• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KOMITE MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN TAHUN 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KOMITE MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN TAHUN 2020"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

TAHUN 2021

(2)

KATA PENGANTAR

Peningkatan mutu pelayanan dan keselamatam pasien di rumah sakit merupakan gerakan universal yang dilakukan secara keseluruhan dengan terus menerus untuk mengurangi resiko terhadap pasien dan staf baik dalam proses klinis maupun lingkungan fisik. Salah satu cara untuk mengukur mutu pelayanan rumah sakit dengan menggunakan indikator mutu berdasarkan kriteria high risk, high volume, high cost.

Indikator mutu adalah suatu cara untuk mengukur mutu dari suatu kegiatan yang digunakan untuk menilai sebuah perubahan. Pengukuran mutu melalui indikator mutu dapat digunakan untuk menilai mutu pada berbagai kondisi dan penilaian tersebut harus berdasarkan data. Penggunaan data secara efektif dapat dilakukan bila praktek klinis dan peralatan manajemen telah dijalankan berdasarkan eviden-base.

Pengukuran mutu dengan menggunakan indikator kunci atau indikator prioritas baik di area klinis, area manajemen maupun di area sasaran keselamatan pasien. Mutu tidak terpisahkan dari standar karena kinerja diukur berdasarkan standar. Standar yang ditetapkan di rumah sakit harus berdasarkan standar pelayanan minimum rumah sakit agar dapat memberikan pelayanan yang optimal dan berbasis dengan keselamatan pasien.

Bantul, Januari 2021

Penyusun

(3)

dengan kebutuhan dan pelayanan pasien, dan juga berfokus high risk, high volume, dan high cost.

Pimpinan rumah sakit bertanggung jawab membuat pilihan perubahan kegiatan rumah sakit yang akan menjadi indikator kunci rumah sakit. Program peningkatan mutu rumah sakit dan keselamatan pasien terdiri dari 3 area yaitu indikator mutu area klinis, area manajemen dan area keselamatan pasien.

Berdasarkan hasil capaian indikator mutu, Rumah sakit dapat membuat rancangan baru dan melakukan modifikasi sistem untuk indikator mutu yang belum memenuhi standar. Dengan berbasis data yang sudah berbasis dengan SIM, kita dapat memonitoring mutu melalui capaian indikator mutu dari setiap ruangan sehingga rumah sakit mampu mengambil kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan dan keselamatan pasien.

Oleh karena itu, saya menyambut baik atas kerjasama dari semua Bidang dan Bagian sehingga Laporan Kegiatan Komite Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien ini dapat dilaksanakan dengan baik. Harapan kami hasil laporan ini dapat dipakai sebagai bahan kajian untuk mengevaluasi kinerja dari pelayananan yang telah

(4)

diberikan kepada masyarakat dan dipakai sebagai bahan perbaikan apabila ada kekurangan yang akhirnya mutu pelayanan akan semakin meningkat.

Akhirnya kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama sehingga laporan ini dapat tersusun dan semoga bermanfaat bagi semua pihak .

Direktur

RSUD Panembahan Senopati Bantul

dr. I Wayan Marthana Widiana Kedel,, Sp.THT, M.Kes NIP. 19670211 200604 1 006

(5)

A. Capaian Indikator Mutu Kementrian Kesehatan………. 9

B. Capaian Indikator Mutu Prioritas ….………. 17

C. Capaian Indikator Mutu Keselamatan Pasien………… 25

BAB IV Risk Register Rumah Sakit 30 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ……….. 60

BAB VI LAMPIRAN ……… 62

Catatan Rekomendasi Direktur ……… 62

Catatan Rekomendasi Dewan Pengawas ………. 63

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perkembangan rumah sakit pada era globalisasi dan desentralisasi membutuhkan rambu-rambu yang jelas agar pelayanan yang diberikan rumah sakit dapat mencapai segi kualitas, efisien dan merata, serta diselenggarakan secara etik dan professional. Untuk mengevaluasi kinerja rumah sakit, dibutuhkan indikator yang dijadikan pedoman bagi para pengelola rumah sakit. Indikator adalah suatu cara untuk menilai penampilan kerja suatu kegiatan dengan menggunakan instrument. Indikator merupakan variabel yang digunakan untuk mengenali suatu perubahan. Indikator yang digunakan ada 3 (tiga) macam yaitu (1) Indikator kunci area klinik (2) Indikator kunci area manajemen dan (3) Indikator kunci area keselamatan pasien.

Seiring dengan semakin bertambah banyaknya jumlah pasien dan pengaruh subjektifitas dokter yang menangani penyakit maka akan terjadi variasi yang luas dalam pelayanan pasien. Oleh karena itu, perlu suatu standarisasi pelayanan yang diberikan agar tetap memenuhi mutu pelayanan yang seharusnya diterima oleh setiap pasien. Standarisasi pelayanan ini harus tertuang dalam Pedoman Pelayanan Klinis setiap penyakit yang ditetapkan oleh rumah sakit. Sebagai pelaksanaannya tertuang dalam bentuk Clinical Pathways sebagai alat bantu untuk mencapai efisiensi dalam sektor bisnis. Dalam segi medis Clinical Pathways digunakan untuk mengobati pasien dengan berbagai kondisi klinis, sehingga akan didapatkan kesamaan pelayanan terhadap penyakit tersebut.

Peningkatan mutu dan keselamatan pasien harus dilakukan berdasarkan data.Penggunaan data secara efektif dapat dilakukan bila praktek klinik dan praktek manajemen telah dilakukan berdasarkan evidanve-based. Data yang berdasarkan evidence-based di rumah sakit dikelola dan dianalisa oleh suatu komite yaitu Komite Mutu dan Keselamatan Pasien (KMKP) untuk melakukan identifikasi perbaikan atau mengurangi dan mencegah KTD. Pelaporan data secara rutin atau data yang diperoleh dari hasil assessment secara intensif akan dapat menjadi dasar perbaikan apa yang perlu direncanakan termasuk prioritasnya, karena sebagian besar rumah sakit termasuk Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul, memiliki sumber daya yang terbatas, sehingga rumah sakit perlu merencanakan dengan baik fokus penempatan sumber dayanya untuk proses perbaikan yang konsisten dan kontinyu

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Panembahan Senopati Bantul.

(7)

e) Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati bantul.

f) Terlaksananya kegiatan peningkatan mutu yang berkelanjutan.

(8)

BAB II

LAPORAN PROGRAM KEGIATAN PMKP TAHUN 2020

No Program/ Kegiatan Indikator KinerjaOutcome Laporan Kegiatan

1 Analisis dan evaluasi data capaian indikator mutu (PDSA)

Komite Mutu dan Keselamatan Pasien

Analisis capaian indikator mutu setiap triwulan

2 Analisis

Permasalahan Komite Mutu dan Keselamatan Pasien

Rekomendasi penyelesaian capaian indikator mutu

2 Rakor Mutu

bersama Direksi Komite Mutu

dan Direksi Rapat Koordinasi PMKP Tahun 2020 : a. Pelaporan indikator mutu semester 1

tahun 2020 secara online dan semester 2 tahun 2020

b. Pelaporan penetapan area prioritas tahun 2020

3

Pelatihan Mutu Komite Mutu dan Keselamatan Pasien

Pelatihan secara online terkait budaya keselamatan pasien

(9)

Waktu tunggu adalah waktu yang diperlukan mulai pasien kontak dengan petugas pendaftaran sampai dilayanai oleh dokter/ dokter spesialis. Adapun syarat dari penghitungan waktu tunggu ini meliputi :

i. Yang dimaksud kontak dengan petugas pendaftaran adalah waktu petugas mencatat identitas pasien.

ii. Yang dimaksud dilayani oleh dokter/ dokter spesialis adalah waktu pasien kontak awal dengan dokter/ dokter spesialis.

iii. Waktu tunggu pelayanan di poliklinik ≦ 60 menit

Sumber : Data Primer 2020

Waktu pendaftaran dikur dari pasien mulai mendaftar secara APM dan online dimana APM online pada pukul 00.00, sehingga waktu saat pasien mendaftar sampai dengan pasien dilayani sangat panjang. Apabila untuk menarik data untuk melihat dari print out SEP petugas kesehatan kesulitan dalam menarik data karena aplikasi BPJS dan aplikasi rumah sakit belum di briging sehingga tidak dapat secara otomatis menarik data.

Diharapkan dapat dilakukan bridging sistem antara waktu pendaftaran di meja pendaftaran dengan waktu pemeriksaan obat.

(10)

2. KEPUASAN PASIEN DAN KELUARGA

Kepuasan adalah pernyataan tentang persepsi pelanggan terhadap jasa pelayanan kesehatan yang diberikan oleh RS. Kepuasan pelanggan dapat dicapai apabila pelayanan yang diberikan sesuai atau melampaui harapan pelanggan. Hal ini dapat diketahui dengan melakukan survei kepuasan pelanggan dengan mengacu pada kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM). Beberapa item penilaian meliputi :

Unsur Item Penilaian Nilai Interval

Konversi IKM Kategori 1 Kebersihan dan kerapian sarana gedung 80,1 baik 2 Keamanan sarana gedung di RS termasuk

potensi kehilangan/ pencurian 80,1 baik 3 Kepatuhan aturan kawasan bebas asap

rokok 82,6 sangat

baik 4 kelengkapan/ ketersediaan prasarana

(listrik, air, fasilitas lainnya) di RS 85,0 sangat baik 5 pemeliharaan prasarana yang ada di RS 76,2 baik 6 keamanan Prasarana di RS termasuk

potensi kehilangan/ pencurian 83,8 sangat baik 7 kelengkapan/ ketersediaan alat-alat

kesehatan di RS 80,2 baik

8 pemeliharaan prasarana yang ada di RS 74,7 baik 9 keamanan alat-alat kesehatan di RS

termasuk potensi kehilangan/ pencurian 79,6 baik 10 kecepatan pelayanan obat/ farmasi 79,2 baik 11 sikap keramahan dan kesopanan Petugas

Farmasi dalam melayani pasien 75,0 baik 12 Pemberian Penjelasan Informasi Obat 79,8 baik 13 kecepatan proses pendaftaran pasien di RS 76,2 baik 14 kemudahan mendapatkan pelayanan

yang ada di RS 81,7 sangat

baik 15 kenyamanan di Ruang pendaftaran RS 79,6 baik 16 sikap keramahan dan kesopanan Dokter

dalam melayani pasien 81,3 sangat

baik 17 kedisiplinan kehadiran dokter dalam

pelayanan 80,7 baik

18 kemampuan/ ketrampilan Dokter dalam 77,8 baik

(11)

23 kedisiplinan kehadiran Petugas lainnya

dalam pelayanan 75,5 baik

24 kemampuan/ ketrampilan Petugas lainnya

dalam melayani 80,6 baik

25 kecepatan waktu tunggu pasien di RS 76,9 baik 26 kemudahan menyampaikan keluhan Pasien 77,1 baik 27 kenyamanan di Ruang Tunggu Pasien 74,5 baik

28 kecepatan pelayanan di RS 77,6 baik

29 ketepatan waktu pelayanan di RS ini 77,2 baik 30 keamanan pelayanan di unit pendaftaran 81,2 baik Sumber : Survei IKM, Tahun 2020

Penilaian Kepuasan Pasien dan Keluarga oleh pasien RSUD Panembahan Senopati Bantul Tahun 2020 mencapai 79 % dan masuk dalam kategori baik. Beberapa item penilaian kepuasan dengan kategori sangat baik yaitu sikap keramahan dan kesopanan dokter dalam melayani pasien, kemudahan mendapatkan pelayanan yang ada di rumah sakit, keamanan prasarana di rumah sakit termasuk dari potensi kehilangan/ pencurian, kelengkapan/ ketersediaan prasarana (listrik, air, fasilitas lainnya) di rumah sakit dan kepatuhan aturan bebas asap rokok. Berdasarkan hasil diatas upaya yang mungkin bisa dilakukan adalah yang berkaitan dengan perilaku seperti keramahan petugas dapat dilakukan pelatihan costumer service

3. KEPATUHAN JAM VISITE DOKTER SPESIALIS

Kepatuhan Jam Visite Dokter Spesialis sebagai DPJP adalah kunjungan dokter spesialis untuk melihat perkembangan pasien yang menjadi tanggung jawabnya setiap hari sebelum jam 14.00 termasuk hari libur. Dalam hal ini dokter spesialis yang diukur adalah dokter yang bertugas di pagi hari. Selain hal tersebut terdapat catatan visite dokter yang dapat diukur yaitu

(12)

1. pasien baru masuk 2. batasan pukul 14.00 3. hari libur

4. RS. Swasta

Analisis Kepatuhan visite dokter dari Bulan Januari - Desember 2020 secara statistik mengalamu kenaikan, walaupun apabila di lihat dari capaian setiap bulan masih terlihat fluktuatif. Capaian terendah yaitu pada bulan Mei 2020 yang hanya 83 % dan tertinggi pada Bulan September yang mencapai 93 %. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan dokter terlambat visite kepada pasien adalah dokter sedang melakukan operasi dan pada hari libur, dokter yang tidak dapat visite di hari tersebut karena pasien masuk unit rawat pada sore hari / malam hari serta tidak ada dokter bangsal yang visite.

4. KECEPATAN RESPON TERHADAP KOMPLAIN

Kecepatan respon terhadap komplain adalah kecepatan RS dalam menanggapi komplain

baik tertulis, lisan, atau melalui mass media yang sudah diidentifikasi tingkat risiko dan dampak risiko dengan penetapan grading/dampak risiko berupa ekstrim (merah), tinggi (kuning), rendah (hijau), dan dibuktikan dengan data , dan tindak lanjut atas respon time komplain tersebut sesuai dengan kategori/grading/dampak risiko.

Warna merah:

Cenderung dengan polisi, pengadilan, kematian, mengancam sistem/kelangsuangan organisasi, potensi kerugian materiil, dll.

Warna kuning:

Cenderung berhubungan dengan pemberitaan media, potensi kerugian materiil, dll Warna hijau:

Tidak menimbulkan kerugian berarti baik material maupun immaterial Kriteria penilaian:

(13)

i. Melihat data rekapitulasi komplain yang dikategorikan merah, kuning, hijau

ii. Melihat data tindak lanjut komplain setiap kategori yang dilakukan dalam kurun waktu sesuai standar

iii. Membuat presentase jumlah komplain yang ditindaklanjuti terhadap seluruh komplain disetiap kategori:

a. Komplain kategori merah (KKM) ditanggapi dan ditindaklanjuti maksimal 1 x 24 jam

b. Komplain kategori kuning (KKK) ditanggapi dan ditindaklanjuti maksimal 3 hari

c. Komplain kategori hijauh (KKH) ditanggapi dan ditindaklanjuti maksimal 7 hari

Sumber : Data Primer , 2020

Rekapitulasi komplain pada pasien di RSUD Panembahan Senopati Bantul Pada Tahun 2020 yaitu 97,75 . Semua komplain dapat dilayani berdasarkan kategori komplain yang ada. Namun pada bulan Februari 2020 terdapat komplain dengan kategori hijau di SMS center yang terlayani lebih dari 7 hari. Hal tersebut disebabkan karena pesan yang tertumpuk sehingga terlambat untuk di tindak lanjuti.

5. KEPATUHAN TERHADAP CLINICAL PATHWAY

Kepatuhan terhadap clinical pathway adalah kepatuhan para staf medis/ DPJP dalam menggunakan clinical pathway untuk memberikan asuhan klinis pasien secara terstandarisasi dan terintegrasi sehingga dapat meminimalkan adanya variasi proses asuhan klinis. Setiap CP mampu menunjukan komponen standar LOS, obat dan penunjang. Disebut patuh apabila mengikuti ketiga proses asuhan yang telah

(14)

distandarisasi dalam CP. Setiap RS menetapkan 5 clinical pathway untuk penyakit atau kondisi yang memenuhi satu atau lebih kriteria yang berlaku di RS tersebut berdasarkan:

i. Penyakit atau kondisi yang paling sering atau banyak terjadi (High Volume) ii. Penyakit atau kondisi yang memiliki risiko tinggi (High Risk)

iii. Penyakit atau kondisi yang memerlukan biaya tinggi (High Cost)

Sumber: Data Primer, 2020

Kepatuhan penggunaan Clinical Pathway di RSUD Panembahan Senopati Bantul Tahun 2020 dimulai diukur pada Bulan Juli 2020 - Desember 2020 denga rata - rata capaian 22%. Berdasarkan capaian diatas menunjukan bahwa capaian mengalami peningkatan secara statistik khususnya pad Bulan Desember mencapai 42 %. Berdasarkan kriteria penilaian, kepatuhan LOS dan penunjang cenderung lebih patuh dibandingkan dengan terapi.

a. EMERGENCY RESPON TIME (WAKTU TANGGAP PELAYANAN GAWATDARURAT ≤ 5 MENIT)..

Emergency Response Time (Waktu tanggap kegawatdaruratan ) adalah waktu yang dibutuhkan mulai pasien dilakukan Triage di IGD sampai mendapat pelayanan dokter.

Triage adalah usaha pemilahan pasien sebelum ditangani berdasarkan tingkat kegawat daruratan/trauma/penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penanganan dan sumber daya yang ada. Berdasarkan waktu pelayanan, pasien harus mendapatkan pelayanan dokter < 5 menit.

(15)

Sumber : Data Primer, 2020

Capaian Emergency Respon Time di RSUD Panembahan Senopati Bantul tahun 2020 mengalami peurunan, khususnya pada triwulan 4 pada bulan Desember tahun 2020.

Emergency Respon Time mencapai ≥5 menit dari dilakukannya triage sampai mendapat pelayanan dokter. Secara rinci terdapat 5 pasien yang memerlukan pelayanan darurat, 4 pasien diantaranya terlayani ≤5 menit dengan rata-rata 1,89 menit, namun terdapat 1 yang mendapat pelayanan dokter ≤5 menit adalah karena menentukan prioritas tingkat kegawatan mana yang harus di dahulukan dan mendapatkan tindakan sesuai dengan kondisi pasien yang timbul dan mengancam jiwa

6. KEPATUHAN PENGGUNAAN FORMULARIUM NASIONAL BAGI RS PROVIDER BPJS

Kepatuhan Penggunaan Formularium Nasional Bagi RS Provider BPJS adalah perbandingan resep obat yang sesuai dengan formularium dibandingkan dengan total resep sampel. Satu jenis obat diwakili satu resep dan obat substitusi dengan harga sesuai e katalog.

Sumber : Data Primer, 2020

(16)

Kepatuhan penggunaan formularium nasional di RSUD Panembahan Senopati Tahun 2020 dari Bulan Januari - Desember 2020 secara statistik cenderung menurun. Namun apabila dicermati capaian setiap bulan, kenaikannya tergolong fluktiatif. Ketidak sesuai ini disebabkan dari keadaan pasien. Apabila terdapat banyak pasien yang membutuhkan obat diluar fomularium nasional maka persentase kepatuhan menjadi menurun.

7. PENUNDAAN OPERASI ELEKTIF

Pengertian dari penundaan operasi adalah perubahan jadwal operasi elektif yang telah direncanakan. Operasi elektif adalah operasi atau tindakan yang telah dijadwalkan

Sumber : Data Primer, 2020

Angka penundaan operasi elektif di RSUD Panembahan Senopati Bantul Bulan Januari - Desember 2020 mengalami kenaikan secara statistik. Penundaan terjadi lebih sering di Bulan Agustus 2020 mencapai 1,92 % dan yang terendah pada Bulan Mei 2020 yaitu tidak ada penundaan dalam operasi elektif. Berbagai penyebab tertundanya operasi pasien elektif adalah pasien merasa siap, pasien sedang minum aspilet, pasien tidak puasa sebelum operasi sehingga operasi harus ditunda.

8. PELAPORAN HASIL KRITIS LABORATORIUM < 30 MENIT

Pelaporan hasil kritis laboratorium adalah pelaporan hasil pemeriksaan laboratorium yang mengancam jiwa sehingga perlu segera disampaikan kepada DPJP ≤ 30 menit dari hasil jadi. Adapun kriteria hasil kritis laboratorium ini sudah disepakati antara pihak laboratorium dan klinisi.

(17)

Sumber : Data Primer, 2020

Capaian hasil kritis laboratorium di RSUD Panembahan Senopati Bantul tahun 2020 belum mencapai target 100 % dan secara statistik trend line nya menurun khususnya di triwulan 4 tahun 2020. Capaian pelaporan hasil kritis radiologi tertinggi mencapai 93 % yaitu pada Bulan Mei, sedangkan capaian terendah yaitu pada Bulan Desember 2020.

Beberapa penyebab capaian indikator mutu ini belum tercapai yaitu saat di hubungi dokter terkadang sedang melakukan operasi, dipoliklinik atau sedang diperjalanan sehingga tidak mengangkat telpon.

B. INDIKATOR MUTU PRIORITAS RUMAH SAKIT

1. WAKTU TUNGGU PEMERIKSAAN DARAH LENGKAP (DL) CITO DARI IGD Waktu tunggu pemeriksaan darah lengkap (DL) cito dari IGD adalah waktu yang diperlukan untuk petugas laboratorium dalam pemeriksaan DL, penghitungan pengukuran ini mulai dari darah diambil oleh petugas IGD sampai dengan hasil selesai ditandai dengan print hasil di laboratorium. Standarr waktu tunggu pemeriksaan darah lengkap yaitu ≤ 60 menit

Sumber : Data Primer 2020

(18)

Waktu tunggu pemeriksaan darah lengkap (DL) Cito di IGD Tahun 2020 secara statistik mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari capaian pada Bulan Juni dan Bulan Desember yang mengalami penurunan. Berdasarkan hasil analisis terdapat beberapa faktor yang menyebabkan ketidak tercapaiannya keluarnya hasil dl cito time ≤ 60 menit adalah terjadi pembekuan darah dan ada hasil yang perlu dilakukan duplo manual sehingga membutuhkan waktu lebi dari 1 jam.

2. ANGKA KETIDAKTETERSEDIAAN OBAT DAN ALAT EMERGENCY DI IGD Ketidaktersediaan obat dan alat emergensi di IGD adalah tidak terpenuhinya seluruh obat dan alat emergensi habis pakai berdasarkan daftar obat dan alat emergensi di IGD ketika akan digunakan. Obat dan alat emergensi adalah obat-obatan dan peralatan habis pakai yang dibutuhkan pasien dalam keadaan emergensi dan bersifat live saving untuk keselamatan pasien. Berikut ketidaktersediaan obat dan alar emergency di IGD

Bulan Capaian Standar

Januari 2020 0 0

Febuari 2020 0 0

Maret 2020 0 0

April 2020 0 0

Mei 2020 0 0

Juni 2020 0 0

Juli 2020 0 0

Agustus2020 0 0

September 2020 0 0

Oktober 2020 0 0

November 2020 0 0

Desember 2020 0 0

Selama tahun 2020 RSUD Panembahan Senopati Batul mampu memenuhi ketersedediaan obatdan alat habis pakai dalam pelayanan kegawatdaruratan.

3. ANGKA KETIDAKLENGKAPAN ASESMEN AWAL MEDIS DALAM 24 JAM PADA PASIEN RAWAT INAP MELALUI IGD

Assesmen awal medis terhadap pasien baru adalah penilaian yang dilakukan oleh dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) pada lembar asesmen pasien rawat inap yang terisi secara lengkap.

(19)

Sumber : Data Primer 2020

Angka Ketidaklengkapan assesmen awal medis dalam 24 jam pada pasien rawat inap di RSUD Panembahan Senopati Bantul pada tahun 2020 terdapat kenaikan tren dari bulan ke bulan, walaupun pada bulan Mei dan Bulan Agustus mengalami penurunan. Beberapa hal ini disebabkan terdapat dokter yang masuk secara bergantian dan juga pasien masuk pada hari libur atau sabtu sore, sehingga dokter DPJP dalam melengkapi lembar assesmen awal medis terlambat.

4. Angka kerusakan sampel darah (lisis dan beku) dari bangsal dan IGD

Angka kerusakan sampel darah dari bangsal dan IGD adalah angka yang menunjukkan prosentase sampel darah yang rusak (lisis atau beku) dari bangsal dan IGD

Sumber : Data Primer 2020

Angka kerusakan sampel darah lisis dari IGD dan Bansal di RSUD Panembahan Senopati Bantul Tahun 2020 mengalami tren yang menurun, meskipun pada triwulan ke 4 mengalami kenaikan hingga mencapai 0,129%. Berdasarkan hasil analisis sebelumnya, sudah dilakukan upaya perbaikan dari capaian triwulan dua, sehingga beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan sampel darah seperti rentan waktu pengambilan darah dan waktu diperiksa terlalu lama, kesalahan dalam teknik pengambilan darah dll dapat di minimalkan.

(20)

5. Waktu Tatalaksana Pasien Resusitasi di IGD ≤8 jam

Resusitasi merupakan hal yang wajib dan vital di IGD, sehingga penanganan pasien resusitasi harus maksimal dengan melibatkan petugas yang professional dan berkompeten.

Untuk mencapai target tatalaksana ≤8 jam maka dibutuhkan data-data dan hal-hal yang menjadi penghambat yang harus segera diselesaikan.

Tata laksana pasien resusitasi di IGD RSUD Panembahan Senopati Bantul Tahun 2020 secara statistik masuk dalam kategori stabil. Namun terdapat beberapa penyebab tatalaksana resusitasi >8 jam yaitu dikarenakan waktu untuk melengkapi hasil pemeriksaan penunjang seperti hasil laboratorium, hasil rontgen atau pemeriksaan lainnya sebelum konsultasi ke DPJP spesialis atau sebelum masuk ruangan memerlukan waktu yang lama, menstabilkan pasien agar dapat dikirim keruangan, serta waktu tunggu untuk menelpon konsultasi pada DPJP.

6. Respons Time Security di IGD

Respons Time adalah waktu tanggap yang diberikan oleh satpam kepada pasien dalam memberikan pelayanan pada pasien yang datang di area IGD dengan batas waktu respon satpam kurang dari 1 menit.

(21)

Sumber : Data Primer, 2020

Respon satpam dalam memberikan pelayanan pada pasien yang datang di area IGD RSUD Panembahan Senopat Bantul Tahun 2020 mengalami kenaikan. Terjadi penurunan pada Bulan Januari dan Juli 2020 disebabkan pada waku yang bersamaan terdapat beberaoa pasien dengan berkebutuhan khusus sehingga petugas membantu pasien mencari bed/kursi roda sehingga terdapat pasien yan ditanggapi lebih dari 1 menit.

7. Kesalahan pemberian obat di IGD

Medical error adalah kesalahan pemberian obat kepada pasien. Kesalahan pemberian obat dapat terjadi oleh petugas medis yang disebabkan karena banyaknya pasien sehingga konsentrasi akan terpecah. Oleh karena itu tindakan pemberian obat harus diperhatikan supaya tidak terjadi kesalahan pemberian.

Bulan Kesalahan Pemberian Terapi

Standar

Januari 2020 0 0

Febuari 2020 0 0

Maret 2020 0 0

April 2020 0 0

Mei 2020 0 0

Juni 2020 0 0

Juli 2020 0 0

Agustus2020 0 0

September 2020 0 0

Oktober 2020 0 0

November 2020 0 0

Desember 2020 0 0

Sumber: Data IKP Kesalahan Pemberian Obat, 2020

(22)

Pada tahu 2020, RSUD Panembahan Senopati Bantul Tahun 2020 dalam memberikan terapi pada pasien di IGD tidak pernah mengalami kesalahan.

8. Ketepatan waktu Dokumen rekam medis diantar petugas ke IGD

Ketepatan waktu dokumen rekam medis diantar petugas ke IGD di hitung mulai dari pasien mendaftar ke pendaftaran IGD sampai dengan rekam medis diterima oleh petugas IGD maksimal 10 menit. Sehingga pasien dapat secara cepat mendapatkan pelayanan.

Sumber : Data Primer , 2020

Ketepatan waktu dokumen rekam medis diambil dan diantar ke IGD Pada Tahun 2020 mengalam tren peningkatan. Khususnya pada Bulan Oktober - Desember 2020. Jumlah seluruh sampel pada triwulan 4 berjumla 2450 berkas rekam medis dari total kunjungan IGD sebanyak 3998 kunjungan. Dalam analisis ini, pendistribusian berkas rekam medis masih belum mencapai standar 100%, trend ketepatan mengalami kenaikan. Bulan Oktober angka ketepatan mencapai 61,66%, November 78,23 %, dan Desember 74,90%.

9. RESPON TIME OPERASI EMERGENSI DARI IGD

Emergency Respon time adalah waktu yang dibutuhkan pasien untuk mendapatkan tindakan operasi cito kurang dari 120 menit dihitung dari saat pasien diputuskan operasi di IGD.

Bulan

Respon Time Operasi Emergensi <

120 menit

Jumlah pasien yang membutuhkan

operasi emergensi

Capian Standar

Januari 2020 1 1 100 100

Febuari 2020 - - - 100

(23)

Desember 2020 - - - 100 Sumber : Data Primer , 2020

Pada Tahun 2020 di RSUD Panembahan Senopati Bantul terdapat 3 pasien yang memerlukan operasi emergensi yaitu pada bulan Januari dan Maret 2020, dan pasien tersebut berhasil dilakukan tindakan operasi kurang dari 120 menit.

10. KEJADIAN TERHAMBATNYA PASIEN EMERGENCI MASUK KE IGD

Kejadian terhambatnya pasien emergensi yang tidak dapat turun di depan pintu IGD merupakan masalah yang serius untuk di hadapi, karena bagi pasien emergency waktu sangatlah penting. Oleh karena itu RSUD Panembahan Senopati Bantul berharap tidak adanya kejadian terhambatnya pasien emergensi yang akan turun di area IGD.

Sumber : Data Primer , 2020

Capaian kejadian terhambatnya pasien emergensi masuk ke IGD pada tahun 2020 terjadi pada Bulan Maret dan Bulan Desember 2020 yang mencapai 9 orang. Hal ini dapat terjadi dikarenkan adanya kendaaraan yang bersamaan sedang mengantar pasien sehingga harus menunggu kendaraan pengantar pasien keluar.

(24)

11. Pelaporan hasil kritis radiologi

Pelaporan hasil kritis radiologi adalah pelaporan hasil kritis dari pemeriksaan yang disampaikan kepada unit pengirim, sesuai acuan yang berlaku.Nilai kritis harus di terima oleh unit yang mengirim dalam waktu kurang dari 60 (enam puluh) menit baik setelah hasil jadi.

Pelaporan hasil kritis pada triwulan 4 mengalami penurunan . Pelaporan hasil kritis masih belum mencapi target dikarenakan saat malam hari, dokter tidak dapat fast respon.

Hal ini dikarenakan tidak ada dokter yang jaga di rumah sakit.

12. Respon Time Operasi SC Emergensi di luar jam kerja

Perhitungan dimulai dari pasien dan keluarga bersedia dilakukan tindakan operasi dan menandatangani IC hingga pasien dilakukan time out dalam waktu 30 menit dihitung dari pasien menandatangani IC Operasi. Penghitungan diluar jam kerja yaitu setelah pukul 14.30 WIB atau dihari libur.

(25)

identitas dari 3 identitas yang tercantum pada gelang, label atau bentuk identitas lainnya sebelum memberikan pelayanan sesuai dengan regulasi yang berlaku di rumah sakit.

Disebut patuh bila proses identifikasi pasien dilakukan secara benar oleh petugas pada saat, antara lain:

i. Pemberian obat

ii. Pemberian pengobatan termasuk nutrisi iii. Pemberian darah dan produk darah iv. Pengambilan specimen

v. Sebelum melakukan tindakan diagnostic/therapeutic

Numerator : Jumlah proses yang dilakukan identifikasi dengan mengecek 2 dari 3 identitas yang tertulis di gelang identitas pasien sebelum melakukan pelayanan kepada pasien saat observasi.

Denominator : Jumlah proses pelayanan kepada pasien yang dilakukan saat observasi

(26)

Analisis: Kepatuhan identifikasi pasien pada triwulan IV mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Faktor terbesar yang menyebabkan tidak tercapainya standar tersebut adalah pada kepatuhan petugas dalam identifikasi pasien sebelum pemberian nutrisi yang masih kurang lengkap.

2. ANGKA KEPATUHAN KONFIRMASI READ BACK YANG DILAKUKAN DI IGD OLEH DPJP

Konfirmasi read back adalah proses konfirmasi yang dilakukan oleh DPJP di ruang rawat inap terhadap read back dari IGD bahwa apa yang sudah dituliskan adalah sesuai dengan instruksi verbal terdahulu dan segera menandatangani insdtruksi tersebut paling lambat 1x24 jam.

Numerator : Jumlah semua konsultasi melalui telpon dari dokter jaga IGD kepada DPJP yang telah dilakukan readback dengan cap read back dan dikonfirmasi kebenarannya oleh DPJP dalam waktu 1x24 jam (hari kerja)

Denominator : Jumlah seluruh cap read back dari IGD

Analisis : Angka kepatuhan pemberian cap read back pada triwulan keempat ini cenderung menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya Ada beberapa hal yang menyebabkan angka kepatuhan pemberian cap read back ini belum berhasil 100%, diantaranya DPJP mendahulukan tindakan emergency di poliklinik sehingga konfirmasi dilakukan lebih dari 1x24 jam, selain itu jadwal jaga dokter selama covid-19 dibuat selang-seling sehingga konfirmasi read back lebih dari 1x24 jam.

(27)

Analisa : Angka kepatuhan pemberian label high alert pada triwulan keempat ini cenderung naik daripada triwulan sebelumnya walaupun belum mencapai 100%. Hal tersebut dikarenakan masih ditemukannya obat high alert tanpa label oleh petugas.

4. ANGKA KEPATUHAN PEMBERIAN MARKING SITE PADA PASIEN OPERASI

Penandaan lokasi operasi adalah pemberian tanda lokasi dan operasi yang tepat dengan melibatkan pasien oleh operator yang akan melakukan tindakan operasi. Tanda lokasi operasi berupa pemberian tanda centang disertai inisial DPJP dengan tinta warna hitam.

Tanda lokasi operasi dilakukan pada operasi laterality, multi struktur dan multi level.

Analisa : Kepatuhan pemberian marking site pada pasien operasi di triwulan keempat ini justru menurun dari pada triwulan sebelumnya yang telah mencapai standar yang ditetapkan yakni 100%. Hal tersebut dikarenakan pada pengisian form marker site dan

(28)

penandaan pada lokasi prosedur telah diberikan oleh operator ke pasien, kecuali pada kasus urologi dan gigi memang untuk penandaan perlu modifikasi dn adanya kebijkan baru, sehubungan tidak dicetaknya hasil rontgen tetapi melalui penayangan LED.

NB : Pada bulan Desember IBS belum mengumpulkan capaian indikator bulan desember.

5. ANGKA KEPATUHAN CUCI TANGAN PETUGAS

Hand Hygine adalah sefala usaha yang dilakukan untuk membersihkan kotoran yang secara kasat ata terlihat dan pengangkatan mikroorganisme yang tinggal sementara di tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir (hand wash) atau dengan cairan berbasis alcohol (hand rub) dalam 6 langkah. Hand hygine dilakukan sesuai indikasi dari WHO yaitu sebelum kontak dengan pasien, setelah kontak dengan pasien, sebelum melakukan tindakan invasive dan aseptic, setelah kontak dengan cairan tubuh, dan setelah kontak dengan lingkungan pasien.

Kepatuhan petugas dalam cuci tangan petugas pada triwulan ketiga cenderung menurun dari triwulan sebelumnya. Walaupun kesadaran petugas sudah semakin meningkat apalagi ditambah adanya wabah covid-19, namun masih terdapat petugas yang tidak melakukan prosedur cuci tangan dengan benar sesuai anjuran yang telah ditetapkan.

6. ANGKA KEPATUHAN UPAYA PENCEGAHAN RISIKO CEDERA AKIBAT PASIEN JATUH PADA PASIEN RAWAT INAP

Upaya pencegahan jatuh meliputi:

i. Screening di ralan/IGD ii. Asesmen awal risiko jatuh iii. Asesmen ulang risiko jatuh iv. Edukasi pencegahan pasien jatuh

(29)

Upaya pencegahan pasien jatuh pada rawat inap pada triwulan ketiga ini sedikit mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan. Hal tersebut dikarenakan masih banyaknya pasien dari IGD yang tidak terisi form skrining serta adanya pasien yang tidak memungkinkan untuk dilakukan edukasi (seperti pasien ICU covid serta pasien yang tidak sadar).

(30)

BAB IV RISK REGISTER

RISK REGISTER

RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL TAHUN 2020

NO. Insiden/Kejadian

Dampak Probabili tas Risk Score

Keterangan 1 Ketidaktepatan pemberian

cairan infus 5 5 25 RR. Bakung

2 Insiden kesalahan cara

pemberian obat injeksi 5 5 25 RR. Bakung

3 Insiden kesalahan identifikasi

pemberian obat injeksi 5 5 25 RR. Bakung

4 Insiden DC tidak bisa dilepas 5 5 25 RR. Bakung

5 Insiden flebitis 5 5 25 RR. Bakung

6 Risiko terpapar covid-19 5 5 25 RR. Bakung

7 Dampak ketidaktepatan

screening 5 5 25 RR. Bakung

8 Ketidaktersdiaan APD LEVEL

1-3 5 5 25 RR. Bakung

9 Belum adanya SOP tentang

perpindahn Pasien PDP 5 5 25 RR. Bakung

10 Tabung O2 tidak ada

pengaman 5 5 25 RR. Bakung

11 Gorden tidak pernah diganti 5 5 25 RR. Bakung 12 Pegangan untuk jalan di

ruangan 5 5 25 RR. Bakung

13 Pegangan untuk jalan di

kamar mandi 5 5 25 RR. Bakung

14 Akses vaskuler gagal 5 5 25 Unit Hemodialisa

15 Pembekuan darah di sirkuit

ekstrakorporeal 5 5 25 Unit Hemodialisa

16 Syok hipovolemik 5 5 25 Unit Hemodialisa

17 Risiko jatuh pada saat Pasien

di kamar mandi 5 5 25 Unit Hemodialisa

(31)

21 Petugas terpapar Penyakit

menular seperti Covid 19 5 5 25 Instalasi Radiologi 22 Memegang Berkas syarat

penjaminan dari Pasien 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik 23 Kontak fisik dengan Pasien 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik 24 Memegang Berkas syarat

penjaminan dari Pasien 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik 25 Mengganti handscoon sekali

pakai 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik 26 Pemakaian modalitas yang

kontak langsung dengan Pasien

5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik

27 Keluarga Pasien yang

menunggu di ruang tindakan 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik 28 Mengganti handscon sekali

pakai 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik 29 Memegang berkas

penjaminan Pasien 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik 30 Kontak fisik dengan Pasien 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik 31 Mengganti handscoon sekali

pakai 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik 32 Kontak fisik dengan Pasien

terutama dalam mulut Pasien 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik 33 Tindakan dengan Pasien yang

mengharuskan buka masker 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik

34 Memegang berkas

penjaminan Pasien 5 5 25 Instalasi

Rehabilitasi Medik 35 Risiko paparan Pasien covid-

19 5 5 25 Poliklinik

(32)

36 Kepatuhan Perawat / Perawat Gigi / Bidan dalam

melakukan Asesmen Awal Rawat Jalan

5 5 25 Poliklinik

37 Kesalahan pemberian barcode 5 5 25 Poliklinik

38 Kelengkapan SOAP 5 5 25 Poliklinik

39 Waktu tunggu Pasien yang

akan rawat inap dari PPRI 5 5 25 Poliklinik 40 Insiden kesalahan pemberian

cairan infus 4 5 20 RR. Bakung

41 Insiden kesalahan cara pemberian obat oleh Mahasiswa

4 5 20 RR. Bakung

42 risiko infeksi decubitus 4 5 20 RR. Bakung 43 Risiko infeksi penularan

penyakit airbone 4 5 20 RR. Bakung

44 Insiden risiko penularan

infeksi melalui alat medis 4 5 20 RR. Bakung 45 Insiden tertimpa tabung gas

medis 4 5 20 RR. Bakung

46 Insiden salah menuliskan

resep 4 5 20 RR. Bakung

47 Tertusuk benda

tajam/terkena cairan tubuh Pasien

4 5 20 RR. Bakung

48 Kunci roda tempat tidur

rusak 4 5 20 RR. Bakung

49 Side rail tempat tidur tidak kuat

4 5 20 RR. Bakung

50 Tempat tidur tidak ada double krank (untiran)

4 5 20 RR. Bakung

51 Pencahayaan kurang

memadai 5 4 20 RR. Bakung

52 Risiko penularan Airbone

Disease Dan COVID - 19 4 5 20 Unit Hemodialisa 53 Hambatan dalam

pengentryan data barcode Pasien karena proses mutasi data yang tidak sesuai

standar

5 4 20 Instalasi Gizi

54 Petugas pendaftaran terpapar

penyakit covid 4 5 20 Instalasi Radiologi

(33)

60 Tingkat keberhasilan

pemasangan infus pada anak 4 5 20 Poliklinik 61 Waktu tunggu Pasien di

poliklinik 4 5 20 Poliklinik

62 Kesalahan obat karena banyak obat yang mirip (LASA)

4 5 20 Instalasi Farmasi

63 Belum ada pintu finger print

di ruang filing 5 4 20 Instalasi Rekam

Medis 64 Risiko penularan infeksi

terkait tidak tersedia ruang ganti APD

4 4 16 RR. Alamanda

65 Dinding jebol 4 4 16 RR. Bakung

66 Kejadian Pasien jatuh 4 4 16 RR. Cempaka

67 Kesalahan pelepasan APD 4 4 16 RR. Dahlia

68 Mesin rusak saat tindakan

HD 4 4 16 Unit Hemodialisa

69 risiko terjadinya paparan

virus Covid-19 4 4 16 RR. Mawar

70 Ketidakpatuhan

pendokumentasian lembar infus, edukasi, pemberian obat, risiko jatuh, readback

4 4 16 RR. Mawar

71 Pramusaji belum

mencocokkan barcode diit dengan gelang identitas Pasien pada saat menyajikan makanan

4 4 16 Instalasi Gizi

72 Pembacaan hasil foto lama

karena di luar jam kerja 4 4 16 Instalasi Radiologi

73 Bed gyn rusak 4 4 16 Ruang Bersalin

(34)

74 Riwayat bepergian Pasien 4 4 16 Instalasi

Rehabilitasi Medik 75 Sosial distancing petugas 4 4 16 Instalasi

Rehabilitasi Medik 76 Sosial distancing petugas 4 4 16 Instalasi

Rehabilitasi Medik 77 Penjemputan jenazah dari

Rumah Sakit oleh BPBD untuk dimakamkan

4 4 16 Unit Pemulasaran

Jenazah

78 Kepatuhan screening Pasien di dahulukan pelayanan di Rawat Jalan berdasarkan EWS

4 4 16 Poliklinik

79 Identifikasi Pasien sebelum

tindakan invasive 4 4 16 Poliklinik

80 Kepuasan pelanggan /

Quesioner 4 4 16 Poliklinik

81 Jumlah kejadian tertusuk

jarum suntik bekas 4 4 16 Poliklinik

82 Kepatuhan petugas

melakukan screening awal pada Pasien dengan

penempelan checklist pink

4 4 16 Poliklinik

83 Insiden stop kontak lepas 4 4 16 RR. Bougenvile 84 Kekuatan obat dengan zat

aktif sama sangat bervariasi 4 4 16 Instalasi Farmasi

85 Obat mendekati kadaluarsa

tidak terdeteksi 4 4 16 Instalasi Farmasi

86 Peralatan transport obat

(troli, cool box) tidak memadai 4 4 16 Instalasi Farmasi 87 Obat yang disiapkan tidak

sesuai dengan resep Dokter 4 4 16 Instalasi Farmasi 88 Di farmasi rawat jalan tidak

ada loket khusus untuk pasien airbone

4 4 16 Instalasi Farmasi

89 Insiden INOS 4 4 16 Instalsi ICU

90 Ketidaktepatan pemasangan pengaman tabung oksigen di ruang isolasi

4 4 16 RR. Nusa Indah

91 Kelengkapan form IGD 4 4 16 Instalasi Rekam

Medis

(35)

97 Insiden kesalahan rencana

tindakan 3 5 15 RR. Bakung

98 Staf medis datang tidak tepat

waktu 3 5 15 RR. Bakung

99 Petugas / Perawat kurang

ramah 3 5 15 RR. Bakung

100 Kamar mandi tidak bersih /

bau 3 5 15 RR. Bakung

101 I phone rusak 5 3 15 RR. Bakung

102 Kursi roda tidak ada injakan

kaki 5 3 15 RR. Bakung

103 Pengunci roda pada kursi

roda dol 5 3 15 RR. Bakung

104 Lantai licin 3 5 15 RR. Bakung

105 Pengiriman barang atau makanan dari keluarga Pasien

3 5 15 RR. Dahlia

106 Infus blong saat tindakan

wash / obat 3 5 15 Unit Hemodialisa

107 Kurang tangapnya driver jika ada kerusakan tidak

melaporkan segera untuk perbaikan

5 3 15 Unit Kendaraan

Dinas

108 Petugas pengolah belum memakai APD dengan benar dan lengkap

3 5 15 Instalasi Gizi

109 Kesalahan identifikasi anatomis Pasien saat pemeriksaan foto

5 3 15 Instalasi Radiologi

110 Risiko penularan covid 19 5 3 15 Ruang Bersalin

111 AC bocor 3 5 15 Ruang Bersalin

(36)

112 Riwayat sakit Pasien (panas,batuk, pilek sesak nafas)

5 3 15 Instalasi

Rehabilitasi Medik

113 APD tidak lengkap pada saat

menangani jenazah 5 3 15 Unit Pemulasaran

Jenazah 114 Pencatatan obat tidak

dilakukan dengan benar 3 5 15 Instalasi Farmasi 115 Insiden tersumbatnya jalan

nafas pada pasien terintubasi 5 3 15 Instalsi ICU

116 Kejadian KTD di assembling 5 3 15 Instalasi Rekam Medis

117 Insiden kesalahan pemberian

informasi tentang tindakan 4 3 12 RR. Bakung 118 Kesalahan pemeriksaan

laboratorium (spesimen, orang dan pengantar)

3 4 12 RR. Cempaka

119 Lift sering rusak 3 4 12 RR. Cempaka

120 Kurangnya handrub 4 3 12 RR. Cempaka

121 Transmisi berkas atau

jaminan Pasien 3 4 12 RR. Dahlia

122 Transmisi pada saat

pengiriman sampel 3 4 12 RR. Dahlia

123 Risiko penularaan melalui

transmisi kontak 3 4 12 Unit Hemodialisa

124 Mundur jadwal kemo 4 3 12 Unit Onkologi

125 Belum ada jadwal

pemeliharaan Brankar 4 3 12 Unit Kendaraan

Dinas 126 Ketidakpatuhan petugas

dalam pengelolaan Pasien pulang

4 3 12 RR. Mawar

127 Penggunaan alat persiapan tidak sesuai aturan yang telah disepakati

3 4 12 Instalasi Gizi

128 Persiapan sayuran belum sesuai dengan teknik persiapan sayuran yang benar

3 4 12 Instalasi Gizi

129 Petugas pengolah tidak

mencuci tangan saat memulai kegiatan pengolahan

3 4 12 Instalasi Gizi

130 Petugas pengolah banyak

berbicara saat pengolahan 3 4 12 Instalasi Gizi

(37)

135 Quality Kontrol belum berjalan dengan baik saat pemorsian

3 4 12 Instalasi Gizi

136 Petugas distribusi belum melakukan cuci tangan sebelum menyajikan makanan kepada Pasien

3 4 12 Instalasi Gizi

137 Insiden mati listrik saat

operasi 3 4 12 IBS

138 Kecemasan petugas karena banyaknya antrian Pasien sehingga kurang fokus

3 4 12 Instalasi Radiologi

139 Pelayanan lama di

pendaftaran 3 4 12 Instalasi Radiologi

140 Pelayanan lama karena SIM

error 4 3 12 Instalasi Radiologi

141 Ruangan yang terlalu sempit dan kurang ideal karena banyak peralatan yang di letakkan di ruangan tersebut.

3 4 12 Instalasi Radiologi

142 Pelayanan lama karena ruang pendaftaran dan penyerahan hasil masih jadi satu

3 4 12 Instalasi Radiologi

143 Pelayanan lama karena hasil yang sudah jadi tidak segera diserahkan kepada Pasien

3 4 12 Instalasi Radiologi

144 Pertolongan persalinan covid 4 3 12 Ruang Bersalin 145 Kesalahan pengaturan

tetesan infus 3 4 12 Ruang Bersalin

146 Partus di luar tirai saat 3 4 12 Ruang Bersalin

(38)

Pasien penuh 147 Korden terciprat

darah/cairan ketuban 3 4 12 Ruang Bersalin

148 Gunting tidak tajam 3 4 12 Ruang Bersalin

149 Insiden keterlambatan

penentuan status covid 3 4 12 RR. Teratai

150 Insiden kelalaian observasi

Pasien covid 4 3 12 RR. Teratai

151 Kesadaran pemakaian APD 4 3 12 Unit Pemulasaran Jenazah

152 Kepatuhan APD untuk Pasien dengan penularan Airbon / Infeksi tinggi

3 4 12 Poliklinik

153 Kepatuhan Pasien klinik paru menggunakan APD masker dari screening awal

3 4 12 Poliklinik

154 Risiko infeksi penyakit menular (TB, B20, Herpes, Syifilis) di poliklinik PPRI

3 4 12 Poliklinik

155 Risiko tertular penyakit Pasien rawat jalan di PPRI dalam satu ruangan dengan petugas

3 4 12 Poliklinik

156 Kesalahan pemberian barcode

sample lab 4 3 12 RR. Bougenvile

157 Insiden kesalahan kelengkapan persiapan operasi

3 4 12 RR. Bougenvile

158 Kesalahan tidak terpasang

gelang pada pasien 3 4 12 RR. Bougenvile

159 Risiko infeksi decubitus 4 3 12 RR. Melati 160 Risiko kurang kejelasan

informasi BPJS 3 4 12 RR. Melati

161 Insiden sampel darah sering

lisis 4 3 12 RR. Melati

162 Penyimpanan obat tidak

FEFO 3 4 12 Instalasi Farmasi

163 Tempat penyiapan obat

belum sesuai standar 3 4 12 Instalasi Farmasi

164 Pengkajian resep tidak

dilakukan 3 4 12 Instalasi Farmasi

(39)

dari bangsal masuk ke dalam farmasi rawat inap sehingga ruangan semakin penuh

169 Kurang teliti dalam telaah obat (resep pasien rawat inap) karena terburu diambil oleh bangsal

3 4 12 Instalasi Farmasi

170 Petugas bangsal tidak melakukan pengecekan dalam serah terima obat pasien rawat inap sehingga kesalahan pengambilan obat baru terdeteksi di bangsal

3 4 12 Instalasi Farmasi

171 Infus untuk resep pasien rawat inap diletakkan di luar sehingga berisiki: hilang, terkena panas dan terkena hujan sehingga berisiki rusak

3 4 12 Instalasi Farmasi

172 Insiden kesalahan pemberian dosis titrasi obat dalam syring pump

4 3 12 Instalsi ICU

173 Luka bakar akibat

pemasangan injeksi cairan pekat

3 4 12 Instalsi ICU

174 Penyimpanan berkas RM

misfile 4 3 12 Instalasi Rekam

Medis 175 Proses retensi dan

pemusnahan berkas RM 3 4 12 Instalasi Rekam

Medis 176 Respontime penyediaan

berkas IGD 4 3 12 Instalasi Rekam

Medis

177 Kelengkapan informed consent 4 3 12 Instalasi Rekam

(40)

Medis 178 Kehilangan ATK dan sarana

lainnya 3 4 12 Instalasi Rekam

Medis 179 Petugas terkena debu di

bagian retensi, filing 3 4 12 Instalasi Rekam Medis

180 Tertular penyakit pasien melalui udara saat

pendaftaran

4 3 12 Instalasi Rekam

Medis

181 Kehilangan berkas klaim 4 3 12 Instalasi Rekam Medis

182 Penggabungan berkas klaim 1

episode 3 4 12 Instalasi Rekam

Medis

183 Kasus TLB, panding 3 4 12 Instalasi Rekam

Medis 184 Petugas kurang teliti

menambah form tambahan 3 4 12 Instalasi Rekam Medis

185 Pendaftaran tidak sesuai

antrian, banyak titipan 3 4 12 Instalasi Rekam Medis

186 Pelayanan SKM lama 4 3 12 Instalasi Rekam

Medis

187 Ruang admisi yang sempit 3 4 12 Instalasi Rekam Medis

188 Belum ada lift RM 3 4 12 Instalasi Rekam

Medis

189 Ruang TPP IGD yang sempit 3 4 12 Instalasi Rekam Medis

190 Pemasangan lampu di ruang

filing yang kurang tepat 4 3 12 Instalasi Rekam Medis

191 Monitor pengumuman di

pendaftaran 3 4 12 Instalasi Rekam

Medis 192 Insiden kesalahan pemberian

tranfusi darah 5 2 10 RR. Bakung

193 Insiden alergi tranfusi darah 2 5 10 RR. Bakung 194 Insiden vena sering pecah

saat pemasangan infus 2 5 10 RR. Bakung

195 Insiden kesalahan pemberian

jenis diit 2 5 10 RR. Bakung

196 Pemeriksaan CT scan terlalu

lama 2 5 10 RR. Bakung

(41)

202 APD yang tidak sesuai

standar 5 2 10 RR. Dahlia

203 Risiko Kejadian terkena aliran listrik karena stopkontak lepas

5 2 10 RR. Mawar

204 Proses penerimaan bahan makanan belum sesuai standar

2 5 10 Instalasi Gizi

205 Risiko terpapar covid akibat dari pelepasan APD yang salah

5 2 10 RR. Teratai

206 Insiden kehabisan APD dalam

menghadapai Covid 19 5 2 10 RR. Bougenvile

207 Pelabelan obat tidak lengkap 2 5 10 Instalasi Farmasi 208 Risiko terpapar obat

sitostatika 5 2 10 Instalasi Farmasi

209 Kehilangan berkas RM 5 2 10 Instalasi Rekam

Medis 210 Kehilangan data karena

komputer rusak 5 2 10 Instalasi Rekam

Medis

211 Kehilangan berkas klaim 5 2 10 Instalasi Rekam Medis

212 Insiden tertusuk ampul 3 3 9 RR.Alamanda,RR

Bakung 213 Insiden kesalahan waktu

pemberian obat 3 3 9 RR.Alamanda,RR

Bakung,RR.

Melati, Instalsi ICU

214 Insiden kesalahan

pencampuran obat 3 3 9 RR. Bakung

215 Insiden kurangnya mobilisasi 3 3 9 RR. Bakung 216 Kesalahan jenis pemeriksaan 3 3 9 RR. Bakung

(42)

rongent

217 Bahaya radiasi komputer 3 3 9 RR. Bakung

218 Petugas tidak fokus/ optimal karena lingkungan yang ramai

3 3 9 RR. Bakung

219 Ketidaksiapan Alat-alat medis 3 3 9 RR. Bakung 220 Risiko Pasien terlewatkan

tidak mendapatkan diet/ gizi 3 3 9 RR. Bakung

221 Insiden nyeri pada Pasien

dengan dower kateter 3 3 9 RR. Cempaka

222 Kejadian dekubitus 3 3 9 RR. Cempaka

223 Insiden infus blong 3 3 9 RR. Cempaka

224 Kesalahan tidak terpasang

gelang pada Pasien 3 3 9 RR. Cempaka

225 Pasien sendirian, tidak ada

penunggu 3 3 9 RR. Cempaka

226 DPJP tidak visite 3 3 9 RR. Cempaka

227 Komputer error 3 3 9 RR. Cempaka

228 Insiden nurse call error/mati 3 3 9 RR. Cempaka

229 Sprei habis 3 3 9 RR. Cempaka

230 Nurse station tidak ada petugas

3 3 9 RR. Cempaka

231 Kesadaran pengunaan

masker Pasien kurang 3 3 9 RR. Cempaka

232 Aturan dari PPI belum jelas dan belum di seragamkan tentang penggunaan APD

3 3 9 RR. Cempaka

233 Terpapar bahan infeksius dan

benda tajam habis pakai 3 3 9 CSSD

234 Transmisi pemakaian alat 3 3 9 RR. Dahlia 235 Risiko bak sampah medis

penuh 3 3 9 RR. Dahlia

236 Ban Ambulance Bocor/Kempes 3 3 9 Unit Kendaraan Dinas

237 Kesalahan identifikasi Pasien

saat pendaftaran 3 3 9 Instalasi Radiologi

238 Printer rusak sehingga hasil

tidak bisa tercetak 3 3 9 Instalasi Radiologi

(43)

Pasien

244 Meningkatkan 3S (Senyum , Salam, Sapa) kepada Pasien untuk mengurangi adanya komplain Pasien

3 3 9 Poliklinik

245 Angka kejadian jatuh 3 3 9 Poliklinik

246 Kepatuhan screening Pasien

dengan Risiko jatuh tinngi 3 3 9 Poliklinik 247 Kesalahan penyerahan

rongen saat pulang 3 3 9 RR. Bougenvile

248 Kesalahan pemberian obat

tidak sesuai jadwal 3 3 9 RR. Bougenvile

249 Insiden bed rail lepas 3 3 9 RR. Bougenvile

250 Insiden atap ruangan bocor 3 3 9 RR. Bougenvile 251 Insiden engsel pintu lepas 3 3 9 RR. Bougenvile 252 Risiko kurangnya tenaga

perawat 3 3 9 RR. Melati

253 Risiko kesalahan penandaan

area operasi 3 3 9 RR. Melati

254 Risiko ketidak tepatan dalam mengukur balance cairan pada anak anak

3 3 9 RR. Melati

255 Risiko operan jaga tidak tersampaikan dgn tepat pada shift berikutnya

3 3 9 RR. Melati

256 Suhu tempat penyimpanan obat tidak sesuai dengan stabilitas obat

3 3 9 Instalasi Farmasi

257 Kesalahn peletakan obat high

alert 3 3 9 Instalsi ICU

(44)

258 Insiden kurangnya

pengecekan cuff ET/TT 3 3 9 Instalsi ICU

259 Risiko komplain berhubungan dengan

kurangnya ventilasi udara di ruang geriatri

3 3 9 RR. Nusa Indah

260 Peminjaman berkas RM

penelitian banyak 3 3 9 Instalasi Rekam

Medis 261 Penyimpanan berkas RM

kurang rapi 3 3 9 Instalasi Rekam

Medis 262 Pengembalian berkas RM

rawat inap tidak tepat/ tidak lengkap

3 3 9 Instalasi Rekam

Medis

263 Permohonan data penelitian

banyak 3 3 9 Instalasi Rekam

Medis 264 Pembatasan jumlah pasien

perjanjian 3 3 9 Instalasi Rekam

Medis

265 Terkena radiasi komputer 3 3 9 Instalasi Rekam Medis

266 Pendaftaran lama, SIM eror 3 3 9 Instalasi Rekam Medis

267 Pendaftaran lama, aplikasi

SEP eror 3 3 9 Instalasi Rekam

Medis 268 Nomer antrian macet,

sehingga panggilan manual 3 3 9 Instalasi Rekam Medis

269 Pendaftaran dibatasi karena

dokter ada kepentingan 3 3 9 Instalasi Rekam

Medis 270 Petugas pendaftaran tidak

ramah, tidak kooperatif 3 3 9 Instalasi Rekam Medis

271 Lantai rusak 3 3 9 Instalasi Rekam

Medis

272 Pintu ruang distribusi rusak 3 3 9 Instalasi Rekam Medis

273 Speaker TPPRJ rusak 3 3 9 Instalasi Rekam

Medis 274 Ruang filing aktif yang tidak

sentral/terpisah 3 3 9 Instalasi Rekam

Medis 275 Kesalahan penempelan

barcode 2 4 8 RR. Cempaka

276 Kesalahan pemberian obat

tidak sesuai jadwal 2 4 8 RR. Cempaka

277 Air oksigen tidak diganti 2 4 8 RR. Cempaka

(45)

284 risiko penularan secara

airbon 4 2 8 RR. Dahlia

285 Risiko transmisi di ruang transit pada saat pelepasan APD

4 2 8 RR. Dahlia

286 Brankar rusak 2 4 8 Unit Onkologi

287 Tabung o2 jatuh 4 2 8 Unit Onkologi

288 Ekstravaksasi 4 2 8 Unit Onkologi

289 Paparan radiasi 4 2 8 Unit Onkologi

290 Kesalahan teknik pemberian

obat kemo 4 2 8 Unit Onkologi

291 Insiden terjadinya miss komunikasi antar perawat/

handover antar perawat

4 2 8 RR. Mawar

292 Insiden kesalahan

pengambilan sample darah 4 2 8 RR. Mawar

293 Ketidakpatuhan Petugas Security di dalam jam

kunjung Pasien melalui pintu gerbang

2 4 8 RR. Mawar

294 Kebersihan ruang

penyimpanan basah dan kering kurang

2 4 8 Instalasi Gizi

295 Petugas pengolah tidak mengolah makanan sesuai standar resep

2 4 8 Instalasi Gizi

296 Semua makanan belum dilakukan uji citarasa sebelum pemorsian

2 4 8 Instalasi Gizi

297 Air kran mati 2 4 8 IBS

298 Petugas terpapar radiasi layar

monitor 2 4 8 Instalasi Radiologi

(46)

299 Komputer Pelayanan lambat

sehingga hasilnya terhambat 4 2 8 Instalasi Radiologi 300 Kursi plastik mudah pecah 2 4 8 Ruang Bersalin 301 Risiko kekurangan ruangan

isolasi non covid 2 4 8 RR. Teratai

302 Risiko kekurangan hazmat karena peningkatan jumlah Pasien covid

4 2 8 RR. Teratai

303 Keterlambatan pengambilan jenazah dibangsal/IGD dan pengantaran jenazah ke rumah duka

4 2 8 Unit Pemulasaran

Jenazah

304 Insiden terpapar visrus covid

19 dari pasien 4 2 8 RR. Bougenvile

305 Insiden Terpapar virus dari lingkungan atau transmisi lokal

4 2 8 RR. Bougenvile

306 Insiden Kejatuhan Plafon 4 2 8 RR. Bougenvile

307 Insiden WC bocor 2 4 8 RR. Bougenvile

308 Insiden suhu ruang obat

tidak sesuai standar 2 4 8 RR. Bougenvile

309 Risiko pasien jatuh 4 2 8 RR. Melati

310 Polusi udara karena limbah

kamar mandi yang naik 2 4 8 RR. Melati

311 Risiko tertular infeksi tb atau

hiv 4 2 8 RR. Melati

312 Penyimpanan Obat LASA (NORUM) tidak dipisah/ tidak ditandai

4 2 8 Instalasi Farmasi

313 Penyimpanan obat high alert tidak dipisah / tidak di tandai

4 2 8 Instalasi Farmasi

314 Lokasi Penyimpanan elektrolit

pekat tidak dibatasi 4 2 8 Instalasi Farmasi

315 Obat di troli emergensi tidak

lengkap 4 2 8 Instalasi Farmasi

316 Pengantaran obat dilakukan oleh petugas yang tidak berwenang

2 4 8 Instalasi Farmasi

317 Petugas farmasi berisiki tertular penyakit dari resep

yang masuk 4 2 8 Instalasi Farmasi

(47)

323 Risiko komplain karena AC

sering rusak 2 4 8 RR. Nusa Indah

324 Risiko jatuh pasien Geriatri

karena lantai licin 2 4 8 RR. Nusa Indah

325 Risiko kesalahan

penyimpanan obat karena belum ada loker obat

4 2 8 RR. Nusa Indah

326 Risiko penularan penyakit air bone berhubungan dengan alur masuk dan transportasi pasien TB melewati depan nurse station

4 2 8 RR. Nusa Indah

327 Risiko penularan infeksi terkait ruang ganti APD yang masih satu pintu untuk masuk dan keluar dari ruang isolasi

4 2 8 RR. Nusa Indah

328 Salah daftar pasien, nama

tidak sesuai SEP 4 2 8 Instalasi Rekam

Medis

329 Elektronik Rekam Medis 4 2 8 Instalasi Rekam

Medis

330 Kehilangan CCTV 4 2 8 Instalasi Rekam

Medis

331 Banyak nyamuk di TPP 2 4 8 Instalasi Rekam

Medis

332 Karyawan pindah/pensiun 4 2 8 Instalasi Rekam Medis

333 Berkas RM tidak diambil 4 2 8 Instalasi Rekam Medis

334 Titipan daftar lewat APM 2 4 8 Instalasi Rekam

(48)

Medis 335 Insiden kesalahan pemberian

obat 3 2 6 RR. Alamanda

336 Insiden infus blong/Insiden salah pengaturan tetesan infus

3 2 6 RR. Alamanda,

RR. Melati

337 Insiden salah penggunaan

gelang identitas 3 2 6 RR. Alamanda

338 Insiden kesalahan persiapan tindakan penunjang OMD, CIL, APENDICIGRAM COLONOSCOPY

3 2 6 RR. Bakung

339 Insiden Pasien jatuh 3 2 6 RR. Bakung,RR

Mawar,Instansi ICU

340 Insiden kesalahan sampling 3 2 6 RR. Bakung 341 Insiden kesalahan identifikasi

Pasien pada saat pengambilan sample

3 2 6 RR. Bakung

342 Insiden ketidaktepatan teknik

pengambilan sample darah 3 2 6 RR. Bakung

343 Kesalahan pembuangan antara sampah medis dan sampah non medis

3 2 6 RR. Bakung

344 Kamar mandi terlalu jauh 2 3 6 RR. Bakung

345 Kesalahan penyerahan

rongen pada Pasien 3 2 6 RR. Cempaka

346 Reaksi tranfusi 3 2 6 RR. Cempaka

347 Tidak jelas saat operan/miss

komunikasi Perawat 2 3 6 RR. Cempaka

348 Insiden ternit bocor 3 2 6 RR. Cempaka

349 Belum ada wi-fi ruangan 2 3 6 RR. Cempaka

350 Insiden suhu ruang obat

tidak sesuai standar 2 3 6 RR. Cempaka

351 Insiden engsel pintu lepas 2 3 6 RR. Cempaka 352 Screening IGD kurang tepat 3 2 6 RR. Cempaka 353 Risiko inos sesama nakes 3 2 6 RR. Dahlia 354 Disinfektan linen yang tidak

teratur 2 3 6 RR. Dahlia

(49)

terlindungi jika hujan .

360 Filter Ambulance yang kotor 3 2 6 Unit Kendaraan Dinas

361 Insiden kesalahan cara

pemberian obat 3 2 6 RR. Mawar

362 Insiden kurangnya pemberian informasi perawatan post operasi

3 2 6 RR. Mawar

363 Insiden tulisan nama Pasien di gelang hilang atau tidak jelas

2 3 6 RR. Mawar

364 risiko Infeksi luka operasi 3 2 6 RR. Mawar 365 risiko infeksi luka dekubitus 3 2 6 RR. Mawar 366 Insiden pemberian markside

area oleh DPJP 3 2 6 RR. Mawar

367 Insiden Closed tersumbat 3 2 6 RR. Mawar

368 Alat pengukur suhu sering

rusak 3 2 6 Instalasi Gizi

369 Makanan yang di sajikan belum bisa memenuhi sesuai standar diit

3 2 6 Instalasi Gizi

370 Gangguan mata karena penglihatan terfokus pada layar monitor dalam waktu lama

3 2 6 Instalasi Radiologi

371 Partus di Ruang Mawar atau

Dahlia 3 2 6 Ruang Bersalin

372 Risiko kesalahan screening

covid 3 2 6 Ruang Bersalin

373 Risiko tertusuk jarum waktu

heacting 3 2 6 Ruang Bersalin

(50)

374 Pasien tidak memakai gelang

identitas/tulisan tidak jelas 3 2 6 Ruang Bersalin

375 Kesalahan dosis pemberian

obat 3 2 6 Ruang Bersalin

376 Risiko tertusuk ampul 3 2 6 Ruang Bersalin

377 Alat-alat medis eror/ rusak 3 2 6 Ruang Bersalin 378 Komputer dan jaringan

internet eror dan lambat 2 3 6 Ruang Bersalin 379 Keluarga Pasien menginjak

pecahan ampul, darah dan ketuban

3 2 6 Ruang Bersalin

380 Partus set tidak lengkap 2 3 6 Ruang Bersalin

381 Oksigen habis 3 2 6 Ruang Bersalin

382 Jam dinding mati 3 2 6 Ruang Bersalin

383 Lampu mati 3 2 6 Ruang Bersalin

384 Risiko terkena aliran listrik 3 2 6 Ruang Bersalin 385 Risiko jatuh lantai licin dan

lantai usang 2 3 6 Poliklinik

386 Risiko jatuh pada Pasien pre

op lansia di poli umum 2 3 6 Poliklinik

387 Risiko jatuh Pasien jiwa 2 3 6 Poliklinik

388 Insiden nurse call error 2 3 6 RR. Bougenvile 389 Risiko kehilangan barang

atau fasilitas karena tidak ada kunci pintu depan

3 2 6 RR. Melati

390 Risiko infeksi plebitis 2 3 6 RR. Melati

391 Risiko tertimpanya pintu loker obat pasien pada petugas

3 2 6 RR. Melati

392 Risiko tertukarnya barkot

pasien di obat pasien 3 2 6 RR. Melati

393 Kurangnya komunikasi

antara dokter dan pasien 3 2 6 RR. Melati 394 Risiko kesalahan pemberian

dosis antibiotik 2 3 6 RR. Melati

395 Kesalahan dalam

pemanggilan pasien operasi dari ok

2 3 6 RR. Melati

(51)

400 Risiko debu masuk di bangsal

saat konstruksi 2 3 6 RR. Melati

401 Risiko kesalahan/ miss komunikasi saat hand over Perawat

2 3 6 RR. Melati

402 Risiko salah mengambil bed

pasien saat post operasi 3 2 6 RR. Melati

403 Obat recall dan retur PBF belum ditarik

3 2 6 Instalasi Farmasi

404 Obat yang diminta dalam resep sering tidak tersedia karena obat yang diminta tidak sesuai formularium

2 3 6 Instalasi Farmasi

405 Insiden kesalahan seting

ventilator 3 2 6 Instalsi ICU

406 Insiden kesalahan cairan

pengencer obat 3 2 6 Instalsi ICU

407 Ketidakpatuhan waktu

minum obat oral 3 2 6 RR. Nusa Indah

408 Ketidak tepatan pemberian

obat oral/ injeksi dari apotek 3 2 6 RR. Nusa Indah

409 Persediaan baju ganti untuktindakan di ruang isolasi masih sering kosong

3 2 6 RR. Nusa Indah

410 Risiko mis komunikasi berhubungan dengan pemberian edukasi melalui aiphone pasien

3 2 6 RR. Nusa Indah

(52)

411 Salah mengantar berkas RM 3 2 6 Instalasi Rekam Medis

412 Pendaftaran pasein haji lama

karena register manual 3 2 6 Instalasi Rekam

Medis 413 SEP rujukan pasien pada shif

malam 3 2 6 Instalasi Rekam

Medis 414 Keterlambatan pengiriman

laporan ektern 3 2 6 Instalasi Rekam

Medis 415 Gangguan pinggang/LBP

sering membawa berkas RM banyak

3 2 6 Instalasi Rekam

Medis

416 Insiden Kesalahan pemberian

tranfusi darah 5 1 5 RR. Alamanda

417 Insiden bayi tertukar 5 1 5 RR. Alamanda

418 Insiden Pasien (bayi) jatuh

dari bed 5 1 5 RR. Alamanda

419 Tertimpa tabung O2 5 1 5 RR. Alamanda

420 Terpeleset karena lantai licin

saat memandikan bayi 5 1 5 RR. Alamanda

421 Risiko tertular covid-19 5 1 5 RR. Cempaka

422 Handrub tidak di pasang di

setiap bed Pasien 5 1 5 RR. Cempaka

423 Exhausepain rusak 5 1 5 RR. Dahlia

424 Cepat rusaknya APD reuse 1 5 5 RR. Dahlia 425 Kejenuhan Pasien di ruang

isolasi 1 5 5 RR. Dahlia

426 Tidak dilakukan pengecekkan

alat medis secara berkala 1 5 5 RR. Dahlia 427 Petugas tertular penyakit

infeksi saat kontak dengan Pasien

5 1 5 Unit Kendaraan

Dinas

428 Persiapan bumbu belum sesuai dengan standar bumbu

1 5 5 Instalasi Gizi

429 Insiden Kesalahan Pemberian

obat injeksi 5 1 5 IBS

430 Kesalahan dalam pembacaan

hasil 5 1 5 Instalasi Radiologi

431 Kesalahan penyerahan hasil

Radiologi 5 1 5 Instalasi Radiologi

432 Risiko terpapar covid antar 5 1 5 RR. Teratai

(53)

438 Insiden kesalahan identifikasi

pasien 5 1 5 Instalsi ICU

439 Insiden tertusuk jarum 4 1 4 RR. Alamanda,

RR. Bakung, Instansi ICU 440 Insiden kesalahan identifikasi

Pasien 4 1 4 RR. Alamanda

441 Insiden Pasien dewasa jatuh

dari bed 4 1 4 RR. Alamanda

442 Infeksi luka operasi 4 1 4 RR. Alamanda,

RR.Melati 443 Risiko penularan infeksi

melalui tangan petugas 4 1 4 RR.Alamanda,RR.

Bakung,RR.Nusa Indah

444 Risiko penularan infeksi

melalui alat medis 4 1 4 RR. Alamanda,

RR.Melati 445 Risiko penularan infeksi

terkait ketidakpatuhan pemakaian APD

4 1 4 RR. Alamanda,

RR. Bakung, Instansi ICU

446 Tersengat listrik 4 1 4 RR. Alamanda

447 Risiko infeksi saluran kencing 2 2 4 RR. Bakung 448 Derajat ketinggian tangga

terlalu curam 2 2 4 RR. Bakung

449 Derajat ketinggian ram

(dronjongan ) tidak standar 2 2 4 RR. Bakung 450 Ukuran ruangan yang kurang

standar (terlalu sempit) 2 2 4 RR. Bakung

451 Kesalahan dosis pemberian

obat 4 1 4 RR. Cempaka

452 Insiden stop kontak lepas 2 2 4 RR. Cempaka

(54)

453 Insiden lampu emergensi

tidak hidup 2 2 4 RR. Cempaka

454 Hasil cucian tidak bersih dan terjadi kerusakan pada

instrument

2 2 4 CSSD

455 Terpapar bahan infeksius, kimia, benda tajam habis pakai dan penurunan tingkat pendengaran

2 2 4 CSSD

456 Kedisiplinan perawat untuk

cuci tangan 4 1 4 RR. Dahlia

457 Ketidakpatuhan petugas dalam pemakaian handscoon sekali pakai

4 1 4 RR. Dahlia

458 Kesalahan pemberian

informasi ke Pasien 2 2 4 RR. Dahlia

459 Tertusuk jarum 2 2 4 Unit Hemodialisa

460 Salah obat 4 1 4 Unit Onkologi

461 Kurang kelengkapan

pengisian rekam medic 2 2 4 Unit Onkologi

462 Air macet 2 2 4 Unit Onkologi

463 Atribut keselamatan Pasien

tidak terpasang 2 2 4 Unit Onkologi

464 Pengelolaan sampah tidak

tepat 2 2 4 Unit Onkologi

465 Kalibrasi alat terlambat 2 2 4 Unit Onkologi 466 Sirine dan Rotator yang tidak

bisa berbunyi 4 1 4 Unit Kendaraan

Dinas 467 Insiden kesalahan pemberian

tanda area operasi 4 1 4 RR. Mawar

468 Insiden kesalahan transfusi

darah 4 1 4 RR. Mawar

469 Kesalahan pemberian marker

anatomis 4 1 4 Instalasi Radiologi

470 Ketidakpatuhan petugas cuci

tangan 6 langkah 4 1 4 Ruang Bersalin

471 Kesalahan identifikasi saat

pengambilan sampel darah 4 1 4 Ruang Bersalin

472 Risiko bayi jatuh/meninggal

saat IMD 4 1 4 Ruang Bersalin

(55)

479 Alat-alat medis hilang 2 2 4 Ruang Bersalin

480 Telephone error 2 2 4 Ruang Bersalin

481 Insiden kesalahan hasil

swab/hasil swab berubah 4 1 4 RR. Teratai

482 Risiko penularan melalui udara (airbone) dari ruang isolasi ke ruang biasa

4 1 4 RR. Teratai

483 Risiko Pasien ngamuk di poli

jiwa 2 2 4 Poliklinik

484 Kejadian tertusuk jarum di

poli syaraf 2 2 4 Poliklinik

485 Kesulitan pemasangan infus

Pasien anemia 2 2 4 Poliklinik

486 Risiko komplain Pasien

didahulukan pelayanan 2 2 4 Poliklinik

487 Coder penyimpanan vaksin rusak

2 2 4 Poliklinik

488 Kesalahan penyerahan hasil pengambilan pen/ materi tindakan roi kepada keluarga

2 2 4 RR. Bougenvile

489 Kesalahan misskomunikasi

perawat 2 2 4 RR. Bougenvile

490 Risiko tertinggalnya obat di loker pasien untuk pasien pulang

2 2 4 RR. Melati

491 Risiko infeksi karena korden

tidak pernah diganti 2 2 4 RR. Melati

492 Kesalahan dalam pemberian diagnosa pada pasien yang mempunyai riwayat opname (IGD)

2 2 4 RR. Melati

(56)

493 Kesalahan jam dinas karena

sering tukar jaga 2 2 4 RR. Melati

494 Insiden kesalahan pemberian

obat 4 1 4 RR. Melati

495 Luka akibat pemasangan

dower chateter 1 4 4 RR. Melati

496 Kesalahan pemakaian warna

tabung untuk sampel darah 2 2 4 RR. Melati

497 Insiden kesalahan persiapan

operasi 4 1 4 RR. Melati

498 Insiden jatuhnya tiang infus

di bed pasien 2 2 4 RR. Melati

499 Risiko kejatuhan pintu loker

Pasien 2 2 4 RR. Melati

500 Risiko pasien tidak tervisit

dokter DPJP 2 2 4 RR. Melati

501 Risiko salah pengambilan

pasien dari kamar operasi 2 2 4 RR. Melati 502 Tempat parkir yang jauh

membuat petugas terlambat 2 2 4 RR. Melati 503 Risiko terlambatnya

karyawan masuk karena parkiran jauh

2 2 4 RR. Melati

504 Risiko karyawan kekurangan

cairan dan kurang gizi 2 2 4 RR. Melati

505 Risiko klaim tidak

tertanggung BPJS 2 2 4 RR. Melati

506 Risiko gangguan eliminasi urin dan fekal karena wc rusak

2 2 4 RR. Melati

507 Insiden salah konsul 2 2 4 RR. Melati

508 Risiko tertukarnya hasil rongten pasien pulang dengan nama yg mirip

2 2 4 RR. Melati

509 Gangguan pada mata petugas karena terlalu lama melihat layar computer saat entry obat

2 2 4 Instalasi Farmasi

510 Gigi pasien lepas saat

intubasi 4 1 4 Instalsi ICU

(57)

RR.Bakung 515 Insiden kesalahan pemberian

cairan infus 3 1 3 RR. Alamanda

516 Insiden kesalahan identifikasi Pasien pada saat

pengambilan sampel

3 1 3 RR. Alamanda

517 Insiden plebitis 3 1 3 RR. Alamanda

518 Insiden Pasien tertimpa flabot

infus 3 1 3 RR. Alamanda

519 Risiko keterlambatan

pengurusan SEP 3 1 3 RR. Bakung

520 Kulkas doyong, patah

kakinya 3 1 3 RR. Bakung

521 Kesalahan tidak double check saat pemberian transfusi

3 1 3 RR. Cempaka

522 Kesalahan pemberian obat

high alert 3 1 3 RR. Cempaka

523 Ada tikus berkeliaran 1 3 3 RR. Cempaka

524 Insiden kesalahan mengantar

Pasien ke kamar operasi 3 1 3 RR. Mawar

525 Insiden ketepatan waktu

pemberian obat oral 3 1 3 RR. Mawar

526 Petugas pengolah tidak mengolah bahan makanan sesuai menu

1 3 3 Instalasi Gizi

527 Petugas Terbentur perlatan

radiologi 3 1 3 Instalasi Radiologi

528 Kesalahan waktu pemberian

obat 3 1 3 Ruang Bersalin

529 Risiko tertinggal kasa 3 1 3 Ruang Bersalin

Gambar

Tabel 2. Indikato Muu Keselamatan Pasien

Referensi

Dokumen terkait

RUMAH SAKIT ERNALDI BAHAR RUMAH SAKIT ERNALDI BAHAR Jln. Tembus Terminal KM.12 No. 02, Kelurahan Alang-Alang Lebar  Jln. Tembus Terminal KM.12 No. 02, Kelurahan Alang-Alang

Penandaan lokasi dilakukan oleh DPJP sebelum pasien operasi. Indikator ini tercapai disebabkan oleh kepatuhan DPJP dalam menjalankan prosedur. Dari jumlah 29 pasien selama

PENCAPAIAN INDIKATOR MUTU PRIORITAS STROKE INFARK SEPTEMBER – NOVEMBER 2019... INDIKATOR

Indikator mutu Waktu Tunggu Hasil Pelayanan Laboratorium memberikan gambaran kualitas terkait waktu yang diperlukan pasien untuk menunggu hasil

Setiap Rumah Sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja yang antara lain terkait dengan: pelaporan insiden, akreditasi, manajemen resiko, utilisasi, mutu

 Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Sekayu menetapkan bahwa semua staf dan karyawan wajib mengetahui program dan kegiatan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG. NOMOR : 81/PER/RSI�SA/I/2014 NOMOR :

Dokumen ini berisi tentang pembentukan Komite Mutu di Rumah Sakit dan implementasi rencana aksi keselamatan pasien global 2021-2030 di