i
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
TIM PENYUSUN BUKU
MEMAHAMI KRISIS KEUANGAN GLOBAL Bagaimana Harus Bersikap
Pengarah: Menteri Komunikasi dan Informatika, Sekretaris Jenderal Departemen Komunikasi dan Informatika. Penanggung jawab: Kepala Badan Infor-masi Publik. Ketua Pelaksana: Kepala Pusat Informasi Perekonomian. Sekretaris: Selamatta Sembiring Anggota: Sekretaris Badan Informasi Publik, Kepala Pusat Informasi Polhukam, Kepala Pusat Informasi Kesejahteraan Rakyat, Kepala Pusat Pengelolaan Pendapat Umum, Kepala Pusat Pelayanan Informasi.
Narasumber : Prof. Mudrajad Kuncoro, PhD, A. Tony Prasetiantono. Pengumpulan Data : Dewi Rahmarini, Farida D. Maharani, Dewi Yuliana, Muhammad Azhar, Fouri Gesang Sholeh, Elvira Inda Sari, Karina Listya, Harry Noor Sukarna, Frans Hendra S.S, Jojo Rahardjo, Laode Insan, Heri Rubiyanto, Deny Gumbira. Pengolahan Data: Selamatta Sembiring. Perlengkapan : Yoserizal, Imron, Haji Anim, Taufan. Desain dan Tata Letak : Farida Dewi, MT Hidayat. Editor: Suprawoto, Sukemi, Son Kuswadi.
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
Memahami Krisis Keuangan Global
v
v
v
v
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
Turbulensi pasar keuangan global kian menjadi-jadi pasca bangkrutnya perusahaan investasi raksasa
Leh-man Brothers pada 15 September 2008. Tak satu
neg-ara pun yang terbebas dari amukan bencana finansial
ini, termasuk Indonesia. Pasar keuangan kita juga ikut dihantam sentimen negatif.
Suasana panik sedikit banyak telah terjadi di masyarakat kita. Ini tergambar dari situasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia yang telah meluncur diluar kewajaran. Otoritas bursa pun akhirnya mengambil tindakan untuk menutup semen-tara (menyuspensi) perdagangan saham. Dalam kurun waktu yang sama, nilai tukar rupiah juga mengalami depresiasi.
Itu semua gambaran dari dampak krisis keuan-gan global, yang bagi Indonesia --meski fundamental ekonomi dalam beberapa tahun ini mengalami
perbai-kan-- tetap saja ikut terbawa ke dalam kondisi ini. Sepuluh arahan atau direktif Presiden dan beberapa kebijakan yang telah diambil pemerintah, merupakan bagian dari upaya didalam mengantisipasi berbagai ke-mungkinan negatif terhadap perekonomian Indonesia dari situasi krisisi keuangan global saat ini.
Ada kekhawatiran krisis saat ini dapat terjadi se-bagaimana krisis pada tahun 1997-1998. Tapi dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini, Insya Allah hal itu tidak akan terjadi.
Buku ini disusun dan disiapkan untuk memahami sekaligus mensosialisasikan kepada masyarakat ten-tang krisis keuangan global yang sesungguhnya, seka-ligus memberikan gambaran utuh tentang langkah-langkah yang diambil pemerintah.
Buku ini bersumber antara lain dari penjelasan Pre-siden pada Sidang Kabinet Plus pada 6 Oktober 2008
vi
vii
vii
lalu dan ditambah dengan beberapa refrensi lain untukpenyempurnaan dalam memberikan pemahaman dan penyampaian utuh kepada masyarakat.
Terima kasih saya sampaikan kepada Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan dan Badan Per-encanaan Pembangunan Nasional, serta narasumber, Prof. Mudrajad Kuncoro, Dahlan Iskan dan Dr. A Tony Prasetiantono yang menyumbangkan pemikiran bagi penyusunan buku ini.
Semoga kehadiran buku ini bermanfaat dan dapat mencegah terjadinya kepanikan di masyarakat. Saya percaya bahwa buku ini, masih banyak kekurangan un-tuk itu, kritik dan saran unun-tuk penyempurnaan buku ini sangat dinantikan.
Jakarta, Oktober 2008
MOHAMMAD NUH Menteri Komunikasi dan Informatika RI
vii
vii
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
SAMBUTAN MENTERI ... v DAFTAR ISI ... vii PENDAHULUAN ... ... 1 BAB IEFEK DOMINO
KRISIS KEUANGAN AMERIKA SERIKAT ... 3
Bermula dari Subprime Mortgage Krisis yang Mengglobal
BAB II
KEBIJAKAN DI BERBAGAI NEGARA
ATASI DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL ... 15
Kawasan Eropa
Kawasan Asia Pasifik
BAB III
KETAHANAN EKONOMI INDONESIA
DI PUSARAN KRISIS KEUANGAN GLOBAL ... 23
Kondisi Perekonomian Indonesia Saat Ini Dampak Krisis Keuangan Global
BAB IV
MENYELAMATKAN PEREKONOMIAN NASIONAL
53
10 Arahan Presiden Langkah Kebijakan
PENUTUP 55
Pelihara Momentum Pertumbuhan,
Selamatkan Perekonomian dari Krisis Keuangan Global
TULISAN TERPILIH 56
- Kalau Langit Masih Kurang Tinggi (Dahlan Iskan) - Meletusnya Gelembung Hampa (A Tony Prasetiantono) - Cito! Cepat Selamatkan Dulu Bank! (Dahlan Iskan) - Benar-Benar Senin yang Melegakan (Dahlan Iskan) DAFTAR ISTILAH
REFERENSI
DAFTAR ISI
1
1
1
1
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
PenDahuluan
Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat te-lah berkembang menjadi masate-lah serius. Gejolak terse-but mulai mempengaruhi stabilitas ekonomi global di beberapa kawasan. Menurut perspektif ekonomi, per-dagangan antar satu negara dengan negara lain saling berkaitan, misalnya melalui aliran barang dan jasa. Im-por suatu negara merupakan eksIm-por bagi negara lain. Dalam hubungan yang sedemikian, dimungkinkan re-sesi di satu negara akan menular dan mempengaruhi secara global, karena penurunan impor di satu tempat menyebabkan tertekannya ekspor di tempat lain. Saat ini hampir semua negara-negara di dunia men-ganut sistem pasar bebas sehingga terkait satu sama lain. Aliran dana bebas keluar masuk dari satu negara ke negara lain dengan regulasi moneter tiap negara yang beragam. Akibatnya setiap negara memiliki risiko terkena dampak krisis.
Penanganan dampak krisis membutuhkan regulasi yang cepat dan tepat. Di setiap negara cara penan-ganannya dapat dipastikan akan berbeda, sebagaima-na dampak krisis ekonomi yang juga berbeda. Secara umum, negara yang paling rentan terhadap dampak krisis adalah negara yang fundamental ekonomi do-mestiknya tidak kuat. Lemahnya fundamental ekonomi sebuah negara salah satunya dapat disebabkan oleh kebijakan yang tidak tepat. Salah satunya berkaitan dengan posisi bank sentral yang memiliki kewajiban mengatur kebijakan moneter. Bank sentral tentu akan memiliki kekuatan intervensi dalam mengatasi berbagai permasalahan ekonomi, misalnya kredit macet ataupun gelembung subprime.
Krisis keuangan global yang bermula dari krisis kre-dit perumahan di Amerika Serikat memang membawa implikasi pada kondisi ekonomi global secara
menyelu-2
ruh. Hampir di setiap negara, baik di kawasan Amerika,
Eropa, maupun Asia Pasifik, merasakan dampak akibat
krisis keuangan global tersebut. Dampak tersebut ter-jadi karena tiga permasalahan, yaitu adanya investasi langsung, investasi tidak langsung, dan perdagangan. Pemerintah Indonesia optimistis akan mampu men-gatasi dampak krisis keuangan dunia. Pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen dan keberhasilan pe-nerapan kebijakan di bidang ekonomi yang lain serta pemberantasan korupsi diyakini sebagai fundamental perekonomian negara yang kuat.
Pemerintah juga telah mengeluarkan tiga peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu), yaitu: Perpu No 2/2008 berisi tentang Perubahan Kedua UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Perubahan atas UU ten-tang Bank Indonesia. Kedua, Perpu No 3/2008 berisi mengubah nilai simpanan yang dijamin Lembaga Pen-jamin Simpanan. Dan ketiga, Perpu No 4/2008 berisi tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) Ketiga peraturan darurat tersebut dikeluarkan untuk
mengantisipasi ancaman krisis keuangan global. Berbagai upaya juga telah diambil. Mulai dari pen-cairan anggaran belanja departemen untuk membantu likuiditas keuangan di masyarakat, dan mengutamaka program untuk rakyat dengan melindungi atas kemung-kinan dampak krisis. Caranya dengan memastikan se-mua program pengentasan kemiskinan tersalurkan dan meningkatkan program-program untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Dalam menghadapi krisis keuangan dan resesi ekonomi global, memang dibutuhkan ketenangan se-mua pihak agar dapat senantiasa berpikir rasional un-tuk mencarikan jalan dan solusi. Meskipun tidak seluruh masalah berada di jangkauan wilayah kebijakan dan wewenang pemerintah, partisipasi dan peran serta se-mua pihak dalam mengatasi dampak krisis keuangan global mutlak dibutuhkan.
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
EFEK DOMINO
KRISIS KEUANGAN AMERIKA SERIKAT
BAB I
4
5
eF eK D o M ino K risis K eu angan a M eri K a seri K aT5
Krisis keuangan global telah terjadi. Berbagai pihakmengaitkannya dengan kondisi perekonomian negara Amerika Serikat. Ketika kondisi perekonomian sebuah negara adidaya berubah dan mengalami goncangan, dapat dipastikan akan membawa konsekuensi yang luas pada perekonomian dunia.
Media massa di berbagai belahan dunia dengan gencar memberitakan krisis keuangan Amerika Serikat yang telah mempengaruhi tatanan sistem keuangan
berbagai negara di benua Amerika, Eropa, Asia Pasifik,
Asia Selatan, bahkan Timur Tengah.
Bermula dari Subprime Mortgage
Sejak tahun 1925, di Amerika Serikat sudah ada Un-dang-undang Mortgage. Peraturan yang berkaitan den-gan sektor properti, termasuk kredit pemilikan rumah. Semua warga AS --asalkan memenuhi syarat tertentu-- bisa mendapatkan kemudahan kredit kepemilikan prop-erti, seperti KPR.
Kemudahan pemberian kredit terjadi ketika harga properti di AS sedang naik. Kegairahan pasar properti
membuat spekulasi di sektor ini meningkat. Para pe-nyedia kredit properti memberikan suku bunga tetap se-lama tiga tahun. Hal itu membuat banyak orang mem-beli rumah dan berharap bisa menjual dalam tiga tahun sebelum suku bunga disesuaikan.
Permasalahannya, banyak lembaga keuangan pemberi kredit properti di Amerika Serikat menyalurkan kredit kepada penduduk yang sebenarnya tidak layak mendapatkan pembiayaan. Mereka adalah orang den-gan latar belakang non-income non-job non-activity (NINJA) yang tidak mempunyai kekuatan ekonomi un-tuk menyelesaikan tanggungan kredit yang mereka pin-jam.
Situasi tersebut memicu terjadinya kredit macet di sektor properti (subprime mortgage). Selanjutnya, kre-dit macet di sektor properti mengakibatkan efek domino ambruknya lembaga-lembaga keuangan besar di Amer-ika SerAmer-ikat. Pasalnya, lembaga pembiayaan sektor properti pada umumnya meminjam dana jangka pendek dari pihak lain, termasuk lembaga keuangan.
5
5
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
kredit properti adalah surat utang, mirip subprime mortgage securities,yang dijual kepada lembaga-lemba-ga investasi dan investor di berba-gai negara. Padahal, surat utang itu ditopang oleh jaminan debitor yang kemampuan membayar KPR-nya rendah.
Dengan banyaknya tunggakan kredit properti, perusahaan pembi-ayaan tidak bisa memenuhi kewa-jibannya kepada lembaga-lembaga
keuangan, baik bank investasi maupun asset manage-ment. Hal itu mempengaruhi likuiditas pasar modal maupun sistem perbankan.
Setelah itu, terjadi pengeringan likuiditas lembaga-lembaga keuangan akibat tidak memiliki dana aktiva un-tuk membayar kewajiban yang ada. Ketidakmampuan bayar kewajiban tersebut membuat lembaga keuangan lain yang memberikan pinjaman juga terancam bang-krut.
Kondisi yang dihadapi lembaga-lem-baga keuangan besar di Amerika Ser-ikat juga mempengaruhi likuiditas lem-baga keuangan lain, yang berasal dari Amerika Serikat maupun di luar Amerika Serikat. Terutama lembaga yang meng-investasikan uangnya melalui instrumen lembaga keuangan besar di Amerika Serikat. Di sinilah krisis keuangan global bermula.
Untuk menghindari meluasnya kri-sis subprime mortgage dan membawa dampak buruk terhadap perekonomian Amerika Serikat, pemerintah Amerika Serikat dan Bank Sentral Amerika
(The Fed) mengeluarkan kebijakan untuk membantu
beberapa lembaga-lembaga keuangan besar tersebut. Upaya tersebut sekaligus dikemas dalam kebijakan
moneter untuk menekan angka inflasi serta menstabil -kan nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat.
Rangkaian tindakan antisipasi di Amerika Serikat telah dimulai pada tanggal 5 September. Saat itu,
pe-6
7
eF eK D o M ino K risis K eu angan a M eri K a seri K aT7
April --->> Perusahaan pembiayaan kredit perumahan New Century Financial bang-krut.17 Maret
Bear Stearns kolaps dan dibeli JP Morgan Chase
dengan jaminan pemerin-tah Amerika senilai USD30 miliar.
5 September
Fannie Mae dan Freddie Mac diambil alih pemerin-tah Amerika
15 September
<<---Lehman Brothers
bangkrut
16 September
<<---Fed suntik AIG USD 85 miliar
25 September
<<---Washington Mutual kolaps dan dibeli JP Morgan
29 September
<<---Pemerintah Inggris mengambil alih Bradford & Bingley
30 September
Prancis, Belgia, Luksemburg bergotong-royong menyele-matkan Dexia
3 Oktober
<<---Kongres Amerika meloloskan program talangan USD700 miliar
6 Oktober
<<---Jerman menguncurkan USD 68 miliar untuk menopang Hypo Real Estate
8 Oktober
<<---Inggris menyiapkan dana talangan 50 miliar poundsterling (US 87 miliar)
10 Oktober <<
---Indeks bursa saham kembali berguguran
28 Agustus--->>
Sachsen Landesbank
di Jerman kolaps akibat investasi di kredit peru-mahan.
3 September --->>
Lembaga keuangan Jerman (IKB) mengakui investasi di subprime mortgage hilang hingga USD 1 miliar
17 Februari --->>
Inggris menasionalisasi
Northern Rock
2007
2008
Kronologis Krisis Keuangan Global 2008
7
7
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
merintah AS mengambil alih perusahaan pembiayaan Fannie Mae dan Freddie Mac untuk penyehatan arus kas dua perusahaan tersebut.Selanjutnya, pada tanggal 16 September The Fed
mengucurkan pinjaman USD 85 miliar ke American
International Group untuk mengambil alih 80 persen
saham perusahaan asuransi tersebut.
Pada tanggal 18 September 2008, Pemerintah AS meminta Kongres untuk menyetujui paket penyelama-tan ekonomi, berupa dana talangan pemerintah ( bail-out) USD 700 miliar. Presiden George Bush menyata-kan perekonomian AS dalam bahaya jika Kongres tidak menyetujui rencana bailout.
Meskipun demikian, tanggal 29 September 2008, Kongres AS menolak rencana bailout. Akibatnya, In-deks Dow Jones merosot 778 poin, posisi yang terbe-sar dalam sejarah paterbe-sar saham di Amerika Serikat. Akhirnya tanggal 3 Oktober 2008, Kongres me-nyetujui bailout. Selanjutnya, Presiden Bush menan-datangani UU Stabilisasi Ekonomi Darurat 2008.
Un-dang-undang yang memuat rencana pengucuran dana talangan pemerintah (bailout) sebesar USD 700 miliar untuk mengambil alih beberapa perusahaan dan lem-baga keuangan yang merugi di pasar modal AS.
Krisis Keuangan AS yang Mengglobal
Masalah subprime mortgage di Amerika Serikat sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Agustus 2007. Hal itu sudah ditengarai akan menjadi gelembung sub-prime (bubble), akan tetapi pemerintah Amerika Serikat terus mengucurkan uang dan menurunkan suku bunga untuk mengangkat sektor industri teknologi yang men-galami penurunan.
Usaha Pemerintah AS dengan mengucurkan dana talangan pemerintah sebesar USD 700, hanya semen-tara saja dapat meredam gejolak pasar. Pasalnya, ma-yoritas investor di seluruh dunia terpaksa menjual por-tofolio saham yang dimiliki secara besar-besaran untuk menutupi kebutuhan likuiditas sehingga mengakibatkan terhempasnya pasar modal dunia.
8
9
eF eK D o M ino K risis K eu angan a M eri K a seri K aT9
Secara khusus di Wall Street,mayoritas investor yang mengalami kerugian pada saat indeks saham jatuh 777,7 poin --akibat penolakan
bailout oleh House of Representa-tive--, ikut juga menjual portofolio yang ditanam di berbagai negara, ter-masuk di Indonesia.
Pada tanggal 10 Oktober, indeks bursa berbagai negara kembali jatuh, sehingga sepuluh bank sentral dari berbagai negara menurunkan suku bunga agar beban utang para inves-tor yang merugi tidak semakin besar. Hingga Agustus 2008, dampak kri-sis mengakibatkan jumlah pengang-gur di Inggris melejit menjadi 1,79 juta orang atau 5,7 persen dari angkatan kerja. Menurut International Labour Organization, inilah tingkat pengang-guran terparah sejak Juli 1991.
14,15 % NIKEI 3,19 % HANG SENG 6,14 % KOSPI 14,15 % Shanghai 1,54 % Sensex 6,44 % IHSG 2,5 % Strait Times 1,61% KLSE 11,81% 11,08%
Nasdaq DOW JONES
14,15 % NIKEI 3,19 % HANG SENG 6,14 % KOSPI 14,15 % Shanghai 1,54 % Sensex 6,44 % IHSG 2,5 % Strait Times 1,61% KLSE 11,81% 11,08%
Nasdaq DOW JONES
Sumber: Bloomberg diolah Kuncoro, 2008
Kinerja Bursa Dunia 14 Oktober 2008
9
9
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
Semua sinyal itu menunjukkan perekonomian Ing-gris sedang mengarah ke resesi. Dana Moneter In-ternasional (IMF) meramalkan pertumbuhan ekonomi negeri Ratu Elizabeth itu tahun depan bakal minus 0,1 persen.Gelombang krisis ekonomi juga telah melanda neg-ara-negara Eropa Timur. Kredit yang dulu begitu mudah didapatkan di pasar keuangan sekarang sudah mulai susah didapatkan.
Ukraina sudah mengajukan proposal pinjaman ke Dana Moneter Internasional sebesar USD 14 miliar untuk menjaga likuiditas perbankan. Hungaria bahkan sudah memiliki utang dari Bank Sentral Eropa USD 6,7 miliar.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional mem-perkirakan Estonia dan Latvia akan menjadi korban ter-parah. Pertumbuhan ekonomi Estonia tahun ini diper-kirakan minus 1,5 persen dan tahun depan 0,5 persen. Ekonomi Latvia, negara di Laut Baltik, tahun ini bakal minus 0,9 persen dan pada 2009 minus 2,2 persen. Be-berapa negara lain yang mengandalkan pendapatan
dari minyak bumi atau gas, seperti Rusia, juga terpukul akibat kejatuhan harga komoditas tersebut.
Melihat situasi tersebut di atas, krisis keuangan yang menimpa Amerika Serikat dengan cepat merembet ke seluruh dunia. Setiap pemerintahan berusaha mence-gah agar krisis tidak semakin dalam melumpuhkan per-ekonomian negara masing-masing.
Dampak Krisis di Beberapa Kawasan
Dampak krisis ekonomi berbeda di setiap negara akan berbeda karena perbedaan kebijakan yang di-ambil dan fundamental ekonomi negara bersangkutan. Tentunya, negara yang paling rentan adalah negara yang fundamental ekonomi domestiknya tidak kuat. Kuatnya dampak krisis ini pun telah menyebabkan Bank Dunia dan IMF mengoreksi proyeksi tingkat per-tumbuhan ekonomi berbagai negara dan dunia.
Perekonomian AS, misalnya, diprediksi akan me-lemah menjadi tumbuh sebesar 1,3 persen pada 2008 dari sebelumnya sebesar 2,7 persen pada 2007. De-mikian pula, negara-negara di kawasan Eropa,
dipredik-10
11
eF eK D o M ino K risis K eu angan a M eri K a seri K aT11
DAMPAK KRISIS AMERIKA Bank / Institusi Keuangan / Korpo-rasi Bangkrut √ Inflasi meningkat √ Pertumbuhan Ekonomi berkurang √ Indeks Bursa Runtuh √
DAMPAK KRISIS KEUANGAN AS DI BEBERAPA KAWASAN
DAMPAK KRISIS ISLANDIA RUSIA BELANDA INGGRIS PERANCIS JERMAN
Bank / Institusi Keuangan / Korporasi Bangkrut √ √ √ √ √ √
Bank / Institusi Keuangan / Korporasi Merugi √ √ √ √ √ √
Inflasi meningkat √ √ √ √ √ √
Pertumbuhan Ekonomi berkurang √ √ √ √ √ √
Indeks Bursa Saham Runtuh √ √ √ √ √ √
AMERIKA SERIKAT
11
11
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
si akan melemah dari 2,6 persen pada 2007 menjadi 1,4 persen pada 2008. Adapun laju pertumbuhan Indonesia diperkirakan turun dari 6,5 persen 2007 menjadi sekitar 6,0 persen pada 2008 (IMF, 2008).Contoh beberapa negara yang relatif terpengaruh dampak krisis keuangan global di beberapa kawasan, dapat diuraikan sebagai berikut:
Kawasan Eropa
Salah satu negara yang saat ini terkena dampak
krisis finansial AS cukup parah adalah Islandia. Sebe -lumnya, Islandia berada di tingkat ke 4 negara termak-mur dengan GNP per kapita sekitar USD60,000 (IMF, 2008).
Setelah krisis mata uang Islandia, Krona, terdepre-siasi hingga 30 persen. Sementara itu, bank sentral Islandia tidak mampu menjamin simpanan masyarakat disebabkan utang luar negeri perbankan swasta yang besarnya 11 kali lipat dari PDB negara itu.
Sebelum krisis, Bank Sentral Islandia menjalankan kebijakan inflation targeting yaitu menaikkan suku
bun-ga apabila inflasi di atas target dan menurunkannya di saat inflasi berada di bawah target.
Kebijakan tersebut umumnya berhasil diterapkan pada negara-negara besar, tapi tidak tepat untuk nega-ra kecil seperti Islandia. Selama kebijakan tersebut
ber-langsung, tingkat inflasi berada di atas rata-rata target inflasi dengan suku bunga yang mencapai lebih dari 15
persen.
DAMPAK KRISIS KEUANGAN AS DI BEBERAPA KAWASAN
DAMPAK KRISIS CINA
TAI-WAN SINGA-PURA PHILIPI-NA JEPANG TRALIA AUS-Bank / Institusi Keuangan / Korpo-rasi Bangkrut √ Bank / Institusi Keuangan / Korpo-rasi Merugi √ √ √ √ √ √ Inflasi meningkat √ √ √ √ √ √ Pertumbuhan Ekonomi berkurang √ √ √ √ √ √
Indeks Bursa Runtuh √ √ √ √ √ √
12
13
eF eK D o M ino K risis K eu angan a M eri K a seri K aT13
Di negara kecil seperti Islandia, sukubunga yang tinggi merangsang perusahaan domestik dan rumah tangga untuk meminjam dalam mata uang asing. Hal tersebut jelas menarik minat spekulan valuta asing, seh-ingga menyebabkan besarnya arus masuk valuta asing yang mengakibatkan tajamnya perbedaan nilai tukar valuta asing.
Para spekulan dan debitor juga mendap-atkan keuntungan besar dari selisih suku bun-ga di Islandia dan luar negeri. Sama halnya dengan keuntungan yang diraih dari selisih
nilai tukar Krona dengan mata uang asing lainnya. Hal tersebut juga mendorong pertumbuhan ekonomi semu
dan meningkatkan laju inflasi.
Hasil akhirnya, adalah “balon-balon” ekonomi yang diakibatkan oleh interaksi suku bunga domestik dan banyaknya arus masuk mata uang asing ke Islandia. Perbedaan nilai tukar Krona Islandia yang jauh dari fun-damental ekonomi realistis mengakibatkan menurunnya nilai mata uang tersebut. Bank Sentral Islandia gagal
untuk mencegah naiknya nilai tukar dan gagal untuk menin-gkatkan cadangan devisa mer-eka.
Keadaan ini diperparah den-gan utang luar negeri bank-bank swasta yang terlalu besar, sehingga Bank Sentral Islandia tidak mampu lagi memberikan jaminan atas aset-aset bank tersebut maupun memberikan jaminan likuiditas. Berbeda dengan negara Eropa lainnya yang masih mampu men-jamin simpanan masyarakat pada level tertentu.
Kawasan Asia Pasifik
Sistem pasar bebas membuat negara-negara di
ka-wasan Asia Pasifik pun terkena dampak krisis keuan -gan global tersebut. Salah satu dampak tersebut bisa muncul melalui financial market.
13
13
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
bebas dari krisis finansial global. Pasar saham di Negeri Matahari Terbit itu juga terkena dampak krisis keuangan global. Ketika investor panik, akhirnya indeks sahamNikkei turun hingga 11,4 persen, penurunan terbesar
sejak 1987.
Sejak awal Oktober 2008, indeks saham di Negeri Sakura sudah terkoreksi sekitar 20 persen. Hal yang sama juga terjadi di hampir semua pasar modal di Asia. Selama sepekan, indeks Hang Seng Hong Kong su-dah turun 10,78 persen. Indeks Strait Times Singapura terkoreksi 9,53 persen dan Indeks Kospi Korea turun 8,37 persen.
Dampak lain yang bisa dilihat adalah anjloknya nilai ekspor negara-negara Asia. Contoh paling dekat ada-lah perekonomian Singapura dan Hongkong. Singapura dan Hongkong dapat terpengaruh besar, karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya rak-sasa-raksasa keuangan dunia.
Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim
secara besar-besaran ke Amerika Serikat
Laporan kuartal IV-2007, ekonomi Singapura yang biasanya tumbuh sekitar 9 persen, anjlok ke 6 persen. Itu menunjukkan kemerosotan ekonomi Amerika ber-dampak terhadap negara-negara Asia lainnya.
Bahkan ekonomi Cina, yang dianggap memiliki kekebalan terhadap resesi negara lain, juga terkena im-bas. Indeks Shanghai anjlok dan mulai mengantisipasi penurunan ekspornya ke AS dengan mengalihkan ke pasar regional tentunya termasuk Indonesia.
Tentu dibutuhkan kebijakan yang tepat bagi kita un-tuk mempertahankan pertumbuhan ekspor. Di samping itu, bagi negara-negara lain, perlu juga mewaspadai adanya kemungkinan membanjirnya produk Cina aki-bat tidak terpenuhinya pasar ekspor mereka di Amerika Serikat.
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
KEBIJAKAN BERBAGAI NEGARA
ATASI DAMPAK KRISIS GLOBAL
16
17
K ebi Ja K an berb a gai negar a a Tasi D a MP a K K risis17
Saat ini hampir semua negara-negara di duniamen-ganut sistem pasar bebas. Aliran dana bebas keluar masuk dari satu negara ke negara lainnya, dengan re-gulasi moneter yang bervariasi dari satu pemerintah ke pemerintah lainnya. Karena semua negara terkait satu sama lainnya dalam ekonomi global yang terintegrasi, semua pun berisiko untuk terimbas krisis.
Krisis keuangan Amerika terjadi karena banyak pembeli perumahan tidak dapat membayar kewajiban kepada lembaga pembiayaan perumahan. Baik, karena kenaikan suku bunga pinjaman Bank Sentral Amerika
(The Fed), ataupun karena tidak memenuhi syarat
se-bagai pengguna kredit sektor properti.
Padahal, lembaga pembiayaan perumahan terse-but memiliki kewajiban mencairkan subprime mortgage securities yang diperjualbelikan dengan pihak ke tiga (lembaga keuangan lain). Akibat tidak mampu memba-yar kewajiban, maka perusahaan pembiayaan peruma-han tersebut dinyatakan bangkrut.
Untuk menjaga likuiditas keuangannya, lembaga keuangan yang memiliki investasi portofolio dalam
ben-tuk subprime mortgage securities, juga melepas por-tofolio yang dimiliki. Tentu saja, pelepasan porpor-tofolio tersebut akan dipilih dalam bentuk instrumen investasi yang mudah dicairkan.
Aksi jual portofolio dalam jumlah yang besar itulah yang mengakibatkan kepanikan pasar modal di berba-gai negara. Sebab, transaksi yang dilakukan jelas te-rekam dan tercatat dalam pasar modal.
Seiring terjadinya kepanikan dalam pasar modal, pasar uang juga mulai bergejolak. Gejolak itu lebih dise-babkan karena kebutuhan terhadap mata uang tertentu untuk menjaga likuiditas keuangan. Lembaga-lembaga keuangan yang telah melepas portofolionya di pasar modal, melakukan aksi beli
Terjadinya flukstuasi kurs mata uang di pasar uang
regional, lambat laun mengakibatkan pertambahan laju
inflasi di beberapa negara, karena terjadinya
ketidak-setabilan harga komodi-komoditi tertentu. Pada
akhir-nya laju inflasi yang tidak terkontrol akan mengaki -batkan resesi dalam suatu negara, akibat runtuhnya sendi-sendi perekonomian negara tersebut.
17
17
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
Strategi Antisipasi Dampak Krisis Ekonomi GlobalAmerika Serikat
Beberapa langkah kebijakan yang diambil pemer-intah AS dalam mengatasi dampak krisis keuangan adalah memberikan dana talangan (bailout) sebesar USD700 miliar. Dana ini ditujukan untuk menyelamat-kan institusi keuangan dan perbanmenyelamat-kan demi mencegah krisis ekonomi yang berkepanjangan. Bailout dilakukan dalam bentuk pembelian surat utang subprime mort-gage yang macet dari investor.
Langkah berikutnya yang diambil Bank Sentral adalah menurunkan suku bunga 0,5 persen menjadi 1,5 persen. Hal tersebut dilakukan agar dana-dana masyarakat tidak mengendap di bank dan bisa meng-gerakkan sektor riil.
Selain itu, pemerintah juga berjanji membeli surat berharga jangka pendek USD900 miliar. Adapun Bank Sentral Amerika (Federal Reserve) juga mengumum-kan rencana radikal untuk menutup sejumlah besar utang jangka pendek yang bertujuan menciptakan
tero-bosan dalam kemacetan kredit yang mengakibatkan
krisis finansial global.
Kawasan Eropa
Islandia
Untuk mengatasi dampak krisis keuangan global, Pemerintah Islandia menasionalisasi Bank Glitnir yang bangkrut. Kemudian memecat Dewan Direksi
Lands-banki, bank terbesar di negeri tersebut yang juga
men-galami kebangkrutan serta memberikan suntikan dana pada bank-bank bermasalah.
Dalam mestabilkan nilai tukar mata uang Krona, yang diperdagangkan hingga 202 Krona per Eur 1 (satu Euro), pemerintah mematok kurs Krona Eslandia setara dengan 131 Krona per Eur 1.
Setelah otoritas moneter Islandia tidak mampu lagi menjamin aset-aset bank, Rusia memberikan suntikan dana USD 37 miliar ke bank-bank besar Islandia, de-mikian juga Swedia ikut turun tangan memberikan sun-tikan dana sebesar USD 702 juta.
18
19
K ebi Ja K an berb a gai negar a a Tasi D a MP a K K risis19
akan bisa recovery karena memiliki potensi cadangangas alam dan sumber daya manusia yang handal.
Inggris
Otoritas moneter Inggris menurunkan suku bunga 0,5 persen menjadi 4,5 persen. Penurunan tersebut merupakan yang terbesar dalam tujuh tahun terakhir. Langkah lain yang dilakukan adalah merekapitalisasi
Santander, Barclays, HBOS, HSBC, Lloyds TSB,
Na-tionwide Building Society, Royal Bank of Scotland,
dan Standart Chartered. Pemerintah juga menjamin
utang berupa surat berharga berjangka pendek dengan nilai USD 250 miliar untuk jangka menengah.
Bank of England juga menyediakan GBR 200
mil-iar (200 milmil-iar poundsterling) untuk pinjaman jangka pendek perbankan. Pemerintah bertemu dengan bank-bank diantaranya Royal Bank of Scotland, Lloyds TSB, dan Barclays, yang memerlukan suntikan dana masing-masing USD 26 miliar.
PENANGGULANGAN KRISIS NAMA NEGARA
Menurunkan Suku Bunga Inggris, Uni Eropa, Kanada, Swiss, Swedia
Menasionalisasi Perusahaan Inggris Mengambil alih untuk penyehatan Islandia
Pemberian Dana Talangan (Bailout) Belgia, Jerman,Inggris
Penutupan Bursa Rusia
Penutupan Bursa Rusia
Meningkatkan Jaminan Deposito Inggris, Jerman, Irlandia, Austria, Denmark, Yunani, Bulgaria, Perancis, Italia, Belanda, Portugal, Slovenia, Spanyol dan Swedia, Rusia, Ukrania dan Rumania Melarang Short Selling Inggris, Jerman, Italia, Irlandia,
Prancis dan Swiss KAWASAN EROPA
19
19
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
Perancis Presiden Perancis Nicolas Sarkozy di depan sidangkabinet mengatakan, negara siap menolong permoda-lan bank-bank utama di Perancis. Selain itu pemerintah Perancis juga meminta Jepang dan Pemimpin G-8 un-tuk melakukan pertemuan darurat unun-tuk menenangkan krisis.
Rusia
Pemerintah menutup bursa saham sebagai usaha untuk membendung kepanikan investor akibat penu-runan indeks saham, dan meminjamkan dana sebesar USD 37 miliar kepada bank-bank besar.
Pemerintah Rusia juga akan memberikan suntikan dana 500 miliar rubel kepada Sberbank, 200 miliar rubel pada VTB (Bank milik pemerintah). Selain itu Rusia juga menyerukan pertemuan G-8 dan meminta keterlibatan Cina dalam melakukan upaya bersama untuk menga-tasi krisis.
PENANGGULANGAN KRISIS NAMA NEGARA
Menaikkan Suku Bunga Indonesia
Menurunkan Suku Bunga Cina, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Australia, Salandia Baru
Mengambil alih untuk penyehatan Cina Pemberian Dana Talangan
(Bailout) Jepang
Membeli Kembali Saham (Buy
Back) Indonesia, Thailand
Insentif bagi Eksportir Indonesia, Thailand
Penutupan Bursa Indonesia, Thailand
Meningkatkan Jaminan Deposito Indonesia, Hongkong, Selandia Baru, Australia.
Melarang Short Selling Indonesia, Taiwan, Korea, Australia
KAWASAN ASIA DAN PASIFIK
20
21
K ebi Ja K an berb a gai negar a a Tasi D a MP a K K risis21
Uni EropaPara menteri keuangan 27 negara anggota Uni Eropa segera melakukan pertemuan untuk membahas jumlah simpanan maksimum yang akan mendapatkan jaminan pemerintah. Pembahasan dikhususkan untuk memastikan peningkatan jumlah simpanan yang dija-min oleh negara masing-masing. Selain itu, Uni Eropa juga menurunkan suku bunga Bank Sentral Eropa dari 0,5 persen menjadi 3,75 persen.
Kawasan Asia Pasifik
China
Untuk mengantisipasi dampak krisis ekonomi
Peo-ple’s Bank of China (PBOC) sebagai otoritas moneter
menurunkan suku bunga dari 7,2 persen menjadi 6,93 persen. Selanjutnya, Pemerintah China berjanji mem-bantu AS dalam mengatasi krisis.
Korea Selatan
Pemerintah Korea Selatan meminta teknokrat ekonomi menyiapkan rencana-rencana darurat dalam
mengantisipasi dampak terburuk krisis keuangan AS dan mengusulkan koordinasi dengan Menteri Keuan-gan Cina dan Jepang. Pemerintah juga meminta otori-tas perbankan menjamin kebutuhan dana perusahaan lokal, termasuk kebutuhan terhadap dolar AS.
Thailand
Federasi Industri Thailand mengajukan langkah-langkah kepada menteri keuangan untuk melakukan: - Penurunan bea masuk impor
- Peningkatan keyakinan konsumen - Penurunan pajak korporasi
- Meminta otoritas moneter untuk mengawasi produk-produk investasi asing yang dapat memperburuk kondisi keuangan Thailand.
Australia
Bank Sentral Australia menurunkan suku bunga menjadi 6 persen. Hal itu dilakukan untuk melonggar-kan likuiditas yang mulai terasa kurang di sistem per-bankan Australia.
21
21
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
Krisis finansial dunia yang berdampak terhadap bank-bank komersial, memukul mata uang, menekan ekspor, dan mengganggu produksi saat ini sudah mem-pengaruhi bisnis properti di sejumlah negara. Di China, penutupan pabrik sudah mulai terjadi.Merespons krisis keuangan global, umumnya bank sentral di berbagai negara memangkas suku bunga. Sebagian besar negara menjamin penuh seluruh dana masyarakatnya.
Sementara itu, di sektor pasar saham, guna menghindari berbagai transaksi dan penurunan harga saham terjadi karena irasionalitas pemodal. Kebanya-kan otoritas di berbagai negara melakuKebanya-kan pendekatan komprehensif, sistematis, dan serius untuk memastikan sektor tersebut tidak jauh terpuruk melalui berbagai in-strumen kebijakan moneter dan yang sejenisnya. Lembaga pemeringkat kredit internasional Standard
& Poor’s (S&P) menyebutkan, sebagian besar negara
Asia Pasifik akan menghadapi tantangan dari efek ba -bak pertama resesi Amerika Serikat (AS). Tetapi, ka-wasan ini diperkirakan mampu menepis dampak buruk
resesi AS.
Dalam laporannya, lembaga itu mengungkapkan implikasi-implikasi dampak resesi bagi fundamental ekonomi dan kredit sejumlah pemerintahan di kawasan
Asia Pasifik.
Menurut S&P, permintaan domestik dan perdagan-gan antarkawasan diperkirakan mampu mengatasi dampak langsung merosotnya permintaan impor AS.
Meskipun demikian, negara-negara Asia Pasifik juga
harus bertarung mengantisipasi risiko-risiko lain yang disebabkan melonjaknya harga-harga sumber energi dan makanan, ketatnya likuiditas global, serta kemung-kinan melemahnya pertumbuhan ekonomi negara-neg-ara Eropa.
Sebagian besar negara di kawasan Asia Pasifik,
pada dasarnya dapat mengatasi dampak krisis keuan-gan global, karena tingginya prospek pertumbuhan ekonomi di kawasan secara keseluruhan, kapasitas
ke-bijakan fiskal dan moneter untuk memitigasi efek buruk
resesi, dan solidnya dukungan dana bagi negara-nega-ra yang kunegara-nega-rang maju.
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
KETAHANAN EKONOMI INDONESIA
DI PUSARAN KRISIS GLOBAL
BAB III
24
25
K eT ahanan e Kono M i in D onesia D i P usar an K risis gl onal25
Fundamental ekonomi di Indonesia saat ini cukupkuat dalam menghadapi efek domino krisis keuangan global. Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa indikator. Pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat dari 5,5 persen di tahun 2006 menjadi 6,3 persen pada tahun 2008. Angka tersebut merupakan angka tertinggi sejak krisis tahun 1998.
Ekonomi Indonesia masih tumbuh sekitar 6.4% pada semester I 2008 (yoy), dengan tiga sektor yang menga-lami pertumbuhan tinggi (qoq) adalah sektor pertanian 5.1%, sektor pengangkutan dan komunikasi 4,1% dan sektor listrik, gas dan air bersih 3.6%.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan konsumsi yang meningkat dari 3,2 persen pada ta-hun 2006 menjadi 5,0 persen pada tata-hun 2007 dan diprediksikan akan terus meningkat di tahun 2008 dan 2009. Demikian juga pembentukan modal tetap bruto yang meningkat tajam dari 2,5 persen di tahun 2006 menjadi 9,2 persen (2007).
Sementara itu pengeluaran pemerintah menurun dari 9,6 persen menjadi 3,9 persen. Pertumbuhan
sek-tor pertanian meningkat dari 3,4 persen (2006) menjadi 3,5 persen (2007). Sektor ekonomi domestik ini tetap kuat di tengah perlambatan perekonomian global. Indikator lain tampak dari terkendalinya nilai tukar
rupiah terhadap dolar Amerika (USD), laju inflasi yang
relatif terkendali, menurunnya suku bunga (BI Rate), dan penerimaan dalam negeri (pajak) terus meningkat.
Secara regional, inflasi di negara-negara Asia juga
merupakan gejolak global yang hampir dialami oleh se-mua negara berkembang.
Inflasi Indonesia YoY sekitar 12,14% pada Septem -ber 2008 yang lebih disebabkan oleh faktor seasonality
yaitu Bulan Puasa dan Lebaran disamping karena im-ported inflation, sedangkan inflasi tertinggi dialami oleh
negara Vetnam sekitar 27.90% dan diikuti oleh Myan-mar sekitar 21.40%.
Ke depan inflasi Indonesia akan terjaga dimana seir -ing dengan menurunnya goncangan ekonomi domestik dan fundamental ekonomi Indonesia yang semakin kuat (Aksa, 2008).
25
25
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
0 1 2 3 4 5 6 7 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0 3 6 9 12 15 18 21GDP Growth SBI 1M Inflation Rate
Interest/Inflation Rate GDP Growth (%)
Sumber: BPS, Bank Indonesia 0 1 2 3 4 5 6 7 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0 3 6 9 12 15 18 21
GDP Growth SBI 1M Inflation Rate
Interest/Inflation Rate GDP Growth (%)
Sumber: BPS, Bank Indonesia
26
27
K eT ahanan e Kono M i in D onesia D i P usar an K risis gl onal27
lakukanuntuk mengurangi eksposure aset berisiko dankecenderungan ketatnya likuiditas global.
Dalam bursa domestik, perilaku penyesuaian porto-folio tersebut tercermin pada tekanan jual asing yang berlangsung hingga pekan pertama Agustus 2008. Na-mun, pada pekan kedua, investor asing kembali mem-bukukan net beli di pasar saham sebagai reaksi kon-disi pasar saham yang relatif undervalued. Pelemahan IHSG justru menjadi insentif bagi investor asing untuk membukukan net beli di pasar saham.
Investor asing mencatat net beli pada Agustus 2008 sebesar Rp467 miliar atau naik dari posisi sebelumnya yang membukukan total net jual sebesar Rp895,4 mil-iar. Namun demikian, besarnya penarikan oleh inves-tor asing sebelumnya telah menyebabkan penurunan kapitalisasi asing menjadi Rp667,7 triliun per Agustus 2008 dari Rp790,8 triliun per Desember 2007 atau turun sebesar Rp123 triliun.
Secara proporsional, kepemilikan asing pada Agus-tus 2008 juga menurun dan berada pada level 63,2 persen atau turun dari posisi Desember 2007 yang
ter-Kondisi Perekonomian Indonesia
1. Kondisi Pasar Modal
Masih berlanjutnya tekanan terhadap pasar keuan-gan global berimbas pada menurunnya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama Agustus 2008.
Pada akhir Agustus 2008, IHSG ditutup pada level 2165,9 atau melemah 6,01 persen dibandingkan den-gan bulan sebelumnya. Pelemahan IHSG tersebut teru-tama disebabkan oleh gejolak eksternal yang bersum-ber dari permasalahan di bursa global.
Dari sisi domestik, penurunan IHSG masih relatif tertahan dengan terjaganya faktor fundamental emiten dan efektifnya peran komunikasi Bank Indonesia dalam meyakinkan pasar.
Sejalan dengan perkembangan risiko global yang cenderung meningkat, penurunan IHSG juga merupa-kan dampak dari penyesuaian portofolio investor asing. Beberapa bursa global bahkan mengalami pelemahan
cukup signifikan sebagai dampak pengalihan dana in -vestor asing dari negara emerging markets. Hal itu
27
27
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
minyak tua. Nilai ekspor Indonesia Agustus 2008 mencapaiUSD 12,5 miliar atau mengalami penurunan sebesar 0,4 persen dibanding bulan Juli 2008. Secara kumulatif catat sebesar 66,3 persen.
2. Kondisi Sektor Riil
Akhir-akhir ini pendapatan riil per kapita men-ingkat dari Rp8.319.000 pada tahun 2006 menjadi Rp8.725.000 pada tahun 2007.
Di sektor ketenagakerjaan tingkat penganggu-ran terbuka menurun dari 10,3 persen (10,9 juta orang) pada tahun 2006 menjadi 9,1 persen (10,0 juta orang) pada tahun 2007. Jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 2,1 juta orang pada tahun 2008.
Selain itu terjadi peningkatan surplus neraca transaksi berjalan. Tercatat dari USD10,6 miliar (2006) menjadi USD11,0 miliar (2007). Peningka-tan tersebut disebabkan adanya kenaikan ekspor nonmigas sebesar 15,6 persen pada 2007. Meski demikian, ekspor migas masih menga-lami penurunan dari 13,3 persen (2006) menjadi 8,4 persen (2007). Salah satu penyebabnya ada-lah turunnya tingkat lifting produksi kilang-kilang
Negara 2003 Jan-Agust 2008 Perubahan
Amerika Serikat 14.7% 11.6% -3.1% Eropa 17.1% 13.9% -3.2% Jepang 14.4% 12.5% -1.9% RRC 5.9% 7.6% 1.7% India 3.4% 6.5% 3.1% Singapura 10.1% 9.8% -0.3% Korea Selatan 3.7% 4.4% 0.7 Taiwan 2.7% 2.6% -0.1 Malaysia 4.9% 5.6% 0.7 Australia 2.3% 1.9% -0.4 Lainnya 20.3% 23.7% 3.4
Sumber: BPS dan Depdag
Negara 2003 Jan-Agust 2008 Perubahan
Amerika Serikat 14.7% 11.6% -3.1% Eropa 17.1% 13.9% -3.2% Jepang 14.4% 12.5% -1.9% RRC 5.9% 7.6% 1.7% India 3.4% 6.5% 3.1% Singapura 10.1% 9.8% -0.3% Korea Selatan 3.7% 4.4% 0.7 Taiwan 2.7% 2.6% -0.1 Malaysia 4.9% 5.6% 0.7 Australia 2.3% 1.9% -0.4 Lainnya 20.3% 23.7% 3.4
Sumber: BPS dan Depdag
28
29
K eT ahanan e Kono M i in D onesia D i P usar an K risis gl onal29
nilai ekspor Indonesia Januari-Agustus 2008 mencapaiUSD 95,4 miliar atau meningkat 29,9 persen dibanding periode yang sama tahun 2007.
Adapun tujuan pasar ekspor Indonesia telah
se-makin terdiversifikasi, sehingga peran Amerika Ser -ikat dan Uni Eropa semakin menurun. Oleh sebab itu,
dampak langsung dari krisis finansial di Amerika Serikat
tersebut belum begitu dirasakan.
Untuk pasar Uni Eropa dan AS pangsa pasarnya tu-run, sedangkan ke Asia, Jepang dan Singapura cukup stabil, namun ke Asia emerging countries cenderung meningkat.
Cadangan devisa Indonesia naik dari USD 42,6 miliar pada tahun 2006 menjadi USD 56,9 miliar pada 2007, bahkan pada Maret 2008 telah mencapai USD 60 miliar.
3. Kondisi Moneter
Kondisi perbankan yang menjadi jantung perekono-mian Indonesia saat ini memiliki fundamental yang kuat. Hal itu tercermin dari angka rasio kredit bermasalah
(Non Performing Loan/NPL), likuiditas, dan permoda-lan.
NPL netto, setelah dikurangi provisi hanya 1,42 persen jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan BI sebesar 5 persen.
Likuiditas perbankan saat ini juga masih memadai, tercermin dari rasio kredit terhadap dana pihak ketiga
P ertumbuhan K redit P erbankan P ertumbuhan K redit P erbankan
29
29
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
(Loan to Deposit Ratio/LDR) yang masih dibawah 80 persen. Ketatnya likuiditas yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan oleh kelangkaan likuiditas yang ada di industri, tetapi lebih karena faktor psikologis dan kepemilikan likuiditas yang tidak merata antar bank. Banyak bank yang sebenarnya memiliki likuiditas ber-lebih, namun enggan meminjamkan ke bank lain karena khawatir sulit mendapatkan likuiditas pada masa
men-datang.
Permodalan perbankan domestik saat ini juga cu-kup kuat. Ini tercemin dari rasio kecucu-kupan modal yang sebesar 17 persen, jauh di atas angka maksimum 8 persen. Fundamental yang kuat tersebut akan membuat perbankan tetap optimal melakukan fungsi intermediasi untuk mendorong perekonomian.
Dalam hal kebijakan moneter diarahkan untuk
men-capai sasaran inflasi yang ditetapkan, yakni 8,0 pers -en pada tahun 2006 dan 6,5 pers-en pada tahun 2007.
Pada 2006 – 2007, inflasi berhasil dikendalikan pada
kisaran 6,6 persen.
Hingga akhir September 2008, laju inflasi mencapai
10,47 persen, hal itu disebabkan kenaikan harga min-yak dunia pada kisaran USD130 per barel sehingga pemerintah melakukan pengurangan subsidi BBM yang mengakibatkan harga kebutuhan pokok naik. Namun, pemerintah berupaya untuk tetap mengendalikan laju
inflasi.
Kebijakan fiskal dengan penerbitan SUN (Surat
Utang Negara) pada tahun 2005 mencapai Rp22.574,7 L oan To Depos it R atio (L DR )
L oan To Depos it R atio (L DR )
30
31
K eT ahanan e Kono M i in D onesia D i P usar an K risis gl onal31
miliar dan meningkat menjadi Rp35.985,5 miliar pada2006. Selama 2006, melalui penerbitan SUN di pasar perdana domestik berhasil diserap dana sebesar Rp42.578,6 miliar dan secara keseluruhan jumlah SUN yang beredar baik domestik maupun internasional sampai dengan akhir Desember 2006 telah mencapai Rp742.727,9 miliar.
4. Ketenagakerjaan dan Peluang Kerja
Peningkatan kesempatan kerja terus terjadi dari ta-hun ke tata-hun. Jika tata-hun 2004, kesempatan kerja yang tersedia sebesar 0,91 juta, pada tahun 2005 telah ada 1,5 juta kesempatan kerja. Di tahun 2006, menjadi 2,4 juta dan tahun 2007 meningkat lagi menjadi 4,4 juta
kesempatan kerja.
Dengan terus meningkatnya penciptaan kesempa-tan kerja, tentu saja angka pengangguran pun bergerak turun. Pada bulan Agustus 2006, angka pengangguran mencapai 11,93 juta orang atau 10,28 persen dari total angkatan kerja. Angka tersebut turun menjadi 10,54 juta orang atau 9,50 persen dari total angkatan kerja pada Februari 2007. Tren itu berlanjut hingga akhir 2007, di mana angka pengangguran turun menjadi sebesar
Tingkat Pengangguran dan Belanja Infrastruktur
6 7 8 9 10 11 12 2005 2006 2007 2008 2009 persen 0 10 20 30 40 50 60 70 Dalam Triliun Rp
Belanja Infrastuktur Tingkat Pengangguran (%)
2004 2005 2006 2007 2008 Angkatan Kerja 103973,4 105802,4 106281,8 108131,1 111477,4 Bekerja 90,1% 89,7% 89,6% 90,2% 91,5% Penganggur 9,9% 10,3% 10,4% 9,8% 8,5% Tambahan 911,2 1226,1 229,0 2406,0 4466,7
Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Februari 2008 Direktorat Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan, Badan Pusat Statistik (BPS)
31
31
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
10,01 juta orang atau 9,11 persen dari total angkatan kerja. Selama 2005 - 2007, jumlah lapangan kerja mening-kat sekitar 6 juta. Kesempatan kerja pada sektor indus-tri di perkotaan mengalami penurunan 229.000, akan tetapi di perdesaan meningkat sebesar 1,4 juta. Pada sektor pertanian di perkotaan, kesempatan kerjamen-galami sedikit penurunan sekitar 211.000. Sebaliknya, di perdesaan bertambah 107.000. Di sektor produksi, pertumbuhan lapangan kerja di dominasi sektor jasa yang berkontribusi sekitar 2,7 juta di perkotaan dan 2,2 juta di pedesaan.
Peningkatan lapangan kerja telah berhasil menu-runkan angka pengangguran terbuka. Penciptaan
33
K eT ahanan e Kono M i in D onesia D i P usar an K risis gl onal33
lapangan kerja produktif diupayakan terusdan konsisten agar pengangguran terbuka semakin berkurang untuk mencapai target sebesar 5,1 persen pada tahun 2009.
Dampak Krisis Keuangan Global
Krisis keuangan di AS mengakibatkan pengeringan likuiditas sektor perbankan dan institusi keuangan non-bank yang disertai berkurangnya transaksi keuangan. Penger-ingan likuiditas akan memaksa para inves-tor dari institusi keuangan AS untuk melepas kepemilikan saham mereka di pasar modal Indonesia untuk memperkuat likuiditas keuangan institusi mereka.
Aksi tersebut akan menjatuhkan nilai saham dan mengurangi volume penjualan saham di pasar modal Indonesia. Selain itu, beberapa perusahaan keuangan Indonesia yang menginvetasikan dananya di instrumen investasi lembaga keuangan di AS juga mendapat im-bas atas kejatuhan nilai saham tersebut.
Krisis keuangan di AS yang merambah ke beberapa negara lainnya juga akan mengancam perdagangan be-berapa produk ekspor Indonesia di pasar AS, Jepang, dan kawasan Uni Eropa yang telah berlangsung sejak lama. Hal ini sangat berbahaya mengingat produk eks-por Indonesia sangat bergantung pada negara-negara
3% 16% 6% 2% 4% 17% 6% 8% 4% 1% 3% 9% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16% 18% Indonesia Philipina Myanmar Singapore Vietnam Thailand
YTD (1 Jan 08 - 10 Oct 08) YoY (10 Oct 07 - 10 Oct 08)
Sumber: Bloomberg 3% 16% 6% 2% 4% 17% 6% 8% 4% 1% 3% 9% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16% 18% Indonesia Philipina Myanmar Singapore Vietnam Thailand
YTD (1 Jan 08 - 10 Oct 08) YoY (10 Oct 07 - 10 Oct 08)
Sumber: Bloomberg
33
33
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
tersebut, sedangkan di dalam negeri produk-produk tersebut kalah bersaing dengan produk impor China yang lebih murah.Krisis keuangan AS berdampak kepada kondisi keuangan semua negara tidak terkecuali untuk negara-negara Asia dan emerging market lainnya.
Nilai tukar mata uang negara-negara Asia menga-lami depresiasi terhadap mata uang dolar AS, namun apabila melihat kondisi Rupiah dibandingkan yang lain-nya masih menunjukkan kondisi yang lebih baik. Selama 1 Jan- 10 Oktober 2008, Rupiah hanya ter-depresiasi sekitar 3%, jauh dibawah nilai mata uang Philipina (16%) dan juga Thailand (17%). Hal ini menun-jukkan bahwa, ekonomi kita masih terjaga menghadapi krisis ekonomi.
Dengan demikian krisis keuangan global memberi-kan dampak langsung ataupun tidak langsung terhadap perkembangan ekonomi Indonesia.
Dampak langsung yang terjadi adalah kerugian pada sebagian kecil investor yang memiliki exposure
atas aset-aset yang terkait langsung dengan
institusi-institusi keuangan Amerika Serikat yang bermasalah, misalnya lembaga keuangan Indonesia yang menanam dana dalam instrumen Lehman Brothers.
Sedangkan dampak tidak langsung krisis finansial
global, antara lain;
• Mempengaruhi momentum pertumbuhan ekonomi
Indonesia dalam bentuk pengeringan likuiditas, lon-jakan suku bunga, anjloknya harga komoditas, dan melemahnya pertumbuhan sumber dana.
• Menurunnya tingkat kepercayaan konsumen, inves
-tor, dan pasar terhadap berbagai institusi keuangan yang ada.
• Flight to quality, pasar modal Indonesia terkoreksi akibat indikasi melemahnya mata uang rupiah dan yang paling mengkhawatirkan apabila para investor yang saat ini masih memegang aset keuangan likuid di Indonesia mulai melepas aset-aset tersebut kar-ena alasan kejatuhan nilai saham akibat faktor ter-tentu.
• Kurangnya pasokan likuiditas di sektor keuangan
global khususnya bank-bank investasi akan ber-dampak pada cash flow sustainability perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Akibatnya, penda-naan ke capital market dan perbankan global akan mengalami kendala dari aspek pricing (suku bunga) dan availability (ketersediaan dana).
• Menurunnya tingkat permintaan dan harga komoditas
utama ekspor Indonesia tanpa diimbangi
peredam-an laju impor secara signifikperedam-an akperedam-an menyebabkperedam-an defisit perdagangan yang semakin melebar dalam
beberapa waktu mendatang.
• Selanjutnya defisit perdagangan tersebut akan me -nyulitkan penggalangan capital inflow dalam jumlah
besar untuk menutup defisit itu sendiri seiring den -gan keringnya likuiditas pasar keuan-gan global. Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa yang berdampak negatif terhadap negara-neg-ara lainnya, tidak berimbas terlalu besar bagi Indone-sia. Hal ini disebabkan net ekspor Indonesia ke luar ne geri hanya 10 persen dari total produk domestik bruto
(PDB).
Pasar ekspor utama Indonesia adalah Jepang dan Singapura, kedua negara tersebut sangat merasakan dampaknya dari krisis keuangan global itu. Namun, pemerintah memahami bahwa upaya mengamankan sistem ekonomi secara menyeluruh harus terus dilaku-kan, khususnya menjaga kekuatan sektor riil.
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
MENYELAMATKAN
PEREKONOMIAN INDONESIA
BAB IV
36
37
M en Y el a M aTK an P ere Kono M ian in D onesia37
Sepuluh Arahan Presiden
Untuk mengantisipasi dampak krisis keuangan glob-al, pada tanggal 6 Oktober 2008, Presiden Susilo Bam-bang Yudhoyono memberikan arahan kepada jajaran Menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan para pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Arahan tersebut di-maksudkan untuk mempertahankan kestabilan pertum-buhan ekonomi Indonesia.
Arahan 1. Semua kalangan harus tetap optimis, dan bersinergi untuk memelihara momentum pertum-buhan ekonomi dan mengelola serta mengatasi dampak krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat. Oleh sebab itu, kita semua tidak boleh panik dan harus tetap menjaga kepercayaan masyarakat.
Pemerintah mengimbau masyarakat agar lebih tenang dan lebih rasional menghadapi dampak krisis ekonomi di AS. Perekonomian Indonesia pasti akan terkena imbas dari dampak krisis ekonomi AS, dan hal ini harus disikapi dengan tetap bersinergi dalam mengambil keputusan dan tindakan-tindakan yang
diperlukan.
Krisis yang dihadapi saat ini sangat berbeda den-gan krisis tahun 1997/1998. Beberapa persoalan funda-mental perekonomian, faktor pemburuk, dan isu-isu non ekonomi yang membuat krisis 1997/1998 sangat parah antara lain :
Pertama, penyebab utama krisis ekonomi 1997/1998 adalah Asia --bukan Indonesia--. Saat itu, fundamental ekonomi Indonesia sedang lemah. Pada saat yang ber-samaan terjadi kepanikan pasar, sementara kebijakan ekonomi dan politik cenderung tidak konsisten sehing-ga tidak dapat densehing-gan cepat mensehing-gatasi dampak yang terjadi.
Kedua, krisis ekonomi 1997/1998 diperparah karena
missgovernment saat itu. Antisipasi krisis 1997/1998 tidak terkoordinasi dengan baik, yang mengakibatkan krisis menjadi berkepanjangan.
Untuk menghindari hal tersebut terulang kembali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengum-pulkan seluruh instansi terkait untuk mendiskusikan tin-dakan antisipasi yang harus dilakukan.
37
37
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
sision pemerintahan di bawah Presiden Soeharto. Kondisi so-selama tiga tahun berturut-turut, sejak bubarnya sial politik yang terjadi saat itu sangat mempengaruhi situasi dan ketahanan perekonomian Indonesia. Ber-beda dengan kondisi kondisi politik dan pemerintahan saat ini yang jauh lebih stabil.Keempat, krisis ini sedikit banyak dipengaruhi kar-ena adanya insecurity of the ethnic chinese, di mana kaum Tionghoa ini mendapatkan perlakuan yang ber-beda.
Berbeda dengan kondisi saat ini, pemerintah telah menerbitkan peraturan pemerintah untuk menghilang-kan diskriminasi terhadap golongan tertentu, sehingga meningkatkan confidence building di dalam masyarakat yang pluralis.
Kelima, saat itu harga minyak mentah dunia jatuh hingga 20 dollar AS per barel. Kini, harga minyak jauh lebih baik berkisar USD 88-100-an per barel.
Dengan demikian, secara keseluruhan kondisi bang-sa Indonesia lebih baik untuk menghadapi dampak krisis keuangan global. Apalagi, saat ini kondisi pemerintah-an kita jauh lebih stabil dpemerintah-an pembpemerintah-angunpemerintah-an infrastruktur
bisa lebih memikat investor asing.
Di sisi lain, struktur ekonomi Indonesia tidak hanya bertumpu kepada sektor industri saja, tetapi juga men-gandalkan penerimaan dalam negeri dan berbagai sek-tor unggulan, seperti seksek-tor pertanian yang cukup men-janjikan.
Kondisi perbankan dalam negeri saat ini cukup op-timis. Hal itu dapat dilihat melalui beberapa indikator, antara lain: tingkat rasio kecukupan modal (capital ad-equacy ratio/CAR) sampai Agustus 2008 sebesar 16 persen, jauh di atas batas minimal 8 persen. Sedang-kan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) mencapai 3,95 persen.
Proses recovery setelah krisis 1997/1998 berjalan dengan baik, bahkan pada tahun-tahun terakhir tanda-tanda perbaikan tersebut mulai dapat dirasakan. Untuk itu Presiden meminta seluruh bangsa Indonesia untuk memelihara momentum kebangkitan ekonomi nasional yang sudah dilakukan selama ini.
38
39
M en Y el a M aTK an P ere Kono M ian in D onesia39
Arahan 2. Dengan kebijakan dan tindakan yangte-pat, serta dengan kerja keras dan upaya maksimal, nilai pertumbuhan ekonomi tetap dipertahankan sebesar 6 persen. Komponen yang perlu dijaga antara lain: konsumsi, belanja pemerintah, investa-si, ekspor, dan impor. Tindakan yang perlu dilaku-kan adalah pemanfaatan perekonomian domestik dan mengambil pelajaran dari krisis 1998, di mana sabuk pengaman perekonomian domestik adalah sektor UMKM, pertanian, dan sektor informal.
Ekonomi Indonesia pada beberapa tahun terakhir
telah mengalami perbaikan yang signifikan. Pertumbu -han ekonomi dapat diperta-hankan di atas 6 persen se-lama beberapa tahun terakhir.
Dampak krisis keuangan global tentunya akan mempengaruhi target ekspor. Namun, diharapkan ang-ka angang-ka penurunannya tidak terlalu besar. Untuk itu pemerintah masih akan membahas target ekspor tahun 2010 dan nilai pertumbuhan ekonomi.
Nilai pertumbuhan ekonomi tersebut diharapkan tidak turun dari angka 6 persen agar penyerapan
ten-aga kerja tetap terjamin. Untuk mempertahankan per-tumbuhan ekonomi diangka 6 persen harus memenuhi beberapa syarat, yaitu menjaga tingkat konsumsi den-gan menjaga produksi, meningkatkan investasi, dan menjaga kinerja ekspor agar bisa terus meningkat. Membaiknya iklim investasi juga terlihat dari pen-ingkatan permintaan dari berbagai barang impor, khususnya capital goods dan raw material. Permintaan
imported capital goods sampai dengan Agustus 2008 mencapai USD11,62 miliar, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2007 sebesar USD6,62 mil-iar.
Hal yang sama juga terjadi pada permintaan impor-ted raw material yang sampai Agustus 2008 mencapai USD60,9 miliar, lebih besar dibanding periode yang sama tahun 2007 yang baru mencapai USD34,29 mil-iar. Peningkatan penjualan berbagai barang konsumsi juga menunjukkan tren kepercayaan konsumen yang masih sangat kuat.
Belajar dari penanggulangan krisis 1997/1998, untuk mengamankan tingkat pertumbuhan ekonomi dilakukan pemberdayaan sektor UMKM, pertanian, dan sektor
39
39
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA DALAM JALUR DIATAS 6 persen DENGAN FOKUS KEBIJAKAN 2008-2009Fokus 1: Stabilisasi Perekonomian untuk menekan tingkat Inflasi
Fokus 2: Perbaikan Efektifitas Anggaran
Fokus 3: Reformasi Ekonomi - Perbaikan Iklim Investasi
- Reformasi sektor keuangan dan Restrukturisasi BUMN - Ketahanan Energi
- Sumber Daya Alam, lingkungan dan Pertanian - Penguatan UMKM
- Percepatan Pembangunan Infratruktur (termasuk PPP) - Reformasi bidang Ketenagakerjaan
- Penyiapan Pelaksanaan
Pertumbuhan dan Sumber Pertumbuhan
5,0% 5,7% 5,5% 6,3% 6,3% 6,2% 0,0% 2,0% 4,0% 6,0% 8,0% 10,0% 12,0% 14,0% 16,0% 18,0% 2004 2005 2006 2007 2008* 2009* Kons RT, PMTB, Ekspor 3,0% 4,0% 5,0% 6,0% 7,0% PDB
GDP Konsumsi RT PMTB Ekspor Barang dan Jasa
Perkembangan Investasi 0 200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 2005 2006 2007 2008 2009 Triliun Rp 3,50 3,75 4,00 4,25 4,50
PMA/PMDN Capex BUMN Belanja Modal Pemerintah Kredit Perbankan Laba Ditahan Pasar Modal Lainnya ICOR
40
41
M en Y el a M aTK an P ere Kono M ian in D onesia41
- penyediaan infrastruktur dan stimulasi per-tumbuhan
- alokasi anggaran penanggulangan kemiski-nan tetap menjadi prioritas
- defisit anggaran harus “tepat” dan “rasional” atau tidak mengganggu pencapaian sasaran
“kembar” (growth with equity)
Pemerintah akan memantau defisit APBN sekali -gus memantau penggunaan anggaran kementerian dan lembaga. Pengeringan likuditas global jelas
mem-pengaruhi pembiayaan defisit APBN yang berasal dari
pasar.
Tahun ini pemerintah cukup yakin untuk tidak
menu-tup defisit APBN dengan penerbitan surat utang baru, meskipun diperkirakan defisit anggaran bisa mencapai Rp60,5 triliun. Untuk menutup defisit anggaran tahun
depan, yang ditargetkan 1,5 persen, pemerintah akan mencari sumber-sumber pembiayaan lainnya.
Arahan 4. Dunia usaha khususnya sektor riil harus tetap bergerak, agar penerimaan negara tetap
ter-formal. Dengan menggenjot perekonomian sektor padat karya tersebut, secara tidak langsung akan menyerap tenaga kerja lebih banyak dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Sektor UMKM merupakan sokoguru perekonomian Indonesia. Sejak tahun 1997 hingga 2006, jumlah usa-ha dengan skala UMKM mencapai sekitar 91,6 persen dari keseluruhan jumlah unit usaha di Indonesia. Sum-bangan UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 54 persen hingga 57 persen.
Di lain pihak, rencana pemerintah mengkompensasi penurunan devisa dari ekspor komoditas primer ke-pada industri jasa tenaga kerja dan pariwisata sangat memungkinkan. Mengingat pasar sektor tersebut masih terbuka dan tidak bergantung pada beberapa negara tertentu sebagaimana ekspor. Kontribusi domestik dari penerimaan TKI dan sektor pariwisata pun cukup be-sar.
Arahan 3. Optimasi APBN 2009 untuk memacu
per-tumbuhan dan membangun social safety net. Hal-
41
41
Me
M
aha
M
i Krisis Keu
angan
g
lob
al
PERBAIKAN KEMUDAHAN BERUSAHAContoh Kongkrit
Percepatan Pendirian PT Studi IFC dan
LPEM (2007) Hasil Monitoring Sis-minbakum (Juni 2008) > 30 Hari (95 persen dari
apli-kasi diselesaikan 7 hari)
Peringkat (dari 178 Negara)
133
123
2006
2007
Peringkat Kemudahan Berusaha
Survey tahun 2007 (Doing Business 2008, IFC)
Indonesia
Fokus perbaikan kemudahan berusaha, diantaranya:
- Percepatan Pendirian Usaha - Kemudahan Pendaftaran Tanah - Kemudahan Pembayaran Pajak - Kemudahan Akses Memperoleh Kredit - Pengurangan Hambatan Perdagangan