Demam adalah alasan yang paling sering

Teks penuh

(1)

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Orangtua tentang

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Orangtua tentang

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Orangtua tentang

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Orangtua tentang

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Orangtua tentang

Demam dan Pentingnya Edukasi 0leh Dokter

Demam dan Pentingnya Edukasi 0leh Dokter

Demam dan Pentingnya Edukasi 0leh Dokter

Demam dan Pentingnya Edukasi 0leh Dokter

Demam dan Pentingnya Edukasi 0leh Dokter

Terapul Tarigan, Chairul Adillah Harahap, Syamsidah Lubis

D

emam adalah alasan yang paling sering orangtua membawa anaknya berobat ke dokter.1,2,3,4,5 Diperkirakan 30% demam

sebagai alasan utama membawa anak ke spesialis.3,4

Orang tua merasa lega saat demam pada anak berhasil diturunkan, karena merasa penyakit akan segera sembuh bersamaan dengan turunnya demam.

Latar belakang. Latar belakang. Latar belakang. Latar belakang.

Latar belakang. Demam pada anak sering menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan dari orangtua. Keyakinan untuk segera menurunkan demam sudah melekat erat dalam benak orangtua.

Tujuan. Tujuan. Tujuan. Tujuan.

Tujuan. Untuk menilai pengetahuan, sikap dan perilaku orangtua tentang demam dan perlunya edukasi dari dokter.

Metoda. Metoda. Metoda. Metoda.

Metoda. Penelitian dilakukan di Poliklinik Anak RS. Dr. Pirngadi Medan pada bulan Maret 2006. Peserta yang ikut dalam penelitian ini adalah 100 orang ibu yang datang membawa anaknya untuk berobat ke Poliklinik Anak. Para ibu melakukan pengisian kuesioner terdiri dari 50 pertanyaan tentang pengetahuan dan sikap mereka tentang demam.

Hasil. Hasil. Hasil. Hasil.

Hasil. Kebanyakan orangtua mengetahui demam pada anak dari telapak tangan (38%), lokasi untuk merasakan demam adalah dahi (77%), dan jenis termometer yang dimiliki adalah digital (20%) dengan tempat pengukuran di ketiak (56%). Persentase batas demam menurut orangtua terbanyak menjawab > 37,5°C (31%). Hal yang ditakutkan orangtua bila anak demam yang terbanyak, dapat menyebabkan kejang (70%). Persentase terbanyak orangtua mendapat informasi tentang bahaya demam dari tenaga kesehatan (56%), obat penurun panas dari dokter adalah sirup (65%), jenis sendok dijelaskan oleh dokter (68%) dan dosis juga dijelaskan oleh dokter (71%). Tetapi kebanyakan dokter menganjurkan kompres dengan air dingin yaitu (46%) dan hanya 22 (22%) yang menganjurkan kompres dengan air hangat. Lokasi yang diajarkan untuk kompres adalah kebanyakan di dahi (57%), dan yang menganjurkan diketiak/ selangkangan (18%).

Kesimpulan. Kesimpulan. Kesimpulan. Kesimpulan.

Kesimpulan. Kecemasan yang berlebihan dari orangtua disebabkan karena edukasi mereka tentang demam tidak memadai. Begitu juga penanganan dokter terhadap demam pada anak sangat bervariasi. Diperlukan suatu standar edukasi tentang demam untuk dokter dan orangtua.

Kata kunci: pengetahuan orang tua, sikap orang tua, demam, edukasi dokter

Alamat korespondensi:

Dr. Terapul Tarigan, SpA. Subbagian Tumbuh kembang Pediatri Sosial. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/ RS. Dr. Pirngadi Medan.Telepon: (061) 4554891 E-mail : Terapul Tarigan Yahoo@.co.id

Dr. Chairul Adillah: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/ RS. Dr. Pirngadi Medan Telepon : ( 061) 4554891

(2)

Dua puluh tahun yang lalu, Barton Schmit meneliti miskonsepsi orangtua tentang demam yang dikenal dengan fobia demam karena ketakutan yang b e r l e b i h a n p a d a d a m p a k b u r u k d e m a m .1 , 3

Berdasarkan penelitian Schmit didapat 94 % dari orangtua menyatakan bahwa demam menyebabkan efek samping, 63% khawatir terjadi hal yang serius akibat demam, 18% menyatakan demam akan menyebabkan kerusakan otak.3 Fobia demam adalah

istilah untuk menggambarkan perasaan orangtua ketika anak demam. Berdasarkan penelitian, ketakutan orangtua itu karena beranggapan demam akan menyebabkan kerusakan otak, kejang, kematian dan kebutaan. Dua puluh tahun yang lalu fobia demam menyebabkan pengobatan yang berlebihan.6

Demam paling sering disebabkan oleh infeksi virus yang bersifat self limited, tetapi bisa juga disebabkan oleh bakteri yang bila tidak diterapi dapat menyebabkan meningitis atau infeksi lainnya.7 Penelitian sebelumnya

dari Bagian Gawat Darurat menilai prevalensi bakteri 1,6%-3% pada anak dengan temperatur >39°C tanpa sebab yang pasti.7 Baraff dkk, melaporkan terjadinya

bakteremia (3%-11%) yang mendukung pemberian antibiotik pada anak dengan demam >39°C, dengan atau tanpa jumlah leukosit >15.000/mm3.8,9

Berdasarkan penelitian Lee.GM, dkk mem-perlihatkan miskonsepsi tentang penyebab dan penanganan demam.10 Sejumlah keluarga percaya

bahwa bakteri dapat menyebabkan demam dan antibiotik diperlukan untuk pengobatan demam.10,11

Kami juga menilai faktor prediksi yang menyebabkan orangtua menggunakan pelayanan kesehatan.10,12

Kramer melaporkan ada perbedaan besar antara dokter yang bekerja di Bagian Gawat Darurat dan di tempat praktek dalam penanganan demam.11 Tata laksana yang

agresif di Bagian Emergensi sering terjadi karena dokter kurang berinteraksi dengan anak serta keluarganya dan tidak memadainya keterangan orangtua.11 Dokter

ternyata cenderung memikirkan kemungkinan bakteremia tersembunyi pada anak demam sehingga sering dilakukan uji laboratorium dan terapi berlebihan.3,11

Dokter spesialis anak sering menangani demam pada anak. Masalah tingginya temperatur pada anak & kecemasan orangtua adalah tantangan bagi para klinisi.13 J.G menyatakan bahwa penanganan demam

yang dilakukan oleh spesialis anak berbeda-beda. Perbedaan termasuk pemilihan antipiretik, indikasi

penggunaan, dosis dan frekuensi pemberian. Spesialis anak lebih sering menganjurkan asetaminofen dan ibuprofen, khususnya pada demam yang menetap.13,14

Bila anak demam, pemberian antipiretik hampir selalu dilakukan. Antipiretik diberikan untuk menurunkan suhu tubuh pada anak dengan riwayat kejang sebelumnya, atau ditujukan untuk mencegah terjadinya kejang demam yang sering dilalami anak usia 6 bulan-4 tahun. Namun seringkali diberikan dengan tujuan untuk mengatasi ketidaknyamanan anak dan mengatasi kegelisahan orangtua.15Meskipun

obat antipiretik merupakan pilihan pengobatan demam, namun dilaporkan tindakan fisik seperti kompres dapat menurunkan temperatur.4,15 Kompres

sebaiknya menggunakan air hangat. Pursell E, dkk, melaporkan perbandingan antara pemberian para-setamol digabung dengan kompres air hangat dengan pemberian parasetamol saja, ternyata lebih efektif dalam penurunan demam.9

Metoda

Penelitian dilakukan di Poliklinik Anak RS. Dr. Pirngadi Medan pada bulan Maret 2006. Dilakukan pengisian kuesioner pada 100 orang ibu yang datang membawa anak berobat ke Poliklinik Anak. Kuesioner berjumlah 50 pertanyaan bersifat pilihan. Penelitian ini bersifat deskriptif yang menggambarkan tentang perilaku, sikap orang tua terhadap demam serta perlunya edukasi dari dokter.

Hasil

Pada Tabel 1 tertera karakteristik responden yang ikut dalam penelitian. Usia ibu paling banyak ikut dalam penelitian ini 35-44 tahun sebanyak 46 orang (46%). Jumlah anak dari masing-masing responden terbanyak 3-4 anak adalah 52 orang (52%), dan rata-rata suku yang terbanyak datang ke Poliklinik Anak RS. Dr. Pirngadi Medan adalah suku Jawa sebanyak 33 (33%)

Pada Tabel 2, tertera bahwa kebanyakan orangtua mengetahui demam pada anak dengan telapak tangan (38%), lokasi untuk merasakan demam adalah di dahi (77%), dan jenis termometer yang dimiliki adalah digital (20%), sedangkan tempat pengukuran adalah di ketiak (56%).

(3)

Pada Tabel 3 menunjukkan 31% orang tua menyatakan batas demam terbanyak >37,5°C yaitu (31%), persentase orangtua yang sangat takut bila anak demam adalah 35%, yang takut 57% dan tidak takut 8%. Ditakutkan orangtua bila anak demam yang terbanyak dapat menyebabkan kejang (70%), persentase terbanyak orangtua mendapat informasi

tentang bahaya demam dari tenaga kesehatan (56%). Persentase yang menyatakan penyebab demam pada anak (25%), karena infeksi (24%), akibat masuk angin dan karena akan tumbuh gigi (16%). Orangtua segera mengompres anak ketika demam (48%), ada juga yang memberi obat penurun panas (38%), dan hanya (13%) yang membawa anak langsung kedokter. Kebanyakan orangtua mengompres anaknya dengan menggunakan air dingin sebanyak (57%).

Tabel 3. Pengetahuan dan sikap orang tua menghadapi anak demam

Parameter %

Pengetahuan orangtua tentang batas demam

• 36,5-37,50C 12

• >37,50C 31

• 380 25

• Tidak menjawab 32

Perasaan ketika anak demam

• Sangat takut 35

• Takut 57

• Tidak takut 8

Anggapan orang tua bila anak demam

• Dapat menyebabkan kejang 70 • Menunjukkan penyakit berat 10 • Pengalaman buruk orang lain/saudara 12 • Pengalaman buruk yang pernah dialami 8 Sumber informasi tentang bahaya demam

• Tenaga kesehatan 56

• Majalah, tabloid 16

• Keluarga, teman 28

Penyebab demam pada anak menurut orangtua

• Infeksi 25 • Masuk angin 24 • Tumbuh gigi 16 • Mau pinter 10 • Kelelahan 13 • Minum 12

Yang dilakukan orangtua ketika anak demam

• Kompres 49

• Obat penurun panas 38

• Pergi ke petugas kesehatan 13 Kompres yang diberikan orangtua ketika anak demam

• Air hangat 20

• Air dingin 55

• Air biasa 20

• Alkohol 5

Tabel 2. Persentase pengetahuan orang tua tentang demam pada anak (n=100)

Variabel n (%)

Mengetahui demam

Punggung tangan 27 (27)

Telapak tangan 38 (38)

Termometer 35 (35)

Lokasi merasakan demam

Dahi 77 (77)

Leher 15 (15)

lain-lain 8 (8)

Mengetahui lokasi merasakan demam

Kebiasaan 69 (69)

Tenaga kesehatan 20 (20)

Teman, keluarga 11 (11)

Jenis termometer yang digunakan

Air raksa 18 (18) Digital 20 (20) Tidak punya 62 (62) Cara penggunaan Ketiak 56 (56) Tidak menjawab 44(44)

Tabel 1. Karakteristik dari responden (n=100)

Karakteristik n (%)

Usia ibu (tahun)

25-34 34 (34)

35-44 46 (46)

45-54 20 (20)

Jumlah anak (orang)

=2 23 (23) 3-4 52 (52) >4 25 (25) Suku Batak 31 (31) Melayu 17 (17) Jawa 33 (33) Padang 12 (12) Sunda 4 (4) Nias 3 (3)

(4)

Pada Tabel 4 ini memperlihatkan bahwa, persentase obat penurun panas dari dokter adalah sirup (65%), jenis sendok dijelaskan oleh dokter (68%) dan dosis juga dijelaskan oleh dokter (71%). Tetapi kebanyakan dokter menganjurkan kompres dengan air dingin yaitu (46%) dan hanya 22(22%) yang menganjurkan kompres dengan air hangat. Lokasi yang diajarkan untuk kompres adalah kebanyakan didahi (57%), dan yang menganjur-kan diketiak/ selangmenganjur-kangan (18%).

Pada Tabel 5, tampak bahwa dokter selalu memberikan antibiotik bila anak demam adalah (48%), sering menganjurkan pemeriksaan darah pada anak yang demam (16%), kadang-kadang (36%), sangat jarang (39%)

Diskusi

Berdasarkan penelitian Barton Schmitt dua puluh tahun yang lalu menyatakan bahwa adanya ketakutan yang berlebihan dari orangtua terhadap demam pada anak. Dilaporkan 94 % dari orangtua menyatakan bahwa demam menyebabkan efek samping, 63% khawatir terjadi hal yang serius akibat demam, 18% menyatakan demam akan menyebabkan kerusakan otak.3

Dari

penelitian Crocetti,dkk memperlihatkan bahwa di Baltimore Maryland, 56% sangat kuatir tentang potensi bahaya demam pada anak mereka, 91% pengasuh percaya bahwa demam dapat menimbulkan efek berbahaya, 21% takut akan kerusakan otak dan 14% takut akan kematian.1,3

Dari penelitian ini didapat persentase orangtua yang sangat takut bila anak demam adalah (35%), yang takut(57%) dan tidak takut(8%). Dilihat bahwa yang ditakutkan orangtua bila anak demam yang terbanyak adalah dapat menyebabkan kejang (70%), dan hanya (13%) yang membawa anak langsung ke dokter. Di Baltimore Maryland 46% pengasuh menyatakan dokter sebagai sumber informasi mengenai demam pada anak. Pengasuh yang sangat kuatir lebih sering meminta pemeriksaan darah dan menemui dokter.1,3 Pada penelitian ini tampak bahwa

persentase terbanyak orangtua mendapat informasi tentang bahaya demam adalah dari tenaga kesehatan (56%).

Di Oldham Inggris hampir semua orangtua membangunkan anaknya pada malam hari untuk pemberian antipiretik, 64% dengan parasetamol dan kompres.1 Di Baltimore Maryland 85%

mem-bangunkan anaknya untuk memberikan antipiretik. 14% pengasuh memberikan asetaminofen, dan 44% mem-berikan ibuprofen dengan interval yang cukup sering. Dari 73% pengasuh yang mengompres anaknya, 24% mengompres pada saat suhu ³ 37,8°C, 18% meng-gunakan alcohol.1,3

Pada penelitian ini orangtua segera mengompres anak ketika demam (48%), ada juga yang memberi

Tabel 4.karakteristik edukasi yang diberikan oleh dokter

Variabel n(%)

Obat penurun panas dari dokter

Sirup 65(65)

Bubuk 27(27)

Tablet 8(8)

Jenis sendok dijelaskan oleeh dokter

Ya 68(68)

Tidak 22(22)

Tidak menjawab 10(10)

Dosis dijelaskan oleh dokter

Selalu 71(71)

Kadang-kadang 18(18)

Tidak pernah 7(7)

Tidak menjawab 4(4)

Edukasi kompres oleh dokter

Air hangat 22(22)

Air dingin 46(46)

Air biasa 16(16)

Tidak diajarkan 18(18)

Lokasi yang diajarkan

Dahi 57(57)

Ketiak/ selangkangan 18(18)

Seluruh tubuh 10(10)

Tidak diajarkan 9(9)

Tabel 5.Perilaku dokter menghadapi awal demam

Perilaku dokter Sering Kadang-kadang Tidak pernah Tidak menjawab

(%) (%) (%) (%)

Pemberian antibiotik 44 36 12 8

(5)

obat penurun panas (38%), dan hanya (13%) yang membawa anak langsung kedokter.

Di Mumbai hanya 20% orangtua mengetahui nilai normal suhu tubuh.1 Di Baltimore 25% memberikan

antipiretik pada suhu >37,8°C.3 Dalam penelitian ini

batasan demam pada anak menurut orang tua terbanyak menjawab adalah >37,5°C yaitu (31%), 25% menjawab >38°C. Di Massachussets 93% orangtua mengerti bahwa virus adalah penyebab demam, 66% mengatakan dapat disebabkan oleh bakteri.1 Dari penelitian ini didapat persentase yang

menyatakan penyebab demam pada anak adalah karena infeksi 25%, akibat masuk angina 24% dan karena akan tumbuh gigi 10%.

Pengobatan demam pada anak bervariasi bagi masing-masing dokter. Alasan untuk mengobati demam pada anak adalah untuk membuat orangtua dan anak merasa nyaman.15 Pengobatan di rumah tidak

perlu dilakukan bila suhu anak <38,3°C, kecuali ada riwayat kejang demam. Antipiretik yang dianjurkan adalah asetaminofen, ibuprofen, dan aspirin. Gunakan sendok takar obat, bukan sendok teh biasa.

Pada penelitian ini obat penurun panas dari dokter terbanyak adalah sirup (65%), jenis sendok dijelaskan oleh dokter (68%) dan dosis juga dijelaskan oleh dokter (71%). Tetapi kebanyakan dokter menganjurkan kompres dengan air dingin yaitu (46%) dan hanya 22(22%) yang menganjurkan kompres dengan air hangat. Lokasi yang diajarkan untuk kompres adalah kebanyakan didahi(57%), dan yang menganjurkan diketiak/ selangkangan (18%). Dokter selalu memberikan antibiotik bila anak demam adalah (48%). Dokter sering menganjurkan pemeriksaan darah pada anak yang demam (16%), kadang- kadang (36%), sangat jarang (39%).

Kesimpulan

Kecemasan yang berlebihan dari orangtua disebabkan karena edukasi mereka tentang demam tidak memadai. Begitu juga penanganan dokter terhadap demam pada anak sangat bervariasi. Diperlukan suatu standar edukasi tentang demam untuk dokter dan orangtua.

Daftar Pustaka

1. Soedjatmiko. Persepsi orangtua tentang demam dan

pentingnya edukasi oleh dokter. Dalam: Tumbelaka AR, Trihono PP, penyunting. Penanganan demam pada anak secara profesional. Jakarta : Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI- RSCM; 2005. h. 32-41.

2. Finkelstein JA, Christiansen CL. Fever in pediatric pri-mary care : occurance, management, and outcomes. J Pediatrics 2000 ; 105:260-6.

3. Crocetti M, Moghbeli N. Fever phobia revisited : Have parental misconceptions about fever changed in 20 years? J Pediatrics 2001; 107:1241-6.

4. Purssell E. Physical treatment of fever. Arch Dis Child 2000; 82: 238-9.

5. Kejang Demam. Diunduh dari URL. http:// pribadi.

Or.id/ diary/ 2005/03/31/kejang demam/

6. Demam. Diunduh dari URL. http.//pribadi. Or. Id/ di-ary/ 2004/ 11/ 03/ demam bukanlah musuh yang harus diperangi/

7. Isaacman DJ, Kaminer K. Comparative practice patterns of emergency medicine physicians managing fever in young children. J Pediatrics 2001; 108 :354-8. 8. Baker MD, Bell LM. The efficacy of routine outpatient

management without antibiotics of fever in selected in-fants. J Pediatrics 1999; 103:627-31.

9. Madsen KA, Bennet JE. The role of parentral

prefer-ences in the management of fever without source among 3 to 36 month old children: a decision analysis. J. Pedi-atrics 2006; 117:1067-76.

10. Lee GM, Friedman JF. Misconceptions about colds and predictors of health service utilization. J Pediatrics 2003; 111:231-6.

11. Bauchner H, Pelton SJ. Management of young febrile child: A continuing controversy. J Pediatric 1997; 137-8 12. Christakis DA, Rivara FP. Pediatricians awareness of and attitudes about four clinical practice guidelines. J Pedi-atrics 1998; 101:825-30.

13. Mayoral CE, Marino RV. Alternating antipyretics: is this an alternative? J Pediatrics 2000; 105:1009-12. 14. Pursssel E. Fever phobia revisited. Arch Dis Child 2004;

89: 89-95.

15. Hartanto S. Anak demam perlu kompres. Diunduh dari: URL. Htttp:// www. Balipost. Co.id/ BALIPOSTCETAK/ 2003/9/7/Kel 4.htm

Figur

Tabel 3.  Pengetahuan dan sikap orang tua menghadapi anak demam

Tabel 3.

Pengetahuan dan sikap orang tua menghadapi anak demam p.3
Tabel 1 . Karakteristik dari responden (n=100)

Tabel 1 .

Karakteristik dari responden (n=100) p.3
Tabel 2.  P ersentase pengetahuan orang tua tentang demam pada anak (n=100)

Tabel 2.

P ersentase pengetahuan orang tua tentang demam pada anak (n=100) p.3
Tabel 5.  Perilaku dokter menghadapi awal demam

Tabel 5.

Perilaku dokter menghadapi awal demam p.4

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :