• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

PROPERTY, REAL ESTATE DAN BUILDING CONSTRUCTION DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2008-2019

TESIS

OLEH

KANA MELVIA ROSA 187007024

MAGISTER MANAJEMEN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)

i .Iudul Gl"laclikarYlI

Nama NIM

Progl'am Studi

Pengnruh /IIlellecluftl Cftpilftl Terhndap Kinerja Kellllngan Dan Nilai Pas:II' Pel'lIsahaan Dengan KCllngglllan Kompctitif Schllgni Vnrinhel Intervening 1'1Idll Pcrusnhann Property, Reftl Estftle Dan Buildillg COllstructioll Di Bursa Efek Indonesia Tahun 200S - 2019

: Knnn Melvin Rosa : 187007024

: 1"Iagistcr Manajcmcn

Mcnyetujlli:

Komisi J>emhihing

~

1)[, N;srlll Irawat;, MBA ((dua

Dr, Iskandar Mllda, SE, Ak. M S;. CA, CSRS. CSRA Anggota

K"U~SlUdi

Direktllr Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Isfcnt; SlIdlll;n. ME

Tanggal Lulus: 18.Juni2021

(3)

ii Telah diuji pada

Tanggal : 18 Juni 2021

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Nisrul Irawati, MBA

Anggota : 1. Dr. Iskandar Muda, SE, Ak, M.Si, CA, CSRS, CSRA 2. Prof. Dr. Isfenti Sadalia, M.E.

3. Dr. Ir. Chairul Muluk, MBA

(4)

iii

(5)

iv ABSTRAK

PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL TERHADAP KINERJA KEUANGAN DAN NILAI PASAR PERUSAHAAN DENGAN KEUNGGULAN KOMPETITIF

SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA PERUSAHAAN PROPEERTYY, REAL ESTATE DAN BUILDING CONSTRUCTION

DI BURSA EFEK INDONESIA 2008-2019

Kajian ini bertujuan agar dapat mencari tahu maupun menganalisis intellectual capital yang memengaruhi kinerja keuangan dan nilai perusahaan, Tidak hanya itu, kajian ini pun memiliki tujuan agar bisa mengetahuhi keunggulan kompetitif bisa digunakan sebagai variabel intervening yang mampu memediasi pengaruh intellectual capital bagi kinerja keuangan maupun nilai pasar perusahaan.

Jenis kajian ini adalah kuantitatif dengan sifat explanatory research.

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan bersektor property, real estate dan building construction Bursa Efek Indonesia. Sumber data pada kajian ini ialah data sekunder Berdasar teknik purposive sampling maka dapat diketahui bila sampel dalam kajian ini ialah 30 perusahaan berperiode 2008-2019 sehingga observasi pada kajian ini sejumlah 360 data.

Hasil yang diperoleh dalam kajian ini memperlihatkan bila intellectual capital memengaruhi positif dan bermakna bagi ROA dan ROE di perusahaan property, real estate, dan building construction yang tercatat di BEI. Sedangkan intellectual capital tidak memengaruhi bermakna bagi nilai pasar perusahaan.

Sedangkan temuan lain memperlihatkan bila keunggulan kompetitif tidak bisa memediasi pengaruh intellectual capital bagi ROA di perusahaan Property, Real Estate, dan Building Construction yang tercatat di BEI.

Kata kunci: intellectual capital, ROA, ROE, nilai pasar perusahaan, dan keunggulan kompetitif.

(6)

v

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala berkat dan kasih karunia-Nya sehingga Tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi syarat untuk mencapai gelar Magister Manajemen pada Program Studi Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana USU.

Judul Tesis ini adalah: ” Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan Dan Nilai Pasar Perusahaan Dengan Keunggulan Kompetitif Sebagai Variabel Intervening Pada Perusahaan Property, Real Estate Dan Building Construction Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008 – 2019.”

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada:

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Prof. Ir. T. Sabrina, M.Agr.Sc., Ph.D selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.

3. Ibu Prof. Dr. Isfenti Sadalia, SE., ME selaku Ketua Program Studi Magister Manajemen Universitas Sumatera Utara

4. Ibu Dr. Nisrul Irawati, MBA selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah banyak membimbing dan membantu penulis dalam menyelesaikan tesis Ini.

5. Bapak Dr. Iskandar muda, SE, M.Si, Ak, CA, CSRS, CRP, CPA selaku anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak membantu serta banyak memberikan semangat terhadap penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis ini.

6. Seluruh Dosen Pengajar dan Staf Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

(8)

vii

7. Para pimpinan dan seluruh pegawai Bursa Efek Indonesia Perwakilan Sumatera Utara.

8. Kepada keluarga penulis yang senantiasa menyemangati penulis selama penyusunan tesis ini.

9. Seluruh rekan – rekan Program Studi Magister Manajemen terkhusus Angkatan ke-44 Reguler, Universitas Sumatera Utara yang telah banyak membantu serta memberikan semangat terhadap penulis.

Dengan segala keterbatasan pengalaman dan ilmu, penulis sangat menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata kesempurnaan. Akhir kata, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran agar tesis ini lebih sempurna dan juga sebagai masukan kepada penulis untuk penelitian dan karya ilmiah di masa yang akan datang.

Medan, 18 Juni 2021

Kana Melvia Rosa 187007024

(9)

viii

RIWAYAT HIDUP

Nama : Kana Melvia Rosa

Tempat/ Tgl Lahir : Medan, 26 Agustus 1995 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Anak Kandung : Herfika Maritibi (Ayah Kandung) Murphyna S. Pasaribu (Ibu Kandung)

Alamat : Perumahan Menteng Indah E1 No 12, Kota Medan Email : [email protected]

No. HP : 085156218695

Riwayat Pendidikan

Tahun 2000 – 2006 : SD Swasta Eria Medan

Tahun 2006 – 2009 : SMP Swasta An – Nizam Medan Tahun 2009 – 2012 : SMA Negeri 14 Medan

Tahun 2012 – 2016 : S1 Manajemen, Universitas Sumatera Utara

Tahun 2018 – 2021 : S2 Magister Manajemen, Universitas Sumatera Utara

(10)

ix DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... i

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... vi

RIWAYAT HIDUP ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 10

1.5 Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian ... 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12

2.1 Teori Stakeholder ... 12

2.2 Resource Based Theory (RBT) ... 13

2.3 Teori Signal (Signalling Theory) ... 14

2.4 Nilai Perusahaan... 15

2.5 Kinerja Keuangan... 16

2.6 Value Added Intellectual Coefficient ... 17

2.7 Keunggulan Kompetitif ... 20

2.8 Penelitian Terdahulu ... 22

2.9 Kerangka Konseptual ... 24

2.9.1 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Keuangan (ROA) ... 24

2.9.2 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Keuangan (ROE) 26 2.9.3 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Nilai Pasar Perusahaan (MtBV) ... 26

2.9.4 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Keuangan dengan Keunggulan Kompetitif sebagai Variabel Intervening . 28 2.9.5 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Nilai Pasar dengan Keunggulan Kompetitif sebagai Variabel Intervening ... 28

2.10 Hipotesis ... 30

BAB III METODE PENELITIAN ... 31

3.1 Jenis Penelitian ... 31

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 31

3.3 Definisi Operasional... 31

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 35

(11)

x

3.5 Populasi dan Sampel ... 35

3.6 Teknik Analisis Data ... 36

3.6.1 Analisis Regresi Data Panel ... 37

3.6.2 Estimasi Model Regresi Data Panel ... 37

3.6.3 Pemilihan Model Regresi Data Panel ... 38

3.6.4 Uji Asumsi Klasik ... 40

3.6.5 Uji Hipotesis ... 41

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44

4.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 44

4.2 Pemilihan Model Estimasi ... 45

4.2.1 Uji Chow Model 1 (Pertama) ... 45

4.2.2 Uji Hausman Model 1 (Pertama) ... 46

4.2.3 Uji Lagrange Multiplier Model 1 (Pertama) ... 47

4.2.4 Uji Chow Model 2 (Kedua) ... 48

4.2.5 Uji Hausman Model 2 (Kedua) ... 48

4.2.6 Uji Chow Model 3 (Ketiga) ... 49

4.2.7 Uji Hausman Model 3 (Ketiga) ... 50

4.2.8 Uji Lagrange Multiplier Model 3 (Ketiga) ... 50

4.3 Hasil Pemilihan Metode Estimasi ... 51

4.4 Uji Asumsi Klasik ... 52

4.5 Uji Hipotesis Penelitian ... 53

4.5.1 Uji Statistik t (Parsial) ... 53

4.5.2 Uji Koefisien Determinasi ... 55

4.5.3 Analisis Jalur ... 56

4.6 Pembahasan ... 59

4.6.1 Pengaruh Intellectual Capital terhadap ROA ... 59

4.6.2 Pengaruh Intellectual Capital terhadap ROE ... 61

4.6.3 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Nilai Pasar ... 62

4.6.4 Keunggulan Kompetitif dalam Memediasi Pengaruh Intellectual Capital terhadap ROA ... 63

4.6.5 Keunggulan Kompetitif dalam Memediasi Pengaruh Intellectual Capital terhadap ROE ... 65

4.6.6 Keunggulan Kompetitif dalam Memediasi Pengaruh Intellectual Capital terhadap Nilai Pasar ... 66

4.7 Implikasi Manajerial ... 67

4.7.1 Implikasi Manajerial Untuk Investor ... 67

4.7.2 Implikasi Manajerial Untuk Perusahaan ... 69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 72

5.1 Kesimpulan ... 72

5.2 Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 74

LAMPIRAN ... 79

(12)

xi

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Penelitian Terdahulu ... 22

3.1 Definisi Operasional ... 34

3.2 Daftar Sampel Penelitian ... 36

4.1 Hasil Statistik Deskriptif ... 44

4.2 Hasil Uji Chow Model 1 (Pertama) ... 45

4.3 Hasil Uji Hausman Model 1 (Pertama) ... 46

4.4 Hasil Uji Lagrange Multiplier Model 1 (Pertama) ... 47

4.5 Hasil Uji Chow Model 2 (Kedua) ... 48

4.6 Hasil Uji Hausman Model 2 (Kedua) ... 49

4.7 Hasil Uji Chow Model 3 (Ketiga) ... 49

4.8 Hasil Uji Hausman Model 3 (Ketiga) ... 50

4.9 Hasil Uji Lagrange Multiplier Model 3 (Ketiga) ... 51

4.10 Hasil Pemilihan Metode Estimasi ... 52

4.11 Hasil Uji t Model 1 (Pertama) ... 53

4.12 Hasil Uji t Model 2 (Kedua) ... 54

4.13 Hasil Uji t Model 3 (Ketiga) ... 55

4.14 Hasil Koefisien Determinasi ... 56

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

1.1 Perkembangan Indeks Harga Saham Property,

Real Estate, dan Building Construction ... 2 1.2 Rata-rata Pertumbuhan Nilai Pasar Perusahaan

Property, Real Estate, dan Building Construction ... 4 1.3 Rata-rata Pertumbuhan Kinerja Keuangan Perusahaan

Property, Real Estate, dan Building Construction ... 5 2.1 Kerangka Konseptual ... 29 4.1 Hasil Uji Normalitas ... 52 4.2 Pengaruh Intellectual Capital (X) Terhadap ROA (Y1)

Dengan Dimediasi oleh Keunggulan Kompetitif (Z) ... 57 4.3 Pengaruh Intellectual Capital (X) Terhadap ROE (Y2)

Dengan Dimediasi oleh Keunggulan Kompetitif (Z) ... 58 4.4 Pengaruh Intellectual Capital (X) Terhadap Nilai Pasar

(Y3) Dengan Dimediasi oleh Keunggulan Kompetitif (Z) ... 59

(14)

1 1.1 Latar Belakang

Bahwa informasi berperan krusial serta bisa dijadikan sebaga indikator bagi pemilik kepentingan dalam penentuan keputusan. Demikian pula pada pelaporan keuangan maupun pelaporan tahunan perusahaan yang berisikan informasi finansial dan non-finansial sebagai bahan pertimbangan bagi pemilik kepentingan internal dan eksternal ketika membuat keputusan. Pelaporan keuangan dan pelaporan tahunan bisa memperlihatkan nilai perusahaan ke stakeholders, khususnya bagi pemodal. Dengan demikian, pelaporan keuangan maupun tahunan bisa menjadi instrumen bagi stakeholders, khususnya investor, untuk menilai perusahaan.

Berbagai cara dalam berinvestasi di pasar modal telah dilakukan investor terhadap perusahaan yang menjadi tempat menanamkan modal, yang membutuhkan beragam informasi bagi para pemilik saham melalui penilaian atas pelaporan keuangan perusahaan. Melalui upaya memperhitungkan peningkatan daya kerja perusahaan dari saham yang hendak dtetapkan maupun untung maksimal yang didapat pemodal.

Sejak 2008 hingga 2019, situasi sektor ekonomi di Indonesia berdampak pada fluktuasi pergerakan harga saham property dan real estate di pasar modal.

Perihal tersebut bisa diperhatikan melalui gambar di bawah ini.

(15)

103.49146.80

203.10229.25

326.55337.00 524.91

490.93517.81495.51 447.75

503.88

0 100 200 300 400 500 600

Perkembangan Indeks Harga Saham Property Real Estate, dan Building Construction

Closing Price

Sumber : idx.co.id (data diolah)

Gambar 1.1

Perkembangan Indeks Harga Saham Property, Real Estate, dan Building Construction

Melalui penjelasan di atas, data perkembangan harga saham property, real estate, dan building construction selama kurun waktu analisis relatif terfluktuatif.

Kemunculan fluktuasi ini diakibatkan respons yang berlainan dari tiap pemodal terhadap informasi yang ada di pasar. Setelah dampak resesi ekonomi 2008, bisnis properti mengalami peningkatan signifikan sampai dengan tahun 2014, dimana harga properti melambung tinggi akibat dari pertumbuhan ekonomi yang membaik dan permintaan pasar yang tinggi (carstenszresidence.com).

Industri properti mengalami perlambatan semenjak 2015 silam.

Pemerintah menerbitkan aturan ketat dengan maksud supaya harga properti tidak terjadi peningkatan. Tetapi, perihal ini malah memicu industri properti stagnan.

(cnbcindonesia.com). Adapun dampak lain penurunan harga saham disebabkan oleh adanya penurunan daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat yang lemah membuat investasi properti tidak bergerak. Kemampuan beli yang lemah pada masyarakat memicu pemodalan di sektor properti cenderung stagnan. Maksudnya,

(16)

banyak pemodal yang tidak bisa memperjualbelikan aset property mereka dengan harga lebih tinggi dibanding harga ketika membeli/posisi beli. Berada di industri yang masih negatif, sebagian besar pemodal acap melepaskan saham mereka di sektor properti, dan memindahkannya ke pemodalan di sektor lain (cnnindonesia.com)

Atas dasar itulah, permasalahan terkait berkembangnya harga saham bagi pemodal sebagai sesuatu yang krusial dan membutuhkan sikap penuh kehati- hatian selama berinvestasi. Bagi perusahaan, permasalahan harga saham yang berkembang amat menetapkan nilai perusahaan di pasar modal.

Pemodal yang memberikan nilai ke perusahaan akan terepresentasikan pada harga saham, sebab pemodal hendak mencermati performa perusahaan maupun menilai perusahaan (Sirojudin dan Nazaruddin, 2014). Nilai pasar perusahaan terproksikan dengan Market to Book Value (MtBV). MtBV menggambarkan pandangan investor kepada situasi perusahaan yang terepresentasikan ke nilai pasar saham perusahaan. Perusahaan yang memiliki kondisi baik, jelas saham mereka akan dijual lebih tinggi dibandingkan nilai bukunya. Kian tingginya perbandingan ini, memperlihatkan bila pasar percaya terhadap perkembangan dan peluang perusahaan itu. Berikut adalah rerata tingkat nilai pasar perusahaan properti, real estate, maupun building construction periode 2008-2019.

(17)

Sumber : idx.co.id (data diolah)

Gambar 1.2

Rata-rata Pertumbuhan Nilai Pasar

Perusahaan Property, Real Estate, dan Building Construction

Berdasar grafik yang sudah tercantumkan, memperlihatkan bila pertumbuan nilai pasar perusahaan properti, real estate, dan building construcion mengalamai fase naik turun. Pada tahun 2008 nilai pasar perusahaan 1.23 dan terus mengalami kenaikan hingga tahun 2012 hingga menjadi 2.30. Selanjutnya, terjadi fluktuasi hingga 2014 sejumlah 2.22. Dari 2014 hingga 2019 mengalami penurunan dari 2.22 hingga menyentuh nilai 0.79.

Tujuan perusahaan ialah peningkatan terhadap nilai pasar dari saham yang berkitar. Perihal ini sebagai indikator kesuksesan perusahaan dalam menjaga kepercayaan para pemodal selaku pemilik saham. Kian tingginya nilai pasar, merepresentasikan kesuksesan perusahaan mengatur operasional guna menciptakan keuntungan sebagai bentuk upaya menjaga kepercayaan pemilik saham. Perihal ini memicu pelaku bisnis agar mempergunakan sumber daya secara efektif guna memperoleh tujuan mereka, dengan modal intelektual sebagai sumber daya paling penting bagi perusahaan (Pangestu dan Wijaya, 2014).

1.23 1.24 1.33 2.06

2.30

1.67 2.22

1.77

1.42 1.37 0.97

0.79

- 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Rata-rata Pertumbuhan Nilai Pasar Perusahaan Property, Real Estate, dan Building Construction

Market to Book Value

(18)

Daya kerja keuangan suatu perusahaan tidak dapat dipisahkan dari pencapaian perusahaan selama periode waktu tertentu. Peningkatan kinerja dari tiap periode bisa memberikan modal yang mencukupi bagi perusahaan untuk bersaing. Upaya peningkatan daya kerja perusahaan, terutama daya kerja keuangan, dimulai dari internal perusahaan. Faktor internal ini terkait erat dengan mutu sumber daya perusahaan. Kompetensi pegawai sebagai modal penting guna berhadapan dengan persaingan bisnis.

Kinerja keuangan pada kajian ini ditentukan ukurannya mempergunakan ROA maupun ROE. Rasio ini menunjukkan kepada investor seberapa baik perusahaan dapat menggunakan sumber dayanya untuk menghasilkan keuntungan dan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Rata-rata tingkat kinerja keuangan perusahaan properti, real estate, maupun building construcion tahun 2008-2019 bisa diperhatikan melalui uraian berikut.

Sumber : idx.co.id (data diolah)

Gambar 1.3

Rata-rata Pertumbuhan Kinerja Keuangan Perusahaan Property, Real Estate, dan Building Construcion

0.77 2.41

4.55 4.41 5.31 6.26 7.02

6.25 5.24

3.80 3.16 1.14 1.81

5.89

9.91 10.43 11.92

13.60 13.36 10.29

8.94 7.76

5.71 3.84

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Rata - rata Pertumbuhan Kinerja Keuangan Perusahaan Property, Real Estate, dan Building

Construction

ROA ROE

(19)

Berdasar grafik tersebut, memperlihatkan bila daya kerja keuangan perusahaan property, real estate, dan building construcion cenderung terfluktuasi.

Perihal ini bisa diperhatikan melalui rerata proksi kinerja keuangan ROA pada tahun 2008 sebesar 0.77%, terus mengalami kenaikan hingga tahun 2014 sebesar 7.02%. lalu kemudian mengalami penurunan hingga tahun 2019 sebesar 1.81%.

Begitu juga dengan proksi kinerja keuangan ROE, pada tahun 2008 sebesar 1.14%, terus mengalami kenaikan hingga tahun 2014 sebesar 13.36%. Kemudian mengalami penurunan hingga tahun 2019 sebesar 3.84%.

Kemampuan bersaing dalam industri saat tidak hanya berlandaskan aktiva berwujud, termasuk aktiva tidak berwujud, sebagai contoh sistem informasi, manajemen organisasi, maupun sumber daya manusia, yang semuanya berkontribusi pada kelangsungan hidup jangka panjang perusahaan. Pertumbuhan nilai perusahaan yang mengalami fase penurunan dapat melakukan bisnis berbasis pengetahun (knowledge-based business) dengan basis sumber daya manusia sebagai strategi guna bersaing, yang sangat penting bagi dinamika kompetisi antarperusahaan (Sawarjuwono dan Kadir, 2003).

Intellectual capital (IC) sebagai kejadian yang mengalami perkembangan di Indonesia, khususnya sesudah penerbitan PSAK Nomor 19 (Revisi 2010) terkait asset tidak berwujud. Fenomena ini memerlukan investigasi yang lebih rinci terhadap isu – isu terkait manajemenn modal intelektual. Melalui identifikasi, pengukuran, maupun mengungkapkan IC ke pelaporan keuangan perusahaan.

IC adalah metode guna mengevaluasi maupun menentukan ukuran aktiva penegtahuan, dan memperoleh pemahaman di segala sektor, seperti teknologi

(20)

informasi, akuntansi, sosiologi, ataupun manajemen (Petty dan Guthrie, 2000).

Intellectual capital dianggap sebagai pengetahuan dan pengalaman perusahaan dalam menghasilkan kekayaan bagi perusahaan. Atas dasar itulah, penggunaan IC sebagai strategi meningkatkan perekonomian perusahaan berjangka panjang.

IC memiliki peran penting dalam mewujudkan keungulan kompetitif dan menumbuhkan kesadaran prusahaan dalam mengelola IC. Perusahaan dituntut memiliki daya saing dan keunggulan untuk mempertahankan persaingan dengan kompetitor. Peran intellectual capital sangat diperlukan dalam meningkatkan daya kerja maupun nilai perusahaan untuk periode berikutnya. Satu dari beragam hal yang bisa diterapkan perusahaan, yaitu berkeunggulan kompetitif, berarti jika perusahaan mempunyai sesuatu yang tidak dipunyai oleh para pesaingnya.

Keunggulan kompetitif dalam resource based theory (RBT) adalah penggunaan karakteristik khusus perusahaan untuk menghasilkan keuntungan atau tingkat pengembalian lebih dari rerata (Lin and Huang, 2011). Keunggulan kompetitif ini bisa merawat keberlangsungan bisnis berjangka panjang. Kegiatan perusahaan menghasilkan penciptaan nilai, serta kepemilikan dan penggunaan sumber daya intelektual memberi kemungkinan bagi perusahaan memperoleh keunggulan kompetitif maupun nilai tambah (Sunarsih dan Mendra, 2012).

Dengan adanya keunggulan kompetitif yang menjadi variabel intervening diprediksi memberi dampak pada intellectual capital dan nilai perusahaan. Sebab, penggunaan kompetensi IC dan pengunaan teknologi yang optimal akan menciptakan keunggulan kompetitif.

Banyak studi empiris menggunakan VAIC untuk mengukur Intellectual Capital. Maditinos et. al. (2011) melaksanakan kajian di Yunani mempergunakan

(21)

sampel 96 populasi perusahaan yang tercatat di ASE (Athens Stock Exchange).

Pada kajiannya menjelaskan bila model intelektual tanpa ada keterkaitan positif bagi daya kerja keuangan ataupun antara modal interlektual dengan nilai perusahaan

Isa dan Deviana (2015) melalui kajiannya di perusahaan sektor industri barang konsumsi mempergunakan VAIC untuk mengukur hubungan antara IC dan daya kerja keuangan terhadap keunggulan kompetitif yang menjadi variabel intervening. Hasil kajian ini menunjukkan IC memengaruhi keunggulan kompetitif. Serta IC mempunyai pengaruh bagi kinerja keuangan, serta keunggulan kompetitif memediasi Intellectual Capital bagi kinerja keuangan.

Isanzu (2015) mempergunakan metode VAIC guna menentukan apakah IC dan pengukuran tradisional saling berhubungan dengan perusahaan perbankan di Tanzania. Berdasar hasil hasil kajian ini, human capital dan capital employed yang digunakan memengaruhi variabel dependent (kinerja keuangan). Secara menyeluruh, temuan kajian ini memperlihatkan bila VAIC sebagai sumber daya yang cukup memengaruhi daya kerja perusahaan di Tanzania

Rashid, et al (2018) mendapatkan bukti bila hanya IC yang tidak memengaruhi nilai pasar perusahaan pada studi mereka terhadap perusahaan di Pakistan. Dan IC memengaruhi daya kerja keuangan perusahaan yang terproksikan mempergunakan return on asset maupun return on equity.

Naushad, M (2019) turut melaksanakan kajian terhadap keterkaitan intellectual capital dan kinerja keuangan. Pengukuran kinerja keuangan mempergunakan proksi return on asset dan return on equity. Temuan ini

(22)

menunjukkan jika IC memengaruhi return on asset, tetapi tidak berpengaruh bagi return on equity.

Berdasar uraian di atas, peneliti akan melaksanakan kajian berjudul Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan dan Nilai Pasar Perusahaan dengan Keunggulan Kompetitif sebagai Variabel Intervening pada Perusahaan Property, Real Estate, dan Building Construction di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2019.

1.2 Rumusan Masalah

Berhubungan dengan masalah yag sudah tersampaikan, terdapat pertanyaan paling dasar yang harus diperleh jawaban, meliputi:

1. Apakah intellectual capital memengaruhi kinerja keuangan?

2. Apakah intellectual capital memengaruhi nilai pasar perusahaan?

3. Apakah keunggulan kompetitif memediasi hubungan intellectual capital dan kinerja keuangan?

4. Apakah keunggulan kompetitif memediasi hubungan intellectual capital dan nilai pasar perusahaan?

1.3 Tujuan Penelitian

Berlandaskan permasalahan yang teruraikan, kajian ini bertujuan guna:

1. Menganalisis seberapa pengaruhnya intellectual capital bagi kinerja keuangan.

2. Menganalisis seberapa pengaruhnya intellectual capital bagi nilai pasar perusahaan.

(23)

3. Menganalisis seberapa pengaruhnya keunggulan kompetitif sebagai mediasi hubungan intellectual capital dengan kinerja keuangan.

4. Menganalisis seberapa pengaruhnya keunggulan kompetitif sebagai mediasi hubungan intellectual capital dengan nilai pasar perusahaan.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari kajian ini, yaitu:

1. Bagi Pemodal dan Calon Pemodal

Hasil dalam kajian ini bisa dipergunakan pemodal ataupun bagi calon pemodal sebagai bahan pertimbangan seama menentukan daya kerja intellectual capital yang nantinya bisa dipergunakan sebagai media penilaian atas competitive advantage perusahaan untuk mengetahui mana perusahaan yang tepat untuk dipilih sebagai tempat berinvestasi.

2. Bagi Mahasiswa

Hasil kajian ini mampu memberi pengalaman berharga guna memecahkan permasalahan mempergunakan metode ilmiah yang digunakan pada kajian ini.

3. Bagi Institusi Ilmiah

Kajian ini bisa memberi tambahan sumber rujukan dan informasi bagi peneliti sebagai referensi dalam kajian yang membahas tentang dampak modal intelektual bagi kinerja keuangan, nilai pasar perusahaan, maupun keunggulan kompetitif.

(24)

1.5 Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian

Membatasi cakupan/ruang lingkup pada kajian ini bermaksud supaya kajian lebih fokus dan terarah, sehingga pelaksanaan kajian bisa berdasar pada perencanaan awal. Cakupan dan batasan pada kajian ini, adalah:

1. Cakupan kajian ini hanya mengambil objek kajian perusahaan properti maupun real estate yang sudah tercatat di BEI dan peneliti hanya mempergunakan laporan tahunan selama periode 2008 hingga tahun 2019 yang terpublikasikan melalui laman www.idx.co.id.

2. Variabel independen pada kajian ini ialah intellectual capital. Lalu, variabel dependennya ialah kinerja keuangan dan nilai perusahaan. Terakhir, variabel intervening adalah keunggulan kompetitif.

3. Variabel bebas ditentukan ukurannya mempergunakan VAIC, sedangkan variabel terikat mempergunakan analisis rasio keuangan dan nilai pasar saham perusahaan. Variabel yang diteliti antara lain return on asset, return on equity, market to book value. Dan pengukuran variabel intervening menggunakan assets utilization capability.

(25)

12 2.1 Teori Stakeholder

Menurut teori ini, semua pemangku kepentingan berhak memperoleh informasi terkait kegiatan organisasi yang memengaruhi mereka, bahkan saat mereka kesulitan memainkan peran langsung dan konstruktif demi kelangsungan hidup organisasi (Deegan, 2004).

Teori pemangku kepentingan bertujuan guna memberi bantuan bagi pemilik bisnis dalam pemahaman terhadap lingkungan pemilik kepentingan dan mengatur relasi di wilayah pemangku kepentingan (Ulum, 2017:35). Tujuan menyeluruh pada teori stakeholder, yaitu memberi bantuan bagi pemilik bisnis dalam peningkatan nilai akibat kegiatan, serta mengurangi potensi kerugian bagi pemangku kepentingan (Nurhayati, 2017).

Ketika seorang manajer bisa mengatur organisasi seoptimal mungkin, terutama saat berupaya menciptakan nilai bagi perusahaan, berarti manajer telah sesuai dengan teori ini. Nilai dapat diciptakan melalui pemanfaatan semua potensi perusahaan, termasuk pegawai (human capital), aktiva fisik (physical capital), ataupun structural capital. Bila semua potensi itu dapat terkelola dan dipergunakan sebaik mungkin, berarti dapat menghasilkan value added bagi perusahaan (VAIC™), selanjutnya bisa mengarahkan daya kerja finansial perusahaan bagi kepentingan stakeholder (Ulum 2017:36).

(26)

2.2 Resource Based Theory (RBT)

Resources based theory memaparkan bila sumber daya perusahaan sebagai sesuatu yang sifatnya tidak bisa dicontoh, berkarakteristik, berharga, dan tanpa bisa menggantinya. Teori menetapkan sumber keunggulan kompetitif berkelanjutan melalui penerapan strategi penciptaan nilai (Ferreira dan Fernandes, 2017). Pandangan teori berbasis sumber ddaya perusahaan muncul dari pertanyaan mengapa sebuah perusahan dapat berkinerja lebih baik daripada yang lain dan mencapai kinerja yang berkelanjutan dan lebih baik (Barney dan Clark;

2007). RBT memiliki peranan sebagai kerangka kerja guna memperjelas dan menentukan segala sesuatu yang bisa menjadi dasar bagi keunggulan dalam bersaing maupun daya kerja perusahaan (Barney, et al. 2011).

Resource based theory sebagai teori yang mengulas sacara perusahaan bisa melakukan pengolahan dan pemanfaaan sumber daya yang mereka miliki. Dalam mengolah sumber daya, seperti pegawai, aset fisik, ataupun structural capital mampu melahirkan value added bagi perusahaan agar bisa memengaruhi daya kerja finansial perusahaan (Faradina dan Gayatri, 2016).

Kozlenkova, et al. (2014) memaparkan bila landasan bagi teori ini berada di dua pendapat perihal sumber daya perusahaan, serta memperjelas cara sumber daya ini menciptakan keunggulan berdaya saing yang sifatnya kontinu dan alas an perusahaan secara konsisten lebih unggul dari pesaing lainnya.

Pertama, perusahaan mempunyai serangkaian sumber daya yang berbeda, sekali pun di satu industri (Peteraf dan Barney, 2003). Pendapat perihal keberagaman sumber daya memperlihatkan bila ada banyak perusahaan

(27)

berkeahlian lebih baik selama menuntaskan aktivitas tertentu sebab bersumber daya yang unik (Peteraf dan Barney, 2003).

Kedua, dismilaritas sumber daya tidak bisa hilang, sebab sulit dalam bertukar sumber daya di tiap perusahaan (asumsi imobilitas sumber daya), dan cenderung terarah ke upaya memperoleh untung melalui keanekaragaman smber daya yang berjalan secara kontinu (Kozlenkova et al., 2014).

2.3 Teori Signal (Signalling Theory)

Signaling theory merupakan pionir dari Spence (1973) dan menganggap bahwa keterbukaan informasi merupakan respon terhadap asimetri informasi di pasar (Isnalita dan Romadhon, 2019). Sebuah kajian milik Gunarsih et al, (2014) memaparkan perihal cara satu pihak dapat mengurasi asimetri informasi dengan mentransfer informasi kepada lain pihak.

Meningkatnya informasi guna mengirimkan tanda positif bagi pemodal yang mewakili mutu bisnis untuk mengurangi ketidakpastian investor. Manajer memiliki lebih banyak informasi perihal keadaan perusahaan daripada pihak eksternal. Dampak yang didapat, pihak eksternal yang tanpa mempunyai informasi cenderung berpersepsi serupa terkait nilai bisnis mereka. Perspektif ini tentu bisa memicu kerugian (memberi keuntungan) bagi bisnis yang berinvestasi lebih baik (buruk) sebab menyebabkan pihak eksternal memberi penilaian terhadap perusahaan yang lebih rendah (tinggi) dibanding seharusnya, dan menyebabkan kehilangan peluang (keuntungan).

Menurut Khoirunnisa dan Cahyati (2017), teori sinyal bertujuan untuk menginformasikan investor dan calon pemodal perihal kondisi perusahaan. Bila

(28)

memperoleh informasi positif, berarti hendak memengaruhi keputusan pemodalan, maka perusahaan otomatis akan dianggap baik, dan dapat memengaruhi harga saham perusahaan.

Namun, jika informasi yang didapat pihak eskternal atau pemodal bersifat negatif, maka akan memengaruhi keputusan investasi dan menurunkan reputasi perusahaan sehingga mengakibatkan saham menjadi lebih rendah.

2.4 Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan sebagai anggapan pemodal atas tingkat kesuksesan perusahaan, yang berkaitan kuat dengan harga saham (Sujoko dan Soebiantoro, 2007). Harga yang tersedia akan dibayarkan calon pembeli bila perusahaan itu dijual disebut sebagai nilai perusahaan. Ketika suatu perusahaan menerbitkan saham di pasar modal, maka harga saham dalam transaksi tersebut memperlihatkan nilai perusahaan (Baridwan, 2014).

Pemodal perlu membayarkan saham di pasar yang merepresentasikan nilai pasar perusahaan. Disparitas yang besar pada harga saham dengan nilai buku aset milik perusahaan memperlihatkan kehadiran hidden value. Apresiasi perusahaan yang lebih besar oleh investor diakibatkan modal intelektual milik perusahaan tersebut (Chen et.al, 2005).

Hubungan antara nilai pasar dan nilai buku memberi penilaian final, serta berpeluang paling komprehensif tentang keadaan umum bisnis di pasar saham.

Rasio itu merangkum kesan keseluruhan investor terhadap perusahaan (Walsh, 2003). Sudibya dan Restuti (2014), MtBV dipergunakan agar menunjukkan jumlah premi yang diberikan pasar ke intellectual capital perusahaan.

(29)

Rasio ini membandingkan nilai perusahaan terhadap pemodalan pada pemilik saham. Bila nilai rasio kurang satu, nilai pemodalan para pemilik saham mengalami penurunan. Jika nilai yang didapat lebih besar dari satu, maka investasi yang dilaksanakan sudah berlipat ganda dengan faktor sesuai nilai pasar yang terbagi dengan nilai buku.

2.5 Kinerja Keuangan

Kinerja keuangan ialah representasi grafis dari status keuangan perusahaan selama kurun waktu tertentu. Kapabilitas perusahaan dalam menciptakan keuntungan dari aktivitas operasional menjadi prioritas selama mengevaluasi kinerja perusahaan, serta keuntungan merupakan parameter untuk memeuhi kewajibannya ke pemodal maupun kreditur, dan bagian pada penciptaan niai perusahaan berprospek proyek masa depan perusahaan (Suhendah, 2012).

Intellectual capital merupakan indikator dan sumber informasi yang digunakan investor untuk mengambil keputusan. Melalui perspektif pemodal, intellectual capital merupakan parameter krusial dalam menentukan peluang masa depan perusahaan setelah menjadi lebih menguntungkan. Return on asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) sebagai dua perbandingan kinerja keuangan yang digunakan dalam kajian ini.

ROA memperelas kapabilitas perusahaan selama mempergunakan jumlah keseluruhan asetnya secara efisien dalam aktivitas bisnisnya (Chen et.al., 2005).

ROE mengukur laba yang bisa diciptakan perusahaan bagi tiap nominal (Rupiah) dari moda perusahaan.

(30)

2.6 Value Added Intellectual Coefficient

Intellectual capital ialah kumpulan sumber daya penting yang digunakan oleh perusahaan dalam pemberian fasilitas berupa kegiatan produktif dan menghasilkan keuntungan ekonomi (Peng et al., 2007). Intellectual Capital, menurut Steward (1997), yaitu pengetahuan terkait informasi, kekayaan intelektual, maupun pengalaman intelektual material yang bisa dipergunakan agar dapat meningkatkan kinerja dan menghasilkan kekayaan.

Baroroh (2013) menuturkan bila modal intelektual terdiri atas hak tetap, hak cipta, waralaba, maupun hak kekayaan inteletual, merupakan asset tidak berwujud yang bisa memberi nilai tambah bagi perusahaan maupun bagi masyarakat. Sherif dan Elsayed (2016) juga menyatakan bila intellectual capital sebagai faktor krusial guna mendukung daya kerja perusahaan. Untuk bersaing dan mencapai kinerja efektif yang lebih baik, modal intelektual sebagai aset tidak berwujud perlu dikelola secara efisisen dan efektif. Khalique et al. (2015) menyatakan bahwa dalam ekonomi berbasis pengetahuan kontemporer, intellectual capital secara bertahap kian penting sebagai aset strategis yang kritis.

Pulic (1998) menemukan metode secara tidak langsung guna menentukan ukuran intellectual capital, yakni prosedur value added intellectual coefficient (VAICTM). (VAICTM) menghitung efektivitas penciptaan nilai dari aktiva tidak berwujud. (VAICTM) adalah alat guna menentukan daya kerja IC perusahaan, serta mudah ketika dipergunakan sebab data terdapat dalam laporan keuangan.

Perhitungan nilai tambah (value added) merupakan langkah awal dalam model ini. Value added adalah ukuran keberhasilan bisnis yang paling objektif karena menunjukkan kemampuan bisnis untuk menciptakan nilai. Pautan antara

(31)

keluaran dan masukan dapat digunakan agar bisa menghitung value added. Pulic (1998) menuturkan bila bagian utama dari VAIC𝑇𝑀 bisa diperhatikan melalui sumber daya perusahaan, yakni physical capital (VACA – value added capital employed), human capital (VAHU – value added human capital), dan structural capital (STVA – structural capital value added).

VAIC™ dari Pulic (1998) sebagai metode yang berkeunggulan relatif mudah untuk mendapatkan data yang dibutuhkan melalui bermacam sumber maupun jenis perusahaan. Informasi yang dibutuhkan guna menentukan hitungan berbagai perbandingan itu merupakan informasi dasar yang terdapat di laporan keuangan perusahaan. Pemilihan dalam mengukur IC lain sebatas menghasilkan parameter finansial maupun non-finansial yang hanya berperan sebagai pelengkap profil perusahaan. Karena parameter ini, terutama parameter non-finansial, tidak tersedia/dicatat perusahaan, pengumpulan data menjadi sulit dan memakan waktu (Tan, et al., 2007; 85).

Intellectual capital bisa ditentukan ukurannya mempergunakan hitungan VAIC𝑇𝑀. Ulum (2013:99) memaparkan bila penentuan ukuran IC atas pengembangan dari Pulic (1998) yakni VAIC𝑇𝑀 dan bahwa berbagai komponen perhitungan terdiri dari elemen – elemen berikut:

1. Value added (VA), yakni pautan outut maupun input.

VA = OUT – IN Penjelasan :

Output : Jumlah keseluruhan pendapatan maupun pengahsilan lainnya Input : Beban maupun anggaran, terkecuali beban pegawai.

(32)

2. Value added capital employed (VACA) adalah perbandingan VA(value added) terhadap CE (capital employed). CE (capital employed) adalah anggaran biaya milik perusahaan. Perbandingan ini memperlihatkan efektivitas modal yang dipergunakan. Skala ini didasarkan pada persamaan berikut :

VACA = 𝑉𝐴

𝐶𝐸

Penjelasan:

Value Added (VA) : pautan ouput dan input

Capital Employed (CE) : pembiayaan dimiliki perusahaan (total ekuitas) 3. Value added human capital (VAHU) memperlihatkan jumlah VA melalui

pembiayaan yang dipergunakan karyawan. Keterkaitan VA dengan HC memperlihatkan kapabilitas HC guna menghasilkan nilai dalam bisnis.

Penghitungan variabel ini melalui prosedur membagi nilai tambah dengan modal manusia. Ukuran yang dipergunakan, yaitu:

VAHU =𝑉𝐴

𝐻𝐶

Penjelasan:

Value Added (VA) : pautan output dan input Human Capital (HC) : beban pegawai

4. Value added structural capital (STVA) menentukan jumlah structural capital yang diperlukan guna menciptakan nilai tambah sebesar 1 rupiah dan menunjukkan kesuksesan structural capital seama menciptakan nilai. Skala yang dipergunakan terkait persamaan berikut :

STVA = 𝑆𝐶

𝑉𝐴

Penjelasan:

(33)

Structural Capital (SC) : pautan Value Added (VA) dan Human Capital (HC)

Value Added (VA) : pautan output dan input

5. Value added intellectual coeffisient (𝑉𝐴𝐼𝐶𝑇𝑀) memperlihatkan kapabilitas intellectual capital. 𝑉𝐴𝐼𝐶𝑇𝑀 ditentukan hitungannya melalui rumus berikut:

𝑉𝐴𝐼𝐶𝑇𝑀 = VAHU+ STVA + VACA

2.7 Keunggulan Kompetitif

Pada dasarnya, setiap perusahaan yang mengikuti persaingan ingin menjadi lebih baik dari pesaingnya. Secara umum, perusahaan secara ekspisit menerapkan strategi bersaing ini melalui aktivitas berbagai departemen fungsionalnya. Pemikiran dasar untuk menciptakan strategi kompetitif dimulai dengan pengembangan formula umum perihal cara bisnis akan berkembang, serta tujuan maupun kebijakan yang dibutuhkan guna memperoleh tujuan.

David (2011:9) menuturkan bila keunggulan berkompetisi adalah perihal yang bisa dilaksanakan perusahaan guna mencapai bisnis yang kian baik dibanding perusahaan pesaing. Susanto (2014:88) menegaskan bila sumber keunggulan kompetitif yang paling penting terletak pada kombinasi yang efektif dari lingkungan domestik perusahaan dan strategi perusahaan sendiri.

Widyaningdyah dan Aryani (2013), memaparkan bila suatu perusahaan berkeunggulan berdaya saing jika bisa menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi dibanding pesaing dengan sektor industri yang hampir serupa.

Keunggulan kompetitif merupakan inti dari kinerja pemasaran agar dapat bersaing. Keunggulan kompetitif didefinisikan sebagai keunggulan strategis yang

(34)

diperoleh perusahaan yang berkolaborasi guna menghasilkan keunggulan berdaya saing secara efektif di pasar Strategi ini diperlukan agar bisa menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan, memungkinkan perusahaan untuk memiliki dominasi di pasar lama dan pasar terbaru.

Keunggulan berdaya saing pada dasarnya berasal dari nilai atau keuntungan yang sudah tercipta oleh upaya perusahaan bagi para pembeli.

Pelanggan biasanya lebih suka membeli produk yang lebih berarga daripada mereka inginkan atau harapkan. Namun, nilai ini juga dibandingkan dengan harga yang ditawarkan.

Perusahaan mendapat keunggulan berdaya saing dengan penerapan strategi demi menciptakan nilai yang tidak dilaksanakan perusahaan lain pada saat yang bersamaan. Dessler (2001:81) menyatakan bahwa keunggulan bersaing adalah faktor yang ada di organisasi guna membedakan produk/jasanya dengan milik pesaingna guna mengoptimalkan pangsa pasarnya. Tetapi, disebut juga bila faktor terpenting ialah merawat keberlangsungan dari keunggulan bersaing ini atau disebut dengan sustained competitive advantage (Barney and Clark, 2007).

(35)

2.8 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No Peneliti/

Tahun

Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Hasil Penelitian 1 Chen, et al

(2005)

An Empirical Investigation of the

relationsip between IC, firm’s market value, and financial performance

Dependen:

M/B, ROA, ROE, GR &

EP

Independen:

VAIC, VACA, VAHU,

STVA, RD, AD

1. Intellecutal Capital memengaruhi positif M/B.

2. Intellecutal Capital berpengaruh positif terhadap ROA, ROE, GR, & EP.

3. RD memengaruhi bermakna bagi ROA & GR.

4. AD memengaruhi negative dan bermakna bagi ROE & ROA.

2 Maditinos (2011)

The Impact of Intellectual Capital on Firms’ Market Value and Financial Performance

Dependen:

M/B, ROE, ROA, dan GR Independen:

VAIC, VACA, VAHU,

STVA.

1. VAIC tidak berpengaruh

terhadap M/B 2. VAIC tanpa

memengaruhi ROE 3. VAIC tidak

memengaruhi ROA 4. VAIC tidak

memengaruhi GR 3 Nurani

(2014)

Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Nilai Pasar Perusahaan Otomotif Yang

Terdaftar DI BEI 2007- 2011

Dependen:

M/B

Independen:

VACA, VAHU dan STVA.

1. VACA tanpa memengaruhi M/B 2. VAHU

memengaruhi M/B 3. STVA berpengaruh

terhadap M/B

(36)

No Peneliti/

Tahun

Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Hasil Penelitian 4 Pangestu

dan Wijaya (2014)

Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Market Value dan Kinerja Keuangan

Dependen:

M/B, ROE, ROA, dan GR Independen:

VAIC, VACA, VAHU,

STVA.

1. Intellectual Capital memengaruhi M/B 2. Intellectual Capital

memengaruhi ROE 3. Intellectual Capital

memengaruhi ROA 4. Intellectual Capital

tidak memengaruhi GR

5 Isanzu (2015)

Impact of Intellectual Capital on Financial Performance of Banks in Tanzania

Dependen:

ROA Independen:

VAIC, HCE, SCE, CEE

1. VAIC

memengaruhi kinerja keuangan 2. HCE dan CEE

memengaruhi kinerja keuangan 3. SCE tanpa

memengaruhi kinerja keuangan.

6 Nurhayati (2017)

Analisa Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Pasar dan Kinerja Keuangan Pada Perusahaan LQ45 Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2010-2013

Dependen:

Tobins Q, ROA, dan ATO

Independen:

VAIC, VACA, VAHU,

STVA.

1. Intellectual Capital memengaruhi Tobins Q

2. Intellectual Capital memengaruhi ROA 3. Intellectual Capital

memengaruhi Asset Turnover (ATO)

7 Sardo dan Serrasqueiro (2017)

A European empirical study of the Relatonship between firms’

intellectual capital, financial performance, and market value

Dependen:

ROA, Tobin’s Q

Independen:

VAIC

1. VAIC memengaruhi

positif dan

bermakna bagi ROA 2. VAIC memengaruhi

positif dan

bermakna bagi Tobins’Q

(37)

No Peneliti/

Tahun

Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Hasil Penelitian 8 Rashid, et al

(2018)

Impact of Intellectual Capital on Firms’ Market Value and Financial Performance:

Empirical Evidence From Pakistan

Dependen:

ROA, ROE, MtBV

Independen:

VAIC

1. Intellectual Capital tanpa memengaruhi MtBV

2. Intellectual Capital memengaruhi positif bagi ROA.

3. Intellectual Capital memengaruhi positif bagi ROE.

9 Isa dan Deviana (2018)

Analisis Pengaruh Intellectual Capital terhadap Financial Performance dengan Competitive Advantage sebagai Variabel Intervening

Dependen:

ROA

Independen:

VAIC Variabel Intervening:

AUE

1. Intellectual Capital memengaruhi positif dan bermakna bagi Competitive

Advantage;

2. Intellectual Capital memengaruhi positif dan bermakna bagi financial

performance 3. Competitive

Advantage memediasi

Intellectual Capital bagi Financial Performance.

10 Naushad (2019)

Intellectual Capital and Financial Performance of Sharia Compliant banks in Saudia Arabia

Dependen:

ROA, ROE Independen:

VAIC

1. VAIC berpengaruh signifikan teradap ROA

2. VAIC tidak berpengaruh

siginifikan terhadap ROE

2.9 Kerangka Konseptual

2.9.1 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Keuangan (ROA) Research based theory memperjelas agar perusahaan bisa lebih unggul selama bersaing, perusahaan perlu mempunyai nilai maupun mengoptimalkan

(38)

peranan aktiva yang mereka miliki. Jika perusahaan mampu mengelola dan mengoptimalkan intellectual capital maka mengindikasikan bahwa daya kerja keuangan kian membaik. Kian tingginya modal intelektual, semakin produktif bisnis yang diharapkan (Sukma, 2018).

Menurut teori stakeholder, semua stakeholder berhak memperoleh perlakuan adil, manajer pelru mengatur organisasi guna memberi manfaat bagi semua pemangku kepentingan. Perusahaan dapat memberikan nilai tambah melalui pemaksimalan peluang atau kemampuan perusahaan, baik pekerja, aktiva fisik, dan structural capital (Faradina dan Gayatri, 2016). Peningkatan value added meningkarkan daya kerja finansial perusahaan, yang turut meningkatkan daya kerja finansial pemangku kepentingan

Dalam hal ini, stakeholder memiliki kewenangan untuk memengaruhi manajemen sekaligus memaksimalkan potensi organisasi. Organisasi hanya bisa menghasilkan value added dan menunjang daya kerja keuangan dengan mengelolanya dengan baik dan maksimal, sebagai fokus para stakeholder selama mengintrusi manajemen (Widarjo, 2011). Dengan meningkatkan value added tersebut, maka dapat meningkatkan ROA perusahaan.

ROA sebagai perbandingan untuk menentukan ukuran kinerja keuangan perusahaan. Perbandingan ini menentukan ukuran baik buruknya tata kelola perusahaan selama mempergunakan aset untuk memperoleh untung. Kajian milik Chen, et al (2005), Isanzu (2015), Sardo dan Serrasquiro (2017), Isa dan Devina (2018), Rashid (2018), dan Naushad (2019) memperlihatkan bila intellectual capital memengaruhi positif bagi ROA.

(39)

2.9.2 Intellectual Capital yang Memengaruhi Kinerja Keuangan (ROE) Research Based Theory memaparkan bila perusahaan memiliki nilai dan mengoptimalkan fungsi aset untuk membedakan diri dari pesaingnya. Semakin tinggi produktivitas perusahaan yang diharapkan, semakin tinggi Intellectual Capital yang diharapkan (Pratama dan Achmad, 2013). Ketika sebuah perusahaan mempunyai IC yang baik, dalam mengungkapkan nilai daya kerja perusahaan ke laporan keuangan, berarti rasa percaya stakeholder bagi perusahaan meningkat, dan resource based theory, yang menyatakan bila bersumber daya maupun berpengetahuan yang terkelola secara optimal dapat memaksimalkan daya kerja keuangan perusahaan. Signalling theory memperlihatkan bila informasi baik dari suatu perusahaan sebagai tanda yang baik bagi pemodal. ROE sebagai perbandingan yang mengukur tingkat kinerja perusahaan. Rasio ini mengukur bagaimana manajemen perusahaan secara efektif mengelola modal untuk menghasilkan keuntungan perusahaan.

Hasil kajian terdahulu milik Chen et al (2005) dan Rashid (2018) memperlihatkan bila intellectual capital memengaruhi positif dan bermakna bagi ROE. Uraian itu menjelaskan bila kian tingginya intellectual capital yang dimiliki perusahaan berarti daya kerja keuangan perusahaan berdasarkan ROE pun meningkat. Tetapi hasil kajian berbeda justru dijumpai oleh kajian Naushad (2018), memperlihatkan intellectual capital tanpa memengaruhi ROE.

2.9.3 Intellectual Capital yang Memengaruhi Nilai Pasar Perusahaan (MtBV) Saat ini banyak perusahaan yang menanamkan modal sumber datanya berbentuk pelatihak pekerja, kajian maupun peningkatan, relasi antarkonsumen,

(40)

dan sistem komputer ataupun administrasi. Investasi itu dikenal sebagai intellectual capital, bisa meningkat maupun berdaya saing dengan pemodalan fisik maupun finansial (Lestari dan Sapitri, 2016).

Di dunia pemodalan, ada bermacam parameter yang dipergunakan sebagai penilaian atas harga saham di pasaran dari segi nilai pasar. Faktor yang banyak dipergunakan ialah market to book value (MtBV). MtBV adalah rasio antarnilai pasar dengan nilai buku. Bagi investor, MBV menunjukkan bahwa semakin tinggi MBV, kian mahalnya niai saham itu. Hanya saja, mahal atau tidaknya harga itu relatif, sebab diperlukan patokan khusus guna menentukan mahal/murah nilai pada harga saham. Merujuk teori theory of the firm perusahaan bertujuan guna mengoptimalkan kekayaan/nilai perusahaan (value of the firm).

Pada kajian ini, nilai pasar common stock/nilai buku common stock dipergunakan agar bisa menghitung MtBV. Nilai pasar (market value), yaitu harga saham yang diperdagangkan ke pasar bursa atas penentuan pelaku pasar. Nilai pasar ini ditetapkan melalui penawaran maupun permintaan saham yang diperdagangkan ke pasar bursa.

Hasil kajian Chen, et al (2005), Sardo dan Serrasquiro (2017) menyebut bila intellectual capital memiliki pengaruh positif bagi nilai pasar. Berbeda dengan kajian Rashid (2018), menjelaskan bila intellectual capital tanpa memiliki pengaruh bagi nilai pasar.

(41)

2.9.4 Intellectual Capital yang Memengaruhi Kinerja Keuangan dengan Keunggulan Kompetitif sebagai Variabel Intervening

Intellectual Capital ialah sumber daya internal yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Perusahaan yang mampu mengelola intellectual capital secara optimal bisa berdampak bagi keungulan kompetitifnya. Sehingga, perusahaan akan terdorong guna meningkatkan sumber daya yang berwujud intellectual capital supaya bisa mengungguli persaingan industri dan memaksimalkan daya kerja keuangan perusahaan.

Sama seperti sudut pandang resource based theory, menyatakan bila perusahaan bisa berkeunggulan kompetitif jika sumber dayanya dikelola dengan baik (Masyitoh, 2019). Sumber daya milik perusahaan, khususnya intellectual capital, akan memberikan dampak bagi daya kerja keuangan perusahaan untuk periode mendatang.

Perihal ini mengindikasikan bila keunggulan kompetitif bisa memediasi dampak intellectual capital bagi daya kerja keuangan perusahan. Hasil kajian milik Isa dan Deviana (2018) memberi bukti bila keunggulan kompetitif perusahaan bisa menengahi keterkaitan intellectual capital dan daya kerja keuangan perusahaan.

2.9.5 Intellectual Capital yang Memengaruhi Nilai Pasar dengan Keunggulan Kompetitif sebagai Variabel Intervening

Menurut stakeholder theory, pengembangan sumber daya perusahaan sangat penting bagi keberhasilan pertumbuhan dan keberlanjutan perusahaan.

Perusahaan harus mampu memberikan manfaat kepada stakeholder karena

(42)

perusahaan tidak beroperasi secara sendiri. Para pemegang saham dapat memenuhi kepentingan para stakeholder jika nilai perusahaan tinggi. Sehingga investor bakal memperlihatkan apresiasi terhadap eminensi modal intelektual perusahaan melalui prosedur menanamkan modalnya di persuahaan terebut.

Karena semua aktivitas perusahaan mengarah kepada penciptaan nilai, penggunaan sumber daya intelektual berpeluang bagi perusahaan memperoleh keunggulan berdaya saing serta meningkatkan nilai tambah Sesuai kajian Chen, et.al. (2005), IC adalah sumber daya yang terukur untuk memaksimalkan keunggulan berdaya saing, serta IC mengoptimalkan nilai perusahaan.

Sesuai penjelasan yang disampaikan, kerangka konseptual pada kajian ini, yaitu:

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

H4

H2 H1

H3

Kinerja Keuangan

Nilai Pasar (Y3) Intellectual

Capital (X)

Keunggulan Kompetitif

(Z)

ROA (Y1) ROE (Y2)

Pengaruh Langsung Pengaruh Tidak Langsung

(43)

2.10 Hipotesis

Berdasar kerangka konseptual yang sudah tersampaikan, rumusan hipotesis pada kajian ini, yaitu:

H1a: Intellectual Capital memengaruhi positif bagi kinerja keuangan (ROA) perusahaan.

H1b: Intellectual Capital memengaruhi positif bagi kinerja keuangan (ROE) perusahaan.

H2: Intellectual Capital memengaruhi positif bagi nilai pasar perusahaan.

H3a: Intellectual Capital memengaruhi positif bagi kinerja keuangan (ROA) melalui keunggulan kompetitif sebagai variabel intervening.

H3b: Intellectual Capital memengaruhi positif bagi kinerja keuangan (ROE) melalui keunggulan kompetitif yang menjadi variabel intervening.

H4: Intellectual Capital memengaruhi positif bagi nilai pasar perusahaan melalui keunggulan kompetitif yang menjadi variabel intervening.

(44)

31 3.1 Jenis Penelitian

Kajian ini berjenis kuantitaif. Sifat kajian ini adalah explanatory research, sebagai kajian yang memperjelas pengaruh antar variabel, menggunakan data sekunder. Tujuan dari kajian ini ialah memperjelas sebab akibat variabel yang dianalisis, dan menarik kesimpulan yang bermanfaat guna mengembangkan ilmu pengetahuan dan menjadi prosedur dalam memecahkan permasalahan aktual di lapangan.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Kajian ini terlaksana di BEI mempergunakan internet guna mengakses laman web www.idx.co.id. Kajian ini terlaksana sejak September 2020 hingga Januari 2021.

3.3 Definisi Operasional 3.3.1 Variabel Independen

Intellectual capital, sesuai penuturan Bontis (1998), yaitu kumpulan asset tidak berwujud (sumber daya, fungsi, maupun kemampuan) mendorong daya kerja/performa organisasi dan upaya menciptakan nilai. Value added sebagai konsep atas rancangan Pulic, yang bermaksud agar bisa menentukan ukuran modal intelektual. VAICTM ialah ketentuan analistis yang memberi peluang bagi pemilik saham, pemilik kepentingan, maupun manajemen yang secara efektif memantau maupun menilai efisiensi nilai tambah dari jumlah keseluruhan sumber

(45)

daya perusahaan, serta setiap bagian sumber daya utama. Selisih antara ouput maupun input digunakan untuk menghitung nilai tambah (Pulic, 1999).

Menurut Pulic, berikut formulasi untuk perhitungan 𝑉𝐴𝐼𝐶𝑇𝑀:

PEnjelasan:

1. 𝑉𝐴𝐼𝐶𝑇𝑀 ∶ 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝐴𝑑𝑑𝑒𝑑 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑒𝑓𝑓𝑖𝑐𝑖𝑒𝑛𝑡 2. 𝑉𝐴 ∶ 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝐴𝑑𝑑𝑒𝑑

3. 𝑉𝐴𝐶𝐴 ∶ 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝐴𝑑𝑑𝑒𝑑 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑚𝑝𝑙𝑜𝑦𝑦𝑒𝑑 4. 𝑉𝐴𝐻𝑈 ∶ 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝐴𝑑𝑑𝑒𝑑 𝐻𝑢𝑚𝑎𝑛 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 5. 𝑆𝑇𝑉𝐴 ∶ 𝑆𝑡𝑟𝑢𝑐𝑡𝑢𝑟𝑎𝑙 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝐴𝑑𝑑𝑒𝑑

6. 𝑂𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡 ∶ Jumlah keseluruhan penjualan dan penghasilan 7. 𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡 ∶ Beban dan biaya, terkecuali beban pekerja

8. 𝐶𝐸 ∶ 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑚𝑝𝑙𝑜𝑦𝑒𝑑 (ekuitas maupun keuntungan bersih) 9. 𝐻𝐶 ∶ 𝐻𝑢𝑚𝑎𝑛 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 (beban pegawai)

𝑉𝐴 = 𝑂𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡 – 𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡

VACA =𝑉𝐴 𝐶𝐸 VAHU =𝑉𝐴 𝐻𝐶 STVA =𝑉𝐴 − 𝐻𝐶

𝑉𝐴

𝑉𝐴𝐼𝐶𝑇𝑀 = 𝑉𝐴𝐶𝐴 + 𝑉𝐴𝐻𝑈 + 𝑆𝑇𝑉𝐴

(46)

3.3.2 Variabel Dependen 1. Kinerja Keuangan

Kajian ini, variabel terikatnya ialah kinerja keuangan perusahaan yang terukur mempergunakan ROA dan ROE. ROA sebagai perbandingan yang menentukan efektivitas perusahaan mempergunakan aktiva yang dimiliknya untuk menghasilkan laba. ROA memperlihatkan efisiensi maupun untung bisnis perusahaan selama mempergunakan jumlah keseluruhan aktivanya.

Rumus guna menentukan penghitungan ROA, yaitu:

𝑅𝑂𝐴 = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡

ROA adalah perbandingan yang mengukur seberapa jauh perusahaan dapat mengatur modal sendiri secara optimal, serta penentuan tingkatan dalam pengembalian investasi yang sudah dilaksanakan pemilik modal pribadi atau pemilik saham perusahaan. Rumus guna penentuan hitungan ROE, yakni:

𝑅𝑂𝐸 = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠 2. Nilai Pasar Perusahaan

Terukur mempergunakan market book to value ratio.

𝑀/𝐵 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜 = 𝑀𝑎𝑟𝑘𝑒𝑡 𝑣𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑜𝑓 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑜𝑛 𝑆𝑡𝑜𝑐𝑘 𝐵𝑜𝑜𝑘 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑜𝑓 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑜𝑛 𝑆𝑡𝑜𝑐𝑘 Penjelasan:

Market Value of Common Stock=

Number of shares outstanding x stock price at end of the year Book Value of Common Stock=

Book value of stockholder’s equity – Paid in capital of preferred stock

(47)

3.3.3 Variabel Intervening

Keunggulan kompetitif (competitive advantage) menjadi variabel intervening pada kajian ini. Variabel keunggulan kompetitif pengukurannya mempergunakan asset utilization capability, yakni perbandingan penghasilan atas total aset, yang menentukan ukuran efisiensi perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dari kepemilikan asetnya. Rumus guna menghitung AUC yakni:

𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 𝑈𝑡𝑖𝑙𝑖𝑧𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝐶𝑎𝑝𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 Tabel 3.1

Definisi Operasional Variabel

Penelitian

Definisi

Operasional Rumus Skala

Intellectual Capital (IC)

VAIC (𝑋1)

Sumber daya yang disediakan oleh perusahaan dalam bentuk pengetahuan, yang hendak menciptakan aktiva dengan nilai tinggi serta kebermanfaatan ekonomi untuk periode berikutnya.

𝑉𝐴𝐼𝐶𝑇𝑀 = 𝑉𝐴𝐶𝐴 + 𝑉𝐴𝐻𝑈 + 𝑆𝑇𝑉

Rasio

Kinerja Keuangan ROA (𝑌1) ROE (𝑌2)

ROA ialah perbandingan yang dipergunakan agar mampu menentukan kapabilitas perusahaan selama menciptakan keuntungan melalui asetnya.

ROE sebagai perbandingan terkait laba investasi oleh pemilik saham.

𝑅𝑂𝐴 = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡 𝑅𝑂𝐸 = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠

Rasio

Nilai Pasar MBV (𝑌3)

Rasio yang memberikan informasi perihal karakteristik perusahaan periode terdahulu dan peluang untuk periode berikutnya

𝑀/𝐵 = 𝑀𝑉𝑜𝑓 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑜𝑛 𝑆𝑡𝑜𝑐𝑘 𝐵𝑉 𝑜𝑓 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑜𝑛 𝑆𝑡𝑜𝑐𝑘

Rasio

Keunggulan Kompetitif

(Z)

Rasio pendapatan terhadap total aset untuk mengukur efisiensi perusahaan dalama mempergunakan

kepemilikan asetnya untuk menghasilkan pendapatan

𝐴𝑈𝐶 = 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡

Rasio

(48)

3.4 Metode Pengumpulan Data

Data sekunder dipergunakan sebagai sumber. Data yang diperlukan kajian ini ialah pelaporan keuangan, data perusahaan, data saham, dan buku serta literatur ilmiah yang terkait kajian.

3.5 Populasi dan Sampel

Populasi kajian ini sejumlah 83 perusahaan properti maupun real estate di Indonesia yang termuat di BEI. Metode selama memilih sampel, yaitu mempergunakan purposive sampling yakni menarik sampel berdasar karakteristik khusus. Karakteristik dalam menarik sampel, yakni:

1. Perusahaan properti dan real estate yang termuat di BEI berperiode 2008- 2019, serta tanpa terjadi selama periode kajian.

2. Perusahaan menerbitkan laporan keuangannya selama periode 2008-2019 secara berturut-turut.

Berdasar kriteria tersebut, diperoleh sampel pada kajian ini sejumlah 30 perusahaan berperiode 2008-2019, maka jumlah observasi pada kajian ini ialah 12 tahun yang dikali 30 sampel, yaitu 360 observasi.

Referensi

Dokumen terkait

kebijakan hutang berpengaruh terhadap investment opportunity set membuktikan bahwa ukuran perusahaan yang besar maka akan memperbesar kesempatan investasi

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar minat mahasiswa menjadi entrepreneur, bagaimana pengaruh pendidikan kewirausahaan terhadap keinginan

Sistem informasi penjualan online ini sebagai solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh pemilik dari PT.Master, dimana dengan memperluas jaringan

Lampiran B – 6 Kisi-Kisi Angket Respon Dosen Pengampu Mata Kuliah Kimia Bahan Alam Terhadap Buku Suplemen Kimia Bahan Alam Berbasis Local Content Pada Tanaman

Merupakan komponen perancangan kawasan yang memilikiperan penting dalam pengalokasian penggunaanlahan atau pemanfaatan ruang pada kawasan perencanaan. Pengaturan peruntukkan

You had a look into subscribing to the HDInsight service, which defaults to the Windows Windows Azure Storage Blob (WASB) as the data repository rather than to HDFS as in

The addition of ethylene glycol plasticizer brings substantial changes in the diffraction pattern of the composite polymer electrolyte with the increasing concentration of

Dengan adanya sistem informasi pembelajaran berbasis web pada Stiper Sriwigama Palembang bisa mempermudah mahasiswa mendapatkan materi, pengumuman, berita