• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

13 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

1. Tinjauan Umum Tentang Pembuktian a. Pengertian Pembuktian Pada Umumnya

Pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada Terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang yang boleh dipergunakan hakim membuktikan kesalahan yang didakwakan (M. Yahya Harahap, 2012:273)

Pembuktian ditinjau dari segi hukum acara pidana, antara lain:

(2)

14

dengan cara dan dengan kekuatan pembuktian yang melekat pada setiap alat bukti yang ditemukan. Jika tidak demikian, bisa saja orang yang jahat lepas, dan orang yang tidak bersalah mendapat ganjaran hukuman.

2) Sehubungan dengan pengertian di atas, Majelis Hakim dalam mencari dan meletakkan kebenaran yang akan dijatuhkan dalam putusan, harus berdasarkan alat-alat bukti yang telah ditentukan undang-undang secara limitatif, sebagaimana yang disebut dalam Pasal 184 KUHAP.

b. Teori atau Sistem Pembuktian (M. Yahya Harahap, 2012:277-280) 1) Sistem Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Belaka

(Conviction-in Time)

(3)

15

2) Sistem Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Atas Alasan Yang Logis (Conviction-Raisonee)

Dalam sistem pembuktian ini pun dapat dikatakan keyakinan hakim tetap memegang peranan penting dalam menentukan salah tidaknya Terdakwa. Akan tetapi, dalam sistem pembuktian ini, faktor keyakinan hakim dibatasi. Pada sistem conviction-raisonee, harus dilandasi reasoning atau alasan-alasan, dan reasoning itu harus reasonable, yakni berdasar alasan yang dapat diterima. Keyakinan hakim harus mempunyai dasar-dasar alasan yang logis dan benar-benar dapat diterima.Tidak semata-mata atas dasar keyakinan yang tertutup tanpa uraian alasan yang masuk akal.

3) Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Positif (Positif Wettelijk Bewijs Theorie)

Pembuktian menurut undang-undang secara positif, keyakinan hakim tidak ikut ambil bagian dalam membuktikan kesalahan Terdakwa. Keyakinan hakim dalam sistem ini, tidak ikut berperan dalam menentukan salah atau tidaknya Terdakwa. Sistem ini berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan undang-undang. Apabila sudah tepenuhi cara-cara pembuktian dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang, hakim tidak lagi menanyakan keyakinan hati nuraninya akan kesalahan Terdakwa.

4) Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Negatif (Negatif Wettelijk Bewijs Theorie)

(4)

16

secara negatif. Rumusannya berbunyi: salah tidaknya seorang Terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim yang didasarkan kepada cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.

Bertitik tolak dari uraian di atas, untuk menentukan salah atau tidaknya seorang Terdakwa menurut sistem pembuktian undang-undang secara negatif, terdapat dua komponen:

a) Pembuktian harus dilakukan menurut cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang; dan

b) Keyakinan hakim yang juga harus didasarkan atas cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.

Dengan demikian, sistem ini memadukan unsur obyektif dan subyektif dalam menentukan salah atau tidaknya Terdakwa. Tidak ada yang paling dominan dalam unsur tersebut.Jika salah satu dari dua unsur itu tidak ada, tidak cukup mendukung keterbuktian kesalahan Terdakwa.

c. Asas - Asas Pembuktian (Andi Hamzah, 2012:10-25) 1) Peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan; 2) Praduga tak bersalah (Presumption of Innocence); 3) Asas oportunitas;

4) Pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum; 5) Semua orang diperlakukan sama di depan hakim;

6) Peradilan dilakukan oleh hakim karena jabatannya dan tetap; 7) Asas akusator dan inkisitor;

8) Tersangka/Terdakwa berhak mendapatkan bantuan hukum; dan 9) Pemeriksaan hakim yang langsung dan lisan.

(5)

17

sah menurut undang-undang telah diatur dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP adalah sebagai berikut:

1) Keterangan Saksi

a) Pengertian Keterangan Saksi

Keterangan saksi menurut Pasal 1 butir 27 KUHAP adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai sesuatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu.

Namun, pengertian keterangan saksi tersebut telah diperluas berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PUU-VIII/2010 sehingga definisi saksi dalam Pasal 1 angka 27 KUHAP diubah menjadi “orang yang dapat memberikan keterangan dalam rangka penyidikan, penuntutan, dan peradilan suatu tindak pidana yang tidak selalu ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri

b) Syarat Sahnya Keterangan Saksi (M. Yahya Harahap, 2012:286-298)

(1) Harus mengucap janji atau sumpah

Menurut ketentuan yang diatur dalam Pasal 160 ayat (3) KUHAP sebelum saksi memberikan keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji. Adapun sumpah atau janjinya adalah dilakukan menurut cara agamanya masing-masing dan lafal sumpah atau janji berisi bahwa saksi akan memebrikan keterangan yang sebenar-benarnya dan tiada lain daripada yang sebenarnya.

(6)

18

memberikan keterangan.Akan tetapi, Pasal 160 ayat (4) KUHAP memberi kemungkinan untuk mengucapkan sumpah atau janji setelah saksi memberikan keterangan. Mengenai saksi yang menikah tidak mengucapkan sumpah atau janji tanpa alasan yang sah maka dapat dikenakan sandera, penyanderaan dilakukan berdasar “penetapan” hakim ketua sidang, dan penyanderaan dalam hal seperti ini paling lama empat belas hari (M. Yahya Harahap, 2012: 286).

(2) Keterangan saksi yang bernilai sebagai alat bukti

Tidak semua keterangan saksi mempunyai nilai sebagai alat bukti. Keterangan saksi yang mempunyai nilai adalah keterangan yang sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam Pasal 1 angka 27 KUHAP, yaitu yang saksi lihat sendiri, saksi dengar sendiri, saksi alami sendiri, serta menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu (M. Yahya Harahap, 2012: 287).

(7)

19

(4) Keterangan seorang saksi saja dianggap tidak cukup Berdasarkan ketentuan Pasal 185 ayat (2) KUHAP, keterangan seorang saksi saja belum dapat dianggap sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan Terdakwa (unus testis nullus testis). Walaupun keterangan saksi tunggal sedemikian rupa jelasnya, tetapi Terdakwa tetap mungkir serta kesaksian tunggal itu tidak disertai alat bukti lain, maka kesaksian ini harus dinyatakan tidak mempunyai kekuatan pembuktian atas alasan unnus testi nullus testis. Berbeda jika Terdakwa memberikan keterangan yang mengakui kesalah yang didakwakan kepadanya, dalam hal seperti ini keterangan seorang saksi sudah cukup membuktikan kesalahan Terdakwa, karena disamping keterangan saksi tunggal itu telah dicukupi dengan alat bukti keterangan Terdakwa. Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa persyaratan yang dikehendakii oleh Pasal 185 ayat (2) KUHAP adalah untuk dapat membuktikan kesalahan Terdakwa paling sedikit harus didukung oleh “dua orang saksi”, dan atau kalau saksi yang ada hanya terdiri dari satu orang saja maka kesaksian tunggal itu harus “dicukupi” atau “ditambah” dengan salah satu atau alat bukti yang lain (M.Yahya Harahap, 2012: 288).

2) Keterangan Ahli (Verklaringen Van Een Deskundige; Expert Testimony) (M. Yahya Harahap, 2012:295-298)

(8)

20

dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang.

Apabila keterangan ahli bersifat diminta, ahli tersebut membuat laporan sesuai dengan yang dikehendaki oleh penyidik. Laporan keterangan ahli dimasukkan dalam berita acara penyidikan. Hal ini ditegaskan dalam penjelasan Pasal 186 KUHAP. Keterangan ahli dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.

Patut diperhatikan bahwa KUHAP membedakan keterangan seorang ahli dipersidangan sebagai alat bukti keterangan ahli (Pasal 186 KUHAP) dan keterangan seorang ahli secara tertulis di luar sidang pengadilan sebagai alat bukti surat (Pasal 187 butir c KUHAP).

Isi keterangan seorang saksi dan ahli berbeda. Keterangan seorang saksi mengenai apa yang dialami saksi itu sendiri sedangkan keterangan seorang ahli ialah mengenai suatu penilaian mengenai hal-hal yang sudah nyata ada dan pengambilan kesimpulan mengenai hal-hal itu.

3) Alat Bukti Surat

Selain Pasal 184 KUHAP yang menyebutkan alat-alat bukti maka hanya ada satu Pasal saja dalam KUHAP yang mengatur tentang alat bukti surat, yaitu Pasal 187 KUHAP. Pasal itu terdiri atas 4 ayat, yaitu:

(9)

21

b) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenal hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;

c) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dan padanya; dan

d) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alatpembuktian yang lain.

4) Alat Bukti Petunjuk

Pasal 188 ayat (1) KUHAP memberi definisi petunjuk sebagai berikut: “Petunjuk adalah pebuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya”

Menurut Pasal 188 ayat (2) KUHAP, Petunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat diperoleh dari:

a) Keterangan saksi; b) Surat; dan

c) Keterangan Terdakwa.

Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif bijaksana, setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan keseksamaan berdasarkan hati nuraninya (Pasal 188 ayat (3) KUHAP).

5) Alat Bukti Keterangan Terdakwa

(10)

22

tentang perbuatan yang dilakukan atau yang ia ketahui sendiri atau ia alami sendiri.

a) Asas penilaian keterangan Terdakwa

(1) Tentang perbuatan yang dilakukan Terdakwa

Menurut ketentuan ini hakim jangan sampai keliru memasukkan keterangan Terdakwa yang berupa pernyataan mengenai perbuatan yang dilakukan orang lain. Pernyataan perbuatan yang dinilai dapat menjadi alat bukti ialah penjelasan tentang perbuatan yang dilakukan Terdakwa sendiri. Oleh karena itu setiap pernyataan yang bermaksud hendak mengetahui apa saja yang dilakukan Terdakwa sehubungan dengan tindak pidana yang sedang diperiksa, mesti terarah di sekitar perbuatan yang dilakukannya. Jangan melenceng diluar tindakan atau perbuatan yang dilakukannya. Tentu boleh saja menanyakan perbuatan yang dilakukan oleh orang lain, asal ada kaitan langsung dengan perbuatan yang dilakukan Terdakwa sendiri (Andi Hamzah, 2012:278).

(11)

23

tersebut, tetapi semata-mata pengetahuan langsung yang timbul dari peristiwa tindak pidana itu.Oleh karena itu, corak dan arah pertanyaan yang diajukan kepada Terdakwa harus berkisar dan bertitik tolak tentang hubungan pengetahuannya dengan tindak pidana yang diperiksa.Bukan pertanyaan mengenai pendapat atau perkiraan maupun hasil pemikiran. Keterangan atau pernyataan yang berupa pendapat atau rekaan yang diperoleh dari hasil pemikiran Terdakwa adalah keterangan yang tidak memiliki nilai sebagai alat bukti keterangan Terdakwa (M. Yahya Harahap, 2012:320). (3) Apa yang dialami sendiri oleh Terdakwa

Mengenai hal ini pun, pernyataan Terdakwa tentang apa yang dialami, baru mempunyai nilai sebagai alat bukti jika pernyataan pengalaman itu mengenai pengalaman sendiri, tapi yang dialaminya sendiri pun bukan sembarang pengalaman. Apa yang Terdakwa alami sendiri harus berupa pengalam yang langsung berhubungan dengan peristiwa pidana yang bersangkutan. Diluar pengalaman seperti ini, tidak dapat dinilai sebagai alat bukti keterangan Terdakwa (M. Yahya Harahap, 2012:320).

(4) Keterangan Terdakwa hanya merupakan alat bukti terhadap dirinya sendiri

(12)

24

Terdakwa a tidak dapat dipergunakan terhadap Terdakwa b, demikian sebaliknya (M. Yahya Harahap, 2012:321).

(5) Keterangan Terdakwa saja tidak cukup membuktikan kesalahannya

Asas ini ditegaskan dalam Pasal 189 ayat (4) KUHAP: “keterangan Terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain”. Pada hakikatnya asas ini hanya merupakan penegasan kembali prinsip batas minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP. Bukankah Pasal 183 KUHAP telah menentukan asas pembuktian bahwa untuk menjatuhkan hukuman pidana terhadap seorang Terdakwa, kesalahannya harus dapat dbuktikan: dengan sekurang-kurangnya dengan dua alat bukti yang sah”. Asas batas minimum pembuktian ini tidak berbeda dengan apa yang ditentukan pada Pasal 189 ayat (4) KUHAP yang menegaskan: “keterangan Terdakwa saja tidak cukup membuktikan kesalahannya tapi harus disertai atau didukung dengan alat bukti yang lain” (M. Yahya Harahap, 2012:231).

(6) Keterangan Terdakwa diluar sidang (the confession outside the court)

(13)

25

alat bukti yang sah. akan tetapi, menurut ketentuan Pasal 189 ayat (2) KUHAP, keterangan Terdakwa yang diberikan diluar sidang dapat dipergunakan untuk membantu menemukan alat bukti di sidang pengadilan dengan syarat asalkan keterangan diluar sidang itu didukung oleh sesuatu alat bukti yang sah, dan keterangan yang dinyatakan diluar sidang sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya (M. Yahya Harahap, 2012:323).

(7) Kekuatan pembuktian keterangan Terdakwa

Sifat nilai kekuatan pembuktian adalah bebas. Hakim tidak terikat pada nilai kekuatan yang terdapat pada alat bukti keterangan Terdakwa. Hakim dapat menerima atau menyingkirkannya sebagai alat bukti dengan jalan mengemukakan alasan-alasannya. Demikian juga sebaliknya, seandainya hakim hendak menjadikan alat bukti keterangan Terdakwa sebgai salah satu landasan pembuktian kesalahan Terdakwa, harus dilengkapi dengan alasan yang argumentatif dengan menghubungkannya dengan alat bukti yang lain (M. Yahya Harahap, 2012:331).

(8) Harus memenuhi batas minimum pembuktian

(14)

26

dapat disimak kehatusan mencukupkan alat bukti keterangan Terdakwa dengan sekurang-kurangnya satu lagi alat bukti yang lain, baru mempunyai pembuktian yang cukup. Penegasan Pasal 189 ayat (4) KUHAP sejalan dengan dan mempertegas asas batas minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP. (9) Harus memenuhi asas keyakinan hakim

Sekalipun kesalahan Terdakwa telah terbukti sesuai dengan asas batas minimum pembuktian, masih harus dibarengi dengan “keyakinan hakim” bahwa memang Terdakwa yang bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Asas keyakinan hakim harus melekat pada putusan yang diambilnya sesuai dengan sistem pembuktian yang dianut Pasal 183 KUHAP yaitu pembuktian menurut undang-undang secara negatif (M. Yahya Harahap, 2012:322).

2. Tinjauan Umum Tentang Dakwaan a. Pengertian surat dakwaan

Pada dasarnya tidak ada pengertian yang baku mengenai surat dakwaan. Akan tetapi beberapa ahli memberikan definisi yang dapat memberi gambaran tentang surat dakwaan, di bawah ini dikemukakan beberapa definisi menurut para pakar antara lain adalah sebagai berikut:

1) M. Yahya Harahapmenyatakan bahwa:

(15)

27

hakim dalam sidang pengadilan (M. Yahya Harahap dalam Harun H. Husein, 1994:44).

2) A.Soetomo merumuskan surat dakwaan sebagai berikut:

Surat dakwaan adalah surat yang dibuat atau disiapkan oleh penuntut umum yang dilampirkan pada waktu melimpahkan berkas perkara ke pengadilan yang memuat nama dan identitas pelaku perbuatan pidana, kapan dan di mana perbuatan dilakukan serta uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai perbuatan tersebut yang didakwakan telah dilakukan oleh Terdakwa yang memenuhi unsur-unsur Pasal-Pasal tertentu dari undang-undang yang tertentu pula yang nantinya merupakan dasar dan titik tolak pemeriksaan Terdakwa di sidang pengadilan untuk dibuktikan apakah benar perbuatan yang didakwakan itu betul dilakukan dan apakah betul Terdakwa adalah pelakunya yang dapat dipertanggung-jawabkan untuk perbuatan tersebut (A.Soetomo dalam Harun H Husein, 1994: 44).

b. Syarat surat dakwaan (M. Yahya Harahap, 2012:380)

Mengenai syarat surat dakwaan dapat dilihat pada Pasal143 KUHAP. Dari Pasal tersebut, ditentukan dua syarat yang harus dipenuhi surat dakwaan, yaitu:

1) Syarat Formil

Syarat formil diatur dalam Pasal 143 ayat (2) huruf a KUHAP yang memuat hal-hal yang berhubungan dengan: a) Surat dakwaan diberi tanggal dan ditandatangani oleh

penuntut umum/jaksa; dan

(16)

28 2) Syarat Materiil

Syarat materiil menurut Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP memuat dua unsur yang tak boleh dilalaikan:

a) Uraian cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan; dan

b) Menyebut waktu dan tempat tindak pidana dilakukan (tempus delicti dan locus delicti).

c. Bentuk - bentuk surat dakwaan (M. Yahya Harahap, 2012:385-389)

KUHAP tidak menetapkan bagaimana bentuk surat dakwaan yang dibuat oleh penuntut umum. Mengenai bentuk - bentuk surat dakwaan yang dikenal sekarang ini adalah merupakan produk yang timbul dari ilmu pengetahuan hukum dan praktek peradilan. Bentuk-bentuk surat dakwaan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Surat Dakwaan Tunggal

Pembuatan surat dakwaan tunggal adalah pembuatan surat dakwaan yang paling ringan bila dibanding dengan surat dakwaan lainnya. Surat dakwaan ini dibuat penuntut umum dengan ketentuan-ketentuan bahwa perbuatan Terdakwa: a) Cukup bisa didakwaan satu jenis atau satu macam tindak

pidana saja;

b) Melakukan satu perbuatan, tetapi melanggar beberapa ketentuan pidana (Concursus Idealis) sebagaimana diatur dalam Pasal 63 (1) KUHP; dan

c) Melakukan perbuatan berlanjut seperti diatur dalam Pasal 64 ayat (1) KUHP (Hari Sasangka dan Tjuk Suharjanto, 1988:105)

(17)

29

keadaan perkara yang berdasarkan bukti-bukti yang ada sulit dicari alasan untuk mendakwa perbuatan pidana yang lain, maka terpaksa disusun dakwaan secara tunggal. Penyusunan surat dakwaan tunggal merupakan penyusunan surat dakwaan yang teringan jika dibandingkan dengan surat dakwaan lain, karena penuntut umum hanya memfokuskan pada sebuah permasalahan saja. Hal ini berarti bahwa penyusunan surat dakwaan tunggal mempunyai sifat sederhana yaitu sederhana dalam perumusannya maupun sederhana dalam pembuktian dan penerapan hukumnya.

2) Surat Dakwaan Kumulatif (bersusun)

Surat dakwaan ini dibuat apabila ada beberapa tindak pidana yang tidak ada hubungan antara tindak pidana yang satu dengan tindak pidana yang lain (berdiri sendiri-sendiri) atau dianggap berdiri sendiri, yang akan didakwakan kepada seorang Terdakwa atau beberapa orang Terdakwa. Tindak pidana yang didakwakan masing-masing berdiri sendiri, tetapi didakwakan secara serempak asal saja pelaku dari tindak pidana itu adalah sama.

Dakwaan yang tidak terbukti harus dinyatakan secara tegas dan dituntut pembebasan dari dakwaan tersebut. Dakwaan ini dipergunakan dalam hal Terdakwa melakukan beberapa tindak pidana yang masing-masing merupakan tindak pidana yang berdiri sendiri. Tindak pidana yang dianggap berdiri sendiri-sendiri apabila waktu dan tempatnya adalah sama.

3) Surat Dakwaan Alternatif (pilihan)

(18)

30

paling tepat untuk didakwakan sehingga surat dakwaan yang dibuat merupakan alternatif bagi hakim untuk memilihnya.

Konsekwensi dari surat dakwaan alternatif adalah jika salah satu tindak pidana sudah terbukti maka tindak pidana yang lainnya harus dikesampingkan.

4) Surat Dakwaan Subsidair (berlapis)

Pembuatan surat dakwaan subidair seringkali dikacaukan dengan pembuatan surat dakwaan alternatif terutama bagi mereka yang kurang memahami penggunaan dan maksud penyusunan surat dakwaan tersebut. Penggunaan dalam praktek sering dikacaukan antara keduanya. Dalam pembuatan surat dakwaan alternatif, Penuntut Umum ragu-ragu tentang jenis tindak pidana yang akan didakwakan kepada Terdakwa, karena fakta-fakta dari berita acara Pemeriksaan penyidikan kurang jelas terungkap jenis tindak pidananya. Sedangkan dalam dakwaan subsidair Penuntut umum tidak ragu-ragu tentang jenis tindak pidananya, tetapi yang dipermasalahkan adalah kualifikasi dari tindakpidana yang akan didakwakan apakah tindak pidana tersebut termasuk kualifikasi berat atau kualifikasi ringan. Surat dakwaan tersebut disusun dalam bentuk primair, subsidair dan seterusnya dengan Pasal yang terberat lebih dahulu baru Pasal yang ringan ancaman hukumannya.

(19)

31 5) Surat Dakwaan Kombinasi

Dakwaan kombinasi adalah merupakan kombinasi dari dakwaan yang berbentuk alternatif dengan dakwaan subsidair atau antara dakwaan kumulatif dengan dakwaan subsidair atau antar dakwaan kumulatif dengan dakwaan alternatif, dan sebagainya. Dakwaan ini harus diperhatikan secara teliti mengenai bentuk-bentuk dari kumulasinya, dan jangan sampai upaya untuk mencegah Terdakwa lepas dari dakwaan justru memperluas kemungkinan Terdakwa untuk lepas dari dakwaan.Timbulnya bentuk ini seiring dengan perkembangan di bidang kriminalitas yang semakin variatif baik dalam bentuk/jenisnya maupun dalam modus operandi yang dipergunakan. Surat dakwaan ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan dalam praktek penuntutan, agar Terdakwa tidak lepas atau bebas dari dakwaan, yakni karena kompleknya masalah yang dihadapi oleh penuntut umum. Dalam penyusunan surat dakwaan ini haruslah diperhitungkan dengan masak-masak oleh penuntut umum tentang tindak pidana yang akan didakwakan serta harus diketahui konsekuensi di dalam pembuktian dan penyusunan tuntutan pidana berdasarkan surat dakwaan yang dibuat.

3. Tinjauan Umum Tentang Anak

(20)

32

menghukum anak tersebut dengan mengurangi sepertiga dari pidana pokok yang diancamkan kepadanya. Namun, ketentuan Pasal 45, 46, dan 47 KUHP ini dihapuskan dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997.

b. Anak Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak (UU Perlindungan Anak)

Pengertian anak menurut UU Perlindungan Anak tercantum dalam Pasal 1 butir I yang berbunyi: “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”.

Dalam pengertian dan batasan tentang anak sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1 butir 1 UU Perlindungan Anak tercakup dua isu penting yang menjadi unsur definisi anak, yakni pertama seseorang yang belum berusia 18 tahun, yakni setiap orang yang telah melewati batas usia 18 tahun, termasuk orang yang secara mental tidak cakap, dikualifikasi sebagai bukan anak namun orang dewasa. Dalam hal ini, tidak dipersoalkan apakah statusnya sudah kawin atau tidak. Kedua, anak yang masih dalam kandungan. Jadi, UU Perlindungan Anak ini bukan hanya melindungi anak yang sudah lahir tetapi diperluas, yakni termasuk anak dalam kandungan.

c. Anak Menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM)

(21)

33

menyebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

4. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana Persetubuhan Terhadap Anak a. Pengertian Persetubuhan

Pengertian persetubuhan menurut rumusan KUHP adalah sesuai Arrest Hoge Raad sebagaimana dikutip (Andi Zainal Abidin Farid, 2007:339) disebutkan persetubuhan adalah tindakan memasukkan kemaluan laki-laki kedalam kemaluan perempuan yang pada umumnya menimbulkan kehamilan, dengan kata lain bilamana kemaluan itu mengeluarkan air mani di dalam kemaluan perempuan. Oleh karena itu, apabila dalam peristiwa perkosaan walaupun kemaluan laki-laki telah agak lama masuknya ke dalam kemaluan perempuan, air mani laki-laki belum keluar hal itu belum merupakan perkosaan, akan tetapi percobaan perkosaan. Pengertian persetubuhan tersebut masih pengertian dari aliran klasik. Menurut teori modern tanpa mengeluarkan air mani pun maka hal tersebut sudah dapat dikatakan sebagai persetubuhan sehingga tidak tepat jika disebut hanya sebagai percobaan.

b. Persetubuhan Anak Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

Menurut Pasal 287 ayat (1) KUHP, persetubuhan adalah “Barangsiapa bersetubuh dengan seorang perempuan di luar perkawinan, yangdiketahui atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau jika umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun”.

(22)

34

1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Ketentuan terkait Tindak Pidana persetubuhan terhadap anak juga diatur dalam Pasal 82 UU Perlindungan anak yang rumusannya sebagai berikut:

“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah)”.

(23)

35 Pasal 81

1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. 3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

Pasal 82

1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);

2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(24)

36

mengatur persetubuhan yang dilakukan terhadap anak dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dibandingkan dengan ketentuan dalam KUHP merupakan ketentuan yang bersifat lex specialis derogate legi generalis.

B. Kerangka Pemikiran

Keterangan:

Kerangka pemikiran tersebut menjelaskan alur pemikiran penulis dalam menelaah serta memberi jawaban atas permasalahan hukum yaitu adanya tindak pidana persetubuhan terhadap anak. Dari alur tersebut di atas dapat penulis jabarkan dari

Tindak Pidana Persetubuhan Anak

Pembuktian

Putusan Hakim Pengadilan Negeri Sampang Nomor 121/Pid.Sus/2014/PN.Spg Alat Bukti Menurut

(25)

37

Referensi

Dokumen terkait

Prinsip ini terkait dengan Pasal 185 ayat (2) KUHAP yang berbunyi : keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan terdakwa bersalah terhadap

Apabila hal tersebut dikaitkan dengan ketentuan dalam Pasal 185 Ayat (2) KUHAP yang menyatakan bahwa keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk

Hal tersebut di atas tentunya jauh berbeda dengan Pasal 185 ayat (2) KUHAP yang mengatur bahwa keterangan seorang saksi saja belum dapat dianggap alat bukti yang

Pasal 189 KUHAP menjelaskan mengenai alat bukti berupa keterangan terdakwa, keterangan terdakwa yaitu apa yang telah terdakwa dinyatakan dalam persidangan tentang

Pasal 191 ayat (2) KUHAP menyebutkan jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu

Penyelidik dalam hal ini polisi sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 4 KUHAP, atas laporan atau pengaduan tersebut berfungsi untuk mencari dan menemukan suatu

Alat bukti menurut KUHAP terdapat di dalam pasal 184 ayat 1 yang dimana disebutkan bahwa alat bukti yang sah menurut hukum adalah “alat bukti berupa keterangan saksi, keterangan

Menurut Pasal 191 ayat (1) KUHAP yang berbunyi “jika pengadilan berpendapat bahwa hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan