkan jenis Paguma larvata dapat dijumpai pada malam hari dan siang hari, pada umumnya jenis ini merupakan satwa yang hidup di atas permukaan tanah (terrestrial), tetapi kadang memanjat ke atas pohon. Jenis ini memakan beberapa jenis buah-buahan dan berbagai invertebrata dan vertebrata kecil yang diperoleh terutama dari lantai hutan (Rayadin dkk, 2013).

Gambar V.4. Bekas jejak dan sisa pakan jenis Sus barbatus ditemukan di kawasan Gunung Parakasak.

Jenis ungulata yang lebih bersifat generalis dan opportunis, yaitu Sus barbatus, terdapat di seluruh lokasi pengamatan. Frekuensi pemanfaatan kawasan perkebunan sebagai tempat mencari makanan ditunjukkan dari temuan jejak kaki dan bekas-bekas tempat mencari makan berupa akar-akar tumbuhan dan hewan-hewan tanah (rooting sign). Sus barbatus sering pula ditemukan dalam kelompok dan berkeliaran di jalan-jalan kebun (Rayadin dkk, 2013).

Gambar

Tabel  V-1.  Kehadiran  satwaliar  kelompok  mamalia  di  kawasan  Gunung
Gambar V.1.   Keragaman  satwaliar  kelompok  mamalia  berdasarkan  famili  di
Tabel V-2.   Klasifikasi jenis mamalia berdasarkan kelas makan, waktu aktif dan
Gambar V.2.   (a)  Kehadiran  satwa  berdasarkan  kelas  makan,  (b)  Kehadiran
+3

Referensi

Dokumen terkait

Cabai transgenik P5CS dapat bertahan hidup pada kondisi cekaman kekeringan dengan adanya over produksi prolina yang merupakan salah satu senyawa yang bersifat osmopektan yang

Isolat BAL E5, E7, dan E8 (berasal dari fermentasi spontan jagung) bersifat sensitif terhadap kloramfenikol dan tetrasiklin, mampu bertahan hidup pada kondisi pH

Selain itu, HTR Parakasak juga terdiri dari komposisi jenis yang beragam, terhitung pada hutan tanaman rakyat parakasak terdiri dari 20 famili dan beberapa diantaranya

8 Kontestasi ruang diantara kabupaten yang selama ini bersifat latent, menjadi mengemuka (manifest), ketika Pemerintah Kabupaten Kediri tetap bisa bertahan dengan

Keinginan untuk hidup yang lebih baik, tidak dapat melanjutkan pendidikan dan juga faktor kondisi perekonomian keluarga yang mengharuskan bertahan hidup dengan berwirausaha

Strategi bertahan hidup merupakan keseluruhan cara atau kegiatan ekonomi yang diambil oleh anggota rumah tangga untuk bertahan hidup dan/atau (dalam kondisi yang

Berdasarkan tipe habitatnya, kondisi tersebut terlihat pada habitat padang-semak yang memiliki kondisi suhu lingkungan paling tinggi dan tingkat kelembaban relatif yang rendah

Bacillus mempunyai sifat yang lebih menguntungkan daripada mikroorganisme lain karena dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama pada kondisi lingkungan yang tidak