PERAN PSIKOLOGI AGAMA DALAM PENGUATAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Musriaparto
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hamzah Fansuri Subulussalam Aceh Email: [email protected]
Abstract
In an effort to create people who know, live, believe, and practice religious teachings completely, so important to know that Islamic Religious Education cannot be separated from the touch of psychological aspects, especially the Psychology of Religion. Through the Psychology of Religion, it is hoped that the material for Islamic Religious Education has a psychological-critical element to better understand the religious phenomena related to the substance of Islamic Religious Education. Through the comparative approach, this study found that the Psychology of Religion played a role in strengthening the values of Islamic Religious Education. Some of these roles are understanding the stages of the religious soul of a student in order to adjust the presentation of the material, anticipating the occurrence of apostasy through the study of the psychology of religious conversion, understanding the meaning of mental health and mental disorders from an Islamic perspective, and strengthening religious tolerance.
Keywords: Psychology of Religion, Islamic Religious Education, Religious Tolerance
Abstrak
Sebagai sebuah upaya dalam menciptakan insan yang mengenal, menghayati, mengimani, mengamalkan ajaran agama secara kaffah, maka pendidikan Agama Islam tidak lepas dari sentuhan aspek-aspek psikologis, khususnya Psikologi Agama. Melalui Psikologi Agama diharapkan materi Pendidikan Agama Islam memiliki unsur psikologi- kritis untuk semakin memahami fenomena keberagamaan yang terkait substansi Pendidikan Agama Islam. Dengan menggunakan studi komparasi, penelitian ini kemudian menemukan bahwa Psikologi Agama berperan dalam penguatan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam. Beberapa diantara peran tersebut yaitu Memahami tahapan jiwa agama seorang peserta didik dalam rangka menyesuaikan sajian materi, mengantisipasi terjadinya pemurtadan melalui kajian psikologi konversi agama, memahami makna kesehatan jiwa dan gangguan kejiwaan perspektif agama Islam dan penguatan toleransi beragama.
Kata Kunci: Psikologi Agama, Pendidikan Agama Islam, Toleransi Beragama
A. PENDAHULUAN
Pendalaman Materi Pendidikan Agama Islam atau PAI meniscayakan kubersinggungan dengan kajian lain yang saling mendukung. Tujuan Pendidikan Agama Islam adalah untuk membawa manusia kepada pemahaman keagamaan, penghayatan dan pengamalan yang lebih baik. Dengan demikian, jika tidak dibarengi dengan nilai-nilai
psikologis maka tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Ketika materi agama disampaikan tapi aspek-aspek kejiwaan peserta didik tidak diperhatikan akan menyebabkan materi tidak terinternalisasi dengan baik ke dalam jiwa peserta didik.
Begitu pun pemberian materi Pendidikan Agama Islam tanpa memahami dan menyesuaikan dengan tahapan-tahapan perkembangan spiritual pada anak dan remaja akan menghasilkan model pembelajaran yang tidak tepat.
Selama ini, penyajian materi Pendidikan Agama Islam belum berkolaborasi secara utuh dengan aspek-aspek historis, sosiologis dan psikologis kecuali baru berkutat pada persoalan normatif semata. Dengan demikian, materi Pendidikan Agama Islam yang diajarkan menjadi kaku dan tidak menemukan konteksnya. Maka, penguatan aspek historis, sosiologis dan psikologis perlu untuk mendukung tercapainya pemahaman keagamaan, penghayatan dan pengamalan yang lebih baik. Terlebih di era modern, dimana aspek-aspek ilmiah-sosiologis perlu dikembangkan dalam pembelajaran agama untuk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam yang holistik, universal dan dinamis.
Dalam aspek psikologis misalnya, diperlukan kolaborasi intens antara pemberian materi PAI dengan penguatan dimensi kejiwaan khususnya kajian mengenai Psikologi Agama pada peserta didik. Artikel ini kemudian ingin mengkaji aspek hubungan tersebut sambil mencari format kolaborasi yang sesuai antara Pendidikan Agama Islam dengan Psikologi Agama. Hasil yang diharapkan adalah formulasi khusus dimana Psikologi Agama dapat menjadi penguat dan berperan penting dalam penyajian materi-materi Pendidikan Agama Islam.
B. M ETODE
Penelitian ini menggunakan studi komparasi untuk membandingkan dua variabel untuk melihat hubungan diantara keduanya. Menurut Winarno Surakhmad, model penelitian komparasi bersifat deskriptif, dimana penelitian ini berupaya menemukan pemecahan masalah melalui analisis hubungan sebab akibat sekaligus memilih faktor- faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki atau dibandingkan (Winarno Surakhmad, 1986:84). Sedangkan menurut Nazir, penelitian komparasi adalah model penelitian deskriptif yang berusaha menjawab secara mendasar sebab-akibat sesuatu serta menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya atau munculnya fenomena tersebut (Moh. Nazir, 2005:58).
Dalam penelitian ini, studi komparasi yang dilakukan lebih kepada pencarian titik temu diantara dua variabel untuk menemukan satu jawaban. Adapun jawaban yang ingin ditemukan dalam penelitian ini adalah sejauh mana variabel pertama memberi pengaruh bagi perkembangan nilai-nilai substantif dari variabel kedua. Dengan kata lain, setelah membandingkan dan mencari titik temu antara kajian Psikologi Agama dengan Pendidikan Agama Islam, ditemukan titik temu yang menghubungkan diantara keduanya.
Dari titik temu ini kemudian disusun suatu gagasan dan ide bagaimana Psikologi Agama memainkan peran bagi penguatan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam. jawaban dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi para pendidik dan pemangku kepentingan khususnya pada bidang studi Pendidikan Agama Islam baik di lingkungan sekolah dan madrasah maupun perguruan tinggi, untuk lebih menguatkan aspek-aspek Psikologi Agama dalam pendalaman materi-materinya.
C. PEMBAHASAN
1. Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam, Objek Kajian dan Ruang Lingkupnya.
Secara umum, pendidikan adalah proses pembinaan, pembentukan, pengarahan, pencerdasan dan pelatihan kepada anak didik secara formal atau non formal dengan tujuan untuk mendidik pribadi yang cerdas, berkepribadian, berketerampilan dan berdaya guna di masyarakat. Pendidikan lahir dari upaya manusia untuk mengembangkan peradaban dan mencapai kemajuan. Dengan pendidikan, manusia menggembleng sesama, melakukan transfer pengetahuan, mengembangkan pemahaman serta berupaya saling mengenal antara satu dengan yang lain. Pendidikan adalah pelatihan menyeluruh meliputi aspek kognitif, psikologi dan fisiologi. Selain itu, pendidikan juga menyangkut upaya manusia mengembangkan hubungan yang baik secara horizontal dan vertikal. Hubungan horizontal adalah dengan manusia lainnya dan alam semesta sedangkan hubungan vertikal adalah hubungan dengan Tuhan dan hal-hal gaib lainnya.
Dalam hal ini, Pendidikan Agama Islam dimaksudkan supaya peserta didik mampu memahami, menghayati, meyakini serta mengamalkan ajaran Islam. mereka diharapkan menjadi pribadi yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia dan bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis memalui proses kegiatan pembimbingan, pengajaran, pelatihan serta praktik dan pengamalan (Dahwadin dan Farhan Sifa Nugraha, 2019:7-8). Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan dijelaskan bahwa Pendidikan agama dan keagamaan
merupakan pendidikan dilaksanakan melalui mata pelajaran atau kuliah pada semua jenjang pendidikan. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk memberikan pengetahuan serta membentuk sikap, kepribadian manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga keterampilan dan kemampuan peserta didik dalam menyikapi nilai- nilai agama, serta untuk mempersiapkan peserta didik menjadi manusia yang dapat menjalankan dan mengamalkan ajaran agamanya.
Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam menghendaki perkembangan kehidupan keagamaan manusia yang menjadi semakin berkembang dengan dua indikator vertikal dan horizontal, melalui penyempurnaan pengalaman dan pengamalan dalam hubungan dengan manusia dan alam serta hubungan dengan Tuhan. Pengaturan Pendidikan Agama Islam di Indonesia menunjukkan amanah penting sekaligus harapan bagi para pendidik dan pengkaji Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Islam harus mampu menjadikan generasi muda Indonesia memiliki sikap dan budi luhur selayaknya masyarakat Indonesia. Generasi muda yang diharapkan adalah mereka berkarakter religius dan mengamalkan serta mempraktikkan seluruh ajaran agamanya, demi tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk tujuan demikian, ruang lingkup Pendidikan Agama Islam selalu terbuka dan berpeluang untuk dikembangkan.
2. Psikologi Agama, Objek Kajian dan Cakupannya.
Psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia. Ilmu ini telah berkembang sejak awal abad ke 20 melalui berbagai metode, cara, pembahasan maupun hasil-hasil penelitian dan capaian konseptual lainnya. Penelitian psikologi dapat dianggap sebagai suatu sistem dalam berbagai metode penelitian yang diarahkan kepada pemahaman terhadap apa yang diperbuat, dipikirkan dan dirasakan oleh manusia (Robert, H Thouless, 2000:13).
Agama dalam ruang lingkup psikologi adalah penghayatan dan tindakan yang didasari oleh dorongan-dorongan dan keyakinan terhadap norma transenden dan tuhan.
Dalam the encyclopedia of philosophy disebutkan beberapa komponen-komponen agama yang cenderung bersifat psikologis yaitu: Pertama, kepercayaan akan adanya wujud supranatural; Kedua, kecenderungan untuk membedakan antara yang sakral dan yang profan; Ketiga, tindakan ritual yang berpusat kepada sesuatu yang dianggap sakral;
Keempat, mengamalkan tuntutan moral yang diyakini berasal dari tuhan; Kelima, perasaan khas agama meliputi ketakjuban, perasaan misteri, rasa bersalah, pemujaan.
Mereka yang cenderung bangkit (bersemangat) ketika sedang melaksanakan praktik ritual di depan objek sakral dan merasa sedang terhubung dengan tuhan; Keenam, sembahyang, peribadatan dan berbagai komunikasi keagamaan lainnya; Ketujuh, pandangan dunia (world-view) atau gambaran umum tentang dunia secara keseluruhan dan tempat individu di dalamnya. Gambaran ini mengandung penjelasan terperinci tentang tujuan menyeluruh dari dunia ini dan petunjuk tentang bagaimana individu meletakkan dirinya dalam dunia;
Kedelapan, pengelolaan kehidupan secara menyeluruh yang didasari oleh pertimbangan padangan dunia dan norma tersebut. Kesembilan, adanya kelompok sosial yang diikat oleh pandangan dunia keagamaan yang sama sehingga mewujudkan komunitas, solidaritas dan institusi (Jalaluddin Rakhmat, 2003:28)
Lebih jauh lagi, dalam mengkaji agama, Robert, H Thouless menyebutkan bahwa fungsi paling esensial bagi seorang peneliti Psikologi Agama adalah mereka mengkaji dan mengamati gejala-gejala keagamaan tanpa melibatkan diri dalam penilaian terhadap kebenaran ajaran-ajaran agama atau berusaha memuji nilai-nilainya (Robert, H Thouless, 2000:02). Dengan kata lain, Psikologi Agama tidak melakukan penyelidikan terhadap ajaran materil (teologi dan ritual) dasar-dasar agama dan tidak pula menjadi hakim yang membenarkan atau menyalahkan ajaran agama. Objek dan lapangan Psikologi Agama adalah menyangkut gejala kejiwaan dalam kaitannya dengan realisasi keagamaan (Amaliyah) dan mekanisme diantara keduanya. Dalam hal ini, menurut Zakiyah Darajat, Psikologi Agama membahas tentang kesadaran agama (religious consciousness) dan pengalaman keagamaan (religious experience) (Sururin, 2004:06) Di samping itu, psikologi agama mempelajari pula pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang dan faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut (Endang Kartikowati dan Zubaedi, 2016).
Dengan demikian Psikologi Agama selain berkontribusi dalam menjelaskan gejala-gejala jiwa keagamaan, juga secara khusus merincikan model pertumbuhan dan perkembangan jiwa keagamaan pada seseorang dimana faktor-faktor tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pendidik dalam menguatkan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam kepada peserta didik. Selain itu, titik awal Psikologi Agama yang berangkat dari objektivisme dan positivisme dapat mendukung model pengembangan materi Pendidikan Agama Islam yang lebih ilmiah, objektif dan universal. Di satu sisi, subjektivitas pendidik dan pengkaji Pendidikan Agama Islam tetap memberi warna keislaman secara luhur,
namun disisi lain, muatan objektivitas dan keilmiahan Pendidikan Agama Islam dapat disajikan dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas dan para peneliti.
3. Kontribusi Psikologi Agama dalam penguatan Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam.
Pendidikan Agama Islam mengaktualisasikan nilai-nilai keagamaan tidak saja dalam ranah kognitif dan praktik, tapi juga masuk ke dalam jiwa dan mental peserta didik.
Dari sini, Psikologi Agama kemudian berperan dan memiliki fungsi kontribusinya. Kajian Psikologi Agama yang berusaha memahami jiwa keagamaan pada manusia dapat menjadi jalan masuk bagi Pendidikan Agama Islam untuk semakin memperteguh dan menguatkan nilai-nilainya. Dengan kontribusi yang menyeluruh dari Psikologi Agama, nilai-nilai Pendidikan Agama Islam lebih dapat teraktual dalam diri peserta didik secara lebih komprehensif. Secara lebih terperinci, berikut beberapa kontribusi Psikologi Agama dalam penguatan nilai-nilai tersebut.
a) Memahami tahapan jiwa agama seorang peserta didik.
Dalam Pendidikan Agama Islam, perlu untuk mengetahui gambaran kondisi umum terhadap jiwa peserta didik. Materi yang diajarkan juga harus disesuaikan dengan kondisi kejiwaan peserta didik. Menurut Dzakiyah Darajat walaupun usia pertumbuhan jiwa keagamaan pada anak-anak dihitung dari sejak umur 0 sampai 12 tahun, tapi sesungguhnya potensi tersebut telah mulai berkembang sejak anak di dalam kandungan.
Dengan demikian seorang tua harus sudah menanamkan jiwa keagamaan pada anak diri anak bersamaan dengan pertumbuhan pribadinya. Sebab, melalui orang tua dan lingkungan keluargalah si anak mulai mengenal Tuhannya. Sikap dan tindakan orang tua serta lingkungan keluarga besar sangat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan jiwa agama pada anak (Bambang Syamsul Arifin, 2008:47).
Jiwa keagamaan pada anak-anak seperti yang ditulis oleh Jalaluddin disebabkan oleh dua hal yaitu: Rasa ketergantungan (sense of defence), dan instik keagamaan. Rasa ketergantungan dikemukakan oleh Thomas melalui teori four wishes. Menurutnya ada 4 keinginan yang bersumber dari rasa ketergantungan yaitu keinginan untuk dilindungi, keinginan untuk pengalaman baru, keinginan untuk mendapat tanggapan dan keinginan untuk dikenal. Berdasarkan pengalaman dan kerjasama dari beberapa keinginan tersebut, sejak kecil bayi dilahirkan dalam keadaan ketergantungan. Ia kemudian melampaui
pengalaman yang diterima dari lingkungan dan membentuk serta mengembangkan jiwa keagamaan dalam diri (Bambang Syamsul Arifin, 2008:49).
Adapun instik keagamaan menurut Woodworth merupakan sesuatu yang telah dimiliki oleh bayi sejak dilahirkan. Tindakan keagamaan yang belum tampak pada bayi disebabkan oleh fungsi psikologis dan fisiologis yang menopang jiwa keagamaan tersebut belum berfungsi secara sempurna. Sebagai contoh, insting sosial pada anak merupakan potensi bawaan sebagai homo socius yang baru akan berfungsi setelah si anak dapat bergaul dan mematangkan kemampuan berkomunikasi. Jadi, baik insting keagamaan maupun insting sosial pada anak akan berfungsi setelah fungsi psikologis dan fisiologis yang mendukung pertumbuhan keduanya telah optimal (Bambang Syamsul Arifin, 2008:49). Dengan demikian, walaupun si anak belum memperlihatkan respons, stimulus- stimulus keagamaan sejatinya tetap harus diberikan.
Dalam The Development of Religious on Childern disebutkan bahwa anak memiliki tiga fase pertumbuhan keagamaan yaitu the fairy tale stage (fase dongen), the realistic stage (fase realistis) dan the individual stage (fase individual) (Bambang Syamsul Arifin, 2008:49).
Fase pertumbuhan jiwa keagamaan pada anak-anak
Deskripsi Materi keagamaan
yang sesuai untuk diajarkan
the fairy tale stage (fase dongen)
Pada fase ini konsep tuhan yang dikenal oleh anak lebih kepada bersifat fantasi dan emosional. Ketika pada masa ini, kehidupan seorang anak tampak dipengaruhi oleh kehidupan fantasi sehingga deskripsi-deskripsi ketuhanan yang lebih fantastis lebih mudah diterima.
Tentang tauhid tuhan maha esa, tuhan maha melihat dan maha mengatur
the realistic stage (fase realistis)
Pada fase ini, anak sudah mulai kritis sehingga gambaran dan deskripsi ketuhanan dianggap harus lebih realistis. Pada fase ini anak juga telah mulai merefleksikan keyakinannya dengan komunitas sehingga mereka mulai diajarkan interaksi sosial dalam mengamalkan jiwa keagamaan.
Tentang jiwa sosial, akhlak dan tasawuf dan shalat berjamaah
the realistic stage (fase realistis) dan
Pada fase ini, manusia telah merefleksikan tuhan dalam konsep yang lebih pakem dari sebelumnya.
Tentang hari akhir, tentang dosa dan pahala dan hal-hal
the individual stage (fase individual).
Sifat ketuhanan dalam fase ini lebih konservatif, lebih personal sekaligus humanis.
yang meningkatkan tanggung jawab terhadap perbuatan pribadi
Hal yang sama juga berlaku pada fase kejiwaan pada usia remaja dan dewasa.
Setiap masa memiliki fase, kecenderungan dan pengaruh yang berbeda-beda. Sehingga, materi Pendidikan Agama Islam harus disesuaikan dengan kesiapan psikologis peserta didik berdasarkan fase-fase perkembangan mereka.
b) Mengantisipasi terjadinya pemurtadan, melalui kajian psikologi konversi agama.
Konversi Agama adalah istilah umum yang diberikan pada proses yang menjurus pada penerimaan suatu sikap keagamaan, baik secara berangsur-angsur maupun secara tiba-tiba (Robert H Thouless, 2000:189). Konversi agama sejatinya mengandung makna yang luas mencakup setiap perubahan pada intelektual, moral dan sikap seseorang terhadap agama yang dianutnya. Pada tahapan yang lebih radikal, konversi agama dipahami sebagai proses perpindahan identitas seseorang dari satu agama/ keyakinan ke agama/keyakinan yang berbeda. Dalam Islam, seorang yang berkonversi dari agama di luar Islam dapat memilih menjadi pemeluk agama Islam (dengan dasar motif apa pun) disebut mualaf atau orang yang dilembutkan hatinya. Sebaliknya mereka yang berkonversi keluar dari Islam disebut dengan murtad.
Psikologi Agama, berusaha melihat fenomena konversi agama secara lebih objektif, dengan mengkaji motif-motif terjadinya konversi, objek konversi dan sikap serta moral orang yang melakukan konversi. Kajian demikian dapat memberi kontribusi bagi deteksi dini terhadap penyimpangan yang mengarah kepada pemurtadan. Penambahan materi penguatan akidah dan syari’ah perlu diberikan untuk menggembleng sikap tegas dalam beragama bagi peserta didik. Begitu pun pengajaran tasawuf menjadi perlu dalam rangka mengajarkan aspek-aspek moral dan spiritual dari agama. Pemahaman psikologi konversi agama dapat digunakan sebagai penguatan materi Pendidikan Agama Islam.
Psikologi Agama dapat hadir untuk memahami gejala dan potensi konversi agama bagi peserta didik. Selain itu, psikologi agama juga dapat merekomendasikan muatan- muatan tambahan dalam materi Pendidikan Agama Islam dalam upaya menanggulangi gejala konversi agama. Materi antisipasi pendangkalan akidah juga perlu melihat aspek- aspek psikologis sehingga penanganan terhadap pelaku konversi agama tidak bersifat
pukul rata atau dianggap sama. Penguatan kajian spiritual dan mistisisme dapat membantu dalam upaya pencegahan terjadinya konversi agama.
c) Memahami makna kesehatan jiwa dan gangguan kejiwaan perspektif agama Islam.
Kesehatan jiwa sering disebut dengan kesehatan mental. Dzakiyah Darajat meramu beberapa pandangan psikolog mengenai ciri orang yang memiliki kesehatan mental yaitu Pertama, mereka yang terhindar dari gangguan penyakit jiwa (neurosis/psikosis); Kedua, mereka yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungan; Ketiga, terwujudnya keharmonisan antara fungsi- fungsi jiwa, memiliki kemampuan menyelesaikan persoalan serta terhindar dari pertentangan batin dan konflik; Dan keempat, pengetahuan dan perbuatan yang digunakan untuk mengembangkan bakat untuk mencapai kebahagiaan eksistensial bagi diri (Sururin, 2004:142-143)
Keempat ciri tersebut merupakan definisi terhadap manusia secara normal. Bahwa manusia normal tidak memiliki gangguan jiwa, mampu beradaptasi, memiliki fungsi kejiwaan dan kemampuan menyelesaikan masalah secara stabil. Dalam Islam, ciri demikian dimiliki oleh orang yang memiliki kedekatan spiritual dengan agama dan Tuhan. Menurut William James, orang yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai agama cenderung mempunyai jiwa yang lebih sehat. Kondisi ini ditampilkan dalam sikap positif, optimis, spontan, bahagia, penuh gairah dan vitalitas. Sebaliknya mereka kurang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai agama akan merasakan agama sebagai kebiasaan yang membosankan, perjuangan yang penuh beban dan berat dan mereka umumnya memiliki jiwa yang sakit. Orang yang jauh dari nilai-nilai agama akan dihinggapi oleh perasaan penyesalan terhadap diri, rasa bersalah, murung dan penuh tekanan. Disinilah kemudian agama memiliki peran pendidikan dimana remaja yang sedang tumbuh dan psikologi yang belum mapan dan matang perlu diperkuat bagi mereka kemampuan pengendalian diri melalui nilai-nilai moral dan agama (Dahwadin dan Farhan Sifa Nugraha, 2019:7-8).
Dalam Islam, kedudukan, fungsi dan peran kesehatan mental dinyatakan secara lebih jelas. Maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi adalah untuk beribadah dalam pengertian yang luas. Ibadah yang dimaksud disini adalah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia meliputi i'tikad, pikiran, amal sosial, jasmani, rohani,
akhlak dan keindahan. Ibadah juga dipahami sebagai upaya manusia mengaktualkan potensi dirinya meliputi potensi ilmu, kekuasaan, sosial, kekayaan, pendengaran, penglihatan dan pemikiran serta berbagai potensi lainnya (Sururin, 2004: 143). Jika tujuan ibadah adalah untuk mencapai keharmonisan dalam hubungan vertikal dan horizontal dan disisi lain capaian demikian mengindikasikan pada kesehatan mental versi Islam maka jelas bahwa Islam memiliki ukuran yang tegas dalam menentukan mental dan jiwa yang sehat atau tidak sehat. Dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental dalam Islam adalah ibadah dalam pengertian luas dan pengembangan potensi diri yang dimiliki manusia dalam rangka pengabdian kepada Tuhan dan agama yang disebut sebagai nafs dan nafs muthmainnah.
d) Penguatan toleransi beragama.
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa Psikologi Agama adalah kajian objektif yang berusaha untuk tidak memberi penilaian terhadap ajaran agama atau memujinya.
Namun demikian, dalam studi Psikologi Agama, diperlukan sikap empati untuk menjaga objektivitas dalam upaya memahami perilaku keagamaan. Menurut Robert, H Thouless, walaupun secara langsung kajian terhadap agama tidak memberi penilaian secara langsung terhadap ajaran agama orang lain, tapi secara tidak langsung ia memberi sumbangan terhadap toleransi beragama. Dengan demikian, selain sebagai sumbangan langsung terhadap semangat keagamaan, kajian Psikologi Agama seharusnya mengoreksi keseimbangan untuk meningkatkan sikap toleransi dan saling pengertian (Robert, H Thouless, 2000:03). Lebih jauh Robert, H Thouless menyebutkan,
“Toleransi agama telah berkembang pesat sejak awal abad ini; perbedaan- perbedaan agama tidak lagi dianggap sebagai alasan untuk saling mencela melainkan ajakan untuk berusaha untuk saling memahami. Masing panjang jalan yang harus kita lalui. Memang saling pengertian terhadap perbedaan agama tidak hanya memerlukan iktikad yang baik tapi juga pengetahuan yang benar….. akan tiba suatu saat ketika penerapan metode-metode psikologik dalam pengkajian terhadap agama akan membantu tercapainya toleransi dan saling pengertian diantara manusia (Robert, H Thouless, 2000:03).
Dengan demikian, kehadiran kajian Psikologi Agama dapat menjadi jembatan bagi tumbuh kembang jiwa dan semangat toleransi beragama. Wacana pemerintah untuk menguatkan sikap moderat dalam beragama yang akhir-akhir ini semakin digencarkan harus disikapi oleh para pendidik dan pengkaji Pendidikan Agama Islam. Aktualisasi nilai-nilai moderasi melalui pemahaman mendalam pada aspek Psikologi Agama harus
tertuang dalam materi, kurikulum, media dan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
D. KESIMPULAN
Pendidikan Agama Islam adalah upaya pembelajaran yang diberikan kepada peserta didil untuk melatih pemahaman, penghayatan dan keyakinan mereka terhadap agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis melalui proses bimbingan, pengajaran, latihan, praktik dan pengamalan. Pendidikan Agama Islam menjadi satu materi yang secara resmi diajarkan untuk membentuk jiwa religious, beretika dan berwawasan bagi peserta didik yang komponen dan tujuannya diatur dalam sistem perundang-undangan dan peraturan pemerintah. Dengan demikian kajian mengenai Pendidikan Agama Islam, terkait strategi, problem, wacana dan kontribusinya menjadi sangat perlu. Sedangkan Psikologi Agama adalah sebuah kajian yang mempelajari gejala jiwa keagamaan secara ilmiah dan objektif. Dalam hal ini, melalui studi komparasi peneliti ingin menemukan titik temu diantara Pendidikan Agama Islam dan Psikologi Agama mengingat aspek-aspek pemahaman kejiwaan peserta didik menjadi sesuatu yang belum secara optimal dikembangkan dalam upaya menyajikan materi Pendidikan Agama Islam. Penulis melalui studi ini kemudian mengharapkan sebuah kontribusi bagi penguatan nilai-nilai pembelajaran dan pengembangan materi Pendidikan Agama Islam.
Penelitian ini kemudian menemukan beberapa kontribusi Psikologi Agama bagi penguatan nilai-nilai dan pemantapan materi Pendidikan Agama Islam khususnya di Indonesia. Beberapa diantara peran kontributif tersebut diantaranya: Pertama, memahami tahapan jiwa agama seorang peserta didik untuk penyesuaian sajian materi.
Karena melalui pemahaman yang tepat terhadap perkembangan jiwa peserta didik, maka materi yang disajikan akan lebih sesuai dan efektif. Kedua adalah memahami dan mengantisipasi terjadinya pemurtadan, melalui kajian psikologi konversi agama. Selama ini, penanganan terhadap kasus pemurtadan menjadi lebih berorientasi teologis daripada kajian psikologi. Dalam studi Psikologi Agama, kajian konversi agama menjadi salah satu materi yang dikembangkan guna memahami fenomena jiwa keagamaan mereka yang berpindah agama. Pemahaman yang matang terhadap jiwa keagamaan akan menjadi instrumen yang bagus untuk menangani gejala pemurtadan dan pindah agama. Ketiga, memahami makna kesehatan jiwa dan gangguan kejiwaan perspektif agama. Hal ini menjadi penting untuk mengembangkan dan mengkomparasikan gejala gangguan mental
perspektif psikologi konvensional dengan yang terdapat dalam referensi-referensi keagamaan Islam. pada umumnya, psikopatologi dalam Islam lebih kepada penyakit jiwa, hati dan ruh (nafs, qalb dan ruh). Perbedaan kacamata dalam melihat abnormalitas menarik untuk semakin dikembangkan. Misalnya abnormalitas barat berdasarkan kepada etika umum, sedangkan abnormalitas dalam Islam lebih kepada ketaatan dan ketakwaan, sejauh mana seseorang menyimpang dari dua kata kunci tersebut. Keempat adalah penguatan toleransi beragama. Seperti yang disebutkan oleh Robert, H Thouless bahwa Psikologi Agama dapat berkembang menjadi instrumen untuk menumbuhkembangkan semangat toleransi. Hal ini menjadi mungkin mengingat Psikologi Agama mengarahkan kepada pemahaman terhadap aneka model pengamalan dan pengalaman keagamaan sehingga membuka wawasan dan mengembangkan wacana toleransi.
DAFTAR PUSTAKA
Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam (Yogyakarta: Pajar Pustaka Baru, 2006)
Dahwadin, Farhan Sifa Nugraha, Motivasi dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Wonosobo, Mangku Bumi Media, 2019)
Hasbi W, Harrys Pratama Teguh, Pendidikan Agama Islam Era Modern, (Yogyakarta, Leutika Prio, 2019)
Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar, Metode, dan Teknik (Bandung, Tarsito, 1985)
Moh. Nazir, Metode Penelitian (Jakarta, Ghalia Indonesia, 2005)
Robert H. Thouless, Pengantar Psikologi Agama, terj. Manchun Husein (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2000)
Sururin, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004)
Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama Sebuah Pengantar (Bandung, Mizan, 2003) Endang Kartikowati dan Zubaedi, Psikologi Agama dan Psikologi Islami Sebuah
Komparasi (Jakarta, Kencana, 2016)