• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRETES 2. dr. Syah Rini Wisdayanti Sp.OG,M.Kes

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PRETES 2. dr. Syah Rini Wisdayanti Sp.OG,M.Kes"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

PRETES 2

dr. Syah Rini Wisdayanti Sp.OG,M.Kes

(2)

PERSALINAN / PARTUS

Adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari dalam uterus melalui vagina atau jalan lain ke dunia

luar.

Partus/ Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 -42 minggu) dengan presentasi belakang kepala / ubun-ubun

kecil, lahir spontan tanpa memakai alat / pertolongan istimewa, yang berlangsung dalam 24 jam tanpa

komplikasi baik ibu maupun janin (Prawirohardjo, 2012).

Partus abnormal

Bayi lahir melalui vagina dengan bantuan tindakan atau alat seperti versi / ekstraksi, cunam, vakum, dekapitasi, embriotomi

dan sebagainya, atau lahir per abdominam dengan sectio

cesarea.

(3)
(4)

SEBAB TERJADINYA PROSES PERSALINAN

1. Penurunan fungsi plasenta : kadar progesteron dan estrogen menurun mendadak, nutrisi janin

dari plasenta berkurang.

2. Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser, menjadi stimulasi (pacemaker)

bagi kontraksi otot polos uterus.

(5)

3. Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, semakin merangsang terjadinya

kontraksi.

4. Peningkatan beban / stress pada maternal maupun fetal dan

peningkatan estrogen mengakibatkan peningkatan aktifitas kortisol, prostaglandin, oksitosin, menjadi pencetus rangsangan untuk proses

persalinan

(6)
(7)

PERSALINAN DITENTUKAN OLEH 3 FAKTOR "P" UTAMA

Power

His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, keadaan kardiovaskular respirasi metabolik ibu.

Passage

Keadaan jalan lahir Passanger

Keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik mayor)

(++ faktor2 "P" lainnya : psychology, physician, position)

Dengan adanya keseimbangan / kesesuaian antara faktor-faktor "P"

tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung.

(8)

PEMBAGIAN FASE / KALA PERSALINAN

Kala 1

Pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala pembukaan)

Kala 2

Pengeluaran bayi (kala pengeluaran) Kala 3

Pengeluaran plasenta (kala uri) Kala 4

Masa 1 jam setelah partus, terutama untuk

observasi

(9)
(10)
(11)
(12)

Lapisan luar Arah longitudinal

Lapisan tengah

Arah oblique/ anyaman tikar

Lapisan dalam Arah sirkular

Ot o t ut er us

(13)

HIS

His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus uteri di mana tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang tersebut

didapat dari ‘pacemaker’ yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut.

Resultante efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris yaitu daerah

kanalis servikalis (jalan laihir) yang membuka, untuk mendorong isi uterus ke luar.

Terjadinya his, akibat : 1. kerja hormon oksitosin

2. regangan dinding uterus oleh isi konsepsi 3

3. rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi.

(14)

Ef ek k o n tr ak si

(15)
(16)
(17)

His yang baik dan ideal meliputi :

1. kontraksi simultan simetris di seluruh uterus 2. kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus

3. terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi.

4. terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his

5. serviks uteri yang banyak mengandung kolagen dan kurang mengandung serabut otot,akan tertarik ke atas oleh retraksi otot-otot korpus, kemudian terbuka secara

pasif dan mendatar (cervical effacement). Ostium uteri

eksternum dan internum pun akan terbuka.

(18)

Nyeri persalinan pada waktu his dipengaruhi berbagai faktor :

1. iskemia dinding korpus uteri yang menjadi stimulasi serabut saraf di pleksus hipogastrikus diteruskan ke

sistem saraf pusat menjadi sensasi nyeri.

2. peregangan vagina, jaringan lunak dalam rongga panggul dan peritoneum, menjadi rangsang nyeri.

3. keadaan mental pasien (pasien bersalin sering ketakutan, cemas/ anxietas, atau eksitasi).

4. prostaglandin meningkat sebagai respons terhadap

stress

(19)

PERSALINAN KALA 1 :

FASE PEMATANGAN / PEMBUKAAN SERVIKS

DIMULAI

pada waktu serviks membuka karena his : kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran

darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah haid.

BERAKHIR

pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban biasanya pecah

spontan pada saat akhir kala I.

Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.

Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar 6 jam.

Fase aktif terbagi atas :

1. fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.

2. fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.

3. fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).

(20)

PERISTIWA PENTING PADA PERSALINAN KALA 1

1. keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis

servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus.

2. ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar.

3. selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan

menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan

ketuban sebelum pembukaan 5 cm

(21)

M ek an is me

(22)
(23)

KEPALA “ FLOATING “

ENGAGEMEN - FLEKSI - DESENSUS

DESENSUS

PUTAR PAKSI DALAM

ROTASI SEMPURNA AWAL EKSTENSI

EKSTENSI LENGKAP

RESITUSI - PPL

PERSALINAN BAHU DEPAN

PERSALINAN BAHU BELAKANG

(24)

PERSALINAN KALA 2 : FASE PENGELUARAN BAYI

DIMULAI pada saat pembukaan serviks telah lengkap. BERAKHIR pada saat bayi telah lahir lengkap.

His menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih lama, sangat kuat.

Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2.

Peristiwa penting pada persalinan kala 2

1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul.

2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat.

3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik) 4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis

(simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan.

5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi).

Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam.

(25)

KEPALA

“FLOATING”

SEBELUM ENGAGEMEN

which the biparietal diameter—the greatest

transverse diameter in an occiput presentation—

passes through the pelvic inlet is designated engagement

(26)

DESENSUS

 FLEKSI

 PPD

Descent is brought about by one or more of four forces: (1) pressure of the

amnionic

fluid, (2) direct pressure of the fundus upon the breech with contractions, (3) bearing-down efforts of maternal abdominal muscles, and (4) extension and straightening of the fetal body.

With this movement, the chin is brought into more intimate contact with the fetal thorax, and the appreciably shorter

suboccipitobregmatic diameter is substituted

for the longer occipitofrontal diameter

(27)

DESENSUS

PUTAR PAKSI DALAM

(28)

PPD SEMPURNA

 AWAL GERAK

EKSTENSI

(29)

EKSTENSI LENGKAP

The first force, exerted by the uterus, acts more posteriorly, and the second, supplied by the resistant pelvic floor and the symphysis, acts more anteriorly.

The resultant vector is in the direction of the vulvar opening, thereby causing head extension.

This brings the base of the occiput into direct contact with the inferior margin of the symphysis pubis

(30)

RESTITUSI

PUTAR PAKSI LUAR

This movement corresponds to rotation

of the fetal body and serves to bring its bisacromial diameter into relation with the anteroposterior diameter of the pelvic outlet.

Thus, one shoulder is anterior behind the symphysis and the other is posterior. This movement apparently is brought about by the same pelvic factors that produced internal rotation of the head.

(31)

PERSALINAN

BAHU

DEPAN

(32)

PERSALINAN

BAHU BELAKANG

(33)
(34)

PERSALINAN KALA 3 :

FASE PENGELUARAN PLASENTA

DIMULAI pada saat bayi telah lahir lengkap.

BERAKHIR dengan lahirnya plasenta.

Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri.

Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika

tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.

Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan

berdarah.

Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di atas pusat.

Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir.

(jika lepasnya plasenta terjadi sebelum bayi lahir, disebut solusio/abruptio placentae - keadaan gawat darurat obstetrik !!).

(35)

KALA 4 :

OBSERVASI PASCAPERSALINAN

Sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan observasi.

7 pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 : 1) kontraksi uterus harus baik,

2) tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain, 3) plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,

4) kandung kencing harus kosong,

5) luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma,

6) resume keadaan umum bayi, dan 7) resume keadaan umum ibu.

(36)

1. During which stage of labor is the fetus

delivered?

a. Stage 1 b. Stage 2 c. Stage 3 d. Stage 4

(37)

2. Cervical softening in phase 1 of parturition results in part from which of the following?

a. Stromal atrophy b. Increased stromal

vascularity

c. Increased collagen monomer cross- linking

d. All of the above

(38)

3. Contraction-associated protein (CAP) within the uterine smooth muscle prepares it to contract during labor. CAP concentrations increase during phase 2 of parturition and include all except which of the following proteins?

a. Connexin 43

b. Oxytocin receptor

c. Progesterone A receptor d. Prostaglandin F receptor

(39)

4. Compared to the uterine body, the cervix has a significantly lower percentage of which of the

following?

a. Collagen

b. Proteoglycans c. Smooth muscle

d. Glycosaminoglycans

(40)

5. What is the primary source of corticotropin-releasing hormone in pregnancy?

a. Placental b. Fetal adrenal

c. Fetal hypothalamus d. Maternal hypothalamus

(41)

6. Which of the following are fetal contributors to the initiation of parturition?

a. Surfactant protein A b. Corticotropin-releasing hormone

c. Senescent-associated secretory phenotype

d. All of the above

(42)

7. Which of the following are plausible causes of uterine contraction pain?

a. Myometrial hypoxia

b. Uterine peritoneum stretch

c. Compression of nerve ganglia in the cervix

d. All of the above

(43)

8. A 30-year-old primigravida presents to your office at 39 weeks’ gestation. She is exhausted and ready to be delivered but does not want to be induced. You suggest membrane stripping and inform her this will lead to a rise in which of the following prostaglandins?

a. I2

b. E2

c. H

d. F2

(44)

9. As a result of contraction forces, the cervix effaces and dilates by mechanisms that include all except which of the following?

a.Contraction forces create lateral pull against the cervix to open its canal.

b.Contraction forces are transferred directly through the presenting part to the cervix to dilate its canal.

c.Contraction forces pull smooth muscle fibers at the internal os up into the adjacent upper uterine segment to efface the cervix.

d.Contraction forces are translated into hydrostatic pressure within the amnionic sac, which presses against the cervix to dilate the cervical canal.

(45)

10. In which of the

following women would

you expect rapid descent of the fetal head?

a. A 23-year-old G1P0 at 40 weeks’ gestation

b. A 23-year-old G3P2 at 40 weeks’ gestation

c. A 33-year-old G1P0 at 28 weeks’ gestation

d. A 33-year-old G1P0

at 37 weeks’ gestation

(46)

11. Which stage of labor is defined as the period of time from when the patient

reaches complete cervical dilation through delivery of the fetus?

a. First stage

b. Second stage

c. Third stage

d. Fourth stage

(47)

12. Which of the following has not been associated with a

prolonged second stage of labor?

a. Sedation

b. Macrosomia

c. Maternal obesity

d. Contracted maternal

pelvis

(48)

13. What is the recommended nurse: patient ratio for a low-risk laboring patient?

a. 1:1

b. 1:2

c. 1:3

d. 2:1

(49)

14. A 25-year-old primigravida presents at 38 weeks’ gestation complaining of contractions every 5–7 minutes. On exam, she is 1 cm

dilated, 50% effaced, and the fetal head is at – 1 station. Her membranes are intact and there is no vaginal bleeding seen. After 2 hours of observation, the fetal tracing is category I. The contractions have spaced out to every 15

minutes. The patient’s cervix remains

unchanged. Her vitals are within normal limits, and she has no medical problems. What is the best management plan for this patient?

a. Amniotomy induction b. Continued monitoring c. Oxytocin augmentation d. Discharge home with labor

precautions and instructions to follow up with her doctor

(50)

15. A 17-year-old primigravida at 38 weeks’ gestation presents

complaining of leakage of fluid.

When performing nitrazine testing to assess for the presence of amniotic fluid in the vagina, which of the

following would you expect to give you a false-negative result?

a. Blood b. Semen

c. Scant fluid

d. Bacterial vaginosis

(51)

16. When the cervix becomes as thin as the adjacent lower uterine segment, what is the effacement?

a. 0%

b. 25%

c. 50%

d. 100%

(52)

17. A 28-year-old primigravida at term

presents in labor. She is very uncomfortable.

You go to examine the patient, and you note that the fetal head is visible at the introitus.

What is the fetal station?

a. –5

b. –2

c. +2

d. +5

(53)

18. A 39-year-old multigravida presents for induction at 38 weeks’ gestation. The patient has a history of two prior vaginal deliveries, cholestasis, pregestational diabetes, chronic hypertension requiring two medications, and a history of prior abruption in the setting of preeclampsia with severe features. You place the patient on continuous fetal monitoring.

How often should the tracing be evaluated?

a. Every 15 minutes in the first and second stage.

b. Every 15 minutes in the first stage and every 5 minutes in the second stage.

c. Every 15 minutes in the first stage and every 30 minutes in the second stage.

d. Every 30 minutes in the first stage and every 15 minutes in the second stage.

(54)

19. A 30-year-old multigravida presents in active

labor at term. She progresses from 4 cm to complete in 3 hours. She has the baby spontaneously 1 hour later. She has a third-degree laceration that is

repaired. On postpartum day 1, she is found to have urinary retention. What is her risk factor for urinary retention?

a. Age

b. Rapid labor c. Multiparity

d. Perineal laceration

(55)

20. A 22-year-old primigravida presents in active labor at 6 cm

dilation. Her membranes are intact, the fetus is cephalic, and the fetal tracing is category I. Two hours later, she is still 4 cm dilated. Her

contractions are every 7 minutes.

What is the best next step in labor management?

a. Amniotomy

b. Continued observation c. Amniotomy and oxytocin

d. Cesarean section for failure to

progress

(56)

PENDAHULUAN

Kanker vagina merupakan jenis kanker yang relatif jarang hanya 1 sampai 2 persen dari semua kanker

ginekologi

Median age: 60 tahun

Tipe histologis tersering:

Sel skuamus : 85%

Adenokarsinoma : 5%

Melanoma : 3%

Sarkoma : 3%

Sinus Endodermal : 1%

(57)

Jemal, A. et al. CA Cancer J Clin 2010; 60:277-300 51%

26%

15%

5% 3%

Uterus Ovary Cervix Vulva

Vagina & Other

29%

50%

15%

3% 3%

Uterus Ovary Cervix Vulva

Vagina & Other

Mortalitas Kasus baru

KANKER GINEKOLOGI - 2010

(58)

TINJAUAN PUSTAKA

Usia

Pemajanan dietilstillbestron (DES) dalam uterus

Adenosis vagina

Kanker vagina atau kanker vulva sebelumnya

Hubungan intim yang dilakukan saat usia dini

Terinfeksi HPV

Kanker serviks sebelumnya

ETIOLOGI :

(59)

TIPE HISTOLOGI KANKER VAGINA

TIPE HISTOLOGI INSIDEN Sel Skuamus

Adenokarsinoma Melanoma

85-90%

5-10%

2-3%

Sarkoma 2-3%

(60)

Tanda dan gejala

 Perdarahan Pervaginam

 Keputihan

 Mungkin ada nyeri di panggul, punggung atau kaki, serta kaki bengkak (edema)

 Pada tingkat lebih lanjut dapat terjadi retensi urin, hematuri, inkontinensia urin, dan

bahkan bisa timbul keluhan tenesmus,

konstipasi, atau hematosesia.

(61)

DIAGNOSTIK

 Anamnesa lengkap dan pemeriksaan fisik

 Kimia darah lengkap

 Photo Thorak

 CT-Scan abdomen dan pelvis

 Penegakkan diagnosis pasti dengan Biopsi

Menurut FIGO Dinyatakan sebagai kanker vagina bila pada

vagina terjadi setelah diketahui lebih dari 5 tahun bebas dari

adanya kanker serviks.

(62)

STAGING FIGO

(63)

STAGING FIGO

(64)

STAGING FIGO

(65)

STAGING FIGO

(66)

STAGING FIGO

(67)

STAGING FIGO

(68)

PENATALAKSANAAN KANKER VAGINA

 Lokasi penyakit, ukuran lesi, dan tahap klinis tumor dapat membantu memandu perencanaan pengobatan

 Terdapat 3 Macam Penatalaksanaan : 1. Radiasi

2. Kemoradiasi

3. Pembedahan

(69)

PENATALAKSANAAN KANKER VAGINA

1.Stadium I (lesi superfisial kecil <2 cm dan <0,5 cm) - Operasi.

- Lesi kecil di puncak, bagian posterior atas, atau yang ketiga lateralis atas vagina dapat diobati dengan eksisi lokal luas.

- Limfadenektomi panggul bilateral kelenjar getah bening dapat dilakukan.

- Terapi radiasi adjuvant harus digunakan untuk mengobati margin yang positif atau dekat dengan tempat reseksi.

- Terapi radiasi intrakaviter. Lesi di bagian tengah dan distal

vagina biasanya diobati dengan radiasi.

(70)

PENATALAKSANAAN KANKER VAGINA

2. Stadium I (lesi lebih besar dan lesi lebih dalam> 2 cm atau>

0,5 cm)

- Operasi Histerektomi radikal dan limfadenektomi panggul dapat dilakukan

- Vaginectomy radikal dilakukan jika pasien sebelumnya telah mengalami histerektomi.

- Pencangkokan kulit atau rekonstruksi neovagina mungkin dilakukan

- Limfadenektomi inguinal-femoral harus dilakukan jika lesi melibatkan sepertiga bagian bawah vagina.

- Terapi radiasi interstisial dan intrakaviter.

(71)

PENATALAKSANAAN KANKER VAGINA

Stadium II.

- Terapi radiasi adalah pengobatan standar untuk pasien dengan stadium II karsinoma vagina.

- Terapi radiasi kombinasi dengan brachytherapy dan EBRT biasanya digunakan untuk memberikan dosis gabungan 70-80 Gy dengan volume tumor primer.

- Kemoterapi neoadjuvant diikuti oleh

pembedahan radikal mungkin menjadi

alternatif untuk terapi radiasi.

(72)

PENATALAKSANAAN KANKER VAGINA

Stadium III

- Terapi radiasi adalah pengobatan standar untuk pasien dengan stadium III karsinoma vagina.

- Terapi radiasi interstisial atau intrakaviter kemudian Intensity-modulated radiasi juga telah digunakan.

- Kemoterapi sering diberikan bersamaan dengan terapi radiasi.

- Pembedahan jarang disarankan untuk pengobatan kanker

vulvovaginal, tetapi beberapa telah menganjurkan prosedur

eksenterasi atau terapi kombinasi (misalnya, EBRT dengan

radiasi intrakaviter dan kemudian vulvektomi radikal dan

bilateral kelenjar getah inguinofemoral node dissection).

(73)

PENATALAKSANAAN KANKER VAGINA

Stadium IV

- Terapi radiasi adalah pengobatan standar untuk pasien dengan stadium IV kanker vagina.

- Pendekatan khas melibatkan kombinasi terapi interstitial radiasi, terapi radiasi intrakaviter, dan EBRT diikuti oleh implan interstitial atau intrakaviter untuk dosis tumor total 75-80 Gy.

- Prosedur bedah eksenterasi jarang dilakukan

untuk mengobati karsinoma tersebut.

(74)

PENATALAKSANAAN KANKER VAGINA

Rekomendasi pengobatan untuk penyakit berulang

- Kebanyakan kekambuhan terjadi dalam 6-12 bulan pertama.

- Prognosis untuk karsinoma vagina berulang adalah jelek, tetapi beberapa pasien dengan lesi sentral mungkin memenuhi persyaratan untuk perawatan bedah (yaitu, exenteration) atau terapi radiasi.

- Tidak ada regimen kemoterapi standar untuk pengobatan kekambuhan.

- Pertimbangan khusus Radiasi dapat dilakukan untuk paliatif gejala.

- Obat yang aktif terhadap kanker serviks telah diterapkan untuk

pengobatan kanker misalnya vagina, cisplatin 50 mg / m2 setiap

21 hari selama pengobatan dengan radiasi.

(75)

BAGAN PENANGANAN KANKER VAGINA STADIUM AWAL

(76)
(77)
(78)

21. Primary vaginal cancer comprises what percentage of gynecologic

malignancies?

a. 3 percent b. 7 percent c. 13 percent d. 17 percent

51%

26%

15%

5% 3%

Uterus Ovary Cervix Vulva

Vagina & Other

(79)

22. Which of the following is a common mechanism of primary vaginal cancer spread?

a. Lymphatic b. Exfoliative

c. Hematogenous

d. Transperitoneal invasion

(80)

23. Lymphatic drainage of the proximal vagina is described best by which of the following?

a. Only to the internal iliac veins

b. Most often to the external iliac veins

c. Predominantly to the

uterine and presacral nodes

d. Highly variable with

unpredictable drainage to the

pelvic, inguinal, and perirectal

lymphatics

(81)

24. The incidence of vaginal cancer peaks within which of the following age groups?

a. 30 to 50 years b. 40 to 60 years c. 50 to 70 years

d. 80 years and older

(82)

25. Of the following, which has been most closely linked with primary squamous cell cancer of the vagina?

a. BRCA1 mutation

b. Human papillomavirus

c. Diethylstilbestrol exposure

d. Hereditary nonpolyposis

colon cancer (HNPCC)

(83)

THANK YOU

“Patience with small details makes perfect a large work, like the

universe”

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang tersebut, formulir pengkajian khusus pasien ODGJ atau gangguan jiwa perlu didesain ulang berdasarkan ketentuan desain formulir berupa

 Untuk wanita yang berisiko tinggi tertular HIV , pengulangan pemeriksaan direkomendasikan pada trimester ketiga, terutama sebelum usia kehamilan 36 mingguc.  Wanita dengan

Chorionic plate terlihat sebagai garis terang di antara cairan amnion dan echo homogen placenta.. • 95% wanita implantasi placenta di

Adanya penurunan intensitas nyeri pada penderita kanker servik stadium IIIB yang sudah diberikan intervensi dengan teknik relaksasi nafas dalam dan terapi SEFT

Berkaitan dengan abnormalitas status asam basa pada saat pemantauan janin tsb dilakukan 2?. Kategori III memerlukan evaluasi yang

Para klinisi harus mempertimbangkan kemungkinan karsinoma kelenjar sebasea pada pasien dengan tumor kelopak beberapa tahun setelah terapi radiasi pada mata atau adneksa okular

Pemeriksaan sonografi pada trimester pertama, sering terjadi deteksi dini kehamilan kembar Sonografi juga dapat digunakan untuk menentukan jumlah janin, perkiraan

Hal yang menunjukkan kerelaan kedua belah pihak yang melakukan transaksi jual, menurut ulama Hanafiyah boleh tergambar dalam ija&gt;b dan qa&gt;bu&gt;l, atau melalui