3. METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan peneliti adalah penelitian konklusif (Conclusive Research). Penelitian konklusif adalah penelitian yang bertujuan untuk menguji atau membuktikan sesuatu dan untuk membantu peneliti dalam memilih tindakan khusus selanjutnya (Kuncoro, 2003, p. 76). Jenis penelitian ini juga penelitian yang spesifik, tujuannya jelas dan hasilnya secara langsung dan nyata dalam memberikan informasi dan penerapannya. Riset konklusif ini digolongkan dalam riset kausal yaitu hubungan sebab-akibat, di mana yang menjadi penyebabnya adalah variabel WFC sedangkan yang menjadi akibatnya adalah stres kerja dan kinerja karyawan.
3.2 Gambaran Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi
Menurut Sugiyono (2010, p. 115), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penulis untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam hal ini populasi yang diambil oleh peneliti adalah karyawan wanita yang sudah menikah dan bekerja di Hotel bintang 4-5 Surabaya.
3.2.2 Sample
Sample menurut Sugiyono (2004, p. 72) adalah “bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Sample merupakan sebuah bagian yang berguna bagi tujuan penelitian dan juga aspek-aspeknya. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode purposive sampling dikarenakan setiap elemen dalam populasi dipilih dengan kriteria tertentu. Kriteria dari sampel yang diambil adalah karyawan wanita yang sudah menikah baik yang sudah mempunyai anak ataupun belum dan sudah bekerja dalam lingkup Hotel bintang 4-5 selama 1 tahun di Surabaya sebanyak 60 responden.
Penulis menyebarkan sebanyak 80 kuisioner dengan objek 2 hotel bintang 4 yaitu Mercure Hotel Surabaya dan Harris Hotel & Conventions Gubeng Surabaya dan 2 hotel bintang 5 yaitu Hotel Shangri-La Surabaya dan Sheraton Hotel Surabaya. Pada tabel 3.1 dapat dilihat jumlah data yang dapat digunakan untuk diolah lebih lanjut hanya ada 70 kuisioner. Maka peneliti mengolah lebih lanjut 70 data responden tersebut.
Tabel 3.1 Penyebaran Kuisioner
Nama Hotel Periode Kuisioner Kuisioner Kuisioner Penyebaran yang disebar yang yang bisa
kembali diolah
Shangri-La Hotel 6 – 9 Juni 20 19 19
Surabaya 2018
Sheraton Hotel 6 – 9 Juni 20 17 17
Surabaya 2018
Mercure Hotel 7 – 10 Juni 20 17 17
Surabaya 2018
Harris Hotel & 6 – 10 Juni 20 17 17
Conventions 2018
Gubeng Surabaya
Total Kuisioner Yang Bisa Diolah 70
3.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Kuantitatif adalah suatu karakteristik dari suatu variabel yang nilai-nilainya dinyatakan dalam bentuk numerical (Sugiono, 2007). Untuk sumber data, peneliti akan menggunakan data primer dan sekunder. Terdapat dua sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang langsung diperoleh dari sumber data pertama di lokasi penelitian atau obyek penelitian (Bungin, 2006, p.
122). Dalam penilitian ini data-data didapat langsung dari reponden yaitu kuesioner yang dibagikan kepada karyawan wanita yang sudah menikah baik yang sudah mempunyai anak atau belum di seluru departemen di Hotel bintang 4 -5 di Surabaya.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder dari data yang peneliti butuhkan (Bungin, 2006, p.
122). Dalam penelitian ini data-data sekunder digunakan untuk mendukung penelitian berupa data kepegawaian, profil hotel dan stuktur organisasi.
3.4 Metode dan Prosedur Pengumupulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dengan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Jenis kuesionernya adalah kuesioner tertutup, yaitu kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap sehingga responden tinggal memilih jawaban-jawaban yang telah disediakan di dalam kuesioner (Bungin, 2006). Data dikumpulkan dari hasil membagikan kuesioner dengan menggunakan skala likert. Menurut Sugiono (2004, p. 84) “skala likert dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekolompok orang mengenai fenomena sosial”. Skala likert digunakan dengan nilai 1-5 dan dalam pengukurannya setiap responden diminta pendapatnya mengenai suatu pertanyaan, dengan skala penilaian dari 1 (satu) sampai dengan 5 (tima) sebagai berikut :
Sangat tidak setuju : 1
Tidak Setuju : 2
Antara Setuju atau tidak setuju : 3
Setuju : 4
Sangat setuju : 5
3.5 Variabel dan Definisi Operasional Variabel 3.5.1 Variabel
Variabel menurut Kuncoro (2003, p.40) adalah “suatu yang dapat membedakan atau mengubah nilai”. Nilai dapat berbeda pada waktu yang berbeda untuk obyek atau orang yang sama atau nilai yang berbeda dalam waktu yang sama untuk obyek atau orang yang berbeda. Secara konseptual variabel dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
1. Variabel eksogen (X) adalah variabel yang bisa mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen dan mempunyai pengaruh hubungan dengan variabel dependen. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah WFC yang di beri simbol (X).
2. Variabel endogen (Y) adalah variabel yang menjadi pusat atau inti dalam sebuah pengamatan. Pengamat akan menentukan ataupun menerangkan variabel dependen beserta perubahannya yang terjadi kemudian. Dalam penelitian ini variabel dependen adalah kinerja karyawan yang di beri simbol (Y).
3.5.2 Definisi Operasional
Menurut Sugiyono (2004, p.31), definisi operasional adalah penentuan konstruk sehingga menjadi variabel yang dapat diukur. Definisi operasional menjelaskan cara tertentu yang digunakan untuk meneliti dan mengoperasikan konstruk, sehingga memungkinkan bagi peneliti yang lain untuk melakukan replikasi pengukuran dengan cara yang sama atau mengembangkan cara pengukuran yang lebih baik.
3.5.2.1 Work-Family Conflict
WFC adalah bentuk konflik dimana tuntutan peran dari pekerjaan dan keluarga secara mutual tidak dapat disamakan dalam beberapa hal. Dalam penelitian ini WFC dilihat dari beberapa indikator, yaitu :
1. Time Based Conflict (WFC1)
Waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan satu tuntutan entah dari pekerjaan atau keluarga dapat mengurangi waktu untuk menjalankan satu tuntutan lainnya baik pekerjaan maupun keluarga. Indikatornya adalah :
a. WFC 1.1
Karyawan merasa sulit membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga
b. WFC 1.2
Karyawan merasa kekurangan waktu untuk mengurus keluarga karena menghabiskan banyak waktu untuk bekerja
c. WFC 1.3
Karyawan merasa jadwal (shift) kerja seringkali menyulitkan karyawan untuk memenuhi tanggung jawab peran gandanya 2. Strain Based Conflict (WFC 2)
Tekanan yang terjadi daru salah satu pihak yang mengakibatkan terjadinya pengaruh terhadap pihak lainnya. Indikatornya adalah :
a. WFC 2.1
Tekanan psikologis yang disebabkan oleh permasalahan dalam keluarga seringkali menyebabkan karyawan tidak dapat bekerja dengan maksimal (contoh: pasangan hidup kurang mendukung karir dari karyawan atau adanya tanggung jawab mengurus anak yang masih balita)
b. WFC 2.2
Tekanan yang dialami karyawan di tempat kerja mengganggu kerhamonisan keluarga.
3. Behavior Based Conflict (WFC3)
Berhubungan dengan ketidaksesuaian pola perilaku dengan yang diinginkan oleh kedua bagian (pekerjaan atau keluarga). Indikatornya adalah :
a. WFC 3.1
Tuntutan pekerjaan membuat karyawan berperilaku lebih emosional (mudah marah, tersinggung)
b. WFC 3.2
Karyawan merasa menjadi lebih emosional (mudah marah, tersinggung) ketika menghadapi anggota keluarga
3.5.2.2 Stress Kerja (SK)
Definisi operasional dari stress kerja adalah keadaan dimana individu mampu menghadapi tuntutan yang mengakibatkan ketegangan dan menibulkan ketidak stabil an fisik, perilaku, psikologis. Indikator yang digunakan adalah :
a. SK 1
Tekanan dalam lingkungan kerja mengakibatkan karyawan mengalami penurunan kesehatan (sakit kepala, tidur tidak teratur, tekanan darah tinggi).
b. SK 2
Tekanan dalam lingkungan kerja mengakibatkan karyawan merasa kondisi emosi yang tidak stabil.
c. SK 3
Tekanan yang berlebihan mengakibatkan penurunan konsentrasi dan fokus pada karyawan.
d. SK 4
Tekanan yang berlebihan mengakibatkan karyawan menutup diri dengan orang lain (kepercayaan menurun, mudah menyalahkan dan mencari kesalahan orang lain).
3.5.2.3 Kinerja Karyawan (KK)
Definisi operasional dari kinerja karyawan adalah akerja secara kualitas dan kuantitas yang di capai oleh karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan padanya. Indiktor yang digunakan adalah:
a. KK1 (Quality of work)
Karyawan mampu memberikan layanan atau menghasilkan produk yang sesuai dengan standar waktu yang di tetapkan.
b. KK2 (Quality of work)
Karyawan mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan standart kualitas produk dan layanan yang ditetapkan.
c. KK3 (Knowledge of job)
Karyawan memahami setiap tugas dan tanggung jawab pekerjaan sesuai dengan SOP.
d. KK4 (Personal qualities)
Karyawan menunjukkan standar keramahan yang seharusnya (memiliki kesadaran dalam melayani tamu dan selalu tersenyum).
e. KK5 ( Coorperation)
Karyawan mampu bekerja sama dengan rekannya dalam tim.
f. KK6 (Dependability)
Karyawan menunjukkan disiplin dalam bekerja.
g. KK7 (Initiative)
Karyawan bersedia untuk membantu mengerjakan tugas lain di luar tanggung jawabnya.
3.6 Teknik Analisa Data
Teknik analisa yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM) berbasis Partial Least Square (PLS) untuk menjawab rumusan masalah.
PLS pertama kali dikembangkan oleh Herman Wold , sebagai metode umum untuk mengestimasi path model. Wold membangun PLS untuk menguji suatu teori yang lemah dan masalah pada asumsi normalitas distribusi data (Jogiyanto, 2009). Dalam menggunakan PLS ada beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu merancang inner model dan outer model, mengkonstruksi diagram jalur, mengkonstruksikan diagram jalur ke sistem persamaan, estimasi loading, Evaluasi Goodness of fit, dan pengujian hipotesis (Kurnia, 2011).
3.6.1 Standard Deviasi
Standar Deviasi adalah penghitungan ini digunakan untuk mengetahui keragaman dari responden. Semakin kecil makan semakin homogen jawaban responden, sebaliknya jika nilai semakin besar maka heterogen.
Dengan rumus :
( ∑ )2
= √ ∑ ² − (3.1)
Keterangan (Arikunto, 2007) : SD = Standar Deviasi
∑ ²
∑ ²
= Tiap skor dikuadratkan lalu dijumlah kemudian dibagi N
= Semua skor dijumlahkan, dibagi N, lalu dikuadratkan
3.6.2 Uji Validitas
Pengujian validitas yang digunakan untuk mengukur apakah butir-butir petanyaan dalam kuisioner benar2-benar dapat mengukur apa yang hendak di ukur. Uji validitas yang digunakan adalah uju kesahihan konstruk, yaitu mempertanyakan butir-butir pertanyaan dalam kuisioner telah sesuai dengan konsep.
Uji validitas dilakukan dengan cara membandingan angka r hitung dengan r tabel. Jika r hitung lebih besar dari r tabel maka, item dikatakan valid. R hitung dapat dihasilkan dari program SPSS, sedangkan r tabel di dapat dari melihat tabel r dengan ketentuan r adalah minimal 0,3 (Sugiyono,2010). Nilai r tabel tiap indikator dapat dilihat dalam tabel-tabel berikut ini:
Tabel 3.2 Uji Validitas WFC
Item Corrected Item
r tabel Keterangan Correlation
WFC1.1 0.923 0.30 Valid
WFC1.2 0.850 0.30 Valid
WFC1.3 0.801 0.30 Valid
WFC2.1 0.732 0.30 Valid
WFC2.2 0.732 0.30 Valid
WFC3.1 0.777 0.30 Valid
WFC3.2 0.777 0.30 Valid
Dari tabel 3.2 di atas dapat diketahui bahwa semua item pernyataan pada masing-masing indikator WFC adalah valid karena nilai Corrected Item Correlation yang dihasilkan lebih besar dari 0,30.
Tabel 3.3 Uji Validitas Stres Kerja Item Corrected Item
r tabel Keterangan Correlation
SK1 0.685 0,30 Valid
SK2 0.651 0,30 Valid
SK3 0.751 0,30 Valid
SK4 0.622 0,30 Valid
Dari tabel 3.3 di atas dapat diketahui bahwa semua item pernyataan pada variabel stress kerja adalah valid karena nilai Corrected Item Correlation yang dihasilkan lebih besar dari 0,30
Tabel 3.4 Uji Validitas Kinerja Karyawan
Item Corrected Item
r tabel Keterangan Correlation
KK1 0.894 0,30 Valid
KK2 0.918 0,30 Valid
KK3 0.926 0,30 Valid
KK4 0.893 0,30 Valid
KK5 0.876 0,30 Valid
KK6 0.891 0,30 Valid
KK7 0.707 0,30 Valid
Dari tabel 3.4 di atas dapat diketahui bahwa semua item pernyataan pada variabel stress krja adalah valid karena nilai Corrected Item Correlation yang dihasilkan lebih besar dari 0,30.
3.6.3 Uji Reliabilitas
Teknik analisa selanjutnya adalah PLS-SEM. Model persamaan structural (SEM) adalah teknik statistika untuk menguji dan mengestimasi hubungan kausal dengan mengitegrasikan alaisis faktor dan analisis jalur ( Jogiyanto dan Abdilah, 2016). Analisa PLS adalah teknik statistika multivariate yang melakukan pembandingan antara variabel dependen berganda dan variabel independen berganda. PLS merupakan salah satu metode statistika SEM berbasis varian yang didesain untuk mentelesaikan regresi berganda ketika terjadi permasalahan spesifik pad data, seperti ukuran sampel penelitian kecil, adanya data yang hilang dan multikolinearitas (Jogiyanto dan Abdilah, 2016). PLS adalah metode analisis
yang powerful karena tidak mengasumsikan data dengan pengukuran tertentu, dapat diterapkan pada semua skala data, dan tidak membutuhkan banyak asumsi dan ukuran sampel (Sugiyono,2009).
Uji ini dilakukan dengan membandingkan angka cronbach alpha dengan ketentuan nilai minimal 0,6. Artinya jika nilai yang didapatkan dari perhitungan SPSS > 0,6 maka disimpulkan kuisioner tersebut reliable, sebaliknya jika lebih kecil dari 0,6 maka kuisioner tidak reliable. Hasil perhitungan reliabilitas dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut ini:
Tabel 3.5 Uji Reliabilitas
Variabel Cronbach Alpha Keterangan
Time Based Conflict
0.929 Reliabel
(WFC1)
Strain Based Conflict
0.845 Reliabel
(WFC 2)
Behavior Based Conflict
0.875 Reliabel
(WFC3)
Stress kerja 0.774 Reliabel
Kinerja karyawan 0.962 Reliabel
Variabel WFC (Time Based Conflict, Strain Based Conflict, Behavior Based Conflict), stress kerja dan kinerja karyawan adalah reliabel, hal ini dikarenakan nilai Cronbach Alpha yang dihasilkan lebih besar dari 0,60.
3.6.4 Goodness of Fit Outer Model
Dengan model ini dapat diketahui validitas dan reabilitas instrument. Jika apa yang diinginkan dalam penelitian dapat diungkapkan data variabel yang teliti dan tepat maka dapat dapat dikatakan instrument tersebut valid. Uji validitas harus di lakukan untuk mengetahui valid atau tidaknya instrument dalam penelitian, dan dan dapat dilihat dari nilai koefisien korelasi antara skor item dan skor totalnya pada taraf signifikan yang dipilih. Model tersebut dievaluasi menggunaka convergent validity dan discriminant validity dari indikatornya composite reliability sebagai blok indikator.
1. Convergent validity merupakan sebuah pengukuran yang digunakan untuk mengukur antara skor indikator dengan variabel yang tidak bisa di ukur,
misalnya: WFC, stress kerja, kinerja karyawan. Dalam penelitian ini, loading factor yang digunakan adalah 0,5-0,6 dianggap cukup pada penelitian tahap awal
2. Discriminant validity merupakan pengukuran indikator dengan variabel dengan variabel yang tidak bisa di ukur. Dibandingkan dengan nilai square root average variance extracted (akar AVE) setiap kosntruk dengan korelasi anatar konstrk untuk mengukur discriminant validity tersebut terhadap konstruk lainnya dalam model. Jika nilai akar AVE lebih besar dari niai koerlasi terhadap konstruk lainnya dalam model, maka disimpulkan konstruk tersebut mempunyai nilai discriminant validity yang baik dan sebaliknya. Pengukuran AVE harus lebih besar dari 0,5
3. Composite reliability menunjukkan derajat yang mengindikasikan common latent, sehingga dapat menunjukkan indikator blok yang mengukur konsistensi internal dan pembentuk konstruk. Nilai batasnya adalah 0.7, walaupun bukan standar absolute.
3.6.5 Goodness of Fit Inner Model
Inner model menggambarkan hubungan antara variabel laten bedasarkan teori substantive. Model structural dievaluasi dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependent, Q-square test untuk predictive relevance dan uji t serta signifikansi dari koefisien parameter jalur structural. Q-square untuk mengukur seberapa baik nilai obeservasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Nilai Q-square > 0 menunjukkan model memiliki predictive relevance dan jika ≤ 0 , maka kurang memiliki predictive relevance. Uji t digunakan untuk pengujian hipotesis,Bila di peroleh p-value ≤ 0,05 (alpha 5 %), maka dapat disimoulkan signifikan atau sebaliknya. Jika hasil pengujian hipotesis pada oter model signifikan , maka menunjukkan bahwa indikator dipandang dapat digunakan sebagai instrument pengukur variabel laten. Sedangkan bila hasil pengujian pada inner model adalah signifikan, maka dapat dikatakan terdapat pengaruh yang bermakna variable laten terhadap variabel laten lainnya.
Dalam PLS dimuali dengn melihat R-square untuk setiap variabel dependen. Interpretasinya sama dengan interpretasinya sama dengan intrepretasi
pada regresi. Perubahan pada nilai R-square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen apakah memiliki pengaruh yang substantive (Ghozali, 2006). Selain R-square, pada PLS juga dievaluasi dengan melihat Q-square prediktif relevansi untuk model konstruktif. Q-square mengukur seberapa baik observasi di hasilkan oleh model dan juga estimasi parmeternya.
3.7 Uji Hipotesis
Uji hipotesis dapat dilakukan dengan membandingkan T-table dan T- statistic. Jika nilai T-statistic lebih tinggi dibandingkan T-table maka hipotesis terdukung. Untuk tingkat keyakinan 95 persen (alpha 5 persen) maka nilai T-table hipotesis dua ekor (two-tailed) diatas 1,96 dan diatas 1,64 untuk hipotesis satu ekor (one-tailed).