• Tidak ada hasil yang ditemukan

Effects of Maternal Education, Psychosocial Stress, Nutritional Status at Pregnancy, and Family Income, on Birthweight in Nganjuk, East Java

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Effects of Maternal Education, Psychosocial Stress, Nutritional Status at Pregnancy, and Family Income, on Birthweight in Nganjuk, East Java"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Effects of Maternal Education, Psychosocial Stress,

Nutritional Status at Pregnancy, and Family Income,

on Birthweight in Nganjuk, East Java

Dhewi Nurahmawati1,2), Harsono Salimo3), Yulia Lanti Retno Dewi4)

1)Academy of Midwivery PGRI, Kediri, East Java 2)Masters Program in Public Health, Sebelas Maret University 3)Department of Pediatrics, Dr. Moewardi Hospital, Surakarta 4)Department of Nutrition,Faculty of Medicine, Sebelas Maret University

ABSTRACT

Background: Low birthweight (LBW) is one of the primary causes of infant mortality. It shares 27% of infant mortality rate (IMR). The Indonesian Demographic and Health Survey in 2007 reported that the IMR was 34 deaths per 1,000 live births. As much as 30.3% of this rate was accounted by LBW. As such LBW is an important global public health issue. Countries arround the world have committed to overcome this problem. This study aimed to investigate the effects of maternal education, psychosocial stress, nutritional status at pregnancy, and family income, on birthweight.

Subjects and Method: This was an observational analytic study with case control design. The study was conducted in Ngetos community health center, Nganjuk, East Java, from May to June, 2017. A total sample of 120 were selected for this study by fixed disease sampling, compresing 40 infants with low birthweight and 80 infants with normal birthweight. The dependent variable was birthweight. The independent variables were maternal education, psychosocial stress, nutritional status at pregnancy (middle-upper arm circumference, MUAC), maternal anemia, and family income. MUAC was measured by MUAC measuring tape. Hemoglobin concetration was measured by Sahli meter. Psychosocial stress was measured by Holmes and Rahe stress scale. The other variables were measured by a set of questionnaire. Path analysis was used for data analysis.

Results: MUAC ≥23.5 cm (b= 0.80, SE= 0.57; p=0.064), hemoglobin concetration ≥11 g/dL (b= -120.16, SE= 45.14, p=0.008), and low psychosocial stress (b= -0.80, SE= 0.57, p=0.164) directly and negatively affected low birthweight. Maternal education ≥Senior High School (b= 1.28, SE = 0.056, p= 0.022), psychosocial stress (b= -0.001, SE<0.001, p=0.097), and family income (b= 0.97, SE= 0.46, p=0.036) positively affected MUAC. MUAC ≥23.5 cm positively affected hemoglobin concentration ≥11 g/dL (b= 0.19, SE = 20.84, p<0.001).

Conclusion: MUAC, hemoglobin concetration, and low psychosocial stress directly and negatively affect low birthweight.

Keywords: low birthweight, MUAC, maternal anemia, psychosocial stress, family income Correspondence:

Dhewi Nurahmawati. Masters Program in Public Health, Sebelas Maret University, Jl. Ir. Sutami 36 A, Surakarta 57126, Central Java. Email: dhenoura@gmail.com. Mobile: +62813330787826.

LATAR BELAKANG

Kematian ibu dan bayi di Indonesia yang masih tinggi merupakan fokus utama pe-mecahan masalah kesehatan di negara ber-kembang termasuk di Indonesia. Angka Kematian Bayi di Indonesia masih tergo-long tinggi, jika dibandingkan dengan

negara lain di kawasan negara-negara

Assosiation East Asian Nation (ASEAN),

(Negi, et al, 2010). Indonesia sebagai negara berkembang, masih memiliki Angka Kematian Bayi (AKB) yang tinggi. Berda-sarkan hasil Survey Demografi dan Keseha-tan Indonesia (SDKI) tahun 2007 AKB me-nunjukkan angka sebesar 34 per 1000

(2)

328 e-ISSN: 2549-0257 (online)

kelahiran hidup dan menurun pada tahun 2012 yaitu sebesar 32 kematian per 1000 kelahiran hidup dan mayoritas kematian bayi terjadi pada neonatus (Depkes RI, 2013). Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 menunjukkan AKB sebesar 22.23 per 1,000 kelahiran hidup, yang arti-nya sudah mencapai target MDG 2015 se-besar 23 per 1,000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2016).

Angka Kematian Bayi (AKB) meng-gambarkan tingkat permasalahan keseha-tan masyarakat yang berkaikeseha-tan dengan fak-tor penyebab kematian bayi, tingkat pelaya-nan antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA dan KB, serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi. Tingginya AKB di suatu wilayah menunjuk-kan status kesehatan di wilayah tersebut rendah (Depkes RI, 2013). Penyebab yang mempengaruhi berat bayi saat lahir dapat berupa faktor maternal, faktor lingkungan, dan faktor janin. Faktor yang berasal dari maternal adalah usia ibu pada waktu hamil terlalu muda (<20 tahun) atau terlalu tua (≥35 tahun), jarak kehamilan terlalu pen-dek (< 1 tahun), riwayat BBLR sebelumnya, mengerjakan pekerjaan fisik beberpa jam tanpa istirahat, sangat miskin, kenaikan berat badan saat hamil atau kurang gizi, ibu perokok atau pengguna obat terlarang atau alkohol, ibu hamil dengan anemia, pre-eklamsi atau hipertensi, infeksi selama ke-hamilan, kehamilan ganda dan bayi dengan cacat bawaan (Depkes, 2008).

Menurut Simanjuntak NA (2009) dalam Rini (2012) Kadar Hemoglobin (Hb) ibu sangat mempengaruhi berat bayi yang akan dilahirkan. Ibu hamil yang anemia bukan hanya membahayakan jiwa ibu tetapi juga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan serta membahayakan jiwa janin. Anemia pada ibu hamil akan menam-bah risiko mendapatkan BBLR (Rini, 2012). Ibu yang bersikeras hamil dengan status

gizi buruk, berisiko melahirkan bayi BBLR 2-3 kali dan kemungkinan bayi mati sebe-sar 1.5 kali lebih besebe-sar dibanding ibu de-ngan status gizi baik (Soetjiningsih, 2013).

Anemia merupakan masalah keseha-tan utama yang menimpa pada ibu hamil di negara berkembang, misalnya Indonesia. Faktor dasar penyebab anemia gravidrum antara lain pendapatan rendah, pengetahu-an rendah, pendidikpengetahu-an rendah dpengetahu-an stres psikososial serta adanya faktor sosial buda-ya (Istiarti, 2000). Pendidikan rendah me-rupakan salah satu faktor yang mendasari penyebab gizi kurang. Pendidikan rendah akan menyebabkan seseorang kesulitan da-lam mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal ini akan menyebabkan rendahnya penghasilan seseorang yang akan berakibat pula terhadap rendahnya seseorang meng-konsumsi makanan baik secara kualitas maupun kuantitasnya (Supariasa, 2016).

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, di Indonesia terdapat 37.1% ibu hamil yang mengalami anemia dengan proporsi yang hampir sama antara di kawasan perkotaan sebesar 36.4% dan di pedesaan sebesar 37.8% (Kemenkes RI, 2014). Angka kejadian anemia di Pro-vinsi Jawa Timur pada tahun 2009 sebesar 4.88% dan di kota besar sebesar 12.65%.

Kabupaten Nganjuk trend kejadian BBLR yang meningkat selama 1 tahun ter-akhir yaitu pada tahun 2015 terutama keca-matan Ngetos dan Sawahan dengan angka BBLR tertinggi pertama di Kabupaten Nganjuk dan tercatat sebanyak 56 kasus, selain itu pada tahun 2015 Kecamatan Ngetos dan Sawahan menempati urutan pertama pada tahun 2015 sebesar 61 (Dinkes Nganjuk, 2015).

Laporan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan angka prevalensi BBLR meningkat dengan dipengaruhi status gizi ibu hamil dan anemia gravidarum (Depkes RI, 2013).Tujuan penelitian ini adalah

(3)

un-tuk menganalisis pengaruh tingkat pendidi-kan, pendapatan keluarga, stress psikoso-sial, status gizi, dan anemia gravidarum ter-hadap kejadian BBLR di Kabupaten Nganjuk.

SUBJEK DAN METODE 1. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian anali-tik observasional. Desain penelitian yang digunakan adalah case control. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Puskesmas Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2017.

2. Populasi dan Sampel

Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang telah melahirkan bayi BBLR di wilayah kerja Puskemas Ngetos Kabupaten Nganjuk. Jumlah sampel sebesar 120 adalah ibu yang telah melahirkan bayi dipilih menggunakan tehnik fixed disease sampling. Besar sampel dalam penelitian ini terdiri dari 40 kelompok kasus dan 80 kelompok kontrol. Kelompok kasus dalam penelitian ini adalah ibu yang telah melahirkan bayi Berat badan lahir rendah (<2,500 gram) sedangkan yang menjadi kelompok kontrol yaitu ibu yang telah melahirkan bayi Berat Badan Lahir Normal (≥2500 gram).

Sampel kasus memiliki kriteria inklu-si antara lain yaitu Ibu hamil dengan

ane-mia gravidarum yang telah melahirkan

bayi Berat Badan Lahir Rendah (<2500 gram), umur bayi 0-12 bulan dan memiliki buka KIA. Sampel kontrol memiliki kriteria inklusi yaitu ibu yang telah melahirkan bayi berat badan lahir normal (≥2,500 gram). umur bayi lebih dari 12 bulan, dan sedangkan kriteria eksklusinya yaitu Ibu yang telah melahirkan bayi Berat Badan Lahir Normal (≥4,000 gram). Umur bayi lebih dari 12 bulan dan ibu menolak untuk mengikuti penelitian.

3. Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel yang diguna-kan dalam penelitian ini menggunadiguna-kanfixed

disease sampling yaitu skema pencuplikan

berdasarkan status penyakit yang diteliti, sedangkan status paparan subjek bervariasi mengikuti status penyakit. Sampel yang digunakan sebesar 120 subjek yang terdiri dari 40 subjek kasus dan 80 subjek kontrol.

4. Variabel Penelitian

Terdapat enam variabel dalam penelitian ini yang terdiri dari variabel dependen,

intermediate, dan independen. Variabel

de-penden adalah BBLR. Variabel indede-penden meliputi tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, stress psikososial. Variabel

inter-mediate meliputi status gizi dan anemia

gravidarum.

5. Definisi Operasional

Definisi operasional variabel tingkat pen-didikan adalah jenjang penpen-didikan formal terakhir yang telah ditempuh oleh ibu bayi; pendapatan keluarga adalah pendapatan yang dijadikan sumber perekonomian ke-luarga selama 1 bulan; stress psikososial adalah stres selama 12 bulan terakhir yang dipicu oleh peristiwa kehidupan (life

event); status gizi adalah status gizi ibu saat

masa kehamilan. Anemia gravidarum ada-lah kadar HB ibu saat masa kehamilan di-bawah batas normal.

Definisi berat bayi lahir rendah adalah penilaian berat badan dengan mela-kukan penimbangan yang diukur dalam satuan gram dan dilakukan 1 jam pertama setelah persalinan pada bayi dari subjek penelitian serta dicantumkan dalam buku KIA.

6. Instrumen Penelitian

Jenis data yang dikumpulkan merupakan data primer dan data sekunder. Data pri-mer yang digunakan meliputi tingkat pen-didikan, pendapatan keluarga, stress psi-kososial ibu, status gizi ibu saat hami, kadar HB dan berat badan bayi saat lahir.

(4)

330 e-ISSN: 2549-0257 (online) 7. Analisa Data

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis jalur (path analysis) Amos 22. Analisis jalur merupakan teknik anali-sis yang digunakan untuk mengetahui pe-ngaruh suatu variabel eksogen terhadap va-riabel endogen baik yang mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung (Murti, 2013). Besarnya pengaruh variabel eksogen terhadap variabel endogen dapat dilihat dari nilai koefisien jalur, semakin besar koefisien jalur maka akan semakin besar pula pengaruh yang diberikan dari variabel itu.

HASIL

Tabel 1 menunjukkan karakteristik subyek penelitian bahwasebagian besar subjek penelitian ibu berada pada usia reproduksi yaitu berusia 26-35 tahun sebanyak 75 subjek penelitian (62,5%) dan terdapat 2 orang reponden (1,7%) berada pada usia resiko tinggi saat kehamilan. Bayi subjek penelitian sebagian besar berusia 0-6 bulan yaitu 71 bayi (59,2%) dan paling banyak berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 75 bayi (54,2).

Distribusi frekuensi variabel peneli-tian secara univariat menjelaskan tentang gambaran umum masing-masing variabel yang diteliti meliputi tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, stress psikosisial pa-da ibu saat hamil, status gizi ibu saat hamil, anemia gravidarum, dan berat badan bayi saat lahir. Tabel 2 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan subjek penelitian ibu sebagian besar berada pada kategori pendidikan rendah (SD) yaitu sebanyak 58 subjek penelitian (48.3%). Pendapatan keluarga subjek penelitian sebagian besar dibawah UMK Kabupaten Nganjuk yaitu sebanyak 72 subjek penelitian (60%) dan sisanya diatas UMK yaitu 48 subjek penelitian (40%).

Sebagian besar subjek penelitian saat hamil mengalami masalah psikososial atau stress psikososial yaitu 75 subjek penelitian (62.5%). Status gizi (LILA) 108 (90%) subjek penelitian dalam keadaan baik. Ka-dar HB sebanyak 60 subjek penelitian (50%) normal atau tidak anemia gravida-rum seimbang. Berat badan bayi saat lahir sesuai dengan tujuan penelitian yaitu 80 subjek penelitian (66.7%) lahir dengan BB normal sebagai kelompok kontrol dan 40 subjek penelitian (33.3%) lahir dengan be-rat badan lahir rendah sebagai kelompok kasus.

Tabel 3 merupakan analisis bivariat pengaruh variabel independen dengan ke-jadian BBLR (variabel dependen) di desa Ngetos Kabupaten Nganjuk. Variabel inde-penden terdiri pendidikan ibu, pendapatan keluarga, stress psikososial, status gizi, dan anemia gravidarum.

Tabel 3 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tinggi (r= 0.06, p<0.529), pen-dapatan keluarga tinggi (r= 0.04, p= 0.696), stress psikososial (r=-0.04, p= 0.692), status gizi baik (LILA) (r= 0.06, p=0.523), anemia gravidarum (kadar HB) (r<0.01, p=1.000) memiliki pengaruh ter-hadap berat badan lahir rendah dan secara statistik signifikan.

Gambar 1 menunjukkan model struk-tural setelah dilakukan estimasi mengguna-kan IBM SPSS AMOS 22, sehingga didapat-kan nilai seperti pada gambar tersebut. Indikator yang menunjukan kesesuaian model analisis jalur yaitu seperti pada Tabel 4 juga menunjukan adanya goodness

of fit measure (pengukuran kecocokan

model) bahwa didapatkan hasil fit index (indeks kecocokan) CMIN sebesar 5.264 dengan nilai p = 0.385 > 0.05; GFI = 0.986 > 0.90; NFI = 0.939 > 0.90; CFI = 0.996> 0.90; RMSEA = 0.21 < 0.80 yang berarti model empirik tersebut memenuhi kriteria

(5)

yang ditentukan dan dinyatakan sesuai dengan data empirik.

Tabel 1. Karakteristik gambaran umum subjek penelitian

Karakteristik Subjek Kriteria Frekuensi (%)

Umur Ibu 18 - 25 Tahun 43 35.8

26 - 35 Tahun 75 62.5

≥ 35 Tahun 2 1.7

Usia anak 0 - 6 bulan 71 59.2

7 - 12 bulan 49 40.8

Jenis Kelamin Anak Laki-laki 75 54.2

Perempuan 55 46.8

Tabel2. Karakteristik Variabel Penelitian

Karakteristik Subjek Kriteria Frekuensi (%)

Pendidikan Ibu SD 58 48.3

SMP 37 30.8

SMA 18 15

D3 6 5

S1 1 8

Pendapatan Keluarga < UMK 72 60

≥ UMK 48 40

Stress Psikososial Tidak stress 45 37.5

Stress 75 62.5

Status Gizi (LILA) Baik (≥23.5 cm) 108 90

Kurang (<23.5 cm) 12 10

Anemia Gravidarum Anemia (<11 g/dL) 60 50

Tidak Anemia (≥11 g/dL) 60 50

Berat Badan Lahir Normal 80 66.7

BBLR 40 33.3

Tabel 3. Analisis bivariat pengaruh tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, stress psikososial, status gizi pada ibu hamil dengan anemia gravidarum terhadap kejadian berat badan lahir rendah di kabupaten Nganjuk

Variabel Independen r p

Tingkat Pendidikan 0.06 0.529

Pendapatan Keluarga 0.04 0.696

Stres Psikososial -0.04 0.692

Status Gizi (LILA) 0.06 0.523

(6)

332 e-ISSN: 2549-0257 (online) Gambar 1. Model struktural analisis jalur

Tabel 4 Hasil Analisis Jalur (Path Analysis) tentang Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pendapatan Keluarga, Stress Psikososial, Status Gizi, Anemia Gravidarum terhadap Kejadian BBLR di Kab. Nganjuk

Variabel Dependen independen Variabel b* SE p β**

Direct Effect

Berat Badan Lahir Rendah <--- Stres Psikososial Rendah -0.80 0.57 0.164 -0.12

Berat Badan Lahir Rendah <--- LILA ≥23.5 cm -38.55 20.84 0.064 -0.17

Berat Badan Lahir Rendah <--- Kadar Hb ≥11 g/dL -120.16 45.14 0.008 -0.25

Indirect Effect

LILA ≥23.5 cm <--- Pendidikan ≥SMA 1.28 0.56 0.022 0.21

LILA ≥23.5 cm <--- Stres Psikososial

Rendah -0.04 <0.001 0.097 -0.14

LILA ≥23.5 cm <--- Pendapatan Tinggi 0.97 0.46 0.036 0.19

Kadar Hb ≥11 g/dL <--- LILA ≥23.5 cm 0.19 20.84 <0.001 0.42 Model Fit CMIN = 5.26 p = 0.385 (≥0.05) GFI = 0.99 ≥ 0.90 NFI = 0.94 ≥0.90 CFI = 0.99 ≥0.90 RMSEA = 0.21 <0.08

Melalui Tabel 4 dapat diketahui bah-wa setiap peningkatan satu unit stress psikososial akan menurunkan berat badan

lahir bayi sebesar -0.80 unit (b =-0.80, SE = 0.57, p = 0.164). Setiap peningkatan satu

(7)

unit LILA ≥23.5 cm akan menurunkan berat badan lahir rendah bayi sebesar -38.55 unit (b =-38.55, SE =20.84, p =0.064). Setiap peningkatan satu unit kadar hemoglobin

≥11 g/dL akan menurunkan berat badan

lahir rendah bayi sebesar -120.16 unit (b= -120.16, SE = 45.14, p = 0.008).

Berdasarkan pengaruh tidak langsung dari variabel independen dan dependen. Setiap peningkatan satu unit tingkat pendidikan akan meningkatkan status gizi ibu hamil sebesar 1.28 unit (b=1.28, SE= 0.056, p=0.022). Setiap peningkatan satu unit stress psikososial akan menurunkan status gizi ibu hamil sebesar -0.04 unit (b=-0.04, SE=0.00, p=0.097). Setiap peningka-tan satu unit pendapapeningka-tan keluarga akan meningkatkan status gizi ibu hamil sebesar 0.97 unit (b=0.97, SE=0.46, p=0.036). Setiap peningkatan satu unit status gizi pada ibu hamil akan meningkatkan kadar hemoglobin ibu hamil sebesar 0.19 unit (b= 0.19, SE = 20.84, p =<0.001).

PEMBAHASAN

1. Pengaruh Tingkat Pendidikan pada Ibu Hamil terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah

Terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian BBLR dan secara statistik signifikan. Pendidikan adalah proses perubahan perilaku menuju kedewasaan dan penyempurnaan hidup. Wanita yang mempunyai tingkat pen-didikan rendah akan mempunyai risiko yang lebih tinggi melahirkan bayi dengan BBLR. Hal tersebut berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan diri terhadap pemenuhan kebutuhan perawatan kehamilan.

Pendidikan yang terbatas dapat me-nyebabkan keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan serta ada kaitannya dengan status sosial ekonomi serta akan berpengaruh terhadap asupan gizi ibu yang berdampak pada kualitas status gizi ibu

saat hamil. Apabila pola konsumsinya sesuai maka asupan zat gizi yang diperoleh akan tercukupi sehingga kemungkinan besar bisa terhindar dari masalah anemia. Sebaliknya, pendidikan rendah merupakan salah satu faktor yang mendasari penyebab gizi kurang.

Ida (2000) dalam penelitiannya menjelas-kan 67.5% ibu yang anemia berpendidimenjelas-kan rendah

Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu terhadap kejadian BBLR dengan adanya pengarug faktor status gizi dan kadar HB ibu saat hamil. Salmariantity (2012) menunjukkan hubungan pendidikan ibu hamil dengan kejadian anemia yaitu penelitian oleh Ariadi (1995) menyebutkan bahwa ibu hamil berpendidikan rendah sebanyak 94,2% menderita anemia. Pada masyarakat yang berpendidikan rendah biasanya lebih banyak kepercayaan dan tahayul dalam makanan dan biasanya lebih sulit untuk dirubah (Supariasa, 2011).

Penelitian yang dilakukan oleh Silvestrin et al., (2013) mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan berat badan lahir tetapi tidak signifikan. Penelitian lain yang dilakukan oleh Linsellet al (2015)

menge-mukakan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan berat badan lahir setelah mem-pertimbangkan paritas.

2. Pengaruh pendapatan keluarga pada Ibu Hamil terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah

Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara pendapatan keluarga den-gan kejadian BBLR secara tidak langsung yang dipengaruhi olehfaktor status gizi dan Kadar HB atau anemia gravidarum pada ibu saat hamil. Secara global terdapat pengaruh peningkatan penghasilan

(8)

ter-334 e-ISSN: 2549-0257 (online)

hadap perbaikan kesehatan dan kondisi keluarga yang membangun interaksi dengan status gizi. Penghasilan dan gizi memiliki hubungan keterkaitan yang me-nguntungkan. Penghasilan merupakan fak-tor penting terhadap kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi (Mohd S.et al, 2015), semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin tinggi tingkat konsumsi keluarga (Curatman, 2010).

Pendapatan keluarga berperan dalam kejadian BBLR didukung beberapa peneli-tian antara lain penelipeneli-tian yang dilakukan olehRahman, et al, (2016), status ekonomi rendah memiliki peluang mengalami anemia 2,6 kali lebih besar dibandingkan ibu dengan status ekonomi cukup. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Syafiq (2008) menunjukkan adanya hubungan positif antara status sosial ekonomi ibu hamil dengan kadar serum feritin darah-nya. Fitriyani (2002) dalam Salmariantity (2012) menjelaskan terdapat 70% ibu hamil dengan anemia ditingkat ekonomi keluarga rendah dan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat ekonomi keluarga ibu dengan kejadian anemia gravidarum.

Pendapatan keluarga dapat mempe-ngaruhi menurunkan kejadian BBLR, hal ini dikarenakan dalam keluarga yang berpendapatan tinggi menjamin asupan kalori dan nutrisi penting lainnya bagi ibu hamil, sehingga risiko melahirkan bayi dengan BB <2,500 menurun.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif dan signfikan antara pendapatan keluarga ibu secara tidak lang-sung terhadap kejadian BBLR dengan ada-nya variabel antara yaitu status gizi dan kadar HB ibu saat hamil (anemia gravida-rum) sehingga hasil penelitian yang telah dianalisis mendukung hipotesis penelitian.

3. Pengaruh stress psikososial pada Ibu Hamil terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah

Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara stres psikososial ibu de-ngan kejadian BBLR. Selama masa kehami-lan sebaiknya ibu mendapat ketenangan jiwa yang berasal dari dukungan ling-kungan keluarganya, sehingga ibu ter-hindar dari stres. Pertumbuhan janin, pertumbuhan plasenta dan transport zat-zat gizi ke janin dapat dipengaruhi oleh keadaan stres pada ibu selama kehamilan melalui efek buruk yang menimpa ibu (Soetjiningsih dan Ranuh, 2013; Supariasaet al., 2016). Stres psikososial biasa terjadi dan pada level tinggi berhubu-ngan deberhubu-ngan ibu yang dapat memberikan kontribusi buruk terhadap produk kehami-lan yang berupa cacat bawaan dan kelainan kejiwaan (Woods et al., 2010; Supariasa et

al., 2016).

Beberapa penelitian yang berkaitan dengan stres psikologis dan penyakit yang mendukung antara lain penelitian

Schneiderman et al., (2008) menjelaskan

bahwa pemicu stres kronis pada ibu hamil yang tidak diiringi dengan kemampuan manajemen stres yang baik dikaitkan dengan kelahiran bayi dengan berat badan rendah, hal ini disebabkan menurunnya aliran darah ke rahim yang dapat secara signifikan memengaruhi tumbuh kembang janin. Menurut Dozier et al, (2012) pada kelahiran prematur terjadi peningkatkan produksi hormon pelepas kortikotropin (CRH) oleh plasenta, hormon inilah yang bertugas mengatur durasi kehamilan, apabila kadar meningkat akan memper-cepat durasi kehamilan, sehingga bayi berisiko lahir prematur dan BBLR.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif dan mendekati signifikan positif antara stress psikososial ibu secara langsung dan tidak langsung terhadap keja-dian BBLR yang dipengaruhi faktor lain ya-itu status gizi dan kadar HB ibu saat hamil (anemia gravidarum).

(9)

4. Pengaruh status gizi pada Ibu Hamil terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah

Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh secara tidak langsung antara status gizi ibu saat hamil yang di lihat dari LILA saat hamil dengan kejadian BBLR dengan adanya faktor lain yaitu kadar HB ibu saat hamil (anemia gravidarum) dengan hasil signifikan. Dimana pengaruh hubu-ngan secara tidak langsung tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: pertama, penga-ruh hubungan yang bernilai positif antara LILA ibu saat hamil dengan berat bayi lahir. Kedua, pengaruh hubungan yang bernilai positif antara LILA ibu saat hamil dengan kadar HB atau anemia gravidarum terhadap berat badan bayi yaitu kejadian BBLR. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara status gizi ibu saat hamil dengan BBLR secara statistic signifikan dan bernilai positif. Pengaruh hubungan yang bernilai positif antara LILA ibu saat hamil dengan kadar HB atau anemia gravidarum terhadap BBLR secara statistik signifikan dan bernilai positif.

Menurut Barker, kekurangan gizi pada janin yang terjadi pada masa kehamilan akan menyebabkan gangguan pertumbuhan pada janin. Ibu hamil dengan malnutrisi/kekurangan protein akan ber-lanjut ke generasi berikutnya. Pertum-buhan janin yang tidak normal akan me-nyebabkan komplikasi yang serius seperti lahir mati, angka kesakitan yang tinggi dan gangguan perinatal yang berlanjut sampai dengan masa dewasa (Bourkedan Barker, 1992; Wells JC, 2016).

Keadaan bayi pada 1000 hari pertama kehidupan yang mengalami masalah, seperti petumbuhan janin yang tidak normal, kurangnya asupan gizi pada saat hamil, maka akan berdampak terjadinya penyakit kronis pada masa dewasa (Pem

D,2015). Penyakit kronis tersebut diantara-nya jantung koroner, stroke, diabetes dan hipertensi. Berat lahir bayi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kela-ngsungan hidup anak. Ukuran Lingkar Lengan Atas dapat menjadi faktor penentu berat lahir dan kejadian BBLR (Thomas R,

et al).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas seorang anak sangat tergantung dari status gizi ibu sebelum dan selama kehamilan. Keadaan status gizi ibu dapat dilihat dari ukuran LILA dan kadar HB ibu saat hamil atau kejadian anemia gravida-rum. Jika ibu hamil mempunyai ukuran lingkar lengan atas yang normal (≥23.5 cm) maka ibu tidak akan melahirkan bayi dengan kondisi BBLR. Bayi yang lahir dengan berat badan normal atau tidak BBLR tidak akan mengalami ma-salah pertumbuhan di masa yang akan datang.

5. Pengaruh status gizi pada Ibu Hamil terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah

Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh secara langsung antara anemia gravidarum saat ibu hamil dengan kejadian BBLR dengan hasil secara statistik signifi-kan dan bernilai positif. Pengaruh hubung-an secara lhubung-angsung tersebut dapat dijelas-kan bahwa anemia dalam kehamilan mem-beri pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Pengaruh anemia gravidarum pada kehamilan dian-taranya terjadi risiko pada masa antenatal yaitu berat badan lahir bayi kurang atau BBLR, plasenta previa, eklamsia, ketuban pecah dini, anemia pada masa intranatal dapat terjadi tenaga untuk mengedan lemah, perdarahan intranatal, shock, dan masa pascanatal dapat terjadi subinvolusi. Komplikasi yang dapat terjadi pada neo-natus: premature, APGAR skor rendah, dan gawat janin (Mansjoer et al., 2008).

(10)

336 e-ISSN: 2549-0257 (online)

Pertumbuhan plasenta dan janin ter-ganggu disebabkan karena terjadinya penu-runan Hb yang diakibatkan karena selama hamil volume darah 50 % meningkat dari 4 ke 6 L, volume plasma meningkat sedikit yang menyebabkan penurunan konsentrasi Hb dan nilai hematokrit. Penurunan ini akan lebih kecil pada ibu hamil yang meng-konsumsi zat besi. (Smitht et al., 2010). Pertumbuhan janin yang lambat, keku-rangan gizi pada janin, kelahiran prematur dan berat badan bayi lahir yang rendah, yaitu sebesar 38.85%, merupakan penye-bab kematian bayi. Hal ini menunjukkan bahwa 66.82% kematian perinatal dipenga-ruhi pada kondisi ibu saat melahirkan.

Penelitian yang dilakukan oleh Simanjuntak (2009) di kabupaten Labuan Batu oleh meneliti hubungan anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR didapat-kan 86 (53%) anemia dari 162 kasus dan yang melahirkan bayi dengan BBLR 36%. Hasil penelitian Solomon (2007) menun-jukkan bahwa ibu hamil dengan anemia, empat kali lebih berisiko melahirkan bayi

premature dan 1.9 kali berisiko melahirkan

bayi berat lahir rendah (BBLR) dari pada ibu hamil yang tidak anemia.

REFERENCE

Adriani M, Wirjatmadi B (2013). Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Bourke CD, Berkley JA, Prendergast AJ (2016). Immune Dysfunction as a Cause and Consequence of Mal-nutrition. Trends in Immunology, 37(6): 386-398.

Curatman A (2010). Teori Ekonomi Makro. Yogyakarta: Swagati Press

Depkes RI (2008). Modul (Buku Acuan) Manajeman Bayi Baru Lahir Rendah (BBLR) untuk Bidan di Desa. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

_____ (2013). Laporan Hasil Riset Kese-hatan Dasar (Riskesdas) Nasional

Tahun 2013. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

_____ (2008). Modul (Buku Acuan) Manajeman Bayi Baru Lahir Rendah (BBLR) untuk Bidan di Desa. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Dinkes Nganjuk (2015). Profil Kesehatan Kabupaten Nganjuk tahun 2015. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Dozier AM, Nelson A, Brownell E (2012).

The Relationship between Life Stress and Breastfeeding Outcomes among Low Income Mothers. Advances in Preventive Medicine. Hindawi Pu-blishing Corporation.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2014). Infodatin Pusat Data Dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Linsell L, Malouf R, Morris J, Kurinczuk JJ, Marlow N (2015). Prognostic Factors for Poor Cognitive Development in Children Born Very Preterm or With Very Low Birth WeightA Systematic Review. JAMA Pediatr 169(12):1162-1172.

Mansjoer A (2008), Kapita Selekta Kedok-teran, Jakarta: Media Acsulapius.

Mohd SZ, Lin KG, Sariman S, Lee HS, Siew CY, Mohd BN, Mohamad M (2015). The relationship between household income and dietary intakes of 1-10 year old urban Malaysian. Nutrition Research and Practice, 9(3): 278–287.

Murti B (2013). Desain dan ukuran sampel untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif di bidang kesehatan. Yogya-karta: Gajah Mada University Press.

Negi KS, Kandpal SD, Kukreti M (2010). Epidemiological Factors Affecting Low Birth Weight. Jk Science; 1 - 10.

Pem D (2015). Factors Affecting Early Childhood Growth and Development Golden 1000 Days. Jornal of advanced practices in nursing 1 (1) 1-7.

Rahman MS, Howlader T, Masud MS, Rahman ML (2016). Association of

(11)

Low-Birth Weight with Malnutrition in Children under Five Years in Bangladesh: Do Mother’s Education, Socio-Economic Status, and Birth Interval Matter? Plos One, 11(6).

Rini SS, Trisna IW (2012). Faktor–Faktor Risiko Kejadian Berat Bayi Lahir Rendah di Wilayah Kerja Unit Pela-yanan Terpadu Kesmas Gianyar II. Bali: Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Univer-sitas Udayana

Salmariantity (2012). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Anemia pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskes-mas Gajah Mada Tembilahan Kabu-paten Indragiri Hilir Tahun 2012. Program Sarjana Kesehatan Masya-rakat Peminatan Kebidanan Komu-nitas, Fakultas Kesehatan Masya-rakat; Universitas Indonesia. Depok.

Schneiderman N, Ironson G, Siegel SD (2008). Stres And Health: Psycho-logical, Behavioral, and Biological Determinants. Annu Rev Clin Psychol. 1: 1–19.

Simanjuntak NA (2009). Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah

(BBLR) di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2008 [SKRIPSI]. Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara.

Smith RJ, evid Chelnow, Chief, D evid Chelnow (2010). Managemet The Third Stage of Labor, Medscape reference, Available from http://eme- dicine.medscape.com/article/275304-overview.

Soetjiningsih, Ranuh G (2013). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC

Solomon NW (2007). Malnutrition and infection: an update. British Journal of Nutrition, 98: S5–S10.

Supariasa IDN, Bakri B, Fajar I (2016). Penilaian Status Gizi Edisi 2. Jakarta: EGC.

Syafiq (2008). Gizi dan Kesehatan Masya-rakat. FKM, Universitas Indonesia. Depok: Departemen Gizi dan Kese-hatan Masyarakat

Woods SM, Melville JL, Guo Y, MSN4, Fan MY, Gavin A (2010). Psychosocial Stres during Pregnancy. Am J Obstet Gynecol, 202(1): 61.e1–61.e7.

Gambar

Tabel 1. Karakteristik gambaran umum subjek penelitian
Tabel  4  Hasil  Analisis  Jalur  (Path  Analysis)  tentang  Pengaruh  Tingkat  Pendidikan,  Pendapatan Keluarga, Stress Psikososial, Status Gizi, Anemia Gravidarum terhadap Kejadian  BBLR di Kab

Referensi

Dokumen terkait

Judul Tesis : ANALISIS PENGARUH PENDEKATAN MALCOLM BALDRIGE CRITERIA FOR PERFORMANCE EXCELLENCE TERHADAP KINERJA PT TRAKINDO UTAMA CABANG MEDAN1. Nama Mahasiswa

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kinerja pegawai merupakan hasil yang dicapai pegawai dalam pelaksanaan suatu pekerjaan yang diberikan kepadanya

Sumber daya manusia merupakan kemampuan dan kesadaran yang dimiliki pegawai dalam melaksanakan pekerjaan, mengambil keputusan yang relevan dengan keahlian, pengalaman,

Keterlibatan Pemuda Pancasila dalam Pilkada Surabaya merupakan sebuah bentuk tanggung jawab Pemuda Pancasila sebagai ormas menjaga proses politik yang ada di

Kolom berikut berisikan model jaringan komputer yang digunakan dalam sistem informasi akademik SMK Isen Mulang Palangka Raya. Berikut ini merupakan model topologi

PINTU BENDUNGAN AIR ” yang merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan Pendidikan Diploma III pada Jurusan Teknik Elektro Program Studi

Sarana pendidikan adalah perlengkapan pem- belajaran yang dapat dipindah-pindah (Peraturan Menteri Pendidikan Nasio- nal tentang Standar Sarana dan Prasa-

Penelitian efisiensi pemasaran produk - produk pertanian, antara lain lain dilaku kan oleh Kiptiyah dan Semaoen (1994), Fahmi (1993), Marpaung (1997) dan Prasojo