RYA ANDR DALAM A F PIERRE si uhi Salah Sa ana Sastra In stra Indones

95 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

“Sedikit lebih beda lebih baik

daripada sedikit lebih baik”

(8)

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala berkat, karunia, dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat meyelesaikan skripsi yang berjudul “Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata: Analisis Habitus dan Modal dalam Arena Pendidikan Menurut Perspektif Pierre Bourdieu” ini dengan baik. Penyusunan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana (S-1) Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini tidak dapat berjalan lancar tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, izinkan penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak tersebut.

Yang pertama, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. dan Susilawati Endah Peni Adji S.S., M.Hum. selaku dosen pembimbing yang selalu dengan sabar dan ikhlas memberikan bimbingan, pengarahan, masukan, dan saran dari awal penulisan hingga selesainya skipsi ini.

Yang kedua, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu dosen Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma (USD), yaitu Susilawati Endah Peni Andji S.S., M.Hum. selaku Ketua Program Studi Sastra Indonesia USD sekaligus selaku dosen pembimbing akademik mahasiswa Sastra Indonesia 2015, Sony Christian Sudarsono, S.S., M.Hum., selaku Wakil Ketua Progaram Studi Sastra Indosia USD, Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., Drs. B. Rahmanto, M.Hum., Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., Maria Magdalena Sinta Wardani, S.S., M.A., Drs. Hery Antono, M.Hum. (alm), dan Dr. Paulus Ari Subagyo, M.Hum. (alm), yang telah bersedia memberikan ilmunya selama penulis berkuliah di Progam Studi Sastra Indonesia; juga kepada Staf Sekretariat Fakultas Sastra khususnya Jurusan Sastra Indonesia atas pelayanannya selama ini.

Yang ketiga, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Marhen Ginting S.Pd. dan Ibu Raskita br Tarigan S.Pd. tercinta yang selalu memberikan doa, cinta, dukungan, motivasi, dan hal lainnya kepada penulis. Penulis mengucapkan terima kasih juga kepada kak Mira Cansri br Ginting, S.Pd, bang Dika Tarigan, bang Pujand Plato Benhard Ginting, S.Sn, dan Regia Clara br Tarigan, yang selalu memberikan cinta, dukungan, dan motivasi kepada penulis.

(9)
(10)

Ginting, Harpindo. 2019. “Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata: Analisis Habitus dan Modal dalam Arena Pendidikan Menurut Perspektif Pierre Bourdieu”. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini mengkaji habitus dan modal dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Tujuan penelitian ini (1) mendeskripsikan hasil analisis struktur prosa dalam novel Sang Pemimpi yang terbatas pada tokoh dan latar, dan (2) mendeskripsikan habitus dan modal dalam novel Sang Pemimpi.

Paradigma penelitian ini menggunakan paradigma M. H. Abrams dengan pendekatan objektif dan pendekatan diskursif. Pendekatan objektif menggunakan teori struktural, sedangkan pendekatan diskursif menggunakan teori Pierre Bourdieu. Metode dan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan dua metode yakni metode formal dan metode analisis isi. Metode formal digunakan untuk menganalisis unsur-unsur novel Sang Pemimpi, yang terbatas pada unsur tokoh dan latar, sedangkan metode analisis isi digunakan untuk menemukan dan memahami habitus dan modal yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi.

Hasil analisis struktur prosa dalam novel Sang Pemimpi adalah sebagai berikut. Terdapat tiga tokoh utama dalam novel tersebut yakni: Ikal, Arai, dan Jimbron. Ketiga tokoh utama tersebut berasal dari kalangan masyarakat miskin yang ingin mewujudkan mimpi-mimpinya melalui arena pendidikan. Analisis latar dalam novel Sang Pemimpi menunjukkan bahwa latar tempat meliputi: sekolah, pasar Magai, rumah Ikal, gudang Nyonya Lam Nyet Pho, toko A Siong, rumah Mak Cik Maryamah, masjid, pabrik cincau, kontrakan, bioskop, dermaga, rumah Bang Jaitun, rumah Nurmala, kapal Bintang Laut Selatan, Tanjung Periok, Bogor, tempat foto copy, kantor Pos, kereta, dan sebuah gedung di Jakarta. Latar waktu pada novel tersebut terjadi sekitar tahun 1980-an, dan latar sosial dalam novel tersebut menggambarkan masyarakat Melayu.Hasil analisis habitus dan modal yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata adalah sebagai berikut. Ikal memiliki 6 habitus yakni: kerja keras, pantang menyerah, suka berolah raga, melawan pesimistis, suka menabung, dan agamais. Sedangkan Arai juga memiliki 6 habitus yakni: kerja keras, pantang meyerah, optimis, selalu ingin tahu, suka menabung, dan murah hati. Sedangkan Jimbron memiliki 4 habitus, yakni: habitus kerja keras, habitus obsesi terhadap kuda, habitus suka menabung, dan habitus lugu.Analisis modal meliputi modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Analisis modal ekonomi menunjukkah bahwa Ikal, Arai, dan Jimbron tidak memiliki modal ekonomi. Analsis modal budaya menunjukkan bahwa Ikal memiliki modal budaya lebih dominan dibanding Arai dan Jimbron. Analisis modal sosial menunjukkan bahwa modal sosial dimiliki oleh Ikal, Arai, dan Jimbron. Analisis modal simbolik menunjukkan bahwa Ikal, Arai, dan Jimbron tidak memiliki modal simbolik.

(11)

Ginting, Harpindo. 2019. “Andrea Hirata’s Novel Sang Pemimpi: Habits and Capital Analysis in the Education Arena According to Pierre Bourdieu Perspective”. An Undergraduate Thesis (S-1). Yogyakarta: Indonesia Literature Study Program, Faculty of Letters, Sanata Dharma University.

This research examines the habits and capital in Andrea Hirata’s novel Sang Pemimpi. The purposes of this research are (1) describing the analysis on prose structure, limited to the character and setting, and (2) describing the habits and capital in Sang Pemimpi novels.

This research paradigm uses M. H. Abrams paradigm with objective and discursive approach. Objective approach uses structural theory, and discursive approach uses Pierre Bourdieu theory. Method and data collecting technique which are employed in this research is library research. Data analysis method in this research uses two methods: formal methods and content analysis method. Formal method is used to analyze the elements of Sang Pemimpi novel, limited to the character and setting, while content analysis method is used to discover and understand the habits and capital in Sang Pemimpi novel.

The result of prose structural analysis in Sang Pemimpi novel is: there are three main characters in Sang Pemimpi novel namely: Ikal, Arai, and Jimbron. The three main characters came from the poor who wanted to make their dreams come true through the education arena. Setting analysis in Sang Pemimpi novel shows that the place setting includes : school , Magai market, Ikal’s house, Madam Lam Nyet Pho’s warehouse, A Siong’ store, Mak Cik Maryamah’ house, the mosque, cincau factory, boarding house, cinema, dock, Bang Jaitun’s house, Nurmala’s house, Bintang Laut Selatan ship, Tanjung Periok, Bogor, foto copy store, Post office, train, and a building in Jakarta. The time setting of the novel took place around the 1980s, and the social setting describe Malay society.The results of habits and capital analysis in Sang Pemimpi novel are: Ikal has 6 habitus, namely: hard worker, never give up, like to exercise, fight pessimism, save money, and religious. While Arai has 6 habits, namely: hard worker, never give up, optimistic, always curious, save money, and generous. Jimbron has 4 habits, namely: hard worker, obsession with horses, save money, and innocent. Analysis of capital includes economic, culture, social, and symbolic. Analysis of economic capital shows that Ikal, Arai, and Jimbron do not have economic capital. Analysis of culture capital shows that Ikal has more dominant cultural capital than Arai and Jimbron. Analysis of social capital shows that Ikal, Arai, and Jimbron have social capital. Analysis of symbolic capital shows that Ikal, Arai, and Jimbron do not have symbolic capital.

(12)

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv

HALAMAN PERBYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

MOTTO ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

ABSTRAK ... x

ABSTRACT ... xi

DAFTAR ISI ... xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ... 1

1.2Rumusan Masalah ... 5

1.3Tujuan Penelitian ... 5

1.4Manfaat Penelitian ... 5

1.4.1Manfaat Teoretis ... 6

1.4.2Manfaat Praktis ... 6

1.5Tinjauan Pustaka ... 6

1.6Landasan Teori ... 9

1.6.1Struktur Prosa ... 9

1.6.1.1Tokoh ... 10

1.6.1.1.1Tokoh Utama ... 10

1.6.1.1.2Tokoh Tambahan ... 11

1.6.1.2Latar ... 11

1.6.1.2.1Latar Tempat ... 11

1.6.1.2.2Latar Waktu ... 12

1.6.1.2.3Latar Sosial ... 12

(13)

1.6.2.3Arena ... 17

1.7Metode Penelitian ... 17

1.7.1Jenis Penelitian ... 18

1.7.2Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 19

1.7.3Metode dan Teknik Analisis Data ... 19

1.7.4Metode Penyajian Analisis Data ... 20

1.7.5Sumber Data ... 20

1.8Sistematika Penyajian ... 21

BAB II STRUKTUR PROSA NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA

BAB III HABITUS DAN MODAL DALAM NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA 3.1 Habitus ... 54

3.1.1Habitus Ikal ... 55

3.1.1.1Habitus Pekerja Keras ... 55

3.1.1.2Habitus Pantang Menyerah ... 57

3.1.1.3Habitus Suka Berolah Raga ... 57

3.1.1.4Habitus Melawan Pesimistis ... 58

3.1.1.5Habitus Suka Menabung ... 60

3.1.1.6Habitus Agamais/Agamis ... 61

3.1.2Habitus Arai ... 62

3.1.2.1Habitus Pekerja Keras ... 62

3.1.2.2Habitus Pantang Meyerah ... 63

3.1.2.3Habitus Optimis ... 63

3.1.2.4Habitus Selalu Ingin Tahu ... 64

3.1.2.5Habitus Suka Menabung ... 64

(14)

3.1.3.2Habitus Obsesi Terhadap Kuda ... 66

3.1.3.3Habitus Suka Menabung ... 67

3.1.3.4Habitus Lugu ... 67

3.2Modal ... 68

3.2.1Modal Ekonomi ... 68

3.2.2Modal Budaya ... 69

3.2.3Modal Sosial ... 70

3.2.4Modal Simbolik ... 71

3.3Arena ... 72

3.4Rangkuman ... 72

BAB IV PENUTUP ... 74

4.1Kesimpulan ... 74

4.2Saran ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 79

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Bourdieu mengelompokkan masyarakat ke dalam tiga kelas, yaitu kelas dominan, kelas borjuasi kecil, dan kelas popular. Pembagian kelas ini didasari pada kepemilikan modal. Pembagian kelas ini dapat kita terapkan untuk melihat masyarakat di sekitar kita, karena secara umum, berdasarkan kepemilikan modal,

ada yang dominan, ada yang tidak dominan, dan ada yang posisinya berada di antara keduanya. Hubungan ketiga kelas tersebut adalah kelas dominan hampir selalu memaksakan budayanya, sementara kelas terdominasi tentu saja akan

cenderung menerima budaya kelas dominan (Martono, 2012: 36).

Novel Sang Pemimpi yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini menggambarkan kisah tokoh utama yakni : Ikal, Arai, dan Jimbron yang merupakan masyarakat miskin, berjuangan menaikkan kelas sosialnya melalui dunia pendidikan. Dalam pandangan Bourdieu, tokoh utama dalam novel tersebut

tergolong ke dalam kelas borjuasi kecil, karena sifat mereka sama dengan kaum borjuasi yaitu mereka memiliki keinginan untuk menaiki tangga sosial. Pendidikan diyakini sebagian besar orang sebagai jalan yang paling menjanjikan

untuk menaikkan kelas sosial. Dalam pandangan Bourdieu, pendidikan merupakan salah satu arena perebutan kekuasaan.

(16)

pertarungan atau perjuangan memperebutkan kekuasaan atau kekuatan-kekuatan yang ada. Arena tersebut bermacam-macam, yakni arena pendidikan, arena

ekonomi, arena budaya, arena agama, arena seni, arena politik, dll. Jika suatu individu maupun kolektif ingin memperoleh ataupun memperjuangakan suatu dominasi dalam kelompok sosial, ia harus memiliki modal dan habitus yang tepat dalam arena perjuangannya.

Menurut Bourdieu dalam (Haryatmoko 2016: 41), habitus merupakan hasil keterampilan yang menjadi tindakan praktis, baik secara sadar maupun tidak, yang dipandang sebagai suatu kemampuan yang kelihatannya alamiah dan berkembang dalam lingkungan sosial tertentu. Seseorang yang terampil menulis,

sudah pasti memiliki habitus membaca, sehingga keterampilan menulis tidak diperoleh secara alami melainkan terbentuk oleh kebiasaan membaca dan merumuskan hasil pemikiran dari membaca tersebut sehingga mampu menghasilkan sebuah tulisan. Menurut Martono (2012: 36) habitus juga

merupakan gaya hidup, nilai-nilai, watak, dan harapan kelompok sosial tertentu. Kelas dominan, kelas borjuasi kecil, dan kelas populer memiliki habitusnya masing-masing. Jika suatu individu atau kolektif ingin menaikkan kelasnya, hal pertama yang dapat dikakukannya adalah meniru habitus kelas di atasnya.

(17)

sebagai sebuah hasil kerja yang terakumulasi (dalam bentuk yang “terbendakan” atau bersifat “menubuh” –terjiwai dalam diri seseorang). Martono (2012: 32)

mengartikan modal tersebut sebagai sekumpulan sumber daya (baik materi maupun nonmateri) yang dimiliki seseorang atau kelompok tertentu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Bourdieu membedakan empat macam modal yaitu modal ekonomi , modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik. Modal

merupakan faktor utama yang harus dimiliki untuk memperoleh atau mempertahankan kekuasaan.

Dalam penelitian ini, novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dijadikan sebagai objek penelitian. Menurut Ratna (2012: 336) novel merupakan genre

yang paling sosiologis dan responsif sebab sangat peka terhadap fluktuasi sosiohistoris. Kisah-kisah yang dimuat dalam karya sastra umumnya cerminan dari kehidupan masyarakat. Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, merupakan cerminan dari masyarakat Melayu Kampung yang tinggal di pulau

Belitong.

Secara ringkas novel ini mengisahkan perjuangan tokoh utama yakni: Ikal, Arai, dan Jimbron berjuang untuk mewujudkan mimpinya yaitu berkeliling dunia, menjelajahi benua Eropa hingga Afrika dan kuliah di Universite de Paris,

(18)

Untuk dapat sukses dalam arena pendidikan, Ikal, Arai, dan Jimbron harus memiliki modal dan habitus. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dianalisis

habitus dan modal yang dimiliki tokoh utama untuk meraih sukses dalam arena pendidikan.

Alasan peneliti mengambil topik ini adalah sebagai berikut. Pertama, novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata merupakan salah satu novel mega best

seller Indonesia, dan pada tahun 2009, novel ini diaptasi menjadi film dengan jumlah penonton 1,9 juta orang dan meraih beberapa penghargaan.

Kedua, novel Sang Pemimpi menggambarkan perjuangan masyarakat miskin menaikkan kelasnya melalui arena pendidikan, sebagaimana Andrea

Hirata sendiri selaku penulis novel Sang Pemimpi. Teori Pierre Bourdieu cocok digunakan untuk melihat bagaimana habitus dan modal yang dimiliki oleh tokoh utama dalam novel ini, untuk bertarung dalam arena pendidikan sehingga mampu menaikkan kelas mereka.

Ketiga, penelitian dalam bidang sastra Indonesia yang menggunakan perspektif Pierre Bourdieu masih sangat minim dilakukan. Sepengetahuan penulis penelitian terhadap novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dengan perspektif Pierre Bourdieu belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian

(19)

1.2Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini, yang menjadi rumusan permasalahan adalah sebagai

berikut.

1.2.1 Bagaimanakah struktur prosa dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata?

1.2.2 Bagimanakah habitus dan modal tokoh utama dalam arena pendidikan

yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata?

1.3Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1.3.1 Mendeskripsikan struktur prosa dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Hal ini akan dikemukakan dalam Bab II.

1.3.2 Mendeskripsikan habitus dan modal tokoh utama dalam arena pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Hal ini

akan dikemukakan dalam Bab III.

1.4Manfaat Penelitian

(20)

1.4.1 Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis dapat diartikan sebagai manfaat penelitian terhadap

perkembangan bidang disiplin ilmu terkait (sastra,bahasa,dan budaya), dalam hal ini khususnya bidang sastra. Adapun manfaat teoretis penelitian ini adalah sebagai berikut.

1.4.1.1 Menambah pengetahuan terkait pengkajian karya sastra, khususnya

novel menggunakan perspektif Pierre Bourdieu;

1.4.1.2 Menambah referensi penelitian karya sastra Indonesia, dan menjadi acuan pustaka terhadap penelitian terkait.

1.4.2 Manfaat Praktis

Manfaat Praktis berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan profesi tertentu di luar bidang penelitan ini (Sastra,bahasa,dan budaya). Secara praktis penelitian ini diharapkan menambah wawasan pembaca terkait konsep Pierre Bourdieu tentang habitus, modal, dan arena khususnya pada novel Sang Pemimpi karya

Andrea Hirata. Selain itu penelitian ini diharapkan memberikan pandangan/pemahaman baru bagi pembaca novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.

1.5Tinjauan Pustaka

(21)

Triantoro, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dahrma Yogyakarta (2011), melakukan penelitan dalam bentuk skripsi dengan judul

Kritik Sosial dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata. Penelitian tersebut memfokuskan permasalahan pada deskripsi tokoh dan penokohan serta deskripsi kritik sosial yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi. Dalam penelitiannya, Triantoro menggunakan pendekatan sosiologi sastra Damono,

sedangkan dalam penelitian ini, yang digunakan ialah teori Pierre Bourdieu. Selain itu, tujuan penelitan Triantoro adalah mendeskripsikan kritik sosial dalam novel Sang Pemimpi yang disampaikan melalui tokoh-tokohnya, sedangkan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan habitus dan modal yang dimiliki

tokoh utama dalam perjuangannya di arena pendidikan. Untuk memahami habitus dan modal tersebut akan dianalisis terlebih dahulu tokoh dan penokohan yang terbatas pada tokoh utama, lalu analisis latar.

Soewarno, mahasiswa pasca sarjana Pendidikan Bahasa Universitas

Negeri Jakarta (2016), melakukan penelitian dalam bentuk makalah dengan judul Habitus dan Kekerasan Simbolik dalam Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan Pierre Bourdieu. Penelitian tersebut bertujuan mendeskripsikan habitus dan kekerasan simbolik

yang terdapat dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.

(22)

menggunakan teori arena produksi kultural Pierre Bourdieu yang memadukan analisis tekstual, biografi pengarang, dan ruang sosial. Penelitian tersebut

bertujuan untuk menjelaskan: pertama, kondisi arena kekuasaan dan arena sastra Indonesia pasca Orde Baru; kedua, strategi Andrea Hirata dalam arena sastra Indonesia demi meraih posisi tertentu; ketiga, pandangan Andrea Hirata yang dimobilisasi melalui karya sastra dan praktik sosialnya. Penelitian Karnata

berbeda dengan penelitian ini karena fokus penelitian Karnata adalah Andrea Hirata, sedangkan fokus penelitian ini adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.

Barata, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma, pada

tahun 2017 melakukan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul Strukturasi Kekuasaan dan Kekerasan Simbolik dalam Cerpen “Ayam”, “Suatu Malam Suatu Warung”, dan “Tahi” dalam Kumpulan Cerpen Hujan Menulis Ayam Karya Sutardji Calzoum Bachri: Sebuah Perspektif Pierre Bourdieu. Teori yang

digunakan Barata sama dengan teori dalam penelitian ini yaitu teori Pierre Bourdieu, perbedaannya terletak pada objek meterialnya. Objek material Barata adalah cerpen, sedangkan objek material penelitian ini adalah novel. Tujuan penelitian Barata adalah mendeskripsikan strukturasi kekuasaan dan kekerasan

simbolik dalam kumpulan cerpen Hujan Menulis Ayam karya Sutardji Calzoum Bachri.

(23)

arena pendidikan menurut perspektif Pierre Bourdieu belum pernah dilakukan. Keempat penelitian di atas dapat dijadikan sebagai rujukan untuk memperoleh

pemahaman yang lebih mendalam terkait objek penelitian.

1.6Landasan Teori

Menurut Ratna (2012: 2), teori berfungsi untuk mengubah dan

membangun pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Karya sastra yang merupakan hasil dari proses imajinatif bila dikaji dengan teori dan metode tertentu akan menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan. Secara lebih jelas, Ratna (2012: 9) mendefenisikan teori sastra sebagai seperangkat konsep yang saling

berkaitan secara ilmiah, yang disajikan secara sistematis, yang berfungsi untuk menjelaskan sejumlah gejala sastra.

Dalam penelitian ini, kerangka teori yang digunakan adalah analisis struktur dan konsep habitus dan modal dari Pierre Bourdieu.

1.6.1 Struktur Prosa

Sturktur prosa yang dianalisis dalam penelitian ini hanya terbatas pada tokoh dan latar. Pembatasan ini dilakukan karena fokus utama penelitian ini adalah habitus dan modal yang dimiliki tokoh utama. Untuk memahami bagaimana habitus dan modal tokoh utama dalam novel Sang Pemimpi karya

(24)

1.6.1.1Tokoh

Tokoh dan penokohan merupakan suatu kepaduan yang utuh dalam suatu cerita. Tokoh dapat diartikan sebagai pelaku cerita, sedangkan penokohan merupakan watak dari pelaku cerita. Secara lebih spesifik, tokoh cerita menurut

Abrams dalam (Nurgiyantoro, 1995: 165), adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya (naratif,drama) yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang diekspresikan (melalui ucapan maupun tindakan). Tokoh cerita dapat digunakan pengarang sebagai pembawa

dan penyampai pesan, amanat, moral, pikiran, atau hal lain kepada pembaca.

Dalam suatu cerita pada umumnya terdapat lebih dari satu tokoh. Fungsi dari tokoh-tokoh tersebut bermacam-macam. Tokoh-tokoh cerita dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan. Berdasarkan kadar keutamaan tokoh dalam suatu cerita,

tokoh dapat dibedakan menjadi dua, yakni tokoh utama dan tokoh tambahan.

1.6.1.1.1 Tokoh Utama

Tokoh utama merupakan tokoh yang diutamakan prosanya dalam cerita yang bersangkutan. Tokoh utama dalam suatu cerita dapat dilihat dari keseringannya muncul dalam cerita, karena tokoh utama selalu mendominasi cerita. Tokoh utama adalah tokoh yang paling banyak disinggung dalam suatu

(25)

dalam suatu novel dapat lebih dari satu orang, walaupun kadar keutamannya tak selalu sama.

1.6.1.1.2 Tokoh Tambahan

Tokoh tambahan adalah tokoh yang pemunculannya dalam suatu cerita lebih sedikit, dan kehadirnya hanya jika ada keterkaitan secara langsung atau tidak langsung dengan tokoh utama. Tokoh tambahan merupakan tokoh yang

berfungsi sebagai pendukung cerita. Walaupun sebagai tambahan kehadirannya tetap penting dan diperlukan dalam sebuah cerita.

1.6.1.2Latar

Latar menurut Abrams dalam (Nurgiyantoro, 1995: 216) disebut sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar

memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Latar diperlukan untuk memberikan gambaran yang realistis kepada pembaca. Nurgiyantoro (1995: 217) memandang pembaca dapat merasakan kedekatan dirinya dengan cerita jika latar

mampu mengangkat suasana setempat, warna lokal, lengkap dengan perwatakan ke dalam cerita. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial.

1.6.2.1Latar Tempat

(26)

tempat-tempat yang memiliki nama, inisial, atau bahkan tanpa nama. Yang terpenting menurut Nurgiyantoro (1995: 227) penggunaan nama-nama tertentu sebagai latar

haruslah mencerminkan sifat dan keadaan geografis tempat yang bersangkutan, atau paling tidak tak bertentangan dengan sifat dan keadaan geografis aslinya.

1.6.2.2Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa

dalam cerita. Latar waktu umumnya harus dikaitan dengan latar tempat karena pada kenyataannya kedua hal tersebut saling berkaitan. Latar waktu dapat dalam sebuah cerita dapat menggambarkan keadaan suatu zaman.

1.6.2.3Latar Sosial

Latar sosial merupakan bagian latar secara keseluruhan. Latar sosial berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial

masyarakat dalam kurun waktu tertentu di suatu tempat dalam cerita. Latar sosial juga dapat berhubungan dengan status sosial tokoh dalam cerita. Kehidupan sosial masyarakat seperti kebiasaan, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan

hidup, cara berpikir, cara bersikap, dan lain-lain dalam cerita tergolong ke dalam kajian latar sosial. Menurut Nurgiyantoro (1995: 235) masalah penamaan tokoh dalam banyak hal berhubungan dengan latar sosial. Latar waktu, latar tempat, dan latar sosial merupakan suatu kepaduan yang menyaran pada makna yang

(27)

1.6.2 Habitus, Modal, dan Arena : Pierre Bourdieu

Pierre Bourdieu adalah seorang sosiolog Prancis, yang perjalanan intelektualnya dipengaruhi oleh keprihatinan mendasar terhadap lingkungan sosial dan hasrat terhadap perubahan. Teori habitus yang dicetuskannya bukan

disebabkan oleh perubahan sosial besar melainkan berdasarkan pada studi yang mendalam dan penelitian-penelitian yang dilakukan Bourdieu di daerah Kabylie dan Collo, Aljazair. Teori-teori yang dikemukakan Bourdieu dimaksudkan untuk melewati batas-batas oposisi yang telah terstruktur dalam teori-teori ilmu sosial.

Gagasan dasar Bourdieu mengkristal dalam beberapa konsep utama, yakni habitus, modal, arena,distinction, kekuasaan simbolik, dan kekerasan simbolik (Haryatmoko 2016: 35). Dalam penelitian ini, konsep yang digunakan terbatas pada habitus, modal, dan arena.

1.6.2.1Habitus

Habitus menurut Bourdieu dalam (Haryatmoko 2016: 41), merupakan hasil keterampilan yang menjadi tindakan praktis, baik secara sadar maupun

(28)

menjadi ciri suatu kelas. Habitus kelas dominan berbeda dengan habitus kelas borjuasi kecil, demikian juga dengan habitus kelas populer.

Habitus terbentuk tidak secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari proses yang panjang berupa pengalaman-pengalaman individu saat berinteraksi dengan

lingkungan sosial. Pengertian lain dari habitus dalam Martono (2012: 36) mengartikan habitus sebagai sebuah sistem disposisi-disposisi (skema-skema persepsi, pikiran, dan tindakan yang diperoleh dan bertahan lama). Habitus dapat dikembangkan melalui pengalaman, dan habitus tersebut dapat menjadi dasar

keperibadian individu.

Dalam (Martono, 2012: 36), konsep habitus dapat dimaknai dalam beberapa hal. Pertama, habitus sebagai sebuah pengondisian yang dikaitkan dengan syarat-syarat keberadaan suatu kelas.

Kedua, habitus merupakan hasil keterampilan yang menjadi tindakan praktis (tidak harus disadari) yang kemudian diterjemahkan menjadi suatu kemampuan yang dipandang alamiah dan berkembang dalam lingkungan sosial

(29)

Ketiga, habitus adalah kerangka penafsiran untuk memahami dan menilai realitas sekaligus sebagai penghasil praktik-praktik kehidupan yang sesuai

dengan struktur objektif. Habitus menjadi dasar kepribadian individu.

Keempat, habitus berupa etos, yaitu prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang

dipraktikkan, bentuk moral yang tidak mengemuka dalam kesadaran, namun mengatur perilaku sehari-hari. Misalnya seperti sifat orang yang rajin, jujur, cerdas, murah hati, licik, dll. Bentuk habitus yang berhubungan dengan sikap atau posisi khas tubuh, seperti cara berjalan, mata selalu memandang ke bawah,

disebut sebagai hexis badaniah.

Kelima, habitus merupakan struktur intern yang selalu dalam proses restrukturisasi (penataan kembali). Artinya praktik-praktik dalam kehidupan tidak sepenuhnya bersifat deterministik ( keharusan), melainkan pelaku dapat memilih, namun juga tidak sepenuhnya bebas (pilihannya ditentukan oleh

habitus). Dengan tidak perlu lagi mencari maknanya atau menyadarinya, habitus mampu menggerakkan, dan bertindak sesuai dengan posisi yang ditempati pelaku dalam lingkup sosial, menurut arena pertarungan (Haryatmoko, 2016: 42)

1.6.2.2 Modal

(30)

menambahkan pengertian modal tersebut sebagai sekumpulan sumber daya (baik materi maupun non-materi) yang dimiliki seseorang atau kelompok tertentu yang

dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Dalam suatu arena, seseorang akan menempatkan dirinya berdasarkan fungsi dan jumlah modal yang dimiliknya serta berdasarkan relatif kepentingan modal tersebut.

Bourdieu membedakan empat macam modal yaitu modal ekonomi , modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik. Modal ekonomi mengukur

semua sumber daya ekonomi individu, termasuk pendapatan dan warisannya.

Modal budaya mengukur semua sumber daya (budaya) yang dapat

menempatkan kedudukan seorang individu. Modal budaya terdiri dari tiga bentuk : pertama, dalam kondisi ‘menubuh’(meliputi pengetahuan umum, keterampilan, nilai budaya, agama, norma, bakat turunan, dll); kedua, dalam kondisi terobjektifikasi (meliputi kepemilikan benda-benda budaya); ketiga, dalam kondisi

terlambangkan (meliputi gelar, tingkat pendidikan)

Modal sosial mengukur semua sumber daya yang berkaitan dengan kepemilikan jaringan sosial berkelanjutan dari semua relasi dan semua orang yang dikenal. Dan modal simbolik menunjukkan segala bentuk kapital (budaya, sosial, atau ekonomi) yang mendapat pengakuan khusus dalam masyarakat. Modal

(31)

mengisi liburan, hobi, tempat makan, dan lain-lain. Modal merupakan faktor utama yang harus dimiliki untuk memperoleh atau mempertahankan kekuasaan.

1.6.2.3 Arena

Masyarakat dalam pandangan Pierre Bourdieu digambarkan sebagai sebuah arena yang saling berkaitan. Arena tersebut merupakan tempat

pertarungan atau perjuangan memperebutkan kekuasaan atau kekuatan-kekuatan yang ada. Arena tersebut bermacam-macam, yakni arena pendidikan, arena ekonomi, arena budaya, arena agama, arena seni, arena politik, dll. Pelaku yang masuk dalam suatu lingkugan (pendidikan, polik, seni, dll.) harus menguasai

kode-kode dan aturan-aturan permainannya. Tanpa penguasaan kode tersebut, orang dengan mudah terlempar keluar dari permainan.

1.7Metode Penelitian

Metode menurut Ratna (2004: 34) metode merupakan cara-cara, strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab-akibat berikutnya. Metode digunakan sebagai alat, seperti teori,

(32)

1.7.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan paradigma penelitian M. H. Abrams. Paradigma Abrams memiliki empat pendekatan yaitu: pendekatan ekspresif, pendekatan objektif, pendekatan mimetik, dan pendekatan pragmatik. Dalam (Taum, 2017:4)

paradigma Abrams direposisikan sehingga memperoleh dua tambahan pendekatan, pendekatan tersebut adalah pendekatan eklektik dan pendekatan diskursif. Pendekatan elektif menurut (Taum,2017:4) adalah pendekatan yang menggabungkan secara selektif beberapa pendekatan untuk memahami sebuah

fenomena. Sedangkan pendekatan diskursif (Taum,2017:4) adalah pendekatan yang menitik beratkan pada diskursus (wacana sastra) sebagai sebuah praktik diskursif.

Penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan objektif dan pendekatan diskursif. Pendekatan objektif menggunakan teori struktural digunakan untuk memperoleh hasil analisis terkait tokoh, penokohan, dan latar.

Sedangkan pendekatan diskursif dengan menggunakan teori Pierre Bourdieu digunakan untuk memperoleh hasil analisis terkait habitus dan modal.

(33)

1.7.2 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan. Dalam studi kepustakaan, data – data dicari dari sumber – sumber tertulis. Teknik yang digunakan adalah teknik baca dan catat. Teks sastra, dalam

hal ini novel, dibaca terlebih dahulu secara keseluruhan untuk memperoleh pemahaman awal, kemudian dicatat hal – hal yang dianggap penting dan sesuai dengan permasalahan dalam penelitian.

1.7.3 Metode dan Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, analisis data menggunakan dua metode yaitu metode formal dan metode analisis isi. Menurut Ratna (2004 : 49), metode formal adalah metode analisis yang mempertimbangkan aspek-aspek formal, aspek-aspek bentuk, yaitu unsur-unsur karya sastra. Metode formal bertugas

menganalisis unsur-unsur, sesuai dengan peralatan yang terkandung dalam karya sastra. Dalam penelitian ini, metode formal digunakan untuk menganalis unsur-unsur novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, yang terbatas pada unsur tokoh, penokohan, dan latar.

Metode analisis isi menurut Ratna (2004: 48), analisis isi mencakup isi komunikasi, baik secara verbal (dalam bentuk bahasa), maupun nonverbal (

(34)

Ratna (2004: 48) membagi isi menjadi dua macam, yaitu isi laten dan isi komunikasi. Analisis terhadap isi laten akan menghasilkan arti, sedangkan

analisis terhadap isi komunikasi menghasilkan makna.

Dalam penelitian ini, analisis isi laten dan analisis isi komunikasi

digunakan untuk menemukan dan memahami habitus dan modal yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.

1.7.4 Metode Penyajian Analisis Data

Hasil analisis disajikan dalam penelitian ini dengan metode deskriptif

analisis. Secara epistimologis, deskripsi dan analisis artinya menguraikan. Hal pertama yang dilakukan adalah mendeskripsikan fakta – fakta yang terdapat dalam karya sastra yang diteliti, lalu disusul dengan analisis. Dalam penelitian ini, fakta-fakta terkait tokoh, penokohan, latar, habitus, modal, dan arena

diklasifikasikan kemudian diberi penjelasannya.

1.7.5 Sumber Data

Dalam penelitian ini novel dijadikan sebagai obejek penelitian, dengan

identitas sebagai berikut :

Judul Buku : Sang Pemimpi

(35)

Tahun Terbit : 2018

Cetakan : Keempat puluh dua

Penerbit : Penerbit Bentang

Halaman : 247

1.8Sistematika Penyajian

Hasil penelitian dilaporkan secara lengkap dan sistematis. Sistematika penyajian dalam penelitian ini dirinci sebagai berikut.

Bab I berisi pendahuluan meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian, kerangka teori, metode penelitian,

metode dan teknik pengumpulan data, metode dan teknik analisis data, dan metode penyajian hasil analisis data.

Bab II berisi tentang deskiripsi struktur tokoh, penokohan, dan latar dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata

Bab III berisi uraian deskripsi tentang habitus dan modal tokoh utama dalam arena pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata

Bab IV merupakan penutup dalam penelitian ini, yang meliputi

(36)

BAB II

STRUKTUR PROSA

NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA

Dalam bab ini, akan dideskripsikan hasil analisis struktur prosa dalam novel Sang

Pemimpi Karya Andrea Hirata. Analisis struktur prosa dalam penelitian ini memiliki pembatasan, tujuannya agar pembahasan tidak melebar dan hasil analisis lebih mendalam. Pembatasan struktur prosa dalam novel ini terbatas pada analisis tokoh

dan latar, alasannya analisis tokoh dan latar digunakan untuk mempermudah pemahaman terkait habitus dan modal yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata.

2.1Tokoh

Dalam penelitian ini, tokoh yang dianalis dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata terbatas pada tokoh utama. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan prosanya dalam cerita yang bersangkutan. Pembatasan analisis pada

tokoh utama karena tokoh utama dalam novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata merupakan tokoh-tokoh yang dikisahkan berjuang dalam arena pendidikan untuk mewujudkan cita-cita mereka. Ikal, Arai, dan Jimbron merupakan tokoh utama dalam novel tersebut. Mereka adalah tiga orang sahabat yang berasal dari keluarga miskin

(37)

2.1.1 Ikal

Ikal merupakan tokoh yang keutamaannya paling dominan dalam cerita. Ikal adalah si aku dalam cerita. Ikal merupakan sosok pekerja keras dan pantang menyerah. Ia berasal dari keluarga miskin. Ayahnya yang hanya bekerja sebagai kuli

tetap di PN Timah Belitong, tak mampu membiayai kebutuhan Ikal untuk bersekolah, oleh karena itu Ikal bersama kedua sahabatnya terpaksa membanting tulang untuk tetap bersekolah. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan (1) sampai (4).

(1)“Aku, Arai, dan Jimbron, memilih sebuah pekerjaan yang sangat bergengsi sebagai tukang pikul ikan di dermaga. Profesi yang sangat elite itu disebut kuli ngambat. Kami dengan sengaja memilih profesi itu karena memungkinkan utuk dikerjakan sambil sekolah. (Hirata, 2018: 56)

(2)“Sebelum menjadi kuli ngambat, kami pernah punya pekerjaan lain yang juga memungkinkan untuk tetap sekolah, yaitu sebagai penyelam di padang golf. (Hirata, 2018: 57)

(3)“Lalu, kami beralaih menjadi part time office boy di kompleks kantor pemerintah. Mantap sekali judul jabatan kami itu dan hebat sekali job description-nya: masuk kerja subuh-subuh dan menyiapkan ratusan gelas teh dan kopi untuk para abdi negara. Masalahnya, lebih sadis daripada ancaman reptil berkaki empat tadi, yaitu berbulan-bulan tak digaji. (Hirata, 2018: 57)

(4)“Setiap pukul dua pagi, berbekal sebatang bambu, kami sempoyongan memikul berbagai jenis makhluk laut yang sudah harus tersaji di meja pualam stanplat pasar ikan pada pukul lima sehingga pukul enam sudah bisa diserbu ibu-ibu. Artinya, setelah itu, kami leluasa untuk sekolah” (Hirata, 2018: 58)

(38)

adalah pekerjaan yang tidak menghambat kegiatan sekolah mereka seperti yang tampak pada kutipan (1) dan (2). Sikap pekerja kerasnya juga tampak dari

kerelaannya bagun subuh-subuh untuk menyempatkan diri bekerja seperti tampak pada kutipan (3) dan (4) sebelum berangkat kesekolah. Kutipan tersebut juga membuktikan bahwa mereka rela melakukan pekerjaan berat agar dapat tetap bersekolah.

Sikap pekerja keras Ikal dibarengi juga dengan sikap pantang menyerah.

Sikap pantang menyerah tersebut dapat dilihat dalam (Hirata,2018: 37-41). Pada suatu kejadian, Ikal dan Arai bersikukuh berebut mempertahankan uang koin tabungan mereka. Arai hendak membelanjakan seluruh uang koin tersebut untuk membeli bahan-bahan membuat kue seperti : terigu, gandum, dan gula di toko A

Siong. Tujuan Arai membeli bahan-bahan tersebut untuk diberikan kepada Mak Cik Maryamah, agar Mak Cik Maryamah memiliki penghasilan.

Ikal yang tidak paham tujuan Arai langsung menolak, dan merebut uang koin yang ada pada genggaman Arai. Arai tak mau melepas uang koin tersebut sehingga perebutan uang koin pun terjadi. Ikal dan Arai sampai bergulat meperebutkan uang koin tersebut dan menimbulkan kekacaun di toko A Siong. Tak satu pun yang mau

mengalah, Ikal dan Arai sama-sama kuat bergulat, hingga pergulatan tersebut berakhir dengan tumbangnya lemari raksasa tempat karung-karung kertas yang berisi kapuk. Sikap pantang menyerah Ikal tampat pada kejadian tersebut bagaimana ia

(39)

uang koin tersebut sampai-sampai menimbulkan kekacauan di toko A Siong, tempat perebutan uang koin terjadi.

Sikap pantang menyerah tersebut juga dapat dilihat pada saat Ikal bersama sahabatnya hendak menonton di bioskop. Status mereka sebagai anak sekolah

membuat mereka tidak diperbolehkan menonton film di bioskop karena Pak Mustar melarang seluruh siswannya menonton di bioskop. Pak Mustar menganggap film yang diputar di bioskop tidak mendidik. Ikal dan kedua sahabatnya sangat ingin

menonton film di bioskop, oleh karena itu mereka mencoba berbagai cara mulai dari membujuk A Kiun si penjual tiket biokop, menghasut Pak Cik Basman si tukang sobek karcis, bahkan sampai rela membayar dua kali lipat tiket bioskop tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (5), (6), dan (7).

(5) “Meskipu telah seiya sekata, berhari-hari kemudian, ternyata perjuangan kami menuju dua carik merah itu tak mudah. Kami gagal membujuk A Kiun, gadis Hokian penjual tiket. (Hirata,2018: 91)

(6) “Kami juga gagal menghasut Pak Cik Basman, tukang sobek karcis, agar menyelundupkan kami ke dalam bioskop. Kami bersedia membayar karcis dua kali lipat, tunai untuknya, tapi kami malah kena damprat.” (Hirata,2018: 92)

(7) “.... Kami rayu A Kiun berulang-ulang, dia bergeming. Karena dia takut kepada Pak Mustar dan berulang-ulang diingatkap capo agar tak menjual karcis kepada anak kecil.” (Hirata,2018: 93)

Demi memperoleh tiket bioskop Ikal dan sahabatnya mencoba berbagai cara.

(40)

bioskop, yaitu dengan menggunakan sarung yang dijadikan sebagai kerudung. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (8) dan (9).

(8)”Kami akan masuk bioskop dengan menyamar sebagai orang berkerudung!” (Hirata,2018: 94)

(9) “Tak percaya rasanya, sekejap kemudian, kami telah berada di dalam bioskop. Kami girang seperti orang berhasil melewati tembok Berlin.” (Hirata, 2018: 96)

Walau hanya sebatas menonton di bioskop Ikal tak lantas menyerah dengan larangan dan kegagalan perjuangan mereka memperoleh tiket bioskop. Barbagai cara

mereka coba hingga akhirnya mereka berhasil menyusup masuk ke dalam biokop.

Sosok Ikal merupakan sosok yang sangat peduli terhadap sahabatnya, hal ini terlihat ketika Ikal, Arai, dan Jimbron dikejar oleh Pak Mustar (guru mereka) pada suatu pagi. Ikal yang merupakan seorang pelari cepat dengan mudah meninggalkan Pak Mustar jauh dibelakang, namun karena Arai dan Jimbron masih di belakang, Ikal

pun membantu mereka menghindar dari kejaran Pak Mustar. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (10) dan (11).

(10)”.... Sebenarnya aku bisa langsung lolos jika tak memedulikan panggilan sial ini

“Tolong, Kal, tolong....

“Aku kasihan bercampur kesal

(41)

Ikal sebenarnya dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari kejaran Pak Mustar dengan kemampuannya yang dapat berlari cepat. Namun karena ia peduli dengan

sahabatnya, ia lebih memilih membatu sahabatnya, yaitu dengan membopong Jimbron yang kesusahan berlari. Kepedulian Ikal terhadap sahabatnya juga terlihat saat Ikal hendak membantu Arai mendapatkan cinta Nurmala. Arai sangat mencintai Nurmala, namun cintanya tak berbalas. Oleh karena itu, Ikal hendak membahagiakan

Arai dengan membantunya mendapatkan cinta Nurmala. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan (12) berikut.

(12)”Aku ingin membuat Arai gembira. Aku ingin berbuat sesuatu seperti yang dia selalu lakukan kepadaku dan Jimbron.

“Aku senang karena aku tahu persis bagaimana cara membuat Arai gembira. Aku paham bahwa kebahagiaan Simpai Keramat itu sesungguhnya terperangah dalam sebuah peti, dan pemegang kunci peti itu tak lain seorang wanita indah bernama Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum. “ (Hirata,2018: 160)

Ikal peduli dengan nasib Arai yang tak pernah mendapat cinta Nurmala. Ikal berniat membahagiakan Arai seperti tampak pada kutipan (12), yaitu membantu Arai mendapatkan cinta Nurmala. Kepedulian Ikal terhadap sahabatnya juga terlihat jelas

saat ia merasa bahagia jikalau dapat membahagiakan sahabatnya Arai seperti tampak pada kutipan (12).

Namun dibalik sosoknya yang pekerja keras, dan pantang menyerah, Ikal merupakan seorang yang kurang percaya diri. Hal tersebut tampak ketika Arai berhasil menghasut Ikal untuk menyisir rambutnya dengan gaya belah tengah. Saat

(42)

tidak percaya diri dengan sisiran rambut belah tengahnya. Rasa percaya dirinya makin hancur ketika menerima ejekan dari abang-abang Ikal. Nyalinya semakin ciut

untuk keluar rumah dengan gaya rambut belah tengah tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (13) dan (14) berikut.

(13) ”Ketika bercermin, aku sempat tak kenal pada diriku sendiri. Aku gugup bukan main saat pertama kali keluar kamar dengan gaya baru itu. Aku berdiri mematung di ambang pintu karena abang-abangku menertawakan aku sampai berguling-guling. (Hirata,2018: 28)

(14) “Rasanya aku ingin kabur masuk kembali ke kamar. Aku tak menyalahkan mereka karena aku memang mirip orang-orangan ladang. Rambutku yang ikal, panjang, dan tipis ketika dibelah tengah, lepek di atasnya, namun ujung-ujunganya jatuh melengkung lentik di atas pundakku. Persis ekor angsa. Aku menyesal telah mengubah sisiranku. Di ambang pintu kamar itu aku demam panggung sebelum memperlihatkan penampilan baruku pada dunia.” (Hirata,2018: 28)

Kekurangpercayaan diri Ikal sering kali menimbulkan sikap pesimis pada dirinya. Sikap pesimis tersebut mempengaruhi pola pikirnya bahkan mempengaruhi semangatnya untuk sekolah. Kutipan (15) dan (16) menunjukkan sikap pesimis tersebut.

(15) “Aku sangat mafhum bahwa tabunganku itu tak akan pernah mampu membawaku keluar dari pulau kecil Belitong yang bau karat ini. Bagi kami, harapan sekolah ke Prancis tak ubahnya pungguk merindukan dipeluk purnama, serupa kodok ingin dicium putri agar berubah jadi pangeran. (Hirata,2018: 133)

(16) “Kini, aku telah menjadi pribadi yang pesimistis. Malas belajar. Berangkat dan pulang sekolah, lariku tak lagi deras. Hawa positif dalam tubuhku menguap dibawa hasutan-hasutan yang melemahkan diriku sendiri.” (Hirata,2018: 134)

(43)

mulai surut akibat sikap pesimisnya. Hal tesebut juga berpengaruh terhadap cara pendangnya terhadap sahabatnya Jimbron. Saat ia melihat Jimbron memesan dua

buah celengan kuda kepada mualim Kapal Mahligai Samudra, ia langsung mecibir dalam hati dengan sikap pesimisnya. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan (17) dan (18) berikut.

(17) “Meskipun kaupenuhi celengan sebesar kuda sungguhan, sahabatku Jimbron, tak kan pernah uang-uang receh itu mampu membiayaimu sekolah ke Prancis..., demikian kata hatiku” (Hirata,2018: 136)

(18) “Dengarlah itu, Kawan, kalimat sinis dari orang yang pesimis.” (Hirata,2018: 136)

Sikap pesimisnya terlalu mempengaruhi Ikal, membuat dia malas belajar dan bekerja hingga akhinya peringkatnya di sekolah turun drastis. Saat pembagian raport semester sebelumnya Ikal berada pada urutan ke-3 terbaik, namun akibat sikap

pesimisnya semester berikutnya ia berada di urutan ke-75.

Ikal merupakan seseorang yang cepat berubah. Ia tak mau hal negatif

merasuki dirinya berlama-lama. Orang-orang terdekatnya selalu berhasil memotivasinya untuk kembali bermimpi, salah satunya adalah ayahnya dan Arai. Ayahnya menjadi idola sekaligus panutan bagi dirinya selalu berhasil memberi metovasi pada dirinya sendiri, bahkan saat mendengar nama ayahnya saja pun ia

(44)

(19) “Waktu nama ayahku disebut. Aku sontak sadar bahwa sikap pesimis telah mengkhianatiku bulat-bulat.” (Hirata,2018: 137)

Ikal sadar akan sikap buruknya selama ini. kesadaran tersebut ditambah lagi oleh ocehan Arai yang meyadarkannya. Arai yang melihat penurunan prestasi Ikal menyeramahi sekaligus mengingatkan Ikal bahwa hanya mimpi yang dapat mereka

perjuangkan untuk mengubah hidup seperti dalam kutipan (20), (21), dan (22), dan pada kutipan (23) Ikal tersadar dan sikap pesimisnya.

(20)“Biar kau tahu, Ikal, orang seperti kita tak punya apa-apa, kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!” (Hirata,2018: 143)

(21) “Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati....” (Hirata,2018: 143) (22) “Mungkin, setelah tamat SMA, kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli. Tapi di sini, Ikal, di sekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita!” (Hirata,2018: 143)

(23) “Mendahului nasib! Dua kata yang menjawab kekeliruanku melihat arah hidupku. Pesimistis tak lebih dari sikap takabur mendahului nasib.” (Hirata,2018: 143)

Walau sikap kurang percaya dirinya dan sikap pesimis sering mempengaruhi Ikal, ia tetap berjuang dan bekerja keras mewujudkan mimpi-mimpinya, karena ia sadar akan dirinya sendiri dan ada orang-orang terdekatnya yang selalu memberi

motivasi untuknya.Arai merupakan orang yang selalu ada untuk memberi semangat kepada Ikal untuk terus mengejar mimpi-mimpi seperti tergambar dalam kutipan (20), (21), dan (23). Sering kali pula, kata-kata yang dilontarkan Arai sangat mengena ke dalam hati Ikal, sehingga ia menemukan kembali semangatnya mengejar

(45)

2.1.2 Arai

Arai adalah sahabat Ikal yang selalu ada untuk Ikal. Arai selalu optimis dalam segala hal. Sikap optimisme Arai lah yang meyakinkan Ikal berani bermimpi besar. Arai masih bertalian darah dengan Ikal. Saat usianya masih kecil, ia sudah menjadi

anak yatim-piatu karena ibunya meninggal saat hendak melahirkan adiknya, dan ayahnya ikut meninggal tak lama setelah kematian ibunya. Sejak saat itu Arai tinggal bersama Ikal, diasuh oleh orang tua Ikal. Hal ini dapat dilihat pada kutipan (23) berikut.

(23) “Sesungguhnya, aku dan Arai masih bertalian darah. Neneknya adalah adik kandung kakekku dari pihak Ibu. Namun, sungguh malang nasibnya, ketika dia kelas satu SD, ibunya wafat saat melahirkan adiknya. Arai – baru enam tahun waktu itu – dan ayahnya gemetar di samping jasad sang Ibu yang memeluk bayi merah bersimbah darah. Anak-beranak itu meninggal bersamaan. Lalu, Arai tinggal berdua dengan ayahnya.Namun, kepedihan belum mau menjauhi Arai. Menginjak kelas tiga SD, ayahnya juga wafat. Arai menjadi yatim piatu, sebatangkara. Dia kemudian dipungut keluarga kami.’ (Hirata,2018: 18)

Sejak kecil, Arai sudah belajar menjadi orang yang tabah. Walau baru ditinggal mati oleh sang ayah, dan harus meninggalkan tempat kelahirannya, Arai

langsung menguatkan dirinya sendiri. Saat Ikal dan Ayahnya datang menjemput Arai di gubuknya yang berada di hutan, dia langsung menabahkan hatinya untuk meninggalkan gubuknya. Ia tak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan. Ia

(46)

(24) “.... Arai menengok ke belakang untuk melihat gubuknya terakhir kali. Wajahnya hampa. Lalu, dia berbalik cepat dan melangkah dengan tegap. Anak sekecil itu telah belajar menguatkan dirinya.” (Hirata, 2018 : 19)

(25) “.... Dia tersenyum penuh semangat. Agaknya dia juga bertekad memerdekakan dirinya dari duka mengharu biru yang membelenggunya seumur hidup. Dia telah berdamai dengan kesedihan dan siap menantang nasibnya. (Hirata,2018: 23)

(26) ““Dunia! Sambutlah aku...! Ini aku, Arai, datang untukmu...! ” pasti itu maksudnya” (Hirata,2018: 23)

Masa kecil nya yang harus menghadapi kenyataan pahit dengan kematian

orang tuanya tidak membuat Arai tumbuh menjadi pribadi yang pemurung, justru sebaliknya, sikapnya yang tabah dan selalu semangat membuat ia menjadi pribadi yang periang. Bahkan dalam situasi yang membahayakan pun ia masih bisa bersenang-senang. Sikap periangnya terlihat pada suatu kejadian ketika mereka

bersembunyi di sebuah peti ikan, menghindar dari kejaran Pak Mustar. Saat peti tersebut diangkat dan melewati pengamen ia malah gembira dan menjentikkan jemarinya mengikuti kerincing tamborin sambil tersenyum. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan (27) berikut.

(27) “Namun, aneh sekali tingkah Arai. Waktu peti melewati para pengamen, dia menjentikkan jemarinya mengikuti kerincing tamborin. Dia tersenyum. Aku mengerti bahwa baginya apa yang kami alami adalah sebuah petualangan yang asyik. Dia melirikku yang terjepit tak berdaya, senyumnya semakin girang” (Hirata,2018: 14)

(47)

Ikal, ide Arai juga lah yang membuat Mak Cik Maryamah tak meminta-minta beras lagi. Arai bersama Ikal membelikan seluruh uang tabungannya untuk membeli terigu,

gandum, dan gula, untuk dibuatkan kue oleh Mak Cik Maryamah, dengan demikian Arai bertujuan agar Mak Cik Maryamah berjualan kue sehingga Mak Cik Maryamah punya usaha dan mampu membeli beras. Hal tersebut tergambat dalam (Hirata,2018: 35-44).

Sikap kreatif Arai terkadang terwujud dalam kenakalannya. Saat Arai dan

temannya mengaji, mereka sering dihukum Taikong Hamim dengan keras saat berbuat kesalahan. Arai yang tak terima dengan hukuman berniat membalas Taikong Hamim. Cara balas dendam yang dilakukannya kepada Taikong Hamim pun sangat kreatif, yaitu dengan cara mengucapkan amin dengan sangat tidak santun setiap kali

Taikong Hamim yang menjadi imam shalat jamaah. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (28) berikut.

(28) “Setiap Taikong Hamim menjadi imam shalat jamaah dan tiba pada bacaan akhir Al-Fatihah: “Whalad dhooliin....”

“Arai langsung menyambut dengan lolongan seperti serigala mengundang kawin.

Aaamiiin... mmmiiin... mmmiiiiinnn...” (Hirata,2018: 52)

Kutipan (28) tersebut menggambarkan bagaimana kreatifnya seorang Arai,

(48)

Sikap Arai yang penuh semangat dibarengi juga dengan sikapnya yang optimis. Sikap optimisnya terlihat saat ia menceramahi Ikal terkait semangat Ikal

yang menurun untuk bersekolah dan bekerja seperti terdapat dalam kutipan (20),(21),dan (22) sebelumnya. Sikap optimisnya juga terlihat saat ia berjuang keras mendapatkan cinta Nurmala, walaupun Nurmala tetap menolak cintanya. Arai tetap berjuang dan mengungkapkan sikap optimisnya kepada Ikal seperti terdapat dalam

kutipan (29) berikut.

(29) ‘Tapi, bukan Arai namanya kalau tak berjiwa positif.’

“Nurmala ibarat melemparkan lumpur ke tembok itu” sambungnya optimis”

“Kau sangka tembok itu akan roboh dengan lemparan lumpur?” Tanyanya retoris”

“Tak akan! Lumpur itu akan membekas di sana, apa pun kulakukan, walaupun ditolaknya mentah-mentah akan membekas di hatinya,” kesimpulannya filosofis.” (Hirata,2018: 163)

Arai meyakini bahwa segala usaha yang dia lakukan untuk Nurmala pasti membekas di hati Nurmala, oleh karena itu ia tetap optimis dan berhasrat. Sikap

penuh semangat dan optimisnya dibarengi juga dengan sikap ingin tahu yang tinggi sehingga Arai tumbuh menjadi seorang anak yang pintar. Kepintarannya terbukti karena setiap pembagian raport dia berada pada urutan ke-5 terbaik. Sifat ingin

tahunya dapat dilihat dalam kutipan (30) dan (31) berikut.

(49)

(31) “Arai adalah orang yang selalu ingin tahu, ingin mencoba hal-hal baru, dia pembosan dan anti kemapanan.” (Hirata,2018: 232)

Arai adalah seoarang yang suka menolong, dan suka membuat kejutan. Ia merasa bahagia jika membahagiakan orang lain. Sikap suka menolongnya terlihat pada saat ia membantu Mak Cik Maryamah seperti dijelaskan sebelumnya. Arai suka

membuat kejutan kepada Ikal dan Jimbron dengan kebaikan-kebaikan yang dia rahasiakan, seperti menaruh kuaci, permen gula merah, dan mainan di saku baju Ikal sewaktu kecil, menjahitkan sepatu Ikal yang sudah menganga, dan menjahit kancing

baju Ikal yang lepas. Semua itu dia lakukan secara diam-diam, berharap tak ada yang tahu. Arai sangat suka menolong sahabat-sahabatnya terutama Ikal. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan (32) dan (33) berikut.

(32) “.... Dia mengejar layangan untukku, mengajariku berenang, menyelam, dan menjalin pukat. Sering ketika bagun tidur, aku menemukan kuaci, permen gula merah, dan mainan kecil dari tanah liat sudah ada di saku bajuku. Arai diam-diam membuatnya untukku.” (Hirata, 2018:26)

(33) “…. Aku sering melihat sepatuku menganga seperti buaya berjemur, tahu-tahu sudah rekat kembali, Arai diam-diam memakunya. Kancing bajuku yang lepas tiba-tiba lengkap lagi, tanpa banyak cincong, Arai menjahitnya. Jika terbangun malam-malam, aku sering mendapatiku telah berselimut, Arai menyelimutiku.” (Hirata,2018:160)

Sikapnya yang suka menolong dan membantu dibarengi juga dengan sikap setia kawannya. Arai bahkan sampai rela berkorban apa pun selama dia mampu demi sahabatnya. Hal ini diungkapkan oleh Ikal pada kutipan (34) berikut.

(50)

Sikapnya yang rela berkorban tersebut juga terlihat saat ia mewujudkan keinginan Jimbron yang sangat terbobsesi kepada kuda capo saat pertama kali

melihatnya. Obesi tersebut sampai merubah Jimbron menjadi pribadi yang murung dan malas bekerja serta sekolah. Arai pun diam-diam membantu Jimbron mewujudkan obsesinya tersebut secara diam-diam. Arai rela membanting tulang bekerja di peternakan capo, tujuannya hanya satu agar bisa meminjam kuda dan

membawanya kepada sahabatnya Jimbron, seperti terlihat dalam kutipan (35) berikut.

(35) “LUASNYA SAMUDRA dapat diukur, tapi luasnya hati siap sangka. Itulah hati Arai. Dua bulan, dia menyerahkan diri pada penindasan capo yang terkenal keras, semuanya demi Jimbron. Kerja di peternakan capo seperti kerja rodi. Karena itu, setiap pulang malam, dia langsung tertidur sebab dia remuk redam. Waktu dia mengatakan ingin jadi kuli bangunan di Gedong tempo hari, sebenarnya diam-diam dia melamar kerja pada capo dengan satu tujuan agar Jombron dapat mendekati Pangeran.” (Hirata, 2018: 193)

2.1.3 Jimbron

Jimbron adalah sahabat Ikal dan Arai. Pertemuan pertama mereka dengan Jimbron terjadi di tempat pengajian. Sejak saat itu mereka berteman akrab. Jimbron

memiliki bentuk fisik yang gemuk dan terkadang tak lancar berbicara. Jimbron sebenarnya dapat berbicara seperti orang normal pada umumnya, namun pada saat-saat tertentu,bicaranya dapat gagap seketika jika terpengaruh oleh suasana hatinya. Dia gagap jika ia sedang panik terhadap sesuatu, atau sedang bersemangat untuk

(51)

(36) “.... Salah satu kawan sepengajianku adalah Jimbron. Dia tak lancar berbicara. Dia gagap, tapi tak selalu gagap. Jika panik atau sedang semangat, dia gagap. Jika suasana hatinya sedang nyaman, dia berbicara senormal orang biasa.” (Hirata,2018: 48)

Jimbron sama halnya dengan Arai, yatium piatu sejak kecil. Ibunya meninggal saat dia kelas empat SD, dan ayahnya juga meninggal empat puluh hari setelah

kematian ibunya. Peristiwa kematian ayahnya lah yang membuat Jimbron gagap berbicara. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (37) berikut.

(37) “Suatu hari, belum empat puluh hari ibunya wafat, Jimbron bepergian naik sepeda dibonceng ayahnya. Masih berkendara, ayahnya terkena serangan jantung. Konon, Jimbron pontang-panting dengan sepeda itu membawa ayahnya ke Puskesmas. Dia berusaha sekuat tenaga,panik, dan jatuh bangun membonceng ayahnya yang sesak napas sambil kesusahan memeganginya. Sampai di Puskesmas, Jimbron pucat pasi ketakutan. Dia kalut, tak sanggup menjelaskan situasinya kepada orang-orang. Lagi pula sudah terlambat. Beberapa menit di Puskesmas, ayahnya meninggal. Sejak saat itu Jimbron gagap.” (Hirata,2018: 49) Kepanikan sekaligus ketakutan yang dialaminya saat melihat ayahnya terkena serangan jantung berdampak negatif terhadap dirinya sendiri. Ia gagap karena terkejut dengan peristiwa yang tiba-tiba terjadi seperti terdapat dalam kutipan (37).

Jimbron sangat menyukai kuda, bahkan kecintaannya terhadap kuda sangat fanatik.. Walau dikampung mereka tak ada kuda, ia sangat memahami hal-hal terkait

kuda seperti teknik mengendarai kuda, asal muasal kuda, dan mengerti makna ringkikan kuda. Ia sangat terobsesi terhadap kuda-kuda, sampai-sampai hanya kuda lah yang menurutnya menarik di dunia ini. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (38)

(52)

(38) “Di kampung kami tak ada seekor pun kuda, tapi Jimbron mengenal kuda seperti dia pernah melihatnya langsung. Jimbron adalah pemuda yang mudah mengantuk, tapi jika sedikit saja dia mendengar tentang kuda, telinga layunya sontak berdiri. Jimbron segera menjadi pecinta kuda yang fanatik. Dia tahu teknik mengendarai kuda, asal muasal kuda, dan mengerti makna ringkikan kuda. Dia hafal nama kuda Abraham Lincoln, nama kuda Napoleon, bahkan nama kuda syaidina Umar bin Khaththab. Dengan melihat gambar wajah kuda, dia langsung tahu jenis kelaminnya. Tak ada satu pun hal lain yang menarik di dunia ini bagi Jimbron selain kuda.” (Hirata,2018: 50)

Kecintaan Jimbron yang begitu besar terhadap kuda lah yang membuat ia paham betul segala sesuatu tentang kuda. Bahkan kecintaannya terhadap kuda dapat

digolongkan berlebihan karena ia menganggap bahwa hanya kuda lah paling menarik di dunia, seperti terdapat dalam kutipan (38).

Jimbron merupakan seorang yang lugu, dan polos. Ia selalu menganggap sesuatu dengan serius. Keluguan dan kepolosannya terkadang dimanfaatkan oleh orang lain untuk mempermalukan Jimbron. Jimbron tak marah dengan hal tersebut, karena ia tak merasa dipermalukan oleh orang lain. Hal tersebut terlihat saat ia dengan senang hati

menjalankan hukuman dari Taikong Hamim yang terlihat pada kutipan (39) dan menjalankan hukuman dengan sungguh dari Pak Mustar yang terlihat pada kutipan (40) berikut.

(39) “.... Jimbron disuruh maju ke tengah madrasah. Dia dipertontonkan pada ratusan santri dan dipaksa meringkik. Matanya yang lugu, tubuhnya yang gemuk, dan bahunya yang lunsur tampak lucu ketika tangannya menekuk di dadanya seperti bajing. Namun, bukan malu, Jimbron malah senang bukan main dengan hukuman itu.” (Hirata, 2018: 52)

(53)

bakteri ekoli, dia juga senang-senang saja. Semuanya dia jalani dengan sepenuh jiwa sebab hukuman itu baginya merupakan bagian dari mata rantai nasib yang dianugrahkan sang Maha Pencipta di langit untuknya, dan lantaran, hukuman itu memang telah tercatat dalam buku-Nya.” (Hirata,2018: 118)

Kepolosan Jimbron pada kutipan (39) sangat tampak, bahwa ia tak merasa

keberatan dengan hukuman apa pun yang diberikan. Tujuan Taikong Hamim menghukum Jimbron sebenarnya memberikan efek jera dengan membuat malu Jimbron di depan banyak orang, namun Jimbron terlalu lugu hingga tak menyadari hal itu. Pada kutipan (40) juga tampak bahwa Jimbron tak keberatan menjalankan

hukuman yang diberikan Pak Mustar kepadanya. Keluguannya berasal dari keyakinanya bahwa segala sesuatu terjadi karena sudah seharusnya terjadi, seperti terdapat dalam kutipan (40) tersebut. Keyakinan tersebut berlaku juga dengan hukuman yang dialaminya bahwa hukuman tersebut memang sudah seharusnya

terjadi.

Kepolosan Jimbron dibarengi denga sikapnya yang suka membantu teman-temannya, terutama terhadap Laksmi. Laksmi merupakan seorang anak yatim-piatu seperti halnya Jimbron. Keseharian Laksmi bekerja di pabrik Cincau,dan tidak bersekolah. Jimbron sangat bersimpati kepada Laksmi, karena dia merasa nasib

mereka sama-sama memilukan. Rasa simpati Jimbron terhadap Laksmi terlihat dalam kutipan (41), (42) dan (43) berikut.

(54)

jika isinya telah kosong. Dia ikut pula menjemur daun-daun cincau.” (Hirata,2018: 69)

(42) “.... Sering Jimbron datang ke pabrik membawakan Laksmi buah kweni dan pita-pita rambut. Jimbron ingin sekali, bagaimanapun caranya, meringankan beban Laksmi meskipun hanya sekadar membantunya mencuci baskom” (Hirata,2018: 69)

(43) “Jika pembeli sepi, Jimbron beraksi. Bukan untuk merayu atau menyatakan cinta, bukan , sama sekali bukan, melainkan untuk menghibur Laksmi.” (Hirata,2018: 69)

Walaupun Jimbron memiliki kehidupan yang pahit, dan setiap hari harus bekerja keras, ia tetap mau membantu Laksmi meringankan pekerjaan Laksmi dengan tulus.

Tak ada alasan lain bagi Jimbron selain ingin menyenangkan Laksmi.

Jimbron juga seorang yang rela berkorban demi sahabatnya. Sifat relaberkorbannya terlihat saat ia memberikan uang tabungan yang dimilikinya kepada sahabatnya Ikal dan Arai. Uang tabungan yang ia kumpulkan dengan bekerja keras ia berikan kepada Ikal dan Arai untuk melanjutkan sekolah. Hal tersebut dapat dilihat

pada kutipan (44) berikut.

(44) “.... Jimbron yang berhati lunak dan putih. Dulu, dengan penuh semangat, dia memesan dua celengan kuda agar dibelikan mualim di Jakarta, dan sempat kami tertawakan ketika celengan kuda itu datang. Ditabungnya upah bekerja keras, paling tidak, selama dua tahun. Diisinya kedua celengan itu denga rata. Tak sepatah kata pun sempat dia ucapkan maksudnya. Kini, diberikannya masing-masing untuk kami. Itulah pengorbanan Jimbron untuk kami.” (Hirata, 2018: 205)

Jimbron memang sudah merencanakan untuk menabung demi kedua sahabatnya. Ia rela bekerja keras mencari uang agar dapat membantu kedua sahabatnya dengan

(55)

2.2 Latar

Analisis terhadap latar dalam penelitian ini digunakan untuk memahami

tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.

2.2.1 Latar Tempat

Latar menurut Abrams dalam (Nurgiyantoro, 1995: 216) disebut sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan

sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, terdapat beberapa latar tempat yakni : sekolah (lapangan sekolah, kelas, aula sekolah, WC sekolah), pasar Magai, rumah Ikal, gudang Nyonya Lam Nyet Pho, toko A Siong, rumah Mak Cik Maryamah, Masjid,

Pabrik Cincau, kontrakan, bioskop, dermaga, rumah Bang Jaitun, rumah Nurmala, Kapal Bintang Laut Selatan, Tanjung Periok, Bogor, tempat Foto Copy, Kantor Pos, kereta, dan sebuah gedung di Jakarta. Deskripsi latar tempat tersebut sebagai berikut.

2.2.1.1Sekolah

Sekolah dalam novel ini adalah SMA negeri Magai, tempat Ikal, Arai, dan Jimbron menempuh pendidikan. Lapangan sekolah merupakan tempat Ikal, Arai, dan Jimbron dipermalukan oleh Pak Mustar dengan hukuman yang diberikannya yaitu

(56)

(45) “ Di tengah lapangan sekolah, Pak Mustar dan para penjaga sekolah telah menyiapkan lokasi shooting.” (Hirata,2018: 111)

Selain lapangan sekolah, WC sekolah juga merupakan latar tempat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. WC sekolah merupakan tempat Ikal, Arai,

dan Jimbron menjalankan hukumunnya, seperti terdapat dalam kutipan (46) berikut.

(46) “ Setiap menunduk untuk menyikat lantai WC, aku menahan napas.” (Hirata,2018:119)

Aula sekolah juga merupakan latar tempat dalam novel Sang Pemimpi Karya

Andrea Hirata. Pembagian raport setiap semesternya diadakan di aula sekolah. Para orang tua diberi kursi dengan nomor urut sesuai urutan ranking anaknya di aula sekolah. Hal tersebut tampak pada kutipan (47) berikut.

(47) “Di bawah rindang pohong bungur, di depan aula tempat pembagian rapor, sejak pagi, aku dan Arai menunggu Ayah.” (Hirata,2018: 79) Selain aula sekolah, kelas juga merupakan latar tempat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Di kelas lah awal mula munculnya mimpi Ikal, Arai, dan Jimbron. Di kelas mereka bertemu kepala sekolah, sekaligus guru sastra mereka,

yaitu Pak Balia, yang memberi motivasi kepada mereka untuk berani bermimpi. Kutipan (48) menunjukkan hal tersebut.

(57)

2.2.1.2Pasar Magai

Pasar Magai letaknya tak jauh dari pelabuhan Magai. Di pasar itu lah Ikal, Arai, dan Jimbron bekerja sebagai kuli ngambat, yaitu mengantar ikan hasil tangkapan nelayan dari pelabuhan ke pasar. Hal tersebut tampak dalam kutipan (49)

berikut.

(49) “ ..., kami sempoyongan memikul berbagai jenis makhluk laut yang sudah harus tersaji di meja pualam stanplat pasar ikan....” (Hirata,2018: 58)

2.2.1.3Rumah Ikal

Dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, rumah Ikal menjadi tempat beberapa peristiwa salah satunya adalah ketika Mak Cik Maryamah datang meminta beras kepada Ibu Ikal. Peristiwa yang lain di rumah Ikal adalah ketika Ikal dihasut Arai untuk membuat sisiran rambutnya belah tengah. Dan peristiwa selanjutnya yang

terjadi di rumah Ikal adalah ketika Ikal dan Arai menerima dan membuka amplop yang isinya tentang kelolosan mereka memperoleh beasiswa ke Eropa. Hal ini tampak pada kutipan (50) berikut.

(58)

2.2.1.4Gudang Nyonya Lam Nyet Pho

Gudang Nyonya Pho letaknya berada dekat pasar Magai. Sewaktu Pak Mustar mengejar Ikal, Arai, dan Jimbron, mereka bersembunyi di sebuah peti ikan yang berada di gudang Nyonya Pho. Hal tersebut tampak dalam kutipan (51) berikut.

(51) “.... Karena kami telah memyelinap ke gudangnya, pasti dia akan menuduh kami mencuri” (Hirata,2018: 11)

2.2.1.5Toko A Siong

Toko A Siong merupakan tempat Ikal dan Arai berselisihpaham tentang uang tabungan mereka. Di toko ini mereka bergulat memperebutkan uang koin tabungan

mereka, sampai-sampai pergulatan mereka mengacaukan barang-barang yang ada di toko A Siong. Bukti toko tersebut terdapat dalam kutipan (52) berikut.

(52) “.... Langkanya pasti memasuki toko A Siong.” (Hirata,2018: 35)

2.2.1.6Rumah Mak Cik Maryamah

Ikal dan Arai membawa gula dan terigu yang mereka beli di toko A Siong ke rumah Mak Cik Maryamah. Tujuannya agar Mak Cik Maryamah memiliki usaha yaitu membuat kue agar tidak meminta-minta beras lagi. Rumah tersebut tampak dalam kutipan (53) berikut.

(59)

2.2.1.7Masjid

Masjid merupakan tempat Ikal, Arai, dan Jimbron sering mengaji. Di masjid jugalah Arai sering berbuat nakal, yaitu membalas dendam kepada Taikong Hamim dengan lolongan amin yang panjang setiap kali Taikong Hamim menjadi imam shalat

jamaah, seperti terdapat dalam kutipan (28) sebelumnya.

2.2.1.8Pabrik Cincau

Pabrik Cincau terletak di dekat pasar Magai. Di sini lah Laksmi bekerja. Di

pabrik ini pula Jimbron sering membantu Laksmi mencuci baskom sekaligus menghibur Laksmi. Saat Jimbron mengendarai Kuda, ia membawa kuda tersebut ke pabrik Cincau untuk diperlihatkan kepada Laksmi. Hal tersebut tampak pada kutipan

(41) dan (42) pada bagian sebelumnya.

2.2.1.9Kontrakan

Kontrakan adalah tempat tinggal Ikal, Arai, dan Jimbron di Magai. Kontrakan tersebut dekat dengan pasar dan letaknya berada di depan bioskop. Di kontrakan

tersebut juga lah Arai bercerita tentang film yang mereka tonton di bioskop kepada teman teman mereka. Hal tersebut tampak dalam kutipan (54) dan (55) berikut.

(54) “Aku, Jimbron, dan Arai baru pulang sekolah dan sedang duduk santai di beranda los kontrakan kami waktu melihat para petugas bioskop mengurai gulungan terpal....” (Hirata,2018: 87)

Figur

tabel agar lebih mudah dipahami.
tabel agar lebih mudah dipahami. . View in document p.90

Referensi

Memperbarui...