41 4.1.Deskripsi Tempat Penelitian
4.1.1. Gambaran Umum Kecamatan Cijambe
Cijambe adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Indonesia. Kecamatan Cijambe mulai terbentuk pada tanggal 7 Februari 1992. Pada awalnya Kecamatan Cijambe terdiri dari 9 Desa yaitu: Desa Tanjungwangi, Desa Gunung Tua, Desa Cijambe, Desa Cirangkong, Desa Cikadu, Desa Bantarsari, Desa Sukahurip, Desa Cimenteng, Desa Cibalandong. Setelah beberapa tahun Kecamatan Cijambe terpecah menjadi 8 Desa, karena Desa Cibalandong pindah ke Kecamatan Cibogo. Dikarenakan target untuk setiap Kecamatan yaitu 8 Desa. Sehingga Kecamatan Cijambe mengelola menjadi 8 Desa. Sejarah tempat Kantor Kecamatan Cijambe yaitu sebelum mendapatkan tempat yang legal, sementara bertempat di Pemerintahan Desa Cijambe. Setelah turun anggaran, bermusyawarah tokoh-tokoh masyarakat yang ada di wilayah Kecamatan Cijambe sehingga yang siap untuk mengadakan tanah lahan kosong yaitu di Desa Cirangkong, persiapkan untuk membangun Kantor Kecamatan yang bertempat di Desa Cirangkong.
a. Letak Wilayah
Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang merupakan salah satu Kecamatan dari 30 Kecamatan di Kabupaten Subang yang terletak di bagian selatan Kabupaten Subang dengan batas wilayah sebagai beriku:
1) Sebelah Utara : Kecamatan Subang 2) Sebelah Selatan : Kecamatan Cisalak 3) Sebelah Timur : Kecamatan Cibogo 4) Sebelah Barat : Kecamatan Jalancagak
5) Topograpi : Pegunungan (Berbukit sampai bergunung) 6) Ketinggian : 76 – 500 dpl
b. Luas Wilayah dan Kependudukan
Jumlah penduduk keseluruhan mencapai 41.874 jiwa dengan 13.922 KK, yang terhimpun dari 69 RW dan 220 RT. Berikut adalah tabel luas wilayah dan jumlah penduduk:
Tabel 4.1 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk
No Desa
Luas Wilayah
(ha)
Penduduk
Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Tanjungwangi 930.108 3.707 3.754 7.461
2 Gunungtua 7624,4 3.610 3.614 7.224
3 Cijambe 88852,5 3.425 3.489 6.914
4 Cirangkong 13.106 2.264 2.157 4.421
5 Cimenteng 1422 2.036 1.989 4.025
6 Cikadu 4014 3.022 2.931 5.953
7 Sukahurip 72,50 1.219 1.230 2.499
8 Bantarsari 72,57 1.698 1.729 3.427
JUMLAH 20.981 20.893 41.874
Sumber: Profil Kecamatan Cijambe
Tabel 4.2 Data RT/RW di Kecamatan Cijambe
No Desa
Penduduk
RW RT KK
1 Tanjungwangi 11 36 2.828
2 Gunungtua 09 30 2.358
3 Cijambe 10 32 1.548
4 Cirangkong 06 22 1.465
5 Cimenteng 05 16 1.341
6 Cikadu 11 42 2.252
7 Sukahurip 08 19 887
8 Bantarsari 09 23 1.243
JUMLAH 69 220 13.922
Sumber: Profil Kecamatan Cijambe
c. Visi dan Misi
Dalam rangka memberikan arah dan sasaran yang jelas serta sebagai pedoman dan tolok ukur kinerja dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang diselaraskan dengan arah kebijakan dan program pembangunan daerah dalam Rencana Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Subang, Kecamatan Cijambe Daerah Kabupaten Subang menetapkan rencana strategis sebagai dasar acuan penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan, dalam pencapaian visi dan misi serta tujuan organisasi.
Visi Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang, yaitu: “TERWUJUDNYA KECAMATAN CIJAMBE SEBAGAI DAERAH AGRIBISNIS, INDUSTRI DAN PERTAMBANGAN YANG RELIGIUS DAN BERBUDAYA MELALUI PEMBANGUNAN BERBASIS GOTONG ROYONG”
Penjabaran makna dari Visi tersebut ádalah sebagai berikut :
Agribisnis : Pembangunan di Kecamatan Cijambe diprioritaskan pada sektor pertanian dan perkebunan yang memberi dampak ungkit terhadap peningkatan perekonomian masyarakat.
Industri : Pembangunan Sektor Industri yang telah dilaksanakan di Kecamatan Cijambe akan terus dikembangkan dan dipertahankan sehingga menarik lebih banyak lagi investor dalam maupun luar negeri.
Religius : Pembangunan yang dilaksanakan di Kabupaten Cijambe harus dilandasi dan mampu meningkatkan kualitas kehidupan beragama yang beriman dan bertaqwa.
Berbudaya : Pembangunan yang dilaksanakan harus mampu meningkatkan kualitas masyarakat yang berbudaya, yakni masyarakat yang berpendidikan, sehat, sejahtera, demokratis, dan menjunjung supremasi hukum.
Gotong Royong: Bahwa penyelenggaraan pembangunan daerah harus melibatkan semua komponen pembangunan (pemerintah, masyarakat dan swasta) baik dalam proses perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan.
Untuk mewujudkan cita-cita atau visi tersebut, maka ditentukan hal-hal yang diemban untuk dapat dilaksanakan dalam suatu misi yaitu:
1) Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas, Beriman dan Bertaqwa; adalah upaya untuk mewujudkan masyarakat Cijambe yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berpendidikan, produktif, mandiri, maju dan berdaya saing.
2) Meningkatkan Pembangunan Ekonomi Kerakyatan; adalah upaya untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran melalui pembangunan ekonomi kerakyatan berupa pengembangan agribinis, pariwisata dan industri yang berdaya saing dengan didukung oleh penyediaan infrastruktur yang memadai, tenaga kerja yang berkualitas dan regulasi yang mendukung penciptaan iklim investasi yang kondusif.
3) Mewujudkan Prasarana Wilayah yang Berkualitas; adalah upaya untuk meningkatkan infrastruktur wilayah yang berkualitas dalam rangka mendukung iklim investasi yang kondusif, menunjang perwujudan Cijambe sebagai daerah agribisnis, pariwisata dan industri serta penanganan bencana alam.
4) Mewujudkan Lingkungan Hidup yang Asri dan Lestari; adalah upaya untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan, menjaga fungsi dan daya dukung lingkungan serta keseimbangan pemanfaatan ruang yang serasi dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah.
5) Mewujudkan Tata Kelola Kepemerintahan yang Baik; adalah membangun kepemerintahan yang responsif, akuntabel, profesional, demokratis, kemitraan
yang serasi, penciptaan stabilitas politik, konsisten dalam penegakan hukum, tidak melakukan KKN dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.
d. Tujuan dan Sasaran Strategis
Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh Kecamatan Cijambe Daerah Kabupaten Subang adalah:
1) Meningkatkan kualitas sumber daya Aparatur 2) Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
3) Mewujudkan masyarakat yang sehat, berpendidikan, beragama dan produktif 4) Mewujudkan budaya gotong royong dalam berbagai aspek kehidupan
masyarakat.
Sasaran Strategis
Dari Tujuan yang telah ditetapkan tersebut sebagai hasil nyata yang diharapkan dapat dicapai dalam jangka pendek atau 1 (satu) tahun, maka ditetapkan Sasaran yang akan dicapai Kecamatan Cijambe adalah:
1) Meningkatnya kualitas penyelenggaraan organisasi SKPD kecamatan
2) Terwujudnya pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan dan kesejahteraan social melaui rencana kegiatan seksi seksi.
3) Meningkatnya ketentraman dan ketertiban di wilayah kecamatan.
e. Tugas Pokok dan Fungsi
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor : 7 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Subang, Kecamatan Cijambe mempunyai Tugas Pokok Kecamatan mempunyai tugas
pokok mengkoordinir penyelenggaraan pemerintahan, ketenteraman dan ketertiban, pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat desa dan atau Kelurahan, pembangunan dan pembinaan kehidupan kemasyarakatan di wilayah Kecamatan.
Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut Kecamatan Cijambe mempunyai fungsi:
1. Penyelenggaraan urusan pemerintahan umum;
2. Pengkoordinasian kegiatan pemberdayaan masyarakat;
3. Pengkoordinasian upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum;
4. Pengkoordinasian kegiatan pelayanan publik;
5. kehidupan kemasyarakatan di wilayah Kecamatan;
6. Pengkoordinasian penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan 7. Pengkoordinasian pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum 8. Pengkoordinasian penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat
kecamatan;
9. Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan;
10. Pelaksanaan urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Kabupaten yang tidak dilaksanakan oleh unit kerja pemerintahan daerah Kabupaten yang ada di Kecamatan;
11. Pelaksanaan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan;
12. Penyelenggaraan teknis administratif ketatausahaan;
13. Pelaksanaan tugas lain yang diperintahkan oleh peraturan perundang- undangan
Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, Kecamatan Cijambe menggunakan struktur organisasi sebagai berikut:
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang
Keterangan:
a) Secretariat dipimpin oleh sekretaris yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Camat.
b) Setiap seksi dipimpin oleh kepala yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Camat melalui sekretaris. Setiap subbagian dipimpin oleh kepala yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada sekretaris.
SEKRETARIS KECAMATAN
SUB BAGIAN UMUM, KEPEG.
DAN BARANG DAERAH SUB BAGIAN
PERENC. DAN KEUANGAN
SEKSI.
Pemerintahan
SEKSI PMD
SEKSI YANUM SEKSI
TRANTIB SEKSI
KESOS Kelompok
Jabatan Fungsional
C A M A T
Tugas Pokok dan Fungsi Unsur Organisasi:
a) Camat
(1) Camat mempunyai tugas pokok memimpin penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kehidupan kemasyarakatan di wilayah Kecamatan;
(2) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dalam Pasal ini, Camat menyelenggarakan fungsi :
a. Pelaksanaan pengelolaan dan pengumpulan data berbentuk data base serta analisa data untuk menyusun program kerja;
b. Perencanaan strategis dibidang perencanaan program kegiatan Kecamatan;
c. Pelaksaan pelimpahan sebagian kewenangan Bupati;
d. Pengkoordinasian kegiatan pemberdayaan masyarakat;
e. Pengkoordinasian upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum;
f. Pengkoordinasian kegiatan dibidang pemerintahan umum;
g. Pengkoordinasian kegiatan pelayan publik;
h. Pengkoordinasian kegiatan pembangunan dan pembinaan kehidupan kemasyarakatan;
i. Pengkoordinasian penerapan dan penegakan peraturan perundang- undangan;
j. Pengkoordinasian pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum;
k. Pengkoordinasian penyelenggaraan kegiatan Pemerintah Desa dan/atau Kelurahan;
l. Pelaksanaan pelayanan masyarakat yang belum dapat dilaksanakan Pemerintah Desa dan/atau Kelurahan;
m. Pelaksanaan kerjasama dan koordinasi dengan masyarakat lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya;
n. Pengkoordinasian, integrasi dan sinkronisasi kegiatan-kegiatan lain di lingkungan Kecamatan;
o. Penyampaian telaahan staf sebagai bahan kebijakan Bupati;
p. Pelaporan hasil kegiatan kecamatan;
q. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan.
b) Sekretariat
(1) Sekretariat mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pelayanan administratif, koordinasi dan pengendalian internal lingkup ketatausahaan yang meliputi Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan, pengelolaan administrasi Umum dan Kepegawaian serta Keuangan dan Barang Daerah;
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Pasal ini, Sekretariat mempunyai fungsi :
a. Penyusunan rencana kegiatan kesekretariatan;
b. Pelaksanaan pembinaan perencanaan, evaluasi dan pelaporan, administrasi umum dan kepegawaian serta keuangan dan barang daerah;
c. Penyelenggaraan administrasi perencanaan, evaluasi dan pelaporan;
d. Penyelenggaraan administrasi Umum dan Kepegawaian;
e. Penyelenggaraan administrasi Keuangan dan barang daerah;
f. Penyelenggaraan pembinaan kelembagaan dan ketatalaksanaan;
g. Penyiapan bahan rancangan dan pendokumentasian perundang-undangan, pengelolaan perpustakaan dan hubungan masyarakat;
h. Penyusunan anggaran pendapatan dan belanja rutin;
i. Pengelolaan naskah dinas;
j. Pelaksanaan koordinasi dengan unit kerja terkait;
k. Penyampaian telaahan staf sebagai bahan kebijakan Camat;
l. Penyusunan laporan hasil kegiatan kesekretariatan;
m. Pelaksanaan tugas lain yang diberiakan oleh atasan.
(3) Sekretariat, membawahi :
1. Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan;
2. Sub Bagian Umum, Kepegawaian dan Barang Daerah.
(1) Sub Bagian Umum, Kepegawaian dan Barang Daerah mempunyai tugas pokok membantu Sekretaris dalam melaksanakan penyiapan administrasi surat menyurat, kearsipan, perlengkapan, rumah tangga, kepustakaan, kehumasan, administrasi kepegawaian dan pengelolaan barang daerah;
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Pasal ini, Sub Bagian Umum dan Kepegawaian mempunyai fungsi :
a. Penyusunan rencana kerja Sub Bagian umum, kepegawaian dan barang daerah;
b. Pelaksanaan urusan ketatausahaan;
c. Penerimaan, pendistribusian dan pengiriman surat-surat/naskah-naskah dinas;
d. Penyelenggaraan kegiatan pengetikan dan penggandaan surat- surat/naskah-naskah dinas;
e. Penyimpanan, pengaturan dan pemeliharaan kearsipan;
f. Pelaksanaan urusan rumah tangga dan perjalanan dinas;
g. Penyusunan perencanaan keperluan alat-alat tulis kantor dan penyusunan petunjuk pelaksanaannya;
h. Penyiapan kelengkapan untuk keperluan rapat-rapat dinas;
i. Pengurusan administrasi peralatan, perlengkapan dan perbekalan serta pengurusan administrasi inventarisasi dan pendistribusian barang daerah;
j. Pelaksanaan publikasi dan dokumentasi pelaksanaan tugas dinas;
k. Pelaksanaan urusan keprotokolan dan penyiapan rapat-rapat dinas;
l. Pengelolaan Sistem Informasi Manajemen Perlengkapan;
m. Pengelolaan Perpustakaan dan hubungan masyarakat;
n. Pengelolaan administrasi kepegawaian dan pengolahan data kepegawaian;
o. Pelaksanaan penyusunan Daftar Urutan Kepangkatan (DUK) di lingkungan kecamatan;
p. Pelaksanaan penyusunan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) di lingkungan kecamatan;
q. Pelaksanaan penyusunan rencana formasi, usulan pengangkatan, mutasi, dan usulan pemberhentian pegawai;
r. Pengelolaan kesejahteraan pegawai;
s. Pengelolan pelaksanaan pendidikan dan latihan pegawai;
t. Pengembangan kemampuan dan karier pegawai;
u. Penyusunan konsep metode, hukum dan tata laksana kegiatan di lingkungan dinas;
v. Pengelolaan dan pengembangan Sistem Informasi Kepegawaian (SIMPEG);
w. Penyiapan bahan pembinaan kelembagaan dan ketatalaksanaan kecamatan;
x. Pengkoordinasian pengelolaan administrasi kepegawaian dengan unit kerja terkait;
y. Penyampaian telaahan staf sebagai bahan kebijakan sekretaris kecamatan;
z. Penyusunan laporan hasil kerja Sub Bagian Uumum, Kepegawaian dan Barang Daerah;
aa. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan atasan.
(1) Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan mempunyai tugas pokok membantu sekretaris dalam menyusun dan menyiapkan bahan perencanaan
kegiatan Kecamatan serta melaksanakan pengelolaan administrasi keuangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Pasal ini, Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan mempunyai fungsi :
a. Penyusunan rencana kerja pada Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan;
b. Pengumpulan, pengolahan dan penganalisaan data potensi kecamatan;
c. Penyusunan Rencana Strategis dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Kecamatan;
d. Penyelenggaraan pembinaan dan koordinasi penyusunan rencana dan program pembangunan di wilayah kecaamatan;
e. Pengelolaan data statistik dan informasi di wilayah kecamatan;
f. Pengelolaan system informasi manajemen data di wilayah kecamatan;
g. Pelaksanaan, pengendalian, monitoring dan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program kerja kecamatan;
h. Pelaksanaan pengumpulan bahan dan penyiapan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Kecamatan;
i. Pengkoordinasian pengelolaan administrasi keuangan dan pelaksanaan pengentrian Rencana Kegiatan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA);
j. Pengelolaan administrasi dan pembukuan keuangan anggaran kecamatan;
k. Pelaksanaan pembinaan administrasi dan pengelolaan keuangan;
l. Pengelolaan gaji dan tunjangan daerah;
m. Pengelolaan bukti-bukti kas dan surat-surat berharga lainnya;
n. Pelaksanaan pembinaan dan bimbingan perbendaharaan;
o. Pengadaan dan pengadministrasian sarana prasarana dinas;
p. Penyampaian telaahan staf sebagai bahan kebijakan Sekretaris Kecamatan;
q. Penyusunan laporan hasil kerja Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan;
r. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan.
c) Seksi Pemerintahan
(1) Seksi Pemerintahan mempunyai tugas pokok melaksanakan kegiatan dibidang pemerintahan umum serta menyiapkan dan menyusun petunjuk teknis penyelenggaraan pemerintahan;
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Pasal ini, Seksi Pemerintahan mempunyai fungsi :
a. Penyusunan rencana kegiatan Seksi Pemerintahan;
b. Penyiapan dan Penyusunan petunjuk teknis penyelenggaraan pemerintahan;
c. Pengumpulan, pengolahan dan pengevaluasian data dibidang pemerintahan;
d. Penyelenggaraan kegiatan dibidang pemerintahan umum;
e. Pengumpulan bahan dalam rangka pembinaan wilayah di masyarakat;
f. Penyelenggaraan tugas-tugas dibidang pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan;
g. Penyelenggaraan dan pengawasan Pemilihan Umum;
h. Penyampaian telaahan staf sebagai bahan kebijakan Camat;
i. Penyusunan laporan hasil kegiatan Seksi Pemerintahan;
j. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan atasan.
d) Seksi Ketentraman dan Ketertiban
(1) Seksi Ketentraman dan Ketertiban mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan dibidang ketentraman dan ketertiban serta menyiapkan dan menyusun petunjuk teknis pembinaan ketentraman dan ketertiban;
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Pasal ini, Seksi Ketentraman dan Ketertiban mempunyai fungsi :
a. Penyusunan rencana kegiatan Seksi Ketentraman dan Ketertiban;
b. Penyiapan dan Penyusunan petunjuk teknis pembinaan ketentraman dan ketertiban;
c. Pengumpulan, pengolahan dan pengevaluasian data dibidang ketentraman dan ketertiban;
d. Pelaksanaan pembinaan ketentraman dan ketertiban;
e. Pelaksanaan pembinaan penyelenggaraan administrasi perlindungan masyarakat;
f. Pembantuan kegiatan pengawasan terhadap penyaluran bantuan kepada masyarakat serta pelaksanaan kegiatan pengamanan akibat bencana alam dan bencana lainnya;
g. Penyampaian telaahan staf sebagai bahan kebijakan Camat;
h. Penyusunan laporan hasil kegiatan Seksi Ketentraman dan Ketertiban;
i. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan atasan.
e) Seksi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
(1) Seksi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa mempunyai tugas pokok melaksanakan kegiatan dibidang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat serta menyiapkan dan menyusun petunjuk teknis penyelenggaraan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat;
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Pasal ini, Seksi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa mempunyai fungsi :
a. Penyusunan rencana kegiatan Seksi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa;
b. Penyiapan dan Penyusunan petunjuk teknis penyelenggaraan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa;
c. Pengumpulan, pengolahan dan pengevaluasian data dibidang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa;
d. Pelaksanaan kegiatan pembinaan terhadap perkoperasian, pengusaha ekonomi lemah dan kegiatan perekonomian lainnya dalam rangka meningkatkan perekonomian, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa;
e. Pelaksanaan kegiatan dalam rangka meningkatkan swadaya dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan perekonomian, pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa;
f. Pelaksanaan pembinaan koordinasi pelaksanaan pembangunan serta menjaga dan memelihara prasarana dan sarana fisik di lingkungan Kecamatan;
g. Pengelolaan, pembinaan dan penyiapan bahan dalam rangka pelaksanaan musyawarah penyusunan program pembangunan;
h. Penyampaian telaahan staf sebagai bahan kebijakan Camat;
i. Penyusunan laporan hasil kegiatan Seksi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa;
j. Pelaksanan tugas lain yang diberikan atasan.
f) Seksi Kesejahteraan Sosial
(1) Seksi Kesejahteraan Sosial mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan dibidang kesejahteraan sosial serta menyiapkan dan menyusun petunjuk teknis pembinaan kesejahteraan sosial;
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Pasal ini, Seksi Kesejahteraan Sosial mempunyai fungsi :
a. Penyusunan rencana kegiatan pada Seksi Kesejahteraan Sosial;
b. Penyiapan dan Penyusunan petunjuk teknis pembinaan kesejahteraan sosial;
c. Pengumpulan, pengolahan dan pengevaluasian data dibidang kesejahteraan sosial;
d. Pelaksanaan pembinaan dalam bidang keagamaan, kesehatan, keluarga berencana dan pendidikan masyarakat ;
e. Pengumpulan dan penyaluran dana/bantuan terhadap korban bencana alam dan bencana lainnya;
f. Pelaksanaan pembinaan kegiatan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Karang Taruna, Pramuka dan Organisasi Kemasyarakatan lainnya;
g. Pelaksanaan pembinaan kegiatan pengumpulan Zakat, Infaq dan Shodakoh;
h. Pembantuan pelaksanaan pemungutan dana Palang Merah Indonesia (PMI);
i. Penyampaian telaahan staf sebagai bahan kebijakan Camat;
j. Penyusunan laporan hasil kegiatan Seksi Kesejahteraan Sosial;
k. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan atasan.
g) Seksi Pelayanan Umum
(1) Seksi Pelayanan Umum mempunyai tugas pokok melaksanakan pelayanan kepada masyarakat serta menyiapkan dan menyusun petunjuk teknis pemberian pelayanan kepada masyarakat;
(2) Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Pasal ini, Seksi Pelayanan Umum, mempunyai fungsi :
a. Penyusunan rencana kegiatan Seksi Pelayanan Umum kepada masyarakat;
b. Penyiapan dan Penyusunan petunjuk teknis pemberian pelayanan kepada masyarakat;
c. Pengumpulan, pengolahan dan pengevaluasian data dibidang pelayanan umum;
d. Pelaksanaan pemberian pelayanan umum kepada masyarakat;
e. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan pemberian pelayanan umum kepada masyarakat;
f. Penyampaian telaahan staf sebagai bahan kebijakan Camat;
g. Penyusunan laporan hasil kegiatan Seksi Pelayanan Umum;
h. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan atasan.
4.1.2. Pelaksana BPNT
Tenaga pelaksana BPNT adalah tenaga pelaksana sosial yang bertugas mendampingi keseluruhan proses pelaksanaan program BPNT (mencakup:
sosialisasi, registrasi, penggantian data, dan pengaduan). Tegana pelaksana BPNT setidaknya terdiri dari koordinator wilayah, koordinator daerah kabupaten/kota, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), atau pendamping sosial lainnya.
Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan yang selanjutnya disingkat dengan TKSK adalah seseorang yang diberi tugas, fungsi dan kewenangan oleh
kementerian sosial, dinas sosial daerah provinsi, dan/atau dinas sosial kabupaten/kota untuk membantu penyelenggaraan kesejahteraan sosial sesuai lingkup wilayah penguasaan di kecamatan. TKSK berkedudukan di kecamatan dan setiap kecamatan hanya terdapat 1 orang TKSK.
TKSK memiliki tugas membantu Kementerian Sosial, Dinas Sosial daerah provinsi, dan Dinas Sosial daerah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial di tingkat kecamatan. Tugas TKSK dilaksanakan dengan atau tanpa imbalan. TKSK dikoordinasikan oleh kementerian sosial, Dinas Sosial daerah provinsi, dan Dinas Sosial daerah kabupaten/kota. Kemudian TKSK dapat bekerjasama dan menyinergikan program penyelenggaraan kesejahteraan sosial dengan program pembangunan lainnya.
Tidak hanya itu, TKSK juga memiliki fungsi yaitu (1) koordinasi, ini merupakan sinkronisasi dan harmonisasi dengan dinas sosial daerah kabupaten/kota, perangkat kecamatan, tokoh masyarakat lain dan atau PSKS dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial, koordinasi ini dilaksanakan dalam bentuk saling memberikan informasi, menyamakan persepsi, dan membangun kesepakatan dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial; (2) fasilitasi, merupakan upaya untuk membantu masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial di kecamatan, fasilitasi ini dilaksanakan dalam bentuk pendampingan sosial, bimbingan sosial, kemitraan dan atau rujukan; (3) administrasi, ini merupakan rangkaian kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan, administrasi ini dilaksanakan dalam bentuk pemetaan sosial, pencatatan, dan pelaporan.
4.1.3. Data Penerima BPNT
Tabel 4.3
KPM BPNT Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang
NO DESA JUMLAH KPM
1 Tanjungwangi 436
2 Gunungtua 773
3 Cijambe 588
4 Cirangkong 135
5 Cimenteng 503
6 Cikadu 591
7 Sukahurip 347
8 Bantarsari 423
JUMLAH 3.796
Sumber: Hasil data dari setiap desa di Kecamatan Cijambe, 2022.
Jumlah penduduk di Kecamatan Cijambe sebesar 41.874 jiwa. Mereka bertempat tinggal di 8 wilayah desa di Kecamatan Cijambe tersebut, dengan persebaran yaitu Desa Tanjungwangi, Desa Gunungtua, Desa Cijambe, Desa Cirangkong, Desa Cimenteng, Desa Cikadu, Desa Sukahurip, dan Desa Bantarsari. Berdasarkan data pada tahun 2022 yang peneliti dapatkan dari pihak Kecamatan Cijambe, penerima BPNT di Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang memiliki jumlah keseluruhan sebanyak 3.796 keluarga dari 13.922 keluarga.
Jumlah tersebut tersebar di kedelapan Desa yang ada di Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang.
4.2.Deskripsi Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pada BAB ini disajikan hasil penelitian dan pembahasan berdasarkan dari temuan peneliti di lapangan saat penelitian berlangsung. Pembahasan mengenai hasil penelitian berkaitan dengan Perilaku Organisasi Dalam Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang.
Perilaku organisasi merupakan telaah dan penerapan pengetahuan tentang bagaimana orang – orang bertindak dalam organisasi. Hakekat yang mendasar dari perilaku organisasi itu terletak pada ilmu perilaku itu sendiri, yang dikembangkan dengan pusat perhatian pada tingkah laku manusia pada organisasi. Dalam hal ini pimpinan mewakili sistem administrasi atau sistem manajemen dan peranan mereka adalah mendayagunakan perilaku organisasi dalam proses pencapaian tujuan organisasi. Perilaku organisasi pada dasarnya merupakan bagaimana suatu perilaku yang di timbulkan individu dalam suatu organisasi, budaya organisasi maupun pencapaian tujuan organisasi.
Bantuan Pangan Non Tunai yang selanjutnya disebut BPNT adalah bantuan sosial pangan yang disalurkan dalam bentuk non tunai (uang elektronik) dari pemerintah kepada KPM setiap bulannya dan yang digunakan KPM hanya untuk membeli bahan pangan di e-warong. Untuk daerah dengan akses terbatas, mekanisme pelaksanaan BPNT diatur lebih lanjut sesuai dengan kebijakan pemerintah.
Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) merupakan salah satu program yang bertujuan untuk mengurangi beban masyarakat miskin dalam bentuk pangan. Program BPNT ada di Kecamatan Cijambe dikarenakan Kabupaten Subang merupakan salah satu sasaran penanggulangan kemiskinan, maka pemerintah Kabupaten Subang meresmikan program BPNT pada tahun 2018. Hal tersebut berdasarkan wawancara dengan Tim Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Pak Obos Beni. “Program BPNT ini dilaksanakan di Kabupaten Subang pada tahun 2018”. Hal senada juga disampaikan oleh pemilik
e-warong di Kecamatan Cijambe yang menyatakan bahwa program BPNT ini dilaksanakan pada tahun 2018. Proses pelaksanaan program BPNT ini mengikuti pedoman yang ditetapkan.
Berkaitan dengan penelitian Perilaku Organisasi Dalam Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang menggunakan teori yang dikemukakan oleh Robbins dan Judge (2016) untuk mengetahui Perilaku Organisasi, ada indikator Perilaku Organisai yang terletak pada delapan indikator Perilaku Organisai yaitu: Motivasi, Perilaku dan kekuasaan pemimpin, Komunikasi interpersonal, Struktur dan proses kelompok, Pengembangan dan persepsi sikap, Proses perubahan, Konflik dan negosiasi, Rancangan kerja. Maka secara sederhana hasil dan pembahasan dalam penelitian ini disajikan sebagai berikut:
4.2.1. Motivasi
Salah satu aspek yang mempengaruhi Perilaku Organisasi ialah motivasi para pegawai. Menurut Robbins dalam Setiawan (2015, hlm. 48) “motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individu”. Selain itu motivasi merupakan suatu dorongan dari dalam maupun luar diri seseorang untuk menunjukan perilaku tertentu dan bertindak terhadap kebutuhan yang belum terpenuhi.
Motivasi adalah hasrat atau dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Sementara itu, dalam psikologi pengertian motivasi adalah usaha yang
dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Motivasi sangat mempengaruhi perilaku organisasi, jika motivasi para pegawai tidak ada maka akan menimbulkan perilaku yang kurang baik, menurut bapak Camat Kecamatan Cijambe sebagai pemimpin harus memberikan contoh yang baik dan memberikan motivasi kepada pegawainya, sebagai berikut penjelasannya:
“Saya sebagai pemimpin tentu saja harus memotivasi para pegawai yang yang bertugas dalam penyaluran BPNT ini, agar program BPNT ini berjalan degan lancar serta mencapai tujuan, oleh karena itu saya suka memberi arahan atau masukan kepada tim petugas kecamatan maupun tingkat desa mengenai masyarakat kita itu harus makmur seperti itu. dan dengan itu mereka juga harus terpenuhi hak agar para pegawai menjadi termotivasi dan bertanggung jawab akan tugasnya.” (Hasil wawancara dengan AN pada tanggal 23 Mei 2022)
Diungkapkan juga oleh Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Cijambe, Menurutnya ia termotivasi akan dirinya sendiri karena dalam program BPNT ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Berikut adalah kutipan wawancaranya:
“saya dalam hal motivasi tentunya saya semangat sendiri karena dengan sangkut pautnya tentang masyarakat apa lagi untuk kesejahteraan masyarakat saya sangat semangat karena dengan program BPNT ini alhamdulillah masyarakat terbantu setiap bulannya dan meringankan beban mereka, saya juga pernah waktu pembagian suka ikut langsung ke lapangan, agar memastikan pembagian BPNT ini berjalan dengan lancar.”
(Hasil wawancara dengan RJ pada tanggal 02 Juni 2022)
Diungkapkan oleh pemilik e-warong di salah satu desa Kecamatan Cijambe yaitu kutipan wawancaranya sebagai berikut:
“saya sebagai pemilik e-warong sangat bersemangat ikut serta dalam program BPNT ini, dikarenakan usaha saya alhamdulillah sangat terbantu.
Saya menyiapkan bahan-bahan pokok yang diperlukan kemudian di jual kepada penerima KPM dan alhamdulillah saya mempunyai keuntungan dalam program ini.” (Hasil wawancara dengan NN pada tanggal 06 Juni 2022)
Disampaikan juga oleh salah satu staf desa di Kecamatan Cijambe, berikut adalah penjelasannya:
“setiap ada pemberitahuan bahwa misalkan ada jadwal pembagian program BPNT, saya sebagai operator desa selalu langsung menginformasikan kepada masyarakat yang terkait. Dalam hal ini juga saya termotivasi arahan atau masukan dari pimpinan yang ada di atas gitu neng.” (Hasil wawancara dengan AD pada tanggal 10 Juni 2022)
Penjelasan dari bapak TKSK Kecamatan Cijambe mengatakan bahwa dalam hal ini motivasi para petugas dalam melaksanakan penyaluran program BPNT cukup semangat karena ada dorongan dari dalam diri dan dari luar. Kutipan wawancaranya sebagai berikut:
“motivasi para pegawai baik ada dorongan dari luar yaitu dengan masukan serta terpenuhinya hak pegawai dan dari dalam diri sendiri yaitu hasrat dalam diri untuk membantu masyarakat kita agar lebih makmur, karena semangat dalam terlaksananya penyaluran program BPNT dan karena mungkin pegawai tahu bahwa program ini sangat di tunggu- tunggu oleh masyarakat KPM setiap bulannya.” (Hasil wawancara dengan OB pada tanggal 02 Juni 2022)
Berdasarkan hasil wawancara di atas, mengenai motivasi dalam perilaku organisasi dalam penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang dapat disimpulkan bahwa cukup optimal, karena dapat dilihat dari para pegawai/petugas dalam penyaluran BPNT ini sangat semangat serta memiliki motivasi yang tinggi dikarenakan untuk kepentingan masyarkat agar lebih makmur dan sejahtera. Karena sebagai petugas atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
4.2.2. Perilaku dan Kekuasaan Pemimpin
Menurut Walgito dalam nisrima, dkk (2016, hlm. 195) “perilaku manusia tidak lepas dari keadaan individu itu sendiri dan lingkungan dimana individu itu berada”. Jadi perilaku merupakan tingkah laku seseorang yang berinteraksi dalam suatu organisasi. Sedangkan menurut Yudiatmaja (2013, hlm. 31) “kepemimpinan adalah setiap usaha untuk memengaruhi, sementara itu kekuasaan dapat diartikan sebagai suatu potensi pengaruh dari seorang pemimpin”. Perilaku mempengaruhi seorang pemimpin dan secara langsung mempengaruhi sikap dan perilaku orang yang dipimpin baik berupa komitmen, kepatuhan maupun perlawanan.
Perilaku yang kurang baik akan menimbulkan hambatan-hambatan yang nyata terhadap penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) bila personel yang ada tidak melaksanakan kebijakan yang diinginkan. Karena itu, pelaksana kebijakan haruslah orang-orang yang memiliki dedikasi pada kebijakan yang telah ditetapkan. Maksimal atau tidaknya sebuah kebijakan itu juga ditentukan oleh sikap pelaksana dan kekuasaan pemimpin serta pemerintah setempat, adanya sebuah dukungan yang diberikan oleh pemerintah ataupun tingkat kemauan yang tinggi yang dimiliki oleh pihak pelaksana itu akan membantu memaksimalkan proses berjalannya dalam penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang.
Proses penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sangat dibutuhkan pelayanan yang baik dan sikap yang ramah dari pihak pelaksana kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dalam hal ini adalah masyarakat miskin yang menjadi peserta dalam program BPNT. Untuk sebuah program bantuan sosial, masyarakat
tentunya akan mengadukan keluhan ataupun kendalanya kepada kepada pihak pelakasana dan pemerintah setempat agar dicarikan solusi kepada mereka.
Kecamatan Cijambe merupakan kecamatan di Kabupaten Subang yang merupakan salah satu pelaksan Program BPNT dengan jumlah KPM sebanyak 3.796 orang. Dengan jumlah KPM yang banyak tentunya dibutuhkan tingkat kemauan yang tinggi pula dari pihak pelaksana dalam melayani masyarakat tentang bagaimana sikap pemerintah dan pelaksana dalam proses penyaluran BPNT di Kecamatan Cijambe. Pemerintah setempat dan pihak pelaksana dalam program ini harus memberikan dukungan dan memberikan pelayanan baik.
Berikut koordinasi yang dilakukan dengan pemerintah setempat dan para pelaksana yang turut memantau proses penyaluran BPNT tersebut. Hal tersebut terungkap dari informan Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Cijambe, berikut kutipan wawancaranya:
“Dulukan bukan berupa bantuan pangan, dulukan masih Rastra jadi transaksi pembayarannya itu disini dulu, tapi sekarang sudah berubah Pangan masing-masing ada warung tiap kelurahan dan desa. jadi kita cuma kadang turun mengontrol apakah sudah tersalurkan. Jadi setiap yang dibutuhkan itu dalam hal penyaluran atau apakah itu misalnya selalu dipersiapkan ada. Kalau dia mau adakan pertemuan, ada aula dibelakang.
Ada e-Warong disitu ada badan koordinator, ada lurah/kepala desanya, semua yang mereka butuhkan kita ladeni, sarana dan prasarananya itu kita siapkan, apakah itu sosialisasi atau yang lainnya.” (Hasil wawancara dengan RJ pada tanggal 02 Juni 2022).
Diungkapkan juga oleh TKSK Kecamatan Cijambe, Menurutnya Pemerintah kecamatan dan Tim Kordinasi Bansos tingkat kecamatan berfungsi sebagai tim koordinasi di tingkat kecamatan dan sebagai Social Control dalam
penyaluran bantuan sosial dan semua aktivitas yang dapat menunjang berjalannya penyaluran bantuan sosial. Berikut kutipan wawancaranya:
“Iya jadi di Kecamatan itu berfungsi sebagai Tim Koordniasi, selain sebagai Tim Koordinasi di kecamatan dia juga berfungsi sebagai Social Control yah Social Control dalam penyaluran bantuan, artinya setiap kecamatan itu kalau kita pertama itukan sudah membantu kita dalam hal verifikasi, dalam hal penyaluran KKS, dalam hal menginstruksikan kepada menyesuaikan kepada TIKOR tingkat desa bahwa hari ini ada penyaluran hari ini jurusan ini dan sebagainya. Inilah bahagian dari kerja-kerja kecamatan dalam membantu mengatur, begitupunn kelurahan dan desa sebenarnya hampir sama yang dikerjakan di desa juga, mereka mengkonfirmasi kepada semua aparatnya, kepala lingkungannya, tetapi yang paling bagus adalah pelaksanaan di tingkat dusun/lingkungan karena kalau di tingkat dusun/lingkungan agak kecil sedikit dan bisa langsung didapat responnya”. (Hasil wawancara dengan OB pada tanggal 02 Juni 2022).
Mengenai perilaku, pandangan di atas sama halnya dengan yang diungkapkan oleh salah satu staf desa, Menurutnya dukungan dari pemerintah desa itu sudah diberikan kepada masyarakat karena pemerintah desa lebih tau kondisi masyarakatnya dibanding dengan para Agen. Berikut kutipan wawanacaranya:
“Agen yang menangani ini tapi pemerintah membantu seperti saya, sayakan pemerintah desa saya mendampingi supaya kalau ada masalah bisa dikasi solusi, yang menerima itu adalah masyarakat kita. Agenkan tidak kenal dengan masyarakat mereka bukan orang-orang dari pemerintah jadi tidak kenal bahwa ini benar masyarakat dari desa ini.” (Hasil wawancara dengan AD pada tanggal 10 Juni 2022).
Pandangan mengenai perilaku dan kekuasan pemimpin dari pelaksana tidak hanya di ungkapkan oleh Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, dan TKSK Kecamatan Cijambe tapi juga diungkapkan oleh salah satu Agen.
Menurutnya dukungan untuk pemerintah setempat itu sudah ada setiap proses
penyaluran dan bentuk dukungannya itu seperti ikut meninjau dilapangan pada saat proses penyaluran BPNT. Berikut kutipan wawancaranya:
“Untuk aparat desa disetiap ada pembagian pasti aparat desa juga turun meninjau disetiap penyaluran. Disini juga ada sebagai pihak keamanan yaitu Babinsa dan Bhabinkamtibmas, semua aman-aman saja disini, semua ikut antri.” (Hasil wawancara dengan NN pada tanggal 06 Juni 2022).
Berdasarkan pandangan dari pihak pelaksana dan Pemerintah setempat di atas itu menunjukkan bahwa dukungan ataupun sikap dari pelaksana dan pemerintah sudah direalisasikan dengan baik pada saat penyaluran BPNT, dalam bentuk pemantauan, memberikan sarana sosialisasi maupun memberikan keamanan kepada KPM. Dan pandangan tersebut di atas juga diakui oleh masyarakat yang menjadi KPM, Menurutnya pemerintah juga ikut turun memantau pada saat penyaluran BPNT. Berikut kutipan wawancaranya:
“Pak desa sebagai pemerintah setempat selalu datang untuk memastikan masayarakatnya mendapat bantuan yang terdaftar sebagai penerima bantuan, tetapi ada juga neng petugas lain yang kurang ramah gitu kepada masyarakat nya, iya mungkin dalam pembagiannya masyarakat susah di atur sebagiannya jadi membuat petugas kesal yah neng”. (Hasil wawancara dengan YN pada tanggal 07 Juni 2022).
Mencermati gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku atapun sikap dan kekuasaan pemimpin dari pihak pelaksana dan pemerintah setempat sudah direalisasikan dengan baik kepada masyarakat. Dukungan dari Pelaksana atapun Pemerintah itu sudah dirasakan oleh KPM yang ada di Kecamatan Cijambe. Dalam proses penyaluran BPNT semua pihak ikut serta dalam memantau berjalannya proses penyaluran tersebut, tidak hanya dari Tim Koordniasi Bansos dan Pemerintah setempat saja tetapi juga dari TNI-AD dalam hal ini adalah Babinsa dan juga dari pihak Kepolisian yakni Bhabinkamtibmas.
semua pihak tersebut itu menunjukkan bahwa mereka membantu masyarakat miskin untuk meningkatkan kualitas kehidupannya.
Perilaku dan kekuasaan pemimpin para pelaksana yang terlibat dalam program ini khususnya di Kecamatan Cijambe sudah menjalankan tugas, pokok dan fungsinya masing-masing. Hanya saja terdapat beberapa pelaksana yang kurang ramah dalam melayani masyarakat. Sehingga masyarakat merasa tidak nyaman atas sikap pelaksana tersebut. Semua pelaksana yang terlibat sebenarnya sudah menjalankan tupoksinya masing-masing hanya saja ada pihak pelaksana enggan melakukan tugas yang diembannya.
4.2.3. Komunikasi Interpersonal
Komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam perilaku organisasi suatu kebijakan, oleh karena itu kebijakan yang akan disampaikan harus dipahami dengan baik oleh pelaksananya. Dengan demikian kebijakan tersebut dapat dikomunikasikan dan disebarkan dengan jelas, akurat dan konsisten serta tidak menimbulkan kontradiksi.
Menurut Mulyana dalam Patriana (2014, hlm. 206) “Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang yang bertatap muka, memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non verbal”. Komunikasi interpersonal merupakan model komunikasi yang paling efektif maka model ini dianggap pula paling efektif dalam proses penggalian informasi. Karena manusia dalam kehidupannya harus berkomunikasi dan manusia membutuhkan orang lain atau kelompok untuk berkomunikasi.
Berdasarkan Pedoman Umum BPNT bahwa sosialisasi dan komunikasi Program BPNT dirancang untuk terjadinya proses komunikasi, aliran informasi, dan pembelajaran pada berbagai pelaksana di pusat dan daerah, kalangan media, LSM, akademisi dan masyarakat, termasuk Peserta/KPM BPNT, terutama di daerah yang sedang menjalankan Program BPNT. Tersosialisasikannya BPNT kepada semua pihak, baik yang terkait langsung maupun tidak langsung, merupakan kunci kesuksesan BPNT. Untuk itu disusun strategi komunikasi dan sosialisasi BPNT yang komprehensif. Strategi komunikasi dan sosialisasi ini tidak hanya memfokuskan pada aspek perilaku organisasi dan keberhasilan pelaksanaan program BPNT, tetapi juga aspek pengembangan kebijakan, khususnya dalam membangun dukungan dan komitmen untuk melembagakan Pogram BPNT dalam bentuk Sistem Jaminan Sosial.
Berikut pandangan pemahaman mengenai Program BPNT yang diketahui oleh informan yang mewakili semua stakeholders pelaksanaan BPNT di Kecamatan Cijambe. Komunikasi mengenai Program BPNT yang disosialisasikan oleh Tim Kordinasi Bantuan Sosial di Kecamatan Cijambe sudah dilaksanakan, berikut kutipan wawancara dengan Camat Kecamatan Cijambe, yang mengatakan bahwa sosialisasi telah dilaksanakan tentang Program BPNT kepada masyarakat :
“Iya pada awalnya adanya miskomunikasi antar organisasi, tetapi dengan melakukan sosialisai lagi kami pihak pemerintah kecamatan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait proses penyaluran BPNT dengan pihak Tenaga TKSK Kecamatan Cijambe dengan dan dihadiri pihak pemerintah desa dan kelurahan yang ada di Kecamatan Cijambe” (Hasil wawancara dengan AN pada tanggal 23 Mei 2022).
Sama dengan pandangan pegawai lainnya yang merupakan Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Cijambe. Menurutnya, BPNT telah
disosialisasikan kepada masyarakat dan dihadiri pihak desa/kelurahan dan Tim Koordinator Bansos, berikut kutipan wawancaranya:
“Sosialisasi Program ini pernah dilakukan kepada masyarakat, dan dihadiri pihak desa, dan Tim Kordinasi Bantuan Sosial” (Hasil wawancara dengan RJ pada tanggal 02 Juni 2022).
Pandangan tersebut di atas dibenarkan oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Cijambe, sebelum penggantian Rastra menjadi BPNT dilakukan sosialisasi dan diikuti oleh pihak kecamatan dan pihak lainnya.
Berikut Wawancaranya:
“Jadi sebelum berakhir Rastra itu dan sebelum masuk BPNT, itu ada sosialisasi/komunikasi dulu, seperti apa model BPNT, apa itu BPNT, itu disosialisasikan dengan mengundang camat kemudian dari kepolisian, kemudian dari desa dan lurah, kemudian teman-teman penyuluh sosial kecamatan dan TKSK di Kecamatan Cijambe, dan kita juga mengadakan sosialisasi dengan masyarakat yang ada di Kecamatan Cijambe”. (Hasil wawancara dengan OB pada tanggal 02 Juni 2022).
Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa untuk penyampaian pencairan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) itu dilakukan pada saat tanggal sekian ketika saldo sudah masuk di rekening KPM, penyampaian ini mulai dari Bank Penyalur kepada Dinas Sosial, kemudian Dinas Sosial Menyampaikan kepada TKSK, selanjutnya kepada Agen. Berikut Wawancaranya yang dilakukan dengan TKSK sekaligus pendamping BPNT di Kecamatan Cijambe:
“Nanti pada saat tanggal sekian ketika saldonya sudah masuk di Kartu KKS nya, di Kartu ATM nya itu, maka diinformasikan kepada seluruh KPM untuk datang di Agen yang telah ditentukan. Dan penyampainnya itu pertama memang menyurat, pihak BRI menyurat ke TIKOR Kabupaten dalam hal ini adalah Dinas Sosial, Dinas Sosial menyampaikan kepada teman-teman TKSK kemudian ke Agen. Biasanya Agen juga lebih cepat karena Agen punya mesin EDC. Justru Agen juga sekarang biasa heran karena masyarakat lebih cepat tau bahwa sudah ada saldo yang masuk.
Mereka juga kalaupun hari ini rekeningnya sudah masuk saldonya itu hari
juga kalau dia mau gesek atau belanja di e-Warong ya itu bisa dia belanjakan” (Hasil wawancara dengan OB pada tanggal 02 Juni 2022).
Pandangan tersebut diatas juga dibenarkan oleh salah satu Agen di Kecamatan Cijambe yang merupakan Agen BRI di Desa Gunungtua. Menurutnya sosialisasi tentang Program BPNT kepada Agen dan masyarakat itu dilakukan oleh pendamping BPNT. Berikut kutipan wawancaranya:
“Penyampaian tentang BPNT ini dilakukan sama pendamping setiap desa kemudian kami sebagai agen mempersiapkan bahan pangan yang siap dibeli oleh KPM, Komunikasinya bagus, kan pertama koordinasi itu dari kecamatan, nanti kalau sudah masuk saldonya itu nanti kita cek saldonya itu. Kalau sudah masuk saldonya kita hubungi KPM baru kita laporkan jadwalkan bilang tanggal sekian” (Hasil wawancara dengan NN pada tanggal 06 Juni 2022).
Pengetahuan tentang Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) itu sudah dipahami oleh masyarakat. Mereka mengatakan bahwa sosialisasi telah dilaksanakan di tingkat pemerintahan kemudian setelah itu di komunikasikan juga kepada Agen dan KPM di setiap desa yang ada Kecamatan Parangloe.
Pengetahuan mengenai program BPNT ini juga diungkapkan oleh salah satu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mengatakan bahwa dirinya mengetahui Program BPNT ini dari pihak pelaksana yang mendampingi setiap kelompok KPM, berikut kutipan wawancaranya:
“kan ada semacam ketua atau pendamping di desa. Kita didata dari rumah ke rumah. Kita dikasi tau memang, kan ada pemberitahuan dari ketua masing-masing kelompok”. (Hasil wawancara dengan NS pada tanggal 07 Juni 2022).
Pandangan di atas sama halnya dengan yang diungkapkan oleh salah satu KPM BPNT. Menurutnya informasi yang didapatkannya mengenai program BPNT ini dari pendamping BPNT, katanya pendamping tersebut mendatangi
KPM untuk memberitahukan tentang Program BPNT. Berikut kutipan wawancara yang dilakukan:
“petugasnya langsung datang memberikan informasi kemudian kami juga sesama penerima BPNT saling memberi informasi ketika saldo sudah ada dan siap di belanjakan ke warung yang ditunjuk oleh pemerintah desa dan kelurahan”. (Hasil wawancara dengan YN pada tanggal 07Juni 2022).
Berdasakan uraian di atas mengenai Komunikasi Interpersonal Program BPNT yang dilakukan oleh Tim Kordinasi Bantuan Sosial Kecamatan Cijambe, sudah dilakukan kepada pihak yang terkait dalam hal ini adalah Pemerintah Kecamatan dan Desa, Agen dan KPM sebagai penerima bantuan Sosial. Untuk hal tersebut, Program BPNT sudah diketahui secara menyeluruh dengan komunikasi yang baik oleh semua masyarakat maupun stakeholders pemerintah Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang.
Komunikasi dalam pelaksanaan program Bantuna Pangan Non Tunai (BPNT) melalui e-Warong di Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang pada awalnya terjadinya miskomunikasi antar aktor dari tingkat Desa maupun Kecamatan, karena masih ada kekurang pahaman antar pegawai dengan petugas lainnya dalam program BPNT. Tetapi dengan dilakukan sosialisasi lagi, hasil sosialisasi antar petugas dan disampaikan kepada masyarakat Keluarga Penerima Manfaat di Kecamatan Cijambe agar masyarakat mengetahui secara rinci isi dari program Bantuan Pangan Non Tunai(BPNT) melaui e-Warong. Untuk penyampaian sosialisasi pada KPM yang dilakukan di desa dan disampaiakan oleh pihak Dinas Sosial dan dibantu oleh para pendamping BPNT. Pada saat sebelum bantuan disalurkan ke semua KPM, dikumpulkan di desa dan dijelaskan secara rinci mengenai bantuan BPNT baik tujuan dari progam ini maupun sasaran dari
program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang disalurkan melaui e-Warong.
Tidak hanya itu, pendamping juga melakukan sosialisasi secara rutin pada saat transaksi program bantuan agar masyarakat paham. Sehingga komunikasi antar organisasi dan interpersonal terjalin dengan baik.
4.2.4. Struktur dan Proses Kelompok
Struktur birokrasi dianggap karakteristik, norma dan pola hubungan dalam eksekutif yang memiliki aktual atau potensial dengan apa yang dilakukan dalam kebijakan, lebih jelasnya struktur berhubungan dengan kemampuan dan kriteria staf tingkat pengawas (kontrol) hirarkis terhadap keputusan-keputusan sub unit dalam proses pelaksanaan Program Bantuan Pangan Non Tunai di Kecamatan Cijambe.
Kelompok terbentuk karena adanya komunikasi. Terjadinya kelompok karena individu berkomunikasi dengan yang lain, sama – sama memiliki motif dan tujuan yang sama.
Menurut Robbins dalam Nurhayati dan Darwansyah (2013, hlm. 4)
“struktur organisasi diartikan sebagai kerangka kerja formal organisasi yang dengan kerangka kerja itu tugas-tugas pekerjaan dibagi-bagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan”. Struktur organisasi menjelaskan bagaimana tugas kerja akan dibagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan secara formal. Struktur organisasi harus selalu dievaluasi untuk memastikan konsistensinya dalam pelaksanaan operasi yang efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan organisasi.
Sedangkan menurut Mariyaningsih dan Hidayati (2018, hlm. 44) “proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan
mencapai tujuan dengan baik dan memuat hubungan kerja yang baik”. Proses kelompok suatu pelaksanaan tugas yang ada di dalam suatu organisasi sehingga tujuan dari organisasi tersebut tercapai.
Struktur dan Proses kelompok menjadi penting dalam Perilaku Organisasi.
Aspek struktur mencakup dua hal yang penting, pertama adalah mekanisme dan struktur organisasi pelaksana sendiri. Mekanisme program biasanya sudah ditetapkan melalui standar operating prosedur (SOP) yang dicantumkan dalam guideline program/kebijakan. SOP yang baik mencantumkan kerangka kerja yang jelas, sistematis, tidak berbelit dan mudah dipahami oleh siapapun karena akan menjadi acuan dalam bekerjanya implementor. Sedangkan struktur organisasi pelaksanapun sejauh mungkin menghindari hal yang berbelit, panjang dan komplek. Struktur organisasi pelaksana harus dapat menjamin adanya pengambilan keputusan atas kejadian luar biasa dalam program secara cepat.
Adapun pada proses kelompok penyaluran BPNT di Kecamatan Cijambe, semua pihak ikut serta dalam memantau berjalannya penyaluran tersebut baik dari pihak pemerintah setempat, tim koordinasi tingkat kecamatan maupun dari aparat keamanan. Semua pihak tersebut menjalankan tugasnya masing-masing berdasarkan aturan yang ada dan saling menjalin komunikasi terkait proses penyaluran BPNT di Kecamatan Cijambe. Seperti halnya yang dikatakan informan selaku Kasi Kesejahteraan Sosial. Ia mengungkapkan bahwa semua pihak baik dari pihak pelaksana, pemerintah setempat maupun pihak lainnya yang terkait telah melaksanakan wewenangnya berdasarkan aturan yang telah ada, dengan alasan Camat sebagai Pemerintah yang bertanggung jawab di Kecamatan
Cijambe terus memantau proses berjalannya Program yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Berikut kutipan wawancaranya:
“Saya kira untuk ini sudah sesuai dengan aturan dari pemerintah pusat, ya untuk bagaimana teknisnya ini, tentunya dia tidak boleh ini keluar dari aturan-aturan yang ada, jadi kalau dia macam-macam ya. Kan Pak Camat sebagai kepala wilayah ya pasti memantau. Baru-baru ini yang ada beredar bahwa ada yang memanfaatkan untuk politik dipanggil semua untuk diklarifikasi, jangan sampai bantuan ini digunakan untuk politik. Jadi kalo sudah dijelaskan dia macam-macam ya pasti berurusan dengan hukum, kemudian selalu bergiliran ada kordinator kepengawasannnya itu yang mengawasi jadi kalo ada apa-apa ya dia lapor kepada pihak kecamatan.”
(Hasil wawancara dengan RJ pada tanggal 02 Juni 2022).
Penuturan mengenai struktur dan proses kelompok dalam Perilaku Organisasi dalam penyaluran BPNT ini juga diungkapkan oleh Agen BRI di Desa Cirangkong Kecamatan Cijambe, Ia mengungkapkan bahwa ada sedikit kendala pada struktur pelaksana Program BPNT. Dengan alasan bahwa ada segelintir Agen yang menyalah gunakan tugasnya dalam pendampingan KPM BPNT pada saat proses penyaluran. Berikut kutipan wawancaranya:
“Masing-masing desa dan kelurahan itukan harusnya sama kita di e- Warongnya tapi terkadang ada juga masyarakat yang pergi dari kita.
Padahal bukan Agen yang dia datangi, yang dia datangi itu disuruh sama kordinator kecamatan pendamping PKH. Maksudnya kan itu pembagian disinikan harusnya itu di e-Warong dia belanja tapi ini malah dia ke kordinator kecamatan itu pendamping padahalkan dia itu bukan e-Warong, yang kordinator kecamatan itu pendamping PKH. itu juga yang kita keluhkan itu karena dia bukan e-Warong kenapa selalu KPM itu kesana.
Kan kita masing-masing desa dan kelurahan sudah punya e-Warong yang direkomendasikan oleh kepala desa” (Hasil wawancara dengan SG pada tanggal 07 Juni 2022).
Hal senada juga diungkapkan oleh TKSK Kecamatan Cijambe dalam proses penyaluran BPNT di Kecamatan Cijambe itu berdasarkan Pedoman Umum Bantuan Pangan Non Tunai (PEDUM BPNT) yang dapat dijadikan petunjuk dalam pengambilan tindakan. Berikut kutipan wawancaranya:
“Jadi program ini ya sebenarnya kan sudah dilaksanakan di tingkat kecamatan, ada PEDUM ya isinya kan jelas untuk petunjuk”. (Hasil wawancara dengan OB pada tanggal 02 Juni 2022).
Dilihat dari pernyataan TKSK Kecamatan Cijambe di atas dapat disimpulkan bahwa semua struktur birokrasi dan proses kelompok dapat melaksanakan tugasnya dengan baik apabila semua pihak pelaksana memahami dengan baik petunjuk yang ada di Pedoman Umum BPNT.
Berdasarkan hasil wawancara di atas, mengenai sruktur dan proses kelompok dalam proses penyaluran BPNT itu dapat disimpulkan bahwa ada sedikit kendala di beberapa desa, yaitu kendala dengan adanya Agen yang melanggar aturan dalam menjalankan tugasnya sebagai pendamping KPM.
Pendamping tersebut dalam melakukan pendampingan ia mengarahkan KPM untuk mencairkan bantuannya kepada selain Agen yang telah direkomendasikan oleh Pemerintah Desa dan Pihak BRI, ini membuktikan bahwa pendamping tersebut telah melanggar aturan yang ada dan tidak mengikuti apa yang tercantum pada Pedoman Umum BPNT.
Struktur dan proses kelompok agen pelaksana berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, yaitu karakteristik yang ada pada aktor pelaksana di desa dimana aktor pelaksana harus yang tegas, disiplin, baik dan ramah kepada setiap masyarakat. Hasilnya adalah para aktor pelaksana mulai dari desa, Pendamping, Koordinator dan pemilik agen E-Warong harus memenuhi standar yaitu masing- masing aktor harus memiliki sifat pelayanan publik yang berperilaku santun dan ramah kepada masayarakat yang terdaftar sebagai keluaraga penerima manfaat.
4.2.5. Pengembangan dan Persepsi Sikap
Menurut Schnerila dalam Hidayati (2018, hlm. 26) “perkembangan yaitu dimana terdapat struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu, oleh karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi”. Mengembangkan sikap seseorang berarti membangkitkan kesadaran orang tersebut, dimana orang tersebut memiliki potensi yang harus dikembangkan. Menurut Nugraha (2015, hlm. 3) “persepsi merupakan kecenderungan seseorang terhadap sesuatu dalam ranah relatif, artinya persepsi individu terhadap sesuatu akan berbeda-beda berdasarkan persepsi dari masing-masing orang”. Dalam proses persepsi, individu dituntut untuk memberikan penilaian terhadap suatu objek yang dapat bersifat positif atau negatif, senang atau tidak senang, dan sebagainya.
Perilaku organisasi dalam pengembangan dan persepsi sikap, hal ini orang-orang yang bertugas dalam penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang harus mengembangkan kesadaran setiap pegawai dalam memilih masyarakat untuk dijadikan penerima BPNT.
Karena masih adanya masyarakat yang dipilih karena dekat dengan petugas tanpa melihat kualifikasi penerima BPNT, berikut penjelasan dari masyarakat non KPM:
“penerima BPNT di sini teh yah neng ada gitu yang orang-orang nya tuh yang dekat dengan petugasnya gitu lah yah, jadi misalkan petugas sodaranya gitu yah yang mendaftarkannya, padahal kan dia bukan termasuk golongan orang miskin gitu neng”. (Hasil wawancara dengan SB pada tanggal 09 Juni 2022)
Hal ini juga senada dengan masyarakat yang menerima program BPNT, berikut penjelasannya:
“ibu ini menerima bantuan BPNT alhamdulillah bisa membantu kebutuhan keluarga ini setiap bulannya, tetapi kasihan itu ibu asih dia belum mendapatkan bantuan juga, malah yang agak punya gitu yah neng tapi dia malah dapet. Jadi kurang tepat sasaran neng”. (Hasil wawancara dengan NS pada tanggal 07 Juni 2022)
Hasil wawancara dengan Keluarga Penerima Manfaat yang diperoleh.
Seperti yang diungkapkan sebagai berikut:
“Kalo menurut saya pendataan penerima Bantuan Pangan Non Tunai kurang sesuai neng sehingga masih terdapat kecemburuan sosial.
Seharusnya Ibu Aisyah saja dapat bantuan itu karna kondisi ekonominya yang menurut saya masih tergolong miskin, tetapi saya dengar katanya akan ada penambahan data penerima bantuan itu tapi kenyataannya sampai sekarang belum terlaksana.” (Hasil wawancara dengan YN pada tanggal 07 Juni 2022)
Hal serupa juga di sampaikan oleh penerima program Bantuan Pangan Non Tunai di Kecamatan Cijambe bahwa:
“Saya sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) program Bantuan Pangan NonTunai (BPNT) menyatakan puas terhadap pelaksanaan program tersebut dibandingkan program sebelumnya yang Rastra itu neng.
Proses BPNT saat ini mudah dan memberikan lebih banyak pilihan dan kendali kepada KPM sehingga memberikan manfaat positif bagi saya dan keluarga saya. Akan tetapi dalam pelaksanaan program BPNT di Kecamatan Cijambe di desa saya ini masih terdapat ketepatan sasaran yang masih kurang tepat, keluarga yang seharusnya mendapatkan bantuan masih ada yang belum terdata. Malah yang kelihatannya orang yang agak punya gitu ya neng, dia malah dapet program ini.” (Hasil wawancara dengan NS pada tanggal 07 Juni 2022)
Berdasarkan informan di atas menyatakan bahwa dalam pendataan program penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) belum tepat sasaran dan akan menyebabkan terjadinya kecemburuan sosial serta akan menimbulkan
dampak negatif bagi masyarakat, petugas/pegawani harus meningkatkan kesadarannya dalam hal tersebut.
Adanya program BPNT yang terselenggara diharapkan bisa memberikan hasil yang positif bagi Keluarga Penerima Manfaat. Masyarakat dapat mengembangkan kemampuan berwirausaha, dengan mengenalkan transaksi pelayanan secara elektronik menggunakan Kartu elektronik Keluarga Sejahtera (KKS), yang diberikan pemerintah kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Berikut hasil wawancara yang diungkapkan oleh Ibu pemilik E warong penjual sembako program BPNT Kecamatan Cijambe, Ia menjelaskan bahwa:
“Program BPNT menyediakan sarana pelayanan transaksi keuangan secara elektronik dengan memberdayakan masyarakat sebagai pengelola e- Warong itu sendiri. Nah dengan demikian masyarakat dapat mengembangkan kemampuannya dalam berwirausaha. Program e-Warong ini membantu saya untuk dapat mengembangkan kemampuan dalam berwirausaha. Program ini membantu mengenalkan teknologi kepada kami untuk menjalankannya sebagai operator. Program ini juga memberikan pembelajaran khusus bertransaksi dengan cara non tunai. Awalnya saya kurang mengerti dalam melakukan transaksi dengan elektronik ini neng.
Namun karena tuntutan dari program dan pendamping selalu mengajarkan melakukan transaksi. Maka perlahan saya sudah terbiasa menggunakannya.” (Hasil wawancara dengan SG pada tanggal 07 Juni 2022)
Tujuan lain disampaikan oleh staf Desa di Kecamatan Cijambe menjelaskan sebagai berikut:
“Dengan adanya program e-Warong kan dapat mempercepat peningkatan ekonomi penerima program, di mana Keluarga Penerima Manfaat (KPM) diberdayakan untuk kemudian ditunjuk membuat e-Warong dirumahnya, yang nantinya mereka diberdayakan sebagai penyalur bantuan bantuan sosial yang tentunya non tunai.” (Hasil wawancara dengan AD pada tanggal 10 Juni 2022)
Program BPNT memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh penerimanya dari segi ekonomi. Seperti dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari
dapat mengurangi beban pengeluaran dari masyarakat yang dulunya tidak berkecukupan sekarang sudah merasa semakin meningkat daya beli masyarakatnya. Pernyataan di atas menunjukkan bahwa program BPNT diterapkan agar masyarakat dapat mandiri dalam melakukan transaksi non tunai pada e-Warong Program BPNT dan membantu masyarakat dalam segi ekonomi seperti pemenuhan kebutuhan sehari-hari dapat mengurangi beban pengeluaran dari masyarakat yang dulunya tidak berkecukupan sekarang semakin meningkat daya beli masyarakatnya. Meningkatkan efektivitas bantuan sosial dengan cara non tunai dalam pemberian bahan pangan, serta mendorong keuangan inklusif yakni mengikut sertakan masyarakat untuk menjadi wirausaha. Pemerintah membuat program BPNT berarti merangkul masyarakat dalam mengembangkan kemampuan berwirausaha dengan membuka e-Warong BPNT, tidak adanya penyalahgunaan dana bantuan yang diberikan pemerintah kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Dengan menggunakan Kartu elektronik Keluarga Sejahtera (KKS) masyarakat tidak dapat menggunakanuangnya selain membeli bahan pangan beras dan telur. Hanya saja ada beberapa pelaksana yang harus membangkitkan kesadarannya, karena masih adanya dalam pemilihan penerima program BPNT tidak melihat kualifikasi tergolong masyarakat miskin. Serta persepsi individu terhadap sesuatu yang berbeda-beda berdasarkan persepsi masing – masing pelaksana.
4.2.6. Proses Perubahan
Menurut Soekanto dalam Rosana (2011, hlm 34) “perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam
suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilainilai, sikap-sikap, dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat”. Perubahan sikap dan perilaku anggota organisasi lewat proses komunikasi, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Perubahan individu mengacu pada perubahan dalam sikap, keterampilan dan persepsi.
Proses perubahan merupakan suatu bentuk perubahan yang dirasakan seseorang atau kelompok yang terkait pelaksanaan kegiatan atau program yang telah dijalankan. Perubahan nyata dapat berdampak positif, maupun berdampak negatif, tergantung dari proses pelakaksanaan yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Setelah masyarakat mendapatkan bantuan pangan non tunai ini respon masyarakat sangat antusias, senang, dan kehadiran bantuan ini ditunggu- tunggu oleh penerima bantuan.
Perubahan nyata menjadi salah satu indikator melihat bagaimana perubahan dalam perilaku organisasi serta perubahan yang dirasakan masyarakat mendapatkan BPNT yang ada di Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang.
Program BPNT diharapkan bisa merubah keadaan ekonomi masyarakat yang lebih baik, meningkatkan kesejahteran masyarakat miskin dan mengurangi angka kemiskinan. Begitupun perubahan pada sikap pelaksana dari setiap bulannya mengalami sikap yang positif. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat Penerima BPNT mengatakan bahwa:
“Mungkin tidak ada perubahan secara nyata untuk masyarakat tetapi adanya program BPNT ini mengurangi sedikit pengeluaran untuk membeli