BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kepuasan Pernikahan
1. Definisi Kepuasan Pernikahan
Menurut Lemme (1995) kepuasan pernikahan adalah evaluasi suami dan istri terhadap hubungan pernikahan yang cenderung berubah sepanjang perjalanan pernikahan. Kepuasan pernikahan dapat merujuk pada bagaimana pasangan suami istri mengevaluasi hubungan pernikahan mereka, apakah memuaskan atau tidak (Hendrick & Hendrick, 1992). Menurut Hughes & Noppe (1985) menyatakan bahwa kepuasan pernikahan yang dirasakan oleh pasangan tergantung pada tingkat dimana mereka merasakan pernikahannya tersebut sesuai dengan kebutuhan dan harapannya.
Duvall & Miller (1985) menyatakan bahwa masa-masa awal dari pernikahan adalah puncak dari kepuasan pernikahan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Hurlock (1999) bahwa pada masa awal pernikahan setiap pasangan memasuki tahap dimana mereka dituntut menyatukan banyak aspek yang berbeda dalam diri masing-masing. Kemampuan pasangan untuk menyatukan aspek yang berbeda ini akan menentukan tingkat harmonisasi suatu keluarga. Dilanjutkan oleh Hurlock (1999) bahwa kemampuan suami istri dalam menyatukan perbedaan ini sangat ditentukan oleh kematangan penyesuaian diri diantara mereka sehingga mereka dapat membina hubungan baik dalam kehidupan pernikahan di masa-masa selanjutnya yang juga akan mempengaruhi tingkat kepuasan mereka dalam pernikahan.
Tingkat kepuasan pernikahan berubah seiring berjalannya waktu. Duvall & Miller (1985) menyebutkan bahwa tingkat kepuasan pernikahan tertinggi di awal pernikahan, kemudian menurun setelah kelahiran anak pertama hingga anak mencapai usia remaja. Hal ini terjadi karena anak memerlukan perhatian yang besar dan biasanya pengasuhan anak lebih banyak dilakukan oleh wanita. Pada usia prasekolah, orangtua biasanya sulit untuk meninggalkan anak di rumah. Henslin (1985) menyatakan bahwa kebanyakan pria dan wanita merasa bahwa seorang ibu harus berada di rumah selama anak dalam tahap prasekolah. Ketika anak memasuki usia sekolah, pasangan harus mempersiapkan kebutuhan finansial untuk sekolah anak dan memberi dukungan pada anak dalam memasuki lingkungan yang baru dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah, guru, dan teman-teman. Saat anak memasuki masa remaja merupakan tahap dimana anak mulai mencari jati diri dan keadaan seperti ini memerlukan pengawasan dan bimbingan dari orangtua (Hurlock, 1999). Namun, tingkat kepuasan pernikahan tersebut meningkat kembali saat anak mulai hidup mandiri dan meninggalkan rumah (menikah atau bekerja).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan pernikahan adalah evaluasi suami dan istri terhadap hubungan pernikahan yang juga merujuk pada bagaimana pasangan suami istri mengevaluasi hubungan pernikahan mereka, apakah memuaskan atau tidak. Kepuasan pernikahan yang dirasakan suami istri tergantung pada tingkat dimana mereka merasakan pernikahannya tersebut sesuai dengan kebutuhan dan harapannya
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pernikahan
Menurut Hendrick & Hendrick (1992) terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan pernikahan, yaitu :
a. Premarital Factors
1) Latar belakang ekonomi, dimana status ekonomi yang dirasakan tidak sesuai dengan harapan akan dapat menimbulkan bahaya dalam hubungan pernikahan.
2) Pendidikan, dimana pasangan yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah akan merasakan kepuasan yang lebih rendah karena lebih banyak mendapatkan stressor seperti pengangguran atau tingkat penghasilan rendah.
3) Hubungan dengan orangtua yang akan mempengaruhi sikap pasangan terhadap romantisme, pernikahan, dan perceraian.
b. Postmarital Factors
1) Kehadiran anak sangat berpengaruh terhadap menurunnya kepuasan pernikahan terutama pada wanita (Bee & Mitchell, 1984). Penelitian menunjukkan bahwa dengan bertambahnya anak dapat menambah stres pasangan dan mengurangi waktu bersama pasangan (Hendrick & Hendrick, 1992). Kehadiran anak dapat mempengaruhi kepuasan pernikahan suami istri berkaitan dengan harapan akan keberadaan anak tersebut.
2) Lama pernikahan, dimana seperti yang dikemukakan oleh Duvall & Miller (1985) bahwa tingkat kepuasan pernikahan tertinggi di awal pernikahan, kemudian menurun setelah kehadiran anak dan meningkat kembali setelah anak mandiri.
c. Other Factors
1) Jenis kelamin, dimana seperti yang dikemukakan oleh Holahan & Levenson (dalam Lemme, 1995) bahwa pria lebih puas dengan pernikahannya daripada wanita karena pada umumnya wanita lebih sensitif daripada pria dalam menghadapi masalah dalam hubungan pernikahannya.
2) Agama, dimana menurut Abdullah (2003) bahwa jika seseorang mengawali segalanya dengan motivasi iman dan ibadah pada Tuhan semata akan merasakan kepuasan dalam hidupnya.
3) Pekerjaan. Pekerjaan yang memakan waktu yang cukup lama menyebabkan berkurangnya waktu yang dimiliki suami dan isteri untuk anak-anak dan untuk mengurus pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan rumah, menyediakan makanan, dan lain-lain (DeGenova, 2008).
3. Aspek-aspek Kepuasan Pernikahan
Menurut Olson & Fowers (1989) terdapat beberapa area dalam pernikahan yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan pernikahan. Area-area tersebut, antara lain :
a. Communication
Area ini melihat bagaimana perasaan dan sikap individu dalam berkomunikasi dengan pasangannya. Area ini berfokus pada rasa senang yang dialami pasangan suami istri dalam berkomunikasi dimana mereka saling berbagi dan menerima informasi tentang perasaan dan
pikirannya. Laswell (1991) membagi komunikasi pernikahan menjadi lima elemen dasar, yaitu : keterbukaan diantara pasangan (openness), kejujuran terhadap pasangan (honesty), kemampuan untuk mempercayai satu sama lain (ability to trust), sikap empati terhadap pasangan (empathy), dan kemampuan menjadi pendengar yang baik (listening skill).
b. Leisure Activity
Area ini menilai pilihan kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang yang merefleksikan aktivitas yang dilakukan secara personal atau bersama. Area ini juga melihat apakah suatu kegiatan dilakukan sebagai pilihan bersama serta harapan-harapan dalam mengisi waktu luang bersama pasangan.
c. Religious Orientation
Area ini menilai makna keyakinan beragama serta bagaimana pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang memiliki keyakinan beragama, dapat dilihat dari sikapnya yang perduli terhadap hal-hal keagamaan dan mau beribadah. Umumnya, setelah menikah individu akan lebih memperhatikan kehidupan beragama. Orangtua akan mengajarkan dasar-dasar dan nilai-nilai agama yang dianut kepada anaknya. Mereka juga akan menjadi teladan yang baik dengan membiasakan diri beribadah dan melaksanakan ajaran agama yang mereka anut.
d. Conflict Resolution
Area ini berfokus untuk menilai persepsi suami istri terhadap suatu masalah serta bagaimana pemecahannya. Diperlukan adanya keterbukaan pasangan untuk mengenal dan memecahkan masalah yang muncul serta strategi yang digunakan untuk mendapatkan solusi terbaik. Area ini juga menilai bagaimana anggota keluarga saling mendukung dalam mengatasi masalah bersama-sama serta membangun kepercayaan satu sama lain.
e. Financial Management
Area ini menilai sikap dan cara pasangan mengatur keuangan, bentuk-bentuk pengeluaran, dan pembuatan keputusan tentang keuangan. Konsep yang tidak realistis, yaitu harapan-harapan yang melebihi kemampuan keuangan, harapan-harapan untuk memiliki barang yang diinginkan, serta ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup dapat menjadi masalah dalam pernikahan (Hurlock, 1999). Konflik dapat muncul jika salah satu pihak menunjukkan otoritas terhadap pasangannya dan ketidakpercayaan terhadap kemampuan pasangan dalam mengelola keuangan.
f. Sexual Orientation
Area ini berfokus pada refleksi sikap yang berhubungan dengan masalah seksual, tingkah laku seksual, serta kesetiaan terhadap pasangan. Penyesuaian seksual dapat menjadi penyebab pertengkaran dan ketidakbahagiaan apabila tidak tercapai kesepakatan yang memuaskan. Kepuasan seksual dapat terus meningkat seiring berjalannya waktu. Hal ini dapat terjadi karena kedua pasangan telah memahami dan mengetahui kebutuhan mereka satu sama lain,
mampu mengungkapkan hasrat dan cinta mereka, dan dapat membaca tanda-tanda yang diberikan pasangan sehingga dapat tercipta kepuasan bagi pasangan suami istri.
g. Family and Friends
Area ini dapat melihat bagaimana perasaan dan perhatian pasangan terhadap hubungan kerabat, mertua serta teman-teman. Area ini merefleksikan harapan dan perasaan senang meenghabiskan waktu bersama keluarga besar dan teman-teman. Pernikahan akan cenderung lebih sulit jika salah satu pasangan menggunakan sebagian waktunya bersama keluarganya sendiri, jika ia juga mudah dipengaruhi oleh keluarganya dan jika ada keluarga yang datang dan tinggal dalam waktu lama (Hurlock, 1999).
h. Children and Parenting
Area ini menilai sikap dan perasaan tentang memiliki dan membesarkan anak. Fokusnya adalah bagaimana orangtua menerapkan keputusan mengenai disiplin anak, cita-cita terhadap anak serta bagaimana pengaruh kehadiran anak terhadap hubungan dengan pasangan. Kesepakatan antara pasangan dalam hal mengasuh dan mendidik anak penting halnya dalam pernikahan. Orangtua biasanya memiliki cita-cita pribadi terhadap anaknya yang dapat menimbulkan kepuasan bila itu dapat terwujud.
i. Personality Issues
Area ini melihat penyesuaian diri dengan tingkah laku, kebiasaan-kebiasaan serta kepribadian pasangan. Biasanya sebelum menikah individu berusaha menjadi pribadi yang
menarik untuk mencari perhatian pasangannya bahkan dengan berpura-pura menjadi orang lain. Setelah menikah, kepribadian yang sebenarnya akan muncul. Setelah menikah perbedaan ini dapat memunculkan masalah. Persoalan tingkah laku pasangan yang tidak sesuai harapan dapat menimbulkan kekecewaan, sebaliknya jika tingkah laku pasangan sesuai yang diinginkan maka akan menimbulkan perasaan senang dan bahagia.
j. Egalitarian Role
Area ini menilai perasaan dan sikap individu terhadap peran yang beragam dalam kehidupan pernikahan. Fokusnya adalah pada pekerjaan, tugas rumah tangga, peran sesuai jenis kelamin dan peran sebagai orangtua. Suatu peran harus mendatangkan kepuasan pribadi. Pria dapat bekerjasama dengan wanita sebagai rekan baik di dalam maupun di luar rumah. Suami tidak merasa malu jika penghasilan istri lebih besar juga memiliki jabatan yang lebih tinggi. Wanita mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya serta memanfaatkan kemampuan dan pendidikan yang dimiliki untuk mendapatkan kepuasan pribadi.
4. Kriteria Kepuasan Pernikahan
Menurut Skolnick (dalam Lemme, 1995), ada beberapa kriteria dari pernikahan yang memiliki kepuasan yang tinggi, antara lain :
a. Adanya relasi personal yang penuh kasih sayang dan menyenangkan dimana dalam keluarga terdapat hubungan yang hangat, saling berbagi, dan menerima antar sesama anggota dalam keluarga.
b. Kebersamaan, adanya rasa kebersamaan dan bersatu dalam keluarga. Setiap anggota keluarga merasa menyatu dan menjadi bagian dalam keluarga.
c. Model parental role yang baik. Pola orang tua yang baik akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anak mereka. Hal ini bisa membentuk keharmonisan dalam keluarga.
d. Penerimaan terhadap konflik-konflik. Konflik yang muncul dalam keluarga dapat diterima secara normatif, tidak dihindari melainkan berusaha untuk diselesaikan dengan baik dan menguntungkan bagi semua anggota keluarga.
e. Kepribadian yang sesuai dimana pasangan memiliki kecocokan dan saling memahami satu sama lain. Hal yang penting juga yaitu adanya kelebihan yang satu dapat menutupi kekurangan yang lainnya sehingga pasangan dapat saling melengkapi satu sama lain.
f. Mampu memecahkan konflik. Levenson (dalam Lemme, 1995) mengatakan bahwa kemampuan pasangan untuk memecahkan masalah serta strategi yang digunakan oleh pasangan untuk menyelesaikan konflik yang dapat mendukung kepuasan pernikahan pasangan tersebut.
B. Peran Gender
1. Definisi Peran Gender
Konsep jenis kelamin (sex) dan peran gender merupakan dua konsep yang berbeda. Jenis kelamin merupakan istilah biologis dimana orang-orang dilihat sebagai pria atau wanita tergantung dari organ-organ dan gen-gen jenis kelamin mereka. Sebaliknya, peran gender merupakan istilah psikologis dan kultural diartikan sebagai perasaan subjektif seseorang mengeni kepriaan (maleness) dan kewanitaan (femaleness) (Basow, 1992).
Kepentingan di dalam membedakan antara jenis kelamin dan peran gender berangkat dari pentingnya untuk membedakan antara aspek-aspek biologi dengan aspek-aspek sosial di dalam menjadi pria atau wanita.
Oleh karena itu, peran gender dikonstruksikan oleh manusia lain, bukan secara biologi, melainkan dibentuk oleh proses-proses sejarah, budaya, dan psikologis (Basow, 1992). Kini istilah peran gender lebih banyak digunakan daripada jenis kelamin di dalam mempelajari tingkah laku pria dan wanita dalam suatu konteks sosial.
Peran gender merupakan pola tingkah laku yang dianggap sesuai untuk masing-masing jenis kelamin yang didasarkan pada harapan masyarakat. Menurut Myers (1996), peran gender merupakan suatu set tingkah laku yang diharapkan (berupa norma) untuk pria dan wanita. Hal ini meliputi sikap dan pola tingkah laku yang dianggap cocok untuk pria dan wanita yang dikaitkan dengan ciri-ciri feminin dan maskulin sesuai dengan yang diharapkan dalam masyarakat. Dilanjutkan oleh Santrock (1998) bahwa setiap kebudayaan mendefinisikan peran gender dari berbagai tugas, aktivitas, dan kepribadian yang dianggap pantas bagi seorang laki-laki dan perempuan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peran gender merupakan suatu set tingkah laku yang dianggap sesuai untuk masing-masing jenis kelamin yang didasarkan pada harapan masyarakat
2.Stereotipe Peran Gender
Menurut Wrightsman (1981) stereotipe merupakan konsep yang relatif kaku dan luas dari kelompok-kelompok manusia dimana setiap individu di dalam suatu kelompok dicap dengan karakter dari kelompok tersebut. Stereotipe peran seks ternyata berbeda dengan stereotipe peran gender. Menurut Hurlock (1991) stereotipe peran seks merupakan sekumpulan arti yang dihubungkan dengan kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Hal tersebut berhubungan dengan penampilan dan bentuk tubuh individu yang sesuai, jenis pakaian, cara berbicara dan berperilaku, perilaku yang baik dalam menghadapi lawan seks, serta cara yang sesuai untuk mencapai nafkah pada masa dewasa. Sedangkan menurut Ashmore dan Del Boca (dalam Basow, 1992) stereotipe peran gender merupakan serangkaian kepercayaan dan harapan yang dibentuk oleh masyarakat mengenai atribut-atribut personal pada laki-laki dan perempuan.
Berdasarkan stereotipe gender, perempuan diharapkan untuk berfungsi dengan baik pada tingkatan umum (communal) yaitu dalam berhubungan dengan orang lain (relationship) dan diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan orang lain, seperti sensitivitas interpersonal, empati, pengekspresian emosi, dan pengasuhan (nurturant). Keterampilan-keterampilan ini akan memfasilitasi peran utama seorang perempuan yaitu menjadi seorang ibu sehingga identitas diri yang dibentuk oleh kebanyakan perempuan adalah identitas diri yang berorientasi hubungan dengan orang lain (Basow, 1992).
Sebaliknya, laki-laki diharapkan untuk lebih agentic, yaitu mandiri, asertif, berorientasi prestasi dan agresif. Kualitas-kualitas ini akan memfasilitasi peran utama seorang laki-laki yaitu sebagai pencari nafkah sehingga identitas diri yang dibentuk oleh kebanyakan laki-laki adalah identitas diri yang lebih otonom (Basow, 1992).
Menurut Basow (1992) stereotipe peran gender bersifat normatif dimana orang yang mengikutinya akan mendapat penerimaan sosial yang baik. Sebaliknya, orang yang tidak mengikutinya akan memperoleh sanksi secara sosial.
C. Dual Career Family
1. Definisi Dual Career Family
Dual Career Family didefinisikan sebagai suatu bentuk keluarga dimana suami dan isteri terlibat dalam suatu pekerjaan (Rachin, 1987). Pasangan tersebut memiliki pekerjaan atau profesi yang secara intrinsik mendapatkan reward, memerlukan pendidikan atau pelatihan sebagai dedikasi dan keterlibatan, serta menawarkan janji akan kelanjutan perkembangan profesi dan kemajuan (DeGenova, 2008).
Dalam dual career family, suami dan isteri memiliki dua komitmen pekerjaan yaitu pada profesi dan keluarga dimana mereka mencoba untuk menyeimbangkan kedua hal tersebut. Tanggung jawab yang lebih besar dan posisi yang tinggi menyebabkan kurangnya waktu yang diberikan untuk pasangan dan anak. Seseorang yang berkarir sangat sulit untuk menyeimbangkan hubungan suami dan isteri serta tanggung jawab sebagai orang tua.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dual career family adalah bentuk keluarga dimana suami dan isteri terlibat dalam suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan dan pelatihan, dan menawarkan janji akan kelanjutan perkembangan profesi dan kemajuan.
2. Keuntungan dan Kerugian Dual Career Family
Terdapat keuntungan dan kerugian yang nyata dalam dual career family, yaitu :
1. keuntungan : peningkatan status ekonomi, berkontribusi pada hubungan yang lebih setara antara suami dan isteri, meningkatkan harga diri bagi perempuan, kebutuhan kreativitas,
self-expression, dan self-achievement.
2. kerugian : adanya tuntutan waktu dan tenaga tambahan, konflik antara peran pekerjaan dan peran keluarga, persaingan antara suami dan isteri, dan perhatian yang kurang terhadap kebutuhan anak.
D. Perbedaan kepuasan pernikahan antara suami dan isteri dalam dual career family
Sejalan dengan pertumbuhan penduduk Indonesia yang semakin meningkat, jumlah angkatan kerja pun kian meningkat. Dalam hal ini, wanita merupakan sebagian sumber daya manusia yang tersedia sebagai modal dasar pembangunan sehingga upaya untuk melibatkan wanita dalam pembangunan sangat diperlukan. Dapat kita lihat bahwa sekarang ini jumlah wanita yang bekerja semakin banyak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), partisipasi wanita Indonesia dalam lapangan pekerjaan meningkat secara signifikan. Hal ini bisa dibuktikan bahwa selama bulan Agusus 2006 – Agustus 2007 jumlah pekerja wanita bertambah 3,3 juta orang. Peningkatan jumlah angkatan kerja wanita lebih dikarenakan adanya peningkatan jumlah penduduk wanita, semakin luasnya lapangan pekerjaan, dan semakin tinggi tingkat pendidikan mereka sehingga saat ini wanita lebih banyak mempunyai pilihan dalam aktivitas kehidupan ekonominya dibandingkan dengan masa lalu.
Terlepas dari apakah wanita bekerja karena keinginan sendiri atau keharusan (ataupun kedua-duanya), bentuk keluarga yang dominan terjadi sekarang ini adalah dual career family. Rappoport & Rappoport (dalam Wilcox dkk,1989) menyatakan bahwa dual career family merupakan tipe keluarga dimana suami dan istri aktif dalam mengejar karir dan kehidupan keluarga secara serentak. Menurut Penelitian Apperson dkk (2002) mayoritas pria dan wanita sekarang ini, mempunyai kedudukan ganda sebagai karyawan dengan jenis pekerjaan full time. Dikatakan Primastuti (dalam Prawitasari dkk, 2007) bahwa banyak dari mereka yang mempunyai peranan ganda dalam dunia kerja untuk mendapatkan penghasilan ataupun kepuasan hidup.
Dalam dual career family, ketegangan-ketegangan akan lebih sering muncul dibandingkan dengan keluarga tradisional. Ketegangan-ketegangan umumnya berasal dari peran-peran yang sering menjadi tidak jelas serta adanya tuntutan peran dari lingkungan. Seorang isteri menikah yang memutuskan untuk bekerja, peran yang dipikulnya pasti semakin bertambah, yaitu peran sebagai isteri, orang tua, dan peran sebagai pekerja. Tuntutan-tuntutan pekerjaan mengakibatkan isteri pulang kerja dalam keadaan lelah sehingga ia tidak memiliki cukup energi untuk memenuhi semua kebutuhan anggota keluarganya. Selain itu, dengan adanya jumlah jam kerja yang cukup panjang menyebabkan ibu tidak selalu ada pada saat dimana ia sangat dibutuhkan oleh anak atau pasangannya.
Begitu juga dengan suami yang memiliki istri yang bekerja, suami juga merasakan kesulitan dalam membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Suami telah menggandakan waktu untuk pekerjaan rumah tangga mulai dari dibawah 5 jam per minggu menjadi di atas 5 jam per minggu bahkan mencapai 14,5 jam per minggu (DeGenova, 2008). Akan tetapi, suami cenderung lebih mengutamakan waktu mereka untuk bekerja dibandingkan untuk keluarga, mereka merasa kurang
terlibat dalam urusan keluarga karena adanya harapan tradisional yang mengatakan bahwa pekerjaan adalah hal pertama untuk seorang suami. Selain itu, dikarenakan adanya kesibukan isteri bekerja maka suami akan merasakan kehilangan pelayanan dari seseorang yang bertanggung jawab dalam mengurus rumah tangga, seperti seseorang yang seharusnya berada di rumah pada saat mereka pulang, seseorang yang menyediakan makanan, dan seseorang yang mencuci dan menyetrika pakaian mereka. Hal inilah yang menimbulkan permasalahan pada diri suami (Papalia, Olds, & Feldman, 2007).
Permasalahan-permasalahan yang dirasakan suami dan isteri di atas dapat diatasi dengan adanya kemampuan untuk menyeimbangkan antara keluarga dan pekerjaan. Selain itu, permasalahan dalam kehidupan rumah tangga dan pekerjaan dapat juga diatasi bila individu tersebut mampu melakukan penyesuaian. Kegagalan dalam melakukan penyesuaian akan menimbulkan ketidakpuasan dan dapat diakhiri dengan perceraian (Hurlock,1999). Seseorang yang dapat melakukan penyesuaian, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari (Hurlock,1999) akan memperbesar kemungkinan memperoleh kepuasan dalam hidup. Olson & Fowers (1989) menyatakan bahwa kepuasan pernikahan merupakan hal yang paling menonjol dalam menggambarkan kepuasan hidup individu.
Shaevitz (2000) juga menambahkan bahwa penyesuaian antara pekerjaan dan keluarga yang dilakukan oleh suami maupun istri dapat mempengaruhi kepuasan bagi masing-masing pasangan dalam kehidupan pernikahan. Kepuasan pernikahan akan diperoleh apabila seseorang mampu melakukan penyesuaian antara kehidupan rumah tangga dan pekerjaan. Menurut penelitian Steil dan Turetsky mengenai penyesuaian diri wanita bekerja (dalam Pujiastuti & Retnowati, 2004) menemukan bahwa isteri yang bekerja memiliki penyesuaian diri yang lebih rendah dibandingkan
suami yang bekerja. Dalam memainkan peran ganda, isteri sering kali terlihat kurang mampu untuk mengatur waktu dan pekerjaannya dengan baik sehingga hal ini banyak membawa kesulitan bagi isteri untuk menyeimbangkan tuntutan antara peran sebagai pekerja dan keluarga yang terkadang keadaan tersebut dapat menimbulkan kecemasan bagi isteri.
Hal di atas didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Khanna mengenai depresi pada wanita bekerja ( dalam Pujiastuti & Retnowati, 2004) terhadap 406 orang wanita dan ditemukan bahwa wanita yang sudah menikah dan bekerja lebih banyak mengalami kecemasan dan depresi yang berpengaruh terhadap kepuasan pernikahannya.
Jadi, berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa bentuk keluarga dual cereer family dapat memberikan berbagai macam permasalahan bagi suami maupun istri yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi kepuasan pernikahan mereka.
E. Hipotesa Penelitian
Dari beberapa pendapat ahli di atas didapatkan hipotesa penelitian seperti berikut :
Ha : Terdapat perbedaan kepuasan pernikahan antara suami dan istri dalam dual career