POLA-POLA PEMBENTUKAN KEPENDEKAN RAGAM BAHASA INDONESIA INFORMAL
PADA TESTIMONIALS AND COMMENTS DALAM SITUS FRIENDSTER
DIAN PROBOWATI
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN DAN BUDAYA UNIVERSITAS INDONESIA
POLA-POLA PEMBENTUKAN KEPENDEKAN RAGAM BAHASA INDONESIA INFORMAL
PADA TESTIMONIALS AND COMMENTS DALAM SITUS FRIENDSTER
Skripsi
diajukan untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Humaniora
oleh
DIAN PROBOWATI
NPM 0704010134 Program Studi Indonesia
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN DAN BUDAYA UNIVERSITAS INDONESIA
Skripsi ini telah diujikan pada hari Selasa, tanggal 22 Juli 2008.
PANITIA UJIAN
Ketua Pembimbing
Dewaki Kramadibrata, M. Hum. M. Umar Muslim, Ph.D
Panitera Pembaca I
Asep S. Sambodja, S.S. Lita Pamela Kawira, M.Si.
Pembaca II
Dewaki Kramadibrata, M.Hum.
Disahkan pada hari ..., tanggal ... ... 2008, oleh:
Koordinator Program studi Indonesia, Dekan FIB UI,
Seluruh isi skripsi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis
Jakarta, 22 Juli 2008
Dian Probowati
Skripsi ini kupersembahkan
untuk mereka yang selalu kusayangi sampai kapan pun,
PRAKATA
Syukur alhamdulillah penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah memberiku kehidupan hingga saat ini. Tanpa kehendak-Nya karya ini tidak akan pernah ada. Terima kasih saya ucapkan kepada Koordinator Program Studi Indonesia, Ibu Dewaki Kramadibrata yang selalu sabar membimbing kami semua dari awal perkuliahan hingga saat ini. Terima kasih juga saya sampaikan kepada pembimbing akademik, Bapak Frans Asisi Datang yang telah mengajarkan dan memberikan bayak ilmu kepada saya. “Saya selalu senang diajarkan bapak di kelas”.
Tak lupa juga saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak M. Umar Muslim selaku dosen pembimbing skripsi saya. Terima kasih atas kesediaan Bapak yang selalu menyediakan waktu bagi saya untuk berkonsultasi. Terima kasih atas bimbingan, saran, dan masukan yang Bapak berikan. Kadang-kadang saya sampai terlena dengan kecerdasan dan kepintaran bapak.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para penguji skripsi, Ibu Lita Pamela Kawira dan Ibu Dewaki atas segala masukan dan koreksinya. Dan semua dosen yang telah mendidik saya selama empat tahun ini. Terima kasih untuk segala ilmu yang telah diberikan.
Terima kasih untuk kakak-kakakku, 2002 yang memberikan inspirasi dan mengenalkan pada kami apa itu sastra indonesia. Terima kasih untuk 2001, 2003, yang juga mengajarkan banyak hal dan membuat kami selalu kompak. Terima kasih untuk adik-adik 2005, 2006, 2007 yang membuat tidak terasanya perjalanan empat tahun ini. Terima kasih untuk teman-teman basket FIB UI! Senang bisa menjadi bagian dari tim yang merebut kembali medali emas Olimpiade UI dari tangan sekutu. Untuk bapak-bapak, ibu-ibu, mbak-mbak, mas-mas penjual di kantin, tanpa kalian aku tak akan semangat menuju kampus.
Untuk para pesepakbola dunia, terutama tim nasional Inggris dan skuad Sir Alex Ferguson, Manchester United, terima kasih selalu memberikan permainan terbaik untuk disaksikan. Terima kasih selalu menemani di tengah malam yang sunyi, kalian salah satu penyemangatku untuk mengerjakan skripsi ini. Kalian akan selalu kukagumi. Yakinlah saya akan menonton kalian secara langsung. David Beckham, sampai bertemu! Terima kasih juga penulis sampaikan kepada para musisi dunia dan Indonesia terutama, John Legend, Chris Brown, Kahitna, Afgan, Padi, dan lain-lain. Suara kalian selalu membuatku terjaga dan menyemangatiku untuk menyelesaikan skripsi ini. Dan untuk para penyiar radio yang terus semangat hingga malam menjelang pagi.
Terima kasih 2004! Yang begitu menyenangkan, menggairahkan, dan menyegarkan hari-hariku. Terima kasih kepada Yasmin yang sempat seminggu 6 kali bertatap muka dan selalu mengagetkan dengan gerakan-gerakan tak terduga terutama gerakan jalan sekretaris camat. Njoph si ibu yang genit selalu dan menerkam ganas laki-laki dari belakang sampai nggak mau lepas. Ayu gembul sexy-ku yang sangat perhatian dan sangat famous. Dea bebiku bala-bala yang centil dan banyak gaya, paling ada-ada aja. Uthe si kecil nomor satu yang mungil lagi centil, temen ketawa paling pas pas pas, nggak nyangka bisa depresi tsunami. Khakha si manja yang bukan hanya pemain terbaik, tetapi juga teman terbaik yang pernah kupunya. Lucky si kuki item yang cerewet dan lucu yang handphone-nya dibeliin siapa. Ega yang paling manis dan siap membantu, yang paling baik, temen nonton Thomas Cup bareng, temen nyabu pacarnya. Genih si kecil nomor dua yang kadang-kadang keribedan sendiri, tetapi selalu lekat dihati. Ida si kecil nomor tiga yang bijak, tetapi bijaknya lebih sering tertutup dengan tingkah dan kekonyolannya. Dhani yang sukanya ngegosip aja, paling tahu Conan yang kumau. Nitongku si anak paling banyak
cardigan, tolong kenalkan seorang pria padaku. Rosi yang sama-sama suka si emeng,
Fatya yang sedang menuju kecerahan wajah. Ayu Ipe, Putri, Siti, temen seperjuanganku yang paling mengerti akan kesibukan Pak Umar. Oi jadi ingin menikah juga kalau inget kamu. Riska terima kasih untuk sms-nya, Ati si toa
penggemar MU juga, Leni yang juga doyan emeng, tetapi nggak melihara. Heni, Fenty ternyata si kecil nomor 4 dan 5. Mila yang ternyata penggemar bola. Chacha si ibu pintar yang tak enggan berbagi ilmu. Ojab ratunya pantun Betawi. Novi yang selalu ceria. Eko, Joko, Catra, Subhi, Tablo, Ochan, Royo, Dimas, Edi, entah betapa gersangnya sastra Indonesia tanpa kalian. MT dan Ospi yang jauh di mata dekat di hati. Terima kasih kepada semua yang tak tersebut karena lupa. Terima kasih!
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman bermain, Farriy si item yang cantik dan selalu tampil modis, temen paling lucu se-antero dunia. Ichiy dan Yudiy yang paling tidak risih diintili saat pacaran. Imeng dan si Kidul teman kecilku hingga kini. Kalian teman terbaik.
Last, but not least, terima kasih kepada Ibu dan Bapak orang tuaku tersayang. Maaf kalau selalu membuat susah dan membuat kalian marah. Untuk Bapak, walaupun nun jauh di sana tetapi selalu dekat dihati. Terima kasih atas perjuangannya selama ini untuk menghidupi keluarga. Untuk kakak-kakakku yang juga tersayang di se-anterojagat raya, Mba Danik dan Mas Danang, terima kasih untuk semuanya yang telah kalian berikan. Untuk Embah, aku juga sayang Embah. Dan untuk sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan terkasih, terima kasih selalu meramaikan suasana di hati ini.
23 Juli 2008
DAFTAR ISI
PRAKATA vi
DAFTAR ISI ix
DAFTAR LAMBANG xiii ABSTRAK xiv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Rumusan Masalah 4 1.3 Tujuan Penelitian 5
1.4 Ruang Lingkup Penelitian 5
1.5 Sumber Data 6 1.6 Metode Penelitian 8 1.7 Landasan Teori 9 1.8 Penelitian Terdahulu 10 1.9 Manfaat Penelitian 10 1.10 Sistematika Penyajian 11
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kependekan Kata 12
2.2 Bentuk-Bentuk Kependekan 13
2.3.1 Huruf 17
2.3.2 Kata 19
2.3.3 Suku Kata 21
2.3.4 Diftong dan Gugus 23
BAB 3 POLA-POLA PEMBENTUKAN KEPENDEKAN
3.1 Data Kependekan 25
3.2 Pola Pembentukan Kependekan 26
3.2.1 Singkatan 26
3.2.1.1 Pengekalan dua huruf pertama sebuah kata 27 3.2.1.2 Pengekalan tiga huruf pertama sebuah kata 28 3.2.1.3 Pengekalan suku pertama dan huruf pertama dan terakhir suku 29
kedua sebuah kata
3.2.1.4 Pengekalan huruf pertama suku pertama dan huruf pertama dan terakhir
suku kedua sebuah kata 30
3.2.1.5 Pengekalan huruf pertama suku pertama dan pengekalan suku
berikutnya sebuah kata 32
3.2.1.6 Pengekalan huruf pertama setiap suku sebuah kata 33 3.2.1.7 Pengekalan huruf pertama suku pertama dan suku kedua dan pengekalan
huruf pertama dan terakhir suku ketiga sebuah kata 35
3.2.1.8 Pengekalan huruf pertama suku pertama dan suku kedua dan pengekalan suku terakhir sebuah kata 36
dan suku kedua sebuahn kata 37
3.2.1.10 Pengekalan huruf pertama dan terakhir suku pertama dan suku kedua sebuah kata 38
3.2.1.11 Pengekalan huruf pertama dan terakhir sebuah kata 40
3.2.1.12 Pengekalan huruf pertama dan terakhir suku kata pertama dan huruf pertama suku kedua sebuah kata 41
3.2.1.13 Pengekalan huruf pertama suku pertama dan dua huruf pertama suku kedua sebuah kata 42
3.2.1.14 Pengekalan huruf pertama dan terakhir suku kedua sebuah kata 43
3.2.1.15 Pengekalan huruf pertama sebuah kata 44
3.2.1.16 Pengekalan huruf pertama dan penggantian kata dasar dengan bilangan 45
3.2.1.17 Pengekalan huruf pertama dari setiap kata 46
3.2.1.18 Pengekalan huruf pertama kata pertama dan huruf pertama kata kedua dari gabungan kata 47
3.2.1.19 Pengekalan kata pertama dan pengekalan huruf pertama suku pertama 48
3.2.1.20 Pengekalan huruf pertama suku kedua tiap kata 49
3.2.1.21 Pengekalan huruf yang tak beraturan 50
3.2.2. Penggalan 50
3.3.2.1.1 Pengekalan suku pertama sebuah kata 51
3.3.2.1.3 Pengekalan tiga huruf pertama sebuah kata 52
3.3.2.1.4 Pengekalan empat huruf pertama 53
3.3.2.1.5 Pengekalan empat huruf pertama 53
3.2.3 Akronim 53
3.2.4 Kontraksi 55
3.2.4.1 Pengekalan suku pertama kata pertama dan suku terakhir kata Kedua 55
3.2.4.2 Pengekalan suku terakhir kata pertama dan pengekalan seutuhnya kata kedua 55
3.2.4.3 Pengekalan tiga huruf pertama tiap kata 56
3.2.4.4 Pengekalan dua huruf pertama kata pertama dan tiga huruf pertama kata kedua 57
3.2.4.5 Pengekalan suku pertama kata pertama dan tiga huruf pertama kata kedua 58
3.2.4.6 Pengekalan dua huruf pertama suku kedua kata pertama dan pengekalan seutuhnya kata kedua 58
3.2.4.7 Pengekalan dua huruf pertama suku kedua kata pertama dan pengekalan suku terakhir kata selanjutnya 59
3.2.4.8 Pengekalan suku pertama tiap kata 60
3.2.4.9 Pengekalan tiga huruf pertama kata pertama dan pengekalan seutuhnya kata kedua 60
3.2.4.10 Pengekalan suku pertama kata pertama dan pengekalan empat huruf
pertama kata kedua 61
3.2.4.11 Pengekalan tiga huruf pertama tiap komponen kata disertai pelesapan konjungsi 61
3.2.4.12 Pengekalan suku pertama kata pertama dan huruf pertama dan terakhir kata kedua 62
3.2.4.13 Pengekalan beberapa huruf yang tak beraturan pada sebuah kata 62
3.2.5 Lambang Huruf 63
3.3 Bentuk Khusus 63
3.3.1 Pengekalan huruf pertama suku pertama dengan penggantian vokal terakhir sebuah kata 64
3.3.2 Pengekalan huruf pertama suku pertama dan huruf pertama suku pertama dengan penggantian diftong terakhir dari kata 66
3.3.3 Pengekalan huruf pertama suku pertama dan huruf pertama setelah deret vokal dengan penggantian deret vokal di tengah kata 68
3.3.4 Penggantian kata dengan sebuah huruf 69
3.3.5 Pengekalan huruf atau gabungan huruf dengan penggantian huruf 70
3.3.6 Pengekalan suku terakhir kata pertama dengan penggantian seutuhnya kata kedua 71
BAB 4 KESIMPULAN 4.1 Kesimpulan 75
DAFTAR PUSTAKA 78
Lampiran 1: Tabel Frekuensi 80
Lampiran 2: Daftar kependekan kata 86
DAFTAR LAMBANG
( - ) = memisahkan suku kata
/ / = menunjukkan huruf fonemis
[ ] = menunjukkan bunyi/lafal
Bold = menandakan unsur yang dikekalkan
Italic = menunjukkan kependekan kata
ABSTRAK
DIAN PROBOWATI. Pola-Pola pembentukan Kependekan Ragam Bahasa Indonesia Informal dalam Testimonials and Comments pada situs Friendster. Di bawah bimbingan Bapak M. Umar Muslim, Ph.D. Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008.
Penelitian mengenai pola-pola pembentukan kependekan ragam bahasa Indonesia informal dalam Testimonials and Comments pada situs Friendster telah selesai dilakukan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui pola-pola pembentukan kependekan ragam bahasa Indonesia informal yang terdapat dalam
Testimonials and Comments pada situs Friendster, dan melihat pola pemendekan
yang paling sering digunakan dalam penulisan Testimonials and Comments pada situs Friendster.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyimak penggunaan bahasa. Kata-kata dicatat secara manual, dikelompokan berdasarkan bentuk-bentuknya, kemudian dianalisis pola-pola pembentukannya.
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa secara keseluruhan terdapat 5 bentuk kependekan dengan 47 pola pembentukan kependekan ragam bahasa Indonesia informal dalam Testimonials and Comments pada situs Friendster. Kependekan bentuk singkatan terdiri atas 21 pola pembentukan, bentuk penggalan terdiri atas 5 pola pembentukan, bentuk kontraksi terdiri atas 13 pola pembentukan, bentuk akronim dan lambang huruf masing-masing hanya terdiri atas satu pola pembentukan. Selain itu, terdapat bentuk khusus dengan 6 pola pembentukan. Kependekan bentuk singkatan dengan pola pengekalan huruf pertama suku pertama dan huruf pertama dan terakhir suku kedua merupakan pola pembentukan yang paling
sering digunakan dalam penulisan Testimonials and Comments pada situs Friendster (18,25%).
Bentuk kependekan dengan pola pengekalan huruf pertama suku pertama dan huruf pertama dan terakhir suku kedua sebuah kata dominan digunakan karena pola ini cenderung meluluhkan semua vokal dalam kata. Huruf vokal memiliki jumlah lebih sedikit daripada jumlah konsonan sehingga membuat kemungkinan salah pengertian makna antara penulis dan penerima pesan lebih kecil.
BAB 1 PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Kependekan kata dalam tindak komunikasi sehari-hari semakin sering ditemukan. Menurut Harimurti Kridalaksana (2007: 159), kependekan merupakan hasil dari proses pemendekan atau dalam istilah lain disebut abreviasi. Dalam bahasa Indonesia terdapat bentuk-bentuk kependekan, antara lain SMA untuk Sekolah
Menengah Atas, bpk untuk bapak, dst untuk dan seterusnya, dgn untuk dengan,
pemilu untuk pemilihan umum.
Bentuk kependekan bahasa Indonesia sebenarnya sudah sejak lama digunakan, bahkan dalam penulisan naskah proklamasi Presiden Soekarno menggunakan kependekan d.l.l untuk dan lain-lain. Sampai hari ini, kependekan kata itu pun masih terus mengalami pertambahan dengan munculnya ratusan atau bahkan ribuan bentukan baru. Menurut Kridalaksana (2007: 161), bentuk kependekan dalam bahasa Indonesia muncul karena terdesak oleh kebutuhan untuk berbahasa secara praktis dan cepat. Kebutuhan ini terasa di bidang teknis, seperti cabang-cabang ilmu, kepanduan, angkatan bersenjata, dan kemudian menjalar ke bahasa sehari-hari.
Nasional dipendekkan menjadi Depdiknas; Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dipendekkan menjadi ABRI; atau Pasukan Pengibar Bendera Pusaka menjadi
Paskibraka. Bentuk-bentuk kependekan tersebut lama-kelamaan menjadi suatu kata
yang lazim digunakan oleh pemakai bahasa.
Selain bentuk kependekan yang telah disebutkan, bentuk kependekan juga banyak digunakan dalam ragam bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari. Kata-kata yang digunakan dalam percakapan sehari-hari biasanya menggunakan kata-kata populer dan kata-kata-kata-kata percakapan. Bentuk kependekan dalam ragam bahasa informal muncul karena kebutuhan untuk berkomunikasi secara praktis dan cepat dalam kehidupan sehari-hari pemakai bahasa. Dari sana, kemudian muncul bentuk, seperti ngga dari bentuk enggak, gitu dari bentuk begitu, makasih dari bentuk terima kasih, dan bentuk kependekan lain.
Bentuk kependekan ragam informal tersebut mudah kita jumpai secara fisik (tulisan) pada beberapa media komunikasi berbasis bahasa tulis yang ada, misalnya pager dan pesan singkat pada telepon seluler. Selain itu, kini internet juga menjadi salah satu media komunikasi berbasis bahasa tulis yang tengah populer di lingkungan masyarakat. Salah satu situs internet yang menggunakan bentuk-bentuk kependekan kata ragam bahasa Indonesia informal ialah Friendster.
Sebagai situs yang menghubungkan jalinan antarteman, Friendster memungkinkan adanya interaksi berkomunikasi (secara tulisan) dan bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi pun kerap berupa bahasa Indonesia ragam informal atau bahasa percakapan. Dalam interaksi berkomunikasi itulah kependekan kata
sering digunakan. Interaksi berkomunikasi dalam Friendster biasanya dilakukan pada bagian yang disebut Testimonials and Comments. Tulisan dalam Testimonials and
Comments biasa disebut dengan testimonial.
Salah satu hal menarik yang dapat dilihat dalam Testimonials and Comments ialah cara penulisannya yang bermacam-macam, kadang-kadang terjadi pemendekan dan pemanjangan. Salah satu contoh penulisan Testimonials and Comments, misalnya
sm tmn'' doang . ga pnya pacaar sh gw . ntar aj dh nyari bule di snaa . haha . yaaah ga ktmu dong kta ? tp bali ko horor yaa skrg ? serem bgt kykna brita'' di tv . hehe :p
sama temen-temen doang. Nggak punya pacar sih gue. Entar aja deh nyari bule di sana. Haha. Yaaah nggakketemu dong kita? Tapi Bali horor ya sekarang serem banget kayaknya berita-berita di tv. Hehe :p
(dikutip dari Testimonials and Comments dalam profil Friendster milik a r n ii iiiiiiiiiiiiiii yang ditulis oleh Listy dalam situs Friendster)
Dari contoh di atas, dapat dilihat bahasa yang digunakan merupakan ragam bahasa informal. Kata entar, gw1 merupakan contoh penggunaan ragam bahasa cakapan. Selain itu, banyak ditemukan pemendekan. Dalam contoh, kata teman ditulis menjadi tmn, kita menjadi kta, banget menjadi bgt, sih menjadi sh, enggak menjadi ga.
Penelitian mengenai pemendekan kata ragam bahasa Indonesia informal, khususnya dalam situs Friendster bagian Testimonials and Comments menarik dilakukan. Sejauh ini, belum pernah dilakukan penelitian mengenai bentuk
1 Dalam
pemendekan kata ragam bahasa Indonesia informal atau percakapan. Selain itu, saya sebagai pengguna Friendster tertarik untuk melihat adanya fenomena kependekan kata dalam situs tersebut. Penelitian ini akan memperlihatkan pola pembentukan kependekan kata ragam bahasa Indonesia informal yang dipakai pada Testimonials and Comments dalam situs Friendster.
1. 2 Rumusan Masalah
Setelah melakukan pengamatan terhadap data penelitian, masalah yang terdapat dalam penelitian ini dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut.
1. Pola-pola pemendekan seperti apa saja yang terdapat dalam ragam bahasa Indonesia informal pada Testimonials and Comments?
2. Pola pemendekan kata seperti apa yang sering muncul/digunakan dalam penulisan Testimonials and Comments?
1. 3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan, skripsi ini disusun untuk
1. mengidentifikasi pola pembentukan kependekan kata yang terdapat dalam kolom Testimonials and Comments; dan
2. melihat kecenderungan pola pembentukan kependekan kata ragam bahasa Indonesia informal yang paling sering muncul dalam Testimonials and
1. 4 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dibatasi pada data berupa kependekan kata ragam bahasa informal atau cakapan bahasa Indonesia. Bentuk kepanjangan dari kependekan yang dimaksud dilihat berdasarkan konteks kalimat yang ditulis. Kependekan yang bukan dari bahasa Indonesia (daerah atau asing), seperti app dari approve, ilysm dari i love you so much, pic dari picture, tidak dimasukkan sebagai data penelitian. Kependekan yang berasal dari gabungan dua kata atau lebih, seperti makasih, yaudh, gapapa; dan kependekan yang hanya terdiri dari satu huruf, seperti c dari sih, d dari di, k dari ke, dimasukkan ke dalam data penelitian.
Selain itu, kependekan berupa gabungan kata dengan kata depan, seperti dbdg, ksmrg, juga dijadikan data dalam penelitian ini. Simbol-simbol reduplikasi, seperti (“) dan (2) diabaikan dalam penelitian ini. Komentar yang dipakai sebagai data adalah komentar yang ditulis oleh mereka yang berdomisili di Jakarta.
1. 5 Sumber Data
Data dalam penelitian ini diambil dari bagian Testimonials and Comments dalam situs Friendster. Friendster adalah sebuah situs jaringan sosial (social
networking website) yang menawarkan pertemanan di dunia maya (Setiawan dan
Sopyan, 2005:3). Jadi, situs ini digunakan untuk menjalin pertemanan antara satu orang dengan orang lainnya. Situs Friendster merupakan sebuah situs yang kemunculannya fenomenal dengan pemakainya yang mendunia. Pengambilan data
ragam bahasa Indonesia informal sering muncul dalam situs ini, khususnya pada bagian Testimonials and Comments.
Testimonials and Comments merupakan bagian dari Friendster yang dapat
diisi oleh teman pemilik profil untuk menggambarkan pribadi pemilik profil. Penggambaran tersebut menjadi semacam pengakuan dari orang lain terhadap diri pemilik profil tersebut. Selain itu, Testimonials and Comments dapat juga dijadikan tempat untuk sekadar bertegur sapa, bercerita, bahkan bercakap-cakapantara pemilik profil dan temannya.
Data yang dipakai dalam penelitian adalah Testimonials and Comments yang ditulis oleh anggota situs Friendster berusia 16—20 tahun. Menurut pengamatan saya, anggota situs Friendster usia 16—20 tahun cenderung lebih sering menggunakan kependekan kata dalam menulis Testimonials and Comments sehingga saya lebih mudah mendapatkan data yang diperlukan.
Testimonials and Comments yang digunakan sebagai data adalah milik dua
orang anggota situs Friendster dengan nama anggota Arnii iiiiiiiiiiiiiii (A) dan Karinaa (K), masing-masing berusia 16 tahun. Berdasarkan profil yang tertera, diketahui (A) adalah seorang siswi sekolah menengah atas di SMA Yasporbi Jakarta, sedangkan (K) adalah seorang siswi sekolah menengah atas di SMAN 34 Jakarta. Profil dua orang anggota Friendster tersebut dipilih secara acak, tidak berdasarkan alasan khusus, hanya sebagai perwakilan usia produktif pemakai kependekan kata, dan memperkaya perbendaharaan kata yang muncul dari orang yang berbeda.
Mengingat halaman Testimonials and Comments akan terus bertambah dan dapat terdiri dari ratusan bahkan ribuan halaman, pengambilan data tiap profil dibatasi pada 50 halaman pertama terkini saat penulis mengambil data tersebut (21 Januari 2008) dengan kurun waktu Juli 2007—21 Januari 2008. Setiap satu halaman Testimonials and Comments terdiri dari 10 komentar sehingga dari tiap profil didapat 500 komentar. Dari (A) diambil 500 komentar pertama dari 100 orang berbeda, sedangkan dari (K) diambil 500 komentar pertama dari 111 orang berbeda. Pengambilan data sebanyak 50 halaman pertama juga dibatasi oleh pengaturan dari pihak Friendster bahwa seseorang tidak dapat melihat testimonial milik orang lain lebih dari 50 halaman pertama saat membuka testimonial.
Setelah melihat dan mengamati sumber data, kata-kata bahasa Indonesia ragam informal yang berupa kependekan penulis kumpulkan. Kependekan yang terkumpul kemudian melalui pendataan. Secara keseluruhan didapat 515 kependekan kata dari 1000 komentar dalam Testimonials and Comments dari 211 orang berbeda.
1. 6 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode deskriptif. Metode deskriptif bersifat pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci. Penelitian dengan metode deskriptif (Sudaryanto, 1992: 62) adalah penelitian yang semata-mata hanya berdasarkan fakta yang ada atau fenomena yang memang secara empiris hidup pada penutur-penuturnya sehingga yang dihasilkan atau dicatat berupa bahasa yang bersifat apa adanya.
Langkah awal pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara meng-copy sumber data dari internet ke dalam program microsoft word. Kemudian data dikumpulkan dengan cara menyortir satu per satu kata yang dianggap kependekan kata. Secara keseluruhan ditemukan 547 kependekan kata dalam data. Setelah terkumpul, kependekan-kependekan tersebut kemudian diamati dan diseleksi. Setelah melewati tahap penyeleksian, dari 547 kependekan kata hanya terdapat 515 kependekan kata yang dinyatakan lolos untuk dijadikan data penelitian. Sebanyak 32 kependekan kata lain tidak dapat dijadikan data penelitian karena merupakan kependekan dari kata dalam bahasa asing (Inggris) dan merupakan kependekan dari nama orang atau nama panggilan seseorang. Bentuk kepanjangan dari kependekan tersebut saya ketahui dengan melihat konteks kalimat secara keseluruhan. Sebanyak 515 kependekan yang diteliti, selanjutnya melalui tahap pengklasifikasian untuk menentukan bentuk kependekan dan pola pembentukannya.
Dalam pengumpulan data saya menerapkan metode simak. Menurut Mahsun (2005: 90) dinamakan metode simak karena cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Setelah dilakukan penyortiran, kata-kata tersebut dicatat secara manual. Kata-kata yang telah dicatat kemudian melalui tahap pengamatan kembali, sebelum akhirnya dijadikan data penelitian.
Setelah semua data terkumpul, data tersebut dianalisis melalui beberapa langkah berikut.
1) Mengidentifikasikan dan menjelaskan pola pembentukan pemendekan kata dari data yang ada.
2) Mengklasifikasikan pola-pola yang telah diidentifikasi.
3) Melakukan penghitungan frekuensi pola-pola tersebut untuk mendapatkan kecenderungan pola-pola yang sering digunakan dalam penulisan
Testimonials and Comments.
1. 7 Landasan Teori
Dalam mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk kependekan kata dalam penelitian ini, saya menggunakan konsep abreviasi yang dikemukakan oleh Harimurti Kridalaksana (2007: 162) yang membagi kependekan ke dalam lima bentuk, yaitu singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf. Penjelasan mengenai konsep tersebut dapat dilihat pada bab selanjutnya.
1. 8 Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai pemendekan kata atau singkatan kata sebelumnya pernah dilakukan oleh Dian Alanudin (2003) dalam skripsinya yang berjudul “Bentuk-Bentuk Singkatan Kata Bahasa Indonesia pada Iklan Mini: Studi Kasus pada Iklan Mini Kompas Tanggal 1—31 Agustus 2002”. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Alanudin merupakan penelitian kebahasaan yang mendeskripsikan bentuk-bentuk singkatan yang dipergunakan pada bahasa iklan mini dalam surat kabar Kompas. Dari penelitian tersebut didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa terdapat lima bentuk singkatan yang dipergunakan dalam penulisan iklan mini Kompas, yaitu singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf.
Lydia Irawati (2003), meneliti singkatan dan akronim dalam media chatting dan sms. Penelitian yang dilakukan Irawati berdasarkan konsep yang dikemukakan oleh Amran Tasai. Penelitian tersebut menghasilkan pemakaian singkatan pada media
chatting dan sms dibagi ke dalam dua bentuk, singkatan dan akronim. Bentuk
singkatan diklasifikasikan menjadi enam pola pembentukan, sedangkan bentuk akronim diklasifikasikan menjadi dua pola pembentukan.
1. 9 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai pemendekan kata dalam ragam bahasa Indonesia informal, khususnya pada
Testimonials and Comments dalam situs Friendster. Selain itu, penelitian ini
diharapkan juga dapat dijadikan perbandingan terhadap penelitian mengenai pola-pola pembentukan kependekan kata ragam bahasa Indonesia formal, serta memberikan pengetahuan mengenai kependekan kata ragam bahasa Indonesia informal sehingga dapat juga memperkaya kajian bahasa Indonesia.
1. 10 Sistematika Penyajian
Penelitian ini dibagi menjadi empat bab. Bab pertama adalah bab pendahuluan yang berisi subbab latar belakang, penelitian terdahulu, rumusan masalah, tujuan penelitian, ruang lingkup penelitian, metode penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penyajian. Bab ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada pembaca mengenai penelitian secara garis besar.
Bab kedua adalah bab landasan teori. Bab ini menjabarkan teori-teori yang digunakan sebagai acuan oleh saya dalam menganalisis data penelitian.
Bab ketiga berisi analisis data. Penganalisisan data pada bab tersebut menggunakan kerangka teori yang telah dijelaskan sebelumnya pada bab kedua.
Bab keempat adalah bagian terakhir dalam penelitian ini. Bab tersebut berisi kesimpulan dan saran dari saya setelah melakukan penelitian terhadap bentuk pemendekan data pada Testimonials and Comments dalam situs Friendster.
BAB 2
LANDASAN TEORI
Dalam bab ini dikemukakan pendapat para ahli yang digunakan sebagai acuan dalam menganalisis data. Konsep-konsep yang dijelaskan dalam bab ini meliputi, huruf, kata, suku kata, diftong, dan gugus konsonan. Namun sebelumnya, terlebih dahulu juga dijelaskan pengertian kependekan, bentuk-bentuk kependekan, serta batasan bentuk kependekan yang digunakan dalam penelitian ini.
2. 1 Kependekan Kata
Kependekan kata dapat juga disebut singkatan. Dalam penelitian ini saya menggunakan istilah kependekan kata. Istilah kependekan kata merupakan istilah yang digunakan oleh Harimurti Kridalaksana dalam menyebutkan hasil dari proses pemendekan, sedangkan istilah lain untuk pemendekan disebut abreviasi. Menurut Kridalaksana (2007: 159), “abreviasi adalah proses penanggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga jadilah bentuk baru yang berstatus kata”.
2. 2 Bentuk-Bentuk Kependekan
Ada beberapa ahli yang memberikan penjelasan mengenai bentuk-bentuk kependekan, di antaranya Ateng Winarno, Raja Massita Raja Arifin, dan Harimurti Kridalaksana.
2. 2. 1 Ateng Winarno
Dalam Kamus Singkatan dan Akronim: Baru dan Lama, Ateng Winarno (1991: 11) membagi kependekan menjadi dua bentuk, singkatan dan akronim.
(1) Singkatan adalah bentuk pemendekan satu kata atau lebih menjadi satu huruf atau lebih yang pengejaannya dilakukan dengan mengucapkan huruf demi huruf yang bersangkutan. Misalnya, DPR dari Dewan Perwakilan Rakyat, SMA dari Sekolah Menengah Atas, sda dari sma dengan atas.
(2) Akronim ialah bentuk pemendekan satu kata atau lebih menjadi gabungan beberapa suku kata yang dilafalkan sebagai kata. Misalnya, SIM dari Surat
Izin Mengemudi, ABRI dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia,
Puskesmas dari Pusat Kesehatan Masyarakat.
2. 2. 2 Raja Masitta Raja Arifin
Raja Masitta Raja Arifin seperti yang diungkapkan Parsidi dalam Kamus
Akronim, Inisialisme, dan Singkatan (1994: vii) secara garis besar menggolongkan
(1) Singkatan kata terbentuk jika suatu istilah tidak ditulis secara penuh, tetapi beberapa bagian daripadanya, satu huruf atau lebih, digugurkan. Misalnya, tgl dari tanggal; PT dari Perseroan Terbatas.
(2) Inisialisme terjadi jika huruf pertama dari setiap elemen kata digunakan untuk membentuk nama. Inisialisme juga dapat dilafalkan sebagai sebuah kata, tetapi bisa juga diucapkan huruf per huruf. Misalnya, BCG dari Bacillus Calmette Guerin diucapkan [be], [ce], [ge]; UMNO dari United Malays National Organitations diucapkan sebagai sebuah kata, [umno].
(3) Akronim terbentuk jika suatu istilah tidak ditulis secara penuh, tetapi dengan menggabungkan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai sebuah kata. Misalnya, KONI dari Komite Olahraga Nasional Indonesia diucapkan [koni].
Dalam konsep yang dikemukakan Raja Arifin ini, batasan antara inisialisme dan akronim menjadi tidak jelas sebab bentuk inisialisme yang dapat dilafalkan sebagai sebuah kata dapat pula disebut akronim.
2. 3. 3 Harimurti Kridalaksana
Harimurti Kridalaksana (2007: 162) membagi kependekan menjadi lima bentuk, terdapat lima bentuk kependekan, yaitu singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf.
(1) Singkatan merupakan salah satu hasil proses pemendekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dieja huruf demi huruf maupun yang tidak
dieja huruf demi huruf. Misalnya, FSUI dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia; dng dari dengan.
(2) Penggalan adalah proses pemendekan yang mengekalkan salah satu bagian dari leksem. Misalnya, Prof dari Profesor;Bu dari Ibu;Pak dari Bapak.
(3) Akronim merupakan proses pemendekan yang menggabungkan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai sebuah kata. Misalnya, ABRI dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tidak diucapkan [a], [be], [er], [i], tetapi [abri].
(4) Kontraksi adalah proses pemendekan yang meringkaskan leksem dasar atau gabungan leksem. Bentuk kontraksi misalnya, takkan dari tidak akan; sendratari dari seni drama dan tari.
(5) Lambang huruf adalah proses pemendekan yang menghasilkan satu huruf atau lebih yang menggambarkan konsep dasar kuantitas, satuan atau unsur. Misalnya, g untuk gram; cm untuk sentimeter; Au untuk aurum.
Dari ketiga pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan mendasar mengenai bentuk-bentuk kependekan. Perbedaan bentuk kependekan hanya terletak pada penamaan dan batasan untuk bentuk kependekan kata yang lain. Misalnya, bentuk inisialisme menurut Winarno dan Kridalaksana dimasukkan ke dalam bentuk singkatan jika bentuk tersebut tidak dapat dilafalkan sebagai sebuah kata. Sebaliknya jika bentuk tersebut dapat dilafalkan sebagai sebuah kata, diklasifikasikan ke dalam bentuk akronim. Contoh, PGRI kependekan dari Persatuan
Guru Republik Indonesia oleh Kridalaksana dan Winarno dimasukan ke dalam bentuk singkatan, tetapi oleh Raja Arifin dimasukkan ke dalam bentuk inisialisme karena terbentuk dari pengekalan huruf pertama tiap komponen dan membentuk nama organisasi.
Selain itu, sama halnya dengan konsep Raja Arifin, dalam konsep yang diterapkan Kridalaksana juga masih terdapat ketumpangtindihan antara akronim dan kontraksi. Kependekan kata, seperti rudal, sendratari yang dimasukkan ke dalam bentuk kontraksi dapat juga dimasukkan ke dalam bentuk akronim jika merujuk pada definisi dari akronim itu sendiri. Belum ada batasan yang jelas mengenai hal tersebut.
Dalam melakukan penelitian ini, saya menggunakan konsep yang diterapkan oleh Harimurti Kridalaksana. Pemilihan tersebut berdasarkan anggapan saya bahwa konsep bentuk kependekan yang diterapkan oleh Kridalaksana lebih lengkap dan rinci penjelasannya. Namun dengan adanya masalah ketumpangtindihan yang telah disebutkan, saya merasa perlu adanya batasan konsep yang digunakan.
Dalam penelitian ini sebuah kependekan kata dimasukkan ke dalam bentuk akronim jika kependekan tersebut terbentuk dari pengekalan huruf pertama tiap kata dan dilafalkan sebagai sebuah kata. Jadi, akronim selalu terjadi dari dua kata atau lebih yang dipendekkan. Kependekan kata dimasukkan ke dalam bentuk kontraksi jika kependekan tersebut terjadi dari proses pengekalan beberapa bagian kata atau proses meringkas sebuah kata dan dapat dilafalkan sebagai kata. Jadi, kontraksi dapat terjadi dari satu kata atau lebih yang dipendekkan. Misalnya, orba dari Orde Baru dimasukkan ke dalam bentuk kontraksi karena terjadi dari pengekalan bagian kata,
sedangkan KONI dari Komite Olahraga Nasional Indonesia dimasukkan ke dalam bentuk akronim karena terjadi dari pengekalan huruf pertama tiap kata dan dapat dilafalkan sebagai kata.
2. 3 Beberapa Konsep untuk Menjelaskan Pola Pembentukan Kependekan
Kependekan kata dibentuk melalui beberapa proses pembentukan. Ada berbagai pengertian dan istilah yang diperlukan untuk menjelaskan pola pembentukan itu. Beberapa konsep dan istilah yang digunakan dan yang diperlukan dalam menganalisis pola pembentukan kependekan di antaranya huruf, kata, suku kata, diftong dan gugus konsonan.
2. 3. 1 Huruf
Menurut Gelb dalam Bahasa Sahabat Manusia (2004: 55), huruf adalah “a
system of human intercommunication by means of conventional visible marks [...]”,
atau sebuah sistem komunikasi antarmanusia yang menggunakan sarana konvensional yang bersifat visual. Misalnya, kalimat Itu Danu menggunakan aksara Latin, abjad Latin yang digunakan terdiri dari enam huruf, yakni i, t, u, d, a, n; ejaan yang digunakan adalah ejaan bahasa Indonesia.
Ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku saat ini disebut Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Huruf-huruf yang digunakan adalah huruf Latin. Huruf Latin merupakan huruf yang digunakan oleh sebagian besar bangsa di dunia ini untuk menuliskan bahasa mereka. Namun, meskipun menggunakan huruf yang sama, sistem
penggunaan huruf antara satu negara dengan negara lain berbeda karena pada hakikatnya huruf hanyalah suatu konvensi grafis. Bahasa Indonesia pun memiliki sistem ejaannya sendiri.
Huruf Latin yang digunakan terdiri dari 26 huruf. Dalam bahasa Indonesia nama ke -26 huruf itu adalah:
Jenis Huruf Nama Huruf
Kecil Kapital a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z [ a ] [ be ] [ ce ] [ de ] [ e ] [ εf ] [ ge ] [ ha ] [ i ] [ je ] [ ka ] [εl ] [εm ] [εn ] [ o ] [ pe ] [ ki ] [εr ] [εs ] [ te ] [ U ] [ fe ] [ we ] [εks ] [ ye ] [ zεt ]
Huruf a, i, u, e, o disebut huruf vokal. Huruf lainnya, yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, z, disebut huruf konsonan.
2. 3. 2 Kata
Kata merupakan istilah yang sering kita dengar dan gunakan, bahkan hampir
setiap hari dan setiap saat kata digunakan. Chaer (2003: 162) mengungkapkan dalam bukunya, para tata bahasawan tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata berdasarkan arti dan ortografi. Menurut mereka, kata adalah “satuan bahasa yang memiliki satu pengertian”; atau kata adalah “deretan huruf yang diapit oleh dua spasi, dan mempunyai satu arti.” Jadi, kata yang satu dipisahkan dari kata lainnya oleh satu spasi. Misalnya, dalam kalimat Nama saya Doni. Kalimat itu terdiri dari tiga buah kata, yaitu nama, saya, dan Doni. Ketiganya dipisahkan oleh satu spasi, dan masing-masing memiliki satu pengertian. Namun menurut Chaer, pendekatan arti dan ortografi masih banyak menimbulkan masalah sebab pendekatan ortografi hanya bisa diterapkan untuk bahasa-bahasa yang menggunakan huruf Latin.
Menurut Ramlan (1967: 7), kata ialah “bentuk bebas yang paling sedikit, atau dengan kata lain, setiap bentuk bebas adalah kata”. Kata yang tidak terdiri atas bentuk yang lebih kecil lagi disebut sebagai kata tunggal, sedangkan kata yang terdiri atas bentuk-bentuk yang lebih kecil lagi disebut kata kompleks. Seperti misalnya, kata berjalan merupakan kata kompleks yang terjadi dari ber- (bentuk terikat) dan jalan (bentuk bebas). Berbeda dengan bentuk sepeda yang tidak terdiri atas bentuk yang lebih kecil lagi.
Di antara bentuk yang dapat berdiri sendiri ada juga beberapa kata yang secara gramatika mempunyai kebebasan seperti halnya bentuk yang dalam ucapan dapat berdiri sendiri. Misalnya kata di, ke, dari, seperti dalam dari toko, di toko, ke toko, juga kata-kata seperti maka, adapun, sebab, karena, lah, kah, pun, meskipun, antara dan masih banyak lagi. Bentuk dari, di, ke (toko) terlihat terikat pada kata toko. Namun pada bentuk dari suatu toko, dari semua toko, bentuk-bentuk tersebut dapat dipisahkan dari kata toko. Demikian juga dengan bentuk lah. Oleh Ramlan bentuk-bentuk tersebut merupakan bentuk setengah bebas.
Djoko Kentjono (2005: 151) menyatakan apa yang dimaksud dengan kata ialah satuan gramatikal bebas yang terkecil. Kata disusun oleh satu atau beberapa morfem. Kata bermorfem satu disebut kata monomorfemis. Kata monomorfemis ditulis sebagai satu kesatuan atau berupa kata dasar, sedangkan kata bermorfem lebih dari satu disebut kata polimorfemis. Kata polimorfemis merupakan kata yang mengalami proses morfologis sebelumnya, misalnya pengimbuhan atau afiksasi. Imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Dalam kalimat, Dewa sedang
bernyanyi lagu cinta, terdapat empat kata monomorfemis, yaitu dewa, sedang, lagu,
dan cinta, dan satu kata polimorfemis, yakni bernyanyi.
2. 3. 3 Suku Kata
Menurut Alwi, dkk. dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2003: 55), “suku kata ialah bagian kata yang diucapkan dalam satu embusan napas dan umumnya terdiri atas beberapa fonem”. Misalkan kata, datang diucapkan dengan dua
embusan napas: satu untuk da- dan satu untuk -tang. Namun, sebenarnya suku kata tidak berarti selalu sesuai dengan pelafalan. Misalnya, kata caplok yang dilafalkan ca-plok tidak berarti terdiri atas dua suku kata ca dan plok karena pada kenyataanya kata caplok terdiri atas dua suku kata, cap dan lok. Jadi, suku kata dapat juga berarti pemisahan bagian kata di tempat yang benar dalam penulisan sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.
Kata dalam bahasa Indonesia dapat terdiri atas satu suku kata atau lebih. Betapa pun panjangnya suatu kata, wujud suku yang membentuknya mempunyai struktur dan kaidah pembentukan yang sederhana. Menurut Alwi, dkk, (2003: 76— 77), suku kata dalam bahasa Indonesia ada sebelas macam, sebagai berikut.
Jenis suku kata dalam Bahasa Indonesia
contoh
(1) satu vokal;
(2) satu vokal dan satu konsonan; (3) satu konsonan dan satu vokal; (4) satu konsonan, satu vokal, dan
satu konsonan;
(5) dua konsonan dan satu vokal; (6) dua konsonan, satu vokal, dan
satu konsonan;
(7) satu konsonan, satu vokal, dan dua konsonan; V VK KV KVK KKV KKVK KVKK
a-bu, su-a-tu, do-a
am-bil, ber-am-bisi, ma-in ba-ik, men-ja-di, sur-ga tak-si, ter-pak-sa, mo-nas
pla-giat, su-tra-da-ra, su-tra tran-sit, kon-trak
(8) tiga konsonan dan satu vokal; (9) tiga konsonan, satu vokal, dan
satu konsonan; dalam jumlah terbatas, ada yang terdiri atas, (10) dua konsonan, satu vokal,
dan dua konsonan; dan
(11) satu konsonan, satu vokal, dan tiga konsonan.
KKKV KKKVK
KKVKK KVKKK
stra-te-gi, stra-ta struk-tur
kom-pleks
korps
Setelah melihat penjabaran di atas, dapat dikatakan bahwa suku kata dalam bahasa Indonesia selalu memiliki vokal yang menjadi inti suku kata. Inti itu dapat didahului dan diikuti oleh satu konsonan atau lebih. Namun, suku kata dapat juga hanya terdiri dari satu vokal saja atau satu vokal dan satu konsonan.
Suku kata terdiri dari dua jenis, suku kata terbuka dan suku kata tertutup. Disebut suku kata terbuka jika berakhir dengan vokal, (K)V. Misalnya, a-bu, su-ka. Sebaliknya, jika berakhir dengan konsonan, (K)VK, disebut suku kata tertutup. Misalnya, tu-tup, da-pat.
2. 3. 4 Diftong dan Gugus Konsonan
Menurut Alwi, dkk. (2003: 27), diftong merupakan gabungan bunyi dalam satu suku kata, tetapi yang digabungkan adalah vokal dengan /w/ atau /y/. Jadi, /aw/ pada /kalaw/ dan /harimaw/ (untuk kata kalau dan harimau) adalah diftong, tetapi /au/ pada /mau/ dan /bau/ (untuk kata mau dan bau) bukan merupakan diftong. Hal itu
karena fonem /aw/ pada kata kalau dan harimau termasuk dalam satu suku kata, yakni /ka-law/ dan /ha-ri-maw/; fonem /a/-/u/ pada kata mau dan bau masing-masing tidak terdapat di dalam satu suku kata yang sama, yakni /ma-u/ dan /ba-u/.
Dalam bahasa Indonesia terdapat tiga buah diftong, yaitu /ay/, /aw/, dan /oy/ yang masing-masing dituliskan ai, au, dan oi. Kedua vokal pada diftong melambangkan satu bunyi vokal yang tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut harus dibedakan dari dua vokal berjejer.
Diftong : /ay/ /intay / intai
/aw/ /kacaw/ kalau
/oy/ /sepoy/ sepoi
Deretan biasa : /ai/ /gulai/ gulai (diberi gula)
/au/ /mau/ mau
/oi/ /mənjagoi/ menjagoi
Selain diftong, terdapat juga istilah gugus. Menurut Alwi, dkk. (2003: 27) gugus adalah gabungan dua konsonan atau lebih yang termasuk dalam satu suku kata yang sama. Jika gabungan dua konsonan tersebut tidak berada dalam satu suku kata yang sama maka tidak dinamakan gugus. Misalnya, /kl/ dalam /klinik/ dan /sl/ dalam /slogan/ adalah gugus karena terdapat dalam satu suku kata, yakni /kli-nik/ dan /slo-gan/. Gabungan konsonan yang bukan merupakan gugus selalu berada pada suku yang berbeda. Misalnya, /rc/ dalam /arca/; /kl/ dalam /maklum/. Keduanya terdapat
Dalam menganalisis pola pembentukan kependekan kata, perlu dijelaskan beberapa hal. Mengenai konsep kata dalam penelitian ini bentuk di, ke, dari, sebab,
dan, karena, dan lain-lain dianggap sebagai kata. Bentuk awalan atau akhiran yang
ditulis terpisah dari kata dasarnya dianggap sebagai kata seperti halnya kata depan. Misalnya, d pandang. Bentuk d pada contoh merupakan kependekan dari awalan di yang seharusnya ditulis menyatu dengan kata dasarnya. Namun karena dalam data ditulis terpisah dari kata dasarnya, bentuk d dari di- akan dianalisis tersendiri sebagai kata.
BAB 3
POLA-POLA PEMBENTUKAN KEPENDEKAN
Pada bab ini akan dijelaskan pola-pola pembentukan kependekan ragam bahasa informal yang terdapat pada data penelitian disertai analisisnya. Namun sebelumnya, akan diuraikan terlebih dahulu data dan langkah-langkah analisis.
3. 1 Data Kependekan
Dalam data yang diteliti, secara keseluruhan terdapat 515 kependekan kata. Kependekan-kependekan didapat dari bagian Testimonials and Comments dalam situs
Friendster milik dua orang anggota situs. Sebelum menganalisis data, perlu
diperhatikan beberapa hal yang diperlukan untuk mendukung analisis data, seperti tanda-tanda yang digunakan untuk menjelaskan pola-pola pembentukan kependekan.
Pada data yang dijadikan contoh, unsur kata yang dicetak tebal menandakan bahwa unsur tersebut dikekalkan. Bagian kata yang diberi garis bawah menandakan bahwa unsur tersebut mengalami penggantian dengan unsur lain. Tanda penghubung (-) digunakan untuk memisahkan suku kata. Tanda garis miring (/../) digunakan untuk menuliskan fonem. Tanda ([..]) digunakan untuk menuliskan bunyi.
Bentuk kependekan yang diikuti awalan atau akhiran atau pronomina dianalisis berdasarkan pola pembentukan pada kata dasarnya. Misalnya, kependekan kslhan dari kesalahan dianalisis berdasarkan kata dasarnya, yaitu pengekalan huruf
Demikian juga dengan bentuk singkatan yang disertai kata depan yang penulisannya digabung dengan kata dasar. Bentuk singkatan tersebut juga akan diklasifikasikan berdasarkan pembentukan kata dasarnya.
3. 2 Pola Pembentukan Kependekan
Untuk menentukan pola pembentukan kependekan dalam penelitian ini digunakan konsep pembentukan kependekan yang diterapkan oleh Harimurti Kridalaksana. Dalam penelitian ini kependekan dibagi ke dalam lima bentuk, singkatan, penggalan, kontraksi, akronim, dan lambang huruf. Setiap bentuk kependekan mempunyai pola pembentukan yang berbeda-beda.
3.2.1 Singkatan
Singkatan adalah hasil pemendekan berupa huruf atau gabungan huruf yang dapat dieja huruf demi huruf atau tidak dieja huruf demi huruf. Berdasarkan data yang diteliti, singkatan terbentuk dari sebuah kata atau lebih. Selain itu, singkatan dapat juga terbentuk dari kata yang telah mengalami proses morfologis, seperti afiksasi atau reduplikasi. Sebuah singkatan tidak bisa dilafalkan sebagai kata wajar. Bentuk kependekan yang merupakan kependekan dari awalan yang ditulis terpisah dari kata dasarnya diperlakukan sebagai satu kata yang dapat berdiri sendiri. Bentuk singkatan pada data yang diteliti terjadi dari proses-proses berikut.
Dalam data penelitian terdapat 14 kependekan kata dengan pola pemendekan pengekalan dua huruf pertama. Pola pemendekan ini menghasilkan dua pola kependekan, yakni VK dan KV. Pola VK cenderung terjadi pada kata yang terdiri atas dua suku. Huruf yang dikekalkan terletak pada suku yang berbeda. Suku pertama biasanya hanya terdiri dari satu huruf vokal.
(1) a – ja Æ aj
V KV VK
(2) a – ku Æ ak
V KV VK
Pada contoh (1) kata aja terdiri dari dua suku kata, a dan ja. Huruf yang dikekalkan adalah a yang berada pada suku kata pertama dan j pada suku kata kedua.
Hasil kependekannya ialah aj berpola VK. Demikian pula pada contoh (2), kata aku terdiri dari dua suku kata a dan ku. Huruf yang dikekalkan ialah a pada suku pertama
dan k pada suku kata kedua. Kependekan yang dihasilkan ialah ak yang berpola VK. Berbeda dengan pola VK, pola KV cenderung terjadi pada kata yang terdiri atas satu suku kata. Biasanya kata-kata tersebut cenderung terdiri dari tiga huruf berpola KVK.
(3) kok Æ ko
KVK KV
(4) nih Æ ni
Pada contoh (3) kata kok merupakan sebuah kata bersuku satu dengan susunan huruf berpola KVK. Huruf yang dikekalkan, yaitu dua huruf pertama k dan o.
Kependekan yang dihasilkan adalah ko yang berpola KV. Contoh (4) kata nih terdiri dari satu suku berpola KVK. Huruf yang dikekalkan, yaitu n dan i. Huruf n dan i
berada pada satu suku. Kependekan yang dihasilkan adalah ni yang berpola KV. 3.2.1.2 Pengekalan tiga huruf pertama sebuah kata
Dalam data penelitian terdapat 5 kependekan kata dengan pola pemendekan pengekalan tiga huruf pertama sebuah kata. Pola pemendekan ini cenderung terjadi pada kata yang terdiri dari dua suku atau lebih. Setiap suku pada kata tidak memiliki kecenderungan pola tertentu. Pemendekan ini juga tidak selalu menghasilkan kependekan dengan pola yang sama.
(5) ce - wek Æcew KV KVK KVK (6) no - vem – ber Ænov KVK (7) pe - la - ja – ran Æpel KVK (8) as - sa - la - mu - a - la - i - kum Æass VKK
Pada contoh (5) kata cewek terdiri atas dua suku, ce dan wek. Huruf yang dikekalkan pada kata cewek, yaitu c dan e yang berada pada suku pertama, dan w
yang berada pada suku kedua. Kependekan pada contoh (6) terjadi dari kata bersuku tiga.Unsur yang dikekalkan adalah tiga huruf pertama kata november, yaitu n, o dan
v. Pada contoh (7) kependekan pel terjadi dari kata bersuku empat. Unsur yang dikekalkan adalah tiga huruf pertama kata, pelajaran, yakni p, e, dan l. Demikian
pula contoh (8) kata assalamualaikum yang bersuku delapan mengalami pengekalan tiga huruf pertama, a, s, dan s.
3.2.1.3 Pengekalan suku pertama dan huruf pertama dan terakhir suku kedua sebuah kata
Dalam data penelitian terdapat 21 kependekan kata dengan pola pemendekan pengekalan suku pertama dan huruf pertama dan terakhir suku kedua sebuah kata. Pola pemendekan ini cenderung terjadi pada kata yang terdiri atas dua suku kata. Suku pertama selalu berupa suku terbuka, berpola V atau KV. Suku kedua selalu berupa suku tertutup KVK atau KVKK. Jika kependekan terjadi dari kata yang suku pertamanya hanya terdiri dari satu huruf vokal, kependekan yang dihasilkan akan berpola VKK. Jika terjadi dari kata yang suku pertamanya berpola KV, kependekan yang dihasilkan akan berpola KVKK.
(9) e - nak Æenk V KVK VKK (10) e - mang Æemg
V KVKK VKK
Pada contoh (9) kata enak terdiri atas dua suku e dan nak. Huruf yang dikekalkan ialah e yang merupakan suku pertama. Huruf yang dikekalkan pada suku
suku tertutup berpola KVKK. Huruf yang dikekalkan pada suku kedua, yakni m dan g. Contoh (9) dan (10) menghasilkan kependekan berpola VKK karena terjadi dari
kata yang suku pertamanya hanya terdiri dari satu huruf vokal. (11) ka - yak Ækayk
KV KVK KVKK (12) da - sar Ædasr KV KVK KVKK
Contoh (11) dan (12) adalah contoh pemendekan yang menghasilkan pola kependekan KVKK karena terjadi dari kata yang suku pertamanya berupa suku terbuka berpola KV. Contoh (11) kata kayak terdiri atas dua suku kata, ka dan yak. Suku pertama yang dikekalkan berupa suku terbuka berpola KV, ka. Huruf yang
dikekalkan pada suku kedua, yaitu y dan k. Contoh (12) kata dasar terdiri atas dua suku kata da dan sar. Suku pertama yang dikekalkan berupa suku terbuka berpola KV, da. Huruf pertama dan terakhir pada suku kedua yang dikekalkan, yaitu huruf s
dan r.
3.2.1.4 Pengekalan huruf pertama suku pertama dan huruf pertama dan terakhir suku kedua sebuah kata
Dalam data penelitian terdapat 94 kependekan kata dengan pola pemendekan pengekalan huruf pertama suku pertama dan huruf pertama dan terakhir suku kedua sebuah kata. Pola pemendekan ini cenderung terjadi pada kata yang terdiri atas dua suku dan selalu diawali huruf konsonan. Suku pertama cenderung berupa suku kata
terbuka berpola KV. Suku kedua selalu berupa suku tertutup. Pemendekan ini selalu menghasilkan pola KKK. (13) ka - gak Ækgk KV KVK KKK (14) ba – nget Æbgt KV KVK KKK (15) pa - ling Æplg KV KVK KKK
Pada contoh (13) kata kagak terdiri dari dua suku kata, ka dan gak. Suku pertama berupa suku terbuka berpola KV. Huruf pertama suku pertama yang dikekalkan, yaitu k. Suku kedua berupa suku tertutup berpola KVK. Huruf pertama
dan terakhir suku kedua yang dikekalkan, yaitu g dan k. Kata banget pada contoh (14) terdiri atas dua suku kata ba dan nget. Suku pertama berupa suku terbuka berpola KV. Huruf yang dikekalkan, yaitu b yang berada pada suku pertama. Suku kedua
berupa suku tertutup berpola KKVK. Huruf pertama dan terakhir pada suku kedua yang dikekalkan ialah g dan t.
Demikian pula pada contoh (15), kata paling terdiri atas dua suku kata pa dan ling. Suku pertama berupa suku terbuka berpola KV. Huruf yang dikekalkan adalah huruf pertama, p. Suku kedua berupa suku tertutup berpola KKVK. Huruf pertama
dan terakhir pada suku kedua yang dikekalkan ialah l dan g. Kependekan yang
Dalam data ditemukan pula beberapa kata yang suku pertamanya berupa suku tertutup berpola KVK, seperti pada contoh berikut.
(16) non - tonÆntn KVK KVK KKK
Pada contoh (16) kata nonton suku pertama dan kedua berupa suku tertutup KVK. Huruf yang dikekalkan yaitu huruf pertama suku pertama, n. Pada suku kedua
huruf yang dikekalkan, yaitu t dan n. Namun, perbedaan pola pada suku pertama
ternyata tidak mempengaruhi pola kependekan yang dihasilkan.
3.2.1.5 Pengekalan huruf pertama suku pertama dan pengekalan suku berikutnya sebuah kata
Dalam data penelitian terdapat 80 kependekan kata dengan pola pemendekan pengekalan huruf pertama suku pertama dan pengekalan suku berikutnya sebuah kata. Pola pemendekan ini cenderung terjadi pada kata yang terdiri atas dua suku. Setiap kata selalu diawali huruf konsonan. Suku pertama cenderung berupa suku terbuka berpola KV. Suku kedua dapat berupa suku terbuka ataupun suku tertutup. Kependekan yang dihasilkan dapat berpola KKV atau KKVK.
(17) cu - ma Æcma KV KV KKV (18) gi - la Ægla KV KV KKV (19) bi - kin Æbkin KV KVK KKVK
(20) ca - but Æcbut KV KVK KKVK
Kata cuma pada contoh (17) terdiri dari dua suku kata, cu dan ma. Suku pertama berupa suku terbuka berpola KV. Huruf yang dikekalkan pada suku pertama, yaitu huruf pertama c. Suku kedua yang dikekalkan utuh, ma. Contoh (18) kata gila yang terdiri atas dua suku kata, gi dan la. Suku pertama berupa suku terbuka berpola KV, huruf yang dikekalkan, yaitu g. Suku kedua berupa suku terbuka berpola KV
dikekalkan utuh, la. Pada contoh (17) dan (18) kependekan yang dihasilkan berpola
KKV sebab suku kedua berupa suku terbuka.
Berbeda dengan contoh (17) dan (18), contoh (19) dan (20) kependekan yang dihasilkan berpola KKVK. Pada contoh (19) kata bikin terdiri atas dua suku kata, bi dan kin. Suku pertama berupa suku terbuka berpola KV. Huruf pertama yang dikekalkan ialah b. Suku kedua yang dikekalkan berupa suku tertutup berpola KVK, kin. Demikian juga dengan contoh (20), kata cabut terdiri atas dua suku. Huruf pertama suku pertama yang dikekalkan, yaitu c. Dan suku kedua yang dikekalkan
berupa suku tertutup KVK, but. Perbedaan pola kependekan terjadi karena pada
contoh (19) dan (20) suku kedua berupa suku tertutup. 3.2.1.6 Pengekalan huruf pertama setiap suku sebuah kata
Dalam data penelitian terdapat 51 kependekan kata dengan pola pemendekan
pengekalan huruf pertama setiap suku sebuah kata. Pola pemendekan ini dapat terjadi pada kata yang bersuku lebih dari satu, bisa dua, tiga, atau lebih. Namun, setiap suku
cenderung berupa suku terbuka berpola KV. Pola pemendekan ini selalu menghasilkan kependekan dengan pola KK(K)(K).
(21) cu - ma Æcm KV KV KK (22) gi - tu Ægt KV KV KK (23) ke - te - mu Æktm KV KV KV KKK (24) ba - gai - ma - na Æbgmn KV KVV KV KV KKKK
Contoh (21) dan (22) terjadi pada kata yang terdiri atas dua suku kata. Pada contoh (21) kata cuma terdiri atas dua suku cu dan ma. Huruf pertama yang dikekalkan dari masing-masing suku kata, yaitu c dan m. Demikian juga pada contoh
(22), kata gitu terdiri dari dua suku, gi dan tu. Huruf pertama yang dikekalkan dari masing-masing suku, yaitu g dan t. Setiap suku dari kata cuma dan gitu berupa suku terbuka berpola KV.
Contoh (23) merupakan contoh yang terjadi pada kata bersuku tiga. Tidak berbeda dengan kata bersuku dua, pada kata ketemu huruf pertama yang dikekalkan dari masing-masing suku yaitu, k, t, dan m. Tiap suku pada kata ini juga berupa suku
terbuka berpola KV. Pada contoh (24) kata bagaimana terdiri dari empat suku. Tiap suku berupa suku terbuka. Huruf yang dikekalkan yaitu b, g, m, dan n. Kependekan
yang dihasilkan selalu berpola KK(K)(K), meskipun jumlah suku tiap kata berbeda jumlahnya.
3.2.1.7 Pengekalan huruf pertama suku pertama dan suku kedua dan pengekalan huruf pertama dan terakhir suku ketiga sebuah kata
Dalam data penelitian terdapat 8 kependekan kata dengan pola pemendekan pengekalan huruf pertama suku pertama dan suku kedua, dan pengekalan huruf pertama dan terakhir suku ketiga sebuah kata. Pemendekan pola ini terjadi pada kata yang terdiri atas tiga suku kata. Suku pertama dan kedua berupa suku terbuka berpola KV. Suku ketiga berupa suku tertutup berpola KVK. Pemendekan ini selalu menghasilkan kependekan berpola KKKK.
(25) ke - ma - rin Ækmrn KV KV KVK KKKK (26) pa - da - hal Æpdhl KV KV KVK KKKK (27) se - ko - lah Æsklh KV KV KVK KKKK (28) ma - sa - lah Æmslh KV KV KVK KKKK
Pada contoh (25) kata kemarin terdiri dari tiga suku kata, ke, ma, dan rin. Suku pertama dan kedua berupa suku terbuka berpola KV. Suku ketiga berupa suku tertutup berpola KVK. Huruf yang dikekalkan huruf pertama pada suku pertama dan kedua, k dan m. Huruf pertama dan terakhir pada yang dikekalkan pada suku ketiga,
yakni r dan n. Sama dengan contoh (25), contoh (26), (27), dan (28) tiap-tiap katanya
ketiga berupa suku tertutup berpola KVK. Kependekan yang dihasilkan berpola KKKK.
3.2.1.8 Pengekalan huruf pertama suku pertama dan suku kedua, dan pengekalan suku terakhir sebuah kata
Dalam data penelitian terdapat 10 kependekan kata dengan pola pemendekan pengekalan huruf pertama suku pertama dan kedua dan pengekalan suku terakhir sebuah kata. Pemendekan pola ini cenderung terjadi pada kata yang terdiri atas tiga suku kata. Tiap suku kata cenderung berupa suku terbuka berpola KV. Pemendekan ini cenderung menghasilkan kependekan berpola KKKV.
(29) be - gi - tu Æbgtu KV KV KV KKKV (30) ke - te - mu Æktmu KV KV KV KKKV (31) se - ga – la Æsgla KV KV KV KKKV
Pada contoh (29) kata begitu terdiri dari tiga suku kata, be, gi, dan tu. Tiap suku berupa suku terbuka berpola KV. Huruf pertama pada suku pertama yang dikekalkan, yaitu b. Huruf pertama pada suku kedua yang dikekalkan, yaitu g. Suku
ketiga dikekalkan seutuhnya, tu. Kependekan yang dihasilkan, yaitu bgtu yang berpola KKKV. Hal yang sama juga terjadi pada kata ketemu dan segala. Tiap sberupa suku terbuka berpola KV. Kata ketemu terdiri dari tiga suku kata, ke, te, dan mu. Huruf yang dikekalkan adalah huruf pertama suku pertama dan kedua, k dan t,
dan suku ketiga seutuhnya, mu. Kata segala terdiri dari tiga suku kata, se,ga, dan la. Huruf yang dikekalkan, yaitu s dan g pada suku pertama dan kedua, dan suku ketiga
utuh, la. Kependekan yang dihasilkan berpola KKKV.
Berbeda dengan contoh (29), (30), dan (31) pemendekan pada contoh (32) menghasilkan kependekan berpola KKKVK. Hal tersebut terjadi karena pada contoh (32) suku ketiga berupa suku tertutup berpola KVK sehingga pada pengekalan utuh suku ketiga pola KVK tetap dikekalkan.
(32) ke - ma - ren Ækmren KV KV KV KKKVK
Kata kemaren terdiri dari tiga suku. Suku pertama dan kedua berupa suku terbuka ke dan ma. Huruf yang dikekalkan pada suku pertama dan kedua, k dan m.
Suku ketiga mengalami pengekalan seutuhnya, ren. Dari contoh dapat terlihat
kependekan yang dihasilkan berpola KKKVK.
3.2.1.9 Pengekalan huruf pertama dan terakhir suku pertama dan suku kedua sebuah kata
Dalam data penelitian terdapat 14 kependekan kata dengan pola pemendekan pengekalan huruf pertama dan terakhir suku pertama dan suku kedua sebuah kata. Pemendekan pola ini cenderung terjadi pada kata yang terdiri atas dua suku kata. Baik suku pertama ataupun suku kata kedua kata tersebut selalu berupa suku tertutup berpola KVK atau KVKK. Pemendekan ini selalu menghasilkan kependekan berpola KKKK.
(33) pan – tes Æpnts KVK KVK KKKK (34) tum - ben Ætmbn KVK KVK KKKK (35) tan - ding Ætndg KVK KVKK KKKK (36) som - bong Æsmbg KVK KVKK KKKK
Pada contoh (33) kata pantes terdiri dari dua suku pan dan tes. Suku pertama dan kedua berupa suku tertutup, KVK. Pada setiap suku dikekalkan huruf pertama dan terakhir, yakni p dan n yang terletak pada suku pertama, dan huruf t dan s pada
suku kedua kata pantes. Demikian juga pada contoh (34), huruf yang dikekalkan, yaitu t dan m pada suku pertama, dan b dan n pada suku kedua kata tumben. Sedikit berbeda yang terjadi pada contoh (35) dan (36), suku kedua berupa suku tertutup berpola KVKK. Namun perbedaan tersebut tidak membedakan pola kependekan yang dihasilkan.
3.2.1.10 Pengekalan huruf pertama dan terakhir suku pertama dan suku kedua sebuah kata
Dalam data penelitian terdapat 17 kependekan kata dengan pola pemendekan pengekalan huruf pertama dan terakhir suku pertama dan suku kedua sebuah kata. Pemendekan ini cenderung terjadi pada kata yang terdiri atas dua suku kata. Suku pertama selalu berupa suku tertutup berpola KVK. Suku kedua dapat berupa suku
tertutup atau terbuka. Pemendekan ini dapat menghasilkan kependekan dengan beberapa pola, tergantung dari suku kedua yang dikekalkan.
(37) wak - tu Æwktu KVK KV KKKV (38) nan - ti Ænnti KVK KV KKKV (39) kum - pul Ækmpul KVK KVK KKKVK (40) kam - pung Ækmpung KVK KVKK KKKVKK
Pada contoh (37) kata waktu terdiri atas dua suku kata, wak dan tu. Suku pertama berupa suku tertutup KVK. Huruf pertama dan terakhir yang dikekalkan pada suku pertama, yaitu k dan m. Suku kedua berpola KVK, dikekalkan utuh, pul
sehingga menghasilkan wktu. Contoh (38) juga demikian, nnti merupakan kependekan dari kata nanti yang bersuku dua, nan dan ti. Suku pertama berupa suku tertutup berpola KVK. Pada suku pertama huruf yang dikekalkan yaitu, huruf pertama
n dan huruf terakhir n. Suku kedua berupa suku terbuka yang dikekalkan seutuhnya, ti. Pada contoh (37) dan (38) kependekan yang dihasilkan berpola KKKV, karena
suku kedua berupa suku terbuka KV.
Contoh (39) juga mengalami pemendekan serupa. Kata kumpul terdiri atas dua suku, kum dan pul. Huruf yang dikekalkan adalah huruf pertama dan terakhir suku pertama k dan m. Suku kedua mengalami pengekalan seutuhnya, pul. Kependekan
KKKVKK karena suku kedua pada kata kampung tersusun dari huruf berpola KVKK.
3.2.1.11 Pengekalan huruf pertama dan terakhir sebuah kata
Dalam data penelitian terdapat 8 kependekan kata dengan pola pemendekan pengekalan huruf pertama dan terakhir sebuah kata. Pemendekan ini cenderung terjadi pada kata bersuku satu berupa suku tertutup. Satu kata terdiri atas tiga sampai empat huruf. Pola pemendekan ini cenderung menghasilkan kependekan berpola KK.
(41) deh Ædh KVK KK (42) kan Ækn KVK KK (43) yang Æyg KVKK KK
Kependekan dh pada contoh (41) merupakan kependekan dari kata deh yang berusuku satu. Kata deh bersuku tertutup KVK. Huruf yang dikekalkan adalah huruf pertama dan terakhir, yakni d dan h. Contoh (42) kan berupa suku tertutup KVK. Huruf yang dikekalkan adalah huruf pertama, k dan huruf terakhir, n. Contoh (43)
merupakan pemendekan pada kata yang. Kata yang berupa suku tertutup KVKK. Huruf yang dikekalkan huruf pertama y dan huruf terakhir g.
Pemendekan dengan pengekalan huruf pertama dan terakhir ini dapat juga menghasilkan kependekan berpola VV. Berbanding terbalik dengan pola KK,
kependekan berpola VV terjadi pada kata yang berpola VKV, seperti yangterdapat pada contoh (44).
(44) i - ya Æia
V KV VV
Kata iya terdiri atas dua suku, i dan ya. Huruf yang dikekalkan adalah huruf pertama i
dan huruf terakhir a yang mengapit satu konsonan sehingga menghasilkan pola VV.
3.2.1.12 Pengekalan huruf pertama dan terakhir suku kata pertama dan huruf pertama suku kedua sebuah kata
Dalam data penelitian terdapat 4 kependekan kata dengan pola pemendekan pengekalan huruf pertama dan terakhir suku kata pertama dan huruf pertama suku kedua sebuah kata. Pemendekan ini cenderung terjadi pada kata bersuku dua. Suku pertama selalu berupa suku tertutup berpola KVK. Pemendekan ini selalu menghasilkan kependekan berpola KKK.
(45) min - ta Æmnt KVK KV KKK (46) pas - ti Æpst KVK KV KKK (47) wak - tu Æwkt KVK KV KKK (48) tem - pat Ætmp KVK KV KKK