EFEK MODEL PEMBELAJARAN SCIENTIFIC INQUIRY DAN KETERAMPILAN BERPIKIR FORMAL
TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X SMA
TESIS
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Fisika
Oleh: NOVERI YANTI NIM : 8136176027
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
ABSTRAK
Noveri Yanti. Efek Model Pembelajaran Scientific Inquiry dan Keterampilan Berpikir Formal Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA. Tesis. Medan : Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan, 2015.
Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran scientific inquiry lebih baik dibandingkan model pembelajaran konvensional; (2) untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa yang memiliki keterampilan berpikir formal tinggi, lebih baik dibandingkan dengan siswa yang memiliki keterampilan berpikir formal yang lebih rendah dan; (3) untuk mengetahui interaksi model pembelajaran scientific inquiry dan keterampilan berpikir formal dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Sampel dalam penelitian ini dilakukan secara cluster random sampling sebanyak dua kelas, X-1 sebagai kelas eksperimen yang diajarkan dengan model pembelajaran scientific inquiry dan X-2 sebagai kelas kontrol yang diajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes keterampilan berpikir formal dan tes hasil belajar siswa dalam bentuk pilihan berganda masing-masing sebanyak 15 soal yang dinyatakan valid dan reliable. Teknik analisis data menggunakan Uji Independent T-Test dan uji hipotesis Anava dua jalur dengan SPSS 17 for windows pada taraf signifikansi α = 0,05. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran scientific inquiry lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional; (2) Hasil belajar siswa yang memiliki keterampilan berpikir formal tinggi lebih baik dibandingkan hasil belajar siswa dengan keterampilan berpikir formal rendah dan; (3) terdapat interaksi antara model pembelajaran scientific inquiry dan keterampilan berpikir formal terhadap hasil belajar fisika siswa dimana model ini lebih baik diterapkan pada siswa yang memiliki keterampilan berpikir formal tinggi.
ABSTRACT
Noveri Yanti. The Effect of Scientific Inqury Teaching Models and Formal Thinking Skill for The Students’ Achievement The X Grade Senior High School. A Thesis. Medan : Post Graduate Program State University of Medan, 2015.
The objectives of this study were to determine whether: (1) the students achievement taught by using scientific inquiry teaching models is better than that of taught by using conventional; (2) the students achievement who have a high formal thinking skill is better than student who have low formal thinking skill and; (3) there is interaction between scientific inquiry teaching models and formal thinking skill for the student achievement. The sample was taken using cluster random sampling consisted of two classes, X-1 as experiment class learnt by scientific inquiry teaching models and X-2 as control class learnt by conventional. The instrument used in this study is formal thinking skill and achievement test in multiple choise as 15 questions have been declared valid and reliable. The data analyis technique used independent T-test and correlation test with SPSS 17 for Windows at the significance level α = 0.05. The results of research are; (1) the students achievement given learning through scientific inquiry teaching models better than conventional; (2) the students achievement who have a high formal thinking skill better than students who have low formal thinking skill and; (3) there was interaction between scientific inquiry teaching models and formal thinking skill for students achievement which this models better to apply for student who have a high formal thinking skill.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul: “Efek Model Pembelajaran Scientific Inquiry dan Keterampilan Berpikir Formal Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA”. Tesis ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar magister pendidikan pada program studi pendidikan fisika di Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan.
Teristimewa penulis sampaikan kepada Ibunda tercinta R. Sitanggang dan Ayahanda tercinta J. Hutapea serta kakak-kakak ku Dewi Marlina Hutapea, S.E (dan abang ipar R. Hutabarat, S.Pd) dan Elpina Hutapea S.Pd, abangku Henry Hutapea (dan kakak ipar Magdalena br. Pasaribu), adikku Ronald Hutapea, S.Pd, juga keponakan-keponakanku tersayang Agnes, Eka, Lionel dan Paskah yang senantiasa memberikan motivasi dan doa. Secara khusus untuk suami tercinta Laurentius G.T. Harianja, S.E yang telah banyak memberikan dukungan, semangat juga doa kepada penulis dalam penulisan tesis ini.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam upaya penyelesaian tesis ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan dari segi isi maupun bahasa. Untuk itu penulis selalu menerima saran dan kritik yang bersifat membangun sehingga tesis ini menjadi lebih sempurna. Akhir kata penulis berharap semoga tesis ini dapat memberikan manfaat kepada para pembacanya dan menambah khasanah ilmu pengetahuan. Amin
Medan, 8 September 2015
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar i
Daftar Isi iii
Daftar Gambar v
Daftar Tabel vi
Daftar Lampiran vii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah 1
1.2. Identifikasi Masalah 7
1.3. Batasan Masalah 7
1.4. Rumusan Masalah 8
1.5. Tujuan Penelitian 8
1.6. Manfaat Penelitian 9
1.7. Defiisi Operasional 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kerangka Teoritis 11
2.1.1. Pengertian Belajar 11
2.1.2. Hasil Belajar 12
2.1.3. Keterampilan Berpikir Formal 17
2.1.4 Teori Pembelajaran 20
2.1.5. Model Pembelajaran Scientific Inquiry 24 2.1.6. Model Pembelajaran Langsung 32
2.2. Penelitian yang Relevan 33
2.3. Kerangka Konseptual 36
2.3.1. Pengaruh Model Pembelajaran Scientific Inquiry
Terhadap Hasil Belajar 36
2.3.2. Pengaruh Keterampilan Berpikir Formal Terhadap
Hasil Belajar 38
2.3.3. Interaksi antara Keterampilan Berpikir Formal dan Model Pembelajaran Scientific Inquiry Terhadap
Hasil Belajar Siswa 40
2.4. Hipotesis 41
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 42
3.2. Populasi dan Sampel Penelitian 42
3.3. Variabel Penelitian 42
3.4. Jenis dan Desain Penelitian 43
3.5. Prosedur Penelitian 45
3.6. Instrumen Penelitian 47
3.6.1. Tes Keterampilan Berpikir Formal 47
3.7. Analisis Butir Tes 49
3.7.1. Validitas Isi 49
3.7.2. Validasi Butir Soal 49
3.7.3. Reliabilitas Tes 51
3.7.4 Indeks Kesukaran 52
3.7.5 Daya Pembeda 53
3.8. Teknik Analisis Data 53
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian 61
4.1.1. Deskripsi Data 61
4.1.2. Analisis Data Tes Awal 61
4.1.3. Analisis Data Keterampilan Berpikir Formal Siswa 65
4.1.4. Analisis Data Tes Akhir 67
4.1.5. Pengujian Hipotesis Penelitian 69
4.2. Pembahasan 77
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan 84
5.2. Saran 84
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Scientific Inquiry 26
Tabel 2.2 Penelitian Yang Relevan 33
Tabel 3.1 Rancangan Desain Penelitian 43
Tabel 3.2 Desain Penelitian ANAVA 44
Tabel 3.3 Tabel Spesifikasi Keterampilan Berpikir Formal 47 Tabel 3.4 Tabel Spesifikasi Materi Pokok Listrik Dinamis 48 Tabel 3.5 Kriteria Koefisien Validitas 50
Tabel 3.6 Derajat Reliabilitas 51
Tabel 3.7 Kriteria Interpretasi Indeks Kesukaran 52 Tabel 3.8 Kriteria Interpretasi Daya Pembeda 53
Tabel 3.9 Analisis Varians Dua Jalur 58
Tabel 4.1 Ringkasan Data Pretes Kelompok Sampel 62 Tabel 4.2 Uji Normalitas Kolmogorof-Smirnov Pretes 63 Tabel 4.3 Uji Homogenitas Data Pretes 63
Tabel 4.4 Uji-t Hasil Belajar 64
Tabel 4.5 Hasil Tes Keterampilan Berpikir Formal Siswa 65 Tabel 4.6 Ringkasan Data Postes Hasil Belajar 67 Tabel 4.7 Uji Normalitas Kolmogorof-Smirnov Postes 68 Tabel 4.8 Uji Homogenitas Data Postes 68
Tabel 4.9 Hasil Uji Anava 69
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 Efek Model Pembelajaran Scientific Inquiry 27 Gambar 3.1 Alur Pelaksanaan Penelitian 49 Gambar 4.1 Grafik Hubungan Model Pembelajaran dan Hasil Belajar 71 Gambar 4.2 Grafik Hubungan Model Pembelajaran dan
Berpikir Formal 72
Gambar 4.3 Grafik Interaksi Hasil Belajar Antara Model Pembelajaran
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 RPP 1 87
Lampiran 2 RPP 2 109
Lampiran 3 RPP 3 129
Lampiran 4 Instrumen Tes Keterampilan Berpikir Formal 146 Lampiran 5 Kisi-Kisi Soal Keterampilan Berpikir Formal 152 Lampiran 6 Instrumen Tes Hasil Belajar 160 Lampiran 7 Kisi-Kisi Tes Hasil Belajar 167 Lampiran 8 Data Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 181 Lampiran 9 Data Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 182 Lampiran 10 Data Tes Keterampilan Berpikir Formal Kelas
Eksperimen dan Kelas Kontrol 183
Lampiran 11 Hasil Validasi Anates Tes Hasil Belajar 184 Lampiran 12 Hasil Hasil Analisis Data SPSS 192
Lampiran 13 Lembar Kerja Siswa 209
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Setiap orang membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Undang undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahklak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”.
Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Pada hakikatnya, pendidikan berlangsung pada suatu sistem pendidikan, yang didalamnya terdapat komponen masukan, proses, dan hasil. Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh sistem dan pelaksanaannya. Sistem akan beroperasi secara optimal apabila komponen pelaksana memanfaatkan semua komponen yang ada secara optimal.
2007 berada di peringkat 35 dari 49 negara dan pada tahun 2011 berada di peringkat 40 dari 45 negara. (Marthin, 2012: 44).
Selain itu OECD (2013:5) mempublikasikan hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2012 bahwa dalam bidang sains, Indonesia
menduduki peringkat 64 dari 65 negara. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi sains siswa di Indonesia masih sangat rendah dan semakin menurun dari tahun ke tahun dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.
Pada dasarnya sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Fisika adalah salah satu mata pelajaran dalam rumpun sains yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis induktif dan deduktif dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar, baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan menggunakan matematika, serta dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri. Namun fakta yang ditemukan di lapangan adalah pelajaran sains yang tidak disukai siswa adalah fisika.
keterampilan berpikir formal terhadap mata pelajaran, apalagi jika diiringi kebencian kepada guru dan mata pelajaran dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut.
Salah satu penyebab kurang tertariknya siswa pada pelajaran fisika adalah pembelajaran yang digunakan guru. Model pembelajaran yang cenderung digunakan guru adalah pembelajaran konvensional yang dilakukan dengan metode ceramah dan presentasi. Dengan menerapkan pembelajaran ini, guru hanya menyajikan materi melalui laptop kemudian dijelaskan kepada siswa tanpa ada pembuktian secara praktek. Padahal, sekolah memiliki laboratorium namun siswa tidak pernah melakukan praktikum sehingga mereka tidak dapat mengembangkan ketrampilan mereka.
Pada hakikatnya, pembelajaran fisika lebih menekankan proses. Untuk itu, percobaan merupakan bagian terpenting dalam fisika. Dalam pembelajaran fisika. siswa berperan seolah-olah sebagai ilmuan. Siswa menggunakan metode ilmiah untuk mencari jawaban terhadap suatu permasalahan yang sedang dipelajari. Model pembelajaran menurut Joyce (1980 : 1) adalah pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pembelajaran dan member petunjuk kepada pengajar dikelasnya. Penggunaan model pembelajaran yang inovatif dapat membuat pembelajaran fisika menjadi lebih menyenangkan dan bermakna. Salah satu model pembelajaran yang inovatif adalah model pembelajaran scientific inquiry. Model pembelajaran ini dapat digunakan untuk mengembangkan sikap ilmiah dan meningkatkan hasil belajar siswa.
Model pembelajaran inkuiri merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Model pembelajaran inkuiri tak hanya mengembangkan kemampuan intelektual teteapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan pengembangan ketrampilan. (Gulo, 2002: 93).
Schwab (dalam Joyce, 1980: 10) mengemukakan bahwa Scientific Inquiry designed to teach the research system of a discipline, but also expected to have
effects in the other domains, sociological methods may be taught in order to
scientific inquiry dirancang untuk pembelajaran system penelitian dari suatu
displin, dan juga memiliki efek dalam domain lainnya, metode sosial dapat diajarkan untuk meningkatkan pemahaman sosial dan pemecahan masalah sosial). Dalam model pembelajaran scientific inquiry, siswa dibimbing oleh guru dalam memahami konsep melalui serangkaian percobaan.
Dhakaa (2012: 81) dalam hasil penelitiannya menyatakan bahwa belajar konsep biologi pada siswa kelas IX melalui model scientific inquiry lebih efektif dari pada pembelajaran konvensional. Ini berarti model pembelajaran scientific inquiry memiliki implikasi yang sangat penting bagi pembelajaran di dalam kelas
sehari-hari dan juga kepentingan siswa. Model ini membuat proses pengajaran menjadi efektif dan lebih menarik.
Siddiqui (2013: 77) juga berpendapat bahwa model pembelajaran scientific inquiry diterapkan untuk menghadapi emosional yang tinggi, membuat
penyelidikan akademis, membantu semua tingkat kelas, memberikan teknik penelitian, mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, meningkatkan tingkat penalaran, meningkatkan tingkat berpikir formal, mengembangkan tingkat pemahaman, menerapkan penyelidikan perilaku manusia dan meningkatkan tingkat interaksi.
dan terbuka, serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sendiri dan dapat mengembangkan bakat dan kecakapannya individunya.
Melalui model pembelajaran scientific inquiry, siswa dihadapkan pada suatu kegiatan ilmiah (eksperimen). Siswa dilatih agar terampil dalam memperoleh dan mengolah informasi melalui aktifitas berpikir dan mengikuti prosedur (metode) ilmiah, seperti terampil melakukan pengamatan, pengukuran, pengklasifikasian, penarikan kesimpulan, dan pengkomunikasian hasil temuan. Mereka diarahkan untuk mengembangkan keterampilan proses sains yang dimilikinya dalam memproses dan menemukan sendiri pengetahuan tersebut.
Marwoto (2009: 46) menyatakan bahwa pembelajaran sains dengan keterampilan proses penting sekali untuk diterapkan karena melibatkan siswa untuk aktif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan tuntutan kurikulum yang dikembangkan. Implementasi LKS inkuiri membantu siswa dalam mempelajari konsep dan memberikan kesempatan pada siswa untuk berlaku seperti ilmuan sehingga memberikan pengalaman yang lebih mendalam tentang konsep sains fisika.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang : “Efek Model Pembelajaran Scientific Inquiry dan Keterampilan Berpikir Formal Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA”.
1.2Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah yang relevan dengan penelitian ini sebagai berikut :
1. Siswa kurang tertarik pada pelajaran fisika.
2. Model pembelajaran yang digunakan guru yaitu pembelajaran konvensional yang terdiri dari metode ceramah dan presentasi.
3. Hasil belajar fisika siswa masih kurang memuaskan. 4. Belum terintegrasinya teori dan eksperimen.
5. Pelaksanaan praktikum belum optimal
6. Pemanfaatan media ajar dan bahan praktikum yang masih minimum. 1.3Batasan Masalah
Untuk menghindari penafsiran yang berbeda-beda dalam penelitian ini dan mengingat keterbatasan kemampuan, materi dan waktu yang tersedia, maka perlu adanya pembatasan masalah sebagai berikut :
1. Model pembelajaran scientific inquiry belum diterapkan di SMA Swasta Katolik Seminari Menengah Pematangsiantar.
2. Pembelajaran belum mempertimbangkan perbedaan keterampilan berpikir formal terhadap hasil belajar siswa.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran scientific inquiry lebih baik dibandingkan model pembelajaran
Konvensional ?
2. Apakah hasil belajar siswa yang memiliki keterampilan berpikir formal tinggi lebih baik dibandingkan dengan siswa yang memiliki keterampilan berpikir formal yang lebih rendah ?
3. Apakah ada interaksi model pembelajaran scientific inquiry dan keterampilan berpikir formal dalam meningkatkan hasil belajar siswa ? 1.5Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari pelaksanaan penelitian adalah :
1. Untuk menganalisis hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran scientific inquiry lebih baik dibandingkan model pembelajaran langsung.
2. Untuk menganalisis hasil belajar siswa yang memiliki keterampilan berpikir formal tinggi lebih baik dibandingkan siswa yang memiliki keterampilan berpikir formal rendah.
1.6Manfaat Penelitian
Hasil penelitian dapat bermanfaat : 1. Bagi siswa
a. Meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran fisika. b. Meningkatkan keterampilan berpikir formal siswa. c. Meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Bagi Guru
a. Menambah wawasan guru tentang model pembelajaran yang inovatif b. Mengembangkan ketrampilan guru dalam penggunaaan model
pembelajaran.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai bahan refrensi dan masukan bagi peneliti selanjutnya. 1.7Definisi Operasional
1. Model pembelajaran scientific inquiry adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan ilmiah atau penemuan jawaban dari suatu masalah. Fase-fase dalam model ini adalah penyajian masalah kepada siswa; siswa merumuskan masalah; siswa mengidentifikasi masalah; dan siswa menemukan cara untuk mengatasi kesulitan tersebut. (Joyce & Weil, 2003: 188)
pengontrolan variabel, penalaran probalistik, penalaran korelasional dan penalaran kombinatorial. (Tobin dan Capie, 1984 :5)
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan : 1. Hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran scientific
inquiry lebih baik dibandingkan dengan siswa yang diajarkan dengan
model pembelajaran konvensional.
2. Hasil belajar siswa dengan keterampilan berpikir formal tinggi lebih baik dibandingkan hasil belajar siswa dengan keterampilan berpikir formal rendah.
3. Terdapat interaksi antara model pembelajaran scientific inquiry dan keterampilan berpikir formal dalam mempengaruhi hasil belajar siswa. Interaksinya adalah model pembelajaran scientific inquiry tidak baik diterapkan pada siswa yang memiliki keterampilan berpikir formal rendah. Model pembelajaran ini lebih baik diterapkan pada siswa yang memiliki keterampilan berpikir formal tinggi.
1.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memiliki beberapa saran dalam menerapkan model pembelajaran scientific inquiry sebagai berikut :
2. Model pembelajaran scientific inquiry mendorong siswa lebih aktif, maka sebaiknya guru maupun peneliti selanjutnya perlu memperhatikan ruang kelas yang digunakan agar pergerakan siswa tidak terbatas.
3. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dalam pengamatan afektif dan psikomotorik siswa sebaiknya menggunakan observer.
4. Untuk meningkatkan efektifitas penggunaan waktu dalam membelajarkan materi, maka guru maupun peneliti selanjutnya hendaknya memberitahukan siswa materi yang akan diajarkan untuk pertemuan berikutnya pada setiap akhir pelajaran sehingga siswa dapat mempelajari materi tersebut terlebih dahulu di rumah.
5. Dalam melanjutkan penelitian ini, peneliti selanjutnya hendaknya menjelaskan fase-fase model pembelajaran scientifif inquiry kepada siswa pada pertemuan awal agar tidak membingungkan siswa pada saat model tersebut diterapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson & David. 2010. Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: Grafindo.
Astra, I Made. 2008. Fisika Untuk SMA/ MA Kelas X. Jakarta: Piranti.
Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori-Teori Belajar. Bandung: PT. Gelora Aksara Pratama.
Demirbag & Gunel. 2014. Integrating Argument-Based Science Inquiry with Modal Representations, Impact on Science Achievement, Argumentation, and Writing Skills. Educational Sciences: Theory & Practice, 14 (1), 121-135
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya
Dhakaa, Amita. 2012. Biological Science Inquiry Model And Biology Teaching. Bookman International Journal of Accounts, Economics & Business Management, 1(2), 11 -24
Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Ergul, Remziye. 2011. The Effects of Inquiry-based Science Teaching on
elementary School Students’ Science process Skills and Science Attitudes. Bulgarian Journal of Science and Education Policy (BJSEP), 5(1), 141 -152
Gulo, W. 2002. Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: Grasindo.
Handayani, Sri, Ari Damari. 2009. Fisika Untuk SMA/ MA kelas X. Jakarta: Depdiknas.
Hussain, Azeem, & Shakoor. 2001. Physics Teaching Methods: Scientific Inquiry Vs Traditional Lecture. International Journal of Humanities and social Science. 1(19), 18-27
Marthin, O. Michael, Ina, Pierre, Gabrielle. 2012. TIMSS 2011 International Results in Science. USA: Boston College.
Marwoto, Y. Subagyo, Wiyanto. 2009. Pembelajaran dengan Pendekatan Ketrampilan Proses Sains Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Suhu dan Pemuaian. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 5(1), 42-46. Mosik. 2010. Implementasi Pendekatan Konflik Kognitif Dalam Pembelajaran
Fisika Untuk Menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Smp Kelas VII, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7(1), 89-96.
Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
National Institutes of Health. 2005. Doing Science: The Process of Scientific Inquiry. Colorado Springs: BSCS.
Njoroge. 2014. Effects of Inquiry-based teaching approach on Secondary School
Students’achievement and motivation in physics in Nyeri Country.
Kenya. International Journal of Academic Reseacrh in Education and Review. 2(1). 1-16.
OECD. 2013. PISA 2012 Result In Focus.
Poedjiadi, Anna. 2005. Sains Teknologi Masyarakat. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya
Praptiwi, Sarwi, L. Handayani. 2012. Efectivitas Model Pembelajaran eksperimen Inkuiri Terbimbing Berbantuan My Own Dictionary untuk meningkatkan Penguasaan Konsep untuk Unjuk Kerja Siswa SMP RSBI. Unnes Science Education Journal, 1(2), 117-129
Sadirman. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sani, Ridwan. 2012. Pengembangan Laboratorium Fisika. Medan: UNIMED Press
Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Santrock. J. W. 2003. Adolescence. Perkembangan Remaja. Jakarta. Erlangga. Sarwi. 2010. Pengembangan Ketrampilan Kerja Ilmiah Mahasiswa Calon Guru
Fisika Melalui Eksperimen Gelombang Open-Inquiry. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 6(1), 115-122.
Siddqui. 2013. Biological Science Inquiry Model: A Process of Study. Paripex – Indian Journal Of Research. 2(2), 117-129
Sudjana, M.A. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: AlfaBeta.
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Jakarta: Kencana.
Triwiyono. 2011. Program Pembelajaran Fisika Menggunakan Metode Eksperimen Terbimbing Untuk Meningkatkan Ketrampilan Berpikir Kritis. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 7(1), 80-83.
Wenning, Carl. 2011. Eksperimental Inquiry in Introductory Physics courses. Journal Of Physics Teacher Education Online, 2(1), 11-24.
Winkel. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.
Zaelani, A. 2006. 1700 Bank Soal Bimbingan Pemantapan Fisika. Bandung: Yrama Widya.