25
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Temuan-temuan melalui hasil dari penelitian sebelumnya adalah hal yang sangat penting untuk dijadikan sebagai data pendukung. Dari penelitian terdahulu, penulis tidak menemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul penelitian penulis.Dalam penelitian ini penulis memaparkan penelitian terdahulu yang dianggap relevandengan permasalahan yang akan diteliti. Penelitian terdahulu ini menjadiacuan penulis dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapatmemperluas wawasan akan teori yang akan digunakan dalam mengkajipenelitian. Berdasarkan fenomena diatas peneliti mencoba mengaitkan beberapa referensi penelitian terdahulu yang akan dijadikan bahan dan pedoman penting bagi peneliti untuk melanjutkan penelitian terkait dengan kebijakan preventif pencegahan penularan COVID- 19 di Universitas Muhammadiyah Malang.
1. Jurnal yang dibuat oleh Syafrida,Ralang Hartati Fakultas Hukum Universitas Tama Jagakarsa 2020 dengan judul “Bersama Melawan Virus COVID-19 di Indonesia”
Upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19 merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat, pihak swasta, lembaga keagamaan, tokoh agama, aparat penegak hukum, media sosial dan media elektronik untuk bersinergis saling bantu membantu, bahu membahu,
26
saling mengingatkan satu sama lain, bekerja keras melawan COVID- 19.Dampak wabah COVID-19 hampir di semua sektor kehidupan masyarakat antara lain bidang sosial, ekonomi, pariwisata, tempat hiburan, transportasi umum, pusat perbelanjaan mengalami penurunan secara drastis seiring mewabahnya penyebaran COVID-19. Sedang upaya pencegahan penyebaran COVID-19 merupakan tugas bersama, pemerintah, anggota masyarakat, organisasi masyarakat, lembaga keagamaan, tokoh dan pemuka agama, pihak swasta dan media komunikasi.
2. Jurnal dibuat oleh Dalima Teumbanua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Nias Selatan 2020 dengan judul “Urgensi Pembentukan Aturan Terkait Pencegahan COVID-19 di Indonesia”
Pembentukan aturan terkait pencegahan COVID-19 di Indonesia sangat penting dan mendesak untuk dilakukan dalam bentuk Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri Kesehatan. Adapun beberapa Peraturan Pemerintah yang wajib dibentuk yaitu Tata Cara Penetapan dan Pencabutan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat,Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat,Tata Cara Pelaksanaan Karantina Wilayah di Pintu Masuk,Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Kepada Nakhoda, Kapten Penerbang, dan Pengemudi terkait Dokumen Karantina Kesehatan,Kriteria dan Pelaksanaan Karantina Rumah, Karantina Wilayah, Karantina Rumah Sakit.Pembatasan Sosial Berskala Besar Sedangkan Peraturan Menteri Kesehatan yang sesegera mungkin
27
dibentuk yaitu Tindakan Kekarantinaan Kesehatan di Pintu Masuk,Tata Laksana Pengawasan Kekarantinaan Kesehatan di Pelabuhan,Kekarantinaan Kesehatan Terhadap Kapal Perang, Kapal Negara, dan Kapal Tamu Negara, Tata Laksana Pengawasan Kekarantinaan Kesehatan di Bandar Udara,Kekarantinaan Kesehatan Terhadap Pesawat Udara Perang, Pesawat Udara Negara, dan Pesawat Udara Tamu Negara, Tindakan Kekarantinaan Kesehatan di Pos Lintas Batas Darat Negara,Bentuk, Isi, Tata Cara Pengajuan dan Penerbitan serta Pembatalan Dokumen Karantina Kesehatan,Tata Cara Pelaksanaan Kewenangan Tindakan Kekarantinaan Kesehatan,Penelitian dan Pengembangan Penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan,Pembinaan Penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan,Pengawasan Penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan.
3. Jurnal dibuat oleh Leo Agustino Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2020 dengan judul “Analisis Kebijakan Penanganan Wabah COVID- 19:Pengalaman Indonesia”
Corona Virus Disease-19 (COVID-19) adalah pandemi dunia yang penyebarannya sangat masif. Hingga akhir April sudah lebih dari 2 juta orang terinfeksi virus ini dengan korban meninggal dunia di atas 13 ribu, dan menyebar di 213 negara. Artikel ini menganalisis upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam menangani dan mengendalikan penyebaran COVID-19. Temuan yang diperoleh dari
28
analisis penulis adalah penanganan COVID-19 tidak berjalan maksimal dikarenakan tiga hal penting. Pertama, ketidaktanggapan (hal ini terlihat dari narasi-narasi elite pemerintah yang tampak jauh dari sense of crisis) dan lambannya respons pemerintah sehingga penyebaran virus korona semakin kurang terkendali.Kedua, lemahnya koordinasi antar-stakeholder dalam hal ini pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi masalah (yang seolah-olah) klasik, tetapi selalu muncul. Terakhir, ketidak pedulian warga terhadap imbaun pemerintah menjadi faktor ketiga yang mengakibatkan tidak optimalnya penanganan COVID-19 di Indonesia.
Keengganan warga menggunakan masker, masih ramainya orang berkumpul di rumah-rumah ibadah, kedai-kedai kopi, restoran, hingga tempat-tempat yang dilarang (oleh pemerintah) menjadi kelemahan suksesnya social distancing.
4. Jurnal dibuat oleh Martinus Aditya Pardityanto Dosen Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Semarang 2020 dengan judul “Kebijakan Pemerintah Dalam Upaya Pencegahan Wabah COVID-19”
Kebijakan yang diberikan Pemerintah pada masa pandemi untuk memutuskan rantai penularan COVID-19 diantaranya Social Distancing dan Lockdown, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Tes Masal.
Upaya saja yang dilakukan Pemerintah untuk mencegah penyebaran COVID-19 antara lain: Strategi pertama sebagai penguatan strategi dasar itu adalah dengan gerakan masker untuk semua yang mengampanyekan
29
kewajiban memakai masker saat berada di ruang publik atau di luar rumah.Strategi kedua penelusuran kontak (tracing) dari kasus positif yang dirawat dengan menggunakan rapid test atau tes cepat. Di antaranya adalah pada orang terdekat, tenaga kesehatan yang merawat pasien Covid 19, serta pada masyarakat di daerah yang ditemukan kasus banyak.Strategi ketiga adalah edukasi dan penyiapan isolasi secara mandiri pada sebagian hasil tracing yang menunjukan hasil tes positif dari rapid tes atau negatif dengan gejala untuk melakukan isolasi mandiri. Strategi keempat adalah isolasi Rumah Sakit yang dilakukan kala isolasi mandiri tidak mungkin dilakukan, seperti karena ada tanda klinis yang butuh layanan definitif di Rumah Sakit.
5. Jurnal dibuat oleh Abi Majid,Slamet Muchin,Sunariyanto Jurusan Administrasi Negara,Fakultas Ilmu Administrasi Negara,Universitas Islam Malang 2021 dengan judul “Interelation Institusional Collaboration Dalam Penanggulangan Bencana COVID-19 di Kota Malang (Study Pada Satgas COVID-19 Kota Malang”
Membangun hubungan Collaborative Govermance Collaborative Govermance membangun kerjasama dan koordinasi berserta semua jajaran yang terkait dan untuk memperkuat kerjasama dalam membangun sebuah hubungan, Collaborative Govermance dalam hal ini kepala pemerintah berserta jajaran terkait termasuk seluruh pemerintah daerah atau dinas dan parah ahli lintas sektor. Dengan adanya Collaborative Governance maka dalam penanganan COVID-19 melibatkan setiap
30
Stakeholder harus membangun komunkasi yang baik dan mempunyai persamaan persepsi dengan tujuan mewujudkan kerjasama yang baik.
Keinginan untuk melakukan Collaborative Govermance menandakan bahwa ada ketergantungan antara stakeholder yang satu dengan stakeholder yang lain muncul karena keterbatasa yang mereka miliki dalam proses penanganan COVID-19.
Model Collaborative Govermance Dalam Pembentukan Tim Satgas Oleh Pemerintah. Dalam pembentukan tim satgas COVID-19 pemerintah melibatkan para ahli, pakar lintas sektor dalam satuan tugas agar dapat melakukan penangan COVID-19 di kota malang. Dalam melakukan pananganan COVID-19 di kota malang pemerintah melibatkan setiap unsur yang tergabung dalam model pantahelix diantaranya pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha, dan media massa bersama-sama bekerjasama dalam penanganan COVID-19.Dalam penanganan COVID-19 menerapkan kebijakan Physical distensing sebagai strategi dasar penanganan COVID-19 dengnan menerapkan 1).
Gerakan memangakai masker dan mengempanyekan mewajiban memakai masker diluar ruangan pabrik dan diluar rumah. 2). Mengunakan rapit tes atau tes cepat untuk penelusuran kontak tracing dari khasus positif yang di rawat. 3). Edukasi dan penyiapan isolasi mandiri pada sebagai hasil repit tes yang menunjukan khasus negatif maupun hasil tes positif dari repit tes.
4). Isolasi dirumah sakit dilakukan kala isolasi mandiri tidak munggkin
31
dilakukan karena adanya tindakan klinis yang butuh layanan di rumah sakit.
Mekanisme yang dilakukan dalam penanganan COVID-19 yaitu mekanisme penangana pra rumahsakit dilakukan dengan mengedukasi masyarakat seperti jaga jarak saat berkomunikasi tetap tinggal dalam rumah, memakai masker, isolasi mandiri dan melakukan PSBB. Dan selanjutnya mekanisme penanganan dirumah sakit itu mamaksimlkan pelayanan, dan memastikan pasien COVID-19 mendapatkan pelayanan terbaik dan perawat yang aman dari tertularnya COVID-19.
B. Kajian Konsep
1. Bentuk Kebijakan Preventif untuk mencegah COVID-19 di Universitas Muhammadiyah Malang.
Universitas Muhammadiyah Malang termasuk kampus yang sangat menjaga protokol kesehatan di tengah pandemi COVID-19.Dengan adanya COVID-19 ini Universitas Muhammadiyah Malang membuat kebijakan preventif mulai dari kegiatan kuliah dari tatap muka menjadi dalam jaringan (Daring) ,wajib 5M (menggunakan masker,mencuci tangan,menjaga jarak,menjauhi kerumunan,dan mengurangi mobilitas),dan Universitas Muhammadiyah Malang juga menyediakan posko pengecekan kesehatan di setiap pintu masuk kampus.Kegiatan kuliah daring diberlakukan mulai tanggal 17 Maret 2020 hingga saat ini.Pemberlakuan pengecekan posko kesehatan untuk mengecheck suhu tubuh dan pengecekan kadar oksigen dalam darah (Oximeter).Penjagaan posko
32
kesehatan ini dilakukan dari 4 Juli 2020 yang dilakukan oleh relawan Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (MAHARESIGANA).Relawan ini dilakukan secara bergantian atau secara shift.Selain itu juga disetiap sudut kampus terdapat handsanitizer yang langsung di produksi oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak.
Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintahan, organisasi dan kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan berbeda dengan peraturan dan hukum. Jika hukum dapat memaksakan atau melarang suatu perilaku (misalnya suatu hukum yang mengharuskan pembayaran pajak penghasilan), kebijakan hanya menjadi pedoman tindakan yang paling mungkin memperoleh hasil yang diinginkan.Kebijakan atau kajian kebijakan dapat pula merujuk pada proses pembuatan keputusan- keputusan penting organisasi, termasuk identifikasi berbagai alternatif seperti prioritas program atau pengeluaran, dan pemilihannya berdasarkan dampaknya. Kebijakan juga dapat diartikan sebagai mekanisme politis, manajemen, finansial, atau administratif untuk mencapai suatu tujuan eksplisit.
Menurut Dr.Arwildayanto M.Pd,2018:2 Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal organisasi,yang bersifat mengikat,yang mengatur perilaku orang dengan tujuan menciptakan tata
33
nilai baru dalam masyarakat.Kebijakan dapat juga berarti sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Kebijakan dapat berbentuk keputusan yang dipikirkan secara matang dan hati-hati oleh pengambil keputusan puncak dan bukan kegiatan- kegiatan berulang yang rutin dan terprogram atau terkait dengan aturan-aturan keputusan.
Menurut Wallace RB,2006 bentuk kebijakan preventif ada 3 yaitu :
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah intervensi sebelum efek kesehatan terjadi bertujuan untuk mencegah penyakit atau cedera sebelum terjadi.
Hal ini dilakukan dengan mencegah paparan terhadap bahaya yang menyebabkan penyakit atau cedera, mengubah perilaku tidak sehat atau tidak aman yang dapat menyebabkan penyakit atau cedera, dan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit atau cedera jika paparan terjadi. Contohnya meliputi:
a) Undang-undang dan penegakan untuk melarang atau mengontrol penggunaan produk berbahaya (misalnya asbes) atau untuk mengamanatkan praktik yang aman dan sehat (misalnya penggunaan sabuk pengaman dan helm sepeda)
b) Pendidikan tentang kebiasaan sehat dan aman (misalnya makan dengan baik, berolahraga secara teratur, tidak merokok)
c) Vaksinasi
b. Pencegahan Sekunder
34
Pencegahan sekunder penyaringan untuk mengidentifikasi penyakit pada tahap awal, sebelum timbulnya tanda dan gejala, melalui tindakan seperti mamografi dan tes tekanan darah secara teratur. Contohnya meliputi:
a) Pemeriksaan rutin dan tes skrining untuk mendeteksi penyakit pada tahap awal (misalnya mammogram untuk mendeteksi kanker payudara)
b) Aspirin dosis rendah setiap hari dan/atau program diet dan olahraga untuk mencegah serangan jantung atau stroke lebih lanjut
c) Pekerjaan yang dimodifikasi dengan tepat sehingga pekerja yang terluka atau sakit dapat kembali ke pekerjaan mereka dengan selamat.
c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier mengelola penyakit pasca diagnosis untuk memperlambat atau menghentikan perkembangan penyakit melalui tindakan seperti kemoterapi, rehabilitasi, dan skrining untuk komplikasi. Contohnya meliputi:
a) Program rehabilitasi jantung atau stroke, program manajemen penyakit kronis (misalnya untuk diabetes, radang sendi, depresi, dll.)
b) Kelompok pendukung yang memungkinkan anggota untuk berbagi strategi untuk hidup dengan baik
35
c) Program rehabilitasi kejuruan untuk melatih kembali pekerja untuk pekerjaan baru ketika mereka telah pulih sebanyak mungkin.
2. Penularan COVID-19
Penyakit akibat virus corona saat ini menjadi masalah kesehatan dunia dan sangat penting untuk mendapatkan perhatian dari ilmuwan kesehatan dan masyarakat umum. Corona Virus Disease 2019 (COVID- 19) pertama diidentifikasi pada Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok(WHO, Coronavirus disease (COVID-19) pandemic, 2020). Pada 11 Februari 2020, virus ini diberi nama oleh World Health Organization (WHO) yaitu Severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS- CoV-2) dan penyakit dari virus ini yaitu coronavirus disease 2019 (COVID-19) (WHO, 2020).COVID-19 dapat menular melalui droplet/percikan pada saat berbicara, batuk, dan bersin dari orang yang terinfeksi virus corona, melalui kontak fisik seperti sentuhan atau berjabat tangan dengan penderita, menyentuh wajah, mulut, dan hidung oleh tangan yang terpapar virus Corona (Singhal, 2020). Batuk, pilek, deman, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala dan kompliksi berat seperti pneumonia dan diare hingga menyebabkan kematian merupakan gejala klinis yang muncul akibat terinfeksi COVID-19 (Huang C. , Wang, Li, &
etc, 2020). Penetapan kasus diagnosis COVID-19 dilakukan dengan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) atauyang dikenal luas dengan sebutan swab (Susilo, Rumende, Pitoyo, & dkk, 2020).
Pada 30 Januari 2020 di China terdapat 7.736 kasus terkonfirmasi
36
COVID-19, dan 86 kasus lain di laporkan dari berbagai negara seperti Korea Selatan, Thailand, Jerman, Perancis, Kamboja, Malaysia, Sri Lanka, Jepang, Nepal, Singapura, Arab Saudi, Taiwan, Filiphina, India, Australia, Kanada, dan Vietnam (WHO, 2020). Pada 2 Maret 2020, Indonesia melaporkan kasus COVID-19 pertama sejumlah 2 kasus. Pasien konfirmasi COVID-19 di Indonesia terbukti berawal dari sebuah acara di Jakarta dimana penderita kontak langsung dengan seorang warga negara asing (WNA) asal Jepang yang tinggal di Malaysia. Beberapa hari kemudian penderita mengalami demam, sesak napas, dan batuk (WHO, 2020). Di Indonesia, kasus COVID-19 terus mengalami peningkatan setiap harinya. Sampai tanggal 14 September 2020, kasus terkonfirmasi COVID- 19 di Indonesia sebanyak 221.523, sebanyak 158.405 kasus terkonfirmasi sembuh, dan sebanyak 8.841 kasus terkonfirmasi meninggal (WHO, 2020). Di Jawa Tengah sebaran kasus terkonfirmasi COVID-19 sebanyak 18.136, sebanyak 13.628 kasus terkonfirmasi sembuh, dan sebanyak 1.677 kasus terkonfirmasi meninggal. Di Kabupaten Pemalang sebaran kasus terkonfirmasi COVID-19 sebanyak 201, sebanyak 172 kasus terkonfirmasi sembuh, dan sebanyak 16 kasus terkonfirmasi meninggal. Pandemi COVID-19 telah menimbulkan berbagai macam dampak mulai dari dampak perekonomian, pendidikan, hingga kesehatan global. Di tengah- tengah kondisi pandemi COVID-19, hampir semua orang kewalahan menyerap informasi. Adanya berita setiap hari dapat membuat masyarakat ketakutan. Pengertian penularanCOVID-19 adalah faktor utama seseorang
37
untuk bersikap dan berperilaku yang benar dalam penerapan hidup sehat(Putra&Hasana,2020).Beberapa penularan penyakit,sebagaiberikut ;
a. Penularan Percikan
Percikan (droplet) secara umum merujuk pada partikel mengandung airdengan diameter lebih dari 5 microns. Percikan dapat memasuki permukaanmukosa dalam jarak tertentu (biasanya 1 meter).
Karena ukuran dan beratpercikan relatif besar, percikan tidak dapat tergantung di udara terlalu lama.Proses terbentuknya percikan pernapasan: Batuk, bersin, dan bicara Selama prosedur saluran permalasan invasif, misalnya pengisalan, intubasi trakea, gerakan yang menstimulasi batuk. Termasuk berganti posisi di tempat tidurataumenepuk punggung.
b. Penularan Udara
Penularan melalui udara atau airborne juga dikenal sebagai penularanaerosol. Aerosol adalah partikel kecil atau percikan yang tergantung di udarayang bisa ditularkan melalui udara. Secara umum, aerosol memiliki diameterlebih kecil daripada lima microns dan pantogen yang dibawa aerosol masih memiliki kemampuan menularkan setelah beterbangan dalam jarak jauh.Patogen airborne juga dapat ditularkan lewat kontak langsung. Patogen airborne dikelompokka nmenjadi: Hanya melalui udara(airborne),biasanya Mycobacterium tubercolosis, Aspergillus. Melalui beberapa rute, tapi terutama melaluiudara
38
(airborne),biasanya virus campak,virus varicella-zoster.Biasanya melalui rute lainnya, tapi juga dapat ditularkan melalui udara hanyapada kondisi tertentu, biasanya virus cacar, virus corona SARS, COVID- 19,virusinfluenza, dan norovirus.
c. Penularan Kontak
Penularan kontak merujuk pada penularan patogen melalui kontak langsung maupun tidak langsung lewan benda-benda yang membawa patogen.Penularan kontak terbagi atas: Kontak langsung Patogen ditularkan melaluikontak langsung mukosa atau kulit dengan pembawa yang terinfeksi. Darahatau cairan berdarah memasukk tubuh melalui membran mukosa atau kulit yang terluka, terutama virus. Penularan akibat kontak dengan sekresi yang mengandung patogen tertentu, biasanya untuk infeksi bakteri, virus, parasit,dan lainnya. Kontak tidak
langsung Patogen ditularkan melalui benda
ataumanusiayangterkontaminasi.Patogen penyakit menular yang berhubungan dengan pencernaan biasanya ditularkan melalui kontak tidak langsung.Patogen penting yang ditularkan melalui kontak tidak langsung seperti MRSA,VRE,dan Clostridium difficile.
d. Kontak Dekat
Kontak dekat adalah orang-orang yang memiliki kontak dengan pasien yang terkonfirmasi atau diduga terjangkit COVID-19. Di dalamnya termasuksituasi sebagai berikut: Mereka yang tinggal, belajar,
39
bekerja, atau melakukan kontak dekat bentuk lain dengan pasien.
Personel medis,anggota keluarga,atau orang lain yang sempat melakukan kontak dengan pasien tanpa langkah-langkah perlindungan diri. Pasien lain dan orang-orang yang menemani yang berbagi bangsal dengan pasien terjangkit. Mereka yang dalam kendaraan transportasi atau lift dengan pasiean. Mereka yang ditentukan sebagai kontak dekat melalui penyelidikan lapangan.
3. Gambaran Umum COVID-19
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut coronavirus 2 (Sars-CoV- 2).Januar Kustiandi (Lai, Shih, Ko, Tang, & Hsueh, 2020). Dikarenakan tingkat penyebarannya yang cepat dan luas, COVID-19 kemudian oleh WHO secara resmi dinyatakan sebagai pandemi pada tanggal 13 Maret 2020 (WHO, 2020). Dikonfirmasi bahwa transmisi virus ini dapat menular dari manusia ke manusia.Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 yakni dengan menerapkan social distancing.Implementasi social distancing dilakukan dengan mengajak seluruh masyarakat, institusi, komunitas, pemerintahan, dan lembaga dunia menjaga jarak satu sama lain. Tidak hanya menerapkan sosial distancing, untuk menekan laju penularan COVID-19, upaya yang sudah dilakukan pemerintah Indonesia yaitu menghimbau masyarakat untuk menjaga jarak fisik (physical distancing), kerja dari rumah, belajar di rumah, hingga beribadah di rumah.
40
Kegiatan Lockdown merupakan bagian dari peraturan perundang- undangan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan yang membahas Kekarantinaan Kesehatan di Pintu Masuk dan di wilayah dilakukan melalui kegiatan pengamatan penyakit dan Faktor Risiko Kesehatan Masyarakat terhadap alat angkut, orang, barang, dan/atau lingkungan, serta respons terhadap Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dalam bentuk tindakan Kekarantinaan Kesehatan.Karantina adalah pembatasan kegiatan atau pemisahan seseorang yang terpapar penyakit menular sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, meskipun belum menunjukkan gejala apapun atau sedang berada dalam masa inkubasi, atau pemisahan peti kemas, alat angkut, atau barang apapun yang diduga terkontaminasi dari orang atau barang yang mengandung penyebab penyakit atau sumber bahan kontaminasi lain untuk mencegah kemungkinan penyebaran ke orang atau Barang di sekitarnya.
Dalam pasal 9 Undang-Undang Nomor 6 tahun 2018 menyebutkan bahwa penyelenggaraan karantina bertujuan untuk melindungi masyarakat dari penyakit dan atau faktor resiko Kesehatan Masyarakat yang berpotensi menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, mencegah dan menangkal penyakit dan/atau Faktor Risiko Kesehatan Masyarakat yang berpotensi menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, meningkatkan ketahanan nasional di bidang kesehatan masyarakat, memberikan pelindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dan
41
petugas kesehatan.Kebijakan pemerintah lain yang muncul akibat wabah virus corona terlihat dengan adanya penutupan beberapa akses jalan dalam waktu tertentu, pembatasan jumlah transportasi, pembatasan jam operasional transportasi, yang tentunya kebijakan itu dimaksudkan untuk dapat menahan laju aktifitas masyarakat keluar rumah. Hampir seluruh kegiatan dirumahkan, dan kebijakan ini disebut dengan lockdown.
Lockdown dapat membantu mencegah penyebaran virus corona ke suatu wilayah, sehingga masyarakat yang berada di suatu wilayah tersebut diharapkan dapat terhindar dari wabah yang cepat menyebar tersebut.Mengantisipasi dan mengurangi jumlah penderita virus corona di Indonesia sudah dilakukan di seluruh daerah. Diantaranya dengan memberikan kebijakan membatasi aktifitas keluar rumah, kegiatan sekolah dirumahkan, bekerja dari rumah (work from home), bahkan kegiatan beribadah pun dirumahkan. Hal ini sudah menjadi kebijakan pemerintah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang sudah dianalisa dengan maksimal tentunya.
Pada 27 Januari 2020, Kebijakan yang pertama dilakukan oleh Indonesia adalah mengeluarkan pembatasan perjalanan dari pusat COVID- 19 yaitu provinsi Hubei. Pada saat yang sama Indonesia juga mengevakuasi 238 orang Indonesia dari Wuhan. Setelah terjadi laporan awal kasus yang terinfeksi, Indonesia mulai menyadari kekejaman situasi saat itu serta mengeluarkan berbagai kebijakan dan tindakan untuk mengatasi pandemic COVID-19, termasuk menunjuk 100 rumah sakit
42
umum dalam negeri sebagai Rumah Sakit Rujukan pada 3 Maret 2020.
Sedangkan pada 8 Maret 2020, Indonesia meningkatkan jumlah Rumah Sakit Rujukan menjadi 227 untuk mengatasi jumlah pasien COVID-19 yang terus meningkat. Akan tetapi, upaya tersebut tidak dapat mengatasi permasalan pandemi COVID-19, dikarenakan jumlah korban terus meningkat dengan cepat (WHO, 2020). Pemerintah Indonesia juga menerapkan langkah social distancing bagi masyarakat serta memberikan prinsip protocol kesehatan, yaitu gunakan masker, cuci tangan/hand sanitizer, jaga jarak/hindari kerumunan, meningkatkan daya tahan tubuh, konsumsi gizi seimbang, kelola penyakit comorbid dan memperhatikan kelompok rentan serta perilaku hidup bersih dan sehat. Namun pada kenyataannya banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan yang diberikan dalam menghadapi pandemi COVID-19.
Selain itu juga, terdapat keputusan Presiden Indonesia mengenai satuan tugas untuk respon cepat COVID-19. Pada akhir Maret 2020, Satuan Tugas Indonesia untuk COVID-19 (Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19) mengeluarkan Pedoman untuk Respon Cepat Medis dan Aspek Kesehatan Penanganan COVID-19 di Indonesia.
Panduan ini menargetkan tenaga medis dan masyarakat umum dalam hal menginformasikan cara untuk mengurangi dampak dan tingkat kematian.
Informasi termasuk protokol untuk tes cepat menggunakan RDT, pengujian laboratorium, penanganan pasien, dan sarana penjangkauan/komunikasi. Protokol untuk pengujian cepat dan pengujian
43
laboratorium mengenali tiga tingkat risiko: tanpa gejala, orang di bawah pengawasan (ODP/Orang Dalam Pemantauan), dan pasien di bawah pengawasan. Tes ini melibatkan isolasi orang yang dicurigai, pengujian cepat, dan pada akhirnya, jika diperlukan, PCR.Sedangkan Kebijakan yang baru-baru ini yang dilakukan pemerintah yaitu PSBB (Pembatasan Sosial Beskala Besar). PSBB tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 21 Tahun 2020 tentang PSBB dalam rangka percepatan penanganan coronavirus disease (COVID-19).
Beberapa hal yang dibatasi selama PSBB, diantaranya aktivitas sekolah dan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan di fasilitas umum, kegiatan sosial dan budaya, serta operasional transportasi umum.Namun, kenyataannya masyarakat banyak yang tidak mematuhi peraturan yang ada. maka dari itu meskipun pemerintah telah banyak berupaya untuk memutus mata rantai COVID-19 tetapi harus didukung dan memerlukan kesadaran yang lebih dari masyarakat untuk bersama-sama memutus mata rantai COVID-19.