• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Pasokan ikan nasional saat ini sebagian besar berasal dari hasil penangkapan ikan di laut, namun pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap disejumlah negara dan perairan internasional saat ini dilaporkan telah terjadi overfishing. Salah satu alternatifnya yaitu perikanan budidaya (Sukadi 2002).

Budidaya di Indonesia memiliki kontribusi besar dimana produksi yang dihasilkan sebesar 47,49% pada tahun 2008 dengan pertumbuhan budidaya sebesar 21,93%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan perikanan tangkap yang hanya sebesar 2,95% (Peraturan Menteri Kelautautan Perikanan 2010).

Pulau Jawa merupakan pasar yang sangat potensial untuk hasil perikanan.

Sedikitnya setiap tahun sekitar 1,94 juta ton ikan terserap rumah tangga di Pulau Jawa. Sementara serapan ikan di luar Pulau Jawa, dengan tingkat konsumsi ikannya yang mencapai dua kali lipat lebih tinggi dibanding Pulau Jawa, hanya mampu menyerap 2,87 juta ton ikan. Dari total serapan ikan di Pulau Jawa, sebagian besar ikan terserap di Jawa Barat 651.354 ton atau 32,55%, Jawa Timur 605.788 ton atau 30,27% dan Jawa Tengah berada pada peringkat ketiga dengan total penyerapan ikan mencapai 375.505 ton atau 18,71%. Hal ini sebanding dengan jumlah penduduk di masing-masing provinsi (Warta Pasar Ikan 2013).

Besarnya potensi perikanan yang ada ada di Jawa Barat tersebut, menjadikan Provinsi tersebut sebagai salah satu target minapolitan. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat menyatakan bahwa pembangunan kawasan minapolitan di Jawa barat meliputi Pelabuhanratu di Kabupaten Sukabumi, Rancabuaya di Kabupaten Garut, Pangandaran di Kabupaten Ciamis, Indramayu, Cirebon, dan Karawang (Seputar Indonesia 2010).

Kabupaten Indramayu memberikan kontribusi bagi Provinsi Jawa Barat sebesar 60% dari kebutuhan perikanan. Kemampuan Indramayu untuk mensuplai perikanan bagi daerah lain di dukung oleh kondisi ekologis dan geografis yang potensial untuk pengembangan usaha kelautan dan perikanan. Hal ini dikarenakan

(2)

letak Kabupaten Indramayu berada di pesisir atau berbatasan dengan laut Jawa sehingga suhu, iklim, maupun topografi yang dimiliki oleh Kabupaten Indramayu sesuai untuk pengembangan potensi kelautan dan perikanan (Deni 2012).

Berdasarkan kondisi ekologis dan geografis yang berada di pesisir menjadikan usaha perikanan dominan kepada jenis budidaya tambak, dimana data produksi budidaya tahun 2007-2011 menunjukkan bahwa produksi tambak mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dan selalu lebih tinggi dibandingkan produksi budidaya kolam (Tabel 1). Hal ini menunjukkan bahwa budidaya tambak berperan besar dalam menyumbang produksi ikan budidaya di Kabupaten Indramayu.

Tabel 1. Produksi Hasil Budidaya Tambak dan Tawar Tahun 2007-2011 Jenis

Budidaya

Produksi (Ton)

2007 2008 2009 2010 2011

Kolam 12.331,11 15.182,53 19.777,03 51.852,40 51.214,62 Tambak 29.201,59 35.390,75 42.658,30 82.149,80 101.454,95 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Indramayu 2007-2011.

Permintaan produk perikanan baik untuk memenuhi permintaan ekspor, kebutuhan bahan baku industri maupun kebutuhan konsumsi protein hewani penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Tingkat konsumsi ikan per kapita per tahun di Indonesia hampir memenuhi standar FAO 2011 yaitu sebesar 30 kg per kapita per tahun. Angka ini masih tergolong rendah apabila dibandingkan dengan beberapa negara di antaranya Jepang 110 kg, Korea Selatan 85 kg, Amerika Serikat 80 kg, Malaysia 45 kg, dan Thailand 35 kg (Vigrantari et. al. 2011). Permintaan akan produk perikanan baik ikan segar maupun ikan olahan di Kabupaten Indramayu dari tahun ke tahun juga terus mengalami peningkatan setiap tahunnya yakni dari Rp. 7.757,-/kapita/bulan pada tahun 2007 menjadi Rp. 15.111,-/kapita/bulan pada tahun 2011 (Tabel 2) (Badan Pusat Statistik Indramayu 2007-2011).

(3)

Tabel 2. Rata-rata Nilai Konsumsi Ikan Perkapita Perbulan di Kabupaten Indrmayu

Tahun Konsumsi Ikan (Rp/kapita/bulan)

2007 7.757

2008 8.329

2009 12.171

2010 13.807

2011 15.111

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Indramayu tahun 2007-2011

Lokasi tambak di Kabupaten Indramayu berada di Kecamatan Krangkeng, Karangampel, Juntinyuat, Balongan, Indramayu, Pasekan, Sindang, Arahan, Cantigi, Lohbener, Losarang, Kandanghaur, Sukra, dan Patrol. Wilayah dengan produksi tambak tertinggi berada di Kecamatan Cantigi dimana produksinya sebesar 26.973,67 ton, Pasekan 25,855.20 ton dan Losarang 15,152.91 ton pada tahun 2012 (Dinas Kelautan dan Perikanan Indramayu 2012). Besarnya potensi tambak tersebut menjadikan udang, bandeng (Tabel 3) dan rumput laut sebagai komoditas unggulan di Kabupaten Indramayu (Deni 2012). Berdasarkan data statistik Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu tahun 2011, jumlah pembudidaya bendeng terbesar berada di Kecamatan Pasekan yaitu sebanyak 949 orang.

Tabel 3. Data Statistik Produksi Ikan Bandeng di Kecamatan Pasekan Tahun 2008 - 2012

Tahun Realisasi (Ton) Target (Ton) Presentasi Realisasi/Target (%)

2008 47.757,14 59.304 80,52

2009 32.575 97.092 33,55

2010 66.494,03 107.976 61,58

2011 69.544,62 108.900 63,86

2012 12.085,1 123.456 9,78

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu tahun 2008-2012

(4)

Produksi ikan bandeng di Kecamatan Pasekan tahun 2008-2012 menunjukkan ketidakstabilan dan berada dibawah volume produksi yang ditargetkan (Tabel 3). Pada tahun 2008-2009 terjadi penurunan produksi sebesar 47.724,565 ton, selanjutnya pada tahun berikutnya yaitu tahun 2009-2011 terjadi peningkatan produksi dari 32.575 ton menjadi 69.544,62 ton. Pada tahun 2012 terjadi penurunan kembali yaitu sebesar 5.745,95 ton, produksi tersebut merupakan produksi terendah selama 5 tahun terakhir dan jauh dari target yang di tetapkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramyu dari tahun 2008 sebesar 59.304 ton yang hanya terealisasi sebesar 80,52% menjadi 123.456 ton dan terealisasi hanya sebesar 9,78% pada tahun 2012. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai analisis tingkat produktivitas dan faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas budidaya bandeng di Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut :

1. Apa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas budidaya bandeng di Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu.

2. Sejauh mana tingkat produktivitas perikanan bandeng di Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menganalisis faktor faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas budidaya bandeng di Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu.

2. Menganalisis tingkat produktivitas budidaya bandeng di Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu.

(5)

1.4 Kegunaan Penelitian

Beberapa kegunaan yang dapat diperoleh dari adanya penelitian ini, antara lain :

1. Memberikan informasi dan kontribusi ilmu pengetahuan tentang peningkatan atau penurunan produktivitas dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perikanan budidaya bandeng di Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu, sehingga dapat menjadi acuan sebagai langkah perbaikan untuk peningkatan produktivitas guna kesejahteraan bersama.

2. Bagi pemerintah, pengetahuan tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas perikanan budidaya bandeng dapat menjadi acuan kebijakan dalam sektor budidaya bandeng.

3. Bagi pembudidaya, pengetahuan tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas perikanan budidaya bandeng dapat menjadikan budidaya tersebut akan lebih efektif dan efesien.

1.5 Pendekatan Masalah

Pengembangan perikanan budidaya pada saat ini sangat strategis jika pengembangannya ke arah peningkatan produktivitas. Hal ini karena berbagai keterbatasan yang ada terutama lahan dan air menjadikan peningkatan produktivitas merupakan arah pengembangan yang harus terus di dorong. Oleh karena itu perlu analisis mengenai berbagai faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas perikanan budidaya ini.

Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki potensi perikanan cukup besar. Kabupaten Indramayu yang berada di Pantai Utara Jawa menjadikan kabupaten ini memiliki potensi sumber daya perikanan budidaya serta pemasaran yang strategis. Pemerintah daerah Kabupaten Indramayu berencana mengembangkan potensi perikanan yang ada, sehingga Kabupaten Indramayu menjadi salah satu Kabupaten pemasok sumber daya perikanan budidaya di Provinsi Jawa Barat (Gambar 1).

(6)

Keterangan :

Batasan penelitian

Gambar 1. Pendekatan Masalah

Indramayu pemasok perikanan 60% di

Jawa barat

Produktivitas perikanan Budidaya

Bandeng

Bandeng salah satu komoditas

unggulan

Upaya peningkatan

Produksi Bandeng Analisis

tingkat produktivitas

Untuk mengetahui faktor-faktor

yang mempengaruhi

produktivitas

Intensif Semi Intensif

 Pakan buatan.

 tingkat

control, biaya awal dan teknologi.

 Produksi yang dihasilkan 20.000-

200.000 kg/ha pertahun (Crespy dan Coche 2008)

 Pakan alami dan pakan buatan

 menggunakan aerasi dan pompa.

 Produksi yang dihasilkan 2.000- 20.000kg/ha pertahun

(Crespy dan Coche 2008)

Sulit dilakukan Peningkatan

produksi

(7)

Peningkatan produktivitas perikanan budidaya bandeng dilakukan melaui 2 cara yaitu Intensif dan Semi Intensif. Peningkatan produktivitas di Kabupaten Indramayu difokuskan kepada sistem semi intensif. Crespy dan Coche (2008) menjelaskan bahwa sistem semi intensif adalah sistem budidaya berkarakteristik : (i) produksi 2 sampai 20 ton/ha/tahun; (ii) tergantung makanan alami, didukung oleh pemupukan dan ditambah pakan buatan; (iii) benih berasal dari pembenihan (iv) penggunaan pupuk secara regular; (v) beberapa menggunakan pergantian air atau aerasi, biasanya menggunakan pompa atau gravitasi untuk suplai air, umumnya memakai kolam yang sudah dimodifikasi; (vi) Produksi yang dihasilkan dari sistem ini adalah 2.000-20.000kg/ha pertahun. Sedangkan sistem intensif adalah sistem budidaya yang bercirikan : (i) produksi mencapai 200 ton/ha/tahun;

(ii) tingkat kontrol yang tinggi; (iii) biaya awal yang tinggi, tingkat teknologi tinggi, dan efisiensi produksi yang tinggi; (iv) mengarah kepada tidak terpengaruh terhadap iklim dan kualitas air lokal; (v) menggunakan sistem budidaya buatan;

(vi) Produksi yang dihasilkan dari sistem ini adalah 20.000-200.000 kg/ha pertahun. Diketahuinya faktor yang berperan penting dalam budidaya semi intensif dapat menunjang tercapainya peningkatan produktivitas budidaya.

Gambar

Gambar 1. Pendekatan Masalah

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang menunjukan nilai ekonomi air total resapan hutan lindung Gunung Sinabung dan hutan lindung TWA Deleng Lancuk di Desa Kuta Gugung dan Desa Sigarang

pendidikan 37Yo responden menjawab ingin beke{a dan melanjutkan strata dua. Responden kurang berani untuk mengambil resiko memulai sebuah usaha dengan kendala-kendala

In terms of faculty driven by different motivations be- fore and after receiving tenure, our results indicate that, for pretenured faculty, research productivity is dominated by

[r]

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis diberi kemudahan, kesabaran, kekuatan serta

Tinea pedis adalah infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari kaki dan telapak kaki, dengan lesi terdiri dari beberapa tipe, bervariasi dari ringan, kronis

algoritma kompresi LZW akan membentuk dictionary selama proses kompresinya belangsung kemudian setelah selesai maka dictionary tersebut tidak ikut disimpan dalam file yang

Pendapatan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (2) bersumber dari pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong