i ABSTRACTION
ii
PRAKATA
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan bimbingan-Nya sehingga makalah Laporan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan dengan sebaik- baiknya.
Laporan Tugas Akhir ini dibuat untuk memenuhi persyaratan akademis dalam mencapai gelar Sarjana Seni Desain Interior ( S1 ) Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Kristen Maranatha .
Laporan ”Perancangan Interior Korean Restaurant and Cooking course” ini dapat terlaksana berkat dukungan dari teman-teman dan keluarga yang telah membantu dalam proses pengumpulan data sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak- pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini, terutama kepada:
1. Bapak Gai Suhardja, Phd, selaku Dekan FSRD Maranatha.
2. Bapak Krismanto, selaku Ketua Jurusan Desain Interior Arsitektur Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Kristen Maranatha.
3. Bapak Drs. Rachman Yuda, MBA, MM selaku dosen pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing dan membagi pengetahuan serta saran yang berharga.
4. Ibu Sriwinarsih Maria Kirana S, S.Sn, selaku dosen pembimbing II yang telah membagi ilmu mengenai perancangan restoran yang baik serta masukan yang berharga.
5. Keluarga dan teman-teman yang selalu mengasihi, menyayangi, mendukung, dan mendampingi penulis selama ini.
Akhirnya penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini. Dalam penyusunan laporan ini, penulis juga mengharapkan segala kritik, saran, dan masukan yang berarti agar di kemudian hari dapat menjadi lebih baik lagi.
Dan pada akhirnya besar harapan penulis agar Laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi kemajuan semua pihak. Tuhan memberkati
Bandung, 18 Juni 2011
iii
BAB II KAJIAN PUSTAKA RESTORAN DAN TRADISI KOREA 8
2.1 Deskripsi Umum Restoran 8
2.1.1 Klasifikasi Restoran 9
2.1.2 Persyaratan Ruangan Restoran 11
2.2 Standar Umum Dapur Restoran 22
2.3 Restoran Korea 25
2.3.1 Masakan Korea 25
2.3.2 Pengaturan Meja Makan 26
2.3.3 Etiket Makan Tradisional 27
2.3.4 Jenis-Jenis Masakan Korea 29
2.4 Arsitektur Korea 37
2.5 Hanok 38
2.5.1 Susunan Hanok 39
2.5.2 Komposisi Hanok 40
BAB III DESKRIPSI PROYEK 45
3.1 Deskripsi Objek Studi 45
3.1.1 Deskripsi Fungsi 45
3.1.2 Identifikasi User 56
3.2 Konsep Perancangan 57
iv
Pembentuk Ruang 58
3.2.2 Program Kebutuhan Ruang 64
3.2.3 User Activity 65
3.2.4 Matriks Kedekatan Ruang 67
3.2.5 Bubble Diagram 68
3.2.6 Zoning Blocking 69
3.3 Deskripsi Site 70
3.3.1 Site Analysis 76
3.3.2 Building Analysis 78
3. Survey Fungsi Sejenis 79
3.4.1 Awon Korean Restaurant 79
BAB IV KONSEP PERANCANGAN 82
4.1 Site Plan 82
4.2 General Layout 83
4.3 VIP Dining Room I 85
4.4 VIP Dining Room II 86
4.5 Lecture Class 87
4.6 Library 88
4.7 Cooking Studio 89
4.8 Dining Area I 90
4.9 Dining Area II 91
4.10 Dining Area III 92
BAB V SIMPULAN 93
DAFTAR PUSTAKA viii
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Pameran Kuliner Masakan Korea 4
Gambar 2.1 Space Requirements For Server and Diner 21
Gambar 2.2 Funcional Layout for Restaurant 21
Gambar 2.3 Minimal Seating Layout and Alcoves Arrangement 21 Gambar 2.4 Vegetable Preparation and Meat Preparation 22
Gambar 2.5Basic Solution-Dishwashing Area 23
Gambar 2.6 Masakan Korea 25
Gambar 2.7 Peralatan Makan dan Penataan Meja 26
Gambar 2.8 Bulgogi 29
Gambar 2.9 Makanan Kerajaan 30
Gambar 2.10 Banchan 32
Gambar 2.11 Jeonju Hanok 38
Gambar 2.12 Layout of Hanok 39
Gambar 2.13 Sarangchae 40
Gambar 2.14 Sarang Daechong 41
Gambar 2.15 Sarangbang 41
Gambar 2.16 Traditional Kitchen 42
Gambar 2.17 Traditional Kitchen 43
Gambar 2.18 Jangdokdae 43
Gambar 2.19 Sadang 44
Gambar 2.20 Madang 44
Gambar 3.1 Struktur Organisasi 46
Gambar 3.2 modern hanok (sarangchae pada sanggojae) 57
Gambar 3.3 Sanggojae (modern hanok) 57
Gambar 3.4 Bubble Diagram restoran 68
Gambar 3.5 Bubble Diagram Cooking Course 69
Gambar 3.6 Zoning Blocking 1st floor 69
Gambar 3.7 Zoning Blocking 2nd floor 70
Gambar 3.8 View Dago Pakar 70
Gambar 3.9 Map 71
vi
Gambar 3.11 Site Existing Lt. 02 72
Gambar 3.12 Interior Section B-B’ 72
Gambar 3.18 Site Analysis 76
Gambar 3.19 Bagian Depan dari Awon Korean Restaurant 79
Gambar 3.20 Ruang Publik Restoran 79
Gambar 3.21 Ornamen Korea Pada Salah Satu Dinding Restoran 80
Gambar 3.22 Ruang Private Restoran 80
Gambar 4.1 Site Plan 82
Gambar 4.2 General Layout Lantai 1 83
Gambar 4.3 General Layout Lantai 2 83
Gambar 4.4 Perspective VIP Dining Room I 85
Gambar 4.5 Tampak VIP Dining Room I 85
Gambar 4.6 Perspective VIP Dining Room II 86
Gambar 4.7 Tampak VIP Dining Room II 86
Gambar 4.8 Perspective Lecture Class 87
Gambar 4.9 Tampak Lecture Class 87
Gambar 4.10 Layout Library 88
Gambar 4.11 Tampak Library 88
Gambar 4.12 Tampak Library 88
Gambar 4.13 Perspective Cooking Studio 89
Gambar 4.14 Tampak Cooking Studio 89
Gambar 4.15 Perspective Dining Area I 90
Gambar 4.16 Tampak Dining Area I 90
Gambar 4.17 Perspective Dining Area II 91
Gambar 4.18 Tampak Dining Area II 91
Gambar 4.19 Perspective Dining Area III 92
Gambar 4.20 Tampak Dining Area III 92
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tabel Detail Khusus BeginningPprogram 55
Tabel 3.2 Tabel Detail Khusus Intermediate Program 56
Tabel 3.3 Tabel Detail Khusus Advance Program 56
Tabel 3.4 Tabel Konsep Bentuk 59
Tabel 3.5 Tabel Konsep Pola 60
Tabel 3.6 Tabel Konsep Warna 61
Tabel 3.7 Tabel Konsep Tekstur 62
Tabel 3.8 Tabel Konsep Skala 63
Tabel 3.9 Tabel Kedekatan Ruang Pada Restoran 67
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Semua manusia membutuhkan makanan demi kelangsungan hidupnya. Tetapi seiring dengan perkembangan yang ada, makanan beralih fungsi yaitu sebagai salah satu kesenangan atau kenikmatan dalam kehidupan manusia. Mencari makanan yang enak, mencicipinya, dan merasakan kegembiraan dengan melihat orang yang memakan masakan yang dibuatnya merupakan satu unsur yang penting dalam menikmati hidup. Makanan juga mengandung nilai seni, baik dalam teknik memasak maupun cara penyajiannya sehingga terlihat menggugah dan memberikan kesenangan terhadap konsumen.
Menurut survey dari The Nielsen Company menyatakan bahwa 44% dari orang Indonesia suka makan di luar rumah atau di restoran. Kegiatan ini semata-mata dilakukan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, melainkan lebih kepada sosialisasi. “Frekuensi makan di luar rumah mencerminkan budaya lokal,” kata Direktur Eksekutif dan Periset Konsumen The Nielsen Company.
2 Sabtu. Hasil survey juga menunjukkan, masyarakat Indonesia paling sering makan di restoran untuk makan malam. Hari favorit untuk keluar makan adalah Sabtu. Mayoritas orang keluar makan bersama keluarga, teman, dan pasangan mereka.
Sementara itu, peringkat pertama jenis makanan yang disukai adalah makanan lokal. Peringkat kedua adalah makanan China dan makanan Jepang menduduki peringkat ketiga selanjutnya disusul oleh makanan Italia, Korea, Thailand, dan beberapa makanan khas negara lainnya.
Suasana interior di dalam restoran juga sangat mempengaruhi tingkat pengunjung yang datang. Seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan pola pikir manusia. Mereka datang ke restoran juga ingin mencari sensasi dan pengalaman yang baik. Dalam hal ini interior restoran berperan sangat penting dalam mengatur suasana ruang, mendesain ruang, dan memberikan sensasi serta pengalaman yang baik bagi pengunjung.
Kota Bandung kini telah menjelma menjadi salah satu wisata kota terpopuler di Indonesia. Kota yang dikenal sebagai “Paris van Java” ini berhasil menarik para wisatawan domestik dan mancanegara untuk menikmati ragam wisata belanja dan kuliner. Perpaduan unik gedung tua, factory outlet, restoran, wisata alam, dan akses yang mudah menjadikan Bandung sebagai tempat yang ideal untuk liburan. Potensi-potensi inilah yang membuat industri pariwisata, wisata kuliner, dan fashion di Bandung berkembang pesat dibandingkan dengan daerah-daerah lain di sekitarnya.
Akhir-akhir ini bisnis restoran di Bandung berkembang pesat. Warga di Bandung dan sekitarnya sangat tertarik terhadap restoran-restoran baru yang memiliki interior yang baik. Hal itu disebabkan oleh keinginan untuk mencari pengalaman baru dari setiap restoran. Bukan hanya makanannya saja tetapi dari interior ruangan yang juga berperan sangat penting. Suasana yang didukung oleh interior ruangan yang baik akan memberikan kenyamanan bagi pengunjung.
Sedangkan warga asing di Indonesia, baik dari Jepang, Amerika, Korea, dan lain sebagainya tersebar di wilayah Jawa Barat termasuk juga di kota Bandung. Kota Bandung merupakan salah satu wilayah yang memiliki komunitas warga asing yang signifikan di samping kota Jakarta, Tangerang, dan Bogor.
3 promosi pariwisata dan kebudayaan di Indonesia. Di koran harian Kompas, 5 Oktober 2010 memuat beberapa lembar halaman tentang negara yang biasa disebut dengan negeri ginseng itu, terdapat iklan “Indonesia-Korea week festival” yang diadakan di Jakarta dari tanggal 11-16 Oktober 2010 membuktikan bahwa masyarakat Indonesia mulai tertarik dengan budaya dan serba-serbi dari negeri Korea. Berikut ini kerjasama Sosial Budaya dan Pariwisata antara Indonesia dengan Korea menurut situs departemen luar negeri di Indonesia:
“Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Persetujuan kerjasama kebudayaan dengan ROK (Republic of Korea) yang ditandatangani pada tahun 2000. MOU di bidang Pariwisata antara kedua negara juga telah ditandatangani tahun 2006. Sebagai tindak lanjut dari kerjasama bidang kebudayaan tersebut, pada tanggal 14-15 Mei 2008 di Yogyakarta diadakan “The First Cultural Committee Meeting RI–ROK”. Keberadaan kedua kesepakatan tersebut merefleksikan komitmen kedua negara untuk lebih memperkuat hubungan persahabatan people to people, serta memajukan dan mengembangkan hubungan di bidang-bidang seperti kebudayaan, seni, pendidikan (akademis), ilmu pengetahuan dan teknologi, kesehatan masyarakat, olah raga, media massa, informasi, dan kewartawanan serta pariwisata.
Sejalan dengan kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat ROK maka potensi wisatawan ROK sangat besar. Berdasarkan data dari Depbudpar, jumlah wisatawan ROK yang berkunjung ke Indonesia dalam lima tahun terakhir mengalami pasang surut karena relatif dipengaruhi oleh sejumlah peristiwa di dalam negeri yang berdampak negatif terhadap industri pariwisata termasuk bencana alam dan flu burung.
Tahun 2007 kunjungan wisatawan Korea mencapai 327.843 orang atau berada pada peringkat ke empat setelah Singapura, Malaysia dan Jepang (http://www.budpar.go.id/). Untuk itu, Indonesia telah memberlakukan pemberian visa on arrival bagi warga negara Korea untuk memudahkan warga negara Korea
berkunjung ke Indonesia. Diharapkan Pemerintah Republik Korea juga dapat mempertimbangkan pemberlakuan kebijakan yang sama terhadap warga negara Indonesia.
4 mendorong semakin tingginya intensitas people to people contact antara masyarakat Indonesia dan Korea.
Hal ini diikuti dengan pembentukan Indonesia-Korea Friendship Association (IKFA) di Jakarta pada awal 2007. Sebelumnya di Seoul, telah dibentuk Korea-Indonesia Friendship Association (KIFA). Kedua organisasi tersebut memiliki tujuan
untuk mengembangkan saling pengertian dan meningkatkan hubungan serta kerjasama antara masyarakat kedua negara melalui kegiatan-kegiatan sosial budaya yang pada gilirannya mendorong semakin eratnya hubungan kedua Negara.’’
Hubungan dalam bidang kuliner antara Indonesia-Korea juga semakin kuat. berikut ini merupakan salah satu bukti dari semakin meningkatnya hubungan yang erat antara Indonesia-Korea dalam bidang kuliner:
Gambar 1.1Pameran kuliner masakan Korea
Sumber: KBRI Seoul
Pakar kuliner Indonesia Wiliam Wongso memamerkan kebolehannya, Wisma Duta KBRI Seoul kembali menjadi tuan rumah olah masakan. Kali ini atas permintaan negara tuan rumah Republik Korea (11/4). Society for the Research of Korean Dishes, lembaga penelitian kuliner Korsel, meminta KBRI untuk memfasilitasi acara yang dinamakan Korean Traditional Dishes.
5 “Kegiatan ini merupakan salah satu upaya memperkuat hubungan bilateral khususnya di bidang budaya”, tambah Dubes Nicholas pada sambutannya yang disampaikan dalam bahasa Korea.
Seperti halnya pameran kuliner Indonesia yang dilakukan William Wongso beberapa hari sebelumnya, sekitar 50 undangan antara lain para Duta Besar ASEAN, Jepang, Rusia, Hungaria dan Paraguay serta tamu lainnya memadati Wisma Duta malam itu guna mencicipi berbagai hidangan.
Tidak kurang dari 27 orang juru masak memenuhi dapur Wisma Duta untuk mengolah lebih dari 13 jenis masakan tradisional Korea. Mulai dari sup kacang, sashimi ala Korea, daging panggang sampai es krim strawberry dan kacang merah sebagai penutup. Semua masakan itu langsung disajikan di meja para undangan.
Para juru masak tersebut bekerja pada berbagai restoran dan hotel di Seoul namun tergabung dalam Society for the Research of Korean Dishes. (Sumber: KBRI Seoul)
1.2Ide Gagasan Proyek
Konsep yang akan diambil dalam perancangan “Korean Restaurant and Cooking Course” ini terinspirasi dari hanok (rumah tradisonal Korea) yang akan dirancang secara moderen atau memakai penerapan konsep “Modern Hanok” (hanok yang telah mengalami perubahan/diberi sentuhan moderen). Berikut ini beberapa data yang didapat melalui wawancara terhadap Amy (orang Korea yang membuka restoran di Bandung mengenai beberapa perusahaan Korea yang ada di Bandung:
PT. Samudera Industri, merupakan salah satu dari holding company PT. Hilon Indonesia yang merupakan sebuah perusahaan PMA dari Korea dan berlokasi di 3 (tiga) Negara, meliputi : Korea, Australia, dan Indonesia (Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya, Medan, Bali, dll). Perusahaan ini sudah 40 tahun berpengalaman di bidang Padding, Quilting, HDP dan Bedding Goods (Kasur, Bantal, Bed Cover, Mattress, dll.) cabang di Bandung berada di daerah Soreang.
E-NOPI, berasal dari Daekyo Co. Ltd. yang merupakan perusahaan asal Korea yang bergerak di bidang pendidikan. Memiliki visi untuk menjadi pemimpin (leader) secara global dalam hal pelayanan pendidikan dan berbagi kebahagiaan bersama sama untuk membangun masyarakat yang sehat. Cabang di bandung berada di daerah mekarwangi Bandung Korea Community (반둥 한사모), merupakan komunitas orang-orang
6 Ide gagasan perancang dalam merancang “Korean Restaurant and Cooking Course” ini adalah:
1. Dengan memakai konsep “Modern Hanok” perancang mempunyai pertimbangan supaya para tamu yang datang dapat merasakan suasana yang moderen tetapi masih bernuansa Korea, terlebih bagi orang Korea itu sendiri yang rindu dengan suasana di kampung mereka.
2. Melalui data di atas dapat disimpulkan bahwa orang Korea sudah mulai melirik kota Bandung sebagai tempat mereka berbisnis. Peminat serba-serbi Korea di Bandung juga semakin bertambah tetapi fasilitas yang tersedia masih belum mencukupi. Oleh karena itu perancang ingin membuat fasilitas ini untuk mewadahi permintaan konsumen yang cukup banyak yang disebabkan oleh beberapa hal seperti yang sudah dijelaskan di atas.
3. Fasilitas ruang serba guna juga disediakan untuk acara pernikahan, ulang tahun, seminar dan lain sebagainya
4. Terdapat ruang VIP yang dibuat terpisah dengan ruang makan biasa.
5. Sedangkan program “cooking course” dirancang sebagai fasilitas pendukung bagi warga Bandung dan wilayah sekitarnya yang ingin menambah wawasan mengenai masakan Korea pada khususnya.
6. Di bagian gedung cooking course tidak hanya tempat kursus saja, tetapi juga tersedia perpustakaan kecil dan perpustakaan bahan makanan sehingga mereka yang mengikuti kursus memasak dapat menambah wawasan dan teknik memasak masakan Korea secara maksimal.
Site denah yang dipakai adalah Bandung Spa & Health Club yang terletak di daerah Cigadung, Dago Bandung-Jawa Barat. Pertimbangan yang diambil dalam pemilihan lokasi “Korean Restaurant and Cooking Course” adalah sebagai berikut:
Dari segi tempat, di Dago, karena Dago merupakan salah satu kawasan strategis wisata di Bandung, dekat dengan banyak fasilitas umum, serta merupakan area komersil dimana banyak tempat untuk berwisata kuliner. Akses yang tersedia mudah dijangkau oleh wisatawan domestik dari luar kota Bandung maupun wisatawan mancanegara.
7 1.3Identifikasi Masalah
Bagaimana penerapan tema dan konsep “Modern Hanok” yang sesuai pada desain “Korean Restaurant and Cooking Course”?
Apa saja fasilitas di dalam sana yang tersedia untuk mendukung kinerja pengguna? Bagaimana program ruang pada desain interior ruang yang ada sehingga tercipta kenyamanan, efisiensi, dan fungsional bagi pengguna serta sesuai dengan tema dan konsep “Modern Hanok”?
1.4Tujuan Perancangan
Tujuan dari perancangan ini adalah sebagai berikut:
Menerapkan tema dan konsep “Modern Hanok” yang sesuai dan fungsional sehingga membuat pengguna merasa nyaman.
Perancangan fasilitas apa saja yang tersedia untuk mendukung kinerja pengguna. Perancangan program ruang yang efisien dan fungsional untuk mendukung kinerja
pengguna di dalamnya.
1.5Sistematika Penulisan
Laporan pengantar Tugas Akhir ini meliputi hal-hal sebagai berikut:
Pada Bab I, perancang menjabarkan mengenai latar belakang masalah, ide gagasan proyek, identifikasi masalah, tujuan perancangan, dan sistematika perancangan. Pada Bab II, perancang akan menjabarkan tentang deskripsi umum restoran,
standar dapur pada restoran, tradisi Korea yang dikhususkan pada berbagai jenis masakan Korea, sejarah perkembangan arsitektur Korea dan rumah tradisional Korea (hanok).
Pada Bab III, perancang akan menjabarkan tentang deskripsi perancangan interior pada “Korean Restaurant and Cooking Course”, site analysis, dan building analysis
Pada Bab IV, perancang akan menjelaskan tentang keputusan desain, penerapan konsep, dan gambar kerja
93
BAB V
SIMPULAN
5.1Kesimpulan
Beberapa simpulan dari hasil perancangan ”Korean Restaurant and Cooking Course” ini adalah:
1. Penerapan suasana yang diinginkan dalam perancangan ”Korean Restaurant and Cooking Course” ini yang berdasarkan prinsip dari rumah tradisional Korea (hanok) pada akhirnya dapat terwujud. Mulai dari penerapan kusen yang tebal, bentuk yang didominasi oleh bentuk geometris, pola yang berulang, serta penerapan pencahayaan.
2. Penerapan konsep utama yang dipakai pada perancangan ”Korean Restaurant and Cooking Course”ini adalah ”Modern Hanok” yang merupakan perpaduan dari dua
94
viii
DAFTAR PUSTAKA
Ernst Neufert, Peter Neufert, Bousmaha Baiche, Nicholas Walliman. Architects' data. Penerbit: Blackwell Science, 2000
Leanne M. Jones, Audrey Young Oppel. Hanok. Penerbit: Red Ceer College Preess, 1997 Robinson, Martin. Seoul. Penerbit: Lonely Planet, 2009
Martin Robinson, Andrew Bender, Rob Whyte. Korea. Penerbit: Lonely Planet, 2004 Istitute of Traditional Korean Food. The Beauty of Korean Food. Penerbit: Holly, 2007
Debra Samuels, Taekyung Chung, Heath Robbins. The Korean Table. Penerbit: Tuttle pub., 2008
Hi Soo Shin Hepinstall. Growing Up in a Korean Kitchen. Penerbit: Ten Speed Press, 2001 Hae Jin Lee. Eating Korean. Penerbit: Wiley, 2005
J.Pettid, Micahel. Korean Cuisine. Penerbit: Reaktion Books, 2008
Ji Sook Choe, Yukiko Moriyama. Korean Cooking for Everyone. Penerbit: JOIE, inc., 1986 Aisya Fadhila, Dara Ayunda. Panduan Asyik Ngobrol dan Jalan-Jalan di Korea. Penerbit: bukune, 2007
http://id.shvoong.com/social-sciences/1812820-perkembangan-arsitektur-korea/ , diakses tanggal 7 Desember 2010
http://danmee.chosun.com/site/data/html_dir/2008/02/14/2008021400691_3.html , diakses tanggal 15 Mei 2011
http://media.paran.com/economy/view.kth?dirnews=863051&year=2009&mode=photo&Idx
Num=5 , diakses tanggal 15 Mei 2011
http://www.shinshine.com/my-blog/2010/09/bukchon-hanok-village.html , diakses tanggal 15 Mei 2011