RATIO DECIDENDI HAKIM DALAM MEMUTUS PERKARA PENIPUAN
DENGAN MODUS INVESTASI ILEGAL
(Putusan No 348/Pid/2021 PT DKI dan Putusan No 845/Pid. B/2021/PN Bks) HALAMAN JUDUL
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum
Universitas Sriwijaya
Oleh : Fascal Wirman 02011381924276
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2022
ii
PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI
iii
SURAT PERNYATAAN
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Bergeraklah disaat orang bermalas-malasan, Sadarlah siapa dirimu”
Skripsi ini kupersembahkan untuk :
Diriku
Kedua orang tuaku
Keluarga besarku
Teman-temanku
Almamaterku
v
KATA PENGANTAR Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Puji syukur kehadiran Allah SWT yang sudah memberikan kesempatan, kekuatan dan kesehatan serta atas segala berkat dan rahmat-Nya penulis bisa menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul mengenai “RATIO DECIDENDI HAKIM DALAM MEMUTUS PERKARA PENIPUAN DENGAN MODUS INVESTASI ILEGAL (Putusan Nomor 348/Pid/2021 PT DKI dan Putusan Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks).” Penulisan skripsi ini dibuat dalam rangka untuk memenuhi syarat dalam memdapatkan gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.
Kelancaran penulisan skripsi ini selain dari limpahan karunia dari Allah SWT. juga atas dukungan orang tua, pembimbing serta teman-teman sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan selama penulisan skripsi ini. Harapannya skripsi ini kelak bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Palembang, 9 Januari 2023
Fascal Wirman
NIM 02011381924276
vi
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas bantuan, bimbingan dan saran yang telah diberikan dalam penulisan skripsi ini, antara lain sebagai berikut:
1. Allah SWT., karena berkat dan rahmat serta karunia-Nya sehingga dilancarkan dalam menyelesaikan skripsi ini;
2. Orang tua tercinta, Bapak Muhamad Nasir dan Ibu Suhaiba atas segala yang diberikan selama ini doa dan dukungan moril maupun materil serta motivasi yang diberikan;
3. Saudara-saudara saya, Resti Agustina, Natasya Putri dan Ade Refa Saputra atas segala hiburan, dukungan serta doa yang selalu diberikan kepada saya;
4. Bapak Prof. Dr. H. Anis Saggaf, MSCE., selaku Rektor Universitas Sriwijaya;
5.
Bapak Dr. Febrian, S.H., M.S., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya;6.
Bapak Dr. Mada Apriandi Zuhir, S.H., MCL., selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya;7.
Bapak Dr. Ridwan, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya;8.
Bapak Drs. H. Murzal, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya;9.
Bapak Rd. Muhammad Ikhsan, S.H., M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya sekaligus sebagai pembimbing utama yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan masukan, kritikan serta bimbingan kepada saya dalam menyelesaikan skripsi ini;vii
10. Ibu Isma Nurillah, S.H.,M.H., selaku pembimbing pembantu yang telah memberikan arahan, dukungan, motivasi dan nasihat dari awal hingga selesai perkuliahan ini serta bersedia membimbing saya tanpa lelah, memberikan nasihat dan arahan kepada saya dalam penyelesaian skripsi ini;
11. Bapak Agus Ngadino, S.H., M.H., selaku Ketua Laboratorium Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya dan pegawai yang telah membantu dan memberikan arahan selama proses PLKH dan KKL;
12. Bapak Dedeng Zawawi, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing KKL yang telah membatu serta memberikan arahan selama proses KKL;
13. Bapak Sayuti Rambang, S.H., selaku Pengacara yang telah mengizinkan untuk KKL di Kantor Sayutin Rambang & Associates;
14. Seluruh Dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya yang dengan sabar memberikan ilmu kepada Mahasiswa, serta selalu memberikan dukungan untuk terus mengejar cita-cita dan menjadi manusia yang berguna di masa mendatang;
15. Seluruh staff dan pegawai Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya yang dengan sabar melayani, memberikan kemudahan serta kelancaran sarana prasarana selama menjalani perkuliahan;
16. Tim 17 PLKH dan teman-teman KKL di Kantor Pengacara Sayuti Rambang
& Associates atas hiburan, pelajaran yang akan menjadi pengalaman yang berharga;
17.
Teman-teman seperjuangan selama perkuliahan baik teman fakultas hukum maupun diluar fakultas hukum yang selalu membantu serta memberikan semangat dalam proses perkuliahan maupun dalam penyelesaian skripsi iniviii
serta teman seangkatan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya mohon maaf dikarenakan tidak dapat saya sebutkan satu persatu;
18. Rekan-rekan mitra bisnis serta rekan satu pekerjaan di Radio dengan saya atas hiburan dan dukungannya selama mengerjakan skripsi ini.
Semoga hal-hal baik yang diberikan semua pihak diberikan imbalan yang setimpal dari Allah SWT. dan penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca serta bagi pihak-pihak yang membutuhkannya.
Palembang, 9 Januari 2023
Fascal Wirman
NIM 02011381924276
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... ii
SURAT PERNYATAAN ... iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... v
UCAPAN TERIMA KASIH ... vi
DAFTAR ISI ... ix
ABSTRAK ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 11
D. Manfaat Penelitian ... 11
1. Manfaat Teoritis ... 11
2. Manfaat Praktis ... 11
E. Ruang Lingkup ... 12
F. Kerangka Teori ... 12
1. Teori Pertanggungjawaban Pidana ... 12
2. TeoriRatio Decidendi ... 12
G. Metode Penelitian ... 16
1. Jenis Penelitian ... 16
2. Pendekatan Penelitian ... 17
3. Jenis dan Sumber Bahan Hukum ... 18
4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum... 19
5. Teknik Analisis Bahan Hukum ... 20
6. Teknik Penarikan Kesimpulan ... 20
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 21
A. Tinjauan Tentang Tindak Pidana Penipuan ... 21
1. Tindak Pidana ... 21
2. Tindak Pidana Penipuan ... 30
B. Tinjauan tentang Investasi ... 34
C. Tinjauan Tentang Putusan Hakim ... 36
x
BAB III PEMBAHASAN ... 42
A. Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Investasi Terkait Tindak Pidana Penipuan Dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 348/PID/2021 PT DKI Dan Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks ... 42
1. Putusan Nomor 348/Pid/2021/PT DKI ... 49
2. Putusan Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks ... 53
B. Bagaimana Pertimbangan Hakim dalam Penjatuhan Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Penipuan Dengan Modus Investasi Dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 348/PID/2021 PT DKI Dan Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks ... 57
1. Putusan Nomor 348/Pid/2021/PT DKI ... 57
a. Kasus Posisi ... 57
b. Dakwaan Penuntut Umum ... 59
c. Tuntutan Penuntut Umum ... 61
d. Putusan Hakim ... 63
e. Analisis Pertimbangan Hakim ... 66
2. Putusan Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks ... 71
a. Kasus Posisi ... 71
b. Dakwaan Penuntut Umum ... 73
c. Tuntutan Penuntut Umum ... 74
d. Putusan Hakim ... 75
e. Analisis Pertimbangan Hakim ... 76
BAB IV PENUTUP ... 84
A. Kesimpulan ... 84
B. Saran ... 85
DAFTAR PUSTAKA ... 86 LAMPIRAN
xi
ABSTRAK
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Republik Indonesia merupakan negara hukum, yang mana dalam penjelasan tentang Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat), tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat) artinya yang mana sudah termaktub juga di Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar, negara tidak bisa melakukan suatu tindakan berdasarkan kekuasaannya, tapi haruslah berlandaskan Undang- undang atau konstitusi.1
Mengenai pertanggungjawaban adalah konsep bagian dari suatu sistem aturan-aturan seperti moral, agama, dan hukum. Pertanggungjawaban pidana pada dasarnya mengarah ke pemahaman tentang tindak pidana terhadap pelaku.
Berdasarkan pendapat Alf Ross, Roeslan Saleh memberi jawaban bahwa yang bertanggungjawab terhadap sesuatu perbuatan pidana artinya yang bersangkutan secara sah bisa dikenai pidana karena perbuatannya. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa perbuatan ini dibenarkan oleh sistem hukum tersebut.2
Investasi adalah suatu komitmen untuk menanamkan dana pada periode tertentu untuk mendapatkan pembayaran di masa depan sebagai kompensasi bagi investor untuk waktu selama dana di investasikan, tingkat inflasi yang diharapkan dan ketidakpastian pembayaran di masa depan.
1 C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, Hukum Tata Negara Republik Indonesia, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2000), hlm. 90.
2 Alf Ross, On Law and Justice, University of California Press, (Los Angeles : Berkeley, 1959) hlm 202.
2
Nama lain dari investasi juga dikenal dengan penanaman modal, penanaman modal ini juga diatur di dalam Pasal 1 Undang Undang Nomor 25 Tahun 2007 yang berbunyi :3
Penanaman modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia.
Investasi atau penanaman modal itu mempunyai tujuan yang bertolak belakang dengan praktik investasi ilegal karena justru merugikan, merusak tatanan hukum investasi, hukum perbankan, serta menghambat pelaksanaan perekonomian nasional. Pada hakikatnya akibat negatif dari investasi illegal adalah tumbuh dan berkembangnya pelanggaran terhadap sistem hukum nasional, seperti pelanggaran terhadap ketentuan nasional.4
Kejahatan yang berkaitan dengan investasi dalam perbankan ada pada ketentuan Pasal 46 Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 jo Undang-Undang No.
10 tahun 1998 tentang Perbankan,Pasal 46 ayat (1) yang berbunyi :5
Barang siapa menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu tanpa izin usaha dari Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dan Pasal 17, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah).
3 Indonesia, Undang-Undang Penanaman Modal, UU No 25 Tahun 2007, LN NO.67 Tahun 1997, TLN No. 4724, Ps. 1.
4 Nando Mantulangi, Kajian Hukum Investasi dan Perlindungan Terhadap Korban Investasi Bodong, Jurnal Lex Administratum, hlm. 108
5 Indonesia, Undang-Undang Perbankan, UU No. 7 Tahun 1992, LN 1992, TLN No. 3472, Ps, 46.
3
Pengaturan hukum dan sanksi pidana terhadap pelaksanaan investasi ilegal berhubungan erat dengan tindak pidana atau kejahatan penipuan investasi sebagaimana diancam pidana sesuai dengan Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang berdasarkan pandangan Moeljatno, ketentuan pidana pasal ini adalah mengenai perbuatan curang (bedrog).6 Walaupun sanksi atau ancaman hukuman pidana baik dalam KUHP maupun dalam Pasal 46 Undang-Undang No. 10 Tahun 1992 jo Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, dalam Pasal 59 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah lumayan berat, tetapi tindak pidana investasi ilegal ini terus terjadi dari tahun ke tahun dengan gaya yang lebih modern dan memakan banyak korban yang mengalami kerugian.
Investasi atau penanaman modal yang dilakukan secara langsung yaitu dengan berupa mendirikan perusahaan patungan (joint venture company) dengan mitra lokal, dengan melakukan kerjasama operasi (joint operation scheme) tanpa membentuk perusahaan baru, dengan mengkonversikan pinjaman menjadi penyertaan mayoritas dalam perusahaan local, dengan memberikan bantuan teknis dan manajerial (technical and management assistance),dengan memberikan lisensi, dan lain-lain. Investasi langsung ini pada dasarnya menempatkan uang secara langsung pada perusahaan atau proyek atau bisnis dengan harapan dapat memperoleh tingkat imbal hasil yang menarik. Sedangkan, investasi atau penanaman modal tidak langsung mencakup kegiatan transaksi di pasar modal dan di pasar uang7
6 Moeljatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Cet. 21 (Jakarta : Bumi Aksara, 2001, hlm-133
7 Mila Surahmi, Perlindungan Hukum bagi Korban Penipuan Investasi, Jurnal Thengkyang, Vol 2, No.1, hlm-86
4
Sejalan dengan perkembangan zaman, tindak pidana penipuan ini mengalami perkembangan yang cukup pesat juga dan lumayan menyita perhatian. Tindak pidana penipuan yang sudah diatur dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana dengan beragam modus yang ada membuat penegak hukum harus berpikir lebih keras untuk dapat membuktikannya. Dan yang menjadi faktor penipuan misalnya faktor ekonomi, lingkungan dan adanya kesempatan maupu keinginan untuk mendapatkan uang secara mudah tanpa harus bekerja keras.8
Berdasarkan data di Tahun 2022 ditemukan 20 Investasi Ilegal sampai Maret 2022, yang melakukan penawaran investasi tanpa izin seperti money game, robot trading, perdagangan asset kripto tanpa izin, dan penawaran investasi melalui Telegram. 9
Di era digital sekarang ini yang mudah sekali untuk diakses lewat gadget mempunyai potensi dan peluang untuk mendapatkan uang lebih mudah seperti contohnya anak-anak muda sebagian menggunakan instagram untuk mencari uang lewat endorse atau mempromosikan barang dagangan orang lain dan di era ini juga anak-anak muda berlomba-lomba untuk belajar bagaimana investasi.
Dan banyak juga kasus-kasus penipuan karena terjebak investasi ilegal yang di promosikan dengan gaya mega, travel ke luar negeri, mendapatkan bonus dan lain-lain.
Penipuan ini diatur dalam Pasal 378 sampai dengan Pasal 394 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dalam Pasal 378 KUHP, berbunyi :
8 Dudung Mulyadi, Unsur-Unsur Penipuan Dalam Pasal 378 KUHP dikaitkan dengan Jual Beli Tanah, Jurnal Unigal, Volume 5 No. 2. hlm- 208
9 Otoritas Jasa Keuangan, Satgas Waspada Investasi Kembali Temukan 20 Entitas Investasi Ilegal dan 105 Pinjaman Online Tanpa Izin, https://www.ojk.go.id/waspada-investasi/id/Default., diakses pada 21 September 2022.
5
Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Pertimbangan dalam memberlakukan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana awalnya berasal dari nama Wetboek van Starfrecht (WvS) awalnya pun digunakan untuk mengisi kekosongan hukum (rechtsvacuum) dengan telah mengalami perubahan dan penyesuaian. Pada Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana untuk mengetahui upaya yang digunakan oleh si pelaku tersebut bisa memunculkan tindak pidana penipuan dan harus diselidiki orang yang melanggar Pasal tersebut mengetahui bahwa tindakannya tidak bertentangan atau bertentangan kebenaran.10
Pengertian tindak pidana penipuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana hanayalah untuk menetapkan unsur-unsur suatu tindakan sehingga bisa dikatakan sebagai penipuan serta pelakunya bisa dipidanakan. Berdasarkan pendapat Moeljatno dengan landasan pasal 378 KUHP, sebagai berikut :11
Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu atau martabat (hoednigheid) palsu dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi utang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
10 M Ali Zaidan, Menuju Pembaharuan Hukum Pidana, (Jakarta : Grafika Sinar, 2015), hlm.
7
11 Moeljatno, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, (Jakarta : Bumi Aksara, 2007)
6
Dalam Kamus Besar Indonesia disebutkan bahwa tipu artinya kecoh, daya cara, perbuatan atau perkataan yang tidak jujur dengan kata lain bohong atau palsu dengan tujuan untuk menyesatkan, mengakali, atau mencari untung.12 Menurut unsur-unsur tindak pidana penipuan yang terkandung dalam rumusan Pasal 378 KUHP, maka R. Sugandhi memberikan pendapat tentang penipuan bahwa penipuan adalah tindakan seseorang dengan tipu muslihat rangkaian kebohongan, nama palsu dan keadaan palsu dengan maksud menguntungkan diri sendiri dengan tiada hak. Rangkaian kebohongan ialah susunan kalimat-kalimat bohong yang tersusun demikian rupa yang merupakan cerita sesuatu yang seakan-akan benar.13
Masyarakat di Indonesia pada umumnya, masih sangat awam terhadap berbagai jenis instrumen baru dalam dunia investasi. Dan faktanya sebagian dari masyarakat tidak ingin mengetahui bagaimana cara melakukan investasi yang baik dan benar. Banyak sekali masyarakat berpikiran langsung kepada berapa hasil yang nantinya akan dihasilkan, sehingga yang sering kali ditanyakan ketika ada suatu jenis investasi yang baru saja ditawarkan adalah berapa keuntungan yang akan didapatkan. Sebagian masyarakat pasti terkesan terkesan terhadap iming-iming keuntungan yang banyak tanpa melihat resiko yang ada. Oleh karena itu, timbulah fenomena tipu investasi atau investasi ilegal. Seolah-olah suatu lembaga mengelola dana masyarakat dan menginvestasikan ke dalam berbagai jenis investasi.Kejahatan atau tindak pidana yang bermotif ekonomi ini mempunyai efek yang negatif terhadap kegiatan di bidang perekonomian
12 S, Ananda, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Surabaya : Kartika, 2009), hal.364
13 Sughandi, R., Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Penjelasannya, (Surabaya : Usaha Nasional,. 1980), hlm 396-397
7
masyarakat dan keuangan negara yang sehat serta menimbulkan kerugian (negara dan masyarakat) dalam skala yang sangat besar.14
Investasi ilegal adalah istilah yang sering muncul dalam dunia investasi.
Modus berupa Iming-iming imbal hasil yang ditawarkan dan bujukan serta kurangnya pengetahuan mengenai investasi membuat seseorang dengan mudah berinvestasi pada instrumen dan perusahaan investasi yang salah. Kenyataan dilapangan membuktikan banyak orang terjebak ingin kaya mendadak tanpa harus kerja keras. Kesempatan ini digunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab dengan melakukan penipuan bermoduskan investasi. Perusahaan investasi ilegal memahami karakter investor jika para investor awal mendapatkan return sesuai yang dijanjikan, mereka cenderung menginvestasikan kembali dari uang yang dihasilkan. Bahkan kemungkinan mengajak keluarga, teman, atau relasi mereka untuk berinvestasi.15
Salah satu modus penipuan investasi yaitu dengan menggunakan Skema Ponzi yang merupakan aktivitas penipuan dimana perencana Ponzi, baik itu dengan institusi atau individu, meminta uang dari investor pertama dengan janji serta iming-iming mereka akan menerima pengembalian yang tinggi atas penanaman modal yang mereka lakukan. Kemudian, perencana Ponzi meminta uang dari investor kedua dan digunakan yang diperoleh tersebut untuk membayar kelompok investor pertama sebagai pengembalian investasi awal mereka.16
14 Dwi Iman Muthaqin, The Concept Of Active Victims Participating In The Role Of Victims Of Criminal Investment Fraud, Jurnal Civicus, Vol. 20 No. 1, hlm-2
15 Devi Rahmatika, Unsur Tindak Pidana Dalam Kasus Penipuan/Penggelapan Berdalih Investasi, Jurnal IKAMAKUM, Vol 1 No 01, hlm-118
16 Diana Tambunan, Waspada Investasi Ilegal di Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Manajemen Universitas Bina Sarana Informatika, Vol 20 No.1, hlm-109
8
Mencermati dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dalam Undang- Undang Pasar Modal menetapkan beberapa ketentuan yang berkenaan dengan penipuan yang terbatas pada kegiatan perdagangan efek, antara lain penawaran, pembelian dan penjualan efek dalam lingkup penawaran umum atau pencatatan di bursa, di dalam pasar/di luar pasar saham atau perusahaan publik/emiten.
Munculnya kejahatan penipuan di dalam Pasar Modal ini pelaku melakukan kejahatan tersebut dengan membuat pernyataan palsu tentang fakta material maupun dengan menolak mengungkapkan untuk mencegah investor mengetahui fakta dibaliknya untuk mempengaruhi orang-orang untuk membeli atau menjual surat berharga atau untuk merugikan dirinya sendiri maupun pihak lain untuk mendapatkan keuntungan atau menghindari kerugian bagi dirinya sendiri atau pihak lain.17
Baru-baru ini terjadi trading yang basisnya hampir mirip investasi yaitu menanamkan modal kalau investasi untuk menciptakan kekayaan dalam jangka panjang dengan membeli saham perusahaan yang stabil dan kedepannya akan naik dan menahannya untuk jangka panjang sedangkan trading bertujuan menghasilkan uang keuntungan dengan sering membeli dan menjual saham.
Trading dan saham ini juga di populerkan oleh kalangan selebriti dan influencer, baru-baru ini juga beberapa influencer trading ditangkap karena melakukan penyebaran penipuan salah satu aplikasi trading.
Pada putusan Nomor 348/PID/2021 PT DKI.18 Adapun kasus pertama yang penulis angkat sebagai bahan penelitian adalah tindak pidana penipuan dengan modus investasi. Perkara pertama ialah tindak pidana penipuan yang dilakukan oleh Dr. Ir. Muhammad Darwis selaku Direktur Utama dan Ir. Dina
17 Ni Putu Rai Santi Pradnyani, Tindak Pidana Penipuan Investasi Fiktif Di Pasar Modal Menggunakan Skema Piramida, Jurnal Preferensi Hukum, Vol. 3 No. 2, hlm - 445
18 Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Putusan Nomor 348/PID/2021 PT DKI
9
Tri Amelia sebagai Komisaris Utamanya, dengan iming-iming untuk menawarkan tambang miliknya dengan lengkap membawa data-data eksplorasi, data perusahaan serta data perizinan perusahaan kepada Budiman Simadjaja selaku Direktur Utama PT. Anugrah Bumindo Resources.
Setelah PT. Anugrah Bumindo Resources telah melaksanakan kewajiban terkait perjanjiannya, namun tidak menerima akta penjamin saham, pihak PT.
Anugrah Bumindo Resources juga telah mengirimkan somasi kepada pihak terdakwa supaya seluruh dana yang telah dikeluarkan oleh perusahaannya namun belum juga mengembalikan uang milik perusahaannya. Perbuatan tersebut terbukti melakukan tindak pidana penipuan yang dilakukan secara bersama-sama maka dari itu dijatuhkan pidana penjara pada tingkat banding masing-masing selama 1 (satu) Tahun (enam) Bulan. Pada tingkat pertama dengan tuntutan Jaksa pidana penjara selama 3 (tiga) Tahun dan Putusan pengadilannya di pidana penjara selama 2 (dua) Tahun
Kasus kedua adalah tindak pidana penipuan yang dilakukan oleh Ridwan Saleh Alias Awan dengan cara memberikan iming-iming keuntungan jika berinvestasi dengannya di Awdi Speed Indonesia berupa paketan investasi yang menjanjikan setelah melakukan investasi pelaku tersebut tidak bisa dihubungi ketika mendatangi kantornya ternyata kantor milik pelaku tersebut sudah tutup dan selanjutnya grup whatsapp yang dibuatnya dibubarkan, atas perbuatannya diatas dijatuhkan pidana penjara selama 2 (Dua) Tahun 6 (Enam) Bulan.19
Kasus-kasus tersebut sama-sama diancam dengan Pasal 378 KUHP, di dalam Putusan Nomor 348/PID/2021 PT DKI itu hanya dipidana penjara 1 Tahun 6 Bulan dengan telah merugikan korban hingga milyaran skarena
19 Pengadilan Negeri Bekasi, Putusan Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks.
10
melakukan penipuan bersama-sama yaitu dijerat dengan Pasal 378 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP sedangkan di Putusan Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks dijerat pidana penjara 2 Tahun 6 Bulan dengan kerugian korban sekitar 50-90 jutaan dan kedua kasus tersebut sama halnya yaitu penipuan dengan modus investasi ilegal tetapi kenapa Putusan Nomor 348/PID/2021 PT DKI yang merugikan milyaran serta kerja sama (deelneming) dengan bawahan tersebut pidananya lebih ringan daripada Putusan Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks.
Berdasarkan kasus tersebut, maka penulis tertarik untuk mengkaji dan meniliti bagaimana pertanggungjawaban pidana atas tindak pidana penipuan dengan modus investasi. Maka dari itu penulis melakukan penelitian yanag berjudul RATIO DECIDENDI HAKIM DALAM MEMUTUS PERKARA PENIPUAN DENGAN MODUS INVESTASI ILEGAL (Putusan Nomor 348/Pid/2021 PT DKI Dan Putusan Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks)
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan diatas, maka dapat ditentukan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Investasi Terkait Tindak Pidana Penipuan Dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 348/PID/2021 PT DKI Dan Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks?
2. Bagaimana Pertimbangan Hakim Dalam Penjatuhan Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Penipuan Dengan Modus Investasi Dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 348/PID/2021 PT DKI Dan Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks?
11
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian dalam penulisan ini sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui serta menjelaskan pertimbangan hakim dalam penjatuhan pidana pelaku tindak pidana penipuan dengan modus investasi dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 348/PID/2021 PT DKI dan Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks.
2. Untuk mengetahui serta menjelaskan pertanggungjawaban pidana terhadap modus investasi terkait tindak pidana penipuan dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 348/PID/2021 PT DKI dan Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang tersebut maka diharapkan manfaat sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian dalam bentuk tulisan ini harapannya dapat memberikan edukasi tentang ilmu hukum pidana di Indonesia terkhususnya mengenai pertanggungjawaban pidana terhadap modus investasi terkait tindak pidana penipuan dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 348/PID/2021 PT DKI dan Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks.
2. Manfaat Praktis
Hasil dari penelitian dalam tulisan skripsi harapannya bisa menjadi bahan acuan bagi mahasiswa-mahasiswa hukum lainnya untuk meneliti lebih lanjut, serta menjadi saran untuk aparat penegak hukum dan memberikan sumbangan
12
pemikiran bagi masyarakat umum untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim dalam menangani perkara serupa.
E. Ruang Lingkup
Sesuai judul skripsi yang diteliti oleh penulis, maka ruang lingkup penelitian ini memuat tentang Ratio Decidend Hakim dalam Memutus Perkara Penipuan dengan Modus Investasi Ilegal dan Pertanggungjawaban Pidana dalam Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 348/PID/2021 PT DKI dan Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks.
F. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah suatu rangkaian atau gambaran yang berisi tentang penjelasan dari semua yang dipakai sebagai bahan penelitian dan disusun secara sistematis teori-teori yang mendukung permasalahan dalam penelitian. Kerangka Teori ini dipakai dengan alasan dapat memberikan gambaran atau batas-batasan mengenai teori-teori yang akan digunakan sebagai landasan penelitian.20
Adapun teori-teori yang penulis gunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Teori Pertanggungjawaban Pidana
Pertanggungjawaban pidana dikenal dalam istilah asing dengan teorekenbaardheid atau criminal responsibility. Pertanggungjawaban pidana didalam hukum pidana bersifat personal atau perseorangan, dengan itu pertanggungjawaban hanya diberlakukan untuk pelaku tindakan pidana dan tidak dapat dialihkan kepada orang lain.
20 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian, (Jakarta: UI Press, 2008), hlm. 6.
13
Berdasarkan pendapat Pompe hukum pidana adalah seluruh aturan-aturan hukum yang menetukan terhadap tindakan-tindakan yang seharusnya dijatuhi pidana.21
Asas yang terdapat di pertanggungjawaban pidana yaitu tidak dipidana apabila tidak terdapat kesalahan (Green straf zonder schuld; Actus non facit reum nisi mens sir rea).22 Bisa di tafsirkan bahwa seseorang dapat dijatuhi pidana, maka orang tersebut bukan hanya melakukan tindakan pidana, tetapi terdapat unsur kesalahan dalam tindakannya. Untuk bisa dipidananya pelaku tindak pidana, bahwa perbuatan pidana yang dilakukan harus memenuhi syarat- syarat yang sudah ditentukan dalam konstitusi atau perundang-undangan pidana.
Berdasarkan pandangan terjadinya tindak pidana, pelaku akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya yang bersifat melawan hukum serta tidak ada penghilangan sifat melawan hukum atau alasan pembenar (rechtsvaardigingsgrond).
Menurut Moeljatno seseorang bisa dijatuhi pidana jika terpenuhinya unsur atau syarat dalam pertanggungjawaban pidana, Adapun syarat-syarat dalam pertanggungjawaban, yakni :23
1. Melakukan tindak pidana, artinya seseorang tersebut telah melakukan perbuatan pidana.
2. Dapat bertanggung jawab, artinya seseorang itu juga dilihat kemampuan bertanggungjawab jika sudah melakukan tindak pidana.
3. Ada kesalahan, kesalahan berupa kesengajaan atau kelalaian dalam tindakan pidana.
21 Ira Alia Maerani, Hukum Pidana & Pidana Mati, ( Semarang : Unissula Press, 2018), hlm 77
22 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Cet 6 .(Jakarta Rineka Cipta,1993), hlm. 52
23 Ibid., hlm 164.
14
4. Tidak ada alasan pembenar atau rechtsvaardigingsgrond ataupun alasan pemaaf yang digunakan untuk menghapus pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana.
Konsep pertanggungjawaban pidana harus memenuhi unsur-unsur bahwa si pelaku kejahatan memiliki unsur kesalahan, kemampuan bertanggung jawab, dan tidak adanya unsur pemaaf.24 Van Hamel memberikan opini bahwa suatu keadaan normal psikis dan kemahiran yang membawa kemampuan yaitu mampu memahami makna serta akibat sebenarnya dari perbuatan-perbuatan sendiri, mampu untuk menyadari bahwa perbuatannya itu bertentangan dengan ketertiban umum, serta mampu untuk menentukan kehendak perilaku.25
2. Teori Ratio Decidendi
Ratio Decidendi merupakan istilah latin diterjemahkan secara harfiah sebagai alasan untuk keputusan, the reason atau the rationale for the decision.
Dasar dari teori ini adalah landasan filsafat yang mendasar yang mempertimbangakan semua aspek yang berhubungan dengan pokok-pokok perkara. Istilah Ratio Decidendi dikenal dalam konteks sistem hukum common law. Istilah tersebut secara harfiah alasan untuk menjatuhkan putusan (the reason for the decision). Pendapat Michael Zander mengenai Ratio Decidendi dalam bukunya The Law Making Process, dapat diterjemahkan suatu proposisi hukum yang memutuskan suatu kasus dilihat dari sudut atau dari konteks fakta-fakta material. Dalam diri hakim juga harus terdapat motivasi yang nyata untuk menegakkan hukum serta memberikan keadilan untuk para pihak yang berkaitan dengan perkara tersebut.
24 H.A. Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana I, (Jakarta : Sinar Grafika, 2010) hlm 57.
25 Eddy O.S Hiarej, Prinsip-Prinsip Hukum Pidana, Cet 2, (Yogyakarta : Cahaya Atma Pustaka,2017), hlm 155-156.
15
Ratio Decidendi digunakan pada masyarakat hukum yang merujuk pada prinsip hukum, moral, politik dan sosial yang digunakan oleh pengadilan sehingga membuat sebuah keputusan. Jadi setiap kasus yang mempunyai unsur ratio decidendi adalah alasan yang menetukan inti-inti yang menetukan putusan.
Pada saat mendengar keputusan pengadilan, ratio decidendi berdiri sebagai dasar hukum atas dasar putusan yang dijatuhkan. Ratio Decidendi secara hukum mengikat pengadilan yang lebih rendah melewati doktrin stare decisis, tidak seperti obiter dicta, komentar yang dibuat berkaitan dengan kasus yang mungkin relevan atau menarik tetapi tidak menarik dengan keputusan hukum.26
Menurut Goodhart membuat suatu pendekatan yang terpusat pada fakta- fakta sebagai material oleh persidangan hakim. Ia menyingkat aturan untuk menemukan ratio decidendi dari suatu kasus, sebagai berikut :27
1) Prinsip dari sebuah kasus tidak ditemukan dengan alasan yang diberikan dalam opini.
2) Prinsip tidak ditemukan dalam aturan hukum tertulis dalam opini.
3) Prinisp belum tentu ditemukan pada pertimbangan dari seluruh fakta kasus yang bisa dipastikan, dan putusan hakim.
4) Prinsip dari kasus ditemukan dengan mengambil akun dari (a) fakta-fakta yang diperlakukan sebagai materil oleh hakim, dan (b) putusan hakim sebagai dasar dari mereka.
Dengan prinsip-prinsip diatas dalam mencari prinsip perlu dengan membangun fakta apa yang diadakan untuk menjadi immaterial oleh hakim, prinsip tersebut mungkin tergantung pengecualian sebanyak penyertaan.
26 Berry Ballen Saputra, Ratio Decidendi Hakim dalam Perkara Tindak Pidana Asal Penipuan dengan Tindak Pidana Lanjutan Pencucian Uang (Perbarengan Tindak Pidana), Online Journal Systems UNPAM, hlm 730.
27 Ibid, hlm 730.
16
Berdasarkan teori ratio decidendi, Hakim juga diharuskan untuk memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :28
1) Pendidikan;
2) Kemanusian;
3) Kemanfaatan;
4) Penegakan Hukum;
5) Kepastian hukum dalam setiap putusan.
G. Metode Penelitian
Metode yang digunakan penulisan skripsi ini ialah sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan tulisan skripsi ini adalah penelitian normatif atau normative legal research. Bambang Waluyo memberikan pendapat tentang penilitian hukum normatif yang menyebutkan bahwa penelitian normatif merupakan penelitian hukum doktriner, atau penelitian perpustakaan atau studi dokumen. Dengan kata lain penelitian ini dilakukan atau ditujukan hanya pada Peraturan Perundang-undangan yang tertulis atau bahan-bahan hukum yang lainnya.29 Sedangkan Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji memberikan pendapat penelitian hukum normatif merupakan gaya penelitian hukum yang dilaksankan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka.30 Dan pada kajiannya hukum normatif terdapat pendekatan yuridis normatif yang memaparkan mengenai aturan hukum
28 Ibid, hlm. 110.
29 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktek, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm.
13-14.
30 Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 13.
17
membutuhkan dukungan data dan fakta sosial yaitu lebih kepada konsep hukum dan langkah-langkah yang diambil yaitu langkah normatif.31
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian memiliki pengertian bahwa keseluruhan kegiatan dalam suatu penelitian yang ditulis dari perumusan masalah hingga membuat suatu kesimpulan. Dalam penelitian ini, jenis pendekatan penelitian yang digunakan penulis, sebagai berikut.
a. Pendekatan Perundang-undangan ( Statue Approach)
Pendekatan ini dilaksanakan dengan cara mengamati atau mempelajari Konstitusi atau Undang-Undang dan regulasi serta peraturan hukum tertulis yang masih bersangkut paut dengan isu hukum yang diteliti.32
b. Pendekatan Kasus (Case Approach)
Pendekatan kasus ini merupakan pendekatan yang mana kasus yang diuraikan oleh penulis dalam latar belakang masalah dan pendekatan perundang-undangan yang berkenaan dengan permasalahan dalam penelitian ini.33 Tujuannya supaya bisa mempelajari pandangan- pandangan dan doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum.34 Dalam penelitian ini pendekatan kasus digunakan dalam Putusan Nomor 348/Pid/2021 PT DKI dan Putusan Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks.
31 Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Cet 2.(Bandung: Mandar maju, 2016), hlm. 87
32 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum Edisi Revisi, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2021), hlm. 133.
33 Jhony Ibrahim, Teori dan Metodelogi Penelitian Hukum Normatif. (Malang : Banyu Media, 2006), hlm. 295
34 Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rajawali Press. 2010), hlm. 90.
18
c. Pendekatan Konseptual (Conceptual Approach)
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang berlandaskan pada pandangan atau doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum, yang mana pandangan atau doktrin itu adalah sumber bagi penelitian dalam membuat pendapat hukum untuk pemecahan masalah hukum yang ditangani.
3. Jenis dan Sumber Bahan Hukum
Jenis data yang di pakai dalam penelitian normatif ini merupakan data sekunder yang didapat dari bahan kepustakaan.35 Sumber data yang digunakan pada penelitian ini, sebagai berikut.
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer ialah bahan hukum yang mengikat yang terdiri dari peraturan konstitusi atau perundang-undangan yang berhubungan dengan objek penelitian. Di dalam penelitian, bahan hukum primer yang dipakai meliputi :
1) Undang-Undang Dasar Negera Republik Indonesia Tahun 1945
2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.
3) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
4) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman36
35 Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum Edisi Revisi, (Depok:
PT Raja Grafindo, 2016), hlm. 31.
36 Indonesia, Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, UU No. 48 Tahun 2009, LN No. 157 Tahun 2009, TLN NO. 5076.
19
5) Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 763/Pid.
B/2021/PN Jkt.Sel
6) Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 348/PID/2021 PT DKI.
7) Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 845/Pid.
B/2021/PN Bks b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder dengan makna lain bahwa bahan hukum yang isinya seputar informasi tentang bahan hukum primer.37 Pandangan- pandangan para ahli hukum yang termuat dalam buku, artikel hukum, jurnal hukum serta karya ilmiah lainnya dalam bidang hukum yang berhubungan dengan penelitian ini.38
c. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier ini merupakan bahan yang menjelaskan dan memberi pentunjuk pada lingkup bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.39 Bahan hukum tersier yang dipakai pada penelitian ini antara lain Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus hukum, ensiklopedia, internet dan buku-buku bacaan yang berkaitan dengan permasalahan pada skripsi ini.
4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Teknik pengumpulan bahan hukum yang dipakai dalam penelitian ini ialah studi kepustakaan (LibraryResearch) yaitu dengan mengumpulkan bahan hukum
37 Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta : PT Raja Grafindo Presada, 2010), hlm. 29
38 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), hlm. 54-55.
39 Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian Hukum, (Bandung, CV Pustaka Setia, 2009), hlm.38.
20
melewati proses inventarisasi dan identifikasi Peraturan Perundang-Undangan, buku-buku, jurnal-jurnal, artikel ilmiah hukum lainnya dan sebagainya yang berkaitan dengan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.
5. Teknik Analisis Bahan Hukum
Teknik yang digunakan mengenai analisis bahan hukum pada penelitian ini ialah menggunakan metode deskriptif analisis yang artinya membuat deskripsi, gambaran ataupun menjelaskan secara sistematis dari suatu yang berhasil dihimpun terkait dengan penelitian. Dalam hal ini menguraikan serta menjelaskan Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 348/PID/2021 PT DKI dan Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks serta nantinya akan dikaitkankan dengan peraturan perundang-undangan yang punya sangkut paut dengan penelitian ini sehingga dapat menjawab permasalahan yang diteliti.
6. Teknik Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan pada penelitian ini merupakan penarikan kesimpulan yang dilakukan dengan cara atau metode deduktif ialah menguraikan hal-hal yang bersifat umum kemudian ditarik menjadi sebuah kesimpulan yang sifatnya khusus supaya bisa menanggapi hal-hal yang diteliti. Kesimpulan yang dimaksud juga bahwa jawaban dari perumusan masalah atau pertanyaan dan penelitian yang dikemukakan secara singkat dan padat tentang kebenaran dari penelitian.40
40 Beni Achmad Saebani, Metode Penelitian Hukum,(Bandung : Pustaka Setia, 2009) hlm.93
86
DAFTAR PUSTAKA Buku
Adami Chazawi, 2002, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Andi Sofyan dan Nur Azisa, 2016, Buku Ajar Hukum Pidana, Makassar : Pustaka Pena Press.
Alf Ross, On Law and Justice, 1959, University of California Press, Los Angeles : Berkeley.
Ananda, S, 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Surabaya : Kartika.
Amir Ilyas, 2012, Asas-Asas Hukum Pidana: Memahami Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana sebagai Syarat Pemidanaan (Disertai Teori- Teori Pengantar dan Beberapa Komentar), Yogyakarta : Rangkang Education Yogyakarta & PuKAP-Indonesia.
Amirudin dan Zainal Asikin, 2010. Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta:
Rajawali Press.
Amirudin dan Zainal Asikin, 2016. Pengantar Metode Penelitian Hukum Edisi Revisi, Depok : PT Raja Grafindo.
Asshiddiqie, J., & Safa’at, A. 2006, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum. (Sekretariat Jendral dan kepaniteraan Mahkama Konstitusi Republik Indonesia).
Bambang Waluyo, 2008. Penelitian Hukum dalam Praktek, Jakarta: Sinar Grafika.
Bahder Johan Nasution, 2016. Metode Penelitian Ilmu Hukum, Cetakan 2, Bandung : Mandar maju.
Bahder Johan Nasution, 2009, Hukum Kesehatan Pertanggungjawaban Dokter, Jakarta : Rineka Cipta.
Barda Nawawi Arief, 2003, Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung : Citra Aditya Bhakti.
Beni Ahmad Saebani, 2009. Metode Penelitian Hukum, Bandung : CV Pustaka Setia.
C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil. 2000. Hukum Tata Negara Republik Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta.
Dwidja Priyatno, 2017, Sistem Pertanggunjawaban Korporasi dalam Kebijakan Legislas. Cet. 1, Depok : Kencana.
87
Eddy O.S Hiarej, 2017, Prinsip-Prinsip Hukum Pidana, Cet 2, Yogyakarta : Cahaya Atma Pustaka.
Erdianto Effendi, 2011, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar, Bandung : Refika Aditama.
Evi Hartanti, 2006, Tindak Pidana Korupsi, Jakarta: Sinar Grafika.
H.A. Zainal Abidin Farid, 2010, Hukum Pidana I, Jakarta : Sinar Grafika.
Ira Alia Maerani, 2018, Hukum Pidana & Pidana Mati, Semarang : Unissula Press.
Jhony Ibrahim, 2006. Teori dan Metodelogi Penelitian Hukum Normatif, Malang : Banyu Media.
Lamintang, 1984, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Bandung : Sinar Baru.
P.A.F. Lamintang, 2013, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Bandung : Citra Aditya Bakti
Lilik Mulyadi, 2014, Seraut Wajah Putusan Hakim dalam Hukum Acara Pidana Indonesia: Perspektif, Teoretis, Praktik, Teknik Membuat, dan Permasalahannya, Bandung : Citra Aditya Bakti.
Lilik Mulyadi, 2007,Kompilasi Hukum Pidana dalam Perspektif Teoristis dan Praktek Peradilan. Mandar Maju.
Loebby Logman, 2000, Pidana dan Pemidanaan, Jakarta : Datacom.
Lukman Hakim, 2020, Asas-Asas Hukum Pidana Buku Ajar Bagi Mahasiswa, Yogyakarta : Deepublish.
M. Yahya Harahap, 2012, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP:
Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali, Jakarta: Sinar Grafika.
Moeljatno, 2008, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Moeljatno, 2007. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP.) Jakarta : Bumi Aksara.
Moeljatno, 1993, Asas-Asas Hukum Pidana, Cet 6, Jakarta : Rineka Cipta..
Moeljatno, 2001, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Cet 21, Jakarta : Bumi Aksara.
88
Moeljatno, 2007, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Jakarta : Bumi Aksara.
Mukti Arto, 2004, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, cet V Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Nikolas Simanjuntak, 2009, Acara Pidana Indonesia dalam Sirkus Hukum, Bogor : Ghalia Indonesia.
Padmo Wahyono, Bahan-Bahan Pedoman Penghaytan dan Pengamalan Pancasila, Jakarta : Aksara Baru
.
Peter Mahmud Marzuki, 2021. Penelitian Hukum Edisi Revisi, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
R. Soenarto Soerodibroto, 1992, KUHP dan KUHAP, Jakarta: Rajawali Pers.
R. Sughandi,1980. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Penjelasannya, Surabaya : Usaha Nasional.
Romli Atasmita, 2001, Kapita Selekta Hukum Pidana dan Kriminologi, Bandung : Mandar Maju.
Ross, Alf, 1959, On Law and Justice, University of California Press, Los Angeles : Berkeley.
Roeslan Saleh, 2017, Perbuatan Pidana dan Pertanggung Jawaban Pidana Dua Pengertian Dasar dalam Hukum Pidana, Jakarta: Aksara Baru.
Soerjono Soekanto, 2008, Pengantar Penelitian, Jakarta: UI Press.
Soerodibroto, R. Soenarto, KUHP dan KUHAP, 1992. Jakarta: Rajawali Pers.
Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, 2012. Penelitian Hukum Normatif, Jakarta:
Rajawali Pers.
Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, 2010. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta : PT Raja Grafindo Presada.
Sofjan Sastrawidjaja, 1996, Hukum Pidana Asas Hukum Pidana Sampai dengan Alasan Peniadaan Pidana, Bandung : Armico.
Sughandi, R., Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Penjelasannya.
Andi hamzah, 2010, Delik-Delik Tertentu (Speciale Delicten) di dalam KUHP, Jakarta : Sinar Grafika.
89
Sunariyah, 2003, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Yogyakarta : UPP AMPYKPN.
Suyanto, 2018, Pengantar Hukum Pidana, Cet.1, Grup Penerbitan CV Budi Utama.
Syarifuddin Pettanasse, S.H, 2012, Hukum Acara Pidana, Bandung : Angkasa.
Tolib Effendi, 2014, Dasar-Dasar Hukum Acara Pidana Perkembangan dan Pembaharuannya di Indonesia, Malang : Setara Press.
Zaidan. M Ali,2015. Menuju Pembaharuan Hukum Pidana, Jakarta : Sinar Grafika.
Zainuddin Ali, 2014. Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika.
Perundang-undangan
Indonesia. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.
Republik Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981, LN No 76 Tahun 1981, TLN No 3209 Tahun 1981, Pasal 140 ayat (1).
Republik Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981, Lembar Negara Nomor 76 Tahun 1981, Tambahan Lembar Negara Nomor 3209 Tahun 1981, Pasal 183
Indonesia, Undang-Undang Penanaman Modal, UU No 25 Tahun 2007, LN NO.67 Tahun 1997, TLN No. 4724.
Indonesia, Undang-Undang Perbankan, UU No. 7 Tahun 1992, LN 1992, TLN No.
3472.
Indonesia, Undang-Undang Penanaman Modal, UU No 25 Tahun 2007, LN NO.67 Tahun 1997, TLN No. 4724, Ps. 1.
Indonesia, Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, UU No. 48 Tahun 2009, LN No. 157 Tahun 2009, TLN NO. 5076.
Jaksa Agung Republik Indonesia, Surat Edaran Nomor SE-004/J.A/11/1993 tentang Pembuatan Surat Dakwaan.
Putusan
Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 763/Pid.B/2021/PN Jkt.Sel.
Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta. Putusan Nomor 348/PID/2021 PT DKI.
90
Putusan Pengadilan Negeri Bekasi. Putusan Nomor 845/Pid. B/2021/PN Bks.
Jurnal/Internet
Berry Ballen Saputra, Ratio Decidendi Hakim dalam Perkara Tindak Pidana Asal Penipuan dengan Tindak Pidana Lanjutan Pencucian Uang (Perbarengan Tindak Pidana), http://openjournal.unpam.ac.id/index.php/IKAMAKUM/
Online Journal Systems UNPAM, hlm 730
Devi Rahmatika, Unsur Tindak Pidana Dalam Kasus Penipuan/Penggelapan Berdalih Investasi, Jurnal IKAMAKUM, Vol 1 No 01, diakses dari http://openjournal.unpam.ac.id/index.php/IKAMAKUM/article/view/12222/7 336 pada tanggal 5 Sepetember 2022 pukul 19.10
Diana Tambunan, Waspada Investasi Ilegal di Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Manajemen UniversitasBina Sarana Informatika, Vol 20 No.1, diakses dari https://ejournal.bsi.ac.id/ejurnal/index.php/perspektif/article/view/12518/546 pada tanggal 5 September 2022 pukul 20.36
Dudung Mulyadi, Unsur-Unsur Penipuan Dalam Pasal 378 KUHP dikaitkan dengan Jual Beli Tanah, Jurnal Unigal Volume 5 No. 2. Diakses dari https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/galuhjustisi/article/view/798 pada tanggal 13 juni 2022 pukul 20.13 WIB.
Dwi Iman Muthaqin, The Concept Of Active Victims Participating In The Role Of Victims Of Criminal Investment Fraud, Jurnal Civicus, Vol. 20 No. 1, diakses dari https://ejournal.upi.edu/index.php/civicus/article/view/27956/
pada tanggal 5 September 2022 pukul 20.16
Josef M Monteiro, Putusan Hakim dalam Penegakan Hukum di Indonesia, Jurnal Hukum Pro Justisia, Vol 25 No 2
Michael Tandiyo, Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan yang Berat Disesuaikandengan Masa Tahanan Pelaku, E-Jurnal UAJY
Mila Surahmi, Perlindungan Hukum bagi Korban Penipuan Investasi, Jurnal Thengkyang, Vol-2No.1,diakses dari http://jurnaltengkiang.ac.id/jurnal/
/JurnalTengkhiang/article/view/19/10 pada tanggal 5 September 2022 pukul 20.00
Mukhlis. Tindak pidana di bidang pertanahan di kota Pekanbaru. Jurnal Ilmu Hukum, Vol 4 No 1, diakses https://media.neliti.com/media/publications/- ID-keistimewaan-dankekhususan-aceh-dalam-perspektif-negara-kesatuan- republik-indon.pdf pada tanggal 10 Oktober 2022 pukul 15.28 WIB
91
Nando Mantulangi, Kajian Hukum Investasi dan Perlindungan Terhadap Korban Investasi Bodong, Jurnal Lex Administratum, diakses dari https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/administratum/article/view/15138 pada tanggal 11 Juli 2022 pukul 14.28 WIB.
Ni Putu Rai Santi Pradnyani, Tindak Pidana Penipuan Investasi Fiktif Di Pasar Modal Menggunakan Skema Piramida, Jurnal Preferensi Hukum, Vol. 3 No.
2, diakses dari https://www.ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/juprehum pada tanggal 5 Sepetember 2022 pukul 19.25
Otoritas Jasa Keuangan, Satgas Waspada Investasi Kembali Temukan 20 Entitas Investasi Ilegal dan 105 Pinjaman Online Tanpa Izin, https://www.ojk.go.id/waspada-investasi/id/Default, diakses pada 21 September 2022 pukul 14.10
Soliha, E., dan Taswan, Pengaruh Kebijakan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan Serta Beberapa Faktor Yang Mempengaruhinya. Jurnal Bisnis dan Ekonomi, 2002.
Usman, Analisis Perkembangan Teori Hukum Pidana, Jurnal Ilmu Hukum
Zali, Pakar: Tanggung Jawab Pidana Tak Bisa Dialihkan, diakses dari https://www.hukumonline.com/berita/a/pakar--tanggung-jawab-pidana-tak- bisa-dialihkan, pada tanggal 03 Februari 2022 pukul 11.05 WIB