SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh NUR JANNAH
10536 3219 09
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA 2014
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
xv
Tidak ada masalah yang sulit dihadapi Tidak ada jalan yang panjang dilalui
Apabila kita mampu memecahkan persoalan Dengan kesabaran dan kejernihan dalam berpikir
Kupersembahkan Skripsi ini kepada Ayahanda dan Ibundaku tercinta serta Saudaraku tersayang
Dan seluruh keluargaku serta teman-temanku atas segala Motivasi dan dorongan
Kepada penulis
xv
pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar. Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muahammadiyah Makassar. Pembimbing I H. Usman Mulbar dan Pembimbing II Andi Alim Syahri.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar melalui penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik pada semester genap tahun ajaran 2013/2014 dengan jumlah siswa 28 orang yang terdiri dari 14 orang laki-laki dan 14 orang perempuan. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar observasi dan tes dalam bentuk uraian pada setiap akhir siklus sesuai dengan materi yang diajarkan. Hasil yang diperoleh dari analisis deskriptif adalah sebagai berikut:
aktivitas siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu selama pembelajaran matematika dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik mengalami peningkatan. Persentase aktivitas siswa pada siklus I sebesar 66.60% meningkat menjadi 69,64% pada siklus II, hal ini menandakan terjadi peningkatan aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II dan dapat dikatakan berhasil karena lebih dari 50%
siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Dari skor hasil belajar yang dicapai siswa terlihat adanya peningkatan yaitu setelah dilakukan tindakan pada siklus I skor rata-rata hasil belajar matematika siswa mencapai 59,86. Setelah dilanjutkan pada siklus II skor rata-rata hasil belajar matematika mencapai 85,07. Pada persentase pencapaian hasil belajar siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu terjadi peningkatan, pada siklus I sebesar 46,43% yaitu 13 dari 28 siswa dinyatakan tuntas, sedangkan pada siklus II sebesar 89,29% yaitu 25 dari 28 siswa dinyatakan tuntas.
Hal ini menunjukkan telah tercapainya standar hasil belajar siswa secara klasikal.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar.
xv
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat serta semangat pantang menyerah yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ”Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar”.
Shalawat dan Salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. yang merupakan panutan dan suri tauladan ummat manusia sampai akhir zaman, Nabi yang sangat berpengaruh bagi perkembangan islam di muka bumi ini, Nabi yang telah menjadikan ummat manusia sekarang ini menjadi manusia yang beadab dan berperikemanusiaan.
Skripsi ini disusun dan diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, sehingga dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Kedua orang tua yaitu Ayahanda tercinta La Emi dan Ibunda tersayang Moti atas kebesaran dan ketabahan hatinya dalam mendidik, menjaga, memelihara,
xv
Makassar, beserta seluruh staf dan jajarannya yang telah menjadikan Unismuh sebagai kampus yang telah banyak mencetak sarjana-sarjana yang berkualitas, berdaya guna serta memiliki kompetensi di masyarakat.
3. Bapak Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, atas jasa-jasanya dalam mengelola fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang semakin hari semakin kondusif dalam menjalani proses perkuliahan serta suasana penuh akan cinta damai.
4. Ketua Jurusan Pendidikan Matematika, Bapak Drs. Baharullah, M.Pd yang telah memberikan fasilitas selama kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Bapak Mukhlis, S.Pd., M. Pd., Sekretaris Jurusan pendidikan Matematika.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
6. Bapak Dr. Usman Mulbar, M.Pd selaku pembimbing pertama bagi penulis, yang telah meluangkan banyak waktu, tenaga dan pikiran, serta memberikan arahan dan sabar membimbing penulis selama proses penyusunan skripsi ini.
7. Bapak Andi Alim Syahri, S.Pd., M.Pd., selaku pembimbing kedua yang telah bersedia meluangkan waktunya dalam membimbing dan mengarahkan penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
xv
8. Bapak Drs. H. Nur Salam, M. Si sebagai penasehat Akademik, dengan segala arahan dan bimbingannya kepada penulis.
9. Kakanda sebagai validator instrumen penelitian
10. Seluruh Bapak dan ibu dosen yang telah memberikan berbagai macam ilmu pengetahuan selama proses perkuliahan sehingga penulis merasa sangat terbantu untuk penyelesaian studi ini.
11. Bapak Kepala SMP Negeri 1 Pasimarannu yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di sekolah yang dipimpinnya dalam rangka penyusunan skripsi ini.
12. Ibu Rahmawati, S.Pd. yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan selama penulis melakukan penelitian.
13. Sahabat-sahabatku yang tercinta pada jurusan Pendidikan Matematika yang sangat membantu dan berperan penting dalam proses penyelesaian skripsi ini, serta setia menemani untuk menjalani roda kehidupan dalam suka dan duka dikampus tercinta, penulis hanya bisa berkata “You’ll Never Walk Alone”.
14. Seluruh teman-teman seperjuanganku di Pondok Ledies. ”I LOVE U ALL”.
Semoga setiap moment yang telah kita buat bersama selama ini, bisa menjadi sebuah ”Kisah Klasik Untuk Masa Depan”.
15. Kakak-Kakakku tercinta, seluruh keluarga besarku serta sepupu-sepupuku yang senasib dan sepenanggungan, makasih atas kebersamaan dan doanya, doa kalian sangat makbul.
16. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
xv
dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang memerlukannya.
Makassar, Oktober 2014
Penulis
xv DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... ... 6
C. Rumusan Masalah... 6
D. Tujuan Penelitian ... 7
E. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN... 9
A. Tinjauan Pustaka ... 9
B. Kerangka Pikir ... 28
C. Hipotesis Tindakan ... 30
xv
C. Faktor yang Diselidiki ... 31
D. Instrumen Penelitian ... 32
E. Prosedur Penelitian ... 33
F. Teknik Pengumpulan Data ... 35
G. Teknik Analisis Data ... 36
H. Indikator Keberhasilan ... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38
A. Hasil Penelitian ... 38
B. Pembahasan ... 68
BAB V PENUTUP ... 70
A. Kesimpulan ... 70
B. Saran-Saran ... 71 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP
xv
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Table 3.1 kategori hasil belajar siswa ... 37
Tabel 4.1 Statistik Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I ... .... 47
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Siklus I ... .... 48
Table 4.3 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa pada siklus I ... 49
Table 4.4 Deskripsi Aktivitas Siswa pada siklus I ... 43
Tabel 4.5 Statistik Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II ... .... 60
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Siklus II ... .... 61
Table 4.7 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa pada siklus II ... 62
Table 4.8 Deskripsi Aktivitas Siswa pada siklus II ... 63
xv
A.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) A.3 Lembar Kerja Siswa
Lampiran B
B.1 Kisi-kisi hasil belajar siswa B.2 Instrument tes hasil belajar B.3 Alternatif jawaban dan penskoran
Lampiran C
C.1 Data Hasil Tes Belajar siklus I dan siklus II C.2 Analisis data SPSS
C.3 Hasil Pekerjaan Siswa Siklus I dan Siklus II Lampiran D
D.1 Lembar observasi aktivitas siswa Siklus I dan Siklus II D.2 Hasil lembar observasi siklus I dan siklusII
Lampiran E
E.1 Daftar hadir siswa
E.2 Daftar nama-nama kelompok Siswa siklus I dan siklus II Lampiran F
F.1 Validasi dan Persuratan F.2 Dokumentasi
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Kantor: Jl. Sultan Alauddin No. 259, Telp. (0411)-866132, Fax. (0411)-860132
\
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi atas nama Nur Jannah, NIM 10536 3219 09 diterima dan disahkan oleh panitia ujian skripsi berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Nomor: 146 Tahun 1436 H/2014 M pada Tanggal 14 Muharram 1436 H/07 November 2014 M, sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar pada hari Selasa tanggal 25 November 2014.
02 Safar 1436 H Makassar,
25 November 2014 M
PANITIA UJIAN
1. Pengawas Umum : Dr. H. Irwan Akib, M. Pd. (...) 2. Ketua : Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum. (...) 3. Sekretaris : Khaeruddin, S. Pd., M. Pd. (...) 4. Penguji : 1. Prof. Dr. H. Usman Mulbar, M. Pd. (...) 2. Mukhlis, S. Pd., M. Pd. (...) 3. Dr. Hasaruddin Hafid, M. Ed. (...) 4. H. Sukarna, S. Pd., M. Si. (...)
Disaksikan oleh:
Dekan FKIP Unismuh Makassar
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum.
NBM. 858 625
iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING Mahasiswa yang bersangkutan:
Nama : NUR JANNAH
NIM : 10536 3219 09
Jurusan : Pendidikan Matematika
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Segitiga Melalui Penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar.
Setelah diperiksa dan diteliti, maka skripsi ini telah memenuhi persyaratan dan layak untuk diujikan.
Makassar, Oktober 2014 Disetujui oleh
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. H. Usman Mulbar, M. Pd Andi Alim Syahri, S.Pd.,M. Pd
Diketahui:
Dekan FKIP Ketua Jurusan
Unismuh Makassar Pendidikan Matematika
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum. Drs. Baharullah, M. Pd
NBM. 858 625 NBM: 779 170
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Kantor: Jl. Sultan Alauddin No. 259, Telp. (0411)-866132, Fax. (0411)-860132
iv
SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : NUR JANNAH
NIM : 10536 3219 09
Jurusan : Pendidikan Matematika
Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Segitiga Melalui Penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar.
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim Penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, Oktober 2014 Yang Membuat Pernyataan
Nur Jannah
v
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : NUR JANNAH
NIM : 10536 3219 09
Jurusan : Pendidikan Matematika
Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi.
4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, Oktober 2014 Yang Membuat Perjanjian
Nur Jannah
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses pendidikan dapat terjadi dalam lingkungan sosial yang merupakan ruang lingkup kehidupan manusia. Secara garis besar proses pendidikan dapat terjadi dalam tiga lingkungan pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
Berdasarkan pada tiga lingkungan diatas maka dapat dibedakan menjadi pendidikan keluarga (pendidikan informal), pendidikan sekolah (pendidikan formal) dan pendidikan masyararakat (pendidikan non formal).
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal, secara sistematis telah merencanakan bermacam lingkungan, yaitu lingkungan pendidikan yang menyediakan kesempatan bagi siswa untuk melakukan pembelajaran sehingga para siswa memperoleh pengalaman pendidikan yang akan mendorong pertumbuhan dan perkembangan kearah suatu tujuan yang dicita-citakan.
Lingkungan tersebut disusun dalam bentuk kurikulum dan metode pengajaran.
Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan umum dari sistem pendidikan nasional. Tujuan ini merupakan tujuan jangka panjang yang sangat luas dan menjadi pedoman dari semua kegiatan atau usaha pendidikan dinegara kita.
Tujuan ini kemudian dijadikan landasan dalam menentukan tujuan sekolah dan tujuan kurikulum sekolah, tujuan pendidikan formal dan non formal. Dengan kata
lain tujuan pendidikan nasional menjadi pedoman dari seluruh kegiatan dan lembaga pendidikan dinegara kita.
Dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mata pelajaran matematika menurut Permendiknas No. 23 Tahun 2006 telah disebutkan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama (Depdiknas, 2006).
Dalam konteks pendidikan, matematika diajarkan pada dasarnya bertujuan untuk membantu melatih pola pikir siswa agar dapat memecahkan masalah dengan kritis, logis, cermat dan tepat. Disamping itu agar siswa terbentuk kepribadiannya serta terampil menggunakan matematika dalam kehidupan sehari- hari. Matematika juga berkenaan dengan ide atau konsep yang abstrak yang diberi simbol-simbol tertentu secara hirearki, artinya matematika merupakan pembelajaran yang selalu berkaitan dan berkesinambungan menurut urutan tertentu.
Pembelajaran pada dasarnya adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam situasi pendidikan. Pembelajaran merupakan suatu proses yang rumit karena bukan sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi juga melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilaksanakan terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik.
Dalam proses pembelajaran guru matematika seharusnya mengerti bagaimana memberikan stimulus sehingga siswa menyukai belajar matematika
3
dan lebih memahami materi yang diberikan oleh guru, serta mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses pembelajaran. Salah satu kegiatan pembelajaran yang menekankan berbagai kegiatan dan tindakan adalah menggunakan pendekatan tertentu. Pendekatan dalam pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu upaya dalam mengembalikan dan meningkatkan aktivitas belajar yang dilakukan oleh guru dan siswa. Pendekatan belajar (Approach to learn) termasuk faktor yang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Pendekatan dalam pembelajaran pada dasarnya adalah melakukan proses pembelajaran yang menekankan pentingnya belajar melalui proses mengajar untuk memperoleh pemahaman.
Hal lain yang berperan dalam proses pembelajaran, adalah cara guru mengajar atau menyampaikan pelajaran. Penyampaian guru yang cenderung bersifat monoton, hampir tanpa variasi kreatif, ternyata sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Hampir sebagian besar siswa takut dengan pelajaran matematika karena matematika dianggap sebagai momok, hal inilah yang dialami oleh siswa SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar kelas VII B. Seandainya siswa ditanya tentang matematika ada saja alasan yang mereka kemukakan seperti matematika sulit dan membosankan. Sehingga siswa kurang suka terhadap pelajaran matematika dan menyebabkan siswa malas untuk belajar matematika.
Berdasarkan informasi yang diperoleh penulis pada hari selasa tanggal 22 januari 2013, di SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar tampak bahwa sebagian besar siswa kurang serius dalam belajar terutama pada mata pelajaran matematika, sehingga hasil belajarnya pun tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian siswa yaitu 60, sehingga tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan disekolah yaitu sama dengan 65. Ini menunjukkan bahwa hasil belajar matematika di sekolah tersebut belum maksimal. Oleh karena itu, diperlukan suatu tindakan untuk memperbaiki proses pembelajaran dan diharapkan terjadinya peningkatan hasil belajar
Hal tersebut disebabkan oleh strategi pembelajaran maupun pendekatan yang digunakan kurang tepat dan efektif. Strategi mengajar guru rata-rata masih menggunakan pendekatan tradisional atau mekanistik dimana siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah ( membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal ), tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran, oleh kerena itu, perlu adanya suatu pembaharuan dalam sebuah pembelajaran matematika yaitu pembaharuan dalam strategi pembelajaran, termasuk pendekatan pembelajaran yang mampu mengetahui sampai dimana kemampuan siswa terhadap matematika.
Hasil empiris di atas jelas merupakan suatu permasalahan yang merupakan fektor penting dalam mewujudkan tujuan pembelajaran matematika sesuai yang diamanatkan dalam kurikulum pendidikan matematika. Sehingga untuk mengatasi perrmasalahan di atas perlu dicari suatu pendekatan yang dapat mendukung proses pembelajaran matematika yang menyenangkan dan bukan menyeramkan
5
sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis sekaligus mempermudah pemahaman siswa dalam belajar matematika. Salah satu pendekatan pembelajaran adalah pendekatan matematika realistik.
Pendekatan matematika realistik sebagai suatu pendekatan baru dalam pembelajaran matematika memang memberikan banyak harapan kepada dunia pendidikan matematika. Munculnya pendekatan matematika realistik ini diharapkan akan dapat memberikan jalan keluar terhadap berbagai permasalahan yang selama ini muncul dalam praktek pembelajaran matematika di sekolah dan dalam pendidikan matematika pada umumnya.
Upaya untuk meningkatkan hasil belajar itu tidaklah mudah untuk dicapai secara maksimal karena banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar itu sendiri. Perbaikan dan penyempurnaan ini meliputi perbaikan pada sistem pendidikan ataupun dalam hal yang langsung berkaitan dengan praktik pembelajaran, misalnya dalam penggunaan metode mengajar.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, penulis mencoba untuk menerapkan satu pendekatan yang lebih mengarahkan siswa ke dunia nyata yaitu satu pendekatan yang disebut dengan pendekatan matematika realistik karena pendekatan ini lebih mamfokuskan pada kehidupan riil siswa yang membentuk lingkungan belajar yang kondusif karena siswa adalah salah satu faktor pendukung berjalannya kegiatan belajar mengajar (KBM), penulis tertarik dan termotivasi untuk mengadakan penelitian denagn judul ”Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Segitiga Melalui Penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang di kemukakan di atas, bahwa hasil belajar siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu masih tergolong rendah. Ini disebabkan karena:
1. Pendekatan yang di gunakan masih bersifat konvensional 2. Kurangnya rata-rata ketuntasan siswa setiap tahunnya
3. Objek yang dipelajari masih bersifat abstrak, karena itu sebagian besar peserta didik merasa kesulitan mempelajari matematika.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : “apakah hasil belajar matematika dapat ditingkatkan melalui penerapan
7
pendekatan pembelajaran matematika realistik pada siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar”?
D. Tujuan Pnelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah “untuk mengetahui hasil belajar matematika yang dapat ditingkatkan melalui penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar”.
E. Manfaat Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini tentunya memiliki manfaat.
Adapun manfaat yang akan diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Siswa
1. Siswa dapat termotivasi dalam belajar sehingga akan lebih mudah memahami materi pelajaran.
2. Membuat matematika lebih menarik bagi siswa, karena menjadikan matematika sebagai aktivitas sehari-hari.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadikan siswa lebih terarahdalam mempelajari matematika dengan menggunakan pendekatan realistik.
2. Bagi Guru
1. Memberikan masukan bagi para pendidik sehingga dapat meningatkan hasil belajar siswa melalui pendekatan realistik serta dapat merealistikkan
segala permasalahan materi pelajaran yang berhubungan dengan dunia nyata siswa sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan.
2. Memberikan informasi tentang kemajuan yang diperoleh siswa sehingga diharapkan penerapan pendekatan tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan.
3. Bagi Sekolah
1. diharapkan hasil penelitian ini sebagai informasi yang dijadikan masukan untuk mendapatkan pola atau strategi pembelajaran yang efektif dalam setiap proses pembelajaran.
2. memberi kontribusi yang sangat berhargadalam rangka perbaikan pembelajaran khususnya mata pelajaran matematika.
9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Tinjauan Pustaka 1. Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Sekarang timbul pertanyaan apakah belajar itu sebenarnya? Samakah belajar dengan latihan, dengan menghafal, dengan pengumpulan fakta dan studi? Tentu saja terhadap pertanyaan tersebut banyak pendapat yang mungkin satu sama lain berbeda.
Ada beberapa pandangan tentang belajar diantaranya menurut Slameto (2010:2) berpendapat bahwa :
“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”
Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar.
Abdillah dalam aunurrahman (2012:35), belajar adalah suatu usaha sadar yang silakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang baru secara kesulurahan, sebagai akibat dari pengalaman dan latihan, dengan perubahan–perubahan yang dihasilkan bersifat relatif tetap.
2. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang bersifat menetap.
Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional (Abdurrahman, 2003).
Hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi dan penguasaan awal anak tentang materi yang akan dipelajari. Ini berarti bahwa guru perlu menetapkan tujuan belajar sesuai dengan kapasitas intelegensi anak dan pencapaian tujuan belajar perlu menggunakan bahan apersepsi, yaitu bahan yang telah dikuasai anak sebagai batu loncatan untuk menguasai bahan pelajaran baru. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan yang diberikan kepada anak. Ini berarti
11
bahwa guru perlu menyusun rancangan dan pengelolaan pembelajaran yang memungkinkan anak bebas untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya (Abdurrahman, 2003).
Secara umum, maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah suatu proses kegiatan yang menimbulkan kegiatan kelakuan baik hingga seseorang lebih mampu memecahkan masalah dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya. Dari beberapa pemikiran di atas maka hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tingkat penguasaan bahan pelajaran setelah mendapatkan atau memperoleh pengalaman belajar dalam kurun waktu tertentu, yang dapat diukur dengan menggunakan tes atau penilaian tertentu melalui proses pembelajaran yang melibatkan siswa dan guru.
3. Hasil Belajar Matematika
Proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan- perubahan dibidang pemahaman, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap.
Adanya perubahan itu tampak dalam prestasi belajar siswa, tes atau tugas yang dibebankan kepada guru. Bercermin kepada prestasi belajar siswa, guru harus selalu mengadakan perbaikan-perbaikan mengajarnya baik metode maupun penguasaan materi yang akan diajarkan. Hasil yang diperoleh dari penilaian hasil belajar siswa baik individual maupun kelompok di dalam kelasnya, akan menggambarkan kemajuan yang telah dicapainya selama periode tertentu.
Hasil belajar matematika merupakan puncak dari proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi karena evaluasi guru. Cara menilai hasil belajar matematika biasanya menggunakan tes. Tujuan dari tes tersebut adalah mengukur
hasil belajar yang dicapai siswa dalam mempelajari matematika. Disamping itu tes juga dipergunakan untuk menentukan seberapa jauh pemahaman materi yang telah dipelajari karena itu tes dapat digunakan sebagai penilaian diagnostik, formatif, sumatif dan penentuan tingkat pencapaian.
Keberhasilan seseorang mempelajari matematika tidak hanya dipengaruhi minat, kesadaran, kemauan, tetapi juga bergantung pada kemampuannya terhadap matematika serta diperlukan keterampilan intelektual, misalnya keterampilan berhitung. Hasil yang dimaksud adalah tingkat penguasaan untuk mengukur hasil belajar sesuai dengan tujuan pencapaian kognitif disesuaikan dengan taraf kognitif siswa.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.
Hal-hal yang dipengaruhi hasil belajar adalah:
a. Intelegensi dan penguasaan anak tentang materi yang akan dipelajari.
b. Adanya kesempatan yang diberikan oleh anak.
c. Motivasi.
d. Usaha yang dilakukan oleh anak.
Jadi, Hasil belajar matematika yang dimaksud adalah tingkat keberhasilan siswa menguasai bahan pelajaran matematika setelah memperoleh pengalaman belajar matematika dalam suatu kurun waktu tertentu.
4. Pembelajaran Matematika
Istilah mathematics (Inggris), mathematik (Jerman), berasal dari perkataan latin mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan Yunani, mathematike,
13
yang berarti “relating learning”. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan. Perkataan mathematike berhubungan sangat erat dengan sebuah kata lain yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar (berpikir). Jadi, berdasarkan pernyataan Freudental (wijaya, 2012:20) “ matematika merupakan suatu bentuk aktivitas manusia”.
Jadi, belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur matematika sehingga dapat menimbulkan suatu perubahan tingkah laku dan pola pikir sebagai hasil pengalaman individu mempelajari matematika.
5. Pendekatan Matematika Realistik
a. Pengertian Pendekatan Matematika Realistik
Banyak pendekatan yang telah dikemukakan oleh para ahli dan bisa digunakan oleh para pendidik atau tenaga kependidikan dalam proses pembelajaran. Setiap pendekatan mempunyai kelebihan dan kelemahan Dalam hal ini, guru harus pandai dalam memilih pendekatan yang sesuai dengan bahan ajar yang akan disampaikan sesuai dengan karaktersitik anak dan cocok pula dengan sarana dan prasarana yang tersedia.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika adalah pendekatan matematika reaslistik atau lebih dikenal dengan sebutan RME (Realistic of Mathematic Education).
Realistic mathematics education, yang diterjemahkan sebagai pendidikan matematika realistik (PMR), adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang dikembangkan sejak tahun 1971 oleh sekelompok ahli matematika dari Freudenthal Institute, Utrecht University di Negeri Belanda.
Pendekatan ini didasarkan pada anggapan (Hans Freudenthal 1991) bahwa
“matematika merupakan suatu bentuk aktivitas manusia”. Pendidikan matematika realistik adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang harus selalu menggunakan masalah sehari-hari (wijaya, 2012: 20).
Dalam pandangan realistik, matematika merupakan proses kegiatan manusia yang aktif (as human activity) dan bukan merupakan teori pendidikan matematika yang statis dan selesai. Sumarmo (2001:10) mengemukakan bahwa:
“Matematika juga berkaitan dengan dunia siswa (realita), menekankan siswa menemukan kembali (reinvention) melalui penyajian situasi masalah dalam konteks”.
Zulkardi (2001:14) mengatakan “pendekatan matematika realistik adalah pendekatan dalam pendidikan matematika yang berdasarkan ide bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata dalam konteks kehidupan sehari-hari siswa sebagai sumber pengembangan sekaligus sebagai aplikasi melalui proses matematisasi baik horizontal maupun vertikal.
De Lange mendefinisikan matematisasi sebagai pengorganisasian kegiatan dalam menemukan keteraturan (regularities), hubungan (relations), dan struktur (structures) dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan awal. De Lange membagi matematisasi menjadi dua yaitu matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal.
matematisasi horizontal menyangkut proses transformasi masalah nyata/
sehari-hari ke dalam bentuk simbol. Sedangkan matematisasi vertikal merupakan
15
proses yang terjadi dalam lingkup simbol matematika itu sendiri. Contoh matematisasi horizontal adalah pengidentifikasian, perumusan dan pemvisualisasian masalah dengan cara-cara yang berbeda oleh siswa. Sedangkan contoh matematisasi vertikal adalah presentasi hubungan-hubungan dalam rumus, menghaluskan dan menyesuaikan model matematika, penggunaan model-model yang berbeda, perumusan model matematika dan penggeneralisasian.
Mengacu kepada dua jenis kegiatan matematisasi di atas (De Lange dalam wijaya, 2012:42) mengidentifikasi empat pendekatan yang dipakai dalam mengajarkan matematika, yaitu pendekatan mekanistik, empiristik, strukturalistik dan realistik.
Dari beberapa pendapat diatas dapat dikatakan bahwa RME atau pendekatan Realistik adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sehari- hari sebagai sumber inspirasi dalam pembentukan konsep dan mengaplikasikan konsep- konsep tersebut atau bisa dikatakan suatu pembelajaran matematika yang berdasarkan pada hal-hal nyata atau real bagi siswa dan mengacu pada konstruktivis sosial.
Matematika realistik merupakan pendekatan belajar mengajar matematika yang memanfaatkan pengetahuan siswa sebagai jembatan untuk memahami konsep-konsep matematika. Siswa tidak belajar konsep matekatika dengan cara langsung dari guru atau orang lain melalui penjelasan, tetapi siswa membangun sendiri sesuatu yang diketahui oleh siswa itu sendiri. Matematika itu sendiri member kesempatan kepada siswa mengkonstruk sendiri konsep-konsep matematika melalui sesuatu yang diketahuinya. Berdasarkan sesuatu yang
diketahui siswa melakukan, berbuat, mengerjakan, menginterpretasikan, dan semacamnya, yang akhirnya siswa memahami konsep matematika. Menurut Freudental (Suherman, 2001:128), matematika sebagai aktivitas manusia atau mathematics as a human activity. Pandangan ini mengharuskan matematika dipelajari secara aktif. Gagasan dari kunci matematika realistik adalah memberi kesempatan siswa menemukan kembali konsep-konsep matematika melalui bimbingan guru (guide reinvention). Melalui pengetahuan informal siswa, guru membimbing siswa sampai menemukan konsep-konsep matematika sebagai pengetahuan formal. Melalui memecahkan contextual problem yang dipahami, siswa menggunakan pengetahuan informal untuk menemukan konsep matematika.
Proses seperti ini mendorong siswa belajar secara interaktif, karena guru hanya berperan membangun ide dasar siswa.
b. Prinsip-Prinsip Matematika Realistik
Untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan RME kita harus tahu prinsip-prinsip yang digunakannya. Ada tiga prinsip kunci RME (Gravemeijer,1994:90), yaitu: “Guided re-invention, Didactical Phenomenology dan Self-delevoped Model”.
1) Guided Re-invention atau Menemukan Kembali Secara Seimbang.
Memberikan kesempatan bagi siswa untuk melakukan matematisasi dengan masalah kontekstual yang realistik bagi siswa dengan bantuan dari guru.
Siswa didorong atau ditantang untuk aktif bekerja bahkan diharapkan dapat mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuan yang akan diperolehnya.
17
2) Didactical Phenomenology atau Fenomena Didaktik.
Topik-topik matematika disajikan atas dasar aplikasinya dan kontribusinya bagi perkembangan matematika. Pembelajaran matematika yang cenderung berorientasi kepada memberi informasi atau memberitahu siswa dan memakai matematika yang sudah siap pakai untuk memecahkan masalah, diubah dengan menjadikan masalah sebagai sarana utama untuk mengawali pembelajaran sehingga memungkinkan siswa dengan caranya sendiri mencoba memecahkannya.
Dengan masalah kontekstual yang diberikan pada awal pembelajaran seperti tersebut di atas, dimungkinkan banyak/beraneka ragam cara yang digunakan atau ditemukan siswa dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian, siswa mulai dibiasakan untuk bebas berpikir dan berani berpendapat, karena cara yang digunakan siswa satu dengan yang lain berbeda atau bahkan berbeda dengan pemikiran guru tetapi cara itu benar dan hasilnya juga benar. Ini suatu fenomena didaktik.
3) Self-delevoped Models atau model dibangun sendiri oleh siswa.
Pada waktu siswa mengerjakan masalah kontekstual, siswa mengembangkan suatu model. Model ini diharapkan dibangun sendiri oleh siswa, baik dalam proses matematisasi horizontal ataupun vertikal. Kebebasan yang diberikan kepada siswa untuk memecahkan masalah secara mandiri atau kelompok, dengan sendirinya akan memungkinkan munculnya berbagai model pemecahan masalah buatan siswa.
c. Karakteristik Pendekatan Matematika Realistik
(Treffers dalam wijaya, 2012: 21), merumuskan lima karakteristik pendidikan matematika realistik yaitu:
1) Penggunaan konteks ( dunia nyata )
Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal pembelajaran matematika. Konteks tidak harus berupa masalah dunia nyata namun bisa dalam bentuk permainan, penggunaan alat peraga, atau situasi lain selama hal tersebut bermakna dan bisa dibayangkan dalam pikiran siswa.
2) Penggunaan model
Dalam pendidikan matematika realistik, model digunakan dalam matematisasi secara progresif. Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan dari pengetahuan dan matematika tingakat konkrit menuju pengetahuan matematika tingakat formal.
3) Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah sehingga diharapkan akan diperoleh strategi yang bervariasi.
Hasil kerja dan konstruksi siswa selanjutnya digunakan untuk landasan pengembangan konsep matematika.
4) Interaktivitas
Proses belajar seseorang bukan hanya satu proses individu melainkan juga secara bersamaan merupakan suatu proses sosial. Proses sosial akan menjadi lebih singkat dan bermakna ketika siswa saling berkomunikasi
19
hasil kerja dan gagasan mareka. Pemanfaatan interaksi dalam pembelajaran matematika bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan efektif siswa secara simultan.
5) Keterkaitan
Konsep-konsep dalam matematika tidak bersifat parsial, namun banyak konsep matematika yang memiliki keterkaitan. Oleh karena itu, konsep- konsep matematika tidak dikenalkan kapadasiswa sacara terpisah atau terisolasi satu sama lain. Pendidikan matematika realistik menempatkan keterkaitanantara konsep matematika sebagai hal yang harus dipertimbangkan dalam proses pembelajaran. Melaui keterkaitan ini, satu pembelajaran matematika diharapkan bisa mengenalkan dan membangun lebih dari satu konsep matematika secara bersamaan (walaupun ada konsep yang dominan).
d. Langkah-langkah pembelajaran matematika realistik
Soedjadi (2001 : 3), menyatakan bahwa dalam pembelajaran matematika realistik juga diperlukan upaya “mengaktifkan siswa”. Upaya itu dapat diwujudkan dengan cara :
1. Mengoptimalkan keikutsertaan unsur-unsur proses belajar mengajar
2. Mengoptimalkan keikutsertaan seluruh sense peserta didik.
Salah satu kemungkinan adalah dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat menemukan atau mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang akan dikuasainya. Salah satu upaya guru untuk merealisasikan pernyataan diatas adalah
menetapkan langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dengan prinsip dan karakteristik PMR (Pembelajaran Matematika Realistik).
Berdasarkan prinsip dan karakteristik PMR serta memperhatikan berbagai pendapat tentang proses pembelajaran matematika dengan pendekatan PMR di atas, maka disusun langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan PMR sebagai berikut :
1. Memahami masalah kontekstual
Guru memberikan masalah kontekstual sesuai dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari siswa. Kemudian meminta siswa untuk memahami masalah yang diberikan tersebut. Jika terdapat hal-hal yang kurang dipahami oleh siswa, guru memberikan petunjuk seperlunya terhadap bagian-bagian yang belum dipahami siswa.
2. Menjelaskan masalah kontekstual
Langkah ini ditempuh saat siswa mengalami kesulitan memahami masalah kontekstual. Pada langkah ini guru memberikan bantuandengan memberi petunjuk atau pertanyaan seperlunya yang dapat mengarahkkan siswa untuk memahami masalah.
3. Menyelesaikan masalah kontekstual
Siswa mendeskripsikan masalah kontekstual, melakukan interpretasi aspek matematika yang ada pada masalah yang dimaksud, dan memikirkan strategi pemecahan masalah, selanjutnya siswa bekerja menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya, sehingga dimungkinkan adanya perbedaan penyelesaian siswa
21
yang satu dengan yang lainnya. Guru mengamati, memotivasi, dan memberi bimbingan terbatas, sehingga siswa dapat memperoleh penyelesaian masalah-masalah tersebut.
4. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban.
Guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban mereka secara berkelompok, selanjutnya membandingkan dan mendiskusikan pada diskusi kelas. Pada tahap ini, dapat digunakan siswa untuk berani mengemukakan pendapatnya meskipun pendapat tersebut berbeda dengan lainya.
5. Menyimpulkan.
Berdasarkan hasil diskusi kelas, guru memberi kesempatan pada siswa untuk menarik kesimpulan suatu konsep atau prosedur yang terkait dengan masalah realistik yang diselesaikan.
Karakteristik pembelajaran matematika realistik yang tergolong kedalam langkah ini adalah adanya interaksi ( interactivity ) antara siswa dengan guru ( pembimbing ).
6. Materi ajar (Segitiga) 1. Pengertian segitiga
Segitiga adalah bangun datar yang dibatasi oleh tiga buah sisi dan mempunyai tiga buah titik sudut.Perhatikan gambar berikut.
C
B
A Gambar 1
Perhatikan sisi-sisinya, sisi-sisi yang mambentuk segitiga ABC berturut- turut adalah AB, BC, dan AC.
Sudut-sudut yang terdapat pada ABC sebagai berikut.
a. A atau BAC atau CAB b. B atau ABC atau CBA c. C atau ACB atau BCA
Jadi, ada tiga sudut yang terdpat pada ABC.
2. Jenis-jenis segitiga
Jenis-jenis suatu segitiga dapat ditinjau berdasrkan a. Panjang sisi-sisinya
b. Besar sudut-sudutnya
c. Panjang sisi dan besar sudutnya
a. jenis-jenis segitiga ditinjau dari panjang sisinya i. Segitiga sebarang
Segitiga sebarang adalah segitiga yang sisinya tidak sama panjang. Pada gambar 2 (i) disamping,
AB ≠ BC ≠ AC (i) ii. Segitiga sama kaki
Segitiga sama kaki adalah segitiga yang mempunyai dua buah sisi yang sama
panjang .pada gambar 2 (ii) di samping (ii) segitiga sama kaki ABC dangan AB = BC.
C
B A
C
B
A
23
iii. Segitiga sama sisi
Segitiga sama sisi adalah segitia yang memiliki tiga buah sisi sama panjang dan tiga buah
sudut sama besar. Segitiga ABC Pada gambar 2
(iii) merupakan segitiga sama sisi yaitu (iii) AB = BC = CA.
b. jenis-jenis segitiga ditinjau dari besar sudutnya secara umum ada tiga jenis sudut yaitu:
1) Sudut lancip (0o < x < 90o) 2) Sudut tumpul (90o < x < 180o) 3) Sudut refleksi (180o < x< 360o)
Berkaitan dengan hal tersebut, jika ditinjau dari besar sudutnya, ada tiga jenis segitiga sebagai berikut.
i) Segitiga lancip
Segitiga lancip adalah segitiga yang ketiga sudutnya merupakan lancip, sehingga sudut-sudut yang terdapat pada segitiga tersebut besarnya
antara 0odan 90o. pada gambar 3 (i) di samping, (i) ketiga sudut pada ABC adalah sudut lancip.
ii) Segitiga tumpul
Segitiga tumpul adalah segititga yang salah satu sudutnya merupakan sudut tumpul. Pada ABC
di samping, ABC adalah sudut tumpul. (ii)
A B
C C
A B
C C
A B
iii) Segitiga siku-siku
Segitiga siku-siku adalah segitiga yang salah satu Sudutnya merupakan sudut siki-siku (besarnya 90o).
Pada gambar 3 (iii) di samping, ABC siku-siku di (iii) titik C.
c. jenis-jenis segitiga ditinjau dari panjang sisi dan besar sudutnya
ada dua jenis segitiga ditinjau dari dari panjang sisi dan besar sudutnya sebagai berikut.
i) Segitiga siku-siku sama kaki
Segitiga siku-siku sama kaki adalah segitiga yang kedua sisinya sama panjang dan salah satu sudutnya merupakan sudut siku-siku (90o).
pada gambar 4 (i), ABC siku-siku di titik A, (i) dengan AB = AC.
ii) Segitiga tumpul sama kaki
Segitiga tumpul sama kaki adalah segitiga yang kedua sisinya sama panjang dan salah satu sudutnya merupakan sudut tumpul.
Sudut tumpul ABC pada gambar 4 (ii) di (ii) Samping adalah B, dengan AB = BC.
3. Sifat-Sifat Segitiga Istimewa
Segitiga istimewa adalah segitiga yang mempunyai sifat-sifat khusus (istimewa). Dalam hal ini yang dimaksud segitiga istimewa adalah segitiga siku-
A C B
C
A B
A B
C
25
siku, segitiga sama kaki, dan segitiga sama sisi.
a. Segitiga siku-siku
Gambar. 5
Bangun ABCD merupakan persegi panjang dengan A = B = C =
D = 90o. Jika persegi panjang ABCD dipotong menurut diagonal AC akan terbentuk dua buah bangun segitiga, yaitu ABC dan ADC. Karena B = 90o, maka ABC siku-siku di B. Demikian halnya dengan ADC. Segitiga ADC siku-siku di D karena D = 90o. Jadi, ABC dan ADC masing-masing merupakan segitiga siku-siku yang dibentuk dari persegi panjang ABCD yang dipotong menurut diagonal AC.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut. Besar salah satu sudut pada segitiga siku-siku adalah 90o.
b. Segitiga sama kaki
Perhatikan kembali ABC dan ADC pada Gambar berikut. Impitkan kedua segitiga yang terbentuk tersebut pada salah satusisi siku-siku yang
sama panjang.
Gambar. 6
Tampak bahwa akan terbentuk segitiga sama kaki seperti Gambar diatas.
Dengan demikian, dapat dikatakan sebagai berikut.
Segitiga sama kaki dapat dibentuk dari dua buah segitiga siku-siku yang sama besar dan sebangun.
Catatan:
Dua buah bangun datar yang sama bentuk dan ukuran disebut sama dan sebangun atau kongruen.
c. Segitiga sama sisi
sgitiga sama sisi adalah segitiga yang ketiga sisinya sama panjang. Gambar dibawah ini merupakan segitiga sama sisi ABC dengan AB = BC = AC.
Gambar 7 i) Lipatlah ABC menurut garis AE.
ABE dan ACE akan saling berimpit, sehingga B akan menempati C atau B ↔ C dengan titik A tetap. Dengan demikian, AB = AC. Akibatnya,
ABC = ACB.
ii) Lipatlah segitiga ABC menurut garis CD
ACD dan BCD akan saling berimpit, sehingga A akan menempati B atau A ↔ B dengan C tetap. Oleh kerena itu, AC = BC. Akibatnya, ABC = BAC.
27
iii) Selanjutnya lipatlah menurut BF
ABF dan CBF akan saling berimpit, sehingga A akan menempati C atau A ↔ C, dengan titik B tetap. Oleh kerena itu, AB = BC. Akibatnya, BAC = BCA.
Dari (i), (ii) dan (iii), diperoleh bahwa AC = BC = AB dan ABC = BCA = BCA.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut. Segitiga sama sisi mempunyai tiga buah sisi yang sama panjang dan tiga buah sudut yang sama besar.Sekarang, perhatikan kembali Gambar diatas. Jika ABC dilipat menurut garis AE, ABE dan ACE akan saling berimpit, sehingga AB akan menempati AC dan BE akan menempati CE. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa AE merupakan sumbu simetri dari ABC. Jika ABC dilipat menurut garis CD,
ACD dan BCD akan saling berimpit, sehingga AC akan menempati BC dan AD akan menempati BD. Berarti, CD merupakan sumbu simetri ABC.Demikian halnya jika ABC dilipat menurut garis BF. Dengan mudah, pasti kalian dapat membuktikan bahwa BF merupakan sumbu simetri dari ABC.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.Setiap segitiga sama sisi mempunyai tiga sumbu simetri.
4. Jumlah Sudut-sudut Segitiga
a. Menunjukkan jumlah sudut-sudut segitiga adalah 180o
Dapat menunjukkan bahwa jumlah sudut-sudut segitiga dalam sebuah segitiga adalah 180o.
Catatan:
Jumlah ketiga sudut sudut pada segitiga adalah 180o.
b. menghitung besar salah satu sudut segitiga apabila dua sudut lainnya diketahui
besar suatu sudut segitiga dapat dicari jika besar dua sudut lainnya diketahui.
5. Keliling dan luas segitiga 1. keliling segitiga
Keliling suatu bangun datar merupakan jumlah dari panjang sisi-sisi yang membatasinya, sehingga untuk menghitung keliling dari sebuah segitiga dapat ditentukan dengan menjumlahkan panjang dari setiap sisi segitiga tersebut.
Keliling ABC = AB + BC + AC = c + a + b = a + b + c
Jadi, keliling ABC adalah a + b + c
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut. Suatu segitiga dengan panjang sisi a, b, dan c, kelilingnya adalah
B. Kerangka Pikir
Secara umum hasil belajar matematika siswa masih berada dalam tataran rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa, guru diharapkan
K= a + b + c
A
a b
c B
C
29
mampu berkreasi dengan menerapkan model ataupun pendekatan dalam pembelajaran matematika yang cocok. Model atau pendekatan ini haruslah sesuai dengan materi yang akan diajarkan serta dapat mengoptimalkan suasana belajar.
Salah satu pendekatan yang membawa alam pikiran siswa ke dalam pembelajaran dan melibatkan siswa secara aktif adalah pendekatan matematika realistik. Pendekatan matematika realistik adalah suatu pendekatan yang menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran dimana siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan matematika formalnya melalui masalah-masalah realitas yang ada. Dengan pendekatan ini siswa tidak hanya mudah menguasai konsep dan materi pelajaran namun juga tidak cepat lupa dengan apa yang telah diperolehnya tersebut.
Pendekatan ini pula tepat diterapkan dalam mengajarkan konsep-konsep dasar dan diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan meningkatnya hasil belajar siswa maka pendekatan ini dapat dikatakan efektif.
Adapun bagan dari kerangka berpikir diatas adalah sebagai berikut :
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan tinjauan pustaka, maka hipotesis penelitian ini adalah “Jika siswa diberi pengajaran dengan penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik maka hasil belajar matematika dapat meningkat pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar”
Proses Belajar Mengajar
Penerapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik
Peningkatan Proses Pembelajaran
Meningkatnya Hasil Belajar Metematika Hasil Belajar Matematika Siswa yang Masih Rendah
31
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tind
akan kelas (Classroom Action Research) yang meliputi empat tahap, yaitu:
(a) perencanaan (planning), (b) tindakan (action), (c) observasi (observation) dan evaluasi (evaluation), (d) refleksi (reflection), yang selanjutnya keempat komponen tersebut dirangkaikan dalam suatu siklus kegiatan.
B. Lokasi dan Subyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar dengan subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas VII B pada semester genap tahun ajaran 2013/2014 yang terdiri dari 28 orang.
C. Faktor yang Diselidiki
a. Faktor input, yaitu kehadiran siswa, siswa yang memperhatikan dan mencatat, keaktifan siswa, kerja sam siswa, siswa yang menyimpulkan pelajaran, siswa yang mengerjakan tugas/PR dan siswa yang melakukankegiatan lain pada saat proses pembelajaran.
b. Faktor proses, yaitu dengan mengamati aktivitas siswa serta melihat semangat siswa dalam belajar dengan diterapkannya pendekatan pembelajaran matematika realistik.
c. Faktor hasil, yaitu melihat hasil belajar matematika siswa setelah penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik yang diperoleh dari setiap tes akhir siklus.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:
a. Lembar observasi
Lembar observasi digunakan untuk mengetahui data tentang kehadiran siswa, keaktifan dan perhatian siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar melalui pendekatan pembelajaran matematika realistik.
b. Keterlaksanaan
Keterlaksanaan digunakan untuk melihat perkembangan belajar siswa dalam meningkatkan hasil belajar dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik.
c. Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar digunakan untuk memperoleh informasi tentang penguasaan siswa setelah proses pembelajaran.
33
E. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus, yaitu siklus I diadakan 4 kali pertemuan yang terdiri dari 3 kali proses belajar dan 1 kali tes siklus 1 dan siklus II diadakan 4 kali pertemuan yang terdiri dari 3 kali proses belajar dan 1 kali tes siklus II. Sesuai dengan hakikat penelitan tindakan kelas, maka penelitian pada siklus II merupakan pelaksanaan perbaikan dari kekurangan pada siklus I, dan setiap siklus terdiri dari 4 tahap yakni perencanaan, tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi.
Gambaran Siklus:
a. Tahap Perencanaan
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut :
1) Menelaah Kurikulum siswa SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar kelas VII B mata pelajaran matematika.
2) Membuat rencana pembelajaran yang mencerminkan pendekatan pembelajaran matematika realistik.
3) Membuat tugas dalam bentuk LKS, yang akan dikerjakan oleh siswa secara berkelompok.
4) Membuat instrumen penelitian berupa tes hasil belajar sebanyak 5 nomor dalam bentuk soal essay untuk melakukan evaluasi di setiap akhir siklus.
5) Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi atau keadaan siswa di kelas selama proses belajar mengajar berlangsung.
b. Tahap Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan scenario pembelajaran yang telah direncanakan. Secara garis besar langkah-langkah pelaksanaanya adalah sebagai berikut:
1) Mengajarkan jenis-jenis segitiga sesuai dengan rencana pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik.
2) Pada saat penerapan, guru memberikan contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari siswa.
3) Guru memberikan soal-soal latihanuntuk dikerjakan oleh siswa.
4) Guru membimbing dan mengawasi secar langsung pekerjaan siswa serta menilai apakah sudah benar atau perlu diperbaiki. Jika sudah benar guru menganjurkan untuk mengerjakan soal latihan berikutnya dan jika masih salah guru membimbing sehingga siswa tersebut menemukan jawabannya.
5) Pada setiap akhir pertemuan guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dan memberikan pekerjaan rumah (PR) sebagai latihan di rumah.
6) Pada akhir sub pokok bahasan (siklus I) guru memberikan tes c. Tahap Observasi dan evaluasi
Selama siswa berdiskusi/mengerjakan soal dalam kelompoknya masing-masing, maka peneliti bertindak sebagai penulis terhadap semua kelompok yang ada. Hal-hal yang menjadi pengamatan penulis adalah:
35
Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
1) Selama proses pembelajaran, akan diadakan pengamatan tentang:
a) Keaktifan siswa.
b) Kerjasama antar anggota kelompok c) Perhatian siswa.
d) Kehadiran.
2) Untuk mendapatkan informasi dari siswa tentang kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, maka pada akhir siklus ini siswa akan diminta tanggapannya.
3) Hasil dari pelaksanaan tindakan akan dievaluasi dengan memberikan tes diakhir siklus.
d. Tahap Refleksi
Refleksi dari penelitian berdasarkan hasil observasi dan evaluasi yang dianalisis untuk mengetahuai sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai dengan menggunakan pendekatan dalam proses belajar mengajar.
Hal-hal yang belum berhasil ditindak lanjuti dan hal yang sudah baik dipertahankan.
F. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah personal penelitian yaitu siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar.
2. Jenis Data
Janis data yang dikumpulkan ada dua macam yaitu data kuantitatif dan data kualitatif yang diperoleh dari:
a. Tes hasil belajar sebagai data kuantitatif b. Format observasi sebagai data kualitatif 3. Cara Pengambilan Data
a. Data penguasaan bahar ajar diambil dari tes setiap akhir siklus.
b. Data mengenai perubahan sikap siswa, dikumpul melalui pengamatanpada saat kegiatan berlangsung dengan menggunakan lembar observasi.
G. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data hasil observasi dan respon siswa akan dianalisis secara kualitatif sedangkan data mengenai hasil belajar akan dianalsis dengan manggunakan stastistik deskriptif. Statistik deskriptif yang digunakan adalah frekuesi, varians, rata-rata, atandar deviasi, persentase, nilai minimum dan maksimum yang siswa peroleh. Statistik ini digunakan untuk mengungkapkan keadaan sampel atau mendeskripsikan respon.
Yang digunakan untuk menentukan hasil belajar dengan penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik pada siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar dalam penelitian ini tingkat
37
penguasaannya menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dinyatakan dalam tabel berikut:
Tabel 3.1 Kategori Hasil Belajar Siswa
NO Skor Hasil Belajar Kategorikan
1. 0 < x ≤ 54 Sangat Rendah
2. 54 < x ≤ 64 Rendah
3. 64 < x ≤ 79 Sedang
4. 79 < x ≤ 89 Tinggi
5. 89 < x ≤ 100 Sangat Tinggi
Sumber: Hadiyanto (31 Januari 2013)
H. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas (classroom action reseach) ini adalah setelah diterapkan pembelajaran matematika realistik, maka hasil belajar matematika mengalami peningkatan. Hasil ini ditandai dengan terjadinya peningkatan keaktifan fisik, keaktifan mental dan keaktifan sosial siswa. Sedangkan hasil kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika ditandai dengan meningkatnya skor rata-rata dengan memperhatikan ketuntasan belajar siswa. Adapun teknik analisis kualitatif akan digunakan kategori ketuntasan belajar siswa dapat dari kategori yaitu Seorang siswa disebut telah tuntas hasil belajarnya bila ia telah mencapai skor 65 dan ketuntasan klasikal tercapai jika minimal 85 % mencapai nilai 65 dari skor ideal 100.
38 A. Hasil penelitian
Penelitian tindakan kelas ini telah dilaksanakan pada siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar dari tanggal 16 April 2014 sampai dengan tanggal 17 Mei 2014, dimana waktu pembelajaran pada siklus I pada tanggal 16, 23 dan 30 April 2014 dan pada tanggal 3 Mei 2014 dilaksanakan tes siklus I. Pendekatan pelaksanaan pembelajarannya menggunakan prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas terdiri beberapa siklus dimana masing- masing siklus melalui empat tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi dan evaluasi, serta tahap refleksi. Data hasil penelitian diperoleh melalui data kuantitatif dan data kualitatif.
Aktivitas dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini mengumpulkan data hasil penelitian berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data penelitian kuantitatif merupakan data yang diperoleh dari hasil belajar siswa dengan melakukan tes tertulis pada setiap akhir pelaksanaan siklus pertama dan siklus kedua. Data kualitatif berdasarkan data yang diperoleh dari observasi atau pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa selama pembelajaran Matematika tentang segitiga sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar.
39
1. Deskripsi hasil belajar penelitian siklus I Pertemuan I
a. Tahap perencanaan
Hal-hal yang dilakukan dalam memulai perencanaan adalah:
1. Menelaah Kurikulum SMP Kelas VII B semester I mata pelajaran matematika yang berkaitan dengan materi Segitiga.
2. Membuat rencana pembelajaran yang mencerminkan pendekatan pembelajaran matematika realistik. ( lampiran A.2)
3. Membuat tugas dalam bentuk LKS, yang akan dikerjakan oleh siswa secara berkelompok. ( lmpiran A.3)
4. Membuat instrumen penelitian berupa tes hasil belajar sebanyak 5 nomor dalam bentuk soal essay untuk melakukan evaluasi di setiap akhir siklus. ( lampiran B.2)
5. Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi atau keadaan siswa di kelas selama proses belajar mengajar berlangsung. ( lampiran D.1)
b. Tindakan
Langkah-langkah yang diajukan dalam pelaksanaan tindakan adalah langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dalam menyajikan materi pelajaran melalui pendekatan pembelajaran matematika realistik dengan memperhatikan masalah-masalah kooperatif yang ada pada materi pelajaran matematika dan mencari jawaban atau jalan keluar dari permasalahan tersebut.
Adapun langkah-langkah pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran matematika realistik pada materi pelajaran matematika dari kegiatan awal selama 10 menit, kegiatan inti selama 60 menit dan kegiatan penutup 10 menit, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Kegiatan awal (10 menit)
Fase 1: Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 1) Guru memberi salam dan mengecek kehadiran siswa
2) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan model, pendekatan serta metode yang akan digunakan selama proses pembelajaran.
3) Sebagai apersepsi, Guru memberikan contoh konkret kepada siswa terkait materi yang diajarkan dengan mengaitkan kehidupan nyata siswa, kemudian menstimulus siswa untuk memberikan contoh lain.
Kegiatan inti (60 menit)
Fase 2: Menyajikan informasi
1) Guru menjelaskan materi yang diajarkan dengan mengaitkan materi tersebut dengan kehidupan nyata
2) Guru meminta siswa untuk bertanya terhadap materi yang belum diketahui..
3) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab, jika tidak ada siswa yang mampu menjawab maka guru menanggapi/menjawab pertanyaan dari siswa.
Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif
1) Membagi siswa dalam beberapa kelompok yang beranggotakan 5-6 orang.
41
2) Membagikan Buku Siswa dan LKS kepada siswa.
3) Memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca dan memahami materi yang dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa yang belum memahaminya untuk bertanya.
4) Memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan LKS secara kelompok.
Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar
1) Selama siswa bekerja, guru membimbing siswa dalam bekerja kelompok dan berkeliling untuk melihat pekerjaan siswa dan mengarahkan serta memberikan bimbingan jika ada kelompok yang mengalami kesulitan.
2) Guru memperhatikan dengan seksama kerjasama kelompok.
3) Guru mengecek pemahaman kerja kelompok dan memberikan umpan balik apabila ada siswa yang bertanya.
Fase 5: Evaluasi
1) Setelah masing-masing kelompok menyelesaikan tugasnya, Guru mengarahkan siswa untuk memulai diskusi kelas dengan memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok menunjuk salah satu anggotanya untuk mempersentasekan hasil kerja kelompoknya dan kelompok lain menanggapi.
2) Guru membimbing dan mengarahkan diskusi jika terdapat perbedaan pendapat, guru bertindak sebagai fasilitator
3) Memberi kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan dari diskusi kelas.
Fase 6: Memberikan Penghargaan
Memberikan penghargaan berupa pujian sesuai nilai yang diperolehnya dan kepada kelompok yang mempunyai interaksi personal paling dinamis.
Kegiatan akhir (10 menit)
1) Guru mengumpulkan LKS setiap kelompok 2)Memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswa
3) Guru mengingatkan siswa untuk mempelajari materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
4) Guru mengakhiri pertemuan dengan salam.
c. Observasi dan evaluasi
Pada pertemuan I tercatat aktifitas siswa yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung. Aktifitas tersebut diperoleh dari lembar obsevasi yang tercatat pada pertemuan I, yaitu:
a. Frekuensi kehadiran siswa pada pertemuan I sebanyak 25 orang dari 28 siswa.
b. Siswa yang focus memperhatikan pada saat guru menjelaskan materi pelajaran sebanyak 15 orang.
c. Siswa yang aktif dalam kegiatan kelompok sebanyak 20 orang.
d. Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru sebanyak 10 orang.
e. Siswa memberanikan diri mengerjakan soal dipapan tulis sebanyak 9 orang.
f. Siswa yang melakukan kegiatan lain (rebut) sebanyak 10 orang.
g. Siswa yang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) sebanyak 25 orang.