Data yang terkumpul dari wawancara penelitian yang dilakukan pada konsultan dan kontraktor serta informasi gedung perkuliahan (Gedung “T”) Universitas Kristen Petra dianalisis dalam bab ini. Analisis yang dilakukan meliputi analisis diskriptif yang menunjukkan profil responden, pengetahuan mengenai VE, opini mengenai VE dan komponen VE, untuk melihat bagaimana penerapan VE yang dilakukan di Surabaya, serta melakukan analisis penerapan VE pada Gedung “T” Universitas kristen.
4.1 Gambaran Umum Responden Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan wawancara secara mendalam yang melibatkan 4 perusahaan konstruksi, terdiri dari 2 perusahaan konsultan dan 2 perusahaan kontraktor yang mengerti dan melakukan VE. Daftar perusahaan yang terlibat dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Responden Perusahaan Penelitian
No Nama Perusahaan Keterlibatan Dalam Konstruksi Kode
1 Wijaya Karya, PT Kontraktor Kontr A
2 Banue Perkasa, PT Kontraktor Kontr B
3 Adhicipta Engineerning Consultant, PT Konsultan Konst A
4 Maerakaca Graha kencana, PT Konsultan Konst B
4.2 Analisis Deskriptif Wawancara Responden
Analisis deskriptif yang dilakukan pada perusahaan kontraktor dan konsultan dilakukan untuk melihat pengetahuan responden mengenai VE, potensi penggunaan VE , serta komponen dari VE yang perlu untuk dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat kondisi yang terjadi dalam pelaksaan VE di Surabaya.
4.2.1 Pengetahuan Tentang Value Engineering (VE)
Wawancara tentang Pengetahuan VE kepada responden tidak hanya
memberikan pertanyaan tentang pemahaman VE saja, namun dilakukan
penggalian secara mendalam terhadap apakah responden itu benar-benar mengetahui dan memahami pengetahuan tentang VE. Responden diberi kesempatan untuk memberikan pandangannya, hal-hal yang dilakukan, sistem yang dipakai, teknik yang biasanya dipakai, kondisi yang dihadapi, dan tujuan responden dalam melakukan penerapan VE pada proyek konstruksi. Hasil penelitian yang dilakukan dengan cara wawancara terhadap responden mengenai pemahaman mengenai VE menghasilkan bahwa seluruh responden baik kontraktor maupun konsultan benar-benar memahami tentang VE. Sebagian besar mereka mengetahui VE dari jenjang pendidikan mereka dan seminar-seminar yang mereka ikuti. Pemahaman responden mengenai VE dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Pemahaman Responden Mengenai VE
KTR A KTR B KNS A KNS B 1 Pemahaman anda/perusahaan anda mengenai VE ?
Tidak pernah dengar
Pernah dengar namun tdk jelas dan ragu Pernah dengar, VE hanya cost cutting
Benar-benar memahami VE √ √ √ √
Jawaban Pertanyaan
No
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, secara konsep responden benar-benar memahami tentang VE, namun ditemukan pelaksanaan dari VE pada proyek konstruksi yang tidak terstruktur dengan baik. Sistem yang dipakai dalam penerapannya tidak dilakukan dengan baik, hal ini terjadi karena ada beberapa komponen sistem VE dan teknik yang biasanya dilakukan dalam penerapan VE yang tidak dimengerti dan bahkan tidak tahu sama sekali oleh responden. Keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh responden juga menjadi salah satu kendala dalam penerapan VE pada proyek konstruksi. Keterbatasan pengetahuan mereka dapat dilihat pada analisa pembahasan tentang sistem komponen VE.
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap responden mengenai frekuensi
penerapan VE yang dilakukan sebagian besar melakukan penerapan VE hanya
kadang-kadang dan sebagian kecil melakukan penerapan VE secara rutin. Dari
hasil wawancara yang dilakukan, responden sudah melakukan proyek konstruksi dengan memasukkan konsep VE. Frekuensi responden dalam melakukan VE dapat dilihat pada Table 4.3.
Tabel 4.3. Frekueksi responden dalam melakukan VE
KTR A KTR B KNS A KNS B 2 Seberapa sering perusahaan anda melakukan penerapan
VE ?
Tidak Pernah Jarang Sekali
Kadang-kadang √ √ √
Secara Rutin √
No Pertanyaan
Jawaban
Dalam pelaksanaan penerapan VE, hal-hal yang dilakukan VE adalah sesuatu yang mempunyai nilai atau pengaruh yang cukup besar dari biaya proyek dan lebih fokus pada fungsi proyek dan tidak hanya sekedar pada pemotongan biaya. Penerapan VE tidak dilakukan pada setiap komponen yang ada pada proyek konstruksi, juga tidak setiap komponen dalam proyek konstruksi yang bisa dilakukan VE. Penerapan VE dalam proyek konstruksi dilakukan secara rutin oleh para responden, berdasarkan wawancara yang dilakukan beberapa kontraktor dan konsultan menjawab kadang-kadang dalam melakukan penerapan VE karena mempunyai beberapa pemikiran yang sama, bahwa tidak semuanya bisa dan dapat untuk dilakukan VE. responden juga memberikan gambaran dalam penerapan VE yang harus juga memikirkan hal efektif dan efisiensi waktu dan biaya dalam penerapan VE.
4.2.2 Opini Tentang Value Engineering (VE)
Opini yang diberikan responden kepada peneliti sebagian besar sangat
setuju apabila penerapan VE dilakukan pada proyek konstruksi. Responden
mempunyai kepercayaan yang besar dalam penerapan VE pada proyek konstruksi
dapat memberikan nilai dan potensi yang lebih dari hasil yang dicapai. Pandangan
responden mengenai penerapan VE pada proyek konstruksi dapat dilihat pada
Table 4.4.
Tabel 4.4. Opini responden dalam penerapan VE pada proyek konstruksi
KTR A KTR B KNS A KNS B 1 Pandangan penerapan VE apabila dilakukan pada proyek
konstruksi ?
Sangat tidak setuju Tidak setuju Netral
Setuju √
Sangat Setuju √ √ √
No Pertanyaan
Jawaban
Hasil wawancara yang dilakukan, beberapa responden juga berpendapat bahwa pelaksanaan VE harus dilakukan dengan sistem dan teknik yang baik sesuai dengan kondisi yang dihadapi dan lebih fokus pada fungsi proyek bukan hanya bertujuan untuk melakukan pemotongan biaya saja.
Hasil penelitian terhadap responden mengenai potensi yang dihasilkan dalam penerapan VE, sebagian besar responden sangat setuju dapat meningkatkan dalam hal kualitas dalam pekerjaan konstruksi. Opini responden mengenai potensi penerapan VE pada proyek konstruksi dalam peningkatan bidang kualitas pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Responden Kontraktor A beranggapan netral dalam penerapan VE untuk
peningkatan kualitas pekerjaan. Kontraktor A beranggapan bahwa kualitas
pekerjaan merupakan sesuatu yang fleksibel, penerapan VE dilakukan
berdasarkan fungsi dasar kebutuhan yang ingin dicapai, penerapan material atau
bahan yang dipakai hanya sesuai dengan kebutuhan yang ingin dicapai, metode
yang digunakan juga dilakukan sesuai dengan studi yang telah dilakukan, apabila
dibandingkan dengan alternatif lain secara keseluruhan belum tentu menjadi
kualitas yang terbaik, hal ini terjadi karena alternatif yang dilakukan berdasarkan
penerapan VE fokus pada fungsi dan studi dari komponen yang dilakukan VE.
Tabel 4.5. Opini penerapan VE pada proyek konstruksi dalam peningkatan bidang kualitas pekerjaan
KTR A KTR B KNS A KNS B 2 Apabila penerapan VE dilakukan secara terencana dan
terstruktur dapat menghasilkan peningkatan dalam hal ? Kualitas Pekerjaan
Sangat tidak setuju Tidak setuju
Netral √
Setuju
Sangat Setuju √ √ √
No Pertanyaan
Jawaban
Hasil penelitian terhadap responden mengenai potensi yang dihasilkan dalam penerapan VE, sebagian besar responden sangat setuju dapat meningkatkan dalam hal inovasi baru. Responden mempunyai kepercayaan yang cukup baik dalam peningkatan inovasi baru dalam proyek konstruksi, hal ini berdasarkan konsep dasar VE yang fokus pada fungsi yang akan meningkatkan dan mengembangkan pemikiran yang kreatif yang dapat dipakai dalam pemenuhan kebutuhan fungsi suatu proyek. Responden menganggap bahwa inovasi baru yang dihasilkan dan dapat melakukan pemenuhan kebutuhan fungsi proyek dapat memberikan sesuatu yang baru untuk diterapkan dan menjadi perkembangan dari dunia konstruksi. Opini responden mengenai potensi penerapan VE pada proyek konstruksi dalam peningkatan Inovasi baru dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Perkembangan inovasi yang dihasilkan juga harus dilakukan pertimbangan
dahulu apakah sesuai dengan kondisi saat ini dan dampak apakah yang akan
ditimbulkan dari inovasi yang dihasilkan. Hasil penelitian terhadap responden
mengenai potensi yang dihasilkan dalam penerapan VE, sebagian besar responden
sangat setuju dapat meningkatkan dalam hal ekonomi yang dapat dimasukkan
dalam keuntungan perusahaan, sedangkan responden konsultan menganggap
netral apabila peningkatan dalam bidang keuntungan ekonomi. Opini responden
mengenai potensi penerapan VE pada proyek konstruksi dalam peningkatan
keuntungan perusahaan dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.6. Opini penerapan VE pada proyek konstruksi dalam peningkatan inovasi baru.
KTR A KTR B KNS A KNS B 2 Apabila penerapan VE dilakukan secara terencana dan
terstruktur dapat menghasilkan peningkatan dalam hal ? Inovasi Baru
Sangat tidak setuju Tidak setuju Netral
Setuju √
Sangat Setuju √ √ √
No Pertanyaan
Jawaban
Tabel 4.7. Opini penerapan VE pada proyek konstruksi dalam peningkatan keuntungan perusahaan
KTR A KTR B KNS A KNS B 2 Apabila penerapan VE dilakukan secara terencana dan
terstruktur dapat menghasilkan peningkatan dalam hal ? Keuntungan Perusahaan
Sangat tidak setuju Tidak setuju
Netral √ √
Setuju
Sangat Setuju √ √
No Pertanyaan
Jawaban
Responden kontraktor melakukan penerapan VE dengan melakukan
pengajuan proposal terhadap owner atau pihak konsultan untuk melakukan
alternatif lain. Apabila disetujui maka pihak kontraktor dapat melaksanakan
perubahan alternatif lain, potensial saving dari alternatif yang dihasilkan masuk
dalam keuntungan perusahaan. Responden konsultan sudah memasukan dalam
cara kerja profesionalime mereka untuk menjadi satu paket jasa mereka dengan
menerapkan VE dalam proyek konstruksi yang mereka tangani. Penerapan VE
dalam proyek konstruksi yang mereka tangani sudah menjadi tanggung jawab
mereka, dan sudah dibayar untuk melakukan itu. Potensial saving yang dihasilkan
dalam penerapan VE menjadi hak owner 100 %, bukan menjadi hak mereka.
Hasil penelitian terhadap responden mengenai potensi yang dihasilkan dalam penerapan VE, sebagian besar responden sangat setuju dapat meningkatkan dalam hal kompetitif jangka panjang perusahaan baik secara intern perusahaan maupun extern perusahaan. Opini responden mengenai potensi penerapan VE pada proyek konstruksi dalam peningkatan kompetitif jangka panjang perusahaan dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8. Opini penerapan VE pada proyek konstruksi dalam peningkatan kompetitif jangka panjang perusahaan
KTR A KTR B KNS A KNS B 2 Apabila penerapan VE dilakukan secara terencana dan
terstruktur dapat menghasilkan peningkatan dalam hal ? Kompetitif jangka panjang perusahaan
Sangat tidak setuju Tidak setuju Netral Setuju
Sangat Setuju √ √ √ √
No Pertanyaan
Jawaban
Penerapan standard yang dilakukan dapat menjadikan nilai lebih perusahaan mereka dalam hal strandart sistem penerapan dan metode yang dilakukan baik terhadap perusahaan itu sendiri maupun kompetensi terhadap perusahaan lain.
Hasil penelitian terhadap responden mengenai hambatan-hambatan yang sering timbul dalam penerapan VE berdeda-beda. Hal ini terjadi karena antara kontraktor dan konsultan melihat dari sudut pandangan yang berbeda berdasarkan pengalaman yang pernah mereka hadapi. Hambatan yang terjadi antara daerah satu dengan daerah lain juga berbeda, hal ini disebabkan karena kondisi, budaya, tata cara, dan orang yang dihadapi juga berbeda. Hambatan penerapan VE pada proyek konstruksi dapat dilihat pada Tabel 4.9.
Pengetahuan yang terbatas dan definisi yang salah tentang VE menjadi
faktor hambatan utama uang dikemukakan oleh responden konsultan, yang dapat
mengakibatkan penerapan VE yang tidak sesuai bahkan tidak terlaksananya
penerapan VE dalam proyek konstruksi. Pelaksanaan VE dengan minimnya pengetahuan dapat mengakibatkan VE hanya dilakukan untuk Cutting Cost saja.
Tabel 4.9. Hambatan penerapan VE pada proyek konstruksi
KTR A KTR B KNS A KNS B 3 Faktor utama yang menjadi hambatan dalampelaksanaan
VE ?
Kurangnya pengetahuan tentang VE √ √ √
Definisi yang salah tentang VE √ √ √
Tidak adanya sikap tegas dari
high Level managementKontribusi VE yang kurang terukur
Terbatasnya waktu dan biaya √
Tidak adanya insentif
Kurangnya Profesionalisme √
Konflik yang terjadi √
Kurangnya komunikasi √
Pengambilan keputusan yang terbagi
Kurangnya dukungan dari pihak lain √ Kurangnya fleksibilitas dalam kontrak √ √ Budaya dan proses VE yang berbeda-beda √ √
No Pertanyaan
Jawaban
Responden kontraktor mengemukakan bahwa waktu dan biaya untuk
melakukan penerapan VE juga menjadi kendala yang besar, hal ini kemungkinan
terjadi apabila kebiasaan proyek konstruksi yang lebih mementingkan
pelaksanaan yang ingin cepat selesai. Sikap profesionalisme, Kurangnya
komunikasi, konflik, kurangnya dukungan pihak lain yang terjadi merupakan
salah satu urutan kejadian yang sering dihadapi. Berawal dari pelaksanaan VE
yang kurang matang dan komunikasi yang kurang dapat berakibatkan konflik
yang terjadi sehingga tidak mendapat dukungan dari pihak lain dalam pelaksanaan
VE. Hal utama yang terjadi adalah budaya dan proses pelaksanaan VE yang
berbeda-beda sehingga perlunya penyesuaian terhadap masing-masing individu
dan budaya yang berkembang, serta tidak ada atau kurangnya fleksibilitas kontrak
dalam mengatur VE, sehingga pelaksanaan VE menjadi tidak terarah dan tidak
mendapatkan dukungan dari pihak yang terkait karena hal-hal yang mengatur VE
yang terbatas bahkan tidak ada sama sekali kontrak yang penerapan VE.
4.2.3 Komponen Value Engineering (VE)
Hasil penelitian terhadap responden mengenai Komponen dari VE antara kontraktor dan konsultan, responden benar-benar tidak memahami dengan baik konsep definisi fungsi dengan baik yang dilakukan identifikasi secara sistematis dengan menggunakan bantuka 1 kata benda dan 1 kata kerja. Definisi fungsi yang responden pahami berdasarkan kebutuhan dasar dari fungsi komponen proyek.
Dalam melakukan definisi proyek, responden banyak sekali melakukan pengembangan alternatif dalam pemenuhan kebutuhan dasar proyek. Setelah mendapatkan penjelasan singkat tentang dasar cara kerja definisi fungsi oleh peneliti, adanya perbedaan yang sangat mendasar antara responden kontraktor dan responden konsultan, sudut pandang antara responden kontraktor dan konsultan berbeda. Responden konsultan lebih melihat dari konsep global dan responden kontraktor lebih melihat dari arah pelaksanaan proyek. Komponen VE dalam hal Definisi Fungsi yang penting untuk dilakukan dapat dilihat pada Table 4.10.
Tabel 4.10. Komponen VE (Definisi Fungsi)
KTR A KTR B KNS A KNS B 1 Definisi Fungsi
Berdasarkan fungsi Proyek √ √
Berdasarkan fungsi ruang Proyek
Berdasarkan fungsi elemen proyek √ √
No Pertanyaan
Jawaban
Dalam pelaksanaan definisi yang tepat, responden konsultan melihat
definisi fungsi berdasarkan fungsi proyek sangat tepat untuk dilakukan. Hal ini
terjadi karena konsep desain yang pertama juga dilakukan oleh konsultan
perencana. Responden kontraktor berpendapat berbeda, bahwa lebih tepat untuk
melakukan definisi fungsi secara elemen. Hal ini terjadi karena kontraktor lebih
memikirkan pada pelaksanaan konstruksi. Perbedaan persepsi ini terjadi, karena
adanya perbedaan pelaksanaan proyek konstruksi yang dilakukan. Responden
kontraktor tidak dilibatkan dalam tahap perencanaan, sehingga konsep dan sudut
pandang yang berbeda antara responden kontraktor dan responden konsultan
berbeda. Responden kontraktor memberikan salah satu contoh pelaksanaan VE
dari sistem pencahayaan dari Gedung Mall “Trade centre mall” . Hasil Laporan VE yang menjelaskan perhitungan studi biaya dalam penerapan VE sistem pencahayaan pada Gedung Mall “Trade centre mall”.
Hasil wawancara yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa responden kontraktor dan responden konsultan melakukan pemilihan dari alternatif yang dihasilkan berdasarkan pada biaya yang terendah dalam mencapai fungsi.
Komponen VE dalam hal Evaluasi Fungsi yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada Table 4.11.
Tabel 4.11. Komponen VE (Evaluasi Fungsi)
KTR A KTR B KNS A KNS B 2 Evaluasi Fungsi
Biaya terendah yang dapat mencapai fungsi √ √ √
lainnya √
No Pertanyaan
Jawaban
Evaluasi Fungsi dilakukan oleh responden dengan melakukan studi dari alternatif yang ada, dan melakukan penentuan alternatif mana yang cocok dan sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan. Responden kontraktor B mengemukakan bahwa selain fokus pada biaya yang terendah, harus melakukan pertimbangan-pertimbangan yang lain, pertimbangan yang dimaksud adalah : mutu dan waktu.
Hasil wawancara yang dilakukan, responden tidak melakukan Fast Diagram dengan baik. Responden telah melakukan studi yang mendalam terhadap apa yang akan dihasilkan dari proyek kontruksi dan bagaimana pelaksanaannya, namun responden tidak melakukannya dengan cara yang sistematis. Responden tidak mendokumentasikannya studi dari Fast Diagram. Pertanyaan yang timbul dari pemikiran responden tentang hasil yang harus didapatkan dan bagaimana pelaksanaan proyek konstruksi hanya terdapat dalam pemikiran mereka.
Komponen VE dalam hal Fast Diagram yang dilakukan oleh responden dapat dilihat pada Table 4.12.
Berdasarkan pemikiran responden, teknik Fast Diagram sangat perlu
untuk dilakukan dalam penerapan VE, hal ini dilakukan untuk melihat keterkaitan
antara yang akan dituju dalam proses desain dan bagaimana proses pelaksanaan yang akan dilakukan untuk mencapainya secara terstuktur dan sistematis.
Tabel 4.12. Komponen VE (Fast Diagram)
KTR A KTR B KNS A KNS B 3 Fast Diagram
Perlu √ √ √ √
Tidak Perlu
No Pertanyaan
Jawaban
Hasil wawancara yang dilakukan kepada reponden bahwa Brainstorming merupakan teknik yang biasa dilakukan dalam penerapan VE. Komponen VE dalam hal Pengembangan Alternatif yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada Table 4.13.
Tabel 4.13. Komponen VE (Pengembangan Alternatif)
KTR A KTR B KNS A KNS B 4 Pengembangan Alternatif
Brainstorming √ √ √ √
teknik lainnya
No Pertanyaan
Jawaban
Pelaksanaan teknik Brainstorming dalam penerapanVE, responden biasa melakukan dengan cara mengadakan rapat yang terdiri dari beberapa ahli dalam bidang tertentu baik dalam melakukan pengembangan alternatif lain yang dapat memenuhi kebutuhan fungsi atau dalam memecahakan permasalahan yang dihadapi. Rapat yang dilakukan oleh responden bertujuan untuk saling melakukan tukar pendapat dan pengembangan akan kemungkinan hal lain yang dapat dilakukan untuk melakukan pengembangan proses lebih lanjut.
Hasil wawancara yang dilakukan menunjukkan bahwa responden pernah
mendengar istilah Allocated Cost to Function namun tidak memahami dengan
baik maksud dan tujuan dari teknik ini. Responden secara tidak langsung telah
melakukan Allocated Cost to Function, namun pelaksanaan yang dilakukan tidak
sistematis karena keterbatasan pengetahuan teknik yang dipakai, responden sangat setuju apabila melakukan teknik ini dalam melakukan penerapan VE. Komponen VE dalam hal Allocated Cost to Function yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada Table 4.14.
Tabel 4.14. Komponen VE (Allocated Cost to Function)
KTR A KTR B KNS A KNS B 5 Allocated Cost To Function
Perlu √ √ √ √
Tidak Perlu
No Pertanyaan
Jawaban
Responden melakukan perhitungan biaya, metode pelaksanaan, dan hal lainnya yang diperlukan pada setiap alternatif yang dihasilkan. Berdasarkan perhitungan dan pertimbangan yang dilakukan, maka responden melakukan penentuan alternatif yang dilakukan. Konsultan B melakukan perhitungan Allocated Cost to Function, perhitungan yang dilakukan pada alat pemecah gelombang (tetraport) dari proyek yang dikerjakan, dalam perhitungan itu dilakukan dengan memberikan beberapa alternatif yang dapat digunakan dengan perhitungan biaya dan pertimbangan lain yang disusun secara terperinci dalam dokumentasi VE . Setelah mendapatkan pengarahan dari peneliti, responden sudah dapat memahami maksud dan tujuan dari Allocated Cost to Function. Berdasarkan penilaian responden, Allocated Cost to Function diperlukan dalam pelaksanaan VE. Hal ini dilakukan untuk melakukan penilaian terhadap fungsi-fungsi yang yang terdapat pada proyek, dan dapat melihat fungsi yang cocok untuk diterapkan.
Hasil wawancara yang dilakukan menunjukkan bahwa responden tidak
pernah mendengar istilah Callculated Worth. Responden tidak pernah melakukan
perhitungan secara mendetail dari setiap komponen atau elemen yang lebih kecil
yang digunakan dalam tiap-tiap fungsi untuk dapat melihat komponen atau
elemen yang cocok untuk diterapkan. Setelah mendapatkan penjelasan dari
peneliti tentang Callculated worth, responden mulai memahami maksud dan
tujuan dari perhitungan ini. Responden merasa perlu untuk dilakukan perhitungan
ini dalam pelaksanaan VE. Komponen VE dalam hal Calculated worth yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada Table 4.15.
Tabel 4.15. Komponen VE (Calculated Worth)
KTR A KTR B KNS A KNS B 6 Calculated Worth
Perlu √ √ √ √
Tidak Perlu
No Pertanyaan
Jawaban
Perhitungan ini dilakukan dengan mempertimbangkan dahulu apakah perhitungan ini mempunyai potensi atau tujuan yang besar. Responden berpendapat tidak semua komponen perlu untuk dilakukan perhitungan ini, perhitungan ini dilakukan sesuai dengan kondisi tertentu, faktor biaya dan waktu sangat besar pengaruhnya untuk melakukan perhitungan ini.
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap responden menunjukkan bahwa responden melakukan 5 tahapan ini dalam melakukan penerapan VE. dalam pelaksanaan tahapan ini, responden seringkali tidak melakukannya secara berurutan. Komponen VE dalam hal Proses Pelaksanaan VE yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada Table 4.16.
Tabel 4.16. Komponen VE (Proses Pelaksanaan VE)
KTR A KTR B KNS A KNS B 7 Proses pelaksanaan VE yang perlu dilakukan
Tahapan informasi √ √ √ √
Tahapan alternatif √ √ √ √
Tahapan Pengembangan √ √ √ √
Tahapan Dokumentasi √ √ √ √
Tahapan Presentasi √ √ √ √
Lainnya...
No Pertanyaan
Jawaban
Berdasarkan pengalaman yang dilakukan, kontraktor A memberikan
contoh dalam pelaksanakan VE pada Gedung “Trade Centre Mall”, apabila
melakukan studi pada elemen atau komponen dalam proyek mempunyai potensi
yang cukup besar, maka kontraktor melakukan tahap 1 sampai tahap ke 3, yang kemudian melakukan presentasi atau pengajuan kepada owner atau pihak konsultan. Apabila disetujui maka pihak kontraktor baru melakukan tahap dokumentasi dari studi yang dilakukan dan mulai melaksanakan pekerjaan tersebut. Namun apabila usulan itu ditolak maka pihak kontraktor tidak melakukan tahap dokumentasi dan tidak melanjutkan studi yang dilakukan.
Proses pelaksanaan VE harus melakukan 5 tahapan proses, yaitu tahapan informasi, alternatif, pengembangan, dokumentasi dan presentasi. Tahapan informasi digunakan untuk mendapatkan banyak informasi yang perlu, kemudian informasi itu dipakai untuk melakukan pencarian kemungkinan alternatif lain yang dapat diterapkan. Tahapan pengembangan merupakan tahapan lebih lanjut untuk melihat potensi dari alternatif yang dipilih, dan kemudian disusun dalam dokumentasi yang terstruktur dan akhirnya dilakukan presentasi untuk meyakinkan owner.
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap responden menunjukkan bahwa menurut pendapat kontraktor A tim yang dipakai berdasarkan besar atau kecilnya proyek yang ditangani, apabila kecil sebaiknya menggunakan tim dari dalam, namun apabila proyeknya besar dan kompleks sebaiknya menggunakan tim dari luar atau gabungan tim dari dalam dan luar yang dianggap lebih baik. Komponen VE dalam hal Tim VE yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada Table 4.17.
Tabel 4.17. Komponen VE (Tim VE)
KTR A KTR B KNS A KNS B 8 Pendekatan Tim VE yang sebaiknya dilakukan
Tim dari luar (external team)
Tim dari dalam (internal team) √
Gabungan antara External&Internal √ √ √
Lainnya...
No Pertanyaan
Jawaban
Tim VE diperlukan dalam pelaksanaan VE. Pentingnya tim gabungan antara pihak dari dalam dan pihak dari luar untuk dapat melihat studi VE secara obyektif responden melakukan koordinasi Tim dalam melakukan penerapan VE.
Tim VE dari dalam saja sangat cocok dilakukan karena lebih mengenal proyek
dengan lebih baik. Penggunaan tim VE juga harus dipertimbangkan biaya dan waktu, penggunaan Tim VE juga diperlukannya biaya dan waktu tambahan untuk pelaksanaan VE.
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap responden menunjukkan bahwa responden kontraktor mempunyai pemikiran tentang fasilitator yang berbeda.
Komponen VE dalam hal Fasilitator VE yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada Table 4.18.
Tabel 4.18. Komponen VE (Fasilitator VE)
KTR A KTR B KNS A KNS B 9 Value Engineering Facilitator
Tim dari luar (external team) √ √
Tim dari dalam (internal team) √ √
No Pertanyaan
Jawaban
Responden kontraktor menganggap fasilitator yang cocok digunakan adalah fasilitator dari luar. Dalam hal ini responden kontraktor menganggap fasilitator yang cocok adalah konsultan yang dianggap netral dan obyektif dalam proyek konstruksi. Responden konsultan menganggap fasilitator yang cocok digunakan adalah Fasilitator VE dari dalam, yang dianggap lebih mengenal proyek dengan lebih baik.
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap responden kontraktor dan responden konsultan menunjukan bahwa mayoritas melakukan penerapan VE pada waktu yang sesuai dengan kondisi saat mereka mulai menjalankan proyek, tidak adanya waktu khusus untuk melakukan VE. Komponen VE dalam hal Format Studi VE yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada table 4.19.
Responden Kontraktor B lebih cocok untuk melakukan VECP, dengan melakukan
penerapan VE pada saat konstruksi dengan melakukan beberapa Studi terhadap
beberapa alternatif lain dan diusulkan kepada owner untuk dilakukan. Apabila
disetujui maka usulan tersebut dapat dilakukan. VECP ini dilakukan oleh
kontraktor karena keterlibatan dalam pelaksanaan VE yang berbeda. Responden
konsultan melakukan penerapan VE pada tahap desain dan responden kontraktor
melakukan penerapan VE pada tahap konstruksi. Responden kontraktor yang
tidak berada pada tahap desain untuk melakukan VE. Responden lainnya melakukan penerapan VE tidak mempunyai waktu khusus yang sudah ditentukan terlebih dahulu, namun apabila melihat hal-hal yang dapat dilakukan VE maka mereka baru melakukannya. Komponen VE dalam hal Format Studi VE yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada Table 4.20.
Tabel 4.19. Komponen VE (Format Studi VE)
KTR A KTR B KNS A KNS B 10 Format studi VE
40 hour workshop two days
Jappannese compact study
Contractor change proposal (VECP) √
Lainnya (Continuous) √ √ √
No Pertanyaan
Jawaban
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap responden kontraktor dan konsultan menunjukkan bahwa lokasi yang dilakukan oleh responden dalam penerapan VE dilakukan di dalam lingkungan kerja. Komponen VE dalam hal Lokasi Studi VE yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada Table 4.20.
Tabel 4.20. Komponen VE (lokasi Studi VE)
KTR A KTR B KNS A KNS B 11 Lokasi Studi VE
Di dalam lingkungan pekerjaan √ √ √ √
Di luar lingkungan pekerjaan
No Pertanyaan
Jawaban
Biaya dan waktu juga menjadi pertimbangan dalam penentuan lokasi
penerapan VE pada proyek konstruksi. Lokasi studi yang cocok menurut
responden juga sangat cocok dilakukan didalam lingkungan kerja, karena
dianggap mempunyai banyak nilai tambah antara lain dekat dengan lingkungan
pekerjaan dapat melihat kondisi proyek secara langsung dan tidak perlunya
mengeluarkan biaya dan waktu tambahan untuk melakukan studi VE.
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap responden menunjukkan bahwa waktu proses pelaksanaan VE yang berbeda antara kontraktor dan konsultan.
Responden konsultan melakukan penerapan VE pada saat Sketch design dimulai, sedangkan responden kontraktor melakukan penerapan VE pada saat tahap konstruksi. Semua responden menyadari adanya tahapan penerapan VE yang hilang apabila dilakukan mulai dari tahapan selanjutnya, potensi penerapan VE yang lebih besar dan lebih baik lagi apabila sudah disadari dan dimulai pada awal konsep proyek itu dibuat. Proses pelaksanaan VE sangat baik sekali apabila dilakukan mulai dari awal konsep proyek tersebut dibuat. Komponen VE dalam hal Lokasi Studi VE yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada Table 4.21.
Tabel 4.21. Komponen VE (Waktu Proses Pelaksanaan VE)
KTR A KTR B KNS A KNS B 12 Waktu Proses Pelaksanaan VE
Inception √ √ √
Inception Brief
Sketch Design Construction Stage
Kombinasi dari ke 4 di atas √
Lainnya
Pertanyaan
Jawaban No
Penerapan VE dilakukan pada saat Inception mempunyai pengaruh yang sangat besar daripada melakukan penerapan VE di akhir proyek. Responden Kontraktor B menganggap perlunya melakuakan penerapan VE dengan cara kombinasi dari proses penerapan VE dilakukan. Hal ini dilakukan karena berdasarkan pengalaman, adanya hal-hal lain atau yang baru terlihat dalam pelaksanaan dapat dilakukan VE dengan pengaruh yang cukup besar apabila dilakukan.
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap responden kontraktor dan
konsultan menujukkan bahwa teknik evaluasi yang dilakukan oleh responden
kontraktor menggunakan teknik pembobotan terhadap setiap kemungkinan
alternatif, sedangkan responden konsultan menggunakan teknik matematika
lainnya dengan melakukan pertimbangan yang lain. Komponen VE dalam hal Lokasi Studi VE yang sebaiknya dilakukan dapat dilihat pada Table 4.22.
Tabel 4.22. Komponen VE (Teknik Evaluasi Akhir)
KTR A KTR B KNS A KNS B 13 Teknik Evaluasi Akhir
Weightedmatrix (Pembobotan) √ √
Teknik Matematika lainnya. √ √
Voting Subyektif
Lainnya...
No Pertanyaan
Jawaban
Teknik evaluasi akhir yang dipakai berdasarkan teknik, cara, kondisi yang dianggap cocok untuk dipakai. Pendapat responden konsultan dan kontraktor tentang teknik yang cocok untuk dipakai untuk memilih hasil akhir sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
4.3 Analisis Penerapan VE pada Ruang Kuliah Gedung “T” Universitas Kristen Petra.
Analisis Penerapan VE pada gedung “T” Universitas Kristen Petra dilakukan untuk memberikan gambaran tentang penerapan VE pada proyek konstruksi. Penerapan VE ini dilakukan pada salah satu komponen dari gedung
“T” saja. Gedung “T” merupakan salah satu perkembangan dari Universitas Kristen Petra. Perkembangan Gedung perkuliahan Universitas Kristen petra dapat dilihat pada Gambar 4.1. Perbesaran gambar Gedung “T” Universitas Kristen Petra dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Pemilihan komponen yang dipilih adalah ruangan kelas perkuliahan yang merupakan salah satu ruang utama yang dibutuhkan dalam Gedung Perkuliahan.
Penerapan VE pada ruang perkuliahan dilakukan dengan melakukan analisa dari
fungsi ruang kuliah dengan melakukan pertimbangan sistem pencahayaan dan
sirkulasi udara secara alami. Penerapan VE ini dilakukan dengan cara melakukan
13 tahapan secara berurutan dan sistematis. Ruang kuliah yang dilakukan analisa
penerapan VE adalah ruang kuliah yang terletak pada lantai 1 dengan koordinat
struktur J dan K. Ruang-ruang perkuliahan lantai 1 dapat dilihat pada gambar 4.3.
Perbesaran gambar ruang perkuliahan dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Gambar 4.1. Universitas Kristen Petra.
Gedung “Sipil”
Gedung “P”
Gedung “T”
Gedung “A”
Gedung “B”
Gedung “C”
Gedung “D”
Gedung “E H”
Gedung “Ekonomi”
Gedung “W”
Gambar 4.2. Gedung “T” Universitas Kristen Petra.
Gambar 4.3. Ruang perkuliahan lantai 1 pada Gedung “T” Universitas Kristen Petra.
Ruang Kuliah yang dimaksud
Gedung “T”
Parkiran Luar
Gambar 4.4. Denah Ruang kuliah lantai 1 pada Gedung “T” Universitas Kristen Petra.
Penerapan VE pada Gedung “T” dilakukan oleh peneliti dengan beberapa narasumber yang ikut dalam memberikan masukan kepada peneliti mulai dari tahapan awal sampai akhir yang diasumsikan menjadi tim VE. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kesan subyektif dalam penelitian ini. Narasumber yang dipakai dengan latar disiplin ilmu teknik sipil, arsitektur, dan manajemen konstruksi. Penelitian ini dilakukan pada Gedung “T” yang sudah selesai pembangunannya, yang mempunyai tujuan untuk memberikan gambaran penerapan VE pada proyek konstruksi secara sistematis. Beberapa nama narasumber yang ikut dalam Tim VE dapat dilihat pada tabel 4.23.
Tabel 4.23. Nama-nama tim VE
No NAMA TIM VE LATAR BELAKANG DISIPLIN ILMU
1 John Chandra Fanggidae Arsitektur, manajemen Konstruksi
2 Iskandar Intan Arsitektur, manajemen Konstruksi
3 Hendro Cahyono Sipil, manajemen Konstruksi
4 Lila Sipil, manajemen Konstruksi
4.3.1 Definisi Fungsi (Function Definition)
Ruang perkuliahan mempunyai fungsi utama sebagai sarana atau tempat yang digunakan sebagai terjadinya proses belajar mengajar. Berdasarkan teori VE, definisi fungsi dilakukan berdasarkan definisi fungsi elemen.. dengan melakukan pendefinisian menggunakan bantuan 1 kata benda dan 1 kata kerja. Dalam penelitian ini, asumsi yang dipakai adalah fungsi ruang kuliah dengan mempertimbangkan pencahayaan dan sirkulasi udara secara alami dengan baik.
Penjabaran fungsi elemen yang dipakai adalah pembukaan dinding atau jendela yang dapat memasukkan cahaya atau udara. Beberapa penjabaran fungsi Elemen jendela kelas dapat dilihat pada tabel 4.24.
Tabel 4.24. Definisi Fungsi Ruang Kuliah (Function Definition)
NO KATA KERJA KATA BENDA
1 Memasukkan Cahaya
2 Memasukkan Udara
3 Mengeluarkan Udara
4 Menggerakkan Udara
5 Menerima Udara
6 Menerima Cahaya
7 Menambah View
8 Membuat Estetik
4.3.2 Evaluasi Fungsi
Evaluasi fungsi yang dilakukan dalam pemenuhan kebutuhan ruang kuliah adalah biaya terendah yang dapat mencapai fungsi yan`g diinginkan.
4.3.3 Fast Diagram
Penerapan Fast Diagram dilakukan berdasarkan asumsi yang dibuat sebelumnya untuk melakukan analisa VE terhadap ruang kuliah dengan mempertimbangkan sistem pencahayaan dan sistem sirkulasi udara secara alami.
Penerapan Fast Diagram dapat dilihat pada Gambar 4.5.
HOW ??? WHY ???
Sirkulasi Lubang di dinding
Ruang Pembukaan Udara untuk udara masuk Pencahayaan
Kuliah Jendela
Penerangan Lubang di dinding Sirkulasi udara
Cahaya untuk cahaya masuk
DESIGN CONSTRUCTION
Gambar 4.5. Fast Diagram
4.3.4 Pengembangan Alternatif
Pengembangan alternatif yang dilakukan oleh peneliti melalui proses Brainstorming dengan beberapa narasumber dalam penerapan VE. Masukan dan ide-ide yang masuk ditampung dan dikembangkan menjadi beberapa alternatif desain ruang kelas. Beberapa Analisa yang berhasil dikembangkan dalam desain denah yang lama dapat dilihat pada Gambar 4.6.
Gambar 4.6. Analisa Denah Ruang kuliah lantai 1 Gedung “T” Universitas Cahaya yang dapat dicapai
Cahaya yang dapat dicapai
Pergerakan
Udara dalam
ruang kuliah
Berdasarkan kondisi ruang kuliah saat ini dapat disimpulkan bahwa ruang kuliah tidak mendapatkan penerangan cahaya dari matahari dengan maksimal. Hal ini terjadi karena pembukaan yang ada hanya terdapat pada bagian belakang ruang kuliah hanya berupa jendela atas (Bouven Lech). Cahaya matahari dari luar hanya masuk pada daerah yang diarsir hitam. Pada bagian pintu terdapat 2 buah kaca yang terletak di kanan dan kiri pintu. Kaca tersebut dapat memasukkan cahaya yang berasal dari Hall, namun tidak maksimal dan hanya mencapai pada daerah yang diarsir. Sistem sirkulasi udara tidak mendukung terciptanya cross ventilasi.
Udara di ruang kuliah tidak dapat masuk ke dalam ruang kelas, sehingga pergerakan udara hanya bergerak sekitar ruang kuliah. Pembukaan yang dapat dilakukan pada ruang kuliah agar tercapainya sirkulasi udara dan caha yang baik hanya dapat dilalui dari sisi luar dan sisi dalam. Cross ventilasi dapat tercapai dari Hall dan Outdoor, Cahaya masuk dari Hall dan Outdoor yang terdapat sumber cahaya dari matahari dan penerangan dari Hall. Analisa Kemungkinan Sumber cahaya dan Udara dapat dilihat pada Gambar 4.7.
Gambar 4.7. Analisa Kemungkinan Sumber cahaya dan Udara.
Inlet / Outlet Udara
Penerangan dari Hall R. Panel R. Kuliah
Sinar Matahari
Inlet / Outlet Udara
Beberapa alternatif yang sudah dibuat dapat memberikan pemecahan permasalahan sistem sirkulasi udara dan sistem pencahayaan pada ruang kuliah Universitas Kristen Petra. Alternatif 1 dapat dilihat pada Gambar 4.8. dan 4.9.
Alternatif ke 1 melakukan penambahan lebar ketinggian jendela pada bagian belakang ruang kuliah dan penambahan jendela pada bagian depan ruang kuliah yang semula tidak ada. Desain jendela yang dibuat dapat menghasilkan sistem pencahayaan dan sistem sirkulasi udara yang lebih maksimal. Desain Penambahan jendela dilakukan dengan menambah pelebaran pembukaan dan tetap menggunakan material kusen aluminium dan kaca.
Gambar 4.8. Denah ruang kuliah Alternatif 1.
Alternatif ke 2 melakukan pertimbangan dari sistem pencahayaan dan
sistem sirkulasi udara dengan melakukan cross ventilasi secara vertikal. Sistem
sirkulasi udara dengan melakukan pelubangan dinding bagian atas yang terletak
pada perbatasan Hall dan dinding bagian bawah yang terletak pada perbatasan
Outdoor. Penambahan jendela dilakukan dengan menambah pelebaran
pembukaan dan tetap menggunakan material kusen aluminium dan kaca, tetapi
pada bagian dinding yang berbatasan dengan outdoor dan Hall untuk pembukaan sirkulasi udara hanya berupa lubang yang ditutup dengan jalusi besi. Alternatif ke 2 dapat dilihat pada Gambar 4.10. dan 4.11.
Gambar 4.9. Potongan A-A Alternatif 1.
Pelebaran jendela pada alternatif 1 menggunakan kusen aluminium dengan kaca sebagai pembatas pada kedua dinding ruang kelas, sedangkan pada alternatif ke 2 menggunakan kusen aluminium dengan kaca pada dinding yang berbatasan dengan ruang luar hanya melakukan pelubangan dinding saja dengan penambahan jalusi besi sebagai penutup jendela. Sistem sirkulasi udara secara alami dilakukan dengan dasar cross ventilation, desain pada alternatif 1 dapat menghasilkan pergerakan udara secara horisontal yang mengarahkan udara dari dinding ruang luar gedung dengan dinding ruang selasar gedung. Desain alternatif 2 juga menghasilkan pergerakan udara secara horisontal dan vertikal, yang mengarahkan arah pergerakan udara dari dinding bawah ruang luar gedung dengan dinding atas ruang selasar gedung.
Pergerakan Udara dalam ruang kuliah Pencapaian
Cahaya Matahari
Pencapaian
Cahaya dari Hall
Gambar 4.10. Denah ruang kuliah Alternatif 2.
Gambar 4.11. Potongan A-A Alternatif 2.
Pencapaian Cahaya dari Hall Pergerakan
Udara dalam ruang kuliah Pencapaian
Cahaya Matahari Jalusi Besi
4.3.5 Allocating Cost to Function
Penelitian yang dilakukan ini melakukan perhitungan dari alternatif yang dibuat untuk dapat melihat perincian biaya yang dikeluarkan dalam pemenuhan fungsi ruang kuliah. Ruang kuliah diasumsikan mempunyai bahan yang sama dengan harga satuan mengikuti pasar saat ini. Perhitungan Allocated Cost to Function pada setiap alternatif dapat dilihat pada Tabel 4.25.
Berdasarkan perhitungan Allocated Cost to Function pada setiap alternatif yang dihasilkan untuk mencapai fungsi yang sama, maka mempunyai perhitungan sebagai berikut:
• Existing : Rp. 52.480.240,-
• Alternatif 1 dengan biaya : Rp. 50.040.640,-
• Alternatif 2 dengan biaya : Rp. 45.295,840,-
Tabel 4.25. Allocating Cost to Function
MATERIAL HRG SAT SAT
( Rp) LUASAN SAT TOTAL HRG LUASAN SAT TOTAL HRG LUASAN SAT TOTAL HRG Struktur beton 1,200,000 m3 20.1312 m3 24,157,440 20.1312 m3 24,157,440 20.1312 m3 24,157,440 Pasangan 1/2 dinding bata 50,000 m2 122.4 m2 6,120,000 110.92 m2 5,546,000 107,32 m2 5,366,000
Plesteran 20,000 m2 122.4 m2 2,448,000 110.92 m2 2,218,400 107,32 m2 2,146,400
Fin. Lantai keramik 70,000 m2 77.76 m2 5,432,000 77.76 m2 5,432,000 77.76 m2 5,432,000
Plafond tripleks 60,000 m2 77.76 m2 4,665,600 77.76 m2 4,665,600 77.76 m2 4,665,600
List plafond gypsum 15,000 m' 36 m2 540,000 36 m2 540,000 36 m; 540,000
Fin. Cat dinding catylac 8,000 m2 110.92 m2 887,360 110.92 m2 887,360 107,32 m2 858,560
Fin.cat plafond 9,000 m2 77.76 m2 699,840 77.76 m2 699,840 77.76 m2 699,840
Pintu panel kayu 350,000 l/s 1 l/s 350,000 1 l/s 350,000 1 l/s 350,000
Jendela kaca & rangka aloy 550,000 m2 3.6 m2 1,980,000 10.08 m2 5,544,000 --- m2 0
Jalusi besi penutup jendela 150,000 m2 --- m2 --- --- m2 --- 7,2 m2 1,080,000
Mesin AC 5,000,000 l/s 1 l/s 5,000,000 --- l/s --- --- l/s ---
Biaya Perawatan (Tahun) 200,000 l/s 1 l/s 200,000 --- l/s --- 1 l/s ---
JUMLAH TOTAL 52,480,240 50,040,640 45,295,840
ALTERNATIF 1 ALTERNATIF 2
EXISTING