• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSEDUR PEMBIAYAAN MUDHARABAH PADA PT. BANK SULSESBAR SYARIAH CABANG MAKASSAR RIHUL JANNAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROSEDUR PEMBIAYAAN MUDHARABAH PADA PT. BANK SULSESBAR SYARIAH CABANG MAKASSAR RIHUL JANNAH"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

RIHUL JANNAH 10572 02856 10

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2014

(2)

RIHUL JANNAH 10572 02856 10

Untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2014

(3)

PADA PT. BANK SULSELBAR SYARIAH CABANG MAKASSAR

Nama Mahasiswa : RIHUL JANNAH

Nomor Stambuk : 10572 02856 10 Jurusan/ Program Studi : MANAJEMEN S-1

Fakultas : EKONOMI DAN BISNIS

Makassar, Juni 2014

Menyetujui

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Ir.A. Ifayani Haanurat, MM Asri Jaya, SE., MM

NBM. 875 606 NBM. 10 865 29

Mengetahui

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Ketua Jurusan Manajemen

Dr. H. Mahmud Nuhung, MA Moch. Aris Pasigai, SE., MM

NBM. 497 794 NBM. 10 934 85

(4)

dan Bisnis dengan Surat Keputusan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar No : Tahun 1435 H/2014 M dan telah dipertahankan didepan penguji pada hari Sabtu, 23 Agustus 2014, sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 03 September 2014

Panitia Ujian:

1. Pengawas Umum : Dr. H. Irwan Akib, M.Pd. (………) (Rektor Unismuh Makassar)

2. Ketua : Dr. H. Mahmud Nuhung, MA. (…………..…….……….) (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis)

3. Sekretaris : H. Sultan Sarda, SE., MM. (………) (Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis)

4. Penguji :

a). Dr. H. Mahmud Nuhung, MA. (……….) b). Moch. Aris Pasigai, SE., MM (……….)

c). Samsul Rizal, SE., MM (……….)

d). Abd. Salam HB, SE., M.Si. A k (……….)

(5)

Syukur Alhamdulillah atas rahmat kesehatan, dan hidayah yang diberikan oleh Allah SWT. Pencipta alam semesta, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan dan tauladan kita Rasulullah Muhammad SAW., Keluarga dan para sahabatnya.

Sembah sujud penulis haturkan kepada Ayahanda (Alm) Muh. Yusuf dan Ibunda Muliati, S.Pd. Atas kasih sayang dan Do’a yang senantiasa memberi kekuatan dan menemani setiap langkah penulis sampai saat ini. Semoga pencapaian gelar Sarjana ini, dapat melukiskan senyum indah merekah di wajah beliau.

Ucapan Terima Kasih juga disampaikan kepada:

1. Bapak Dr. Irwan Akib, M.Pd. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, M.A, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Moh. Aris Pasigai, SE., MM Selaku ketua Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.

(6)

Muhammadiyah Makassar.

5. Ibu Dr. Ir. A. Ifayani Haanurat,MM selaku Dosen Pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan masukan dan bimbingan mulai dari awal penyusunan proposal sampai penyelesaian skripsi ini.

6. Bapak Asri Jaya, SE., MM selaku Dosen Pembimbing II, atas bimbingan dan pengarahan yang telah diberikan sejak persiapan penelitian hingga tersusunnya skripsi ini.

7. Segenap Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah atas kebijaksanaan ilmu pengetahuannya yang diberikan kepada penulis selama menuntut ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.

8. Pimpinan serta staf dan karyawan PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar, terima kasih atas kerja sama dan bantuannya.

9. Para saudara penulis: Iccang, ani, alling dan Nini yang selalu ada mendampingi dikala penulis drop lagi….!!!! ^_^

10. Seluruh teman-teman Kel. Besar IKA Spensab 07’: atas canda, tawa, suka, dan duka yang tercipta selama ini, yang membuat

(7)

11. para sahabat-sahabatku: Anaa, Ayu, Fina, Hasni N Dian, dan tak yang selalu memberikan motivasi kepada penulis.

Semoga amal kebaikan yang diberikan kepada penulis, mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT,……Amin.

Tiada gading yang tak retak, begitu pula dengan skripsi ini yang tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Olehnya itu diharapkan saran dari para pembaca, dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama bagi penulis sendiri.

Billahifii Sabililhaq, Fastabiqul Khairat……

Makassar, Juni 2014

Penulis

(8)

iii

RIHUL JANNAH. Stambuk. 10572 02856 10 2014. Prosedur Pembiayaan Mudharabah Pada PT. Bank Sulselbar Cabang Makassar. Skripsi. Dibimbing oleh Dr. Ir. A. Ifayani Haanurat, MM dan Asri Jaya, SE., MM. Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penelitian ini menelaah mengenai masalah prosedur pembiayaan mudharabah.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul, Prosedur Pembiayaan Mudharabah pada PT. Bank Sulselbar Cabang Makassar. Masalah penelitian ini adalah: Bagaimanakah prosedur pembiayaan mudharabah pada PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur pembiayaan mudharabah yang diterapkan pada PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik Interview, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

Prosedur pembiayaan mudharabah dapat memberikan besarnya prosentase hasil dibayarkan oleh mudharib kepada shohibul maal.

Kata Kunci: Pembiayaan Mudharabah

(9)

i

Halaman

HALAMAN JUDUL ... ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... ... viii

DAFTAR TABEL ……… x

DAFTAR SKEMA ……… xi

BAB I. PENDAHULUAN ... ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA . ... 4

A. Pengertian Bank Syariah... 4

B. Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional ... 6

C. Fungsi dan Manfaat Bank Syariah ... 8

D. Produk Bank Syariah ... 9

(10)

ii

G. Unsur-unsur Pembiayaan ... 15

H. Akad Mudharabah ... 18

I. Dasar Syariah Akad Mudharabah ... 21

J. Kerangka Pikir ... 28

BAB III. METODE PENELITIAN ... 29

A. Jenis Penelitian ... 29

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 29

C. Jenis dan Sumber Data ... 29

D. Metode Pengumpulan Data ... 30

E. Metode Analisis ... 30

BAB IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ……….. 32

A. Sejarah Singkat Perusahaan ... 32

B. Struktur Organisasi ... 35

C. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab Masing-masing jabatan ... 38

D. Kegiatan Usaha ... 45

BAB V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……… … 50

A. Pembiayaan Modal Kerja Mitra iB-BSS ... 50

B. Prosedur Pembiayaan……… 58

(11)

iii

B. Saran……….. ……… … 62 DAFTAR PUSTAKA ………... 63

(12)

iv

Tabel 1 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional……… 6

Tabel 2 Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil ...…… 7

(13)

v

Skema 1. Kerangka pikir……… 28

Skema 2. Struktur Organisasi PT. Bank Sulsel Syariah... 37

(14)

1 A. Latar Belakang

Bank syariah adalah bank yang dalam menjalankan usahanya berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah Islam.Bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan bunga.Salah satu prinsip syariah adalah Sistem perbankan digunakannya bagi hasil (Revenue sharing) sebagai pengganti bunga. Inilah yang Syariah dengan perbankan konvensional yang menganut system interests (bunga) dalam setiap transaksinya. Ketika Bank syariah pertama kali berkembang, Baik di Tanah Air maupun di Mancanegara, seringkali dikatakan bahwa bank syariah adalah bank bagi hasil.Hal itu betul, tetapi tidak sepenuhnya benar karena bagi hasil itu hanya merupakan bagian dari system operasi bank syariah.Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa system bagi hasil sudah pasti melakukan salah satu praktik perbankan syariah sedangkan praktik perbankan syariah belum tentu seluruhnya menggunakan system bagi hasil, masih ada system jual beli dan sewa menyewa yang juga digunakan dalam system operasi bank syariah.

Secara etimologi kalimat Mudharabahberasal dari bahasa Arab yaitu dharb, yang berarti memukul atau berjalan. Pengertian memukul dan berjlan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usahanya. Secara tekhnis, Al-Mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal)

(15)

menyediakan seluruh modal, menyediakan seluruh modal, sedangkan pihaklain menjadi pengelola.

Seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan syariah ini, menuntut pihak bank untuk provesiolalitas dalam pelaksanaanya dan mensosialisasikan produk-produknya. Prinsip bagi hasil sebagai nafas dan jiwanya perbankan syariah perlu disosialisasikan dalam implementasi prodak- prodak perbankan syariah. Dalam pelaksanaanya bagi hasil ini dapat disalurkan dalam beberapa kerangka usaha, salah satunya adalah pembiayaan dengan prinsip mudharabah.Mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak, dimana pihak pertama menyediakan seluruh (100 persen) modal, sedangkan pihak lain menjadi pengelola.

Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian di pengelola.

Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalian si pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

Dengan salah satu system bagi hasil penyaluran dana mudharabah. Berdasar atas prinsip bagi hasil dengan bentuk penyaluran dana mudharabahpenulis meneliti dan mencoba mengkaji tentang masalah tersebut dalam suatu tulisan yang berjudul “PROSEDUR PEMBIAYAAN MUDHARABAH PADA PT. BANK SULSELBAR SYARIAH CABANG MAKASSAR” adanya bank syariah mandiri disertakan dalam judul penulisan ini karena tempat penelitian penulis di Bank Sulsebar Syariah. Dengan tulisan ini penulis

(16)

mencoba menelusuri dan meneliti masalah masalah dalam perbankan syariah dalam hal pelaksanaan bagi hasil.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah adalah Bagaimanakah Prosedur PembiayaanMudharabahpada PT.

Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui prosedur pembiayaan mudharabahyang diterapkan oleh PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar.

D. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini nantinya, diharapkan dapat memberikan manfaat anatara lain sebagai berikut:

a. Sebagai salah satu informasi bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan yang tepat dalam hal pembiayaan mudharabah.

b. Dapat menjadi pengalaman ilmiah dan memperluas wawasan peneliti dalam hal penelitian mengenai pembiayaan mudharabah.

c. Sebagai referensi ilmiah bagi peneliti (mahasiswa) selanjutnya untuk penelitian yang sama di masa yang akan dating.

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Bank Syariah

Bank syariah merupakan salah satu aplikasi dari system ekonomi syariah Islam yang merupakan bagian dari nilai-nilai dari ajaran Islam mengatur bidang perekonomian umat dan tidak terpisahkan dari aspek-aspek lain ajaran Islam yang komprehensif dan universal. Menurut Ely Siswanto,MM : (2008) Bank Syariah adalah bank yang dalam menjalankan usahanya berdasarkan pada prinsip syariah Islam. Bank syariah yang sering pula disebut bank Islam adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan bunga.Bank syariah juga dapat diartikan sebagai lembaga keuangan/ perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan berdasarkan landasan Al-Qur‟an dan Hadist Nabi Muhammad SAW.

Kemudian menurut Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah disebutkan dalam pasal 1 bahwa “Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.”

Bank syariah adalah bank yang dalam aktivitasnya baik dalam menghimpun dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah (Rodoni, 2008: 14).

(18)

Bank Islam adalah sebuah bentuk dari bank modern yang didasarkan pada hukum Islam yang sah, dikembangkan pada abad pertama Islam, menggunakan konsep berbagi resiko sebagai metode utama dan meniadakan keuangan berdasarkan kepastian serta keuntungan yang ditentukan sebelumnya.

Pengertian Bank syariah Menurut Muhammad, (2005). Bank syariah/ Bank Islam yang memiliki pengertian:

1. Bank syariah yang beroperasinya mengacu pada prinsip-prinsip syariah.

2. Bank yang tata cara Beroperasinya mengacu pada ketentuan-ketentuan Al-Qur‟an dan Nabi Muhammad SAW.

Bank yang beroperasinya sesuai prinsip syariah Islam adalah bank yang dalam operasinya itu mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalah secara Islam.

Perbankan syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan unit usaha syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.

Menurut Sudarsono (2003), bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi dengan prinsip-prinsip syariah.

Menurut Amir Machmud (2008: 4) secara filosofis, bank syariah adalah bank yang aktivitasnya meninggalkan masalah Riba.

(19)

B. Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Menurut Muhammad Syafi‟i Antonio dalam beberapa hal, bank konvensional dan bank syariah memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan dan sebagainya. Akan tetapi terdapat banyak perbedaan mendasar di antara keduanya.

Bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah (Sumitro Markum, 2005: 5).Bank syariah adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan prinsip syariah.

Tabel. 1

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Bank Syariah Bank Konvensional

1. 1. Melakukan investasi-investasi yang halal saja

2. 2. Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli atau sewa

3. 3. Profit dan falah oriented

4. 4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemitraan

5. 5. Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan Fatwa Dewan Pengurus Syariah

1. 1. Investasi yang halal dan haram

2. 2. Memakai prinsip bunga

3. 3. Profit oriented

4. 4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan debitur-kreditur 5. 5. Tidak terdapat dewan sejenis

Sumber: Antonio (2009: 34)

(20)

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan mendasar antara bank syariah dan bank konvensional adalah pada prinsip pembagian hasil pembiayaan.Bank syariah berdasarkan prinsip bagi hasil dan bank konvensional menggunakan prinsip bunga. Berikut tabel perbedaan bunga dan bagi hasil:

Tabel.2

Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil

BUNGA BAGI HASIL

1. Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi bank harus selalu untung.

1. Penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi.

2. Besarnya persentasi berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan.

2. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh.

3. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi.

3. Bagi hasil bergantung pada keuntungan proyek yang dijalanakan.

Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.

4. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang “booming”.

4. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.

5. Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama, termasuk Islam.

5. Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.

Sumber: Antonio (2009: 61)

(21)

C.Fungsi dan Manfaat Bank Syariah

Bank syariah memiliki perbedaan prinsip dengan bank konvensional dari sisi fungsi. Bank syariah dalam sistem syariah disamping sebagai badan usaha yang memiliki tujuan memperoleh laba atau keuntungan juga memiliki fungsi dan peran sebagai badan sosial yang harus memperhatikan kondisi perekonomian.

Fungsi bank syariah menurut Siswant (2008: 129) adalah sebagai berikut:

1. Manajer Investasi. Bank syariah dapat mengelola investasi nasabah baik dalam skema mudharabah, musyarakah, maupun salam.

2. Investor. Bank syariah dapat menginvestasikan dananya maupun dana nasabah yang dipercayakan.

3. Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran seperti transfer, kliring, inkaso, dan sebagainya.

Sedangkan sebagai badan sosial (maal), bank syariah dapat berfungsi sebagai amil atas zakat, infak maupun shodaqoh dari masyarakat.Meskipun terdapat perbedaan yang tajam secara prinsip antara bank dengan sistem bunga dan bank dengan sistem syariah, namun justru memunculkan beberapa keuntungan dari adanya bank syariah tersebut khususnya dari sekup yang lebih luas.

Adapun keuntungan munculnya bank syariah yaitu bank syariah sebagai pelengkap Bank Konvensional, Bank Syariah dapat digunakan sebagai alternative pembiayaan dan transaksi perbankan lainnya selain dari

(22)

bank konvensional.Dengan adanya bank syariah, jenis-jenis produk dan pelayanan perbankan menjadi semakin bervariasi. Semakin banyaknya variasi jasa perbankan akan menguntungkan masyarakat karena memungkinkan masyarakat untuk memilih sekian jenis produk sebagai alternative.

1. Bank syariah dapat mengakomodasi kelompok masyarakat tertentu. Diakui atau tidak, sebelumnya sistem syariah diakui sebagai salah satu sistem operasional perbankan di Indonesia.Dengan adanya bank syariah, kelompok masyarakat yang apatis terhadap dunia perbankan.

2. Meningkatkan mobilisasi dana masyarakat. Dengan adanya bank syariah yang bervariasi, secara otomatis akan meningkatkan mobilisasi dana masyarakat pada perbankan yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

D. Produk Bank syariah

Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tetapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalkan modal usaha) dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan.

Pembiayaan dalam perbankan syariah tidak bersifat menjual uang yang mengandalkan pendapatan bunga atas pokok pinjaman yang diinvestasikan, tetapi dari pembagian laba yang diperoleh pengusaha.Pendekatan bank syariah mirip dengan Investment

(23)

Banking.Dimana secara garis besar produk adalah Mudharabah (trusr Financing) dan Musyarakah (Partnership Financing)sedangkan yang bersifat investasi diimplementasikan dalam bentukMurabahah(jual-beli).

Pola konsumsi dan pola simpanan yang diajarkan oleh Islam memungkinkan Umat Islam mempunyai kelebihan pendapatan yang harus diproduktifkan dalam bentuk investasi. Maka, bank Islam menawarkan tabungan investasi yang disebut simpanan Mudharabah (simpanan bagi hasil atas usaha bank). Untuk dapat membagihasilkan usaha bank kepada penyimpanan Mudharabah, bank syariah menawarkan jasa-jasa perbankan kepada masyarakat dalam bentuk berikut:

1. Produk Pendanaan

Produk-produk pendanaan bank syariah ditujukan untuk memobilisasi dan investasi tabungan untuk pembangunan perekonomian dengan cara yang adil sehingga keuntungan yang adil dapat dijamin bagi semua pihak.

a.) Pendanaan dengan prinsip wadi’ah (simpanan) adalah perjanjian antara pemilik barang (termasuk uang), dimana pihak penyimpan (termasuk bank) bersedia menyimpan dan menjaga keselamatanbarang yang dititipkan kepadanya. Prinsip ini dikembangkan dalam bentuk

produk simpanan yaitu: Giro wadi‟ah dan tabungan wadi‟ah.

( Arikunto, 2002: 31).

b.) Pendanaan dengan prinsip Mudharabah (bagi hasil) adalah perjanjian antara pemilik modal (shabibul maal) dengan pengelola (mudharib).

Dimana pemilik modal bersedia membiayai sepenuhnya suatu proyek/

(24)

usaha dan pengusaha setuju untuk mengelola proyek tersebut dengan pembagian hasil sesuai perjanjian. Prinsip ini dikembangkan dalam bentuk produk bagi hasil yaitu: Tabungan mudharabah, Deposito/

Investasi Umum (tidak terikat dengan prinsip mudharabah al- mutlaqah) dan Deposito/ Investasi khusus (terikat dalam prinsip mudharabah al-muqayyadah).

2. Produk pembiayaan

Dalam menyalurkan dana pada nasabah, secara garis besar produk pembiayaan syariah terbagi dalam tiga kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya (Rodoni. Hamid, 2008: 23-27) yaitu:

a. Prinsip jual beli (Ba’i) dilaksanakan sehubungan dengan adanya pemindahan kepemilikan barang atau benda, yang mana tingkat keuntungan bank ditentukan di depan dengan menjadi bagian harta atas barang yang dijual.

1.) Pembiayaan murabahah adalah transaksi jual beli dimana bank menyebut jumlah keuntungannya. Dimana bank sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli.

2.) Salam adalah transaksi jual beli dimana barang yang diperjual belikan belum ada. Oleh karena itu, barang diserahkan secara tangguh sedangkan pembayaran dilakukan secara tunai.

3.) Istishna adalah produk ini menyerupai salam namun dalam istishna pembayaran dapat dilakukan oleh bank dalam beberapa kali pembayaran.

(25)

b. Prinsip Sewa (Ijarah), transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat, pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan jual beli bedanya sama pada obyeknya, bila jual beli obyek transaksinya adalah barang sedangkan ijarah obyek transasksinya adalah jasa.

c. Prinsip Bagi Hasil (syirkah), produk pembiayaan syariah yang didasarkan pada prinsip bagi hasil adalah:

1.) Musyarakah adalah bentuk kerjasama antara dua atau lebih, dimana masing-masing pihak mempunyai hak untuk ikut serta, mewakilkan, membatalkan haknya dalam pelaksanaan usaha tersebut.

2.) Mudharabah adalah bentuk kerjasama antara dua atau lebih pihak, dimana pemilik modal (shahibul maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan, bentuk ini menegaskan kerjasama dengan kontribusi 100 % modal dari shohibul maal dan keahlian dari mudharib.

3. Produk Jasa Perbankan (Rodoni, 2008: 37) yaitu:

a.Shraf (jual beli valuta asing), jual beli mata uang yang tidak sejenis ini penyebabnya harus dilaksanakan pada waktu yang sama dimana bank mengambil keuntungan dari jual beli valuta asing ini.

b.Ijarah (sewa) jenis kegiatan ini antara lain penyewaan kotak simpanan dan jasa tata laksana administrasi dokumen dimana bank dapat imbalan sewa dari jasa tersebut.

(26)

E. Pengertian Pembiayaan

Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau peminjaman uang berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.

Menurut Kasmir, Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.

Dalam arti sempit, pembiayaan dipakai untuk mendefinisikan pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan, seperti Bank Syariah kepada nasabah. Dalam kondisi ini arti pembiayaan menjadi sempit dan pasif.

Sedangkan dalam arti luasPembiayaan berarti financing atau pembelanjaan yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dikerjakan oleh orang lain.

Menurut M. Syafi‟I Antonio, Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank yaitu pemberian fasilitas dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit.

Sedangkan menurut UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan menyatakan, Pembiayaan merupakan salah satu fungsi bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang

(27)

membutuhkan atau memerlukan. Pembiayaan dalam perbankan syariah secara garis besar dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Debt financing (pembiayaan utang), dimana pihak bank menyalurkan dana kepada nasabah untuk pengadaan suatu barang dan nasabah wajib mengembalikan dana tersebut sebesar harga perolehan barang ditambah margin yang telah disepakati.

2. Equaty financing (pembiayaan modal), dimana bank menyalurkan dananya sebagai penyertaan suatu modal usaha yang dikerjakan oleh nasabah karena bentuknya berupa penyertaan modal maka keuntungan maupun kerugian ditanggung bersama sesuai akad yang disepakati.

F. Tujuan dan Fungsi Pembiayaan

Tujuan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah untuk meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan ekonomi sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Perbedaan antara kredit yang diberikan oleh bank konvensional dengan pembiayaan yang diberikan oleh bank berdasarkan prinsip syariah adalah terletak pada keuntungan yang diharapkan.Pada bank konvensional keuntungan diperoleh melalui bunga sedangkan pada bank syariah keuntungan diperoleh melalui imbalan atau bagi hasil.

Keberadaan bank syariah yang menjalankan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah bukan hanya untuk mencari keuntungan dan meramaikan bisnis perbankan, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan

(28)

bisnis yang aman,Adapun tujuan pembiayaan diantaranya:

1. Memberikan pembiayaan dengan prinsip syariah yang menerapkan sistem bagi hasil yang tidak memberatkan debitur.

2. Membantu kaum dhuafa yang tidak tersentuh oleh bank konvensional.

3. karena tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh bank konvensional.

4. Membantu masyarakat ekonomi lemah yang selalu dipermainkan oleh rentenir dengan membantu melalui pendanaan untuk usaha yang dilakukan.

G.Unsur-unsur Pembiayaan

Unsur-unsur yang terkandung dalam pembiayaan suatu fasilitas kredit adalah sebagai berikut:

1. Kepercayaan.

Kepercayaan merupakan suatu keyakinan bahwa pembiayaan yang diberikan benar – benar diterima kembali dimasa yang akan datang sesuai jangka waktu yang sudah diberikan. Kepercayaan yang diberikan oleh bank sebagai dasar utama yang melandasi mengapa suatu pembiayaan berani dikucurkan. Oleh karena itu sebelum sebelum pembiayaan dikucurkan harus dilakukan penyelidikan dan penelitian terlebih dahulu secara mendalam tentang kondisi nasabah, baik secara intern maupun ekstern. Penelitian dan penyelidikan tentang kondisi pemohon pembiayaan sekarang dan masa lalu, untuk menilai kesungguhan dan etika baik nasabah terhadap bank.

(29)

2. Kesepakatan.

Kesepakatan antara si pemohon dengan pihak bank. Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing - masing pihak menandatangani hak dan kewajiban masing - masing. Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam akad pembiayaan dan ditandatangani kedua belah pihak.

3. Jangka Waktu.

Setiap pembiayaan yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian pembiayaan yang telah disepakati. Jangka waktu merupakan batas waktu pengembalian angsuran yang sudah disepakati kedua belah pihak. Untuk kondisi tertentu jangka waktu ini bisa diperpanjang sesuai dengan kebutuhan.

4. Risiko.

Akibat adanya tenggang waktu, maka pengembalian pembiayaan akan memungkinkan suatu risiko tidak tertagihnya atau macet pemberian suatu pembiayaan. Semakin panjang jangka waktu pembiayaan maka semakin besar risikonya, demikian pula sebaliknya.

Risiko ini menjadi tanggungan bank, baik risiko disengaja, maupun risiko yang tidak disengaja, misalnya karena bencana alam atau bangkrutnya usaha nasabah tanpa ada unsur kesengajaan lainnya, sehingga tidak mampu melunasi pembiayaan yang diperoleh.

(30)

5. Balas Jasa.

Dalam Bank konvensional balas jasa dikenal dengan nama bunga.

Disamping balas jasa dalam bentuk bunga bank juga membebankan kepada nasabah biaya administrasi yang juga merupakan keuntungan bank. Bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah balas jasanya dikenal dengan bagi hasil.

Selain unsur-unsur pembiayaan tersebut, adapun prinsip-prinsip dalam pemberian pembiayaan adalah sebagai berikut:

1. Character

Yaitu penilaian terhadap karakter atau kepribadian calon penerima pembiayaan dengan tujuan untuk memperkirakan kemungkinan bahwa penerima pembiayaan dapat memenuhi kewajibannya.

2. Capacity

Yaitu penilaian secara subyektif tentang kemampuan penerima pembiayaan untuk melakukan pembayaran.Kemampuan diukur dengan catatan prestasi penerima pembiayaan di masa lalu yang didukung dengan pengamatan di lapangan atas sarana usahanya seperti toko, karyawan, alat- alat, pabrik serta metode kegiatan.

3. Capital

Yaitu penilaian terhadap kemampuan modal yang dimiliki oleh calon penerima pembiayaan yang diukur dengan posisi perusahaan secara keseluruhan yang ditujukan oleh rasio finansial dan penekanan pada komposisi modalnya.

(31)

4. Collateral

Yaitu jaminan yang dimiliki calon penerima pembiayaan. Penilaian ini bertujuan untuk lebih meyakinkan bahwa jika suatu resiko kegagalan pembayaran tercapai terjadi , maka jaminan dapat dipakai sebagai pengganti dari kewajiban.

5. Condition

Bank syariah harus melihat kondisi ekonomi yang terjadi di masyarakat secara spesifik melihat adanya keterkaitan dengan jenis usaha yang dilakukan oleh calon penerima pembiayaan. Hal tersebut karena kondisi eksternal berperan besar dalam proses berjalannya usaha calon penerima pembiayaan.

H. Akad Mudharabah 1. Pengertian Mudharabah

Pengertian mudharabah Berdasarkan PSAK No. 105 Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak; pihak pertama (pemilik dana) Menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak selaku pengelola.

Mudharabah berasal dari kata Adhdharby Fil Ardhi yaitu bepergian untuk urusan dagang.Disebut juga Qiradh yang berasal dari kata Alqardhu yang berarti potongan, karena pemilik memotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan memperoleh sebagian keuntungan.

(32)

Menurut ely Siswanto (2008: 132) Al- Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola (Mudharib).

Akad Mudharabah adalah bentuk kontrak antara dua pihak dimana satu pihak berperan sebagai pemilik modal dan mempercayakan sejumlah modalnya untuk dikelola oleh pihak kedua, yakni pelaksana usaha, dengan tujuan untuk mendapatkan untung. Atau singkatnya, akad Mudharabah adalah persetujuan kongsi antara harta dari salah satu pihak dengan kerja dari pihak lain.

Menurut Antonio, (2002: 95). Mudharabah berasal dari kata dharb, berarti memukul atau berjalan, dimana pengertian memukul atau berjalan lebih tepat adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam usahanya.

Secara tekhnis Mudharabah adalah suatu akad kerjasama atau persetujuan kongsi usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh dana (100%) dan pihak kedua (mudharib) bertanggung jawab atas pengelolaan usaha dimana keuntungannya dibagikan sesuai dengan ratio bagi hasil yang telah disepakati bersama. (karim, 2006:

205).

2. Jenis-jenis Akad Mudharabah

Secara umum mudharabah terbagi menjadi dua jenis yaitu:

(Sudarsono,2005:59-60):

(33)

a.) Mudharabah Muthalaqah adalah Mudharabah dimana pemilik dananya memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalampengelolaan investasinya. Mudharabah itu disebut juga investasitidak terikat.

Jenis Mudharabah ini tidak ditentukan masa berlakunya, didaerah mana usaha tersebut akan dilakukan, tidak ditentukan line of trade, line of industry, atau line of service yang akan dikerjakan. Namun kebebasan ini bukan kebebasan yang tidak terbatas sama sekali. Modal yang ditanamkan tetap tidak boleh digunakan untuk membiayai proyek atau investasi yang dilarang oleh Islam seperti untuk keperluan spekulasi, perdagangan minuman keras (sekalipun memperoleh izin dari pemerintah), peternakan babi, ataupun berkaitan dengan riba atau lain sebagainya.

Dalam Mudharabah Muthalaqah, pengelola dana memiliki kewenangan untuk melakukan apa saja dalam pelaksanaan bisnis bagi keberhasilan tujuan mudharabah tersebut. Namun, apabila ternyata pengelola dana melakukan kelalaian atau kecurangan, maka pengelola dana harus bertanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkannya.

Sedangkan apabila terjadi kerugian atas usaha itu, yang bukan karena kelalaian dan kecurangan pengelola dana maka kerugian itu akan ditanggung oleh pemilik dana.

b.) Mudharabah Muqayyadah adalah mudharabah dimana pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola antara lain mengenai dana, lokasi, cara, dan obyek investasi atau sector usaha.Misalnya, tidak mencampurkan dana yang dimiliki olehpemilik dana dengan dana lainnya,

(34)

tidak menginvestasikan dananya pada transaksi penjualan cicilan tanpa penjamin ataumengharuskan pengelola dana untuk melakukan investasi sendiri.

Apabila pengelola dana bertindak bertentangan dengan syarat- syarat yang diberikan oleh pemilik dana, maka pengelola dana harus bertanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkannya, termasuk konsekuensi keuangan. Mudharabah Muqayyadah terbagi menjadi dua yaitu:

a.) Mudharabah Muqayyadah yaitu simpanan khusus dimana pemilik dana dapat menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank.

b.) Mudharabah Muqayyadah yaitu penyaluran dana langsung kepada pelaksana usahanya, dimana bank bertindak sebagai perantara yang mempertemukan antara pemilik dana dengan pelaksana usaha dan pemilik dana dapat menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank dalam mencari kegiatan usaha yang akan dibiayai dalam pelaksanaan usahanya.

I.Dasar Syariah Akad Mudharabah 1. Sumber Hukum Akad Mudharabah

Menurut Ijmak Ulama, Mudharabah hukumnya jaiz (boleh). Hal ini dapat diambil dari kisah Rasulullah yang pernah melakukan mudharabah dengan Siti Khadijah. Siti Khadijah bertindak sebagai pemilik dana dan Rasulullah sebagai pengelola dana.

(35)

a.) Al-Qur‟an

Artinya

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Qs. Ali Imran [3]: 130)

Artinya:

“ Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kalian telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berzikirlah (dengan menyebut nama)-Nya sebagaimana yang Dia tunjukkan kepadamu; dan sesungguhnya kalian sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang sesat”. (Q.s. Al-Baqarah[2]:198)

b.) As-Sunnah

Dari Shalih bin Suaib r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkatan: jual-beli secara tangguh, mudharabah, dan bercampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu-Majah)

(36)

“Abbas bin Abdul Muthalib jika menyerahkan harta sebagai Mudharabah, ia mensyaratkan kepada pengelola dananya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (pengelola dana) harus menanggung risikonya. Ketika persyaratan yang ditentukan Abbas didengar Rasulullah SAW, beliau membenarkannya.”(HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

2. Rukun dan Ketentuan Syariah Akad Mudharabah

Faktor-fakor yang harus ada (rukun) dalam akad mudharabah adalah:

a. Pelaku (pemilik modal maupun pelaksana usaha) b. Objek mudharabah (mdal dan kerja)

c. Persetujuan kedua belah pihak (ijab-qabul) d. Nisbah keuntungan

Keuntungan Syariah, adalah sebagai berikut:

1. Pelaku

a. Pelaku harus cakap hokum dan baligh.

b. Pelaku akad mudharabah dapat dilakukan sesama atau non Muslim c. Pemilik dana tidak boleh ikut campur dalam pengelolaan usaha

tetapi ia boleh mengawasi.

2. Objek Mudharabah (modal dan kerja). Objek mudharabah merupakan konsekuensi logis dengan dilakukannya akad mudharabah.

a. Modal

1.) Modal yang diserahan dapat berbentuk uang atau asset

(37)

lainnya (dinilai sebesar nilai wajar), harus jelas jumlah dan jenisnya.

2.) Modal harus tunai dan tidak utang. Tanpa adanya setoran modal, berarti pemilik dana tidak memberikan kontribusi apapun padahal pengelola dana harus bekerja.

3.) Modal harus diketahui dengan jelas jumlahnya sehingga dapat dibedakan dari keuntungan.

4.) Pengeloladana tidak diperkenankan untuk memudharabahkan kembali modal mudharabah, dan apabila itu dilakukan maka dianggap terjadi pelanggarankecuali atas izin pemilik dana

5.) Pengelola dana tidak diperbolehkan untuk meminjam modal kepada orang lain dan apabila itu dilakukan maka dianggap terjadi pelanggaran kecuali atas izin pemilik dana.

6.) Pengelola dana memilki kebebasan untuk mengatur modal menurut kebijaksanaan dan pemikirannya sendiri, selama tidak dilarang secara sah.

b. Kerja

1.) Kontribusi pengelola dana dapat berbentuk keahlian, kerampilan, selling skill, management skill, dan lain-lain.

2.) Kerja adalah hak pengelola danadan tidak boleh diintervensi oleh pemilik dana.

(38)

3.) Pengelola dana harus menjalankan usaha sesuai dengan syariah.

4.) Pengelola dana harus mematuhi ketetapan yang ada dalam kontrak.

5.) Dalam hal pemilik dana tidak melakukan kewajiban atau melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan, pengelola dana sudah menerima modal dan sudah bekerja maka pengelola dana berhak mendapatkan imbalan/ ganti rugi/

upah.

3. Ijab Qabul

Ijab Qabul adalah pernyataan dan ekspresi saling rida/ rela di antara pihak-pihak pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi modern.

4. Nisbah Keuntungan

a. Nisbah adalah besaran yang digunakan untuk pembagian keuntungan, mencerminkan imbalan yang berhak diterima oleh kedua pihak yang bermudharabah atas keuntungan yang diperoleh.

Pengelola dana mendapatkan imbalan atas kerjanya, sedangkan pemilik modal mendapatkan imbalan atas penyertaan modalnya.

Nisbah keuntungan harus diketahui dengan jelas oleh kedua pihak, inilah yang akan mencegah terjadinya perselisihan antara kedua

(39)

belah pihak mengenai cara pembagian keuntungan. Jika memang dalam akad tersebut tidak dijelaskan masing-masing porsi, maka pembagiannya menjadi 50% dan 50%.

b. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

c. Pemilik dana tidak boleh meminta pembagian keuntungan dengan menyatakan nilai nominal tertentu Karena dapat menimbulkan riba.

3. Sistem Pembiayaan

Pembiayaan modal kerja, yaitu pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan; Peningkatan produksi, baik secara kuantitatif yaitu jumlah hasil produksi, maupun secara kualitatif yaitu peningkatan kualitas atau hasil produksi. Dan untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang.

Pembiayaan investai, dalam investasi dengan menggunakan konsep mudharabah muqayyadah, pihak bank terikat dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh shahibul maal, misalnya; jenis investasi, waktu dan tempat.Aplikasi perbankan yang sesuai dengan akad ini ialah special investment.

4. Kelebihan dan Kekurangan Produk Mudharabah 1. Kelebihan:

a.) Bank akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat keuntungan usaha nasabah meningkat.

(40)

b.) Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan atau, hasil usaha bank sehingga bank tidak akan mengalami negative spread.

c.) Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow atau arus kas usaha nasabah sehingga tidak memberatkan nasabah.

d.) Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha yang benar-benar halal, aman dan menguntungkan karena keuntungan yang kongkret dan benar-benar terjadi itulah yang akan dibagikan.

e.) Prinsip bagi hasil dalam mudharabah atau musyarakah ini berbeda dengan prinsip bunga tetap dimana bank akan menagih penerima pembiayaan (nasabah) atau jumlah bunga tetap berapapun

keuntungan yang dihasilkan nasabah, sekaipun merugi dan terjadi krisis ekonomi.

2. Kekurangan

a.) Penerapan resiko pembiayaan relative tinggi.

b.) Side Streaming, nasabah menggunakan dana itu bukan seperti yang disebut dalam kontrak.

c.) Lalai dan kesalahan yang disengaja.

d.) Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabahnya tidak jujur.

(41)

J. Kerangka Pikir

Dengan melihat uraian yang telah dipaparkan di atas, maka pada bagian ini akan ditemukan beberapa hal yang menjadi landasan pikir.

Landasan pikir yang dimaksud tersebut akan mengarahkan penulis untuk menemukan data dan informasi dalam penelitian ini. Berikut dapat disimpulkan dalam suatu Bagan Kerangka Pikir Penelitian yaitu sebagai berikut:

Skema 1. Kerangka pikir

PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar

Proses Pembiayaan Mudharabah

Hasil Usaha

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Metode Penelitian yang digunakan peneliti dalam Penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono (2008: 1). Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (natural setting) . Metode penelitian kualitatif ini memberikan teknik untuk memperoleh jawaban atau informasi mendalam tentang pendapat dan perasaan seseorang.

B. Tempat dan waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada PT. BankSulselbar Syariah Cabang Makassar, JL.Ratulangi Kompleks Ruko Blok C1C2 No. 7 Makassar, Dengan waktu penelitian selama 2 (dua)bulan yaitu mulai bulan Meisampai dengan bulan Juni 2014.

C. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagaiberikut:

1. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari pihak PT. BankSulselbar Syariah Cabang Makassar, melalui wawancara langsung dengan karyawan yang menangani masalah pembiayaan mudharabah.

(43)

2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui pengumpulan atau pengelolaan data yang bersifat studi dokumentasi (analisis dokumen).

D. Metode Pengumpulan Data

Dalam proses pengumpulan data, metode yang digunakan penulis sebagai berikut:

1. Interview, yaitu melakukan wawancara langsung dengan pimpinan dan karyawan yang berhubungan dengan penelitian ini.

2. Observasi, yaitu melakukan pengamatan langsung kepada perusahaan khususnya pada bagian pembiayaan mudharabah yang merupakan objek dalam penelitian ini.

3. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data atau informasi yang diperoleh melalui laporan-laporan tertulis dariPT. BankSulselbar Syariah Cabang Makassar.

E. Metode Analisis

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kualitatif deskriptif yaitu dengan memberikan gambaran tentang pembiayaan mudharabah pada PT. BankSulselbar Syariah Cabang Makassar dengan prinsip 6C dan 7P.

Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan lebih menitikberatkan pada analisis perbandingan (comparative analysis), yakni perbandingan sistem Perbankan Syariah menurut Hukum Islam dan menurut Hukum Perbankan Syariah, perbandingan antara Akad Pembiayaan

(44)

Mudharabah dengan akad lainnya, serta perbandingan di antara Teori dan Praktik Akad Pembiayaan Mudharabah.

Menurut Arthesa dan Hardiman (2006: 171) mengemukakan bahwa prinsip dasar dalam menganalisa kredit yang lazim dikenal dengan

„prinsip 5C‟ yaitu: character (watak/ sifat), Capital (modal), Capasity (kemampuan), Collateral (agunan), dan Condition of economy( kondisi ekonomi), Sedangkan 7P yaitu: personality, purpose, prospect, payment, party, profitability, danprotection.

(45)

BAB IV

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

A. Sejarah Singkat Perusahaan

Eksistensi Bank Syariah di Indonesia secara formal telah dimulai sejak tahun 1992, dengan berlakunya UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

Namun harus diakui bahwa UU tersebut memberikan landasan hukum yang cukup kuat terhadap perkembangan bank syariah.Kemudian UU No. 10 tahun 1998 secara eksplisit menetapkan bahwa bank dapat beroperasi bedasarkan prinsip-prinsip syariah. Kemudian UU No. 23 Tahun 1999, menetapkan bahwa Bank Indonesia dapat melakukan pengendalian moneter berdasarkan prinsip-prinsip syariah.

Dalam rangka membangun dan mengembangkan industri perbankan syariah yang sehat dan tangguh, diperlukan pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah yang efektif, yang mana dalam pelaksanaan Good Corporate Governance tersebut harus memenuhi prinsip syariah (Sharia Compliance). Demikian halnya dengan PT. Bank Sulselbar Syariah Cab. Makassar yang merupakan Unit Usaha Syariah (UUS) dari PT. Bank Sulselbar yang diresmikan dan beroperasi pada tanggal 27 April 2007, di Jalan Ratulangi Kompleks Ruko Blok C1C2 No. 7 , Kota Makassar

(46)

PT. Bank Sulselbar Unit Usaha Syariah Cabang Makassar menjalankan seluruh aktivitas perusahaan berdasarkan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku, berusaha menerapkan slogan perusahaan yaitu “BERKAH” yang terdiri dari :

1. Bekerja sebagai ibadah

2. Etos kerja Islami

3. Ramah dan rajin

4. Konsisten

5. Amanah, dan

6. Ikhlas

PT. Bank Sulselbar Unit Usaha Syariah Cabang Makassar senantiasa berupaya untuk memastikan bahwa prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang meliputi lima prinsip utama, yaitu :

a. Keterbukaan (Transparency),

b. Akuntabilitas (Accountability),

c. Tanggungjawab (Responsibility),

d. Independensi (Independency), dan

e. Kewajaran (Fairness)

(47)

yang telah dilaksanakan dengan baik dan menjadi pedoman bagi setiap karyawan serta senantiasa dilakukan penyempurnaan dalam pelaksanaannya.

Diharapkan pelaksanaan prinsip Good Corporate Governance tersebut tidak hanya dipandang sebagai kewajiban perusahaan untuk memenuhi peraturan, tetapi juga menjadi budaya perusahaan, sehingga dapat membangun PT. Bank Sulselbar Unit Usaha Syariah Cabang Makassar menjadi organisasi yang kompetitif didukung oleh sumber daya manusia yang unggul, professional, memiliki integritas dan terbuka terhadap berbagai perubahan yang mengarah kepada perbaikan perusahaan yang lebih baik.

Good Corporate Governance yang telah diimplementasikan PT.

Bank Sulselbar Unit Usaha Syariah Cabang Makassar di tahun 2009 adalah :

1. Peningkatan pemahaman akan budaya peduli terhadap berbagai macam resiko, ketentuan dan peraturan diseluruh bidang usaha.

2. Melakukan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan manajemen resiko untuk penyempurnaan metode pengukuran resiko serta sistem pengelolaan resiko guna mitigasi risiko.

3. Melakukan evaluasi dan penyempurnaan berbagai ketentuan internal guna mendukung pelaksanaan tata kelola operasional PT. Bank Sulselbar Unit Usaha Syariah Cabang Makassar yang sehat.

4. Mengoptimalkan penerapan sistem pengelolaan resiko dan pelaksanaan kepatuhan Bank.

(48)

5. Melaksanaan tindak lanjut atas hasil pemeriksaan internal dan eksternal.

6. Mempersiapkan pelaksanaan Risk Based Audit (RBA) dalam pelaksanaan kontrol internal di seluruh unit kerja.

Sebagai perusahaan yang bergerak dibidang perbankan, dalam melakukan implementasi Good Corporate Governance (GCG), PT. Bank Sulsel Unit Usaha Syariah berpedoman pada Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/ PBI/2006 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia No : 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum dan PBI No. 11/33/PBI/2009 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.

B. Struktur Organisasi

Struktur Organisasi merupakan salah satu dalam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi serta wewenang dan tanggung jawab tiap-tiap anggota organisasi pada setiap pekerjaan.sehingga struktur organisasi dibuat secara sederhana, efektif untuk dapat bekerja secara efisien. Selain itu struktur organisasi sering disebut bagan atau skema organisasi dengan ini gambaran skematis tentang hubungan pekerjaan antara orang yang terdapat dalam suatu badan untuk mencapai tujuan.

Demikian pula halnya dengan PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar personilnya melakukan pekerjaannya masing-masing sesuai dan tanggung jawabnya, dan satu sama lainnya saling berhubungan dalam usaha

(49)

menciptakan suasana kerja yang disiplin dan dinamis agar tercapai tujuan perusahaan yang diinginkan. Oleh karena itu suatu organisasi harus dapat menggambarkan secara jelas fungsi dari tiap-tiap bagian yang terdapat pada organisasi tersebut.

(50)

Struktur Organisasi PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang. Makassar

Skema 2. Struktur Organisasi PT. Bank Sulselbar Syariah Sumber : PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar

PEMIMPIN CABANG HARTANI DJURNIE

PEMIMPIN SEKSI UMUM &

PERSONALIA

PEMIMPIN SEKSI PEMASARAN &

TREASURY

PEMIMPIN SEKSI AKUNTANSI &

PELAPORAN

ZUHRA ABD. RASYID

KUSUMAWARDANI Data Entry

Data Entry

GITA WAHYUNI OG

SUPARDI OB MUH. IKHSAN

OB ALI WARDANA

OB

RAHMAT Driver

SYAHRIR Driver

ARFAN Security

ZAIN BATOLA Security

SUARDI Security HERMAWAN

Security MUSTAMIR KIFLI

Driver

SAMURIA FIRMANSYAH

SUTRISNO Petugas Gadai

AHYANI Junior Analis

MUH. KAFRAWI Junior Analis

IRFAN HIDAYAT Ass. Administrasi

A. KURNIATI Funding

ANDI REZA ARISANDY Data Entry

ANDI YASKUR Data Entry

A. YUDIARTI

REZKI GEMALA R Teller

AGUS FITRAWAN PETUGAS KLIRING & ATM

ERVIN ASOKAWATY P Customer Service

SHELYA SAFITRI N Adm. Keuangan

RASYIDI TASRIF Koor. Kantor Kas

AYU KARTINI Teller Kas

(51)

C. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab Masing-masing Jabatan 1. Tugas dan tanggung jawab Pimpinan Cabang

a. Bertanggung jawab terhadap pencapaian seluruh target Cabang yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

b. Bertanggung jawab terhadap seluruh aktivitas operasional cabang.

c. Melakukan supervisi terhadap setiap unit/seksi di cabang untuk pelaksanaan pencapaian target pemasaran dan operasional sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

d. Bertanggung jawab terhadap penyaluran pembiayaan yang disalurkan melalui cabang dan melakukan monitoring dan pengawasan agar tetap comply-with dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

e. Bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas SDM cabang.

f. Bertanggung Jawab atas kondisi cabang agar tetap kondusif.

g. Bertanggung Jawab atas monitoring dan pembinaan terhadap nasabah pembiayaan.

h. Penanggung Jawab User Pimpinan Cabang

2. Tugas dan tanggung jawab Pemimpin Seksi Umum & Personalia a. Memonitoring Pegawai

b. Membuat daftar gaji

c. Membuat daftar uang Makan d. Membuat surat-surat keluar

e. Mengagenda/mendistribusi surat masuk f. Menjaga barang inventaris kantor

(52)

g. Membuat Daftar ATI & Penyusutannya h. Melaksanakan transaksi jaminan

i. Memonitoring kebutuhan ATC/ATK/ATI j. Penanggung jawab User Kasie Umum

3. Tugas dan tanggung jawab Pemimpin Seksi Pemasaran &Treasury a. Memonitoring angsuran nasabah

b. Bertanggung jawab memantau & melaporkan pelaksanaan pembiayaan (monitoring)

c. Bertanggung jawab dalam memastikan perikatan hukum ( akad, HT dan FEO ) secara sempurna & memastikan kesempurnaan penutupan asuransi terhadap debitur

d. Sosialisasi nasabah funding

e. Monitoring target agar tepat waktu f. Mengontrol kerja dan tugas AO g. Melakukan penagihan ke nasabah

h. Menjaga hubungan baik antara Bank Sulsel Syariah dan nasabah i. Membuat usulan pembiayaan

j. Mengusulan pembiayaan ke Komite

k. Penanggung Jawa User Kasie Pemasaran

4. Tugas dan tanggung jawab Pemimpin Seksi Akuntansi & Pelaporan a. Memonitoring mutasi pada neraca & laba rugi.

b. Melakukan review transaksi teller.

(53)

c. Berkoodinasi dengan Teller &SA langsung.

d. Melakukan konsolidasi RAK ataupun Giro antar Bank dengan Grup UUS e. Melakukan koordinasi dengan kasie umum - pemasaran perihal putusan pembiayaan

f. Menyampaikan laporan bulanan Cabang ke Kantor Pusat ataupun ke Bank Indonesia.

g. Penanggung Jawab User Kasie Akuntansi & Pelaporan h. Penanggung Jawab Kunci Ruang Khasanah

i. Penanggung Jawab Kunci Brangkas

5. Tugas dan tanggung jawab Petugas Gadai

a. Memberikan penjelasan & wawancara tentang produk Gadai emas kepada Nasabah.

b. Menerima& memeriksa kelengkapan dokumen Nasabah c. Menerima & menaksir jaminan emas

d.Menyerahkan semua kantong jaminan dan laporan transaksi harian Gadai emas kepada Pemimpin Seksi Pemasaran / Pemimpin Cabang.

e. Mencetak laporan transksi harian pinjaman dengan gadai emas pada menu VBS.

f. Memproses Pelunasan / perpanjangan Pinjaman Gadai pada saat jatuh tempo

g. Melakukan pemeriksaan taksiran harian bersama Pemimpin Seksi Pemasaran atau Pemimpin Cabang

h. Membuat Laporan STR & CTR

(54)

6. Tugas dan tanggung jawab Junior Analis

a. Bertanggung jawab terhadap pencapaian target pembiayaan dan target- target operasional lainnya yang telah ditetapkan oleh cabang.

b. Menerima berkas permohonan pembiayaan

c. Melakukan sosialitas terhadap permohonan yang masuk

d.Membuat usulan pembiayaan yang dinilai layak untuk diberikan fasilitas pembiayaan

e.Membina dan mengawasi seluruh account pembiayaan yang telah disalurkan

f. Menyampaikan laporan bulanan Cabang ke Kantor Pusat ataupun ke Bank Indonesia

g. Membantu kasie pemasaran dalam pencapaian target funding

h. Bertanggung jawab dalam proses pemberian pembiayaan yang sesuai dengan prinsip - prinsip syariah islam dan pedoman produk pembiayaan Bank SulSel

7. Tugas dan tanggung jawab Funding

a. Bertanggung jawab terhadap pencapaian target funding.

b. Melakukan sosialisasi produk-produk funding.

c. Penanggung Jawab program khusus penghimpunan dana.

d. Membuat Laporan Pive Line Funding.

e. Memantenance Nasabah Funding.

(55)

8. Tugas dan tanggung jawab Teller

a. Melakukan transaksi tunai dan non tunai b. Membuat laporan Kas

c. Memonitoring Posisi Saldo Kas d. Melayani nasabah buka Rekening.

e. Bertanggung jawab terhadap pencapaian target pendanaan dan target- target operasional lainnya yang telah ditetapkan oleh cabang.

f. Penanggung Jawab User Teller

9. Tugas dan Tanggung jawab Administrasi Keuangan a. Melakukan transaksi non tunai.

b. Bertanggung jawab atas jaringan VBS & pemelihraan komputer termasuk up date anti virus.

c. Bertanggung jawab atas pembuatan & pengiriman LBUS dan laporan keuangan mingguan.

d. Berkoodinasi langsung dengan Teller & Teller OC.

e. Penanggung Jawab User Teller.

10. Tugas dan tanggung jawab Customer Service

a. Bertanggung Jawab atas pelayanan kepada seluruh nasabah secara prima.

b. Menjelaskan berbagai produk Simpanan / Pembiayaan kepada Nasabah secara efisien dan efektif & tetap menjaga kerahasiaan Bank.

c. Memonitoring Pembukaan Rekening. Simpanan secara Reguler.

(56)

d. Melakukan Koord dengan KASIE KEUANGAN dan Teller perihal Aktivasi Rekening Simpanan.

e. Menjaga Keharmonisan kerja dengan seluruh bagian.

f. Mengupdate pengetahuan mengenai produk perbankan syariah, menguasai materi KYC pada saat melakukan aktivasi pembukaan rekening simpanan

g.Bertanggung jawab terhadap pencapaian target pendanaan dan target- target operasional lainnya yang telah ditetapkan oleh cabang.

h. Penanggung Jawab User SA i. Memonitoring penggunaan materai

11. Tugas dan tanggung jawab Petugas Kliring & ATM

a. Bertanggung Jawab Atas Transaksi Kliring Debet Dan Kredit.

b. Membuat Jurnal Transaksi Kliring Dan RTGS.

c. Membuat Laporan DHN, Cash In Dan Cash Out ATM.

d. Bertanggung Jawab Atas Pengisian ATM .

e. Bertanggung Jawab Atas Penyelesaian Selisih ATM.

f. Penanggung jawab User.

12. Tugas dan tanggung jawab Koordinator Kantor Kas a. Penanggung Jawab Kantor KAS Menara UMI b. Penanggung Jawab ATM Kantor Kas

c. Penanggung Jawab User

d. Memonitoring mutasi pada neraca & laba rugi.

(57)

e. MelakukanReview Transaksi Teller

f. Berkoordinasi dengan Teller & SA Langsung g. Melakukan Koordinasi dengan Kasie akuntansi

13. Tugas dan tanggung jawab OG (Office Girl) a. Membersihkan kantor

b. Mengontrol persediaan alat kantor c. Melayani keperluan pegawai

d. Menjilid bukti-bukti kas

e. Menyiapkan makanan/minuman untuk pegawai

14. Tugas dan tanggung jawab OB (Office Boy) a. Membersihkan kantor

b. Menyapu halaman kantor

c. Mengontrol persediaan alat kantor d. Menjaga kebersihan dapur & alat-2 dapur

15. Tugas dan tanggung jawab Driver

a. Mengantar Marketing untuk sosialisasi nasabah funding b. Memelihara & Bertanggung atas Kendaraan Dinas

c. Membersihkan Kantor dan Halaman Kantor

16. Tugas dan tanggung jawabSecurity

a. Menjaga keamanan kantor lingkungan sekitarnya b. Mengontrol pegawai & absensinya

(58)

c. Mengontrol lalulintas tamu

d. Menjaga barang inventaris kantor e. Menjaga barang/kendaraan pegawai

f. Membersihakan kantor dan halaman kantor g. Membantu pegawai

D. Kegiatan Usaha

1. Simpanan Investasi Nasabah a. Giro Syariah (Prinsip Wadiah)

Adalah sarana penyimpanan dana dalam bentuk mata uang rupiah dengan pengelolaan berdasarkan prinsip titipan (Wadiah yad Dhamanah) dimana dana Nasabah akan dikelola secara amanah dan dijamin penarikannya.

Giro Syariah dirancang khusus untuk memberikan jaminan keamanan dan kemudahan serta ketersediaan dana setiap saat guna membantu kelancaran transaksi usaha Nasabah, dengan penarikan melalui Cek/Bilyet Giro.

b. Tabungan Tandamata Syariah (Prinsip Wadiah)

Yaitu Simpanan Nasabah (perorangan) di Bank Sulsel Syariah dalam bentuk Tabungan dalam bentuk mata uang rupiah dengan pengelolaan berdasarkan prinsip Titipan (Wadiah Yad Dhamanah) dimana dana Nasabah akan dikelola secara amanah dan dijamin penarikannya.

Penyetoran dan penarikan dapat diambil setiap saat dengan fasilitas ATM Bersama dan Online di seluruh Kantor Bank Sulsel.

(59)

c.Tabungan Simpeda Syariah (Prinsip Mudharabah)

Yaitu Inventasi Nasabah (perorangan) di Bank Sulsel Syariah dalam bentuk mata uang rupiah dengan pengelolaan berdasarkan prinsip Mudharabah (Bagi Hasil) dimana dana Nasabah akan dikelola dengan Amanah dan Profesional dalam usaha Bank Sulsel Syariah, Insya Allah akan memperoleh bagi hasil dari Pendapatan Bank sesuai dengan Nisbah (porsi) Bagi Hasil yang disepakati di awal pembukaan rekening.

Penyetoran dan penarikan dapat diambil setiap saat dengan fasilitas ATM Bersama di seluruh Kantor Bank Sulsel.

d. Deposito Syariah (Prinsip Mudharabah)

Yaitu Inventasi Nasabah di Bank Sulsel Syariah dalam bentuk mata uang rupiah dengan pengelolaan berdasarkan prinsip Bagi Hasil (Mudharabah) dengan jangka waktu 1, 3, 6, 12 dan 24 bulan, dimana dana Nasabah akan dikelola sesuai dengan Amanah dan Profesional dalam usaha Bank Sulsel Syariah. Pendapatan Bank Syariah atas pengelolaan dana tersebut akan dibagi sesuai dengan Nisbah (porsi) Bagi Hasil yang disepakati di awal pembukaan rekening. Penyetoran dan penarikan sesuai jangka waktu yang disepakati dan dapat diperpanjang atau diperpanjang secara otomatis (Automatic Roll Over).Bagi hasil dapat dipindahbukukan secara otomatis ke rekening lain milik Nasabah di Bank Sulsel Syariah.

(60)

2. Pembiayaan a. Murabahah

Yaitu pembiayaan dengan prinsip Jual Beli untuk memenuhi kebutuhan nasabah seperti property, kendaraan, alat-alat industri dan barang lainnya, dengan proses yang mudah, dimana Bank Sulsel Syariah menjual barang yang dipesan/diinginkan Nasabah sebesar harga pokok ditambah margin keuntungan bank.

Setelah memenuhi prosedur dan persyaratan seperti uang muka dan kelayakan mengenai kemampuan angsuran dan lainnya, Nasabah sebagai pembeli dapat memanfaatkan fasilitas anggsuran selama 60 bulan untuk Nasabah (perorangan/badan usaha) berpenghasilan tidak tetap serta maksimal 96 bulan untuk Nasabah (perorangan) berpenghasilan tetap.

Kelebihan Murabahah dibanding produk sejenis non syariah adalah selain sesuai syariah (prinsip jual beli) adalah jumlah angsuran tetap tidak berubah walaupun terjadi fluktuatif suku bunga.Pembiayaan Murabahah dapat dimanfaatkan Nasabah untuk memenuhi kebutuhan barang-barang produktif maupun konsumtif termasuk dapat pula digunakan untuk pengadaanbarang berdasarkan pesanan dari pihak ketiga dengan bukti Surat Perintah Kerja/Kontrak Kerja dari Instansi Pemerintah/BUMN/BUMD serta pihak swasta yang kredible.

b. Istishna

Yaitu pembiayaan dengan prinsip Jual Beli untuk memenuhi kebutuhan nasabah khusus property dan barang lainnya yang memerlukan proses

Referensi

Dokumen terkait

Ada reulasi tentan penelolaan lim%a! ruma! sakit untuk meminimalkan risiko infeksi ,an melipu %ur a& sampai denan e& pada maksud dan tu#uan. )*&.

Akan tetapi, perhitungan harga opsi Eropa menggunakan metode Binomial membutuhkan partisi waktu yang banyak untuk bisa mendekati model kontinu Black Scholes.. Untuk

Kalibrasi model harga opsi Heston terdiri dari beberapa tahapan yakni : Menentukan data harga opsi pasar yang digunakan, kalibrasi model harga opsi Heston dengan

Dari beberapa pustaha laklak dan naskah bambu yang menggunakan aksara Batak Mandailing/ tulak - tulak tersebut semuanya ditulis dengan menggunakan tangan baik dengan tinta

disusun berdasarkan Base Practices (BP) pada setiap enabler process COBIT 5 yang relevan dengan subkategori yang akan diterapkan. RENCANA AKSI LEVEL 0 MENUJU LEVEL 1

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan oleh peneliti, maka masalah umum pada SHQHOLWLDQ LQL DGDODK ³ Apakah penggunaan kantong bilangan pada pembelajaran

Tidak sesuatu pun di dalam Deklarasi ini boleh ditafsirkan memberikan sesuatu Negara, kelompok ataupun seseorang, hak untuk terlibat di dalam kegiatan apa pun, atau

Berdasarkan hasil sidik ragam (Lampiran 5.5) menunjukkan interaksi pemberian volume penyiraman air dan kompos kulit buah kakao berpengaruh tidak nyata terhadap